Featured Slider

Mengapa Ngeblog?

Ngeblog, pengistilahan blogging dalam bahasa Indonesia. Yakni aktivitas mengisi jurnal di weblog. Alasannya? Beragam. Terlebih yang mengenal dunia blogging jauh-jauh hari, jauuuuuuh sebelum segala yang berbau online bisa dijadikan cuan. Aku agak yakin, sebagian besar alasan utama ngeblog adalah kebutuhan untuk mengungkapkan apa yang ada dalam benak, baik untuk alasan semata sentimental atau sebagai dokumentasi untuk kebutuhan jangka panjang seperti di dunia kerja, akademis, dan lain-lain. 


Baca juga: Doodle sebagai Sarana Melatih Imajinasi

Aku tak ingat persis kapan ngeblog. Tapi kurasa di kisaran tahun 2005-2006. Menggunakan platform wordpress. Isinya cukup bervariasi. Yang kuingat, aku menulis reviu buku, film, mencatatkan perjalanan, daaan curhat urusan perasaan, haha! Tak lama berselang dengan blog pertama, aku membuat blog kedua menggunakan platform multiply. Di blog yang ini lebih terasa karya jurnalistiknya. Kalaupun bicara tentang 'rasa', tak sekadar curhat seperti di blog pertama. Hal yang membuatku merasa geli, yang lantas menghapus begitu saja blog pertama. Padahal kalau bisa menduga bahwa di kemudian hari blog dapat dikomersialkan, mungkin tak akan dihapus. 

Masih ada beberapa blog lain yang kubuat. Setelah multiply menghilang, membuat akun baru wordpress. Akun personal yang sampai sekarang masih ada, dan belum tahu mau diapakan lagi. Ditambah dua akun lain untuk kebutuhan promosi lapak. Sempat membuat akun blogspot, akun berdua dengan pasangan saat itu. Sama-sama melatih kemampuan menulis, dan menjadi ruang percakapan pribadi #uhuk 😜

Pada masa kini, orang memanfaatkan blog untuk aneka kepentingan. Dari pengalaman sendiri dan hasil mengamati yang wara-wiri di dunia maya, inilah beberapa alasan yang bisa kusimpulkan:

1. Blog sebagai wadah curahan hati

Blog yang kukenal di awal dulu rata-rata merupakan wadah bagi mereka yang suka menulis untuk mencurahkan isi hati. Perkara curahan hatinya sekadar mengeluarkan segenap uneg-uneg, atau dilengkapi dengan informasi pendukung yang pada akhirnya menjadi catatan yang juga bermanfaat bagi orang lain. Terlebih pada masa itu belum ada media sosial seperti di masa kini, yang luber-luber dengan berbagai hal bahkan hingga yang sebelumnya hanya ada di ruang-ruang privat. 

Dengan perencanaan yang lebih sistematis, blog dapat menjadi media penyembuhan diri, terutama terkait mental health.

Baca juga: Suka Jalan-jalan ke Hutan? Coba ke Taman Buru Masigit Kareumbi!


2. Blog sebagai media berlatih

Kalau diingat-ingat, sebetulnya blog pertamaku tak perlu kuhapus. Semestinya itu menjadi media pembanding bagaimana pola dan gaya penulisanku di masa lalu. Dari sis konten maupun ketepatan dalam berbahasa. 

Buat yang betul-betul ingin menjadikan blog sebagai media pembelajaran, dapat diatur tak menerima kunjungan. Alias hanya bisa dibaca sendiri. Kekuragannya, tentu saja, tak mendapatkan masukan dari orang lain, dalam hal ini pembacanya.

3. Blog sebagai media kreativitas

Ngeblog, biasanya dibarengi pula dengan saling mengunjungi blog orang lain. Meski polanya pada tahun-tahun belakangan ini kulihat berubah, namun hal mendasar itu masih berlaku. 

Saat ngeblog masih menjadi bagian dari semata hobi, kunjungan demi kunjungan pun berlangsung alami. Pada masa kini, bermunculan komunitas-komunitas blogger yang memasukkan perihal 'kunjungan' ini menjadi semacam tugas atau kewajiban. Terlepas dari alasan apa pun, dari interaksi dengan para pemilig blog, paling tidak ada ide-ide baru. Ada proses evaluasi, sehingga berikutnya memicu kreativitas untuk memunculkan hal-hal yang baru. 

4. Blog sebagai laci dokumentasi

Dengan berkembangnya teknologi komunikasi, blog pun kini menjadi media alternatif dari lembaga-lembaga formal dunia pendidikan. Siswa dan mahasiswa mendapatkan tugas untuk mencatatkan hasil pembelajaran mereka ke blog personal masing-masing. 

Apakah tugas semacam ini juga diberlakukan di kantor-kantor pemerintah/swasta? Mungkin ada. Kalau iya, menarik juga ya..

5. Blog untuk menyebarkan semangat berbagi

Apalah gunanya memiliki kemampuan dan pengetahuan tertentu namun tak dibagikan? 

Banyak orang yang tidak beraktivitas di lingkungan formal, bahkan tak menemukan wadah yang tepat untuk berbagi. Atau, kalaupun ada kesempatan, ada pertimbangan tertentu yang akhirnya tak dijabanin. Misalnya, lebih memilih menjadi tak tampil sebagai persona di depan publik. Ide-idenya dapat dituangkan dalam bentuk tulisan di blog. 

Salah satu yang masih berencana kutulis dalam blog adalah menuliskan sosok-sosok blogger. Baik yang dalam lingkaran pertemanan maupun di luar. Dalam lingkaran misalnya, aku suka gaya celoteh Ambu Maria. Aku suka konten-konten yang dibagikan Mbak Annie. Nanti bakal colek-colek akun kawan-kawan yang lain seperti Triani Retno, Siswiyanti Sugi, Ugik Madyo, dan lain-lain. 

