Featured Slider

Menemukan Makna Hidup bersama Viktor E. Frankl

Buku Man’s Search for Meaning oleh Viktor E. Frankl ini cukup lama bersemayam di tumpukan. Rasanya bukan buku yang kubeli. Entah dari mana, tak ingat persis. Sebelumnya aku tak punya cukup referensi, sedangkan di mataku, desain sampul versi penerbit Nuansa ini kok enggak banget. Sempat terpikir kalau ini buku tentang kekristenan dan sudah masuk boks buku-buku yang akan dijual. Hingga suatu kali lihat tayangan kawan Threads soal buku ini, dengan sampul yang berbeda. Dari sedikit obrolan, dikatakannya ini buku yang sangat recomended. Akhirnya mulai dibukalah, setelah sekian abad membisu. Perasaanku langsung tertohok. Kisah tentang penderitaan sekaligus keberanian menjalani hidup.



Baca juga: Veronika Memutuskan Mati

Dalam buku terbitan Nuansa tak kutemukan muasal Frankl berada di kamp konsentrasi. Cek sejumlah referensi, tersebutkan bahwa psikiater keturunan Yahudi yang bermukim di Wina, Austria ini menerima undangan dari Konsulat AS untuk mendapatkan visa imigrasi. Saat itu Frankl tengah mengembangkan gagasannya yang ia sebut sebagai Logoterapi. Mestinya ia berangkat. Namun ia ragu. Ia merasa tak mungkin meninggalkan kedua orang tuanya yang ia tahu cepat atau lambat akan ditangkap dan dimasukkan ke kamp konsentrasi. Ia memilih untuk tinggal. Pada saatnya ia pun diseret ke kamp yang mengerikan itu.

Buku ini terbagi dua bagian, kisah Frankl selama di kamp dan teorinya tentang Logoterapi.


Kamp Konsentrasi, Ketika Hidup dan Mati Begitu Dekat

Membaca bagian pertama buku ini rasanya seperti dihadapkan pada hal-hal baru yang sama sekali belum pernah kujumpai, bukan dalam makna yang menakjubkan, melainkan mengerikan. Hidup yang mengerikan adalah hidup yang tak memiliki kebebasan untuk memilih. Berapa banyak di antara kita yang pernah mengatakan "aku tak punya pilihan" dengan suara memelas? Tidak punya pilihan itu seperti yang dialami Frankl dan mereka yang berada dalam kamp konsentrasi ini. Hidup dan mati bukan milik mereka, namun milik penjaga, milik serdadu.

Meski demikian, buat Frankl tetap ada pilihan. Satu-satunya pilihan itu adalah memberi makna peristiwa yang tak pernah mereka ketahui akhirnya seperti apa.

Kehidupan punya potensi untuk memiliki makna, termasuk dalam kondisi yang paling menyedihkan.

Baca juga: Berdamai dengan Inner Child

Bayangkan, orang yang baru saja bercakap denganmu, tak berapa lama kalian sudah lihat berubah menjadi asap. Gumpalan putih yang terbang dari cerobong kamar gas. Hanya karena kamu terlihat kurus, malas, lemas, tak bertenaga di mata pengawas, atau sekadar berdasarkan ketidaksukaan, kamu sudah harus meninggalkan kehidupan. 

Ketika itu yang terjadi, yang bisa dilakukan adalah mencari untuk kemudian memberi makna waktu yang bisa dimiliki. Apakah Frankl selalu bisa bersikap positif dan optimis? Tidak. Frankl juga menceritakan bagaimana dirinya marah dan mengalami frustasi.

Kurun 3 tahun (1942-1945) di tiga kamp konsentrasi yang berbeda, Teresienstadt, Auschwitz-Birkenau, Kaufering, dan Turkheim adalah waktu yang sangat lama untuk Frankl bisa mengumpulkan apa-apa yang diamatinya dari sekitar. Bagaimana kecemasan setiap orang yang hidupnya terus dibayangi kemungkinan akan dikirim ke kamar gas, lalu menghilang begitu saja dari eksistensinya sebagai manusia. Sementara fisik mereka pun tertindas. Bekerja keras, hanya dengan upah berupa makanan sangat tidak layak. Miris membayangkan semangkuk sup dengan air berlimpah dan secuil roti. Pada bagian lain, Frankl menggambarkan bagaimana kedekatan dengan pengawas cukup menguntungkan, setidaknya ia bisa mendapatkan sendokan dasar panci sup. Artinya mendapatkan kacang lebih banyak. Kondisi yang semuram itu telah membuat para tahanan frustasi. Banyak yang akhirnya menyerah dengan membunuh dirinya sendiri.

