Featured Slider

Hari Buku Nasional dan Upaya Kembali Membaca

Hari Buku baik skala nasional maupun internasional selalu jadi pengingat buatku, untuk kembali membaca. Rutinitas dan skala prioritas seringkali bikin kita kehilangan kesempatan untuk membaca buku. Membuat target baca, sudah. Jadwal baca, sudah. Aneka macam pengingat, sudah. Tapi, selain skala prioritas yang lantas menghabiskan lebih banyak waktu, juga godaan besar memakai waktu untuk memelototi gadget. Yang punya pengalaman sama, angkat tangan! 😀


Baca juga: Siapa Go Tik Swan di Google Doodle

Maka begitulah. Meski tak ikut membuat perayaan khusus, namun dengan adanya hari-hari yang dijadikan peringatan semacam ini, termasuk Hari Buku Nasional ini menjadi pengingat: yuk, baca buku lagi yuuuuk! Tak terhitung berapa ratus buku dalam tumpukan yang belum terbaca, bahkan bisa jadi belum tersentuh sama sekali. Ratus loh..bukan puluh lagi jumlahnya. Begitulah. Ibu meong sudah putus urat syaraf belanja, kecuali..buku :D Masih jadi book hoarder!

Bicara tentang hari buku, peringatan di Indonesia dimulai pada 17 Mei 2002. Pencanangan tersebut, tentu saja disertai harapan terjadinya peningkatan minat baca dan tulis masyarakat. Tahun ini menjadi peringatan ke-19. Di angka yang sudah terbilang cukup matang itu, bagaimana dengan minat baca masyarakat yang diharapkan?

Central Connecticut State University pernah merilis hasil survei minat baca di sejumlah negara, pada Maret 2016. Indonesia berada di posisi 60, hanya kedua dari posisi paling bawah. Artinya, minat baca di Indonesia masih sangat rendah. UNESCO bahkan menyebutkan minat baca Indonesia memprihatinkan. Perbandingannya, 1:1000. Seperti data yang dibagikan Tirto online, temuan lain yang lebih miris adalah yang dirilis Word Bank. Laporan World Bank pada  2018 menyatakan, sebanyak 55% persen penduduk Indonesia yang rutin membaca mengalami buta huruf fungsional. Apakah itu? Istilah tersebut mengacu pada pemahaman yang tidak memadai. Rutin membaca pun tak lantas berarti punya pemahaman atau pengetahuan baru. Ditambah lagi jika bacaannya adalah informasi di media online yang banyak menyajikan judul-judul clickbait. So, PR kita banyak yaaa..

Baca juga: Koprock, Bisnis Kopi Di Tengah Pandemi

Fakta lain yang menarik adalah, ternyata judul buku baru terus mengalami kenaikan pada tiap tahunnya. Meski angkanya masih jauh di bawah China yang mencapai 140.000 judul buku per tahun. Namun kalangan penggiat literasi melihat fakta tersebut sebagai sebuah perkembangan yang positif dan menjajikan. 

Kita bisa memulai dengan langkah kecil dari kita sendiri dan lingkungan terkecil kita. Setidaknya seperti yang kulakukan, membuat target baru dalam membaca buku. Dan mengingatkan diri sendiri, apa yang harus dilakukan agar konsisten.

1. Baca buku yang disuka

Yes! Ini akan sangat memudahkan, terutama yang sudah lama tak menyapa koleksi bukunya. Dengan ketertarikan terhadap tema yang ditawarkan, baik itu buku teks, fiksi-non fiksi, dan jenis buku lainnya, dapat membantu membangkinkan kembali minat membaca.

2. Baca buku yang dibutuhkan

Sedang menantang diri untuk meningkatkan skill dan pengetahuan terhadap sesuatu? Selain dari aneka pelatihan dan yang ditawarkan media online, buku tentu saja dapat menjadi sumber pembelajaran. Dengan catatan, buku yang memang berkualitas dan atau direkomendasikan.


