Showing posts with label kucing. Show all posts

Buku tentang Kucing yang Bisa Dijadikan Pilihan Bacaan Tahun Ini

Kisah tentang binatang dalam bentuk fabel, atau kisah dengan sosok mereka terlibat di dalamnya selalu muncul dari waktu ke waktu dalam khasanah literasi dunia. Beberapa di antaranya bahkan sangat ikonik, seperti nama Edgar Allan Poe yang melekat pada salah satu judul cerpennya, Kucing Hitam. Belakangan hari ini juga muncul buku-buku dengan cerita yang melibatkan kucing yang berhasil mengambil hati pembacanya. Bukunya dicetak ulang hingga entah berapa kali dan diterjembahkan dalam berbagai bahasa. Apakah kamu termasuk pengoleksi buku dengan cerita kucing? Buku apa saja yang sudah disiapkan untuk bahan bacaan tahun ini?



Baca juga: Lelaki Harimau, Novel Kedua Eka Kurniawan

Reviu di bawah ini awalnya berangkat dari tantang di platform X. Ajakan untuk mereviu buku dengan kover kucing. Aku memindahkan catatannya ke sini, dan melengkapinya dengan bacaan lain yang bisa jadi di kover tidak menyertakan sosok kucing, namun isinya berkisah tentang kucing. Catatannya akan coba diupdate secara berkala hingga jumlah tertentu. 


Gerombolan Kucing Bandel


Judul buku: Gerombolan Kucing Bandel (9 Cerita Kucing dari 9 Penulis Dunia)

Penulis: E. Nasbit, dkk.

Penerjemah: Endah Raharjo

Penerbit: Pojok Cerpen

Tebal: 212 halaman

Terbit: Agustus 2021 (Cetakan Pertama) 





Baca juga: Lima Cerita, Saat Seorang Desi Anwar Berkisah


Seperti tertulis dalam judul, buku ini merupaan kumpulan cerita dari 9 penulis sohor dunia: E. Nesbit (Maurice Menjelma Kucing), Sir Arthur Conan Doyle (Kucing Brazil), Edgar allan Poe (Kucing Hitam), Fritz Leiber (Gummitch Si Kucing Super), Angela Carter ( Kucing Bersepatu Bot), Rudyard Kipling (Si Kucing yang Berkelana Sendirian), Italo Calvino (Gerombolan Kucing Bandel), Saki-Hector Hugh Munro (Tobermory), dan Ursula K. Le Guin (Kucing Schrodinger).

Satu yang sudah (lebih dari sekali) kubaca: Kucing hitam. Cerita yang tiap kali dibaca, tetap bikin merinding.

Aku membaca buku ini secara acak. Mengawalinya dari Kucing Brazil. Ceritanya sama gelapnya dengan Kucing Hitam. Berkisah tentang pengkhianatan dalam keluarga, hanya karena persoalan harta. Uniknya, sosok perempuan, istri sang saudara yang dianggap memusuhi, pada akhirnya bisa dianggap sebagai penyelamat. Pemberi tanda. 

Cerita unik ada di judul Si Kucing yang Berkelana Sendirian. Ini seolah menjawab muasal kenapa kucing nyebelin aka belagu. Kisah disampaikan ala dongeng, dengan adanya binatang-binatang lain yang datang dan menghamba kepada manusia. Berbeda dengan kucing yang bersiasat. Sehingga si manusia takhluk padanya. 

Kisah yang menjadi judul buku berkisah tentang penghuni kota, Marcovaldo yang mengikuti perjalanan kucing-kucing. Tentang bagaimana lelaki itu menemukan bahwa para kucing kesulitan menjalani hidupnya karena ruang yang terbatas. Manusia mengambil semuanya. Aku selalu suka cara Italo Calvino bercerita. 


Baca juga: Joko Pinurbo dalam Kenangan


Jika Kucing Lenyap dari Dunia


Judul: Jika Kucing Lenyap dari Dunia

Penulis: Genki Kiwamura

Penerjemah: Ribeka Ota

Editor: Anton Kurnia

Penerbit: BACA

Tebal: 253 halaman

Terbit: Desember 2021 (Cetakan IV)




Baca juga: Jais Darga dan Ajang Pembuktian Art Dealer Perempuan 


Beli buku ini semata karena "kucing". Tak pernah cari tahu, buku tentang apa.

