Featured Slider

Farida Pasha, Mak Lampir, dan Misteri Gunung Merapi

Yang pernah melewati tahun 80-90an, yang pernah menggandrungi sandiwara radio, sudah pasti hafal betul dengan sosok Mak Lampir. Nama ini adalah salah satu tokoh dalam sandiwara radio karya Asmadi Sjafar bertajuk Misteri Dari Gunung Merapi. Saking terkenalnya nama itu, hingga nama tokoh-tokoh lain seolah tenggelam. Bahkan judul sandiwaranya pun, tak cukup dihafal. Kisah siluman ini makin berjaya setelah dituangkan dalam cerita layar lebar dengan pemeran Farida Pasha, nama yang kemudian melekat betul pada tokoh tersebut. Terlebih dengan dijadikannya cerita ini sebagai sinetron di televisi. Dan kabar duka kemarin (16/01/2021) menyebutkan sang pemeran Mak Lampir itu berpulang, kembali kepada Sang Khalik.

Baca juga: Jakob Oetama Berpulang

Saya sendiri rasanya terlalu takut untuk mengikuti kisah ini. Cuma menyimak sepotong-sepotong. Kakak yang dulu lebih antusias. Saya lebih memilih kisah kepahlawanan dan cerita kerajaan daripada kisah horror. 

Misteri Gunung Merapi berkisah tentang peperangan antara kebaikan dan kebatilan, dengan tokoh utama Sembara dan Mak Lampir sebagai sosok jahatnya. Dikisahkan, Mak Lampir dikurung dalam sebuah peti mati dengan tulisan ayat Alquran di atasnya. Tulisan itu dibuat oleh utusan Sunan Kudus, Kyai Angeng Prayogo. Ada perintah langsung dari penguasa saat itu, Raden Patah untuk memusnahkan ajaran sesat yang disebarkan Mak Lampir.

Baca juga: The Swordsman, Adu Akting Joe Taslim dan Jang Hyuk

Mak Lampir sendiri digambarkan sebagai sosok menyeramkan berambut putih panjang gimbal, dilengkapi tongkat untuk menopang tubuhnya yang sudah renta. Ia memiliki kemampuan meramal dan kedigdayaan lain yang dimanfaatkannya di dunia hitam. Hingga suatu kali terjadilah pertarungan antara Mak Lampir dan Kyai Ageng Prayogo.  Mak Lampir yang bertarung menggunakan cambuk saktinya yang terkenal. Namun kalah dan berhasil dikurung Kyai Ageng Prayogo. Sebelum mati, ia bersumpah bakal membalaskan kesumatnya kepada keturunan Kyai Ageng Prayogo. Dan keinginan balas dendam tersebut menemukan jalannya saat dua pemburu menemukan peti Mak Lampir, 130 tahun kemudian. Salah seorang dari mereka tanpa sengaja meneteskan darah segar ke mulut Mak Lampir, yang menjadi pintu pembuka kehidupannya kembali. Maka sosok seram ini pun memulai aksinya dengan mencari keturunan Kyai Ageng. 

Baca juga: Mengenang Karya Yopie Latul 

Sebetulnya, saat sandiwara radio masih tayang -dengan tokoh Mak Lampir disuarakan oleh Asriati, kisah tersebut sudah diangkat ke layar lebar. Tak tanggung-tanggung, tiga film dalam kurun 2 tahun. Misteri Dari Gunung Merapi: Penghuni Rumah Tua, tayang pada 1989, dan Misteri Dari Gunung Merapi II: Titisan Roh Nyai Kembang dan Misteri Dari Gunung Merapi III: Perempuan Berambut Api tayang pada 1990. Namun popularitas kisah ini justru moncer saat tayang sebagai sinetron di Indonesia pada kurun 1999-2005. Farida Pasha yang telah memerankan tokoh Mak Lampir di film layar lebar, dipilih kembali untuk melakonkan peran yang sama, bersama sejumlah bintang sinetron yang berjaya masa itu seperti Marcelino, Yuni Sulistyawati, Rizal Djibran, Wulan Guritno, Monica Oemardi, dll.

