Featured Slider

Petang Panjang di Central Park, Kumcer Bondan Winarno

Baru membaca satu judul buku kumpulan cerpen (kumcer) ini, aku dibuat terkejut. Benar-benar terkejut. Sungguh, sebelumnya aku tak pernah mengikuti kiprah Bondan Winarno (alm), di wilayah jurnalistik. Entah, kenapa aku tak bersentuhan sama sekali dengan namanya pada masa masih bergiat di wilayah itu, baik saat kuliah maupun di keredaksian setelah nyemplung dunia kerja. Tahu namanya sebagai host acara kuliner. Itu pun cuma tahu sepotong-sepotong. Baru di judul pertama, kusadari kalau tulisan cerpen Pak Bondan ciamik betul. 

Baca juga: Jangan Pelihara Kucing, Buku untuk Para Pencinta Kucing

Buku ini dulu kuterima dari Ambu Dian, pecinta buku yang juga mamak kocheng. Rupanya dia punya koleksi dobel, maka dikirimlah salah satunya untuk ibu meong. Sempat menghilang untuk beberapa waktu karena lupa taruh. Seperti biasa, aku tak membaca langsung hingga habis kumpulan cerpen. Biasanya berselang-seling dengan bacaan yang lain. Lalu keteledoran membuatnya raib, dan baru kembali kulanjutkan beberapa bulan lalu. 

Petang Panjang di Central Park berisi 25 judul, yang semuanya ditulis dan dimuat di media massa pada kurun 1980-2004. Seperti komentar Maria Hartiningsih yang disisipkan di buku ini, cerpen Bondan di buku ini melampaui batas waktu dan ruang. Tak terasa ada perbedaan masa. Semuanya tetap terasa pas dibaca di masa kini. Kisahnya menggelitik, dan tak jarang diakhiri dengan kejutan. Baik kejutan yang membuatku terbahak tanpa henti untuk beberapa saat, atau sebaliknya kejutan yang membuatku terkelu. 

Kisah percintaan saja, Bondan menuliskannya dalam topik-topik yang sama sekali berbeda, dengan keasyikannya masing-masing. Misalnya kisah Bono dan Tizi dalam "Bologna-Milano" yang berakhir perih, kisah tokoh pertama dan Malicca dalam "Rumput" yang berakhir wagu, dan kisah Rudy-Jennifer dalam "Rudy dan Kami" yang berakhir sedih tapi menghangatkan. Tak terbayang olehku, akan membaca kisah muram lelaki Ambon -yang tampan dan hanya memiliki separo kelamin- dalam nuansa yang tak tunggal; antara ngenes, perih, gemas, sekaligus lucu. Atau kisah cinta Romeo-Juliet ala Filipina yang berdarah, penuh intrik, dan memunculkan rasa kosong pada akhirnya. Rasa kosong sekaligus nelangsa juga kutemukan dalam cerita yang dijadikan judul kumpulan cerpen ini. 

Baca juga: Sequoia, Catatan Seorang Lelaki untuk Anaknya

Tak melulu bercerita romansa percintaan. Cerpen berjudul "Konspirasi" misalnya yang menceritakan tentang jurnalis yang melakukan liputan terkait aktivitas mafia. Ada percintaan di sana, tapi semata bumbu. Selebihnya, tragis. Bondan membunuh sang tokoh utama. Atau kisah Abus dan peristiwa kematiannya yang tak terduga, dengan aneka kisah unik dalam masa di antaranya. Begitu pula dengan kisah Azra yang berakhir dengan, "...sebuah peluru menerobos lubang di tembok dapur, menikam Azra dari belakang."

Pendek kata, cerita-cerita yang disajikan Bondan lewat kumpulan cerpen ini idenya tak biasa, dengan eksekusi yang unik pula.

Membayangkan Bondan sebagai jurnalis, proses risetnya pasti tak sederhana. Tapi menjadi hal yang sepertinya sudah biasa juga buat dia. Menginspirasiku untuk mencoba mengikuti gayanya. Pun karena aku merasa klop dengan pilihan kata Bondan. Terinspirasi untuk menuangkan pengalaman dan pengetahuan seputar dunia penyiaran dalam cerpen yang asyik ala Bondan? Nah, kan, mulai mengkhayal. Tapi kalau suatu saat itu bisa terealisasi, akan kutuliskan catatan khusus buat almarhum.

Baca juga: Reviu Buku dan Tips Membuat Bookstagram

 


Pernikahan dan Jatah Mantan

Awalnya agak takjub mendapati istilah "jatah mantan". Kupikir hanya semacam becandaan. Barulah beberapa waktu lalu kutemukan sebuah thread di twitter, saling cuit berbagi pengalaman. Baik pengalaman mereka sendiri maupun teman-temannya. Ramai! Dan itu rupanya hal yang banyak ditemukan dalam sebuah hubungan terutama saat jelang pernikahan. 



Baca juga: Stoikisme dan Upaya Melakoni Hidup yang Baik

Seperti contoh hasil capture di bawah. Berapa panjang urusan jika ternyata si perempuan hamil dan anak yang dikandungnya adalah dari hasil hubungannya dengan sang pacar yang bukan suaminya? Laki-laki yang hanya berstatus mantan itu bisa jadi sudah ada di antah berantah yang lain. Tak bertanggung jawab dengan darah dagingnya. Apa si perempuan ini sanggup abai terhadap fakta itu seumur hidupnya? Hati kecilnya tak akan terusik? Bagiamana pula jika ia berlandaskan hukum Islam yang terkait erat dengan persoalan wali nikah dan sebagainya? Rumit bukan? Jadi, kenapa pula mesti memberikan "jatah mantan"?