Baca juga: Mengenali Orang lewat Temperamen dan Zodiak

6. Blog sebagai media pengembangan diri

Media sosial yang belakangan makin banyak berkembang, baik pengelolanya maupun fitur-fiturnya, memberikan banyak ruang untuk penggunanya memanfaatkan secara optimal bagi kebutuhannya masing-masing. 

Ya, sama, media sosial menyediakan ruang untuk itu. Bedanya, blog lebih melatih kita untuk membuat catatannya secara lebih sistematis, terencana, dengan respon yang tak terlalu hingar seperti di media sosial. Dengan begitu lebih memudahkan dalam melakukan evaluasi.

7. Blog sebagai media personal branding

Zaman baheula, mana kita berpikir tentang personal branding ya? Nulis di blog ya nulis saja. Apa yang ada di kepala, tuangkan dalam tulisan. Pada masa kini, blogging dapat menjadi sarana orang 'mencitrakan' dirinya seperti apa. Konten pun dibuat lebih terencana. 

8. Blog sebagai sumber penghasilan

Nah, ini yang membedakan banget blog di masa lalu dan masa kini. Lagi-lagi, terkait perkembangan teknologi informasi, media berbasis internet menjadi sumber informasi. Blog menjadi salah satu alternatif. Dengan gaya penyajiannya yang khas, pendekatan lebih personal, kemudahan akses tanpa deretan prasyarat birokratis, blog dijadikan pilihan untuk beriklan, baik soft maupun hard promo. Meaning: cuan! 

9. Blog sebagai warisan

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.

Tak perlu diperjelas apa yang disampaikan oleh Pramoedya Ananta Toer dari kalimat di atas bukan? Tak mau hilang dari sejarah? Menulislah. Tulisan itu yang menjadi warisan kita bagi peradaban. 

Baca juga: Berkenalan dengan Laku Spiritual Tantra

Aku sendiri, hingga kini masih terus berusaha menulis blog dengan baik. Meski tak ada aturan baku tentang menulis di blog, aku merasa tulisanku kurang cair. Dengan latar belakang jurnalistik, rasa-rasanya tulisanku memang terkesan 'jurnalistik banget'. Ingin bisa menuliskannya lebih cair dan personal. PR! Ada 3 blog yang saat ini kukelola, masih dengan terseok-seok karena harus berbagi dengan banyak fokus: 

www.dhenokhastuti.comwww.rumahronin.comwww.pecandumusik.com.

Semoga ke depan bisa lebih baik membagi waktu dan konsentrasinya.

Sedangkan terkait tulis-menulis, saat ini juga sedang menggiatkan produk tulisan tercetak. Ada yang mau bikin buku? Yuk, boleh kontak aku ya: WA Ibu Meong.


Doodle sebagai Sarana Melatih Imajinasi

Suatu kali dalam sebuah obrolan, tercetuslah sebuah diskusi ringan tentang mengapa orang bisa seolah kehilangan daya imajinasi dalam hal tertentu. Sampai sekarang aku lupa kapan dan dengan siapa obrolan tersebut. Yang jelas obrolan dengan orang yang berkecimpung di dunia seni. Tentang aku yang merasa tak lagi punya kemampuan menggambar. Padahal di usia sekarang tak dibutuhkan keahlian tertentu dalam menggambar. Lebih dibutuhkan menggambar sebagai bagian dari katarsis semata. Dan sebetulnya, cukup dengan membuat semacam doodle



Baca juga: Temukan Seni Wayang dalam Bandung Wayang Festival

Semakin dewasa, kita dihadapkan pada banyak tuntutan. Dibenturkan pada batasan tertentu, nilai tertentu. Ada ketakutan-ketakutan tertentu. Takut jelek, takut mendapat apresiasi negatif, takut memunculkan pandangan miring, dan sebagianya. Jadilah imajinasi mampet. 

Demikian lebih kurang ujar si kawan, menanggapi kemandeganku ketika berhadapan dengan alat gambar. Mandeg-deg. Mendadak panik dan nggak tahu mesti diapakan itu alat gambar. Ya, sebegitunya. Padahal, seperti yang kuceritakan kepada si kawan, dulu, di usia sekolah, bahkan aku mengikuti lomba gambar. Sampai kuliah masih lumayan sering menggambar. Ada mata kuliah komunikasi grafis, yang masa itu belum 


Apa itu Doodling?

Secara gampang, doodling dapat diterjemahkan sebagai aktivitas menggambar bebas. Istilah 'bebas' ini dapat membantu kita mengeluarkan diri dari kungkungan ketakutan akan anggapan ini dan itu yang seringkali kita sendiri yang membuatnya. Tak ada aturan baku dalam pembuatan doodle. Spontan saja. Suka-suka saja. Doodle memberikan kesan sangat personal, karena bisa jadi semata menggambarkan pikiran, persepsi, dan suasana hati pembuatnya.

Istilah doodle konon pertama dikenal pada awal abad ke-17 dan dimaknai sebagai tolol atau bodoh. Bisa jadi yang dimaksudkan adalah sesuatu yang 'tak ada gunanya' karena tidak dimaksudkan untuk tujuan tertentu. Di sisi lain, coretan-coretan yang ditemukan di gua-gua zaman dulu, dianggap sebagai muasal doodle art. Banyak pula yang menganggap aktivitas doodling sebagai pemancing ide-ide baru. 

Siapa coba yang tak pernah melakukan coret-coret di saat bosan? Pada titik-titik menjemukan saat sedang menunggu, sedang berada di tengah pelajaran atau mata kuliah, selagi rapat, atau kegiatan lain, doodling seolah menjadi satu pelarian. Sekadar coretan tak terbaca, hingga yang betul-betul menghasilkan produk seni yang dapat dinikmati. Bukan hanya oleh diri sendiri, namun juga orang lain.

