Ketika Tradisi Ngelawar Dibuatkan Ajang Kompetisi bagi Anak Muda

Kapan hari secara tak sengaja kulihat tayangan soal semacam kompetisi memasak di Bali. Pesertanya anak-anak muda. Menunya hanya semacam: lawar. Ini menarik. Karena bagi masyarakat Bali, lawar bukan sekadar nama masakan melainkan tradisi. Dalam pembuatan lawar, masyarakat menghimpun kebersamaan, gotong-royong. Dan rupanya, untuk terus melestarikan tradisi ini, agenda serupa digelar secara berkala. Tidak selalu berupa perlombaan, tapi juga parade, sekadar menyajikan kemeriahan dengan menampilkan kuliner khas lokal. 

Baca juga: Wisata Kuliner dan Religi di Bali, 2024

Aku ini bisa dibilang bukan tukang makan. Tapi aku suka membuat catatan kuliner. Tiap kali datang ke kawasan tak kukenal, aku akan selalu berusaha mencicipi makanan lokal. Karena buatku, kuliner tak sekadar bicara soal makanan, tapi juga budaya. Kalau suatu kali aku bisa jalan-jalan ke luar negeri seperti kawan travel blogger yang sering ke Hong Kong, salah satu pilihanku pastilah mencari makanan khas wilayah kunjungan. Lawar, aku suka. Tiap kali ada kesempatan makan di rumah makan Bali, aku meminta lawar porsi ekstra. Belum semua jenis lawar kucicipi. Paling sering lawar berbahan nangka, kacang panjang, dan pepaya muda. Yang pasti kuhindari adalah lawar merah. Tak sanggup membayangkan campuran darah dalam masakan.


Beberapa Fakta tentang Lawar

Lawar jarang dibuat dalam porsi kecil. Dari sejarahnya, olahan ini merupakan bagian penting dari ritual keagamaan (adat/yadnya) di Bali atau umat Hindu, seperti pernikahan, potong gigi, atau odalan. Yang hadir bukan hanya keluarga, tapi juga warga desa yang jumlahnya bisa ratusan, bahkan hingga ribuan jika pemilik acaranya mampu. Memasaknya tentu saja dalam skala besar. Karena itu pengerjaannya pun mesti oleh banyak orang, bersama-sama atau bergotong-royong. Hal ini sekaligus menjadi simbol kebersamaan dan ikatan sosial. 

Bahan utama lawar secara umum terdiri dari sayuran, parutan kelapa muda, dan daging cincang. Sayuran yang digunakan antara lain nangka muda (direbus lalu dicincang halus), kacang panjang (diiris kecil lalu direbus sebentar), klungah (batok kepala yang sangat muda, untuk khusus lawar klungah), jantung pisang dan tauge biasanya dicampur dengan sayuran lainnya. Sayur-sayuran di lawar masa kini bisa terbuat dari berbagai macam. Kelapa muda parut bisa disangrai atau dibakar untuk memunculkan sensasi gurih. Bagi yang suka, potongan kecil kelapa sisa parutan akan menciptakan sensasi tersendiri. 

Daging yang dijadikan campuran biasanya antara babi atau ayam. Di masa lalu, penyu juga dimanfaatkan dagingnya. Sekarang sudah tidak lagi karena sudah masuk kategori binatang dilindungi. Daging-daging itu direbus atau dikukus dulu sebelum dicincang dan dicampur dengan bahan lainnya.  

Bumbu pada sebagian besar masakan Bali menggunakan basa genep, yakni campuran dari bawang merah, bawang putih, cabai, jahe, serai, kencur, dan aneka rempah lain. Aneka bahan itu dirajang sampai setengah halus, barulah dicampurkan dengan bahan lainnya. Pada lawar merah dibutuhkan darah segar untuk memberi warna dan rasa khas. 

Baca juga: Ragam Kuliner Halal dan Nonhalal di Bali

Setelah proses pencampuran, lawar disajikan di atas piring tanah liat dengan dialasi daun pisang atau janur.

Apa saja yang perlu kita tahu tentang lawar dan proses pembuatannya ini?

Makna filosofis. Lawar merupakan simbol keharmonisan. Dalam menu sayuran ini kita bisa merasakan aneka rasa, mulai dari pedas, asin, manis, pahit, dan asam. Bagi masyarakat Bali, rasa-rasa itu mewakili manifestasi Tuhan (Dewata Nawa Sanga); merah (dari cabai atau tambahan darah) melambangkan Dewa Brahmana, putih (berasal dari kelapa parut) melambangkan Dewa Iswara, dan hitam (berasal dari terasi) melambangkan Dewa Wisnu. Sedangkan semangat kebersamaan dalam pengerjaannya merupakan manifestasi dari hukum Tri Hita Karana. Dalam hal ini terkait hubungan harmonis sesama manusia. Jadi, lawar dan proses pengolahannya itu menjadi simbol perpaduan harmonis manusia dengan alam dan Tuhannya. 

Proses yang rumit. Pembuatan lawar dimulai dari persiapan yang rumit dan memakan waktu lama. Dengan banyaknya orang yang terlibat, pekerjaan pun bisa dibagi-bagi. 

Kaum lelaki mendapatkan bagian menyembelih hewan lalu mencincang dagingnya, memarut kelapa, mencincang bumbu, dan mengaduk lawar. Barangkali bumbu terkesan enteng, tapi faktanya tidak. Karena jumlahnya banyak, bumbu yang dibutuhkan pun jumlahnya besar. Bumbu dasar Bali yang disebut basa genep ini tidak boleh diproses dengan mesin melainkan dicincang secara manual. Tak bisa pula ditumbuk karena dibutuhkan tekstur kasarnya. 

Kaum perempuan kebagian tugas menyiapkan aneka pelengkap, seperti membuat (menusuk) sate, mengolah jajanan, dan menyiapkan banten atau sesajen. 


Ruang sosial dan ajang silaturahmi. Di sela-sela aktivitas masak bersama itu warga sekaligus sambil membincangkan banyak hal, dari hal-hal penting hingga yang remeh temeh. Mereka saling bertukar cerita, mungkin saling curhat dan memberikan pandangan masing-masing. Tentu saja akan selalu ada orang yang melontarkan kisah-kisah lucu yang menjadikan suasana guyup rukun. Tradisi ini terus dibangun sebagai upaya menciptakan persatuan dan menjaga keharmonisan di lingkungan banjar atau desa adat.

Baca juga: Setengah Hari Mengelanai Kota Mendoan Purwokerto


Ngelawar di Masa Kini oleh Kalangan Muda

Yang namanya media, termasuk media sosial, memang seperti pisau bermata dua. Satu sisi bisa mencelakakan, satu lagi bisa mempermudah. Tergantung kita memanfaatkannya. 

Dengan banyaknya platform yang memberi ruang bagi penggunanya berekspresi, lawar pun dapat menjadi bagian dari konten yang menarik perhatian. Terlebih jika dilakukan oleh anak muda yang notabene lebih menyukai modernitas dan segala yang serba instan. Bedanya, pemuda-pemudi Bali masih cukup kental terikat oleh tradisi dibandingkan kalangan muda dari suku lain di Indonesia. Kolaborasi produk teknologi dan tradisi ini pada akhirnya menjadi sesuatu yang menarik. 

Tak ada catatan yang pasti kapan secara formal ajang kompetisi pembuatan lawar ini lahir. Hasil tanya jawabku dengan AI menyebutkan inisiatif ngelawar untuk kalangan muda ini muncul dari berbagai festival daerah, organisasi kampus, organisasi kepemudaan (Sekaa Teruna Teruni atau STT), serta agenda banjar. Semuanya berlangsung secara swadaya, dengan waktu pelaksanaan yang berbeda-beda.

