Featured Slider

Tenun Sulam Jelujur Pesawaran, Bangkit dan Mendunia

Khasanah wastra di tanah air senantiasa hangat oleh munculnya produk-produk baru. Baik hasil karsa generasi terbaru maupun warisan leluhur yang baru menemukan momentumnya di masa kini. Seperti yang terjadi pada Tenun Sulam Jelujur Pesawaran, salah satu kain tradisional khas Lampung. Baru tahu? Sama! Saat diajak bicara soal tenun Lampung, yang terlintas adalah Tapis. Ternyata, ada wastra lain yang usianya lebih tua dan kini tengah bangkit dan berbenah, untuk bisa dikenal khalayak lebih luas, baik skala nasional maupun dunia. 


Baca juga:

Keberadaan Sulam Jelujur diketahui dalam sebuah kunjungan tim Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Pesawaran ke Desa Sungai Langka, Kecamatan Gedongtataan. Tim Dekranasda mendapati taplak dengan motif unik  yang tak lain adalah kain dengan motif yang dibuat dengan metode sulam jelujur. Taplak buatan warga yang sekaligus pelaku usaha kecil menengah (UKM) itu terlihat unik dan mempesona. Sebuah potensi yang belum tergali dengan baik. 

Kabupaten Pesawaran merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Lampung, yang terhitung muda. Awalnya, Pesawaran adalah bagian dari Kabupaten Lampung Selatan. Resmi sebagai kabupaten sendiri pada 2 November 2007.

Pesawaran dan Muasal Sulam Jelujur

Tenun Sulam Jelujur Pesawaran baru diluncurkan pada 25 Oktober 2021. Namun sejarah mencatat, sulam jelujur telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Lampung sejak tahun 1905, seiring dengan kolonisasi dari Jawa menuju ke ujung tepi Pulau Sumatra ini.

Pesawaran merupakan lokasi transmigrasi pertama yang dipilih Pemerintah Hindia Belanda. Gedong Tataan, kawasan 27 kilometer dari Telok Betong ini dipilih karena tanahnya yang subur dengan aliran sungai yang sangat mendukung. Pada 1905 kolonisasi ribuan warga Kedu di Pulau Jawa bergerak menuju Gedong Tataan, langsung dipimpin Resideng H.G. Heyting. 

Selain mengembangkan kawasan pertanian, sebagian warga, terutama perempuan menuturkan kisah transmigrasi dalam wujud sulaman. 

Baca juga: 


Makna di Balik Motif Sulam

Tenun Sulam Jelujur Pesawaran dibuat dengan teknik jelujur tangan. Tanpa dialasi pola terlebih dahulu, benang langsung dijahit di atas bahan kain dasar tenun yang terbuat dari bahan benang. Tangan-tangan terampil para pengrajin dengan luwes mengikatkan benang pada alat bantu jarum tangan lalu memadukannya di kain tenun dalam motif-motif yang khas. 

Selain menunjukkan ciri khas kekayaan khasanah Lampung, Sulam Jelujur Pesawaran secara khusus menampilkan makna filosofis dan kisah proses transmigrasi di masa lalu. Sebuah motif dimaknai sebagai pengingat dalam mencapai kesempurnaan tingkah laku dan tutur kata. Motif yang lain bicara tentang adat istiadat yang berlaku, perilaku sopan, lemah lembut, yang dapat menyenangkan orang lain.

Ada nuansa religi yang juga dapat ditemukan dalam motif sulam jelujur. Motif yang mengingatkan akan ketaatan terhadap jalan Tuhan. Pengingat agar senantiasa menyucikan hati sebelum memulai segala pekerjaan juga dituangkan dalam motif sulam jelujur ini. 

Proses Pembuatan Tenun Sulam Jelujur Pesawaran

Untuk mendapatkan selembar kain tenun berhias sulam jelujur khas Pesawaran, tak mudah. Dibutuhkan kesabaran, kejelian, dan tentu saja cita rasa seni yang memadai. 

1. Pemintalan, yakni proses memintal kapas hingga menjadi bentuk benang. 

2. Penggulungan adalah proses merapikan helaian benang hasil dari proses pemintalan dalam bentuk gulungan.

3. Pencelupan. Pada proses ini, benang yang sudah digulung dicelupkan ke dalam cairan pewarna. Dalam hal ini tenun Pesawaran menggunakan pewarna dari bahan alam. Setelah pencelupan, benang diangin-angin hingga kering. 

4. Penenunan. Proses tenun dilakukan setelah pemilahan benang sesuai dengan warna yang direncanakan. Pembuatan kain ini menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Rapikan hasil tenunan. 

5. Menyulam jelujur. Sulam jelujur khas Pesawaran tidak menggunakan pola. Benang langsung diaplikasikan ke atas kain tenun sesuai dengan motif yang diinginkan.

6. Penyelesaian. Tenun yang sudah disulam, digilas untuk merapikan dan mengukuhkan sulaman. Jika dibutuhkan, dijahit pada bagian pinggirnya. 

Itulah proses pembuatan tenun sulam jelujur yang membedakan tenun khas Lampung ini dengan tenun lainnya di berbagai daerah di tanah air.  Menyoal tenun ini so pasti menjadi tema menarik bagi lifestyle blogger. Di Sumatra saja, selain Lampung, ada Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Sumatra Selatan yang memiliki kain khas, lengkap dengan wisata menariknya.

Baca juga:


Dari Sekadar Pajangan ke Aneka Seni Kriya

Awalnya, sulam jelujur diaplikasikan ke atas kain sebagai pajangan untuk mempercantik ruangan. Seiring perkembangan zaman, kreativitas, serta adanya peluang bidang ekonomi kreatif, sulam jelujur pun mewujud dalam aneka bentuk seni kriya. 

Dalam beberapa tahun terakhir Tenun Sulam Jelujur Pesawaran telah telah merupa dalam berbagai produk fashion, interior, aksesoris, dan produk unggulan lainnya. Tak hanya di wilayah lokal, namun juga nasional, bahkan internasional.

