Featured Slider

Agak Laen, Film Komedi Horor yang Menghibur

Sejak tayang perdana pada 1 Februari 2024 lalu, Agak Laen telah melampaui capaian 5 juta penonton. Angka tersebut menjadikan film ini berada di urutan ketujuh film Indonesia dengan penonton terbanyak. Prestasi itu sebelumnya dipegang oleh Sewu Dino (2024), Laskar Pelangi (2008), dan Habibie & Ainun (2012), yang mengisi peringkat 7 hingga 10. Agak Laen menjadi produksi ketiga Imajinari. Sebelumnya, mereka telah sukses dengan dua filmnya, Ngeri Ngeri Sedap dan Jatuh Cinta Seperti di Film-Film.



Baca juga: Gundala, Sebuah Harapan untuk Film Indonesia

Film yang disutradarai oleh Muhadkly Acho ini menjadi pilihanku ketika sedang ingin nonton sekaligus sedang butuh ketawa. Tak mencari tahu lebih detail, selain yang disebut seorang kawan bahwa film ini menghibur. Tak tahu juga bahwa ternyata ini film berangkat dari Podcast Agak Laen yang telah mengudara sejak 2021, melalui channel audio lalu YouTube. 


Sinopsis

Agak Laen berkisah tentang empat orang sekawan, yaitu Indra Jegel, Boris Bokir, Oki Rengga, dan Bene Dion Rajagukguk. Keempat orang yang tampil dengan namanya masing-masing ini sedang berjuang untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Indra sedang terjerat utang, Boris sedang membutuhkan uang untuk masuk tentara, Oki menganggur setelah keluar dari penjara, dan Bene sedang membutuhkan uang untuk melamar kekasihnya. 

Cerita diawali dengan adegan di pasar malam. Oki dengan pakaian ala perempuan menjadi sasaran permainan. Pengunjung yang berhasil melempar bola ke papan, dapat menjatuhkannya ke dalam kolam air. Ia jadi sasaran perundungan pengunjung yang cermat dalam melempar bola. Kemarahan Oki menjadikan pemuda itu dipecat dari pekerjaannya tersebut. 

Dari peristiwa itu, Oki menjumpai karibnya, 3 orang bermarga Batak yang tengah mengalami masa sulit karena rumah hantu yang mereka buat di arena pasar malam, sepi pengunjung. Mereka sudah mendapat ancaman pengelola pasar malam untuk cepat melunasi sewa, karena kalau tidak, akan segera dipindahtangankan. Oki pun ambil peran. Diam-diam menggadaikan sertifikat rumah tanpa sepengetahuan ibunya. Uangnya ia gunakan untuk memperbaiki wahana. Namun, dari sinilah petaka bermula.

Secara tak sengaja, seorang pengunjung rumah hantu meninggal dunia dalam area wahana. Mereka merasa tak punya pilihan lain selain mengubur mayat pengunjung tersebut. Meletakkan batu nisan di atasnya, seolah kuburan itu bagian dari seting wahana. 

Baca juga: Paranoia, Film Riri Riza yang Berakhir dengan Nggak Oke

Malam itu, peristiwa menakutkan terjadi. Angin kencang memasuki arena, menciptakan kengerian. Empat sekawan itu menjadikan peristiwa tersebut sebagai peluang. Benar adanya, pengunjung dihadapkan pada kengerian yang nyata. Tayangan soal teror di rumah hantu itu pun menjadi viral di media sosial. Penonton berduyun-duyun datang. Uang pun mengalir deras. Masing-masing mereka berhasil memenuhi kebutuhannya, termasuk Oki yang akhirnya bisa menebus kembali sertifikat rumah dan membayar sewa tanah makam untuk ibunya jika kelak meninggal.

Yang menjadi persoalan kemudian, hilangnya sang penonton, Pak Basuki, yang adalah anggota dewan itu akhirnya ditangani kepolisian karena laporan sang istri. Pengusutan mulai dilakukan. Kecemasan menghampiri empat sekawan. Terlebih setelah sejumlah fakta yang muncul sama sekali tak menguntungkan mereka. Keputusannya: memindahkan mayat Basuki. Pilihannya adalah tanah makam milik ibu Oki. 

Kisah pun berakhir. Berakhir sesuai dengan norma yang berlaku, bahwa hal yang "baik"-lah yang akan selalu menang. 


Film dengan Humor Segar yang Menghibur

Cerita yang diangkat film Agak Laen sebetulnya hal yang sederhana. Seting lokasi, pasar malam, sangat dikenal di kalangan masyarakat kita. Persoalan yang ditampilkan dari para tokohnya juga hal yang dialami oleh sebagian besar kalangan di negeri kita. Aneka celetukan lucu soal kesukuan juga bukan hal yang aneh. Menjadi hidup karena ada drama di dalamnya. Dan drama itu ditampilkan dengan sangat baik oleh para pelakunya. 

