Featured Slider

Jangan Pipis Sembarangan, Peduli Liyan

Orang Bandung sudah pasti hafal istilah cimol. Bukan cimol seperti yang kita kenal belakangan hari, makanan yang terbuat dari aci dengan padu padan bumbu bervariasi. Cimol yang ini plesetan dari cimall a.k.a cingogo di mall. Lapak yang penjual dan pembelinya cingogo. Cingongo adalah Bahasa Sunda yang artinya jongkok. Yup, di Cimol orang-orang memilih aneka produk baju bekas sambal berjongkok. Tapi versi lain menyebut Cimol singkatan dari Cibadak Mall. Ya ya, masih plesetan juga. Saya tidak mengajak bernostalgia. Mungkin lain waktu kita obrolkan tentang kenangan belanja cingogo ini. Kali ini mau ngobrolin soal pipis sembarangan. Memang apa hubungannya dengan Cimol?

Tahun 90 jelang akhir, selagi masih kuliah dan bekerja di sebuah stasiun radio, saya mendengar keluhan dari pemilik rumah di Jalan Cibadak. Keluhannya tentang para pedagang Cimol ini. Kondisinya tak seperti sekarang tentu saja. Yang pernah mendatangi kawasan Otto Iskandar Dinata dan Cibadak, tahu betul betapa sesaknya kawasan tersebut. Toko aslinya nyaris tak kebagian ruang. Terlebih di Cibadak yang jalannya lebih sempit. Nah, terbayang kan, dengan fasilitas umum yang terbatas, sangat terbatas jika dibandingkan dengan jumlah pemilik lapak, di mana mereka buang hajat? Untuk keperluan BAB mungkin mereka masih bisa memaksakan diri mencari masjid atau mushola terdekat yang menyediakan toilet umum. Tapi BAK? Ga yakin kan? Dan memang itulah yang terjadi. Ketika lapak sudah sepi, dan hembusan angin lebih leluasa, maka ngahililiwirlah itu aroma-aroma yang sudah pasti mengganggu. Pagi, buka toko, selain bau pesing, tak jarang botol-botol berisi air kencing ditinggalkan begitu saja. Hari demi hari itu yang dialami para pemilik toko. Maka sungguh dapat dipahami, pada satu titik mereka marah. Tapi tak tahu marah pada siapa. Karena sudah coba dilaporkan ke pamong setempat, tak ada kebijakan yang mengubah adab para PKL itu. Yang bisa dilakukan hanya mengeluhkan ke stasiun radio. Dan saat itu saya pun hanya berusaha menjadi pendengar yang baik, bagi ibu yang bercerita dengan dibarengi sesenggukan tanpa henti.

sumber foto: info bandung

Di kemudian hari ada kebijakan dari Pemerintah Kota Bandung untuk merelokasi Cimol. Ke Pasar Kebon Kalapa, dan terakhir ke Pasar Gede Bage. 

Persoalan pipis sembarangan di Cimol ini hanya satu dari sekian banyak kasus di sekitar kita. Barangkali tak sekental persoalan Cimol di Bandung, tapi bisa jadi merupakan persoalan menahun yang tak kelar-kelar. 


Mengapa sih orang suka pipis sembarangan? Ada beberapa alasan:

1. Tak ada fasilitas toilet. Seperti cerita tentang Cimol di atas, para pedagang kaki lima tersebut beralasan tak ada toilet. Di area publik lain banyak terjadi hal serupa. Tak heran kalau kita temui bau pesing di taman yang notabene dibuat untuk memperindah kota.

2. Tak mau keluar uang. Toilet ada tapi tak mau mengeluarkan seribu-dua ribu perak. Sebagai contoh di terminal. Begitu bebasnya para punggawa perusahaan otomotif dan para pencari rejeki di kawasan ini  yang begitu saja buang hajat di area-area yang agak tertutup dari pandangan. Di stasiun KA kini sudah tak ada pungutan di toilet. Sepertinya perkara rupiah ini cukup berdampak.

3. Sudah menjadi kebiasaan. Saat ‘pipis sembarangan’ ditolerir, tanpa sanksi,  maka lahirlah kebiasaan. “Ah sudah biasa..” Begitu katanya. Terlebih para orang tua yang juga abai terhadap kebiasaan buruk ini. Alih-alih mengajari, mereka malah mengajak anak-anaknya untuk pipis di mana saja.


Padahal, pipis sembarangan bukan perilaku sehat dan melanggar aturan. Beberapa fakta:

1. Perpindahan kuman. Pipis bukan di tempat yang peruntukannya, berpotensi mengundang penyakit. Betul, tak semua MCK yang jadi fasilitas umum teruji kebersihannya. Namun risiko pipis di lokasi yang bukan peruntukannya bisa lebih besar. Kuman yang bisa saja menempel di alat vital dan berkembang menjadi penyakit. Dan sebaliknya, jika dalam urinnya terkandung bibit penyakit, maka orang yang pipis sembarangan punya andil menyebarkan penyakit.

2. Mencemari lingkungan. Pencemaran terhadap air, tanah, dan udara. Pencemaran terhadap tanah dan air mungkin tak berdampak langsung. Namun sedikit banyak akan memberikan pengaruh, terutama jika bertemu dengan senyawa kimia yang lain. Para ahli menyebutkan, urin adalah senyawa kimia yang rumit. Ada 3.000 senyawa dalam urin. Dan senyawa tersebut muncul dari pertumbuhan bakteri, sedikitnya ada 72. Ditambah dari tubuh yang jumlahnya hampir 1.500, dan dari luar lebih dari 2 ribu. Komposisi urin sendiri berasal segala yang dikonsumsi manusia seperti makanan, obat-obatan, kosmetika, ditambah lagi paparan lingkungan seperti polusi. Yang jelas, urin meninggalkan jejak aroma yang tak menyenangkan.

3. Menyalahi aturan. Di berbagai kota di tanah air sudah memiliki payung hukum. Di DKI Jakarta, ada Pergub DKI Jakarta 221/2009 yang melarang warga membuang air besar dan/atau kecil di jalan, jalur hijau, taman, sungai dan saluran air. Pelaku yang melanggar terancam pidana kurungan paling singkat 10 hari dan paling lama 60 hari,  atau denda paling sedikit Rp 100 ribu dan paling banyak Rp 20 juta. Di Kota Bandung, ada Perda K3 (Keamanan, Ketertiban, dan Keindahan) yang diundangkan pada 2005 lalu. Pelanggar terancam denda Rp 250.000.


sumber foto: solo pos


Lalu apa solusinya?

