Showing posts with label dongeng masa kanak. Show all posts

Resep Ayam Bumbu Rujak dan Kenangan Masa Kanak

Aku bukan penggemar ayam. Bahkan pada suatu masa, sempat sama sekali tak mau makan daging ayam. Ketika kemudian lidahnya bisa bertoleransi, pilihannya adalah daging ayam yang padat-liat, bukan yang gembur penuh daging. Kalau tidak ayam kampung, ya, ayam pejantan. Jenis masakannya pun kudu yang pedas. Kalau bukan sekadar digoreng dan dilengkapi sambal pedas, aku memilih masakan pedas lainnya seperti ayam taliwang, panggang ala Padang, atau masakan pedas resep khas Jawa Timur. Nah, kapan hari mencoba mengolah sendiri si ayam menjadi Ayam Bumbu Rujak, jenis olahan yang kukenal sedari kecil.


Baca juga: Lebaran dan Madu Mangsa

Ayam merupakan salah satu sumber protein hewani yang jadi favorit. Kalaupun bukan favorit, ya, yang paling gampang. Paling gampang carinya, tak perlu ke pasar atau supermaket, sekarang lapak-lapak ayam potong tak permanen banyak berdiri di seputaran komplek perumahan. Selain itu, tentu saja karena harganya yang relatif murah. Masaknya? Dapat dipastikan, gampang! Bahkan bisa tinggal dicemplungin ke bumbu kemasan, lalu goreng. Kalau enggan masak sendiri, begitu melimpah sajian ayam di warung-warung kaki lima. Yang sering jadi langgananku, ayam goreng khas Lamongan. Entah, pedagang ayam Lamongan ini jarambah pisan ya, sampai ke Bandung, ke ibukota, dan kota-kota lain di luar Jawa Timur. Kenapa kira-kira ya? Coba cek-cek di blogger Lamongan, ada soal makanan khas Lamongan.

Nah, kalau mau cari masakan yang agak spesial, memang harus keluar ekstra tenaga dan rupiah. Sangat jarang kita temukan menu ayam taliwang atau ayam panggang Padang atau ayam woku khasa Minahasa di lapak pinggir jalan. Paling tidak di kedai atau rumah makan kecil. Begitu pula halnya dengan ayam bumbu rujak. Sejauh aku tinggal di Bandung yang notabene lebih dari 25 tahun, belum pernah kutemukan ayam bumbu rujak di rumah makan. Yaaa, bisa jadi akunya yang kurang gaul. Tapi aku agak yakin memang sangat terbatas rumah makan di Bandung area yang menyediakan menu khas Jawa Timur ini. Jadi, saat terlintas pengin makan ayam, dan kangen masakan rumahan, aku mencoba mengolahnya sendiri. Jangan tanya soal rasa deh, udah pasti enak-lah!  😋😜


Ayam dan kenangan masa kanak

Bicara soal ayam, binatang satu ini kuakrabi sedari kanak. Kami memelihara ayam untuk dijual. Ayam usia tertentu, aku lupa, akan dibawa oleh ibu ke pasar. Dijual untuk dijadikan masakan. Kalau sedang butuh uang cepat, kadang ayam yang masih 'ABG' pun akan dijual. Kalau kepepet buanget, telor pun tak luput dari transaksi jual beli. Demi mencukupkan kebutuhan sehari-hari.

Baca juga: Umbi dan Cerita Masa Kanak

Ya, masa kecilku secara ekonomi sangat terbatas. Kami tinggal di sebuah rumah berdinding anyaman bambu yang biasa kami sebut gedhek atau bilik. Mungkin ukurannya sekitar 6x7 meter saja. Sudah termasuk dapur dan kandang ayam yang berada di sisi kanan rumah. Bapak sangat primpen mengurus ayam. Pagi-pagi ia akan membangunkan ayam-ayam itu, menyuruh mereka keluar bermain. Untuk memasak, kami menggunakan tungku. Abu kayu sisa pembakaran akan disisihkan oleh bapak, untuk kemudian dipakai menaburi kotoran ayam. Ditabur merata, barulah disapu, dikumpulkan, untuk dijadikan pupuk. Jadi, meski kandang ayam menyatu dengan rumah yang nyaris tanpa sekat, dapat dikatakan baunya masih sangat terjaga. Kami, yang saat itu tinggal bertujuh, dua orang tua dan lima bersaudara, masih merasa nyaman dengan kondisi tersebut.

