Christian Mara, Pejuang Seni Budaya Adat Dayak Berpulang

Kapan hari aku membuat konten untuk media sosial dengan memakai musik latar yang terdengar unik tanpa aku tahu persis itu musik khas mana. Muncul satu komentar yang mengatakan bahwa musik itu mengingatkannya pada sape, membuatnya merindukan Kalimantan. Eits, apa itu sape? Kok aku nggak tahu. Ternyata sape adalah alat musik petik tradisional khas Dayak. Informasinya lantas tersambung saat Rabu (19/08) kudapati kabar berpulangnya Christian Mara, seniman dan budayawan Dayak yang juga dikenal sebagai pembuat sape. Sebuah kebetulan yang mendorongku untuk sekadar menuliskan ulang sosok penting masyarakat Dayak ini.

Christian Mara (ilustrasi: FB Margareta Uliandari)

Baca juga: Sesepuh Jawa Barat, Solihin GP Berpulang

Aku memiliki sedikit persinggungan dengan Dayak dan Kalimantan Barat. Adikku menikahi perempuan Dayak dan aku hadir dalam pernikahan mereka di Sintang. Kami melalui perjalanan darat untuk menuju lokasi yang saat itu ditempuh dalam waktu 13 jam (tahun 2007). Sanggau yang merupakan rumah tinggal Christian Mara termasuk kawasan yang kami lewati. Mungkin faktor itu sedikit memengaruhiku. Namun, lebih dari itu sosok masyarakat lokal yang terus memperjuangkan tradisi dan melestarikan budaya--menurutku--perlu mendapatkan apresiasi yang layak. Karena tak mengenalnya secara langsung, aku mencoba mencari referensi dari berbagai sumber. Barangkali ada kawan-kawan Dayak yang kebetulan singgah di blog ini, jika ada yang perlu dikoreksi, silakan koreksi, ya.


Christian Mara dan Hidup yang Tak Mudah

"Beliau asli Jangkang, Kalimantan Barat. Tapi karena karyanya tak cukup untuk hidup di Indonesia, nyeberang ke Sarawak dan diapresiasi besar di sana. Lalu, setelah kembali, membuka studio pembuatan instrumen Dayak dan wafat di Pontianak."

Demikian sedikit informasi yang dibagikan kawan Dayak @DjolaFix di X Rabu lalu. 

Christian Mara (sering pula ditulis Cristian Mara) lahir di Jangkang, Sanggau, Kalimantan Barat, pada 21 Juli 1964. Mara dibesarkan di tengah budaya yang menjadikan musik sebagai bagian dari tradisi. Permainan musik dapat disaksikan di berbagai perhelatan. Paling tidak dalam setiap upacara adat dan kematian musik ikut mengambil peran. 

Suatu kali Mara kecil menyaksikan orang bermain musik. Ada sesuatu yang tergerak di dasar hatinya. Ia pun ingin bermusik. Ia ingin bernyanyi. Ia mau berkesenian. 

Baca juga: 29 Februari dan NH Dini

Pulang ke rumah, Mara mengambil kayu yang tersedia. Saat itu adanya kayu pelai atau jelutung. Hanya dengan perangkat sekadarnya, parang, ia membentuknya menjadi alat musik. Berulang kali ia berhadapan dengan kegagalan hingga akhirnya terwujud sesuai dengan yang diharapkan. 

Dengan alat musik buatannya itulah Mara mulai belajar musik. Ada sejumlah kawan yang membersamainya dalam proses itu. Sayangnya pelajaran membuat sape dan belajar bermusik itu mesti terhenti karena Mara tak lagi punya teman yang bisa saling mendukung. Teman-temannya lulus dan melanjutkan ke sekolah lanjutan di ibu kota kecamatan. 

Orang tua Mara tak sanggung menyekolahkan anaknya ke SMP. Dengan sepenuh tekat, Mara mendatangi kepala sekolah SMP untuk meminta izin bersekolah. Untuk menemui pemimpin sekolah itu Mara harus menempuh perjalanan selama dua hari. Tidak ada kendaraan. Dia hanya berjalan kaki dan membawa serta oleh-oleh dari kampungnya berupa tiga gantang gabah dan seekor ayam jantan. 

