Featured Slider

Letting Go, Sistem Pragmatis untuk Membebaskan Diri dari Hambatan dan Keterikatan

Dalam pengantarnya, David R Hawkins menyebutkan LETTING GO sebagai sebuah teknik pelepasan adalah sistem pragmatis untuk melepaskan banyak hambatan dan keterikatan. Dalam termonologi 'kita' barangkali yang mendekati adalah pasrah atau ikhlas. Hawkins yang juga seorang ilmuwan ini menyebutkan, riset yang sudah dilakukannya menunjukkan bahwa teknik ini lebih efektif dibandingkan banyak pendekatan lain dalam menghilangkan respons fisiologis terhadap stres. Seorang kawan mengenalkan buku ini, pada suatu kali mengetahui aku sedang berusaha melepaskan diri dari dampak akan trauma masa kanak.


Baca juga: Berkenalan dengan Laku Spiritual Melalui Buku Tantra

Saat mengawali baca buku ini, ada bagian yang membuatku terkekeh-kekeh. Yakni bagian tentang bagaimana orang berupaya membebaskan diri dari tekanan akibat berbagai alasan, dan mencoba bahagia dengan menemukan diri melalui berbagai cara. Cara-cara yang sebagiannya sudah pernah kulakukan. Berasa Hawkins langsung bicara padaku secara personal. Padahal, ya, lebih kurang hal ini dialami oleh banyak orang lain. Mereka yang ingin menjalani hidupnya dengan lebih baik secara spiritual. 

Singkat kata, ini buku sangat menarik buatku. Langsung menyentuh ke persoalan yang dialami oleh banyak orang. Ada keterhubungan di situ. Pun dilengkapi dengan contoh-contoh sederhana yang dapat langsung dipraktekkan, selain banyak hal mendasar perihal spiritualitas yang membutuhkan kesadaran dan ketelitian ekstra dalam mengejanya.

Misalnya, dalam bab 2 tentang Mekanisme Pelepasan, diberikan contoh sederhana tentang orang yang tengah adu argumen. Ketika intensi makin meningkat, sudah muncul perasaan kesal dan marah, si orang ini ambil sikap tertawa. Dengan sekadar tertawa, rasa marah, takut, perasaan diserang bisa lenyap dengan seketika. Bahkan sangat mungkin digantikan perasaan lega dan bahagia. Teknik ini dapat dilakukan kapan pun, di mana pun, dan dalam situasi apa pun. Intinya: melepaskan apa saja secara sadar dan sesering mungkin sesuai kehendak kita.

Perasaan negatif sebagai sumber masalah

Pada dasarnya, hidup manusia adalah perjuangan panjang dan rumit untuk bebas dari ketakutan dan harapan batin yang telah diproyeksikan ke dunia. Pasalnya, kita tak memiliki mekanisme sadar untuk mengatasi rasa takut tersebut. Alih-alih mengatasi, yang terjadi malah menekannya karena tak ingin rasa takut itu muncul ke permukaan. Alhasil, tumpukan ketakutan bersarang di dalam tubuh yang berikutnya melahirkan banyak pikiran. 

Yang umum kita jumpai, ada tiga cara utama menangani perasaan:

1. Penekanan dan penahanan. Dalam penahanan perasaan, terjadi tanpa sadar. Sedangkan penekanan dilakukan dengan sadar. Saat di satu sisi ada ketidaksanggupan menghadapi tekanan perasaan, pada sisi lain ingin terbebas karena kebutuhan untuk melakukan hal yang tak ingin terganggu oleh si perasaan. Mekanisme tubuh lantas memilah berdasarkan alam sadar dan bawah sadar yang sudah terbentuk sebelumnya di lingkungan keluarga dan masyarakat. Penahanan dan penekanan ini pada akhirnya memunculkan sikap-sikap yang tak bersahabat hingga terjadinya penyakit-penyakit psikosomatis.

2. Ekspresi. Sebagian dari masyarakat kita meyakini bahwa mengekspresikan perasaan bakal menghindarkan kita dari tekanan. Fakta yang terjadi adalah sebaliknya. Ada energi besar yang butuh disuntikkan untuk mengekspresikan perasaan. Namun, tetap, ada bagian perasaan yang masih tersembunyikan. Di lain pihak, ekpresi tersebut memiliki kecenderungan untuk menyakiti orang lain dan memunculkan masalah baru.

3. Pelarian. Pelarian diri menjadi pilihan bagi yang butuh pengalihan akan perasaan yang menekannya. Inilah yang disebut-sebut sebagai sumber pemasukan utama dari bisnis hiburan, ketika orang berbondong-bondong mencari pengalihan dengan menghibur diri. Yang terjadi kemudian malah menghilangkan kewaspadaan, kepedulian terhadap orang lain, dan kreativitas.