Farida Pasha mulai dikenal saat membintangi Guna-Guna Istri Muda dengan pemeran utama Rina Hasyim dan Roy Marten. Perempuan berdarah Pakistan-Sunda kelahiran Tasikmalaya, 68 tahun lalu ini memiliki putri dan cucu yang juga nyemplung ke dunia media dan hiburan, Gina Sonia dan Ify Alyssa. Keduanya menyampaikan ungkapan duka mereka kepada ibu dan nenek lewat media sosial. 

Baca juga: Musisi Keturunan Rangkas, Eddie Van Halen Tutup Usia

Gina juga menyebutkan, awalnya Farida Pasha didiagnosis vertigo dan gangguan lambung. Pada pemeriksaan berikutnya, diketahui Farida Pasha menderita pneumonia dan terpapar COVID-19. 


Selamat jalan, Farida Pasha…


Let It Be dan Peristiwa Kebetulan

Let It Be lagunya The Beatles? Apa hubungannya dengan peristiwa kebetulan? Begini.. Let It Be adalah judul lagu sekaligus judul album ke-12 The Beatles. Mereka memulai prosesnya pada Januari 1969, menjalani latihan di Twickenham Film Studios, sebagai agenda untuk melakukan pertunjukan kembali setelah sekian tahun berhenti menggelar konser. Penggarapan album ini mengalami banyak hambatan, hingga album yang digagas belakangan, Abbey Road malah rilis lebih dulu, pada September 1969. Album Let It Be sendiri akhirnya rilis pada 8 Mei 1970, sekitar sebulan setelah grup ini menyatakan bubar. Apakah sebuah peristiwa kebetulan kalau Let It Be lantas menjadi album terakhir yang menandai pamitnya mereka sebagai sebuah grup musik? Menurut saya, itu adalah ‘sebuah peristiwa kebetulan yang bukan kebetulan’.


Saya meyakini, tidak ada peristiwa kebetulan di dunia ini. Semesta mempunyai mekanismenya sendiri untuk menjadikan berbagai peristiwa saling bersinggungan, yang pada awalnya barangkali akan terasa sebagai kebetulan. Pada perjalanannya, peristiwa-peristiwa kebetulan itu pun terangkai menjadi sebuah peristiwa lain yang bisa jadi merupakan jawaban penting dari tanya yang pernah terucap. Itu pun bukan akhir. Tak akan menjadi akhir, saat kehidupan masih berjalan. Bahkan akan terus berproses saat sudah terjadi peristiwa kematian, bagi yang meyakini reinkarnasi. 

Baca juga: Film Mafia Tontonan Saya

Berapa banyak yang pertanyaan yang muncul di benak kalian, kawans, terhadap apa yang terjadi sepanjang perjalanan hidup kalian? Pasti banyak. Buat saya sendiri, kalau mau disebutkan beberapa di antaranya adalah: mengapa saya terlahir di keluarga miskin, mengapa saya dibesarkan dengan tradisi kekerasan verbal, mengapa saya kudu mengalami beberapa kasus pelecehan? Ini beberapa hal yang cukup memenuhi benak saya di masa remaja hingga kuliah. Kalau pertanyaan tentang ‘mengapa miskin’ bukan karena sirik dengan kekayaan keluarga lain, melainkan karena kondisi miskin itu ga enak, dan banyak menerima ketidakadilan. Dan hal itu bukan sebuah kondisi tunggal ya, menjadi rumit dan kompleks. Itu baru beberapa hal di masa remaja dan dewasa muda. Pertanyaan-pertanyaan lain pun muncul dalam tahapan berikutnya. Bedanya, saya tak lagi frustasi dan bahkan depresi menyikapinya. Sudah bisa ikhlas dan legawa, kalau orang Jawa bilang.

Semesta memiliki mekanismenya sendiri. Namun saya juga percaya, semesta menghargai setiap orang yang berupaya selagi mereka juga menjalani hidup dengan ikhlas. 

Bulan lalu, manajemen radio menyampaikan informasi, Sonora Bandung bakal meniadakan sejumlah program. Sebagian besar akan mengambil program Jakarta. Artinya, tak lagi dibutuhkan orang untuk menggawangi program. Artinya lagi, kami, para freelancer dibebastugaskan. Kaget? Engga terlalu. Kita, terutama orang-orang media, sudah tahu kan ya perkembangan media mainstream di tahun-tahun terakhir ini? Terlebih dengan serangan pamdemi pada tahun ini. Ya, saya sendiri tak terlalu kaget. Sedih? Hmmm.. ada nuansa sedih juga. Tak terlalu banyak, pada skala 3 saja. Bagaimanapun 7,5 tahun bukan waktu yang singkat. Pun, dengan kesadaran: “bisa jadi, saat ini adalah kali terakhir nyemplung ke dunia radio.” Sepuluh tahun menjadi kru (staf organik sekaligus penyiar) Radio Mara Bandung. Satu setengah tahun menjadi penyiar lepas Radio Maestro Bandung. Dan 7,5 tahun menjadi penyiar lepas Sonora Bandung. Bukankah ini waktu yang cukup untuk berkecimpung di dunia radio siaran? Apakah memang di sinikah ujungnya? Bisa iya, bisa tidak. Kita tak pernah tahu to? Beberapa kawan menunjukkan kekhawatiran mereka. Saudara-saudara memberikan aneka saran. Hai hai..saya baik-baik saja. Kalau dari soal pekerjaan, siaran radio hanyalah satu bagian pekerjaan, meski tentu saja mempengaruhi kondisi keuangan. Tapi, bukan segalanya. Kalau soal ‘feel’, iyes..saya mah orang radio bangeeet. Cumaaa..kan pengalaman dan pengetahuan tentang keradioan bisa diterapkan di bidang lain. Yuk, kita bisa saling berbagi dan berkolaborasi..😍

Baca juga: Persiapan Memiliki Rumah Sendiri

Kembali ke soal lagu, saat menutup siaran program The Beatles kemarin malam, ‘secara ‘kebetulan’ ada yang rikues Let It Be. Maka saya pun sekaligus berpamitan: “Let It Be digarap sebelum Abbey Road. Namun ada banyak konflik di antara mereka saat memproses album ini, sehingga tertunda lebih setahun. Barangkali memang Let It Be menjadi penanda pamitnya mereka sebagai sebuah grup. Pun, kalau di malam hari ini ada rikues Let It Be, saya rasa bukanlah kebetulan. Karena sekaligus menjadi penanda pula bagi saya untuk undur diri. Saya, Veronika Mumpuni Dhenok Hastuti pamit. Sampai ketemu di ruang-ruang perjumpaan yang lain.”

Sebetulnya rada mengada-ada juga sih itu haha! Yang penting, mari bergembira menyambut pergantian tahun ya, kawans. Semoga segala kebaikan masih terus bisa kita lakukan di tahun ini dan tahun-tahun yang akan datang. Dan, mari menyanyi…

Baca juga: Catatan Musik Saya 


Let It Be

When I find myself in times of trouble

Mother Mary comes to me

Speaking words of wisdom, let it be

And in my hour of darkness

She is standing right in front of me

Speaking words of wisdom, let it be

Let it be, let it be

Let it be, let it be

Whisper words of wisdom, let it be

And when the broken-hearted people

Living in the world agree

There will be an answer, let it be

For though they may be parted

There is still a chance that they will see

There will be an answer, let it be

Let it be, let it be

Let it be, let it be

Yeah, there will be an answer, let it be

Let it be, let it be

Let it be, let it be

Whisper words of wisdom, let it be

Let it be, let it be

Let it be, yeah, let it be

Whisper words of wisdom, let it be

And when the night is cloudy

There is still a light that shines on me

Shine on 'til tomorrow, let it be

I wake up to the sound of music

Mother Mary comes to me

Speaking words of wisdom, let it be

Let it be, let it be

Let it be, yeah, let it be

There will be an answer, let it be

Let it be, let it be

Let it be, yeah, let it be

There will be an answer, let it be

Let it be, let it be

Let it be, yeah, let it be

Whisper words of wisdom, let it be





Pola Hidup Sehat, Cegah Diabetes dan Hindari Virus Corona

Saat ini kita tengah menghadapi pandemi COVID-19. Catatan per hari ini (21/12/2020) pasien meninggal dunia sudah melewati angka 20 ribu, dan kasusnya sudah tersebar di 34 provinsi di tanah air. Bandung juga masih masuk zona merah. Syukurlah, Vaksin Virus Corona sudah siap ya. Yuk kita cari waktu untuk melakukan vaksinasi. 

Nah, bicara kaitan virus dengan penyakit lain, diabetes menjadi satu penyakit yang jika terpapar COVID-19 berisiko mengalami gejala berat dan tak cukup melakukan karantina mandiri alias harus dalam penanganan tenaga medis secara khusus atau perawatan di rumah sakit. 


Penelitian menyebutkan, sebanyak 25 persen pasien COVID-19 adalah diabetisi. Hal ini terjadi karena gula darah yang tinggi menjadi tempat yang ramah bagi para virus berkembang biak. Gula darah yang tinggi juga menyebabkan imunitas penderitanya lebih rendah dibandingkan mereka yang sehat. Ditambah lagi, orang dengan diabetes biasanya dibarengi dengan kondisi lain yang memperburuk kesehatan, seperti tensi darah yang tinggi, gangguan ginjal, dan lain-lain. Dan jangan salah, diabetes tak lagi menyerang orang-orang berumur, namun juga mereka yang terbilang masih muda.

Seram kan?! Eh ini bukan nakut-nakutin loh..

Yuk berkenalan dengan diabetes!

Diabetes merupakan penyakit kronis yang terjadi saat tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara efektif, atau pankreas tak cukup memproduksi insulin. Gejala umumnya adalah kadar gula yang berada di atas normal. Pada diabetes tipe 2, tubuh tidak efektif menggunakan insulin yang berakibat pada kekurangan insulin. WHO mencatat, sebanyak 450 juta orang mengidap diabetes dan 90 persen dari angka tersebut merupakan diabetes tipe 2. Sedangkan data Kementerian Kesehatan Indonesia menunjukkan, pada 2018, di tanah air tercatat tak kurang dari 15-17 juta orang menderita diabetes.  

Ibu saya didiagnosis diabetes pada tahun 2000. Secara berkala ia melakukan pemeriksaan darah, berkonsultasi pada dokter spesialis penyakit dalam, menghindari makanan-makanan yang berpotensi meningkatkan kadar gula darah, berolah raga ringan, dan melengkapi dengan ramuan tradisional untuk meningkatkan kebugaran. Kondisinya naik turun, hingga akhirnya terjadi beberapa komplikasi. Terakhir, setelah serangan stroke keempat, ibu menyerah. Berpulang pada 2013.

Kalau saya lumayan familiar bicara soal diabetes, selain karena pengalaman memiliki orang tua diabetisi juga karena selama beberapa tahun menjadi koordinator sebuah program talkshow radio bersama para dokter di rumah sakit pemerintah dan swasta di Bandung. Tapi di masa kini, informasi lebih mudah diperoleh. Lewat search engine, bisa kita temukan aneka artikel pendukung. Atau cari website/aplikasi tepercaya untuk mendapatkan penjelasan sekaligus solusi. Aplikasi Halodoc misalnya, yang selain menyajikan aneka informasi berupa arikel, juga menyediakan ruang untuk bertanya langsung kepada ahlinya. Para profesional yang dilibatkan memberikan jawaban sesuai keahliannya. Dalam kasus diabetes misalnya,  selain solusi medis juga akan diberikan saran terkait dengan makanan-minuman yang baik dan sebaliknya tak boleh konsumsi, diet yang tepat dan sebagainya.

Halodoc sendiri adalah aplikasi kesehatan dari sebuah perusahaan rintisan yang didirikan oleh Jonathan Sudharta pada 2016 lalu. Berbagai kemudahan bisa didapatkan melalui website atau aplikasi ini, dengan aneka fiturnya. Cukup melalui gawai kita bisa melakukan chat dengan dokter, membuat janji pertemuan, cek laboratorium, bahkan mendapatkan saran pembelian obat untuk penyakit-penyakit yang tak perlu dilakukan penanganan khusus. Selain itu tersaji pula aneka artikel yang dapat menjadi informasi awal atau rujukan. Termasuk detail soal diabetes, bisa cek langsung Halodoc lewat aplikasi maupun website resminya.



Nah, kita bicara soal pencegahan saja yang bisa kita lakukan ya..

Bagi saya, dan siapa saja yang punya orang tua diabetisi, tentu saja perlu berhati-hati. Karena faktor genetik merupakan salah satu penyebab diabetes tipe 2. Namun yang tak kurang berbahayanya adalah pola hidup masa kini yang cenderung cari yang instan dan malas bergerak. Tak heran jika diabetes tipe 2 juga tak hanya menyerang orang dewasa namun menyasar juga ke mereka yang berusia lebih muda.   

So, apa yang bisa kita lakukan?

      1. Pola makan sehat

      Batasi konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, kalori, dan lemak. Sehari cukup konsumsi gula maksimal 40 gram atau setara dengan 3 sendok makan. Lebih banyak konsumsi makanan berserat, seperti sayuran, buah, dan biji-bijian.

      2. Olah raga rutin

Malas? Tak boleh ada kata malas ya.. Dokter menyarankan cukup 30 menit saja sehari, menyesuaikan kondisi tubuh. Lebih lanjut bisa dikonsultasikan ke dokter. Selain membuat badan lebih bugar, olah raga dapat mencegah diabetes dengan membantu tubuh memanfaatkan insulin dengan baik sehingga tidak terjadi kekurangan.

3. Menjaga berat badan dan lingkar pinggang ideal

Untuk mendapatkan berat badan ideal, bisa cek body mass index atau BMI. Jika berlebih, ada kemungkinan kita mengalami obesitas yang artinya potensial terserang penyakit kronis.

Satu hal yang jarang dilakukan adalah mengecek lingkar pinggang.

Berikut panduannya,


4. Mengelola stres

Stress tak bisa dihindari. Jadi yang bisa kita lakukan adalah mengelolanya. Saat stress terjadi, tubuh melepaskan hormon kortisol yang menyebabkan gula darah meningkat. Selain itu, makanan sering kali menjadi salah satu pelarian mereka yang tak bisa mengelola stress dengan baik.

5. Melakukan pengecekan gula darah secara rutin

Untuk poin terakhir ini, biasanya dokter memberikan saran bagi mereka yang berusia di atas 40 tahun, memiliki riwayat keluarga diabetisi, gangguan jantung, tekanan darah tinggi.

Mari jaga kesehatan, dan tetap bahagia ya.. Biar badan lebih bugar, kualitas hidup lebih baik, dan memberikan manfaat bagi semua makhluk di sekitar kita. #selfreminder



Film Mafia Yang Perlu Dipilih Sebagai Teman Bermalam Minggu

Kisah mafia menjadi salah satu tema yang masuk dalam box koleksi saya. Pada tahun-tahun mulai asik nonton, pilihan saya memang tak jauh dari pemeran The Godfather yang saya gandrungi, Robert De Niro dan Al Pacino. Jadi jangan heran kalau film mereka mendominasi daftar koleksi saya.

1. The Godfather

Film ini masih jadi yang terbaik di tengah hadirnya film-film bertema sama yang masih marak hingga tahun-tahun ke belakang. Potongan-potongan dialognya muncul pada film-film lain. Dikutip pula menjadi quote-quote yang bertebaran di media online dan media sosial.

The Godfather disutradarai oleh Francis Ford Coppola. Dari film pertama lantas berkembang menjadi film kedua dan ketiga. Pada film pertama, kisah terpusat pada Vito Corleone (Marlon Brando), sang pemimpin mafia paling ditakuti di Amerika. Ia berusaha menghindari perang dingin yang biasanya terjadi antar keluarga mafia. Sayangnya, di tengah upayanya tersebut, ia malah tertembak dan harus dalam pelayanan medis. 

Baca juga: Selamat Jalan, Sean Connery

Perannya sebagai gembong mafia lantas digantikan oleh anak-anaknya. Adalah Sonny (James Caan), Michael (Al Pacino), Fredo (John Cazale), dan Connie Corleone (Talia Shire) yang mencoba masing-masing mengambil peran. 

Bukan film mafia kalau tak ada kekerasan dan pertumpahan darah. Film penuh dengan adegan berdarah yang mendapatkan apresiasi tinggi. Academy Award jatuh kepada Marlon Brando untuk kategori Aktor Terbaik, Golden Globe AWard untuk kategori Skenario Film Terbaik, British Academy Film Award untuk kategori Musik Film Terbaik, dan beberapa penghargaan lainnya.

Rating IMDb: 9,2/10

Durasi film: 178 menit


2. Scarface (1983)

Al Pacino hadir kembali dalam film bertema mafia. Apakah sosok yang tampil menyerupai Michael Corleone, tokoh yang diperankannya dalam The Godfather? Tidak tentu saja. Al Pacino memiliki kualitas akting, menjalankan peran yang diberikan padanya -sebagai Tony Montana, dengan baik. Bahkan ia berhasil diganjar Golden Globe Award untuk kategori Aktor Terbaik. 

Film garapan Brian De Palma ini juga menyampaikan pesan moral tentang 'uang bukanlah segalanya'. Bahwa kebahagiaan tak bisa dibeli dengan uang.

Rating IMDb: 8,3/10

Durasi film: 170 menit

Baca juga: The Swordsman, Adu Akting JOe Taslim dan Jang Hyuk


3. Once Upon a Time in America (1984)

Sosok lain yang juga muncul di film The Godfather, Robert De Niro, menjadi pemeran utama di film ini. Once Upon a Time in America, film yang berkisah tentang kehidupan Noodles (Scott Tiller) yang diperankan oleh De Niro). Bersama pemuda-pemuda jalanan lainnya, Patrick "Patsy" Goldberg (Brian Bloom), Phillip "juling "Stein (Adrian Curran), Maximilian Bercovicz (Rusty Jacobs), Little Dominic, dan Fat Moe (Mike Monetti), ia berjuang dan bertahan hidup ala mafia. Mereka mengumpulkan uang hasil 'pekerjaan' di loker sebuah stasiun.

Persaingan antar gank, pada saatnya mengantarkan mereka pada peristiwa berdarah. Little Dominic tewas tertembak. Janji untuk selalu bersama dan saling menjaga, membuat  Noodles membuat aksi balas dendam. Aksi yang membuatnya tertangkap polisi dan dipenjara. 

Bebas dari penjara, Noodles mendapati kelompoknya ternyata telah berkembang menjadi sebuah kelompok mafia besar. Mereka berencana melakukan perampokan Bank Federal. Noodles menganggap rencana itu sebagai tindakan bunuh diri. Sebaliknya, kawan-kawannya menganggap ia kehilangan nyali. 

Rating IMDb: 8,7/10

Durasi film: 229 menit 

Baca juga: Dallas Buyers Club, Perjuangan Hidup Pengidap AIDS


4. Donnie Brasco (1997)

Lagi-lagi Al Pacino! Kalsi ini ia memerankan Donnie Brasco. Selain Pacino, film drama kejahatan garapan Mike Newell ini menampilkan Johnny Depp, Michael Madsen, Bruno Kirby, James Russo, dan Anne Heche. Naskah yang ditulis Paul Attanasio ini mengadaptasi buku non-fiksi karya Joseph D. Pistone dan Richard Woodley yang rilis pada 1988, 'Donnie Brasco: My Undercover Life in the Mafia'. 

Rating IMDb: 7,7/10

Durasi film: 127 menit


5. Goodfellas (1990)

Film ini merupakan adaptasi dari novel bertajuk Wiseguy karya Nicholas Pileggi. Kisahnya sendiri beranjak dari kejadian nyata, kehidupan gangster kenamaan di AS, Henrry Hill (Ray Liotta).

Baca juga: Gundala, Sebuah Harapan Baru Film Indonesia

Sejak kecil Henry memang bercita-cita menjadi mafia. Menurutnya, menjadi seorang gangster bebas melakukan apa pun yang diinginkan tanpa ada yang berani melawan. Berkat bantuan sejumlah orang, seperti Tuddy Cicero (Frank DiLeo) dan Paul Cicero (Paul Saviro), ia pun mulai merealisasikan cita-citanya tersebut. Berikutnya ia mulai berkenalan dengan gangster kenamaan, seperti Jimmy Conway (Robert De Niro) dan Tommy DeVito (Joe Pesci), yang lantas mengajaknya bekerja sama. 

Pada sebuah peristiwa perampokan, mereka terjebak dalam konflik yang melibatkan organisasi kriminal dan menjadikan segala sesuatunya lebih rumit. 

Goodfellas disutradarai oleh Martin Scorsese. 