Baik Indra Jegel, Boris Bokir, Oki Rengga, maupun Bene Dion Rajagukguk bermain dengan baik. Chemistry di antara keempatnya selain terbangun dengan kuat juga tampak alami. Tektokan di antara mereka terlihat wajar, baik dalam adegan kocak, horor, serius, maupun sedih.  

Baca juga: Sebelum Iblis Menjemput 2, Film Horor Pilihan 2020

Agak Laen tentu saja film dengan genre komedi. Jadi meski adegan horor, serius, maupun sedih, tetap ada dialog kocaknya. Dari yang penuh kepanikan, berakhir dengan kelucuan.  

"Dhemite Batak kabeeeh...!!" teriak dua orang yang kejeblos dalam bekas kuburan. Tak ingat persis, apakah pake Bahasa Jawa atau campuran. Tapi begitu saja sudah membuatku mengikik.

Atau saat mereka berempat memegang batu, bermaksud mencederai pengelola pasar malam, tapi ketahuan: 

"Itu batu buat apa?"

"Buat nahan berak."

Dialog dalam adegan-adegan di film ini cukup kuat. Beberapa istilah khas orang Medan memenuhi semua adegan. 

"Muncung kau itu!" Haha!

Ada juga adegan tanpa dialog, seperti saat dugaan teror hantu Basuki dan tiga orang berhamburan, Jegel tertinggal. Menggantung sebagai pocong. Atau Jegel juga yang tiap-tiap harus mengencingi batu nisan.

Tapi tak luculah kalau semuanya sekadar digambarkan lewat tulisan seperti ini. So, selagi Agak Laen masih tayang di bioskop, nonton deh!

Baca juga: Jalan Jauh Jangan Lupa Pulang, Sekuel NKCTHI


Judul Film: Agak Laen

Genre: Komedi horor

Durasi: 1 Jam 59 Menit

Rating Usia: R13+

Sutradara: Muhadkly Acho

Skenario: Muhadkly Acho

The Kite Runner, Layang-layang dan Hal-hal yang Berubah

Pernahkah kamu mendapati kisah seseorang yang berturut-turut ditimpa kemalangan dalam hidupnya? Pernahkah pula kamu mendapati dirimu sebegitu pengecutnya, tak tergerak untuk melakukan sesuatu yang sebetulnya -mungkin- dapat mengubah nasib seseorang? Dua hal itu menjadi bagian kisah yang dituturkan Khaled Hosseini dalam The Kite Runner. Persahabatan dua bocah yang diwarnai layang-layang seperti yang Hosseini dijadikan judul novelnya. Namun, penulis berdarah Afganistan tak hanya berkisah tentang persahabatan remaja namun juga perihal bangsa yang terkoyak oleh pertikaian tak kunjung padam di negerinya.


Baca juga: Mengenal Vincent Van Gogh lewat Lust for Life


Sejauh ini, rasanya hanya buku ini yang bisa membuat mataku basah sepanjang membacanya. Aku menuntaskannya pada 2006. Ingin menuliskannya kembali di sini karena kapan hari menemukan promo dari Penerbit Mizan yang rupanya mencetak ulang, entah yang keberapa kalinya, buku ini. 


Sinopsis

The Kite Runner berkisah tentang persahabatan Amir dan Hassan, dua anak Afghanistan. Usia dan ruang tumbuh bersama yang membuat mereka berteman, karena sesungguhnya ada perbedaan mencolok dari keduanya. Amir adalah anak seorang saudagar  berpengaruh di Kabul. Kekayaannya digambarkan dengan kepemilikannya atas Mustang hitam. Ia gemar menonton dan membaca apa saja. Amir menonton The Magnificent Seven hingga belasan kali. Ia membaca, mulai dari Rumi, Hafiz, Saadi, Victor Hugo, Mark Twain, hingga Ian Fleming. Keluarga Amir adalah penganut Islam Sunni. Mereka berdarah Pashtun, kelompok paling dominan di  Afganistan.

Ayah Hassan adalah pembantu di rumah Amir. Seperti ayahnya, Ali, yang mengabdi kepada ayah Amir, Hassan pun mendedikasikan hidupnya untuk Amir. Keluarga Hassan  berdarah Hazara, penganut Islam Syiah, dan berada dalam tingkatan paling rendah dalam strata sosial  masyarakat Afgan. Jika Amir telah menonton banyak film dan membaca banyak buku, Hassan buta huruf. Ia hanya tahu Shahnamah, kisah epik abad ke-10 tentang pahlawan-pahlawan Persia Kuno. Secara fisik Hassan juga tidak elok. Bertubuh ringkih dan berbibir sumbing. Yang menyamakan keduanya adalah bahwa mereka sama-sama tidak mendapatkan kasih sayang ibu kandung sejak lahir.   

