Featured Slider

KOPROCK, Berbisnis Kopi di Tengah Pandemi

Pada akhirnya, hari-hari ini kita semua belajar berdamai dengan pandemi. Sejak World Health Organization (WHO) mengumumkan penyakit akibat virus corona (COVID-19) sebagai wabah pada Januari 2020 dan pandemi pada Maret sebulan berikutnya, masyarakat dunia menghadapinya dengan berbagai sikap. Kebijakan masing-masing negara pun terus menyesuaikan perkembangan. Sementara dampaknya di tengah masyarakat juga berkelanjutan. Bukan hanya yang menjadi korban meninggal dunia, namun juga yang terdampak secara finansial. Tak terhitung lagi jumlah perusahaan yang tumbang, dari skala global hingga lokal. Yang uniknya, bisnis kuliner terutama skala menengah ke bawah malah terbilang stabil. Kalau begitu, amankah berbisnis kopi di masa pandemi?

Bicara tentang kuliner, bagaimana pun, kita membutuhkan asupan makanan setiap hari. Omzet bisa jadi mengalami penurunan. Namun penjualan terus mengalir. Begitu pun dengan bisnis kopi. Memang siapa sih yang berhenti ngopi di masa pandemi? Mungkin ada, tapi sepertinya kok tak signifikan secara angka ya. Faktanya, kebijakan pemerintah terkait pembatasan sosial juga tak menyurutkan minat belanja, karena kemudahan yang ditawarkan kurir online. Tak heran jika kemudian para pakar finansial menyebutkan, bisnis food and beverage dapat dijadikan pilihan untuk bernisnis di masa pandemi ini. Setidaknya sampingan bagi yang ingin memulai bisnis. Inilah yang menjadi salah satu pertimbangan hadirnya brand kopi KOPROCK.


Berkenalan dengan KOPROCK

Digagas pada akhir tahun lalu, Koprock hadir untuk memberikan alternatif bisnis di masa pandemi. Karena ngopi sudah menjadi kebiasaan, tradisi, dan tren pada akhir-akhir ini. Gerai kopi telah menjamur sejak sebelum pandemi. Banyak memang yang bertumbangan, baik terimbas pandemi maupun oleh penyebab lain. KOPROCK menawarkan kepada para mitra untuk bersama-sama membangun bisnis, saling mendukung dan membesarkan usaha.

KOPROCK adalah brand kopi yang digagas dua eks personil band Seurieus, Candil dan Dinar. Dua nama yang tentu saja tak asing bagi penikmat musik rock tanah air, terlebih yang pernah melewatkan dekade 90-an di Bandung. “Rocker juga manusia, punya rasa punya hati…jangan samakan dengan pisau belatiiiii…” Nah, ikut nyanyi kaaan…😀

Candil yang memiliki nama lahir Dian Dipa Chandra dikenal dengan lengkingan suaranya yang tinggi, style yang unik dengan rambut ikal panjang lengkap dengan bandana dan kacamata yang bertengger di dahi. Pembawaannya yang santai sekaligus kocak, tampak kontras dengan rekannya, Dinar Hidayat. Gitaris Seurieus ini tampil lebih kalem. Namun perbedaan keduanya tersinergi menjadi satu hal menarik saat sama-sama menggarap KOPROCK.

Baca juga: Mengenal Vincent Van Gogh Lewat Novel Lush for Life


KOPROCK dengan Varian Brownstone dan Blackmore

Candil bukan pengopi kental. Ia menyukai kopi yang relatif ringan. Hal ini terwakilkan ke varian KOPROCK, Brownstone, es kopi susu gula aren yang tidak terlalu berat, dan cocok diminum kapan pun. Sebaliknya, Dinar memang penyuka kopi. Varian yang mewakili Dinar adalah Blackmore. Varian ini merupakan campuran kopi tubruk dan gula aren. Masing-masing menggunakan kopi arabika. Sedangkan proses peracikan memakai perangkat modern, aeropress yang memunculkan rasa kopi yang berbeda

Bicara soal KOPROCK, tak semata bicara produk kopi. Karena semangatnya adalah memberikan andil dalam meningkatkan perekonomian di tanah air, di tengah krisis akibat pandemi. Diambil dari dua kata, ‘Kopi dan Rock’, racikan kopi yang digunakan memang ditujukan untuk masyarakat umum. Arabika 100% tapi dengan harga terjangkau. KOPROCK dapat dinikmati penyuka kopi dengan kocek terbatas, tapi ingin mendapatkan kopi dengan kualitas prima. 