1. Pemerintah lebih serius penerapan sanki. Aturan sudah ada, mengapa implementasinya tak jalan? Seandainya penerapan sanksi lebih tegas, barangkali tak akan kita jumpai para pelaku pipis sembarangan ini.

2. Pemerintah lebih serius menyiapkan fasum terkait kebutuhan buang air. Mengacu ke poin pertama, prasyarat aturan diberlakukan adalah kondisi sudah harus ideal. Dalam hal ini memang pemerintah kudu terkebih dahulu menyiapkan fasilitas umum berupa toilet di lokasi-lokasi strategis.

3. Menjadikan ‘jangan pipis sembarangan’ sebagai bagian dari pembelajaran di institusi pendidikan dan agama, yang seharusnya masih menjadi lembaga yang dihormati.

4. Setiap orang mau menjadi pelaku kampanye. Seandainya orang mau lebih berempati, memikirkan orang kain dan tak semata kebutuhan sendiri, bisa jadi perilaku ‘pipis sembarangan’ ini tak berkembang. Namun tentu saja tak bisa menyerah pada kondisi tersebut, karena setiap orang juga dimampukan untuk membawa pengaruh positif terhadap orang lain di wilayah geraknya masing-masing.


Komunitas Jangan Pipis Sembarangan


Sebuah komunitas yang peduli urusan pipis sembarangan ini dibentuk pada pertengahan 2020 lalu. Namanya Komunitas Jangan Pipis Sembarangan (JPS). Tujuannya tak lain untuk mengajak semua orang lebih peduli pada lingkungan sekitar. Mendapatkan udara segar dan lingkungan yang bersih dan sehat adalah hak semua orang. 

Pada 18 September lalu, sang founder komunitas, Ivan Nisero, merilis single yang sekaligus dapat menjadi jingle dari komunitas ini. Lagu bertajuk 'Jangan Pipis Sembarangan’ yang dikemas dalam irama reggae ini diharapkan jadi pengingat untuk tak berlaku seenaknya dan merugikan orang lain. Liriknya sederhana dan mudah untuk diikuti.  

Untuk yang tertarik bergabung dengan komunitas dan ingin terlibat kampanye Jangan Pipis Sembarangan, bisa cus langsung ke akun-akun Media Sosial Komunitas JPS:

IG: @janganpipissembarangan_

twitter: @KomunitasJPS

fanspage: komunitasJPG

Jangan lupa dengerin lagunya: https://youtu.be/i1nFBBp1UO0


Serendipity, Tentang Menemukan Pasangan dan Takdir

Ada yang menggemari film-film yang bercerita tentang peristiwa kebetulan? Nah, bisa jadi sudah pernah nonton film ini. Serendipity. Film lama, umurnya sudah 19 tahun. Kapan hari merapikan koleksi CD, menemukan ini film. CD dengan sampul kertas. Belum nonton? Tonton deh. Yaaa kisah percintaan gitu sih, tapi asik filmnya. Bicara tentang takdir dan menemukan pasangan yang tepat.

Kisah diawali dengan suasana Natal di sebuah pusat perbelanjaan. Adalah Jonathan Trager (John Cusack) yang tengah mencari sarung tangan untuk hadiah Natal buat kekasihnya. Sebuah sarung tangan menarik perhatiannya dan segera ia ambil. Berbarengan, seorang yang lain meminati sarung tangan tersebut. Sara Thomas (Kate Beckinsale). Menyadari chemistry di antara keduanya, mereka memutuskan untuk singgah di Serendipity 3. Yup, Serendipity di sini adalah sebuah cafΓ© yang mewakili makna yang lain tentang peristiwa kebetulan. Pada akhir perjumpaan tersebut, Sara menuliskan nomor teleponnya pada selembar kertas mungil. Sayang, angin menerbangkan kertas tersebut. Sara meyakini itu sebagai tanda dari semesta. Bahwa semesta tak merestui kebersamaan mereka.

Baca juga: Gundala, Harapan Baru Film Superhero Indonesia

Jonathan bersikeras. Ia memaksa menuliskan nomor teleponnya pada selembar $5 dan menyerahkannya pada Sara. Sedangkan Sara menuliskan nama dan nomor teleponnya pada halaman muka sebuah buku yang akan segera terjual esoknya. Lebih kurang dikatakannya: jika masing-masing mereka menemukan kedua benda tersebut, semesta memberikan restunya. Huuufffttt.. saat nonton dulu berasa ikut gemes. Please deeeh, apa sih susahnya πŸ˜… Tapi kalau ga dibikin rumit, ga bakal jadi cerita seru ya.

Maka demikianlah, kehidupan terus berjalan. Ada saat-saat tertentu yang membuat mereka teringatkan pada momentum perjumpaan tersebut. Kadang seolah akan menemukan titik temu, namun nyatanya semu. Tak ada pertanda, semesta tak memberikan kesempatan buat mereka. Hingga tiba di hari itu, hari yang sesungguhnya penting buat Jonathan maupun Sara.

Di New York, Jonathan merayakan pertunangan dengan kekasihnya, Halley Buchanan. Ironisnya, Halley memberinya kado berupa buku yang bertuliskan nama dan nomor telepon Sara. Di belahan kota yang lain, Sara tengah mendatangi Lars Hammond, kekasih yang melamarnya. Tanpa sengaja, dompet Sara bertukar dengan milik Eve, kawannya. Dompet dengan bentuk dan brand yang mirip. Hal yang tak terduga kemudian, Sara menemukan pecahan $5 dengan coretan tangan Jonathan. Deg-degan kaaan…

Dari temuan-temuan tak terduga itu, segala sesuatunya saling berkejaran. Nyaris tak sampai pada titik temu karena kesalahpahaman. Tapi ya bisa diduga sih, happy ending. Sebuah kisah percintaan yang manis sekaligus unik khas Miramax. Cocok buat kawan berakhir pekan 


Baca juga: Kisah Perjuangan Perempuan Yahudi

Serendipity disutradarai Peter Chelsom, dengan naskah Garapan Marc Klein. Film ini menghasilkan $77.5 juta dari total budget $28 juta.

