Kau tidak hidup dengan menjalani akibat dari karma orang lain. Kau menjalani hidup dengan akibat-akibat dari karmamu sendiri.
Kebaikan dan kejahatan bagaikan dua sisi yang berbeda dari sekeping mata uang.
Catatan penyulam kata
Kau tidak hidup dengan menjalani akibat dari karma orang lain. Kau menjalani hidup dengan akibat-akibat dari karmamu sendiri.
Kebaikan dan kejahatan bagaikan dua sisi yang berbeda dari sekeping mata uang.
Bagi penggemar tema misteri, buku ini layak untuk dijadikan pilihan. Misteri dengan nuansa horor yang mengambil latar belakang tradisi Bali. Alur ceritanya cukup mengagetkan dan menghadirkan plot twist di penghujung kisah. Coba menggali nama penulis--Prima Taufik, termasuk pemilihan judul buku--di mesin pencari, tapi tak cukup membantu. Jadi, aku mau membagikan saja pengalaman membaca buku ini, siapa tahu ada yang sedang mencari inspirasi menulis kisah horor atau misteri.
Baca juga: Cantik Itu Luka, Kisah Perempuan-Perempuan dengan Luka
Sebagai orang yang besar di kampung, aku cukup familier dengan cerita tentang pertumbalan. Entah nyata atau tidak, kisah-kisah tentang mereka yang melakukan aksi tumbal demi mendapatkan kekayaan ini beredar dari mulut ke mulut. Di Bandung, di wilayah yang sudah hingar kota ini, rupanya praktik pertumbalan juga masih banyak beredar di tengah masyarakat. Ah, tapi lain waktu saja kuceritakan lebh detail, ya.
Sinopsis
Cerita diawali dengan peristiwa tragis yang menimpa Hanggono Sastrowiharjo. Kendaraan yang ia tumpangi mengalami kecelakaan. Prolog yang cukup menghentak, ketika dua pengendara truk itu dihadapkan pada sosok dari dunia lain.
Kisah yang sesungguhnya dimulai dari Bab 1. Hanggono melakukan perjalanan menyeberangi Selat Bali. Ia memutuskan hijrah ke Pulau Dewata, dengan istrinya, Kumala Dewi, tentu saja. Pasangan muda sudah sering diganggu makhluk dalam aneka wujudnya, sejak awal pernikahan mereka. Penyebabnya ada di diri Hanggono. Begitu pula perjalanan pendek tersebut, tak lepas dari gangguan dari makhluk yang muncul dalam sosok perempuan berkebaya hijau. Badai dan ombak besar mengiringi perjalanan mereka. Namun, perjalanan akhirnya berlangsung aman dan lancar; perjalanan yang merupakan cikal kehidupan mereka yang baru.
Baca juga: Book Sleeve, Pembaca Buku Wajib Punya
Kehidupan pasangan ini berjalan dengan baik. Dengan bantuan Kamajaya, orang yang punya kaitan dengan sejarah keluarga istrinya, hal-hal yang terkait mistis yang menjadi permasalahan Hanggono, berhasil diatasi. Namun, itu tak berlangsung selamanya. Ada masalah-masalah baru seiring dengan hadirnya anak-anak mereka. Dua anak laki-laki dengan keingintahuan mereka. Ada begitu banyak pantangan yang harus dipatuhi bocah-bocah tersebut. Jika tidak, keberadaan mereka akan terendus oleh kalangan yang selama ini terus mengintai.
Siapakah kalangan itu? Tak lain adalah keluarga Hanggono. Di sinilah titik kembali ke bagian prolog, peristiwa kecelakaan yang ternyata merenggut nyawa Hanggono. Kisah selengkapnya dari masa lalu Hanggono muncul ketika anak sulung mereka, Wayan, tak percaya dengan informasi perihal kematian sang ayah. Dia mengulik, dia mencari tahu. Tak tanggung-tanggung, ia menyusur ke akarnya: keluarga Hanggono.
Banyak keanehan dan hal ganjil yang ditemukan Wayan di keluarga ini. Berulangkali ia berada dalam kondisi kritis. Hingga tiba di satu titik, pertempuran tak terelakkan. Ini terjadi setelah ibu dan adik Wayan menyusul ke rumah keluarga Hanggono. Hasilnya tak cukup baik. Kumala Dewi yang ternyata memiliki kesaktian bawaan keluarga, dan sang adik yang sudah cukup membekali diri tak sanggup melawan kekuatan keluarga Bayu Sastrowiharjo, pamannya Hanggono. Ada kekuatan luar biasa yang mempengaruhi keluarga ini. Wayan yang akhirnya tersisa dari keluarga besar Sastrowiharjo tak luput dari kekuatan itu.
Apakah ia akan bergabung sebagai pewaris ataukah memilih hidupnya sendiri? Tak terjawab. Jawabannya diserahkan kepada pembaca.
Baca juga: Menerbitkan Buku Antologi secara Mandiri
Kisah Mistis yang Memikat
Aku menemukan buku ini setelah sekian lama menyimpan naskah dengan latar belakang tradisi Bali yang coba kuramu. Berasa diingatkan kembali bahwa aku punya PR.
Baca buku ini mengingatkanku pada cerita yang dituliskan Dee Lestari di Aroma Karsa. Terutama di bagian yang aku salah menduga tokoh yang jadi pemeran utama. Awalnya yang langsung muncul di benakku saat membaca prolog, ini buku akan mengisahkan tentang Hanggono. Dari peristiwa kecelakaan itu Hanggono berhasil pulih, melanjutkan hidup, dan dari situlah kisahnya berawal. Ternyata tidak. Sebetulnya tak cukup mengherankan juga jika ada anggapan begitu, karena penceritaan tentang Hanggono mengambil tempat setengah bagian. Sisanya barulah cerita tentang Wayan.
Kalau di Aroma Karsa, kuduga Raras Prayagung menjadi pusat cerita. Raras yang di awal ditampilkan dalam pertemuan dengan eyangnya, Eyang Janirah, ternyata menjadi sosok antagonisnya. Tanaya Sumi, anak semaya wayang yang dimunculkan belakangan mengambil porsi protagonisnya.