Kepala sekolah memberikan izin untuk Mara menjadi siswa SMP yang berlokasi di ibu kota kecamatan itu. diterima menjadi murid SMP. Sayangnya Mara tak sanggup bertahan. Setelah bersekolah selama setengah tahun, Mara menyerah. Orang tuanya di kampung tak sanggup membiayai. Mara sendiri sudah berusaha bekerja agar menghasilkan uang karena ia ingin betul menjadi tentara. Pada malam hari ia bekerja sebagai pengangkut kayu. Upayanya tak membuahkan hasil yang signifikan. 

Gagal mengenyam bangku sekolah, mau tak mau akhirnya Mara pun nyemplung dalam kerasnya dunia kerja. Berawal dari sebagai buruh di pabrik kayu lapis di Malaysia, hingga terjebak dalam dunia mafia obat-obatan terlarang di Hongkong. Beruntunglah nasib masih berpihak padanya. Mara remaja berhasil lolos dari jeratan dunia hitam dan bisa kembali pulang ke kampung halaman. Ia sempat mencoba peruntungan melamar sebagai pegawai negeri di Pontianak dengan hanya berbekal ijzah SD. Dan ... ditolak!

Menyadari tak banyak yang bisa dilakukannya di kampung halaman, Mara menetap di Pontianak. Sejumlah pekerjaan Mara lakoni untuk menyambung hidup. Di antara masa-masa itu, jiwa senimannya terus bergejolak. Dia melanjutkan aktivitas bermusiknya, hingga akhirnya mendirikan sanggar pada 1986. Ia menamai sanggar itu Bengkawan, seperti nama gunung tertinggi di kampung halamannya. 

Bengkawan pun berkembang. Dari sanggar yang awalnya muncul dalam pentas-pentas seni menggunakan alat musik sewaan, hingga berhasil memproduksi alat musik sendiri. 

Baca juga: Mengenang Sahala Tua Saragih


Sape dan Upaya Christian Mara Menjaga Tradisi 

Sape dibuat dari kayu solid, dengan bentuk menyerupai perahu tanpa lekukan. Kayu yang digunakan biasanya dari pohon adau, marang, atau meranti, atau kayu lain yang keras, tapi ringan. Panjangnya bervariasi, bisa lebih dari satu meter. Sepanjang badannya dihiasi ukiran khas Dayak, biasanya motif yang dipakai adalah enggang atau naga. Gitar ala Dayak ini memiliki jumlah dawai antara 2 hingga 6. Versi yang dibuat belakangan dalam versi lebih modern bahkan menggunakan dawai lebih banyak. 

Secara tradisional, bahan dawai sape terbuat dari serat alam seperti rotan, ijuk, atau serat pohon enau/sagu, sedangkan pada sape modern bahannya telah beralih menggunakan kawat logam, kawat rem sepeda, nilon, atau senar gitar.

Alat musik inilah yang terus dikembangkan oleh Christian Mara. Bukan hal yang mudah untuk melestarikan sesuatu yang datang dari tradisi di tengah gempuran modernitas dengan aneka produknya yang serba instan. Padahal ada begitu banyak filosofi yang terkandung dalam proses musik tradisi ini, bukan semata hal teknis seperti pengenalan bahan, bentuk, pembuatannya, hingga cara memainkannya, tapi juga fungsi dan perannya dalam mempertahankan budaya. Namun, hal-hal itu bukan hambatan melainkan tantangan bagi Mara. Sanggar yang didirikannya tak surut dan mundur sejak didirikan pada pertengahan 80-an. 

Baca juga: Sugeng Tindak, Pak Jakob Oetama

Melalui sanggar yang dibangunnya Mara melatih anak-anak muda untuk menari dan bermain musik tradisi. Rumahnya--yang di kemudian hari dijadikan workshop--dipakainya dengan membuka sesi-sesi pelatihan untuk memproduksi alat musik khas Dayak tersebut. Bukan hanya sape, dalam perkembangannya Mara meningkatkan ketrampilan otodidaknya untuk mengajak kaum muda mengenal dan menjaga warisan leluhur dengan menciptakan alat musik lainnya seperti ketobong (kendang panjang), sobang (bedug), bansilabu (seruling dari tangkai labu), gong, kenong, hingga gambus melayu yang merupakan kolaborasi tradiri Dayak dan Melayu. 

Seni gerak juga tak luput dari perhatian Mara. Beberapa tarian karyanya cukup dikenal, seperti Tari Kendang Alu, Tari Enggang, dan Tari Tengkawang yang semuanya.

Christian Mara bukan hanya menjaga dan terus menghidupkan tradisi Dayak sebagai bagian dari tugas adat, tapi juga mengibarkannya ke panggung-panggung internasional. Mara berkali-kali tampil di panggung dunia, di antaranya ia membawa harmoni musik sape ini ke negeri kanguru, Australia. Pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Mara menerima penghargaan sebagai tokoh Pelestari dan Pengembang Budaya (2009).

