Featured Slider

Nano Riantiarno dan Kenangan akan Teater Koma

Aku tak mengikuti perjalanan karya Nano Riantiarno. Tapi, mendapati kabar kepergiannya pada 20 Januari lalu, membuatku mengumpulkan ingatan akan hal-hal terkait almarhum. Persisnya, kelompok teater yang didirikannya, Teater Koma. Ada segelintir kenangan unik yang nyempil dalam ingatan. 

Baca juga: Sawung Jabo dan Sirkus Barock, Bicaralah dengan Cinta

Nama Teater Koma sudah tersimpan rapi dalam laci ingatanku sejak aku usia sekolah dasar. Sebelum aku tahu apa itu teater. Aku membacanya di sebuah majalah. Entah majalah apa, lupa. Entah pula dari mana waktu itu ibu meminjam majalah tersebut. Waktu aku SD, ibu sering jadi buruh cuci di rumah orang. Tapi ia juga punya kenalan dekat pemilik salon yang sering belanja majalah. Kemungkinan dari dua sumber itu. 

Ada ulasan tentang pementasan "Opera Kecoa". Satu hal yang terasa asing. "Pementasan tentang kecoa?" Tapi kupikir itu akan jadi tontonan menarik. Seperti bacaanku dari kumpulan cerita dunia, tentang Putri Lipan. Itu bayangan masa bocahku. Sama sekali belum terpikir, pementasan teater itu seperti. Saat itu pementasan yang pernah kulihat langsung adalah ketoprak. Atau ludruk dari tayangan televisi. Demikianlah, tulisan tentang Teater Koma dengan Kecoa-nya pada 1985 itu betul-betul jadi bagian dari ingatanku, tanpa ada harapan untuk nonton pada suatu kali nanti. 

Sebuah keberuntungan, seorang kawan tiba-tiba menawariku nonton Teater Koma di TIM. Saat itu aku sudah tinggal di Bandung, sudah mengenal dunia teater, dan sudah tahu lebih banyak informasi soal Teater Koma. Tentang Nano dan Ratna Riantiarno. Tentang karya-karya mereka. Tentang hal-hal yang khas dari Teater Koma. Saat itu, pada 2008 itu, mereka mementaskan "Kenapa Leonardo?". Pada hari-H pementasan, aku ke Jakarta menggunakan travel. Sampai di TIM sekitar 2 jam sebelum pertunjukan yang digelar di  Graha Bhakti Budaya tersebut. Berjumpa dengan kawan yang nraktir nonton, makan dan nongkrong di area Cikini, hingga jelang saat pertunjukan berlangsung. Si kawan sudah mengingatkan, pertunjukan akan berlangsung lama, hampir 4 jam. 

Nano Rintiarno lahir pada 6 Juni 1949 dengan nama Norbertus Riantiarno. Ia telah aktif ber-teater sejak di bangku sekolah, di kota kelahirannya, Cirebon. Lulus SMA (1967), Nano melanjutkan pendidikan tingginya di Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI), Jakarta. Ia juga mengambil kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta (1971). 

Pada masa kuliahnya, Nano bergabung dengan Teguh Karya yang saat itu namanya telah berjaya. Ia ikut membidani Teater Populer pada 1968. Sembilan tahun kemudian, persisnya pada 1 Maret 1977, dia mendirikan Teater Koma; sebuah nama kelompok teater yang disegani dan paling produktif di Indonesia, bahkan masih terus berkarya hingga kini. 

Baca juga: Braga, Kawasan Penting Bandung Tempo Dulu

Aku masih ingat sensasinya. Melihat penonton yang demikian banyak. Ini kalau kubandingkan dengan pementasan teater di Bandung. Apalagi dengan harga tiket yang terbilang mahal. Dekorasi panggung, kostum pemain, dan tentu saja bagaimana para pemain melakonkan perannya. Rasanya, hmmm... apa ya, semacam perpaduan rasa suka dan takjub. Saat jeda dengan menikmati aneka cemilan, aku antusias betul menyaksikan manusia-manusia yang hadir di gedung teater TIM. Mungkin penampakanku saat itu seperti Iteung saba Jakarta 😅 

Kemudian si Iteung langsung pulang ke Bandung malam itu juga. Tiba jelang subuh di sebuah pool travel di Cihampelas. Pengalaman yang sungguh seru. 

