Just for You, Karya Lama Richard Cocciante yang Abadi

Saat masih gawe di radio siaran, pada suatu masa, lagu ini sempat dilarang tayang untuk kurun waktu tertentu. Bukan, bukan karena larangan pemerintah orde baru yang masa itu cukup represif termasuk larangan menayangkan konten tertentu. Alasannya adalah karena "Just for You", lagu dari Richard Cocciante ini terlalu sering dirikues, hingga admin urusan musik meminta untuk tak putar dulu hingga diputuskan bisa mengudara kembali. Ada yang punya kenangan dengan lagu ini?



Baca juga: Karya James F Sundakh yang Tak Lekang oleh Waktu

Lagu ini, sampai hari ini masih dirikues di program live yang kubuat di TikTok. Meski orang bisa memutar lagu di platform musik, banyak yang masih suka berdialog seperti pada masa radio siaran. Barangkali ini memang kebutuhan orang untuk berkomunikasi dengan orang lain demi menjaga kesehatan mentalnya. Pengin colek Mbak Alienda Sophia, bikin live juga, yuk, bicara pengalaman menjaga kesehatan mental.

Kembali ke soal Just for You, kulanjutkan lagi ceritanya, ya.


Mengapa Just for You Begitu Diminati?


Coba cek liriknya, ya. Ini lagu sebetulnya gombal banget kalau lihat dari liriknya.


I can't stay now and just wait now, my hands then go so impatient

many things I've got to do now for the first rise of the morning.

Though she dream and peaceful slamber, sleep to me just doesn't come

when she wake I'll try tell her everything I have to say.

And the night so dark inside me makes me finaly understand

where the love that she has given me, she can light the sky forever.

It's the way she give so freely, it's the way she takes my hands,

I just ask the sun shine brightly got to see her smile again.


Then I sing a song I've writen and I'll make the whole world listen

in the silence just for you, like no one has ever heard.

And I wake up all the lovers and I give them back for hours

and we'll do the things we wanted the way that lovers do.


And we'll run into the street and we'll start to dance like crazy

cos she want only to feel joy in the love she gives and needs.

And we'll take it time to stop quarels and paint the street and building, rainbow color everyone

those she wants, colors to sing, and we'll paint full fill with flowers,

make the street alive with spring, make a place where lovers go, to love the way that lovers do.


Then we'll fly into the sky and we'll choose into the stars

and our stars return the hole world,

the love we have, we are,


the love we share is sweet

the love we know is real, that love is not to dream, but last we know that alone

Because you love and my begin without dreaming all begin,

and the love that you have give return to us to win

cos your love for me is not begining and the end your love

and mine is now for me for love, you love for me forever ....


Nah, betul, kan ... gombal, kaaan?


Baca juga: September Ceria by Vina Panduwinata


Suatu hari, di saat libur, aku berkunjung ke studio. Saat itu masih belum lulus kuliah. 1997. Seseorang datang dengan membawa kaset, minta direkamin lagu Just for You. Kaset C-90 diisi sepenuhnya dengan lagu ini. Merekam lagu itu tidak diperbolehkan, ya, gaeees. Cuma dengan toleransi "merekam untuk konsumsi pribadi". Buat yang belum hafal kaset, C-90 itu artinya berdurasi 90 bolak-balik. Satu sisi durasi 45 menit. Jadi, jika lagunya berdurasi 5 menit, maka dalam satu sisi terdapat 9 lagu. Bayangkan, 9 lagu di satu sisi itu isinya Just for You semuanya. Gokil, kan? Sedemikian ia kesengsemnya dengan ini lagu. Ia tak mengakui persis, sih, kenapa suka betul dengan lagu itu. Hanya dibilang liriknya nempel banget di kepalanya.

Kami lantas berteman cukup dekat. Beberapa tahun pasca reformasi barulah aku tahu bahwa beliau ini adalah keluarga dari salah satu sosok yang banyak disebut dalam sejarah tanah air. 

Baca juga: Konser Sawung Jabo bersama Sirkus Barock di Bandung


Polemik Pencipta Just for You

Mencari referensi soal Richard Cocciante ini susah betul. Apalagi di masa lalu, sebelum internet familier dan menyediakan sumber yang mudah diakses. Masa itu, pengetahuanku soal ini lagu hanya sebatas karya Richard Cocciante, penyanyi dan pencipta lagu berkebangsaan Italia-Prancis. Pada tahun-tahun ke belakang barulah tahu informasi lebih detailnya. Termasuk munculnya polemik orang yang mempertanyakan pencipta ini lagu. Ada yang menyebut Just for You bukan karya Richard Cocciante. Akhirnya kukubek lagi berbagai referensi. Kesimpulannya: Just for You adalah karya Richard Cocciante.

Riccardo Cocciante--demikian nama aslinya--lahir pada 20 Februari 1946 di Saigon, Vietnam, dari ayah seorang Italia dan ibu Perancis. Pada usia 11 tahun keluarga membawanya pindah ke Roma, Italia. Berikutnya ia mencicipi tinggal di beberapa negara, yakni Perancis, USA, dan Irlandia. Minatnya pada seni musik sudah terlihat dari kecil. Awalnya ia hanya bermain organ dengan membawakan musik-musik R&B. Masuk tahun 1960-an barulah ia unjuk suara sebagai penyanyi. Cocciante sempat membentuk band GL6 bersama Marco Luberti dan Paolo Casella. Di sinilah ia mulai menggunakan nama panggung Richard Cocciante. Mereka berhasil merekam tiga lagu berbahasa Inggris yang muncul di film pada kurun 1971-1972. 

Baca juga: George Michael dalam Kenangan

Lepas dari grup, Cocciante mencetak sukses dengan album solonya. Sayangnya ia sempat terperosok kasus kontroversial. Lagunya, "Bella senz'anima" yang menjadi hits besar diprotes banyak kalangan karena dinilai seksis. Pasca kontroversi itu ia sempat menarik diri dari publik. 