Semoga semangat dan jiwa Christian Mara terus berkobar di hati generasi muda yang peduli dengan adat Nusantara yang kaya. 

Rest in peace, Christian Mara.

Baca juga: Selamat Jalan, Sean Connery

Semoga di kawasan lain juga banyak yang berjuang untuk berkarya dengan tradisi dan budaya lokalnya.

Sumatra Utara bagaimana? Aku belum pernah berjumpa dengan masyarakat adat. Paling pernah ngobrol sejenak dengan pengelola makam Raja Sudabutar. Itu lebih ke wisata budaya. Mbak Suci, travel blogger Medan mungkin punya catatan yang lebih lengkap soal ini. Termasuk catatan soal outdoor activity di kawasan Sumatra Utara.

Papermoon Puppet Theatre, Kelompok Teater Boneka Asal Yogya yang Mendunia

Pada akhir Juni lalu mendapati kabar pementasan Papermoon Puppet Theatre mendapatkan apresiasi luar biasa dari penonton di Jerman. Aku ikut senang. Senang yang sungguh-sungguh senang, karena ingatan akan pementasan mereka masih mengendap di kepala. Satu jejak yang indah, yang membuatku ingin kembali melihat pementasan mereka. Sayangnya belum kesampaian lagi setelah perkenalanku dengan kelompok teater boneka asal Yogyakarta pada Juli 2018. 

Tala dan Papa Puno (Ilustrasi: Papermoon Puppet Theatre)

Baca juga: The Most Precious of Cargoes, Kisah Muram Penyintas Holocaust

Sejumlah media nasional mengabarkan bahwa Papermoon Puppet Theatre menggelar pementasan pada 19 dan 20 Juni 2026 di Opernhaus Chemnitz, Jerman. Pementasan itu merupakan bagian dari festival Theater der Welt 2026 di Chemnitz. Dalam dua hari pementasan itu, Papermoon Puppet Theatre menampilkan karya berjudul Stream of Memory


Ria, Boneka Kertas, dan Lahirnya Papermoon Puppet Theatre

Sebelum mengisahkan pengalaman "spiritualku" bersama Papermoon Puppet Theater, mari berkenalan dulu dengan mereka. 

Papermoon Puppet Theatre ini merupakan kelompok teater boneka kontemporer yang didirikan di Yogyakarta pada 2 April 2006. Pendirinya, Maria Tri Sulistyani alumni Fakultas Komunikasi Universitas Gajah Mada. Meski menyukai dunia seni sedari bocah, kesukaan Ria--demikian ia akrab dipanggil--tak serta merta menemukan jalan mulus.

Ria tak mengambil latar akademis dunia seni karena tidak mendapatkan persetujuan dari orang tuanya. Ia baru bisa merintis mimpinya setelah lulus kuliah. Diawali dengan membangun sanggar anak yang dinamai Papermoon pada 2006. Ia dibantu oleh para relawan dengan minat dunia boneka dan anak. Sanggar yang baru menetas itu terpaksa vakum menyusul terjadinya gemba Yogya pada 2007. Para relawan pun bubar hingga yang tersisa ia dan Iwan yang kelak menjadi suaminya. Nama Papermoon Puppet Theater mereka sematkan ke sanggar yang Ria dan Iwan coba hidupkan kembali pada 2008. Sanggar ini mengalami perkembangan yang signifikan setelah mereka berdua mendapatkan beasiswa di Amerika dengan fokus pada teater. Dalam kurun waktu 6 bulan itu mereka berjumpa dan berdiskusi dengan banyak seniman teater boneka dan pegiat seni pertunjukan. 

Baca juga: The Odyseey, Terjemahan Nolan atas Karya Lama Homer

Sepulang ke tanah air mereka menggelar berbagai pementasan. Pertunjukan teater boneka kontemporer yang disajikan oleh Papermoon Puppet Theater ini mengandalkan kekuatan visual, gerak, musik, serta suasana panggung. Dialog verbal sangat dibatasi. Yang khas dari tema-tema yang digarap oleh Ria sebagai penulis kisah adalah hal-hal sederhana yang muncu dari keseharian. Dan lewat pertunjukkan yang puitis, penonton diajak untuk terlibat secara intim masuk ke dalam dunia boneka kertas itu. 

