Featured Slider

Mercury Retrograde dan Ajakan untuk Tetap Woles

Aku mendengar bahasan tentang 'Mercury Retrograde', belum terlalu lama. Mencoba cari referensi sana-sini. Hal yang sepertinya tak diterima semua orang. Tapi buatku sendiri, make sense. Setidaknya peringatan terkait kehati-hatian dan agar melakukan sesuatu dengan lebih baik, adalah hal generik, tak perlu pertimbangan ribet tentang 'percaya atau tidak'. Terlebih hal utama yang diingatkan adalah terkait komunikasi. Siapa yang mau komunikasi terganggu dan berbuntut 'bencana'? Maka, katanya: woles saja.



Jadi, apa itu 'Mercury Retrograde'?

Secara harfiah, istilah ini diartikan sebagai fase Merkurius bergerak mundur. Tidak dalam gerak yang sesungguhnya, melainkan sebuah ilusi optik. Jika gerakan normal, planet akan bergerak di orbitnya searah dengan jarum jam, kali ini pergerakannya terihat berlawanan. Peristiwa ini dialami oleh semua planet dalam tata surya.

Baca juga: Letusan Kelud, Tinju, dan Peristiwa Kematian

Merkurius adalah planet terdekat matahari, dengan orbit 4 kali orbit bumi terhadap matahari. Merkurius mengorbit kecepatan lebih tinggi dibandingkan planet-panet lain. Nah, saat mengalami retrograde, perputaran Merkurius terhadap Matahari yang biasanya lebih cepat daripada Bumi, terlihat lebih lambat.

Lantas, mengapa jadi obrolan seolah ini peristiwa yang mempengaruhi umat manusia?

Yup, oleh beberapa kalangan, terutama yang menyukai bahasan tentang astrologi, Mercury Retrograde diyakini berpengaruh terhadap hal-hal yang berkaitan dengan komunikasi dan perjalanan. Dalam mitologi Romawi disebutkan, Merkurius dipercaya sebagai dewa pengantar pesan. Saat 'sang dewa' bergerak terbalik atau mundur, menjadi perlambang terjadinya kekacauan dalam komunikasi. 

Baca juga: Gong Smash! dan Safari Literasi Duta Baca Indonesia

Teori lain menyebutkan, Merkurius  memiliki dampak elektromagnetik yang berpengaruh terhadap komunikasi, bukan hanya terhadap makhluk bumi, namun juga semesta lainnya. Intinya lebih kurang senada, peristiwa ini memberikan dampak ikutan berupa pertengkaran, miskomunikasi, dan pengaruh buruk terhadap teknologi, misalnya gangguan koneksi internet, perangkat elektronik yang mendadak bermasalah, dll. 

Beberapa hal yang disarankan selama berlangsungnya Mercury Retrograde:

1. Slow down. Sabar. Woles saja menghadapi aneka situasi. Segala sesuatunya akan terasa melambat. 

2. Manfaatkan lebih banyak waktu untuk hal-hal yang bersifat kreatif, termasuk menggeluti kembali hal-hal berbau seni yang barangkali lama ditinggalkan. Masa ini juga tepat untuk melakukan penataan ulang rumah.

3. Latih kembali intuisi; kesampingkan logika.

4. Berusaha objektif; tidak judging, tidak berasumsi, tidak melakukan gambling.

5. Perhatikan detail. Pada masa ini disarankan tidak membuat keputusan-keputusan penting, baik terkait pekerjaan, relasi, dan lain-lain, termasuk soal pengeluaran dalam jumlah besar. Jika tetap harus membuat keputusan, cek detailnya. Lakukan double check

6. Lakukan penyaringan untuk apa yang didengar dan dikatakan. Tak semua yang didengar perlu ditelan dan mempengaruhi pikiran dan perasaan. Sebaliknya, tahan diri untuk mengeluarkan bahan pembicaraan yang berpotensi memunculkan miskomunikasi. Hindari segala kemungkinan yang berpotensi destruktif. 