Baca juga: Pola Hidup Sehat Cegah Diabetes dan Virus Corona


3. Tentukan waktu membaca secara rutin

Penentuan ini pada awalnya mungkin menjadi semacam pemaksaan. Misal wajib membaca 10 halaman di pagi hari dan 10 halaman di malam. Mungkin akan terasa berat di saat memulai. Tapi percayalah, hari-hari berikutnya akan terbiasa. Bahkan tak hanya 10 halaman, bisa meningkat hingga 50 halaman bahkan lebih. Setidaknya ini dari pengalaman pribadi. 

4. Tinggalkan gadget

Hwiiihhh memang kok yang namanya gadget dengan segala fiturnya itu godaan besar. Tontonan ini-itu, gam ini-itu, media sosial ini itu. Pada jam baca yang ditentukan, jauhkan gadget atau bahkan matikan terlebih dahulu. 


Yuk yuk.. mari kita teruskan kebiasaan baik membaca. Selamat Hari Buku Nasional!

Lebaran dan Madumangsa

Lebaran, momentum yang kehadirannya selalu dibarengi dengan kenangan masa kanak. Setidaknya dari pengalamanku sendiri. Pun yang kutemukan bertebaran di aneka jejaring sosial. Terlebih bagi mereka yang telah jauh meninggalkan masa kanak dan remaja, jauh pula secara geografis dari daerah tempat bertumbuh dan melewati saat-saat menyenangkan Idul Fitri bersama keluarga dan kawan sebaya. Aku pernah menuliskannya di sini, betapa selalu mengharu-biru kenangan masa kanak di masa Lebaran. Salah satu yang kutemukan hari ini di postingan seorang kawan adalah ‘madumangsa’ atau madumongso.. 


Baca juga: Jelang Lebaran dan Kenangan Akan Simbok Mutiah

Ada yang familiar dengan nama makanan ini? Wikipedia menyebut madumangsa sebagai makanan khas Ponorogo. Beberapa referensi lain menyebutkan penganan ini sudah dikenal sejak zaman Mataram kuno dan menjadi sajian para raja. Biasanya diolah khusus untuk perayaan-perayaan besar. Entah mana yang lebih tepat. Belum menemukan rujukan yang paling sahih. Yang jelas aku sudah mengenalnya sedari kecil, menjadi suguhan Lebaran dalam kemasan beragam. Sebagian besar dibungkus berbentuk oval atau bulat dengan kemasan luar kertas minyak atau kertas krep warna-warni. Ada pula yang dibungkus plastik bening dengan tali pengikat aneka warna.

Madumangsa terasosiasi dengan: tape ketan, jenang, legit. Meski menurut lidahku, madumangsa yang enak adalah yang tak terlalu legit, melainkan yang ada semburat asemnya. Sajian yang betul-betul istimewa. Tak semua rumah membuatnya dan biasanya memang hanya dibuat di saat Lebaran. Ibu, meski tak rutin, tapi sering membuat madumangsa ini untuk ikut merayakan Lebaran. Ya, madumangsa, salah satu penganan yang mewarnai kenangan masa kecilku tentang Lebaran. 

Aku ingat persis bahan madumangsa ala ibu, tapi tak hafal takarannya. Coba melirik resep ini di Cookpad, ada 88 post. Aku coba kutipkan gabungan dari beberapa resep yang kurasa mewakili dari orijinalitas (halah 😀) madumangsa ala ibu. 

Baca juga: Umbi dan Cerita Masa Kanak

Bahan:

500 gr ketan putih

500 gr ketan hitam

4 butir ragi

½ kg gula merah

500 ml santan kental

2 lbr daun pandan

Garam secukupnya

Cara membuat:

Tape

Rendam ketan selama lebih kurang 6 jam, cuci, kukus hingga matang. Dinginkan. Berikutnya taburkan ragi tape hingga merata. Tempatkan ketan beragi dalam sebuah wadah tertutup selama 3 hari.