Nah, Anda sendiri, apakah punya kisah percintaan yang unik? Berbagi yuuk.. Next kayanya berbagi trilogy Before Sunrise deh..





Persiapan Memiliki Rumah Sendiri

Bulan lalu terima job membuat konten untuk web perusahaan penyedia material bangunan. Judulnya beragam. Termasuk soal perencanaan pemilikan rumah baru. Lantas terpikir untuk share di sini, sekaligus berbagi pengalaman saat memutuskan untuk memiliki rumah sendiri. Banyak hal pastinya yang berubah dari saat saya ambil rumah tahun 2003, dibandingkan tahun-tahun sekarang. Tapi saya yakin, hal-hal yang mendasar masih sama lebih-kurangnya.

Mengapa perlu punya tempat tinggal sendiri?


Rumah mungil saya yang nyaris tak berubah dalam 10 tahun

Tiap orang punya alasan yang berbeda saat menimbang untuk memiliki tempat tinggal sendiri. Dalam bentuk rumah, ruko, apartemen, atau bentuk lainnya. Bagi yang berkeluarga, agar lebih mandiri, terpisah dari keluarga. Ada yang hanya menjadikannya investasi. Yang baru merintis usaha, mungkin ingin sekalian memiliki lapak yang menyatu dengan rumah. Saya sendiri, karena berpikir ke depan, tak ingin menggantungkan diri pada orang lain.

Memang, banyak pengalaman yang menunjukkan, meski tinggal menyatu dengan orang tua atau keluarga besar, suasana kondusif, aman, damai, sentosa, sejahtera πŸ˜„Bahkan dianggap menguntungkan karena bisa berbagi pengasuhan anak dengan orang tua. Namun banyak pula yang lebih memilih hidup mandiri, telepas dari keluarga besar. Bukan semata fasilitas, namun juga ingin membangun nilai-nilai keluarga sendiri.

Bicara tentang investasi, rumah masih menjadi salah satu investasi yang baik. Nilainya terus berkembang dari tahun ke tahun, kecuali barangkali ada kasus tertentu yang menjadikan harga tanah dan rumah di sebuah kawasan, anjlok. 

Buat saya sendiri, alasan mendasarnya memang tak ingin merepotkan orang lain. Saat itu ada rekan kerja yang sudah berumur, tiap kali harus bersibuk-sibuk menyiapkan uang kontrak rumah secara berkala. Tak jarang memunculkan kondisi tak nyaman di kantor. Membayangkan jika nanti menua, sendiri, dan harus sibuk dengan urusan rumah, kok seram ya? Tapi yang lebih sederhananya sih alasannya karena saya tinggal sendirian, di kota yang jauh dari keluarga, daripada membayar uang kost, mengapa tidak digunakan sebagai uang cicilan rumah saja? Saat muncul pemikiran itu, kebetulan ada tim marketing perumahan baru beriklan di koran yang kantor kami berlangganan.

Ambil rumah jadi dari developer atau membangun rumah sendiri (custome home)? 

Menjawab pertanyaan di atas juga kembali pada kita masing-masing. Apakah kita punya anggaran yang cukup, apakah waktu kita leluasa, apakah kita sanggup bekerjasama dengan semua orang yang terlibat, apakah kita mau ribet dengan aneka urusan administrasi? Mari cek satu-satu dan sandingkan dengan sedikit pengalaman saya.

1. Anggaran

Dari sisi anggaran, dengan kondisi rumah yang sama, sesungguhnya membangun custom home terhitung lebih ekonomis dibandingkan dengan membeli langsung dari developer. Namun dibutuhkan perencanaan yang teliti sekaligus realistis, untuk mewujudkan custom home impian. Jika tidak, anggaran bisa membengkak dan terasa lebih mahal dari harga rumah jadi atau hasil yang tak memuaskan.

Pada pembangunan custom home kita bisa memilih material yang sesuai, baik dari sisi desain maupun  harga. Dengan demikian anggaran dapat menyesuaikan. Begitu pun dengan desain bangunannya sendiri. Apakah akan dibuat permanen atau menjadi rumah tumbuh. Baik rumah jadi maupun custom home memiliki kelebihan dan kekurangan dalam hal pembiayaan. 

Jika anggaran dan waktu tak memungkinkan, rumah siap huni dapat dijadikan pilihan. Sebagai catatan, kalau mengambil rumah jadi, patokan angka yang disampaikan marketing developer bisa jadi melenceng jauh dari kenyataan. Pengalaman saya, uang muka yang mereka sebutkan sejumlah A rupiah, ternyata setelah pengurusan segala macam, total mencapai hampir 4A. Jadi penting untuk menanyakan hal sedetail mungkin kepada pihak developer. Lebih baik dianggap konsumen bawel daripada di tengah jalan terkaget-kaget.

Bersiap pula dengan perkembangan lingkungan sekitar. Di Bandung dan mungkin di banyak kota lainnya di tanah air, saat ini banyak yang jadi langganan banjir. 

Banjir tahun 2013 yang bikin terkaget-kaget dan tegang menunggu perkembangan.

2. Waktu

Membangun custom home memerlukan waktu 7 hingga 8 bulan. Sedangkan untuk beli rumah siap huni paling hanya butuh satu hingga dua bulan saja. Itu untuk proses pembangunannya. Sebelumnya, untuk menentukan lokasi pun membutuhkan waktu yang tak sebentar. Terlebih jika ada prasyarat tertentu seperti lokasi yang berdekatan dengan rumah saki, pasar, sekolah, dan fasilitas umum lainnya. Terbayang kan berapa lama untuk melakukan survei? Sedangkan pada perumahan yang digarap developer biasanya sudah di kawasan yang ‘jadi’, ke mana pun tujuannya dijanjikan terjangkau. 

Ketika persiapan sudah selesai, menuju ke proses berikutnya yakni pembangunan, dibutuhkan waktu pula untuk menentukan dengan siapa saja kita akan bekerjasama. Saat menyerahkan pembangunan pada pihak ketiga, dibutuhkan waktu juga untuk melakukan koordinasi dan meninjau ke lokasi. 