Idenya menarik, apa yang akan kita lakukan jika tahu umur kita tak lama lagi. Tema ini mengingatkan tentang betapa terbatasnya kita sebagai manusia, sekaligus betapa luas kemungkinan yang bisa kita lakukan jika kita memberi makna.

Berkisah tentang pemuda 30 tahun yang baru diberi tahu jika dirinya mengidap tumor otak stadium 4. Ia menanggapi kabar itu dengan biasa saja. Hingga saat iblis menawarinya tambahan umur dengan syarat: menghilangkan sesuatu dalam hidupnya. Dari sinilah muasal upaya menghilangkan aneka hal: telepon, kucing, hingga dirinya sendiri.

Di buku ini, ada 2 nama kucing yang diceritakan si tokoh. Salad & Kubis. Mereka punya ikatan yang kuat, terutama dengan ibunya, lalu dia. Terbayang, 'kan, kalau kucing-kucingmu tiba-tiba lenyap? Bayangkan kegembiraan apa yang bakal ikut lenyap.

Bagi pembaca buku yang pencinta meong, paslah baca buku ini. Buatku sendiri, awalnya agak sulit menikmati. Mungkin karena bahasanya terlalu ngepop buatku. Berusaha tidak menyerah. Dan memang banyak hal menarik yang bisa didapat, bicara tentang kehidupan; tentang bagaimana sebagai manusia kita menerima "jatah" kita dengan hati yang terbuka dan menjalaninya meski tak sempurna.

“Di dunia ini, ada banyak kekejaman. Tapi ada keindahan sebanyak itu pula.” (hal. 79)

Si tokoh hanya membuat narasi, tanpa menggurui. Bahwa selalu ada sisi baik dari tiap peristiwa, termasuk berdamai dengan masa lalu. Ia menunjukkan hal baik itu di penghujung hidupnya lewat rekonsiliasinya dengan sang ayah.

"Cinta pasti akan berakhir. Meskipun kita tahu akan hal itu, kita tetap jatuh cinta.

Mungkin soal hidup juga sama seperti itu. Suatu saat pasti akan berakhir. Meski tahu hal itu, kita tetap menjalani kehidupan. Sama seperti cinta, justru karena akan berakhir maka hidup terlihat gemerlap." (hlm. 89).

Baca juga: Aleph, Kisah Perjalanan Menemukan Diri


Hitam Gemerlap


Judul: Hitam Gemerlap

(Dwilogi Kumcer)

Penulis: Alexandreia Wibawa

Pemeriksa Ejaan: Dea Silvia Rahman

Penerbit: Langgam Pustaka

Tebal: 286 halaman

Terbit: Mei 2024 (Cetakan I)


Baca juga: Book Sleeve, Pembaca Buku Wajib Punya


Aku sudah membaca cerpen Alexandreia di buku ini dari buku kumpulan cerpennya yang pertama, Kucing Hitam. Khas tulisan Alex ini gelap, seringkali terasa nuansa desperade. Jangan berharap happy ending-lah pokoknya. Dan banyak di antaranya yang punya akhir tak tertebak. 

Buku ini gabungan dari dua kumcernya, Kucing Hitam dan Warung Gemerlap. Keduanya sudah tidak cetak ulang. Demi memenuhi keinginan pembacanya, Alex mencetaknya lagi, namun kali ini digabungkan. Ada 25 judul cerpen di dalamnya.

Cerpen pertama bertajuk Labirin, ditulis Alex pada 2005. Bercerita tentang Rana yang terjebak dalam dunia mimpi pasca keisengannya mengambil benda unik di kamar Raga, kakaknya. Rupanya benda itu dapat membuat siapa pun yang memegangnya akan terus berada di alam mimpi. Berbagai mimpi telah Rana alami, dari yang menyenangkan hingga mengerikan. Melelahkan. Cerpen ini memenangkan Lomba Menulis Cerita Thriller Stephen King On Writing yang dielenggarakan tahun itu.

Warung Gemerlap, cerpen yang menjadi judul kedua kumpulan kumcer Alex aku belum pernah baca. Aku tidak punya bukunya. Awalnya kupikir ini berkisah tentang sosok selebritas, mengacu pada cerita sebelumnya. Sesuatu yang datang dari dunia gemerlap. Ternyata bukan. Membacanya membawaku pada ingatan cerita horor di masa kecil. Beragam cerita horor memang sebagian besar kudapatkan di masa kanak. Saat tinggal di Bandung, cerita-cerita serupa tak kudengar lagi. Kalaupun ada, nuansanya berbeda. Tak begitu dekat lagi. Nah, ini cerita berasa nyata.

