Showing posts sorted by relevance for query perjalanan. Sort by date Show all posts

Kamu Tim Mana, Perjalanan dengan atau Tanpa Rencana?

Wahai, kalian para pengelana, apa yang menjadi kebiasaan kalian saat melakukan perjalanan atau traveling? Apakah berbekal itinerary detail dan lengkap ataukah suka-suka alias tanpa rencana? Aku sendiri sih dasarnya bukan orang yang tertib dalam perencanaan. Tapi tak terlalu gambling atau impulsif juga. Cuma ya "begitu saja", rencana secukupnya, selebihnya mengalir. 


Baca juga: Melihat Sesar Lembang dari Dekat, Usia Bukan Halangan

Kebetulan bulan kemarin melakukan perjalanan yang sebagian besarnya tak terencana. Jangan bayangkan itu perjalanan yang menantang dan membutuhkan keberanian, karena medannya ya memang sudah kukenali. Hanya tak terencana saja. Namun, suatu kali aku ingin melakukannya. Sebuah perjalanan tanpa rencana ke kawasan yang tak kukenal sebelumnya. Seru kayaknya. 

Nah, aku coba kumpulkan catatan dari beberapa sumber soal perjalanan positif-negatifnya perjalanan dengan dan tanpa rencana.


Perjalanan dengan Rencana (Detail)

Dalam banyak kasus, hal-hal yang terorganisir dengan baik memang memudahkan. Kita langsung tahu mau ke mana, mau melakukan apa, begitu tiba di tempat tujuan. Paling tidak itu yang bisa kupelajari dari beberapa kali melakukan perjalanan bersama biro travel.  

Di dunia traveling dikenal istilah itinerary, yakni rencana kegiatan yang akan dilakukan selama perjalanan atau waktu yang ditentukan untuk liburan. 

Berikut beberapa kemudahan dengan membuat rencana yang detail.

1. Pemanfaatan waktu secara optimal. Dengan membuat itinerary, perencanaan waktu lebih tertata. Tentu saja tetap memperhitungkan hal-hal di luar prediksi seperti kemacetan lalu lintas. Dan tetap perlu disiapkan plan B. Meski demikian dengan itinerary mengurangi risiko molornya waktu. 

2. Dengan ketepatan waktu, jam berapa menuju ke mana, berapa lama perjalanan, durasi kunjungan, dsb. maka titik-titik kunjungan yang telah direncanakan pun dapat terpenuhi. Tidak ada destinasi yang terlewatkan.   

3. Itinerary mempermudah dalam budgeting. Pengeluaran yang terencana masih sering bikin kita kebobolan, apalagi yang tanpa perencanaan sama sekali. Di sini kita butuh survei terkait biaya perjalanan, harga tiket jika melakukan kunjungan wisata, tarif hotel jika perlu menginap, biaya konsumsi, tarif guide person jika dibutuhkan, serta biaya akomodasi lainnya. 

4. Perencanaan yang baik juga dibutuhkan untuk membantu kita menyiapkan barang bawaan. Jangan sampai kejadian kita kelebihan berat untuk bagasi pesawat. Atau bikin kita kelelahan menanggung beban bawaan. Liburan bukannya gembira, jadinya malah seluruh otot pegal, linu, nyeri, dsb. Pun sebaliknya, jangan sampai karena ingin berhemat bawaan, barang-barang yang penting terlewatkan karena kurang persiapan. 

5. Persiapan matang mengurangi risiko dipalak. Siapa yang malak? Siapa pun yang bermaksud mengambil keuntungan dari orang yang tak kenal medan. Riset awal bisa membantu kita mengetahui harga yang sesungguhnya. 

Menyiapkan itinerary membutuhkan upaya ekstra. Mulai dari menyiapkan daftar, membuat perbandingan, bikin riset--meski sederhana tetap saja butuh upaya, dan lain-lain yang bagi sebagian orang pasti terasa ribet. Namun, ketika itenerary sudah disiapkan secara detail, proses di lapangannya jadi lebih lancar. 

Baca juga: Bertandang ke Gunung Padang


Perjalanan Tanpa Rencana (Detail)

Tanpa rencana itu bukan berarti impulsif, loh, ya. Jika impulsif, kita mudah berubah pikiran, berubah rencana karena mendapatkan pengaruh dari luar, atau sedang gabut, tidak punya agenda . Misalnya tiba-tiba menemukan brosur destinasi baru yang menarik, atau mendapatkan cerita dari orang yang ditemui dalam perjalanan, atau alasan lainnya. 

Atau, nggak soal jika awalnya impulsif, tapi dalam perkembangannya dibarengi dengan perencanaan, meski tidak secara detail. 

Nah, mengapa, sih, orang melakukan perjalanan tanpa rencana detail? 

Ada beberapa alasan yang membuat orang memilih untuk melakukan perjalanan santai, tanpa rencana. 

1. Melepaskan diri dari rutinitas. Kadang, rutinitas terasa membosankan. Jika pekerja kantoran dengan jam reguler, tiap hari memiliki aktivitas rutin berangkat kerja, istirahat, pulang, hingga 5-6 hari kerja. Aktivitas lain pun akhirnya mengikuti; olahraga yang terjadwal, berjumpa teman pun terjadwal, begitu pula masa liburan. Nah, mengapa tidak, di luar soal "waktu", liburannya dibuat bebas saja?

Dalam liburan tanpa rencana dapat memunculkan spontanitas yang menyenangkan. 

2. Tersedianya berbagai fasilitas berbasis teknologi. Selagi teknologi tersedia, ada cukup banyak hal yang bisa diakses cepat. Mencari lokasi tinggal cari map online. Mencari hotel dan penginapan tinggal pesan online. Kendaraan bisa pesan online kapan saja. Dunia dalam genggaman.  

3. Keinginan untuk lebih santai, tanpa terpenjara oleh jadwal ketat yang membuat liburan jadi serba terburu-buru. Bisa memilih sendiri tujuan dengan leluasa, berhenti saat lelah, jeda saat bosan, mencari hiburan ketika kehilangan mood. Pendek kata, perjalanan tanpa rencana ini dapat memunculkan potensi diri yang sebelumnya tak muncul ke permukaan. 

4. Menemukan kejutan menyenangkan. Tanpa rencana detail sangat mungkin kita akan terbawa ke dalam kondisi yang tak biasa. Tersesat dalam perjalanan, menjumpai orang asing yang menarik, menemukan tempat nongkrong yang unik, dsb. 

Tentu saja hal ini terjadi jika kita memilih untuk tidak bermain ke wilayah-wilayah mainstream

5. Biaya dapat lebih fleksibel. Perjalanan tanpa rencana biasanya dadakan dan pilihannya adalah destinasi yang tak jauh-jauh amat. Bisa pula dadakannya karena menemukan promo atau diskon sarana transportasi, tempat menginap, dll. yang memungkinkan kita mendapatkan harga yang "bagus". 

Seru, kan? Yup, perjalanan tanpa rencana bisa jadi sangat seru. Yang perlu jadi catatan adalah risiko; mesti siap dengan segala kemungkinan. 

Baca juga: Berkunjung ke Kota Atlas Semarang


Dengan atau Tanpa Rencana Detail, yang Penting Jalan!