Yang terakhir ini terjadi saat saya melakukan renovasi. Diserahkan kepada pihak ketiga yang notabene adalah tetangga. Percaya saja karena saya tak punya waktu untuk menunggui dan memantau. Yang terjadi, saya merasa dikelabuhi habis-habisan. Tapi ya salah saya yang terlalu percaya. Percaya boleh, sembrono jangan. Tetap minta hitam putih. Ini soal waktu yang kemudian bisa merembet ke hal lainnya.

3. Sanggup bekerjasama dengan orang lain?

Saat membayangkan custom home perlu disiapkan mental kita untuk bekerjasama dengan pihak lain. Dimulai dari desainer, arsitek, dan berikutnya kontraktor. Masing-masing memiliki kekhasan ‘masalah’. Owner memang memegang kenali penuh atas semua proses pembangunan, namun tetap dibutuhkan komunikasi yang baik dengan semua tim yang terlibat. 

Disarankan untuk membuat kesepakatan yang jelas dan detail tentang hak dan kewajiban kontraktor, beserta pasal-pasal tambahan semisal ada perubahan desain atau tenggat waktu pengerjaan. Bahkan hal-hal harian seperti jadwal kerja dan model penyampaian laporan, perlu dibuat kesepakatan. Untuk pemilihan kontraktor, cari yang biasa mendokumentasikan hasil kerja. Sehingga kita punya catatan jika suatu saat akan melakukan renovasi. 

Oiya, saat berurusan dengan kontraktor, sekalian dapat ditanyakan soal Ijin Mendirikan Bangunan (IMB). Jika kontraktor sekaligus melakukan pengurusan IMB akan lebih menguntungkan. Kalau tidak, pastikan kita mau menyisihkan waktu dan aneka keribetan terkait urusan administratif satu ini.

Nah, dari catatan pendek di atas, kira-kira mana yang lebih pas dengan kondisi kita? 

Saya sendiri memilih untuk mengambil rumah ke developer dengan sistem KPR. Pertama, karena memang tak ada dana yang longgar untuk membangun custom home. Selain itu tak terbayang melakukan kerjasama dengan pihak ketiga yang notabene masih jauh dari dunia pergaulan saya yang baru di lingkaran kawan kost dan kawan kerja. Kalau sekarang ditanya: seandainya punya rumah baru, ingin rumah jadi atau custom home? Pasti saya akan jawab: pilih custom home! Memang sekarang punya uang yang leluasa buat bangun rumah sendiri? Ya engga sih.. namanya juga berandai-andai kan? πŸ˜€

Tapi memang membayangkan memiliki rumah dengan desain yang diinginkan, pasti lebih menyenangkan. Cuma kalau mundur ke tujuh belas tahun lalu, dikasih opsi untuk menunggu hingga uang cukup untuk membangun custom home, sepertinya kok ga akan punya rumah sampai sekarang. Jadi, saat terbaik adalah saat ini, dan hal terbaik adalah apa yang kita miliki saat ini..😍

Selamat menyiapkan rumah mandiri ya.. Salam dari keluarga kucing Cikoneng.





Sugeng Tindak, Pak Jakob Oetama..

Sebagai penyiar Radio Sonora Bandung, saya menjadi bagian dari keluarga besar Kompas Gramedia. Meski hanya sebagai penyiar freelance, dan meski tak pernah berjumpa langsung dengan Pak Jakob, tetap saja, kepergiannya memunculkan rasa kehilangan. Karena Jakob Oetama bukan semata pemimpin dan pendiri Kompas Grup, namun sosok yang dapat dijadikan teladan oleh semua yang berkecimpung di dunia media.



Ya, hari ini (Rabu, 9/9/2020), Pendiri Kompas Gramedia sekaligus Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama berpulang. Kabar pertama saya temukan di wag kampus, kawan-kawan seangkatan. Sebagai pembelajar kajian jurnalistik, nama almarhum tentu saja sangat akrab buat kami. Jauh sebelum saya bergabung dengan grup Kompas. Langsung cari beberapa sumber berita. Termasuk rilis yang dibagikan Corporate Communication Director Kompas Gramedia, Rusdi Amral. Cek di media sosial, beberapa kawan membagikan kenangan bersama almarhum. Di antaranya tersebutkan, Jakob sempat dalam perawatan tim medis RS Mitra Keluarga Kelapa Gading hingga menghembuskan nafas terakhir pada pukul 13.05, pada usianya yang ke-88 tahun. 

Mengutip catatan Trias Kuncahyono, Jakob pernah berujar kalau keberadaan Kompas adalah providentia Dei. Penyelenggaraan Allah. “Saya seorang wartawan, bukan pengusaha. Saya pernah menjadi guru, dan sampai sekarang tetap seorang guru. Mas tahu kan, dalam providentia Dei ada pemeliharaan, ada perlindungan, ada penyertaan, dan jangan lupa ada campur tangan. Ya, campur tangan Tuhan. Itulah providentia Dei. Dan, Kompas bisa menjadi seperti sekarang ini karena providentia Dei.” Demikian kutipan di triaskun.id

Jakob Oetama memang seorang guru. Profesi guru pernah dilakoninya, yakni sebagai pengajar di SMP Mardi Yuwana Cipanas, Sekolah Guru Bagian B (SGB) Lenteng Agung Jagakarsa, dan SMP Van Lith Jakarta. Memang cita-citanya sedari belia, menjadi guru seperti ayahnya. Sementara minatnya menulis tumbuh berkat belajar Ilmu Sejarah. Saat mengajar SMP, ia mengikuti Kursus B-1 Ilmu Sejarah hingga lulus. Mengikuti minatnya, Jakob melanjutkan kuliah ke Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta dan Jurusan Ilmu Komunikasi Massa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada hingga tahun 1961. Pekerjaan bidang jurnalistik diawali Jakob sebagai redaktur majalah Penabur Jakarta. Pada 1963, bersama Petrus Kanisius Ojong (alm), Jakob Oetama menerbitkan majalah Intisari yang menjadi cikal-bakal Kompas Gramedia. Yang menonjol dari seorang Jakob adalah kepekaannya pada masalah manusia dan kemanusiaan. Hal yang kemudian menjadi spiritualitas Harian Kompas, yang terbit pada 1965. 