Apa, sih, Jatah Mantan?

Sejauh yang bisa kusimpulkan, istilah itu mengacu pada hubungan seksual antara pacar atau kekasih yang dilakukan pada jelang pernikahan salah satu pihak. Baik pada masa sebelumnya mereka memang sudah terbiasa melakukan aktivitas seksual, maupun belum sama sekali. "Jangan sampai penasaran." Demikian salah satu alasannya bagi yang sebelumnya menjaga diri untuk tidak melakukan persetubuhan di luar nikah.

Barangkali, jika tak ada konsekuensi lanjutan, tak akan jadi soal. Tak ada bakal anak dalam hubungan satu malam itu. Semata having fun, bersenang-senang. Kecuali suatu kali muncul rasa bersalah yang akan menghantui seumur hidup pernikahan. Atau mengacu pada istilah karma, bahwa tindakan kita adalah tanggung jawab kita. Karma sebagai siklus batin yang kita ciptakan sendiri.

Baca juga: Kesadaran Spiritual, Hidup dalam Perspektif Baru


Mantan? Buang ke Laut Aja!

Tentu saja kalimat di atas semata sarkasme. Terkait hubungan dengan mantan masih berlanjut sekadar silaturahmi atau sama sekali terputus, tentu menjadi keputusan masing-masing pribadi. Mengapa ada istilah mantan? Karena sudah tak ada komitmen untuk menjalin hubungan lagi. Sudah lewat masa kebersamaannya. Jadi, mantan hanyalah masa lalu. 

Simak, deh, apa kata Keanu Reeves! Aku pernah mengutipnya dan menayangkannya di twitter.

Yup, jika tak diperjuangkan, hubungan macam apa yang kita jalin? Dalam arti, jika seseorang memang worth it untuk dipilih sebagai pasangan, perjuangkan. Jika tidak, tinggalkan, abaikan, pergi sejauh-jauhnya darinya. 


Pernikahan

Di sini aku bicara berangkat dari anggapan umum saja. Tak punya kapasitas untuk dijadikan bahan rujukan. Tak punya pengalaman menikah, pun bekal keilmuan soal itu. Tak akan pula menyampaikan pandangan pribadi karena bisa jadi akan sangat berbeda bahkan berseberangan dengan pandangan umum. 

Menurut KBBI, nikah adalah perjanjian perkawinan antara laki-laki dan perempuan sesuai dengan ketentuan hukum dan agama. Dalam tataran global, ada perbedaan, misalnya sejumlah negara telah memberikan kesempatan bagi pernikahan sesama jenis. Dengan kata lain, pernikahan merupakan perjanjian antara dua orang yang berpasangan yang diresmikan berdasarkan norma hukum, agama, dan sosial. 

Ada prasyarat tertentu bagi dua orang yang melangsungkan pernikahan, di antaranya mampu secara finansial, matang secara biologis, dan siap secara emosional. Pernikahan dilakukan dengan alasan yang beragam. Ada yang semata pertimbangan agama yang menganggap pernikahan sebagai ibadah, ada yang demi memiliki keturunan secara legal dan diakui agama, ada pula yang berangkat dari hal yang lebih hakiki, seperti mewujudkan visi dan misi hidup secara bersama. 

Baca juga: Berkenalan dengan Laku Spiritual lewat Buku Tantra

Pernikahan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan sebuah babak lain. Sebuah babak baru bagi yang memutuskan untuk menjadikan pernikahan sebagai pilihan. Ada demikian banyak persoalan dan tantangan yang dihadapi dalam pernikahan.

Mari kita sebut beberapa di antaranya. Persoalan yang muncul dalam pernikahan yang bahkan berakhir dengan perceraian. 

1. Persoalan finansial. Ada begitu banyak contoh yang menunjukkan bahwa persoalan finansial menjadi satu hal super penting dalam kehidupan berumah tangga. Pernikahan bukanlah ajang berspekulasi, "Ah, nanti juga ada rezekinya." Maka sebaiknya memastikan sedari awal kesiapan masing-masing secara finansial.

2. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Kasus KDRT kerap kita dengar, baik di lingkungan terdekat hingga mereka yang terpapar media massa. Baik kekerasan fisik, maupun kekerasan verbal. Seperti contoh baru-baru lalu, pasangan selebritas yang kasusnya viral karena kejadian KDRT. Yang tak terungkap? Banyak! KDRT pada wanita terutama. Tahun lalu seorang mantan tetangga "curhat" perihal KDRT yang dialaminya selama menikah. Hal yang sama sekali tak kuketahui sebagai tetangga. Ia menyimpan rapat-rapat. Ya, kasus KDRT ada di sekitar kita, mereka yang berada dalam lembaga pernikahan. 

3. Keterlibatan keluarga besar. Bagi sebagian orang, keterlibatan keluarga besar ini terasa receh. Eits, jangan salah. Pada kasus-kasus tertentu, keterlibatan keluarga besar bisa menjadi penyebab perang Bharatayuda #eh perang dalam rumah tangga. Yang ujung-ujung dihadapkan pada pilihan, "Kamu pilih aku atau keluargamu?"