Tak cuma pertunjukan, Papermoon Puppet Theatre juga membuka workshop bagi para pembelajar dan mengadakan serta terlibat dalam festival teater boneka berskala internasional. Dapat dikatakan, kelompok teater ini lebih banyak berkiprah di luar negeri dibandingkan di tanah air. Mungkin karena para pencinta seni luar lebih menghargai karya mereka dibandingkan publik Indonesia. 

Jadi, sebetulnya tak terlalu mengejutkan juga jika pada akhir Juni lalu, penampilan Papermoon Puppet Theatre di Jerman mendapatkan apresiasi positif. Bahkan mereka mendapatkan standing ovation dari penonton yang hadir memenuhi ruang pertunjukan. Ratusan penonton yang berdiri dan memberikan tepuk tangan selama lebih dari 10 menit itu merupakan keistimewaan bagi para kru. Terlebih, di awal mereka mendapatkan pesan dari panitia setempat bahwa penonton Jerman bukanlah tipe yang suka menunjukkan apresiasi yang berlebih. 

Baca juga: Trilogi Siwa, Bukan Sekadar Novel Kepahlawanan


PUNO: Letters to the Sky

Ini adalah judul pementasan yang sempat kusaksikan pada Juli 2018 lalu. Sebuah agenda yang tak terencanakan sebelumnya tapi betul-betul menjadi kenangan yang cakep banget.

Pada Juli itu aku ada agenda pekerjaan ke Yogya. Ngobrol dengan kawan Semarang, Yemima Amanda, rupanya dia juga ada agenda ke Yogya di kisaran waktu kegiatanku selesai. Dan rupanya aku sudah dibelikan tiket pertunjukan Papermoon Puppet Theatre yang berlangsung di IFI-LIP Yogyakarta, 4 Juli 2018.

PUNO: Letters To The Sky ini berkisah tentang hubungan antara Tala dan ayahnya, Papa Puno. Ungkapan kasih sayang antara anak perempuan dan ayah yang merupakan satu-satunya keluarganya itu disajikan dengan gaya surealis. Ini sama sekali di luar bayanganku. Sebelumnya aku tak tahu menahu tentang kelompok ini, bahkan serba-serbi teater boneka pun aku nyaris nihil. Pengetahuanku sebatas wayang kulit atau wayang golek yang mata penonton dibawa ke medan datar yang sedikit sekali menampilkan sosok manusianya. Di pementasan ini bahkan sosok manusianya mendapatkan ruang, meski tak hadir seutuhnya. Ruang juga terbuka lebar sehingga set artistik tiap adegan bisa dengan mudah berpindah. Bahkan di titik yang sangat dekat dengan posisi duduk penonton. Mata penonton dibantu oleh gerak lampu sorot. 

Baca juga: Gundala, Harapan Baru Film Laga Indonesia

Tontonan baru yang unik buatku. Kita sadar bahwa boneka-boneka itu digerakkan oleh manusia yang sosoknya betul-betul hadir di panggung. Tapi kita dibuat abai, karena terpesona oleh musik, oleh pergerakan dari tiap karakter--boneka dengan pendar-pendar cahaya, perpindahan gelap dan terang, perpaduan musik dengan harmonisasi yang berubah-ubah menyesuaikan suasana, dan tentu saja dari kisahnya sendiri. Kisah yang sederhana dikemas dengan narasi yang dalam. Terasa bernas dan membuat penonton menghela napas. 

Kisah Tala dan Papa Puno ini mengajak penontonnya melakukan refleksi tentang peristiwa kehilangan. Siapa yang tidak pernah mengalaminya? Namun dengan kepiawaian tim Papermoon Puppet Theatre meracik semua komponen hingga jadi perpaduan yang demikian puitis sekaligus nyata. Aku tak mengingat persis detail adegan demi adegan. Namun, yang kuingat pasti, penampilan mereka membuatku menitikkan air mata. Mungkin aku tak sendiri. Aku yakin banyak penonton yang saat itu berada dalam nuansa kepiluan yang sama. Semuanya seolah lupa bahwa yang kami tonton itu sekadar boneka tak bernyawa. Saking begitu hidupnya mereka menampilkan dirinya.