Candil berharap KOPROCK dapat memberikan sumbangsih bagi warga Bandung, untuk keluar dari keterpurukan finansial di masa pandemi ini. “Kita semua ini kan terdampak pandemi. Kami menyodorkan KOPROCK ini sebagai solusi. Di sisi lain, kebutuhan untuk menikmati kopi enak tetap terpenuhi. Bagaimana orang bisa ngopi enak dengan harga yang terjangkau.” Satu cup KOPROCK, baik Brownstone maupun Blackmore dihargai Rp10.000 saja.


Baca juga: Kopilatory, Cafe Dengan Nuansa Laboratorium


KOPROCK dan Kopi Jawa Barat

Penggunaan kopi arabika Jawa Barat sebagai bahan utama bukan tanpa pertimbangan. Sebagai orang yang lahir dan tumbuh di Bandung, baik Candil maupun Dinar ingin terlibat dalam ikut memasyarakatkan kopi Jawa Barat. Begitu pun dengan pemilihan campuran kopi, gula aren, yang mengambil langsung dari petani Jawa Barat. Itulah yang menjadikan harga KOPROCK masih terjangkau meski menggunakan bahan prima. 

Secara bisnis, Koprock menerapkan konsep kemitraan, bukan waralaba yang ketat seperti bisnis kopi lain yang tengah marak di tanah air. Dalam hal ini tak ada royalty fee yang harus dibayarkan. Baik Candil maupun Dinar bercita-cita membangun usaha yang mampu membangkitkan perekonomian masyarakat Indonesia, terutama kalangan ekonomi menengah ke bawah. 

“Semoga yang kami mulai ini bisa memberikan andil bagi bergeraknya perekonomian di tanah air,” harap Dinar.

Baca juga: Film Mafia Yang Perlu Ditonton Sambil Ngopi


KOPROCK di Ciporeat, Bandung

Nah, KOPROCK pada Minggu kemarin (14 Februari 2021) meluncurkan gerai gerobak perdananya di Bandung. Penyerahan gerobak kepada mitra ini menandai beroperasinya KOPROCK di tengah warga Bandung. 


Gerobak pertama KOPROCK di Bandung adalah kerjasama kemitraan dengan keluarga Wahyu di Jl. Ciporeat, Ujungberung. Pasca mengundurkan diri dari pekerjaan sebelumnya, Wahyu memilih untuk berwirausaha. Ia membangun bisnis kosmetik  bersama istrinya. Kini ia melengkapi bisnisnya dengan kedai kopi. Wahyu mengaku belum punya target khusus terkait bisnis barunya ini. Namun ia meyakini setiap upaya untuk kebaikan akan mendatangkan berkah. 

Ada yang mau menyusul Kang Wahyu membuka kedai kopi KOPROCK? Sila DM ke akun media sosial IG, FB, Twitter @koprockofficial.  Atau boleh hubungi Ibu Meong dulu via wa: 08515-781-9338. 


Terimakasih sudah berkunjung ke blog Ibu Meong 😻





Kopilatory, Cafe Dengan Nuansa Laboratorium

Kopi menjadi salah satu jenis minuman yang akrab dengan masyarakat kita. Dari kalangan kelas bawah hingga atas. Dari usia bocah hingga kakek-nenek. Dari kalangan berpendidikan hingga masyarakat awam. Bukan hanya saat kopi booming sebagai minuman ‘gaul’ dengan aneka varian barunya. Pendek kata, kopi telah menjadi bagian dari hampir keseluruhan masyarakat kita. Namun, masing-masing orang memiliki sentuhan khusus pada tiap kopi yang dinikmatinya. Sentuhan untuk menciptakan cita rasa personal inilah yang coba dihadirkan oleh Kopilatory, kedai kopi di Jalan Cihampelas 124, Bandung.