Tenun Sulam Jelujur Pesawaran di Masa Depan 

Pada 2018 Tenun Sulam Jelujur Pesawaran  dipajang di Station Central Metrohal Nederlands dan Museum Textile Amsterdam. Kerjasama para seniman dengan dan Pemerintahan Negara Nederlands menjadikan produk kriya andalan negeri Andan Jejama ini dilirik pecinta wastra dunia. Setahun berikutnya, 2019, Sulam Jelujur mendapatkan kesempatan tampil dalam Fashion Show dan Pameran di South Afrika Selatan. 

Pada September 2022 kesempatan kembali datang dari kedutaan dan para agen perjalanan di New York. Keindahan sulam jelujur unjuk diri dalam New York Indonesia Fashion Week

Seiring dengan Pesawaran sebagai kabupaten baru yang terus berbenah, para pengrajin yang bergiat, teknologi digital yang makin memudahkan, pelan tapi pasti, Tenun Sulam Jelujur dengan keunikan dan ciri khasnya tersendiri itu bakal menjadi kecintaan penyuka wastra dunia.

Nah, sekarang tinggal duduk manis dan menunggu undangan dari Lampung untuk berkunjung 😍

September, Lagu Apa yang Terhubung dengan Kisahmu?

September, bulan yang sering dilekatkan pada suasana hati tertentu. Dilekatkan pada nuansa percintaan. Maka, bersliweranlah lagu-lagu dengan tema September. Entah sejak kapan September memberikan arti tersendiri untuk suasana melankoli. Yang jelas, cukup banyak lagu bertema September yang bisa kita temukan. Setidaknya dibandingkan lagu dalam tema bulan yang lainnya. Lagu-lagu yang lantas menghubungkan kita pada kisah-kisah yang lalu.


Baca juga: Karya James F Sundakh yang Tak Lekang oleh Waktu

Di tanah air, setidaknya ada dua lagu yang cukup dikenal. September Ceria dan September Pagi. Eh, referensi saiyah jadul pisan, ya? Coba-coba, tolong sebutkan, lagu tema September terbaru adakah? 

Di belahan dunia lain, kita bisa sebut juga beberapa lagu dalam dekade yang berbeda. Masing-masing dalam nuansanya sendiri.

Kutuliskan beberapa referensiku, lagu-lagu yang pernah menemaniku di masa lalu dan menjadi bagian dari siaran. 


September Ceria


Di ujung kemarau panjang

yang gersang dan menyakitkan

kau datang menghantar

berjuta kesejukan


Kasih

kau beri udara untuk nafasku

kau beri warna

bagi kelabu jiwaku


Tatkala butiran hujan

mengusik impian semu

kau hadir di sini

di batas kerinduanku


Kasih

kau singkap tirai

kabut di hatiku

kau bawa harapan baru

untuk menyongsong

masa depan bersama


September ceria

september ceria

september ceria

september ceria milik kita bersama


Ketika rembulan tersenyum

di antara mega biru

Kutangkap sebersit

isyarat di matamu


Kasih

kau sibak sepi di sanubariku

kau bawa daku berlari

di dalam asmara

yang mendamba bahagia


Menyebut kata 'September' untuk lagu Indonesia, sudah dapat dipastikan jika lagu ini yang bakal muncul. 'September Ceria' milik Nama Vina Panduwinata. Lagu ini dirilis bersama album kedua Vina, Citra Pesona.

James F Sundakh, sang pencipta, mengatakan,"Seluruh dunia merasakan perubahan pada bulan September. Negara yang empat musim, biasanya bulan September masuk ke musim gugur. Kemudian yang di bagian selatan musim semi, dan negara tropis seperti kita biasanya masuk musim hujan." Maka tak aneh, jika memasuki musim penghujan yang syahdu, lagu ini bakal kerap kita nikmati. Baik dalam versi Vina maupun penyanyi lainnya.

Baca lengkapnya: September Ceria by Vina Panduwinata


September Song


Our love is as strong as a lion

Soft as the cuts on you lying

Times we got hot like an iron

You and I

Our hearts had never been broken

We were so innocent darling

Used to talk 'til the morning

You and I


We had that mixtape on every weekend

Had it repeating

Had it repeating


You were my September song

Summer lasted too long

Time moves so slowly

When you're only 15

You were my September song

Tell me where have you gone?

Do you remember me?

We were only 15


And I, I remember the chorus

They were singing it for us

You were my September song

Tell me where have you gone?

Do you remember me?

We were only 15


Sometimes I think that I see your

Face in the strangest of places

Down on the underground station passing by

I get a mad sense of danger

Feel like my heart couldn't take it

Cause if we met we'd be strangers

You and I

Still I play that mixtape every weekend

Got it repeating

Got it repeating


You were my September song

Summer lasted too long

Time moves so slowly

When you're only 15

You were my September song

Tell me where have you gone?

Do you remember me?

We were only 15


And I, I I remember the chorus

They were singing it for us

I hear that September song

That I'm singing along

Thinking about you and me

Oh, what a melody


And as the years go by

You will still be my, be my (September song)

You are my (September song)

You were my September song


Summer lasted too long

Time moves so slowly

When you're only 15

You were my September song

Tell me where have you gone?

Do you remember me?

We were only 15


And I, I remember the chorus

They were singing it for us

You were my September song

I remember the chorus

They were singing it for us


John Paul Cooper atau dikenal sebagai JP Cooper. Lagunya yang bertajuk 'September Song' menceritakan kisah percintaannya di masa remaja. Lucunya, kisah yang Cooper alami di usia kisaran 15 tahun tersebut demikian melekat dalam ingatan. 

Lagu yang rilis bersama album Under Grey Skies pada 2016 ini terbilang berjaya di tangga lagu. Berhasil bercokol hingga posisi ke-7.