Nah, ini kesimpulan pentingnya: yang penting jalan! Lakukan, bukan hanya rencanakan. Jalan-jalan dapat menjadi hiburan bagi kita di tengah rutinitas. Jeda dari kegiatan atau pekerjaan yang mematok kita pada hal yang itu-itu saja. Memilih waktu untuk menyenangkan diri sendiri. Me time. Selain jalan-jalan, sebetulnya banyak aktivitas me time lainnya. Seperti yang biasa dilakukan kawan blogger yang dapat dilihat di Sunglowmama Blog. Ada bahasan soal journaling bagi yang tertarik, journaling untuk ibu sibuk

Aku sendiri, tahun ini mennyemangati diri untuk menjadi sesesorang yang lebih spontan, tak terlalu banyak rencana, tak overthinking. Dan tentu saja salah satunya adalah dalam konteks jalan-jalan. Sudah membuat daftar pendek kota tujuan, dengan rencana yang tak terlalu kental. 

Ada yang tahun ini juga punya agenda yang sama? Melakukan traveling atau perjalanan secara berkala? Yuk, kita lakukan perjalanan, baik dengan itinerary detail maupun dengan spontan. Atau membuat kombinasi di antara keduanya. 

Bulan lalu aku sudah melakukannya. Rencana yang awalnya hanya ke Wonosobo, lantas, begitu saja berlanjut ke 2 destinasi lainnya, yaitu ke Bali dan ke kampung halaman di Jatim. Ada beberapa tulisan yang nanti aku akan bagikan di blog.

Selamat menyiapkan perjalanan, ya. Happy traveling!


Baca juga: Jelajah Taman Buru Masigit-Kareumbi

Melihat Sesar Lembang dari Dekat, Memastikan Usia Bukan Halangan

Sebuah poster yang mengabarkan rencana perjalanan ke Gunung Putri melintas di salah satu platform media sosial. Sebelumnya aku sudah sempat melihat pengumuman dari penyelenggara yang sama, Geowana Ecotourism, perjalanan ke Gunung Padang. Tapi baru merasa ada greget, saat lihat poster terbaru. Langsung daftar, dan langsung ikut perjalanannya pada Sabtu, 14 September 2024. Perjalanan berkenalan dengan Sesar Lembang dari dekat. Sebuah perjalanan menantang diri untuk terus bergerak saat pertambahan usia tak bisa direm. Ya, pada umurku yang sudah setengah abad, aku ingin terus bisa melakoni hidup dengan segala dinamikanya tanpa berkesah.


Baca juga: Jelajah Taman Buru Masigit-Kareumbi

Geowana Ecotourism dimotori oleh Kang Gan Gan Jatnika. Meski sebagai pemandu wisata geologi, Kang Gan Gan melengkapi diri dengan aneka cerita yang menjadi legenda Tatar Bandung lengkap dengan mitos-mitosnya. Sepanjang perjalanan, mulai berangkat hingga pulang, diisi dengan cerita, baik informasi faktual maupun dongeng.


Apa itu Sesar Lembang?

Ini adalah kali pertama perjalananku bergabung dengan komunitas jalan-jalan, yang kebetulan bergabungnya dengan Geowana. Ada dua titik janji pertemuan. Yang pertama di sebuah mini market kawasan Lembang, yang kedua lokasi parkir Gunung Putri. Berhubung aku tidak familiar dengan kawasan ini, ke minimarketlah aku menuju. Rupanya semua peserta memang memilih untuk berangkat bersama dari titik ini.

Ada 10 orang, termasuk Kang Gan Gan. Awalnya rada was-was juga kalau pesertanya semuanya anak muda. Eh, ternyata tidak. Bahkan ada dua orang yang jauh lebih senior. Tenang, deh, hehe. Barangkali buat dua bapak ini, perjalanan seperti ini untuk mengisi masa pensiun. Ada pula ibu rumah tangga yang bergabung. Usianya di bawahku. Tapi bisa kupastikan kalau mereka juga ingin mendapatkan sesuatu yang berbeda dari alam. Atau itu cara mereka sekadar mengusir kebosanan, seperti kawan Mom blogger yang juga punya caranya sendiri.

Agenda sedikit mundur dari yang direncanakan. Dalam rundown, perjalanan naik diagendakan pukul 8 pagi. Ternyata pukul 8 kurang sedikit, peserta baru terkumpul lengkap di titik pertama. Maka begitu semua siap, tak menunggu waktu lama, langsung berangkat. 

Di jalur mendaki Gunung Putri ini mudah. Entah tahun berapa mulai dibangun. Tak lagi berupa tanah biasa melainkan dibuatkan tangga semen. Setelah anak tangga ke sekian, perjalanan berlanjut ke tanah biasa, hingga pada titik pemberhentian pertama. Kisaran 20 menit dari area parkir dengan kecepatan sedang. Area kami berhenti ini dimanfaatkan pengunjung untuk berkemah. Padahal jelas tertulis larangan untuk berkemah. Entah, siapa yang seharusnya menjaga aturan tersebut diikuti.

Di titik ini Kang Gan Gan membentangkan banner berisi penjelasan tentang sesar Lembang. Sesar Lembang menjadi latar belakangnya.

Baca juga: Sebuah Perjalanan ke Bali Dwipa

Secara morfologi, sesar Lembang membentuk perbukitan memanjang dari timur ke barat. Sisi timur dimulai dari puncak Gunung Palasari sebagai titik tertinggi, membentang hingga jelang Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, yakni di wilayah Ngamprah dan Cimahi. Bentangan sejauh 29 km ini terbagi dua, patahan segmen barat dan patahan segmen timur.  

Sesar Lembang terbentuk tidak secara bersamaan. Pada patahan segmen timur terbentuk sekitar 180.000-200.000 tahun. Terjadi bersamaan dengan peristiwa letusan Gunung Api Sunda Purba. Sedangkan pada segmen barat terbentuk lebih muda, kisaran 50.000-60.000 tahun yang lalu, kemungkinan bersamaan dengan letusan Tangkubanparahu. 

Ada sejumlah infrastruktur penting yang berada di jalur patahan Lembang ini, di antaranya Observatorium Bosscha, Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara (Seskoau), Sespim Polri, dan Pusdik Kowad. Pada sisi barat ada Sekolah Polisi Negara (SPN) dan sejumlah kawasan bisnis wisata. 

Isu soal gempa megathrust tak luput jadi pertanyaan peserta. Isu ini belakangan sedang ramai dibicarakan, terutama pasca terjadinya gempa dahsyat berkekuatan 7,1 Skala Richter (SR) yang terjadi di Pulau Kyushu, Jepang, pada 8 Agustus lalu. Di Indonesia, dua lokasi disebut-sebut sebagai zona yang berpotensi mengalami gempa ini, yakni Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut. Istilah dari BMKG: tinggal menunggu waktu.

Baca juga: Menjelajahi Taman Hutan Raya Juanda

Bagi masyarakat tanah Sunda, soal megatrust ini juga dikait-kaitkan dengan Sesar Lembang. Karena jika seluruh segmen bergerak berbarengan, tak terkecuali sesar Lembang yang tersentil, dapat mengakibatkan gempa bumi berkekuatan hingga tujuh magnitudo. Menurut perkiraan, jika suatu saat terjadi pergerakan pada sesar ini, diperkirakan hampir 10 juta penduduk bakal terancam. Penduduk yang ada di Lembang maupun di cekungan Bandung. 

Tapi menurut Kang Gan Gan, megatrust sebagai semata pengalihan isu politik. Bahwa memang betul kemungkinan megatrust itu ada. Hanya tidak diketahui kapannya. Upaya untuk mencegah dampaknya dan cara menghadapinya saja yang bisa dilakukan. Saat ini pun gempa-gempa kecil terus terjadi, sebagai pelepasan energinya. Justru jika tidak terjadi gempa-gempa kecil perlu harus khawatir. Karena tidak ada gempa yang terukur. 