Semua upaya menekan perasaan tersebut memunculkan aneka masalah sosial, gangguan kejiwaan, peningkatan sikap mementingkan diri sendiri, dan hilangnya kepekaan. Lebih buruknya, ketidakmampuan mencintai dan mempercayai orang lain, yang berujung pada kebencian terhadap diri sendiri.


Baca juga: Alaya, Kisah tentang Mimpi yang Mewujud, Takdir, dan Cinta


Mekanisme Pelepasan

Pada intinya pelepasan adalah sebuah tindakan sadar dalam menyikapi sebuah perasaan; membiarkannya muncul, bertahan menghadapinya, lalu membiarkannya pergi dengan sendirinya tanpa keinginan untuk mengubah atau melakukan apa pun terhadapnya. Yang menjadi fokus adalah melepaskan energi di balik perasaan tersebut.

Langkah-langkah yang dilakukan:

1. Biarkan kita memiliki perasaan tersebut. Terima seapa-adanya. Tanpa menolak, mengutuk, menghakimi. Penolakan adalah perlawanan yang membuat perasaan itu terus bekerja.

Saat berproses, kita akan dihadapkan pada ketakutan dan rasa bersalah. Lepaskan rasa takut dan bersalah terhadap perasaan itu terlebih dahulu, baru masuk ke dalamnya. 

2. Saat pelepasan, abaikan semua pikiran. Berfokus kepada perasaan, bukan pikiran. Pikiran tidak akan ada habisnya dan bisa menggandakan diri. Saat kita mulai terbiasa dengan proses pelepasan, kita akan sadari bahwa perasaan negatif terkait erat dengan ketakutan dasar kita akan keberlangsungan hidup. Teknik pelepasan akan membatalkan program-program yang terbangun sepanjang hidup kita sebelumnya itu secara progresif. 

3. Proses pelepasan perlu dilakukan secara terus menerus selama dibutuhkan. Perasaan akan selalu datang dan pergi seumur hidup kita. Dengan melakukan pelepasan, pada akhirnya kita hanya akan menjadi penyaksi. Kita akan menyadari bahwa perasaan-perasaan itu semata ciptaan ego, kolektor program yang secara keliru dimaknai pikiran sebagai yang dibutuhkan untuk bertahan hidup. 

Upaya pelepasan mungkin akan berjalan lambat dan halus. Bersabarlah, dan tak terburu-buru menyebut teknik itu sebagai tidak efektif. Terlebih jika kita tergoda untuk tetap berada dalam 'zona nyaman perasaan' yang sudah terbangun sekian lama. Karena kalau itu yang terjadi artinya kita tak sedang bertumbuh ke arah mana pun.

Itu beberapa hal yang cukup detail bisa kubagikan dari buku ini. Selebihnya? Masih banyak sekali. Hawkins detail membahas anatomi emosi, aneka macam perasaan, transformasi apa saja yang mungkin terjadi, bagaimana menangani sakit yang diakibatkan tekanan perasaan, perihal hubungan antar manusia, dan lain-lain yang dibagikan dalam 21 bab, sepanjang 396 halaman.

Baca juga: Mengenali Karakter Orang lewat Temperamen dan Zodiak

Buku dengan landasan teori yang sudah teruji, lengkap dengan panduan teknis yang sangat membantu. Ini buku menurutku lengkap sebagai referensi dan bahan pembelajaran bagi yang ingin mengalami keajaiban berkat pengalaman hidup yang berpasrah.


Judul      : Letting Go

Penulis    : David R.Hawkins

Penerjemah : Shalahudin GH

Penerbit   : Javanica

Tebal      : 424 Halaman

Cetakan I  : Juni 2020

ISBN       : 978-6026-799548

Mengenali Karakter Orang Lewat Temperamen dan Zodiak

Dari dulu aku menggemari bahasan tentang manusia. Selalu menarik untuk mencermati manusia. Terutama setelah memasuki masa kuliah dan mendapat mata kuliah Pengantar Psikologi Umum. Lalu menemukan buku pengetahuan psikologi populer terkait temperamen. Tak ingat persis tulisan siapa dan terbitan mana. Tapi itu pengetahuan pertama yang sangat mengesankan buatku. Mencermati diri sendiri dan oran lain. Lalu iseng mengaitkannya dengan zodiak. 


Baca juga: Alaya, Kisah tentang Mimpi yang Mewujud, Takdir, dan Cinta

Masa kini, sudah banyak sekali teori kepribadian yang dilengkapi dengan aneka tes. Tapi, buatku, pengenalan soal temperamen di masa lalu itu sudah lebih dari cukup. Melihat ke diri sendiri, kelemahan dan kelebihan diri berdasarkan karakter yang khas dari temperamen tersebut. Melatari upaya untuk melakukan perbaikan diri, terlebih dengan aneka kegelisahan yang muncul akibat gegar budaya. Makhluk dari desa nun di Jawa Timur yang ujug-ujug harus berhadapan dengan aneka manusia dan persoalan kota sebesar Bandung. 

Ada apa saja di buku itu? 