Madumangsa

Setelah tape jadi, keluarkan airnya hingga terasa nyemek saja. Dalam wajan, didihkan santan bersama gula merah dan daun pandan hingga mengental. Masukkan tape. Masak dengan api kecil, aduk secara berkala, hingga menjadi campuran yang kalis. Proses pembuatan membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam. Setelah kalis, angkat dari perapian. Biarkan olahan madumangsa dingin sebelum dikemas sesuai keinginan.

Pinjam fotonya Mbak Ruur Rien (kawan FB di Blitar) yang lagi bikin madumangsa

Selain nuansa asem yang kentara, menurutku, madumangsa yang enak adalah yang tak terlalu lembek. Caranya tape tak dibiarkan terlalu matang atau jangan sampai berair banyak. Itu yang dulu dilakukan ibuku. 

Ibu menyiapkan pembuatan madumangsa sekitar seminggu sebelum Lebaran. Tapi tak tentu juga. Ada dua jenis jajanan yang biasanya dibuat sendiri, madumangsa dan krupuk jepit (opak gambir). Salah satunya dibuat pada sehari jelang Lebaran. Itulah yang sering menjadikanku nelangsa saat mendengarkan takbir jelang Lebaran. Nuansa tengah malam dengan aroma madumangsa atau krupuk jepit langsung menyeruak ke masa kini, membawa serta pahit, getir, senang, gembira, sedih, ceria, masa kanak. Mengingat kawan-kawan sepermainan yang sudah berpencar entah ke mana saja, bahkan ada yang sudah pergi mendahului. Pun orang tua yang juga sudah menghadap Sang Khalik. 

Baca juga: Sakit dan Dongeng Masa Kanak

Meski tak berlebaran, gema takbir malam Lebaran selalu memberi makna khusus buatku. Bagaimana denganmu, kawan?

Selamat merayakan Idul Fitri 1442 H. Selamat merayakan hari kemenangan, dan hari-hari baik yang akan terus kita jelang.

Siapa Go Tik Swan di Google Doodle Hari Ini?

Siapa tokoh di Google Doodle hari ini, memang menggelitik. Sesosok pria dengan pakaian adat Jawa lengkap dengan blangkonnya, tengah memegang selembar kain batik dengan corak utama burung. Ada khas wajah oriental biarpun samar. Dan ya, Go Tik Swan lahir sebagai sulung dari keluarga Tionghoa di Solo. Google memilih sosok ini untuk menghiasi halaman depan depan mesin pencari tersebut karena bertepatan dengan ulang tahun sang tokoh. 


Baca juga: Sosok Chrisye di Google Doodle

Go Tik Swan atau K.R.T. Hardjonagoro lahir pada 11 Mei 1931. Ia lahir dari keluarga terpandang dan berpengaruh pada masa itu. Ayahnya adalah cucu Lieutenant der Chinezen di Boyolali, dan ibunya cucu Lieutenant der Chinezen dari Surakarta. Karena kesibukan mereka, Tik Swan kecil diasuh kakeknya dari pihak ibu, Tjan Khay Sing, yang adalah seorang pengusaha batik di Solo. Mereka memiliki empat tempat pembatikan, dua di Kratonan, satu di Ngapenan, dan satu di Kestalan. Perusahaan besar, dengan karyawan tak kurang dari 1.000 orang. Tak heran jika Tik Swan telah akrab dengan dunia batik sedari kanak. 

Bukan hanya batik, Tik Swan juga akrab dengan budaya Jawa lainnya. Kakeknya bertetangga dengan Pangeran Hamidjojo, putra Paku Buwana X, seorang indolog lulusan Universitas Leiden. Sang pangeran dikenal sebagai penari Jawa klasik. Hal yang kemudian ditekuni Tik Swan di kemudian hari. Bahkan menempatkannya di posisi penting pemerintahan.  