"Saya mah selagi para para pakar geologi masih anteng-anteng tinggal di Bandung, santai saja. Kan mereka mengikuti terus perkembangannya. Kalau kondisi sudah bahaya, pasti yang mereka pikirkan pertama adalah keluarganya. Paling tidak akan sementara meninggalkan Bandung." Begitu alasan Kang Gan Gan. Hmm, iya juga, ya? Make sense.

Dari titik henti pertama, perjalanan dilanjutkan langsung menuju puncak. 

Gunung Putri Lembang memiliki ketinggian 1.587 mdpl. Persis pada puncak gunung ini berdiri tugu. Namanya Tugu SESPIM Polri. Sampai di titik ini dibutuhkan sekitar 30 menit perjalanan dari titik pertama.



Baca juga: Berkunjung ke Kota ATLAS


Mitos di Seputaran Sesar Lembang

Kawasan Lembang dan sekitarnya dipenuhi aneka mitos. Atau persisnya kawasan Cekungan Bandung. 

Tak lain mitos itu melekat dengan kisah legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi. Bukan hanya Tangkubanparahu, legenda ini berkembang biak ke dalam aneka cerita. Sebagian dibagikan ceritanya oleh Kang Gan Gan saat jeda ngopi, sekitar setengah jam turun dari puncak. Di antaranya tentang bunga jaksi. 

Sebelum kisah tentang si bunga, kita lanjutkan perjalanan dulu. Titik pemberhentian berikutnya adalah warung makan Bu Eti (semoga aku tak salah ingat). Butuh waktu cukup panjang untuk sampai titik buat makan siang ini. 

Sebelum sampai tempat makan, titik pemberhentian adalah benteng Belanda. Benteng ini diperkirakan dibangun pada awal 1900-an, untuk kebutuhan pertahanan Belanda pada masa itu. Tempat yang seru buat ambil gambar. Sayangnya ada banyak coretan, ulah orang-orang iseng. 

Puas ambil gambar dan sejenak jeda, perjalanan pun berlanjut ke tempat yang sangat ditunggu. Karena waktunya makan! Pilihan menu di warung Bu Eti sederhana, tapi luar biasa nikmat. Aku bukan pemakai kata luar biasa. Tapi kok rasanya ini jadi kata yang pas setelah melakukan perjalanan yang cukup bikin lelah. Apalagi makannya di bawah saung, di tengah hutan pinus.

Baca juga: Menjajal Trans Metro Pasundan

Jadi, bagaimana kisah si bunga legenda tadi?

Alkisah, Nyai Dayang Sumbi yang setengah putus asa karena ingin dinikahi putranya sendiri, lari ke arah sebuah gunung. Di belakangnya, Sangkuriang mengejarnya dalam langkah yang lebih lebar. Jarak semakin dekat. Dalam kekalutannya, Dayang Sumbi memohon kepada Sang Penguasa Semesta untuk menyelamatkannya dari nafsu Sangkuriang. Petunjuk pun datang. Dayang Sumbi dituntun menuju rimbunnya hutan. Dan berubahlah ia menjadi satu tanaman yang kemudian dikenal sebagai bunga jaksi.

Meski mengerahkan segala kesaktiannya, Sangkuriang tak berhasil menemukan Sang Putri. Ketajaman nalurinya menunjukkan kalau Dayang Sumbi menuju gunung tersebut, namun bahkan ia tak menjumpai jejaknya. Ia pun berlari menuju ke arah timur. Gunung yang menaungi Sang Putri pun kemudian dinamai Gunung Putri. 

Selain Gunung Putri, cerita legenda Sangkuriang-Dayang Sumbi juga dikaitkan dengan kawasan dan gunung lain di Cekungan Bandung. 

Sementara terkait bunga jaksi sendiri, konon yang ada di Gunung Putri ini menjadi satu-satunya. Belum ditemukan di daerah lain. 

Sekilas bentuknya mirip pandan hutan atau pandan pantai. Ada yang menyebutkan mirip dengan pohon cangkuang. Tapi jika diperhatikan lebih detail, ada perbedaan pada bentuk dan panjang daun, serta batangnya. 


Baca juga perjalanan ke Baduy:


Pohon jaksi ini ada di jalur setelah meninggalkan warung makan Bu Eti. Setelah meninggalkan warung Bu Eti, kami agak kesulitan menemukan si pohon legenda. Kang Gan Gan bilang kemungkinan terlewat. Yang penasaran boleh ikut kembali ke arah sebelumnya. Yang tidak ingin, diminta tunggu. Tentu saja aku termasuk yang penasaran. Akhirnya bisa berfoto dengan Sang Putri besama beberapa anggota rombongan. Pohonnya sedang kusut, kurus dan mengering. Semoga bisa tumbuh segar lagi.


Meninggalkan warung, dengan perut terisi, energi kembali penuh untuk melanjutkan perjalanan. Tapi kali ini untuk pulang. Yup, bunga jakti menjadi titik akhir perjalanan. Kami tiba di area parkir pada pukul 14 lewat sedikit. Tak terlalu jauh dari yang diperkirakan. 

Perjalanan yang seru dan menarik. Buat yang ingin bergabung dengan Geowana, bisa cek akun IG-nya: geowana_ecotourism, untuk berkenalan dengan Sesar Lembang maupun perjalanan lainnya. Atau sekadar untuk menikmati alam. Buatku ini perjalanan pertama setelah aku menantang diri untuk terus menjaga tubuh tetap bugar mesti sudah memasuki usia emas. 

Yuk, kita jalan-jalan berjumpa dengan alam. Semoga terus terjaga kesehatan. Namaste.


Baca juga: Berkenalan dengan Roastery Tertua di Indonesia

Sarana Transportasi Apa Pilihanmu? (Pengalaman Perjalanan Bus dari Denpasar ke Trenggalek)

Kamu termasuk golongan yang cukup fleksibel dalam memilih sarana transportasi umum, atau fanatik terhadap sarana tertentu? Aku sendiri paling suka menggunakan kereta api, tapi cukup fleksibel jika memang tak ada pilihan lainnya, atau jika pilihannya menyangkut alasan tertentu. Namu, tak sedikit orang yang mati-matian tidak mau naik alat transportasi tertentu. Paling sering kudengar adalah pesawat. 

Baca juga: Kamu Tim Mana, Perjalanan dengan atau Tanpa Rencana?

Sewaktu meninggalkan kampung halaman untuk kuliah di Bandung, aku belum mengenal kereta api. Pengalamanku hanya naik bus antarkota di wilayah Jawa Timur. Begitu mencoba menggunakan kereta api, wow, menyenangkan, meski zaman itu kondisi kereta khususnya dan transportasi umum lainnya sungguh mengenaskan. Apalagi kereta ekonomi. 


Apa, sih, Keunggulan dan Kekurangan Masing-Masing Sarana Transportasi?


BUS

Secara umum bus paling banyak digunakan sebagai sarana transportasi di negeri kita. Meski tak semua infrastruktur sudah memadai, setidaknya jalan beraspal yang bisa dilalui bus sudah menjangkau hampir seluruh penjuru tanah air. Dan aku telah naik turun bus sejak usia bocah, karena kebetulan aku memiliki dua paman yang profesinya sopir bus. 