Temperamen merupakan kombinasi kualitas mental bawaan. Penentunya banyak, termasuk kimia otak manusia dan kerja pada sistem saraf pusatnya. Studi tentang temperamen ini diyakini berawal dari dokter Yunani kuno, Hippocrates, dan dokter Romawi kuno, Galen, yang percaya temperamen tergantung pada cairan yang ada di tubuh manusia.

Temperamen digolongkan ke dalam empat macam:

1. Sanguin

2. Koleris

3. Flegmatis

4. Melankolis


Sanguin

Secara umum:

  • Optimis, komunikatif, dan aktif
  • Suka bersenang-senang
  • Punya energi yang besar
  • Cenderung ekstrover
  • Impulsif, mudah bosan, terlalu banyak bicara

Orang Sanguin adalah pembuat hidup suasana. Namun pada skala yang berlebihan, kehadirannya bisa mengganggu orang lain. 


Melankolis 

Secara umum:

  • Analitis, hati-hati, perfeksionis
  • Baik dalam mengerjakan hal detail
  • Terencana
  • Introver
  • Mudah curiga dan cemas, moody, obsesif.

Sifat perfeksionis orang Melankolis menghasilkan karya yang prima. Namun pada sisi lain, kecenderungannya yang terlalu detail serta sifatnya yang moody, menjadikan pekerjaan sering tertunda.


Flegmatis

Secara umum:

  • Tenang, setia, pemerhati
  • Baik dalam menjalin hubungan antarmanusia
  • Mudah beradaptasi 
  • Cenderung introver
  • Pasif, tidak punya ambisi, keras kepala

Orang Flegmatis adalah sang pembawa damai dan bisa menjadi pemimpin jika dibutuhkan. Pada sisi negatifnya, mereka sangat mungkin tak membawa perubahan apa pun. 


Koleris

Secara umum:

  • Percaya diri, cerdas, mandiri
  • Senang berada di posisi pemegang kendali
  • Kreatif dan konsisten dengan tujuan
  • Ekstrover
  • Agresif, tak mudah berempati, terlalu percaya diri

Orang Koleris memiliki bakat alami sebagai pemimpin. Namun jika sisi negatifnya yang lebih berperan, akan membuat orang lain tertekan. 


Baca juga: Memang, Selera Ngopi Tak Dapat Diperdebatkan


Setiap orang memiliki temperamen dominan, yang paling menonjol dan mudah dikenali. Jika dilakukan pengetesan, biasanya angkanya di atas 40% dibandingkan temperamen lainnya. Yang paling dominan, lalu disusul dominan kedua yang biasanya juga relatif mudah dicermati (bagi yang gemar mencermati karakter manusia). Namun, pengenalan karakter orang berdasarkan temperamen ini tentu saja tak bisa saklek. Karena karakter orang dibentuk oleh banyak faktor. Namun, sebagai pengantar, cukup menarik untuk dicoba. 

Misalnya, saat hadir di sebuah pertemuan, kita akan segera bisa menemukan Si Sanguin yang penuh pesona, yang dengan segera akan menemukan teman-teman baru. Lalu, saat keadaan tak cukup terkendali, atau dibutuhkan sosok yang muncul sebagai contoh, sudah dapat dipastikan Si Koleris yang akan ambil peran. Orang Melankolis akan mencatat dengan baik semua proses yang terjadi, dan dia bisa memberikan gambaran detail bahkan analisis jika dibutuhkan. Di mana orang Flegmatis? Mereka biasanya mengambil tempat yang terhindar dari orang banyak, atau di sudut yang bisa leluasa melakukan pengamatan. Dari contoh itu, sedikit banyak kita bisa memiliki gambaran akan melakukan bentuk komunikasi seperti apa dengan mereka. 

Sebagai pengantar, bukankah itu menarik?

Lalu, saat itu, saat di bangku awal kuliah itu, mulai menghubung-hubungkan temperamen dengan zodiak. Eh, kok zodiak yang itu kecenderungan temperamennya itu ya? Demikian aku mencermati pola karakter dari teman-teman di lingkungan sekitar.


Dalam zodiak, ada penggolongan berdasarkan elemen alam:

  • Udara: Cerdas, memiliki kemampuan beradaptasi dan bersoialisasi. Tidak stabil, penuh keraguan, sering bertindak terburu-buru
  • Tanah: Stabil, tenang, realistis. Dingin, kaku, materialistis. 
  • Air: Peka, adaptif, intuitif. Mudah terpengaruh, pasif, malas. 
  • Api: Kepribadian yang kuat, percaya diri, penuh ide. Minim toleransi, egois, agresif.


Dan jika dikaitkan dengan temperamen, jadilah begini: 

  • Sanguin - Udara (Aquarius, Gemini, Libra)
  • Melankolis - Tanah (Capricorn, Taurus, Virgo)
  • Plegmatis - Air (Pisces, Cancer, Scorpio)
  • Koleris - Api (Aries, Leo, Sagitarius)

Cocok nggak? Kalau nggak cocok, jangan diambil hati ya... 