7. Terkait perangkat elektronik, lakukan back up data penting secara berkala, baik di HP, komputer, dan lain-lain. Termasuk belanja perangkat, disarankan untuk ditunda. 

8. Terkait perjalanan, sangat mungkin terjadi keterlambatan atau delay dalam transportasi. Tak perlu terlalu dipikirkan. Jalani saja. 


Mercury Retrograde pada tahun 2022

Tahun ini, akan terjadi sebanyak 4 kali Mercury Retrograde. Masing-masing berdurasi sekitar 20 hari. Periode tersebut, yakni: 

14 Januari - 4 Februari 2022

11 Mei - 2 Juni 2022

11 September - 30 September 2022 

31 Desember - 18 Januari 2023

Artinya, saat ini kita sedang berada di periode yang pertama. Pastikan untuk menjaga koneksi kita dengan orang lain, termasuk makhluk-makhluk di sekitar kita. Baik dalam bentuk komunikasi langsung maupun tak langsung, verbal maupun non verbal. 

Lazimnya, secara alami, kita bergerak maju. Pada masa berlangsungnya Mercury Retrograde ini juga disebutkan dapat menjadi saat yang tepat untuk melakukan evaluasi dan refleksi terhadap kejadian buruk masa lalu yang masih menyisakan trauma. Ambil waktu, mundur sejenak, untuk memaafkan diri sendiri dan orang lain yang punya andil terjadinya peristiwa buruk di masa lalu. 

Baca juga: UMi, Upaya Sejahterakan Usaha Ultra Mikro

Boleh percaya, boleh tidak. Tapi beberapa hal positifnya masih bisa lakukan to? Misalnya, setidaknya pada masa Mercury Retrograde ini, menjaga omongan agar komunikasi tetap berjalan dengan baik, menjaga hati ada di posisi netral agar tak mudah terpancing emosi, tidak terburu-buru dan woles saja. 

Sabbe satta bhavantu sukhitatta..



UMi, Upaya Sejahterakan Pelaku Usaha Ultra Mikro

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, sektor usaha mikro, kecil, menengah (UMKM) menyumbang sekitar 60 persen dari produk domestik bruto (PDB). Tak heran jika ada anggapan, UMKM merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. Masalahnya, tercatat masih banyak UMKM yang belum berkembang karena kesulitan dalam permodalan. 

Jika dilihat dari data perbankan, baru sekitar Rp1.000 triliun atau 20 persen dari total kredit perbankan yang tersalurkan buat pelaku UMKM. Dengan hitungan tersebut, artinya kredit UMKM hanya berkisar 8 persen PDB. Dari mana sisa angkanya? Hampir dapat dipastikan, UMKM didanai oleh modal sendiri. 

Mengapa pelaku UMKM tidak menjadikan kredit usaha sebagai pilihan?

Saya mencoba menanyakan perihal kredit UMKM ke beberapa pelaku. Beberapa pertimbangan yang disampaikan antara lain:

1. Kredit artinya utang, dan utang harus dibayar. Dalam kondisi sekarang (pandemi), dapat terjebak dalam utang yang bisa jadi akan mendapatkan kesulitan dalam pembayarannya.

2. Ada opsi kredit tanggung renteng. Sulit mendapatkan koordinator yang mau bertanggung jawab atas peminjaman yang dilakukan anggotanya. Karena faktanya, masyarakat kita masih belum melek soal tanggung jawab membayar utang.

3. Ada anggapan, "ah, segini juga cukup". Banyak pelaku UMKM yang merasa tak perlu muluk-muluk ingin mendapatkan peningkatan signifikan. Tampaknya dibutuhkan dukungan terus menerus dari pemerintah, agar usaha yang dijalankan pelaku UMKM berjalan baik, stabil, bahkan mengalami peningkatan.

