Sebagai orang radio, nama Radio Malabar sudah kudengar jauh-jauh hari. Bahkan sebelum nyemplung ke radio siaran, ada bagian yang sempat disebutkan dalam materi perkuliahan. Bahwa Radio Malabar merupakan salah satu bagian penting dalam perkembangan radio di Indonesia dan khususnya di wilayah Jawa Barat. Sekian puluh tahun di Bandung, akhirnya aku bisa melihat dari dekat jejak stasiun yang terletak di Kawasan Gunung Puntang, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat ini pada Desember 2024. Dan baru sadar bahwa aku belum pernah menuliskannya.
Baca juga: Melihat Sesar Lembang dari Dekat, Usia Bukan Halangan
Perjalanan ke kaki Gunung Puntang akhir tahun 2024 lalu itu menyenangkan. Namun, kadang rencana-rencana--bahkan yang telah tersusun rapi pun--meleset. Termasuk smartphone yang mengalami masalah dan menghilangkan sebagian besar simpanan foto. Maka demikianlah, momentum itu berlalu begitu saja. Kucoba memanggil ulang ingatan dan menuliskannya lagi buatmu.
Dalam Catatan Sejarah
Yang disebut jejak sebetulnya tak mewakili sosok gedung yang pernah berjaya tersebut. Yang tertinggal hanyalah sisa-sisa bangunan, gedung-gedung itu telah hancur. Beberapa bagian dari komplek stasiun radio ini masih bertahan, seperti kolam yang terletak di depan stasiun.
Baiklah, mari kita coba kembali ke abad 20. Membayangkan sebuah komplek pekerjaan dan yang berdiri di kaki Gunung Puntang. Sejauh mata memandang kita disuguhi alam nan hijau diselingin gemericik air, desau angin, kicau burung, dan suara binatang hutan di kejauhan.
Saat itu pemerintah Hindia Belanda membutuhkan sarana untuk menjalin komunikasi nirkabel antara Hindia Belanda dan Belanda. Media yang dibutuhkan adalah perangkat gelombang radio jarak jauh. Maka direncanakanlah mendirikan Stasiun Radio Malabar ini. Proses pembangunan dimulai pada 1916 dan mulai digunakan setelah diresmikan pada 5 Mei 1923 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Dirk Fock.
Perancang stasiun ini adalah Dr. Ir. Cornelis Johannes de Groot yang sekaligus juga ditunjuk sebagai direktur pertama. De Groot banyak melakukan eksprerimen sebagai upaya memperlancar kinerja pemancar. Kelak, karena peran pentingnya memulai teknologi radio di tanah Pasundan, nama de Groot diabadikan menjadi salah satu nama jalan di Bandung, Grootweg. Tahu, lokasinya di mana? Babakan Siliwangi, jalan pendek yang menghubungkan Juanda dan Ciumbuleuit.
Baca juga: Kamu Tim Mana, Perjalanan yang Dengan atau Tanpa Rencana?
Untuk teknologi, Stasiun Radio Malabar menggunakan pemancar VLF (Very Low Frequency) dengan daya mencapai 2.400 kW. Pada masanya kapasitas ini menempatkan Radio Malabar sebagai salah satu stasiun radio paling kuat. Sejumlah antena ditanam di jalur antara Gunung Puntang dan Gunung Halimun, berjarak sekitar 2 kilometer. Ketinggian antene rata-rata 350 meter dari dasar lembah.
Kawasan Stasiun Radio Malabar ini kemudian dikenal sebagai Kompleks Radiodorf atau Kampung Radio. Ada 3 bangunan utama berdiri area ini. Bangunan utama adalah gedung pemancar; dibangun dengan gaya arsitektur Eropa. Mesin pemancar Poulsen Arc berkekuatan besar yang merupakan inti dari operasional teknis radio ada dalam bangunan ini. Bangunan lainnya berfungsi sebagai kantor administrasi dan operasi yang menjadi pusat pengaturan komunikasi dan telegrafi radio jarak jauh. Terakhir, pembangkit Listrik (PLTA & PLTU) yang berdiri secara terpisah sebagai penyuplai daya listrik mesin pemancar.
| foto koleksi "BadaiSenja" di FB |
Di luar bangunan utama, stasiun radio ini juga menyediakan rumah hunian bagi para karyawan. Rumah dinas diberikan kepada para insinyur, teknisi, dan pegawai. Sebagai sarana relaksasi dan olah raga dibuatkan kolam cinta. Dinamai demikian karena bentuknya memang menyerupai heart (jantung). Disediakan pula lapangan tenis bagi yang gemar berolah raga. Sedangkan untuk sarana hiburan, disediakan bioskop. Jadi, meski lokasinya di bawah gunung, para penghuninya dapat bekerja sekaligus hidup dengan nyaman.
Setelah kalah dalam berbagai pertempuran, pasukan Belanda tak mampu mempertahankan kekuasaannya di Hinda Belanda. Melalui perjanjian yang dilakukan pada Maret 1942, Belanda pun hengkang. Sebelum Jepang tiba dan kemungkinan menguasai stasiun radio, para pegawai merusak sebagian peralatan penting siaran. Berikutnya, kerusakan total terjadi pada 1946. Demi menghindari penguasaan stasiun radio oleh Belanda yang ingin kembali menguasai tanah air, para pemuda Bandung Selatan menghancurkan stasiun ini seluruhnya. Penghancuran kawasan ini menjadi rangkaian peristiwa Bandung Lautan Api, persisnya pada 24 Maret 1946.
Baca juga: Bertandang ke Gunung Padang
Stasiun Radio Malabar di Masa Kini
Stasiun Radio Malabar sudah tinggal cerita. Dikisahkan oleh para pemandu wisata, oleh orang-orang tua yang bisa jadi tahu ceritanya juga dari penutur lain. Namun, tak soal juga. Meski tak semua detail cerita tersebut presisi ketepatannya, tapi tetap layak sebagai pengingat. Kalaupun tidak, anggap saja sebagai bagian dari kenangan masa lalu. Karena cerita yang samar-samar itu tak menutup keindahan alam di sekitar komplek stasiun yang tinggal reruntuhannya ini.
Jadi, jejak Stasiun Radio Malabar ini tetap dapat dijadikan tujuan wisata; wisata sejarah sekaligus wisata alam. Untuk sampai ke kawasan situs bersejarah Stasiun Radio Malabar ini tak terlalu sulit. Berlokasi di area Wana Wisata Gunung Puntang, Pasirmulya, Kecamatan Banjaran/Cimaung, Kabupaten Bandung, ada dua alternatif untuk bisa sampai ke tempat tujuan.
Menggunakan Kendaraan Pribadi
Patokannya adalah Banjaran atau Cimaung. Dari kawasan mana pun, misalnya Bandung Utara, area Kota Bandung, atau wilayah Bandung Raya lain seperti Kabupaten Bandung dan Cimahi, cari angkutan umum untuk menuju kawasan Bandung Selatan ini.
Jika melewati tol, ada beberapa alternatif. Bisa menggunakan Tol Soreang-Pasir Koja (Soroja), keluar gerbang Soreang, lalu gunakan jalur jalan raya Gading Tutuka menuju Banjaran. Bisa juga keluar gerbang tol Mohamad Toha atau Buah Batu, dari lanjutkan perjalanan ke arah Banjaran.
Setelah berada di area Banjaran, cari pertigaan Cimaung dan lanjutkan perjalanan menuju Gunung Puntang.
Menggunakan Transportasi Umum
Angkutan umum ke Banjaran ada beberapa pilihan. Tujuannya Terminal Banjaran. Untuk mendapatkan angkutan umum, bisa cari angkitan ini di kawasan Tegalega. Jika titik berangkatnya area lain, bukan dari Kota Bandung, bisa cari angkutan apa pun hingga ketemu angkutan umum ke arah Banjaran.
Dari Terminal Banjaran, perjalanan bisa dilanjutkan dengan menggunakan ojek konvensional atau transportasi daring. Sejauh ini belum ada angkutan umum massal yang melayani langsung menuju area Gunung Puntang.
Baca juga perjalanan ke Baduy:
Bagi yang belum cukup familier dengan kawasan ini, petunjuk arah terpampang cukup jelas di sejumlah titik. Bagi pengguna kendaraan pribadi yang belum hafal medan, hati-hati karena mendekati area gunung, jalanan menyempit, menanjak, dan banyak kelokan. Jangan khawatir, kualitas jalan sudah bagus. Rata beraspal. Ikuti jalan utama hingga tiba di area parkir. Sebelum tiba di tempat parkir, kita perlu membayar tiket di loket gerbang masuk. Tiket area wisata Gunung Puntang hingga Desember 2024 sebesar Rp15.000. Semoga tak terlalu banyak berubah.
Dari area parkir kita tinggal berjalan kaki menuju titik tujuan. Jaraknya kisaran 3 km. Percayalah, tak akan terasa melelahkan melakukan jalan kaki di area dengan pemandangan hijau segar dan udara yang bersih menyejukkan.
Yang sedang membutuhkan healing tipis-tipis dengan berwisata alam bisa jadikan Stasiun Radio Malabar ini sebagai pilihan. Harga terjangkau, jarak pun relatif dekat. Lama perjalanan jika dihitung dari area tengah kota Bandung ada di kisaran 1,5 jam, tergantung kendaraan yang digunakan dan tingkat kemacetan. Bagi para travel blogger bisa jadi bahan tulisan yang menarik.
Baca juga: Jelajah Taman Buru Masigit-Kareumbi
Jika belum cukup tahu informasi terkait situs bersejarah ini, semoga tulisan pendek ini cukup membantu. Sehingga tak kaget begitu tiba di lokasi yang memang hanya menampakkan reruntuhan. Baiknya bersiap untuk bawa baju ganti, siapa tahu tertarik bermain air. Ada sungai kecil di bagian belakang situs yang airnya adem. Sayang kalau tidak nyemplung. Waktu terbaik datang ke lokasi adalah saat udara sedang cerah, cukup dengan kabut tipis saja biar masih bisa menikmat pemandangan pegunungan nun di belakang area sebagai latar. Pulang dari sini, jika dari luar kota bisa singgah dulu ke Kota Bandung untuk wisata kuliner atau sekadar belanja oleh-oleh.
Selamat menikmati liburan di tanah Parahyangan. Namaste.
![]() |
| cuma satu foto diri yang berhasil diselamatkan, nampang di depan mobil yang entah punya siapa, hehe. |







