Laki-laki dan Andil Pentingnya dalam Penghapusan Kekerasan Berbasis Gender

Cantik, berpendidikan, multitalented, memiliki jaringan luas. Namanya cukup dikenal di Bandung. Di kalangan medis dan seniman. Setidaknya pada sebuah masa. Bisik-bisik beredar, ia menjadi korban kekerasan seksual dalam rumah tangganya. Bisik-bisik yang berhembus di antara komunitas dan perkawanan menyebutkan, banyak bagian tubuh tertutup yang lebam karena kekerasan yang diterimanya. Bisik-bisik yang kemudian menghilang tanpa ada kesempatan mengonfirmasi. Beruntunglah, bisik-bisik itu hadir pada dekade yang belum riuh dengan aneka platform digital. Dapat dibayangkan bakal berkembang menjadi berapa episode cerita opera sabun. Beberapa tahun telah terlewati dan bisik-bisik itu tak pernah terkonfirmasi. Namun kabar angin menyebut, sosok cantik kita sudah mengakhiri hubungan terdahulu dan memulai hidupnya yang baru.

Cerita di atas bukan fiksi. Nyata dari sumber yang dapat dipercaya meski tak pernah dipublikasikan oleh media. Mungkin juga tak pernah tercatat dalam laporan lembaga pemerintah, institusi agama, dan komunitas pendamping. Dan cerita serupa memang betul-betul terjadi di sekitar kita. Kekerasan seksual itu nyata. Namun, alih-alih melaporkan pelaku, yang terjadi bahkan menyembunyikan peristiwa. Dengan sejumlah pertimbangan. Sementara itu, beberapa perempuan yang berusaha melaporkan malah disudutkan disertai wejangan. Itu juga nyata, lembaga yang tak sadar keadilan gender. Maka menarik, Rutgers WPF Indonesia melalui program Prevention+ membuat kampanye yang melibatkan laki-laki, sosok yang sesungguhnya dapat menjadi penentu perubahan. 

Kalau contoh kasus di atas adalah kisah yang belum terkonfirmasi dan tidak dipublikasikan, sekarang mari bicara data. Dalam diskusi online pada Senin (26/10/2020) lalu disebutkan, Komnas Perempuan pada Maret 2019 merilis data kasus kekerasan terhadap perempuan. Tahun lalu terlaporkan sebanyak 431.471 kasus, meningkat enam persen dari tahun sebelumnya. Dari angka tersebut, 31% atau sebanyak 2.988 kasus kekerasan seksual terjadi di ranah pribadi, dan  64% terjadi di ranah publik atau komunitas. Sementara di wilayah online, tercatat sebanyak 354 kasus sepanjang Januari-Mei 2020 untuk semua ranah. Jumlah ini pun mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2019. Di masa kini, terlebih di masa pandemik ini, kegiatan online makin marak. Angka kekerasan juga ikut naik. Jenis kekerasan berbasis gender terbanyak di ranah ini adalah ancaman penyebaran foto/video porno. Angka-angka tersebut berangkat dari kasus yang terlaporkan. Selebihnya, hanya pelaku, korban, dan Tuhan yang tahu.

ilutrasi dari presentasi DAMAR

Kekerasan berbasis gender sendiri mencakup serangkaian kekerasan yang lebih luas. Di dalamnya ada kekerasan terhadap perempuan dan laki-laki, minoritas seksual yang identitasnya gender-nonconforming, baik dewasa maupun anak-anak. Hal ini terjadi sebagai konsekuensi dari relasi kuasa yang timpang antara lelaki dan perempuan. Perempuan ditempatkan sebagai subordinat laki-laki. Di tengah masyarakat kita yang masih kental dengan kultur patriarki, adalah hal yang lazim jika lelaki memegang kontrol dan kuasa terhadap anggota keluarga yang lain. Konstruksi sosial yang terus dibangun makin melanggengkan budaya patriarki yang akhirnya sejalan dengan kekerasan berbasis gender.

Itulah salah satu alasan Prevention+ menempatkan laki-laki sebagai agen perubahan. Karena selama ini sebagaian besar penanganan kasus kekerasan berbasis gender adalah melulu menyasar korban. Sedangkan pelaku seolah tak tersentuh. Bukan berarti menafikan penderitaan yang dialami korban yang dalam hal ini perempuan, namun jika tanpa menciptakan proses perubahan pada pelaku, yang terjadi hanyalah semata upaya penyembuhan dan bukan pencegahan. Selain itu, laki-laki yang sering diposisikan sebagai pelaku, sangat mungkin juga sebagai korban sistem. Pelibatan laki-laki akan memutus rantai tindak kekerasan yang terus berulang tersebut.