4. Pengkhianatan. Kasus WIL/PIL sudah kudengar sejak aku masih bocah. Dan bahsan tentang pengkhiatan dalam kehidupan pernikahan tak pernah surut. Terlebih di masa kini, dengan kemudahan yang ditawarkan oleh fasilitas internet, perjumpaan-perjumpaan virtual kerap menjadi awal dari hadirnya orang ketiga dalam kehidupan pernikahan. 

5. Perubahan pandangan politik agama/kepercayaan. Ininocak! Tapi ini betul-betul terjadi. Bagaimana pandangan politik yang berbeda dari sebuah pasangan dapat menjadi penyebab goncangan. Pun dengan perubahan haluan dalam memahami kehidupan religi dan spiritualitas. Perbedan yang mencolok acapkali tak bisa didamaikan. Perpisahan pun tak jarang menjadi pilihan.

Itu beberapa saja yang kutemukan dan kuamati. Kemungkinan ada sekian potensi masalah lain dalam kehidupan pernikahan. Tidak hadirnya anak, misalnya. Bahkan ketidaksamaan pendapat dalam kepemilikan binatang peliharaan dapat menjadi sumber masalah. Intinya, pernikahan bukan hal yang sederhana. Jadi, wahai para pemburu kenikmatan ragawi, masihkah mau mempertahankan tradisi "jatah mantan"? 

Catatan ini tanpa pretensi menghakimi. Pun aku bukan orang yang normatif. Cuma, please, pernikahan bukan legalisasi dari hubungan seksual. Ada nilai-nilai baik yang semestinya dijunjung dan tak dinodai dengan hal remeh temeh seperti memenuhi ego hewani kita. Maka, stop bucin, dan buanglah mantan pada tempatnya.

Stoikisme dan Upaya Melakoni Hidup yang Baik

Di zaman yang serba modern, serba tergesa, serba bersaing, pada titik tertentu orang akan merasa kelelahan lantas mencari solusi untuk menemukan kedamaian. Sumbernya bisa beragam, bergantung pada wilayah pengetahuan dan pengalaman mereka sebelumnya. Yang sebelumnya kuat dalam hal keagamaan, pencariannya akan masuk lebih jauh dalam pengetahuan keagamaannya. Yang berkiblat pada spiritualisme, akan memperdalamnya pula di wilayah tersebut. Begitu pula yang gandrung pada filsafat, mencoba menemukan kedamaian dari tinjauan filsafat. Seperti yang akhir-akhir ini marak dibicarakan. Stoikisme. Sebetulnya stoikisme bukan hal baru, bahkan disebutkan sebagai filsafat kuno.  


Baca juga: Kesadaran Spiritual, Hidup dalam Perspektif Baru

Obrolan tentang stoikisme ini baru kutemukan dalam sebuah lingkaran pertemanan baru-baru ini. Terus terang aku belum pernah dengar sebelumnya. Padahal merujuk pada banyak referensi, apa yang ditawarkan oleh stoikisme sudah banyak dijalankan atau telah menjadi bagian dari "the way of life" banyak orang. Termasuk di Indonesia.

Manusia terganggu bukan oleh hal-hal, tetapi oleh pandangan yang dia ambil dari mereka. ~Epictetus~

Muasal Stoikisme

Stoicism atau stoikisme didirikan di Athena, sekitar tahun 301 SM. Awalnya dinamai Zenonisme karena para pendirinya adalah pedagang Fenisia Zeno dari Citium. Setelah titik pertemuan yang dipilih adalah stoa poikile (teras) atau painted porch, persisnya tangga Agora di Athena (pasar sentral), bergantilah nama. Di tempat inilah pembelajaran tentang stoikisme dimulai.  

Digelar di tempat terbuka, area publik, menjadikan "kuliah" tentang stoikisme ini bukan hanya milik orang-orang Stoa, melainkan siapa saja yang kebetulan lewat dan tertarik. Bahkan akhirnya ikut bergabung dan terlibat dalam pembahasan maupun perdebatan. Orang lantas ada yang menamai stoikisme sebagai "filosofi jalanan", sebagai pembanding dari filosofi yang didominasi kalangan bangsawan.

Sejak saat itu hingga hampir lima abad lamanya, stoikisme menjadi salah satu aliran filsafat yang populer di tengah masyarakat. Karena siapa saja bisa mempraktikkannya, si kaya dan si miskin, si kuat dan si lemah, si tampan dan si buruk rupa, si sehat dan si penyakitan. Stoikisme menjadi bagian dari laku mereka yang ingin menjalani kehidupan yang baik. 

Tak terjelaskan, mengapa aliran ini kemudian menghilang. Berabad lamanya dan baru kembali muncul secara luas pada dekade 70-an. Salah satu yang dianggap sebagai faktor pendorong bahasan ini naik ke permukaan adalah  terbitnya buku William Irvine dan Ryan Holiday soal Terapi Perilaku Kognitif. 

Di kemudian hari, banyak yang menyebut stoikisme sebagai Buddhisme dari tanah Yunani. 

Baca juga: Letting Go, Sistem Melepaskan Diri dari Keterikatan dan Hambatan


Prinsip-prinsip dalam Stoikisme 

Prinsip utama dari stoikisme adalah menjaga pikiran tetap tenang dan rasional, apa pun yang sedang kita alami;  mengajak kita untuk fokus pada apa yang dapat kita kendalikan, tidak khawatir dengan hal-hal yang tidak dapat dikendalikan. Mengapa di masa kini, begitu banyak orang jatuh dalam frustasi, ketakutan dan kecemasan yang berlebihan, karena pikirannya berfokus pada hal-hal yang berada di luar kendali. 