Sebuah ingatan akan Teater Koma. Sebuah kenangan untuk mengantar kepergian Nano Rintiarno. Selamat jalan...

Baca juga: Mengenal Vincent van Gogh lewat Novel Lust for Life

*) Foto-foto mengambil dari dokumentasi web resmi Teater Koma

Sawung Jabo dan Sirkus Barock: Bicaralah dengan Cinta

Jumat lalu, seorang kawan menawariku nonton pertunjukan Sawung Jabo. Aku sempat mengelak, dengan alasan tak punya anggaran untuk acara hiburan dan sedang kepikiran anak emong yang sedang dalam perawatan. Si kawan berujar, "Dibeliin tiketnya sama aku. Ayo, kamu butuh jeda. Cicin akan baik-baik aja. Akhirnya aku mengiyakan, dan bisa menikmati konser Jabo bersama Sirkus Barock bertajuk Bicaralah dengan Cinta, pada Sabtu, 21 Januari 2023.

Baca juga: LCLR Plus di Bandung dan Pesona Musik 70-an

Sesungguhnya aku tak banyak tahu karya Jabo. Apalagi setelah bersama Sirkus Barock. Pengetahuanku terhenti di kolaborasi Jabo dengan SWAMI. Tapi siapa yang tak bisa menikmati sajian musik bagus? Saat ada kesempatan untuk nonton, pastinya aku tak akan menolak. Terlebih untuk seorang Jabo yang masih manggung di usianya yang sudah 71 tahun. Pertunjukan yang berlangsung di Teater Tertutup, Taman Budaya Jawa Barat, Bandung ini menjadi oase buatku di tengah pikiran yang lagi rudeut oleh persoalan-persoalan keseharian. 


Hadir Memenuhi Kekangenan Pecinta Musik Bandung

Panggung musik memang sudah mulai ramai lagi. Di Bandung dan berbagai kota di tanah air. Begitu pula hadirnya Jabo, pemusik yang juga punya sejarah kuat dengan Kota Bandung. Jabo kembali hadir di Bandung setelah konser terakhirnya 10 tahun lalu. 

Abah Iwan Abdurrahman yang didaulat untuk membuka konser, berbagi cerita muasal perkenalannya dengan Jabo. Saat itu, Jabo masuk sebagai anggota baru sebuah kelompok pecinta alam, dengan Abah Iwan sebagai salah satu seniornya. Pelantun "Melati dari Jayagiri" ini menggarisbawahi bahwa bermusik bukan hanya menyanyi dan memainkan alat musik, melainkan menyampaikan juga pesan alam kepada dunia. Dan Abah Iwan melihat Jabo masih konsisten hingga saat ini dalam hal kepedulian terhadap alam dan sesama. 

Dalam pertunjukan di Bandung, Sirkus Barock hadir dengan formasi 13 personel. Nggak tahu juga untuk konser yang sama yang digelar di kota lain apakah seragam. Selain personel, ada juga musisi tambahan yang diajak berkolaborasi. Ada vokalis Elpamas, Baruna, yang didapuk sebagai pembawa lagu Anak Angin. Lagu ini membuat beberapa Sahabat Mukti yang hadir berkaca-kaca. Anak Angin adalah lagu Jabo yang sering dibawakan Mukti-Mukti dalam konsernya. 

Baca juga: Grammy Award dan Lagu Siaran Radio

Jabo juga menggandeng musisi senior Bandung, Hari Pochang, dengan permainan harmonikanya. Pochang menemani Sawung Jabo dalam lagu Mengejar Bayang. Sedangkan penyanyi balada Bandung, Budi Cilok didampingi pemain perkusi asal Australia, Ron Reeves, membawakan Bukan Debu Jalanan.


Pentas Musik yang Kaya

Sebanyak 21 lagu dibawakan Sawung Jabo bersama Sirkus Barock dan para kolaborator dalam penampilan yang meriah. Panggung dihiasai gunungan wayang raksasa, dengan kain merah dan putih yang terbentang vertikal. Pencahayaan menghasilkan aksen siluet kain yang menawn. Ditambah aksi teatrikal para personel serta musik yang kaya warna berhasil menyihir penonton dalam hening sekaligus hingar. 