Namun, yang berhasil tercatat sebagai muasal gerakan masif ngelawar ini antara lain yang digelar oleh Pura Agung Petilan Pengerebongan, Kesiman, Denpasar pada Juni 2022. Lomba membuat gebogan dan lawar dengan menyasar anak-anak muda, yakni teruna-teruni di pura tersebut. Setahun berikutnya, institusi pendidikan tinggi mulai memasukkan ngelawar ke dalam agenda resmi. Pada 2024 lahir gerakan formal berskala besar dari pemerintah Kota Denpasar. Parade Ngelawar edisi perdana diluncurkan di areal Pura Jagatnatha pada November 2024. Sebanyak 43 kelompok STT dan perwakilan desa bergabung di acara ini. Pada tahun ini juga, berlangsung ajang bergengsi lainnya: Denpasar Festival (Denfest). Festival ini membuat Parade Ngelawar sebagai upaya melestarikan bumbu khas Bali, basa genep. 

Baca juga: Berkunjung ke Kota Atlas Semarang

Yang tak kalah seru, Parade Ngelawar Se-Bali! Parade bertajuk “Resep Mustikarasa” ini dilangsungkan di Gianyar pada Juni 2025. Bayangkan keseruannya, anak-anak mudah berkumpul untuk membuat lawar secara bersamaan; para pemuda yang mewakili semua kota/kabupaten di Bali.

Demikianlah, ngelawar atau pembuatan lawar yang sebetulnya merupakan tradisi lama, bahkan disebut-sebut sudah dimulai sejak era Majapahit ini jadi terasa dekat dengan kalangan muda karena ada sentuhan modernitas di dalamnya. Kalangan muda yang butuh "ngeksis" di media sosial terpenuhi kebutuhannya, sekaligus pesan dari leluhur untuk menjaga tradisi pun menemukan ruangnya. 

Semoga lawar, kuliner khas Bali ini bukan hanya terjaga eksistensinya, namun juga terus berkembang. Namaste.


Baca juga cerita perjalanan ke Bali sebelumnya:


Kewarasan Logika untuk Menjaga Kehidupan Berpasangan yang Selaras

Menjadi perempuan itu memang tak mudah. Bukan hanya soal tubuh biologisnya yang rumit, tapi juga soal konstruksi sosial yang melingkupinya. Bukan juga dia tak mampu melawan, yang sering kali terjadi malah konstruksi sosial itu telah diterima sebagai bagian dari takdirnya. Belum lagi jika dikaitkan dengan masalah kesehatan mental yang dialami perempuan dan menjadikan kondisinya makin rumit. Di sinilah--dalam pertimbanganku--dibutuhkan tekad bulat perempuan untuk berdaya dan mandiri, yang artinya memiliki kendali atas hidup, finansial, dan kebahagiaan sendiri. Perempuan yang tidak menyandarkan hidupnya kepada orang lain, baik keluarga maupun pasangan jika pada suatu saat ia memutuskan membangun keluarga sendiri. Karena dibutuhkan kewarasan tersendiri saat kita memilih untuk berpasangan dengan orang--yang notabene berbeda tersebut--agar tercapai kehidupan yang selaras.


Baca juga: Numerologi dan Astrogi untuk Meningkatkan Potensi Diri 

Ada saja cerita yang ketemukan di media sosial tentang perempuan-perempuan yang ingin menggenggam erat hubungan dengan pasangan dengan cara melakukan kontrol yang berlebihan. Tentu saja kaum lelaki juga ada banyak yang melakukan hal serupa. Kali ini aku ingin menyoroti dari sosok perempuan, yang juga berangkat dari pengalaman sendiri.


Membangun Keberdayaan Diri

Memperkuat kapasitas diri. Kupikir itu adalah kata kunci bagi perempuan untuk berdaya. Kapasitas itu menyangkut pendidikan, finansial, keterampilan, dan mental. Jika memang memungkinkan, mengapa tidak meraih jenjang pendidikan setinggi mungkin? Perempuan dengan kemandirian finansial sudah pasti tak perlu menggantungkan diri kepada sosok "pendana" di luar dirinya. Keterampilan juga dibutuhkan untuk sanggup bertahan dalam berbagai persoalan kehidupan. Dan keteguhan mental dapat menjadi pondasi yang kokoh bagi perempuan dalam membuat pilihan yang tepat.

Finansial. Perempuan sebaiknya memiliki penghasilan sendiri. Jika memiliki privilege tak perlu bekerja untuk mendapatkan uang, misalnya mendapatkan dukungan finansial 100% dari keluarga atau suami, tetap perlu untuk mendapatkan penghasilan sendiri. Toh, penghasilan tak melulu harus melakukan pekerjaan formal. Di masa sekarang banyak pekerjaan bisa dilakukan secara remote. Atau mengelola hobi menjadi produk/jasa yang menghasilkan. Dalam hal ini perempuan juga dituntut untuk melek literasi keuangan. 

Baca juga: Menuliskan Ulang Kisah Perempuan

Kecerdasan dan Wawasan Luas. Di luar soal pendidikan formal, kecerdasan dan wawasan merupakan dua hal yang perlu terus digali dan dikembangkan. Menyimak informasi-informasi terbaru, membuat analisis kritis, melatih kemampuan mengemukakan pendapat; menyediakan diri untuk berbagi juga ikut memberikan andil dalam mengasah wawasan. Tantang diri untuk mempelajari hal-hal baru; hal-hal yang selama ini dihindari karena merasa tak menguasai, saatnya untuk menerobos batasan yang diciptakan sendiri itu. Bergabung dengan komunitas juga bisa menjadi alternatif dalam mengasah wawasan. Atau cukup dengan membaca tulisan ringan, jika tertarik dengan dunia pendidikan  bisa kunjungi Home Education Centre.

Ketahanan Mental dan Kemandirian Emosional. Membangun keyakinan bahwa kebahagiaan datang dari dalam diri sendiri, bukan dari atau pemberian orang lain. Melatih emosi sebagai bagian dari diri, yang perlu diterima dan diselaraskan. Menyadari bahwa kita hanya bertanggung jawab terhadap hal-hal yang bisa kita kontrol. Ketika penerimaan diri sudah dilakukan dengan baik, kemampuan untuk mencintai diri sendiri lebih berkembang, kepedulian terhadap sesama akan lebih terasah. Apa-apa yang terjadi di luar diri tidak akan memberikan pengaruh yang signifikan. Jika membutuhkan penyikapan, respons pun disampaikan secara jernih. 

Ketahanan Fisik. Bukan hanya mental, fisik pun perlu dilatih. Sejumlah hormon yang memicu kebahagiaan akan terlepas saat berolahraga. Seperti hormon adrenalin yang berperan meningkatkan aliran darah ke otot dan otak; inilah yang menjadikan tubuh terasa lebih segar, bertenaga, dan sigap menghadapi tantangan setelah tuntas berolah raga. Hormon endorfin, serotonin, dan dopamin berperan membantu menstabilkan suasana hati dan meningkatkan perasaan positif. 

Dengan meningkatkan kapasitas diri, menata ulang pemahaman terhadap diri sendiri, membangun ketahanan fisik dan mental, serta beradptasi dengan segala perubahan di sekitar merupakan faktor penting dalam menyikapi hubungan dengan orang lain, termasuk hubungan dengan pasangan. Dengan mencintai diri sendiri, kita akan menempatkan pasangan sebagai mitra untuk berbagi hidup, berbagi rencana dan cita-cita, serta berbagi tanggung jawab. 

Baca juga: Mengapa Perselingkuhan Terjadi?


Mari Berefleksi dan Membuat Komitmen Berkesadaran

Jadi, sebetulnya, apa yang terjadi saat seorang perempuan melulu berpikir tentang perempuan lain atau lelakinya akan tergoda perempuan lain?

