Guruh Sukarno Putra, Sosok Istimewa dengan Karya-Karya yang Melegenda

Pagi tadi selintas mendapati satu postingan di media sosial: Guruh Sukarno Putra berpulang. Hah, serius? Buru-buru cek media online. Positif. Guruh berpulang setelah semalam mendapatkan penanganan medis di rumah sakit. Lamat-lamat suara Tika Bisono menyambangi kupingku: "Putih-putih melati, mekar di taman sari ..." Melati Suci, lagu yang ditulis Guruh untuk ibunya, Fatmawati yang meninggal dunia saat iya berusia 27 tahun. Lagu itu terasa begitu agung sekaligus sunyi. Pelan, ada yang meleleh di sudut mataku. Tak banyak nama seniman yang kepergiannya sampai bisa mengundang kesedihan yang cukup dalam buatku. Tak semua karya musiknya bisa kuputar untuk program siaran, tapi pada banyak kesempatan, di tengah berbagai karut-marut yang terjadi di tanah air dari masa ke masa, lagunya selalu mengingatkan akan kecintaan terhadap tanah air.



Baca juga: Jakob Oetama Berpulang

Guruh merupakan sosok istimewa. Bukan semata karena ia anak tokoh proklamator. Namun, lebih pada soal pilihan hidupnya yang tak biasa. Terlebih jika dibandingkan dengan sosok-sosok lain yang menyandang privilege sebagai anak orang nomor satu di sebuah negara.


Pilihan Hidup Guruh dan Sosok Penting pada Masa Kecilnya

Membaca Guruh tidak akan lengkap jika tidak menengok ke masa kecilnya. Sebagai anak seorang presiden, ia tinggal di istana negara yang segala sesuatunya sudah terpenuhi. Kebutuhan-kebutuhannya disediakan tanpa menunggu diminta. Keamanannya terjamin. Tentu saja ia memanfaatkan semua kemudahan, privilege itu. Namun, nyatanya tidak serta merta ia menjadi sosok selebritas apalagi rakus seperti yang ditunjukkan oleh sebagian anak-anak presiden yang lain. Setidaknya anak presiden periode setelah bapaknya.

Nama Tommy Suharto kudengar sejak masa kecil. Bukan, bukan dari media melainkan dari bahan percakapan para orang tua, dari mulut ke mulut. Beberapa kecamatan di kampung halamanku adalah produsen cengkeh. Nyaris semua petani cengkeh mengalami kebangkrutan pasca Tommy--melalui Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh atau disingkat (BPPC) yang dipimpinnya--memonopoli perdagangan cengkeh. Bahkan para petani--saking marahnya--membakar lahan cengkehnya lalu mengganti dengan komoditas baru. Cerita ini tak kita temukan di media. Tak begitu jelas juga soal kebenarannya, karena aku pun tak melakukan konfirmasi ke lapangan secara langsung. Bahwa monopoli itu dilakukan, tentu nyata adanya. Pertanian dan perdagangan cengkeh kembali marak pada pasca pemerintahan Suharto.

Apa lagi yang bisa kita sebut dari bisnis keluarga Cendana? Tambang batu bara, proyek mobil nasional, hak pengelolaan jalan tol? Apa lagi? Jika dibuat daftar pasti akan panjang. Guruh tidak melakukan itu. Ia bukan pemburu kekuasaan. Ia memanfaatkan dengan baik darah seni yang mengalir di tubuhnya. Ia berkiprah di dunia tari, kain tradisional, musik daerah demi kecintaannya terhadap Indonesia.

Baca juga: Farida Pasha, Mak Lampir, dan Misteri Gunung Berapi

​Guruh bersekolah di sekolah umum. Sebagai anak seorang presiden yang juga gemar belajar, wawasan kebangsaan ia dapatkan dari melihat dan mencatat apa yang dilakukan oleh ayahnya sendiri maupun para bapak bangsa. Di luar itu, ia bermain layaknya anak-anak pada umumnya. Barangkali yang membedakan adalah dengan siapa saja ia bermain. Tentu ia bergaul dengan anak-anak para pejabat pada masanya, tapi ia pun bergaul dengan anak-anak para pegawai istana, bahkan dengan mereka yang bisa dibilang level rendahan seperti tukang kebun, tukang masak, dan para pelayan. Ia terbiasa berada di tengah masyarakat dengan strata sosial yang beragam. Di balik hal sederhana yang menjadi kesehariannya, rupanya ada sosok penting yang memiliki andil.

Namanya Suminah Sastrowijoyo. Ia adalah perempuan pengasuh yang menemani putra bungsu Presiden Soekarno itu sedari bocah. Guruh memanggilnya Nek Joyo. Dari perempuan sederhana yang bahkan buta huruf inilah Guruh banyak belajar tentang kehidupan. Nek Joyo mengenalkan perihal kehidupan rakyat kecil yang sebenernya. Meski merupakan anak orang nomor satu di negeri ini, Guruh diajari oleh Nek Joyo tentang bagaimana menjadi manusia biasa. Dari Nek Joyo, bukan hanya mendengar, tapi juga mengamati langsung, Guruh belajar tentang penderitaan, kesederhanaan, dan keikhlasan. Hal-hal inilah yang membentuk kepribadian Guruh dan empatinya terhadap orang lain, dalam hal ini masyarakat kalangan bawah.

