Featured Slider

Dandan Anti Ribet dengan Scarlett Serum



Memiliki kulit yang jernih menjadi dambaan setiap orang. Jernih ya, bukan putih. Warna kulit bisa jadi bawaan genetik, namun tingkat kejernihan kulit seringkali bergantung pada seperti apa kita merawatnya. Nah, serum memberikan manfaat tersebut. Merawat dan menjaga kulit kembali jernih. Seperti rangkaian perawatan wajah yang ditawarkan Skincare Scarlett, Scarlett Brightly Ever After Serum dan Whitening Facial Wash.

Kita sudah tak asing-lah ya dengan Skincare Scarlett by Felicya Angelista. Karena produk ini sedang naik daun di tanah air. Ada beberapa pilihan yang ditawarkan Scarlett. Karena kebutuhanku untuk menipiskan pigmen hitam di kulit wajah, pilihannya ya Brightly Ever After Serum yang berpasangan dengan Whitening Facial Wash untuk mendapatkan hasil optimal.

Baca juga: Hari Buku Nasional 2021 

Scarlett Brightly Ever After Serum 

Serum menjadi dasar perawatan kulit. Penggunaan serum yang tepat, lalu bekerja dengan baik di kulit, tak perlu terlalu repot dengan finishing-nya. Kita bisa mengaplikasikan produk-produk lain untuk melengkapi. Bebas. 

Ngomong-ngomong, serum itu apa sih? Serum merupakan cairan yang terdiri dari kandungan aktif, dengan kekentalan sedang. Kandungan aktif serum Scarlett adalah whitening yang aman bagi kulit. Persisnya, Brightly Ever After Serum merupakan kombinasi anti oksidan, glutathione, dan Vitamin C yang menjadikan kulit lebih cerah. Penggunaannya pun tak perlu boros. Serum Scarlett dalam warna pink muda itu cukup kuaplikasikan satu tetes di dahi, dua tetes di masing-masing pipi, satu di hidung, satu di dagu, dan dua di leher. Cairannya yang tak terlalu pekat dan sebaliknya tidak terlalu encer menjadikan serum Scarlett ini pas dan nyaman terserap kulit.

Serum sudah terserap sempurna? Tinggal melengkapi dengan kosmetik lain yang disukai dan sesuai dengan kebutuhan. 

Oiya, penggunaan serum tentunya setelah kulit bersih ya. Sebelum mengaplikasikan serum ke permukaan kulit, bersihkan wajah dengan facial wash

Baca juga: Pola Hidup Sehat Cegah Diabetes dan Virus Corona

Scarlett Whitening Facial Wash

Seperti halnya serumnya, Scarlett Whitening Facial Wash terbuat dari bahan yang aman untuk kulit. Kandungan glutathione bermanfaatkan mencerahkan warna kulit. Vitamin E membantu mengecilkan pori, mengurangi kerutan, dan meratakan warna kulit yang tak senada. Tambahan lainnya seperti aloe vera dan rose petal melengkapi manfaat krim pencuci wajah ini. Ah ya, produk pencuci wajah Scarlett ini SLS free. SLS atau sodium laureth sulfate biasanya digunakan untuk berbagai produk higienis seperti shampo, deterjen, dan sabun, termasuk sabun wajah. SLS berperan memberikan busa yang melimpah. Tanpa SLS memang membuat Scarlett Whitening Facial Wash tak terlalu berbusa. Hal yang mungkin terasa agak berbeda bagi yang terbiasa menggunakan sabun dengan busa melimpah. Tapi bukankah yang terpenting adalah manfaatnya?

Nah, tak sulit sebetulnya kan menjaga kecantikan kulit kita? Tentu saja perawatan kulit bukan hal yang instan, sekali selesai. Dibutuhkan keajegan dan keteraturan. Ini kan yang sulit? Eh ini masalahku sih sebetulnya haha! Tapi mari berkomitmen saja. Tubuh kita, milik kita. Kitalah yang paling punya kewenangan dan bertanggung jawab untuk merawat serta menjaga. Dan Skincare Scarlett membantu mempermudah dengan produknya yang bermanfaat.

Baca juga: Sehat Bersama VCO

Skincare Scarlett dapat dengan mudah ditemukan di toko kosmetik, offline maupun online. Scarlett Whitening Facial Wash, 100 ml, dibandrol dengan harga Rp53 ribu. Sedangkan Scarlett Whitening Brightly Ever After, Rp59 ribu.

Yuk, kita rawat wajah kita dengan baik. Karena, kalau bukan kita, siapa lagi? 