Amir merasa ayahnya tidak mencintainya. Ia menduga, hal itu disebabkan oleh kematian sang ibu setelah melahirkannya. Dalam kesehariannya, Amir berusaha keras untuk melakukan banyak hal yang bisa membuat ayahnya bangga akan dirinya. Berusaha membeli perhatian dan cinta sang ayah. Itu menjadi alasan utamanya saat ikut dalam turnamen layang-layang, sebuah event besar yang digelar tiap tahun di Kabul. 

Bagi para pengejar layang-layang, hadiah yang paling berharga adalah layang-layang yang terjatuh paling akhir dalam sebuah turnamen musim dingin. Itulah trofi kehormatan yang diperebutkan, sesuatu yang bisa dipajang untuk dikagumi para tamu.

Baca juga: Fragmen 9 Perempuan dalam Diskusi di Bandung

Amir bertekad untuk menang dalam turnamen tersebut. Dan, dengan dibantu oleh Hassan, ia memang berhasil menjadi pemenang. Namun, sebuah peristiwa terjadi. Peristiwa yang menghantui Amir seumur hidupnya. Merasakan diri sebagai pengkhianat sekaligus pengecut. Percayalah, bagian ini bakal membuatmu terisak, paling tidak menjadikan matamu berkaca-kaca. 

Amir terselamatkan dari beban batinnya saat bersama keluarganya meninggalkan Afganistan. Pada akhirnya, Amir memang kembali. Di tengah situasi yang berbahaya, Amir perlu kembali ke negerinya untuk menuntaskan utang masa lalunya.


Novel Afganistan Pertama dalam Bahasa Inggris

Khaled Hosseini menuliskan ceritanya dengan mulus, mudah diikuti meski sekali waktu memunculkan kilas balik. Ritmenya yang cepat bakal membuat kita tak ingin berhenti membaca. Kita diajak menikmati eksotisme Afaganistan. Kita disodori pula penderitaan yang nyaris bercokol sepanjang waktu di negeri tersebut. Konflik yang terus berkelindan. Mulai dari konflik antarsuku, hingga invasi Uni Soviet yang menyebabkan terjadinya eksodus besar-besaran warga Afghanistan. Mereka mencari suaka ke Pakistan, lalu Amerika Serikat. Pengusiran Soviet oleh kelompok Taliban awalnya seperti angin segar. Namun nyatanya itu tak lebih dari bencana yang berganti nama. 

Ada bagian-bagian yang konon merupakan pengalaman sang penulis sendiri. Misalnya saat Kabul jatuh dalam cengkeraman Moskow, ayah Hosseini sedang menjadi diplomat di Paris. Keluarga mereka mengalami kesulitan untuk kembali ke Afganistan, bahkan harus mengajukan suaka politik kepada pemerintah Amerika Serikat.

Novel ini merupakan karya fiksi pertama Khaled Hosseini, yang adalah seorang dokter spesialis penyakit dalam di San Jose, California. Namun Hosseini tampaknya membuat karyanya dengan sempurna. Tak ada terlewat. Detailnya, baik lingkungan maupun orang per orang, menarik. Tak ada yang terlewatkan. Hosseini juga memberikan tugas kepada para tokohnya dengan proporsional. Tak ada tokoh yang menjadi protagonis murni. Hosseini tetap menjadikan mereka sebagai manusia yang memiliki sisi gelap, yang pada saat-saat tertentu menjadi pengecut dan pengkhianat. 

Baca juga: Memang, Selera Ngopi Tak Dapat Diperdebatkan

Melalui novel ini, Hosseini menerima penghargaan Humanitarian Award dari UNHCR. The Kite Runner menjadi novel Afganistan pertama yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan telah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa di 70 negara.


Judul: The Kite Runner

Penulis: Khaled Hosseini

Penerbit: Qanita (PT Mizan Pustaka), Cetakan Pertama, 2003

Tebal: 616 halaman

 

Waspada Rabies

Sepanjang tahun 2023 lalu, sejumlah kasus rabies terjadi di tanah air dan membuat Pemerintah menetapkannya sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Waspada rabies! Data dari Kementerian Kesehatan RI menyebutkan, hingga April 2023 tercatat sebanyak 11 orang meninggal dunia akibat rabies, dengan 95% di antaranya disebabkan oleh gigitan anjing. Bali berada di urutan pertama kasus terbanyak, 14.827 terpapar rabies. Nusa Tenggara Timur (NTT) berada di urutan kedua dengan 3.437 laporan kasus rabies. Sulawesi Selatan dengan total 2.338 kasus berada di urutan ketiga. Berada di urutan keempat dan kelima  adalah Kalimantan Barat dan Sumatra Barat yang masing-masing memiliki lebih dari 1000 kasus.