Pemerintah sendiri mengakui, ada 30 juta pelaku UMKM yang masih belum terlayani lembaga pembiayaan resmi. Dalam sebuah webinar, Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki menyebutkan, sesungguhnya banyak jenis pembiayaan yang kini telah disediakan perbankan bagi UMKM. Sayangnya, penyalurannya tidak merata dan masih rendah. Yang banyak terjadi, penyaluran kredit masih menyasar objek UMKM yang sama.

Pelaku UMKM yang terus berusaha bergerak, berangkat dari modal pribadi yang didapatkan dari upaya mandiri, baik menggunakan tabungan pribadi, mengandalkan kerabat, bahkan tak sedikit yang mencari pinjaman dari rentenir atau pinjaman online. Di luar itu, lebih banyak lagi pelaku UMKM yang sama sekali tak mendapatkan akses sumber dana. Mereka, para pedagang kecil, buruh tani, nelayang, yang rata-rata rentan terjerat pinjaman bunga tinggi. 

Apa yang sudah dilakukan pemerintah?

Pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah untuk membenahi hal-hal yang menjadi persoalan UMKM, yakni:

1. Meningkatkan porsi pinjaman perbankan, dari 20 persen menjadi 30 persen (pada 2024). Hal ini sejalan dengan peningkatan plafon kredit usaha rakyat (KUR) tanpa agunan, dari Rp50 juta menjadi Rp100 juta; dan dari Rp500 juta menjadi Rp2 miliar. 

2. Membentuk Holding BUMN Ultra Mikro (UMi) dan memperkuat peran koperasi. Hal ini dilakukan demi memudahkan akses pembiayaan kepada UMKM, dalam hal ini sektor usaha ultra mikro. 

Dalam piramida sosial-ekonomi, usaha ultra mikro menempati kompisi paling besar, paling bawah, dan paling sulit mendapatkan akses pembiayaan melalui lembaga formal. Terlebih di masa pandemi seperti saat ini, sektor usaha ultra mikro terimbas dengan telak. 

Perbedaan KUR dan UMi

Pembiayaan Ultra Mikro (UMi) sendiri merupakan program tahap lanjutan, yang sebelumnya merupakan program bantuan sosial, kini menjadi kemandirian usaha. Program ini menargetkan usaha ultra mikro, yang pada umumnya belum bisa difasilitasi perbankan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Fasilitas pembiayaan yang diberikan UMi, besarannya maksimal Rp10 juta per nasabah. Dana tersebut disalurkan oleh Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB), antara lain PT Pegadaian (Persero), PT Bahana Artha Ventura, serta PT Permodalan Nasional Madani (Persero). Sumber pendanaannya sendiri diambil dari APBN, kontribusi pemerintah daerah, dan dari beberapa lembaga keuangan, baik domestik maupun global.

Kembali ke hasil bincang-bincang dengan pelaku UMKM, tampaknya masih ada ketidaknyambungan antara apa yang digagas dan direncanakan dan dicanangkan oleh pemerintah dengan masyarakat pelaku usaha. Mudah-mudahan ke depan komunikasi berjalan dengan lebih baik, proses pendampingan berjalan dengan lancar, dan pada akhirnya UMKM, terutama usaha ultra mikro, dapat tumbuh berkembang dengan sukses. Setidaknya dari angka rasio mengalami peningkatan. Angka terkini, 20 persen, masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara tetangga. Tercatat, Singapura mencapai 39 persen, Malaysia - 51 persen, Jepang - 66 persen, dan Korea Selatan - 81 persen.


Pusat Investasi Pemerintah

Graha MR 21, Lantai 8

Jalan Menteng Raya No. 21

Cikini, Jakarta Pusat 10330

Telepon (021) 3924822; Faksimile (021) 3924818

https://hai.djpbn.kemenkeu.go.id/




#PIPUMi

#UMiUntukNegeri

Tetangga kok Gitu, Serba-Serbi Kisah Tetangga ala Annie Nugraha

Hidup bertetangga itu membutuhkan seni tersendiri. Sebetulnya ya tak jauh beda dengan pola relasi yang lain sih, ada saling penghargaan, saling mendukung, saling berbagi. Karena relasi yang baik dengan tetangga tentunya dapat menciptakan suasana yang menyenangkan, yang akhirnya dapat mendukung setiap usaha masing-masing keluarga. 