Baca juga: Angka Unik pada September 2021


Try to Remember


Try to remember the kind of September

When life was slow and oh, so mellow

Try to remember the kind of September

When grass was green and grain was yellow

Try to remember the kind of September

When you were a tender and callow fellow

Try to remember and if you remember

Then follow, follow


Try to remember when life was so tender

That no one wept except the willow

Try to remember the kind of September

When love was an ember about to billow

Try to remember and if you remember

Then follow, follow


Deep in December, it's nice to remember

Although you know the snow will follow

Deep in December, it's nice to remember

The fire of September that made us mellow

Deep in December, our hearts should remember

And follow, follow, follow


Kenal lagu ini pertama kali saat awal nyemplung dunia radio. Radio segmen dewasa, dengan banyak program yang menyajikan lagu-lagu lama. 'Try to Remember' dari versinya The Brothers Four. 

Karya lama dari kolaborasi Tom Jones dan Harvey Schmidt yang khusus dibuat untuk komedi musikal The Fantasticks pada 1960. Saat itu dipanggungkan lewat suara Jerry Orbach. Versi ini sudah ditayangkan dalam ribuan kali pementasan. 

Versi populer yang dikenal berikutnyanya adalah saat dibawakan Gladys Knight and The Pips pada 1975. Sejumlah penyanyi lain kemudian membawakan dalam versi mereka. Selain The Brothers Four, ada Ed Ames, Roger Williams, dan Nana Mouskouri. Lagu ini juga dibuat dalam berbagai versi bahasa. 



Wake Me Up When September Ends

Summer has come and passed
The innocent can never last
Wake me up when September ends

Like my fathers come to pass
Seven years has gone so fast
Wake me up when September ends

Here comes the rain again
Falling from the stars
Drenched in my pain again
Becoming who we are

As my memory rests
But never forgets what I lost
Wake me up when September ends

Summer has come and passed
The innocent can never last
Wake me up when September ends

Ring out the bells again
Like we did when spring began
Wake me up when September ends

Here comes the rain again
Falling from the stars
Drenched in my pain again
Becoming who we are

As my memory rests
But never forgets what I lost
Wake me up when September ends

Summer has come and passed
The innocent can never last
Wake me up when September ends

Like my father's come to pass
Twenty years has gone so fast
Wake me up when September ends
Wake me up when September ends
Wake me up when September ends

Vokalis Green Day, Billie Joe Armstrong begit berduka saat ayahnya meninggal dunia, setelah cukup lama menderita kanker. Selepas pemakaman, ia mengurung diri di kamar. Menangis. Saat sang ibu mengetuk pintu, ia berujar, "Wake me up when September ends." Jawaban yang kelak dijadikannya judul lagu. Lagu wajib mereka yang berduka di bulan September. 

Ayah Billie meninggal dunia pada 1 September 1982. Wake Me Up When September Ends awalnya akan dimasukkan dalam album kompilasi Greenday, Shenanigans. Mereka membatalkannya, dan akhirnya rilis bersama 'American Idiot', 20 tahun setelah kepergian sang ayah. Namun, klip yang digarap Samuel Bayer tak menunjukkan kesedihan personal Billie, melainkan mencoba membuat refleksi atas peristiwa serangan 11 September. Mengapresiasi pekerjaannya sendiri, Bayer yang juga menggarap klip "Smells Like Teen Spirit"-nya Nirvana ini menyebut karyanya itu sebagai "hands down the greatest thing I've ever done." 



September Pagi

Basah kaca jendelaku
Di pagi yang sejuk ini
Setelah sekian lama kemarau mencekam
Kini tiba saatnya
Hujan pun segera kan datang ah?

Selintas wajahmu kasih
Membersit di sanubari
Setelah sekian lama kita melangkah
Dalam suka dan duka perjalanan cinta kita

Chorus :
September pagi ini
September kita
September pagi ini
Ingin ku mengucap terima kasih Tuhan
Atas segala nikmat yang tlah Kau beri

September pagi ini
September kita
September pagi ini
Memberi sejuta arti dalam hidup ini oh?
Setelah sekian lama kita melangkah
Dalam suka dan duka perjalanan cinta kita 

September Pagi rilis bersama album kedua Ruth Sahanaya yang bertajuk 'Tak Kuduga'. Penyanyi mungil ini berhasil menggebrak khasanah musik Indonesia bahkan negeri jiran, saat berhasil melahirkan album pertama. Album keduanya pun tak kalah sukses. Salah satu yang berjaya adalah lagu yang ia bawakan bersama Harvey Malaiholo tersebut. Sang pencipta, sebelumnya telah sukses dengan lagu bertema September yang dibawakan Vina Panduwinata, James F Sundakh.



September 

Do you remember the 21st night of September?
Love was changing the minds of pretenders
While chasing the clouds away

Our hearts were ringing
In the key that our souls were singing
As we danced in the night
Remember how the stars stole the night away

Hey hey hey
Ba de ya, say do you remember
Ba de ya, dancing in September
Ba de ya, never was a cloudy day

Ba duda, ba duda, ba duda, badu
Ba duda, badu, ba duda, badu
Ba duda, badu, ba duda

My thoughts are with you
Holding hands with your heart to see you
Only blue talk and love
Remember how we knew love was here to stay
Now December found the love that we shared in September
Only blue talk and love
Remember the true love we share today

Hey hey hey
Ba de ya, say do you remember
Ba de ya, dancing in September
Ba de ya, never was a cloudy day

There was a
Ba de ya, say do you remember
Ba de ya, dancing in September
Ba de ya, golden dreams were shinny days

The bell was ringing
Our souls were singing
Do you remember, never a cloudy day

There was a
Ba de ya, say do you remember
Ba de ya, dancing in September
Ba de ya, never was a cloudy day

There was a
Ba de ya, say do you remember
Ba de ya, dancing in September
Ba de ya, golden dreams were shinny days

Ba de ya de ya de ya
Ba de ya de ya de ya
Ba de ya de ya de ya de ya

Ba de ya de ya de ya
Ba de ya de ya de ya
Ba de ya de ya de ya de ya

Lagu yang menghangatkan, yang sering dimunculkan di tengah hingar pesta dan suasana gembira lainnya. Sang penulis lirik, Allee Willis, menyebut lagu ini sebagai 'Joyful Music.' Willis menulis lagu ini bersama Maurice White dan Al McKay dari Earth, Wind & Fire, namun sesungguhnya lagu ini karya pertama dia. 