Tahun demi tahun berjalan, dan Kompas Gramedia kemudian berkembang menjadi bisnis multi-industri. Namun Jakob Oetama masih menyebut dirinya sebagai wartawan. Menurutnya, “Wartawan adalah Profesi, tetapi Pengusaha karena Keberuntungan.” Memang, semasa hidup, Jakob Oetama dikenal sebagai sosok sederhana. Ia selalu mengutamakan kejujuran, integritas, rasa syukur, dan humanisme. Di mata karyawan, Jakob dipandang sebagai pemimpin yang ‘nguwongke’, dan tidak pernah menonjolkan status atau kedudukannya. Almarhum berpegang teguh pada nilai Humanisme Transendental yang dijadikan pondasi Kompas Gramedia. Idealisme dan falsafah hidupnya telah diterapkan dalam setiap sayap bisnis Kompas Gramedia yang mengarah pada satu tujuan utama, yaitu mencerdaskan kehidupan Bangsa Indonesia. 

Jakob Oetama menerima banyak penghargaan semasa hidupnya. Di antaranya Bintang Mahaputra Kelas III (Bintang Utama) pada masa pemerintahan Orde Baru. Ia menerima gelar kehormatan Doktor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada pada 2003. Lifetime Achievement Award ia dapatkan dari lembaga dalam dan luar negeri. Dari Pemerintah Jepang ia menerima Bintang Jasa The Order of The Rising Sun dan Gold Rays with Neck Ribbon. Dan masih banyak yang lainnya. 


Selamat jalan, Pak Jakob... selamat berpulang...


September Ceria, Karya James F Sundah Yang Tak Lekang Waktu

September merupakan salah satu bulan yang lumayan banyak dijadikan judul maupun tema lagu. Seperti ‘September’-nya Earth, Wind, & Fire, September in The Rain dari The Beatles, September Song dari JP Cooper, atau Wake Me Up When September Ends-nya Green Day. Di tanah air tentu saja kita punya ‘September Ceria’, superhitnya Vina Panduwinata. Cerita tentang lagunya, bisa dieja di sini. Sekarang kita berkenalan sedikit dengan sang pencipta, James F Sundah.



Nama lengkapnya James Freddy Sundah. Pria berdarah Manado kelahiran Semarang, 1 Desember 1955 ini dikenal dengan lagu-lagu berkualitas yang berjaya di ajang festival. Diawali dengan karyanya tahun 1977 yang memenangkan Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors, Lilin Lilin Kecil, yang disuarakan oleh Chrisye. Lagu ini berada di posisi 13 dalam daftar lagu terbaik sepanjang masa versi Majalah Rolling Stone Indonesia.



Yang khas dari karya James adalah lirik yang terkesan sederhana namun sesungguhnya menyodorkan makna yang dalam. Pun dia cermat melakukan pemilihan kata sehingga mampu mewakili suasana dengan tepat. Seperti pada lagu ‘September Ceria', dikatakannya, “Seluruh dunia merasakan perubahan pada bulan September.” Di negara-negara empat musim, di belahan bumi utara, September merupakan awal musim gugur; sedangkan belahan bumi selatan merupakan awal musim semi. Di negara tropis seperti Indonesia, September biasanya adalah awal musim hujan. Meski tahun ini sepertinya ada anomali. Perubahan-perubahan itu memunculkan nuansa tersendiri, dan tampaknya itu menjadi momentum terbaik untuk menyelipkan kisah sentimental melalui lagu.

Temukan aneka cerita tentang lagu di pecandumusik.com



James banyak melakukan kolaborasi dengan penyanyi kenamaan tanah air, seperti Titiek Puspa, Vina Panduwinata, Ruth Sahanaya, Krisdayanti, dan Sheila Majid. Pada 1996, ia bersama Titiek Puspa menuliskan "When You Came Into My Life" untuk grup Rrock asal Hanover, Jerman, Scorpion. Lagu tersebut rilis bersama album Pure Instinct. 

Sepuluh tahun lalu, James sempat membuat acara musik di tanah air bertajuk Indonesian Song Festival 2010. Festival lagu popular serupa sempat berjaya pada dekade 70-90an. Selain bermusik, Sundah juga kerap menjadi narasumber untuk masalah-masalah budaya, hak cipta, dan informasi teknologi. Karya-karyanya dimuat di berbagai media dan jurnal ilmiah. Ia juga sering mewakili Indonesia pada pertemuan-pertemuan internasional. Saat ini James tinggal di New York City bersama istri dan anaknya.

Antara 'Dalam Diriku' SDD dan 'Because' The Beatles

Tokoh sastra terkemuka Indonesia, Sapardi Djoko Damono berpulang pada 19 Juli 2020 lalu. Terlintas untuk membuat catatan khusus sebagai apresiasi terhadap karya-karya Pak Sapardi (SDD). Tapi tak keburu saja. Hingga dua minggu lalu seorang pendengar program The Beatles di Radio Sonora Bandung ingin dibagikan cerita soal syair SDD yang terinspirasi oleh The Beatles. 

    Foto Gramedia

Tak banyak referensi yang menuliskan tentang seberapa jauh SDD menyukai The Beatles. Nyaris tak ada bahkan. Dari beberapa kata kunci yang merujuk pada ‘The Beatles’ dan ‘SDD’ hanya tertemukan sebuah kalimat. Terdapat di beberapa feature dan tulisan blog. Disebutkan, SDD mengoleksi piringan hitam The Beatles. Sebatas itu. Sayangnya saya tak pernah berkesempatan untuk berjumpa langsung dan melakukan wawancara. Ketika penyair senior bicara tentang musik dari grup legenda, sepertinya asik.

Namun yang pasti, ada sebuah puisi dari penyair kelahiran 20 Maret 1940 ini yang jelas-jelas mengutip lirik lagu The Beatles. Yang artinya lagu bertajuk Because tersebut telah menginspirasi SDD untuk menuliskan nuansa yang sama dalam bahasanya. Bahasa puisi. 