Baca juga: Aroma Karsa, Karya Wangi Dee Lestari yang Menegangkan
Kembali ke Balakosa ... Pada catatan sinopsis di atas barangkali terkesan lempeng saja, ya. Padahal banyak gejolak yang ditampilkan dalam buku ini. Nyaris di setiap babnya menyodorkan ketegangan. Terseret, terbawa cerita, lalu di ujungnya: "loh, kok gitu?" Pertanyaan itu bisa jadi muncul dari pembaca yang mengharapkan akhir kisah yang tuntas; titik tanpa koma. Tapi tampaknya bukan itu yang dikehendaki penulisnya.
Silakan baca kalau menjumpai buku ini. Nggak tahu juga untuk sekarang bisa didapatkan di mana. Konon, ada sedikit masalah antara penerbit dengan penulis sehingga peredaran bukunya tak cukup jelas.
Ah, tapi baca buku ini beneran memantikku untuk segera menuntaskan yang pernah kumulai. Nuansa-nuansanya rada mirip, Bali, horor, dan mistis. Mungkin ada di antara kawan-kawan yang mau nyumbang ide untuk bagian dari cerita, mau banget, lho. Nggak tahu juga, kalau Mas Bambang dengan Rumah Kurcaci Pos yang menjadi tempat berbagi cerita dan ceria juga punya kumpulan ide untuk tema horor dan mistis. Yang punya pengalaman mistis, boleh share di komentar atau japri, ya. Tengkyuuu.
Baca juga: Supata Sangkuriang, Ketika Legenda menjadi Certa Nyata
Judul: Balakosa
Penulis: Prima Taufik
Penyunting: Nurul Amanah
Penerbit: Pastel Books (PT Mizan Pustaka)
Tebal: 414 halaman
Buat pencinta anjing atau kucing, jangan terkecoh. Ini buku sama sekali tak bercerita tentang kedua binatang berbulu tersebut. Berbeda dengan dua buku Eka Kurniawan yang telah kubaca sebelumnya tanpa diawali dengan referensi apa pun, untuk buku Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong aku sempat hadir di sesi diskusi penulis di Gramedia Merdeka, Bandung. Jadi, sudah berbekal bahan bahwa buku ini terkait nama Sato Reang dan banyak bicara soal tradisi beragama.
Baca juga: Cantik Itu Luka, Kisah Perempuan-Perempuan dengan Luka
Di buku ini gaya Eka, setidaknya dari dua buku yang sudah kubaca, masih terasa. Lugas dan telanjang. Meski terasa lebih "santun". Barangkali karena mengangkat tema terkait spiritualitas. Pilihan katanya masih bikin aku ngakak, dimulai dari halaman pertama.
Sinopsis
Dalam Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong, Eka menonjolkan satu karakter saja, dari kecil hingga dewasa. Namanya Sato Reang. Dalam bahasa Sunda, sato artinya hewan atau binatang. Nah, reang aku belum pernah tahu. Konon ini adalah istilah dalam bahasa Jawa Kuno. Tapi ada yang menyebut reang sebagai bahasa Indramayu. Eka sendiri tak menyebutkan secara gamblang seting lokasi.
Halaman awal sempat membingungkanku, karena PoV menggunakan orang pertama. Namun si "aku" juga menyebut nama Sato Reang, seolah ia menceritakan orang ketiga. Ini PoV yang belum pernah kutemui dalam buku yang pernah kubaca. Tolong kasih tahu kalau ada pola serupa di buku cerita lainnya.
Selagi kecil, Sato Reang sangat menurut kepada orang tuanya. Terutama kepada ayahnya, Umar. Meski sambil protes dan ngedumel, ia selalu mengikuti perintah sang ayah. Wajib sembahyang lima kali sehari, lalu mengaji atau membaca ayat Al-Quran setiap malam. Kebebasan Sato Reang makin terenggut setelah ia disunat. Karena dengan tegas ayahnya berpesan: "Sudah saatnya kau menjadi anak saleh."
Aturan itu rupanya tak berlaku bagi semua anak di kampung mereka. Banyak yang masih berkeliaran, bermain hingga petang, keluyuran hingga jauh, pacaran. Sedangkan Sato, bahkan acara yang oleh ayahnya disebut sebagai bermain pun ternyata adalah kegiatan pengajian yang dilangsungkan di kota lain.
Pada tiap dini hari, Umar akan menggedor-gedor pintu kamar anaknya itu sampai terbangun. Sato akhirnya menjalaninya sebagai rutinitas, setengah terjaga, berangkat menuju musala. Di kemudian hari, kebiasaan-kebiasaan sang ayah itu menciptakan trauma tersendiri. Salah satu hal yang seolah ia ingin balaskan dendam saat sang ayah meninggal, melakukan segala macam kenakalan.
Ya, Sato Reang, si anak saleh itu berubah liar. Awalnya adalah saat ia merasa begitu terbebani dengan sosok ayahnya yang terasa masih hidup di pikirannya. Seolah ia melakukan apa-apa yang ayahnya lakukan. Ia pun berontak. Ia ingin menunjukkan kalau ia adalah Sato, bukan Umar. Mulailah ia meninggalkan salat, memprovokasi Jamal yang selama ini menjadi pengikutnya, minum-minuman beralkohol, bahkan melakukan tindakan brutal yakni membakar bioskop. Sudah pasti juga ia meninggalkan sekolah.
Keliaran Seto akhirnya harus dibayar mahal: kematian Jamal. Cerita pun selesai.
Baca juga: Buku tentang Kucing yang Dapat Dijadikan Pilihan Bacaan Tahun Ini
Sebetulnya aku tak begitu akrab dengan kehidupan yang diceritakan Sato. Cukup tahu yang kulihat semasa kecil, teman-teman yang mengaji di langgar. Namun, tradisi itu tak ada di keluargaku yang kristiani. Pun masyarakat di sekitarku bukanlah kalangan relijius. Dapat dikatakan mereka adalah kaum abangan. Waktu itu.
Nggak tahu juga, di perkotaan apakah keluarga muslim juga melakukan tradisi beragama seperti yang diceritakan Sato. Mungkin Human Education Centre punya catatannya? Barangkali kaitannya dengan kurikulum merdeka, bagaimana pembelajaran kehidupan beragama para bocah ini diterapkan.