Kelebihan

Jika dibandingkan dengan jenis moda transportasi darat lainnya, harga tiket bus relatif lebih murah. Kapasitas angkutnya juga besar. Untuk bus ukuran maxi bisa menampung kisaran 50 penumpang. Ukuran mini bisa 20 sekian penumpang. Dengan kapasitas besar, tentunya bus memberikan andil dalam mengurangi jumlah emisi gas buang dan polusi udara.

Ketersediaan bus bisa dibilang cukup banyak. Sejumlah PO memiliki jalur tujuan yang sama sehingga cukup memudahkan pengguna jasa untuk memilih.

Kekurangan

Waktu tempuh lebih lama. Bus biasanya singgah di setiap terminal antar kota. Kecuali bus jarak jauh, dengan tujuan tertentu. Paling-paling berhenti satu kali di tempat peristirahatan, biasanya bekerja sama dengan rumah makan. Tidak semua jalan juga dalam kondisi prima.

Di masa sekarang, waktu tempuh juga terbilang relatif, mengingat sudah tersedia fasilitas jalan tol di berbagai kota. Pun pembangunan infrastruktur juga sudah jauh lebih baik. 

Baca juga: Ragam Kuliner di Bali, Halal dan Nonhalal


KERETA API

Kereta api akan selalu menjadi favoritku. Aku mengalami betul perkembangan perbaikan sarana dan prasarana perkeretapian Indonesia. Dari yang penumpang tumpuk-undhung kayak ikan reyek, bau apek keringat sana-sini plus asap rokok yang bebas mengembara, pedagang berjejal memenuhi lorong, orang tidur di mana saja, hingga sudah rapi, dingin, aroma terjaga. Pun sistemnya yang lebih rapi. Tak lagi ada keterlambatan.

Kelebihan

Sarana transportasi satu ini relatif lebih aman dan nyaman dibandingkan kendaraan lainnya. Ia punya jalur istimewa. Sediaan fasilitasnya juga beragam tergantung jenis layanan, yakni eksekutif, bisnis, dan ekonomi. Ada yang melayani semua, atau hanya salah satunya. Pengguna jasa bisa menentukan pilihan berdasarkan isi kocek. 

Jika dibandingkan layanan serupa, misalnya gerbong ekonomi dan bus ekonomi, dari sisi biaya masih lebih menang kereta. Lebih terjangkau. 

Kapasitas angkut yang besar sekali, menjadikan kereta api sebagai moda transportasi darat yang ramah lingkungan karena bebas dari faktor macet dan emisi. 

Kekurangan

Kereta api belum menjangkau semua kawasan, terlebih wilayah luar Jawa. 

Waktu tempuh juga jauh lebih lama jika dibandingkan pesawat. Bukan pilihan sarana transportasi yang membutuhkan kesegeraan. Kecuali kereta Woosh yang baru diluncurkan pada 2024 lalu, yang memangkas durasi perjalanan Jakarta-Bandung dari kisaran 3 jam menjadi setengah jam saja. Namun, ya baru jalur Jakarta-Bandung.


PESAWAT TERBANG (komersial)

Untuk perjalanan jarak jauh, pesawat masih menjadi pilihanku. Kebetulan beberapa kali melakukan perjalanan keluar pulau dalam rangka pekerjaan. Butuh kecepatan. Ingin sekali coba naik kapal, tapi tentunya bakal terlalu lama.

Kelebihan 

Pesawat udara unggul dalam hal waktu. Durasi perjalanan jauh lebih singkat jika dibandingkan bus dan kereta api. Bahkan perjalanan antar pulau atau antar provinsi bisa lebih cepat dan menghemat waktu.

Kekurangan

Dengan kemampuannya yang maksimal, moda transportasi udara ini membutuhkan biaya pemeliharaan yang besar. Gaji para punggawanya pun tinggi, mengingat risiko yang haris mereka hadapi pada setiap masa tugas. Hal ini menjadikan biaya perjalanan jauh lebih mahal dibandingkan bus dan kereta api. 

Pesawat dibuat sedemikian rupa sehingga tiap maskapai memastikan armadanya aman. Meski demikian semua calon penumpang juga menyadari bahwa pesawat terbang merupakan moda transportasi dengan tingkat risiko paling tinggi dibandingkan bus dan kereta api. 

Bagaimana dengan kapal laut? Sayangnya aku belum punya pengalaman naik kapal laut. Dalam artian kapal besar, ya. Kalau feri penyeberangan sudah beberapa kali, pun kapal-kapal kecil di beberapa wilayah perairan. Semoga di lain kesempatan dapat menjadi cerita tersendiri: Ibu Meong naik kapal pesiar, cihuuuuy!

Baca juga: Menjumpai Naga Perak di UC Silver Gold


Pengalaman Perjalanan Denpasar - Trenggalek

Awal Januari lalu aku melakukan perjalanan dari Denpasar menuju kampung halaman. Ini adalah salah satu perjalanan absurd yang kulakukan. Memang, pernah terlintas untuk melakukan perjalanan darat (bukan terbang bersama pesawat). Dalam bayanganku, aku akan menggunakan kereta api dari Bandung menuju Surabaya, lanjut Banyuwangi. Dari situ menggunakan bus untuk menyeberang ke Gilimanuk lanjut Denpasar. 

Rencana itu belum sempat terealisasi, eh, berjumpa dengan kondisi yang membuatku ambil keputusan untuk segera meninggalkan Denpasar. Sayangnya saat itu tiket pesawat sedang tinggi pasca libur tahun baru. Begitu saja, aku terpikir untuk ngelongok kampung halamanku, Desa Bendorejo, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek. Hasil penelusuran di mesin pencari, aku menemukan bus Surya Trans yang tarifnya paling murah, Rp290.000. Bus ini melayani rute Denpasar ke Trenggalek melalui Malang. Pilihan yang lain adalah melalui Surabaya. 

Perjalanan pun dimulai. Aku mengambil pemberangkatan dari Terminal Mengwi, Kabupaten Badung. Di kemudian hari aku baru tahu kalau ternyata titik pemberangkatan ada beberapa alternatif, tinggal dibicarakan dengan pemilik jasa penyedia tiket.

Fasilitas bus standar saja. Tersedia toilet, ada stop kontak di langit-langit tiap kursi, disediakan bantal kecil dan selimut, serta kotak kemasan berisi roti dan air minum kemasan. Yang terasa tidak cukup memadai adalah jarak antarkursi yang terlalu dekat. Bikin kaki pegal. Beruntunglah bisa tidur dengan nyenyak. Dipatok di kursi saja; turun sebanyak dua kali, saat menyeberangi selat dan saat berhenti makan di daerah Probolinggo. Oiya, makan tengah malam di sini tak masuk fasilitas. Jadi mesti bayar sendiri, ya, gaeees...  

Perjalanan berlangsung lancar, meski meleset dari waktu yang tertera di jadwal. Berangkal pukul 14.00 dan dijadwalkan tiba pukul 5 pagi keesokan harinya, ternyata sampainya pukul 7.

Itu pengalaman perjalanan pertama. Aku melakukan perjalanan yang sama pada Juli lalu. Ini pun merupakan pengalaman tak terencana. Berangkat ke Bali menggunakan penerbangan dari Yogyakarta, aku berharap bisa pulang Bandung menggunakan pesawat ke Bandara Kertajati. Tak dinyana, selagi ancang-ancang pesan tiket pulang, ada kabar Bandara Kertajati resmi tidak beroperasi. Bah!