Baca juga: Mercury Retrograde dan Pengaruhnya


Ingatan soal temperamen dan keisengan masa awal menjadi mahasiswa ini muncul gara-gara konten IG permintaan seorang kawan soal 'introver yang ekstrover.' Permintaan, yang kuduga, intinya adalah apakah seseorang bisa memiliki dua sifat itu sekaligus. Tentu saja bisa. Dalam skala yang berbeda, dan biasanya muncul berlaku dalam suasana yang berbeda pula. Tubuh yang akan memilih sendiri. 

Buatku sendiri, pembelajaran di masa muda itu masih sangat relevan. Dan berulang kali menjadi pengingat bagi diri sendiri. Kesadaran diri yang kadang terlalu santai, tak punya obsesi bahkan tak punya mimpi. Hal-hal yang perlu diperbaiki. Atau saat down, mengingatkan diri sendiri bahwa aku seorang yang fleksibel, yang akan mampu melewati segala persoalan. Begitu pun saat harus berhadapan dengan orang lain yang rumit.

Ya, mempelajari manusia dari berbagai perspektif itu menarik. Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia mengatakan: 
Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaran dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput. 

Sepakat, manusia memang rumit. Tapi, bukankah itu tantangannya? Karena aku ingin terlibat dalam setiap upaya kebaikan. Untuk sekadar ikut memastikan, bahwa semua orang bisa baik-baik saja. Bahwa manusia bisa hidup dengan damai dalam segala perbedaannya. Aku meyakini, selagi dengan sepenuh kesadaran mengakui adanya perbedaan dalam diri manusia secara personal, dan menjadikan hal itu sebagai hal yang positif untuk saling melengkapi, relasi antarpersona dapat berjalan dengan baik. Komunikasi adalah kunci. 

Demikianlah, aku tak takut menghadapi perbedaan.. Kamu juga kan?

Gara-gara mengeja kembali catatan tentang temperamen ini, lantas dipertemukan dengan catatan lain soal zodiak dan shio dalam detail yang menarik. Sepertinya Semesta sedang memintaku untuk mempelajarinya dengan lebih serius. 

Alaya, Kisah tentang Mimpi yang Mewujud, Takdir, dan Cinta

Sekilas melihat ilustrasi kover Alaya, sudah langsung terbayang, buku ini berkisah tentang Tibet. Yang sontak mengingatkanku pada film yang kutonton pada 1998, Seven Years in Tibet. Diakui oleh sang penulis, Daniel Mahendra (DM), film tersebut memang salah satu yang menginspirasinya untuk melakukan perjalanan, selain tentu saja kisah terdahulu yang menjadikan Tibet sebagai mimpinya sedari kanak, Tintin in Tibet.    



Baca juga: Berkenalan dengan Laku Spiritual melalui Buku Tantra

Cerita diawali dengan muasal rencana perjalanan, tentang mewujudkan mimpi masa kanak. Berlanjut proses adminitrasi dan cerita perjalanan pra Tibet. Perjalanan di Tibet sendiri, baru kita temukan di halaman 145. Tibet yang sama sekali berbeda dengan yang dibayangkan penulis. Bagaimana tidak? Film Seven Years in Tibet yang rilis pada jelang akhir 90-an saja menampilkan setting lokasi empat dekade sebelumnya. Persisnya, film yang diangkat dari memoar Heinrich Harrer (1952) itu mengisahkan pengalaman pendaki Amerika tersebut di Tibet pada kurun antara 1944 dan 1951. Tapi menjejaki negeri yang sudah mengisi impian sekian lama, tentu saja tetap merupakan keajaiban. Banyak hal menarik yang dipaparkan penulis. Perihal perjalanannya sendiri, berkereta hingga 44 jam, dengan segala persoalan manusia di dalamnya. Fasilitas kereta, kebiasaan-kebiasaan orang, perbedaan bahasa, kepedulian terhadap liyan. Hampir dua hari dalam kereta, melalui aneka dataran, cuaca cerah hingga dingin bersalju area pegunungan berketinggian 4000 mdpl. Banyak hal yang terjadi. Pun berikutnya, perjalanan menggunakan bis dalam paket wisata yang diikuti penulis.

Seru! Mengikuti penuturan DM, berasa mengintili ke mana dia pergi. Ikut merasakan yang ia alami. Seperti saat penulis terserang mountain sickness, berasa ikut mengalami demam. Membayangkan, aku yang sepertinya tak bakal sanggup berada di ketinggian. Kehabisan oksigen, sakit kepala, mual.

Ketidaknyamanan penulis saat mengunjungi Potala Palace juga mengingatkan pada kunjunganku ke Bali beberapa tahun silam. Orang yang abai terhadap prosesi keagamaan. Ambil foto, wara-wiri di area ibadah, sambil riuh bersuara. "Tiba-tiba aku merasa malu menjadi turis yang berkunjung ke Tibet." Begitu ujar DM, setelah ia menyaksikan para pengunjung bergegas, berlalu lalang, bahkan menyenggol para biksu yang khusu' merapal doa. Meski akhirnya ia pun lantas menginsyafi hal tersebut sebagai bagian dari perkembangan peradaban. (Peradaban?)