Baca juga: Perbedaan Darah Rendah dan Kurang Darah

Berkenaan dengan banyaknya kasus rabies, Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan telah menyiapkan vaksin rabies untuk manusia dan serum yang didistribusikan secara bertahap ke dinas kesehatan tingkat provinsi. Faktanya, di beberapa daerah sempat mengalami kekosongan stok vaksin dan serum. Di sisi lain, kesadaran masyarakat kita terkait bahaya rabies juga masih kurang. Alhasil, dari 34 provinsi di Indonesia, hanya 11 yang dinyatakan bebas rabies. 


Apa itu Rabies?

Pada 2015, di rumah ada kucing yang tengah sakit. Saat itu salah satu dokter hewan langganan tidak menyebutkan secara spesifik penyakitnya. Tanpa ada pemeriksaan lanjutan. Selintas ia menyebut kemungkinan rabies. Ish! Si Menik memang tidak mendapatkan vaksin rabies, tapi aku mencatat gejala-gejala rabies pada hewan. Tak kudapati satu pun gejala itu ada pada Menik. Agak aneh juga itu kalau diingat-ingat diagnosis dari vet. 

Rabies adalah infeksi yang ditimbulkan oleh virus Lyssavirus yang menyerang otak dan sistem saraf manusia. Rabies termasuk penyakit zoonosis karena penularannya melalui gigitan hewan. Di Indonesia, rabies dikenal juga sebagai penyakit anjing gila. Mungkin karena kasus yang sering muncul berasal dari gigitan anjing. Padahal semua mamalia bisa menjadi penyebab rabies, baik hewan ternak atau peliharaan, seperti kambing, sapi, kuda, anjing, kucing, dan hewan liar, seperti kelelawar, musang, berang-berang, rubah, monyet, rakun, sigung, dll. Sejauh ini yang menjadi sumber penularan utama adalah anjing, kucing, dan kera. 

Virus penyebab rabies ini gemar bercokol di kelenjar ludah, sistem saraf, dan otak. Hewan yang sudah terjangkit rabies akan menunjukkan gejala: 

  • Salivasi atau air liur berlebihan
  • Kejang-kejang
  • Kurang koordinasi dalam bergerak
  • Agresif
  • Takut dengan air
  • Takut dengan cahaya (membuat mereka bersembunyi di tempat yang gelap)

Masa inkubasi rabies atau waktu antara masuknya virus ke dalam tubuh hingga menimbulkan gejala, bervariasi. Pada hewan, masa inkubasi penyakit ini adalah sekitar 3-8 minggu. Itu jika hewan dengan rabies menggigit hewan lainnya. Jika hewan dengan rabies menggigit manusia, masa inkubasinya lebih awal. Umumnya 2-8 minggu, namun bisa juga hanya 10 hari. Bertahannya bisa sampai 2 tahun. 

Baca juga: Pola Hidup Sehat Cegah Diabetes


Proses penularan, penanganan, dan pencegahan

World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa rabies (dan anthrax) merupakan penyakit golongan neglected, atau terabaikan yang banyak memakan korban. Banyak orang yang tak menyadari akan bahaya penyakit ini, sehingga tindakan antisipatifnya pun tidak optimal. Kasusnya terjadi secara meluas, di seluruh belahan dunia. Penyebaran terbesar terjadi di benua Afrika dan Asia. 

Virus ini menyebar atau menular melalui gigitan hewan yang terinfeksi rabies ke hewan lain dan manusia. Virus juga dapat disebarkan oleh manusia ke manusia lain. Jika tetesan air liur manusia yang telah terinfeksi mengenai bola mata manusia lainnya, maka virus pun tertularkan. 

Menurut dokter spesialis saraf, dr. Yogi Nala, air liur, baik melalui gigitan langsung binatang maupun manusia yang telah terinfeksi akan masuk ke pembuluh darah, lalu menyasar bagian sistem saraf hingga ke otak (sistem saraf pusat). Dalam perjalanannya menuju otak, virus membelah diri atau bereplikasi. Begitu mencapai otak, gerombolan virus ini akan menyebar luas ke semua bagian neuron. Virus juga akan memasuki sel-sel limbik, hipotalamus, dan batang otak. Berikutnya, virus menyerang organ-organ dan jaringan tubuh yang penting. 