'September' rilis bersama album the greates hits mereka, 'The Best of Earth, Wind & Fire, Vol. 1' yang mencapai sukses penjualan di tingkat dunia. 

Temukan aneka artikel musik di pecandumusik.com.

Demikianlah, lagu sering membawa kita pada kondisi dan suasana hati yang tak begitu baik. Mungkin bisa mengganti dengan lagu-lagu yang memberikan nuansa yang lebih menggembirakan. Atau berpindah aktivitas, misalnya olah raga, nonton, baca buku, baca blog kawan, mempercantik diri di salon, dan sebagainya. Disadari saja kalau kondisi diri sedang tak baik. It's okay not to be okay, kooook..

Nah, sudah teringatkah, lagu-lagu bertema September selain jajaran lagu di atas? Lagu mana yang terhubung dengan kisahmu? 





Tujuh Bangunan Bersejarah di Bandung

Memasuki September, aneka hal menarik seputar Bandung sudah pasti bakal bermunculan. Baik Bandung tempo dulu, maupun Bandung masa kini. Bandung, si Kota Kembang yang tak pernah habis dibicarakan. Sejarahnya, wilayahnya, keunikan ragam budayanya, sosok-sosoknya, dan tren yang sering berangkat kota ini. Pada jelang ulang tahun Bandung, aku mau coba tulis beberapa sisi dari kawasan yang kudiami sudah lebih dari setengah umurku ini. Kali ini catatan bangunan bersejarah di Kota Bandung.


Baca juga: 

Ngomong-ngomong, mengapa Bandung disebut Kota Kembang? Sebetulnya, tak ada yang tahu pasti. Karena sejarah juga tak mencatat detail soal itu.

Pada masa lalu tak banyak taman di Kota Bandung. Ada aneka bunga dijumpai di Taman Sari (Jubileum Park). Bunga-bunga itu menghiasi taman bersama lebiih dari 1000 jenis tanaman lain, baik pohon pelindung berupa tanaman keras dan pohon-pohon perdu. Taman Sari merupakan lahan hijau bergaya ‘Indisch Tropische Park’ dengan luas 5 Ha, memanjang menyusuri Lembah Cikapundung. Taman ini merupakan Hutan Tropis Mini yang pernah dimiliki Kota Bandung. Sebuah taman yang asri, namun tak lantas menjadikan Bandung layak menyandang gelar Kota Kembang.

Pada pertemuan Pengurus Besar Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula di Bandung muncul istilah dari salah satu peserta, Bandung sebagai De Bloem der Indische Bergsteden (bunganya kota pegunungan di Hindia Belanda). Namun istilah ‘bunga’ di sini diduga bukan dari makna bunga yang sesungguhnya namun sebagai pengganti istilah bagi nonie-noniek geulis Indo Belanda dari Onderneming Pasirmalang yang sengaja dihadirkan dan ‘dipersembahkan’ bagi para tamu. 

Kalau memang muasal istilah ‘Kota Kembang’ dari penyebutan terakhir itu, masih tepatkah mempertahankan julukan itu?


Gedung Merdeka

Bicara tentang Bandung tempo dulu tak akan lengkap kalau tak menyebut Societeit Concordia atau yang kemudian hari dikenal sebagai Gedung Merdeka.

Societeit Concordia dibangun di sudut Groote Postweg (sekarang Jl. Asia Afrika) dan Bragaweg (Jl. Braga) pada 29 Juni 1879. Pembangunan gedung ini sebagai salah yang dipersiapkan untuk kepindahan ibukota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung, selain berbagai fasilitas umum lain yang wajib dibangun seperti sekolah, stasiun, kantor pemerintahan, bank, pasar, tempat hiburan, dan infrastruktur kota. Societeit Concordia dibangun atas prakarsa para pengusaha Belanda, pemilik kebun teh, perwira, pembesar, dan orang-orang Belanda yang berdomisili di Bandung. Mereka berencana untuk menjadikan gedung ini sebagai tempat pertemuan yang baru. Sebelumnya, pertemuan mereka berlangsung di Warung De Vries yang berhadapan dengan gedung baru ini (sekarang menjadi kantor OCBC Niaga).

Baca juga: 

Bangunan ini diperbarui pada tahun 1921, dengan gaya arsitektur modern (Art Deco) karya CP Wolff Schoemaker. Gedung ini pun menjadi ajang pertemuan para orang kaya dan sosialita dari negeri Belanda tersebut. Sebuah gedung pertemuan 'super club' yang bisa dikatakan termewah, terlengkap, serta paling eksklusif dan modern di Nusantara.

Perombakan berikutnya dilakukan pada 1940 dengan gaya arsitektur International Style, dengan arsitek AF Aalbers. Ada perubahan mencolok dari gaya baru yang dibuat Aalbers. 

Pada masa pendudukan tentara Jepang (1942 – 1945), gedung ini sempat difungsikan sebagai pusat kebudayaan. Perombakan kembali dilakukan pada tahun 1955 untuk keperluan Konferensi Asia Afrika, hingga seperti yang kita bisa lihat saat ini. Di tahun yang sama Presiden Sukarno mengganti nama gedung menjadi Gedung Merdeka.


Gedung Sate

Dibutuhkan 6 juta gulden untuk membangunnya. Angka itu tersimbol pada enam buah ornamen sate bertusuk pada menara bangunan. Yup, Gedung Sate, salah satu gedung monumental di Bandung.