Apa pun bisa dirampas dari manusia. Kecuali satu: kebebasan terakhir seorang manusia yaitu kebebasan untuk menentukan sikap dalam setiap keadaan. Kebebasan untuk memilih jalannya sendiri.

Baca juga: Empati dan Seni Berkomunikasi

Menentukan makna hidup merupakan hal penting agar terhindar dari keputusasaan. Menurut Frankl, makna hidup dibentuk oleh pikiran kita. Kita yang menciptakan, bukan mencari dari luar diri. Kita tak perlu mencari apalagi menunggu hal-hal ideal di luar diri kita untuk bisa menjalankan kehidupan yang lebih baik, melainkan membuat sendiri makna hidup dari kondisi kita alami. Di penjara, Frankl memotivasi diri dengan memikirkan hal bahagia yang akan dia lakukan setelah bebas dari kamp. Pemikiran itulah mampu bertahan dari kehidupan kamp yang mengerikan. 


Logoterapi sebagai Upaya Menemukan Makna Hidup

Kata logos mengambil dari istilah dalam bahasa Yunani yang artinya "makna." Logoterapi percaya bahwa perjuangan untuk menemukan makna hidup dalam diri seseorang merupakan motivator utama orang tersebut. Menurut Frankl, inti dari Logoterapi adalah keinginan untuk mencari makna hidup. Hal ini dikatakan Frankl untuk menunjukkan bahwa Logoterapi berbeda dengan Psikoanalisis-nya Sigmund Freud yang menyebutkan tentang prinsip kesenangan atau keinginan untuk mencari kesenangan. Berbeda pula dengan will to power atau keinginan untuk mencari kekuasaan seperti didengungkan oleh aliran psikologi Adler. Di kemudian hari, Logoterapi juga dikenal sebagai "Aliran Psikoterapi Ketiga dari Wina". 

Menurut Logoterapi, ada tiga cara yang dapat ditempuh untuk menemukan makna hidup, yaitu: 

  • Melalui pekerjaan atau karya dan perbuatan
  • Melalui seseorang atau hal-hal dan kondisi yang disayangi
  • Melalui penyikapan terhadap penderitaan (bahwa penderitaan tidak bisa dihindari)

Hiduplah seakan-akan Anda sedang menjalani hidup untuk kedua kalinya, dan hiduplah seakan-akan Anda sedang bersiap-siap untuk melakukan tidakan salah untuk pertama kalinya.

Baca juga: Mengenal Sabotase Diri dan Mekanisme Koping

Lewat kalimat di atas, Frankl mengingatkan bahwa Logoterapi pada intinya adalah mengajak orang untuk bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Dalam terapi-terapinya, pasien diberi kesempatan untuk memilih, untuk apa, kepada apa, atau kepada siapa ia merasa bertanggung jawab. Logoterapi tidak menggurui, tidak menghakimi, tidak pula menawarkan pemikiran logis maupun nasihat moral. Menurut Frankl, manusia selalu menuju dan dituntun kepada sesuatu atau seseorang di luar dirinya. Ini dapat dalam bentuk makna yang harus ditemukan, atau manusia lain yang akan ia jumpai. Semakin kita melupakan diri sendiri -dengan mengabdi pada suatu perkara atau orang lain yang kita cintai- maka kita menjadi semakin manusiawi. 

Masih cukup panjang penjelasan Frankl perihal Logoterapi. Aku masih mencoba membacanya pelan-pelan. Ada banyak istilah psikiatri yang bikin jidat berkerut. Sila baca langsung sendiri untuk mendapatkan penjelasan detailnya, ya.

Penderitaan itu sejatinya tidak memiliki makna; kitalah yang memberi makna pada penderitaan melalui cara kita menghadapinya. (Harold S. Kushner, pengantar)

Intinya, bukan keadaan yang menentukan siapa diri kita, melainkan sikap dan respons kita saat menghadapinya dan keputusan-keputusan apa yang kita buat.


Judul: Man's Search for Meaning

Penulis: Viktor E. Frankl

Penerbit: Nuansa, 2004

Tebal: 233 halaman


Baca juga: The Kite Runner, Layang-layang dan Hal yang Berubah

Peluncuran Album #2 Mukti-Mukti

Pada dekade 90 awal, kalangan pencinta musik dan seni Bandung serta lingkaran aktivis dan penggiat sosial akrab dengan rekaman suara Mukti-Mukti. Lagu-lagu dibuat dari lirik yang ditulis Mukti sendiri maupun musikalisasi puisi milik para penyair Bandung. Melihat antusiasme kawan-kawan, digagaslah konser yang dinamai Konser Cinta Mukti-Mukti. Rekamannya pun dibuat dalam kualitas yang lebih bagus. Dari bentuk kaset, lalu berikutnya dalam keping CD. Konser berlangsung hampir satu kali dalam setahun. Mukti telah berpulang pada Agustus 2022 lalu. Konsernya tak lagi kita jumpai. Demi menjaga karya-karyanya untuk terus hidup, Kitsch Records mengumpulkan lagu-lagu Mukti dan menerbitkannya sebagai album. Album #1 sudah rilis tahun lalu. Hari ini, 6 Juli 2024 menyusul album keduanya.