Dialog Cangkir Kopi, salah satu yang menunjukkan bahwa cerpen ALex ini sering kali absurd. Atau nyleneh kalau testimoni pembacanya. Tapi cerita ini membuatku berpikir, barangkali inilah yang dialami para pengidap shizofrenia. 

Cerita tentang kucingnya sendiri adalah Kucing Hitam. Ini bacaan buat yang suka horor. Tentang adanya makhluk-makhluk di sekitar kita, beririsan dan hadir di dunia yang mestinya tidak sama. Jebakannya adalah bahwa kucing hitam adalah si penutur cerita.

Baca juga: World without End, Kisah Percintaan Berlatar Sejarah Kelam Gereja Katolik


Kisah Seekor Camar dan Seekor Kucing yang Mengajarinya Terbang


Judul: Kisah Seekor Camar dan Seekor Kucing yang Mengajarinya Terbang

Penulis: Luis Sepúlveda

Penerjemah: Ronny Agustinus

Penerbit: Marjin Kiri

Tebal: 89 halaman

Terbit: Oktober 2020 (Cetakan I)


Baca juga: Berhikmat bersama Loki Tua, Novel Yusi Pareanom


Ini kali pertama aku membaca karya Luis Sepúlveda. Dan agak terkejut saat tahu buku ini diterbitkan Marjin Kiri. Memang, aku juga punya beberapa terbitan Marjin Kiri, buku-buku dari Amerika Latin. Tapi, ini kan tentang kucing? Membayangkan Ronny Agustinus yang postingan di media sosialnya kebanyakan urusan politik untuk menerjemahkan fabel. 

Tentu ada alasannya. Yang pasti, Luis Sepúlveda adalah penulis penting dari Chile. Karya-karyanya diakui dunia.

Kisah berawal saat Zorbas mendapati camar yang terjatuh akibat tumpahan minyak dari kapal tanker di laut mengenai bulu-bulunya. Setelah susah payah terbang, ia tak sanggup. Sebelum mati, ia menitipkan telurnya, meminta si kucing untuk menjaga dan kelak mengajarinya terbang. 

Ada 5 ekor kucing, seekor simpanse, dan bayi burung camar. Sosok manusia terselip di antaranya. 

“Mudah sekali menerima dan mencintai mereka yang sama dengan kita, tetapi mencintai yang berbeda itu sangat berat, dan kau membantu kami melakukan itu.”

Dari rencana yang sangat tidak masuk akal --kucing yang mengajari camar terbang-- ini terselip pesan terkait masalah lingkungan dan keterikatan antar makhluk. Bagaimana sosok-sosok binatang yang berbeda ini bisa hidup berdampingan dan saling memberikan bantuan? Jadi, bagaimana cara si kucing mengajari anak camar itu terbang? Apakah berhasil?

Aku ingin membuat catatan lebih detailnya nanti. Mau coba bikin catatan detail seperti yang dibuat Ulasan Ending Drama Korea. Beda sih, lebih ke film dan variety show Korea tapi kan bisa juga diperlakukan ke ulasan buku.

Tunggu tambahan reviu buku rekomendasi tema kucing lainnya, ya. Akan ditambahkan di sini, atau di judul baru. Meoooong!  

Onye, FIP, dan Berdamai dengan Rasa Sedih dan Bersalah

Didera perasaan sedih dan rasa bersalah pasca kematian anak bulu, aku yakin semua pet owner pernah mengalaminya. Sebaik-baiknya usaha yang sudah dilakukan, tetap saja, ada rasa bersalah yang menyertai. Seikhlas-ikhlasnya menyadari kematian sebagai sebuah keniscayaan, rasa sedih tetap tak tertahankan. Hal ini baru kualami dalam seminggu ini, pasca kepergian Onye, anak meong yang menderita FIP. 



Baca juga: Onye dan Cicin Meong menuju Usia 7 Tahun

Beberapa anak anggota keluarga Rumah Ronin pernah terinfeksi FIP, penyakit yang dulu kukatakan sebagai "diagnosis itu sudah berarti kontrak mati". Menghadapi kematian Onye, buatku relatif lebih mudah dibandingkan saat-saat lalu. Pertama, karena aku sudah --setidaknya-- berusaha untuk memberikan pengobatan terbaik. Kedua, aku sudah di masa yang lebih banyak berdamai dengan kondisi batin. Meski begitu, tetap saja, saat teringat masih sering sesenggukan sendiri. 