Aku nyaris tak kenal lagu-lagu Jabo bersama Sirkus Barok. Tapi pesona mereka benar-benar tak terelakkan. Masing-masing personel demikian utuh dengan tugasnya. Piawai memainkan alat musik, sekaligus juga mampu meneriakkan suaranya dengan merdu. Lengkap. 

Jabo sendiri, sepenglihatanku sudah jauh berkurang staminanya dibandingkan terakhir kutonton di televisi. Iya, atuuuh.. sudah berapa tahun lewat. Tapi untuk usianya yang memasuki 71 tahun, ia luar biasa. Awalnya Jabo tampil dengan duduk, dan kupikir akan terus duduk hingga tuntas acara. Ternyata tidak. Jabo masih sanggup bermain gitar, berdiri, bahkan berjingkrak. 

Daftar lagu yang dibawakan Sawung Jabo bersama Sirkus Barock:

Burung Kecil, Kemarin dan Esok, Dihatimu Aku Berlindung, Anak Angin, Sudah Merenungkah Kau Tuan, Mengejar Bayangan, Petualangan Awan, Bicaralah Dengan Cinta, Bukan Debu Jalanan, Penjelajah Alam, Menjadi Matahari, Senandung Anak Wayang, Anak Wayang, Satu Langkah Sejuta Cakrawala, Burung Putih, Kalau Batas Tak Lagi Jelas, Bisikan Langit, Penari Goyang, Hio/Kuda Lumping, dan Lingkaran Aku Cinta Padamu.

Baca juga: Imelda Rosalin Tetap Bersinar Meski Tak Seterang Kedua Adiknya

Di ujung pertunjukan, Jabo dan Sirkus Barock mengajak para penonton berdiri. Sontak penonton pun bertepuk tangan saat mulai terdengar intro musik Hio, lagu yang sedari awal digaungkan oleh penonton. Banyak pnonton yang bahkan memilih untuk maju ke depan, menyanyi dan berjingkrak. Tiga lagu terakhir yang kebetulan juga paling kukenal dari Jabo ini tentunya menggembirakanku. Entah berapa kali aku menjadikan lirik Hio sebagai kutipan. Sedangkan Lingkaran Aku Cinta Padamu sukses bikin nelangsa. Ah!

Sawung Jabo dan seluruh personel Sirkus Barock, terima kasih untuk suguhan musiknya. Teruslah berkarya. Aku Cinta Padamu. 

Rumah Ronin, Blognya Keluarga Kucing Cikoneng

Meski tak membuat resolusi secara khusus pada pergantian tahun kemarin, aku berkomitmen kepada diri sendiri, tahun ini akan lebih banyak membaca dan menulis. Membaca apa saja, menulis apa saja. Salah satu yang kuagendakan adalah "menghidupkan" blog. Ada dua blog yang sama sekali tak kusentuh selama setahun terakhir. Salah satunya adalah blog tentang kucing. Namanya Rumah Ronin, blog tentang keluarga Kucing Cikoneng dan serba-serbi dunia kucing.

Baca juga: Jangan Pelihara Kucing, Buku Kisah Kucing Bersama Penerbit Epigraf

Sebagai pekerja lepas yang menawarkan jasa penulisan, aku memang tak fokus menulis di blog. Sejauh ini blog pribadi semata untuk menuangkan hal-hal sederhana yang kebetulan melintas dalam benakku, atau adanya peristiwa-peristiwa tertentu yang cukup mempengaruhiku. Termasuk dua blog lain, yang bertema kucing dan musik. Kucing, karena mereka ada di keseharianku. Musik, lebih banyak dimanfaatkan untuk post ulang bahan siaran. Setelah tak siaran, blog pun akhirnya vakum. Tampaknya perlu direncanakan kembali untuk menghidupkannya. Untuk sekarang, mencoba fokus membenahi blog kucing. 


Apa sih Rumah Ronin?