Kemunculannya kembali  pada 1976, mendulang sukses. Satu lagunya yang ditulis dalam bahasa Italian, "Margherita" menjadi signature song-nya Cocciante. Itu pula yang terjadi saat ia merilis lagu tersebut dalam versi bahasa Inggris pada 1978. Lagu yang menjadi kesayangan penyuka musik di tanah air. 

Sejak saat itu Cocciante terus berkarya. Ia merilis lagu dalam empat bahasa, Italia, Perancis, Inggris, dan Spanyol. Ia menyanyikan kembali lagu-lagu terkenal, seperti "Michelle"-nya The Beatles yang juga disukai pasar. Ia juga merancang pertunjukan musikal populer yang dikenang. 

Baca juga: I Love You Sofie, Lagu Lama yang Terus Eksis

Kini, Cocciante telah memasuki usia 10 windu. Semoga masih terus berkarya dan dinikmati pecinta musik dunia. 

Kapan Tubuh Kita Membutuhkan Vitamin dan Suplemen Tambahan?

Minggu lalu saya bergabung bersama beberapa kawan dalam sebuah kegiatan. Mengejutkan sekali, salah satu kawan mengalami penyusutan berat badan secara drastis. Saya tahu dia sedang berhadapan dengan satu masalah penting. Saya tidak tahu persis dan tidak berniat memaksa dia menceritakannya. Satu hal yang masih bisa saya lakukan adalah menyarankan untuk menjaga kesehatan. Karena itu modal kita untuk bertahan dan menghadapi masalah, sehat raga maupun mental. Saya coba berikan beberapa rekomendasi varian vitamin dan suplemen dan pola konsumsinya. Ternyata ia sama sekali tidak mengonsumsi vitamin. Dalam keadaan normal, dengan gizi tercukupi, mungkin relatif aman. Namun, di kondisinya sekarang yang buat makan rutin saja ogah-ogahan, tentunya bisa memberikan dampak tak baik. 

Baca juga: Perbedaan Darah Rendah dan Kurang Darah

Alasan utama kita membutuhkan vitamin dan suplemen tambahan adalah karena itu untuk membantu pemenuhan kebutuhan nutrisi harian yang tidak tercukupi dari makanan. Saya, sejak bertahun lalu, paling tidak mengonsumsi vitamin C. Belakangan hari, dengan pertambahan usia, beberapa macam vitamin dan suplemen saya tambahkan dalam daftar konsumsi harian. 


Pola Konsumsi Makanan Harian

Sebelum masuk bahasan soal pilihan dan cara konsumsi vitamin dan suplemen, mari cari tahu soal pola konsumsi makanan kita.

Pada 2018 lalu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mulai gencar memperkenalkan konsep "Isi Piringku". Diperkenalkan secara formal pada puncak pengingatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-54. Sebelumnya kita mengenal slogan "4 Sehat 5 Sempurna", nah Isi Piringku merupakan penyempurnaan dari pedoman Gizi Seimbang yang mengacu pada Permenkes No. 41 Tahun 2014 ini. 

Konsep Isi Piringku ini adalah pengaturan porsi sekali makan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi hari, dengan takaran detail: 

  • Setengah porsi piring atau setengah bagian diisi dengan sayuran dan buah-buahan sebagai sumber serat, vitamin, dan mineral. Disarankan porsi sayur lebih lebih besar dibandingkan buah.
  • Setengah porsi piring atau setengah bagian lainnya diisi dengan sumber karbohidrat seperti nasi, kentang, atau ubi, dan sumber protein hewani dan nabati, seperti daging merah, ikan, ayam, tahu, dan tempe. Disarankan karbohidratnya sejumlah dua per tiga bagian, sisanya protein. 

Waktu makan yang dianjurkan adalah tiga kali makan makanan utama, yakni pagi, siang, dan malam. Masing-masing dengan jeda 3–4 jam. Di antara jeda waktu dapat diisi dengan selingan camilan berupa buah atau cemilan sehat lainnya. makanan ringan bernutrisi di antara jam makan utama. Konsep ini berlaku untuk seluruh masyarakat Indonesia sebagai panduan umum gizi seimbang dalam sekali makan, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia. Penyesuaian terkait porsi dan kombinasi dilakukan mengikuti kebutuhan, misalnya bagi orang menuju lansia disarankan untuk mengurangi konsumsi makanan tinggi natrium, gula, dan lemak. 

Di luar dua bahan utama itu ada anjuran untuk konsumsi air putih sebanyak 2 liter atau 8 gelas sehari dan melakukan aktivitas fisik untuk menjaga kebugaran tubuh.

Baca juga: Pendidikan Seks sebagai Bagian Penting dari Parenting

Konsep dari Kemenkes ini sedikit berbeda dengan kebutuhan makanan dan gizi harian menurut standar World Health Organization (WHO). Organisasi kesehatan dunia ini lebih berfokus pada keseimbangan nutrisi serta pembatasan zat tertentu untuk mencegah penyakit kronis.

Panduan gizi seimbang menurut WHO adalah:

  • Minimal 400 gram (atau setara dengan 5 porsi) buah dan sayuran per hari. Ini tidak termasuk kentang, ubi, atau umbi-umbian berpati lainnya. 
  • Takaran lemak kurang dari 30% dari total asupan energi harian, dengan batasan lemak jenuh kurang dari 10%, sedangkan lemak trans kurang dari 1% dari total kalori. Disarankan untuk mengutamakan lemak tak jenuh, seperti minyak zaitun, alpukat, dan ikan.
  • Konsumsi gula yang disarankan adalah kurang dari 10% dari total asupan energi harian. Takaran idealnya di bawah 5% atau setara dengan 25 gram atau 6 sendok teh untuk tambahan manfaat kesehatan.
  • Konsumsi garam yang disarankan adalah kurang dari 5 gram per hari atau setara dengan 1 sendok teh. 

Baca juga: Mindfulness dan Upaya Mengatasi GERD


Kapan Kita Sebaiknya Kita Mulai Mengonsumsi Vitamin dan Suplemen?