Dari pengalamanku, hal ini terpusat di poin ketahanan mental dan kemandirian emosional. Aku pernah ada di masa ini; masa terjebak dalam trauma masa kecil dan perasaan diri tidak berharga. Jadilah insecure.

Nah, perempuan-perempuan yang melulu menganggap diri tidak worth it dan insecure itu sedang membangun energi "aku replaceable".

Makin kuat ia memikirkan tentang hal tersebut, makin besar energi itu terbentuk. Satu-satunya cara untuk mengatasinya adalah membatalkan anggapan yang sangat mungkin menjadi beliefe itu dengan membangun energi yang baru. Katakan:

  • aku tidak bersaing dengan perempuan lain
  • aku tidak membandingkan diriku dengan mantannya
  • aku tidak membatasi pergaulannya dengan perempuan lain
  • dst.

Baca juga: Mengapa Kita Mengalami Pola Hidup yang Terus Berulang?

Kamu bisa tambahkan hal-hal yang sebelumnya menjadi kebiasaanmu, seperti sibuk mengecek HP pasangan, mengintip akun medsos pasangan bahkan tak jarang menghubungi perempuan-perempuan lain yang terlihat akrab dengan pasangan di medsos, mencari tahu masa lalu pasangan ke orang lain. Tambahkan sebanyak mungkin hal-hal yang berptensi menjadi racun dalam hubungan itu, dan berkomitmenlah untuk tidak melakukannya lagi.

Bagaimana jika lelakimu memang betul-betul tergoda perempuan lain?

Pertama, terima fakta itu. Sakit, bikin sesak? Sangat mungkin. Bahkan jika itu belum menjadi fakta, baru sebatas rumor atau gosip, terima saja.

Cari waktu, bicarakan baik-baik dengan pasangan. Jika jawabannya adala "iya", ya terima juga. Terima kenyataan bahwa lelakimu telah memilih perempuan lain. 

Ingat, kita tidak bisa mengontrol hidup bahkan pikiran orang lain. Kita hanya bisa mengontrol apa yang terkait langsung dengan kita, hal-hal yang memang bisa kita kontrol. 

Jadi, apa yang perlu dilakukan saat lelakimu mengakui sudah menjalin hubungan dengan perempuan lain? Lepaskan. Ini pasti tidak mudah, terlebih jika sudah berkeluarga dan memiliki keturunan. Tapi, ingat, dia sudah mengkhianatimu. Hubungan itu sudah tidak layak dipertahankan. Jadi, sekali lagi: lepaskan. Itulah makanya kenapa perempuan perlu berdaya secara finansial. Mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Baca juga: Mengenal Sabotase Diri dan Mekanisme Kopig

Kapan hari aku membaca catatan soal perempuan yang mau menerima saja sebagai istri, aku lupa, kedua apa ketiga. Intinya, ia mempertahankan posisinya sebagai istri pertama atas alasan kebutuhan materi untuk diri dan anak-anaknya. Toh dia tidak membutuhkan seks lagi. Ada yang tertarik untuk mengambil pilihan serupa? Ya silakan juga, bebas saja. Kalau buatku sih, enggak banget. 

Menurutku, dengan segala kehendak bebas yang dimilikinya, perempuan bisa membuat pilihan merdeka untuk keluar dari hubungan yang tak menempatkan dirinya secara layak seperti awal mula kesepakatan. Lepaskan, tinggalkan.

  • Tak perlu memohon bertahan.
  • Tak perlu berkompetisi dengan si perempuan lain.
  • Tak perlu membalas dendam
Cukup pergi dan buatlah jarak. Jarak fisik dan jarak mental.
  • Tak perlu menahan pasangan yang ingin pergi.
  • Jangan takut sendiri.

Dan, hal terpentingnya adalah kesadaran bahwa kamu tidak kehilangan nilaimu karena seseorang meninggalkanmu. Kamu adalah orang yang bernilai dengan pilihan-pilihanmu. Termasuk ketika lelakimu membuat pilihan yang berbeda.

Namun, ini semua proses. Tak perlu berkecil hati jika belum bisa melakukan semuanya serta-merta. Misalnya, "aku belum bisa, nih, masih suka kepo dia berkomunikasi dengan siapa saja," atau "aku masih terus membandingkan euy, diri sendiri dengan mantan-mantannya dia". Ya, nggak soal selagi bersedia untuk berproses. Hanya saja, tetap dibutuhkan prasyarat yakni "kita mau menerima"; menerima bahwa yang sudah dilakukan selama ini tidak tepat. Karena akan berbeda cerita jika kitanya sudah langsung defensif: "aku masih ingin membalas dendam!" 

Baca juga: Tetap Bahagia dan Giat Berkarya saat Menjalani Hidup Sendiri

Daaan, mengingatkan saja ya, gaeees, selagi kalian belum mampu memulihkan diri sendiri, please jangan buru-buru berpikir tentang menikah apalagi memiliki anak. Jangan biarkan pasangan apalagi anak terdampak. Bagi yang sudah telanjur menikah dan bersiap memiliki anak, semoga perjalanan pemulihan kalian berjalan dengan baik. Barangkali membuat jurnal pribadi atau menulis artikel di media atau blog pribadi, seperti pembelajaran pada anak-anak di sekolah blended learning. Menulis akan cukup membantu mengeluarkan ide, dan memanggil ulang ingatan untuk disembuhkan.

Selamat berproses. Namaste.

Guruh Sukarno Putra, Sosok Istimewa dengan Karya-Karya yang Melegenda

Pagi tadi selintas mendapati satu postingan di media sosial: Guruh Sukarno Putra berpulang. Hah, serius? Buru-buru cek media online. Positif. Guruh berpulang setelah semalam mendapatkan penanganan medis di rumah sakit. Lamat-lamat suara Tika Bisono menyambangi kupingku: "Putih-putih melati, mekar di taman sari ..." Melati Suci, lagu yang ditulis Guruh untuk ibunya, Fatmawati yang meninggal dunia saat iya berusia 27 tahun. Lagu itu terasa begitu agung sekaligus sunyi. Pelan, ada yang meleleh di sudut mataku. Tak banyak nama seniman yang kepergiannya sampai bisa mengundang kesedihan yang cukup dalam buatku. Tak semua karya musiknya bisa kuputar untuk program siaran, tapi pada banyak kesempatan, di tengah berbagai karut-marut yang terjadi di tanah air dari masa ke masa, lagunya selalu mengingatkan akan kecintaan terhadap tanah air.



Baca juga: Jakob Oetama Berpulang

Guruh merupakan sosok istimewa. Bukan semata karena ia anak tokoh proklamator. Namun, lebih pada soal pilihan hidupnya yang tak biasa. Terlebih jika dibandingkan dengan sosok-sosok lain yang menyandang privilege sebagai anak orang nomor satu di sebuah negara.


Pilihan Hidup Guruh dan Sosok Penting pada Masa Kecilnya

Membaca Guruh tidak akan lengkap jika tidak menengok ke masa kecilnya. Sebagai anak seorang presiden, ia tinggal di istana negara yang segala sesuatunya sudah terpenuhi. Kebutuhan-kebutuhannya disediakan tanpa menunggu diminta. Keamanannya terjamin. Tentu saja ia memanfaatkan semua kemudahan, privilege itu. Namun, nyatanya tidak serta merta ia menjadi sosok selebritas apalagi rakus seperti yang ditunjukkan oleh sebagian anak-anak presiden yang lain. Setidaknya anak presiden periode setelah bapaknya.