Gouvernements Bedrijven (GB). Itulah namanya pada masa Hindia Belanda. Gedung ini adalah rancangan sebuah tim yang terdiri dari arsitek Nederland, Ir. J Gerber, bersama Ir. Eh. De Roo dan Ir. G. Hendriks, serta pihak pemerintah Bandung yang diketuai Kol. Pur. VL Slors. Peletakan batu pertama dilakukan pada 27 Juli 1920, oleh puteri sulung Walikota Bandung, B Coops, Johanna Catharina Coops, mewakili Gubernur Jenderal di Batavia, JP Graaf van Limburg Stirum. Pembangunan GB konon melibatkan 2.000 pekerja, 150 orang diantaranya pemahat, atau ahli bongpay, pengukir batu nisan, dan pengukir kayu berkebangsaan Cina yang berasal dari Konghu atau Kanton, dibantu tukang batu, kuli aduk, dan peladen yang berasal dari penduduk Kampung Sekeloa, Kampung Coblong Dago, Kampung Gandok, dan Kampung Cibarengkok. Pembangunan GB tuntas pada September 1924, termasuk kantor pusat PTT (Pos, Telepon, dan Telegraf) dan Perpustakaan.

Berbagai aliran arsitektur dapat ditemukan pada GB. Gerber mengambil tema Moor Spanyol, Rennaisance Italia, sekaligus Asia, termasuk menara yang ala pura Bali. Fasade (tampak depan) Gedung Sate juga sangat diperhitungkan yakni mengikuti sumbu poros utara-selatan, dengan menghadap Gunung Tangkuban Parahu pada bagian utara.

GB atau Gedung Sate mampu bertahan hingga kini karena menggunakan bahan berkualitas, kepingan batu besar yang diambil langsung dari kawasan perbukitan batu di Bandung Timur (sekitar Arcamanik dan Gunung Manglayang). Sedangkan teknis konstruksi menggunakan cara konvensional yang profesional dengan memperhatikan standar teknik. 

Baca juga: 


Jaarbeurs

Inilah salah satu hasil karya CP Wolff Schomaker dan RLA Schomaker, arsitek dua bersaudara yang terkenal itu. Gedung utama Jaarbeurs.

Awalnya adalah Walikota Bandung Meneer B Coops dan Bandoeng Vooruit yang memprakarsai kegiatan ini: Jaarbeurs atau Annual Trade Fair, atau terjemahan bebasnya 'bursa dagang tahunan'. Tahun 1920 sampai 1924 Jaarbeurs menjadi objek wisata berupa pameran dagang tahunan yang biasa diselenggarakan sekitar bulan Juni-Juli. Dilaksanakan di area sebelah Selatan lapangan olah raga Nederland Indie Athletiek Unie-NIAU (sekarang Gelora Saparua) dengan bangunan-bangunan semi permanen. Suasana Jaarbeurs dikabarkan amat meriah. Tersedia panggung pertunjukan dan aneka stand berisi produk industri dan perkebunan dari Bandung. Kegiatan ini sekaligus menjadi promosi pariwisata Bandung saat itu. Pengunjung bukan hanya masyarakat Bandung, tapi juga wisatawan dan pengusaha dari daerah lain bahkan mancanegara. Hotel dan villa pun kebanjiran tamu.

Tahun 1925 gedung utama Jaarbeurs selesai dibangun. Gedung di Jalan Aceh ini bergaya art deco dengan tiga patung torso Atlas bugil di bagian atapnya dan tulisan Jaarbeurs di bagian bawah. Tak seperti gedung-gedung bersejarah di Bandung yang tidak terawat, bahkan sudah raib, Gedung Jaarbeurs hingga kini masih terawat dan masih dalam bentuk aslinya (sekarang Kologdam). Hanya, patung-patungnya pernah ditutup untuk waktu yang lama karena dianggap melanggar kesopanan. Namun kini sudah dibuka kembali.

Baca juga:


Masjid Agung

Masjid Agung Bandung mulai dibangun pada akhir tahun 1811. Pembangunan ini sejalan dengan Negorij Bandong yang baru dipindahkan dari Krapyak.

Awalnya bangunan hanya terbuat dari kayu dan bambu. Penambahan kayu yang lebih kokoh dilakukan pada tahun 1825. Perubahan besar baru dilakukan pada tahun 1850 oleh Bupati Wiranatakusumah IV (1846-1874). Masjid Agung sempat mengalami berbagai renovasi lagi di abad 20. Tahun 1905 muncul istilah Bale Nyuncung, dengan adanya atap bertumpang tiga dan berujung lancip khas masjid Nusantara. Setengah abad kemudian Presiden Soekarno memasang kubah bawang di atasnya, menggantikan atap ‘nyungcung’.

Dengan beberapa kali perubahan, kini tak ada bangunan asli yang tersisa dari Masjid Agung Bandung. Pada Juni 2003 Masjid Agung diresmikan dengan nama Masjid Raya Bandung, dengan bangunan bercorak Arab menggantikan bangunan lama yang khas Sunda.


Katedral Bandung

Pada 1878 Bandung telah menjadi ibu kota Karesidenan Priangan, namun belum memiliki rumah ibadah untuk umat Katolik. Pastor kemudian didatangkan dari Cirebon yang berada di bawah Vikariat Apostolik Batavia. Setelah ada imam, gedung gereja pun dibangun di Schoolweg yang kini menjadi Jalan Merdeka. Awalnya gereja hanya berukuran 8x21 meter persegi. 

Gereja yang diberi nama Santo Franciscus Regis ini diberkati oleh Mgr. W. Staal pada 16 Juni 1895.

Pada 1 April 1906, Bandung memperoleh status Gemeente dan berhak menyelenggarakan pengelolaan kota sendiri. Pembenahan di antaranya fasilitas publik termasuk gereja. Setelah terpisah dari Distrik Cirebon, Bandung ditetapkan sebagai stasi baru di Jawa Barat. 

Seiring pertambahan jumlah umat, Gereja St. Franciscus Regis akhirnya diperluas. Desain gereja baru ini digarap oleh arsitek terkenal Belanda, C.P. Wolff Schoemaker. Pembangungan tuntas, yang lantas diberkati oleh Mgr. Luypen pada 19 Februari 1922, dan dinamai Santo Petrus. Sementara gereja dan pastoran lama, kini menjadi bagian dari bangunan Bank Indonesia.

Demikianlah, gereja yang berlokasi di Jalan Merdeka ini telah menjadi saksi perkembangan umat Katolik di Keuskupan Bandung.