Kuinsafi: apa pun persoalan dan liku jalannya, hidup memang selalu berjalan ke depan. Tak ada kondisi yang selamanya serupa. Biarlah sejarah yang mencatatnya. Bukankah Majapahit pun sirna? Ya, aku mesti belajar menerima kenyataan.


Baca juga: Coffee, Selera Memang Tak Bisa Diperdebatkan 

Perjalanan penulis, pada akhirnya bukan semata mewujudkan mimpi masa kanak. Ada banyak hal penting yang bukan semata perjalanan itu sendiri, melainkan aneka pembelajaran di dalamnya. Banyak hal menarik yang dikisahkan penulis dari obrolan-obrolannya dalam perjumpaannya di setiap sudut wilayah. Ada yang membawaku merenung, ada yang memunculkan nuansa sedih, tak sedikit yang membuatku terbahak. Kurasa DM cukup berhasil menyajikan humor dalam tulisannya.


Mimpi

Berapa banyak di antara kita yang mempertahankan mimpi, menempatkannya sebagai bagian dari masa depan, bukan sekadar bunga tidur?

Lewat Alaya, DM menyodorkan cerita tentang mimpi yang mewujud. Bagaimana kisah dalam bacaan masa kanaknya, Tintin in Tibet, tersimpan kuat dalam memorinya dan berharap kelak betul-betul dapat berada di negeri atap dunia tersebut. Mimpi, dan keterkaitannya dengan law of attraction. Hukum alam ini menyebutkan, apa pun yang menjadi pikiran kita, kita akan menariknya ke dalam diri. Saat kita terhubung dengan semesta, saat pikiran berada dalam satu frekuensi dengan frekuensi semesta, maka apa yang tersimpan dalam benak itu, pada saatnya akan mewujud menjadi sebuah peristiwa nyata. 

Bersikukuh dengan mimpi sepertinya memang perlu. Setidaknya itu yang bisa dicontohkan penulis, mimpi masa kanaknya terwujud saat ia sudah berusia pertengahan 30-an. 


Takdir

Ada banyak bagian dari kisah perjalanan dalam Alaya yang mengacu pada 'takdir'. Tapi aku ingin ambil bagian perjumpaan penulis dengan gadis Perancis, Jeane. Aku suka bagian ini. Chemistry yang terbangun dari keduanya, terasa alami. Membayangkan berdua bersampan di danau menikmati matahari senja. Dan betapa sendu ketika akhirnya perpisahan tiba.

"Ah, alangkah dahsyatnya cinta. Kita bisa bersemangat sekaligus terlunta-lunta karenanya," ungkap DM perihal peristiwa perpisahan itu.

Muncul pertanyaan iseng: Apa jadinya kalau penulis memutuskan ikut Jeane ke India? Atau, kalaupun bukan saat itu, apa yang akan terjadi jika hubungan mereka berlanjut?

Ada sejumlah tanda yang seolah semesta secara sengaja mempertemukan mereka. Untuk menjadi pasangan. Tapi nyatanya itu tak terjadi. Seperti yang dituturkan penulis kepada anaknya, perjalanan itu bermuara pada keberaniannya untuk mengambil keputusan. Menikahi perempuan yang kelak menjadi ibu dari anaknya. 

Baca juga: Sequoia, Catatan Seorang Lelaki untuk Anaknya

Cinta

Menyambung perihal takdir, andaikan penulis memutuskan untuk menemui Jeane, si gadis Perancis, mungkin 'Alaya' tak pernah lahir. Atau lahir dalam versi yang berbeda dari yang kini kita baca. Apa pasal? Karena penulis mendedikasikan buku ini buat anaknya, Sekala. 

Catatan khusus buat Sekala ini ia rawi dalam lembaran-lembaran antar bab yang ditandai dengan tulisan berhuruf miring. Semacam warisan untuk sang bocah yang kelak akan menjalani kehidupannya sendiri, dan bagaimana ia nantinya merawat dan mewujudkan mimpi-mimpinya. Guratan cinta terbaca sungguh dari catatan-catatan itu.

Pada akhirnya, buku ini memang tak semata berkisah tentang perjalanan. Melainkan sesuatu yang memberikan makna lebih. 

Proses untuk mencapai sesuatu acap kali jauh lebih bermakna ketimbang tujuan itu sendiri. 


Ini sejalan dengan kesirikanku selama ini terhadap para pejalan, traveller, yang kaya. Bukan sesuatu yang sifatnya materi, melainkan pengayaan karena demikian banyaknya bahan pembelajaran dari perjumpaan-perjumpaannya sepanjang perjalanan. 

