Kau tidak hidup dengan menjalani akibat dari karma orang lain. Kau menjalani hidup dengan akibat-akibat dari karmamu sendiri.
Kebaikan dan kejahatan bagaikan dua sisi yang berbeda dari sekeping mata uang.
Catatan penyulam kata
Kau tidak hidup dengan menjalani akibat dari karma orang lain. Kau menjalani hidup dengan akibat-akibat dari karmamu sendiri.
Kebaikan dan kejahatan bagaikan dua sisi yang berbeda dari sekeping mata uang.
Belakangan hari pilihan gaya hidup slow living banyak dijadikan bahasan. Tak kurang juga banyaknya komunitas yang mengambil tema ini. Sebagian orang mungkin memang secara alamiah telah menjalani hidup dalam irama yang lambat; sebagian yang lain bisa jadi menemukan bahasan soal slow living ketika sedang lelah-lelahnya menjalani hidup yang berkejaran; sebagian yang lain lagi kemungkinan sekadar FOMO saja. Mungkin loh, yaaa. Kamu, yang barangkali sejauh ini belum terpikir, bisa menimbang alternatif ini.
Baca juga: Permakultur dan Kunjungan ke Igirmranak
Aku sendiri sejak kecil terlatih menjalani frugal living. Baik secara alami maupun terencana. Secara alami karena kami tumbuh dalam lingkungan yang pas-pasan secara finansial. Secara terencana, setelah belajar lebih banyak hal terkait manajemen keuangan dan kebijaksanaan hidup secukupnya. Meski saat ini belum sepenuhnya bisa menjalani slow living, paling tidak setengah bagian prosesnya sudah terlakoni. Yang menjadikan slow living sebagai impian masa depan, santai saja. Yuk, jalani pelan-pelan.
Apa Itu Slow Living?
Aku lahir dan dibesarkan di desa. Sebagian besar aktivitas warga nyaris seragam. Bagi yang pegawai, pagi-pagi berangkat kerja, sore pulang. Begitu pula para pedagang pasar. Yang agak berbeda pedagang yang memiliki toko, jam bukanya lebih lama. Para petani pun demikian, tak jauh beda. Selebihnya mereka akan menghabiskan waktunya di rumah bersama keluarga. Sekali waktu kumpul dengan tetangga, misalnya bapak-bapak meronda, atau ibu-ibu arisan. Tak banyak pilihan aktivitas lainnya.
Ketika perjalanan membawaku meninggalkan kampung halaman, ke Bandung--yang sebetulnya relatif tidak terlalu kencang ritmenya, setiap kali pulang kampung terasa betul kesenjangannya. Waktu seolah tidak bergerak. Slow motion. Nah, apakah kehidupan model begitu disebut slow living? Salah satu bagiannya mungkin iya, tapi hal mendasarnya mungkin berbeda.
Slow living mengedepankan tentang kesadaran; menjalani hidup dalam ritme tenang, penuh makna, seimbang, sederhana, memilih kualitas daripada kuantitas dan semuanya dijalani dengan sepenuh kesadaran. Bukan hidup yang melambat karena tidak ada pilihan, apalagi malas.
Baca juga: Olah Napas untuk Mental yang Sehat dan Hidup Lebih Berkesadaran
Sebetulnya kalau dilihat dari sejarahnya, konsep slow living ini bukanlah hal baru. Awalnya adalah orang-orang Italia yang bersekutu membuat Gerakan Slow Food di Italia pada dekade 80-an, sebagai bentuk protes dibukanya gerai fast food di Roma. Pelopornya, Carlo Petrini, menggarisbawahi soal pentingnya makanan berkualitas serta upaya bersama mempertahankan tradisi lokal serta mendukung kesejahteraan petani. Gerakan ini lalu berkembang menjadi konsep slow living yang lebih luas dengan menyentuh berbagai aspek dalam kehidupan.
Jumlah pengikut konsep slow living mengalami peningkatan pesat setelah Carl Honoré menerbitkan buku In Praise of Slowness yang intinya mengajak orang untuk melambat; menjalani hidup dengan ritme yang lebih lambat. Tren slow living dianggap menjadi solusi bagi siapa pun yang mengalami stres atau ingin keluar dari rutinitas yang serba tergesa.
Baca juga: Jeda dan Meditasi Bantu Redakan Pikiran yang Riuh
Mengapa Pilih Slow Living dan Bagaimana Memulainya?
Di salah satu grup media sosial bertema slow living yang kuikuti, bertebaran postingan orang yang berkisah tentang memulai slow living di desa, meninggalkan pekerjaan di kota yang sudah penuh sesak. Berikutnya muncul pertanyaan-pertanyaan: Apakah setelah pensiun orang baru bisa slow living? Apakah kalau sudah berhasil punya passive income baru bisa menjalani slow living? Apakah untuk slow living harus tinggal di desa? Apakah untuk menjalani slow living harus berusia 40 tahun ke atas? Apakah slow living artinya harus bertanam dan beternak? Dan aneka rupa pertanyaan lainnya.