Baca juga: Wisata Kuliner dan Religi di Bali, 2024

Pada perjalanan kedua aku memilih bus Ranajaya dengan pemberangkatan Terminal Ubung, Denpasar. Hanya berbeda Rp20.000, tapi fasilitas bus ini lebih memadai dibandingkan bus sebelumnya. Jarak antarkursi lebih longgar, dengan penahan kaki di bagian bawah. Di bus juga disediakan dispenser dengan stok kopi saset di atasnya. Bekal yang dibagikan ke penumpang berisi roti, air kemasan, dan mi instan kemasan gelas. Nah, kalau mau makan mi instan tinggal seduh sendiri. Atau minta bantuan kenek yang melayani penumpang dengan ramah. Dengan bus ini, jatah makan malam juga tersedia alias gratis. Cuma untuk durasi perjalanan, sami mawon. Malah lebih lama, akibat antrean panjang di Gilimanuk. Ingat peristiwa kecelakaan kapal penyeberangan? Nah, aku pulang kampung 2 hari setelah peristiwa tersebut. Sepertinya ada dampaknya terhadap pemeriksaan kapal. 

Ada satu lagi PO yang beroperasi untuk jalur ini: MTrans. Besaran tiketnya antara Rp380 ribu hingga di atas Rp500 ribu. Lain waktu mungkin perlu coba yang edisi sleepers.

Itu saja dulu dongengnya, ya. Setidaknya dua pilihan PO itulah yang bisa kubagikan sedikit pengalaman. Kalau kamu punya pengalaman lain, baik berkenaan dengan transportasi ke dan dari Bali, boleh berbagi juga, ya. Terima kasih sudah membaca.   

Ah iya, satu catatan tambahan. Saat kedatanganku ke Denpasar bulan April, bus kota dihentikan operasionalnya. Meskipun jalurnya memusingkan dan lama sekali, tapi lumayan membantu. Paling tidak bisa membawa keluar dulu dari area bandara. Nah, saat kedatanganku berikutnya pada Juli, bus sudah diperasikan kembali. Selamaaat. Saranku, jika mau berhemat, untuk keluar bandara pakai saja bus kota. Cukup membayar Rp4.000. Setelah di area luar, tinggal pilih alat transportasi yang lain. Aku memilih ojek online, nggak tahan dengan kemacetan kota. Kecuali kalau tidak buru-buru dengan bisa menimati kemacetan, lanjut saja menggunakan busnya.


Aleph, Kisah Perjalanan Menemukan Diri

Buku ini sudah pasti bakal memberikan makna tersendiri bagi yang sedang memulai perjalanan spiritual. Aleph bukanlah novel biasa, meski temanya sebetulnya tak jauh dari tema buku-buku Paulo Coelho yang lainnya. 



Baca juga: Alaya, Kisah tentang Mimpi yang Mewujud, Takdir, dan Cinta

Dalam bukunya ini, Coelho bercerita tentang pengalamannya sebagai penulis yang melakukan perjalanan panjang menggunakan kereta api. Perjalanan Trans-Siberian tersebut ia lalui dengan ditemani agennya, pihak penerbitnya, dan penerjemah.


Sinopsis

Kita semua barangkali pernah mengalaminya. Stuck. Bukannya hanya terkait pekerjaan, dalam konteks ini Coelho sebagai penulis, namun juga kehilangan semangat dan makna hidup. Diri yang tak terkoneksi dengan orang lain, dengan dunia luar, dengan hal-hal yang sebelumnya begitu akrab. Ia pun menantang dirinya untuk memberikan makna kembali atas hidupnya. Melewati obrolan serius bersama istri dan guru spiritualnya, ia pun memutuskan untuk melakukan perjalanan panjang. Panjangnya tak tanggung-tanggung. Perjalanan dengan kereta api itu menempuh jarak 9.288 km, melewati 7 zona waktu berbeda meski masih sama-sama berada dalam wilayah 

Hal yang menarik dalam sebuah perjalanan tentunya bukanlah saat mencapai tujuan, melainkan segala peristiwa yang dijumpai dalam perjalanan tersebut. Itu pulalah yang digambarkan Coelho dalam novel ini. Banyak hal-hal yang menarik terjadi. Perjumpaan dengan orang-orang baru dengan sifat dan perilakunya masing-masing. Yao, sang penerjemah asala China, bukan hanya hadir membantunya memperlancar komunikasi, namun ternyata juga menyodorkan hal-hal baru yang mencerahkan. Tentu saja termasuk perjumpaannya dengan gadis bernama Hilal, yang ternyata merupakan jawaban atas pertanyaan mengapa ia harus melakukan perjalanan tersebut. 

Hilal yang digambarkan sebagai gadis keras kepala itu pada awalnya dianggap sebagai pengganggu. Ia yang bersikukuh untuk mengikuti sang penulis, bahkan ikut dalam gerbong yang sama dan izin untuk membersamainya dalam beberapa kesempatan terasa menyebalkan. Namun seiring perjalanan waktu, Coelho menyadari, ada sesuatu yang menghubungkan dirinya dengan gadis itu. Sebuah kisah masa lampau yang belum tuntas terselesaikan. Ada cinta sekaligus kemarahan yang mengikuti mereka hingga di masa kini. 

Baca juga: Berkenalan dengan Laku Spiritual melalui Buku Tantra


Aleph dan Pengingat terhadap Kesadaran akan Masa Kini

Apa yang kau lakukan saat ini akan mengubah masa depan. Memutuskan. Mengubah. Menjadi. Mencari jati diri. Melangkah. Berbuat. Bangkit. Bereksperimen. Mencapai. Menantang. Bermimpi. Menang. Menemukan. Menuntut. Berkomitmen. Berpikir. Meyakini. Menguatkan. Bertanya. Bertumbuh. Berpartisipasi. Membangkitkan kesadaran.


Aleph huruf pertama, A, dalam bahasa Ibrani. Kita mengenalnya sebagai A dalam bahasa Latin, Alif dalam bahasa Arab, dan Alpha dalam bahasa Yunani. Namun, dalam istilah matematika, aleph merupakan angka yang berisi seluruh angka lain, tak terhingga. Sementara dalam ranah metafisika Paulo Coelho, aleph dimaksudkan sebagai titik temu dari segala hal. Segalanya, pada tempat dan waktu yang sama.

Novel ini adalah perjalanan refleksi batin Coelho, yang sebetulnya telah dimulai dari buku-buku sebelumnya. Pada perjalanan kali ini Coelho bertemu dengan wanita kelima (dari delapan wanita), yakni Hilal. Kelindan takdir mereka merupakan inti dari perjalanan refleksi Coelho kali ini. 

Di dalam kereta, Coelho menemukan titik Aleph. Sebuah pengalaman spiritual yang memberi Coelho pencerahan dalam bentuk penglihatan terkait kehidupannya di masa lalu. Termasuk gambaran tentang berbagai kemungkinan yang tidak pernah diambilnya. Titik itu ditemukan Coelho saat ia berdua dengan Hilal yang tampaknya memang dimaksudkan untuk menyelesaikan urusan masa lalu mereka yang belum tuntas. 

Berada dalam pusaran masa lalu itu, Coelho mengalami kembali momen-momen intim antara mereka berdua. Ia yang tak mengambil keputusan yang tepat pada masa itu, meninggalkan karma yang baru ditemuinya di masa depan. 

It isn't what you did in the past that will affect the present. It's what you do in the present that will redeem the past and thereby change the future.