Kopilatory sudah hadir di Kota Bandung sejak tahun lalu. Terkendala masa pandemi dengan segala pembatasannya, beberapa program utama cafe dengan konsep laboratorium ini belum dijalankan. Tahun ini, diagendakan sudah bisa menerima pengunjung yang ingin terlibat dalam pembelajaran meracik kopi; meracik dengan cita rasa personal maupun aneka varian kopi yang lagi ngehits

Btw cita rasa personal kopi saya gimana ya? Nah kan, perlu dipertanyakan hehe..

Baca juga: Hidup Sehat Cegah Diabetes

Saya sendiri mengenal kopi sejak bocah, entah umur berapa. Karena menjadi kebiasaan orang tua memberikan kopi ke bocah-bocahnya untuk menghindari kejang demam karena panas tinggi atau yang dikenal dengan step. Yang masih teringat sih adalah ketika sudah usia lima tahunan, sering ikut minum kopi bareng bapak. Bapak akan menuangkan kopi ke lepek atau pisin, ditiup agar dingin, lalu srupuuuuut… Enaaaaak 😋

Kopi di masa kecil juga punya makna 'tugas'. Saya terhitung sering kebagian tugas ini. Tugas pertama membeli biji kopi di warung. Setelah dicuci bersih dan dikeringkan, kopi disangrai bersama beras yang telah direndam sejam sebelumnya. Saya tak tahu persis teknik sangrai ala ibu. Yang pasti disangrai di kuali gerabah, di atas perapian kayu. Tak cukup memperhatikan. Paling, kalau tuntas penyangraian, campuran kopi-beras sudah didinginkan, saya kembali kembali dipanggil untuk melakukan tugas kedua: pergi ke penggilingan di ujung pasar. Begitulah, ada potongan kenangan tentang kopi di masa kecil dan remaja. 

Usia remaja, ngopi masih ikut-ikutan saja, ngopi bareng bapak. Barulah saat kuliah sambil mulai kerja, kopi menjadi kebutuhan. Bahkan sedikit terobsesi haha. Tahun 1996, saya mulai nyemplung di dunia radio. Masih berstatus mahasiswa. Setiap hari bisa menghabiskan 6 cangkir. Tak bisa tak ngopi. Masa itu masih kopi dengan sedikit gula. Lalu mulai mengenal kopi dengan aneka sumber dan pengolahannya. Dan mulai memilih kopi tanpa gula. Apakah dengan merunut pengalaman ini lantas bisa menyimpulkan cita rasa kopi masing-masing kita? Saya pribadi sih, kalau dirunut-runut dari pengalaman, menyukai kopi dengan asam yang masih menempel di lidah saat menyesapnya. Nah, lewat aneka ujicoba sendiri di Kopilatory, nantinya pengunjung dapat dikuatkan dengan cita rasa kopi yang diinginkan atau paling disukai.

Yang perlu kita kenali dari kopi adalah bahwa proses saat memanen, mengolah, hingga menyajikan sangat menentukan cita rasa kopi. Proses untuk mendapatkan karakteristik yang pas bukan hal yang instan. Okke Gania, fotografer, pegiat vespa, dan penggila kopi yang menjadi tim riset dan pengembangan di Kopilatory mencontohkan tentang pericarp. Apa itu pericarp?

“Rasa pada kopi sebenarnya didapat dari lapisan pericarp, saat lapisan ini dibersihkan. Kopi itu memiliki dua struktur, kulit daging terluar yang disebut pericarp, dan biji kopi. Kenapa pericarp mempengaruhi rasa pada kopi? Karena dia memiliki beberapa lapisan, seperti kulit, daging kulit, dan layer getah. Di layer inilah terdapat gula alami dan semacam kandungan alkohol. Lapisan berikutnya adalah perkamen. Tak hanya bahan dasarnya yang mempengaruhi rasa kopi nantinya. Proses pengolahannya pun pastinya mempengaruhi rasa dan prosesnya bermacam-macam.”

Tentang prosesnya sendiri, menurut Okke, terdiri dari natural process atau dikenal juga dry process. Proses ini menghasilkan profil rasa buah-buahan seperti strawberry dan buah-buahan tropis pada umumnya, dengan tingkat keasaman rendah. Lalu ada washed process atau wet process dengan rasa light namun sesungguhnya memiliki kadar asam yang lebih tinggi. Berkutnya ada hybrid process, honey atau miel process. Pada proses ini yang dilakukan adalah semi-washed process, yang pada umumnya menghasilkan rasa yang manis, body lebih penuh, tingkat keasaman rendah, dan yang unik. Rasanya dapat dibilang beragam. Pengetahuan-pengetahuan seperti ini juga bisa didapatkan sambil ngopi di Kopilatory. 