Jika mengacu pada penjelasan secara umum apa itu slow living, tentunya sudah langsung terjawab. Jika slow living membutuhkan prasyarat seperti pertanyaan-pertanyaan di atas, sebagian besar orang bisa jadi tak akan pernah punya kesempatan untuk menjalani slow living.
Karena secara hakikat slow living adalah tentang menjalani hidup dalam ritme tenang, penuh makna, seimbang, dan sederhana dengan sepenuh kesadaran, konsep ini bisa dijalankan oleh siapa pun, kapan pun, dan di mana pun.
Baca juga: Sembuhkan Penyakit Metabolik dengan Puasa dan Diet Keto
Berikut ini langkah yang bisa kita lakukan untuk menjalankan slow living. Bisa dimulai dengan langkah kecil berupa kebiasaan dalam keseharian.
1. Mengubah kebiasaan makan. Kalau sebelumnya makan dalam keadaan tergesa, kini lambatkan ritmenya dengan cara menikmati setiap suapan. Sembari mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membuat makanan tersebut bia tersaji di depan kita dan bisa dinikmati. Sembari dibarengi permohonan kepada Semesta, Tuhan, Sang Hyang Widi, apa pun kalian menyebut Sang Ilahi untuk mencukupkan rezeki bagi semua orang terutama mereka yang sedang mengalami kesusahan.
2. Tinggalkan kebiasaan multitasking. Salah satu hal yang kusadari pada waktu-waktu terakhir adalah kesulitas fokus, barangkali itu semacam brain fog. Hal ini terjadi karena selama ini terlalu banyak melakukan beberapa pekerjaan sekaligus secara bersamaan atau multitasking. Pada masanya itu membanggakan. Tapi belakangan baru kusadari dampaknya. So, tinggalkan multitasking, mulailah mengerjakan sesuatu, satu per satu hingga tuntas, baru berpindah mengerjakan hal lain.
3. Batasi interaksi dengan media sosial. Seberapa sering kamu menyadari bahwa media sosial begitu menyita waktu dan perhatianmu? Sekali bercokol di depan HP, berapa banyak akhirnya waktu yang kamu habiskan di sana, menyelam ke berbagai medsos? Yang tadinya hanya sekadar mengecek, yang terjadi malah meninggalkan aktivitas sebelumnya dan lupa dengan tujuan semula. Pelan-pelan, beri diri sendiri jatah membuka media sosial setiap harinya.
Baca juga: Kesehatan Mental dalam Skala Hawkins
4. Sediakan waktu untuk diri sendiri. Yang dalam bahasa gaulnya "me time" itu memang sungguh-sungguh diperlukan dan ada manfaatnya, lo. Jika diperlukan ingat-ingat ulang apa saja hobi yang tak pernah dijalankan lagi. Membaca, berkebun, nonton, menggambar atau melukis, dan aktivitas hobi lainnya yang menyenangkan dapat membantu melepaskan stres.
5. Praktikkan teknik hidup berkesadaran. Pada dasarnya hidup berkesadaran adalah hidup "di saat ini". Praktiknya adalah menjalankan segala sesuatu dengan kesadaran penuh; kesadaran bahwa kita hidup di saat sekarang, bukan masa lalu yang menyakitkan dan bukan masa depan yang penuh ketidakpastian. Dengan begitu hari-hari bisa dilalui dengan gembira, tanpa kecemasan dan emosi negatif lainnya yang secara langsung dan tidak langsung dapat meningkatkan kualitas hidup.
6. Mendekatkan diri dengan alam. Aku tak menemukan referensi terkait hal ini. Namun, faktor alam menurutku penting. Buatku, slow living adalah bagian dari pembelajaran spiritualitas. Dan alam adalah guru yang mumpuni dalam soal mengasah spiritualitas.
Gambaran di atas lebih melengkapi jawaban untuk pertanyaan sebelumnya, kan? Jadi, pilihan slow living bukan hanya untuk kalangan 40 tahun plus, kalangan pensiunan, kalangan yang sudah punya passive income.
Namun, sepertinya tetap, ya, S&K berlaku. Urusan finansial paling tidak sudah aman dan tidak punya tanggungan meskipun belum punya passive income. Kamu akan kesulitan menjalani hidup yang tenang jika punya hutang dalam jumlah besar, atau hutang di mana-mana. Meski sudah berusaha hidup sederhana dengan mengatur pola konsumsi, pada tingkatan tertentu tetap akan menyulitkan. Sambil menyiapkan semua perangkat, bisa mulai belajar soal perencanaan keuangan.