Tentang Onye

Yang sudah kenal baik keluarga Rumah Ronin, pasti tahu riwayat Onye. Ia kutemukan tengah meringkuk di pinggir jalan besar, Jalan Lombok, Bandung. Saat itu sedang dalam perjalanan ke studio siaran, 21 Maret 2016. Masih sangat kecil, kurang dari dua bulan. Ringkih dengan mata merah. Kuduga sudah agak lama ia terpisah dari induknya. Besar kemungkinan dibuang oleh orang yang ketempatan emak dan anak-anaknya. Menurut tukang parkir di sekitar, hari sebelumnya ada dua anak kucing. Satunya sudah mati dan dikuburkan. 

Bayi Onye


Kubawa pulang. Mata merahnya ternyata disebabkan chlamydia. Dan sudah sangat terlambat. Sempat diobati. Obat itu berhasil menyelamatkan nyawanya, tapi tidak matanya. Onye kecil pun buta. Meski begitu ia tumbuh sehat. Pengenalannya akan lingkungan juga cepat. Di masa remajanya bisa jadi ia masih bisa melihat, meski samar. Tapi semakin dewasa, matanya makin merapat. 

Pada umur sekitar 6 bulan, datang serangan panleuk atau distemper. Dua anak yang usianya lebih tua beberapa bulan, tak terselamatkan. Satu pergi saat masih dalam perawatan klinik, satunya saat perawatan lanjutan. Dua anak lain, Onye dan Cicin dengan gejala yang sama, bertahan. Bertahan dari gejala panleu, bagi pet pawrent adalah keajaiban, mengingatnya kejamnya itu virus. 


Tahun lalu, Agustus 2022, kudapati gejala yang aneh. Badannya mengurus. Firasatku mengatakan itu bukan gejala mengurus biasa. Mencari waktu untuk periksa, dan akhirnya, ya, hasil lab menunjukkan Onye positif FIP kering. Lemas sungguh rasanya...

Baca juga: Hati-hati, Jangan Sepelekan Kutu pada Kucing

Onye dan Cicin



FIP, Gejala dan Penanganan

IP atau Feline Infectious Peritonitis adalah penyakit kucing yang disebabkan oleh feline coronavirus (FCoV). Virus ini menyebabkan infeksi yang menyebar ke seluruh tubuh kucing, menyebabkan terjadinya peradangan ekstrem pada jaringan di sekitar perut, ginjal, atau otak. Disebutkan, FIP menyerang kucing yang berusia 3 bulan hingga 2 tahun. Namun, faktanya, kucing semua usia dapat terserang. 

Penyebaran feline coronavirus adalah melalui kontak mulut dengan kotoran yang terinfeksi. VCA Animal Hospitals memperkirakan satu dari tiga kucing yang terinfeksi menyebarkan virus ini melalui kotorannya. Berikutnya terjadi perpindahan virus melalui air liur saat kucing saling menjilati bulu), makan dari mangkok makanan yang sama, bersin, dan melalui kontak dekat lainnya. Kucing yang tinggal dalam lingkungan yang populasinya rapat, memiliki risiko penularan lebih tinggi. Selain itu, penularan bisa terjadi dari plasenta induk kucing ke janinnya.

Gejala awal FIP pada kucing bervariasi. Secara umum hilangnya nafsu makan dan kondisi yang lesu. Ada yang mengalami demam yang naik-turun, ada yang tidak. Berikutnya akan terlihat, kucing terserang FIP jenis apa. Ada macam FIP, yakni kering dan basah. 

Pada FIP kering, kucing mengalami infeksi dan peradangan di sekitar pembuluh darah yang berpengaruh pada otak, hati, ginjal, paru-paru, dan kulit. Gejalanya dapat berupa kejang dan gerakan tubuh yang tampak tak terkoordinasi. Gejala lain yang kemungkinan dialami adalah diare, buang air kecil berlebihan, berat badan turun drastis, dan penyakit kuning. 

Pada FIP basah, infeksi menyerang pembuluh darah yang mengakibatkan terjadinya peradangan serta keluarnya cairan dari darah ke perut dan dada. Penumpukan cairan yang terus menerus menjadikan perut kucing membuncit, dan menyebabkan kucing mengalami sesak napas.