Rumah keluarga kucing Cikoneng tentunya sudah ada sejak ada kucing sebagai penghuni tetap rumah. Persisnya setahun setelah kepindahanku ke rumah baru, rumah yang kuhuni sekarang, ada seekor kucing yang menemaniku. Aku bukan "manusia kucing". Pengenalanku terhadap binatang peliharaan hanyalah ternak. Ada banyak ayam dulu dipelihara oleh bapakku di kampung. Atau kambing dan sapi yang dipelihara tetangga. Kucing tak pernah masuk dalam ranah kehidupan pribadiku. Hingga kucing pemberian kawan itu.

Namanya Kapten. Terdengar gagah, bukan? Seperti puisi Walt Whitman yang didedikasikan untuk Presiden Abraham Lincoln yang baru mangkat: "O Captain! My Captaun!"

Saat itu, 2005, aku belum kenal steril. Kapten mulai kabur-kaburan dari rumah saat memasuki masa berahi. Begitu pun seekor betina cantik yang sedianya kuadopsi dari jalanan sebagai teman Kapten, akhirnya bunting dan melahirkan. Beranak-pinak. 

Baca juga: Naga Chan dalam Kenangan 

Singkat cerita, pembenahan kehidupan perkucingan mulai dilakukan setelah mengenal sterilisasi. Pemandulan pada kucing. Tak ada lagi kucing yang melahirkan di rumah. Tak ada jantan rumah yang membuahi betina-betina liar. Tapi tetap, ada saja kucing-kucing liar yang membutuhkan bantuan. Untuk mendukung keuangan pasukan kucing, aku menyiapkan lapak dagangan. Kebetulan, saat itu aku baru mengadopsi dua kucing kecil dari tempat pembuangan sampah sementara daerah Buah Batu Bandung. Kunamai mereka Ronin dan Maiku. Saat itu aku masih bekerja di sebuah tempat kursus Bahasa Jepang. Nama Ronin inilah yang kemudian kucomot sebagai nama lapak keperluan kucing dan lain-lain, untuk kebutuhan media sosial seperti Instagram dan Facebook, dan blog kucing. Khusus produk, dapat ditemukan juga di lokapasar Tokopedia dan Shopee.


Ada Apa Saja di Blog Rumah Ronin?

Lewat blog kucing ini, aku berbagi tentang kehidupan geng kucing di rumah. Sejarah mereka menjadi keluarga, riwayat kesehatan, dan hal remeh-temeh soal keseharian mereka. Selebihnya berupa cerita kucing, kesehatan kucing, produk-produk untuk kucing, aneka peristiwa terkait kucing, kucing-kucing sahabat, juga produk-produk yang kami pakai dan pasarkan lewat lapak Rumah Ronin.

Mulai merawat kucing sejak 2004, mengenal steril kucing pertama tahun 2009, dan mulai bergiat untuk menjadi penyelenggara sterilan sejak 2012, dapat dikatakan aku cukup paham dunia perkucingan. Jangan sebut mahir, karena itu bukan keahlian. Makanya menjadi hal tak menyenangkan ketika ujug-ujug ada pesan di WhatsApp yang bertanya tentang penyakit kucing. Tanya soal penyakit mah ke dokter, atuuuuh. Da saiyah juga kalau kucing sakit dibawa ke dokter, bukan coba-coba diagnosis dan obati sendiri. 

Baca juga: Berkenalan dengan Qori Soelaeman, Ibu Seribu Kucing

Ya, kalau aku menyebut tentang durasi waktu aku intensif mengurus kucing, bukan bicara soal kepakaran. Sekadar pengalaman. Dan pengalaman itu bukan hanya bicara tentang kucing juga tapi kebiasaan-kebiasaan kucing, hal-hal menyenangkan dan konyol yang sering kucing-kucing lakukan. Bahkan bagaimana menghadapi kematian kucing. Pengetahuan dan pengalaman untuk dibagikan. Soal kepakaran, tetap, tanyakan pada ahlinya. 