Pada akhirnya menjalani slow living memang sangat personal. Hitungan, takaran, dan pertimbangan tiap orang berbeda-beda. Hal yang utama adalah bagaimana konsep ini membantu kita untuk hidup sebaik-baiknya, bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain, serta makhluk dan alam sekitar.
Saat berselancar di dunia maya, tak sengaja berjumpa dengan ini film. Awalnya agak ragu. Sedang butuh hiburan, tapi dari poster filmnya tampak muram. Tetap, dilanjutkan menonton dan aku tidak menyesal. Film ini rilis dalam bahasa Perancis, La Plus Précieuse des Marchandises. Atau dalam versi Inggrisnya, The Most Precious of Cargoes. Film yang dirilis pada 2024 lalu ini digarap oleh sutradara peraih Oscar, Michel Hazanavicius.
Baca juga: Black Book, Kisah Perjuangan Perempuan Yahudi
Filmnya memang muram. Apalagi latarnya adalah kemiskinan, konflik ras, dengan nuansa yang didominasi warna putih abu salju. Namun, ada nilai kebaikan universal yang ditawarkan film ini.
Sinopsis
Kisah bermula pada sebuah hari yang gelap bersalju. Seorang perempuan, istri penebang kayu yang sedang mencari makanan di hutan sekitar rumahnya mendengar tangisan bayi. Tak jauh dari rel kereta api, dilihatnya sebuah bungkusan yang ternyata berisi bayi perempuan. Istri penebang kayu tak menimbang lama untuk membawa bayi itu pulang. Tak mungkin ia membiarkan makhluk mungil itu beku di luaran. Di sisi lain, ia meyakini bayi itu adalah kiriman dari Tuhan setelah sekian lama ia hanya hidup berdua dengan sang suami tanpa hadirnya seorang anak.
Kebingungan mulai menyergapnya begitu ia sampai rumah. Ia harus kasih makan apa itu bayi? Dalam kemiskinannya, tak mungkin ia belanja susu untuk bayi tersebut. Tak kehilangan akal, perempuan itu mendatangi tetangganya yang memelihara domba. Ia mengajukan penukaran, ranting kayu dengan susu. Sang tetangga yang ditampilkan sebagai sosok yang sangar, ternyata memiliki kebaikan hati. Ia bersedia menyediakan susu buat si bayi.
Masalah berikutnya adalah saat sang suami mengetahui sosok bayi itu. Di pikirannya hanya ada satu: tidak mungkin! Karena menerima keberadaan bayi itu di rumah mereka artinya mencari masalah.
Baca juga: Pangku, Cermin Getir Perempuan di Pesisir Jawa
Film ini mengambil latar Perang Dunia II, pasca peristiwa Holocaust. Pasangan miskin, penebang kayu dan istrinya ini tinggal di pedalaman hutan Polandia.
Siapa sebenarnya bayi itu? Yup, bisa ditebak. Ia adalah anak penyintas Holocaust. Bayi itu adalah salah satu anak dari anak kembar pasangan yang sedang dalam perjalanan menuju Auschwitz. Suasana menegangkan, saat ribuan orang membutuhkan suaka dan di tengah ketidakpastian, pasangan Yahudi ini kewalahan dengan keluarga kecil mereka. Begitu si suami mendapati istrinya tak cukup memiliki ASI untuk kedua anak kembarnya, ia memutuskan untuk membuang salah satunya. Tampaknya lemparan itu cukup aman hingga si bayi ditemukan dalam keadaan baik-baik saja.
Namun, ya itu ... masalah bapak penebang pohon menolak keras bayi itu ada di rumah mereka. Butuh waktu lama untuk meluluhkan laki-laki itu. Awalnya ia menolak keras. Akhirnya ia menyerah saat istrinya mengancam akan pergi jika ia harus kembali membuang itu bayi. Penerimaan pun bersyarat, ia tak mau tahu dengan keberadaan bayi tersebut. Berkat ketelatenan sang istri, dan secara alamiah sesungguhnya ada kebaikan tersembunyi di hatinya, diam-diam laki-laki itu tumbuh sayang kepada gadis kecil Yahudi tersebut. Ia bahkan menerima dengan tangan terbuka, menganggap gadis kecil itu sebagai buah hatinya.
Penerimaan itu harus dibayar mahal. Dalam sebuah perbincangan dengan sesama penebang, keluarlah pernyataan si bapak. Sesuatu yang terhubung dengan keberadaan seorang asing. Seorang yang terlarang. Tak lama berselang pecahlah pertikaian. Lelaki penebang kayu itu terbunuh setelah ia terlebih dulu mencederai mereka yang mengacau rumahnya. Lelaki pemilik peternakan juga ikut terbunuh dalam rangkaian peristiwa itu.
Sang istri penebang segera mengambil keputusan cepat. Ia bawa gadis kecil itu menjauh dari hutan, memulai kehidupan baru. Hidup berpihak kepada mereka. Kelak bapak dari bayi buangan itu berhasil dipertemukan dengan anaknya, meski hanya melihat dari jauh.