Sumber gizi utama dan terbaik kita memang berasal dari makanan yang kita konsumsi sehari-hari. Namun, berapa banyak di antara kita yang sadar betul dan menghitung dengan cermat jumlah asupan yang kita konsumsi? Selain itu, ada kondisi tertentu yang membutuhkan vitamin atau suplemen tambahan. 

  • Perempuan hamil dan menyusui. Pada masa kehamilan dan menyusui, tubuh perempuan membutuhkan tambahan nutrisi seperti asam folat dan zat besi. Zat-zat ini penting bagi perkembangan janin serta kesehatan ibu. 
  • Pasien di masa pemulihan. Saat sedang masa pemulihan, tubuh membutuhkan energi dan nutrisi ekstra untuk mempercepat perbaikan jaringan dan mengembalikan sistem kekebalan. 
  • Orang dengan diagnosis kekurangan nutrisi. Bagi yang mengalami defisiensi vitamin atau mineral tertentu (seperti anemia atau kekurangan vitamin D) sesuai dengan pemeriksaan medis tentu saja membutuhkan tambahan vitamin dan suplemen. Dokter biasanya memberikan resep untuk dosis konsumsinya. 
  • Orang yang sedang menjalani diet. Pembatasan jumlah makanan pada mereka yang sedang menjadi pola makan sangat terbatas membutuhkan tambahan nutrisi yang bisa disediakan oleh vitamin dan suplemen. 
  • Orang dengan gangguan sistem pencernaan. Ada kasus-kasus tertentu yang menjadikan seseorang atau pasien memiliki kondisi medis kronis gangguan penyerapan di sistem cernanya. 

Kondisi-kondisi di atas adalah kasus yang berada dalam pengawasan dokter atau tenaga medis. Dibutuhkan pemantauan berkala untuk mendapatkan hasil yang optimal. Sedangkan bagi orang yang kondisi kesehatannya memadai dengan pola makan gizi seimbang, sebetulnya tidak membutuhkan vitamin dan suplemen tambahan. Meski demikian, banyak orang membutuhkan vitamin dan suplemen tambahan untuk memelihara kebugaran tubuh. Selain itu juga untuk memenuhi kemungkinan kurangnya nutrisi tertentu.

Baca juga: Pola Hidup Sehat untuk Cegah Diabetes dan Virus Korona

Vitamin yang paling umum dikonsumsi adalah vitamin C. Di pasaran cukup banyak vitamin C dalam berbagai sediaan. Vitamin C dibutuhkan untuk menangkal radikal bebas dan menjaga daya tahan tubuh. Saran konsumsi vitamin C adalah pagi hari. Vitamin C larut dalam air dan membantu meningkatkan energi sehingga tepat dikonsumsi di awal aktivitas. Pilih yang aman untuk lambung sehingga bisa dikonsumsi saat perut kosong. Kalau tidak, pastikan lambung terisi lebih dahulu terutama bagi yang lambungnya sensitif. 

Vitamin B Kompleks berfungsi mengubah makanan menjadi energi, menjaga kesehatan sistem saraf, serta membantu pembentukan sel darah merah. Konsumsi B Kompleks secara teratur membantu metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein agar tubuh tidak mudah lelah. Manfaat lainnya adalah menjaga kesehatan saraf, mmembentuk sel darah merah sehingga mengurangi risiko anemia, mendukung fungsi otak, dan membantu menjaga kesehatan kulit dan rambut. Konsumsi vitamin B Kompleks disarankan pada pagi hari agar tubuh tetap berenergi sepanjang hari. 

Vitamin D3 memiliki fungsi utama membantu tubuh menyerap kalsium dan fosfor agar kesehatan serta kekuatan tulang dan gigi terjaga. Mengonsumsi vitamin D3 rutin dapat mencegah penyakit seperti rakitis dan osteomalasia pada anak, serta osteoporosis pada lanjut usia. Selain itu juga membantu meningkatkan sistem imun tubuh, mendukung kinerja otot dan saraf, serta membantu kinerja otak dalam mengolah mood dan mengurangi risiko kecemasan. Konsumsi D3 sebaiknya dilakukan pada siang hari, setelah makan, terutama setelah mengonsumsi makanan berlemak agar terserap optimal. 

Vitamin D3 alami juga bisa didapatkan dengan berjemur di bawah matahari pagi, mengonsumsi ikan berlemak, kuning telur, dan hati. 

Baca juga: Kekerasan Verbal dan Trauma Healing

Dua macam mineral yang sering kali ditambahkan dalam resep adalah Zinc dan Magnesium.

Konsumsi Zinc dapat dilakukan saat mudah sakit, sering terkena infeksi, atau dalam masa pemulihan dari penyakit. Zinc juga dapat membantu penanganan jerawat yang bandel, peradangan kulit, dan luka yang lama sembuhnya. Anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan, perempuan hamil atau menyusui, dan atlet yang sedang terganggu jaringan ototnya akibat latihan berat dapat terbantu dengan konsumsi zinc. Konsumsi Zinc disarankan dilakukan pada pagi atau siang hari, sekitar 1-2 jam setelah makan.

Konsumsi Magnesium dapat dilakukan saat mengalami stres, kecemasan tinggi, dan gangguan tidur. Magnesium membantu menenangkan sistem saraf. Mengonsumsi magnesium membuat kita relaks, mendukung relaksasi otot dan meningkatkan kualitas tidur. Magnesium juga disarankan bagi yang sering mengalami kram atau kejang otot baik karena aktivitas rutin atau menyerang mereka yang aktif berolah raga. Konsumsi Magnesium disarankan dilakukan pada malam hari, 1-2 jam sebelum tidur saat tubuh membutuhkan relaksasi. 

Semoga terus terjaga kesehatannya ya, teman-teman. Ingat, vitamin dan suplemen bukan pengganti makanan. Mereka hanya pelengkap. Pastikan nutrisi dari makanan tetap terpenuhi. Tentu saja ini termasuk berbicara kepada diri sendiri, terutama pada usia jelang menopause dengan kondisi tubuh yang sering mengalami gangguan. Sepertinya lain waktu perlu bahas topik ini, ya.