Makin luas luka gigitan dan makin dekat jarak luka gigitan dengan otak, gejala yang muncul akan lebih cepat. Makin parah gejala penyakit yang dialami penderita.  

Siapa saja yang bisa terkena rabies? Siapa pun berpotensi untuk tertulari. Namun mereka dengan faktor risiko, potensi terserangnya lebih tinggi:

  • Tinggal atau bepergian di negara berkembang
  • Bersentuhan dengan hewan liar yang terinfeksi, termasuk kelelawar dalam goa
  • Bekerja sebagai dokter hewan.
  • Bekerja di laboratorium yang rentan berkontak dengan virus
  • Memiliki luka terbuka pada kulit
  • Menerima transplantasi organ dari orang yang terinfeksi

Meski demikian, seperti dikatakan dr. Yogi, penanganan rabies bisa mendapatkan hasil yang optimal asal dilakukan dengan cepat.

Langkah-langkah penanganan korban yang mengalami gigitan hewan tersangka rabies:

  • Pertama, segera bersihkan luka dengan air mengalir dan desinfektan atau cairan pembersih luka.
  • Kedua, datangi fasilitas kesehatan untuk penanganan lanjutan luka. Di fasilitas kesehatan ini akan diberikan suntikan vaksin anti rabies yang kemudian diulang pada hari ke-7, ke-21, dan ke-28. 

Baca juga: Mindfulness dan Upaya Mengatasi GERD


Setelah tertulari, berikut ini beberapa gejala awal: 

  • Terjadi peningkatan suhu tubuh
  • Mengalami nyeri kepala hebat
  • Merasakan tidak enak badan
  • Merasakan tidak nyaman di lokasi gigitan


Gejala lanjutan akan muncul dalam beberapa hari kemudian, seperti:

  • Mengalami kebingungan atau perilaku agresif
  • Mengalami halusinasi, baik dengan melihat atau mendengar 
  • Phobia terhadap air dan cahaya
  • Mulut memproduksi saliva atau air liur berlimpah
  • Mengalami kejang otot
  • Mengalami kesulitan menelan dan bernapas
  • Mengalami kelumpuhan

Hingga saat ini diagnosis baru bisa ditegakkan setelah pengidap meunjukkan gejala. Belum ada pemeriksaan yang dapat mendiagnosis saat baru terinfeksi virus. Setelah muncul gejala, barulah dokter akan melakukan sejumlah pemeriksaan, termasuk bekas gigitan, cakaran, atau luka terbuka.


Pencegahan

Untuk mencegah terjangkiti virus ini, yang bisa dilakukan hanyalah pemberian vaksin untuk membentuk kekebalan tubuh terhadap virus dan mengurangi keparahan gejala yang muncul. Vaksinasi bisa dimulai saat hewan peliharaan berusia 12 minggu dan dalam kondisi sehat. Berikutnya, pengulangan dilakukan tiap tahun. Titer rabies atau pemeriksaan dengan melakukan tes darah untuk mengetahui tingkat proteksi terhadap virus rabies, juga perlu dilakukan. Terlebih jika ada kebutuhan membawa hewan peliharaan ke luar negeri atau ke luar daerah yang bebas rabies. 

Selain itu, diperlukan kehati-hatian terutama jika kita punya ketertarikan atau kedekatan dengan binatang. 

Nah, berikut beberapa kebiasaan dalam perlakuan terhadap binatang juga perlu dilakukan untuk menghindari risiko terjadinya penularan. Selain itu juga demi menjaga keamanan lingkungan sekitar.

  • Meminimalkan terjadinya kontak dengan hewan liar. Jika ada kebutuhan membawa hewan di area luar rumah sebaiknya dikandangkan atau diikat dengan tetap memperhitungkan kenyamanan. 
  • Memberikan kalung identitas. Ada masa-masa petugas melakukan razia terhadap hewan liar. Jangan sampai hewan peliharaan kita terjaring petugas. 
  • Hindari melakukan tindakan provokatif yang dapat menyebabkan anjing maupun hewan penular rabies lain menggigit. 
  • Awasi anak-anak yang sedang bermain dengan hewan. 
  • Selalu gunakan leash atau tali tuntun untuk hewan peliharaan yang diajak jalan-jalan untuk menjaga kontrol.
  • Jaga kesehatan hewan peliharaan, dan lakukan check-up berkala jika diperlukan. 

Hingga memasuki 2024, kita masih diminta untuk waspada rabies. Terutama untuk daerah dengan kasus tinggi. Semoga kita semua dalam kondisi sehat, dan ikut menjadi orang lain serta lingkungan sekitar tetap sehat. Namaste.