Baca juga: The Fighter, Film tentang Keluarga dan Pengorbanan
Potret Muram Jejak Holocaust
Memang ada film yang bersinggungan dengan Holocaust tampil dalam nuansa ceria? Hmmm ... rasanya sih belum pernah nonton. Yang sudah tertonton semuanya dalam nuansa muram. Begitu pula The Most Precious of Cargoes yang adalah film animasi ini.
Film ini merupakan hasil adaptasi dari novel karya Jean-Claude Grumberg yang juga dilibatkan dalam penulisan naskah. Gumberg menerbitkannya pada 2019, dan filmnya baru rilis 5 tahun kemudian. Sebetulnya Hazanavicius mendapatkan proyek ini pada tahun yang sama dengan kemunculan novelnya. Sayangnya proses tidak dilanjutkan karena pandemi COVID-19, dan baru dilanjutkan kembali tiga tahun kemudian.
Ada beberapa fakta menarik terkait film ini.
Hazanavicius adalah bagian dari keluarga penyintas. Pada masanya, keluarganya melarikan diri dari Nazi di Eropa Timur. Awalnya ia enggan mengerjakan proyek tersebut. Namun, akhirnya kisah yang ditulis oleh seorang teman lama keluarga itu berhasil menyentuh perasaannya. Terlebih ia menyadari kondisi kesehatan para penyintas tersisa kemungkinannya sudah tak baik-baik saja. Ia pun tertantang untuk menggarap film animasi, jenis film yang belum pernah ia tangani.
Fakta lainnya adalah bahwa narator dalam film ini, Jean-Louis Trintignant meninggal dunia tak lama setelah suaranya direkam. Ia tak pernah menikmati hasil akhir karyanya tersebut.
Baca juga: Unforgiven, Film Clint Eastwood yang Panen Penghargaan
Sebelum dimulai penggarapan film, telah dimulai publikasinya yang di antaranya menyebutkan pengisi suara Penebang Kayu adalah Gérard Depardieu. Saat akhirnya dimulai prosesnya, Depardieu dikeluarkan dari daftar pemeran karena pada saat itu namanya sedang muncul sebagai tertuduh kasus pemerkosaan dan penyerangan seksual. Posisinya digantikan oleh Grégory Gadebois.
The Most Precious of Cargoes dirilis di Prancis pada 20 November 2024, terpilih untuk berkompetisi memperebutkan Palme d'Or di Festival Film Cannes ke-77 pada 24 Mei 2024. Momentum ini sekaligus menjadi waktu tayang perdana film ini; film animasi pertama yang ditayangkan dalam kompetisi utama di Cannes sejak Waltz with Bashir karya Ari Folman pada 2008.
Meski muram, film ini layak tonton. Terutama bagi penggemar film-film animasi dan film dengan latar sejarah dunia. Sepertinya buat tontonan ke depan masih akan cari film animasi. Buat penggemar film Korea, maafkan, sangat jarang nonton. Kalau butuh rekomendasi, cek sini: Spoiler Ending dan ulasan film Korea.
Sampai ketemu di film berikutnya.
Baca juga: Film Mafia yang Layak Tonton di Malam Minggu
Membaca kisahnya membuatku berpikir bahwa masih begitu banyak hal yang bisa disyukuri di masa kini. Bukan berarti menafikan berbagai persoalan kesenjangan terkait gender, namun tak ada salahnya mensyukuri hal-hal sederhana. Masih banyak PR yang menjadi tugas kita untuk menyelesaikannya. Dan mari belajar dari seorang Franca Viola, yang pada zamannya telah berani menentang tradisi yang demikian menyudutkan dan menempatkan perempuan di posisi yang demikian rendah.
Baca juga: Berkaca dari Kasus Tiara, Femisida dan Pencegahannya
Keberanian Franca Viola telah mencatatkan sejarah, terutama terkait hukum dan keadilan berbasis gender. Topik ini masih menjadi persoalan di berbagai negara. Termasuk Italia, negaranya Franca Viola. Perjuangan masih panjang.
Perempuan Muda yang Menuntut Keadilan
Kisah ini bermula dari sebuah kota kecil bernama Alcamo, di pulau Sisilia. Nama kawasan yang barangkali cukup akrab di telinga para penggemar film mafia. Nama ini terutama nempel di film epik klasik yang mengangkat kisah keluarga mafia Corleone. Ada sejumlah film tentang mafia Italia yang juga menyebutkan dengan jelas kawasan ini. Namun, ini bukan kisah tentang mafia. Ini tentang seorang perempuan sederhana, tetapi memiliki tekad sekuat baja.