Baca juga: Gong Smash! dan Safari Literasi Duta Baca Indonesia 2022

Tapi ada kekhasan tertentu, jika bicara soal tetangga. Tak heran jika tema tentang hidup bertetangga ini dikemas dalam berbagai cerita, baik dalam bentuk tulisan maupun aneka pertunjukan. Di layar lebar pernah ada film bertajuk 'Rumput Tetangga'. Ada pula sitkom yang judulnya 'Tetangga Masa Gitu?'. Kalau diubek lagi, pasti bakal kita temukan lebih banyak lagi kisah serba-serbi hidup bertetangga ini. Tema yang nggak akan ada habisnya. Ini pula tampaknya yang menjadi inspirasi Annie Nugraha untuk membukukannya. 

Annie menceritakan keseharian bertetangga dengan detail yang menarik. Yang kurasa itu bukan berangkat dari pengamatan sekilas-lintas. Perlu kejelian dalam melihat berbagai peristiwa. Mata dan kuping juga. Pun, tanpa dilengkapi dengan prasangka. Sehingga tulisan pun cukup objektif meski dengan selingan hal-hal lucu yang sangat subjektif. Banyak hal baru juga, hal yang belum pernah kujumpai sendiri. Meski tinggal di sebuah komplek perumahan dengan banyak tetangga, tapi aku sangat minim interaksi. Lebih banyak beraktivitas di luar dan tak aktif terlibat dalam kegiatan di komplek. Membaca tulisan Annie ini, membuatku mengoreksi diri: kok aku nggak tahu menahu urusan tetangga sekitar ya? Bukan buat ngepoin urusan orang pastinya. Tapi lebih kepada 'ide bisa didapat dari mana saja'. 

Baca juga: Sequoia, Catatan Harian Seorang Lelaki Untuk Anaknya

Topik yang disajikan dalam 13 cerita di buku ini beragam, dari yang sekadar menanggap gosip sekitar, soal urusan parkir yang lari ke tanah hukum, hingga cerita misteri dengan bumbu horor. Yang terakhir ini sempat bikin suasana mencekam, karena dibaca selagi di rumah, yang notabene sendirian. Tapi itu menarik sungguh. Tak tertebak. Di titik-titik tertentu, sempat berspekulasi bakal begini bakal begitu. Eh meleset semua haha! Mungkin Annie Nugraha ini bakal cocok juga bikin skenario film horor hi hi hi hi..

Seru membaca tulisan Annie di buku ini. Cara bertuturnya yang santai, nyaris menyerupai obrolan bersama kawan, enak 'didengarkan'. (Bagaimana kalau membuat podcast, Mbak Annie?) Hal menarik lainnya di buku ini adalah ilustrasinya. Sukaaaaa. Ini juga yang menjadikan membaca buku Annie ini terasa lebih mengalir. Santai tapi bukan berarti tidak serius. Malah, di setiap akhir cerita, Annie melengkapinya dengan semacam pembelajaran apa yang diambil dari si cerita. Ada lesson learned. Mau baca 'Tetangga kok Gitu' juga? Sila hubungi langsung Annie Nugraha melalui akun media sosialnya.


Baca juga: Paranoia, Film Thriller Riri Reza dengan Ending yang Engga Banget

Oiya, selain menulis, Annie Nugraha juga dikenal sebagai crafter dan photographer. Mungkin sebentar lagi mau menjajagi sebagai podcaster #maksa 😁



Judul buku: Tetangga kok Gitu?