Jika ingin mencoba menjalani laku hidup berdasarkan stoikisme, berikut beberapa hal mendasarnya yang bisa disiapkan:

1. Memilah hal-hal yang dapat kita kendalikan dan apa yang di luar kendali kita. Pikiran dan tindakan adalah kita sendiri. Di luar itu, peristiwa, situasi, pikiran dan pendapat orang lain, baik terhadap kita atau apa pun dan siapa pun, adalah di luar kendali kita. 

Selagi kita sibuk berusaha mengendalikan hal-hal di luar kendali kita, akan muncul sedih, marah, kecewa, patah hati, patah arang, hingga frustasi.

2. Mengelola harapan sekaligus mempersiapkan skenario terburuk. Menyimpan harapan tentu saja tidak salah. Menjadi tidak  ketika berharap terlalu tinggi terhadap sesuatu. Alhasil, ada kesenjangan yang antara harapan dan kenyataan. Kesenjangan inilah yang melahirkan kekecewaan. Jadi, proporsional saja.

Malah, disarankan untuk menciptakan skenario yang buruk. Menjadi kebalikan dari harapan yang muluk-muluk, skenario buruk artinya kita diajak untuk realistis menyikapi segala kemungkinan. 

3. Berdamai dengan emosi. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk bisa berdamai dengan emosi kita. Misalnya dengan menciptakan jarak, dan menjadikan diri kita semata pengamat. Prakteknya tak mudah, tapi bisa dilatih. Yang perlu dilatih juga adalah menjaga batin kita tetap "hangat"; menjaga jarak emosi pada tingkatan ekstrem dapat menempatkan kita pada perasaan yang plain, datar, dingin, bahkan tak peduli. Hati-hati, karena bukan itu tujuannya.

4. Mengamini kalau tak ada yang abadi dalam hidup ini. Segala hal yang kita miliki, baik materi maupun nonmateri, pada saatnya akan hilang atau mati. Tak terkecuali. Maka yang terbaik adalah menghindari kemelekatan. 

5. Menghargai waktu. Menurut kaum Stoa waktu adalah aset terbesar kita. Jika kepemilikan kita terhadap sesuatu hilang, akan ada benda pensubstitusi. Tidak demikian halnya dengan waktu. Sekali hilang, kita tak akan mendapatkannya kembali. Kecuali dalam film-film fantasi yang tokoh saktinya dapat memutar kembali waktu yang terlewat. 

Stoikisme menyarankan penggunaan waktu yang sebaik-baiknya dan menghargai apa pun yang ada di sekitar kita. 

6. Hidup selaras dengan alam. Filsafat kuno ini gabungan dari metafisik dan spiritual. Stoikisme berdedikasi dalam memahami sifat alam semesta mencari tahu cara kerja ilmu pengetahuan terkait alam semesta. 

Tercatat, banyak orang yang mengalami hidup lebih damai dengan melakoni cara hidup berpegang pada stoikisme. Yang namanya laku dalam kehidupan tentu saja bukan hal yang instan. Butuh proses. Butuh pembelajaran, pemahaman, dan pembiasaan.

Baca juga: Berkenalan dengan Laku Spiritual melalui Buku Tantra


Mari Berlatih 

Ada beberapa poin yang dapat dijadikan acuan dalam melatih disiplin mengikuti ajaran Stoik. 

1. Berfokus pada Hal-hal yang Bisa Dilakukan

Banyak hal di dunia ini yang di luar kendali kita. Atau persisnya, sangat sedikit hal di dunia ini yang berada di bawah kendali kita. Bayangkan, jika kita terlalu sibuk dengan hal yang kita tak punya kapasitas dalam mengelolanya. 

Hal sederhana yang bisa kita jumpai di keseharian. Jalanan macet. Berapa jam dalam sehari kita berkendara? Berapa hari dalam seminggu kita berada di jalanan? Kemacetan menjadi hal yang lumrah. Namun, kalau kita mau ingat-ingat lagi, seberapa sering kita kehilangan kendali atas diri kita untuk hal yang tak bisa kita telibat ini? Kemacetan saja bisa menyebabkan kemarahan dan frustasi. Baru satu contoh. Pasti masih banyak lagi contoh lain, hal-hal sepele yang demikian mudah menyulut rasa frustasi kita. 

2. Atur Waktu dengan Baik

Yang selama ini terbilang abai dengan pengaturan waktu, bisa mulai mengevaluasi dan membuat opsi-opsi baru. Menyadari bahwa waktu adalah sesuatu yang sama sekali hilang dan tanpa pengganti jika kita menyia-nyiakannya. 

Buat perencanaan yang lebih baik tentang apa-apa yang bisa dikerjakan langsung dan cepat dan mana saja yang masih bisa ditunda. Penundaan dengan perencanaan, bukan atas alasan malas, bahkan atas nama mood. 

3. Jangan Memanipulasi Kebahagiaan. Semua orang tentunya ingin berbahagia. Tapi ada pula yang sekadar "ingin terlihat bahagia", yang akhirnya memanipulasi kondisi yang ada. Membeli barang-barang mewah hanya demi mengesnkan orang lain. Memilih gaya hidup tertentu hanya agar dipandang orang. Bahkan berusaha menyenangkan orang lain dengan memberi, karena menyangka ada kebahagiaan dengan melakukan itu. 