Kisah yang Kurang Greget, Kemasan yang Sangat Cakep
Sebagai orang yang terbengong-bengong saat membaca Cantik Itu Luka (2016), lalu Lelaki Harimau (2004), aku terbilang kecewa dengan buku Eka ini. Aku masih menikmati cara Eka bercerita, suka dengan keliarannya, pilihan diksinya, tapi rasanya Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong terlalu adem. Sosok hanya terpusat di Satu, dan meski alurnya maju mundur, terasa jauh bedanya dengan CIT atau LH yang membuatku merasa diajak jungkir balik. Dan, penutupnya buatku juga kurang greget.
Yang sangat jelas membuat buku ini berbeda adalah penampilannya, kemasannya. Buku hanya dicetak dalam format hard cover. Dengan ketebalannya hanya hanya 133 halaman, sudah pasti buku ini terasa mahalnya. Judul sudah jelas, aneh. Terdapat sampul buku dengan warna mencolok, antara merah dan jingga. Begitu masuk bagian dalam buku juga beda. Sepi. Tanpa kata pengantar, tidak ada daftar isi, judul bab pun tidak, apalagi prolog dan epilog, tanpa ilustrasi.
Yang penasaran dengan Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong, sila cari dan baca sendiri, ya. Tetap menjadi bacaan yang menarik, kok. Dan aku pun masih akan cari cari buku Eka Kurniawan yang belum kubaca: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014), O (2016), dan Kumpulan Budak Setan (2016).
Judul: Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (Cetakan Pertama, 2024)
Tebal: 135 halaman
Baca juga: Lelaki Harimau, Buku Kedua Eka Kurniawan yang Menyesatkan
Kisah tentang binatang dalam bentuk fabel, atau kisah dengan sosok mereka terlibat di dalamnya selalu muncul dari waktu ke waktu dalam khasanah literasi dunia. Beberapa di antaranya bahkan sangat ikonik, seperti nama Edgar Allan Poe yang melekat pada salah satu judul cerpennya, Kucing Hitam. Belakangan hari ini juga muncul buku-buku dengan cerita yang melibatkan kucing yang berhasil mengambil hati pembacanya. Bukunya dicetak ulang hingga entah berapa kali dan diterjembahkan dalam berbagai bahasa. Apakah kamu termasuk pengoleksi buku dengan cerita kucing? Buku apa saja yang sudah disiapkan untuk bahan bacaan tahun ini?
Baca juga: Lelaki Harimau, Novel Kedua Eka Kurniawan
Reviu di bawah ini awalnya berangkat dari tantang di platform X. Ajakan untuk mereviu buku dengan kover kucing. Aku memindahkan catatannya ke sini, dan melengkapinya dengan bacaan lain yang bisa jadi di kover tidak menyertakan sosok kucing, namun isinya berkisah tentang kucing. Catatannya akan coba diupdate secara berkala hingga jumlah tertentu.
Gerombolan Kucing Bandel
Judul buku: Gerombolan Kucing Bandel (9 Cerita Kucing dari 9 Penulis Dunia)
Penulis: E. Nasbit, dkk.
Penerjemah: Endah Raharjo
Penerbit: Pojok Cerpen
Tebal: 212 halaman
Terbit: Agustus 2021 (Cetakan Pertama)
Baca juga: Lima Cerita, Saat Seorang Desi Anwar Berkisah
Seperti tertulis dalam judul, buku ini merupaan kumpulan cerita dari 9 penulis sohor dunia: E. Nesbit (Maurice Menjelma Kucing), Sir Arthur Conan Doyle (Kucing Brazil), Edgar allan Poe (Kucing Hitam), Fritz Leiber (Gummitch Si Kucing Super), Angela Carter ( Kucing Bersepatu Bot), Rudyard Kipling (Si Kucing yang Berkelana Sendirian), Italo Calvino (Gerombolan Kucing Bandel), Saki-Hector Hugh Munro (Tobermory), dan Ursula K. Le Guin (Kucing Schrodinger).
Satu yang sudah (lebih dari sekali) kubaca: Kucing hitam. Cerita yang tiap kali dibaca, tetap bikin merinding.
Aku membaca buku ini secara acak. Mengawalinya dari Kucing Brazil. Ceritanya sama gelapnya dengan Kucing Hitam. Berkisah tentang pengkhianatan dalam keluarga, hanya karena persoalan harta. Uniknya, sosok perempuan, istri sang saudara yang dianggap memusuhi, pada akhirnya bisa dianggap sebagai penyelamat. Pemberi tanda.
Cerita unik ada di judul Si Kucing yang Berkelana Sendirian. Ini seolah menjawab muasal kenapa kucing nyebelin aka belagu. Kisah disampaikan ala dongeng, dengan adanya binatang-binatang lain yang datang dan menghamba kepada manusia. Berbeda dengan kucing yang bersiasat. Sehingga si manusia takhluk padanya.
Kisah yang menjadi judul buku berkisah tentang penghuni kota, Marcovaldo yang mengikuti perjalanan kucing-kucing. Tentang bagaimana lelaki itu menemukan bahwa para kucing kesulitan menjalani hidupnya karena ruang yang terbatas. Manusia mengambil semuanya. Aku selalu suka cara Italo Calvino bercerita.
Baca juga: Joko Pinurbo dalam Kenangan
Jika Kucing Lenyap dari Dunia
Judul: Jika Kucing Lenyap dari Dunia
Penulis: Genki Kiwamura
Penerjemah: Ribeka Ota
Editor: Anton Kurnia
Penerbit: BACA
Tebal: 253 halaman
Terbit: Desember 2021 (Cetakan IV)
Baca juga: Jais Darga dan Ajang Pembuktian Art Dealer Perempuan
Beli buku ini semata karena "kucing". Tak pernah cari tahu, buku tentang apa.
Idenya menarik, apa yang akan kita lakukan jika tahu umur kita tak lama lagi. Tema ini mengingatkan tentang betapa terbatasnya kita sebagai manusia, sekaligus betapa luas kemungkinan yang bisa kita lakukan jika kita memberi makna.
Berkisah tentang pemuda 30 tahun yang baru diberi tahu jika dirinya mengidap tumor otak stadium 4. Ia menanggapi kabar itu dengan biasa saja. Hingga saat iblis menawarinya tambahan umur dengan syarat: menghilangkan sesuatu dalam hidupnya. Dari sinilah muasal upaya menghilangkan aneka hal: telepon, kucing, hingga dirinya sendiri.