Baca juga: Mengenal Kar Bosscha

Saat itu, 1955, Tik Swan menjadi mahasiswa Jurusan Sastra Jawa, Universitas Indonesia (UI). Pada hari peringatan Dies Natalis UI tersebut, ia menjadi salah satu penari yang dipilih untuk menari di depan Presiden Soekarno. Go Tik Swan membawakan tarian Jawa klasik, Gambir Anom. Penampilannya mempesona Pak Karno, yang lantas mengundangnya ke istana negara. Dua tahun kemudian, presiden memintanya menciptakan 'batik Indonesia'. Tentu saja bukan tanpa alasan. Karena Bung Karno tahu, Tik Swan berasal dari trah pengusaha batik. Mendapatkan kepercayaan tersebut, Tik Swan berusaha memberikan yang terbaik. Ia menggabungkan berbagai karakter dari batik-batik lokal seperti Solo, Yogya, dan batik pesisir. Pola batik langka yang sebelumnya hanya dikenal di wilayah keraton, coba digali dan dikembangkannya. Ia berhasil. Pola baru dari pengembangan pola-pola klasik dan yang sudah ada, tanpa kehilangan maknanya. Termasuk pemilihan warna, yang sebelumnya hanya di kisaran cokelat, biru, putih gading, di tangannya menjadi lebih bervariasi dengan warna-warna baru. 

Baca juga: NH Dini di Google Doodle

Go Tik Swan meninggal dunia pada 5 November 2008, di usia 77 tahun. Pada masa pemrintahan Bung Karno, ia pernah menjadi staf ahli kebudayaan. Dan selama hidupnya, Tik Swan telah mencipta sekitar 200 motif batik Indonesia. Sebagai apresiasi, pemerintah memberikan tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma.  


Facial di Holistik Estetika, ‘Me Time’ Menyenangkan di Tengah Pandemi

Hari-hari ini media dan lini masa media sosial masih terus dipenuhi dengan angka-angka. Angka kasus, angka kematian, angka wilayah yang terdeteksi pandemi. Sungguh, pandemi ini menampilkan wajah muram. Muram, kusut, desperade, gloomy. Namun, tetap, adalah menjadi pilihan kita dalam mempersepsi sebuah kondisi. Termasuk pandemi ini. Apakah kita menyerah dengan keadaan, menarik diri dan takhluk pada ketakutan-ketakutan terkait kondisi sekitar? Ataukah kita memilih untuk tetap menjalani segala aktivitas dengan bahagia? Kalau saya, tentu saja pilih yang kedua. Nah, salah satu upaya untuk tetap waras di masa pandemi ini adalah mengagendakan ‘me time’ secara berkala. Setidaknya saya punya satu grup terbatas yang melakukan perjumpaan berkala, sekadar ngopi-ngopi dan chit-chat. Keluar sejenak dari pergumulan hidup yang cukup melelahkan di masa pandemi ini. Kesempatan ‘me time’ yang lain datang bulan lalu: melakukan perawatan wajah! Yippieeeeee.. Mendapatkan rekomendasi melakukan facial di Holistik Estetika.