Stoikisme mengajak kita untuk membebaskan diri dari pandangan orang lain. 

4. Buang Ego dan Kesombongan

Stoikisme mengajari kita untuk berendah hati. Ego diri dan kesombongan menutup peluang kita untuk belajar lebih banyak. Pertumbuhan kita pun terhenti. 

5. Abaikan Gangguan

Pada masa modern ini, begitu banyak hal yang dengan mudah mengalihkan perhatian dan fokus kita. Hal-hal yang di masa lalu sulit didapatkan, kini lalu lalang dengan leluasa. Hiburan, makanan, benda-benda kegemaran, dan banyak hal lain yang bisa jadi akan membuat kita bingung menentukan pilihan. Kembalilah berfokus pada tujuan. 

Baca juga: Mengenali Karakter Orang lewat Zodiak dan Temperamen

6. Tuangkan Pikiran dalam Tulisan

Tindakan refleksi perlu dilakukan tiap hari. Baik dalam upaya menempuh jalan stoik maupun upaya membangun diri dalam konteks lain. Menuangkannya ke dalam jurnal memberikan nilai lebih. Menuliskan apa yang menjadi refleksi kita, selain membantu kita mengingat apa saja yang sudah kita lakukan dan yang pernah direncanakan, juga menjadi warisan bagi pembacanya kelak. 

Bentuknya bebas, senyamannya kita saja. Mungkin bisa lihat contoh jurnal syukur seperti yang dibuat Mbak Rani Noona.

7. Membuat Skema Terburuk

Alih-alih berfokus pada hal-hal yang positif, filsafat kuno ini justru menyarankan kita untuk merancang skema terburuk demi kita tak terjebak dalam harapan semu. Dengan melakukan pembiasaan ini, kita dapat lebih leluasa dalam menerima kenyataan.

8. Mengingat Kematian dan Menerima Takdir

Kaum Stoa berpendapat bahwa dengan berpikir tentang kematian, kita dapat memupuk sikap rendah hati dan membangun semangat untuk hidup. Berpikir tentang kematian dalam kerangka positif. Meyakini bahwa kita bisa mati kapan pun, maka mari kita membuat pilihan yang tepat untuk setiap yang kita lakukan, katakan, dan pikirkan.

Begitu pun dengan takdir. Stoikisme mengajak kita untuk menerima apa pun yang kita miliki dan sebaliknya, hal-hal yang tak bisa kita raih. Pun keadaan atau peristiwa yang sedang menimpa kita, dan sebaliknya, bersiap untuk menerima kenyataan akan kondisi yang kita angankan tapi tak terjangkau. 

Berat? Mungkin tidak. Tapi, tak terlalu mudah, iya. Tapi inilah stoikisme, yang belakangan hari banyak dijadikan pilihan bagi yang ingin melakoni hidup yang baik. Mau mencoba?

Reviu Buku dan Tips Membuat Bookstagram

Pada masa lalu, secara berkala aku membuat reviu buku di blog. Buku apa pun. Selain untuk dokumentasi, juga untuk memastikan aku mencerna si buku dengan cukup baik. Karena begitu kita menuliskannya ulang, akan ketahuan pemahaman kita masih ada bolongnya apa enggak. Dalam perkembangannya, isi blog makin beragam. Bahkan buku menjadi bahasan yang bisa dibilang nyempil saja. Nah, belakangan hari agak tergoda untuk membuat 'ruang khusus buku' di instagram. Baru tahu juga, di aplikasi ini ada istilah bookstagram

Baca juga: Jangan Pelihara Kucing, Kerja Sama Perdana dengan Penerbit Epigraf

Awalnya merasa terlalu ngepop banget kalau punya akun IG khusus buku, apalagi kudu memproklamirkan diri sebagai bookstagrammer. Eh, tapi kenapa mesti ribet dengan tetek-bengek itu ya? Tujuannya memang betul-betul untuk mendokumentasikan, untuk bersenang-senang, dan siapa tahu bisa jadi cuan. Ya, nggak?

Baiklah, sambil mempelajarinya kembali untuk dipraktekkan nanti kalau sudah siap, aku coba kumpulkan berbagai referensi, siapa tahu ada yang tergoda juga untuk bergabung.


Bookstagram, Apa Itu?

Gampangnya, bookstagram adalah instagram yang digunakan untuk menginformasikan hal-hal berkaitan dengan buku. Pemiliknya bisa siapa saja. Bisa toko buku, perusahaan penerbitan, atau personal saja, baik sekadar hobi maupun untuk kebutuhan promosi atau post berbayar. 

Sebetulnya, bagi penyuka buku yang sudah membuat akun instagram dapat dipastikan akan membagikan foto-foto buku bacaannya. Namun di tahun-tahun lalu, belum muncul dan marak istilah bookstagram. Jadilah postingan buku itu sekadar bagian dari konten lain yang ditampilkan. 

Seiring dengan munculnya banyak peminat, bookstagram pun menjadi istilah yang familier bagi pencinta buku.