Baca juga: Ketika di Australia Kucing dianggap Hama


Pengobatan Onye

Beberapa waktu terakhir sudah ada obat yang bisa diberikan untuk penanganan FIP. Bahkan sudah ada pilihan obat yang harganya lebih murah dibandingkan generasi pertama. Itulah penanganan yang disarankan oleh drh. Ivan, Klinik Gloria yang memeriksa Onye dan setelah mendapati hasil tes darah yang menunjukkan Onye positif FIP kering. 

Aku pernah beberapa kali mendapati anak meong yang terinfeksi FIP. FIP basah maupun kering. Saat itu belum ada obat. Tak ada yang bisa dilakukan selain upaya mempertahankan imunitas. Yang FIP basah, dengan melakukan penyedotan cairan. Pelan tapi pasti, mereka akan mati. Pada kasus Onye, ingin sekali mengusahakan pengobatan. Selain karena mengingat kasus-kasus terdahulu yang lebih banyak berpasrah, juga karena melihat Onye, anak istimewa ini tampak bersemangat untuk sehat. Maka, keputusannya ambil pengobatan injeksi yang disarankan dokter.

Aku ingin bagikan perihal pembiayaan dan tata laksana pengobatan.

Yang pertama, tentu saja dibutuhkan tes laboratorium lengkap untuk menegakkan diagnosis. Biaya labortarium untuk Onye saat itu lebih kurang 1,5 juta.

Pemberian obat injeksi dalam kasus FIP adalah setiap hari pada jam yang lebih kurang sama selama kurun waktu 84 hari berturut-turut. Dosis obat yang disarankan ada rumusannya, bergantung pada berat badan. Jadi, sebelum dilakuna pemberian obat, ada penimbangan badan dulu untuk memastikan jumlah cairan obat yang akan diinjeksi. 

Untuk Onye, obat yang digunakan adalah remdac (remsidivir), obatnya berbentuk puyer, yang harus dicampur dengan cairan khusus. Harga satu botol 200ribuan sekian. Cairan yang bisa digunakan untuk campuran sebanyak 4 ml per botol puyer. Untuk Onye, sesuai berat badannya, 1 botol bisa untuk 2,5 kali injeksi. Dan makin meningkat dosisnya saat berat badannya naik. Maafkan, aku sudah membuang kwotansi pembayaran, tak ingat persis detail harga. Dengan berat badan Onye yang waktu itu dari 2,6 kg naik hingga 3,7 kg, lebih kurang biaya per injeksi adalah 90 ribu rupiah. 

Dari gambaran kasar itu bisa dihitung berapa besar biaya yang dibutuhkan untuk pengobatan FIP. Bukan angka yang mudah buatku. Dengan kondisi keuangan yang repot sungguh, karena sudah tak ada pemasukan rutin dan hanya mengandalkan tabungan yang juga semakin menipis. Terlebih berbarengan dengan perbaikan beberapa bagian rumah yang memang betul-betul tak bisa ditunda lagi karena kerusakan yang cukup serius. Saat memasuki masa injeksi hari ke 30-an, obat tersendat. Ketersediaan terganggu. Ada beberapa kali penundaan. Tersambung kembali. Hingga ada di titik yang berbarengan, uang makin menipis, obat tak tersedia. Akhirnya, pengobatan terhenti persis di hari ke-45. 

Baca juga: Kucing Penyebab Kemandulan?

Bagaimana kondisi Onye? Baik sekali. Sejak pengobatan hari ke sekian, aku lupa persisnya, kondisi Onye baik sekali. Makan banyak, sehari sampai beberapa kali hingga badannya kembali pulih. Menggendut. Aktif, nggak kuyu lagi. 

Hidup berjalan terus. Kuriak aka perbaikan rumah berjalan. Beres, ganti Cicin sakit. Cukup serius. Cicin yang saat adopsinya hampir bersamaan dengan Onye juga membutuhkan perhatian dan biaya ekstra. Sungguh akhir tahun kemarin dan awal tahun ini menjadi saat-saat yang berat. Cicin membaik, dengan dukungan biaya dari teman-teman permeongan.

Lalu, begitu saja datang flu yang dengan cepat menggila. Nyaris semua kena. Termasuk Onye. Betul-betul membuat was-was, terutama Onye yang survivor FIP. Bahkan anak-anak yang hidup di blok komplek, beberapa menghilang setelah terlihat gejala flu yang aneh itu. Tak semua stray itu bisa dipegang, apalagi sekadar dikasih obat atau vitamin. Hingga hari itu datang juga.