Semoga Rumah Ronin bisa cukup membantu untuk yang butuh acuan informasi awal soal kucing. Keluarga kucing Cikoneng hanya sebagai contoh. Semoga terus cukup energi untuk membangun blog kucing, dan bahkan lebih aktif dari blog utama Ibu Meong. Perlu banyak belajar juga dari teman-teman blogger Blog Sunglow Mama. Siapa tahu bisa dimonetisasi lumayan kan, menjaga keberlangsungan hidup pasukan meong. 



Lima Cerita, Saat Seorang Desi Anwar Berkisah

Seorang kawan memberiku buku ini. Awalnya tak yakin akan menikmatinya. Sempat baca selintas, tak dilanjutkan. Suatu kali, terpikir membaca ulang dengan niat yang berbeda: menjadikan buku ini sebagai referensi. Ternyata, hasilnya berbeda. Aku menikmati tiap baris kalimat yang dituliskan Desi Anwar dalam Lima Cerita ini. Menarik. Bahkan melampaui ekspektasiku. Seru memang, saat seorang jurnalis berkisah.



Baca juga: Reviu Buku dan Tips Membuat Bookstagram

Proses pendewasaan yang dialami setiap orang berbeda-beda. Ada yang datang lebih awal, tak sedikit yang mulai berproses saat umur tak lagi dibilang muda. Tapi, yang diceritakan Desi Anwar adalah kisah anak-anak muda yang sedang menuju usia dewasa. Ada lima topik yang ditawarkan, yang terwakili dalam lima judul. Masing-masing adalah Kematian, Cerita Delia, Pedihnya Pendewasaan, Cinta Sempurna, dan Ibu yang Baik. Bahwa menjadi dewasa itu memang tak mudah. Penuh gejolak, konflik, turbulensi, roller coaster, apa pun istilahnya yang menunjukkan kerumitan proses tersebut. 

Kematian

Hubungan anak dengan orang tua sering kali tak harmonis. Ada perbedaan dalam menyikapi segala sesuatunya yang menyebabkan merenggangnya hubungan dan cenderung dingin. Malah terdengar seperti permusuhan, dalam cerita yang ditampilkan mengawali buku ini. Peristiwa kematian bahkan dirasa menjadi hal yang mengganggu.  Ada hal mistis, di luar nalar yang ditampilkan dalam cerita ini. Tentang pesan-pesan yang disampaikan sebelum kematian. Tentang hadirnya makhluk lain atau energi yang memasuki raga sosok yang dikenal yang tokoh. 

Namun pada intinya, tetap, kisah proses pendewasan sang tokoh utama, dalam kekeraskepalaannya dan perasaannya yang dingin, yang seolah mati rasa, tak ada keinginan untuk membangun hubungan baik dengan sang ayah, bahkan berusaha mengabaikannya. Hingga berujung pada peristiwa kematian. 

Bagaimanapun, tak ada yang lebih merusak dalam kehidupan selain rasa bersalah dan menyesal.

Baca juga: Sequoia, Catatan Seorang Lelaki untuk Anaknya


Cerita Delia

Ini cerita tentang seorang gadis yang bertumbuh di tengah sebuah pasangan. Banyak hal menarik yang ditampilkan dan dapat dijadikan contoh dari pasangan ini. Nyatanya hidup memang tak linear dengan apa yang ditampilkan di permukaan. Dan pernikahan juga tak sesederhana yang dijadikan materi tentang kelanggengan dan kebahagiaan sebuah hubungan. 

Hubungan pasangan yang tampak harmonis itu kandas. Pada sebuah masa. Lalu terhubung kembali. Sebuah cerita yang menjadi pembelajaran bagi seorang yang tengah beranjak dewasa dan mulai disodori pilihan-pilihan khas orang dewasa.


Pedihnya Pendewasaan

Setiap berada dalam masa pencarian, orang akan mempertanyakan dirinya sendiri. Begitu pun yang dialami gadis remaja yang tumbuh dengan segudang prestasi ini. Bukan sekadar pertanyaan yang menyoal sekadar percaya dirinya, namun juga kecamuk di kepala yang sering kali tak sanggup ia tanggung. 

Yang menakjubkan kemudian, proses kehidupannya kemudian membawanya dalam kesadaran spiritual yang ajaib. Kesadaran yang barangkali tak lazim dialami gadis seusianya. 