Pada akhirnya aktivitas doodling memang tak sekadar sebagai pembunuh kebosanan, namun juga memberikan manfaat tertentu bagi pembuatnya.

Baca juga: Kehidupan Berkesenian di Pulau Dewata


Aneka Manfaat Doodling

Pakar kesehatan mental, seperti dilansir di situs blodsky dot com menyebutkan, ada sejumlah manfaat dari aktivitas coret-coret ini, yakni: 

Melatih konsentrasi

Ada sementara orang yang lebih mudah menyerap informasi dengan membuat coretan, bukan menuliskannya seperti kebiasaan orang pada umumnya. Pencatatan informasi serupa doodle ini justru dapat membantu konsentrasi dari sang pencatatnya. Tak ada waktu untuk melamun. Semua informasi dari pembicara bisa jadi malah terekam dengan sangat detail dalam doodle yang dibuat. 

Melatih emosi

Barangkali tak hanya hanya doodle, aneka kegiatan yang membutuhkan kreativitas dapat membantu emosi lebih lebih terjaga. Namun kembali ke karakter doodle yang sederhana, jenis kegiatan ini yang paling mudah dilakukan. Bisa menggunakan media dan perangkat seadanya. Maka demikianlah, aneka emosi, baik berupa kesedihan, kemarahan, kekesalan, kecemasan, kekhawatiran, dapat teralihkan ke guratan-guratan alat tulis. Setelah tuntas, dapat menjadi bahan evaluasi, hasil doodling dalam berbagai suasana emosi tersebut. Dengan melakukan doodling, aneka kondisi emosi ekstrim tak lantas berujung pada stres yang berkepanjangan.

Melatih daya ingat

Riset menunjukkan, kebiasaan menggambar doodle (dan aktivitas seni gambar lainnya) dapat membantu mencegah proses degeneratif menuju kepikunan serta meringankan gejala demensia. Dengan doodling, otak kita akan terlatih lebih fokus. 

Melatih meningkatkan kreativitas

Aktivitas doodling dapat membantu menstimulasi kemampuan otak. Ada area otak yang biasanya tidak aktif, terpancing untuk aktif untuk memproses aneka informasi yang terekam. Doodling yang pada dasarnya adalah 'berpikir dalam gambar' dianggap dapat membantu merangsang otak.

Baca juga: Mengenal Imajinasi Vincent van Gogh lewat Novel


Apakah aku bisa lebih pede saat membuat doodle? Sebetulnya enggak juga. Atau anggap saja belum. Perlu dilakukan pembiasaan. 

Yang menarik, di masa kini menggambar doodle tak hanya dilakukan secara manual, analog, namun juga melalui berbagai fasilitas digital. Seni gambar ini bisa diproses melalui berbagai aplikasi yang dapat dengan mudah kita temukan dengan bantuan jaringan internet. Gambar ala doodle juga telah dipakai untuk berbagai keperluan ilustrasi dan masuk dunia komersial. Sebagai generasi-X tentu saja ini masih PR buatku. Tapi tak ada kata terlambat tentu saja untuk belajar. Ada manfaat yang berbeda dari aktivitas doodle digital ini pastinya.

Yuk, mari kita doodling!

Sushi, Makanan Jepang yang Telah Menyasar Berbagai Kalangan

Sushi, dulu, aku tak suka. Aneh. Ditambah kudu mengendus wasabi yang aneh itu. Dulu. Tapi sebetulnya, disebut dulu juga nggak dulu-dulu amat. Pengenalanku terhadap makanan Jepang tentu saja setelah di Bandung. Sekitar 1995 baru mencicipi aneka olahan daging dan sup sayuran ala Jepang. Mencoba sushi sudah tahun 2010-an. Entah, sebelumnya tak pernah tertarik mencoba. Kali pertama, tak suka. Pun saat bekerja di sebuah kantor Jepang pada kurun 2013-2015, tak terpikat dengan makanan ini. Barulah sekitar lima tahun ke belakang, lidahku bisa menerima dengan ikhlas. Bahkan sering jadi menu pilihan saat ada kesempatan.

Baca juga: Kopi Aroma, Kopi yang Diolah dengan Cinta

Sushi telah lama menjadi makanan internasional. Dikenal sebagai makanan dari negeri Sakura, sushi sudah melintasi lautan dan benua, menjadi makanan kesukaan penduduk dunia. Saking populernya si sushi, sampai dibuat perayaan: Hari Sushi Internasional. Peringatan dimulai pada 2009, persisnya pada setiap 18 Juni. Tak jelas muasal penetapan tanggal tersebut. Yang pasti, sushi telah dikenal sejak berabad silam, daaan bukan dari Jepang!

Konon begitu. Memang masih menjadi perdebatan, ada yang menyebut sushi berasal dari Tiongkok. Sedangkan yang lain bersikukuh berasal dari Jepang. Entah mana yang lebih tepat, namun berbagai kalangan bersepakat sushi hadir dari kebutuhan pengawetan ikan. Para nelayan mencari cara untuk mengawetkan ikan tangkapan mereka seperti tuna dan makarel, agar bertahan lama. Mereka lalu menemukan metode pengawetan dengan menggunakan nasi yang telah direndam cairan cuka. Dalam proses tersebut terjadi pembentukan asam amino yang -selain menjadikan ikan awet, menjadikan rasa gurih ikan lebih menonjol. Istilah 'sushi’ merujuk pada rasa asam. Pada masa awal kemunculannya, metode pengawetan ikan ini disebut narezushi.