Baca juga: Mukti-Mukti, Pemusik Balada Bandung Berpulang

Peluncuran album #2 Mukti-Mukti dilangsungkan di studio Kitsch Records, di kawasan Sukajadi, Bandung, dalam format talkshow berkolaborasi dengan Radio NBS. 


Album #2 Mukti-Mukti dan Para Penampil 


Terdapat 9 lagu yang kali ini dipilih untuk tampil dalam album kedua Mukti-Mukti, yakni:

  • Menitip Mati (syair: Mukti-Mukti)
  • Hanya Tinggal Jiwa (syair: Mukti-Mukti)
  • Surat kepada D (syair: Budi Godot Supriatna) 
  • Senantiasa Ada (syair: Budi Godot Supriatna)
  • Kisah Sepasang Burung Dara (syair: Miranda Risang Ayu)
  • Summon Your Grace (syair: Angie Seah, seniman Singapura)
  • Menjadi Laut (syair: Sonny Soeng)
  • Surat untuk Partai-Partai (syair: Kartawi)
  • Jaringao (syair: Mukti-Mukti dan Paiman, seorang petani penggarap)

Dengan diluncurkannya album #2 ini, hingga kini sudah tersedia 18 lagu Mukti-Mukti yang bisa dinikmati melalui berbagai platform musik digital, seperti, Spotify, Instagram, Tik-Tok, Facebook, Apple Music, Deezer, Youtube Music, iHeart Radio, Joox, Line Music, dan SoundCloud. 

Acara launching 9 lagu Mukti-Mukti ini juga dibarengi dengan peluncuran Buku Lagu Mukti-Mukti #2 berupa not balok, chord, dan lirik yang ditulis violinis Bandung, Ammy Kurniawan.

Pada 8 Juli mendatang rencananya akan dirilis "Cintamu, Cintaku" dari syair Budhi Godot Supriatna. Berikutnya, publikasi karya-karya Mukti-Mukti akan dilakukan tiga bulan sekali hingga dianggap cukup. 

Pada acara peluncuran di studio Kitsch TV, Sabtu, 6 Juli 2024 ini hadir sejumlah penampil. Mereka adalah: 

Dimas Dinar Wijaksana

Musisi muda ini cukup dikenal di kalangan komunitas musik Indie Bandung. Dimas yang mengaku fans berat Mukti-Mukti ini punya grup musik yang dinamai Mr. Sonjaya, Syarikat Idola Remaja, dan Bendi Harmoni. Ia pernah ikut tampil dalam Konser Cinta Mukti-Mukti pada 2015. 

Ayu Kuke Wulandari

Perempuan yang akrab dipanggil Kuke ini bergabung dalam Konser Cinta Mukti-Mukti pada 2012. Kuke juga dikenal sebagai panembang/pelantun Suluk Pesisir dalam pagelaran wayang/drama tari bersama Perkumpulan Seni Tari dan Karawitan Jawa ITB. 

Panji Sakti

Panji Sakti pernah berjaya bersama grup yang dibentuk bersama teman-temannya di Malaysia. Setelah kembali ke negeri sendiri, ia kerap membuat musikalisasi puisi para penyair Bandung, seperti Sangen (Sony Farid Maulana) dan Sang Guru (Puji Jagad). Pun karya pujangga dunia, seperti pada lagu Wahai Air Mata Yang Berlinang (Mawlana Jalaluddin Rumi). Pertautannya dengan Mukti-Mukti tak lain karena kepedulian terhadap musik dan seni pertunjukan di Bandung dan tanah air. 

Ramdhan Ramses

Ramdhan Ramses lebih dulu dikenal sebagai personel Keroncong Rindu Order (1995), lalu sebagai pemantik komunitas musik Rannisakustik Yogyakarta (2008), dan terakhir sebagai pencetus lahirnya Surobuldog Begal Cinta (2020). Ramdhan dan Mukti berada dalam ruang yang sama sejak 1991, yakni Gelanggang Seni Sastra Teater Film (GSSTF) Unpad. 

Robi Rusdiana

Robi adalah pendiri Ensemble Tikoro dengan teknik eksplorasi vokal yang unik serta penampilan teatrikal, dan telah membuat kerja sama dalam komposisi musik untuk seniman Indonesia dan internasional. Sebagai pribadi, Robi adalah pemain piano, dan Mukti-Mukti merupakan salah seorang guru bermusiknya.