Rating IMDb: 8.7/10

Durasi film: 2 jam 26


6. The Untouchable

Seperti halnya Goodfellas, film ini juga diangkat dari kisah nyata. Persisnya kisah Eliot Ness sebagai petugas kepolisian dan membukukan kisahnya dalam judul 'Untouchable' yang rilis pada 1957. Untouchable sendiri adalah nama tim yang dibentuk Ness untuk membawa Al Capone ke pengadilan. Saat itu ada larangan peredaran minuman keras, masa yang dikenal sebagai Prohibition Era di Amerika Serikat (1920-1933).

Di film ini, Ness diperankan oleh Kevin Costner. Aktor lain yang terlibat, Charles Martin Smith, Andy GarcΓ­a, Robert De Niro, dan Sean Connery. The Untouchable masuk nominasi Academy Awards untuk empat kategori. Sean Connery memenangkannya untuk Aktor Pendukung Terbaik.

Rating IMDb: 7.9/10

Durasi film: 119 menit

Baca juga: The Intouchables, Film Yang Hangat Tentang Relasi Manusia


7. The Departed

The Departed, sebuah film mafia dengan akhir yang mengejutkan. Konon dianggap sebagai salah satu plot twist terbaik sepanjang masa.

Mengisahkan rencana polisi Massachusetts untuk menangkap gembong mafia terbesar Irlandia, Frank Costello (Jack Nicholson). Mereka menyusupkan salah satu anggota polisi, Billy Costigan (Leonardo Dicaprio). Sayangnya Frank bukan orang baru di dunia kejahatan. Ia malah lebih dulu menyusupkan anak buahnya ke dalam lingkungan kepolisian, Collin Sullivan (Matt Damon). Biar seru, tonton sendiri deh.. 

Film yang disutradarai Martin Scorsese ini berjaya di panggung penghargaan, di antaranya berhasil memboyong Academy Awards untuk kategori Film Terbaik (2007) dan Golden Globe Award untuk kategori Sutradara Terbaik (2007).

Rating IMDb: 8,5/10

Durasi: 151 menit

Baca juga: Black Book, Kisah Perjuangan Perempuan Yahudi


8. Public Enemies (2009)

Lagi, film mafia ini berangkat dari kisah nyata. Tentang seorang agen FBI Melvin Purvis yang mendapat tugas menangkap mafia John Dillinger, Baby Face Nelson, dan Pretty Boy Floyd. Mereka bertiga merupakan penjahat yang telah melakukan banyak perampokan sekaligus penghilangan nyawa orang. Ketiga penjahat kelas kakap tersebut menjadi buronan karena telah melakukan perampokan bank dan membunuh banyak nyawa.

Johnny Depp bertindak sebagai aktor utama, dan Michael Mann sebagai sutradara.

Rating IMDb: 7

Durasi: 140 menit 


9. The Man From Nowhere (2010)

Film Korea ini mengisahkan mantan agen CHA, Tae-shik yang sudah memilih kehidupan yang lain. Dikisahkan, ia berelasi dengan seorang gadis kecil yang menjadi tetangganya, So-mi. Suatu kali, ibu So-Mi, Hyo-jeong mencuri narkoba milik sindikat obat-obatan sekaligus bisnis trafficking. Tae-shik pun kena getahnya. 

Berikutnya film berisi aksi pembebasan Hyo-jeong dan So-Mi. Tae-shik yang sudah lama meninggalkan dunia keagenan, akhirnya nyebur kembali ke dalam aksi-aksi yang pernah dilakukannya di masa lalu. 

Rating IMDb: 7.8

Durasi: 119 menit

Baca selengkapnya: The Man From Nowhere, Film Korea Dengan Banyak Penghargaan


10. Eastern Promisses

Mengisahkan mafia Rusia yang bercokol di London. Sebuah peristiwa yang tak sengaja, mempertemukan Anna Khitrova (add) dengan salah satu pemimpin mafia Rusia, Vory v Zakone, Semyon.

Anna yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit, tak menduga kalau hidupnya akan bersentuhan dengan dunia mafia. Berawal dari kasus ditemukannya perempuan muda yang melahirkan, lalu mati, dan berada dalam perawatannya, ia mencoba mencari tahu latar belakang si gadis dengan berbekal buku harian. Upaya tersebut mempertemukannya dengan Semyon dan keluarga Rusianya. Termasuk dengan agen pemerintah yang menyamar sebagai sopir keluarga tersebut. 