Namanya Franca Viola. Pada penghujung tahun 1965, ia berusia 17 tahun. Gadis muda ini memiliki seorang kekasih, Filippo Melodia. Kekasihnya sudah mengenal keluarganya, orang tua dan adik laki-lakinya, Mariano, yang baru berusia 8 tahun. Ketika suatu kali akhirnya Franca mengetahui latar belakang keluarga Melodia yang adalah mafia, ia memilih mundur. Sayangnya, lelaki itu tak terima diputuskan hubungan secara sepihak. Apa yang terjadi kemudian sama sekali di luar perkiraan Franca dan keluarganya. Franca diculik!
Saat itu sehari setelah perayaan Natal, 26 Desember 1965. Sekelompok laki-laki bersenjata menerobos masuk rumah sederhana keluarga Franca. Ayah Franca, Bernardo, sedang bekerja di ladang anggur keluarga. Hanya bersama ibu dan adik kecilnya, Franca tak sanggup melawan. Ibunya kena pukul, sedangkan ia dan Mariano dibawa pergi secara paksa.
Tak beberapa lama, Mariano dilepaskan. Sedangkan Franca disekap dalam sebuha ruangan. Ia disiksa dan diperkosa selama 8 hari dalam penyekapan. Aturan Italia saat itu memberikan mandat kepada pelaku pemerkosaan untuk menikahi korban, agar terbebas dari jerat hukum. Hukum yang disebut “matrimonio riparatore” itu didasari oleh anggapan bahwa pernikahan dapat “mengembalikan kehormatan” perempuan korban. Bukan keadilan. Namun, kehormatan; itu pun dalam versi mereka.
Alih-alih menerima tawaran pernikahan demi menyelamatkan kehormatan, Franca datang ke kantor polisi untuk menuntut Filippo Melodia ke pengadilan. Franca tidak sendiri. Sang ayah erat menggandeng tangannya.
Baca juga: Laki-Laki dan Peran Pentingnya dalam Kekerasan Berbasis Gender
Kata "Tidak" yang Mengubah Sejarah
Tak lama setelah pembebasannya dari sekapan Melodia, Franca sudah langsung disodori opsi untuk menikah dengan pelaku. Dorongan bukan hanya datang dari pihak Melodia. Orang-orang yang ada di sekelilingnya, tetangga, teman, keluarga jauh, semuanya berpikir hal yang sama bahwa Franca harus “menyelesaikan masalah” dengan menikah. Dengan begitu kehormatan Franca tetap terjaga.
Franca menolak. Opsi itu bukan untuknya.
Penolakan itu bukan hanya membuat berang keluarga Melodia. Warga sekitar pun mencelanya. Mereka menganggap Franca telah mengangkangi tradisi. Bukan sekadar sikap menjauhi dan kata-kata hinaan yang mereka lontarkan. Bahkan mereka membakar ladang keluarga Franca.
Franka tidak surut. Dengan ayah yang berdiri tegak di sisinya, bersikeras menuntut keadilan. Lelaki itu sadar betul, keputusan Franca akan membawa masalah besar. Namun, ia memilih memberikan dukungan sepenuhnya bagi anak perempuannya; melindungi kebenaran dan kehormatan anaknya dan bukan mempertahankan tradisi yang menindas.
Apa yang dilakukan Franca memunculkan kegemparan yang luas. Bagaimana tidak, seorang perempuan muda berani menentang hukum dan tradisi yang ratusan tahun dijadikan pijakan dalam penanganan masalah perkosaan. Dan Franca menang. Upayanya tidak sia-sia. Semua hinaan, celaan, dan cibiran orang yang ditelannya dengan susah payah itu membuahkan hasil. Pengadilan menjatuhkan hukuman penjara selama 11 tahun kepada Filippo Melodia.
Keberanian yang Mengubah Masa Depan
Peristiwa yang terjadi di kota kecil bernama Alcamo, di pulau Sisilia itu menjadi topik pembicaraan nasional. Media massa menurunkan berita perkembangan kasusnya. Franca Viola, gadis berusia belasan tahun itu menjadi perempuan pertama di Italia yang secara terbuka menuntut pelaku pemerkosaan dan menolak mengikuti tradisi “pernikahan pemulihan”.
Sejumlah tokoh menunjukkan apresiasinya. Presiden Italia saat itu, Giuseppe Saragat, menyampaikan pujian atas keberanian gadis itu. Bahkan Paus Paulus VI memberikan dukungan moral dengan menemuinya secara pribadi. Sebagai seorang gadis muda--dengan kasusnya itu--Franca tentu saja dihadapkan pada rasa malu, terhina, takut, namun ia memilih berani mengubah keadaan.
Franca tidak hanya memenangkan kasus tersebut. Ia telah berhasil mengguncang sistem hukum dan budaya di negaranya. Meski demikian tak serta merta hukum dan tradisi itu ditiadakan. Dibutuhkan waktu 15 tahun untuk betul-betul menggoncang sistem tersebut. Pada 1981, akhirnya hukum “pernikahan pemulihan” dihapuskan dari sistem hukum Italia.