Selain nuansa laboratorium, suasana Kopilatory dibuat cozzy dengan perangkat serba kayu dan dinding berwarna gelap. Pada coffee bar tersaji perangkat pengolah kopi dan aneka roasted bean yang berada dalam gelas bening. Secara keseluruhan kopi yang ditampilkan adalah kopi Jawa Barat. Ada 13 kopi Jawa Barat yang nantinya akan dijadikan bahan utama racikan kopi di cafe ini, di antaranya kopi Gunung Puntang, Manglayang, Halu, Tilu, Wayang, Malabar, Patuha, Burangrang, Gunung Papandayan, Lembang, Parongpong, Arjasari, dan Ibun. Tak tertutup kemungkinan akan ada penambahan jumlah, mengingat perkebunan kopi Jawa Barat tengah menggeliat. Pemilihan kopi Jawa Barat, selain pertimbangan distribusi, hal lebih mendasarnya adalah upaya Kopilatory untuk mendukung perkembangan kopi Jawa Barat. 

Baca juga: Laki-laki dan Andil Pentingnya Dalam Penghapusan Kekerasan Berbasis Gender

Mau berbagi kenangan tentang ngopi di masa kecil, mari kita obrolkan di Kopilatory. Atau mau coba-coba meracik kopi cita rasa sendiri, atau mau belajar menjadi barista? Boleeeeeh.. tapi untuk yang dua terakhir ini, sabar dulu ya. Catat saja dulu untuk jadi agenda. Tak akan lama lagi.

Kopilatory

Jl. Cihampelas 124

IG @kopilatory



Honest Thief, Saat Bintang Gaek Masih Asik Beraksi

Di masa pandemi ini, kebutuhan akan hiburan tetap kudu dipenuhi dong ya. Buat saya, cukup dengan nonton film dan nongkrong tipis-tipis bareng beberapa kawan. Berhubung tidak punya pesawat televisi, pun tak berlangganan tontonan berbayar, bioskop tetap jadi pilihan. Ditambah dengan kebutuhan berjumpa secara fisik dengan kawan -dan menusia lain, secara ibu meong sepanjang hari hanya berjibaku dengan anak-anak bulu. Nah pilihan bulan ini adalah nonton filmnya Liam Neeson, Honest Thief. Istilah 'aktor gaek' perlu disebutkan saat mengeja nama sosok yang satu ini. Kebetulan sebelumnya sempat ada obrolan dengan beberapa kawan dengan topik: mengapa kita tak bisa memproduksi film bagus yang memakai aktor-aktor senior? 


Baca juga: Film Mafia Yang Perlu Dijadikan Tontonan

Neeson tahun ini sudah 68 tahun lho. Dan permainannya masih oke. Untuk filmnya sendiri, Honest Thief ini, standar saja. Bahkan bisa dibilang sangat biasa. Konfliknya tak tertampilkan secara detail dan menyentuh berbagai lini emosi. IMDB hanya memberinya angka 6. Namun sungguh, tak bisa mengabaikan pesona Neeson yang sepertinya juga masih dijadikan magnet untuk menarik minat penonton agar film ini laku di pasaran.  

Honest Thief sendiri merupakan film aksi thriller yang rilis tahun lalu. Berkisah tentang Tom Dolan (Liam Neeson), mantan pencuri brankas bank. Cara kerjanya yang rapi, membuat Dolan tak tersentuh hukum. Bahkan sama sekali tak terlacak aparat penegak hukum. Tapi ia mendapat sebutan 'In Out Bandit' dari aparat tanpa mereka memiliki catatan jejak apa pun, termasuk profil sang bandit. Bersih dan aman, itulah yang dilakukan Dolan dalam 9 tahun beraksi dan 12 kali peristiwa pencurian. Hingga saat ia menyerah, menjadikan Annie Wilkins (Kate Walsh) sebagai pertimbangan 'pertobatannya' dan memilih berhenti dari kegiatannya mencuri uang di bank. 