Banyak catatan menarik yang disampaikan DM lewat tulisannya. Catatan pengingat tanpa pretensi menggurui. Sila baca langsung bukunya. 

Judul: Alaya - Cerita dari Negeri Atap Dunia 

Tebal: 413 halaman

Penulis: Daniel Mahendra

Penerbit: Epigraf

Cetakan pertama, September 2018

Baca juga: Gemulung, Kisah Pelarian dan Kegetiran Hidup

Ah ya, yang bertanya-tanya tentang 'apa sih Alaya?', tak perlu tergesa. Karena jawabannya baru akan tertemukan jauuuh, di halaman belakang.



Berkenalan dengan Laku Spiritual melalui Buku Tantra

Banyak ajaran kuno di Nusantara yang nyaris punah, karena sejumlah faktor. Di antaranya adalah hadirnya ajaran-ajaran baru yang dibawa ke tanah air, disebarkan serta dianut secara masif oleh masyarakat. Salah satu ajaran kuno tersebut, Tantra. Ajaran yang berkembang di Bali ini telah banyak membaur dengan Hindu, yang datang belakangan. Meski demikian, fakta ini menjadi hal yang menggembirakan bagi para pelaku Tantra.




Aku mengenal buku ini dua tahun lalu. Direkomendasikan oleh seorang kawan, saat tahu aku meminati kajian tentang spiritualitas. Aku sendiri, entah, lupa kapan mulai meminati tema tentang dunia spirit ini. Suatu saat teringat, akan kubagikan lewat tulisan yang lain. Maka Tantra ini menjadi buku pertamaku mengenal ajaran yang bertujuan mencapai puncak kesadaran diri yang membebaskan tersebut. Lucunya, saat beberapa kawan tahu buku yang sedang kubaca itu, mereka nyengir. Bahkan ada yang langsung terbahak, dibarengi dengan komentar yang merujuk kepada aktivitas seksual. 

Tantra Kiri dan Tantra Kanan  

Seperti dituangkan penulis, I Ketut Sandika, dalam pendahuluannya, banyak yang memandang dan memahami Tantra sebagai 'jalan rendah' yang dipenuhi praktik-praktik menyesatkan dan hal-hal yang irasional. 

Memang, Tantra merupakan laku spiritual yang dalam praktiknya identik dengan hal-hal yang gaib dan mistik. Hal yang oleh sebagian kaum beragama dianggap sebagai kepercayaan primitif yang menyesatkan. Senyatanya, kegaiban dan mistisisme merupakan salah satu dari sekian banyak cara para leluhur dalam kerangka hidup yang harmonis bersama bhuwana agung (jagad raya, makro-kosmos). Penyatuan bhuwana agung dan buwana alit (diri sendiri, mikro-kosmos).

Sementara terkait aktivitas seksual yang diprasangkakan, di buku ini dibahas soal Tantra Kiri dan Tantra Kanan. Barangkali inilah, yang dicatat oleh sebagian orang yang melihat ajaran Tantra semata soal seks. 

Pendekatan Tantra Kiri memang ekstrem. Laku spiritual jalur ini menempuh jalan pembebasan yang erotis dan berupaya menakhlukkan hal-hal yang sensual secara radikal. Ritual Tantra Kiri lazim dilakukan di kuburan, meliputi Pancamakal Puja, yakni lima cara untuk mencapai sensasi rohani dan menuju puncak penyatuan mistik. Lima cara tersebut adalah:

Mada: meminum minuman keras sepuasnya

Matsya: memakan ikan sepuasnya

Mudra: melakukan gerakan tangan mistik sepuasnya

Mamsa: memakan daging sepuasnya

Maithuna: berhubungan seksual sepuasnya


Buku Aa Naga diskon 50%

Tantra Kiri dipilih sebagai upaya untuk menghancurkan segala sifat raksasa dalam diri. Disebutkan, Tantra Kiri banyak dianut oleh raja-raja era Kediri. Inilah yang memunculkan dugaan, Tantra Kiri dilakoni agar mendapatkan kekuatan dan kesaktian. Demikianlah, konon, dalam praktiknya, para pelaku Tantra Kiri berusaha mendapatkan kesaktian lalu menggunakannya untuk tujuan-tujuan yang jahat, yang intinya mencelakai orang lain. Padahal, menurut penulis, tak satu pun catatan dari lontar yang menunjukkan tujuan penyimpangan. Laku yang ekstrem ini sepertinya memang berpotensi besar melahirkan penyimpangan.

Baca juga: Gemulung, Kisah Kegetiran dan Pelarian Hidup

Berbeda halnya dengan Tantra Kanan, yang memang mensyaratkan berlaku halus. Tantra Kanan mencari kebebasan dengan menggunakan pendekatan tapa, brata, yoga,dan semadi.Tujuannya adalah mencari pembebasan melalui pengekangan atau pengendalian diri secara ketat. Mengekang dan mengendalikan bukan berarti menghancurkan. Perangkat indrawi masih menjalankan fungsinya. Yang dilakukan hanyalah melakukan pengekangan dengan mengarahkan indra-indra ke dalam diri agar reaksi dari tiap indra dapat dikenali dengan baik.