Baca juga: Lelaki Harimau, Novel Kedua Eka Kurniawan

Sungguh, jika ada kesempatan, aku akan dengan senang hati untuk menghadiri pertunjukan mereka. Buat teman-teman yang belum pernah nonton, coba deh. Jika suka pertunjukkan teater, kujamin pasti suka. Kalau kebetulan sedang berlibur ke Yogya, bisa berkunjung ke studionya Papermoon di Desa Sembungan, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Sekalian jika perlu jalan-jalan, bisa cek travel di Jogja, atau buka blognya RianaDewie.com




Mengapa Kita Mengalami Pola Hidup yang Terus Berulang?

Apakah saat ini kamu baru menyadari jika sedang mengalami pola hidup yang berulang? Selamat! Jika kesadaran itu muncul, artinya kamu sedang dihadapkan pada kemungkinan menemukan solusi. Karena sebelumnya, selama ini, kamu menjalani pengulangan-pengulangan itu begitu saja, seolah tanpa kesadaran. Paling-paling sekadar celetukan, "Ih, kenapa, ya, gue terus-terusan ngalamin ini?" Alih-alih mencari tahu, yang terjadi malah mengabaikan. Ada yang lebih buruk: menyalahkan diri sendiri.  


Baca juga: Berkaca dari Kasus Tiara, Femisida dan Pencegahannya

Aku punya kawan, tiga kali menikah, tiga kali pula laki-lakinya bermasalah. Dan persoalannya mirip, nyaris sama. Tak perlu jauh-jauh, aku pun mengalaminya. Relasiku dengan lawan jenis nyaris selalu bermasalah. Aku juga punya kakak yang usahanya nyaris tak pernah berhasil, gagal di tengah jalan. Jadi, apa yang menyebabkan pola itu terus berulang?

Berikut aku coba paparkan dari dua sudut pandang. Disclaimer: ini bukan kebenaran yang harus diterima, karena pasti banyak sudut pandang yang lainnya. Kedua dua pandangan ini yang kututurkan di sini, karena aku mengalami keduanya. Aku pernah menjadi pasien psikiater, lalu pada masa yang lain hidup membawaku pada perjalanan spiritual.


Dari Tinjauan Psikologi dan Medis

Ada sejumlah hal yang menjadi penyebab terjadinya pengulangan pola hidup, dari beberapa sudut pandang.

Kalangan praktisi psikologi dan ahli kejiwaaan menyebutkan bahwa secara alamiah manusia mencari rasa aman melalui zona nyaman. Hal yang mudah dan efisien adalah menjalani kebiasaan otomatis, sehingga terjadilah habit looping, pengulangan-pengulangan kebiasaan. 

Ada bagian otak bernama Basal Ganglia yang punya peran merancang kebiasaan menjadi aktivitas yang otomatis. Ini dilakukan agar kita bisa menghemat energi dan tak melibatkan proses berpikir yang panjang. Contoh yang kudapatkan dari penjelasan dr, Ryu Hasan dalam sebuah podcast misalnya perihal berkendara. 

Saat kita memutuskan untuk berangkat dari rumah menuju tempat kerja menggunakan mobil, keputusan itu kita buat dengan pertimbangan logis. Tapi, setelah aktivitas kita saat mengambil kunci mobil, jalan ke garasi, menyalakan kunci kontak itu sudah mode autopilot. Begitu pula saat keluar rumah, kita ambil arah kiri-kana, memberi tanda sein, menyalakan klakson, dan seterusnya.

Demikian lebih kurang penjelasan pakar neurosains tersebut. 

Basal Ganglia inilah yang memegang kendali penuh saat sebuah kegiatan telah menjadi kebiasaan. Dengan begitu beban berpikir terkurangi karena korteks prefrontal atau bagian sadar otak bisa beristirahat. 

Mode autopilot ini adalah mekanisme otak untuk menghemat energi. Namun, di sisi lain, mode otomatis ini dapat membuat orang terjebak pada kebiasaan buruk yang sudah semestinya ditinggalkan agara dapat melanjutkan hidup dengan lebih baik. 

Baca juga: Tetap Bahagia dan Giat Berkarya saat Menjalani Hidup Sendiri

Penyebab lainnya adalah luka batin atau trauma. Peristiwa lalu yang menyisakan trauma juga dengan tanpa sadar menjebak kita pada habit looping. Misalnya saat orang memiliki trauma masa lalu, ada kecenderungan untuk mencari orang dan atau situasi yang sama. Di bawah sadar ada keinginan untuk "menyelesaikan" masalah yang telah jauh terlampaui tersebut. Terlebih jika berada dalam lingkup pergaulan dan lingkungan yang relatif sama, pengulangan pola hidup yang sama akan terus terjadi. 