Baca juga: Ngeblog sebagai Sarana Melepaskan Stres



Pelihara Ikan Hias Bantu Rawat Kesehatan Mental

Dalam sebuah kelas meditasi yang pernah kuhadiri, sang guru membagikan informasi soal level of consciousness (LoC), tingkat kesadaran. Konon, kalangan spiritualis meyakini bahwa ikan hias terutama koi, memiliki LoC yang terbilang tinggi, setidaknya lebih tinggi jika dibandingkan dengan manusia yang memiliki kesadaran rendah. Belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan hal tersebut, namun kurasa klaim itu cukup masuk akal. Coba kamu amati gerak-gerik koi, tenang dan gemulai. Bukankah mereka menularkan suasana damai untuk lingkungan sekitarnya? Tak heran jika ikan ini dijadikan alat bantu dalam melakukan meditasi dan upaya merawat kesehatan mental. 


Baca juga: Mengelola Pikiran Agar Terhindar dari Stres Berlebihan

Nah, agar ikan-ikan yang lucu itu dapat membantu kita untuk ambil sikap tenang dan terjaga kesehatan mental, tentunya mereka perlu dirawat dengan baik. Tercukupkan kesejahteraannya, dengan memberi mereka makanan ikan yang berkualitas dan lingkungan tinggal yang nyaman.

 

Kesehatan Mental

Sebelum berkenalan dengan koi, mari kita bahas dulu perihal kesehatan mental, ya. 

Mengutip Federasi Kesehatan Mental Dunia (World Federation for Mental Health), kesehatan mental disebutkan sebagai kondisi yang memungkinkan adanya perkembangan yang baik secara fisik, intelektual, dan emosional. Orang dengan kondisi mental yang sehat mampu menyadari potensi dirinya, memiliki kemampuan dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup, dapat bekerja dengan baik dan bekerja sama dengan orang lain, serta memberikan kontribusi kepada lingkungannya.

Dengan kesehatan mental yang baik kita akan berada dalam suasana batin yang tenang, damai, positif, yang memungkinkan kita bisa menikmati dan mensyukuri keseharian kita. Kita pun dimampukan untuk mengapresiasi dan menghargai keberadaan serta peran yang dilakukan orang lain. Peduli. Tidak cuek dan masa bodo. Sebaliknya, jika kondisi mental kita buruk, yang terjadi adalah emosi yang tak terkendali, mudah terpantik marah, insecure, putus asa, ada keinginan menyerang, apatis, tak peduli dengan orang lain dan lingkungan sekitar, dan perasaan-perasaan negatif lainnya. Selain melelahkan, tentunya kondisi tersebut menjadikan kita kontra produktif. Pekerjaan terbengkalai, relasi sosial memburuk, dan penghargaan terhadap diri sendiri pun ikut ambles.

Di sinilah pentingnya melatih tingkat kesadaran kita. Dengan menjalani hidup yang penuh kesadaran, kita dimampukan untuk memahami setiap peristiwa yang kita jumpai, dan menerimanya secara proporsional tanpa terjebak dalam wilayah emosi yang menyesatkan.

Baca juga: Kesehatan Mental dan Skala Hawkins


Merawat Ikan Hias Koi

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan level kesadaran. Bagi kalangan religius bisa kembali menjalankan ibadah rutin dan membaca kitab suci. Membersihkan lingkungan kita tinggal merupakan salah satu hal yang disarankan. Barang-barang tak terpakai yang menumpuk menyimpan energi negatif. Melakukan aktivitas fisik atau berolahraga dapat mengeluarkan hormon-hormon yang dapat meningkatkan energi positif. Yang terakhir, melakukan meditasi.

Nah, bicara tentang meditasi, ada kalangan yang menjadikan ikan koi sebagai mediator yang dapat membantu kekhusyukan dalam bermeditasi.

Mengapa koi? Ikan ini diyakini memancarkan energi positif, cocok sebagai teman melakukan meditasi. Koi mewakili dua energi, yin dan yang. Filosofi China menyebutkan, yin adalah lambang femininitas, dan yang untuk maskulinitas. Dalam tradisi Jepang, koi dianggap memiliki dua kekuatan yang saling membangun. Energi berlawanan namun saling mendukung.

Dalam banyak referensi, jika menyebut koi sebagai salah satu ikan hias yang banyak dipelihara, akan terhubungkan dengan dua negara, Jepang dan China. Ikan ini diyakini berasal dari China, yang kemudian dibawa ke Jepang oleh pedagang China. Pada masa itu, sekitar abad ke-17, koi dijual sebagai produk konsumsi. Barulah pada awal abad 19, para petani Jepang membudidayakannya sebagai penghias kolam. Dalam perkembangannya kemudian, ikan ini mendunia dengan corak yang lebih unik dan beragam.