Baca juga: Memang, Selera Ngopi Tak Bisa Diperdebatkan


Manfaat Bookstagram

Memiliki akun khusus tentang buku, artinya kita menempatkan diri di lingkaran perbukuan. Dengan begitu, dapat saling bertukar aneka informasi terkait buku dengan bookstagrammer lainnya. Baik terkait dengan judul buku yang direkomendasikan, informasi toko buku, perpustakaan, atau taman bacaan di berbagai daerah, baik di tingkat nasional maupun internasional. Selain dengan pemilik akun lain, booksgrammer juga dapat berjejaring dengan penulis, editor, penerbit, pustakawan, agensi penulisan, blogger, atau perusahaan-perusahaan yang menerbitkan buku untuk event tertentu. 

Kebiasaan membaca yang sebelumnya "hanya kalau ingat saja" atau "sesantai mungkin" akhirnya pelan-pelan akan berubah. Mau tak mau jika sudah memutuskan membuat akun bookstagram, hukumnya wajib untuk upload foto secara berkala yang artinya ya kudu baca secara berkala juga. Maka terjadilah peningkatan skill dalam membaca.

Skill atau keterampilan lain yang ikut meningkat adalah soal pengemasan foto atau video. Seiring waktu, keinginan untuk lebih "pinter" dalam membuat foto atau video yang ciamik pasti datang. Ngaak akan berhenti pada kemampuan yang segitu-gitu aja.

Keterampilan menulis bagaimana? So pasti dibutuhkan. Meski instagram adalah aplikasi yang lebih menonjolkan gambar, namun caption atau keterangan foto yang baik dan tepat akan menjadikan foto yang kita unggah menimbulkan impresi yang kuat. 

Baca juga: Tetangga Kok Gitu, Kumpulan Catatan tentang Tetangga ala Annie Nugraha

Nah, satu hal yang barangkali sedikit rumit bagi generasi jadul adalah keterampilan dan kemampuan dalam meningkatkan performa akun. Bagaimana meningkatkan jumlah follower, meningkatkan engagement, bagaimana agar konten kita bermanfaat sehingga dibagikan oleh orang lain.

Yang terakhir, yang menjadi salah satu alasan bookstagram berkembang pesat adalah karena kontennya dapat dijual. Caranya? Ya dengan menayangkan buku-buku baru yang membutuhkan promosi. Jadilah hobi yang dibayar Asyik kan? 

Oke, sudah siap untuk menjadi bookstagrammer


Yuk, ikuti langkah-langkahnya.

1. Membuat akun

Yang pertama dan utama tentu saja adalah memiliki akun instagram. Disarankan untuk membuat username yang mengarah ke "buku". Kalau tidak, bisa diperjelas di bio profil. Buat sejelas mungkin agar pengunjung mengetahui kalau akun tersebut memang khusus untuk reviu buku. 

2. Memilih gaya dan tema

Apakah kita suka gaya yang sederhana atau semarak? Apakah kita mau feed kita warna-warni atau pastel atau monokrom? Meski konon orang lebih menyukai warna kalem, sah-sah saja kalau mau tabrak warna.

3. Menyiapkan foto beserta narasinya

Pilih foto yang dianggap paling tepat, sertakan narasi yang mendukung, jangan lupa menuliskan tagar untuk memperluas jangkauan. Kalau memungkinkan tag penulis dan penerbitnya.

4. Konsisten yaaa ....

Konsistensi menjadi hal yang penting untuk yang nyemplung di dunia media sosial. Jika kesanggupannya hanya dua atau tiga hari sekali posting, lakukan itu. Kalau bisa sigap, dua kali sehari, lakukan juga. Lakukan sesuai kemampuan, dan konsisten dengan jadwal yang sudah dibuat. 

Baca juga: Hari Buku Nasional dan Upaya Kembali Membaca


Aneka Tips 

Kapan hari, dalam sebuah grup penulisan yang kuikuti, ada sebuah pertanyaan. Begini, "Mungkin nggak mau jadi penulis tapi malas baca? Saya ingin menulis, tapi nggak pengin baca."

Sungguh sebuah pertanyaan yang nganu 😁

Bagi orang yang gemar baca, tak ada kewajiban untuk menulis. Tapi, bagi orang yang mau jadi penulis, tentu saja membaca itu hukumnya wajib. Kenapa? Panjang ah, di lain kesempatan saja ceritanya 😜

1. Menjadikan membaca sebagai kegemaran

Kalau memutuskan memiliki akun bookstagram, sudah pasti harus punya kemauan membaca. Di masa kini, reviu, resensi, sinopsi, dapat dengan mudah kita temukan dengan menuliskan kata kunci di mesin pencari. Copas, selesai. Tidak demikian halnya bagi mereka yang memang gemar membaca. Ada hal yang unik dan khas yang bisa dituliskan oleh orang yang membaca langsung sebuah buku dibandingkan mereka yang bersandar pada kemudahan.

2. Memiliki kemampuan mengolah gambar dan video

Meski tak terampil-terampil amat, kemampuan dasar memotret dan editing foto wajib dimiliki pemilik akun bookstagram. Saat ini sudah sangat dipermudah dengan aneka pilihan aplikasi editing.

3. Meningkatkan kemampuan menulis

Sekali lagi, meski instagram adalah aplikasi yang menonjolkan gambar, bukan berarti mengabaikan kualitas tulisan. Maka perlu untuk selalu berusaha meningkatkan kemampuan menulis, dalam hal ini membuat reviu buku. 