​Ketika masa dewasanya tiba, Guruh tidak memilih untuk mencari uang dan kekuasaan. Ia menceburkan diri ke dunia seni. Itu pun bukan seni gemerlap, melainkan seni yang muncul sebagai bagian dari pemberontakan dalam dirinya. Tak heran jika yang lahir kemudian adalah karya-karyanya yang unik dan orisinal.

Baca juga: Christian Mara, Pejuang Seni Budaya Adat Dayak Berpulang


Guruh dan Kolaborasinya dengan Gipsy

​Awal mengenal Guruh di dunia musik adalah karya-karya yang ngepop. Karya pertamanya yang kutahu adalah Kembalikan Baliku di album kompilasi Festival Lagu Populer Indonesia 1987. Lagu itu ada di urutan terakhir side B kaset. Kembalikan Baliku yang disuarakan Yopie Latul keluar sebagai pemenang dan mewakili Indonesia dalam kompetisi internasional yang dilangsungkan di Budokan, Tokyo.

Lalu, setelah nyemplung ke dunia radio, lebih banyak lagi karyanya yang kutemukan. Lagu-lagu yang dibawakan oleh nama-nama besar, seperti Chrisye, Keenan Nasution, dan Vina Panduwinata.

Suatu kali saat berselancar di YouTube, aku menemukan satu musik yang tak biasa. Tertarik, karena judulnya ada "Indonesia"-nya. Harusnya itu komposisi berjudul Indonesia Maharddhika. Pemilik akun menuliskannya salah. Ternyata itu akun milik orang luar yang sepertinya tertarik dengan lagu ini.

Karena terpesona, kucari tahu lebih detail tentang ini lagu. Ternyata itu karya Guruh yang berkolaborasi dengan grup Gipsy. Grup ini sendiri didirikan pada pertengahan 60-an dengan nama Sabda Nada. Mereka mengganti namanya dengan Gipsy pada 1969, dengan personel Chrisye, Keenan Nasution, Oding Nasution, Abadi Soesman, dan Roni Harahap. Mereka dikenal sebagai grup lokal yang membawakan lagu-lagu progressive rock ala Genesis, Emerson Lake and Palmer, Yes, dan Gentle Giant. Nah, sepulang dari studinya di Belanda, Guruh menggandeng Gipsy untuk mewujudkan ide liarnya.

Baca juga: LCLR Plus di Bandung dan Pesona Musik 70-an

Guruh ingin mengawinkan alat musik modern dengan alat musik etnik Bali, yakni gamelan dan gerong. Pada masa itu belum ada yang memiliki "keberanian" untuk menabrakkan dua musik yang masing-masing memiliki pakemnya sendiri. Begitu pun liriknya. Guruh menuliskan tentang tema sosial dan budaya dengan aneka metafor dan bergaya bahasa puitis.

Kolaborasi Guruh Gipsy ini beranggotakan Guruh Sukarno Putra (komposer), Chrisye (bass, vokal), Oding Nasution (gitar), Roni Harahap (piano), Abadi Soesman (keyboard, synthesizer), dan Kinan Nasution (drum, vokal). Lahirlah 6 komposisi: Indonesia Maharddhika, Chopin Larung, Barong Gundah, Janger 1897 Saka, Geger Gelgel, dan Smaradhana, diliris dalam album bertajuk Kesepakatan dalam Kepekatan. Mereka memproses album ini di studio milik Tri Angkasa yang pada masanya tercatat sebagai studio rekaman 16 track pertama, paling canggih di Indonesia. Sekadar catatan, studio The Beatles memulai rekaman 16 track ini untuk album Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band pada 1967. Proses rekamannya sendiri berlangsung mulai Juli 1975 hingga November 1976.

Album idealis ini--bisa diduga--tak laku di pasaran. Penikmat musik tanah air tampaknya lebih memilih lagu-lagu populer bertema cinta yang sedang marak pada masa itu. Di kemudian hari, barulah para kolektor musik memburu album ini. Konon, album yang disebut-sebut sebagai tonggak lahirnya progressive rock di Indonesia ini dihargai hingga jutaan rupiah.

Baca juga: Konser Sawung Jabo bersama Sirkus Barock di Bandung


Guruh dan Karya-Karyanya yang Melegenda

Karya-karya Guruh, meski dalam kemasan pop tetap menunjukkan ciri khas tersendiri. Selain musiknya yang kaya, liriknya juga tak biasa. Kalaupun bicara tentang cinta, bukanlah cinta yang cengeng melainkan cinta indah antarmanusia atau kecintaan terhadap alam raya.

Misalnya dalam lagunya yang berjudul Zamrud Katulistiwa, Guruh menceritakan tentang keindahan Indonesia. Lagu ini dibawakan pertama kali oleh Keenan Nasution pada 1978. Chrisye melagukannya kembali pada 1996.

Guruh memakai metafor melati untuk menggambarkan ibunya, Sang Ibu Negara, Fatmawati dalam Melati Suci. Lagu ini rilis bersama album Pergelaran Karya Cipta 3 pada 1980 lewat suara Tika Bisono. Bertahun kemudian Vina Panduwinata ikut menyanyikannya kembali dan tak kalah indahnya.