Baca juga: Sawung Jabo dan Sirkus Barock


Perihal Kitsch


Kitsch TV selama ini dikenal sebagai TV alternatif yang memberikan panggung bagi musisi nonindustri. Program yang telah cukup dikenal adalah Musik Senja, yang hingga kini sudah mencapai tak kurang dari 50 episode. 

Menurut pendiri sekaligus produser Kitsch TV, Ginanjar Kartasasmita, TV bentukannya ini adalah model platform baru seni pertunjukan. Kitsch TV didedikasikan pagi para musisi yang terutama karena masa itu berada dalam kondisi tak menentu akibat pandemi.

Saat didirikan (2019), dunia -termasuk Indonesia- dilanda pandemi COVID-19. Kondisi ini berdampak terhadap berbagai lini kehidupan. Bukan hanya perkara finansial dan kesehatan fisik, namun juga kebutuhan batin yang tak terjabani. Menyadari adanya kebutuhan panggung hiburan, para pegiat musik tanah air menciptakan panggung-panggung digital. Tak terkecuali, ide tersebut memicu Ginanjar yang juga seorang pemusik. 

Nama Kitsch sendiri diambil Ginanjar dari diskusi orang post-modern mengenai "nilai" sebuah karya seni. Bahwa seni masuk dalamarena perjuangan kelas, dan Kitsch adalah lawan dari seni tinggi. Kitsch dimaknakan sebacah recehan. Receh tersebut bukan dalam arti sekadarnya. Karena justru melalui Kitsch, Ginanjar berharap para pemusik berkarya dengan "sentuhan ideologis" untuk kemudian ditampilkan di platform bentukannya. Dalam perjalanannya, Kitsch TV berusaha menjadi pendorong gerakan sosial melalui seni musik dan sastra. 

Selain menjadi panggung dan ruang tayang, Kitsch juga membuat dokumentasi karya-karya para musisi yang kelak dapat dimanfaatkan oleh mereka sebagai portofolio. 

Baca juga: LCLR Plus, Pesona Musik 70-an


referensi: naratime, senidotco, porosmedia

Kampas Rem Prima, Aman Berkendara

Perempuan sering kali dijadikan bahan becandaan saat bicara tentang kendaraan. Dari yang "sein kanan belok kiri" atau "emak-emak tak pernah salah". Ada pula meme yang menceritakan tentang perempuan muda yang mempertanyakan tentang oli yang harus ganti secara berkala. Cerita itu dikasih puch line: "mending uangnya dipakai beli seblak aja", yang menunjukkan betapa perempuan tak mengerti dunia otomotif. Apakah betul begitu? Pasti ada yang se-tak peduli itu, tapi banyak juga yang apik dalam merawat kendaraan. Aku sendiri tak begitu mengerti soal mesin kendaraan. Tapi kalau sekadar pentingnya oli atau kapan perlu ganti kampas rem, tentu saja paham.

Baca juga: Mengenal Sabotase Diri dan Mekanisme Koping

Kurasa, untuk sekadar tahu bahwa ada yang tak beres dengan kendaraan kita tak perlu menjadi ahli, tak perlu menguasai detail soal teori otomotif. Ada patokan sederhana yang bisa kita pegang. Apalagi jika kendaraan itu memang satu-satunya teman perjalanan kita. Sebegitu sudah membantu kita sepanjang waktu, masa kita nggak mengenali kebutuhan mereka? 


Rem dan Keselamatan Berkendara

Bicara soal rem, bicara soal keselamatan berkendara. Rem yang tidak berfungsi optimal akan berpotensi membuat kita celaka karena kendaraan tak bisa dikendalikan. Berapa sering kita mendengar atau membaca berita tentang kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh rem yang blong? Aku sendiri pernah beberapa kali mengalami. Tiga di antaranya cukup serius meski tidak berakibat fatal. Mengeluarkan biaya yang lumayan besar untuk perbaikan dan harus istirahat karena badan mengalami memar-memar. 

Sebetulnya aku cukup beruntung, karena menjadi orang yang tak segan bertanya. Selagi melakukan servis rutin, aku sering tanya hal-hal terkait perawatan motor. Terlebih si Beaty, motorku itu, sudah cukup berumur. Sehingga perlu perhatian ekstra, agar tak rewel. Bukan hanya manusia, motor pun perlu disayang-sayang. 

Yang kemudian menjadi masalah adalah eksekusi yang lambat. Sudah muncul gejala-gejala tidak beres dengan motor, tapi tak segera dilakukan perbaikan. Dalam kurun beberapa lama, setiap kali mengerem butuh kekuatan ekstra saat menariknya. Selain itu sudah muncul suara berdecit. Maka demikianlah, kecelakaan pun tak terhindarkan.