Kesetaraan gender tidak dapat dicapai tanpa keterlibatan laki-laki dan remaja laki-laki dalam mengurangi bahkan menghapus kekerasan berbasis gender sehingga dengan mengajak mereka melalui program Prevention+, mereka dapat teredukasi dengan baik dan kami percaya bahwa laki-laki juga adalah agen perubahan untuk menghentikan kekerasan berbasis gender. (SGBV PV Rutgers WPF Indonesia, Ingrid Irawati)

Pendekatan terhadap lelaki dilakukan dari berbagai aspek; bukan hanya sebagai pelaku, tapi juga sebagai korban, saksi kekerasan, agen perubahan, mitra, pasangan, suami, istri, dll. Secara umum, program Prevention+ bersifat mencegah atau mengurangi potensi bahaya terabaikannya prinsip kesetaraan gender dan bahaya yang mengancam hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi.

Prevention+ dalam program advokasinya menggandeng mitra lokal di antaranya Yabima, Sahabat Kapas, Rifka Annisa, Damar, dan Rahima. Program yang telah telah berjalan sejak tahun 2016 itu menyasar 4 wilayah besar Indonesia yakni Jakarta, Bandar Lampung, Solo, dan Yogyakarta. Semuanya sejalan dalam satu tujuan, yakni mengurangi kekerasan terhadap perempuan serta meningkatkan partisipasi ekonomi perempuan dengan pendekatan pelibatan laki-laki sebagai agen perubahan dan mempromosikan nilai maskulinitas yang positif berdasarkan nilai kesetaraan dan nonkekerasan.

Menarik menyimak catatan dari mitra lokal yang terlibat dakam diskusi online ini. Temuan DAMAR misalnya. Manajer Umum Lembaga Advokasi Perempuan, DAMAR, Sofiyan Hd, mengatakan, selama ini ada banyak laki-laki yang tidak setuju dengan kekerasan terhadap perempuan. Namun berhubung ruang bagi mereka untuk mendapatkan informasi dan wadah untuk bersikap tidak tersedia, akhirnya mereka memilih untuk diam dan tidak melakukan apapun.

Program ‘komunitas ayah’ di Lampung, menurut saya asik. Bagaimanapun menggeser cara pandang tak mudah. Jika ayah-ayah disatukan dengan ibu-ibu bisa jadi malah tak efektif. Karena ego masing dipertahankan. Nah jika ayah-ayah disatukan dalam satu komunitas, kemungkinannya adalah saling berbagi dan memberikan dukungan.

Hal menarik lainnya adalah yang dibagikan Rahima, melakukan pendekatan melalui Lembaga agama, dalam hal ini adalah Kantor Urusan Agama (KUA). Lembaga ini dianggap dapat menjadi teladan bagi umat, maka adalah penting untuk memastikan para pejabatnya adalah sosok-sosok yang peduli kesetaraan gender.

Hal-hal yang sederhana saja. Misalnya kepala KUA saat di rumah mau belanja sayur ke warung. Itu sudah sebuah contoh yang sangat baik dan bisa dicontoh. (Koordinator Program Rahima, Pera Sopariyanti)

Meski demikian tak mudah membawa isu ini di ranah religi. Karena ada saja yang mencoba memlintir ayat-ayat dalam Al-Qur'an. Untuk mempermudah masyarakat, dalam hal ini umat Islam memahami konsep kesetaraan gender, Rahima membuat buku saku dalam bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. 

Mitra lokal lain, seperti Yabima, Sahabat Kapas, Rifka Annisa, juga melakukan pendampingan serupa di wilayahnya masing-masing. Beriringan bersama Prevention+ dan semua komponen masyarakat peduli, semoga kekerasan seksual dapat semakin diminimalisir bahkan dihapuskan.

Dengan adanya program ini diharapkan semakin banyak laki-laki yang terlibat sebagai Agen Perubahan mewujudkan kesetaraan gender dan penghapusan kekerasan seksual di Indonesia karena sesungguhnya patriarki tidak hanya mengancam perempuan, tetapi juga laki-laki dengan segala kekuasaan, keistimewaan, dan permisif yang dimiliki. Gerakan feminis bukan hanya gerakan milik perempuan semata karena dengan laki-laki terlibat di dalamnya, sesungguhnya ia sedang membantu dirinya terbebas dari jerat budaya patriarki itu sendiri. (Inggrid Irawati)






         



16 comments

  1. Mungkin saja para lelaki juga harus sering-sering mendengar lagu No Women No Cry.. biar mereka lebih dan lebih lagi menghargai wanita dan perannya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Good friends we have, oh, good friends we've lost
      Along the way
      In this great future, you can't forget your past
      So dry your tears

      Delete
  2. selain kekerasan fisik juga banyak yg kekerasan psikis , dari kata2 yang selalu menyakitkan

    ReplyDelete
  3. bahkan kekerasan verbal seringkali lebih menyakitkanđź’”

    ReplyDelete
  4. Keren terobosannya ya mbak Dhenok?