DALAM DIRIKU


Because the sky is blue

It makes me cry

(The Beatles)


dalam diriku mengalir sungai panjang,

darah namanya;

dalam diriku menggenang telaga darah,

sukma namanya;

dalam diriku meriak gelombang sukma

hidup namanya!

dan karena hidup itu indah,

aku menangis sepuas-puasnya


(1980)


Dalam Diriku dapat ditemukan di buku rampai puisi Hujan Bulan Juni. Buku ini pertama kali diterbitkan pada 1994 oleh Grasindo, berisi karya SDD pada kurun 1964-1994, baik yang sudah dan belum dipublikasikan. Setelahnya ada beberapa kali cetak ulang dengan perubahan berupa penambahan dan penghilangan beberapa judul puisi.  


Because sendiri adalah lagu The Beatles di album Abbey Road yang rilis tahun 1969. Lagu ini bisa dibilang lagunya John Lennon, meski kredit tertulis Lennon-McCartney. Konon idenya datang saat John mendengarkan Yoko memainkan Moonlight Sonata, gubahan Beethoven, pada piano. Saat itu ia sedang tiduran di sofa. Lalu ia meminta Yoko untuk memainkan chord secara mundur. Di situlah John menemukan si Because

Lebih lengkap liriknya:

Because the world is round it turns me on

Because the world is round, ah

Because the wind is high it blows my mind

Because the wind is high, ah

Love is old, love is new

Love is all, love is you

Because the sky is blue, it makes me cry

Because the sky is blue, ah

Ah, ah, ah, ah

Baca juga: Perayaan 50 Tahun Abbey Road 

Lirik yang sederhana, namun penyajiannya terbilang rumit. Lagu ini disuarakan bertiga John, Paul, dan George, dengan proses rekaman yang tak biasa. Komposisi tiga suara mereka rekam sebanyak tiga kali, menghasilkan 9 suara. Pada lagu ini juga mereka untuk pertama kalinya menggunakan Moog synthesizer yang dipegang oleh George. Ringo tak terlibat dalam pembuatan lagu ini. Sedangkan George Martin memainkan piano Baldwin electric harpsichord.  


Di kuping saya, dan bisa jadi di kuping penikmat lagu The Beatles dan sajak SDD, baik Because maupun Dalam Diriku mendedahkan rasa penuh syukur yang mengharukan. Because the sky is blue, it makes me cry. Karena hidup itu indah, aku menangis sepuas-puasnya.

Untuk semua yang mencintai kehidupan, I love you

Dapatkan cerita tentang lagu di https://www.pecandumusik.com/


Menyikapi Kritik dan Penilaian Negatif

Sebagai makhluk sosial yang berinteraksi dengan manusia lain, tentu saja kita tak lepas dari penilaian orang. Penilaian yang datang dapat bernuansa positif maupun negatif. Cara penyampaiannya pun beraneka. 



Penilaian positif dapat disampaikan dengan cara ‘negatif’ dan sebaliknya. Negatif dalam tanda petik mewakili ungkapan-ungkapan yang berupa olok-olok atau dengan cara kasar. Jika disampaikan oleh orang yang memang saling mengenal, tak jadi soal. Tapi tidak sebaliknya. Alih-alih ingin memberikan nilai positif, karena disampaikan dengan cara tak tepat akhirnya malah memunculkan masalah baru. Demikian pula dengan penilaian negatif, ada yang disampaikan togmol kalau dalam istilah Sunda, atau secara lugas, ada pula yang dibungkus kalimat-kalimat manis. Untuk kalimat positif, relatif tak ada masalah. Yang sering memberikan efek tak baik adalah kritik dan penilaian negatif. Nah, bagaimana kita menyikapinya? Abaikan? Jangan! Setidaknya lewati dulu beberapa tahapan sampai kemudian memutuskan untuk mengabaikan.


Berikut ini tahapan yang perlu kita lakukan untuk menyikapi kritik dan penilaian negatif. Tentu saja versi saya, dari pengalaman dan pengetahuan sekian tahun hidup sebagai makhluk sosial. 


Tidak defensif


Hal yang alami dilakukan orang saat dikritik atau dikasih penilaian negatif adalah munculnya perasaan diserang. Lebih buruk lagi, perasaan terhina dan dilecehkan.  Maka yang dilakukan adalah membuat pembelaan diri. Contoh-contohnya dapat dengan mudah kita temukan di media sosial. Medsos menjadi salah satu saluran katarsis bagi mereka yang membutuhkan pembelaan diri. 


Apakah sebetulnya sikap defensif itu dibutuhkan? Jawabnya adalah tidak. Defensif adalah sikap emosional yang bakal melelahkan jika diikuti. Ambil nafas panjang, berdiam barang tiga menit untuk menetralisir beban batin. Lalu lakukan introspeksi.


Introspeksi


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan, introspeksi adalah peninjauan atau koreksi terhadap (perbuatan, sikap, kelemahan, kesalahan, dan sebagainya) diri sendiri. Apakah kritik dan ungkapan negatif tersebut hanya untuk menjatuhkan, apakah memang betul kita melakukan hal yang tak tepat, ataukah karena cara pandang yang berbeda. 


Pada poin yang terakhir orang yang memberikan kritik atau penilaian negatif karena memang demikianlah cara pandangnya. Konon, orang cenderung ingin melihat apa yang ingin ia lihat dari orang lain. Mereka tak bisa atau tak mau melihat kita dari berbagai aspek dan kemungkinan. Tentu saja kita tak bisa memaksa mereka mengubah cara pandangnya. Lalu dengan cara apa melakukan introspeksi? 


Cek kembali hal-hal yang menjadi prinsip kita


Kembali ke dalam diri. Lepaskan segala ego dan upaya pembelaan diri. Jika mendapati ada hal-hal yang tak tepat yang kita lakukan, koreksi. Perbaiki. Barangkali ini tak selalu mudah. Terutama untuk hal-hal yang sudah jadi kebiasaan bertahun-tahun. Tapi dapat dicoba pelan-pelan. 


Jika saat ‘kembali ke dalam diri’ tak kita temukan kesalahan, kita sudah menjalankan prinsip utama, misal ‘berlaku manusiawi’, ya sudah, saatnya mengabaikan. Lepaskan. Jangan pernah biarkan hal-hal tak menyenangkan menjadi kerak di batin kita.