Lagu Sendiri sering dijadikan rujukan kalangan yang hidupnya menyendiri, malah ada yang tengah berada dalam keputuasaan karena urusan percintaan. Ada yang mengaitkan lirik lagu ini dengan kesendiriannya seorang Guruh. Senyatanya, Guruh menuliskan lirik sendiri bukan semata soal emosi, melainkan sesuatu yang lebih dalam. Lagu ini lebih menggambarkan soal rasa, suasana, dan pengalaman eksistensial. Seperti yang banyak dipotret oleh para penulis sastra era masa lalu tentang kesenyapan malam yang menyimpan keteduhan dan keheningan. Kalaupun Guruh memasukkan pengalaman pribadi, ia telah berhasil nylimur melalui diksinya yang puitis.

Baca juga: Pesta Rakyat dalam Festival Rampak Kendang

Ada juga Guruh menulis tentang pergaulan anak muda. Ia menciptakan Galih & Ratna yang dimunculkan di film Gita Cinta dari SMA pada 1979 lewat suara Iromy Nursaid dari The Kid Brothers. Setahun kemudian lagu yang sama dibawakan oleh Chrisye untuk menjadi lagu tema film Puspa Indah Taman Hati yang merupakan kelanjutan Gita Cinta dari SMA.

Kisah anak muda lainnya ia tuangkan dalam Anak Jalanan yang terinspirasi dari novelnya Teguh Esha, Ali Topan Anak Jalanan. Ketika fenomena sosial anak-anak ibukota ini diangkat ke layar lebar, Guruh didapuk sebagai ilustrator musiknya.

Untuk musik, ada nuansa campur sari dan dangdut yang dilibatkan Guruh di lagu Candu Asmara. Lagu yang rilis pada 1998 ini dipopulerkan oleh Cici Paramida, yang kemudian dibawakan ulang oleh beberapa penyanyi lain, seperti Marchell dan Maizura.

Sedangkan pada lagu Lenggang Puspita, Guruh memasukkan nuansa etnik Betawi di bagian akhir lagu. Lenggang Puspita dibawakan oleh pentolan God Bless, Ahmad Albar pada 1986.

Guruh cukup banyak berkolaborasi dengan Chrisye. Tak terhitung pula karya-karyanya dibawakan oleh penyanyi lintas dekade, termasuk dengan Krisdayanti lewat lagunya Mahadaya Cinta. Dan aku yakin, pada tahun-tahun mendatang karya-karyanya masih akan terus dirilis ulang oleh generasi terbaru.

Baca juga: Just for You, Karya Lama Richard Cossiante yang Abadi

Ini baru bicara tentang lagu dan musik, belum kiprahnya di dunia seni yang lain. Pendek kata, karya-karya Guruh luar biasa dan telah menginspirasi banyak orang.

Selamat jalan, Mas Guruh Sukarno Putra. Selamat mulih ke pangkuan Semesta.

Numerologi, Life Path, dan Zodiak, Panduan untuk Membantu Mengenali Diri Sendiri

 tes-tes

Tantangan Hidup di Hari-Hari Ini dan Mindfulness ala Maudy Ayunda

Sepekan terakhir jagad maya dibikin riuh oleh konten video Maudy Ayunda tentang “mindfulness in the age of bad news”. Aneka pendapat pro-kontra bersliweran di media sosial. Ada kalangan yang membela Maudy, banyak yang menghujatnya, tapi tak sedikit yang mencoba memberikan sudut pandang yang berbeda, tanpa memihak. Kamu ada di sisi mana? Salah satu hal yang buatku cukup memberikan andil adalah soal ekspektasi. Kita sering kali terlalu menggantungkan harapan berlebih kita pada sosok-sosok tertentu. Saya menyebut soal ekspektasi ini terutama karena menyangkut bahasan tentang mindfulness.

Baca juga: Gampang Lupa, Multitasking, dan Mindfulness

Indonesia sedang tak baik-baik saja. Sebagian kita juga tak baik-baik saja. Jika kondisinya tidak seperti sekarang, mungkin konten Maudy tak terlalu mengusik. 


Maudy dan Ajakan untuk Hidup Berkesadaran

Dalam videonya, Maudy mengisahkan pengalamannya menghadapi derasnya berita buruk, baik kabar dari dalam maupun luar negeri. Sebagai seorang yang--diakuinya--overtinker, ia menyarankan bagi para penonton media dan pemilik akun media sosial untuk menyaring tontonan. Ia mencontohkan berbagai pemberitaan yang ia nilai membawa dampak negatif, seperti bencana alam, kebakaran hutan dan lahan, dan masalah terkait ekonomi. 

Selain penyaringan informasi, Maudy menyarankan agar semua yang terpapar arus informasi itu untuk mengambil jarak. Membuat jarak dengan berbagai isu yang dapat menyulut burnout. Selain itu, menurutnya, ada baiknya berdiskusi dengan orang-orang yang memahami persoalan dengan baik. 

Konten itu diunggah Maudy pada 21 Agustus 2026 dan menulai hampir 200 ribu pengunjung, dan tampak angkanya makin meningkat seiring banyaknya orang yang membagikan ulang serta membuat tayangan sebagai respons dari versinya masing-masing.

Pada akhirnya Maudy menyampaikan permintaan maafnya. Ia mengakui bahwa kemampuan dan kesempatan untuk ambil jeda dari berita negatif merupakan sebuah privilege. Ia luput menyadari itu. Karena demikian banyak rakyat Indonesia yang terdampak langsung apa-apa yang dikabarkan oleh berita dan tayangan video tersebut. Sebagian besar di antara mereka, boro-boro mempraktikkan mindfulness, hidup waras dalam keterbatasan saja mereka sudah bersyukur. 