Nama Tommy Suharto kudengar sejak masa kecil. Bukan, bukan dari media melainkan dari bahan percakapan para orang tua, dari mulut ke mulut. Beberapa kecamatan di kampung halamanku adalah produsen cengkeh. Nyaris semua petani cengkeh mengalami kebangkrutan pasca Tommy--melalui Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh atau disingkat (BPPC) yang dipimpinnya--memonopoli perdagangan cengkeh. Bahkan para petani--saking marahnya--membakar lahan cengkehnya lalu mengganti dengan komoditas baru. Cerita ini tak kita temukan di media. Tak begitu jelas juga soal kebenarannya, karena aku pun tak melakukan konfirmasi ke lapangan secara langsung. Bahwa monopoli itu dilakukan, tentu nyata adanya. Pertanian dan perdagangan cengkeh kembali marak pada pasca pemerintahan Suharto.

Apa lagi yang bisa kita sebut dari bisnis keluarga Cendana? Tambang batu bara, proyek mobil nasional, hak pengelolaan jalan tol? Apa lagi? Jika dibuat daftar pasti akan panjang. Guruh tidak melakukan itu. Ia bukan pemburu kekuasaan. Ia memanfaatkan dengan baik darah seni yang mengalir di tubuhnya. Ia berkiprah di dunia tari, kain tradisional, musik daerah demi kecintaannya terhadap Indonesia.

Baca juga: Farida Pasha, Mak Lampir, dan Misteri Gunung Berapi

​Guruh bersekolah di sekolah umum. Sebagai anak seorang presiden yang juga gemar belajar, wawasan kebangsaan ia dapatkan dari melihat dan mencatat apa yang dilakukan oleh ayahnya sendiri maupun para bapak bangsa. Di luar itu, ia bermain layaknya anak-anak pada umumnya. Barangkali yang membedakan adalah dengan siapa saja ia bermain. Tentu ia bergaul dengan anak-anak para pejabat pada masanya, tapi ia pun bergaul dengan anak-anak para pegawai istana, bahkan dengan mereka yang bisa dibilang level rendahan seperti tukang kebun, tukang masak, dan para pelayan. Ia terbiasa berada di tengah masyarakat dengan strata sosial yang beragam. Di balik hal sederhana yang menjadi kesehariannya, rupanya ada sosok penting yang memiliki andil.

Namanya Suminah Sastrowijoyo. Ia adalah perempuan pengasuh yang menemani putra bungsu Presiden Soekarno itu sedari bocah. Guruh memanggilnya Nek Joyo. Dari perempuan sederhana yang bahkan buta huruf inilah Guruh banyak belajar tentang kehidupan. Nek Joyo mengenalkan perihal kehidupan rakyat kecil yang sebenernya. Meski merupakan anak orang nomor satu di negeri ini, Guruh diajari oleh Nek Joyo tentang bagaimana menjadi manusia biasa. Dari Nek Joyo, bukan hanya mendengar, tapi juga mengamati langsung, Guruh belajar tentang penderitaan, kesederhanaan, dan keikhlasan. Hal-hal inilah yang membentuk kepribadian Guruh dan empatinya terhadap orang lain, dalam hal ini masyarakat kalangan bawah.

​Ketika masa dewasanya tiba, Guruh tidak memilih untuk mencari uang dan kekuasaan. Ia menceburkan diri ke dunia seni. Itu pun bukan seni gemerlap, melainkan seni yang muncul sebagai bagian dari pemberontakan dalam dirinya. Tak heran jika yang lahir kemudian adalah karya-karyanya yang unik dan orisinal.

Baca juga: Christian Mara, Pejuang Seni Budaya Adat Dayak Berpulang


Guruh dan Kolaborasinya dengan Gipsy

​Awal mengenal Guruh di dunia musik adalah karya-karya yang ngepop. Karya pertamanya yang kutahu adalah Kembalikan Baliku di album kompilasi Festival Lagu Populer Indonesia 1987. Lagu itu ada di urutan terakhir side B kaset. Kembalikan Baliku yang disuarakan Yopie Latul keluar sebagai pemenang dan mewakili Indonesia dalam kompetisi internasional yang dilangsungkan di Budokan, Tokyo.

Lalu, setelah nyemplung ke dunia radio, lebih banyak lagi karyanya yang kutemukan. Lagu-lagu yang dibawakan oleh nama-nama besar, seperti Chrisye, Keenan Nasution, dan Vina Panduwinata.

Suatu kali saat berselancar di YouTube, aku menemukan satu musik yang tak biasa. Tertarik, karena judulnya ada "Indonesia"-nya. Harusnya itu komposisi berjudul Indonesia Maharddhika. Pemilik akun menuliskannya salah. Ternyata itu akun milik orang luar yang sepertinya tertarik dengan lagu ini.

Karena terpesona, kucari tahu lebih detail tentang ini lagu. Ternyata itu karya Guruh yang berkolaborasi dengan grup Gipsy. Grup ini sendiri didirikan pada pertengahan 60-an dengan nama Sabda Nada. Mereka mengganti namanya dengan Gipsy pada 1969, dengan personel Chrisye, Keenan Nasution, Oding Nasution, Abadi Soesman, dan Roni Harahap. Mereka dikenal sebagai grup lokal yang membawakan lagu-lagu progressive rock ala Genesis, Emerson Lake and Palmer, Yes, dan Gentle Giant. Nah, sepulang dari studinya di Belanda, Guruh menggandeng Gipsy untuk mewujudkan ide liarnya.

Baca juga: LCLR Plus di Bandung dan Pesona Musik 70-an

Guruh ingin mengawinkan alat musik modern dengan alat musik etnik Bali, yakni gamelan dan gerong. Pada masa itu belum ada yang memiliki "keberanian" untuk menabrakkan dua musik yang masing-masing memiliki pakemnya sendiri. Begitu pun liriknya. Guruh menuliskan tentang tema sosial dan budaya dengan aneka metafor dan bergaya bahasa puitis.

Kolaborasi Guruh Gipsy ini beranggotakan Guruh Sukarno Putra (komposer), Chrisye (bass, vokal), Oding Nasution (gitar), Roni Harahap (piano), Abadi Soesman (keyboard, synthesizer), dan Kinan Nasution (drum, vokal). Lahirlah 6 komposisi: Indonesia Maharddhika, Chopin Larung, Barong Gundah, Janger 1897 Saka, Geger Gelgel, dan Smaradhana, diliris dalam album bertajuk Kesepakatan dalam Kepekatan. Mereka memproses album ini di studio milik Tri Angkasa yang pada masanya tercatat sebagai studio rekaman 16 track pertama, paling canggih di Indonesia. Sekadar catatan, studio The Beatles memulai rekaman 16 track ini untuk album Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band pada 1967. Proses rekamannya sendiri berlangsung mulai Juli 1975 hingga November 1976.

Album idealis ini--bisa diduga--tak laku di pasaran. Penikmat musik tanah air tampaknya lebih memilih lagu-lagu populer bertema cinta yang sedang marak pada masa itu. Di kemudian hari, barulah para kolektor musik memburu album ini. Konon, album yang disebut-sebut sebagai tonggak lahirnya progressive rock di Indonesia ini dihargai hingga jutaan rupiah.

Baca juga: Konser Sawung Jabo bersama Sirkus Barock di Bandung


Guruh dan Karya-Karyanya yang Melegenda

Karya-karya Guruh, meski dalam kemasan pop tetap menunjukkan ciri khas tersendiri. Selain musiknya yang kaya, liriknya juga tak biasa. Kalaupun bicara tentang cinta, bukanlah cinta yang cengeng melainkan cinta indah antarmanusia atau kecintaan terhadap alam raya.

Misalnya dalam lagunya yang berjudul Zamrud Katulistiwa, Guruh menceritakan tentang keindahan Indonesia. Lagu ini dibawakan pertama kali oleh Keenan Nasution pada 1978. Chrisye melagukannya kembali pada 1996.