Bersikap positif


Orang bijak mengatakan’segala sesuatu pasti ada hikmahnya’. Terdengar klise, tapi itu benar adanya.

  • · Saat mendapatkan apresiasi positif, kita akan berusaha untuk meningkatkan sikap positif kita.

  • · Saat menerima kritik dan penilaian negatif, kita akan introspeksi. Jika nyata salah, kita dapat melakukan perbaikan.  Jika tak ada hal salah yang kita lakukan, kita akan mengambil sikap untuk tak melakukan hal serupa pada orang lain. Hal yang membuat kita lebih bijak.

Upaya ini kita lakukan untuk mendapatkan hasil utama yaitu nilai kebaikan. Bukan untuk meninggikan diri sendiri, dan sebaliknya, merendahkan orang lain. Melainkan nilai kebaikan. Semata nilai kebaikan



Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta



*Catatan ini dibuat setelah berbulan-bulan hibernasi alias mengikuti dorongan malas dan mengabaikan blog. Mari kita menulis lagi πŸ˜€ Catatan ini juga sekaligus mengakhiri peran utama Si Shiroy, laptop Asus mungil saya yang memang sudah bolak-balik ngadat. Semoga di perangkat penggantinya mendatang, si sayanya akan lebih rajin 😍

Mengenal Vincent Willem van Gogh Lewat Novel Lust for Life


No great genius has ever existed without some touch of madness. (Aristotle)



Tanggal 30 Maret tercatat sebagai hari lahir seniman besar Vincent Willem van Gogh. Seorang pelukis impresionist asal Belanda yang banyak mempengaruhi pelukis-pelukis generasi berikutnya. Persisnya ia lahir di Zundent, Belanda, 30 Maret 1853. Kutuliskan ulang dari blog terdahulu untuk merayakannya. Pengenalanku sendiri terhadap sosok pelukis ini adalah dari lagunya Don McLean: Vincent.



Yup, Don McLean pernah memberiku imajinasi tentang kepedihan hidup yang dialami Vincent. Tentang kesunyian dan kegilaan di dalamnya. Tapi melodi yang membius dari penulis lagu dan penyanyi Amerika itu membuatku abai pada inti cerita dari lagu tersebut. Kenyataannya, kehidupan Vincent lebih murung dari yang kubayangkan sebelumnya. Aku menemukan detailnya dalam novel karya Irving Stone. Memang, sebuah karya fiksi. Ada drama yang ditambahkan sang penulis. Tapi setidaknya memberikan gambaran lebih detail.

Dibesarkan oleh keluarga terpandang, Vincent muda menjalani kehidupan yang normal. Karirnya sebagai tenaga penjualan di galeri seni Goupil, London, Inggris terbilang lancar. Meski tidak terlalu menyukai pekerjaannya, tapi paling tidak ia bisa memberikan masukan yang bagus soal lukisan kepada calon pembelinya. Rutinitas itu dijalaninya setiap hari dengan tidak terlalu banyak keluhan. Hingga suatu ketika ia menyadari kalau telah jatuh cinta pada Ursula, anak pengurus rumah ia tinggal. Perempuan itu menolaknya. Penolakan atas kasmaran yang kali pertama dialaminya itu membuatnya terguncang. Ia merasa terhina dan tercampakkan. Tiba-tiba saja ketidaknyamanan di alam bawah sadarnya bermunculan. Ia mulai berontak terhadap aturan-aturan tempat kerjanya. Terhadap kepalsuan para pembelinya, orang-orang kaya yang membeli lukisan sebagai prestige semata dan bukan karena mengerti seni. Ia merasa harus pergi. Dan ia memutuskan kembali ke Belanda.


Di Belanda, atas rekomendasi orang tuanya, Vincent masuk sekolah pendeta. Ia tak butuh tidur, tak butuh cinta, simpati, atau kesenangan. Ia hanya ingin menjadi pelayan Tuhan. Namun rupanya ia pun tak cocok dengan pendidikan formal. Hingga kemudian, setelah melewati proses yang berbelit-belit, ia menawarkan diri untuk ‘melayani’ di kawasan tambang batubara, Borinage. Hal ideal yang selama ini di benaknya dan berlaku pada pengalaman empirisnya terhadap kehidupan menggereja, sama sekali berbeda dengan yang didapatinya dari lingkungan miskin tersebut. Barangkali ada kemiripan, ketika mereka datang ke gereja dengan patuh. Dan mematuhi pula apa pun yang disampaikan sang pendeta. Mereka datang ke gereja seolah perjumpaan dengan Tuhan adalah satu-satunya hiburan.

Tapi ada yang salah di sini, katanya. Nuraninya tergugah. Mereka bukan butuh ayat-ayat kitab suci. Mereka butuh kehidupan yang layak. Vincent pun terjun langsung. Ikut melihat dari dekat kondisi tambang. Pindah ke rumah sewa semata untuk merasakan kehidupan kaum papa. Keadaan semakin mengenaskan ketika bencana terjadi. Kawasan pertambangan mengalami longsor. Korban berjatuhan. Vincent membantu sejauh yang ia mampu. Bahkan bisa dikatakan melebihi batas kemampuannya. Ia pun sakit. Ambruk. Adiknya, Theo yang datang mengunjungi kaget bukan kepalang. Ia berniat membawa Vincent. Pada akhirnya Vincent mengiyakan. Padahal sebelumnya ia bersikeras menolak pada kelompok penginjilan tempat ia bernaung yang menyebutnya memalukan karena keterlibatannya dalam kehidupan masyarakat tambang tersebut. Bukan semata karena menyayangi adiknya, melainkan juga karena dia menyadari apa yang diinginkannya dalam hidupnya: melukis! Ya, tampaknya Borinage merupakan salah satu fase penting dalam kehidupan Vincent. Borinage adalah tempat ia tersadar untuk menolong orang miskin dengan sepenuh hatinya. Di Borinage pula ia mengenali passion-nya dalam melukis.