Baca juga: Mengenal Willem van Gogh lewat Novel Lust for Life

4. Menjaga kreativitas 

Ada hal-hal standar yang bisa kita temukan dari banyak referensi. Namun itu semua tak akan "hidup" jika kita tak memiliki kreativitas. Ide-ide segar akan selalu dibutuhkan. Termasuk juga peka terhadap perkembangan dan mengolahnya menjadi sesuatu yang khas-nya kita.

5. Bergabung dengan komunitas buku

Tak segan untuk bergabung dengan komunitas-komunitas buku

Yang selama ini sering nyumput atau ngumpet, saatnya untuk keluar dari persembunyian. Bisa jadi akan ada temuan dan hal-hal menarik yang dapat dijadikan sumber inspirasi sekaligus menjalin pertemanan baru di dunia buku. 

6. Aktif di media sosial

Ini nyambung dengan soal konsistensi. Kalau media sosialnya saja aktifnya hanya saat lagi mood, ya bisa jadi nggak bakalan konsisten postingannya. Selain itu keaktfan dibutuhkan untuk pasang mata, ada event buku apa saja yang tengah berlangsung. Atau ada kesempatan mengikuti tantangan dari akun-akun buku besar yang sayang jika dilewatskan. Untuk menjadikan akun kita hidup, jangan lupa juga untuk aktif berkomentar di akun-akun konten buku. Dan jika klop, jadilah follower-nya. 

Cukup lengkap kan? Gimana, masih akan lanjut bikin akun bookstagram? Aku sih, iya. Untuk tahap awal, mengumpulkan beberapa buku lama yang sudah dibuat reviu. Berikutnya baru lanjut dengan buku-buku baru. Semoga bisa konsisten 😉 Bagaimana dengan blog? Masih dong. Masih akan menuliskan reviu buku di blog, meski untuk tulisan blog-ku mah nggak akan sedetail Mbak Annie, travel blogger yang juga book reviewer. Yang kalau baca tulisannya berasa bisa sambil santai di pinggir pantai 😍 

Baca juga: Sequoia, Catatan Seorang Lelaki untuk Anaknya

Jadi, sampai ketemu di akun instagram khusus buku dan tentu saja di blog ini. Semoga nggak terlalu lama. Kalau kelamaan, curiga batal 😂😂😂

 

Resep Ayam Bumbu Rujak dan Kenangan Masa Kanak

Aku bukan penggemar ayam. Bahkan pada suatu masa, sempat sama sekali tak mau makan daging ayam. Ketika kemudian lidahnya bisa bertoleransi, pilihannya adalah daging ayam yang padat-liat, bukan yang gembur penuh daging. Kalau tidak ayam kampung, ya, ayam pejantan. Jenis masakannya pun kudu yang pedas. Kalau bukan sekadar digoreng dan dilengkapi sambal pedas, aku memilih masakan pedas lainnya seperti ayam taliwang, panggang ala Padang, atau masakan pedas resep khas Jawa Timur. Nah, kapan hari mencoba mengolah sendiri si ayam menjadi Ayam Bumbu Rujak, jenis olahan yang kukenal sedari kecil.


Baca juga: Lebaran dan Madu Mangsa

Ayam merupakan salah satu sumber protein hewani yang jadi favorit. Kalaupun bukan favorit, ya, yang paling gampang. Paling gampang carinya, tak perlu ke pasar atau supermaket, sekarang lapak-lapak ayam potong tak permanen banyak berdiri di seputaran komplek perumahan. Selain itu, tentu saja karena harganya yang relatif murah. Masaknya? Dapat dipastikan, gampang! Bahkan bisa tinggal dicemplungin ke bumbu kemasan, lalu goreng. Kalau enggan masak sendiri, begitu melimpah sajian ayam di warung-warung kaki lima. Yang sering jadi langgananku, ayam goreng khas Lamongan. Entah, pedagang ayam Lamongan ini jarambah pisan ya, sampai ke Bandung, ke ibukota, dan kota-kota lain di luar Jawa Timur. Kenapa kira-kira ya? Coba cek-cek di blogger Lamongan, ada soal makanan khas Lamongan.

Nah, kalau mau cari masakan yang agak spesial, memang harus keluar ekstra tenaga dan rupiah. Sangat jarang kita temukan menu ayam taliwang atau ayam panggang Padang atau ayam woku khasa Minahasa di lapak pinggir jalan. Paling tidak di kedai atau rumah makan kecil. Begitu pula halnya dengan ayam bumbu rujak. Sejauh aku tinggal di Bandung yang notabene lebih dari 25 tahun, belum pernah kutemukan ayam bumbu rujak di rumah makan. Yaaa, bisa jadi akunya yang kurang gaul. Tapi aku agak yakin memang sangat terbatas rumah makan di Bandung area yang menyediakan menu khas Jawa Timur ini. Jadi, saat terlintas pengin makan ayam, dan kangen masakan rumahan, aku mencoba mengolahnya sendiri. Jangan tanya soal rasa deh, udah pasti enak-lah!  😋😜


Ayam dan kenangan masa kanak

Bicara soal ayam, binatang satu ini kuakrabi sedari kanak. Kami memelihara ayam untuk dijual. Ayam usia tertentu, aku lupa, akan dibawa oleh ibu ke pasar. Dijual untuk dijadikan masakan. Kalau sedang butuh uang cepat, kadang ayam yang masih 'ABG' pun akan dijual. Kalau kepepet buanget, telor pun tak luput dari transaksi jual beli. Demi mencukupkan kebutuhan sehari-hari.