Nasi yang digunakan membungkus ikan pada narezushi, dibuang. Hanya ikannya yang dikonsumsi. Btw, kalau masakan Korea yang mirip-mirip sushi, apa ya? Kudu tanya ke kawan-kawan lifestyle blogger. Atawa bulan depan, sekalian mudik, perlu berburu makanan Korea di Malang?

Baca juga: Umbi dan Cerita Masa Kanak

Sushi pada Zaman Edo

Di Jepang, sushi dikenal sejak zaman Edo, sekitar tahun 1600-1800. Dalam sejarah Jepang, zaman Edo adalah periode yang dimulai sejak shogun pertama, Tokugawa Ieyasu mendirikan Keshogunan Tokugawa di Edo hingga masa pemulihan kekuasaan kaisar dari tangan shogun terakhir yakni Tokugawa Yoshinobu. 

Pada masa ini, sushi dikemas dalam ukuran besar, lebih kurang sebesar onigiri di masa kini. Variasinya, ikan dan sayur yang ditaruh di atas nasi. Para penyantapnya adalah kalangan bangsawan atau orang-orang yang berpengaruh. Sushi memang masih menjadi makanan yang sangat mahal dan hanya menjadi konsumsi kalangan berduit. Dalam perkembangannya kemudian, ukuran sushi diperkecil agar mudah dinikmati sebagai kudapan dengan harga yang lebih terjangkau. Hingga akhirnya sushi pun menjadi bagian dari menu makanan cepat saji yang dapat dengan mudah ditemukan di rumah makan kecil, bahkan di tenda kaki lima.

Sushi dalam Perpaduan dengan Tradisi Barat

Dengan perkembangannya yang makin memasyarakat, makin banyak orang yang kenal teknik pembuatan sushi. Bentuknya bervariasi, harganya pun beragam dan makin terjangkau berbagai kalangan sosial. Bahan-bahannya pun makin mudah didapatkan. 

Saat sushi memasuki negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, pada awalnya, konsep ikan mentah tidak menarik masyarakat Barat. Para koki yang adalah para imigran asal Jepang tersebut melakukan penyesuaian dan perubahan. Misalnya membungkus ikan dengan nori dan menyembunyikannya di dalam nasi, agar tak terlihat langsung. Cara ini dipakai, agar kalangan Barat yang tak familier dengan rumput laut dan ikan mentah, tak merasa jijik. Selain itu, ada penambahan bahan-bahan yang biasanya disukai orang-orang Barat, misalnya alpukat dan aneka buah-buahan lainnya. 

Dengan aneka variasi tersebut, lebih banyak orang dari berbagai negara yang bisa menikmati sushi. Makanan ini pun akhirnya dianggap telah memberikan kontribusi memperkenalkan budaya Jepang ke seluruh dunia. 

Sushi di Bandung

Sushi di Bandung sebetulnya ya tak punya kekhasan tertentu. Makanan ini telah menjadi bagian dari makanan kekinian yang bisa didapatkan di berbagai kota. Di Bandung sendiri, tak terhitung berapa banyak gerai sushi. Mulai dari pedagang kaki lima, hingga restoran mewah.

Baca juga: Lebaran dan Madumangsa 

Mengutip kompas dot com, ini dia jenis-jenis sushi yang perlu kita ketahui agar tak salah pilih:

1. Maki sushi  

Sushi ini paling banyak kita jumpai di gerai sushi Indonesia. Ukurannya kecil dengan isian bahan segar seperti ikan dan sayuran, lalu digulung nori atau rumput laut kering. 

2. Uramaki sushi  

Bentuk dan isinya mirip dengan maki sushi. Bedanya, uramaki sushi ini adalah bentuk terbaliknya maki sushi. Nasi berada di luar.  

3. Sushi gunkan maki 

Sushi yang ini bentuknya mirip maki sushi, tapi bentuknya lebih oval dan menyerupai kapal. Sushi gunkan maki terdiri dari nasi yang dibalut dengan nori. Bagian atasnya bertabur potongan ikan, tobiko, atau sayuran segar.  

4. Temaki sushi  

Sushi temaki ini berbentuk kerucut dengan lapisan nori di luar. Bagian dalam terdapat nasi, ikan, sayuran, atau isian lainnya. Temaki sushi sering dijadikan pilihan menu spesial saat kumpul keluarga, karena bentuknya yang unik dan cara menggulung yang mudah.  

5. Nigiri sushi 

Sushi jenis ini tidak perlu memakai makisu atau bambu sushi, cukup menggunakan tangan. Sushinya lebih menyerupai gundukan nasi lalu dengan potongan ikan segar di bagian atasnya. Kadang ada variasi nori sebagai tambahan. 

6. Inari sushi  

Sushi jenis ini merupakan nasi yang dibungkus dengan kantung tahu goreng. Beda banget ya? 

7. Oshizushi oshizushi 

Jenis ini sering diartikan sebagai 'sushi yang ditekan', karena cara membuatnya yang menekan nasi ke dalam cetakan kayu atau oshibako.  Bentuk awalnya berupa kotak, yang dipotong sebelum digigit. 

8. Sushi chirashi 

Berbeda dengan sushi lainnya, chirashi lebih menyerupai rice bowl. Disajikan bersama campuran ikan dan lain-lainnya.

9. Temari sushi 

Sushi ini mirip nigiri dalam versi yang lebih simpel. Lazimnya, sushi ini berbentuk bulat menyerupai bola. Tambahannya, ikan atau daging yang dipotong tipis. 

Kira-kira, sushi mana yang paling Anda suka? 