Guruh memakai metafor melati untuk menggambarkan ibunya, Sang Ibu Negara, Fatmawati dalam Melati Suci. Lagu ini rilis bersama album Pergelaran Karya Cipta 3 pada 1980 lewat suara Tika Bisono. Bertahun kemudian Vina Panduwinata ikut menyanyikannya kembali dan tak kalah indahnya.

Lagu Sendiri sering dijadikan rujukan kalangan yang hidupnya menyendiri, malah ada yang tengah berada dalam keputuasaan karena urusan percintaan. Ada yang mengaitkan lirik lagu ini dengan kesendiriannya seorang Guruh. Senyatanya, Guruh menuliskan lirik sendiri bukan semata soal emosi, melainkan sesuatu yang lebih dalam. Lagu ini lebih menggambarkan soal rasa, suasana, dan pengalaman eksistensial. Seperti yang banyak dipotret oleh para penulis sastra era masa lalu tentang kesenyapan malam yang menyimpan keteduhan dan keheningan. Kalaupun Guruh memasukkan pengalaman pribadi, ia telah berhasil nylimur melalui diksinya yang puitis.

Baca juga: Pesta Rakyat dalam Festival Rampak Kendang

Ada juga Guruh menulis tentang pergaulan anak muda. Ia menciptakan Galih & Ratna yang dimunculkan di film Gita Cinta dari SMA pada 1979 lewat suara Iromy Nursaid dari The Kid Brothers. Setahun kemudian lagu yang sama dibawakan oleh Chrisye untuk menjadi lagu tema film Puspa Indah Taman Hati yang merupakan kelanjutan Gita Cinta dari SMA.

Kisah anak muda lainnya ia tuangkan dalam Anak Jalanan yang terinspirasi dari novelnya Teguh Esha, Ali Topan Anak Jalanan. Ketika fenomena sosial anak-anak ibukota ini diangkat ke layar lebar, Guruh didapuk sebagai ilustrator musiknya.

Untuk musik, ada nuansa campur sari dan dangdut yang dilibatkan Guruh di lagu Candu Asmara. Lagu yang rilis pada 1998 ini dipopulerkan oleh Cici Paramida, yang kemudian dibawakan ulang oleh beberapa penyanyi lain, seperti Marchell dan Maizura.

Sedangkan pada lagu Lenggang Puspita, Guruh memasukkan nuansa etnik Betawi di bagian akhir lagu. Lenggang Puspita dibawakan oleh pentolan God Bless, Ahmad Albar pada 1986.

Guruh cukup banyak berkolaborasi dengan Chrisye. Tak terhitung pula karya-karyanya dibawakan oleh penyanyi lintas dekade, termasuk dengan Krisdayanti lewat lagunya Mahadaya Cinta. Dan aku yakin, pada tahun-tahun mendatang karya-karyanya masih akan terus dirilis ulang oleh generasi terbaru.

Baca juga: Just for You, Karya Lama Richard Cossiante yang Abadi

Ini baru bicara tentang lagu dan musik, belum kiprahnya di dunia seni yang lain. Pendek kata, karya-karya Guruh luar biasa dan telah menginspirasi banyak orang.

Selamat jalan, Mas Guruh Sukarno Putra. Selamat mulih ke pangkuan Semesta.

Numerologi, Life Path, dan Zodiak, Panduan untuk Membantu Mengenali Diri Sendiri

"Hari gini masih percaya zodiak?!" Ada yang pernah mendengar pernyataan ini? Atau, jangan-jangan kamu juga pernah mengatakannya? Bisa dimaklumi jika banyak orang alergi dengan zodiak, mengingat begitu banyaknya konten yang berisi ramalan-ramalan terkait hari lahir ini. Yang saya akan coba bicarakan di sini bukan ramalan, melainkan soal potensi yang kita miliki dan berbagai kemungkinan serta kecenderungan yang kita hadapi berangkat dari analisis zodiak. Zodiak ini hanya salah satu contoh. Ia bagian dari bahasan yang lebih luas yakni astrologi. Buat saya, astrologi dan numerologi itu hanyalah perangkat yang dapat membantu kita menemukan desain otentik diri dan hubungannya dengan tema kehidupan yang kita jalani. 


Baca juga: Tantangan Hidup di Hari-Hari Ini dan Mindfulness ala Maudy Ayunda

Sekali lagi, bisa dimaklumi jika sebagian besar orang mengaitkan astrologi dan numerologi sebagai klenik atau magis. Karena memang tak cukup banyak yang mau bersusah payah untuk mencari penjelasan logisnya. Enggan juga untuk menyimak penjelasan dari sisi spiritualitas atau metafisika. Lebih mudah bagi orang untuk menepiskannya sebagai bagian dari sesuatu yang sesat. Sementara di sisi lain, mereka yang menyebut diri sebagai praktisi--yang berangkatnya dari semata pembelajaran praktis--banyak yang dengan senang hati mendapat predikat dukun atau orang sakti.


Memahami Vibrasi Energi dan Kaitannya dengan Energy Profiling

Segala sesuatu di alam semesta ini, baik makhluk hidup maupun benda mati memiliki energi. Dari sudut pandang fisika modern, fisika kuantum dan teori relativitas menjelaskan bahwa materi dan energi adalah hal yang sama, hanya dalam bentuk yang berbeda. energi dan vibrasi adalah sesuatu yang nyata, dapat diukur secara matematis, dan menjadi dasar pembentuk alam semesta. Sejumlah teori fisika modern sudah cukup menerangkan, bisa dicari tahu dari sumber-sumber yang sahih. Sedangkan dari sudut pandang biologi, pada makhluk hidup (manusia, hewan, dan tumbuhan), energi tidak hanya ada pada tingkat atomik, tetapi juga mengalir sebagai sistem pendukung kehidupan.

Artinya, kita sebagai manusia yang merupakan bagian dari alam semesta ini pada dasarnya adalah perwujudan dari energi yang memadat dan membentuk sebuah struktur fisik. Dalam skala yang lebih luas, seperti makhluk lain di sekitar kita, di luar pulau, di luar benua, bahkan segenap planet di sistem tata surya tersusun dari struktur energi yang kompleks dan tak kasat mata.

Vibrasi merupakan hasil dari getaran atau gerakan energi. Saat energi--yang ada dalam setiap komponen alam raya--ini aktif atau hidup, ia tidak diam, melainkan bergetar memancarkan vibrasi tertentu. Tingkat vibrasi dipengaruhi oleh besaran energi. Makin besar suatu energi, makin besar pula vibrasi yang dipancarkannya. Uniknya, tiap benda dan makhluk hidup memiliki karakter energi sendiri, begitu pula dengan vibrasi yang dihasilkannya. Pertemuan vibrasi yang berbeda, akan memunculkan dampak yang berbeda pula.

Baca juga: Mengenal Sabotase Diri dan Mekanisme Kopig

Contoh:

Dalam relasi manusia dengan manusia. Kita akan segera bisa merasakan ketidaknyamanan saat berjumpa denga orang yang vibrasinya bertabrakan dengan kita. Dalam bahasa gaulnya: beda frekuensi.

Dalam relasi manusia dengan makhluk lain, misalnya dengan kucing atau anjing. Masing-masing juga menguarkan vibrasi yang berbeda yang bisa menjadi pertimbangan kita untuk mendekat atau menjauh. 

Dalam perjumpaan kita dengan sebuah lingkungan baru, kita pun bisa merasakan vibrasinya, apakah lingkungan itu "nyambung" atau tidak dengan kita. Mungkin kita akan merasakan hawa dingin atau sebaliknya panas, atau nuansa angker.