Baca juga: Umbi dan Cerita Masa Kanak

Ya, masa kecilku secara ekonomi sangat terbatas. Kami tinggal di sebuah rumah berdinding anyaman bambu yang biasa kami sebut gedhek atau bilik. Mungkin ukurannya sekitar 6x7 meter saja. Sudah termasuk dapur dan kandang ayam yang berada di sisi kanan rumah. Bapak sangat primpen mengurus ayam. Pagi-pagi ia akan membangunkan ayam-ayam itu, menyuruh mereka keluar bermain. Untuk memasak, kami menggunakan tungku. Abu kayu sisa pembakaran akan disisihkan oleh bapak, untuk kemudian dipakai menaburi kotoran ayam. Ditabur merata, barulah disapu, dikumpulkan, untuk dijadikan pupuk. Jadi, meski kandang ayam menyatu dengan rumah yang nyaris tanpa sekat, dapat dikatakan baunya masih sangat terjaga. Kami, yang saat itu tinggal bertujuh, dua orang tua dan lima bersaudara, masih merasa nyaman dengan kondisi tersebut.

Urusan ayam, bapak memang yang paling punya peran. Ia sinungan, istilah Jawa untuk mereka yang berbakat memelihara ternak. Perkembangbiakan ayam nyaris tanpa jeda. Ayam kawin, bertelur, menetas, tumbuh jadi anak ayam, lalu dewasa, kemudian dijual. Beberapa disisakan untuk melewati siklus serupa. Cukup membantu perekonomian keluarga untuk ukuran kampung dan saat kami, anak-anak, masih bocah. Karena begitu mulai memasuki usia sekolah yang lebih tinggi, sudah dapat dipastikan kewalahan dan mencari sumber penghasilan lain. 

Tapi kisah bersama para ayam itu memang tak terlupakan. Kami kebagian ikut prosesi potong ayam. Mulai hanya memegang kepala (anak laki-laki diajari juga untuk memotong) hingga merendam ayam yang sudah dipotong ke air panas dan mencabuti bulunya. Potong ayam biasanya dilakukan kalau ada ayam yang sakit dan butuh lauk. Maka si ayam sakit pun dipotong. Dengan catatan bukan di masa wabah. Beberapa kali wabah penyakit ayam menyerang. Puluhan ayam mati. Tentu saja tidak dipotong, tapi dikuburkan. Potong ayam juga dilakukan saat ada tamu jauh yang datang. Akan selalu ada ayam yang dikorbankan. 

"Belehne pitik? Masakke bumbu rujak?" Demikian biasanya pertanyaan ibu ke tamu yang datang. Maka prosesi pun dimulai. Nah, menu andalan ibu adalah ayam bumbu rujak. 

Baca juga: Jelang Lebaran dan Kenangan akan Simbok Mutiah


Resep ayam bumbu rujak

Aku tak pintar masak. Seumur-umur tinggal di kampung, aku belum pernah masak ayam bumbu rujak sendiri. Maka, yang kulakukan adalah tanya ke mbah google, resep yang kurasa-rasa mirip yang digunakan ibu di masa kecil dulu. 

Ini dia resep yang kupilih dengan beberapa penambahan:

Bahan:

1 ekor ayam, potong menjadi 8 atau 10 bagian

1/2 sendok makan air asam jawa

2 lembar daun salam

2 lembar daun jeruk

1 batang serai, ambil putihnya, memarkan

1 sendok teh garam

2 sendok teh gula merah sisir

500 ml santan dari 1 butir kelapa

1 sendok makan minyak untuk menumis

1 jeruk nipis

2 cm jahe, memarkan

Penyedap rasa, jika dibutuhkan


Bumbu halus:

4 butir kemiri, sangrai

12 buah cabai rawit

2 buah cabai merah besar

4 siung bawang putih

8 butir bawang merah


Cara membuat:

1. Lumuri ayam dengan perasan jeruk nipis dan garam. Diamkan 20 menit.

2. Tumis bumbu halus, daun salam, daun jeruk, jahe, dan serai sampai harum. Masukkan ayam. Aduk sampai berubah warna.

3. Tambahkan garam dan gula merah. Aduk rata. Tuangkan santan kental. Masak sambil sesekali diaduk sampai matang dan meresap.

4. Ayam bumbu rujak siap dihidangkan.

Ada beberapa variasi yang diterapkan untuk resep ini. Misalnya dengan penambahan kecap. Atau variasi kuah. Ada yang kental, encer, kuah melimpah, atau sebaliknya nyaris kering. Bahkan ada yang menjadikannya ayam bumbu rujak bakar. 

Buat yang suka bakar-bakaran, tinggal memanggang si ayam di wajan anti lengket atau perangkat bakar lainnya. Kuahnya dapat dijadikan bumbu oles. Tinggal dibolak-balik hingga matang dengan tingkat kegaringan sesuai yang diinginkan. 

Baca juga: Alaya, Kisah tentang Mimpi yang Mewujud, Takdir, dan Cinta 

Hasil uji cobaku kapan hari belum sempurna. Seorang kawan dari Surabaya meledekku dengan, "Itu kariiii...bukan ayam bumbu rujak. Harusnya meraaah." Oke deh, catet 😁

Baiklah, buat yang memang jago masak, mohon koreksinya ya. Yang belum pernah masak Ayam Bumbu Rujak, boleh deh dicoba resepnya. Selamat masak 😍