Salah satu yang menjadikan rem kita pakem adalah kampas rem. Pastikan komponen ini berfungsi dengan baik atau tidak aus. 

Baca juga: Menelisik Kepribadian lewat Numerologi Nama


Tanda Kampas Rem harus Segera Diganti 

Berbeda dengan oli yang penggunaannya dalam durasi relatif pendek, masa hidup kampas rem terbilang lama. Inilah yang sering menjadikan orang alpa untuk menggantinya. Bukan soal harga, karena harga kampas rem relatif terjangkau. So-so-lah dengan harga oli. Kampas rem motor sendiri fungsinya adalah menekan piringan cakram atau dinding tromol untuk menghentikan laju kendaraan. Pergesekan yang berlangsung terus menerus menjadikan kampas rem aus dan menipis. Ketika kampas rem sudah tipis, proses pengereman akhirnya tidak optimal. 

Dari berbagai referensi, kudapatkan rekomendasi penggantian kampas rem motor adalah jika kendaraan sudah menempuh jarak sekitar 32.000 km atau dalam kurun satu tahun. Tentu saja menyesuaikan kondisi lalu lintas dan medan jalanan yang dilalui. Makin sering dilakukan pengereman, makin cepat kampas rem menipis. 

Tanpa melihat angka meter dan kalkulasi frekuensi pengereman, ada beberapa tanda yang dapat kita jadikan patokan: 

  • Rem terasa kurang pakem
  • Tuas rem harus ditarik atau diinjak lebih kuat
  • Jarak pengereman yang makin jauh
  • Terdapat bunyi mendengung pada motor dengan rem tromol atau berdecit pada rem cakram saat dilakukan pengereman

Jika tanda itu mulai kita temukan, saatnya melakukan pengecekan. Buat yang mampu mengerjakannya sendiri, pengecekan mandiri kampas rem motor sebaiknya dilalukan rutin. Tanpa menunggu tanda. 

So, buat yang bisa menangani motornya sendiri, periksalah ketebalan kampas. Jika harus diganti, cek harga kampas rem, belanja, langsung ganti. Kalau tidak, ya serahkan saja ke ahlinya alias bawa ke bengkel. 

Ah, satu hal lagi. Selain terkait perangkat, keselamatan berlalu lintas juga terhubung langsung dengan kesadaran kita. Salah satu peristiwa kecelakaan yang kualami bukanlah semata soal rem. Namun karena kesadaran yang sedang mengawang-awang. Malaweung, kalau kata orang Sunda. Terbayang, kan, sudah mah malaweung, kampas rem aus? Celakanya dobel, hehe. Nah, kalau mau dapat layanan prima belanja kampas rem, bisa cek-cek Planetban. Tapi, tetap, soal jaga kesadaran saat berkendara adalah tanggung jawab pribadi.

Hati-hati berkendara, ya. Namaste.  

Baca juga: Kesadaran Spiritual 

Jais Darga Namaku, Ajang Pembuktian Seorang Art Dealer Perempuan

Aku sudah mendengar ide tulisan dari novel ini jauh sebelum diluncurkan. Saat masih dalam proses penulisan. Ada satu waktu yang aku sempat ketemu dengan penulisnya, Ahda Imran, yang menceritakan pengalamannya mengeksplorasi Jais Darga. Dibarengi dengan cerita-cerita lainnya saat harus menggali informasi di kawasan yang pernah ditinggali Jais, terutama di Bali dan Paris. Tapi, sungguh, aku nggak ngeuh perihal art dealer dan seberapa punya
pengaruh nama perempuan berdarah Sunda ini. Setelah baca, wow sekali! 


Baca juga: Perjalanan Menulis Fragmen 9 Perempuan

Novel biografi ini menyodorkan latar belakang kehidupan Jais Darga yang adalah keluarga menak Sunda. Latar belakang yang kental dengan kesundaan, dengan tradisi, dan hal-hal yang konvensional. Berikutnya kita dihadapkan pada kehidupan yang bisa dibilang sebaliknya.  


Sinopsis

Buku ini diawali dengan hari-hari baru Jais di Bali. Berada di tanah dan rumah impiannya setelah lama tinggal di Paris dan melanglang ke banyak negara. Berkontemplasi sebelum memulai kisah masa kecilnya.

Kisah itu adalah tentang Raden Nana Sunani. Kisah hidup Nana, ibunya Jais ini terasa indah, manis, sekaligus perih. Nana yang tengah merancang pelariannya. Putri Lurah Desa Cianten, Limbangan, Garut itu memilih melarikan diri daripada harus mengikuti keinginan pemimpin "gerombolan". Nana tahu, bahkan sang ayah tak akan sanggup mencegah. Seperti saat suaminya dibawa gerombolan tersebut.