Agar tidak terjadi pengulangan, diperlukan berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu terkait luka batin dan trauma. Jika tak mampu melakukan sendiri, sebaiknya berkonsultasi dengan ahlinya, dengan psikolog atau dengan psikiater jika sudah ada di fase membutuhkan pengobatan.

Baca juga: Berkenalan dengan Laku Spiritual melalui Buku Tantra


Dari Tinjauan Spiritualitas

Bagi para pejalan dan pendalam spiritualitas, cara pandangnya berbeda. 

Dari tinjauan spiritual, pola hidup yang berulang terjadi akibat jiwa yang masih membawa karma. Ada pelajaran hidup yang belum tuntas, dan hanya kesadaran untuk menerimanya sebagai upaya untuk memutus rantai karma dan menjalani hidup yang baru. Selain itu, cara menyikapi peristiwa dan kejadian yang sudah lewat juga menjadi faktor penting terjadinya pengulangan pola hidup.   

Perihal karma, setiap orang membawa karmanya masing-masing dari kehidupannya di masa silam. Bahwa jiwa hanya berpindah dari satu wadag ke wadag berikut yang sesuai dengan karakter awalnya. Dan kelahiran kembali itu disertai dengan karma. Karma yang dimaksud adalah konsekuensi dari perilaku kita. Dan konsekuensi itu akan mengikuti dalam setiap kelahiran baru. 

Baca juga: Doa, Meditasi, dan Vibrasi Energi

Apakah kamu sering mempertanyakan mengapa suatu hal bisa terjadi padamu, sedangkan kamu selalu berusaha melakukan sebaik-baiknya? Barangkali itu adalah konsekuensi dari perilakumu di masa lalu. Sesuatu yang tak bisa ditolak, hanya bisa diterima dan diputuskan rantainya secara sadar. 

Pada kesadaran di masa sekarang, kita dihadapkan pada cara kita menyikapi segala hal yang terjadi di luar diri kita. Misalnya perihal luka batin dan trauma. Emosi masa kecil yang terpendam secara bawah sadar dapat menarik peristiwa serupa untuk hadir di masa dewasa. Begitu pula dengan peristiwa tak menyenangkan yang tak direspons secara bijak, akan menjadi tumpukan emosi yang pada akhirnya akan menjadi pola yang berulang.

Hal lain yang--seperti halnya karma--barangkali tak cukup mudah diterima oleh akal adalah keterlibatan ikatan dengan leluhur, misalnya sumpah yang pernah diucap para leluhur. Beban energetik ini perlu disadari dan diputuskan secara sadar.

Baca juga: Kesadaran Spiritual, Hidup dalam Perspektif Baru

Apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki pola yang berulang ini?

Hal pertamanya tentu saja adalah menyadari apa-apa yang sedang terjadi. Pola apa saja yang terus berulang. Tanpa kesadaran itu, tak akan bisa mengambil langkah berikutnya.

Pada bagian karma dan ikatan leluhur, tak ada yang bisa kita lakukan untuk perbaikan atas apa yang sudah terjadi di masa lalu. Terima saja sebagai bagian dari perjalanan hidup dan melakukan yang terbaik di masa sekarang. Ada upaya yang bisa disarankan yakni "memutus rantai karma". Upaya ini bisa dilakukan sendiri jika mampu, atau meminta pertolongan ke orang yang mampu melakukannya. Untuk yang terakhir ini perlu ekstra hati-hati karena di masa sekarang banyak orang yang menjadikan spiritualitas sebagai "ladang" mengeruk uang. 

Sedangkan terkait dampak dari peristiwa di masa kini, baik trauma masa kecil maupun peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung, cukup dengan memunculkan kesadaran bahwa apa yang telah terjadi hanya perlu diterima sebagai bagian dari perjalanan. Memaafkan dan melepaskan segala emosi yang melingkupinya seperti marah, sedih, benci, dan lain-lain. Berdamai dengan masa lalu, plus mengubah cara dalam merespons segala stimulus yang datang dari luar. Stoik mengingatkan soal kendali diri. Apa-apa yang di luar kendali diri kita bukanlah bagian kita. Kita tak bisa mengubah orang lain; cara kita meresponsnya, itu yang lebih penting.  