Baca juga: Doa, Meditasi, dan Vibrasi Energi


Katanya, memelihara koi itu tidak mudah? Benar nggak, sih?

Seperti halnya peliharaan yang lain, baik hewan maupun tanaman, dibutuhkan penanganan sesuai dengan kebutuhan mereka. Jika perawatan dan penanganan tepat, peluang hidup akan lebih besar.

Nah, jika sudah punya niat untuk memelihara koi, berikut beberapa hal penting yang perlu diketahui dan disiapkan:

1.  Memilih kolam. Gunakan kedalaman minimum 50 cm untuk kolam buat koi, dengan lebar menyesuaikan jumlah koi yang dipelihara.

2.  Menggunakan air bersih. Pastikan air yang menjadi tempat tinggal koi bersih, jernih, dan bebas zat kimia.

3.  Memilih bibit unggul. Anakan koi yang sehat tentu saja memudahkan perawatan, termasuk daya ketahanan mereka dalam beradaptasi di lingkungan baru.

4.  Hiasi kolam dengan tanaman air. Bukan sekadar menjadi pemandangan indah, namun membuat ikan koi merasa berada di habitatnya.

5.  Memasang filter air. Perangkat ini memiliki fungsi menyaring kotoran dan menjaga kualitas air.

6.  Memberi makanan ikan yang berkualitas. Koi bisa mengonsumsi binatang kecil seperti cacing, jentik nyamuk, dan kutu air. Bisa diberikan nutrisi tambahan berupa kacang polong, wortel, atau selada. Tapi ketersediaan pelet yang berkualitas sangat penting untuk pertumbuhan koi. Pemberian pelet bisa diberikan dua kali sehari, pagi dan sore hari.

7.  Memastikan temperatur kolam tepat dan stabil. Suhu ideal yang disarankan untuk koi adalah kisaran 24 hingga 26 derajat celcius. Cek secara berkala untuk memastikan keamanan dan kenyamanan ikan hias ini. Selain untuk kandungan pH air, disarankan sekitar 7,2-7,4.


 

Jika beberapa hal di atas disiapkan dengan baik, besar peluang ikan koi tumbuh dengan sehat dan berkembang biak dengan baik. Untuk produk makanan berkualitas, bisa coba produknya CPPETINDO, produsen dan distributor pakan yang percaya bahwa hewan kesayangan yang sehat adalah hewan kesayangan yang bahagia. Salah satu makanan ikan Koi Sakura Fish Food,  pakan yang diformulasikan dengan nutrisi khusus untuk memastikan kesehatan dan warna ikan.

Untuk ikan mas koki, cupang, louhan, manfish, guppy, platis, black molly, komet, discuss, koi, neon tetra, black ghost

Komposisi :
Tepung ikan, tepung udang, tepung kedelai, tepung terigu, vitamin dan mineral, penambah pigmen, antioksidan

Nilai gizi :
Protein min.30%, Lemak min.3%, Serat max.4%, Abu max.12%,  Kadar Air max.12%

Keunggulan produk :
Mengandung nutrisi lengkap dan seimbang untuk menjaga kesehatan ikan. Tidak mengeruhkan air

Peletnya berukuran 1mm, dengan formula nutrisi khusus untuk memastikan kesehatan dan warna ikan. Produk ini juga tak mengeruhkan air, jadi mengurangi kerja filter air. Produk lainnya bisa cek di websitenya. Bukan hanya makanan berkualitas untuk ikan, tapi juga binatang peliharaan lainnya. 


Eh, memang binatang bisa bahagia? Ikan bisa bahagia? Tentu bisa! Mereka kita rawat dengan baik dengan makanan dan tempat tinggal yang memadai, kita ajak interaksi, bahagialah mereka. Dengan begitu, mereka pun siap untuk membantu dan menemani kita menaikkan tingkat kesadaran dan terhindar dari persoalan kesehatan mental. 


Selamat mencoba. Selamat meditasi. Selamat sehat dan bahagia. Namaste.


Baca juga: Manifestasi, Upaya Mengaktifkan Pikiran Bawah Sadar


Veronika Memutuskan Mati, Novel Paulo Coelho tentang Kerapuhan Manusia

Sesuai judulnya, nama Veronika adalah tokoh sentral novel karya Paulo Coelho ini. Ia, sosok perempuan 24 tahun yang kecewa dengan kondisi sosial di sekelilingnya. Ia juga mengalami kejenuhan dalam hidupnya, bosan menghadapi rutinitas, hidup yang stagnan. Dan, Veronika yang cantik dan pintar itu memilih untuk mati. Aku langsung terkesan saat pertama melihat buku ini, karena saat itu nama Veronika baru saja tersematkan di bagian depan namaku.  