Selang dua tahun dari peristiwa tersebut, Franca menikah dengan teman masa kecilnya, Giuseppe Ruisi. Mereka menjalani pernikahan yang bahagia, damai dan tenang membesarkan anak dan cucu; jauh dari sorotan publisitas. Meski demikian, publik mengenang Franca Viola sebagai pelopor hak-hak perempuan di Italia.
Dapatkan tips pernikahan bahagia dan rumah tangga harmonis di blog deestories.
Baca juga: Menjadi Perempuan Mandiri dan Merdeka
Kapan hari kubaca ulasan singkat seorang kawan medsos tentang film Pangku yang baru ditontonnya. Betul-betul singkat. Padahal aku mengenalnya sebagai seorang akademisi yang gemar bercerita. Intinya, ia pulang nonton merasa tidak membawa apa-apa. Alias itu film terlalu biasa buat dia. Tentunya sah-sah saja, karena apresiasi seseorang sangat dipengaruhi pengalaman pribadinya. Bisa jadi ia tak banyak bersentuhan dengan dunia yang disodorkan Reza Rahadian lewat debutnya sebagai sutradara di film ini. Buatku sendiri, banyak hal cukup menancap di benak: kemiskinan, perjuangan perempuan, kondisi sosial-ekonomi masyarakat pesisir, hal-hal yang sangat akrab dalam perjalananku.
Belakangan aku tak cukup mengikuti perkembangan film-film terbaru. Tapi aku sudah dengar soal Pangku ini dari kawan, yang pekan lalu nraktir nonton Rangga dan Cinta. Katanya, sebetulnya ia ingin mengajakku nonton Pangku, sayangnya belum tayang. Nah, awal pekan kemarin kok ya pas ada tawaran dari Dini, kawan di Radio Raka yang menjadi media partner penayangan film ini. Pas banget! Makasih, ya, Din dan Raka FM.
Sinopsis
Cerita diawali dengan gambaran perjalanan sebuah truk. Ada tiga orang dalam truk tersebut, sopir, kenek yang pulas tertidur di bagian tengah kendaraan, dan seorang perempuan. Si perempuan tampaknya menumpang pada penggal perjalanan yang tak diketahui si kenek. Karena begitu terjaga si kenek menunjukkan keberatannya. Atau barangkali bukan kenek, ya. Mungkin malah yang nandem, karena si sopir mengikuti anjurannya, menurunkan si perempuan di kawasan truk mereka mogok.
Perempuan yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Sartika (Claresta Taufan) itu pun berjalan terseok menyandang tas kain di pundaknya. Mukanya tampak lusuh oleh minyak dan keringat. Kakinya yang hanya beralas sandal jepit, apalagi.
Tak jauh dari persimpangan jalan raya, ia segera menjumpai deretan warung yang semarak oleh lampu dan musik hingar. Pada langkah kesekian akhirnya ia menemukan warung milik Maya (Christine Hakim). Rupanya di situlah takdir barunya berawal.
Maya memberikan tumpangan kepada Sartika, yang ia sadari akan kesulitan menemukan pekerjaan di tempat lain. Terlebih dengan kondisi kehamilan tuanya. Secara ekonomi, kehidupan Maya tak terlalu baik. Rumahnya semi permanen berdiri di pinggir pantai tempat berlabuh kapal nelayan. Rumah tanpa sekat dengan onggokan barang di sana-sini. Namun, Maya merawat Sartika dengan baik, memperlakukannya seperti anaknya sendiri. Begitu pula suami Maya. Ketika akhirnya bayi dalam kandungan Maya lahir, mereka menyebut diri Kakek dan Nenek.
Suatu hari Sartika memutuskan untuk melanjutkan tradisi yang pernah ada di warung Bu Maya: kopi pangku. Awalnya ia dipenuhi kegundahan dalam menjalankan profesi yang buatnya masih ganjil itu. Barangkali karena menyadari tak punya banyak pilihan, Sartika cepat belajar. Dari yang awalnya takut-takut, akhirnya ia mulai bisa berinisiatif agar para tamu lebih banyak berbelanja.
Baca juga: Berkaca dari Kasus Tiara, Femisida dan Peran Perempuan untuk Pencegahannya
Hingga suatu kali datanglah Hadi, pengepul ikan yang bertandang untuk ngopi, sekadar mengusir kantuk dalam perjalanan. Laki-laki itu pun tertambat hatinya akan kecantikan Tika dan bersimpati pada rumitnya kisah hidupnya yang harus membesarnya anaknya, Bayu, sendirian. Perhatian Hadi bersambut. Lambat laun, dua orang yang awalnya hanya saling mencuri pandang itu bersepakat untuk menjalani hubungan yang serius. Hadi dengan sepenuh hati memberikan dukungannya kepada Tika dan Bayu. Menyediakan diri sebagai bapak saat Bayu membutuhkan persyaratan administrasi di sekolah. Bukan sekadar itu, mereka meresmikan hubungan dalam pernikahan. Memang, tak ditunjukkan apakah itu pernikahan resmi baik secara negara ataupun agama, yang jelas mereka pindah ke rumah baru.