KOPROCK Luncurkan 7 Gerobak Kopi di Bandung

Keledjatan Jang Meledjit. Kalimat itu menjadi semacam jargon KOPROCK, bisnis kopi gerobak yang dimotori dua personel Seurieus Band, Candil dan Dinar. Ledjat atau lezat karena memang menggunakan kopi murni arabika. Meledjit atau melejit, karena diharapkan kenikmatan kopi ala Koprock bisa dinikmati oleh semua kalangan penikmat kopi di mana pun. Sesuai dengan harapan itu, Koprock serentak meluncurkan gerobak kopi di sejumlah titik di Bandung.

Seremoni peluncuran gerobak di Kopilatory, Jl. Cihampelas, Bandung
                          

Beberapa hari ini luar biasa bergegas melakukan banyak hal. Termasuk sebagai bagian dari tim support Koprock. Hingga akhirnya, Jumat dan Sabtu (11-12 Juni 2021) kemarin berhasil meluncurkan 7 gerobak Koprock di tujuh titik di Kota/Kabupaten Bandung. Sebelumnya, satu gerobak telah beroperasi terlebih dahulu di Pesona Hijau Residence, Ujung Berung. 

Baca juga: KOPROCK, Berbisnis Kopi di Tengah Pandemi

Gerobak di pelataran Indomaret, Jl. Jalaprang, Bandung

Candil dan Dinar, yang menjadi brand owner sekaligus ambassador Koprock, hadir di setiap lokasi untuk memberikan semangat kepada para operator. Sesuai misi dan visi Koprock, dua mantan personel band Seurieus tersebut mengajak para operator untuk optimis terus berusaha di tengah masa pandemi ini demi mencari berkah.

“Kami berharap, gerobak Koprock ini dapat menjadi solusi bagi mereka yang harus menafkahi keluarga. Juga mereka yang ingin memiliki usaha sendiri,” ungkap Dinar Hidayat. 

Tentu saja sambil nyanyi-nyanyi dong.. Gerobak di Babakan Sari, Kiaracondong.
 
Baca juga: Kopilatory, Kedai Kopi Bernuansa Laboratorium

Gerobak Koprock hadir di 6 titik di Kota Bandung, yakni di pelataran Kopilatory, Jl. Cihampelas 124, di pelataran Indomaret, Jl. Jalaprang, di Jl. Babakan Sari, Kiaracondong, di Komplek Ruko Mekar Wangi, persisnya di antara BCA dan Alfamart, di Cafe Seduce, Jl. Kancra, serta di kawasan Cijagra. Untuk kawasan Cijagra, operator bertugas secara mobile alias berkeliling di seputaran Cijagra, Suryalaya, Pasirluyu, Buah Batu, dan sekitarnya. Gerobak ketujuh beroperasi di Cafe Cepood, Jl. Pameuntasan, Soreang, Kabupaten Bandung. Di Garut, gerobak KOPROCK beroperasi di Jl. Patriot No. 10-11, Garut, yang akan resmi dibuka pada akhir Juni ini. 

Selfie dulu aaahhh..
                                                                        

Gerobak masih menyajikan dua menu utama, kopi tubruk gula aren, Blackmore, dan es kopi susu gula aren, Brownstone. Meski keduanya menggunakan 100% kopi arabika, namun harga jual dipatok Rp10.000 saja. Selain kopi, tersedia pula dua minuman lain, Koprock Greentea Latte dan Koprock Thai Tea, dengan harga yang sama. 

Baca juga: Film Mafia yang Cocok untuk Teman Ngopi

Peluncuran produk di tengah masa pandemi menjadi tantangan tersendiri. Terlebih dengan angka kasus yang terus mengalami peningkatan di sejumlah wilayah di Kota Bandung. Tim Koprock menggelar acara tersebut dengan tetap mematuhi protokol kesehatan yakni menjaga jarak, mengenakan masker, dan mencuci tangan jika diperlukan. Mengantisipasi terjadinya antrian, durasi kunjungan di tiap lokasi dibatasi. Candil dan Dinar hanya berbincang sebentar dengan operator dan pelanggan yang hadir, serta menghibur mereka dengan lagu-lagu yang pernah berjaya dan Mars Koprock.

Gerobak kopi di Mekar Wangi, Jl. Moh. Toha, Bandung
                                                

“Kita semua ingin usaha ini berjalan baik ya. Jadi tetap harus patuhi protokol kesehatan agar tubuh tetap sehat dan usaha lancar,” ujar Candil. 