Jelajah Taman Buru Masigit Kareumbi

Meski sudah tinggal di tanah Pasundan lebih dari seperempat abad, aku tak akrab dengan namanya. Entah kenapa, selama ini, nama Kareumbi tak pernah singgah dalam bacaan dan obrolanku. Hingga akhirnya, tahun lalu berkesempatan untuk menjejakkan kaki ke kawasan yang sebagian besarnya secara administratif masuk Kabupaten Sumedang ini. Persisnya aku melakukan perjalanan ke kawasan Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi (TBMK) 


Baca juga: Perjalanan ke Bali, Mengenal Tempat Pemujaan Umat Hindu

Ini catatan tersimpan lama, karena keburu mengambil pekerjaan reguler dan terlupakan. Baiklah, mari tuliskan kembali, sebagai pemanasan sebelum melakukan perjalanan jarak jauh, mudik ke Jawa Timur, ke Banyuwanyi lalu menyeberang ke Bali, atau wisata Madura, atau menyepi ke salah satu kawasan pantai di kampung halaman. Tentu saja lalu mencatatkan dan membagikannya seperti layaknya para travel blogger. Tapi ya itu, simpan dulu mimpinya. Ancang-ancangnya membuat catatan dari perjalanan tahun lalu ke TBMK.

Kareumbi ternyata berasal dari nama pohon. Nama latinnya Homalanthus populneus. Mungkin dulunya banyak ditemukan di kawasan ini. Tapi dari awal menjejakkan kaki, tak kutemukan pohon yang bertuliskan Kareumbi. Entah aku berada di jalur yang berbeda dengan area tumbuhnya, atau tanaman itu sudah tak punya habitat. Gunung Kareumbi berada di sisi barat kawasan TBMK. Sedangkan Masigit, yang diambil dari nama Pasir Masigit, berada di sisi timur. 

Pengelolaan Kawasan Konservasi

Kewenangan pengelolaan (TBMK)  melalui sejarah panjang. Periode pertama diawali dengan ditetapkannya Gunung Masigit Kareumbi sebagai Kawasan Hutan melalui Gouvernment Besluit No. 69 tanggal 26 Agustus 1921 dan Gouvernment Besluit No. 27 tanggal 27 Agustus 1927. Pada pasca kemerdekaan, kawasan hutan Gunung Masigit Kareumbi dikelola oleh Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat. Ada upaya reboisasi yang menambahkan beberapa jenis tanaman yakni pinus, rasamala, dan puspa, yang mencapai luas 4809,98 Ha. 

Saat Ibrahim Adjie menjadi Pangdam III Siliwangi, ada upaya pengembangan kawasan sebagai taman perburuan. Berbagai jenis rusa dikembangbiakkan, di antaranya Rusa Sambar, Rusa Timor, dan Rusa Tutul. Sebuah pintu masuk baru, dibangun, yang kemudian disebut sebagai blok KW. Pada 1966 tercatat sebanyak 25 ekor rusa yang dibiakkan dalam lahan berpagar seluas lebih kurang 4 ha. Setahun kemudian pagar tersebut dibuka dan rusa dilepaskan Penetapannya sendiri baru dilakukan pada 1976 melalui SK Menteri Pertanian No 297/Kpts/Um/5/1976 tertanggal 15 Mei 1976. Kawasan ini menjadi Hutan Wisata dengan fungsi Taman Buru.


Baca juga: Bali, Piodalan, dan Ritual Religi

Dalam perkembangan berikutnya, dibuat rencana lebih detail terkait peruntukan kawasan. Rencana baru terkait Pengelolaan Hutan Wisata Buru Gunung Masigit-Kareumbi dibuat oleh Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam. Rencana yang berlaku kurun 1979 hingga 1984 tersebut meliputi pembagian 4, yakni Zona Semi Perlindungan (Wilderness Zone), Zona Rekreasi (Intensive Use Zone), Zona Perlindungan (Sanctuary Zone), dan Zona Penyangga (Buffer Zone). Pada masa ini, pengelolaan kawasan di bawah kewenangan Perum Perhutani. Pada 1986 kewenangan kembali berpindah. 

PP No. 36 tahun 1986 menyebutkan, wilayah kerja Perum Perhutani meliputi hutan negara yang berada di Propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, kecuali Hutan Suaka Alam, Hutan Wisata (termasuk Taman Buru), dan Taman Nasional. Dengan penetapan tersebut, pada 27 Februari 1988 dilakukan serah terima pengelolaan Hutan Wisata Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi, dari Direksi Perum Perhutani kepada Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA).

Ada beberapa perubahan terkait zonasi kawasan. Namun yang terakhir dijadikan acuan adalah zonasi kawasan yang dirancang oleh Direktorat Jenderal PHPA pada 1992. Dalam konsep tersebut, zonasi meliputi zona pengelolaan intensif, zona penangkaran, zona peliaran dan perlindungan satwa buru, zona padang buru, zona wisata alam lainnya, dan zona desa binaan/daerah penyangga. Pada kurun ini (1990-1993) TB. Masigit Kareumbi dijadikan proyek percontohan oleh BKSDA III dengan sumber dana mencapai Rp520 juta, yang sebagian besarnya digunakan untuk pembangunan sarana dan prasarana. 