Setiap orang terkaitkan pada sebuah lingkaran karma. Orang-orang yang kita jumpai saat ini dalam batas kedekatan tertentu, adalah mereka yang juga pernah kita temui di masa lalu. Aku meyakini itu. Dalam bahasa Coelho, "Siapa pun yang pernah kau temui akan muncul kembali, siapa pun yang hilang dalam hidupmu akan kembali. Jangan khianati anugerah yang telah diberikan padamu. Pahamilah apa yang terjadi dalam dirimu dank au akan memahami apa yang terjadi dalam diri semua orang lain." (hal. 25)

Baca juga: Cantik Itu Luka, Kisah Perempuan-perempuan dengan Luka

Saat ada seseorang yang memberikan pertolongan kepada kita, sangat mungkin, di masa lalu kita pernah memberikan pertolongan yang sama. Begitu pula sebaliknya. Jika ada luka yang pernah kita timbulkan di masa lalu, akan ada seseorang yang hadir di kehidupan masa kini untuk memulihkan lukanya. Hutang karma itu perlu dibayar. Atau ada metode meditasi juga yang dapat membantu memutus rantai karmai.

Nah, kurasa semacam itulah yang terjadi antara Coelho dan Hilal. Coelho berusaha berdamai dengan masa lalunya. Ia harus berdamai dengan Hilal, agar kehidupannya di masa yang akan datang lebih baik. Dan upaya itu dilakukan saat ini, hari ini, di tepat ini. Seperti yang sering kita simak dari ajaran Buddha, "happiness is here and now"

Jadi, mari merayakan setiap peristiwa yang kita jumpai di hari ini. 


Judul     :Aleph

Penulis   :Paulo Coelho

Penerbit  :PT Gramedia Pustaka Utama, 2013

Tebal: 310 halaman





Alaya, Kisah tentang Mimpi yang Mewujud, Takdir, dan Cinta

Sekilas melihat ilustrasi kover Alaya, sudah langsung terbayang, buku ini berkisah tentang Tibet. Yang sontak mengingatkanku pada film yang kutonton pada 1998, Seven Years in Tibet. Diakui oleh sang penulis, Daniel Mahendra (DM), film tersebut memang salah satu yang menginspirasinya untuk melakukan perjalanan, selain tentu saja kisah terdahulu yang menjadikan Tibet sebagai mimpinya sedari kanak, Tintin in Tibet.    



Baca juga: Berkenalan dengan Laku Spiritual melalui Buku Tantra

Cerita diawali dengan muasal rencana perjalanan, tentang mewujudkan mimpi masa kanak. Berlanjut proses adminitrasi dan cerita perjalanan pra Tibet. Perjalanan di Tibet sendiri, baru kita temukan di halaman 145. Tibet yang sama sekali berbeda dengan yang dibayangkan penulis. Bagaimana tidak? Film Seven Years in Tibet yang rilis pada jelang akhir 90-an saja menampilkan setting lokasi empat dekade sebelumnya. Persisnya, film yang diangkat dari memoar Heinrich Harrer (1952) itu mengisahkan pengalaman pendaki Amerika tersebut di Tibet pada kurun antara 1944 dan 1951. Tapi menjejaki negeri yang sudah mengisi impian sekian lama, tentu saja tetap merupakan keajaiban. Banyak hal menarik yang dipaparkan penulis. Perihal perjalanannya sendiri, berkereta hingga 44 jam, dengan segala persoalan manusia di dalamnya. Fasilitas kereta, kebiasaan-kebiasaan orang, perbedaan bahasa, kepedulian terhadap liyan. Hampir dua hari dalam kereta, melalui aneka dataran, cuaca cerah hingga dingin bersalju area pegunungan berketinggian 4000 mdpl. Banyak hal yang terjadi. Pun berikutnya, perjalanan menggunakan bis dalam paket wisata yang diikuti penulis.

Seru! Mengikuti penuturan DM, berasa mengintili ke mana dia pergi. Ikut merasakan yang ia alami. Seperti saat penulis terserang mountain sickness, berasa ikut mengalami demam. Membayangkan, aku yang sepertinya tak bakal sanggup berada di ketinggian. Kehabisan oksigen, sakit kepala, mual.

Ketidaknyamanan penulis saat mengunjungi Potala Palace juga mengingatkan pada kunjunganku ke Bali beberapa tahun silam. Orang yang abai terhadap prosesi keagamaan. Ambil foto, wara-wiri di area ibadah, sambil riuh bersuara. "Tiba-tiba aku merasa malu menjadi turis yang berkunjung ke Tibet." Begitu ujar DM, setelah ia menyaksikan para pengunjung bergegas, berlalu lalang, bahkan menyenggol para biksu yang khusu' merapal doa. Meski akhirnya ia pun lantas menginsyafi hal tersebut sebagai bagian dari perkembangan peradaban. (Peradaban?)


Kuinsafi: apa pun persoalan dan liku jalannya, hidup memang selalu berjalan ke depan. Tak ada kondisi yang selamanya serupa. Biarlah sejarah yang mencatatnya. Bukankah Majapahit pun sirna? Ya, aku mesti belajar menerima kenyataan.


Baca juga: Coffee, Selera Memang Tak Bisa Diperdebatkan 

Perjalanan penulis, pada akhirnya bukan semata mewujudkan mimpi masa kanak. Ada banyak hal penting yang bukan semata perjalanan itu sendiri, melainkan aneka pembelajaran di dalamnya. Banyak hal menarik yang dikisahkan penulis dari obrolan-obrolannya dalam perjumpaannya di setiap sudut wilayah. Ada yang membawaku merenung, ada yang memunculkan nuansa sedih, tak sedikit yang membuatku terbahak. Kurasa DM cukup berhasil menyajikan humor dalam tulisannya.


Mimpi

Berapa banyak di antara kita yang mempertahankan mimpi, menempatkannya sebagai bagian dari masa depan, bukan sekadar bunga tidur?

Lewat Alaya, DM menyodorkan cerita tentang mimpi yang mewujud. Bagaimana kisah dalam bacaan masa kanaknya, Tintin in Tibet, tersimpan kuat dalam memorinya dan berharap kelak betul-betul dapat berada di negeri atap dunia tersebut. Mimpi, dan keterkaitannya dengan law of attraction. Hukum alam ini menyebutkan, apa pun yang menjadi pikiran kita, kita akan menariknya ke dalam diri. Saat kita terhubung dengan semesta, saat pikiran berada dalam satu frekuensi dengan frekuensi semesta, maka apa yang tersimpan dalam benak itu, pada saatnya akan mewujud menjadi sebuah peristiwa nyata. 

Bersikukuh dengan mimpi sepertinya memang perlu. Setidaknya itu yang bisa dicontohkan penulis, mimpi masa kanaknya terwujud saat ia sudah berusia pertengahan 30-an. 

Takdir

Ada banyak bagian dari kisah perjalanan dalam Alaya yang mengacu pada 'takdir'. Tapi aku ingin ambil bagian perjumpaan penulis dengan gadis Perancis, Jeane. Aku suka bagian ini. Chemistry yang terbangun dari keduanya, terasa alami. Membayangkan berdua bersampan di danau menikmati matahari senja. Dan betapa sendu ketika akhirnya perpisahan tiba.

"Ah, alangkah dahsyatnya cinta. Kita bisa bersemangat sekaligus terlunta-lunta karenanya," ungkap DM perihal peristiwa perpisahan itu.

Muncul pertanyaan iseng: Apa jadinya kalau penulis memutuskan ikut Jeane ke India? Atau, kalaupun bukan saat itu, apa yang akan terjadi jika hubungan mereka berlanjut?