Setelah peluncuran 7 gerobak secara serentak, tim Koprock sudah menyiapkan kembali peluncuran gerobak tahap berikutnya.

 Jack Meong di Cafe Seduce, Jl. Kancra, Bandung
                                                


Hari Buku Nasional dan Upaya Kembali Membaca

Hari Buku baik skala nasional maupun internasional selalu jadi pengingat buatku, untuk kembali membaca. Rutinitas dan skala prioritas seringkali bikin kita kehilangan kesempatan untuk membaca buku. Membuat target baca, sudah. Jadwal baca, sudah. Aneka macam pengingat, sudah. Tapi, selain skala prioritas yang lantas menghabiskan lebih banyak waktu, juga godaan besar memakai waktu untuk memelototi gadget. Yang punya pengalaman sama, angkat tangan! 😀


Baca juga: Siapa Go Tik Swan di Google Doodle

Maka begitulah. Meski tak ikut membuat perayaan khusus, namun dengan adanya hari-hari yang dijadikan peringatan semacam ini, termasuk Hari Buku Nasional ini menjadi pengingat: yuk, baca buku lagi yuuuuk! Tak terhitung berapa ratus buku dalam tumpukan yang belum terbaca, bahkan bisa jadi belum tersentuh sama sekali. Ratus loh..bukan puluh lagi jumlahnya. Begitulah. Ibu meong sudah putus urat syaraf belanja, kecuali..buku :D Masih jadi book hoarder!

Bicara tentang hari buku, peringatan di Indonesia dimulai pada 17 Mei 2002. Pencanangan tersebut, tentu saja disertai harapan terjadinya peningkatan minat baca dan tulis masyarakat. Tahun ini menjadi peringatan ke-19. Di angka yang sudah terbilang cukup matang itu, bagaimana dengan minat baca masyarakat yang diharapkan?

Central Connecticut State University pernah merilis hasil survei minat baca di sejumlah negara, pada Maret 2016. Indonesia berada di posisi 60, hanya kedua dari posisi paling bawah. Artinya, minat baca di Indonesia masih sangat rendah. UNESCO bahkan menyebutkan minat baca Indonesia memprihatinkan. Perbandingannya, 1:1000. Seperti data yang dibagikan Tirto online, temuan lain yang lebih miris adalah yang dirilis Word Bank. Laporan World Bank pada  2018 menyatakan, sebanyak 55% persen penduduk Indonesia yang rutin membaca mengalami buta huruf fungsional. Apakah itu? Istilah tersebut mengacu pada pemahaman yang tidak memadai. Rutin membaca pun tak lantas berarti punya pemahaman atau pengetahuan baru. Ditambah lagi jika bacaannya adalah informasi di media online yang banyak menyajikan judul-judul clickbait. So, PR kita banyak yaaa..

Baca juga: Koprock, Bisnis Kopi Di Tengah Pandemi

Fakta lain yang menarik adalah, ternyata judul buku baru terus mengalami kenaikan pada tiap tahunnya. Meski angkanya masih jauh di bawah China yang mencapai 140.000 judul buku per tahun. Namun kalangan penggiat literasi melihat fakta tersebut sebagai sebuah perkembangan yang positif dan menjajikan. 

Kita bisa memulai dengan langkah kecil dari kita sendiri dan lingkungan terkecil kita. Setidaknya seperti yang kulakukan, membuat target baru dalam membaca buku. Dan mengingatkan diri sendiri, apa yang harus dilakukan agar konsisten.

1. Baca buku yang disuka

Yes! Ini akan sangat memudahkan, terutama yang sudah lama tak menyapa koleksi bukunya. Dengan ketertarikan terhadap tema yang ditawarkan, baik itu buku teks, fiksi-non fiksi, dan jenis buku lainnya, dapat membantu membangkinkan kembali minat membaca.

2. Baca buku yang dibutuhkan

Sedang menantang diri untuk meningkatkan skill dan pengetahuan terhadap sesuatu? Selain dari aneka pelatihan dan yang ditawarkan media online, buku tentu saja dapat menjadi sumber pembelajaran. Dengan catatan, buku yang memang berkualitas dan atau direkomendasikan.


Baca juga: Pola Hidup Sehat Cegah Diabetes dan Virus Corona


3. Tentukan waktu membaca secara rutin

Penentuan ini pada awalnya mungkin menjadi semacam pemaksaan. Misal wajib membaca 10 halaman di pagi hari dan 10 halaman di malam. Mungkin akan terasa berat di saat memulai. Tapi percayalah, hari-hari berikutnya akan terbiasa. Bahkan tak hanya 10 halaman, bisa meningkat hingga 50 halaman bahkan lebih. Setidaknya ini dari pengalaman pribadi. 