Rating IMDb: 7.6

Durasi: 100 menit

Baca selengkapnya: Eastern Promises, Film Tentang Mafia Rusia


Selamat nonton! 😍




The Swordsman, Adu Akting Joe Taslim dan Jang Hyuk

Minggu lalu, akhirnya mengunjungi bioskop. Akhirnya, setelah sekian bulan kangen nonton di ruangan dengan layar lebar. Seorang kawan mengajak: kita nonton Jota yuuuk.. Tak menyimak persis filmnya apa, dan baru ngeuh ketika adegan dimulai. Ternyata film Korea to.. πŸ˜€



Baca juga: The Man From Nowhere

Yup, aktor Indonesia Joe Taslim adu akting dengan para aktor Korea dalam film laga The Swordsman. Ia memerankan tokoh Gurutai, salah satu musuh Tae-yul (Jang Hyuk), tokoh utama dalam film ini. 

The Swordsman berkisah tentang Tae-yul, pendekar pedang hebat sekaligus pejaga kerajaan Joseon. Saat raja yang dikawalnya, Raja Gwanghae digulingkan, ia bersembunyi dari pengenalan dunia luar. Ia tinggal di pegunungan dengan seorang gadis remaja, Tae-ok (Kim Hyun-soo). Hidup sederhana dari berladang dan berburu. Sementara itu, Joseon di masa kini sedang muncul konflik antara Dinasti Qing dan Ming. Adalah Gurutai (Joe Taslim), ahli pedang Dinasti Qing yang berharap menjadi sosok terbaik di negeri tersebut. 

Baca juga: Gundala, Harapan Baru Film Laga Indonesia

Segala keributan yang terjadi di luar dirinya, tak memancing reaksi Tae-yul. Meski sedikit banyak penindasan yang terjadi di sekitarnya mengganggu nuraninya. Hingga suatu saat, anak buah Gurutai menculik Tae Ok. Ia pun memutuskan untuk angkat pedang. Bukan semata karena ia menyayangi Tae Ok, namun juga gadis itu adalah amanat yang merupakan tanggung jawabnya. 

Kisahnya tak rumit. Dan mungkin memang tak perlu berpikir banyak untuk menyaksikan tontonan penuh aksi pertempuran dan darah ini. Meski begitu, masih dapat dinikmati dialog-dialog menarik dan permainan para aktor. Aku belum pernah nonton film yang diperani baik Jang Hyuk maupun Joe Taslim. Ternyata keduanya bermain asik. 

Ini merupakan film Korea pertama yang dibintangi Joe Taslim. Kabarnya Jota awalnya tak yakin untuk menerima tawaran bermain di fim tersebut. Mengingat ia tak bisa berbahasa mandari dan belum pernah bermain dengan pedang. Namun begitu memutuskan menerima, ia pun berlatih berbulan-bulan. Bukan hanya ilmu bela diri menggunakan pedang, namun juga belajar bahasa dan menghafal dialog-dialognya. 

Baca juga: RIP, Sean Connery

Bagaimana dengan Jang Hyuk? Meski tak punya pembanding dengan film-filmnya yang lain, tapi keren dah. Dan langsung mencatat film-filmnya yang lain untuk ditonton 😍 Sebagai aktor dengan usia di atas 40 tahun, penampilannya dalam aksi laga masih prima. 

The Swordsman disutradarai oleh Choi Jae Hoon, dan merupakan debut film garapannya untuk industri layar lebar. Ia juga bertindak sebagai penulis naskah. Filmya sendiri sudah mulai berproses pada Juni 2017 dan tuntas September 2017. Mengapa tak kunjung rilis? Konon ada permasalahan di pendanaan. Opus Pictures selaku rumah produksi membayar terlebih dulu para aktor, dan menunda pembayaran kru. Akibatnya waktu rilisnya pun mundur. 

Baca juga: The Intouchables, Film Drama Yang Menyentuh

Di Indonesia, The Swordsman tayang pertama kali dalam acara Korea-Indonesia Film Festival (KIFF) di Bandung, pada 28-31 Oktober 2020. Keterlibatan Joe Taslim tentunya menjadi magnet tersendiri untuk pecinta film di Indonesia. Meski yaa..karena masa pandemi, barangkali tak seramai pada masa normal. 

Belum nonton? Tonton deh sambil malam mingguan.. 😊