Saat mengelus badan Onye, kurasakan ada penyusutan berat badan. Sebelumnya memang tak cukup memperhatikan secara khusus kondisi anak ini. Selain banyak yang menyita fokus, juga karena anaknya tak terlihat bermasalah dengan pola makan dan aktivitasnya. Masih tambak normal. Tiap hari minta wetfood, makanan yang khusus kubeli buat dia pasca terinfeksi FIP. Tapi ternyata berat badannya mulai turun. Setelah ini, kondisinya memburuk dengan sangat cepat.

Onye dan Ibu main ke rumah Tante Ruby

"Ibu minta maaf ya, Onye, tak bisa bawa berobat ke dokter." Cuma itu yang bisa kusampaikan padanya soal ketidakberdayaanku saat itu. Bahkan biaya pengobatannya ke klinik sebelumnya saja masih belum terlunasi dan tak sanggup nyicil dalam beberapa bulan terakhir. 

Baca juga: Casper, Kucing Hantunya Rumah Ronin


Berdamai dengan Rasa Sedih dan Bersalah

Aku beruntung --bisa kukatakan demikian, peristiwa kepergian Onye datang sekarang-sekarang, ketika aku lebih bisa berdamai dengan berbagai peristiwa dalam hidupku, termasuk kematian. Seandainya peristiwa ini datang lima tahun lalu, bisa kupastikan aku akan tenggelam dalam rasa bersalah.

Saat kita tak bisa betul-betul ikhlas menerima kenyataan, sering kali yang kita lakukan adalah memperparah keadaan dengan mengulik lagi rasa sedih dan bersalah, alih-alih menjadikannya pelajaran. Saat kepergian Onye, aku sempat melakukannya. Mengulik lagi pengandaian-pengandaian: 

  • seandainya aku aku memaksa ambil uang tersisa di tabungan, mungkin kesehatan Onye dapat tekejar
  • seandainya aku tak terlewat, memberi suplemen yang dibutuhkan Onye secara rutin, dia masih bertahan
  • seandainya perhatianku tak sedang terpecah kepada seseorang yang sedang bermasalah dan anak-anak meong lain yang juga sedang sakit, mungkin Onye masih bersamaku.

Apakah kalau semua pengandaian itu terjadi, apakah Onye betul-betul akan bertahan? Jawabannya bisa iya, bisa juga tidak. Karena kita memang tak tahu persis takdir Onye. Jadi, satu-satunya pilihan adalah menerima peristiwa terakhir yang aku dan kita hadapi sebagai takdir, hal yang semestinya terjadi. 


Onye dan Casper

Semoga pengalaman teman-teman, para pet owner, terutama yang sedang menghadapi masalah kesehatan berupa FIP, bisa menghadapi kenyataan dengan lebih. Semoga dimudahkan untuk yang mau berjuang memberikan pengobatan, diberikan rezeki, dan anak bulunya juga mau berjuang. Yang tidak, tak mampu secara finansial maupun pertimbangan lain, semoga juga terberkati dengan tetap melimpahkan kasih sayang pada hari-hari tersisa anak-anak bulunya. 

Semoga semua makhluk berbahagia. Namaste

Baca juga: Adora, dari Kitten Penuh Scabies menjadi Kucing Jelita

Rumah Ronin, Blognya Keluarga Kucing Cikoneng

Meski tak membuat resolusi secara khusus pada pergantian tahun kemarin, aku berkomitmen kepada diri sendiri, tahun ini akan lebih banyak membaca dan menulis. Membaca apa saja, menulis apa saja. Salah satu yang kuagendakan adalah "menghidupkan" blog. Ada dua blog yang sama sekali tak kusentuh selama setahun terakhir. Salah satunya adalah blog tentang kucing. Namanya Rumah Ronin, blog tentang keluarga Kucing Cikoneng dan serba-serbi dunia kucing.

