Featured Slider

Sugeng Tindak, Pak Jakob Oetama..

Sebagai penyiar Radio Sonora Bandung, saya menjadi bagian dari keluarga besar Kompas Gramedia. Meski hanya sebagai penyiar freelance, dan meski tak pernah berjumpa langsung dengan Pak Jakob, tetap saja, kepergiannya memunculkan rasa kehilangan. Karena Jakob Oetama bukan semata pemimpin dan pendiri Kompas Grup, namun sosok yang dapat dijadikan teladan oleh semua yang berkecimpung di dunia media.



Ya, hari ini (Rabu, 9/9/2020), Pendiri Kompas Gramedia sekaligus Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama berpulang. Kabar pertama saya temukan di wag kampus, kawan-kawan seangkatan. Sebagai pembelajar kajian jurnalistik, nama almarhum tentu saja sangat akrab buat kami. Jauh sebelum saya bergabung dengan grup Kompas. Langsung cari beberapa sumber berita. Termasuk rilis yang dibagikan Corporate Communication Director Kompas Gramedia, Rusdi Amral. Cek di media sosial, beberapa kawan membagikan kenangan bersama almarhum. Di antaranya tersebutkan, Jakob sempat dalam perawatan tim medis RS Mitra Keluarga Kelapa Gading hingga menghembuskan nafas terakhir pada pukul 13.05, pada usianya yang ke-88 tahun. 

Mengutip catatan Trias Kuncahyono, Jakob pernah berujar kalau keberadaan Kompas adalah providentia Dei. Penyelenggaraan Allah. “Saya seorang wartawan, bukan pengusaha. Saya pernah menjadi guru, dan sampai sekarang tetap seorang guru. Mas tahu kan, dalam providentia Dei ada pemeliharaan, ada perlindungan, ada penyertaan, dan jangan lupa ada campur tangan. Ya, campur tangan Tuhan. Itulah providentia Dei. Dan, Kompas bisa menjadi seperti sekarang ini karena providentia Dei.” Demikian kutipan di triaskun.id

Jakob Oetama memang seorang guru. Profesi guru pernah dilakoninya, yakni sebagai pengajar di SMP Mardi Yuwana Cipanas, Sekolah Guru Bagian B (SGB) Lenteng Agung Jagakarsa, dan SMP Van Lith Jakarta. Memang cita-citanya sedari belia, menjadi guru seperti ayahnya. Sementara minatnya menulis tumbuh berkat belajar Ilmu Sejarah. Saat mengajar SMP, ia mengikuti Kursus B-1 Ilmu Sejarah hingga lulus. Mengikuti minatnya, Jakob melanjutkan kuliah ke Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta dan Jurusan Ilmu Komunikasi Massa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada hingga tahun 1961. Pekerjaan bidang jurnalistik diawali Jakob sebagai redaktur majalah Penabur Jakarta. Pada 1963, bersama Petrus Kanisius Ojong (alm), Jakob Oetama menerbitkan majalah Intisari yang menjadi cikal-bakal Kompas Gramedia. Yang menonjol dari seorang Jakob adalah kepekaannya pada masalah manusia dan kemanusiaan. Hal yang kemudian menjadi spiritualitas Harian Kompas, yang terbit pada 1965. 


Tahun demi tahun berjalan, dan Kompas Gramedia kemudian berkembang menjadi bisnis multi-industri. Namun Jakob Oetama masih menyebut dirinya sebagai wartawan. Menurutnya, “Wartawan adalah Profesi, tetapi Pengusaha karena Keberuntungan.” Memang, semasa hidup, Jakob Oetama dikenal sebagai sosok sederhana. Ia selalu mengutamakan kejujuran, integritas, rasa syukur, dan humanisme. Di mata karyawan, Jakob dipandang sebagai pemimpin yang ‘nguwongke’, dan tidak pernah menonjolkan status atau kedudukannya. Almarhum berpegang teguh pada nilai Humanisme Transendental yang dijadikan pondasi Kompas Gramedia. Idealisme dan falsafah hidupnya telah diterapkan dalam setiap sayap bisnis Kompas Gramedia yang mengarah pada satu tujuan utama, yaitu mencerdaskan kehidupan Bangsa Indonesia. 

Jakob Oetama menerima banyak penghargaan semasa hidupnya. Di antaranya Bintang Mahaputra Kelas III (Bintang Utama) pada masa pemerintahan Orde Baru. Ia menerima gelar kehormatan Doktor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada pada 2003. Lifetime Achievement Award ia dapatkan dari lembaga dalam dan luar negeri. Dari Pemerintah Jepang ia menerima Bintang Jasa The Order of The Rising Sun dan Gold Rays with Neck Ribbon. Dan masih banyak yang lainnya. 


Selamat jalan, Pak Jakob... selamat berpulang...


September Ceria, Karya James F Sundah Yang Tak Lekang Waktu

September merupakan salah satu bulan yang lumayan banyak dijadikan judul maupun tema lagu. Seperti ‘September’-nya Earth, Wind, & Fire, September in The Rain dari The Beatles, September Song dari JP Cooper, atau Wake Me Up When September Ends-nya Green Day. Di tanah air tentu saja kita punya ‘September Ceria’, superhitnya Vina Panduwinata. Cerita tentang lagunya, bisa dieja di sini. Sekarang kita berkenalan sedikit dengan sang pencipta, James F Sundah.



Nama lengkapnya James Freddy Sundah. Pria berdarah Manado kelahiran Semarang, 1 Desember 1955 ini dikenal dengan lagu-lagu berkualitas yang berjaya di ajang festival. Diawali dengan karyanya tahun 1977 yang memenangkan Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors, Lilin Lilin Kecil, yang disuarakan oleh Chrisye. Lagu ini berada di posisi 13 dalam daftar lagu terbaik sepanjang masa versi Majalah Rolling Stone Indonesia.



Yang khas dari karya James adalah lirik yang terkesan sederhana namun sesungguhnya menyodorkan makna yang dalam. Pun dia cermat melakukan pemilihan kata sehingga mampu mewakili suasana dengan tepat. Seperti pada lagu ‘September Ceria', dikatakannya, “Seluruh dunia merasakan perubahan pada bulan September.” Di negara-negara empat musim, di belahan bumi utara, September merupakan awal musim gugur; sedangkan belahan bumi selatan merupakan awal musim semi. Di negara tropis seperti Indonesia, September biasanya adalah awal musim hujan. Meski tahun ini sepertinya ada anomali. Perubahan-perubahan itu memunculkan nuansa tersendiri, dan tampaknya itu menjadi momentum terbaik untuk menyelipkan kisah sentimental melalui lagu.

Temukan aneka cerita tentang lagu di pecandumusik.com



James banyak melakukan kolaborasi dengan penyanyi kenamaan tanah air, seperti Titiek Puspa, Vina Panduwinata, Ruth Sahanaya, Krisdayanti, dan Sheila Majid. Pada 1996, ia bersama Titiek Puspa menuliskan "When You Came Into My Life" untuk grup Rrock asal Hanover, Jerman, Scorpion. Lagu tersebut rilis bersama album Pure Instinct. 

Sepuluh tahun lalu, James sempat membuat acara musik di tanah air bertajuk Indonesian Song Festival 2010. Festival lagu popular serupa sempat berjaya pada dekade 70-90an. Selain bermusik, Sundah juga kerap menjadi narasumber untuk masalah-masalah budaya, hak cipta, dan informasi teknologi. Karya-karyanya dimuat di berbagai media dan jurnal ilmiah. Ia juga sering mewakili Indonesia pada pertemuan-pertemuan internasional. Saat ini James tinggal di New York City bersama istri dan anaknya.

Antara 'Dalam Diriku' SDD dan 'Because' The Beatles

Tokoh sastra terkemuka Indonesia, Sapardi Djoko Damono berpulang pada 19 Juli 2020 lalu. Terlintas untuk membuat catatan khusus sebagai apresiasi terhadap karya-karya Pak Sapardi (SDD). Tapi tak keburu saja. Hingga dua minggu lalu seorang pendengar program The Beatles di Radio Sonora Bandung ingin dibagikan cerita soal syair SDD yang terinspirasi oleh The Beatles. 

    Foto Gramedia

Tak banyak referensi yang menuliskan tentang seberapa jauh SDD menyukai The Beatles. Nyaris tak ada bahkan. Dari beberapa kata kunci yang merujuk pada ‘The Beatles’ dan ‘SDD’ hanya tertemukan sebuah kalimat. Terdapat di beberapa feature dan tulisan blog. Disebutkan, SDD mengoleksi piringan hitam The Beatles. Sebatas itu. Sayangnya saya tak pernah berkesempatan untuk berjumpa langsung dan melakukan wawancara. Ketika penyair senior bicara tentang musik dari grup legenda, sepertinya asik.

Namun yang pasti, ada sebuah puisi dari penyair kelahiran 20 Maret 1940 ini yang jelas-jelas mengutip lirik lagu The Beatles. Yang artinya lagu bertajuk Because tersebut telah menginspirasi SDD untuk menuliskan nuansa yang sama dalam bahasanya. Bahasa puisi. 


DALAM DIRIKU


Because the sky is blue

It makes me cry

(The Beatles)


dalam diriku mengalir sungai panjang,

darah namanya;

dalam diriku menggenang telaga darah,

sukma namanya;

dalam diriku meriak gelombang sukma

hidup namanya!

dan karena hidup itu indah,

aku menangis sepuas-puasnya


(1980)


Dalam Diriku dapat ditemukan di buku rampai puisi Hujan Bulan Juni. Buku ini pertama kali diterbitkan pada 1994 oleh Grasindo, berisi karya SDD pada kurun 1964-1994, baik yang sudah dan belum dipublikasikan. Setelahnya ada beberapa kali cetak ulang dengan perubahan berupa penambahan dan penghilangan beberapa judul puisi.  


Because sendiri adalah lagu The Beatles di album Abbey Road yang rilis tahun 1969. Lagu ini bisa dibilang lagunya John Lennon, meski kredit tertulis Lennon-McCartney. Konon idenya datang saat John mendengarkan Yoko memainkan Moonlight Sonata, gubahan Beethoven, pada piano. Saat itu ia sedang tiduran di sofa. Lalu ia meminta Yoko untuk memainkan chord secara mundur. Di situlah John menemukan si Because

Lebih lengkap liriknya:

Because the world is round it turns me on

Because the world is round, ah

Because the wind is high it blows my mind

Because the wind is high, ah

Love is old, love is new

Love is all, love is you

Because the sky is blue, it makes me cry

Because the sky is blue, ah

Ah, ah, ah, ah

Baca juga: Perayaan 50 Tahun Abbey Road 

Lirik yang sederhana, namun penyajiannya terbilang rumit. Lagu ini disuarakan bertiga John, Paul, dan George, dengan proses rekaman yang tak biasa. Komposisi tiga suara mereka rekam sebanyak tiga kali, menghasilkan 9 suara. Pada lagu ini juga mereka untuk pertama kalinya menggunakan Moog synthesizer yang dipegang oleh George. Ringo tak terlibat dalam pembuatan lagu ini. Sedangkan George Martin memainkan piano Baldwin electric harpsichord.  


Di kuping saya, dan bisa jadi di kuping penikmat lagu The Beatles dan sajak SDD, baik Because maupun Dalam Diriku mendedahkan rasa penuh syukur yang mengharukan. Because the sky is blue, it makes me cry. Karena hidup itu indah, aku menangis sepuas-puasnya.

Untuk semua yang mencintai kehidupan, I love you

Dapatkan cerita tentang lagu di https://www.pecandumusik.com/


Menyikapi Kritik dan Penilaian Negatif

Sebagai makhluk sosial yang berinteraksi dengan manusia lain, tentu saja kita tak lepas dari penilaian orang. Penilaian yang datang dapat bernuansa positif maupun negatif. Cara penyampaiannya pun beraneka. 



Penilaian positif dapat disampaikan dengan cara ‘negatif’ dan sebaliknya. Negatif dalam tanda petik mewakili ungkapan-ungkapan yang berupa olok-olok atau dengan cara kasar. Jika disampaikan oleh orang yang memang saling mengenal, tak jadi soal. Tapi tidak sebaliknya. Alih-alih ingin memberikan nilai positif, karena disampaikan dengan cara tak tepat akhirnya malah memunculkan masalah baru. Demikian pula dengan penilaian negatif, ada yang disampaikan togmol kalau dalam istilah Sunda, atau secara lugas, ada pula yang dibungkus kalimat-kalimat manis. Untuk kalimat positif, relatif tak ada masalah. Yang sering memberikan efek tak baik adalah kritik dan penilaian negatif. Nah, bagaimana kita menyikapinya? Abaikan? Jangan! Setidaknya lewati dulu beberapa tahapan sampai kemudian memutuskan untuk mengabaikan.


Berikut ini tahapan yang perlu kita lakukan untuk menyikapi kritik dan penilaian negatif. Tentu saja versi saya, dari pengalaman dan pengetahuan sekian tahun hidup sebagai makhluk sosial. 


Tidak defensif


Hal yang alami dilakukan orang saat dikritik atau dikasih penilaian negatif adalah munculnya perasaan diserang. Lebih buruk lagi, perasaan terhina dan dilecehkan.  Maka yang dilakukan adalah membuat pembelaan diri. Contoh-contohnya dapat dengan mudah kita temukan di media sosial. Medsos menjadi salah satu saluran katarsis bagi mereka yang membutuhkan pembelaan diri. 


Apakah sebetulnya sikap defensif itu dibutuhkan? Jawabnya adalah tidak. Defensif adalah sikap emosional yang bakal melelahkan jika diikuti. Ambil nafas panjang, berdiam barang tiga menit untuk menetralisir beban batin. Lalu lakukan introspeksi.


Introspeksi


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan, introspeksi adalah peninjauan atau koreksi terhadap (perbuatan, sikap, kelemahan, kesalahan, dan sebagainya) diri sendiri. Apakah kritik dan ungkapan negatif tersebut hanya untuk menjatuhkan, apakah memang betul kita melakukan hal yang tak tepat, ataukah karena cara pandang yang berbeda. 


Pada poin yang terakhir orang yang memberikan kritik atau penilaian negatif karena memang demikianlah cara pandangnya. Konon, orang cenderung ingin melihat apa yang ingin ia lihat dari orang lain. Mereka tak bisa atau tak mau melihat kita dari berbagai aspek dan kemungkinan. Tentu saja kita tak bisa memaksa mereka mengubah cara pandangnya. Lalu dengan cara apa melakukan introspeksi? 


Cek kembali hal-hal yang menjadi prinsip kita


Kembali ke dalam diri. Lepaskan segala ego dan upaya pembelaan diri. Jika mendapati ada hal-hal yang tak tepat yang kita lakukan, koreksi. Perbaiki. Barangkali ini tak selalu mudah. Terutama untuk hal-hal yang sudah jadi kebiasaan bertahun-tahun. Tapi dapat dicoba pelan-pelan. 


Jika saat ‘kembali ke dalam diri’ tak kita temukan kesalahan, kita sudah menjalankan prinsip utama, misal ‘berlaku manusiawi’, ya sudah, saatnya mengabaikan. Lepaskan. Jangan pernah biarkan hal-hal tak menyenangkan menjadi kerak di batin kita.


Bersikap positif


Orang bijak mengatakan’segala sesuatu pasti ada hikmahnya’. Terdengar klise, tapi itu benar adanya.

  • · Saat mendapatkan apresiasi positif, kita akan berusaha untuk meningkatkan sikap positif kita.

  • · Saat menerima kritik dan penilaian negatif, kita akan introspeksi. Jika nyata salah, kita dapat melakukan perbaikan.  Jika tak ada hal salah yang kita lakukan, kita akan mengambil sikap untuk tak melakukan hal serupa pada orang lain. Hal yang membuat kita lebih bijak.

Upaya ini kita lakukan untuk mendapatkan hasil utama yaitu nilai kebaikan. Bukan untuk meninggikan diri sendiri, dan sebaliknya, merendahkan orang lain. Melainkan nilai kebaikan. Semata nilai kebaikan



Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta



*Catatan ini dibuat setelah berbulan-bulan hibernasi alias mengikuti dorongan malas dan mengabaikan blog. Mari kita menulis lagi 😀 Catatan ini juga sekaligus mengakhiri peran utama Si Shiroy, laptop Asus mungil saya yang memang sudah bolak-balik ngadat. Semoga di perangkat penggantinya mendatang, si sayanya akan lebih rajin 😍

Mengenal Vincent Willem van Gogh Lewat Novel Lust for Life


No great genius has ever existed without some touch of madness. (Aristotle)



Tanggal 30 Maret tercatat sebagai hari lahir seniman besar Vincent Willem van Gogh. Seorang pelukis impresionist asal Belanda yang banyak mempengaruhi pelukis-pelukis generasi berikutnya. Persisnya ia lahir di Zundent, Belanda, 30 Maret 1853. Kutuliskan ulang dari blog terdahulu untuk merayakannya. Pengenalanku sendiri terhadap sosok pelukis ini adalah dari lagunya Don McLean: Vincent.



Yup, Don McLean pernah memberiku imajinasi tentang kepedihan hidup yang dialami Vincent. Tentang kesunyian dan kegilaan di dalamnya. Tapi melodi yang membius dari penulis lagu dan penyanyi Amerika itu membuatku abai pada inti cerita dari lagu tersebut. Kenyataannya, kehidupan Vincent lebih murung dari yang kubayangkan sebelumnya. Aku menemukan detailnya dalam novel karya Irving Stone. Memang, sebuah karya fiksi. Ada drama yang ditambahkan sang penulis. Tapi setidaknya memberikan gambaran lebih detail.

Dibesarkan oleh keluarga terpandang, Vincent muda menjalani kehidupan yang normal. Karirnya sebagai tenaga penjualan di galeri seni Goupil, London, Inggris terbilang lancar. Meski tidak terlalu menyukai pekerjaannya, tapi paling tidak ia bisa memberikan masukan yang bagus soal lukisan kepada calon pembelinya. Rutinitas itu dijalaninya setiap hari dengan tidak terlalu banyak keluhan. Hingga suatu ketika ia menyadari kalau telah jatuh cinta pada Ursula, anak pengurus rumah ia tinggal. Perempuan itu menolaknya. Penolakan atas kasmaran yang kali pertama dialaminya itu membuatnya terguncang. Ia merasa terhina dan tercampakkan. Tiba-tiba saja ketidaknyamanan di alam bawah sadarnya bermunculan. Ia mulai berontak terhadap aturan-aturan tempat kerjanya. Terhadap kepalsuan para pembelinya, orang-orang kaya yang membeli lukisan sebagai prestige semata dan bukan karena mengerti seni. Ia merasa harus pergi. Dan ia memutuskan kembali ke Belanda.


Di Belanda, atas rekomendasi orang tuanya, Vincent masuk sekolah pendeta. Ia tak butuh tidur, tak butuh cinta, simpati, atau kesenangan. Ia hanya ingin menjadi pelayan Tuhan. Namun rupanya ia pun tak cocok dengan pendidikan formal. Hingga kemudian, setelah melewati proses yang berbelit-belit, ia menawarkan diri untuk ‘melayani’ di kawasan tambang batubara, Borinage. Hal ideal yang selama ini di benaknya dan berlaku pada pengalaman empirisnya terhadap kehidupan menggereja, sama sekali berbeda dengan yang didapatinya dari lingkungan miskin tersebut. Barangkali ada kemiripan, ketika mereka datang ke gereja dengan patuh. Dan mematuhi pula apa pun yang disampaikan sang pendeta. Mereka datang ke gereja seolah perjumpaan dengan Tuhan adalah satu-satunya hiburan.

Tapi ada yang salah di sini, katanya. Nuraninya tergugah. Mereka bukan butuh ayat-ayat kitab suci. Mereka butuh kehidupan yang layak. Vincent pun terjun langsung. Ikut melihat dari dekat kondisi tambang. Pindah ke rumah sewa semata untuk merasakan kehidupan kaum papa. Keadaan semakin mengenaskan ketika bencana terjadi. Kawasan pertambangan mengalami longsor. Korban berjatuhan. Vincent membantu sejauh yang ia mampu. Bahkan bisa dikatakan melebihi batas kemampuannya. Ia pun sakit. Ambruk. Adiknya, Theo yang datang mengunjungi kaget bukan kepalang. Ia berniat membawa Vincent. Pada akhirnya Vincent mengiyakan. Padahal sebelumnya ia bersikeras menolak pada kelompok penginjilan tempat ia bernaung yang menyebutnya memalukan karena keterlibatannya dalam kehidupan masyarakat tambang tersebut. Bukan semata karena menyayangi adiknya, melainkan juga karena dia menyadari apa yang diinginkannya dalam hidupnya: melukis! Ya, tampaknya Borinage merupakan salah satu fase penting dalam kehidupan Vincent. Borinage adalah tempat ia tersadar untuk menolong orang miskin dengan sepenuh hatinya. Di Borinage pula ia mengenali passion-nya dalam melukis.


Kembali ke kota tidak menjadikan segala sesuatunya mudah. Kehidupan Vincent disokong sepenuhnya oleh Theo. Tempat ia tinggal, apa pun yang ia butuhkan, Theo senantiasa mencukupi. Bahkan saat Vincent berada dalam kondisi paling menyebalkan pun, Theo selalu mendampinginya. Bertahun-tahun. Hingga ia mulai mempertanyakan soal kemampuannya melukis karena tak kunjung bisa menyejajarkan diri dengan para pelukis yang karya-karyanya sudah dipajang di galeri. Theo pun tak berdiam diri. Ia mengenalkan Vincent pada sejumlah pelukis, di antaranya yang kemudian menjadi karibnya, Paul Gauguin. Pada masa itu Vincent mulai mengenal lukisan dari pelukis-pelukis tenar yang telah mendahuluinya, seperti Monet, Manet, Sisley, Pissarro, Degas, Guillaumin, Delacroix. Dan dari sekian perjumpaan dengan kawan-kawan pelukisnya, ia juga makin paham tentang pengetahuan dan ragam teknik melukis. Misalnya Cezanne melukis dengan mata, Lautrec melukis dengan amarahnya, Seurat melukis dengan otaknya, Rousseau melukis dengan imajinasinya, Gauguin melukis dengan hasrat seksualnya, dan ia sendiri melukis dengan hatinya.


Tapi tragedi demi tragedi terus saja mengikutinya. Bukan hanya di Borinage, tapi juga kota-kota lain yang disinggahinya. Masyarakat menyebutnya aneh, bahkan gila. Pun kehidupan percintaannya yang kerap gagal. Namun di antara kegelisahan yang terus berkutat dalam jiwanya, Vincent terus melukis. Merekam keindahan yang tertangkap penglihatannya, lalu menuangkan jejak-jejak ingatan itu pada kanvas.


Arles menjadi kota terakhir persinggahan Vincent. Tempat yang membuatnya begitu bersemangat dalam perjumpaannya dengan matahari emas yang menyilaukan. Tempat yang sekaligus juga menggali kegilaannya. Seperti diingatkan seorang wartawan yang dijumpainya pada kali pertama tiba di kota itu: Arles adalah kota epileptoid, yang sewaktu-waktu bisa meledakkan warganya dalam kegilaan. Di kota ini juga ia menyerahkan irisan kupingnya kepada Rachel, gadis muda penghuni rumah bordil Maison de Tolerance di Rue des Ricolettes. Aneka peristiwa mengguncangkan yang ia alami di kota ini mengantarkannya ke rumah sakit jiwa. Tapi justru di tempat inilah, di tengah orang-orang yang mengalami kegilaan yang sesungguh-sungguhnya, Vincent bisa menghayati dirinya. Termasuk memahami saat-saat serangan jiwanya muncul.


Pada akhirnya Vincent tiba pada satu titik. Ketika ia merasa telah melukis segala yang ingin ia lukis. Gairah kreatifnya tak lagi bisa tergali. Ia merasa bagian terbaiknya telah mati. Lalu pada sebuah siang yang terik, ia menengadahkan kepala menantang matahari. Menekan sepucuk revolver ke pinggangnya. Kematian menjemputnya tak lama setelah peristiwa itu. Vincent van Gogh meninggal dunia dalam usia 37 tahun (29 Juli 1890). Ia belum sempat menyaksikan apresiasi orang terhadap karya-karyanya.

Salah satu karya Vincent: The Starry Night
 

Lust for Life ditulis oleh penulis biografis, Irving Stone. Ini merupakan karya pertama sekaligus masterpiece-nya. Irving menulis novelnya dengan mengambil sumber tiga jilid surat Vincent van Gogh untuk adik semata wayangnya, Theo. Bagian terbesar materinya digali dari perjalanan Van Gogh ke Belanda, Belgia, dan Prancis. Selain teliti menggali data, Irving Stone juga piawai dalam merangkaikannya dengan kalimat dan narasi yang imajinatif. Penuturannya pun mengalir dan enak dibaca. Tentu saja ini tak lepas dari peran penerjemah tim Serambi yang menerbitkan Lust for Life edisi Bahasa Indonesia. Dari novel ini kita diajak menyelami kehidupan pribadi Van Gogh. Tentang jiwa sepi yang diriuhi gelisah.

Novel ini sempat ditolak 16 penerbit di Amerika Serikat, hingga berhasil tembus dan menjadi buku laris yang mendapat sambutan hangat para kritikus dan penikmat buku fiksi. Lust for Life diterbitkan pertama kali pada 1934. Tahun 1956 MGM merilis filmnya dengan judul yang sama. Dua pemeran utamanya Kirk Douglas (Vincent) dan Anthony Quinn (Gauguin). Sedangkan sang adik tercinta, Theo diperankan James Donald.

Judul   : Lust for Life
Penulis : Irving Stone
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetak   : Juli 2012
Tebal buku: 574 halaman





Dan ini dia lirik lengkap Vincent karya Don McLean..

Vincent

Starry, starry night
Paint your palette blue and grey
Look out on a summer's day
With eyes that know the darkness in my soul

Shadows on the hills
Sketch the trees and the daffodils
Catch the breeze and the winter chills
In colors on the snowy linen land

Now I understand
What you tried to say to me
And how you suffered for your sanity
How you tried to set them free
They would not listen, they did not know how
Perhaps they'll listen now

Starry, starry night
Flaming flowers that brightly blaze
Swirling clouds in violet haze
Reflect in Vincent's eyes of china blue

Colors changing hue
Morning fields of amber grain
Weathered faces lined in pain
Are soothed beneath the artist's loving hand

Now I understand
What you tried to say to me
How you suffered for your sanity
How you tried to set them free
They would not listen, they did not know how
Perhaps they'll listen now

For they could not love you
But still your love was true
And when no hope was left in sight
On that starry, starry night
You took your life, as lovers often do
But I could've told you, Vincent
This world was never meant for one as beautiful as you

Starry, starry night
Portraits hung in empty halls
Frameless heads on nameless walls
With eyes that watch the world and can't forget

Like the strangers that you've met
The ragged men in their ragged clothes
The silver thorn of the bloody rose
Lie crushed and broken on the virgin snow

Now I think I know
What you tried to say to me
And how you suffered for your sanity
How you tried to set them free
They would not listen, they're not listening still
Perhaps they never will



Mandi Wangi Tanpa Ribet ala Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash



Tinggal di negeri tropis seperti Indonesia, ‘mandi’ seolah menjadi salah satu hal yang wajib dilakukan. Kalau tidak, sudah pasti tubuh akan meruapkan aroma tak sedap yang tentunya mengganggu orang lain. Alhasil kita bisa masuk dalam blacklist lingkungan pergaulan. Termasuk di lingkungan kerja. Sebagai penyiar radio, aku tak berjumpa langsung dengan pendengar. Tapi kalau menyisakan aroma tak sedap, pasti menuai protes rekan penyiar lain.. 😀




Itu baru menyoal kebersihan, belum lagi jika dikaitkan dengan kesehatan. Bayangkan, apa jadinya kalau kotoran menutup kelenjar keringat kita... Mandi juga dapat menjadi terapi.


Hydrotheraphy sudah dikenal dari zaman dahulu kala. Baik yang menggunakan air panas maupun dingin. Terapi air dingin, biasanya berupa mandi es atau cryotherapy; dilakukan untuk membantu melemaskan otot yang tegang, terutama pasca berolah raga. Barangkali ini tak terlalu familiar di kita, kecuali kalangan yang berhubungan dengan dunia olah raga. Beda halnya dengan mandi air hangat. Bukan hanya menjadi tradisi negeri empat musim, mandi atau berendam air hangat banyak dilakukan di tanah air, terutama kawasan-kawasan dengan ketinggian tertentu. Di area Bandung Raya kita bisa temukan di Pangalengan, Ciwidey, atau Lembang. Aneka kolam air panas dikomersilkan menjadi sarana wisata dan menyehatkan diri.


Beberapa yang disarankan misalnya dengan berendam hingga melewati batas dada. Mengutip springer dot com, berendam dengan hanya menyisakan kepala ini memberikan pengaruh baik pada kapasitas paru-paru dan asupan oksigen. Yang memberikan peran adalah suhu dan tekanan air di dada dan paru-paru. Perendaman dengan air hangat dapat membuat detak jantung lebih cepat, asupan oksigen juga meningkat. Uapnya membantu membersihkan sinus dan dada. Sementara perendaman dalam air yang lebih dingin atau air suhu normal, dapat membantu mengurangi risiko infeksi pada penderta penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

Catatan di atas hanya sedikit dari sekian banyak manfaat mandi dan berendam. Jadi.. yuuuuk kita rajin mandi 😍 Nah kalau mandinya pakai yang wangi-wangi, makin seru pasti! Mari berkenalan dengan Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash.



Dulu kenal Vitalis dari parfumnya. Aku sendiri, sebagai manusia anti ribet, sesungguhnya bukan penyuka parfum. Tak mau bergantung. Tapi punya lho parfum Vitalis. Serius! Cumaaa.. dipakainya hanya saat selesai mandi dan hanya di rumah. Aneh ya? 😂😂😂 Maka begitu dapat informasi Vitalis punya produk baru, penasaran buat coba. Ga perlu ribet sas-ses parfum. Cukup mandi, sudah langsung wangi dah..berasa mandi parfum 😍


Dirilis pada pertengahan 2019 lalu, Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash menawarkan tiga varian, yakni White Glow, Fresh Dazzle, dan Soft Beauty. Masing-masing menawarkan wangi yang berbeda.


White Glow

Dengan warna kemasan merah muda, varian ini seolah menawarkan aroma feminin yang lembut dan manis sekaligus glamor. Aroma fruity yang merupakan perpaduan cherry, raspberry, marshmallow, dan gardenia dapat kita temukan pada varian ini. Semriwing aroma woody dan suede dapat kita hirup pula di antaranya.

Kandungan lain Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash White Glow adalah ekstrak licorice dan susu yang membantu merawat kulit lebih bersih, cerah, dan bersinar.


Fresh Dazzle

Varian yang ini dikemas dalam botol berwarna hijau. Warna ini mengesankan nuansa ceria dan bersemangat. Selaras dengan aroma yang merupakan perpaduan bergamot, floral bouquet, dan musk amber. Dan yup, memang perpaduan ketiganya diciptakan untuk membawa nuansa segar, elegan, feminin, sekaligus long lasting.

Kandungan lain Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash Fresh Dazzle adalah ekstrak yuzu, orange, dan teh hijau yang bermanfaat sebagai anti oksidan serta menjadikan kulit segar, halus, dan lembut.


Soft Beauty 

Dalam balutan warna ungu, varian Soft Beauty merupakan perpaduan fruity aldehydic, rose, violet, tonka bean, dan sandalwood. Ungu dalam benakku adalah nuansa feminin yang elegan dan anggun.

Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash Soft Beauty dilengkapi dengan ekstrak avocado dan vitamin E yang dapat merawat kulit tetap kenyal, halus, dan lembut.

Dari ketiga aroma, aku pilih Fresh Dazzle yang dalam kemasan warna hijau. Aromanya cocok di hidungku. Tapi tahukah, kawan, tubuh kita itu bisa memutuskan loh apa yang pas. Aroma yang disuka oleh penciuman kita, belum tentu jadi pilihan tubuh kita. Makanya efeknya beda-beda setelah kita gunakan. Penasaran ga? Coba ketiganya deh baru tentukan pilihan, aroma mana yang paling pas. Kalau sudah..yuk mandi yuuuuk..

Oiya, Vitalis diproduksi oleh PT Unza Vitalis yang telah berpengalaman dengan aneka brand wewangian yang telah lama kita kenal seperti Enchanteur, Romano, Sumber Ayu, dll. Jangan khawatir, harganya terjangkau. Daaan.. Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash juga telah mengantong sertifikat halal.