Hal-hal di atas tidak dapat diterjemahkan dengan logika, tapi energi kita dapat memahami itu dari sensasi yang diterima oleh tubuh. 

Lalu, apa hubungannya vibrasi energi dan numerologi?

Baca juga: Mengapa Kita Mengalami Pola Hidup yang Terus Berulang?

Kembali ke soal bahwa segala sesuatu di alam raya ini adalah energi yang memiliki vibrasi. Manusia bersama makhluk hidup dan segala benda di sekitarnya adalah lingkungan kecil. Di lingkungan besar ada tata surya. Di dalam tata surya ada benda-benda langit yang masing-masing memancarkan vibrasinya juga. Fenomena alam yang dihasilkannya dicatat oleh para leluhur. Bagaimana para petani sejak masa lalu sudah mengenali perubahan cuaca sehingga bisa menentukan saat bertanam dan memanen. Pelaut mengetahui kapan masa ikan melimpah ruah dan siap dipanen, dan sebaliknya kapan masa paceklik. 

Di wilayah yang lain, para leluhur juga mencatat dampak pergerakan benda-benda langit ini terhadap karakter manusia. Bahwa perubahan posisi dan formasi planet menghasilkan perubahan medan energi di planet yang kita tinggali. Perubahan ini berdampak terhadap vibrasi alami kita. Karakter dari medan energi yang terbentuk di bumi inilah yang dicermati, dipetakan, dan dicatat oleh leluhur kita. Ada yang mengistilahkan ini dengan energy profiling. Energi profiling ini berdasarkan budaya yang berkembang di wilayahnya masing-masing.

Misalnya dalam kebudayaaan Romawi, energy profiling ditunjukkan dalam gambar dan nama yang disebut zodiak. Ilmu yang mempelajari itu dinamai astrologi. Berbeda lagi dengan kebudayaan China, yang secara filosofis mengilustrasikan energy profiling ke dalam bentuk 5 elemen, 12 batang bumi (shio), dan 10 batang langit. Kelak energy profiling ala China ini dikenal sebagai BaZi, atau disebut juga Astrologi Cina. Kebudayaan lain memiliki energy profilingnya masing-masing. Termasuk di antaranya di tanah Jawa dan Bali dikenal istilah weton. Numerologi merupakan salah satu energy profiling yang berkembang di kemudian hari.  Kesemuanya itu membahas tentang apa yang menjadi bagian dari diri kita sejak lahir. 

Baca juga: Tetap Bahagia dan Giat Berkarya saat Menjalani Hidup Sendiri


Numerologi dan Astrologi sebagai Petunjuk Praktis

Sebagai peringatan awal, istilah "praktis" ini sekadar untuk mempermudah dan menghadirkan nuansa optimistis. Karena bicara tentang manusia itu kompleks. Rumit. Sesuatu yang praktis pun kadang berujung mbulet ketika berhadapan dengan ego, luka trauma masa lalu, dan gangguan mental. Maka sebagai pembatasan, bahasan ini teruntuk kalian yang memang sudah "menemukan diri" dan perlu informasi tambahan untuk melengkapi upaya penggalian potensi demi menemukan versi terbaik dari diri sendiri. Ah, iya, tentu saja catatan ini juga buat yang sepakat dengan tulisan di subjudul pertama. 

Jika kita telah sepakat bahwa peristiwa alam bersamaan dengan saat kelahiran kita itu memberikan kita profil energi tertentu, mari kita lanjutkan. Tema energi inilah yang bisa membantu kita mengenali diri lebih dalam dan menemukan tema kehidupan dan tantangan kita sekaligus mengetahui potensi apa saja yang masih bisa kita gali.

Dalam numerologi kita mengenal Life Path Number atau Angka Jalan Kehidupan. Kita sebut saja life path untuk memudahkan. Life path adalah elemen utama dalam numerologi yang merupakan struktur energi utama dalam diri seseorang. Life path menjadi kunci bagi keselarasan energi lain dalam elemen numerologi. Sebelum mengenali energi dari elemen lainnya, life path dipahami dulu sebagai awal. Saya pernah mendapatkan hitungan dari seorang kawan, yang ketika itu, karena saking gembira lantas menuliskannya dalam catatan di blog. Numerologi untuk nama. Di kemudian hari saya baru tahu, istilah untuk hitungan nama ini adalah expression. Dan nama adalah elemen lain dalam numerologi yang sentral atau kompasnya sebetulnya di life path. Yo wis, memang proses pembelajarannya demikian. Jadi, diterima saja. Nah, kalau kalian sudah memahami life path masing-masing, bisa cek di sini soal penghitungan untuk nama.

Baca juga: Doa, Meditasi, dan Vibrasi Energi

Kita lanjutkan dengan cara penghitungan angka life path, ya.

Angka Life Path didapatkan dari penjumlahan bulan, tanggal, dan tahun kelahiran. Semuanya dijumlah hingga tercapai satu digit, dengan pengecualian 3 angka kembar, yakni 11, 22, dan 33 yang tetap dipertahankan sebagai 2 digit. Ketiga angka kembar ini disebut master number. Ini diperlakukan untuk angka di masing-masing komponen, yakni tanggal-bulan-tahun. Lebih detailnya sebagai berikut:

Pada tanggal, angka 11 dan 22 dibiarkan tetap 2 digit. Begitu pula pada penjumlahan dua angka dengan total 11, yakni angka 29, dibiarkan tetap di angka 11.

Pada bulan, angka untuk bulan Januari hingga September, masing-masing sesuai dengan angka urutan bulannya.

Oktober, bulan ke-10 berarti kembali ke angka 1.

November, bulan ke-11 dibiarkan tetap 11

Desember, bulan ke-12, dijumlahkan menjadi angka 3.

Pada tahun, diberlakukan hal yang sama. Penjumlahan terus dilakukan hingga angka mencapai 1 digit, kecuali jika hasil akhirnya 11 atau 22.

Terakhir, jumlahkan ketiga bagian ini hingga mencapai angka 1 digit, kecuali jika hasilnya 11, 22, dan 33. 

Mari kita buat contoh penjumlahannya.

Tanggal lahir 4 Februari 1989

= 4 + 2 + (27)

= 4 + 2 + 9

= 15

= 6


Tanggal lahir 7 Januari 2001

= 7 + 1 + 3

= 11


Tanggal lahir 29 November 1972

= (29) + 11 + (82)

= 11 + 11 + 10

= 23

= 5

Nah, kita sudah mendapatkan hasilnya. Hasil akhir itulah yang disebut life path, yang merupakan blueprint vibrasi kita.

Baca juga: Kesadaran Spiritual, Hidup dalam Perspektif Baru

Sekarang mari kita cari tahu apa makna di balik angka-angka yang kita dapatkan untuk kita masing-masing.

Angka 1 adalah Inisiator

Angka ini menandai permulaan. Energinya yang, maskulin. Ialah sang inisiator, sang pemula, pembuat inovasi. Energi 1 menunjukkan keberanian, ambisi, kepemimpinan, kegigihan. Energi 1 juga mewakili kekeraskepalaan, tak pintar basa-basi, kurang empati. 

Angka 2 adalah Mediator

Angka 2 mewakili cinta. Energinya yin, feminin. Angka 2 adalah sang mediator, diplomasi, menjalin kerja sama, juru damai. 
Energi angka 2 yang lembut mendukung kemampuan menasihati, penyayang, penyuka kesenian; kontras dengan energi angka 1. Sisi lemah dari energi 2 adalah menghindari konflik, mudah terluka, rapuh, tidak mudah menerima kritik. 
 