Baca juga: Ngadem Sejenak di Taman Soekasada

Selain pembagian zona, yang kembali mengalami perubahan adalah pengelola. Setelah dari PHPA, TB. Gunung Masigit Kareumbi kembali diserahkan kepada Perum Perhutani. Berikutnya, pada 1998 hak pengusahaan Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi diserahkan kepada PT. Prima Multijasa Sarana (PMS), untuk blok pemanfaatan dan blok buru seluas 7.560,72 ha. Sisanya, hutan pinus dengan luas 4809,98 ha  diserahkan kepada Perum Perhutani. Pada Oktober 1999, PT. PMS mendapatkan ijin melakukan pengusahaan taman buru. Namun berkasus terkait penebangan hasil hutan yang membawa pengelola ke ranah hukum. Akhirnya kawasan ini dikembalikan pengelolaannya oleh BKSDA. Sayangnya, pengalihan ini pun tak menunjukkan kelaikan pengelolaan. Banyak sarana yang terbengkalai, bangunan yang didirikan oleh pengelola maupun pemerintah mengalami kerusakan parah. Malah, ada pencurian fasilitas di bangunan rumah Ibrahim Adjie. Demikian juga dengan sarana lain seperti wisma pemburu, kompleks taman safari mini, kolam renang, rumah sakit hewan, bahkan masjid tak terhindarkan dari kerusakan. Selain itu, terjadi perambahan kawasan untuk pertanian serta pengambilan kayu untuk kebutuhan bangunan maupun untuk bakar bakar, tak terkendali. Terjadi pula perburuan liar hingga kawanan rusa tak terlihat sama sekali. 

Pada suatu masa, sesepuh Wanadri yang sering berkunjung ke kawasan TB Masigit Kareumbi, Remi Tjahari mulai menggagas untuk terlibat dalam pengelolaan kawasan. Pada 2007, secara resmi Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri menyampaikan minat tersebut kepada Kementrian Kehutanan dan BBKSDA. BBKSDA mengeluarkan surat keputusan No: 750/ BBKSDA JABAR. 1/ 2008 yang kemudian direvisi dengan SK No. 1111/BBKSDA JABAR.1/2009 yang menyebutkan bahwa BBKSDA setuju melakukan kerjasama kemitraan Optimalisasi Pengelolaan Kawasan dengan Wanadri. 

Baca juga: Umbi dan Cerita Masa Kanak


Undangan Tak Terduga

Undangan untuk menjelajahi Kareumbi datang dari seorang biarawati dari kongregasi Green Mountain yang berpusat di Amerika Serikat. Suster (Sr.) Kris namanya, yang mendapat penugasan di Bandung. Kongregasi ini secara khusus membaktikan diri untuk keberlangsungan alam. Lain waktu mungkin akan kuceritakan sisi menarik dari salah satu kongregasi Katolik ini.

Aku hanya diminta untuk bertemu di sebuah alamat, sebelum berangkat bersama Kareumbi. Setelah tiba di lokasi, sebuah rumah yang asri, dipenuhi tanaman, segar di udara dan penglihatan barulah aku tahu dengan siapa kami akan berangkat. Irawan Marhadi, salah seorang senior Wanadri. Kami berangkat berempat, bersama Ibu Irawan.

Setidaknya ada tiga rute perjalanan dari Bandung menuju TBMK, yakni:

Bandung - Sumedang – Cipancar - TMBK. Jarak lebih kurang 49 km.

Bandung – Limbangan – Cibugel - TMBK. Jarak lebih kuran 70 km.

Bandung – Cicalengka – Sindangwangi - TMBK. Jarak lebih kurang 46 km.

Kami mengambil jalur melalui Cicalengka. Banyak jalur yang tak mudah, baik dari sisi kontur maupun kelaikan permukaannya. Meski mempersiapkan kendaraan yang tepat.

Secara administratif, TBMK kawasan ini masuk Kabupaten Sumedang, Garut, dan Bandung. Paling besarnya masuk wilayah Kabupaten Sumedang. 

Baca juga: Menjelajahi Taman Hutan Raya Juanda

Suasana sepi, saat kami tiba di lokasi. Januari 2021, masih dalam kondisi pandemi. TMBK tidak dibuka untuk umum. Sekelompok anak muda tampak bergerombol di area pintu masuk kawasan. Kubayangkan mereka sekadar mencari hiburan, di sela kejenuhan 'harus di rumah saja.' Biarpun warga sekitar, mereka tak diperkenankan memasuki area. Hanya dari kalangan tertentu, seperti dari pihak pengelola, yang bisa memasuki area taman buru ini. Aku belum cek lagi, apakah hari-hari ini TMBK sudah kembali menerima kunjungan.

Obyek Wisata di TMBK

Selayaknya hutan, ada aneka flora dan fauna yang bisa kita jumpai di TMBK. Pepohonannya antara lain Pasang, Saninten, Puspa, dan Rasamala. Beberapa jenis tumbuhan liana dan epifit bisa kita temukan dengan mudah. Selain itu, tanaman Pinus, Bambu, dan Kuren memenuhi kawasan-kawasan tertentu.

Di antara pepohonan dan tanaman itu, tercatat ada Babi hutan, Rusa Tutul, Kijang, Anjing hutan, Macan tutul, Kucing hutan, Ayam hutan, Kukang, Bultok, Kera, Lutung, dan Burung Walik. Melihat dalam catatan saja, karena selama di lokasi aku tak menemukan satu pun dari binatang-binatang tersebut. Yang kujumpai hanya dua anjing penjaga di pos utama. Anjing-anjing yang kekurangan makanan 😓 Kalau berkunjung ke sini, titip makanan buat mereka ya..


Baca juga: Sebuah Perjalanan ke Serang, Banten

TMBK menjadi kawasan penting sebagai menara air bagi Jawa Barat. Ada dua daerah aliran sungai (DAS) terbesar, yaitu sungai Cimanuk dan sungai Citarum. Beberapa sumber lair lain berupa sungai lain yang mengaliri kawasan TMBK, antara lain Sungai Cigunung, Ciantap, Cihanjawar, Citarik, Cihideung, Cianten, Cileunca, Cihanyap, Cibayandi, dan Sungai Cimacan. Ada perairan di area pegunungan, sudah pasti ada curug dong?! Ada Curug Cigorobog dan Curug Sindulang yang bisa kita kunjungi. Sayangnya saat itu tak memungkinkan untuk kami melihat curug dari dekat. Dibutuhkan waktu yang lebih lama. Barangkali dengan sekalian berkemah, karena, ya, ada bumi perkemahan di TMBK. 