Baca juga: Kesadaran Spiritual, Hidup dalam Perspektif Baru

Apakah sesungguhnya inti dari mindfulness? Mengapa topik ini mendatangkan hujatan terhadap penganutnya? 

Secara mendasar, mindfulness sebetulnya gagasan sederhana. Ini juga bukan gagasan baru, sudah berabad lamanya orang mempraktikkannya, meski dengan penamaan yang berbeda. Mindfulness diyakini mampu mengurangi potensi orang mengalami gangguan mental. Meski tak ada penelitian yang cukup signifikan, namun para pelakunya membuat klaim bahwa hidup mereka lebih tenang dengan menerapkan mindfulness dalam kehidupan sehari-hari. 

Yang menjadi persoalan kemudian adalah bahwa ada kondisi genting yang sedang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Mindfulness mungkin bisa cukup membantu untuk meredam gejolak masing-masing personal. Sayangnya, saat ini yang lebih penting bukan itu melainkan bagaimana caranya keluar dari kondisi ini. Dalam hal ini, empati lebih dibutuhkan, jika memang belum ada tindakan riil yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak dari kondisi yang terjadi belakangan ini. Maudy mestinya menghitung itu. 

Faktor pendukung lainnya adalah bahwa masyarat punya ekspektasi terhadap seorang Maudy, public figur, seorang artis yang dikenal pintar dan bersih. EKspektasi ini membuat para pengikut Maudy yang terdampak masalah merasa dikhianati.

Baca juga: Jeda dan Meditasi, bantu Redakan Pikiran yang Riuh


Mindfulness dalam Konsep dan Praktik

Secara harfiah, terjemahan langsung dari mindfulness adalah kesadaran penuh. Konsep dasarnya bukanlah hal baru. Para penganut Buddha saat meditasi menjalaninya dengan kesadaran penuh. Konsep ini kemudian diaplikasikan ke berbagai model terapi ala Barat. Misalnya Jon Kabat-Zinn yang mencetuskan konsep mindfulness-based stress reduction. Ia mendefinisikan mindfulness sebagai perhatian yang disengaja, saat ini, dan tanpa penilaian. Demikianlah inti dari mindfulness, mengajak kita untuk "hadir" pada saat ini. Menyadari sepenuhnya dengan membebaskan diri dari penilaian. 

Dalam keseharian, kita bisa mengimplementasikannya secara sederhana. Mindfulness mengajak kita untuk berfokus pada apa yang kita hadapi "sekarang", bukan terjebak di masa lalu, atau terkurung dalam kekhawatiran di masa depan. Contoh implementasinya dalam keseharian misalnya saat kita makan, ya kita berfokus pada makanan yang kita makan. Bukan sambil menonton TV, bermain HP, bahkan ngobrol hingga kita tak betul-betul menikmati makanan kita. Dalam sejumlah pelatihan berbasis relijiusitas, persiapan menuju makan adalah dengan ungkapan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat, mulai dari proses pertumbuhan tanaman, panen, hingga pengolahan di dapur, dan penyajian di meja makan. Ada begitu banyak pihak yang terlibat dalam sepiring makanan yang disajikan. Proses makan pun mensyaratkan keheningan, semata agar saat makan menjadi proses perenungan atas hidup yang penuh berkah. 

Itu salah satu contoh yang barangkali paling sederhana, soal makan. Namun, tanpa latihan dan pembiasaan, dapat dipastiskan mindfulness hanya berhenti di ranah teori. Latihan dan pembiasaan itu dapat diterapkan ke hal-hal lainnya.

Baca juga: Mengapa Kita Mengalami Pola Hidup yang Berulang?

Bagaimana jika ada gangguan yang menyela fokus kita? Tidak apa-apa, diterima saja. Salah satu yang perlu dilatih dalam mindfulness adalah membebaskan diri dari penilaian.

Jadi, tahapannya, pertama, sadari saat pikiran mulai berkelana atau ada pemikiran baru yang tiba-tiba muncul dan memenuhi benak. Berikutnya mulai rasakan. Ambil napas dalam dan rasakan udara yang masuk pelan-pelan memenuhi paru. Lanjutkan dengan sensasi dari alat indra lainnya dalam pengamatan terhadap benda di sekitar. Terima apa saja yang baru saja melintas, tanpa menilai dan menyalahkan diri sendiri, lalu melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda. Ini latihan yang perlu dilakukan berulang agar menjadi kebiasaaan. Ketika perulangan ini menjadi kebiasaan, tanpa sadar kita telah melakukan self healing, hal yang penting dilakukan bagi siapa pun yang berpotensi menghadapi stres berlebih hingga jatuh ke kondisi depresi. Perempuan pekerja atau working mom masuk dalam kategori ini.

Pada tingkat lanjutannya, mindfulness bisa dipertajam dengan melakukan meditasi. Ada banyak ragam meditasi yang bisa dilakukan untuk melatih proses berkesadaran diri ini. Di wilayah praktisi psikologi klinis, baik dari psikolog maupun psikiater dikenal mindfulness-based cognitive therapy (MBCT) dan mindfulness-based stress reduction (MBSR). Dengan melakukan meditasi rutin diyakini dapat membantu penyembuhan gangguan depresi. Di wilayah mindfulness terapi secara signifikan dinilai telah mengurangi risiko kekambuhan para penderita depresi mayor. 