Baca juga: Pola Hidup Sehat Cegah Diabetes dan Hindari Virus Corona

Di masa pandemi ini, banyak orang yang menunda perawatan tubuh dan wajah. Dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Ada yang demi menjaga jarak sosial, ada pula dengan alasan ekonomi. Seperti kita tahu, nyaris semua orang terkena imbas pandemi terkait finansial. Dari skala kecil hingga besar. “Daripada untuk urusan cantik-cantik lebih baik untuk kebutuhan dapur biar tetap ngebul.” Demikian barangkali pemikiran sebagian di antara kita. Setidaknya pemikiran saya sebagai ibu meong, orang tua tunggal dari puluhan anak meong 😻. “Kayanya kesejahteraan meong lebih penting deh daripada urusan perawatan tubuh!” Lebih kurang begitu. Namun, tubuh pun punya hak. Untuk istitrahat, untuk ambil jeda, untuk dimanjakan. Bukankah kita sudah membebani tubuh, dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan aneka kesibukan? Terlebih di masa pandemi ini, ketika sang tubuh saat bekerja harus berhadapan dengan potensi terjadinya penularan. Kalau pikiran tidak dibuat nyaman dan bahagia, urusan pekerjaan dan tanggung jawab yang lain akan terhambat. Itulah perlunya ‘badami’ kalau kata orang sunda. Badami atau berdamai dengan memasukkan ‘me time’ sebagai komponen yang wajib ada. Terlebih saat kita menghitung biaya, sebetulnya worth it untuk hasil yang kita peroleh. Itu yang akhirnya saya garis bawahi setelah melakukan perawatan facial di Holistik Estetika. Memang seperti apa sih? Baiklah saya ceritakan. 

Klinik Holistik Estetika


Baca juga: Persiapan Memiliki Rumah Sendiri

Tak sulit menemukan lokasi klinik ini. Komplek Mekar Wangi adalah kawasan yang rapi, dengan penamaan jalan dan nomor yang tertib. Lokasinya ada di hook. Tak terlalu besar, sederhana, namun asri dan manis. Begitu memasuki area dalam, langsung disambut oleh petugas yang mencatat identitas dan tujuan kedatangan kita. Terdapat dua lantai. Di lantai bawah ruang operasi dan konsultasi dokter. Di antara ruang operasi dan personalia desk, tersedia meja dan kursi panjang terbuat dari kayu solid yang bagi penggemar kayu pasti akan dibikin kesengsem. Di sebelahnya, arena permainan anak. Sedangkan di luar, ajang bersantai beratap langit. Tampaknya desain ini dimaksudkan agar yang sedang antri atau para penunggu bisa bersantai dalam suasana yang tak membosankan.

Di lantai dua terdapat beberapa ruang, namun tak semuanya beroperasi terkait pandemi. Seperti salon dan sauna. Nah, ruang yang saya tuju adalah ruang untuk perawatan wajah. Termasuk yang menjadi pilihan saya hari itu, facial.

Mengapa pilihannya facial

Selama ini saya memang tak mau terlalu ribet dengan urusan perawatan tubuh dan wajah. Maka, facial menjadi pilihan yang paling masuk akal buat saya. Karena secara alami, sel kulit melakukan regenerasi pada kurun 28-30 hari. Sel kulit akan tumbuh dan mendorong kulit yang lama ke permukaan. Saat terjadi penumpukan dan diabaikan, akan muncul aneka masalah pada kulit seperti komedo, jerawat, kulit mengusam seperti saya hiks.. Terlebih si saya tidak rajin membersihkan wajah pasca beraktivitas. Jadi, saya memang sangat membutuhkan facial untuk membersihkan sel kulit mati yang numpuk, dan oleh ahlinya. 

Holistik Regular Facial

Dalam ruang perawatan, saya disambut oleh Teh Neng yang sedang on duty lengkap dengan perangkat perangnya 😂 



Facial di Holistik Estetika diawali dengan pemberian aromaterapi yang hmmmm…aromanya sungguh membius, menenangkan. Serius! Sedari pemberian aromaterapi, saya sudah tahu kalau saya akan menikmati betul ‘perjalanan’ di hari itu. Perjalanan yang dimaksud adalah setengah terlelap. Seperti saat menikmati meditasi. Teh Neng terus melakukan tugasnya. Mulai dari totok wajah, membersihan kulit di area wajah dan leher, massage, lalu  ekstraksi/pengambilan komedo yang bikin berasa tersengat dan terjaga. Lantas terlelap kembali saat pelapisan wajah dengan masker, penguapan, hingga pemberian serum, krim pelembab, dan sunscreen. Saya menikmati betul. So relax. Terlebih sebagai terapis, Teh Neng melakukan tugasnya dengan sangat baik. 