Ada sejumlah tanda yang seolah semesta secara sengaja mempertemukan mereka. Untuk menjadi pasangan. Tapi nyatanya itu tak terjadi. Seperti yang dituturkan penulis kepada anaknya, perjalanan itu bermuara pada keberaniannya untuk mengambil keputusan. Menikahi perempuan yang kelak menjadi ibu dari anaknya. 

Baca juga: Sequoia, Catatan Seorang Lelaki untuk Anaknya

Cinta

Menyambung perihal takdir, andaikan penulis memutuskan untuk menemui Jeane, si gadis Perancis, mungkin 'Alaya' tak pernah lahir. Atau lahir dalam versi yang berbeda dari yang kini kita baca. Apa pasal? Karena penulis mendedikasikan buku ini buat anaknya, Sekala. 

Catatan khusus buat Sekala ini ia rawi dalam lembaran-lembaran antar bab yang ditandai dengan tulisan berhuruf miring. Semacam warisan untuk sang bocah yang kelak akan menjalani kehidupannya sendiri, dan bagaimana ia nantinya merawat dan mewujudkan mimpi-mimpinya. Guratan cinta terbaca sungguh dari catatan-catatan itu.

Pada akhirnya, buku ini memang tak semata berkisah tentang perjalanan. Melainkan sesuatu yang memberikan makna lebih. 

Proses untuk mencapai sesuatu acap kali jauh lebih bermakna ketimbang tujuan itu sendiri. 


Ini sejalan dengan kesirikanku selama ini terhadap para pejalan, traveller, yang kaya. Bukan sesuatu yang sifatnya materi, melainkan pengayaan karena demikian banyaknya bahan pembelajaran dari perjumpaan-perjumpaannya sepanjang perjalanan. 

Banyak catatan menarik yang disampaikan DM lewat tulisannya. Catatan pengingat tanpa pretensi menggurui. Sila baca langsung bukunya. 

Judul: Alaya - Cerita dari Negeri Atap Dunia 

Tebal: 413 halaman

Penulis: Daniel Mahendra

Penerbit: Epigraf

Cetakan pertama, September 2018

Baca juga: Gemulung, Kisah Pelarian dan Kegetiran Hidup


Ah ya, yang bertanya-tanya tentang 'apa sih Alaya?', tak perlu tergesa. Karena jawabannya baru akan tertemukan jauuuh, di halaman belakang.



Sebuah Perjalanan Ke Bali Dwipa


Ini perjalanan yang tak sungguh-sungguh kurencanakan. Yang kutahu, ketika itu aku berencana keluar dari pekerjaanku dan setelahnya ingin hengkang barang sejenak dari hiruk pikuk Bandung dan ingatan pada pekerjaan yang hari-hari belakangan terasa makin menyebalkan. 


Aku membuat dua alternatif: perjalanan darat secara estafet ke beberapa kota di Jawa Tengah atau perjalanan udara ke Bali. Tapi dengan pertimbangan waktu, kupilih opsi kedua. Kukirim sms ke seorang kawan di Bali, Mas Narto, yang kukenal dari komunitas Leo Kristi, Lkers. Dengan pertanyaan singkat, ”Kalau aku maen ke Ubud, kira-kira baiknya kapan, Mas?” Responnya ternyata melampaui dugaanku. Mas Narto menyebutkan tanggal ia bebas tugas, 21-26 Agustus. Dan ketika aku masih berusaha meyakinkan diri akan benar-benar pergi atau tidak, ia sudah memesankan tiket kepulangan ke Bandung: 27 Agustus 2014. Wow! Kabar yang membuatku panik dan akhirnya bergegas menyelesaikan beberapa hal sebelum keberangkatan yang kemudian kuputuskan: 21 Agustus 2014.

Begitulah. Akhirnya 21 malam aku tiba di Bandara Ngurah Rai. Menginap semalam di Denpasar, baru keesokan harinya Mas Narto menjemputku untuk rencana tiga hari di Ubud. Sebetulnya agendaku adalah melakukan perjalanan sendiri, suka-suka. Tapi rupanya Mas Narto sudah membuatkan agenda. Sebagai seorang tour leader, Mas Narto sangat paham Bali. Itu yang diberikan padaku. Dan: free...buatku saja loh yaaa..😀

Baca juga:
Ngadem di Soekasada
Mengenal Tempat Pemujaan Umat Hindu

Perjalanan tiga hariku sudah kubagikan dalam catatan sebelumnya. Sekarang aku mau berbagi tentang tiga hari berada di Ubud. Kenapa Ubud? Karena citra Ubud di kepalaku adalah alam, sawah, ketenangan. Bukannya pantai Bali tak menarik. Tapi kali ini aku hanya ingin menikmati ketenangan alam Bali. Citra di kepalaku ternyata jauh berbeda dengan yang kujumpai. Ubud riuh. Wisatawan mancanegara juga bersliweran dimana-mana. Tapi, baiklah…ucapkan selamat datang padaku, Ubud!

Penginapanku telah dipersiapkan. Sebuah kamar di sebuah guest house jalan Sri Wedari. Penginapan sederhana yang nyaman. Kapan-kapan ke Ubud, kau boleh coba, kawan. Namanya ‘Urip’ sesuai nama pemiliknya.


Penginapan ini tempat aku tidur di malam hari, dan sarapan pada pagi harinya. Sedangkan pada sepanjang jelang siang hingga sore jelang petang aku melakukan perjalanan. Lokasi-lokasi yang jauh itu kami tempuh dengan mobil, dengan Bli Ketut sebagai pemilik sekaligus driver. Nah, di antara waktu-waktu sebelum berangkat melakukan perjalanan atau sepulang dari perjalanan, aku menyinggahi beberapa tempat di seputaran kawasan Ubud Raya. Kubagikan cerita beberapa tempat yang sempat kukunjungi, yang barangkali bisa jadi alternatif kunjunganmu, kawan.

Ubud Palace


Sebuah kompleks bangunan tampak menonjol di antara bangunan lain di jalan Ubud Raya. Itulah Puri Saren Ubud atau Ubud Palace. Ubud sendiri telah menjadi kota kerajaan selama lebih dari seratus tahun. Dan di Ubud Palace inilah sang raja yang bergelar ‘Tjokorda atau Agung’ beserta keluarganya masih tinggal.

Ubud Palace dibuat oleh Ida Tjokorda Putu Kandel yang memerintah pada tahun 1800-1823. Puri masih terjaga hingga kini dan dengan auditorium/wantilan sebagai tempat pertemuan . Berbagai agenda budaya dilangsungkan di sini, seperti pagelaran seni musik dan tari, juga kegiatan sastra Bali.

Ingat pernikahan salah satu selebritas tanah air tahun 2010 yang sempat heboh dengan isu pindah agama? Yup. Happy Salma sekarang menjadi bagian dari keluarga ini. Tjokorda Bagus Dwi Santana Kerthayasa itu, suami Happy merupakan keturunan raja Ubud. Dari pernikahan ini Happy Salma mendapat gelar kenaikan kasta, yaitu Jero Happy Salma Wanasari. Jero merupakan bukti anggota baru kerajaan, sedangkan Wanasari berarti taman.

Rumah pelukis I Gusti Nyoman Lempad


Tak susah mencari kediaman pelukis ini. Posisinya lebih kurang di seberang Pasar Ubud. I Gusti Nyoman Lempad disebut-sebut sebagai sumber inspirasi yang tidak pernah kering bagi generasi seni berikut. Sejarah dan pengembangan seni lukis Bali tidak bisa dipisahkan darinya.