Sekali lagi, seperti disclaimer di atas, catatan ini adalah dari pengalamanku dengan referensi yang juga berbaur di dalamnya. Teman-teman yang menghadapi persoalan yang sama mungkin akan menemukan cara penanganan yang lebih tepat. Jangan lupa untuk tetap dan terus melakukan aktivitas yang membuat diri gembira sekaligus bisa melepaskan bagian-bagian diri yang tak selaras. Menulis di blog ini juga salah satu upayaku, meski untuk urusan ilustrasi tak begitu pandai mengulik. Padahal konon ilustrasi canva mudah dilakukan. Oiya, bahasan soal mental health bisa coba baca-baca juga di Blogger Lolita.

Sehat-sehat semuanya, ya. Sehat, bahagia, selaras. Namaste.

Baca juga: Stoikisme dan Upaya Melakoni Hidup yang Lebih Baik

The Odyssey, Terjemahan Nolan atas Karya Lama Homer

Tuntas menyaksikan Odyssey, ada kegembiraan tersendiri buatku. Akhirnya berhasil nonton ke bioskop setelah sekian lama gagal karena berbagai hal. Kegembiraan yang lain adalah kepuasan mendapatkan hiburan sekaligus tontonan yang keren. "Aku merasa perlu untuk menonton ulang film ini," kataku kepada teman-teman nontonku hari itu. Sebagus itukah? Buatku, iya. Jika memungkinkan, aku akan menonton lagi film besutan Christopher Nolan ini.


Baca juga: The Most Prcius of Cargoes, Kisah Muram Penyintas Holocaust

Saat datang ajakan dari kawan-kawan untuk nonton Odyssey, aku langsung mengiyakan. Tanpa merasa perlu mencari tahu ini film tentang apa. Hanya lihat posternya dengan Matt Damon muncul sebagai sosok utama, sudah cukuplah buatku


Sinopsis

Film diawali dengan pemandangan pantai, tampak Odysseus (Matt Damon) tengah duduk berdua dengan perempuan--yang entah di menit keberapa namanya baru dimunculkan, itu un hanya sekali--bernama Calypso (Charlize Theron). Odysseus terlihat linglung, terbawa halusinasi akibat pengaruh bunga teratai yang diberikan Calypso. Halusinasi yang membawa ingatannya berkelana ke masa lalu. 

Salah satu ingatan yang muncul adalah aktivitas bersama di pinggir pantai. Dari sini alur cerita dibuat maju-mundur. Awalnya ini cukup membingungkan buatku. Sosok-sosok yang lekat dengan sang Raja Ithaka muncul dalam penampakan yang berbeda usia. Di beberapa scene-nya tampak sosok muda yang adalah anak Odysseus, Telemachus (Tom Holland). Beberapa poin di scene ini menjadi kunci jawaban dari pertanyaan Telemachus tentang ayahnya.

Satu tahun lamanya Odysseus memimpin pasukan dalam Perang Troya. Dengan menggunakan siasat Kuda Troya, ia memenangkan pertempuran. Namun, ternyata tantangannya bukan pada perang, melainkan pada perjalanan pulang. 

Baca juga: The Fighter, Film tentang Keluarga dan Pengorbanan

Petualangan seru dihadapi Odysseus dan awaknya saat berhadapan dengan aneka makhluk mitologi yang legendaris. Diawali dengan perjumpaan dengan Polyphemus, raksasa bermata satu putra Poseidon. Odysseus perlu mencari cara untuk dapat keluar dari gua tempat bernaung sang raksasa. Korban berjatuhan. Meski hanya memiliki satu mata, Polyphemus dapat menangkap satu per satu anak buah Odysseus dan mengunyahnya. Ketika anak buah tersisa berhasil keluar dari gua, dengan kegeramannya Odysseus memanah mata si raksasa. Polyphemus kemudian menyumpahinya akan dapat celaka. Sumpah dari anak Dewa Poseidon yang dianggap bertuah.

Perjumpaan berikutnya adalah dengan Laestrygonians, bangsa raksasa kanibal dengan penampilan yang cukup mengejutkan. Seolah kita dibawa ke abad 20 sekian. Ukuran tubuh besar, dilengkapi dengan baju besi, dan gerakan tubuh yang cepat dan cermat. Mereka dikenal buas dan pemakan manusia. Pasukan bertumbangan.

Dalam kondisi lelah dan kelaparan, mereka tiba di pulau yang dihuni penyihir. Tak tanggung-tanggung yang dilakukan sang penyihir perempuan itu adalah mengubah wujud anak buah Odysseus menjadi babi. Sang raja yang ditinggalkan oleh anak buahnya karena pertengkaran akhirnya justru bisa menolong mereka. Circe (Samantha Morton), sang penyihir melepaskan mereka kembali dalam bentuk semula dan memberi beberapa pesan kepada Odysseus, salah satunya adalah menemui orang-orang yang sudah mati.