Baca juga: Mengenal Vincent van Gogh lewat Novel Lust for Life


Cinta Sempurna

Kali ini tentang kisah percintaan. Pertautan hati antara dua orang melewati proses yang unik, yang berbeda satu sama lain. Bertemunya dua orang yang tampak sempurna sebagai pasangan belum tentu memberikan akhir yang menggembirakan. Tapi bukankah proses hidup tak selalu bisa menggembirakan semua orang, bukan?

Saat Adela bersama Jacob, rasanya waktu tak pernah cukup untuk menjelajahi segala emosi, dan kata-kata tak pernah memadai untuk mengungkapkannya.

Demikian di antaranya Desi menggambarkan dua orang dengan hubungan yang bisa dibilang sempurna. Tapi perjalanan hidup berkata lain. Persisnya, Semesta membawa Adela pada pemahaman baru tentang dirinya, yang pada akhirnya membuatnya memutuskan untuk meninggalkan hubungannya dengan Jacob. Bisa jadi hubungan-hubungan yang lain. Digambarkan, Adela tak lagi membutuhkan hubungan asmara. 


Ibu yang Baik

Judul ini menjadi penutup buku. Seolah dengan sengaja dipaskan. Bab awal tentang ayah dan akhir bab tentang ibu. Sosok ibu yang demikian sempurna, ternyata pada akhirnya menguak banyak luka setelah peristiwa kematiannya. Berbagai kecamuk masa kecil bermunculan hadir dalam kekinian benak sang tokoh. 

Baca juga: NH Dini di Google Doodle

Lima Cerita bukanlah bacaan yang ringan. Penuh filosofi dan bersentuhan dengan gagasan spiritualitas. Bahkan bisa dibilang berat. Kecuali yang memang menyukai detail, permainan diksi, dan tema kontemplatif. Buku ini juga cocok untuk dibaca mereka yang menyukai tema pergolakan batin, tentang bagaimana berdamai dengan kerapuhan diri sendiri, dan perihal semesta yang bekerja dengan cara tak terduaga. Sebelum terbit dalam edisi bahasa Indonesia, Desi Anwar sudah menerbitkannya terkebih dahulu dalam bahasa Inggris bertajuk Growing Pain

Judul: Lima Cerita (Perjalanan Menjadi Dewasa)

Penulis: Desi Anwar

Penerbit: Gramedia

Tebal: 316 halaman


Mengapa Tak Perlu Membenci?

Aku menghindari penggunaan kata benci. Entah mulai kapan persisnya. Yang kuingat, aku dengan sadar meminta diriku untuk tidak membenci. Dan hal paling sederhana yang mulai bisa kubiasakan adalah tidak menggunakan kata "benci" dalam keseharian. Pertimbangannya sederhana saja. Bahwa segala hal di dunia ini memiliki potensi memberi kita pelajaran. Rasa "benci" akan menutup kesempatan kita untuk memetik pelajaran dari sumber-sumber yang kita benci itu. Kita tak perlu membenci, jika kita mampu mencintai.


Baca juga: Kesadaran Spiritual, Hidup dalam Perspektif Baru

Sebagian besar dari kita dibesarkan oleh tradisi beragama yang dalam ajarannya salah satunya adalah larangan untuk membenci. Dalam agama apa pun, tidak ada anjuran untuk membenci orang lain dan suatu kaum. Bisa jadi penafsirannya berbeda-beda. Tapi aku meyakini, meski tak mempelajari keseluruhan ajaran agama, agama semata mengajarkan kebaikan. Tapi, mengapa bisa muncul kebencian?


Alasan Munculnya Kebencian

Jika mengutip definisi "benci" dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ini seolah netral. Berbeda halnya jika melihat dari tinjauan lain. Dari tinjauan psikologi, misalnya.

Ada beragam alasan, orang membenci sesuatu atau seseorang atau suatu kaum. Bisa jadi alasan yang sangat personal, berangkat dari masalah psikologis yang bersangkutan, atau karena bentukan lingkungan baik melalui proses alami maupun melalui upaya sistematis.