Meski tak rutin dan tak terlalu sering, saya sudah mencoba beberapa klinik dan salon yang menyediakan layanan facial. Dan Teh Neng adalah salah satu yang terbaik. Bukan semata pengalaman kerjanya yang sudah lebih dari lima tahun yang menjadikannya terampil dan menguasai betul yang menjadi tugasnya, namun saya rasa Teh Neng memang menyukai pekerjaannya. Itu dapat terasa dari treatment-nya kepada pasien. Saya tak sempat tanya jumlah terapis di Holistik Estetika, tapi saya kok yakin kalau Teh Neng cukup mewakili standar dari klinik ini.


Ah ya, kenyamanan facial di Holistik Estetika, selain terapis yang mumpuni, juga perangkat yang disiapkan dengan baik. Perangkat yang memang memadai dengan standar sterilisasi sebelum dilakukan perawatan. Pasien tak perlu merasa khawatir akan kebersihan aneka peralatan tersebut. 

Baca juga: Menyikapi Kritik dan Penilaian Negatif

Layanan lain di Holistik Estetika

Selagi menunggu persiapan terapis, saya sempat berbincang dengan tim humas klinik. Apa yang saya duga di awal cerita, ternyata tak tepat betul. Masa pandemi ini memang terjadi penurunan jumlah kunjungan, namun ternyata tak terlalu signifikan. Barangkali karena klinik yang sudah berusia 16 tahun ini ketat memberlakukan protokol kesehatan. Standar sterilisasi peralatan pun prima. Dan standar tersebut berlaku untuk semua klinik. Saat ini Holistik Estetika sudah memiliki 3 cabang yaitu di Mekar Wangi, Kopo Permai, dan Cimahi. 

Hal menarik lain, Holistik Estetika konsisten mengikuti perkembangan dunia perawatan kecantikan dengan menghadirkan treatment-treatment baru yang sedang nge-hits serta mesin perawatan terkini dan up-to-date. Tak perlu jauh-jauh melakukan perawatan ke Jakarta, apalagi ke Kuala Lumpur atau Singapura, banyak treatment terbaru yang disediakan di Holistik Estetika.  Treatment mana yang paling tepat, bisa dikonsultasikan terlebih dahulu. Sekadar konsultasi dengan dokter di Holistik Estetika tidak dipungut biaya alias gratis. Sedangkan untuk pasien baru dikenakan biaya administrasi sebesar Rp50.000 pada kedatangan pertama. Selebihnya, tarif layanan dapat dikatakan bersaing. Detailnya bisa cek-cek di website Holistik Estetika.

Layanan yang saya ambil, Holistik Regular Facial, biayanya Rp200.000. Apakah worth it? Sangat-sangat! Dan saya sudah mengagendakan untuk kembali menikmati facial ala Holistik Estetik di akhir bulan ini.

Mau ikut coba? Check it out! Cari lokasi terdekat rumah Anda.

Kopo Permai

Jl. Kopo PermaiI, Blok A No. 7, Bandung

Phone: (022) 5401307

WA: 0877-8811-1115

Jam buka, Senin - Sabtu: 09.00 - 17.00 WIB


Mekar Wangi

Jl. Mekar Sejahtera No. 21, Bandung

Phone: (022) 5229797

WA: 0877-9911-1115

Jam buka, Senin - Sabtu: 09.00 - 20.00 WIB


Cimahi

Jl. Jend. H. Amir Machmud No. 499C, Cibabat, Cimahi

(Sebelah EF, Seberang Rabbani)

Phone : (022) 6651110

WA : 0815-7213-6386

Jam buka, Senin - Sabtu: 09.00 - 20.00 WIB


Untuk daftar perawatan, bisa dilihat di:

IG: @holistikestetika

FB: Holistik Estetika

www.holistikestetika.com


Ada yang terlupa.. Ada promo menarik selama bulan Ramadan! Selamat cantik-cantik yaaa.. 😍



KOPROCK, Berbisnis Kopi di Tengah Pandemi

Pada akhirnya, hari-hari ini kita semua belajar berdamai dengan pandemi. Sejak World Health Organization (WHO) mengumumkan penyakit akibat virus corona (COVID-19) sebagai wabah pada Januari 2020 dan pandemi pada Maret sebulan berikutnya, masyarakat dunia menghadapinya dengan berbagai sikap. Kebijakan masing-masing negara pun terus menyesuaikan perkembangan. Sementara dampaknya di tengah masyarakat juga berkelanjutan. Bukan hanya yang menjadi korban meninggal dunia, namun juga yang terdampak secara finansial. Tak terhitung lagi jumlah perusahaan yang tumbang, dari skala global hingga lokal. Yang uniknya, bisnis kuliner terutama skala menengah ke bawah malah terbilang stabil. Kalau begitu, amankah berbisnis kopi di masa pandemi?

Bicara tentang kuliner, bagaimana pun, kita membutuhkan asupan makanan setiap hari. Omzet bisa jadi mengalami penurunan. Namun penjualan terus mengalir. Begitu pun dengan bisnis kopi. Memang siapa sih yang berhenti ngopi di masa pandemi? Mungkin ada, tapi sepertinya kok tak signifikan secara angka ya. Faktanya, kebijakan pemerintah terkait pembatasan sosial juga tak menyurutkan minat belanja, karena kemudahan yang ditawarkan kurir online. Tak heran jika kemudian para pakar finansial menyebutkan, bisnis food and beverage dapat dijadikan pilihan untuk bernisnis di masa pandemi ini. Setidaknya sampingan bagi yang ingin memulai bisnis. Inilah yang menjadi salah satu pertimbangan hadirnya brand kopi KOPROCK.


Berkenalan dengan KOPROCK

Digagas pada akhir tahun lalu, Koprock hadir untuk memberikan alternatif bisnis di masa pandemi. Karena ngopi sudah menjadi kebiasaan, tradisi, dan tren pada akhir-akhir ini. Gerai kopi telah menjamur sejak sebelum pandemi. Banyak memang yang bertumbangan, baik terimbas pandemi maupun oleh penyebab lain. KOPROCK menawarkan kepada para mitra untuk bersama-sama membangun bisnis, saling mendukung dan membesarkan usaha.

KOPROCK adalah brand kopi yang digagas dua eks personil band Seurieus, Candil dan Dinar. Dua nama yang tentu saja tak asing bagi penikmat musik rock tanah air, terlebih yang pernah melewatkan dekade 90-an di Bandung. “Rocker juga manusia, punya rasa punya hati…jangan samakan dengan pisau belatiiiii…” Nah, ikut nyanyi kaaan…😀

Candil yang memiliki nama lahir Dian Dipa Chandra dikenal dengan lengkingan suaranya yang tinggi, style yang unik dengan rambut ikal panjang lengkap dengan bandana dan kacamata yang bertengger di dahi. Pembawaannya yang santai sekaligus kocak, tampak kontras dengan rekannya, Dinar Hidayat. Gitaris Seurieus ini tampil lebih kalem. Namun perbedaan keduanya tersinergi menjadi satu hal menarik saat sama-sama menggarap KOPROCK.

