Apakah saat ini kamu baru menyadari jika sedang mengalami pola hidup yang berulang? Selamat! Jika kesadaran itu muncul, artinya kamu sedang dihadapkan pada kemungkinan menemukan solusi. Karena sebelumnya, selama ini, kamu menjalani pengulangan-pengulangan itu begitu saja, seolah tanpa kesadaran. Paling-paling sekadar celetukan, "Ih, kenapa, ya, gue terus-terusan ngalamin ini?" Alih-alih mencari tahu, yang terjadi malah mengabaikan. Ada yang lebih buruk: menyalahkan diri sendiri.
Baca juga: Berkaca dari Kasus Tiara, Femisida dan Pencegahannya
Aku punya kawan, tiga kali menikah, tiga kali pula laki-lakinya bermasalah. Dan persoalannya mirip, nyaris sama. Tak perlu jauh-jauh, aku pun mengalaminya. Relasiku dengan lawan jenis nyaris selalu bermasalah. Aku juga punya kakak yang usahanya nyaris tak pernah berhasil, gagal di tengah jalan. Jadi, apa yang menyebabkan pola itu terus berulang?
Berikut aku coba paparkan dari dua sudut pandang. Disclaimer: ini bukan kebenaran yang harus diterima, karena pasti banyak sudut pandang yang lainnya. Kedua dua pandangan ini yang kututurkan di sini, karena aku mengalami keduanya. Aku pernah menjadi pasien psikiater, lalu pada masa yang lain hidup membawaku pada perjalanan spiritual.
Dari Tinjauan Psikologi dan Medis
Ada sejumlah hal yang menjadi penyebab terjadinya pengulangan pola hidup, dari beberapa sudut pandang.
Kalangan praktisi psikologi dan ahli kejiwaaan menyebutkan bahwa secara alamiah manusia mencari rasa aman melalui zona nyaman. Hal yang mudah dan efisien adalah menjalani kebiasaan otomatis, sehingga terjadilah habit looping, pengulangan-pengulangan kebiasaan.
Ada bagian otak bernama Basal Ganglia yang punya peran merancang kebiasaan menjadi aktivitas yang otomatis. Ini dilakukan agar kita bisa menghemat energi dan tak melibatkan proses berpikir yang panjang. Contoh yang kudapatkan dari penjelasan dr, Ryu Hasan dalam sebuah podcast misalnya perihal berkendara.
Saat kita memutuskan untuk berangkat dari rumah menuju tempat kerja menggunakan mobil, keputusan itu kita buat dengan pertimbangan logis. Tapi, setelah aktivitas kita saat mengambil kunci mobil, jalan ke garasi, menyalakan kunci kontak itu sudah mode autopilot. Begitu pula saat keluar rumah, kita ambil arah kiri-kana, memberi tanda sein, menyalakan klakson, dan seterusnya.
Demikian lebih kurang penjelasan pakar neurosains tersebut.
Basal Ganglia inilah yang memegang kendali penuh saat sebuah kegiatan telah menjadi kebiasaan. Dengan begitu beban berpikir terkurangi karena korteks prefrontal atau bagian sadar otak bisa beristirahat.
Mode autopilot ini adalah mekanisme otak untuk menghemat energi. Namun, di sisi lain, mode otomatis ini dapat membuat orang terjebak pada kebiasaan buruk yang sudah semestinya ditinggalkan agara dapat melanjutkan hidup dengan lebih baik.
Baca juga: Tetap Bahagia dan Giat Berkarya saat Menjalani Hidup Sendiri
Penyebab lainnya adalah luka batin atau trauma. Peristiwa lalu yang menyisakan trauma juga dengan tanpa sadar menjebak kita pada habit looping. Misalnya saat orang memiliki trauma masa lalu, ada kecenderungan untuk mencari orang dan atau situasi yang sama. Di bawah sadar ada keinginan untuk "menyelesaikan" masalah yang telah jauh terlampaui tersebut. Terlebih jika berada dalam lingkup pergaulan dan lingkungan yang relatif sama, pengulangan pola hidup yang sama akan terus terjadi.
Agar tidak terjadi pengulangan, diperlukan berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu terkait luka batin dan trauma. Jika tak mampu melakukan sendiri, sebaiknya berkonsultasi dengan ahlinya, dengan psikolog atau dengan psikiater jika sudah ada di fase membutuhkan pengobatan.
Baca juga: Berkenalan dengan Laku Spiritual melalui Buku Tantra
Dari Tinjauan Spiritualitas
Bagi para pejalan dan pendalam spiritualitas, cara pandangnya berbeda.
Dari tinjauan spiritual, pola hidup yang berulang terjadi akibat jiwa yang masih membawa karma. Ada pelajaran hidup yang belum tuntas, dan hanya kesadaran untuk menerimanya sebagai upaya untuk memutus rantai karma dan menjalani hidup yang baru. Selain itu, cara menyikapi peristiwa dan kejadian yang sudah lewat juga menjadi faktor penting terjadinya pengulangan pola hidup.
Perihal karma, setiap orang membawa karmanya masing-masing dari kehidupannya di masa silam. Bahwa jiwa hanya berpindah dari satu wadag ke wadag berikut yang sesuai dengan karakter awalnya. Dan kelahiran kembali itu disertai dengan karma. Karma yang dimaksud adalah konsekuensi dari perilaku kita. Dan konsekuensi itu akan mengikuti dalam setiap kelahiran baru.
Baca juga: Doa, Meditasi, dan Vibrasi Energi
Apakah kamu sering mempertanyakan mengapa suatu hal bisa terjadi padamu, sedangkan kamu selalu berusaha melakukan sebaik-baiknya? Barangkali itu adalah konsekuensi dari perilakumu di masa lalu. Sesuatu yang tak bisa ditolak, hanya bisa diterima dan diputuskan rantainya secara sadar.
Pada kesadaran di masa sekarang, kita dihadapkan pada cara kita menyikapi segala hal yang terjadi di luar diri kita. Misalnya perihal luka batin dan trauma. Emosi masa kecil yang terpendam secara bawah sadar dapat menarik peristiwa serupa untuk hadir di masa dewasa. Begitu pula dengan peristiwa tak menyenangkan yang tak direspons secara bijak, akan menjadi tumpukan emosi yang pada akhirnya akan menjadi pola yang berulang.
Hal lain yang--seperti halnya karma--barangkali tak cukup mudah diterima oleh akal adalah keterlibatan ikatan dengan leluhur, misalnya sumpah yang pernah diucap para leluhur. Beban energetik ini perlu disadari dan diputuskan secara sadar.
Baca juga: Kesadaran Spiritual, Hidup dalam Perspektif Baru
Apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki pola yang berulang ini?
Hal pertamanya tentu saja adalah menyadari apa-apa yang sedang terjadi. Pola apa saja yang terus berulang. Tanpa kesadaran itu, tak akan bisa mengambil langkah berikutnya.
Pada bagian karma dan ikatan leluhur, tak ada yang bisa kita lakukan untuk perbaikan atas apa yang sudah terjadi di masa lalu. Terima saja sebagai bagian dari perjalanan hidup dan melakukan yang terbaik di masa sekarang. Ada upaya yang bisa disarankan yakni "memutus rantai karma". Upaya ini bisa dilakukan sendiri jika mampu, atau meminta pertolongan ke orang yang mampu melakukannya. Untuk yang terakhir ini perlu ekstra hati-hati karena di masa sekarang banyak orang yang menjadikan spiritualitas sebagai "ladang" mengeruk uang.
Sedangkan terkait dampak dari peristiwa di masa kini, baik trauma masa kecil maupun peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung, cukup dengan memunculkan kesadaran bahwa apa yang telah terjadi hanya perlu diterima sebagai bagian dari perjalanan. Memaafkan dan melepaskan segala emosi yang melingkupinya seperti marah, sedih, benci, dan lain-lain. Berdamai dengan masa lalu, plus mengubah cara dalam merespons segala stimulus yang datang dari luar. Stoik mengingatkan soal kendali diri. Apa-apa yang di luar kendali diri kita bukanlah bagian kita. Kita tak bisa mengubah orang lain; cara kita meresponsnya, itu yang lebih penting.
Sekali lagi, seperti disclaimer di atas, catatan ini adalah dari pengalamanku dengan referensi yang juga berbaur di dalamnya. Teman-teman yang menghadapi persoalan yang sama mungkin akan menemukan cara penanganan yang lebih tepat. Jangan lupa untuk tetap dan terus melakukan aktivitas yang membuat diri gembira sekaligus bisa melepaskan bagian-bagian diri yang tak selaras. Menulis di blog ini juga salah satu upayaku, meski untuk urusan ilustrasi tak begitu pandai mengulik. Padahal konon ilustrasi canva mudah dilakukan. Oiya, bahasan soal mental health bisa coba baca-baca juga di Blogger Lolita.
Sehat-sehat semuanya, ya. Sehat, bahagia, selaras. Namaste.
Baca juga: Stoikisme dan Upaya Melakoni Hidup yang Lebih Baik