1. Lahir dan dibesarkan di lingkungan yang penuh penderitaan

Tanggapan setiap orang terhadap penderitaan tak seragam. Ada yang dengan kekuatan penuh mampu keluar dan berhasil hidup dalam kedamaian. Ada yang mengalir saja. Mungkin apatis, tapi tak juga dibarengi kebencian. Tak sedikit yang seumur hidup terjebak dalam penderitaan karena kebencian yang bercokol di batinnya. 

2. Mengalami peristiwa buruk yang mengubah kepribadiannya

Seperti halnya poin pertama, penyikapan orang terhadap peristiwa buruk tak sama. Ada yang dengan ikhlas mencoba menghadapi dan menemukan jalan keluar. Tapi banyak pula yang akhirnya menyerah dan menjadikan mereka pribadi yang berbeda. Yang awalnya seorang yang hangat, lantas berubah menjadi seorang pemarah, pembenci, pendendam, dan hal negatif lainnya. 

3. Menjadi korban cuci otak atau brainwashing 

Melalui metode yang terencana dan sistematis, para korban dibawa ke kondisi stres atau tertekan. Ketika korban sudah dalam kondisi stres tak tertahankan, pelaku akan memasukkan berbagai materi untuk meruntuhkan jati diri, menjejali doktrin baru, lalu membentuk jati diri baru bagi korban. Dalam kasus terorisme, kebencian dan kecintaan yang berlebihan menjadi satu hal penting yang ditanamkan. 

Untuk poin terakhir, penanganannya membutuhkan orang yang memiliki keahlian dalam hal brainwashing. Imbasnya pun bukan hanya personal, melainkan menyasar kelompok atau masyarakat yang lebih luas. 

Baca juga: Stoikisme dan Upaya Melakoni Hidup Lebih Baik

Barangkali yang perlu kita sikapi adalah mereka yang ada di poin pertama dan kedua. Patutkah kita membenci mereka?


Mengapa Tak Boleh Membenci?

Manusia itu kompleks. Apa yang tampak di permukaan, belum tentu hal yang sesungguhnya. Dalam komunikasi tatap muka saja, kita belum tentu bisa mengenali kedalaman batin manusia. Terlebih sebatas pengenalan di dunia maya, melalui ruang-ruang media sosial. Bagaimana mungkin orang bisa menumbuhsuburkan kebencian hanya melalui saluran yang hanya menunjukkan satu sisi manusia tersebut?

Apa yang bisa kita lakukan agar tidak membenci?

  1. Menyadari bahwa kita tak sepenuhnya mengetahui proses hidup orang lain. Mereka memiliki sejumlah alasan untuk melakukan hal-hal buruk yang berpotensi dibenci oleh orang lain. Berbahagialah bagi yang melewati perjalanan hidup dengan baik, aman, dipenuhi cinta kasih. Tak semua orang seberuntung itu. 
  2. Menyadari bahwa kita tak bisa mengontrol sikap orang lain. Mereka melakukan hal buruk, dan sebaliknya hal baik, kita tak bisa menahan atau memaksa melakukan. Yang bisa kita lakukan hanyalah respon kita sebagai bagian tanggung jawab nilai kita sendiri.
  3. Menyadari bahwa kebencian hanya rasa yang hanya menyiksa diri kita sendiri. Orang atau sesuatu yang dibenci bisa jadi tak tahu menahu dengan yang kita rasakan. 
  4. Menyadari bahwa kita tak hanya hidup di hari ini. Pada masa yang akan datang, kita tak pernah tahu. Bisa jadi kita akan bersinggungan atau bahkan membutuhkan bantuan dari orang yang kita benci. 

Dan, seperti yang kutulis di awal, segala hal di dunia ini memiliki potensi memberi kita pelajaran. Rasa "benci" akan menutup kesempatan kita untuk memetik pelajaran dari sumber-sumber yang kita benci itu. Semesta memiliki cara untuk memberikan pelajaran yang tepat bagi kita. 

Setiap peristiwa memberikan makna. Tinggal bagaimana kita menerima, menyelami, menyelaraskan. Tak perlu membenci, karena kebencian hanya akan membuat kita kehilangan kesempatan untuk hidup dengan cinta dan kedamaian.

Baca juga: Berdamai dengan Inner Child