Baca juga: The Swordsman, Adu Akting Joe Taslim dan Jang Hyuk

Konon demikianlah cinta, yang mampu mengubah hati manusia. Itu pula tampaknya yang dialami Dolan saat berjumpa dengan Wilkins. Ia ingin membuka lembaran hidup baru bersama perempuan yang dicintainya, sekaligus membebaskan diri dari borok masa lalu dengan menyerahkan diri ke FBI. Sayangnya, alih-alih mendapatkan tanggapan yang antusias dari aparat -mengingat ia pernah jadi most wanted person, yang terjadi adalah pengakuan yang disangsikan kebenarannya. Agen FBI bernama Sam Baker (Robert Patrick) menyebutkan pengalamannya mendapatkan pengakuan serupa. Mereka yang mengaku-aku sebagai In Out Bandit. Tetap, sebagai bagian dari standar operasional, Baker mengirim dua koleganya, John Nivens (Jai Courtney) dan Ramon Hall (Anthony Ramos) untuk menindaklanjuti penyerahan diri Tom. Yang terjadi kemudian, bukannya memproses upaya penyerahan diri Tom, mereka malah berniat merampok demi melihat tumpukan uang bernilai jutaan dolar. Dari sinilah aksi dimulai. Film yang semula tampak seperti film drama percintaan, lalu bergeser ke film aksi, seperti sebagian besar film Neeson. 

Baca juga: Rest In Peace, Sean Connery

Seperti saya bilang di awal, ini film sederhana. Jadi tak perlu berharap banyak selain menjadikannya sebagai film hiburan. Bukan berarti jelek ya. Akting Neeson tetap bagus, dan banyak dialog menarik dan menggelitik setidaknya, yang membuat kita masih bisa menikmati ini film. So, selamat menonton. Jangan lupa mematuhi protokol kesehatan 🥰 







Nunuk Nuraini dan Kenangan Pada Indomie

Mie instan merek Indomie, siapa sih tak kenal? Biarpun ada yang menghindari konsumsi makanan instan, saya hampir yakin, paling tidak sekali seumur hidup pernah mencicipi Indomie dalam varian rasa apa pun. Atau kalaupun memang betul-betul tak pernah konsumsi, pasti pernah melihat penampakannya di aneka media. Baik berbentuk iklan, pengalaman orang lain, maupun meme-meme lucu. Pendek kata, dapat dikatakan: semua orang kenal Indomie. Ya, semua orang kenal Indomie, tapi tak semua tahu siapa sosok di balik bumbu mie instan yang melegenda. Sosok tersebut, Nunuk Nuraini dikabarkan berpulang pada Rabu lalu (27/01/2021)

Sungguh selayaknya, kalau ibu Nunuk mendapatkan apresiasi. Ya, tentu saja sebagai perusahaan Indofood punya peran dalam memproduksi dan mendistribusikannya ke berbagai pelosok tanah air bahkan mancanegara. Hal yang wajar bukan sebagai perusahaan yang mengambil keuntungan? Tapi mengapa orang demikian terikat dengan rasa yang diperkenalkan oleh Indomie, tak lain orang yang pantas disebut adalah Ibu Nunuk. 

Baca juga: Sosok Pemeran Mak Lampir Berpulang

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil dalam postingan instagramnya @ridwankamil pernah berujar: 

"Coba anak-anak mahasiswa, ucapkan terima kasih dan doa yang baik untuk ibu Nunuk, sosok pahlawan bagi anak-anak kos, terutama jika akhir bulan. Hidup UNPAD." 

Lalu saya pun ikut bangga, karena satu almamater dengan almarhumah 😍.

Nunuk Nuraini memang alumni UNPAD. Persisnya dari Jurusan Teknologi Pangan. Hampir 30 tahun ia mengabdikan diri sebagai Flavor Development Manager Indofood. Dalam kurun waktu tersebut ia sibuk di 'dapur' Indofood untuk meracik bumbu. Nunuk banyak memanfaatkan bumbu lokal dan tradisional, seperti bawang merah, bawang putih, dan aneka rempah. Ada pula ia tambahkan santan untuk memunculkan citarasa tertentu. Untuk ujicoba, racikan bumbu dibuat dalam jumlah sedikit. Setelah melewati percobaan berkali-kali hingga ditemukan rasa yang khas, barulah varian bumbu baru diproduksi massal dan dilempar ke pasaran. 