Baca juga: Jangan Pelihara Kucing, Buku Kisah Kucing Bersama Penerbit Epigraf

Sebagai pekerja lepas yang menawarkan jasa penulisan, aku memang tak fokus menulis di blog. Sejauh ini blog pribadi semata untuk menuangkan hal-hal sederhana yang kebetulan melintas dalam benakku, atau adanya peristiwa-peristiwa tertentu yang cukup mempengaruhiku. Termasuk dua blog lain, yang bertema kucing dan musik. Kucing, karena mereka ada di keseharianku. Musik, lebih banyak dimanfaatkan untuk post ulang bahan siaran. Setelah tak siaran, blog pun akhirnya vakum. Tampaknya perlu direncanakan kembali untuk menghidupkannya. Untuk sekarang, mencoba fokus membenahi blog kucing. 


Apa sih Rumah Ronin?

Rumah keluarga kucing Cikoneng tentunya sudah ada sejak ada kucing sebagai penghuni tetap rumah. Persisnya setahun setelah kepindahanku ke rumah baru, rumah yang kuhuni sekarang, ada seekor kucing yang menemaniku. Aku bukan "manusia kucing". Pengenalanku terhadap binatang peliharaan hanyalah ternak. Ada banyak ayam dulu dipelihara oleh bapakku di kampung. Atau kambing dan sapi yang dipelihara tetangga. Kucing tak pernah masuk dalam ranah kehidupan pribadiku. Hingga kucing pemberian kawan itu.

Namanya Kapten. Terdengar gagah, bukan? Seperti puisi Walt Whitman yang didedikasikan untuk Presiden Abraham Lincoln yang baru mangkat: "O Captain! My Captaun!"

Saat itu, 2005, aku belum kenal steril. Kapten mulai kabur-kaburan dari rumah saat memasuki masa berahi. Begitu pun seekor betina cantik yang sedianya kuadopsi dari jalanan sebagai teman Kapten, akhirnya bunting dan melahirkan. Beranak-pinak. 

Baca juga: Naga Chan dalam Kenangan 

Singkat cerita, pembenahan kehidupan perkucingan mulai dilakukan setelah mengenal sterilisasi. Pemandulan pada kucing. Tak ada lagi kucing yang melahirkan di rumah. Tak ada jantan rumah yang membuahi betina-betina liar. Tapi tetap, ada saja kucing-kucing liar yang membutuhkan bantuan. Untuk mendukung keuangan pasukan kucing, aku menyiapkan lapak dagangan. Kebetulan, saat itu aku baru mengadopsi dua kucing kecil dari tempat pembuangan sampah sementara daerah Buah Batu Bandung. Kunamai mereka Ronin dan Maiku. Saat itu aku masih bekerja di sebuah tempat kursus Bahasa Jepang. Nama Ronin inilah yang kemudian kucomot sebagai nama lapak keperluan kucing dan lain-lain, untuk kebutuhan media sosial seperti Instagram dan Facebook, dan blog kucing. Khusus produk, dapat ditemukan juga di lokapasar Tokopedia dan Shopee.


Ada Apa Saja di Blog Rumah Ronin?

Lewat blog kucing ini, aku berbagi tentang kehidupan geng kucing di rumah. Sejarah mereka menjadi keluarga, riwayat kesehatan, dan hal remeh-temeh soal keseharian mereka. Selebihnya berupa cerita kucing, kesehatan kucing, produk-produk untuk kucing, aneka peristiwa terkait kucing, kucing-kucing sahabat, juga produk-produk yang kami pakai dan pasarkan lewat lapak Rumah Ronin.

Mulai merawat kucing sejak 2004, mengenal steril kucing pertama tahun 2009, dan mulai bergiat untuk menjadi penyelenggara sterilan sejak 2012, dapat dikatakan aku cukup paham dunia perkucingan. Jangan sebut mahir, karena itu bukan keahlian. Makanya menjadi hal tak menyenangkan ketika ujug-ujug ada pesan di WhatsApp yang bertanya tentang penyakit kucing. Tanya soal penyakit mah ke dokter, atuuuuh. Da saiyah juga kalau kucing sakit dibawa ke dokter, bukan coba-coba diagnosis dan obati sendiri. 

Baca juga: Berkenalan dengan Qori Soelaeman, Ibu Seribu Kucing

Ya, kalau aku menyebut tentang durasi waktu aku intensif mengurus kucing, bukan bicara soal kepakaran. Sekadar pengalaman. Dan pengalaman itu bukan hanya bicara tentang kucing juga tapi kebiasaan-kebiasaan kucing, hal-hal menyenangkan dan konyol yang sering kucing-kucing lakukan. Bahkan bagaimana menghadapi kematian kucing. Pengetahuan dan pengalaman untuk dibagikan. Soal kepakaran, tetap, tanyakan pada ahlinya. 

Semoga Rumah Ronin bisa cukup membantu untuk yang butuh acuan informasi awal soal kucing. Keluarga kucing Cikoneng hanya sebagai contoh. Semoga terus cukup energi untuk membangun blog kucing, dan bahkan lebih aktif dari blog utama Ibu Meong. Perlu banyak belajar juga dari teman-teman blogger Blog Sunglow Mama. Siapa tahu bisa dimonetisasi lumayan kan, menjaga keberlangsungan hidup pasukan meong. 



Berkenalan dengan Qori Soelaiman, Ibu Seribu Kucing

Pembawaannya kalem, hangat, dengan senyum yang ramah. Qori Soelaiman, perempuan yang di belakang namanya sering disertai embel-embel: ratu kucing jalanan, ibu seribu kucing, dan sebutan lain terkait relasinya dengan kucing. Yang jelas, ia adalah sosok penting di balik berdirinya Yayasan Peduli Kucing, yayasan yang memiliki misi melakukan perubahan dengan mengajak masyarakat Indonesia menciptakan generasi ramah satwa. Qori mempercayai ungkapan Mahatma Gandhi: “The greatness of a nation and its moral progress can be judged by the way its animals are treated”.




Sesuai namanya, Yayasan Peduli Kucing lebih fokus pada kucing. Kenapa kucing? Karena kucing adalah binatang yang sangat mudah ditemui dan cukup familiar sebagai peliharaan keluarga. Sayangnya informasi dan pengetahuan masih minim. Regulasi yang mengatur tentang binatang pun masih lemah. 

Sejak resmi menjadi sebuah yayasan pada 15 Oktober 2012, Yayasan Peduli Kucing telah melaksanakan banyak program. Utamanya adalah melakukan edukasi dan penyebaran informasi. Bersama para sahabat, Qori berbagi informasi tentang kucing seperti kesehatan, perilaku, dan aneka tips pemeliharaan yang disebarkan melalui berbagai media. Baik media elektronik, media cetak, website internet, maupun media sosial. Tak hanya informasi melalui media, para punggawa yayasan juga turun langsung ke lapangan. Kegiatan rescue (penyelamatan kucing jalanan) dilakukan di berbagai wilayah (Jabodetabek area) dan menjalin kerjasama dengan dokter rekanan yang bisa memberikan tarif khusus. Tak berhenti di situ, kKucing-kucing telantar tersebut dirawat dan dicarikan adopter agar mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Bahkan beberapa di antaranya dijadikan talent untuk kalender dengan sponsor pakan komersil dan perusahaan ritel. Pendek kata, kucing jalanan berhak untuk bahagia.  


Tapi, rescue kucing telantar tak akan ada habisnya. Maka yang juga menjadi concern dari Yayasan Peduli Kucing: menahan laju populasi kucing jalanan dengan melakukan sterilisasi. Bakti sosial (baksos) steril kucing dengan biaya murah telah banyak digelar oleh yayasan, baik untuk kucing telantar maupun bagi kucing berpemilik. Kini kegiatan baksos serupa telah menyebar ke seluruh penjuru tanah air dengan para penggiatnya masing-masing. 

Dengan segala bentuk kepeduliannya terhadap kucing, ternyata Qori tak tumbuh besar bersama kucing lho. Bahkan semasa kecilnya, orang tuanya melarang untuk memelihara kucing. Beberapa kucing yang sempat dirawat malah mengalami nasib naas, dibuang ke tempat lain. Tampaknya ini menjadi salah satu alasan Qori untuk menumbuhkan generasi ramah satwa. Yayasan Peduli Kucing melakukannya dengan memberikan edukasi ke Kelompok Bermain, Taman Kanak-kanak, Sekolah-sekolah Dasar, dan Yayasan Yatim Piatu. 

Kiprahnya dalam berbagai kegiatan peduli kucing ini menempat Qori di jajaran Finalis Kartini Next Generation Award 2015  Woman as a Driver of Progress yang diselenggarakan 22 April 2015 oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika, Kementrian Pemuda dan Olahraga serta Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak. Kini, Qori tinggal di Karawang, bersama suami, 36 ekor kucing, seekor anjing, belasan ayam, dan beberapa ekor ikan. 

Baca juga: Gandalf Baby Grey, Si Bayi Kucing Tanpa Induk

*sudah tayang di SundayPeople