Nana mempersiapkan pelariannya bersama kakak yang sudah sudah lebih dulu tinggal di Bandung. Pelarian yang tak mudah. Mereka harus berjalan kaki untuk bisa sampai Stasiun Nagrek, melewati kawasan yang saat itu masih belantara. Malah memilih jalan yang tersembunyi demi menghindari perjumpaan dengan orang-orang dari gerombolan. Setelah perjalanan menegangkan dalam kereta, mereka kembali melakukan perjalanan kaki menuju kawasan Dago. 

Singkat cerita, Nana tinggal di Bandung bersama keluarga kakaknya yang pas-pasan hingga berjumpa dengan Raden Dargawidjaja yang menjadikan cerita ini ada, karena ialah ayah dari Jais Darga. 

Kehidupan masa kecil Jais yang penuh warna, kehidupan menak Sunda di masa lalu, keseharian di rumah mewah kawasan Bandung utara, kenakalan-kenakalan Jais kecil, konflik di tengah keluarga, perceraian, perjumpaan kembali Raden Nana dengan suaminya yang dianggapnya sudah mati. Seperti kisah-kisah dalam film. Dan kisah Raden Nana ini kemudian memang difilmkan. 

Mengambil tajuk "Nana", dan "Before, Now & Then" untuk pemutaran internasional, film ini menjadi debut pertama Kamila Andini dalam menulis naskah dan menyutradarai film indie drama sejarah Indonesia. Rilis film ini dilakukan secara internasional di Festival Film Internasional Berlin pada 12 Februari 2022. Laura Basuki berhasil memenangkan Silver Bear untuk kategori Best Supporting Performance. Film ini juga memenangkan Festival Film Internasional Brussels dan Asia Pacific Screen Awards sebagai Film Terbaik. 

Film tentang ibu Jais ini diproduksi oleh Fourcolours Films bersama Titimangsa Foundation yang digawangi oleh Happy Salma. Di film ini Happy berperan sebagai Nana. Keseluruhan film ini menggunakan bahasa Sunda era 60-an.

Baca juga: Book Sleeve, Pembaca Buku Wajib Punya

Lanjut, ya...

Kisah berikutnya adalah kehidupan Jais Darga sebagai sosok dewasa, seorang perempuan merdeka. Dunia ala anak muda Kota Bandung dekade 70-an digambarkan di sini. Jais yang pernah menggeluti dunia teater dan seni peran, pergaulannya dengan kalangan papan atas, termasuk keputusannya untuk menikahi salah satunya, anak dari pemilik kerajaan jamu di tanah air. 

Jais dengan sangat gamblang tergambarkan sebagai perempuan yang penuh ambisi. Meski ada banyak ajang pertempuran yang ia temukan, yakni hal-hal konvensional terkait keperempuanannya dan dan ambisinya untuk terjun di dunia bisnis seni. Pada akhirnya ia menuruti ambisinya. Dari mulai menggelar pameran lukisan di lokasi terbatas, hingga di hotel-hotel mewah. Dari lukisan yang didapatkan dari lingkaran perkawanan, hingga berjibaku di ajang lelang. Dari jual beli di antara kenalan, hingga berhubungan dengan pembeli para pesohor dunia. Ia menunjukkan kepada dunia bahwa ia, seorang perempuan dan seorang Asia berhasil mengambil peran besar dalam perdagangan karya seni tingkat dunia. 

Ada harga yang harus dibayar mahal. Ia bahkan nyaris tak tahu bahwa ia sedang “pergi” atau “pulang”. Ia mengembara di Paris, London, Amsterdam, New York, Singapura, dan Hongkong. Begitu pula dengan kehidupan pribadinya. Kegagalan pernikahan yang terjadi berulang kali, dan hal yang membuatnya sedih, hubungannya dengan anak semata wayangnya yang akhirnya ikut terdampak. 

Pergulatan-pergulatan batin itu tertuang dalam kisah yang mengambil latar di berbagai wilayah. Yang mengambil porsi paling besar adalah Jakarta, Bali, dan Paris. Pada akhirnya kisah Jais ini bermuara pada ikatan keluarga. Perjumpaan antara kenangan akan ayah dan harapan masa depan bersama anak kandungnya, Magali.

Baca juga: FSP dalam Diskusi Kajian Jumaahan dan Majelis Sastra Bandung


Novel auotobiografi dengan detail yang memikat

Aku tak banyak membaca karya prosa Ahda Imran. Di rak bukuku tersimpan dua buku kumpulan puisinya. Aku nonton beberapa pagelaran teater yang naskahnya digarap Ahda. Tapi untuk prosa, baru kali ini. Ahda menulis kisah dengan detail yang memikat. Yang membuatku ingat bertanya langsung ke dia: Bagaimana proses ia menyimak cerita Jais lalu menerjemahkan dalam kalimat-kalimat yang tertuang di novel tersebut? Berapa persen dari keseluruhan ramuan kalimat itu yang murni datang dari Jais?