Kembali menyoal konten Maudy Ayunda, ya, tidak ada yang salah dengan ajakan Maudy untuk menerapkan mindfulness dalam kehidupan sehari-hari, terutama di masa sekarang yang dipenuhi dengan peristiwa-peristiwa yang berpotensi memicu stres dan depresi. Masalahnya, kita tidak sedang melihat “bad news”, kita sedang mengalami "bad reality". 

Sebagian orang hanya menyaksikan kebakaran hutan di layar televisi atau smarphone, sebagian yang lain mengalaminya. Mengalami sesak karena asap, anak-anak hanya bisa belajar daring, orang tuanya pun tak bisa berangkat kerja. Belum lagi yang mengalami dobel masalah, kebakaran hutan yang dibarenggi kelangkaan BBM. Mereka bukan hanya melihat dari tayangan media; mereka mengalami sendiri kelangkaan BBM. Mereka harus antre berjam-jam di tengah antrean yang mengular; mengorbankan hal-hal lainnya. Dampak kebijakan Pemerintah ini bukan hanya konsumsi media; mereka terkena imbasnya. Bagaimana kebijakan soal MBG telah mengakibatkan ribuan anak mengalami keracunan, sedangkan di bagian lain harus mengalah akibat pendanaan yang menyedot banyak anggaran negara ini. Belum lagi bencana yang seolah bergiliran hadir. Jadi, jika sarannya adalah menjauh, harus menjauh ke mana? Jika sarannya ambil jeda, apakah jeda itu bisa menggantikan yang mereka butuhkan?

Baca juga: Berkaca dari Kasus Tiara, Femisida dan Pencegahannya

Tak dibutuhkan kecerdasan skala tinggi untuk memahami itu. Meski banyak yang melakukan pembelaan terhadap Maudy--di antaranya agar memaklumi bahwa Maudy hanya menyasar segmen tertentu--tetap saja, apa yang dilakukan Maudy tidak bijak. Terlebih ia dikenal sebagai alumni Oxford untuk kajian Philosophy, Politics, and Economics (PPE). Lha, masa seseorang memiliki latar belakang pendidikan sekuat itu bukannya membuat konten yang menyasar hal yang lebih mendasar? Ya, menurutku dalam kasus ini Maudy memang tidak bijak, terlepas dari soal yang saya pun tak setuju dengan kebiasaan kebanyakan orang yang punya ekspektasi tinggi terhadap para selebritas dan figur publik. 

Yo wislah, mari kita semua terus berusaha menjaga kewarasan, salah satunya dengan hidup berkesadaran. Tentu saja dengan tetap membumi melihat berbagai persoalan hidup, dan jika memungkinkan menjadi bagian dari solusi, sekecil apa pun. Namaste.

Baca juga: Kesadaran Spiritual, Hidup dalam Perspektif Baru


Just for You, Karya Lama Richard Cocciante yang Abadi

Saat masih gawe di radio siaran, pada suatu masa, lagu ini sempat dilarang tayang untuk kurun waktu tertentu. Bukan, bukan karena larangan pemerintah orde baru yang masa itu cukup represif termasuk larangan menayangkan konten tertentu. Alasannya adalah karena "Just for You", lagu dari Richard Cocciante ini terlalu sering dirikues, hingga admin urusan musik meminta untuk tak putar dulu hingga diputuskan bisa mengudara kembali. Ada yang punya kenangan dengan lagu ini?



Baca juga: Karya James F Sundakh yang Tak Lekang oleh Waktu

Lagu ini, sampai hari ini masih dirikues di program live yang kubuat di TikTok. Meski orang bisa memutar lagu di platform musik, banyak yang masih suka berdialog seperti pada masa radio siaran. Barangkali ini memang kebutuhan orang untuk berkomunikasi dengan orang lain demi menjaga kesehatan mentalnya. Pengin colek Mbak Alienda Sophia, bikin live juga, yuk, bicara pengalaman menjaga kesehatan mental ala lifestyle ibu.

Kembali ke soal Just for You, kulanjutkan lagi ceritanya, ya.


Mengapa Just for You Begitu Diminati?


Coba cek liriknya, ya. Ini lagu sebetulnya gombal banget kalau lihat dari liriknya.


I can't stay now and just wait now, my hands then go so impatient

many things I've got to do now for the first rise of the morning.

Though she dream and peaceful slamber, sleep to me just doesn't come

when she wake I'll try tell her everything I have to say.

And the night so dark inside me makes me finaly understand

where the love that she has given me, she can light the sky forever.

It's the way she give so freely, it's the way she takes my hands,

I just ask the sun shine brightly got to see her smile again.


Then I sing a song I've writen and I'll make the whole world listen

in the silence just for you, like no one has ever heard.

And I wake up all the lovers and I give them back for hours

and we'll do the things we wanted the way that lovers do.


And we'll run into the street and we'll start to dance like crazy

cos she want only to feel joy in the love she gives and needs.

And we'll take it time to stop quarels and paint the street and building, rainbow color everyone

those she wants, colors to sing, and we'll paint full fill with flowers,

make the street alive with spring, make a place where lovers go, to love the way that lovers do.


Then we'll fly into the sky and we'll choose into the stars

and our stars return the hole world,

the love we have, we are,


the love we share is sweet

the love we know is real, that love is not to dream, but last we know that alone

Because you love and my begin without dreaming all begin,

and the love that you have give return to us to win

cos your love for me is not begining and the end your love

and mine is now for me for love, you love for me forever ....