Kembali ke kota tidak menjadikan segala sesuatunya mudah. Kehidupan Vincent disokong sepenuhnya oleh Theo. Tempat ia tinggal, apa pun yang ia butuhkan, Theo senantiasa mencukupi. Bahkan saat Vincent berada dalam kondisi paling menyebalkan pun, Theo selalu mendampinginya. Bertahun-tahun. Hingga ia mulai mempertanyakan soal kemampuannya melukis karena tak kunjung bisa menyejajarkan diri dengan para pelukis yang karya-karyanya sudah dipajang di galeri. Theo pun tak berdiam diri. Ia mengenalkan Vincent pada sejumlah pelukis, di antaranya yang kemudian menjadi karibnya, Paul Gauguin. Pada masa itu Vincent mulai mengenal lukisan dari pelukis-pelukis tenar yang telah mendahuluinya, seperti Monet, Manet, Sisley, Pissarro, Degas, Guillaumin, Delacroix. Dan dari sekian perjumpaan dengan kawan-kawan pelukisnya, ia juga makin paham tentang pengetahuan dan ragam teknik melukis. Misalnya Cezanne melukis dengan mata, Lautrec melukis dengan amarahnya, Seurat melukis dengan otaknya, Rousseau melukis dengan imajinasinya, Gauguin melukis dengan hasrat seksualnya, dan ia sendiri melukis dengan hatinya.


Tapi tragedi demi tragedi terus saja mengikutinya. Bukan hanya di Borinage, tapi juga kota-kota lain yang disinggahinya. Masyarakat menyebutnya aneh, bahkan gila. Pun kehidupan percintaannya yang kerap gagal. Namun di antara kegelisahan yang terus berkutat dalam jiwanya, Vincent terus melukis. Merekam keindahan yang tertangkap penglihatannya, lalu menuangkan jejak-jejak ingatan itu pada kanvas.


Arles menjadi kota terakhir persinggahan Vincent. Tempat yang membuatnya begitu bersemangat dalam perjumpaannya dengan matahari emas yang menyilaukan. Tempat yang sekaligus juga menggali kegilaannya. Seperti diingatkan seorang wartawan yang dijumpainya pada kali pertama tiba di kota itu: Arles adalah kota epileptoid, yang sewaktu-waktu bisa meledakkan warganya dalam kegilaan. Di kota ini juga ia menyerahkan irisan kupingnya kepada Rachel, gadis muda penghuni rumah bordil Maison de Tolerance di Rue des Ricolettes. Aneka peristiwa mengguncangkan yang ia alami di kota ini mengantarkannya ke rumah sakit jiwa. Tapi justru di tempat inilah, di tengah orang-orang yang mengalami kegilaan yang sesungguh-sungguhnya, Vincent bisa menghayati dirinya. Termasuk memahami saat-saat serangan jiwanya muncul.


Pada akhirnya Vincent tiba pada satu titik. Ketika ia merasa telah melukis segala yang ingin ia lukis. Gairah kreatifnya tak lagi bisa tergali. Ia merasa bagian terbaiknya telah mati. Lalu pada sebuah siang yang terik, ia menengadahkan kepala menantang matahari. Menekan sepucuk revolver ke pinggangnya. Kematian menjemputnya tak lama setelah peristiwa itu. Vincent van Gogh meninggal dunia dalam usia 37 tahun (29 Juli 1890). Ia belum sempat menyaksikan apresiasi orang terhadap karya-karyanya.

Salah satu karya Vincent: The Starry Night
 

Lust for Life ditulis oleh penulis biografis, Irving Stone. Ini merupakan karya pertama sekaligus masterpiece-nya. Irving menulis novelnya dengan mengambil sumber tiga jilid surat Vincent van Gogh untuk adik semata wayangnya, Theo. Bagian terbesar materinya digali dari perjalanan Van Gogh ke Belanda, Belgia, dan Prancis. Selain teliti menggali data, Irving Stone juga piawai dalam merangkaikannya dengan kalimat dan narasi yang imajinatif. Penuturannya pun mengalir dan enak dibaca. Tentu saja ini tak lepas dari peran penerjemah tim Serambi yang menerbitkan Lust for Life edisi Bahasa Indonesia. Dari novel ini kita diajak menyelami kehidupan pribadi Van Gogh. Tentang jiwa sepi yang diriuhi gelisah.

Novel ini sempat ditolak 16 penerbit di Amerika Serikat, hingga berhasil tembus dan menjadi buku laris yang mendapat sambutan hangat para kritikus dan penikmat buku fiksi. Lust for Life diterbitkan pertama kali pada 1934. Tahun 1956 MGM merilis filmnya dengan judul yang sama. Dua pemeran utamanya Kirk Douglas (Vincent) dan Anthony Quinn (Gauguin). Sedangkan sang adik tercinta, Theo diperankan James Donald.

Judul   : Lust for Life
Penulis : Irving Stone
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetak   : Juli 2012
Tebal buku: 574 halaman





Dan ini dia lirik lengkap Vincent karya Don McLean..

Vincent

Starry, starry night
Paint your palette blue and grey
Look out on a summer's day
With eyes that know the darkness in my soul

Shadows on the hills
Sketch the trees and the daffodils
Catch the breeze and the winter chills
In colors on the snowy linen land

Now I understand
What you tried to say to me
And how you suffered for your sanity
How you tried to set them free
They would not listen, they did not know how
Perhaps they'll listen now

Starry, starry night
Flaming flowers that brightly blaze
Swirling clouds in violet haze
Reflect in Vincent's eyes of china blue

Colors changing hue
Morning fields of amber grain
Weathered faces lined in pain
Are soothed beneath the artist's loving hand

Now I understand
What you tried to say to me
How you suffered for your sanity
How you tried to set them free
They would not listen, they did not know how
Perhaps they'll listen now

For they could not love you
But still your love was true
And when no hope was left in sight
On that starry, starry night
You took your life, as lovers often do
But I could've told you, Vincent
This world was never meant for one as beautiful as you

Starry, starry night
Portraits hung in empty halls
Frameless heads on nameless walls
With eyes that watch the world and can't forget

Like the strangers that you've met
The ragged men in their ragged clothes
The silver thorn of the bloody rose
Lie crushed and broken on the virgin snow

Now I think I know
What you tried to say to me
And how you suffered for your sanity
How you tried to set them free
They would not listen, they're not listening still
Perhaps they never will