Penekun Tantra Kanan melakoni praktik Pancamakara Puja yang lebih mengarah kepada hal-hal yang bersifat filosofis. Lima sadhana yang oleh pelaku Tantra Kiri diterjemahkan secara harfiah, oleh pelaku Tantra Kanan dilakukan internalisasi ke dalam bentuk yang kebalikannya.

Mada: bukan minum minuman keras sepuasnya, namun dimaknai sebagai haus akan inti pengetahuan

Matsya: bukan makan ikan sepuasnya, namun dimaknai sebagai cara mencari kesejatian diri hingga kedalaman tak terhingga

Mudra: melakukan gerakan tangan dan tubuh yang dibarengi dengan pengendalian gerak pikiran

Mamsa: bukan makan daging sepuasnya, namun merupakan cara ketat melakukan pengendalian terhadap sifat hewani dalam diri

Maithuna: bukanlah persenggamaan antara dua tubuh melainkan senggama antara jiwa individual dengan jiwa kosmik



Ajaran Tantra sangat luas, dengan berbagai cara untuk dipraktikkan. Meski demikian, jalan yang banyak tersebut tak terpisah satu sama lain.

Baca juga: Memang, Selera Kopi Tak Dapat Diperdebatkan


Tantra, laku spiritual terkait aksara

Konsentrasi Tantra adalah aksara. Segala sesuatu di dunia terkait aksara, baik kelahiran, kehidupan, maupun kematian. Tubuh adalah aksara sesungguhnya. Semua aksara -Wrehastra ada di setiap bagian tubuh, Swalalita di setiap persendian, dan Modre bergelayutan pada setiap organ-organ vital- lebur menjadi bijaksara Ong, yang terdiri dari Nadha, Windu, Ardachandra, dan hamsa Okara. Nadha berada di atas ubun-ubun, Windu di bagian kepala, Ardhacandra di tubuh dari bawah kepala hingga atas kemaluan, dan hamsa Okara berada bagian bawah tubuh, yakni suku kaki. Dalam Bhuwana Agung semua itu melambangkan susunan kosmologis, yakni surya, bulan, matahari, bintang, dan susunan planet.

Dasaksara, yang menempati organ-organ vital dalam tubuh manusia tersebut, secara langsung terkoneksi dengan Dasaksara di jagat raya melalui Matriks (Akasa). Nah, jika manusia mampu mengakses dan mendayagunakan kekuatan Dasaksara dalam tubuhnya, dia akan menjadi berkesadaran. Bukan untuk menjadi seorang yang sakti, namun lebih kepada kesadaran atau menemukan jati diri. 



Dalam praktiknya, untuk dapat memfungsikan aksara-aksara tersebut sebagai energi, aksara mesti digetarkan atau didengungkan kembali. Caranya adalah dengan melalui meditasi, atau beberapa teknik lain seperti pranayama (mekek angkian), pasuk wetu aksara (keluar masuk aksara), ngelukun aksara (memutar aksara), ngeringkes (meringkas aksara), serta teknik Tantra Kuno lainnya. Saat aksara digetarkan, kekeruhan batin yang mengendap akan dicairkan dan dilarutkan oleh panas pusaran energi hingga luruh. 

Pada prinsipnya, jalan Tantra merupakan jalan holistik atau menyeluruh, yang di dalamnya ada meditasi, tradisi spiritual berkesadaran, dan penyembuhan. Jika tubuh tidak seimbang, tidak stabil, dan ada gangguan, bagaimana bisa menumbuhkan kesadaran? Demikianlah, konsep Tantra adalah keseimbangan.

Baca juga: Pseudonim, Kisah Pertarungan Idealisme Dunia Penulisan

Masih banyak hal lain yang dibahas buku setebal 367 halaman ini. Buku terbagi dalam 7 bab, mulai dari bahasan umum tentang Tantra, hingga penjelasan aksara dalam Tantra. I Ketut Sandika menerjemahkan 30 lontar berbahasa Kawi yang merupakan warisan leluhur, ke dalam bahasa yang relatif mudah dipahami. Alumnus Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar menuntaskan Tantra dalam kurun satu tahun.

Bagaimana aku memahami buku ini? Sebagai pengetahuan, menarik. Menarik juga untuk menyelami laku Tantra, mulai soal menyayangi semua makhluk, cara mengelola keinginan, tentang pengetahuan diri dan ketuhanan, dan masih banyak lainnya. Hanya, bagian tentang simbol dan aksara, saiyah pusiang 😂 Masih belum sampai pemahamanku. Semoga ada kesempatan berjumpa langsung dengan Bli Ketut Sandika, dan minta diajari dengan melakukan praktik langsung.