4. Tinggalkan gadget

Hwiiihhh memang kok yang namanya gadget dengan segala fiturnya itu godaan besar. Tontonan ini-itu, gam ini-itu, media sosial ini itu. Pada jam baca yang ditentukan, jauhkan gadget atau bahkan matikan terlebih dahulu. 


Yuk yuk.. mari kita teruskan kebiasaan baik membaca. Selamat Hari Buku Nasional!

Lebaran dan Madumangsa

Lebaran, momentum yang kehadirannya selalu dibarengi dengan kenangan masa kanak. Setidaknya dari pengalamanku sendiri. Pun yang kutemukan bertebaran di aneka jejaring sosial. Terlebih bagi mereka yang telah jauh meninggalkan masa kanak dan remaja, jauh pula secara geografis dari daerah tempat bertumbuh dan melewati saat-saat menyenangkan Idul Fitri bersama keluarga dan kawan sebaya. Aku pernah menuliskannya di sini, betapa selalu mengharu-biru kenangan masa kanak di masa Lebaran. Salah satu yang kutemukan hari ini di postingan seorang kawan adalah ‘madumangsa’ atau madumongso.. 


Baca juga: Jelang Lebaran dan Kenangan Akan Simbok Mutiah

Ada yang familiar dengan nama makanan ini? Wikipedia menyebut madumangsa sebagai makanan khas Ponorogo. Beberapa referensi lain menyebutkan penganan ini sudah dikenal sejak zaman Mataram kuno dan menjadi sajian para raja. Biasanya diolah khusus untuk perayaan-perayaan besar. Entah mana yang lebih tepat. Belum menemukan rujukan yang paling sahih. Yang jelas aku sudah mengenalnya sedari kecil, menjadi suguhan Lebaran dalam kemasan beragam. Sebagian besar dibungkus berbentuk oval atau bulat dengan kemasan luar kertas minyak atau kertas krep warna-warni. Ada pula yang dibungkus plastik bening dengan tali pengikat aneka warna.

Madumangsa terasosiasi dengan: tape ketan, jenang, legit. Meski menurut lidahku, madumangsa yang enak adalah yang tak terlalu legit, melainkan yang ada semburat asemnya. Sajian yang betul-betul istimewa. Tak semua rumah membuatnya dan biasanya memang hanya dibuat di saat Lebaran. Ibu, meski tak rutin, tapi sering membuat madumangsa ini untuk ikut merayakan Lebaran. Ya, madumangsa, salah satu penganan yang mewarnai kenangan masa kecilku tentang Lebaran. 

Aku ingat persis bahan madumangsa ala ibu, tapi tak hafal takarannya. Coba melirik resep ini di Cookpad, ada 88 post. Aku coba kutipkan gabungan dari beberapa resep yang kurasa mewakili dari orijinalitas (halah 😀) madumangsa ala ibu. 

Baca juga: Umbi dan Cerita Masa Kanak

Bahan:

500 gr ketan putih

500 gr ketan hitam

4 butir ragi

½ kg gula merah

500 ml santan kental

2 lbr daun pandan

Garam secukupnya

Cara membuat:

Tape

Rendam ketan selama lebih kurang 6 jam, cuci, kukus hingga matang. Dinginkan. Berikutnya taburkan ragi tape hingga merata. Tempatkan ketan beragi dalam sebuah wadah tertutup selama 3 hari.

Madumangsa

Setelah tape jadi, keluarkan airnya hingga terasa nyemek saja. Dalam wajan, didihkan santan bersama gula merah dan daun pandan hingga mengental. Masukkan tape. Masak dengan api kecil, aduk secara berkala, hingga menjadi campuran yang kalis. Proses pembuatan membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam. Setelah kalis, angkat dari perapian. Biarkan olahan madumangsa dingin sebelum dikemas sesuai keinginan.

Pinjam fotonya Mbak Ruur Rien (kawan FB di Blitar) yang lagi bikin madumangsa

Selain nuansa asem yang kentara, menurutku, madumangsa yang enak adalah yang tak terlalu lembek. Caranya tape tak dibiarkan terlalu matang atau jangan sampai berair banyak. Itu yang dulu dilakukan ibuku. 