Pertemuan itu makin menegaskan ramalan masa depan Odysseus yang disebutkan bakal kehilangan semua anak buahnya, akibat pertengkaran dan ketidakpatuhan pada peringatan.

Baca juga: Gundala, Harapan Baru Film Laga Indonesia

Tantangan pertama adalah saat berhadapan dengan Siren. Odysseus meminta anak buahnya untuk menyumpal kuping mereka dengan penutup. Sedangkan dirinya sendiri minta diikatkan di tiang untuk mengetahui dampak dari mendengarkan nyanyian Siren, makhluk berwujud perempuan dengan separuh badannya adalah burung. Nyanyian mereka dikenal memikat para pelaut dan menyesatkan mereka.

Terlepas dari Siren, mereka dihadang monster laut ganas berkepala enam. Makhluk ini tinggal di tebing sempit, setelah mereka berhasil membebaskan diri dari ancaman pusaran ganas. Jumlah anak buah Odyseus makin menyusut. Terakhir, badai dahsyat berhasil memorakporandakan kapal mereka. Itulah awal perjumpaan Odyseus berjumpa Calypso, nimfa abadi yang namanya hanya disebut sekali itu. 

Ah, ya, pada setiap menghadapi pergolakan batin, Odysseus selalu dikunjungi Dewi Athena (Zendaya)yang memberinya semangat dan saran. 


Baca juga: Honest Thief, Saat Aktor Gaek Asik Beraksi


Odyssey, Kisah Pergulatan Batin Sang Raja

Kisah Raja Ithaka yang disutradarai Christopher Nolan ini diadaptasi dari salah satu kisah paling tua di dunia, The Odyssey dari Homer. Menyimak film dari awal--meski sedikit terlambat--aku terpaku pada nuansa yang tertangkap mataku: Trilogi Batman besutan Nolan. Yup, ada vibes yang agak mirip.

Hal yang sangat mudah tertangkap mata adalah teknologi yang menampilkan gambar-gambar dramatis, adegan demi adegan yang terasa begitu nyata. Rupanya ada teknologi kamera yang baru dikembangkan oleh IMAX. Dan Nolan merekam seluruh kisah Odysseu ini dengan menggunakan kamera IMAX. Kamera edisi baru ini disebutkan memiliki fitur senyap sehingga dapat mengambil gambar jarak dekat untuk adengan-adegan emosional tanpa terganggu bising seperti yang dimunculkan kamera generasi sebelumnya. 

Petualangan seru dari Odysseus ini buatku sendiri memuaskan. Penuturannya dan sinematografinya. Meski sesungguhnya, inti dari kisah ini bukan semata cerita petualangan melainkan perihal pergulatan batin seorang pemimpin. Dalam kesuksesan sering kali pemimpin dihadapkan pada kepongahan yang membuat mereka tidak berhati-hati. Di sisi lain juga, segala macam pengalaman hidup itu pada akhirnya mengerucut pada kebutuhan yang sesungguhnya dalam hidup: kedamaian.

Mungkin yang sedikit mengganggu--ah, sebetulnya bukan mengganggu, sih--adalah sedikitnya sentuhan emosional. Bukan karena tak tergarap dengan baik, melainkan karena sebagai penonton jadinya lebih terfokuskan pada hal teknis yang memang keren. Sebetulnya banyak adegan yang menyentuh, dan semua pelakon memainkan perannya dengan sangat baik. Cuma ya, itu tadi, benaknya lebih terseret untuk takjub terhadap pergerakan adegan lewat gambar-gambar bergerak yang memang memukau.

Baca juga: The Swordsman, Adu Akting Joe Taslim dan Jang Hyuk

Odyssey mendapatkan tanggapan positif dari para kritikus film. Pasca penayangan perdana di Empire Leicester Square, London, pada 6 Juli 2026, berbagai komentar bermunculan dari Rotten Tomatoes, Variety, Screenrant, Looper, Deadline, dan lain-lain, yang hampir semuanya memberikan skor tinggi terhadap film ini. Yang tidak setuju? Tentu ada saja. Mengingat Odyssey adalah epos ribuan tahun lalu yang telah bersemayam di benak banyak pembacanya dengan berbagai imajinasi mereka.

Kamu belum nonton? Buruan nonton, gih, sebelum turun layar. 





Siaran Radio vs Live TikTok, Apa Bedanya?

 tes tes