Baca juga: Sugeng Tindak, Pak Jakob Oetama

Mengapa tak banyak orang yang mengenal nama Nunuk? Sepertinya Ibu Nunuk tak suka tampil, atau sistem di tempat kerja memang tak memungkinkannya tampil. Namanya baru muncul di media saat seorang jurnalis bernama Syahar Banu mewawancarainya. Saat acara peluncuran varian baru Indomie, alih-alih mencari pejabat dan pemimpin perusahaan, Syahar malah mlipir dan mencari tahu sosok di balik bumbu Indomie. Salut dah buat Kang Syahar. Sesungguhnya demikianlah jurnalis yang ketje, mengabarkan sesuatu yang belum diketahui umum, mencari tahu yang unik-unik dan bukan hal standar yang terungkap lewat konferensi pers. Tapi ya tetap saja, nama Bu Nunuk hanya diingat tak banyak gelintir orang. Tetap, Indomie-nya yang berjaya. 

Seperti yang telah banyak kita tahu, Indomie telah melintasi batas-batas kota dan negara dan benua. Produk mie instan dari Indonesia ini telah dipasarkan di 80 negara di seluruh dunia seperti AS, Kanada, Australia, Selandia Baru, di negara-negara Eropa, Afrika, dan Timur Tengah, dan tentu saja di seluruh Asia. Pada November 201, harian Amerika Serikat, Los Angles Times menobatkan Indomie di posisi pertama dalam 25 daftar ramen instan terbaik. Varian rasa yang dimenangkannya adalah Indomie goreng rasa ayam panggang. Hal yang sempat menuai komentar kolumnis makanan, Lucas Kwan Peterson. Disebutkannya memasukkan Indomie ke dalam daftar tersebut adalah tidak tepat, karena harusnya masuknya ke kategori mie instan, bukan ramen instan 😂

Baca juga: Fat Oppa Kopo, Tempat Nongkrong Baru Penggemar Menu Korea

Buat saya sendiri, mie instan Indomie adalah kawan baik sepanjang masa. Bukan hanya saat menjadi anak kost, seperti kata Kang Emil. Tapi bicara soal saat kost, jadi ingin mengenang.

Sebagai mahasiswa dengan keuangan pas-pasan, pilihan dan frekuensi makan saya sangat terbatas. Buat yang kuliahnya sepantaran saya, angkatan 1993, tahu kan nilai uang seribu? Nah jatah makan saya itu seribu rupiah sehari. Untunglah memang dari sononya, pola konsumsi makananan saya tak banyak, dan tak neko-neko. Jadi tak masalah juga menjalani hidup prihatin. Masa itu masih bisa mendapatkan nasi rames 500 perak. Kalau porsi orang lain, dengan menu yang sama kisaran 750-1.000 rupiah. Untuk variasi, ya itu tadi..mie instan! Kalau tak sedang buru-buru, bisa masak sendiri di tempat kost. Kalu sedang tergesa atau ingin nuansa yang berbeda, biasanya mlipir ke warung Indomie-burjo. Ada tambahan telor dan sayur, 700 perak seporsi. 

Sampai sekarang, stok Indomie selalu tersedia di dapur. Tapi saya sih penggemar rasa standar, cukup dua varian saja: mie kuah ayam bawah dan mie goreng yang original. Paling dipantes-pantesin dengan pernik tambahan. Bagaimana dengan kalian?

Ah, jadi mengenang-ngenang yaaa.. Selamat jalan, Ibu Nunuk. Terimakasih untuk bumbu ciptaanmu. Selamat beristirahat dalam keabadian.


Farida Pasha, Mak Lampir, dan Misteri Gunung Merapi

Yang pernah melewati tahun 80-90an, yang pernah menggandrungi sandiwara radio, sudah pasti hafal betul dengan sosok Mak Lampir. Nama ini adalah salah satu tokoh dalam sandiwara radio karya Asmadi Sjafar bertajuk Misteri Dari Gunung Merapi. Saking terkenalnya nama itu, hingga nama tokoh-tokoh lain seolah tenggelam. Bahkan judul sandiwaranya pun, tak cukup dihafal. Kisah siluman ini makin berjaya setelah dituangkan dalam cerita layar lebar dengan pemeran Farida Pasha, nama yang kemudian melekat betul pada tokoh tersebut. Terlebih dengan dijadikannya cerita ini sebagai sinetron di televisi. Dan kabar duka kemarin (16/01/2021) menyebutkan sang pemeran Mak Lampir itu berpulang, kembali kepada Sang Khalik.