Penulis: Annie Nugraha

Penerbit: Stiletto Indie Books

Tebal buku: 142 halaman

Gong Smash! dan Safari Literasi Duta Baca Indonesia 2022

“Membaca Itu Sehat, Menulis Itu Hebat”. Demikian tema yang diusung Safari Literasi Duta Baca Indonesia, yang mengawali kegiatannya tahun 2022 ini dengan perjalanan menuju timur, hingga titik terjauh di Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebanyak 33 kota yang terbentang dari Bandung hingga NTT siap disambangi Sang Duta Baca, Gol A Gong, bersama timnya. Tak ketinggalan, Gong membawa serta buku terbarunya yang bertajuk Gong Smash!: Dari Raket Ke Pena, Dari Lapangan Ke Petualangan.




Baca juga: Sequoia, Catatan Harian Seoran Lelaki Untuk Anaknya

Menyoal buku terbarunya, kebetulan aku sempat menghadiri obrolan santai bersama Gol A Gong, 5 September 2021 lalu di Bandung. 

Aku tak cukup banyak baca karya Gong. Meski, siapa sih tak tahu Balada Si Roy? Semata keterbatasan fasilitas, aku memang nyaris tak menemukan cerita itu pada masa remajaku. Membacanya sudah sangat terlambat, ketika sudah di Bandung. Sudah memasuki dekade 90-an. Cuma, sekali lagi, siapa tak kenal nama Gol A Gong dan serialnya yang melegenda itu? Maka, begitu seorang kawan menraktirku buku terbitan baru itu, dan memintaku mengambil sendiri ke toko bukunya yang notabene menjadi tempat ngobrol santai bareng Gong, aku pun bersedia. Jadilah, pada hari itu aku bergabung dengan beberapa orang, di teras Toko Buku Malka yang sekaligus menjadi markas Penerbit Epigraf, yang menelorkan Gong Smash!



Baca juga: Buku Dongengan Naga (Chan)

Beberapa saat ngobrol, Gong menyampaikan pertanyaan yang membuatku terpaku beberapa saat. Kalau sedang minum, sudah pasti bakal tersedak. Pertanyaannya: "Kamu statusnya apa?" Buat para jomblo, pertanyaan itu terasa menohok. Atau perasaanku saja ya? Haha!

"Maksud saya, mau ditulis apa di sini? Ya kalau punya anak, bisa saya tulis 'bunda siapa' misalnya. Kalau lajang, ditulis nona," lanjut Gong seolah memafhumi bengongku. Aaah...maksudnya buat menuliskan pesan di halaman depan bukunya. Baiklah 😂

"Nama saja. Dhenok, d-h-e-n-o-k," jawabku. Huufffttt!


Baca juga: Hari Buku dan Upaya Kembali Membaca

Gong Smash! sendiri merupakan 'semacam' buku autobiografi Gol A Gong. Dalam tanda petik, karena dituliskannya dengan cara yang berbeda. Bukan seperti buku aubiografi yang lazim kita temui. Di buku ini, Gong tak hanya menceritakan tentang semata peristiwa yang dialaminya; dialami dirinya yang terlahir dengan nama Heri Hendrayana Harris itu. Tapi juga tentang perjuangan-perjuangannya. 

Heri kecil adalah bocah yang melawan sistem. Yang dengan sederhana, orang akan menyebutnya sebagai nakal. Bagaimana tidak, bocah 11 tahun memutuskan terjun dari atas pohon berketinggian 3 meter, hanya karena ingin melakukan hal yang sama dengan para serdadu angkatan udara. Hal yang membuatnya harus kehilangan tangan kirinya. Tapi Heri juga seorang yang tangguh. Dengan dukungan kedua orang tua yang luar biasa, banyak prestasi yang kemudian malah diraihnya.