Angka 3 adalah Inspirator

Angka 3 mewakili kegembiraan dan kemampuan menikmati hidup. Energinya membawa semangat untuk berkreasi. Angka 3 dianggap sebagai angka paling kreatif dari semua angka. Karakter utama yang terpancar dari angka 3 cara mereka mengekspresikan diri dan berkomunikasi. Sisi lemah angka 3 adalah sering kali tidak fokus dan sulit untuk serius. Energi angka ini juga cenderung ekspansif.

Angka 4 adalah Manager 

Angka 4 mewakili kemampuan mengelola. Kemampuan dalam menjaga keteraturan. Angka ini merupakan angka paling praktikal dari semua angka. Energi angka ini membawa pada ketepatan, cermat, detail, jujur. Dapat dikatakan energi angka 4 adalah landasan atau fondasi. Sisi lemah angka ini adalah kaku, rigit, sulit beradaptasi karena tidak menyukai perubahan. 
 
Angka 5 adalah Influencer

Angka 5 ini mewakili fleksibilitas dan kepercayaan. Energinya paling dinamis dibandingkan semua angka. Mudah beradptasi, sanggup berhadapan dengan petualangan baru, dapat menjadi promotor dan petugas penjualan yang andal karena kemampuannya membangkitkan kepercayaan. Sisi lemah angka 5 adalah gampang terdistraksi, sulit fokus karena suka mengambil beberapa sasaran sekaligus. 


Angka 6 adalah Nurturer

Angka 6 mewakili energi pengasuhan. Energi 6 adalah penyayang, si paling penyayang dibandingkan semua angka. Sosok pemilik angka ini dapat bergandengan tangan dengan semua orang, peduli, mengasuh, dan melindungi pihak lain. Kemampuan sebagai penyembuh biasanya dimiliki angka ini. Mereka juga lebih memilih berada dalam ketenangan keluarga. Sisi lemah dari angka ini adalah mengorbankan diri sendiri buat orang lain. 

Angka 7 adalah Seeker

Mereka para pencari kebenaran. Energi 7 menaungi mereka yang berbakat sebagai pemikir. Angka ini adalah angka yang paling spiritual dari semua angka. Mereka melakukan berbagai upaya untuk menemukan kebenaran, dengan belajar, berpikir, menganalisis. Energi 7 cenderung ke dalam, kontemplatif dan meditatif. Angka ini menempel ke para filsuf dan kalangan intelektual-abstrak. Sisi rapuh dari angka 7 adalah terlalu dalam dengan perenungannya hingga melupakan dunia luar. 
 
Angka 8 adalah Commander

Angka 8 adalah sang pemilik kekuatan. Energi 8 mengarah pada kekuasaan, kekuatan, ambisi, dan dunia materi. Di sisi lain, mereka bisa menjaga keseimbangan antara dunia material dan spiritual. Jika angka 1 adalah pendobrak alami, angka 8 ini memiliki kekuatan untuk mendobrak karena segala perangkat dan pengalaman yang dimiliki. Angka 8 dapat menjadi seorang pemimpin dan pebisnis yang hebat. Sisi lemahnya, angka 8 kerap melekatkan segala sesuatu pada hasil. Mereka kadang juga terlalu perfeksionis. 
 
Angka 9 adalah Unifier

Angka 9 mewakili sosok humanis. Energi angka 9 adalah pengorbanan tanpa pamrih, mencintai secara universal, memiliki banyak kemampuan atau serba bisa, berjiwa seni. Angka 9 adalah angka paling humanis di antara angka yang lainnya. Sisi lemahnya, kepedualiannya sering kali mengorbankan diri sendiri. 

Life path ini adalah elemen utama dari numerologi. Ada yang menyebutnya kompas. Masih ada beberapa elemen lainnya. Dari 9 poin di atas saja masih dibutuhkan analisis lebih lengkap, belum lagi ditambah elemen lainnya. Masih banyak bahan pembelajaran kita. Teman-teman yang gemar belajar hal baru, dapat menjadikan numerologi ini sebagai bagian dari pembelajaran sekaligus menjadikannya bagian dari gaya hidup mindful. Sebatas life path dulu sebagai awalnya nggak apa-apa. Jika sudah lebih banyak elemen yang dipelajari, ini bisa mengembalikan kenikmatan hidup analog lagi, loh. Berjumpa dengan orang lain, membincangkan hal-hal yang bisa saling dukung untuk meningkatkan potensi diri. 

Numerologi ini menarik. Butuh halaman-halaman lain untuk membagikan catatan soal elemen lainnya. Belum lagi soal astrologi. Btw, saya membuka jasa analisis diri melalui numerologi, ya. Yang berminat boleh hubungi via WA atau email: dhenok.hastuti@gmail.com

Terima kasih. Namaste.

Tantangan Hidup di Hari-Hari Ini dan Mindfulness ala Maudy Ayunda

Sepekan terakhir jagad maya dibikin riuh oleh konten video Maudy Ayunda tentang “mindfulness in the age of bad news”. Aneka pendapat pro-kontra bersliweran di media sosial. Ada kalangan yang membela Maudy, banyak yang menghujatnya, tapi tak sedikit yang mencoba memberikan sudut pandang yang berbeda, tanpa memihak. Kamu ada di sisi mana? Salah satu hal yang buat saya cukup memberikan andil adalah soal ekspektasi. Kita sering kali terlalu menggantungkan harapan berlebih kita pada sosok-sosok tertentu. Saya menyebut soal ekspektasi ini terutama karena menyangkut bahasan tentang mindfulness.

Baca juga: Gampang Lupa, Multitasking, dan Mindfulness

Indonesia sedang tak baik-baik saja. Sebagian kita juga tak baik-baik saja. Jika kondisinya tidak seperti sekarang, mungkin konten Maudy tak terlalu mengusik. 


Maudy dan Ajakan untuk Hidup Berkesadaran

Dalam videonya, Maudy mengisahkan pengalamannya menghadapi derasnya berita buruk, baik kabar dari dalam maupun luar negeri. Sebagai seorang yang--diakuinya--overtinker, ia menyarankan bagi para penonton media dan pemilik akun media sosial untuk menyaring tontonan. Ia mencontohkan berbagai pemberitaan yang ia nilai membawa dampak negatif, seperti bencana alam, kebakaran hutan dan lahan, dan masalah terkait ekonomi. 

Selain penyaringan informasi, Maudy menyarankan agar semua yang terpapar arus informasi itu untuk mengambil jarak. Membuat jarak dengan berbagai isu yang dapat menyulut burnout. Selain itu, menurutnya, ada baiknya berdiskusi dengan orang-orang yang memahami persoalan dengan baik. 

Konten itu diunggah Maudy pada 21 Agustus 2026 dan menuai hampir 200 ribu pengunjung, dan tampaknya angka itu akan makin meningkat seiring banyaknya orang yang membagikan ulang serta membuat tayangan sebagai respons dari versinya masing-masing.

Pada akhirnya Maudy menyampaikan permintaan maafnya. Ia mengakui bahwa kemampuan dan kesempatan untuk ambil jeda dari berita negatif merupakan sebuah privilege. Ia luput menyadari itu. Menyadari demikian banyak rakyat Indonesia yang terdampak langsung apa-apa yang dikabarkan oleh berita dan tayangan video tersebut. Sebagian besar di antara mereka, boro-boro mempraktikkan mindfulness, hidup waras dalam keterbatasan saja mereka sudah bersyukur. 


Baca juga: Kesadaran Spiritual, Hidup dalam Perspektif Baru

Apakah sesungguhnya inti dari mindfulness? Mengapa topik ini mendatangkan hujatan terhadap penganutnya? 