Misalnya, aku bertanya-tanya, kalimat “Aku tidak merasa dilahirkan sebagai perempuan, tapi terpilih sebagai perempuan” apakah datang dari Jais atau semata olahan kata dari Ahda. 

Selain itu kurasa Ahda membuat riset yang mendalam tentang berbagai detail yang ada dalam novel. Seperti nuansa tahun 40-an, saat pendudukan Jepang dan Raden Nana harus berjalan kaki di tengah hutan jalur Limbangan-Rancaekek. Atau pada tahun 70-an di Bandung saat Jais remaja. Begitu pula dengan detail suasana kota-kota besar di Eropa. Setahuku ia hanya sempat meninggali Paris untuk risetnya. Atau aku lupa, apa ia sempat pergi ke kota-kota lain yang disebut di buku ini. Detailnya membuatku merasa ingin diajak ke lokasi yang sama.

Dan tentu saja dengan kisah percintaan yang di beberapa bagian membuatku berurai air mata. 

Pergulatan batin Jais juga tergambarkan dengan apik. Ahda menulis detail gejolak batin perempuan seolah ia cukup memahami dunia perempuan. Bagaimana Jais di tengah kesepiannya, kegelisahannya, kesakitannya, serta pengkhianatan  dan penghinaan yang diterimanya. 

Membaca buku ini, selain menikmati kisahnya, membuatku sedikit berkhayal: seru juga kayaknya nulis novel biografi. Tapi lalu menepisnya sendiri: halah, Dhe, rencana yang sudah-sudah aja belum terealisasi. Ya sudah, batal, hehe.

Sayangnya aku agak terganggu dengan typo yang berceceran. Ih, KPG ternyata gak cukup teliti, yaaa. Tapi secara keseluruhan, novel biografi Jais Darga Namaku ini layak dibaca dan dikoleksi.

Baca juga: Hari Buku Nasional dan Upaya Kembali Membaca


Judul: Jais Darga Namaku

Penulis: Ahda Imran

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), 2018

Tebal: 525 halaman


Joko Pinurbo dalam Kenangan

Sesungguhnya aku tak begitu kenal dengan karya-karya Joko Pinurbo aka Jokpin. Kalau melihat deretan catatan karyanya yang dimulai sejak 1999, mestinya aku tahu karena aku cukup banyak berada di lingkungan pegiat literasi. Jokpin sudah mulai terima penghargaan pada awal 2000. Bisa jadi karena aku lebih tertarik prosa dibandingkan puisi. Bisa pula karena karya-karya Jokpin kemudian lebih banyak dikenal setelah era media sosial. Dan sangat mungkin, ya, aku saja yang kurang gaul. Tak begitu kenal karyanya, jadi kepergian Joko Pinurbo kupikir bakal selewat saja mengisi benakku. Ternyata bertahan hingga hari ini. Baiklah, kutuliskan di sini untuk mengenangnya. 


Baca juga: Menjadi Penulis, Hobi atau Pekerjaan?

Kurasa puisi Jokpin yang kukenal pertama adalah Celana Ibu. Sudah tahun 2000 belasan. Puisi yang betul-betul membuatku terbahak. Aku tidak tahu, seperti apa secara umum orang kristiani membaca itu. Aku yang besar di lingkungan Pantekosta yang notabene hanya mengacu kepada teks, tidak mengakomodasi pemikiran alternatif, menduga ada cukup banyak kalangan yang tidak suka menjadikan kisah Paskah itu sebagai bahan becandaan. Sekali lagi, ini hanya dugaan. Tapi di lingkungan Katolik, humor serupa bukanlah hal yang aneh. 


Celana Ibu


Maria sangat sedih menyaksikan anaknya

mati di kayu salib tanpa celana

dan hanya berbalutkan sobekan jubah

yang berlumuran darah.

Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit

dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang

ke kubur anaknya itu, membawakan celana

“Paskah?” tanya Maria.

“Pas sekali, Bu,” jawab Yesus gembira.

Mengenakan celana buatan ibunya,

Yesus naik ke surga.


Baca juga: Berhikmat bersama Loki Tua, Novel Yusi Pareanom


Bahasa Sederhana yang Menggelitik

Setelah membaca puisi Celana Ibu, mulailah aku mencari tahu siapa Jokpin. Kutemukan banyak puisinya di dunia. Menjerat mata dan batinku. Permainan katanya, selera humornya, pilihan temanya, dan ironi-ironi yang disajikannya. Piawai sangat ia menampilkan sebuah cerita dengan pesan yang kuat tapi melalui pilihan kata yang sederhana, yang sehari-hari, bukan bahasa mewah ala puisi pada umumnya. Sekilas aku menemukan nuansa Sapardi Djoko Damono dalam puisi Jokpin. Dan, kok ya, Jokpin ternyata pernah menulis puisi untuk SDD.