Bumi perkemahan yang disediakan di TMBK, terlihat tak terawat. Tak ada kunjungan dalam kurun berbulan-bulan, dan sepertinya tak ada cukup inisiatif dari para petugas lapangan untuk merawat fasilitas. Hal ini juga dapat kulihat di pondok-pondok yang biasanya dijadikan tempat menginap sekaligus area ber-acara. Meja-meja berdebu. Kain-kain penutup tampak kucel. Padahal TMBK memiliki banyak potensi. Bukan sekadar berwisata namun juga belajar kepada dan tentang alam. 

Semoga dalam waktu dekat, seiring dengan penanganan pandemi yang lebih baik, kawasan wisata terutama yang berfungsi sebagai pelindung kembali dibuka untuk umum. Selain untuk melengkapi kawasan yang dijadikan obyek pembelajaran dan kampanye lingkungan, juga kebutuhan pemasukan bagi biaya operasional sehari-hari. 

Baca juga: Alaya, Kisah Pejalanan ke Negeri Atap Dunia


Tunggu! Bagaimana soal Taman Buru?

Terus terang nama ini bikin merinding. Jangan paksa aku membayangkan rusa-rusa yang lucu dengan mata lebar seperti di film kartun itu menjadi obyek perburuan. Dikejar dan dibunuh. Kusimpan saja ketaknyamanan bayangan itu dalam hati. Hingga satu kesempatan kutanyakan ke Pak Irawan.

Memang, kawasan ini diagendakan untuk menjadi taman buru. Yang mau berburu dialihkan ke sini. Bukan berburu di kawasan lain yang dijadikan hutan konservasi. Kapan perburuan itu bisa dilakukan? Ketika rusa sudah overpopulasi. Sampai dengan hari ini, jumlah rusa belum memenuhi syarat untuk diburu. 

Demikian lebih kurang jawaban Pak Irawan. Sejenak membuat lega. Sambil berharap tentunya, rusa-rusa cantik itu tetap dapat hidup bebas tanpa diburu. Dan manusia-manusia tak kelebihan energi sampai harus menyalurkannya dengan melakukan perburuan satwa liar. Biarlah mereka cukup dilihat keindahannya dan menjadi sumber pembelajaran saja. 

Menjelajahi Taman Hutan Raya Juanda

Juni kemarin, dua kali menjelajahi beberapa jalur di Taman Hutan Raya (Tahura) Juanda. Yang pertama, kebutuhan pekerjaan. Bersama tim, karena ada rencana yang kemungkinan menjadikan Tahura Juanda sebagai lokasi penyelenggaraan acara. Yang kedua, bersama kawan. 


Baca juga: Sebuah Perjalanan ke Bali Dwipa

Menyenangkan sekali, karena dua tahun lalu sempat mengatakan ke diri sendiri untuk menyediakan waktu barang sebulan sekali, mengambil udara segar sebanyak-banyaknya dari aneka pepohonan di hutan kawasan Dago Utara tersebut. Apa daya, COVID-19 bertamu. Dan betah. Lama! Setelah melewati dua tahun, akhirnyaaaaa..bisa merealisasikan keinginan itu. Lumayan, anggap saja traveling tipis-tipis. Sekalian menabung tujuan jalan-jalan untuk jadi rubrik khusus lifestyle dan traveling.

Buat orang Bandung, mestinya hukumnya wajib ya berkunjung ke Tahura. Bagaimana tidak, ribuan pohon tersedia, dan kita tinggal mengambil manfaatnya, oksigen gratis yang belum tercemari polusi. Lokasi juga tak terlalu jauh dari area kota. Tak perlu berlelah-lelah berkendara jauh ke area hutan yang sesungguhnya. Tak terlalu membutuhkan tips traveling yang detail dan rumit. Naik angkot juga sampai! 

Sekilas Tahura Juanda

Tahura Juanda terletak di bagian utara Kota Bandung. Jaraknya lebih kurang 7 km dari pusat kota. Tahura berada dalam tiga wilayah administrasi, yakni Kota dan Kabupaten Bandung. Persisnya, sebagian berada di Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, dan sebagian lainnya masuk Desa Mekarwangi, Desa Cibodas, Desa Langensari, dan Desa Wangunharja, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, serta masuk Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung.

Awalnya, tahura dibangun sebagai hutan lindung yang dinamai Hutan Lindung Pulosari. Pemerintah Hindia Belanda merintis proyek taman ini bersamaan dengan dibangunnya terowongan penyadapan air Sungai Cikapundung, yang kini dikenal sebagai Gua Belanda. 

Memasuki masa kemerdekaan, Hutan Lindung Pulosari dikelola oleh Djawatan Kehutanan Provinsi Jawa Barat. Untuk mengenang Perdana Menteri ke-10 Indonesia yang meninggal pada 1963, Ir. H. Raden Djoeanda Kartawidjaja, pada 23 Agustus 1965, Gubernur Jawa Barat Mashudi meresmikan kawasan hutan ini dengan nama Kebun Raya Rekreasi Ir. H. Djuanda.

Pada 1978 terjadi perubahan pengelola. Tahura diserahkan ke Perum Perhutani Jawa Barat. Dua tahun kemudian, taman yang merupakan bagian dari komplek Hutan Gunung Pulosari ini ditetapkan sebagai taman wisata, yakni Taman Wisata Curug Dago dengan luas 590 ha. Pada 1985, Mashudi, Menteri Kehakiman Ismail Saleh, dan Menteri Kehutanan Soedjarwo, menyampaikan usulan kepada Presiden Soeharto untuk mengubah status Taman Wisata menjadi Taman Hutan Raya. Usulan diterima, dan melalui Keputusan Presiden No. 3 Tahun 1985 tertanggal 12 Januari 1985, Taman Wisata Curug Dago pun berubah status sebagai Taman Hutan Raya. Peresmian Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda dilakukan pada 14 Januari 1985, bertepatan dengan hari lahir Ir. Djuanda. 