Judul: Tantra Ilmu Kuno Nusantara

Penulis: I Ketut Sandika

Penerbit: Javanica 

Tanggal terbit: Januari, 2019

Jumlah halaman: 372


 

Memang, Selera Ngopi Tidak Dapat Diperdebatkan

Bagi penikmat kopi, membaca aneka referensi terkait kopi menjadi hal yang seru dan menarik. Bahkan wajib. Karena, sepertiku, yang menjadi pengopi sepanjang waktu, banyak hal yang sesungguhnya belum tergali dari urusan perkopian. Selalu ada hal baru. Nah, buku Coffee, Karena Selera Tidak Dapat Diperdebatkan yang ditulis Dani Hamdan dan Aries Sontani merupakan sebuah buku tentang kopi yang sangat recomended. Apa pasal?


Baca juga: Gemulung, Kisah Pelarian dan Kegetiran Hidup

Pilihan desain 

Buku dicetak dalam format bujur sangkar. Unik, tak biasa. Kerja yang digunakan pun art paper yang memberikan kesan wah. Tata letak foto dan pemilihan jenis font juga terlihat berkelas. 

Penyajian

Materi tentang kopi disajikan dengan menarik, tidak membosankan. Selain foto-foto yang mendukung tema, pemilihan variasi huruf, juga penyajian tulisan yang tak melulu bicara tentang data namun juga tips dan aneka quote yang pas. 

Lengkap dan sistematis

Sebagai pengopi, entah sejak kapan, ada banyak hal baru yang kutemukan di buku ini. Lengkap. Mulai dari pengenalan jenis kopi, proses pengolahan bean, hingga proses penyajian. Penyusunannya pun sistematis, cukup memudahkan untuk orang mencari lebih dulu bagian yang ingin dibaca. Ini adalah buku referensi yang tak harus langsung dibaca habis. Bisa dibuka dan dibaca ulang sesuai kebutuhan. 

Setidaknya tiga hal standar itu dapat dijadikan patokan untuk membaca buku ini. Selebihnya bisa jadi sangat personal, seperti halnya pilihan kopi kita. Kalau ditanya soal, 'apa pilihan kopi terbaikmu?', jawabannya bisa jadi bakal beragam. Buatku misalnya, aku akan dengan mantap menjawab: black, always black.. Buatmu, sangat mungkin beda. Sama-sama black, tapi apakah tubruk, espresso, americano, long black? Lebih menyukai yang legit ala latte, atau pilihan gurihnya cappuccino? Atau berdingin-dingin dengan es kopi susu?

Baca juga: Gong Smash! dan Safari Literasi Duta Baca Indonesia

Alasan yang cukup personal buatku membaca buku ini adalah karena ditulis oleh kawan sendiri, Dani Hamdan. Karena tulisan kawan sendiri, lantas kudu dibaca bukunya? Tentu tidak. Bukan begitu. Tapi karena si kawan, yang lumayan sering ketemu, memang memiliki kapasitas memadai untuk menulis tentang kopi. Pengalamannya terjun langsung ke tengah petani kopi, bicara langsung dengan para penggiat dan pebisnis, terlibat sebagai konsultan dalam pengelolan perusahaannya, di berbagai wilayah di tanah air, memang sangat layak untuk dibagikan dan dijadikan pembelajaran.  

Aries Sontani sendiri adalah petani kopi Garut, yang mengusung bendera D'Arffi Coffee. Ia membeli kopi dari etani dengan harga yang layak. Aries juga membina kelompok petani di Pasirwangi, Garut. 

Ini dia beberapa detail dari buku ini. 

Aneka informasi umum soal kopi, mulai dari arabika dan robusta, yang paling banyak dikenal hingga kopi-kopi unik lainnya di aneka negara.



Prinsip dan teknik brewing, mulai dari dasar sekali sampai yang rumit. Penjelasan detail dari masing-masingnya juga kita bisa pelajari.

Biasanya seduh kopi dengan suhu berapa? Nah kaaan..nggak tepat ituuuu..

Baca juga: Pseudonim, Kisah Pertarungan Idealisme Dunia Penulisan

Yang suka membuat aneka sajian, ada bagian resep. Buatku sih terlalu rumit haha.. Sudahlah, aku sih menyerah kepada kopi tubruk saja. Atau oiya, kemarin baru belajar membuat espresso paaki rok presso. Selebihnya, untuk sementara, menyerah. Buat yang senang ngulik, cocok banget dah mencoba resep-resep di buku ini. Salah satu yang kutemukan, kopi mentega, yang aku tahu menjadi salah satu minuman pelaku diet keto.


Itu saja beberapa detailnya. Selebihnya, baca sendiri. Pokoknya, seru! Nggak akan rugi punya buku ini. Silakan cari di toko buku ya..


Judul: Coffee, Karena Selera Tidak Dapat Diperdebatkan

Penulis: Dani Hamdan & Aries Sontani

Penerbit: Agromedia

Jumlah halaman: 174


Baca juga: Tetangga kok Gitu, Serba-serbi Kisah Tetangga Ala Annie Nugraha