Nah, betul, kan ... gombal, kaaan?


Baca juga: September Ceria by Vina Panduwinata


Suatu hari, di saat libur, aku berkunjung ke studio. Saat itu masih belum lulus kuliah. 1997. Seseorang datang dengan membawa kaset, minta direkamin lagu Just for You. Kaset C-90 diisi sepenuhnya dengan lagu ini. Merekam lagu itu tidak diperbolehkan, ya, gaeees. Cuma dengan toleransi "merekam untuk konsumsi pribadi". Buat yang belum hafal kaset, C-90 itu artinya berdurasi 90 bolak-balik. Satu sisi durasi 45 menit. Jadi, jika lagunya berdurasi 5 menit, maka dalam satu sisi terdapat 9 lagu. Bayangkan, 9 lagu di satu sisi itu isinya Just for You semuanya. Gokil, kan? Sedemikian ia kesengsemnya dengan ini lagu. Ia tak mengakui persis, sih, kenapa suka betul dengan lagu itu. Hanya dibilang liriknya nempel banget di kepalanya.

Kami lantas berteman cukup dekat. Beberapa tahun pasca reformasi barulah aku tahu bahwa beliau ini adalah keluarga dari salah satu sosok yang banyak disebut dalam sejarah tanah air. 

Baca juga: Konser Sawung Jabo bersama Sirkus Barock di Bandung


Polemik Pencipta Just for You

Mencari referensi soal Richard Cocciante ini susah betul. Apalagi di masa lalu, sebelum internet familier dan menyediakan sumber yang mudah diakses. Masa itu, pengetahuanku soal ini lagu hanya sebatas karya Richard Cocciante, penyanyi dan pencipta lagu berkebangsaan Italia-Prancis. Pada tahun-tahun ke belakang barulah tahu informasi lebih detailnya. Termasuk munculnya polemik orang yang mempertanyakan pencipta ini lagu. Ada yang menyebut Just for You bukan karya Richard Cocciante. Akhirnya kukubek lagi berbagai referensi. Kesimpulannya: Just for You adalah karya Richard Cocciante.

Riccardo Cocciante--demikian nama aslinya--lahir pada 20 Februari 1946 di Saigon, Vietnam, dari ayah seorang Italia dan ibu Perancis. Pada usia 11 tahun keluarga membawanya pindah ke Roma, Italia. Berikutnya ia mencicipi tinggal di beberapa negara, yakni Perancis, USA, dan Irlandia. Minatnya pada seni musik sudah terlihat dari kecil. Awalnya ia hanya bermain organ dengan membawakan musik-musik R&B. Masuk tahun 1960-an barulah ia unjuk suara sebagai penyanyi. Cocciante sempat membentuk band GL6 bersama Marco Luberti dan Paolo Casella. Di sinilah ia mulai menggunakan nama panggung Richard Cocciante. Mereka berhasil merekam tiga lagu berbahasa Inggris yang muncul di film pada kurun 1971-1972. 

Baca juga: George Michael dalam Kenangan

Lepas dari grup, Cocciante mencetak sukses dengan album solonya. Sayangnya ia sempat terperosok kasus kontroversial. Lagunya, "Bella senz'anima" yang menjadi hits besar diprotes banyak kalangan karena dinilai seksis. Pasca kontroversi itu ia sempat menarik diri dari publik. 

Kemunculannya kembali  pada 1976, mendulang sukses. Satu lagunya yang ditulis dalam bahasa Italian, "Margherita" menjadi signature song-nya Cocciante. Itu pula yang terjadi saat ia merilis lagu tersebut dalam versi bahasa Inggris pada 1978. Lagu yang menjadi kesayangan penyuka musik di tanah air. 

Sejak saat itu Cocciante terus berkarya. Ia merilis lagu dalam empat bahasa, Italia, Perancis, Inggris, dan Spanyol. Ia menyanyikan kembali lagu-lagu terkenal, seperti "Michelle"-nya The Beatles yang juga disukai pasar. Ia juga merancang pertunjukan musikal populer yang dikenang. 

Baca juga: I Love You Sofie, Lagu Lama yang Terus Eksis

Kini, Cocciante telah memasuki usia 10 windu. Semoga masih terus berkarya dan dinikmati pecinta musik dunia. 

Kapan Tubuh Kita Membutuhkan Vitamin dan Suplemen Tambahan?

Minggu lalu saya bergabung bersama beberapa kawan dalam sebuah kegiatan. Mengejutkan sekali, salah satu kawan mengalami penyusutan berat badan secara drastis. Saya tahu dia sedang berhadapan dengan satu masalah penting. Saya tidak tahu persis dan tidak berniat memaksa dia menceritakannya. Satu hal yang masih bisa saya lakukan adalah menyarankan untuk menjaga kesehatan. Karena itu modal kita untuk bertahan dan menghadapi masalah, sehat raga maupun mental. Saya coba berikan beberapa rekomendasi varian vitamin dan suplemen dan pola konsumsinya. Ternyata ia sama sekali tidak mengonsumsi vitamin. Dalam keadaan normal, dengan gizi tercukupi, mungkin relatif aman. Namun, di kondisinya sekarang yang buat makan rutin saja ogah-ogahan, tentunya bisa memberikan dampak tak baik. 