Baca juga: Perjumpaan dengan Kebijaksanaan Baduy


Berkenalan dengan Ir. H. Djuanda

Setidaknya ada tiga kawasan terkenal di Pula Jawa yang menggunakan nama Juanda. Bandara Internasional Surabaya, stasiun kereta dalam kota, Jakarta, dan Tahura Juanda. Hafal dong, ya, siapa Juanda? Namanya banyak disebut dalam buku pelajaran sejarah masa sekolah. 

Juanda adalah perdana menteri terakhir era demokrasi parlementer di negara kita. Ia dikenal dengan jasanya merumuskan deklarasi yang isinya menyatakan bahwa semua pulau dan laut Nusantara adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Deklarasi yang dikeluarkan pada 13 Desember 1957 itu dikenal sebagai Deklarasi Djuanda.

Dengan kondisi negara kita yang terdiri dari banyak pulau, deklarasi tersebut menjadi sangat penting. Akhirnya, batas negara kita diukur dari kepulauan terluar. Pasca dikeluarkannya Deklarasi Djuanda, tak ada ada lagi negara asing yang 'asal nyelonong' masuk kawasan perairan Indonesia. 



Ada apa saja di Tahura Juanda?

Bagi pecinta tanaman, Tahura Juanda adalah surga. Tahura Juanda didominasi oleh pohon Pinus, Kaliandra, Bambu, dan aneka pohon lainnya. Pada 1963, berbagai tanaman kayu didatangkan dari luar daerah dan luar negeri, melengkapi varian tanaman di lahan seluas 30 ha di sekitar gua dan plaza dengan perkiraan jumlah 2.500 pohon.

Faunanya cukup beragam untuk skala taman hutan. Antara lain terdapat musang, tupai, kera, dan berbagai jenis burung. Ada kepodang, ketilang, dan ayam hutan. 

Bagi penggemar jalan kaki dan olah raga lintas alam, banyak jalur yang bisa dipilih. Mau jalur yang datar saja, atau yang melewati tanjakan/turunan ekstrim. 

Masih di area depan, ada dua gua. Gua Belanda dan Gua Jepang. Pilihan yang tepat jika tanjakan terlalu memberatkan. Gua Belanda lokasinya sekitar 500 meter dari pintu masuk utama. Gua ini sebetulnya adalah terowongan yang dibangun pada 1901, pada masa kolonial Belanda, untuk kebutuhan perusahaan pembangkit listrik tenaga air. Renovasi dilakukan pada 1918 dengan penambahan lorong dan koridor. Pada jelang Perang Dunia II, terowongan ini dijadikan benteng atau markas militer. Di dalamnya ditambahi jaringan baru berupa 2 pintu masuk dengan tinggi 3,2 meter dan 15 lorong. Bagi yang takut gelap, ada jasa penerang berupa senter untuk masuk ke area terowongan. 

Tak jauh dari Gua Belanda, kita bisa jumpai terowongan lain yang disebut Gua Jepang. Berjarak sekitar 300 meter. Gua ini didirikan pada 1942 oleh militer Jepang, difungsikan sebagai barak militer dan lubang perlindungan. Terdapat 18 bunker yang di masa lalu memiliki fungsinya masing-masing, seperti sebagai ruang pertemuan, tempat pengintaian, tempat penembakan, dapur, dan gudang. Bunker-bunker tersbeut konon masih dalam kondisi yang sama. Seperti halnya Gua Belanda, ada jasa penerang untuk masuk ke area terowongan yang gelap ini. 

Naaah, bagi pecinta medan yang lebih berat, dapat melanjutkan perjalanan ke arah utara, menjauhi pintu utama. Ada beberapa pilihan, seperti Penangkaran Rusa, Tebing Keraton, Curug Omas, dan Curug Dago.

Penangkaran Rusa

Saranku, pecinta binatang perlu menengok binatang bertanduk yang cantik ini. 



Baca juga: Alaya, Kisah Perjalanan Ke Negeri Atap Dunia

Ada larangan untuk memberikan makanan langsung ke kawanan rusa. Kecuali memang sedang ada jadwal makan, dan bahan makanan yang disediakan oleh pengelola. Tentu saja aturan ini diberlakukan demi terjaga standarnya, agara kesehatan dan habitat rusa terjaga dengan baik. Rusa paling tua di penangkaran ini berusia 10 tahun. 

Untuk sampai Penangkaran Rusa, dibutuhkan perjalanan sekitar 3 km dari pintu masuk. Jalurnya terbilang mudah, meski tetap kita jumpai tanjakan dan turunan. Lumayan menguras tenaga. Namun kita bisa jumpai banyak spot berfoto yang menarik. Selain aneka tanaman langka, kita perlu menyeberangi sungai melalui jembatan bambu. Bagi yang tak sanggup berjalan kaki, terutama juika membawa serta anak-anak, bisa menggunakan jasa ojek dari warga sekitar. Banyak warung yang menyediakan aneka jajanan dan minuman untuk beristirahat.



Seperti apa Tebing Keraton?

Aku sudah pernah berkunjung pada kesempatan lain. Lain waktu akan kuceritakan.

Curug Omas dan Curug Dago? Belum euy! Akan jadi agenda berikutnya.

Oiya, tiket masuk Tahura Juanda terjangkau kok. Tiket untuk satu orang Rp10.000, ditambah dengan asuransi dan tiket parkir.

Selamat mencengkeramai alam di Taman Hutan Raya Juanda.