Baca juga: Mengenal Vincent Van Gogh Lewat Novel Lush for Life


KOPROCK dengan Varian Brownstone dan Blackmore

Candil bukan pengopi kental. Ia menyukai kopi yang relatif ringan. Hal ini terwakilkan ke varian KOPROCK, Brownstone, es kopi susu gula aren yang tidak terlalu berat, dan cocok diminum kapan pun. Sebaliknya, Dinar memang penyuka kopi. Varian yang mewakili Dinar adalah Blackmore. Varian ini merupakan campuran kopi tubruk dan gula aren. Masing-masing menggunakan kopi arabika. Sedangkan proses peracikan memakai perangkat modern, aeropress yang memunculkan rasa kopi yang berbeda

Bicara soal KOPROCK, tak semata bicara produk kopi. Karena semangatnya adalah memberikan andil dalam meningkatkan perekonomian di tanah air, di tengah krisis akibat pandemi. Diambil dari dua kata, ‘Kopi dan Rock’, racikan kopi yang digunakan memang ditujukan untuk masyarakat umum. Arabika 100% tapi dengan harga terjangkau. KOPROCK dapat dinikmati penyuka kopi dengan kocek terbatas, tapi ingin mendapatkan kopi dengan kualitas prima. 

Candil berharap KOPROCK dapat memberikan sumbangsih bagi warga Bandung, untuk keluar dari keterpurukan finansial di masa pandemi ini. “Kita semua ini kan terdampak pandemi. Kami menyodorkan KOPROCK ini sebagai solusi. Di sisi lain, kebutuhan untuk menikmati kopi enak tetap terpenuhi. Bagaimana orang bisa ngopi enak dengan harga yang terjangkau.” Satu cup KOPROCK, baik Brownstone maupun Blackmore dihargai Rp10.000 saja.


Baca juga: Kopilatory, Cafe Dengan Nuansa Laboratorium


KOPROCK dan Kopi Jawa Barat

Penggunaan kopi arabika Jawa Barat sebagai bahan utama bukan tanpa pertimbangan. Sebagai orang yang lahir dan tumbuh di Bandung, baik Candil maupun Dinar ingin terlibat dalam ikut memasyarakatkan kopi Jawa Barat. Begitu pun dengan pemilihan campuran kopi, gula aren, yang mengambil langsung dari petani Jawa Barat. Itulah yang menjadikan harga KOPROCK masih terjangkau meski menggunakan bahan prima. 

Secara bisnis, Koprock menerapkan konsep kemitraan, bukan waralaba yang ketat seperti bisnis kopi lain yang tengah marak di tanah air. Dalam hal ini tak ada royalty fee yang harus dibayarkan. Baik Candil maupun Dinar bercita-cita membangun usaha yang mampu membangkitkan perekonomian masyarakat Indonesia, terutama kalangan ekonomi menengah ke bawah. 

“Semoga yang kami mulai ini bisa memberikan andil bagi bergeraknya perekonomian di tanah air,” harap Dinar.

Baca juga: Film Mafia Yang Perlu Ditonton Sambil Ngopi


KOPROCK di Ciporeat, Bandung

Nah, KOPROCK pada Minggu kemarin (14 Februari 2021) meluncurkan gerai gerobak perdananya di Bandung. Penyerahan gerobak kepada mitra ini menandai beroperasinya KOPROCK di tengah warga Bandung. 


Gerobak pertama KOPROCK di Bandung adalah kerjasama kemitraan dengan keluarga Wahyu di Jl. Ciporeat, Ujungberung. Pasca mengundurkan diri dari pekerjaan sebelumnya, Wahyu memilih untuk berwirausaha. Ia membangun bisnis kosmetik  bersama istrinya. Kini ia melengkapi bisnisnya dengan kedai kopi. Wahyu mengaku belum punya target khusus terkait bisnis barunya ini. Namun ia meyakini setiap upaya untuk kebaikan akan mendatangkan berkah. 

Ada yang mau menyusul Kang Wahyu membuka kedai kopi KOPROCK? Sila DM ke akun media sosial IG, FB, Twitter @koprockofficial.  Atau boleh hubungi Ibu Meong dulu via wa: 08515-781-9338. 


Terimakasih sudah berkunjung ke blog Ibu Meong 😻