Baca juga: Perbedaan Darah Rendah dan Kurang Darah

Alasan utama kita membutuhkan vitamin dan suplemen tambahan adalah karena itu untuk membantu pemenuhan kebutuhan nutrisi harian yang tidak tercukupi dari makanan. Saya, sejak bertahun lalu, paling tidak mengonsumsi vitamin C. Belakangan hari, dengan pertambahan usia, beberapa macam vitamin dan suplemen saya tambahkan dalam daftar konsumsi harian. 


Pola Konsumsi Makanan Harian

Sebelum masuk bahasan soal pilihan dan cara konsumsi vitamin dan suplemen, mari cari tahu soal pola konsumsi makanan kita.

Pada 2018 lalu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mulai gencar memperkenalkan konsep "Isi Piringku". Diperkenalkan secara formal pada puncak pengingatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-54. Sebelumnya kita mengenal slogan "4 Sehat 5 Sempurna", nah Isi Piringku merupakan penyempurnaan dari pedoman Gizi Seimbang yang mengacu pada Permenkes No. 41 Tahun 2014 ini. 

Konsep Isi Piringku ini adalah pengaturan porsi sekali makan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi hari, dengan takaran detail: 

  • Setengah porsi piring atau setengah bagian diisi dengan sayuran dan buah-buahan sebagai sumber serat, vitamin, dan mineral. Disarankan porsi sayur lebih lebih besar dibandingkan buah.
  • Setengah porsi piring atau setengah bagian lainnya diisi dengan sumber karbohidrat seperti nasi, kentang, atau ubi, dan sumber protein hewani dan nabati, seperti daging merah, ikan, ayam, tahu, dan tempe. Disarankan karbohidratnya sejumlah dua per tiga bagian, sisanya protein. 

Waktu makan yang dianjurkan adalah tiga kali makan makanan utama, yakni pagi, siang, dan malam. Masing-masing dengan jeda 3–4 jam. Di antara jeda waktu dapat diisi dengan selingan camilan berupa buah atau cemilan sehat lainnya. makanan ringan bernutrisi di antara jam makan utama. Konsep ini berlaku untuk seluruh masyarakat Indonesia sebagai panduan umum gizi seimbang dalam sekali makan, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia. Penyesuaian terkait porsi dan kombinasi dilakukan mengikuti kebutuhan, misalnya bagi orang menuju lansia disarankan untuk mengurangi konsumsi makanan tinggi natrium, gula, dan lemak. 

Di luar dua bahan utama itu ada anjuran untuk konsumsi air putih sebanyak 2 liter atau 8 gelas sehari dan melakukan aktivitas fisik untuk menjaga kebugaran tubuh.

Baca juga: Pendidikan Seks sebagai Bagian Penting dari Parenting

Konsep dari Kemenkes ini sedikit berbeda dengan kebutuhan makanan dan gizi harian menurut standar World Health Organization (WHO). Organisasi kesehatan dunia ini lebih berfokus pada keseimbangan nutrisi serta pembatasan zat tertentu untuk mencegah penyakit kronis.

Panduan gizi seimbang menurut WHO adalah:

  • Minimal 400 gram (atau setara dengan 5 porsi) buah dan sayuran per hari. Ini tidak termasuk kentang, ubi, atau umbi-umbian berpati lainnya. 
  • Takaran lemak kurang dari 30% dari total asupan energi harian, dengan batasan lemak jenuh kurang dari 10%, sedangkan lemak trans kurang dari 1% dari total kalori. Disarankan untuk mengutamakan lemak tak jenuh, seperti minyak zaitun, alpukat, dan ikan.
  • Konsumsi gula yang disarankan adalah kurang dari 10% dari total asupan energi harian. Takaran idealnya di bawah 5% atau setara dengan 25 gram atau 6 sendok teh untuk tambahan manfaat kesehatan.
  • Konsumsi garam yang disarankan adalah kurang dari 5 gram per hari atau setara dengan 1 sendok teh. 

Baca juga: Mindfulness dan Upaya Mengatasi GERD


Kapan Kita Sebaiknya Kita Mulai Mengonsumsi Vitamin dan Suplemen?

Sumber gizi utama dan terbaik kita memang berasal dari makanan yang kita konsumsi sehari-hari. Namun, berapa banyak di antara kita yang sadar betul dan menghitung dengan cermat jumlah asupan yang kita konsumsi? Selain itu, ada kondisi tertentu yang membutuhkan vitamin atau suplemen tambahan. 

  • Perempuan hamil dan menyusui. Pada masa kehamilan dan menyusui, tubuh perempuan membutuhkan tambahan nutrisi seperti asam folat dan zat besi. Zat-zat ini penting bagi perkembangan janin serta kesehatan ibu. 
  • Pasien di masa pemulihan. Saat sedang masa pemulihan, tubuh membutuhkan energi dan nutrisi ekstra untuk mempercepat perbaikan jaringan dan mengembalikan sistem kekebalan. 
  • Orang dengan diagnosis kekurangan nutrisi. Bagi yang mengalami defisiensi vitamin atau mineral tertentu (seperti anemia atau kekurangan vitamin D) sesuai dengan pemeriksaan medis tentu saja membutuhkan tambahan vitamin dan suplemen. Dokter biasanya memberikan resep untuk dosis konsumsinya. 
  • Orang yang sedang menjalani diet. Pembatasan jumlah makanan pada mereka yang sedang menjadi pola makan sangat terbatas membutuhkan tambahan nutrisi yang bisa disediakan oleh vitamin dan suplemen. 
  • Orang dengan gangguan sistem pencernaan. Ada kasus-kasus tertentu yang menjadikan seseorang atau pasien memiliki kondisi medis kronis gangguan penyerapan di sistem cernanya. 