Kepada Penyair Hujan

(: S.D.D)


Lembut sayap-sayap hujan menggelepar di antara pepohonan

dan rumput liar di remang sajakmu.

Seperti kudengar kepak sayap burung

dari khasanah waktu yang jauh.

Matahari sebentar lagi padam.

Senja hanya diam mengagumi

selendang panjang warna-warni

yang menjuntai di atas sungai yang hanya terdengar suaranya;

malam sesaat lagi akan meraih dan melipatnya.


Hujan yang riang, yang melenyap pelan

dengan derainya yang bersih,

makin lama makin lirih dan akhirnya lengang.

Tapi kudengar juga hujan yang risau dan parau.

Seperti kudengar seorang musafir

kurus dan sakit-sakitan

batuk terus sepanjang malam

dengan suara serak dan berat,

berjalan terbata-bata menyusuri jalan setapak

yang licin meliuk-liuk, mencari tempat yang teduh dan hangat.


Musafir itu bikin unggun di atas sajakmu.

Aku akan menemaninya.


(1999)


Sekali waktu Jokpin becanda, kali yang lain dia terlihat relijius. Atau, pada saat bersamaan ia juga meramu berbagai nuansa itu dalam satu puisi. Seperti pada Celana Ibu. Atau "Agamamu apa? Agamaku air yang membersihkan pertanyaanmu". Kesederhanaan yang sanggup membuat pembacanya merenung, mengajak orang melakukan refleksi dan kontemplasi. 

Potongan-potongan puisinya mulai banyak kuunggah di media sosial. Terutama tentang kopi dan tema kontemplatif. 

"Kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi."

"Di bawah matamu hujan berteduh. Di bawah matamu senja berlabuh."

"Malam, hujan, dan kopi tak bisa menyelamatkan hati yang sedang korsa: tekor dan nelangsa."

"Biarkan hujan yang haus itu melahap air mata yang mendidih di cangkirmu."

"Empat cangkir kopi sehari bisa menjauhkanmu dari bunuh diri."


Dan, masih banyak yang lainnya. Tapi masih belum berusaha membeli bukunya. Aku masih bukan pecinta puisi yang sampai merasa perlu mengoleksi buku. 

Lupa kapan persisnya dan melalui media apa, aku terhubung secara personal dengan Mas Jokpin. Yang pasti dari media sosial. Twitter atau IG. Kami beberapa kali ngobrol di ruang pesan. Tentang kopi dan kekatolikan. Aku mengiriminya kopi Jabar, Mas Jokpin mengirimiku dua bukunya, Baju Bulan dan Surat Kopi. 


Baca juga: Menuliskan Ulang Kisah Perempuan


Perjumpaan

Pada 2019 aku mendapat undangan dari kawan yang menggagas Green Literacy Camp di Ponggok, Klaten. Aku diminta untuk mengisi sesi public speaking. Meski saat itu aku menjadi penyiar radio, pernah mengajar di kampus, sesekali menjadi MC, tapi aku tak pernah merasa piawai untuk bicara di depan publik. Tapi, ah, kenapa tidak? Ketidakpedean tak perlu dituruti.

"Kami tidak menyediakan fee, ya. Cuma akomodasi dan fasilitas selama di acara," kata si kawan.

Tak soal. Buatku itu kesematan untuk jalan-jalan. Dan yang membuatku melonjak kegirangan adalah ada nama Joko Pinurbo sebagai salah satu pengisi acara. 

Demikianlah. Acara itu berlangsung menyenangkan. Dalam sejumlah jeda aku nyamperin Mas Jokpin, ngobrol ini dan itu. Puisi-puisinya jenaka, berbeda dengan gayanya dalam berbincang. Itu pun tak banyak. Tapi menyenangkan, terpenuhi keinginanku untuk berjumpa langsung tanpa membuat rencana secara khusus. Rupanya itu menjadi perjumpaan pertamaku sekaligus terakhir dengan Jokpin. 

Di media sosial dan grup WA yang kuikuti membagikan kabar kondisi Jokpin yang tidak baik. Hingga berita itu tiba: Jokpin meninggal dunia pada 27 April 2024 pukul 06:03 WIB di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta.



Selamat jalan, Mas Jokpin. Senang bisa mengenalmu dan menikmati karyamu.


* lalu aku mulai mengumpulkan buku-buku puisi Jokpin


Baca juga: Perjalanan Menulis Fragmen 9 Perempuan