Baca juga: 


Penjara Banceuy

Menyebut penjara Banceuy orang lantas akan teringat Bung Karno. Pada 29 Desember 1929, Soekarno yang saat itu tercatat sebagai aktivis dan penggiat Partai Nasional Indonesia (PNI) ditangkap dan dijebloskan ke Penjara Banceuy.

Penjara Banceuy dibangun oleh pemerintah Belanda pada tahun 1877, di Bantjeujweg. Awalnya penjara ini diperuntukkan bagi tahanan politik tingkat rendah dan kriminal. Tahanan politik terletak di lantai atas, sedangkan tahanan rakyat jelata di lantai bawah. Soekarno bersama Maskoen, Soepriadinata, dan Gatot Mangkoepraja mendiami lantai satu atas Penjara Banceuy selama 8 bulan. Di dalam sel berukuran 1,5 x 2,5 meter inilah Soekarno menyusun pledoi yang sangat terkenal, ‘Indonesia Menggugat’, yang dibacakan di sidang pengadilan di Gedung Landraad (kini bernama Gedung Indonesia Menggugat).

Pada tahun 1983, bangunan Penjara Banceuy dirobohkan. Kini lokasi itu menjadi deretan pertokoan bernama Banceuy Permai. Penjara Banceuy sendiri dipindahkan ke Jalan Soekarno-Hatta.


Pasar Baru

Pasar Baru merupakan pasar tertua di Kota Bandung yang masih berdiri. Mengapa disebut ‘baru’? Karena pasar ini memang baru dibangun sebagai pengganti pasar lama di daerah Ciguriang (sekarang Jalan Kepatihan) yang terbakar akibat kerusuhan Munada pada 1842.

Alkisah, adalah Munada, seorang keturunan Cina-Jepang yang mendapatkan kepercayaan dari Asisten Residen saat itu, Nagel. Munada dipercaya untuk pengadaan alat transportasi kereta angkutan. Munada menyelewengkan uang kepercayaan dari Nagel untuk berfoya-foya hingga habis. Beruntung Nagel masih berbaik hati. Pada kesempatan kedua, Nagel memberi kepercayaan Munada untuk menjual enam pasang kerbau miliknya. Tak belajar dari kesalahan, Munada kembali menyalahgunakan kepercayaan tersebut. Bukannya memberikan uang hasil penjualan kerbau, Munada kembali menghabiskannya. Kesabaran Nagel habis. Munada pun ditangkap, ditahan, dan disiksa. Munada menaruh dendam. Saat ada kesempatan dan dengan bantuan beberapa orang, termasuk Rd. Naranata, mantan jaksa Kabupaten Bandung yang telah dipecat Wiranatakusumah III dan Nagel, ia membakar Pasar Ciguriang. Rata dengan tanah. Ia juga menyerang Asisten Residen Nagel dengan golok hingga terluka parah dan meninggal keesokan harinya.

Baca juga:

Para pedagang yang tercerai berai melakukan aktivitas perdagangan di Pangeran Sumedangweg (sekarang Jalan Otto Iskandardinata). Pada tahun 1884 mereka ditampung di sisi barat kawasan Pecinan, yang kemudian hari dikenal sebagai kawasan Pasar Baru. Lebih dari 20 tahun kemudian barulah mulai dibuat bangunan pasar. Jajaran pertokoan dibangun di bagian paling depan, sedangkan di belakangnya diisi oleh los pedagang. Bangunan ini kemudian dikembangkan pada tahun 1926 dengan dibangunnya kompleks pasar permanen yang lebih luas dan teratur. Pasar Baru Bandung menjadi kebanggaan warga kota karena meraih predikat sebagai pasar terbersih dan paling teratur se-Hindia Belanda pada tahun 1935.

Tujuh dulu ya. Masih banyak sekali cerita bangunan bersejarah di Bandung. Akan kubagikan dalam beberapa catatan ke depan. Selalu menarik bukan bukan, bercerita soal kota atau kawasan kita tinggal? Sedikit mengulik, akan kita temukan hal-hal unik yang seringkali terabaikan karena rutinitas. Bukan hanya wilayah yang kita tinggali, buatku menarik juga mencatatkan pengalaman mata dan batin saat mengunjungi kota lain. Setidaknya aku pernah mengunjungi beberapa kota di lima pulau besar di Indonesia plus Bali. Untuk menguji ingatan, sepertinya perlu dituliskan ulang. Pokoknya, wilayah Bandung Raya, bolehlah tanya ke Ibu Meong. Kota lain, perlu belajar banyak. Kalau soal Balikpapan, bisa tanya ke penulis Balikpapan soal pernak-pernik bersama travel blogger Balikpapan

Sumber catatan ini dari buku seri Bandung milik Haryoto Koento dan materi Museum Kota Bandung. Almarhum yang semasa hidupnya dijuluki Kuncen Bandung ini menuliskan perihal bangunan bersejarah di Bandung dan aneka pernik lainnya dengan sangat menarik. 


Mukti-Mukti, Pemusik Balada Bandung Berpulang

Mukti-Mukti. Aku tahu namanya dan karya musiknya ketika seorang kawan mengajak datang ke konsernya di Pusat Kebudayaan Prancis/CCF (sekarang IIF) pada Oktober 1995. Perkenalanku secara pribadi dengannya bukan dari musik, bukan pula dari kegiatan yang jauh-jauh hari menghidupi dirinya-aktivis pertanian dan pertanahan, melainkan karena kedekatan kami dengan sebuah nama yang berpulang pada 1999 lalu. Dan, Mukti, telah menyusul si kawan, pada pekan lalu (15 Agustus 2022)


Baca juga: Berdamai dengan Inner Child

Nama lengkapnya Hidayat Mukti. Orang lebih mengenalnya dengan sebutan Mukti-Mukti. Pemusik balada Bandung yang berpulang pekan lalu, setelah penanganan medis berulangkali sejak beberapa tahun terakhir. Pada 3-5 Oktober 2021, ia jatuh dalan kondisi parah, yang menggerakkan rekan-rekan seniman dan musisi Bandung untuk menggelar "Konser Gotong Royong Baladna Mukti-Mukti" sebagai ungkapan doa bersama dan pengumpulan dana.