Kondisi-kondisi di atas adalah kasus yang berada dalam pengawasan dokter atau tenaga medis. Dibutuhkan pemantauan berkala untuk mendapatkan hasil yang optimal. Sedangkan bagi orang yang kondisi kesehatannya memadai dengan pola makan gizi seimbang, sebetulnya tidak membutuhkan vitamin dan suplemen tambahan. Meski demikian, banyak orang membutuhkan vitamin dan suplemen tambahan untuk memelihara kebugaran tubuh. Selain itu juga untuk memenuhi kemungkinan kurangnya nutrisi tertentu.

Baca juga: Pola Hidup Sehat untuk Cegah Diabetes dan Virus Korona

Vitamin yang paling umum dikonsumsi adalah vitamin C. Di pasaran cukup banyak vitamin C dalam berbagai sediaan. Vitamin C dibutuhkan untuk menangkal radikal bebas dan menjaga daya tahan tubuh. Saran konsumsi vitamin C adalah pagi hari. Vitamin C larut dalam air dan membantu meningkatkan energi sehingga tepat dikonsumsi di awal aktivitas. Pilih yang aman untuk lambung sehingga bisa dikonsumsi saat perut kosong. Kalau tidak, pastikan lambung terisi lebih dahulu terutama bagi yang lambungnya sensitif. 

Vitamin B Kompleks berfungsi mengubah makanan menjadi energi, menjaga kesehatan sistem saraf, serta membantu pembentukan sel darah merah. Konsumsi B Kompleks secara teratur membantu metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein agar tubuh tidak mudah lelah. Manfaat lainnya adalah menjaga kesehatan saraf, mmembentuk sel darah merah sehingga mengurangi risiko anemia, mendukung fungsi otak, dan membantu menjaga kesehatan kulit dan rambut. Konsumsi vitamin B Kompleks disarankan pada pagi hari agar tubuh tetap berenergi sepanjang hari. 

Vitamin D3 memiliki fungsi utama membantu tubuh menyerap kalsium dan fosfor agar kesehatan serta kekuatan tulang dan gigi terjaga. Mengonsumsi vitamin D3 rutin dapat mencegah penyakit seperti rakitis dan osteomalasia pada anak, serta osteoporosis pada lanjut usia. Selain itu juga membantu meningkatkan sistem imun tubuh, mendukung kinerja otot dan saraf, serta membantu kinerja otak dalam mengolah mood dan mengurangi risiko kecemasan. Konsumsi D3 sebaiknya dilakukan pada siang hari, setelah makan, terutama setelah mengonsumsi makanan berlemak agar terserap optimal. 

Vitamin D3 alami juga bisa didapatkan dengan berjemur di bawah matahari pagi, mengonsumsi ikan berlemak, kuning telur, dan hati. 

Baca juga: Kekerasan Verbal dan Trauma Healing

Dua macam mineral yang sering kali ditambahkan dalam resep adalah Zinc dan Magnesium.

Konsumsi Zinc dapat dilakukan saat mudah sakit, sering terkena infeksi, atau dalam masa pemulihan dari penyakit. Zinc juga dapat membantu penanganan jerawat yang bandel, peradangan kulit, dan luka yang lama sembuhnya. Anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan, perempuan hamil atau menyusui, dan atlet yang sedang terganggu jaringan ototnya akibat latihan berat dapat terbantu dengan konsumsi zinc. Konsumsi Zinc disarankan dilakukan pada pagi atau siang hari, sekitar 1-2 jam setelah makan.

Konsumsi Magnesium dapat dilakukan saat mengalami stres, kecemasan tinggi, dan gangguan tidur. Magnesium membantu menenangkan sistem saraf. Mengonsumsi magnesium membuat kita relaks, mendukung relaksasi otot dan meningkatkan kualitas tidur. Magnesium juga disarankan bagi yang sering mengalami kram atau kejang otot baik karena aktivitas rutin atau menyerang mereka yang aktif berolah raga. Konsumsi Magnesium disarankan dilakukan pada malam hari, 1-2 jam sebelum tidur saat tubuh membutuhkan relaksasi. 

Semoga terus terjaga kesehatannya ya, teman-teman. Ingat, vitamin dan suplemen bukan pengganti makanan. Mereka hanya pelengkap. Pastikan nutrisi dari makanan tetap terpenuhi. Tentu saja ini termasuk berbicara kepada diri sendiri, terutama pada usia jelang menopause dengan kondisi tubuh yang sering mengalami gangguan. Sepertinya lain waktu perlu bahas topik ini, ya.

Baca juga: Ngeblog untuk Bantu Cegah Stres

Jaga kondisi mental dengan menjauhi sumber potensi masalah, lakukan hal-hal menggembirakan termasuk menjalankan hobi seperti mendengarkan musik, menonton film, atau membaca buku. Kalau sedang berselancar bacaan di dunia maya, bisa tengok blognya kawan blogger Cianjur, kreator digital Cianjur yang punya banyak cerita.

Namaste.