Kehidupan mereka terus membaik, ditandai dengan bangunan rumah yang diperbarui, dan Hadi menyiapkan gerobak baru untuk Sartika memulai usaha mi ayamnya.
Pepatah lama mengatakan, "sepandai-pandai tupai melompat, pada saatnya akan jatuh juga." Itulah yang terjadi pada si penolong, Hadi, yang tak lain adalah lelaki yang hanya memanfaatkan ketidakhadiran istrinya yang sedang menjadi buruh migran. Cerita berikutnya bisa ditebak.
Setelah didatangi istri Hadi, Sartika bergegas mengajak Bayu pulang kembali ke rumah Nenek. Membawa serta gerobak mi ayam yang belum tuntas digarap Hadi.
Sartika pun kembali ke kehidupan sebelumnya. Kali ini bertambah tanggungan baru, anak dalam kandungannya. Dengan ikhlas ia menjalani kehidupan yang tak muluk-muluk. Mimpi masa depan yang dikubur dan menjalani keseharian seapaadanya yang dihadirkan di depan mata.
Baca juga: Perempuan-Perempuan dalam Karya Pramoedya Ananta Toer
Pangku, Kisah Getir Perempuan Pesisir
Getir, itulah yang kurasakan sejak scene awal film ini. Semuanya terhubung dengan beberapa pengalamanku.
Aku punya bibi yang suaminya sopir truk jurusan Surabaya-Jakarta. Lalu, suaminya itu menghilang begitu saja, tanpa kabar, meninggalkan bibi dan kedua anaknya. Gambaran itu langsung muncul di benakku saat menyaksikan adegan pertama Pangku. Begitu scene rumah-rumah petak, gambaran yang muncul adalah rumah bibiku yang lain. Dua orang tua dengan 3 anak tinggal di sebuah rumah petak yang kondisinya tak jauh beda dengan rumah Bu Maya. Hanya, mereka bukan di pesisir melainkan di wilayah kumuh pinggiran Surabaya.
Kemiskinan itu cukup akrab dalam pengalamanku. Masih untung, dalam keterbatasan keluargaku, kami masih tinggal di desa. Meski tinggal di rumah bilik, di tanah milik orang, paling tidak kami masih bisa menikmati makanan sekadarnya dari tanah yang kami tinggali. Pun, bukan ada di wilayah yang orang dengan mudahnya menceburkan diri ke prostitusi hanya demi memperbaiki nasib.
Tentang Indramayu dan segala kerumitannya sudah kuketahui sejak lama. Dari kawan-kawan media, aktivis perempuan, dan beberapa kali singgah di kota ini. Warung-warung remang juga mengingatkanku pada kunjunganku ke Pangandaran bersama kawan-kawan penggiat kampanye soal HIV/AIDS. Di lokalisasi Pamugaran, pesisir Pangandaran, aku sempat berkenalan dengan seorang PSK asal Purbalingga. Ceritanya bisa baca di sini:
Ya, nonton Pangku ini sejak awal sudah membuatku tertohok. Sesak. Adalah fakta bahwa tak semua orang memiliki kebebasan untuk memilih. Kalaupun ada, tak cukup pengetahuan dan pengalaman untuk melihat berbagai pilihan tersebut.
Selain temanya, film ini menarik buatku karena digarap dengan sangat baik. Kurasa Reza Rahardian sukses mendapuk dirinya sebagai sutradara. Patut diacungi jempol juga untuk pilihan temanya. Alih-alih memilih cerita yang glamor dan wangi, Reza malah menyajikan tontonan kampung kumuh, para pemeran yang dihujani debu dan peluh, dan kehidupan nyata yang senyata-nyatanya ada di sekitar kita. Bukan romansa yang mempertemukan pelacur dengan cinta sejatinya yang seorang milyarder.
Semua berjalan sewajarnya, tanpa dijejali dengan pesan-pesan moral apa pun. Seolah memang Reza hanya memaparkan potret kehidupan masyarakat pesisir utara yang kali ini diwakili Indramayu. Warung kopi itu hanya oase, tempat sejenak singgah dari kepenatan hidup. Namun juga tak ada kesedihan di sana. Kerasnya kehidupan di pantura telah lama menguras air mata mereka. Bahwa kenyataan pahit bukanlah barang baru di tengah keseharian masyarakat ini. Dan memang diakui oleh Reza, segala persoalan itu telah menjadi sesuatu yang biasa buat mereka.