Secara mendasar, mindfulness sebetulnya gagasan sederhana. Ini juga bukan gagasan baru, sudah berabad lamanya orang mempraktikkannya, meski dengan penamaan yang berbeda. Mindfulness diyakini mampu mengurangi potensi orang mengalami gangguan mental. Meski tak ada penelitian yang cukup signifikan, namun para pelakunya membuat klaim bahwa hidup mereka lebih tenang dengan menerapkan mindfulness dalam kehidupan sehari-hari. 

Yang menjadi persoalan kemudian adalah bahwa ada kondisi genting yang sedang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Mindfulness mungkin bisa cukup membantu untuk meredam gejolak masing-masing personal. Sayangnya, saat ini yang lebih penting bukan itu melainkan bagaimana caranya keluar dari kondisi ini. Dalam hal ini, empati lebih dibutuhkan, jika memang belum ada tindakan riil yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak dari kondisi yang terjadi belakangan ini. Maudy mestinya menghitung itu. 

Faktor pendukung lainnya adalah bahwa masyarat punya ekspektasi terhadap seorang Maudy, public figure, seorang artis yang dikenal pintar dan bersih. Ekspektasi ini membuat para pengikut Maudy yang terdampak masalah merasa dikhianati.

Baca juga: Jeda dan Meditasi, bantu Redakan Pikiran yang Riuh


Mindfulness dalam Konsep dan Praktik

Secara harfiah, terjemahan langsung dari mindfulness adalah kesadaran penuh. Konsep dasarnya bukanlah hal baru. Para penganut Buddha saat meditasi menjalaninya dengan kesadaran penuh. Konsep ini kemudian diaplikasikan ke berbagai model terapi ala Barat. Misalnya Jon Kabat-Zinn yang mencetuskan konsep mindfulness-based stress reduction. Ia mendefinisikan mindfulness sebagai perhatian yang disengaja, saat ini, dan tanpa penilaian. Demikianlah inti dari mindfulness, mengajak kita untuk "hadir" pada saat ini. Menyadari sepenuhnya dengan membebaskan diri dari penilaian. 

Dalam keseharian, kita bisa mengimplementasikannya secara sederhana. Mindfulness mengajak kita untuk berfokus pada apa yang kita hadapi "sekarang", bukan terjebak di masa lalu, atau terkurung dalam kekhawatiran di masa depan. Contoh implementasinya dalam keseharian misalnya saat kita makan, ya kita berfokus pada makanan yang kita makan. Bukan sambil menonton TV, bermain HP, bahkan ngobrol hingga kita tak betul-betul menikmati makanan kita. Dalam sejumlah pelatihan berbasis relijiusitas, persiapan menuju makan adalah dengan ungkapan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat, mulai dari proses pertumbuhan tanaman, panen, hingga pengolahan di dapur, dan penyajian di meja makan. Ada begitu banyak pihak yang terlibat dalam sepiring makanan yang disajikan. Proses makan pun mensyaratkan keheningan, semata agar saat makan menjadi proses perenungan atas hidup yang penuh berkah. 

Itu salah satu contoh yang barangkali paling sederhana, soal makan. Latihan dan pembiasaan itu dapat diterapkan ke hal-hal lainnya. Namun, tanpa latihan dan pembiasaan, dapat dipastiskan mindfulness hanya berhenti di ranah konsep. 

Baca juga: Mengapa Kita Mengalami Pola Hidup yang Berulang?

Bagaimana jika ada gangguan yang menyela fokus kita? Tidak apa-apa, diterima saja. Salah satu yang perlu dilatih dalam mindfulness adalah membebaskan diri dari penilaian.

Jadi, tahapannya, pertama, sadari saat pikiran mulai berkelana atau ada pemikiran baru yang tiba-tiba muncul dan memenuhi benak. Berikutnya mulai rasakan. Ambil napas dalam dan rasakan udara yang masuk pelan-pelan memenuhi paru. Lanjutkan dengan sensasi dari alat indra lainnya dalam pengamatan terhadap benda di sekitar. Terima apa saja yang baru saja melintas, tanpa menilai dan menyalahkan diri sendiri, lalu melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda. Ini latihan yang perlu dilakukan berulang agar menjadi kebiasaan. Ketika perulangan ini menjadi kebiasaan, tanpa sadar kita telah melakukan self healing, hal yang penting dilakukan bagi siapa pun yang berpotensi menghadapi stres berlebih hingga jatuh ke kondisi depresi. Perempuan pekerja atau working mom masuk dalam kategori ini.

Pada tingkat lanjutannya, mindfulness bisa dipertajam dengan melakukan meditasi. Ada banyak ragam meditasi yang bisa dilakukan untuk melatih proses berkesadaran diri ini. Di wilayah praktisi psikologi klinis, baik dari psikolog maupun psikiater dikenal mindfulness-based cognitive therapy (MBCT) dan mindfulness-based stress reduction (MBSR). Dengan melakukan meditasi rutin diyakini dapat membantu penyembuhan gangguan depresi. Di wilayah mindfulness terapi secara signifikan dinilai telah mengurangi risiko kekambuhan para penderita depresi mayor. 

Kembali menyoal konten Maudy Ayunda, ya, tidak ada yang salah dengan ajakan Maudy untuk menerapkan mindfulness dalam kehidupan sehari-hari, terutama di masa sekarang yang dipenuhi dengan peristiwa-peristiwa yang berpotensi memicu stres dan depresi. Masalahnya, kita tidak sedang melihat “bad news”, kita sedang mengalami "bad reality". 

Sebagian orang hanya menyaksikan kebakaran hutan di layar televisi atau smarphone, sebagian yang lain mengalaminya. Mengalami sesak karena asap, anak-anak hanya bisa belajar daring, orang tuanya pun tak bisa berangkat kerja. Belum lagi yang mengalami dobel masalah, kebakaran hutan yang dibarengi kelangkaan BBM. Mereka bukan hanya melihat dari tayangan media; mereka mengalami sendiri kelangkaan BBM. Mereka harus antre berjam-jam di tengah antrean yang mengular; mengorbankan hal-hal lainnya. Dampak kebijakan Pemerintah ini bukan hanya konsumsi media; mereka terkena imbasnya. Bagaimana kebijakan soal MBG telah mengakibatkan ribuan anak mengalami keracunan, sedangkan di bagian lain harus mengalah akibat pendanaan yang menyedot banyak anggaran negara ini. Belum lagi bencana yang seolah bergiliran hadir. Jadi, jika sarannya adalah menjauh, harus menjauh ke mana? Jika sarannya ambil jeda, apakah jeda itu bisa menggantikan yang mereka perlukan?

Baca juga: Berkaca dari Kasus Tiara, Femisida dan Pencegahannya

Tak dibutuhkan kecerdasan skala tinggi untuk memahami itu. Meski banyak yang melakukan pembelaan terhadap Maudy--di antaranya agar memaklumi bahwa Maudy hanya menyasar segmen tertentu--tetap saja, apa yang dilakukan Maudy tidak bijak. Terlebih ia dikenal sebagai alumni Oxford untuk kajian Philosophy, Politics, and Economics (PPE). Lha, masa seseorang memiliki latar belakang pendidikan sekuat itu bukannya membuat konten yang menyasar hal yang lebih mendasar? Ya, menurutku dalam kasus ini Maudy memang tidak bijak, terlepas dari soal yang saya pun tak setuju dengan kebiasaan kebanyakan orang yang punya ekspektasi tinggi terhadap para selebritas dan figur publik. 

Yo wis-lah, mari kita semua terus berusaha menjaga kewarasan, salah satunya dengan hidup berkesadaran. Tentu saja dengan tetap membumi melihat berbagai persoalan hidup, dan jika memungkinkan menjadi bagian dari solusi, sekecil apa pun. Namaste.

Baca juga: Kesadaran Spiritual, Hidup dalam Perspektif Baru