    Laki-laki sebagai amemutus rantai tindak kekerasan

    Karena jika pelaku nggak disadarkan, maka kekerasan akan berulang ke anak cucu mereka

    ReplyDelete
  5. Jauhi kekerasan gender, kita bisa mengkampanyekan di lingkungan terdekat kita

    ReplyDelete
  6. Jujur saya dari dulu tidak mendukung adanya garis patriaki (garis keturunan dari ayah) yang menempatkan posisi laki-laki pada posisi tertinggi, namun perempuan juga penting disetarakan secara gender karena memiliki hak hidup yang sama.

    Btw, kekerasan seksual berbasis gender juga saya setuju memang nyata dan bahkan di lingkup pendidikan, institusi, di kantor2 pun tetap ada... ini terjadi akibat kesadaran moral dan nilai tidak sejalan pada diri seseorang, atau tidak bisa menempatkan sesuatu pada hal yang pantas. Thanks sharingnya, sudah kubaca artikel kakak, sangat menginspirasi ! good......

    ReplyDelete
  7. Sama seperti komen-komen di atas. Nyatanya kekerasan fisik masih di bawah kekerasan verbal. Tapi bukan berarti membenarkan atau mengecilkan arti dari kekerasan fisik. Keduanya akan meninggalkan efek yang luar biasa bagi para perempuan. Fisik gampang terlihat dan verbal akan nancep di sanubari, teringat sampai kapanpun.

    Bagus nih ide kalau seandainya melibatkan kaum lelaki untuk mensosialisasikan awareness untuk meniadakan KDRT. Pendekatan dari berbagai sisi keilmuan dan keagamaan pastinya harus dijalankan.

    ReplyDelete
  8. Huhuhu selalu sedih mendengar masih banyak wanita yang mendapatkan kekerasan baik fisik maupun psikis. Semoga para wanita yang mengalaminya bisa bangkit melawan ketidakadilan yang dirasakannya

    ReplyDelete
  9. Sedih sih kalau sampai pria yang seharusnya melindungi malah menyakiti

    ReplyDelete
  10. kekerasan berbasis gender ini sudah menjadi masalah sosial, sudah selayaknya semua berperan ya mbak
    nggak hanya perempuan tapi juga laki-laki

    ReplyDelete
  11. Daku setuju untuk memberantas kekerasan seksual jangan hanya menjadikan wanita sebagai agen perubahan, laki-laki pun juga jadi bisa memberikan dampaknya

    ReplyDelete
  12. Kakakku korban KDRT, fisik dan mental hingga tahunan. Hingga satu waktu dia cerita ke Ayah Ibu (dia tinggal beda pulau) bilang kalau ingin lari, karena kalau lapor ke pihak berwenang bisa-bisa nyawa taruhannya. Langsung keluarga besar kami mendukung apapun keputusan dia. Rencana disusun rapi, sekitar setahun diam-diam ngurus pindah kerja dan dokumen terkait. Pas momennya pura-pura mudik bawa dua anak, dan ga pernah balik lagi. Proses cerai meski alot berakhir seperti harapannya. Dan mantan suaminya sekalipun ga berani nemuin dia lagi atau orangtuaku. Sekarang sudah 3 tahun, dia bahagia jadi single mom, bekerja dan menafkahi kedua anaknya.
    Setuju jika Prevention+ menempatkan laki-laki sebagai agen perubahan, mengingata selama ini sebagiaan besar penanganan kasus kekerasan berbasis gender adalah melulu menyasar korban. Sedangkan pelaku seolah tak tersentuh

    ReplyDelete
  13. Kadang suka ga habis fikir kemana hati nurani laki-laki yang jahat dan suka KDRT itu. Kalau mereka punya anak pernah ga terpikir anaknya bakal diperlakukan seperti dia memperlakukan istrinya. Gemes banget!

    ReplyDelete
  14. Kasus kekerasan bukan hanya terkait pada fisik lebih dari itu, psikis dan verbal begitu banyak tak disadari pelaku. Paling setuju banget sih kalau ada sanksi yang tegas, lalu konsekuensi yang lebih berat bagi pelaku tindak kekerasan itu

    ReplyDelete
  15. Nangis saya baca ini mbak, ingat masa kecil. Saya saksi adanya KDRT dalam keluarga, ayah sebagai pelaku dan ibu sebagai korban yang tak pernah mampu melawan. Itu yang membuat saya selalu ingin pergi dari rumah, makanya saat SMA saya memilih sekolah di kota biar bisa tinggal di kost.

    ReplyDelete