Urusan ayam, bapak memang yang paling punya peran. Ia sinungan, istilah Jawa untuk mereka yang berbakat memelihara ternak. Perkembangbiakan ayam nyaris tanpa jeda. Ayam kawin, bertelur, menetas, tumbuh jadi anak ayam, lalu dewasa, kemudian dijual. Beberapa disisakan untuk melewati siklus serupa. Cukup membantu perekonomian keluarga untuk ukuran kampung dan saat kami, anak-anak, masih bocah. Karena begitu mulai memasuki usia sekolah yang lebih tinggi, sudah dapat dipastikan kewalahan dan mencari sumber penghasilan lain. 

Tapi kisah bersama para ayam itu memang tak terlupakan. Kami kebagian ikut prosesi potong ayam. Mulai hanya memegang kepala (anak laki-laki diajari juga untuk memotong) hingga merendam ayam yang sudah dipotong ke air panas dan mencabuti bulunya. Potong ayam biasanya dilakukan kalau ada ayam yang sakit dan butuh lauk. Maka si ayam sakit pun dipotong. Dengan catatan bukan di masa wabah. Beberapa kali wabah penyakit ayam menyerang. Puluhan ayam mati. Tentu saja tidak dipotong, tapi dikuburkan. Potong ayam juga dilakukan saat ada tamu jauh yang datang. Akan selalu ada ayam yang dikorbankan. 

"Belehne pitik? Masakke bumbu rujak?" Demikian biasanya pertanyaan ibu ke tamu yang datang. Maka prosesi pun dimulai. Nah, menu andalan ibu adalah ayam bumbu rujak. 

Baca juga: Jelang Lebaran dan Kenangan akan Simbok Mutiah


Resep ayam bumbu rujak

Aku tak pintar masak. Seumur-umur tinggal di kampung, aku belum pernah masak ayam bumbu rujak sendiri. Maka, yang kulakukan adalah tanya ke mbah google, resep yang kurasa-rasa mirip yang digunakan ibu di masa kecil dulu. 

Ini dia resep yang kupilih dengan beberapa penambahan:

Bahan:

1 ekor ayam, potong menjadi 8 atau 10 bagian

1/2 sendok makan air asam jawa

2 lembar daun salam

2 lembar daun jeruk

1 batang serai, ambil putihnya, memarkan

1 sendok teh garam

2 sendok teh gula merah sisir

500 ml santan dari 1 butir kelapa

1 sendok makan minyak untuk menumis

1 jeruk nipis

2 cm jahe, memarkan

Penyedap rasa, jika dibutuhkan


Bumbu halus:

4 butir kemiri, sangrai

12 buah cabai rawit

2 buah cabai merah besar

4 siung bawang putih

8 butir bawang merah


Cara membuat:

1. Lumuri ayam dengan perasan jeruk nipis dan garam. Diamkan 20 menit.

2. Tumis bumbu halus, daun salam, daun jeruk, jahe, dan serai sampai harum. Masukkan ayam. Aduk sampai berubah warna.

3. Tambahkan garam dan gula merah. Aduk rata. Tuangkan santan kental. Masak sambil sesekali diaduk sampai matang dan meresap.

4. Ayam bumbu rujak siap dihidangkan.

Ada beberapa variasi yang diterapkan untuk resep ini. Misalnya dengan penambahan kecap. Atau variasi kuah. Ada yang kental, encer, kuah melimpah, atau sebaliknya nyaris kering. Bahkan ada yang menjadikannya ayam bumbu rujak bakar. 

Buat yang suka bakar-bakaran, tinggal memanggang si ayam di wajan anti lengket atau perangkat bakar lainnya. Kuahnya dapat dijadikan bumbu oles. Tinggal dibolak-balik hingga matang dengan tingkat kegaringan sesuai yang diinginkan. 

Baca juga: Alaya, Kisah tentang Mimpi yang Mewujud, Takdir, dan Cinta 

Hasil uji cobaku kapan hari belum sempurna. Seorang kawan dari Surabaya meledekku dengan, "Itu kariiii...bukan ayam bumbu rujak. Harusnya meraaah." Oke deh, catet 😁

Baiklah, buat yang memang jago masak, mohon koreksinya ya. Yang belum pernah masak Ayam Bumbu Rujak, boleh deh dicoba resepnya. Selamat masak 😍

Lebaran dan Madumangsa

Lebaran, momentum yang kehadirannya selalu dibarengi dengan kenangan masa kanak. Setidaknya dari pengalamanku sendiri. Pun yang kutemukan bertebaran di aneka jejaring sosial. Terlebih bagi mereka yang telah jauh meninggalkan masa kanak dan remaja, jauh pula secara geografis dari daerah tempat bertumbuh dan melewati saat-saat menyenangkan Idul Fitri bersama keluarga dan kawan sebaya. Aku pernah menuliskannya di sini, betapa selalu mengharu-biru kenangan masa kanak di masa Lebaran. Salah satu yang kutemukan hari ini di postingan seorang kawan adalah ‘madumangsa’ atau madumongso.. 


Baca juga: Jelang Lebaran dan Kenangan Akan Simbok Mutiah

Ada yang familiar dengan nama makanan ini? Wikipedia menyebut madumangsa sebagai makanan khas Ponorogo. Beberapa referensi lain menyebutkan penganan ini sudah dikenal sejak zaman Mataram kuno dan menjadi sajian para raja. Biasanya diolah khusus untuk perayaan-perayaan besar. Entah mana yang lebih tepat. Belum menemukan rujukan yang paling sahih. Yang jelas aku sudah mengenalnya sedari kecil, menjadi suguhan Lebaran dalam kemasan beragam. Sebagian besar dibungkus berbentuk oval atau bulat dengan kemasan luar kertas minyak atau kertas krep warna-warni. Ada pula yang dibungkus plastik bening dengan tali pengikat aneka warna.

Madumangsa terasosiasi dengan: tape ketan, jenang, legit. Meski menurut lidahku, madumangsa yang enak adalah yang tak terlalu legit, melainkan yang ada semburat asemnya. Sajian yang betul-betul istimewa. Tak semua rumah membuatnya dan biasanya memang hanya dibuat di saat Lebaran. Ibu, meski tak rutin, tapi sering membuat madumangsa ini untuk ikut merayakan Lebaran. Ya, madumangsa, salah satu penganan yang mewarnai kenangan masa kecilku tentang Lebaran. 

Aku ingat persis bahan madumangsa ala ibu, tapi tak hafal takarannya. Coba melirik resep ini di Cookpad, ada 88 post. Aku coba kutipkan gabungan dari beberapa resep yang kurasa mewakili dari orijinalitas (halah 😀) madumangsa ala ibu. 

Baca juga: Umbi dan Cerita Masa Kanak

Bahan:

500 gr ketan putih

500 gr ketan hitam

4 butir ragi

½ kg gula merah

500 ml santan kental

2 lbr daun pandan

Garam secukupnya

Cara membuat:

Tape

Rendam ketan selama lebih kurang 6 jam, cuci, kukus hingga matang. Dinginkan. Berikutnya taburkan ragi tape hingga merata. Tempatkan ketan beragi dalam sebuah wadah tertutup selama 3 hari.

Madumangsa

Setelah tape jadi, keluarkan airnya hingga terasa nyemek saja. Dalam wajan, didihkan santan bersama gula merah dan daun pandan hingga mengental. Masukkan tape. Masak dengan api kecil, aduk secara berkala, hingga menjadi campuran yang kalis. Proses pembuatan membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam. Setelah kalis, angkat dari perapian. Biarkan olahan madumangsa dingin sebelum dikemas sesuai keinginan.

Pinjam fotonya Mbak Ruur Rien (kawan FB di Blitar) yang lagi bikin madumangsa

Selain nuansa asem yang kentara, menurutku, madumangsa yang enak adalah yang tak terlalu lembek. Caranya tape tak dibiarkan terlalu matang atau jangan sampai berair banyak. Itu yang dulu dilakukan ibuku. 

Ibu menyiapkan pembuatan madumangsa sekitar seminggu sebelum Lebaran. Tapi tak tentu juga. Ada dua jenis jajanan yang biasanya dibuat sendiri, madumangsa dan krupuk jepit (opak gambir). Salah satunya dibuat pada sehari jelang Lebaran. Itulah yang sering menjadikanku nelangsa saat mendengarkan takbir jelang Lebaran. Nuansa tengah malam dengan aroma madumangsa atau krupuk jepit langsung menyeruak ke masa kini, membawa serta pahit, getir, senang, gembira, sedih, ceria, masa kanak. Mengingat kawan-kawan sepermainan yang sudah berpencar entah ke mana saja, bahkan ada yang sudah pergi mendahului. Pun orang tua yang juga sudah menghadap Sang Khalik. 

Baca juga: Sakit dan Dongeng Masa Kanak

Meski tak berlebaran, gema takbir malam Lebaran selalu memberi makna khusus buatku. Bagaimana denganmu, kawan?

Selamat merayakan Idul Fitri 1442 H. Selamat merayakan hari kemenangan, dan hari-hari baik yang akan terus kita jelang.

Menjadikan Hemat sebagai Perilaku Ekosentris



Kemarin menjumpai satu tulisan dari sebuah FP FB yang dibagikan seorang kawan. Postingan lama, tahun 2017. Penulis menceritakan bacaannya tentangangka bunuh diri yang tinggi di kalangan petani India. Bunuh diri dilakukan karena keputusasaan petani; panen gagal sementara mereka harus membayar hutang pembelian tanah, pupuk, dan bibit. Di Indonesia kondisinya sesungguhnya tak jauh berbeda.  Butuh biaya untuk mengelola sawah, ladang, kebun, dan ternak. Belum lagi kebergantungan iklim yang tidak dapat diprediksi. Dan dari mereka inilah, orang-orang inilah yang menyediakan pangan untuk kita makan, bekerja keras dalam jangka waktu tidak pendek, dengan hasil yang tidak seberapa. Bayangkan ketika kerja keras tersebut, alih-alih dihargai dengan cara menghabiskan makanan yang disediakan, malah dibuang-buang.
sumber: facebook/karyauntukperubahan
Masih dari postingan ini, disebutkan data survei Economist Intelligence Unit tahun sebelumnya, Indonesia per orang pertahun membuang/menyisakan 300 kg makanan. Selain persoalan distribusi dan mafia, salah satu sumber masalahnya juga banyak orang yang mengambil makanan lebih dari kebutuhan tapi tidak menghabiskannya. Padahal jika disadari, dalam setiap butir nasi, setiap kerat daging, setiap helai daun lalapan itu ada kerja keras manusia, ada pengorbanan hidup makhluk, ada sumbangan energi dari matahari dan sumbangan nutrisi dari bumi, tentu kita akan lebih menghargai makanan dan tidak akan membuang-buangnya.

Aku langsung tergerak untuk mengutip dan menuliskan ulang catatan di atas, karena kalimat-kalimat akhir langsung mengingatkanku pada pelatihan bersama EcoCamp beberapa bulan lalu yang mengangkat tema ‘From Ego to Eco’. Pada setiap akan makan pagi-siang-malam, ada rutinitas yang kami lakukan yakni menyimak 7 refleksi sebelum makan. Awalnya terasa lamban sekali, beradaptasi dari kebiasaan-kebiasaan sebelumnya. Selama ini makan selalu dilakukan buru-buru. Kalau soal makanan, aku sendiri tak ada masalah dengan ‘berhemat’. Sudah terbiasa. Tapi itu hanya kebiasaan, bukan karena kesadaran. Berbeda halnya dengan ketika aktivitas itu dilakukan dengan sepenuh kesadaran. Selain makan secukupnya dan menghabiskan apa pun yang sudah diambil,  makan pun terasa nikmat karena ada sebuah ungkapan syukur dalam batin yang tak terucap. 


Banyak alasan untuk kita berhemat perihal makanan ini –kalau memang kita butuh alasan. Mau alasan sentimentil? Biar kubagikan pengalamanku..

Aku dibesarkan dalam keluarga dengan tingkat ekonomi pas-pasan. Urusan makanan, seadanya. Ibuku pernah bilang: “wong dipangan yo mung dadi tai, ra usah pengen neko-neko..” Lebih kurang artinya: makanan dimakan cuma keluar sebagai kotoran, tak perlulah punya keinginan makanan macam-macam. Terdengar kasar, tapi bukankah memang itu benar? Yang meminta seringkali keinginan lidah, bukan kebutuhan tubuh. Dalam konteks keluarga kami bisa dibilang berkekurangan dalam hal gizi, tapi pada akhirnya kami hanya bisa mengamini sabda sang ibu 😀

Kami sangat jarang makan daging. Konsumsi daging paling banter ya daging ayam, ketika mendapati ayam peliharaan sakit lalu potong. Karena ayam dewasa yang sehat ya untuk dijual ke pasar. Ayam sakit barulah menjadi bagian kami. Pada masa kecil, buah-buahan yang kami kenal hanya pisang, pepaya, dan mangga, karena kami menanamnya. Perkenalan kami dengan buah-buahan yang aneh adalah di tempat lain atau di tempat sampah. Loh kok bisa? 

Suatu kali ibu cerita, saat membawa salah satu kakak melakukan perjalanan ke luar kota. Dalam bis ada seorang anak sepantaran kakak yang sedang makan buah. Kakak tanya ke ibu, apa yang dimakan itu anak. Dan ibu tak bisa jawab karena memang tidak tahu. Ternyata apakah yang dimakan? Apel! Itu hanya pengetahuan. Tapi kami mengalami merasakan dari tempat sampah. Tentunya ini bukan hal yang membanggakan, sebaliknya malah memalukan. Tapi bangga atau malu, toh hanya rasa. Bahwa fakta kami pernah koreh-koreh tempat sampah, itu nyata adanya.

Peristiwanya sekitar tahun 80 pertengahan. Ada sebuah keluarga tetangga yang cukup terpandang di desa kami. Keluarga pedagang yang kaya. Salah satunya tinggal di dekat rumah. Mereka punya tempat sampah berupa keranjang bambu yang diletakkan di depan/samping rumah. Dari sinilah kami tahu rasanya rambutan, apel, durian.. Kami sering menemukan rambutan yang terlewat dikupas, apel yang masih cukup besar sisanya, durian yang terlewat dibuka. Cukup sering mereka berpesta buah-buah itu. Kadang kalau tak keburu dan sampah sudah dibuang di tempat sampah yang lokasinya di tanah kosong sebelah rumah, ya di situ juga kami akan mengais. 

Cukup sentimentil kan? Ada berapa banyak keluarga seperti kami di dunia ini? Banyak! Bahkan yang jauh lebih buruk pun banyak..

Penduduk dunia ini bertumbuh, bukan makin menurun angkanya. Laporan PBB menunjukkan, hingga 2050 Afrika dan Asia akan memimpin laju pertumbuhan penduduk kota. Populasi warga kota Afrika akan berkembang dari 414 juta menjadi 1,2 miliar. Sedangkan Asia, dari 1,9 miliar menjadi 3,3 miliar orang. Dari dua benua ini saja pertumbuhan penduduk kotanya sekitar 86 persen dari penduduk dunia. Disebutkan pula, antara tahun 2015 hingga 2050, akan terjadi lonjakan penduduk dunia dan Indonesia menjadi salah satu penyumbangnya. Separuh lonjakan penduduk dunia terjadi di sembilan negara. Selain Indonesia, negara lainnya adalah India, Nigeria, Pakistan, Kongo, Ethiopia, Tanzania, Amerika Serikat, dan Uganda. 

Dengan prediksi percepatan populasi ini muncul berbagai kekhawatiran, di antaranya jika dikaitkan dengan sumber daya alam. Para pengamat dan ilmuwan mengingatkan, ledakan besar penduduk ini tak hanya menurunkan tingkah kehidupan manusia, tapi juga mengancam lingkungan hidup dan kehidupan yang sehat.

Jadi, apa andil kita untuk ‘setidaknya’ sedikit menjadikan kehidupan terjaga seimbang. Salah satunya ya yang sudah kita sebut-sebut dari tadi: HEMAT.

Selama ini kita dijejali pepatah: hemat pangkal kaya. Apakah salah? Mungkin tak sepenuhnya salah. Pada titik tertentu keyakinan itu mungkin...mungkin, tetap dibutuhkan. Tapi dari pelatihan yang lalu itu, aku diingatkan satu kalimat pengganti yang buatku lebih menarik: HEMAT PANGKAL SELAMAT.

Hemat pangkal kaya bermakna egosentris. Sedangkan ‘hemat pangkal selamat’ bermakna ekosentris. Kita berhemat karena kita peduli dan ingin berbagi kepada sesama, terutama yang lemah dan miskin. Mari kita coba tengok banyak kasus yang melibatkan kerusakan alam? Jawabannya adalah mereka yang lemah dan miskin. Satwa yang tak bisa menolak penggantian hutan menjadi lahan produksi. Dan ketika kebakaran hutan terjadi, adakah orang kaya yang menderita? Tidak ada. 

Kita bisa memulainya dari hal yang sederhana, dari lingkungan terkecil, dengan mengubah kebiasaan makan. Ambil secukupnya, karena sumber daya alam bukan milik kita. Ambil secukupnya, karena begitu banyak orang tak seberuntung kita. Ambil secukupnya, secukup kebutuhan kita. Ambil secukupnya, jangan yang ambil hak generasi yang akan datang.

Hari ini, Hari Anak Nasional. Mari jadikan ‘hemat’ sebagai kebiasaan baru anak-anak kita...

Jelang Lebaran dan Kenangan Akan Simbok Mutiah

Simbok Mutiah adalah nenekku. Nenek dari sisi ibu. 'Mbok' adalah panggilan dari ibu bersaudara buat ibu mereka tersebut. Entahlah, kenapa kami tak diajari panggil mbah ke si-mbok seperti lazimnya cucu panggil mbah kakung-mbah putri ke kakek-nenek mereka. Sejauh yang kuingat, sedari kecil memang kami, para cucu-semua cucu ikut memanggilnya 'mbok'. Mbok Mut dinikahkan di usia yang sangat muda, 12 tahun. Ia melahirkan 11 anak, konon seorang meninggal dunia selagi kecil.

 
Mbok Mut berdagang baju bekas di pasar, ‘karir’ yang kemudian diikuti beberapa anaknya, termasuk ibuku. Lapaknya kecil, sekitar 1,5x2 meter. Aku ingat, ada lemari di bagian belakang. Lemari pendek, tak sampai 1,5m. Warnanya biru pudar. Saat buka lapak, isi lemari dikeluarkan, dipajang berlipat di sisi kiri-kanan lapak. Sebagian digantung. Di bagian depan lapak, sepatu berjajar di atas plang kayu, menggunakan sedikit lorong jalan. Di lorong ini, selain Mbok Mut, ada 3 pedagang baju bekas yg lain. Satu di sisi kiri, dua di kanan. Lapak paling kiri dan kanan lebih besar dari dua lainnya. Sebelah kanan lapak Mbok adalah nenek-nenek perokok. Lapaknya berasap. Sebelahnya lagi milik nenek-nenek berkaca mata yang rajin menjahit pakai tangan. Tak pernah berdiam diri. Namanya Mbah Jum. Sisi kiri lapak simbok, aku tak ingat persis. Empat lapak ini menghadap ke pantat lapak depan. Lapak-lapak yang tersembunyi. Semacam lapak kelas ke sekian. Mungkin karena retribusinya memang murah. Sedangkan lapak depan adalah grosir jajanan.

Pasar tempat Mbok berjualan ini posisinya di Trenggalek kota. Keluargaku sendiri tinggal di desa, wilayah kecamatan lain. Saat SMA, aku sering mampir ke pasar. Lalu Mbok akan membelikanku minuman kunyit asem dalam gelas besar. Atau bubur sumsum. Tapi sebelum cerita masa remaja, biar kupanggil dulu ingatanku tentang si Mbok di masa kanakku.

Masih terekam jelas perasaan gembiraku setiap kali mendapat kunjungan Mbok Mut ke rumah. Rumah bilik kami yang disesaki lima anak di Dusun Bendo. Ada angkutan berupa L-300 menuju rumah kami. Gembira, kami menyambut kedatangan Mbok Mut di jalan raya. Mbok selalu berpakaian jarik/kain dan berkebaya, rambutnya digelung sekadarnya. Mbok bertubuh berisi, dengan tinggi tak lebih dari 150cm. Ia datang dengan membawa tas kecil dan gembolan. Biasanya lalu kami mengambil alih gembolan dari tangan Mbok. Gembolan itu adalah sebuah kain, mungkin taplak, yang di dalamnya berisi oleh-oleh aneka penganan. Belum musim plastik kresek masa itu. Yang dipakai adalah gembolan, yang notabene ramah lingkungan. Bawa gembolan ke rumah, lalu kami menyerbu, memilih penganan yang disukai.

Saat diajak ibu ke kota dan mampir ke lapak Mbok Mut, aku sering ditawari aneka barang. Biasanya ibuku langsung berbisik, “Halah wis padha bosok!” Tapi entahlah, ketika itu aku merasa bakal menyenangkan hati Mbok kalau aku mengambil dagangannya. Dan yaaa...barang-barang bekas yang dijual di kampung seringkali memang ‘bekas sungguh’ dalam arti sudah rusak. Beda halnya dengan yang kemudian hari kujumpai di dagangan ibuku yang kulakannya saja ke Surabaya. Yang kebanyakan orang jual baju karena bosan, bukan karena rusak. Pernah aku mengambil sebuah sepatu. Aku ingat, warnanya merah-putih glossy. Sudah kelihatan ada paku kecil di bagian tumit. Tapi kurasa itu sepatu cukup lucu kalau kupakai ke sekolah. Alhasil, sebagai anak yang terbilang lumayan aktif, mucunghul-lah itu paku. Nancep di tumit. Nyeri, jendral! 😀 Akhirnya pulang ke rumah sepatu digiwing..

Hal yang selalu muncul dalam kenanganku saat memasuki bulan puasa adalah kolak bikinan Mbok Mut. Sebetulnya kolaknya macam-macam. Tapi yang paling kuingat adalah kolak waluh (labu kuning). Tiap bulan puasa, lihat kolak waluh, ingatanku selalu melayang ke simbok. Kolak waluh dengan santan yang tak terlalu kental, mungkin biar hemat karena menyediakan untuk banyak orang. Lalu makan dengan sayur bobor bayam campur labu panjang. Nah, kok jadi ingat..labu panjang itu apa namanya ya? Masih ada ga sih? Rasanya lama tak pernah lihat. Simbok itu orangnya lucu. Sering menceritakan hal-hal lucu sambil terkikik, geli sendiri. Hal yang sering bikin aku tak habis pikir adalah anak-anaknya yang tak begitu perhatian sama Mbok Mut. Kulihat anak-anak Mbok lebih menyayangi bapak mereka, mbah kung. Mungkin mereka memiliki pengalaman masa kecil yang tak cukup baik dengan ibu mereka ini. Entahlah.Tapi Mbok Mut tak pernah mengeluh. Tak mengeluh dengan sejumlah keterbatasan dalam hidupnya..tak mengeluhkan pula beberapa anak yang sering bersikap kasar. Sepertinya ia selalu mensyukuri segala kondisi yang diterimanya.

Simbok orangnya juga kadang sok tau. Ada anaknya yang dengan sadis menyebutnya keminter. Aku sih melihatnya sebagai sesuatu yang lucu.

Alkisah, suatu hari, ada seorang perempuan yang mau mencari penjahit baju. Carinya di area lapak baju bekas. Aneh juga sih.. Bertambah aneh karena si perempuan, sebut saja Bunga ini, bicaranya ‘tinggi’. Mengaku dari kalangan atas, punya banyak uang bla bla bla.. Tapi cari penjahitnya di pasar 😂 Dan kok ya lucunya Mbok Mut ini menyanggupi. Padahal dia tak pernah mengenal pola baju. Mesin jahit –yang kemudian dimilikinya, hasil keringatnya sendiri itu- biasanya hanya untuk membetulkan jahitan baju dagangan. Tak lebih. Tapi dengan cukup pede Mbok Mut menyanggupi, dan menjanjikan selesai besoknya. Dan betul, besoknya Bunga ambil baju ke rumah Mbok. Apa yang terjadi? Ngamuk! Bunga ngamuk sengamuk-ngamuknya. Mbok dengan santai saja menghadapinya. Aku lupa waktu itu penyelesaiannya seperti apa. Apakah diberikan kain pengganti, atau Mbok bisa ngeles. Yang kuingat aku kok gembira melihat simbokku berhasil mengelabuhi Bunga yang sok keren itu 😂

Aku sempat tinggal setengah tahun di rumah kakek-nenekku ini. Saat awal masuk SMA. Pada tengah malam Mbok suka tahajud. Lalu pada jelang subuh sudah bangun, dan berangkat ke masjid yang jaraknya hanya 100 meter dari rumah. Berdua mbahkung. Sampai usia tuanya Mbok masih ke pasar. Masih sibuk menjahit juga, menggunakan mesin yang diputar pakai tangan, karena kakinya sudah tak cukup kuat. Ia tak pernah malas-malasan. Mandi tiap pagi  berpupur wangi, pakai baju bersih, lalu ke pasar. Kalau lagi tak ke pasar, di rumah saja, tak diam juga. Ada saja hal yang dikerjakan.

Aku sayang Mbok Mut. Aku sayang Mbok dengan segala keunikannya itu. Dan aku yakin ia pun menyayangiku. Waktu mulai kerja magang, aku ingin menyisihkan uang buat Mbok. Sayangnya tak pernah berhasil. Uangnya hanya cukup buat ngangkot dan makan. Apalagi ketika kemudian kiriman orang tua semakin sedikit, lalu aku minta sekalian dihentikan. Tapi Mbok Mut masih melihatku sebagai cucu kecilnya, yang dulu sering datang ke lapak, diberi baju-sepatu dagangan, dijajanin.. Terakhir ketemu, waktu pamitan akan pulang ke Bandung, Mbok nyangoni tiga ribu rupiah. Aku ingat betul karena itu membuatku sedih, tak mampu ninggali sepeserpun buat Mbok, malah dibekali. Pada 2001 (belum ingat bulannya), dapat kabar dari kampung kalau simbok sakit. Masih berharap bisa ketemu, aku bergegas pulang. Tiba di kampung, jenasah sudah siap diberangkatkan. Dan aku hanya bisa mengucapkan selamat jalan.

Mboooook..putumu kangeeeeen. Damai-damai dalam pelukan Ilahi ya, Mbok...

Umbi dan Cerita Masa Kanak


Beberapa hari lalu guyub obrolan di grup wa kawan-kawan kampung halaman. Tentang umbi-umbian yang akrab dengan kami di masa kanak. Adalah: uwi, gembolo, gembili, garut, ganyong, katak, suweg... Obrolan yang membuatku mensyukuri pernah tumbuh di desa dan mengenali aneka tanaman, hidup di antaranya, dan kini mengingatnya sebagai bagian perjalanan yang menarik.




Wacana tentang menjadikan umbi sebagai salah satu bahan pangan sumber karbohidrat sudah bertahun terakhir diwacanakan. Padahal di masa lalu, umbi telah menjadi sumber makanan yang sudah biasa di kalangan masyarakat. Utamanya masyarakat bawah. Apa pasal? Karena rezim orde baru menekankan ‘nasi..nasi..dan nasi’. Alhasil, sumber karbohidrat di luar beras seolah kelas kedua dan dikonsumsi masyarakat kelas kedua. Ah, tapi lupakan perihal kebijakan ini dan itu. Aku hanya ingin mengenang saja, mengenang cerita masa kanak. Masa kanakku di Dusun Bendo, Desa Bendorejo, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek 😀
 
Umbi Suweg

Pernah kuceritakan sebelumnya (baca: Cerita rumah masa kecil), aku tinggal di sebuah petak tanah dengan kebun singkong di sekitar kami. Tanaman utamanya memang singkong atau ubi kayu. Di bagian belakang rumah. Sedangkan sebelah kanan dan kiri ada tanaman lain, baik yang sengaja ditanam maupun tumbuh sendiri. Ubi jalar termasuk yang sengaja ditanam. Daun mudanya bisa direbus, dijadikan kulup. Ada suweg yang tumbuh sendiri. Ini jenis tanaman yang biasanya kami hindari. ‘Bikin gatal’..begitu kata ibu. Tapi umbinyaaa..enak banget. Saat siap panen, umbi dalam volume besar bisa dibagi dengan tetangga. Biasanya dikukus lalu dimakan bersama kelapa parut dan garam. 
Umbi Talas
Pada sisi kiri rumah, pada sisi-sisi selokan berjajar talas yang tumbuh liar. ‘Tanaman tolak mlarat’ kalau istilah ibu. Bagaimana tidak.. pohon mungil ini daunnya bisa dipake pembungkus ikan asin, digoreng. Batangnya dibuat lodeh. Dan umbinya bisa dikukus. 


Lalu nun jauh di sebelah utara, menyeberangi tegalan, adalah tanah yang punya aneka macam uwi. Tanah itu sebetulnya menjadi milik keluarga kami ketika aku kelas 5 SD. Ibu membelinya dengan harga murah. Tapi belum ada cukup uang untuk mendirikan bangunan di atasnya. Material dibeli sedikit demi sedikit hingga akhirnya bangunan berdiri saat aku kelas 2 SMP, saat kami sekeluarga pindah dari rumah dengan kebun singkong; rumah magersari milik Pak Lurah yang menaungi kami bertahun-tahun sebelumnya. Nah di tanah inilah ada banyak uwi yang entah tumbuh sendiri atau ditanam oleh pemilik sebelumnya. Satu yang unik dan tak terlupakan adalah umbi bernama katak. Aku belum menemukan ini kata latinnya apa. Dan istilah di daerah lain apa.

Katak adalah umbi gantung. Ada umbi besar di tanah, tapi pada dahan-dahannya yang menjalar, bermunculan umbi-umbi kecil ini. Besarnya tak lebih dari kelereng. Kami punya alat masak berupa panci-panci kecil dari gerabah. Dengan perapian dari batu bata yang kami temukan di lokasi, kayu seadanya, jadilah acara masak memasak si katak. Saat matang, tinggal pencet sedikit..kelupas, kunyah. Inilah cemilan anak kampung. Dan umbi-umbian memang menjadi salah satu cemilan kami. Hanya karena bentuknya yang besar dan butuh usaha ekstra untuk menggali, maka memang si kataklah yang cukup familiar di kalangan para bocah.

Umbi Garut
Ah ya, ada lagi: ganyong dan garut. Di tegal tetangga, yang masih tanah milik Pak Lurah, banyak tumbuh garut dan ganyong. Kalau kancil nyolong timun, maka kami nyolong garut dan ganyong hehe.. Sesungguhnya tak ingat persis apakah kami mencuri, mengingat tanaman umbi-umbian itu memang mendadak muncul di musim hujan. Mungkin awalnya memang ditanam, tapi berikutnya mereka tumbuh sendiri dan rasanya..rasanya memang tak pernah ada yang memanen (ga mau disebut mencuri 😂 ).
 
Umbi Ganyong
Aku suka ganyong. Bentuknya seperti lengkuas. Umbinya lebih empuk, dengan semburat rasa manis. Sedangkan garut ada tekstur serat dan terasa renyah, tidak empuk. Warnanya gading cantik, memanjang dengan ujung mengerucut. Di perkampungan dengan tanah pertanian dan perkebunan yang lebih luas, tanaman umbi-umbian ini lebih banyak ditemukan. Beberapa jenis umbi biasanya kami dapatkan dari oleh-oleh kerabat yang berkunjung, kerabat yang tinggalnya di daerah yang lebih kampung dari kami. Dan saat itu, selama berhari-hari umbi akan jadi cemilan. Pendek kata tak pernah terdengar kata “buuuuu, jajan....” , tak ada sampah plastik jajanan yang bertebaran, tak terlalu banyak keinginan. Seadanya, tapi semua tersedia dan tak perlu meminta lebih. Kenangan pada kesederhanaan yang membahagiakan..

Ada yang punya pengalaman yang sama?