Ah ya, nama Gol A Gong (sebelumnya ditulis Gola Gong) juga merupakan nama pemberian orang tuanya. Gol, nama dari sang ayah, sebagai ungkapan syukur atas karyanya yang diterima penerbit. Sedangkan Gong, nama yang disematkan ibunya, sebagai harapan agar tulisannya bergema seperti bunyi gong saat ditabuh. A sendiri diartikannya sebagai 'semua berasal dari Tuhan'. Menjadi satu kesatuan nama yang relijius: kesuksesan itu semua berasal dari Tuhan.

Selama 33 tahun berkarya, Gol A Gong telah menerbitkan 125 buku. Tak heran jika pada 2021 lalu ia terpilih sebagai Duta Baca Indonesia, menggantikan Najwa Shihab untuk masa tugas empat tahun. 

Tapiiiii...kembali ke Gong Smash!, Gong yang menulis buku, itu sudah biasa. Ibaratnya, buat Gong, sambil merem saja tulisan bisa langsung jadi. Gong yang dikenal juga sebagai petualang, telah melewati beribu kilometer jarak, memanggul berkilo beban ransel hanya dengan satu lengan. Itu pun, orang sudah tahu. Hal yang belum banyak tahu, pun aku, adalah seorang Gong yang ternyata adalah jawara bulutangkis. Bukan hanya di kancah lokal dan nasional, namun internasional. Gong pernah ikut mengharumkan nama Indonesia, membuat kuping para penggemar bulutangkis dunia ikut menyimak kumandang Indonesia Raya yang mengantar kemenangannya. "Asal kamu mau, pasti bisa!" begitu kata Gong.


Baca juga: Lust for Life, Kisah Hidup Van Gogh

'Gong Smash! Dari Raket ke Pena, Dari Lapangan ke Petualangan' terbitan Epigraf menjadi salah satu buku yang dibawa tim Safari Literasi Duta Baca Indonesia berkelana selama 3 bulan. Selain itu, mereka membawa serta buku-buku titipan, hasil hibah para penggiat literasi dari berbagai daerah yang nanti akan dibagikan ke daerah lain yang membutuhkan. 

Di setiap daerah yang dikunjungi, Tim Safari Literasi Duta Baca Indonesia 2022 menggelar kegiatan utama berupa pelatihan menulis yang menyasar kalangan muda. Harapannya, bakal bermunculan penulis-penulis baru di daerah yang menerbitkan tulisannya, sehingga kebutuhan buku di daerah bisa terpenuhi. Selain itu, digelar pula aneka pertunjukan seni serta diskusi dan seminar literasi. 

Safari Literasi Duta Baca Indonesia bersama Gol A Gong ini merupakan yang kedua. Sebelumnya, jelang akhir tahun lalu, mereka mengunjungi 12 kota di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Pada perjalanan kedua ini, tim terdiri dari Gol A Gong (Duta Baca Indonesia), Rudi Rustiadi (Asisten Duta Baca Indonesia, cerpenis, videografer), Taufik Hidayatullah (Relawan Rumah Dunia, penulis), dan Daniel Mahendra (Direktur Penerbit Epigraf, penulis). 

Ini dia jalur yang dilewati Tim Safari Literasi Duta Baca Indonesia 2022. 

Anda tinggal di kota-kota di atas? Anda penggiat literasi? Silakan bergabung dengan banyak agenda bersama Tim Safari Literasi Duta Baca Indonesia 2022.

Baca juga: Because, Antara Sapardi Djoko Damono dan The Beatles

Letusan Kelud, Tinju, dan Peristiwa Kematian

Sabtu, 4 Desember, di tengah acara reriungan kawan-kawan sealmamater, ada kiriman video erupsi Semeru di WA. Alam kembali berbicara. Gambaran yang sontak mengingatkanku kepada peristiwa 31 tahun lalu. Letusan Gunung Kelud.


Baca juga: Lebaran dan Madumangsa

Saat itu, pagi jelang siang, Februari 1990. Langit gelap tak biasa. Gelap, meski tak tampak awan hitam. Satu-dua jam kemudian, mulai terasa keanehan. Butiran pasir tipis berjatuhan. Tak cukup paham dengan yang sedang terjadi. Hal yang kemudian tercatat sebagai pengalaman pertama terkena dampak letusan gunung berapi. 