Baca juga: Jakob Oetama Berpulang

Saya sendiri rasanya terlalu takut untuk mengikuti kisah ini. Cuma menyimak sepotong-sepotong. Kakak yang dulu lebih antusias. Saya lebih memilih kisah kepahlawanan dan cerita kerajaan daripada kisah horror. 

Misteri Gunung Merapi berkisah tentang peperangan antara kebaikan dan kebatilan, dengan tokoh utama Sembara dan Mak Lampir sebagai sosok jahatnya. Dikisahkan, Mak Lampir dikurung dalam sebuah peti mati dengan tulisan ayat Alquran di atasnya. Tulisan itu dibuat oleh utusan Sunan Kudus, Kyai Angeng Prayogo. Ada perintah langsung dari penguasa saat itu, Raden Patah untuk memusnahkan ajaran sesat yang disebarkan Mak Lampir.

Baca juga: The Swordsman, Adu Akting Joe Taslim dan Jang Hyuk

Mak Lampir sendiri digambarkan sebagai sosok menyeramkan berambut putih panjang gimbal, dilengkapi tongkat untuk menopang tubuhnya yang sudah renta. Ia memiliki kemampuan meramal dan kedigdayaan lain yang dimanfaatkannya di dunia hitam. Hingga suatu kali terjadilah pertarungan antara Mak Lampir dan Kyai Ageng Prayogo.  Mak Lampir yang bertarung menggunakan cambuk saktinya yang terkenal. Namun kalah dan berhasil dikurung Kyai Ageng Prayogo. Sebelum mati, ia bersumpah bakal membalaskan kesumatnya kepada keturunan Kyai Ageng Prayogo. Dan keinginan balas dendam tersebut menemukan jalannya saat dua pemburu menemukan peti Mak Lampir, 130 tahun kemudian. Salah seorang dari mereka tanpa sengaja meneteskan darah segar ke mulut Mak Lampir, yang menjadi pintu pembuka kehidupannya kembali. Maka sosok seram ini pun memulai aksinya dengan mencari keturunan Kyai Ageng. 

Baca juga: Mengenang Karya Yopie Latul 

Sebetulnya, saat sandiwara radio masih tayang -dengan tokoh Mak Lampir disuarakan oleh Asriati, kisah tersebut sudah diangkat ke layar lebar. Tak tanggung-tanggung, tiga film dalam kurun 2 tahun. Misteri Dari Gunung Merapi: Penghuni Rumah Tua, tayang pada 1989, dan Misteri Dari Gunung Merapi II: Titisan Roh Nyai Kembang dan Misteri Dari Gunung Merapi III: Perempuan Berambut Api tayang pada 1990. Namun popularitas kisah ini justru moncer saat tayang sebagai sinetron di Indonesia pada kurun 1999-2005. Farida Pasha yang telah memerankan tokoh Mak Lampir di film layar lebar, dipilih kembali untuk melakonkan peran yang sama, bersama sejumlah bintang sinetron yang berjaya masa itu seperti Marcelino, Yuni Sulistyawati, Rizal Djibran, Wulan Guritno, Monica Oemardi, dll.

Farida Pasha mulai dikenal saat membintangi Guna-Guna Istri Muda dengan pemeran utama Rina Hasyim dan Roy Marten. Perempuan berdarah Pakistan-Sunda kelahiran Tasikmalaya, 68 tahun lalu ini memiliki putri dan cucu yang juga nyemplung ke dunia media dan hiburan, Gina Sonia dan Ify Alyssa. Keduanya menyampaikan ungkapan duka mereka kepada ibu dan nenek lewat media sosial. 

Baca juga: Musisi Keturunan Rangkas, Eddie Van Halen Tutup Usia

Gina juga menyebutkan, awalnya Farida Pasha didiagnosis vertigo dan gangguan lambung. Pada pemeriksaan berikutnya, diketahui Farida Pasha menderita pneumonia dan terpapar COVID-19. 


Selamat jalan, Farida Pasha…