I Gusti Nyoman Lempad tidak berekolah secara formal. Ia tidak bisa membaca dan menulis. Nama ia tuliskan di kanvas dengan hanya mencontoh. Tak diketahui pasti kapan ia dilahirkan, tetapi banyak sumber menyebutkan anak ketiga dari empat bersaudara ini dilahirkan tahun 1862 dan menghembuskan nafas terakhirnya pada 25 April 1978. Disebutkan, I Gusti Nyoman Lempad meninggal dunia pada usia 116 tahun.

Sayangnya aku terlalu terburu-buru dan tak sempat melihat detil karya-karyanya.


Pasar Ubud



Tiga kali aku mendatangi Pasar Ubud. Kali pertama diantar Mas Narto, yang sekedar menunjuk arah dan lokasi di dalam pasar. Kali kedua, pada pagi hari kusempatkan ngopi di dalam area pasar. Tak mendapat suguhan kopi Bali, tapi ya sudahlah.. nikmati saja. O iya, sama beli ikan untuk meong di penginapan.

Pasar Ubud berada di tepi Jalan Raya Ubud. Sebetulnya tidak jauh berbeda dengan Pasar Seni Sukawati di Gianyar atau Pasar Seni Kumbasari di Kota Denpasar. Aneka produk fashion, souvenir atau cendera mata khas Bali banyak dijumpai di pasar ini. Bedanya, di Pasar Ubud masih terdapat aktivitas pasar umum dengan para pedagang yang menjual barang kebutuhan masyarakat sehari-hari. Pasar Ubud buka mulai pukul 04.00 pagi hingga sekitar tengah hari.


Nah, pada kali terakhir tak masuk area pasar. Tertarik dengan serba-serbi piranti berdoa. Beberapa kali melintasi para pedagang yang membuka lapak di pinggir jalan ini, terlintas untuk bertanya. Baru kesampaian pada Senin, hari terakhir di Ubud.


Mencari sawah Ubud

Jadi dimanakah letak sawah Ubud yang banyak ditampilkan di kartu pos dan sering dijadikan tayangan televisi? Pada Senin pagi, sebelum meninggalkan Ubud, kutinggalkan penginapan. Berjalan kaki kuteluri Ubud Raya, berbelok di jalan samping istana lalu menapaki jalan menanjak. Hingga sekitar sekilo perjalanan belum juga kujumpai sawah. Yang kutemukan malah sebuah jembatan yang membuatku ngeri memandang kedalamannya.


Dan bayanganku, yang mengingatkanku pada puisi Sapardi Djoko Damono (Berjalan ke barat waktu pagi hari).

waktu aku berjalan ke barat di waktu pagi matahari mengikutiku di belakang aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa diantara kami yang telang menciptakan bayang-bayang aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan


Melanjutkan perjalanan, menyeberangi jembatan lalu jalan memutar, akhirnya kujumpai juga sawah Ubud. Tak terlalu menyerupai gambaran dalam lukisan, tapi setidaknya menuntaskan kepenasaran.

Pada perjalanan berikutnya kujumpai pemandangan ini. Perempuan-perempuan Bali yang perkasa. Mereka tak lagi muda, tapi lihatlah yang dilakukannya. Menjadi kuli bangunan pengusung pasir. Di Bali, konon pekerjaan ini memang banyak dilakukan oleh kaum perempuan. Enam perempuan. Berpasangan mereka saling bantu menaikkan ember berisi pasir. Lalu beriringan memasuki halaman rumah yang sedang dibangun.


Hampir satu kilo perjalanan baru aku mulai menyadari kalau aku berada di Jalan Sri Wedari, dari ujung yang lain.



Bertemu Tari

Rencana jalan-jalan ke Bali ini sempat kuceritakan ke Tari, teman sekampung halamanku yang sudah memiliki ‘jam terbang jalan-jalan’ yang tinggi. Tapi agenda jalan barengnya agak sulit ketemu kompromi waktu. Jadilah kami jalan masing-masing. Tapi ada hari persinggungan yang kami gunakan untuk ketemu. Maka jadilah dua orang Trenggalek, satu tinggal di Bandung dan satunya tinggal di Bekasi, ketemu di Ubud, Bali.

***
Begitulah perjalanan ke Bali bulan lalu yang baru bisa dituliskan lengkap sebulan kemudian 


Baca catatan perjalanan:
Berkunjung ke Tenganan
Tirta Gangga, Taman Air di Kaki Gunung Agung


Big thanks to Mas Narto.

Alumni Sastra Prancis UI ini sudah lama malang melintang di dunia wisata. Wilayah jangkaunya bukan hanya Bali, tapi juga pulau-pulau lain di Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke tampaknya sudah dijajagi. Ditambah dengan beberapa negara. Apa yang membuatnya bertahan?


Tampaknya inilah cinta. Memilih pekerjaan yang dicintai, dan mencintai pekerjaan yang dipilih. Pertanyaan itu sempat mengusikku saat kami memasuki Taman Soekasada. Bagaimana mungkin tidak bosan harus menjelaskan hal yang sama berulang-ulang selama belasan tahun? Di lokasi ini misalnya, Mas Narto bisa datang dua kali sebulan. Misalkan dirata-rata berarti 20 kali dalam setahun. Kalau pekerjaan sebagai tour guide ini sudah 20 tahun, artinya 400 kali ia mendatangi lokasi yang sama. Belum lagi kalau ada tambahan jadwal baru. Dan ini baru satu lokasi. Tapi -sekali lagi- barangkali ya itulah yang namanya mencintai pekerjaan.
Menurut Mas Narto, ia selalu menemukan sudut pandang baru dalam membagikan cerita dan informasi kepada para tamunya. Bukan semata apa yang ditemukan di lokasi, tapi juga mengulik sejarah yang berhubungan dengan lokasi yang dituju. Ini menjadikan Mas Narto tampak seperti kamus wisata berjalan. Beberapa pertanyaan yang kuajukan langsung bisa dijawabnya. Tapi Mas Narto cukup berendah hati mengatakan kalau tak semua hal ia tahu. Ada juga pengalaman ia tak bisa langsung jawab pertanyaan peserta tour, dan ia menjadikannya PR untuk diberikan jawabnya pada hari yang lain. Karena itu menurutnya menjadi pemandu wisata harus terus update informasi. Kemampuannya memberikan pelayanan yang baik, ditambah latar belakang pendidikan formalnya, membuat Mas Narto sering dicari untuk menjadi pemandu tamu-tamu negara.

Terimakasih, Mas Narto. Sukses selalu. Sampaikan salamku untuk Claudine.

Bli Ketut

Kukira-kira usianya 2 tahun di bawahku. Setelah cukup lama bekerja di sektor wisata, sebagai staf di hotel dan perusahaan tour & travel, Bli Ketut akhirnya memutuskan untuk memulai usaha sendiri. Ia cukup tahu beberapa hal tentang Bali. Lumayan memberikan perspektif baru dan tambahan informasi buatku. Selain juga cerita-cerita kocaknya semasa kecil di kota kelahirannya, Tanah Lot.
Makasih, Bli…


Ah iya… ini anakku selama di penginapan..



Meninggalkan Ubud, sempat singgah ke Pantai Sanur. Menikmati sate lilit ikan, dan menjemur diri di bawah terik matahari Sanur.


Sampai ketemu lagi, Bali Dwipa…


Baca juga catatan:
Upacara Piodalan
Pura Besakih