Baca juga: Ngeblog untuk Bantu Cegah Stres

Jaga kondisi mental dengan menjauhi sumber potensi masalah, lakukan hal-hal menggembirakan termasuk menjalankan hobi seperti mendengarkan musik, menonton film, atau membaca buku. Kalau sedang berselancar bacaan di dunia maya, bisa tengok blognya kawan blogger Cianjur, kreator digital Cianjur yang punya banyak cerita.

Namaste


Berinvestasi di Tengah Karut-Marut Kondisi Ekonomi, Masih Mungkinkah?

Banyak kalangan yang mengeluhkan kondisi finansialnya hari-hari ini. Paling tidak, dari pengalamanku sendiri, keluhan dari kawan-kawan yang tergolong kelas menengah, namun tak berkutik terimbas kebijakan dan berbagai kondisi di tanah air, ketidakpastian ekonomi dan inflasi yang terus meningkat. Yang berada dalam kelompok ini, repot, kan? Mau ikut daftar penerima bansos kok ya tidak pantas. Mau pura-pura baik-baik saja, nyatanya tidak. Tapi, hidup harus terus berlangsung, bukan? Pada akhirnya yang dibutuhkan adalah seni bertahan hidup dan berjuang untuk mempersiapkan masa depan, termasuk menabung dan berinvestasi.


Baca juga: Mengapa Perempuan Perlu Bekerja?

Berangkat dari pengalaman menjalani frugal living, saya mau membagikan beberapa pengalaman pribadi dan sejumlah tips dari berbagai sumber. Berawal dari tabungan SBN berjangka 2 tahunku yang selesai. Jumlahnya tak besar. Saat itu pertimbangannya adalah daripada dimasukkan ke tabungan biasa dengan potongan serta kemungkinan cepat habis karena kemudahan akses. Nah, lalu berpikir tidak dimasukkan ke SBN lagi, tapi ke reksa dana saja. Maka saya carilah referensi tentang memilih reksa dana yang tepat.


Reksa Dana sebagai Pilihan Berinvestasi

Dari sejumlah referensi yang kubaca, Reksa Dana Pasar Uang merupakan salah satu pilihan yang minim risiko dan cocok untuk pemula atau yang belum cukup pengalaman berinvestasi. Bagi yang sama sekali belum tahu, Reksa Dana Pasar Uang ini adalah jenis reksa dana yang menginvestasikan dananya ke instrumen pasar uang jangka pendek, seperti deposito, Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Surat Berharga Negara (SBN), Surat Berharga Komersial (SBK), atau obligasi dengan masa jatuh temponya di bawah satu tahun. Yang saya sempat ikut kemarin adalah SBN.

Investasi jenis ini menawarkan potensi imbal hasil yang menarik dan likuiditas tinggi, bisa dicairkan kapan saja tanpa penalti. Selain investasi bisa dimulai dengan nominal kecil, banyak produk Reksa Dana Pasar Uang yang tak mengenakan biaya transaksi. 

Namun, ada begitu banyak pilihan reksa Reksa Dana Pasar Uang di pasaran. Mana yang sebaiknya dipilih?

Ada tiga pertimbangan utama dalam memilih Reksa Dana Pasar Uang. Pertama, tujuan keuangan dan jangka waktu; kedua, profil risiko; ketiga, kinerja dan kredibilitas. 

1. Tujuan dan Jangka Waktu

Pastikan tujuan kita saat memutuskan untuk memilih Reksa Dana Pasar Uang sebagai investasi.

Jika kebutuhannya untuk waktu yang singkat, semacam tabungan jangka pendek dengan waktu kurang dari satu tahun, pilihlah reksa dana pasar uang untuk dana darurat. Untuk jangka pendek ini bagaimanapun reksa dana masih lebih menguntungkan dibandingkan tabungan biasa. 

Jika diperuntukkannya sebagai tabungan jangka menengah dengan kisaran waktu 2 hingga 5 tahun, pilihlah reksa dana pendapatan tetap atau campuran. Pilihan ini tepat bagi yang ingin menyiapkan dana sekolah anak atau kemungkinan melanjutkan sekolah buat diri sendiri atau pasangan.

Jika keperluannya menabung untuk jangka panjang, lebih dari  5 tahun, pilihlah reksa dana saham untuk hasil optimal. Contohnya tujuan investasi kita adalah dana pensiun yang baru akan dipakai setelah 5 tahun atau lebih ke depan. 

Baca juga: Slow Living, Pilihan Hidup Lebih Berkesadaran


2. Profil Risiko

Kita perlu siap dengan kemungkinan risiko yang kita hadapi saat memilih Reksa Dana Pasar Uang. Ada tiga profil yang bisa kita pilih sesuai dengan toleransi kita terhadap risiko:

Konservatif, memiliki toleransi risiko rendah, cocok untuk reksa dana pasar uang.

Moderat, fluktuasi sedang, cocok untuk reksa dana pendapatan tetap atau campuran.

Agresif, fluktuasi tinggi karena bertujuan mendapatkan keuntungan maksimal; cocok untuk reksa dana saham.


3. Kinerja dan Kredibilitas

Poin-poin di bawah ini penting untuk kita perhatian agar pengelolaan produk Reksa Dana Pasar Uang dilakukan secara baik dan profesional.

Manajer Investasi (MI) 

Produk Reksa Dana Pasar Uang yang kita pilih harus memiliki legalitas yang jelas. Pastikan MI terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Kinerja Historis

Ketika memilih satu produk Reksa Dana Pasar Uang, cek kinerja historis dengan memperhatikan konsistensi return dalam kurun 1-3 tahun terakhir (ada juga yang menyarankan 3-5 tahun). Jadi, bukan keuntungan sesaat. 

Asset Under Management (AUM)

Seperti halnya kinerja historis yang bukan jaminan produk terbaik, dana kelolaan atau AUM tetap perlu dijadikan pertimbangan. AUM menjadi salah satu indikator besaran kepercayaan investor terhadap produk reksa dana tersebut. 

Indikator Risiko

Tingkat penurunan nilai dan biaya pengelolaan yang efisien juga perlu menjadi perhatian. Makin kecil persentasenya dari kedua poin ini, makin baik investor yang kita pilih. 

Setelah menemukan Reksa Dana Pasar Uang yang dirasa tepat dengan poin-poin di atas, dan jumlahnya lebih dari satu, saringan berikutnya adalah melakukan pengecekan rating. Ada cukup banyak lembaga keuangan yang memberikan rating produk reksa dana berdasarkan performa, risiko, dan manajemen. Pilih produk dengan rating tinggi.

Terakhir, tentukan platform investasi yang terpercaya, jika akan membeli produk reksa dana melalui platform digital. Atau langsung membeli melalui bank atau perusahaan sekuritas yang bekerja sama dengan Manajer Investasi. 

Baca juga: Persiapan Memiliki Rumah Sendiri


Mengubah Pola Pikir dan Gaya Hidup

Apakah kita masih bisa menabung dan berinvestasi dengan keuangan yang pas-pasan? Bisa! Dengan pengalaman menjalani menjalani frugal living, saya bisa mengatakan bahwa menabung dan berinvestasi bisa dilakukan. Tentu saja bukan berarti uang datang dari langit dengan tiba-tiba, atau pohon uang di halaman berbuah lebat. Tak ada gaib-gaiban. Menabung dan berinvestasi bisa dilakukan dengan upaya yang serius. Kita tak berbicara angka di sini, ya. Namun, angka berjalan sejajar dengan upaya kita.

Hal yang menjadi syarat utama kita bisa menabung dan berinvestasi adalah kemampuan mengelola keuangan. Uang seberapapun besarnya bakal cepat menguap jika tak dibarengi dengan pengelolaan yang tepat, bukan? Dan hal itu sangat terkait erat dengan pola pikir dan gaya hidup yang kita pilih.

Nah, apa yang sebaiknya dilakukan di tengah krisis finansial saat ini, terutama bagi yang penghasilannya pas-pasan? Hal pertama dan utama sebelum menggeser gaya hidup dan rencana detail lainnya adalah mengubah mindset; memastikan memahami perbedaan keinginan dan kebutuhan. Memang ada orang yang sulit membedakan kebutuhan dan keinginan? Ada! Ada banyak orang yang terbiasa hidup dalam kemudahan, tidak tahu perbedaan dari keduanya.

Langkah nyata dalam mengubah gaya hidup adalah dengan membuat prioritas. Kebutuhan pokok yang utama, selebihnya bisa ditunda atau ditiadakan. Kebiasaan ngopi cantik di kafe bisa dihilangkan. Kegemaran berburu benda konsumsi yang lagi viral, dihentikan. Yang senang berganti baju dan perangkat elektronik, direm keinginannya.

Jika memungkinkan, buatlah catatan keuangan yang detail. Buat perencanaan ketat penggunaan uang bulanan, misalnya 30 persen tabungan/investasi, 50 persen kebutuhan harian, sisanya untuk lain-lain kebutuhan mendesak.   

Jaga kesehatan. Ini meliputi kesehatan fisik dan mental. Usahakan untuk makan makanan sehat, latihan badan secukupnya, tidur berkualitas, dan mengelola stres dengan baik. 

Baca juga: Menemukan Makna Hidup bersama Viktor E Frankl


Contoh beberapa tindakan yang bisa dilakukan:

1. STOP ngutang. Ada yang seolah kegiatan berutang itu hobi. Tak lain karena tak bisa memisahkan keinginan dan kebutuhan. Apalagi di masa kini akses berutang sedemikian mudah. Berbagai platform pinjaman wara-wiri di berbagai media. Utang ini dalam bentuk tunai maupun cicilan, say "NO".

2. Perkuat sumber penghasilan yang sudah ada. Sumber keuangan ini bisa usaha yang tengah dijalankan, maupun gaji dari tempat kerja. Tinggalkan dulu keinginan melakukan ekspansi usaha; jangan terburu nafsu keluar dari tempat kerja karena ketidaknyamanan yang dirasakan.

3. Hindari investasi berisiko tinggi. Investasi jenis ini memang menawarkan nilai imbal balik yang tinggi. Namun, kemungkinan lost jelas nyata juga.

4. Tingkatkan kapasitas diri dengan berbagai keterampilan dan kemampuan baru. Selain membuka peluang sumber penghasilan baru, bisa juga menjadi sarana terapi diri.

5. Dengan kondisi yang penuh ketidakpastian saat ini, menyiapkan dana darurat perlu dilakukan. Seberapa pun yang bisa disisihkan, sisihkan tiap hari jika memungkinkan. 

Buat yang hidup sendiri--seperti saiyah--barangkali tak terlalu sulit, karena hanya perlu mendisiplinkan diri sendiri. Untuk yang sudah berkeluarga, apalagi punya kewajiban menyokong keluarga besar pasti lebih sulit. Dibutuhkan komitmen bersama untuk menumbuhkan kesadaran mengubah gaya hidup bareng-bareng. 

Ada banyak referensi lain yang bisa dipelajari. Banyak situs yang menawarkan pembelajaran soal keuangan, baik gambaran umum maupun yang lebih spesifik sebagai bagian dari promosi lembaga keuangan tertentu. Ada kawan Lifestyle Blogger Madura yang juga rajin menulis tema keuangan keluarga, bisa tengok-tengok blognya. 