Sebelum rutin membuat konser pada tiap tahun, Mukti banyak bergiat di dunia pergerakan. Sedari namanya tercatat sebagai mahasiswa Sastra Prancis di Fakultas Sastra UNPAD, ia telah bergabung dengan mahasiswa-mahasiswa lain yang memiliki kepedulian terhadap isu-isu kerakyatan. Ia terjun dan terlibat langsung dalam pengorganisasian dan advokasi masyarakat. Ia yang telah menjadi saksi atas berbagai peristiwa sosial-politik-budaya, terutama kala rezim orde baru berkuasa tersebut lantas banyak menyuarakan sikapnya melalui lirik. Kemudian, Mukti-Mukti pun dikenal sebagai musisi balada dan perjuangan. 

Rekaman dan Konser

Lirik-lirik lagu dan puisi, baik miliknya sendiri maupun karya kawan-kawannya, dilagukan dengan gaya balada ala Mukti-Mukti itu direkam dalam bentuk kaset. Pada era analog, kaset tersebut beredar di antara lingkaran pertemanan, direkam secara manual, dan terus bergeser-bergerak. Hingga suatu kali Mukti mendapati rekaman lagunya dalam kaset yang sudah sama sekali berbeda dari kualitas awal yang dibuatnya. Sudah banyak noise. Dari situ, Mukti mulai berpikir untuk merekam dengan kualitas lebih baik dalam jumlah lebih banyak. Selain itu juga mulai muncul ide membuat konser yang lantas dinamai 'Konser Cinta Mukti-Mukti'.

Baca juga: Mengapa Ngeblog

Seperti halnya musik balada, musik Mukti-Mukti kental dengan petikan gitar, ditambah dengan harmonisasi alat musik akustik lainnya. Selain kekhasan pada liriknya soal perjuangan dan pemberontakan, tentu saja. Tak ayal lagi, para aktivis yang gemar menulis puisi menjadi 'langganan' Mukti untuk karyanya dilagukan. 

Ketika karya-karyanya kemudian diusung ke atas pentas dengan nama 'konser cinta' tak berarti lagu yang dibawakan melulu tentang cinta. Meski, diakui oleh para sahabat, lirik Mukti tak segarang saat masa penuh pemberontakan, namun nuansa perjuangannya masih terasa. Dan ungkapan cinta yang dimaksud adalah cinta secara universal. 

Buku Biografi yang Batal

Tahun lalu, kusampaikan ke Mukti, keinginan untuk menuliskan kisahnya dalam buku biografi. Ia menyetujui, sesungguhnya. Dengan gaya bicaranya yang khas, "Udah ada empat orang yang pernah ngajuin itu, tapi ditolak sama saya. Sok atuh sama kamu."

Saat itu, pagi hari aku menemuinya di rumahnya di kawasan Margacinta, Bandung. Dalam dua tahun terakhir, sejak kepindahannya dari kawasan Kiaracondong, ia sering berkirim pesan untuk berkunjung ke rumah, mengajak ikut workshop Teh Dian, istrinya, atau sekadar mengajak sarapan bersama. Begitu pun hari itu, dia menyuguhiku lontong kari langganannya, yang dianggapnya paling enak dari lontong kari mana pun yang pernah ia coba. Memang, urusan makanan, Mukti ini paling tahu-lah.

Baca juga: Doodle sebagai Sarana Melatih Imajinasi 

Tak lama dari perjumpaan itu, ia mendapat serangan. Gula darah melonjak drastis. Yang memaksanya untuk beristirahat beberapa hari di Rumah Sakit Borromeus. Sejak itu, kondisinya tak baik. Pemeriksaan rutin hingga opname. Akhirnya aku pun mengubur keinginan membuat buku biografi. Membayangkan sulit mencari waktu yang tepat untuk mengumpulkan data dan informasi terutama yang langsung dari dia sebagai sumber utama. Demikianlah, hingga akhirnya ia menyerah dengan sakit yang dideritanya. 

Baiklah, Mang Mukti. Biar aku, kami, mengenangmu lewat karya-karyamu dan aneka perjumpaan selama ini. Selamat berpulang, wilujeng angkat, Mukti-Mukti. Pileuleuyan.


Kunjungi blog Dian Restu buat yang menyukai konten kesehatan, finansial, lifestyle.

Berdamai dengan Inner Child

Sewaktu kecil, aku sering di-bully oleh teman-teman. Di-bully karena apa yang kubutuhkan selalu tersedia. Mereka meledekku sebagai orang kaya. Jadilah, sejak kecil tertanam dalam benakku, kalau aku tak ingin kaya, tak ingin berlebih, sekaligus tak mau mendapat bantuan dari orang lain.

Ini cerita dari seorang kawan. Sekadar menunjukkan, inner child itu nyata. Dan inner child bukan hanya menimpa kalangan broken home. Melainkan bisa siapa saja, dari keluarga harmonis dan berkecukupan sekalipun. 


Baca juga: Ngeblog, Media Curhat yang Efektif

Banyak kalangan yang mengabaikan soal inner child ini. Merasa diri baik-baik saja, atau sebaliknya, menganggap bahasan ini terlalu berlebihan aka lebay, atau tak mau peduli. Padahal, luka batin yang lantas mengendap dalam diri ini mempengaruhi tumbuh kembang seseorang, baik dari sisi kejiwaan maupun spiritual. 


Apa itu Inner Child?

Sebetulnya ada ketidaktepatan dalam penggunaan istilah. Orang sering menyebut 'inner child' saja sebagai pengganti istilah trauma masa kanak. Padahal, 'inner child' dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai anak kecil yang berada dalam diri kita. Sosok anak-anak dari diri kita itu melekat dan membentuk diri kita hingga dewasa. Keberadaan sosok kecil ini, seringkali mewujud dalam dorongan alam bawah sadar kita dalam membuat keputusan atau merespon persoalan.