Di buku ini, ada 2 nama kucing yang diceritakan si tokoh. Salad & Kubis. Mereka punya ikatan yang kuat, terutama dengan ibunya, lalu dia. Terbayang, 'kan, kalau kucing-kucingmu tiba-tiba lenyap? Bayangkan kegembiraan apa yang bakal ikut lenyap.
Bagi pembaca buku yang pencinta meong, paslah baca buku ini. Buatku sendiri, awalnya agak sulit menikmati. Mungkin karena bahasanya terlalu ngepop buatku. Berusaha tidak menyerah. Dan memang banyak hal menarik yang bisa didapat, bicara tentang kehidupan; tentang bagaimana sebagai manusia kita menerima "jatah" kita dengan hati yang terbuka dan menjalaninya meski tak sempurna.
“Di dunia ini, ada banyak kekejaman. Tapi ada keindahan sebanyak itu pula.” (hal. 79)
Si tokoh hanya membuat narasi, tanpa menggurui. Bahwa selalu ada sisi baik dari tiap peristiwa, termasuk berdamai dengan masa lalu. Ia menunjukkan hal baik itu di penghujung hidupnya lewat rekonsiliasinya dengan sang ayah.
"Cinta pasti akan berakhir. Meskipun kita tahu akan hal itu, kita tetap jatuh cinta.
Mungkin soal hidup juga sama seperti itu. Suatu saat pasti akan berakhir. Meski tahu hal itu, kita tetap menjalani kehidupan. Sama seperti cinta, justru karena akan berakhir maka hidup terlihat gemerlap." (hlm. 89).
Baca juga: Aleph, Kisah Perjalanan Menemukan Diri
Hitam Gemerlap
Judul: Hitam Gemerlap
(Dwilogi Kumcer)
Penulis: Alexandreia Wibawa
Pemeriksa Ejaan: Dea Silvia Rahman
Penerbit: Langgam Pustaka
Tebal: 286 halaman
Terbit: Mei 2024 (Cetakan I)
Baca juga: Book Sleeve, Pembaca Buku Wajib Punya
Aku sudah membaca cerpen Alexandreia di buku ini dari buku kumpulan cerpennya yang pertama, Kucing Hitam. Khas tulisan Alex ini gelap, seringkali terasa nuansa desperade. Jangan berharap happy ending-lah pokoknya. Dan banyak di antaranya yang punya akhir tak tertebak.
Buku ini gabungan dari dua kumcernya, Kucing Hitam dan Warung Gemerlap. Keduanya sudah tidak cetak ulang. Demi memenuhi keinginan pembacanya, Alex mencetaknya lagi, namun kali ini digabungkan. Ada 25 judul cerpen di dalamnya.
Cerpen pertama bertajuk Labirin, ditulis Alex pada 2005. Bercerita tentang Rana yang terjebak dalam dunia mimpi pasca keisengannya mengambil benda unik di kamar Raga, kakaknya. Rupanya benda itu dapat membuat siapa pun yang memegangnya akan terus berada di alam mimpi. Berbagai mimpi telah Rana alami, dari yang menyenangkan hingga mengerikan. Melelahkan. Cerpen ini memenangkan Lomba Menulis Cerita Thriller Stephen King On Writing yang dielenggarakan tahun itu.
Warung Gemerlap, cerpen yang menjadi judul kedua kumpulan kumcer Alex aku belum pernah baca. Aku tidak punya bukunya. Awalnya kupikir ini berkisah tentang sosok selebritas, mengacu pada cerita sebelumnya. Sesuatu yang datang dari dunia gemerlap. Ternyata bukan. Membacanya membawaku pada ingatan cerita horor di masa kecil. Beragam cerita horor memang sebagian besar kudapatkan di masa kanak. Saat tinggal di Bandung, cerita-cerita serupa tak kudengar lagi. Kalaupun ada, nuansanya berbeda. Tak begitu dekat lagi. Nah, ini cerita berasa nyata.
Dialog Cangkir Kopi, salah satu yang menunjukkan bahwa cerpen ALex ini sering kali absurd. Atau nyleneh kalau testimoni pembacanya. Tapi cerita ini membuatku berpikir, barangkali inilah yang dialami para pengidap shizofrenia.
Cerita tentang kucingnya sendiri adalah Kucing Hitam. Ini bacaan buat yang suka horor. Tentang adanya makhluk-makhluk di sekitar kita, beririsan dan hadir di dunia yang mestinya tidak sama. Jebakannya adalah bahwa kucing hitam adalah si penutur cerita.
Baca juga: World without End, Kisah Percintaan Berlatar Sejarah Kelam Gereja Katolik
Kisah Seekor Camar dan Seekor Kucing yang Mengajarinya Terbang
Judul: Kisah Seekor Camar dan Seekor Kucing yang Mengajarinya Terbang
Penulis: Luis Sepúlveda
Penerjemah: Ronny Agustinus
Penerbit: Marjin Kiri
Tebal: 89 halaman
Terbit: Oktober 2020 (Cetakan I)
Baca juga: Berhikmat bersama Loki Tua, Novel Yusi Pareanom
Ini kali pertama aku membaca karya Luis Sepúlveda. Dan agak terkejut saat tahu buku ini diterbitkan Marjin Kiri. Memang, aku juga punya beberapa terbitan Marjin Kiri, buku-buku dari Amerika Latin. Tapi, ini kan tentang kucing? Membayangkan Ronny Agustinus yang postingan di media sosialnya kebanyakan urusan politik untuk menerjemahkan fabel.
Tentu ada alasannya. Yang pasti, Luis Sepúlveda adalah penulis penting dari Chile. Karya-karyanya diakui dunia.
Kisah berawal saat Zorbas mendapati camar yang terjatuh akibat tumpahan minyak dari kapal tanker di laut mengenai bulu-bulunya. Setelah susah payah terbang, ia tak sanggup. Sebelum mati, ia menitipkan telurnya, meminta si kucing untuk menjaga dan kelak mengajarinya terbang.
Ada 5 ekor kucing, seekor simpanse, dan bayi burung camar. Sosok manusia terselip di antaranya.
“Mudah sekali menerima dan mencintai mereka yang sama dengan kita, tetapi mencintai yang berbeda itu sangat berat, dan kau membantu kami melakukan itu.”
Dari rencana yang sangat tidak masuk akal --kucing yang mengajari camar terbang-- ini terselip pesan terkait masalah lingkungan dan keterikatan antar makhluk. Bagaimana sosok-sosok binatang yang berbeda ini bisa hidup berdampingan dan saling memberikan bantuan? Jadi, bagaimana cara si kucing mengajari anak camar itu terbang? Apakah berhasil?
Aku ingin membuat catatan lebih detailnya nanti. Mau coba bikin catatan detail seperti yang dibuat Ulasan Ending Drama Korea. Beda sih, lebih ke film dan variety show Korea tapi kan bisa juga diperlakukan ke ulasan buku.
Tunggu tambahan reviu buku rekomendasi tema kucing lainnya, ya. Akan ditambahkan di sini, atau di judul baru. Meoooong!
Awal membaca buku ini, yang terpikir olehku adalah Raras sebagai tokoh utama. Entah, aku suka nama Raras. Dan pada suatu saat berharap menyematkan nama itu sebagai salah satu nama tokohku. Tapi ternyata bukan. Peristiwanya maju bertahun kemudian. Yang tampil adalah anak Raras, Suma, yang memiliki ketajaman penciuman yang tak biasa. Kemampuan yang menjadi muasal segala obsesi Raras. Bersama Jati, sosok yang dikenal dengan julukan si hidung tikus, Suma bertualang mencari jawaban atas satu kisah yang didengarnya sedari kecil, yaitu Puspa Karsa. Aroma Karsa, menjadi buku ketiga Dee Lestari yang kubaca. Baru sadar, ternyata kok nggak banyak, ya? Padahal Dee sudah menelurkan belasan karya.
Baca juga: Perjalanan Menuliskan Fragmen 9 Perempuan
Aroma Karsa kudapatkan dari seorang kawan medsos. Sebagai kado ulang tahun kesetengah abad. Senang sekali, karena sudah lama mengangankan bisa baca buku ini. Maka demikianlah, akhirnya terbaca. Awalnya merasa lambat alurnya. Entah karena hari itu terlalu lelah. Hanya sanggup membaca 20 halaman. Sisanya ternyata tak tertahankan, ngebut. Tuntas dalam dua hari kemudian.
Sinopsis
Cerita diawali dengan pertemuan Raras Prayagung dengan eyangnya, Eyang Janirah, yang sedang berada di ujung usia. Raras punya hubungan dekat dengan neneknya, mantan abdi dalam keraton yang berhasil menjadi bagian keluarga dan sukses sebagai pengusaha karena kecerdasan dan kegigihannya. Dalam pertumbuhannya sejak kecil hingga remaja di lingkungan istana keraton, ia menemukan rahasia tentang Puspa Karsa. Sebuah rahasia yang menjadi awal kesuksesannya. Rahasia yang masih menyimpan rahasianya yang lain. Itulah salah satu cerita yang kerap dituturkan oleh Eyang Janirah kepada Raras. Cerita paling menarik dan menyita perhatiannya dibandingkan cerita lain yang dibagikan sang eyang.
Akhirnya harinya tiba. Eyang Janirah berpulang. Raras segera mengambil alih semuanya. Tanggung jawab dan rencana dari mimpi-mimpi Eyang Janirah yang belum terwujud.
Baca juga: Mengenal Vincent van Gogh melalui Novel Lust for Life
Upaya perburuan Raras menemukan titik terang saat muncul satu sosok pencuri. Adalah Jati Wesi yang salah satu pekerjaannya meracik parfum di sebuah toko parfum kecil, Attarwalla. Rupanya ia meracik aroma yang adalah milik perusahaan Raras. Sebuah kesialan. Dari sekian ujicoba Jati, kenapa justru racikan itu yang terlacak.
Mendapati potensi Jati, Raras meminta pemuda itu bekerja padanya. Bukan pekerjaan biasa, bahkan ia meminta Jati untuk tinggal di rumahnya. Usut punya usut, Raras punya rencana terhadap Jati berkaitan dengan perburuan Puspa Karsa. Konflik pun muncul. Tanaya Suma, anak semata wayang Raras tak bisa terima. Selama ini Suma berpikir bahwa dialah yang punya hak melakukan perburuan terhadap bunga yang menjadi legenda sekaligus mitos tersebut.
Menyadari adanya konflik dan sikap permusuhan dari Suma, Raras bukannya surut, malah semakin mengistimewakan Jati. Di sisi lain, kemarahan Suma terhadap Jati yang makin meruncing melahirkan keingintahuan besar pada diri gadis itu yang kemudian dengan diam-diam menacri tahu latar belakang kehidupan Jati.
Dalam perjalanannya, banyak hal tak terduga terjadi. Satu per satu misteri dan rahasia terbongkar. Sekian peristiwa yang dialami Jati beserta kebetulan-kebetulan yang mengikutinya, menjadikan Jati lambat laun menyadari bahwa dirinya bukanlah sosok ia kira selama ini. Tidk ada yang kebetulan. Semuanya sudah dirancang, meski faktanya belum benderang. Hingga waktu melakukan ekspedisi Puspa Karsa tiba. Ekspedisi yang awalnya terasa mustahil akhirnya dapat terlaksana namun dengan sejumlah perubahan yang signifikan. Termasuk Suma yang akhirnya menemukan rahasia gelap Raras, ibu angkatnya itu.
Lebih lengkapnya, baca sendiri saja, ya. Tidak seru kalau dicertakan lebih detail. Yang pasti, novel ini berujung koma.
Baca juga: Book Sleeve, Pembaca Buku Wajib Punya
Aroma Karsa, Bukti Dee Lestari sebagai Periset yang Handal
Bisa dibilang aku bukan pembaca Dee, meski saat baca pertama karyanya aku mendaku diri punya kecenderungan menulis gaya dia. Tapi tak pernah mempelajari gaya penulisannya dengan serius. Itu pun sudah lupa detailnya karena sudah terlalu lama. tahun 2001 atau 2002, ya?
Membaca lagi karya Dee, buku yang diterbitkannya pada 2018 ini hal yang dengan jernih terbaca adalah kerja keras Dee dalam risetnya. Kubayangkan ia mengubek-ubek sejumlah hal sekaligus. Mulai dari metode pembuatan parfum hingga metode mencari jejak sejarah. Aku belum pernah baca tuturan Dee soal proses penulisan buku ini. Tapi aku yakin, cerita Bantar Gebang bukan semata ia peroleh dari referensi. Ia pasti pernah datang langsung ke lokasi dan mendapatkan suasana yang akan ia bangun dalam novel. Membayangkan tumpukan sampah menggunung di TPA yang pernah menewaskan banyak manusia itu sudah membuatku mual, apalagi mesti berada di lokasi. Kurasa itulah yang menjadikan tulisan di soal latar belakang Jati Wesi di Bantang Gebang terasa begitu nyata.
Riset Dee soal Gunung Lawu juga menarik. Ada hal-hal mistis yang juga dikembangkan Dee dalam ceritanya. Aku pernah menyimak cerita soal manusia immortal yang tinggal di Gunung Lawu. Bukan hal yang mudah untuk dibuktikan. Tapi ketika itu dituangkan dalam cerita fiksi, jadilah bebas dan sangat menggoda buatku.
Baca juga: Perempuan-Perempuan dalam Karya PAT
Penjabaran Dee untuk tiap tokohnya juga sangat matang. Masing-masing tokoh utama tertampilkan dengan baik. Penuturannya untuk masing-masing karakter membuatku terseret dan berasa langsung berhadapan dengan tokoh-tokoh lengap dengan keunikannya masing-masing.
Menuliskan ulang sedikit hal yang kutangkap saat membaca Aroma Karsa, menyadarkanku kalau Dee menulis dengan sangat keren. Dan hasilnya adalah buku yang keren. Kubayangkan jika novel Indonesia karya Dee ini dijadikan film, bakal keren. Tentu saja jika digarap oleh penulis skenario yang tepat, sutradara yang mumpuni, dan komponen pendukunga yang lainnya. Langsung terbayangkan bagaimana suasana mencekam di dalam hutan terlarang yang hanya diketahui oleh mereka yang diinginkan untuk datang.
Aroma Karsa akan jadi buku referensiku kalau suatu kali menulis kisah petualangan. Kapan? Nantiiiiiii... tunggu, ya hehe. Terima kasih banyak untuk Eka Situmorang yang telah menghadiahkan buku yang dilengkapi dengan tanda tangan Dee ini buatku. Aku masih akan membacanya beberapa kali lagi.
Judul: Aroma Karsa
Penulis: Dee Lestari
Penerbit: PT Bentang Pustaka
Terbit: Maret 2018 (cetakan pertama)
Tebal: 696 halaman
Baca juga: FSP di Kajian Jumaahan dan Majelis Sastra Bandung
Lelaki Harimau, buku kedua Eka Kurniawan yang kubaca. Meski sudah bikin ternganga-nganga dengan buku pertamanya, Cantik Itu Luka, tetap saja cara bertutur Eka di buku keduanya ini membuatku takjub. Sebagai orang yang merasa tak mahir menulis fiksi, aku masih berusaha menemukan cara menulis yang pas. Merasa tertantang: mampukah aku menulis seliar itu dengan ramuan kata yang menyesatkan?
Aku membaca Lelaki Harimau saat sedang melakukan kunjungan ke Bali. Dan menyelesaikannya dengan cepat. Kurasa aku perlu mengejanya di kesempatan yang lain. Sayangnya buku yang kubaca adalah milik seorang kawan. Tampaknya perlu belanja untuk koleksi pribadi.
Sinopsis
Cerita diawali dengan sesuatu yang sangat gamblang, yakni peristiwa pembunuhan Anwar Sadat oleh Margio.
Senja ketika Margio membunuh Anwar Sadat, Kyai Jahro tengah masyuk dengan ikan-ikan di kolamnya, ditemani aroma asin yang terbang di antara batang kelapa, dan bunyi falseto laut, dan badai jinak merangkak di antara ganggang, dadap, dan semak lantana.
Kisah tersebut terjadi di sebuah desa. Kawasan dengan penduduk yang saling kenal satu sama lain. Tak ayal lagi, peristiwa pembunuhan itu langsung santer menjadi bahan pembicaraan. Sebagian besarnya mendengar itu serupa dongeng. "Apa iya Margio yang pendiam itu sanggup membunuh manusia?" Bukan hanya membunuh, kabar itu menyebutkan bahwa Anwar Sadat dibunuh dengan cara digigit urat lehernya hingga kepalanya nyaris putus.
Kronologi peristiwa disampaikan secara detail. Meski demikian, kisah tak dipaparkan secara linear, menggunakan alur bolak-balik.
Margio adalah sulung pernikahan Komar bin Syurb dan Nuraeni. Keseharian Margio tidak terlepas dari kekerasan ayahnya. Bukan hanya dia, ibu dan adik semata wayangnya tak luput dari perlakuan kasar Komar. Seumur hidup, Margio menyimpan marah terhadap ayahnya. Ia bahkan bicara ke semua orang bahwa suatu kali ia akan membunuh Komar. Demi menghindari segala kemarahan di benaknya, Margio memilih lebih banyak pergi dari rumah. Ia ikut berburu babi bersama Mayor Sadrah. Bahkan sang mayor menjadikannya anak buah andalan. Untuk tidurnya, Margio sering tidur di surau. Di masa inilah Margio menyadari ada harimau yang mengikutinya. Harimau berbulu putih itu konon peninggalan dari moyangnya dan kelak akan ditunrunkan padanya.
Baca juga: Lima Cerita, Saat Seorang Desi Anwar Berkisah
Perlakuan Komar yang kasar juga telah menjadikan Nuraeni setengah gila. Ia kerap berbicara dengan dengan alat dapur seperti panci dan kompor. Juga tanaman-tanaman yang ia biarkan memenuhi halaman rumah. Komar bukan lagi seseorang yang pernah ia damba selagi muda. Bahkan lelaki itu telah menjadi orang lain buatnya pada saat mereka menikah.
Adik Margio yang sepertinya tak terlalu terdampak, nyatanya mengalami traumanya sendiri. Ia kerap dihadapkan pada kekerasan seksual yang dilakukan Komar kepada ibunya. Ia menyimpan semuanya sendiri dalam kepalanya yang membuatnya tak lebih baik dari Nuraeni.
Ledakan akhirnya terjadi. Peristiwa tersebut diawali oleh kedekatan Nuraeni dengan Anwar Sadat. Nuraeni diminta untuk bekerja kepada keluarga tersebut, untuk memasak dan aneka pekerjaan rumah tangga lainnya. Ia yang tak pernah mendapatkan perlakuan layak dari Komar, terjebak oleh kepiawaian Anwar Sadat dalam memperlakukan perempuan. Nuraeni yang pendiam, pemalu, dan setengah gila itu mendadak merasakan kehidupan yang penuh warna. Ia berusaha mencari cara untuk bisa terus berada di rumah itu. Hingga akhirnya ia hamil.
Demi mendapati istri yang tak pernah digaulinya itu hamil, Komar pun marah besar. Dihajarnya istrinya habis-habisan. Sudah dapat diduga, bayi yang dikandung Nuraeni tidak selamat. Peristiwa itu menjadikannya makin gila.
Margio yang secara tak sengaja mengetahui kedekatan ibunya dan Anwar Sadat mulai menyiapkan rencana. Agak terganjal oleh kedekatannya dengan bungsu Anwar Sadat yang tulus mencintainya. Namun saat kesempatan datang, Margio mendatangi Anwar Sadat di rumahnya. Ia meminta lelaki itu menikahi ibunya. Anwar menolak dengan kalimat yang menyakiti hati Margio. Maka kemudian ia tahu betul apa yang harus dilakukannya: menggigit urat leher Anwar Sadat hingga nyaris putus. Gejolah nafsu harimau dalam tubuh Margio menemukan jalannya.
Baca juga: World without End, Kisah Percintaan Berlatar Sejarah Kelam Gereja Katolik
Buku Tipis yang "Menyesatkan"
Jika dibandingkan dengan Cantik Itu Luka, Lelaki Harimau terbilang pendek. Ceritanya pun lebih sederhana dibandingkan novel pertamanya yang sangat komplek baik dari sisi cerita, para tokoh, dan latar belakang yang membangun kisahnya itu. Namun buku ini cukup membuatku seolah tersesat dalam labirin: ini sesungguhnya cerita apa, sih?! Terasa terbawa oleh kegilaan Nuraeni, terpenjara amarah Margio, dan terperosok kepolosan adik Margio.
Buat yang tak menyukai hal-hal yang liar, barangkali ini bukan pilihan novel yang tepat. Cerita yang liar, pemilihan diksi yang liar, cara pemaparan yang liar. Tapi bagi yang gemar mengelenai cara para penulis bercerita, aku sendiri sangat merekomendasikan buku ini. Lewat caranya, Eka menyuguhkan sebuah konflik dalam rumah tangga, tentang kegilaan yang muncul akibat hubungan tanpa komunikasi yang baik, tentang perselingkungan yang sangat dimungkinkan muncul di antara mereka tak saling bisa mengendalikan diri, tentang trauma tak terpecahkan yang melahirkan banyak drama, tentang kekerasan akibat emosi yang terpendam. Campur aduk.
Eka tidak menyodorkan teka-teki. Sedari awal kita sudah disodori fakta tentang peristiwa pembunuhan yang melibatkan Margio. Eka tidak sedang bermain di ranah tema detektif. Ia hanya mengaduk emosi dan imajinasi pembacanya lewat permainan kata. Buatku sendiri, Eka sudah sangat sukses melakukannya.
Lelaki Harimau meraih penghargaan Book of the Year IKAPI 2015. Berikutnya pada 2016 mendapatkan Long List the Man Booker International Prize. Masih di tahun yang sama, buku ini diganjar Winner Ftioppenheimerfunds Emerging Voices Awards. Dua tahun kemudian, 2018 menerima Prince Clause Award. Novel ini telah dicetak dan diedarkan ke berbagai negara dalam bahasa Inggris, Prancis, Italia, Jerman, dan Korea. Pada 2024, konon penerbit akan kembali mencetak buku ini, kali ini dalam versi hard cover.
“Bukan aku yang melakukannya.” Margio membela diri. “Ada harimau di dalam tubuhku,” tandasnya.
Baca juga: Aleph, Kisah Perjalanan Menemukan Diri
Judul: Lelaki Harimau
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan kesembilan, September 2018
Tebal: 191 halaman
ISBN: 978-602-03-2465-4
Buku Man’s Search for Meaning oleh Viktor E. Frankl ini cukup lama bersemayam di tumpukan. Rasanya bukan buku yang kubeli. Entah dari mana, tak ingat persis. Sebelumnya aku tak punya cukup referensi, sedangkan di mataku, desain sampul versi penerbit Nuansa ini kok enggak banget. Sempat terpikir kalau ini buku tentang kekristenan dan sudah masuk boks buku-buku yang akan dijual. Hingga suatu kali lihat tayangan kawan Threads soal buku ini, dengan sampul yang berbeda. Dari sedikit obrolan, dikatakannya ini buku yang sangat recomended. Akhirnya mulai dibukalah, setelah sekian abad membisu. Perasaanku langsung tertohok. Kisah tentang penderitaan sekaligus keberanian menjalani hidup.
Baca juga: Veronika Memutuskan Mati
Dalam buku terbitan Nuansa tak kutemukan muasal Frankl berada di kamp konsentrasi. Cek sejumlah referensi, tersebutkan bahwa psikiater keturunan Yahudi yang bermukim di Wina, Austria ini menerima undangan dari Konsulat AS untuk mendapatkan visa imigrasi. Saat itu Frankl tengah mengembangkan gagasannya yang ia sebut sebagai Logoterapi. Mestinya ia berangkat. Namun ia ragu. Ia merasa tak mungkin meninggalkan kedua orang tuanya yang ia tahu cepat atau lambat akan ditangkap dan dimasukkan ke kamp konsentrasi. Ia memilih untuk tinggal. Pada saatnya ia pun diseret ke kamp yang mengerikan itu.
Buku ini terbagi dua bagian, kisah Frankl selama di kamp dan teorinya tentang Logoterapi.
Kamp Konsentrasi, Ketika Hidup dan Mati Begitu Dekat
Membaca bagian pertama buku ini rasanya seperti dihadapkan pada hal-hal baru yang sama sekali belum pernah kujumpai, bukan dalam makna yang menakjubkan, melainkan mengerikan. Hidup yang mengerikan adalah hidup yang tak memiliki kebebasan untuk memilih. Berapa banyak di antara kita yang pernah mengatakan "aku tak punya pilihan" dengan suara memelas? Tidak punya pilihan itu seperti yang dialami Frankl dan mereka yang berada dalam kamp konsentrasi ini. Hidup dan mati bukan milik mereka, namun milik penjaga, milik serdadu.
Meski demikian, buat Frankl tetap ada pilihan. Satu-satunya pilihan itu adalah memberi makna peristiwa yang tak pernah mereka ketahui akhirnya seperti apa.
Kehidupan punya potensi untuk memiliki makna, termasuk dalam kondisi yang paling menyedihkan.
Baca juga: Berdamai dengan Inner Child
Bayangkan, orang yang baru saja bercakap denganmu, tak berapa lama kalian sudah lihat berubah menjadi asap. Gumpalan putih yang terbang dari cerobong kamar gas. Hanya karena kamu terlihat kurus, malas, lemas, tak bertenaga di mata pengawas, atau sekadar berdasarkan ketidaksukaan, kamu sudah harus meninggalkan kehidupan.
Ketika itu yang terjadi, yang bisa dilakukan adalah mencari untuk kemudian memberi makna waktu yang bisa dimiliki. Apakah Frankl selalu bisa bersikap positif dan optimis? Tidak. Frankl juga menceritakan bagaimana dirinya marah dan mengalami frustasi.
Kurun 3 tahun (1942-1945) di tiga kamp konsentrasi yang berbeda, Teresienstadt, Auschwitz-Birkenau, Kaufering, dan Turkheim adalah waktu yang sangat lama untuk Frankl bisa mengumpulkan apa-apa yang diamatinya dari sekitar. Bagaimana kecemasan setiap orang yang hidupnya terus dibayangi kemungkinan akan dikirim ke kamar gas, lalu menghilang begitu saja dari eksistensinya sebagai manusia. Sementara fisik mereka pun tertindas. Bekerja keras, hanya dengan upah berupa makanan sangat tidak layak. Miris membayangkan semangkuk sup dengan air berlimpah dan secuil roti. Pada bagian lain, Frankl menggambarkan bagaimana kedekatan dengan pengawas cukup menguntungkan, setidaknya ia bisa mendapatkan sendokan dasar panci sup. Artinya mendapatkan kacang lebih banyak. Kondisi yang semuram itu telah membuat para tahanan frustasi. Banyak yang akhirnya menyerah dengan membunuh dirinya sendiri.
Apa pun bisa dirampas dari manusia. Kecuali satu: kebebasan terakhir seorang manusia yaitu kebebasan untuk menentukan sikap dalam setiap keadaan. Kebebasan untuk memilih jalannya sendiri.
Baca juga: Empati dan Seni Berkomunikasi
Menentukan makna hidup merupakan hal penting agar terhindar dari keputusasaan. Menurut Frankl, makna hidup dibentuk oleh pikiran kita. Kita yang menciptakan, bukan mencari dari luar diri. Kita tak perlu mencari apalagi menunggu hal-hal ideal di luar diri kita untuk bisa menjalankan kehidupan yang lebih baik, melainkan membuat sendiri makna hidup dari kondisi kita alami. Di penjara, Frankl memotivasi diri dengan memikirkan hal bahagia yang akan dia lakukan setelah bebas dari kamp. Pemikiran itulah mampu bertahan dari kehidupan kamp yang mengerikan.
Logoterapi sebagai Upaya Menemukan Makna Hidup
Kata logos mengambil dari istilah dalam bahasa Yunani yang artinya "makna." Logoterapi percaya bahwa perjuangan untuk menemukan makna hidup dalam diri seseorang merupakan motivator utama orang tersebut. Menurut Frankl, inti dari Logoterapi adalah keinginan untuk mencari makna hidup. Hal ini dikatakan Frankl untuk menunjukkan bahwa Logoterapi berbeda dengan Psikoanalisis-nya Sigmund Freud yang menyebutkan tentang prinsip kesenangan atau keinginan untuk mencari kesenangan. Berbeda pula dengan will to power atau keinginan untuk mencari kekuasaan seperti didengungkan oleh aliran psikologi Adler. Di kemudian hari, Logoterapi juga dikenal sebagai "Aliran Psikoterapi Ketiga dari Wina".
Menurut Logoterapi, ada tiga cara yang dapat ditempuh untuk menemukan makna hidup, yaitu:
Hiduplah seakan-akan Anda sedang menjalani hidup untuk kedua kalinya, dan hiduplah seakan-akan Anda sedang bersiap-siap untuk melakukan tidakan salah untuk pertama kalinya.
Baca juga: Mengenal Sabotase Diri dan Mekanisme Koping
Lewat kalimat di atas, Frankl mengingatkan bahwa Logoterapi pada intinya adalah mengajak orang untuk bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Dalam terapi-terapinya, pasien diberi kesempatan untuk memilih, untuk apa, kepada apa, atau kepada siapa ia merasa bertanggung jawab. Logoterapi tidak menggurui, tidak menghakimi, tidak pula menawarkan pemikiran logis maupun nasihat moral. Menurut Frankl, manusia selalu menuju dan dituntun kepada sesuatu atau seseorang di luar dirinya. Ini dapat dalam bentuk makna yang harus ditemukan, atau manusia lain yang akan ia jumpai. Semakin kita melupakan diri sendiri -dengan mengabdi pada suatu perkara atau orang lain yang kita cintai- maka kita menjadi semakin manusiawi.
Masih cukup panjang penjelasan Frankl perihal Logoterapi. Aku masih mencoba membacanya pelan-pelan. Ada banyak istilah psikiatri yang bikin jidat berkerut. Sila baca langsung sendiri untuk mendapatkan penjelasan detailnya, ya.
Penderitaan itu sejatinya tidak memiliki makna; kitalah yang memberi makna pada penderitaan melalui cara kita menghadapinya. (Harold S. Kushner, pengantar)
Intinya, bukan keadaan yang menentukan siapa diri kita, melainkan sikap dan respons kita saat menghadapinya dan keputusan-keputusan apa yang kita buat.
Judul: Man's Search for Meaning
Penulis: Viktor E. Frankl
Penerbit: Nuansa, 2004
Tebal: 233 halaman
Baca juga: The Kite Runner, Layang-layang dan Hal yang Berubah
Mantan penyiar radio, ibu meong, peminum kopi yang mencintai kehidupan dan berusaha menuliskannya di sini. Catatan kucing, tengok www.rumahronin.com. Untuk kerjasama penulisan, sila email ke: dhenok.hastuti@gmail.com. Sekarang tengah mengembangkan modalitas baru, terapi energetik dan TCM untuk kesehatan mental.