Baca juga: Berdamai dengan Inner Child

Dan seperti yang kutulis di awal, buatku sendiri kondisi sekarang ini tidak mudah. Sejauh ini terus berusaha untuk melakukan yang terbaik. Semoga kita semua berhasil melewati kondisi tak nyaman ini. Namaste


Christian Mara, Pejuang Seni Budaya Adat Dayak Berpulang

Kapan hari aku membuat konten untuk media sosial dengan memakai musik latar yang terdengar unik tanpa aku tahu persis itu musik khas mana. Muncul satu komentar yang mengatakan bahwa musik itu mengingatkannya pada sape, membuatnya merindukan Kalimantan. Eits, apa itu sape? Kok aku nggak tahu. Ternyata sape adalah alat musik petik tradisional khas Dayak. Informasinya lantas tersambung saat Rabu (19/08) kudapati kabar berpulangnya Christian Mara, seniman dan budayawan Dayak yang juga dikenal sebagai pembuat sape. Sebuah kebetulan yang mendorongku untuk sekadar menuliskan ulang sosok penting masyarakat Dayak ini.

Christian Mara (ilustrasi: FB Margareta Uliandari)

Baca juga: Sesepuh Jawa Barat, Solihin GP Berpulang

Aku memiliki sedikit persinggungan dengan Dayak dan Kalimantan Barat. Adikku menikahi perempuan Dayak dan aku hadir dalam pernikahan mereka di Sintang. Kami melalui perjalanan darat untuk menuju lokasi yang saat itu ditempuh dalam waktu 13 jam (tahun 2007). Sanggau yang merupakan rumah tinggal Christian Mara termasuk kawasan yang kami lewati. Mungkin faktor itu sedikit memengaruhiku. Namun, lebih dari itu sosok masyarakat lokal yang terus memperjuangkan tradisi dan melestarikan budaya--menurutku--perlu mendapatkan apresiasi yang layak. Karena tak mengenalnya secara langsung, aku mencoba mencari referensi dari berbagai sumber. Barangkali ada kawan-kawan Dayak yang kebetulan singgah di blog ini, jika ada yang perlu dikoreksi, silakan koreksi, ya.


Christian Mara dan Hidup yang Tak Mudah

"Beliau asli Jangkang, Kalimantan Barat. Tapi karena karyanya tak cukup untuk hidup di Indonesia, nyeberang ke Sarawak dan diapresiasi besar di sana. Lalu, setelah kembali, membuka studio pembuatan instrumen Dayak dan wafat di Pontianak."

Demikian sedikit informasi yang dibagikan kawan Dayak @DjolaFix di X Rabu lalu. 

Christian Mara (sering pula ditulis Cristian Mara) lahir di Jangkang, Sanggau, Kalimantan Barat, pada 21 Juli 1964. Mara dibesarkan di tengah budaya yang menjadikan musik sebagai bagian dari tradisi. Permainan musik dapat disaksikan di berbagai perhelatan. Paling tidak dalam setiap upacara adat dan kematian musik ikut mengambil peran. 

Suatu kali Mara kecil menyaksikan orang bermain musik. Ada sesuatu yang tergerak di dasar hatinya. Ia pun ingin bermusik. Ia ingin bernyanyi. Ia mau berkesenian. 

Baca juga: 29 Februari dan NH Dini

Pulang ke rumah, Mara mengambil kayu yang tersedia. Saat itu adanya kayu pelai atau jelutung. Hanya dengan perangkat sekadarnya, parang, ia membentuknya menjadi alat musik. Berulang kali ia berhadapan dengan kegagalan hingga akhirnya terwujud sesuai dengan yang diharapkan. 

Dengan alat musik buatannya itulah Mara mulai belajar musik. Ada sejumlah kawan yang membersamainya dalam proses itu. Sayangnya pelajaran membuat sape dan belajar bermusik itu mesti terhenti karena Mara tak lagi punya teman yang bisa saling mendukung. Teman-temannya lulus dan melanjutkan ke sekolah lanjutan di ibu kota kecamatan. 

Orang tua Mara tak sanggung menyekolahkan anaknya ke SMP. Dengan sepenuh tekat, Mara mendatangi kepala sekolah SMP untuk meminta izin bersekolah. Untuk menemui pemimpin sekolah itu Mara harus menempuh perjalanan selama dua hari. Tidak ada kendaraan. Dia hanya berjalan kaki dan membawa serta oleh-oleh dari kampungnya berupa tiga gantang gabah dan seekor ayam jantan. 

Kepala sekolah memberikan izin untuk Mara menjadi siswa SMP yang berlokasi di ibu kota kecamatan itu. diterima menjadi murid SMP. Sayangnya Mara tak sanggup bertahan. Setelah bersekolah selama setengah tahun, Mara menyerah. Orang tuanya di kampung tak sanggup membiayai. Mara sendiri sudah berusaha bekerja agar menghasilkan uang karena ia ingin betul menjadi tentara. Pada malam hari ia bekerja sebagai pengangkut kayu. Upayanya tak membuahkan hasil yang signifikan. 

Gagal mengenyam bangku sekolah, mau tak mau akhirnya Mara pun nyemplung dalam kerasnya dunia kerja. Berawal dari sebagai buruh di pabrik kayu lapis di Malaysia, hingga terjebak dalam dunia mafia obat-obatan terlarang di Hongkong. Beruntunglah nasib masih berpihak padanya. Mara remaja berhasil lolos dari jeratan dunia hitam dan bisa kembali pulang ke kampung halaman. Ia sempat mencoba peruntungan melamar sebagai pegawai negeri di Pontianak dengan hanya berbekal ijzah SD. Dan ... ditolak!

Menyadari tak banyak yang bisa dilakukannya di kampung halaman, Mara menetap di Pontianak. Sejumlah pekerjaan Mara lakoni untuk menyambung hidup. Di antara masa-masa itu, jiwa senimannya terus bergejolak. Dia melanjutkan aktivitas bermusiknya, hingga akhirnya mendirikan sanggar pada 1986. Ia menamai sanggar itu Bengkawan, seperti nama gunung tertinggi di kampung halamannya. 

Bengkawan pun berkembang. Dari sanggar yang awalnya muncul dalam pentas-pentas seni menggunakan alat musik sewaan, hingga berhasil memproduksi alat musik sendiri. 