Baca juga: Berhikmat bersama Loki Tua

Aku membaca buku ini 2008. Menuliskan reviu singkatnya di multiply. Waktu berbenah buku beberapa bulan lalu, aku bertanya-tanya, ke mana perginya buku itu. Baru beberapa hari lalu terjawab. Seorang kawan masa lalu, yang entah kenapa menghilang begitu saja, tiba-tiba berkirim WA dan bilang akan mengembalikan beberapa buku dan DVD film yang ia pinjam. Baiklah, si Veronika akhirnya pulang. 


Kenapa Harus Mati? 

Seringkali kematian menjadi sesuatu yang layak dipertimbangkan. Ada yang bilang, "toh tidak ada yang berubah, mati sekarang atau nanti". Atau yang pernah menjadi trend, bunuh diri untuk menghindari kesulitan di masa depan. Atau atas alasan tak sanggup menghadapi tekanan dalam posisi mereka sebagai orang terkenal. Contohnya kasus-kasus bunuh para seleb Korea Selatan. Yang terakhir, pada Desember 2023, kematian Lee Sun-kyun. Salah seorang aktor pemain film pemenang Oscar, Parasite ini ditemukan tak sadarkan diri di sebuah taman di pusat kota Seoul. 

Itu jugalah yang kemudian dilakukan Veronika. Dari surat-surat yang ditemukan kemudian, isinya mengkritik masyarakat akan ketidaktahuan mereka akan negara Slovenia. Orang sering menyangka Slovenia adalah nama kota di Jerman. Kekesalannya itu menjadi salah satu alasan untuk bunuh diri. Sederhana bukan? Namun begitulah manusia dengan segala kkompleksitasnya, justru dapat membuat keputusan dengan alasan yang terkesan remeh-temeh.

Maka, Veronika yang cantik dan pintar itu pun mencoba untuk membunuh dirinya. Obat tidur dalam jumlah banyak pun ditenggaknya. Sayangnya, sayangnya Veronika tidak langsung mati. Alhasil, Veronika dibawa ke rumah sakit jiwa Villete, yang terletak di ibukota Slovenia, Ljubljana. Di rumah sakit inilah Veronika justru menemukan banyak hal menarik. Orang-orang yang unik dan berbeda, yang merasa tidak perlu menjadi bagian dari kolektivitas massa. Kadang terbersit penyesalan karena mencoba mengakhiri hidupnya. 

Namun tentunya sudah terlambat, obat-obatan yang dikonsumsi Veronika sudah merusak jantungnya. Seminggu waktu yang diberikan dokter untuk Veronika menikmati kehidupan. Dalam kurun waktu itu, Veronika mendapatkan pelajaran hidup dari tiap "orang aneh" di sekitarnya. Di rumah sakit ini Veronika belajar mengekspresikan emosinya, gairahnya terhadap seks, belajar arti hidup, jatuh cinta, dsb. Dan Veronika pasrah untuk sisa hidupnya.

Baca juga: Cantik itu Luka, Kisah Perempuan-perempuan dengan Luka


Novel tentang Kerapuhan Jiwa

Kegilaan adalah ketidakmampuan mengkomunikasikan apa yang ada dalam pikiran. Kita semua pernah mengalaminya. Kita semua, apa pun bentuknya, adalah gila (hal. 78)

Lewat novel yang diterbitkan tahun 1998 ini, Paulo Coelho mengisahkan individu-individu rapuh yang terlempar ke rumah sakit jiwa karena hasrat, impian, dan sikap hidup mereka berbeda dengan yang dianggap normal oleh masyarakat.

Ada kisah percintaan yang menjadi bumbu novel ini, yang membuat pembacanya ikut cemas, akankah hubungan Veronika dengan Eduard, si penderita skizofrenia, dapat bertahan. Selebihnya Coelho memaparkan tentang kegelapan jiwa-jiwa. Mereka yang menjadi gila dan jauh dari kenormalan. Dan seperti novel-novelnya yang lain, Coelho mengajak pembacanya untuk menggali lebih dalam makna kehidupan. Ia memunculkan pertanyaan sederhana yang membuat kita berpikir: sesungguhnya siapa yang gila?

Lewat Veronika, Coelho seolah juga mengingatkan bahwa hidup bahagia bukanlah hidup dalam kenormalan, dalam zona nyaman. Sekali waktu perlu keluar dari rel dan segala macam keteraturan serta keajegan. Menikmati gejolak dan liku-liku yang menantang dan tak terprediksi.

Baca juga: Perjalanan Menulis dan Fragmen 9 Perempuan


Judul    : Veronika Memutuskan Mati

Penulis : Paulo Coelho

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, Cetakan keempat, 2006

Tebal     : 258 halaman