Pengalaman hidup yang berbeda-beda menjadikan kondisi inner child tiap orang juga berbeda. Mereka yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang, kepedulian, kepercayaan, menghasilkan kepribadian yang dipenuhi rasa aman, nyaman, penuh percaya diri. Sebaliknya, pengalaman masa kecil yang dipenuhi kemarahan, sakit hati, kebencian, dan emosi bernuansa negatif lainnya, menghasilkan pertumbuhan kepribadian dipenuhi kesedihan, mudah curiga, rasa takut berlebihan, dan penghargaan terhadap diri sendiri yang kurang. Kondisi yang terakhir inilah yang seringkali secara sederhana disebut dengan istilah 'inner chid'

Bagaimana Inner Child bermula?

Para pakar kejiwaan mengingatkan soal kondisi batin yang tak stabil akibat pengalaman buruk di masa kecil tak hanya dimiliki oleh mereka yang dibesarkan oleh keluarga yang broken home, namun juga mereka yang lahir dari keluarga normal, bahkan cenderung bahagia dan tercukupi secara materi. 

Seorang anak yang dibesarkan oleh keluarga yang berpisah, sangat mungkin merasa tak dicintai oleh kedua orang tuanya. Atau oleh salah satu dari keduanya, kalau ia akhirnya tumbuh bersama ayah atau ibunya. Meski tak sedikit orang tua yang memutuskan berpisah dapat memberikan penjelasan yang tepat kepada anaknya; meski mereka pun tetap melimpahkan kasih sayang  kepada sang anak, perasaan terluka tersebut bisa jadi tetap muncul. Kemampuan sang anak dalam mengembangkan dirinya sendiri yang memampukannya untuk mengambil sisi positif dari peristiwa yang dilewatinya. 

Selain perceraian, persoalan materi dan kesibukan orang tua seringkali juga menjadi faktor pembuat luka. Ketidakmampuan orang tua dalam mengekspresikan perhatian dan kepedulian dapat menambah rasa tak nyaman bocah. 

Baca juga: Doodle sebagai Sarana Melatih Imajinasi

Bagi mereka yang lahir dari keluarga yang bahagia dan berkecukupan secara materi, sumbangan trauma masa kecil biasanya datang dari lingkungan sekitar. Baik dari keluarga terdekat, pertemanan di sekolah, maupun lingkungan sekitar. Masyarakat, terlebih di Indonesia ini, memiliki kecenderungan untuk membuat perbandingan. Seolah tak bisa menerima kita apa adanya. Hal itu terjadi bahkan saat kita masih sangat belia. Saat kita lambat proses berjalan, atau lambat dalam berbicara, dan kemampuan lainnya yang dibandingkan dengan bayi-bayi lain yang seumuran. Saat bayi, ketidaknyamanan dari sekitar itu sudah terbentuk. Kondisi batin itu terekam kuat dalam ingatan, bertumbuh dalam ruang dan kamar kenangan.  

Ada sejumlah ciri khas dari mereka yang inner child-nya terlukai: 

  1. Merasa tak yakin dengan diri sendiri. Berasa selalu ada yang salah atau kurang. 
  2. Ingin menjadi yang terbaik dengan berusaha menyenangkan semua orang. Keinginan menjadi yang terbaik bisa menjadikan mereka perfectionist ekstrem. 
  3. Susah beranjak dari persoalan-persoalan yang dihadapi. 
  4. Gampang menaruh curiga terhadap orang lain, dan sebaliknya, selalu merasa khawatir tidak dicintai dan ditinggalkan. 


Apakah Inner Child dapat diatasi?

Setiap kita terikat dengan inner child. Dibutuhkan kesadaran tersebut untuk menemukan solusi. Bagi mereka yang menafikan keberadaan luka masa kecil, besar kemungkinan akan terus membiarkannya bertumbuh, yang pada akhirnya akan menjadikan pola yang dialaminya diterapkan pada pola asuhan terhadap anak-anaknya sendiri mauoun anak di lingkungan keluarga atay sekitar. Maka pola yang sama terus berulang. 

Yup, kesadaran merupakan solusi tahap paling awal. Langkah berikutnya adalah menelisik setiap luka yang pernah dialami, menerima hal tersebut sebagai fakta yang telah dilewati, dan menerimanya sebagai bagian dari perjalanan hidup. Dengan demikian dapat memilah hal baik dari diri yang masih bisa terus dikembangkan. Alhasil, kita dapat memunculkan diri kita sebagai pribadi baru yang lebih baik. 

Baca juga: Berkenalan dengan Laku Spiritual melalui Buku Tantra

Ada banyak cara yang dapat ditempuh untuk melakukan penyembuhan luka batin masa kecil ini. Bisa berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater, guru agama atau spiritual, atau melakukan upaya kontemplatif sesuai kebiasaan dan kemampuannya masing-masing. Bagi yang terbiasa melakukan meditasi, bisa mencoba membuka komunikasi dengan diri kecil kita tersebut. Mengajaknya berdialog, dan membicarakan hal-hal baik yang bisa dilakukan bersama. Jangan lupa untuk menyampaikan ungkapan cinta dan kasih sayang, karena hal itu sangat dibutuhkan oleh sisi bocah kita yang terluka tersebut. 

Aku sendiri, setelah merasa gagal dengan upaya sadar, akhirnya memilih untuk menyerahkan kepada ahlinya. Seorang hypnotherapist. Lain kesempatan bakal kubagikan ceritanya. 

Yuk, kita jaga kesehatan diri kita. Kondisi kesehatan fisik maupun kesehatan mental perlu bertumbuh seimbang. Menjaga kesehatan mental dan jiwa dapat dimulai dengan menyembuhkan luka batin dari bocah kecil dalam diri kita yang disebut inner child itu. Semoga kita semua mampu bertumbuh menjadi versi terbaik diri kita dan memberikan sumbangsih bagi kesehatan dan kebahagiaan segenap penghuni semesta raya.