Baca juga: Mengenang Sahala Tua Saragih


Sape dan Upaya Christian Mara Menjaga Tradisi 

Sape dibuat dari kayu solid, dengan bentuk menyerupai perahu tanpa lekukan. Kayu yang digunakan biasanya dari pohon adau, marang, atau meranti, atau kayu lain yang keras, tapi ringan. Panjangnya bervariasi, bisa lebih dari satu meter. Sepanjang badannya dihiasi ukiran khas Dayak, biasanya motif yang dipakai adalah enggang atau naga. Gitar ala Dayak ini memiliki jumlah dawai antara 2 hingga 6. Versi yang dibuat belakangan dalam versi lebih modern bahkan menggunakan dawai lebih banyak. 

Secara tradisional, bahan dawai sape terbuat dari serat alam seperti rotan, ijuk, atau serat pohon enau/sagu, sedangkan pada sape modern bahannya telah beralih menggunakan kawat logam, kawat rem sepeda, nilon, atau senar gitar.

Alat musik inilah yang terus dikembangkan oleh Christian Mara. Bukan hal yang mudah untuk melestarikan sesuatu yang datang dari tradisi di tengah gempuran modernitas dengan aneka produknya yang serba instan. Padahal ada begitu banyak filosofi yang terkandung dalam proses musik tradisi ini, bukan semata hal teknis seperti pengenalan bahan, bentuk, pembuatannya, hingga cara memainkannya, tapi juga fungsi dan perannya dalam mempertahankan budaya. Namun, hal-hal itu bukan hambatan melainkan tantangan bagi Mara. Sanggar yang didirikannya tak surut dan mundur sejak didirikan pada pertengahan 80-an. 

Baca juga: Sugeng Tindak, Pak Jakob Oetama

Melalui sanggar yang dibangunnya Mara melatih anak-anak muda untuk menari dan bermain musik tradisi. Rumahnya--yang di kemudian hari dijadikan workshop--dipakainya dengan membuka sesi-sesi pelatihan untuk memproduksi alat musik khas Dayak tersebut. Bukan hanya sape, dalam perkembangannya Mara meningkatkan ketrampilan otodidaknya untuk mengajak kaum muda mengenal dan menjaga warisan leluhur dengan menciptakan alat musik lainnya seperti ketobong (kendang panjang), sobang (bedug), bansilabu (seruling dari tangkai labu), gong, kenong, hingga gambus melayu yang merupakan kolaborasi tradiri Dayak dan Melayu. 

Seni gerak juga tak luput dari perhatian Mara. Beberapa tarian karyanya cukup dikenal, seperti Tari Kendang Alu, Tari Enggang, dan Tari Tengkawang yang semuanya.

Christian Mara bukan hanya menjaga dan terus menghidupkan tradisi Dayak sebagai bagian dari tugas adat, tapi juga mengibarkannya ke panggung-panggung internasional. Mara berkali-kali tampil di panggung dunia, di antaranya ia membawa harmoni musik sape ini ke negeri kanguru, Australia. Pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Mara menerima penghargaan sebagai tokoh Pelestari dan Pengembang Budaya (2009).

Semoga semangat dan jiwa Christian Mara terus berkobar di hati generasi muda yang peduli dengan adat Nusantara yang kaya. 

Rest in peace, Christian Mara.

Baca juga: Selamat Jalan, Sean Connery

Semoga di kawasan lain juga banyak yang berjuang untuk berkarya dengan tradisi dan budaya lokalnya.

Sumatra Utara bagaimana? Aku belum pernah berjumpa dengan masyarakat adat. Paling pernah ngobrol sejenak dengan pengelola makam Raja Sudabutar. Itu lebih ke wisata budaya. Mbak Suci, travel blogger Medan mungkin punya catatan yang lebih lengkap soal ini. Termasuk catatan soal outdoor activity di kawasan Sumatra Utara.

Papermoon Puppet Theatre, Kelompok Teater Boneka Asal Yogya yang Mendunia

Pada akhir Juni lalu mendapati kabar pementasan Papermoon Puppet Theatre mendapatkan apresiasi luar biasa dari penonton di Jerman. Aku ikut senang. Senang yang sungguh-sungguh senang, karena ingatan akan pementasan mereka masih mengendap di kepala. Satu jejak yang indah, yang membuatku ingin kembali melihat pementasan mereka. Sayangnya belum kesampaian lagi setelah perkenalanku dengan kelompok teater boneka asal Yogyakarta pada Juli 2018. 

Tala dan Papa Puno (Ilustrasi: Papermoon Puppet Theatre)

Baca juga: The Most Precious of Cargoes, Kisah Muram Penyintas Holocaust

Sejumlah media nasional mengabarkan bahwa Papermoon Puppet Theatre menggelar pementasan pada 19 dan 20 Juni 2026 di Opernhaus Chemnitz, Jerman. Pementasan itu merupakan bagian dari festival Theater der Welt 2026 di Chemnitz. Dalam dua hari pementasan itu, Papermoon Puppet Theatre menampilkan karya berjudul Stream of Memory


Ria, Boneka Kertas, dan Lahirnya Papermoon Puppet Theatre

Sebelum mengisahkan pengalaman "spiritualku" bersama Papermoon Puppet Theater, mari berkenalan dulu dengan mereka. 

Papermoon Puppet Theatre ini merupakan kelompok teater boneka kontemporer yang didirikan di Yogyakarta pada 2 April 2006. Pendirinya, Maria Tri Sulistyani alumni Fakultas Komunikasi Universitas Gajah Mada. Meski menyukai dunia seni sedari bocah, kesukaan Ria--demikian ia akrab dipanggil--tak serta merta menemukan jalan mulus.