"Waktu saya ngobrol sama mereka, gila, mereka nggak punya waktu buat mengeluh. Nggak ada momen di mana kayak, 'ya namanya kita orang susah, Mas,' itu nggak ada. Mereka di situ kerja, yang penting bisa makan. Kebetulan, suami nelayan, pulang sebulan sekali. Jadi, kalau bisa kerja, kenapa enggak?" Demikian cerita Reza Rahadian seperti dikutip Historia (7/11/2025)
Tentu saja film ini berhasil karena para pemeran menjalankan lakonnya dengan sangat baik. Semua. Semua aktor dan aktris menjalankan perannya dengan prima. Dari semua pemain, aku hanya tahu Christine Hakim, yang sudah tak perlu diragukan kualitasnya. Ekspresinya, cara dia merokok, BH-nya yang nglembreh ke-mana-mana, sangat alami. Pun dalam ekspresi diam dan tangis yang begitu hidup. Selebihnya aku tak tahu seperti apa mereka melakonkan peran di film mereka sebelumnya.
Baca juga: Laki-Laki dan Andil Pentingnya dalam Penghapusan Kekerasan Berbasis Gender
Fedi Nuril aku cuma tahu cuitannya di X yang sekali waktu melintas. Tapi di film ini, menurutku oke. Dia memerankan tokoh Hadi dengan alami. Tak berlebihan. Begitu pula Claresta Taufan yang menampilkan diri sebagai perempuan yang tak cukup berdaya menghadapi nasibnya harus menjadi ibu tunggal, tapi memilih tidak menyerah dan berjuang dengan caranya. Penampilannya yang bermetamorfosis dari perempuan bertampang murung dan kusut menjadi sosok yang lebih berani juga berlangsung dengan halus, tanpa terlihat ada paksaan. Bahkan si bocah, Devano Danendra yang berperan sebagai Bayu juga menampilkan gaya yang ciamik.
Yang agak luput dari pemantauanku adalah sosok si bapak. Setelah film usai aku baru tahu kalau si bapak diperankan oleh Jose Rizal Manua. Sebetulnya, pemeran yang lain aku juga tak tahu dari awal. Bedanya, sebetulnya aku cukup sering ketemu dengan penyair ini saat tinggal di Cikini. Kok aku nggak hafal? Mungkin karena tubuhnya terlihat lebih tambun. Senang juga melihat bapak ini masih terus berkarya di usianya. Beberapa kali dulu kulihat ia main catur sama Remy Sylado yang sudah berpulang tiga tahun lalu. Dan yang khas dari kehadiran Jose adalah kucing-kucing yang sliweran. Kurasa itu bukan tanpa sengaja. Reza pasti tahu kalau Jose Rizal adalah bapak kucing.
Di Pangku, Jose Rizal Manua sama sekali tak bersuara. Tapi sikap, ekspresi, bahkan helaan napasnya mencerminkan sesuatu yang sarat dengan makna. Begitu pun hampir keseluruhan bagian film yang memang sangat hemat dialog ini telah berhasil menonjolkan makna walau tanpa kalimat verbal.
Meski bernuansa murung, film ini juga sempat memancing tawaku. Memang, lebih pada tawa miris. Misalnya adegan teman Hadi yang meminjam kamar untuk berhubungan dengan PSK.
Beberapa scene mengingatkanku pada lagu Iwan Fals. Ada dua, Gali Gongli tentang bocah yang hidup di area pelacuran dan lagu berlirik begini:
habis berbatang-batang tuan belum datang
dalam hati resaha menjerit bimbang
adakah esok hari anak-anakku dapat makan
oh, Tuhan, beri setetes rezeki
Aku hafal betul lirik lagu yang judulnya aku baru tahu dari googling: Doa Pengobral Dosa.
Namun, dua lagu itu tidak muncul. Lagu yang kukenal belakangan dari suara Nadin Amizah, Rayuan Perempuan Gila, hadir dengan pas di film ini. Lalu di penghujung aku dikejutkan dengan suara Iwan Fals yang ternyata betul-betul ada. Pilihannya adalah "Ibu". Lagu ini seolah menjadi gong penutup bahwa film Pangku ini merupakan kisah perjuangan seorang perempuan, seorang ibu.
Buat yang belum nonton dan masih ada kesempatan buat mendatangi bioskop, tonton, deh.
Baca juga: Menjadi Perempuan Mandiri dan Merdeka
Mantan penyiar radio, ibu meong, peminum kopi yang mencintai kehidupan dan berusaha menuliskannya di sini. Catatan kucing, tengok www.rumahronin.com. Untuk kerjasama penulisan, sila email ke: dhenok.hastuti@gmail.com. Sekarang tengah mengembangkan modalitas baru, terapi energetik dan TCM untuk kesehatan mental.