Gunung Kelud terbilang jauh dari desa aku tinggal. Dia ada di perbatasan antara Kediri, Blitar, dan Malang. Persisnya, di timur Kota Kediri dan utara Kota Blitar. Kota kelahiranku sendiri, Trenggalek, berjarak sekitar 60 km dari Kediri. Itu sebagai gambaran. 

Baca juga: Hari Buku dan Upaya Kembali Membaca

Dari kabar yang kami dengar, Kelud sudah bergejolak sejak beberapa hari sebelumnya. Dan baru betul-betul memuntahkan laharnya pada hari itu. 

Tak sampai tuntas pelajaran terakhir, sekolah dibubarkan. Kami diminta langsung pulang. Aku bersyukur, kami saat itu sudah menempati rumah baru. Rumah milik sendiri yang lebih kokoh, permanen. Peristiwa itu terjadi baru beberapa bulan setelah kepindahan. Apa jadinya kalau masih menempati rumah lama, rumah bilik bambu kami, dengan abu vulkanik yang tak henti sepanjang hari itu. 

Baca juga: Angka Unik Mengawali September 2021

Kelud baru tenang kembali dua-tiga hari kemudian. Pemulihannya sendiri membutuhkan waktu empat tahunan. 

Kelak, Kelud kembali meletus. Bulan yang sama pada 2014. Letusan kali ini lebih dahsyat dibandingkan saat aku terdampak lebih dari 30 tahun lalu itu. Material vulkanik terlontar hingga menutupi hampir seluruh Pulau Jawa. Suara letusannya saja terdengar hingga Surabaya, Solo, Yogyakarta, bahkan Purbalingga di Jawa Tengah. Hujan abu tujuh bandara di Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, Malang, Semarang, Cilacap, dan Bandung. Kerusakan sinifikan terjadi di bidang manufaktur dan industri pertanian.

Ada hal menarik sekaligus tragis yang terjadi berbarengan dengan peristiwa letusan Gunung Kelud tahun itu: Myke Tyson yang kalah KO dari James Douglas dan meninggalnya dua warga desa kami. 

Ya, hari itu berlangsung pertandingan yang ditunggu-tunggu. Mike Tyson, raksasa baru tinju dunia yang sudah mengantongi rekor 37 kali menang tanpa kekalahan pada usia 23 tahun. Saat itu, Tyson bertanding demi mempertahankan tiga gelar juar dunia yang disandangnya, yakni WBC (yang ke-10), WBA (yang ke-9), dan IBF (yang ke-7). 

Baca juga: Nunuk Nuraini dan Kenangan Kepada Indomi

Meski abu vulkanik terus berjatuhan, warga tak kehilangan antusiasme nonton pertandingan. Bergerombol di beberapa rumah yang memiliki pesawat TV. Termasuk dua bapak, sebut saja M dan S. Di tengah keriuhan pertandingan, aliran listrik putus. Lampu, televisi, mati. Tak ingin ketinggalan pertandingan, keduanya memutuskan untuk melanjutkan tontonan di tempat lain. Bermotor menuju area kota. Dalam perjalanan inilah, nyawa mereka melayang. Terseok debu vulkanik yang tebal memenuhi jalanan. 

Sementara itu pertandingan terus berlangsung. Pertandingan yang berakhir dengan kekalahan jago mereka. Pertandingan yang kemudian tercatat dalam sejarah sebagai pertandingan yang mengejutkan, saat si leher beton dibuat tumbang oleh petinju yang nyaris tak punya prestasi dengan etos profesi yang dipertanyakan. 


RIP, Pak M, Pak S.. 

Ikut berduka untuk korban letusan Semeru. Semoga alam segera pulih.


#gunungsemerumeletus

#gunungkelud