Ria tak mengambil latar akademis dunia seni karena tidak mendapatkan persetujuan dari orang tuanya. Ia baru bisa merintis mimpinya setelah lulus kuliah. Diawali dengan membangun sanggar anak yang dinamai Papermoon pada 2006. Ia dibantu oleh para relawan dengan minat dunia boneka dan anak. Sanggar yang baru menetas itu terpaksa vakum menyusul terjadinya gemba Yogya pada 2007. Para relawan pun bubar hingga yang tersisa ia dan Iwan yang kelak menjadi suaminya. Nama Papermoon Puppet Theater mereka sematkan ke sanggar yang Ria dan Iwan coba hidupkan kembali pada 2008. Sanggar ini mengalami perkembangan yang signifikan setelah mereka berdua mendapatkan beasiswa di Amerika dengan fokus pada teater. Dalam kurun waktu 6 bulan itu mereka berjumpa dan berdiskusi dengan banyak seniman teater boneka dan pegiat seni pertunjukan. 

Baca juga: The Odyseey, Terjemahan Nolan atas Karya Lama Homer

Sepulang ke tanah air mereka menggelar berbagai pementasan. Pertunjukan teater boneka kontemporer yang disajikan oleh Papermoon Puppet Theater ini mengandalkan kekuatan visual, gerak, musik, serta suasana panggung. Dialog verbal sangat dibatasi. Yang khas dari tema-tema yang digarap oleh Ria sebagai penulis kisah adalah hal-hal sederhana yang muncu dari keseharian. Dan lewat pertunjukkan yang puitis, penonton diajak untuk terlibat secara intim masuk ke dalam dunia boneka kertas itu. 

Tak cuma pertunjukan, Papermoon Puppet Theatre juga membuka workshop bagi para pembelajar dan mengadakan serta terlibat dalam festival teater boneka berskala internasional. Dapat dikatakan, kelompok teater ini lebih banyak berkiprah di luar negeri dibandingkan di tanah air. Mungkin karena para pencinta seni luar lebih menghargai karya mereka dibandingkan publik Indonesia. 

Jadi, sebetulnya tak terlalu mengejutkan juga jika pada akhir Juni lalu, penampilan Papermoon Puppet Theatre di Jerman mendapatkan apresiasi positif. Bahkan mereka mendapatkan standing ovation dari penonton yang hadir memenuhi ruang pertunjukan. Ratusan penonton yang berdiri dan memberikan tepuk tangan selama lebih dari 10 menit itu merupakan keistimewaan bagi para kru. Terlebih, di awal mereka mendapatkan pesan dari panitia setempat bahwa penonton Jerman bukanlah tipe yang suka menunjukkan apresiasi yang berlebih. 

Baca juga: Trilogi Siwa, Bukan Sekadar Novel Kepahlawanan


PUNO: Letters to the Sky

Ini adalah judul pementasan yang sempat kusaksikan pada Juli 2018 lalu. Sebuah agenda yang tak terencanakan sebelumnya tapi betul-betul menjadi kenangan yang cakep banget.

Pada Juli itu aku ada agenda pekerjaan ke Yogya. Ngobrol dengan kawan Semarang, Yemima Amanda, rupanya dia juga ada agenda ke Yogya di kisaran waktu kegiatanku selesai. Dan rupanya aku sudah dibelikan tiket pertunjukan Papermoon Puppet Theatre yang berlangsung di IFI-LIP Yogyakarta, 4 Juli 2018.

PUNO: Letters To The Sky ini berkisah tentang hubungan antara Tala dan ayahnya, Papa Puno. Ungkapan kasih sayang antara anak perempuan dan ayah yang merupakan satu-satunya keluarganya itu disajikan dengan gaya surealis. Ini sama sekali di luar bayanganku. Sebelumnya aku tak tahu menahu tentang kelompok ini, bahkan serba-serbi teater boneka pun aku nyaris nihil. Pengetahuanku sebatas wayang kulit atau wayang golek yang mata penonton dibawa ke medan datar yang sedikit sekali menampilkan sosok manusianya. Di pementasan ini bahkan sosok manusianya mendapatkan ruang, meski tak hadir seutuhnya. Ruang juga terbuka lebar sehingga set artistik tiap adegan bisa dengan mudah berpindah. Bahkan di titik yang sangat dekat dengan posisi duduk penonton. Mata penonton dibantu oleh gerak lampu sorot. 

Baca juga: Gundala, Harapan Baru Film Laga Indonesia

Tontonan baru yang unik buatku. Kita sadar bahwa boneka-boneka itu digerakkan oleh manusia yang sosoknya betul-betul hadir di panggung. Tapi kita dibuat abai, karena terpesona oleh musik, oleh pergerakan dari tiap karakter--boneka dengan pendar-pendar cahaya, perpindahan gelap dan terang, perpaduan musik dengan harmonisasi yang berubah-ubah menyesuaikan suasana, dan tentu saja dari kisahnya sendiri. Kisah yang sederhana dikemas dengan narasi yang dalam. Terasa bernas dan membuat penonton menghela napas. 

Kisah Tala dan Papa Puno ini mengajak penontonnya melakukan refleksi tentang peristiwa kehilangan. Siapa yang tidak pernah mengalaminya? Namun dengan kepiawaian tim Papermoon Puppet Theatre meracik semua komponen hingga jadi perpaduan yang demikian puitis sekaligus nyata. Aku tak mengingat persis detail adegan demi adegan. Namun, yang kuingat pasti, penampilan mereka membuatku menitikkan air mata. Mungkin aku tak sendiri. Aku yakin banyak penonton yang saat itu berada dalam nuansa kepiluan yang sama. Semuanya seolah lupa bahwa yang kami tonton itu sekadar boneka tak bernyawa. Saking begitu hidupnya mereka menampilkan dirinya.


Baca juga: Lelaki Harimau, Novel Kedua Eka Kurniawan

Sungguh, jika ada kesempatan, aku akan dengan senang hati untuk menghadiri pertunjukan mereka. Buat teman-teman yang belum pernah nonton, coba deh. Jika suka pertunjukkan teater, kujamin pasti suka. Kalau kebetulan sedang berlibur ke Yogya, bisa berkunjung ke studionya Papermoon di Desa Sembungan, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Sekalian jika perlu jalan-jalan, bisa cek travel di Jogja, atau buka blognya RianaDewie.com