Ibu menyiapkan pembuatan madumangsa sekitar seminggu sebelum Lebaran. Tapi tak tentu juga. Ada dua jenis jajanan yang biasanya dibuat sendiri, madumangsa dan krupuk jepit (opak gambir). Salah satunya dibuat pada sehari jelang Lebaran. Itulah yang sering menjadikanku nelangsa saat mendengarkan takbir jelang Lebaran. Nuansa tengah malam dengan aroma madumangsa atau krupuk jepit langsung menyeruak ke masa kini, membawa serta pahit, getir, senang, gembira, sedih, ceria, masa kanak. Mengingat kawan-kawan sepermainan yang sudah berpencar entah ke mana saja, bahkan ada yang sudah pergi mendahului. Pun orang tua yang juga sudah menghadap Sang Khalik. 

Baca juga: Sakit dan Dongeng Masa Kanak

Meski tak berlebaran, gema takbir malam Lebaran selalu memberi makna khusus buatku. Bagaimana denganmu, kawan?

Selamat merayakan Idul Fitri 1442 H. Selamat merayakan hari kemenangan, dan hari-hari baik yang akan terus kita jelang.

Siapa Go Tik Swan di Google Doodle Hari Ini?

Siapa tokoh di Google Doodle hari ini, memang menggelitik. Sesosok pria dengan pakaian adat Jawa lengkap dengan blangkonnya, tengah memegang selembar kain batik dengan corak utama burung. Ada khas wajah oriental biarpun samar. Dan ya, Go Tik Swan lahir sebagai sulung dari keluarga Tionghoa di Solo. Google memilih sosok ini untuk menghiasi halaman depan depan mesin pencari tersebut karena bertepatan dengan ulang tahun sang tokoh. 


Baca juga: Sosok Chrisye di Google Doodle

Go Tik Swan atau K.R.T. Hardjonagoro lahir pada 11 Mei 1931. Ia lahir dari keluarga terpandang dan berpengaruh pada masa itu. Ayahnya adalah cucu Lieutenant der Chinezen di Boyolali, dan ibunya cucu Lieutenant der Chinezen dari Surakarta. Karena kesibukan mereka, Tik Swan kecil diasuh kakeknya dari pihak ibu, Tjan Khay Sing, yang adalah seorang pengusaha batik di Solo. Mereka memiliki empat tempat pembatikan, dua di Kratonan, satu di Ngapenan, dan satu di Kestalan. Perusahaan besar, dengan karyawan tak kurang dari 1.000 orang. Tak heran jika Tik Swan telah akrab dengan dunia batik sedari kanak. 

Bukan hanya batik, Tik Swan juga akrab dengan budaya Jawa lainnya. Kakeknya bertetangga dengan Pangeran Hamidjojo, putra Paku Buwana X, seorang indolog lulusan Universitas Leiden. Sang pangeran dikenal sebagai penari Jawa klasik. Hal yang kemudian ditekuni Tik Swan di kemudian hari. Bahkan menempatkannya di posisi penting pemerintahan.  

Baca juga: Mengenal Kar Bosscha

Saat itu, 1955, Tik Swan menjadi mahasiswa Jurusan Sastra Jawa, Universitas Indonesia (UI). Pada hari peringatan Dies Natalis UI tersebut, ia menjadi salah satu penari yang dipilih untuk menari di depan Presiden Soekarno. Go Tik Swan membawakan tarian Jawa klasik, Gambir Anom. Penampilannya mempesona Pak Karno, yang lantas mengundangnya ke istana negara. Dua tahun kemudian, presiden memintanya menciptakan 'batik Indonesia'. Tentu saja bukan tanpa alasan. Karena Bung Karno tahu, Tik Swan berasal dari trah pengusaha batik. Mendapatkan kepercayaan tersebut, Tik Swan berusaha memberikan yang terbaik. Ia menggabungkan berbagai karakter dari batik-batik lokal seperti Solo, Yogya, dan batik pesisir. Pola batik langka yang sebelumnya hanya dikenal di wilayah keraton, coba digali dan dikembangkannya. Ia berhasil. Pola baru dari pengembangan pola-pola klasik dan yang sudah ada, tanpa kehilangan maknanya. Termasuk pemilihan warna, yang sebelumnya hanya di kisaran cokelat, biru, putih gading, di tangannya menjadi lebih bervariasi dengan warna-warna baru. 

Baca juga: NH Dini di Google Doodle

Go Tik Swan meninggal dunia pada 5 November 2008, di usia 77 tahun. Pada masa pemrintahan Bung Karno, ia pernah menjadi staf ahli kebudayaan. Dan selama hidupnya, Tik Swan telah mencipta sekitar 200 motif batik Indonesia. Sebagai apresiasi, pemerintah memberikan tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma.