Showing posts sorted by relevance for query spiritualitas. Sort by date Show all posts

Mengapa Kita Mengalami Pola Hidup yang Terus Berulang?

Apakah saat ini kamu baru menyadari jika sedang mengalami pola hidup yang berulang? Selamat! Jika kesadaran itu muncul, artinya kamu sedang dihadapkan pada kemungkinan menemukan solusi. Karena sebelumnya, selama ini, kamu menjalani pengulangan-pengulangan itu begitu saja, seolah tanpa kesadaran. Paling-paling sekadar celetukan, "Ih, kenapa, ya, gue terus-terusan ngalamin ini?" Alih-alih mencari tahu, yang terjadi malah mengabaikan. Ada yang lebih buruk: menyalahkan diri sendiri.  


Baca juga: Berkaca dari Kasus Tiara, Femisida dan Pencegahannya

Aku punya kawan, tiga kali menikah, tiga kali pula laki-lakinya bermasalah. Dan persoalannya mirip, nyaris sama. Tak perlu jauh-jauh, aku pun mengalaminya. Relasiku dengan lawan jenis nyaris selalu bermasalah. Aku juga punya kakak yang usahanya nyaris tak pernah berhasil, gagal di tengah jalan. Jadi, apa yang menyebabkan pola itu terus berulang?

Berikut aku coba paparkan dari dua sudut pandang. Disclaimer: ini bukan kebenaran yang harus diterima, karena pasti banyak sudut pandang yang lainnya. Kedua dua pandangan ini yang kututurkan di sini, karena aku mengalami keduanya. Aku pernah menjadi pasien psikiater, lalu pada masa yang lain hidup membawaku pada perjalanan spiritual.


Dari Tinjauan Psikologi dan Medis

Ada sejumlah hal yang menjadi penyebab terjadinya pengulangan pola hidup, dari beberapa sudut pandang.

Kalangan praktisi psikologi dan ahli kejiwaaan menyebutkan bahwa secara alamiah manusia mencari rasa aman melalui zona nyaman. Hal yang mudah dan efisien adalah menjalani kebiasaan otomatis, sehingga terjadilah habit looping, pengulangan-pengulangan kebiasaan. 

Ada bagian otak bernama Basal Ganglia yang punya peran merancang kebiasaan menjadi aktivitas yang otomatis. Ini dilakukan agar kita bisa menghemat energi dan tak melibatkan proses berpikir yang panjang. Contoh yang kudapatkan dari penjelasan dr, Ryu Hasan dalam sebuah podcast misalnya perihal berkendara. 

Saat kita memutuskan untuk berangkat dari rumah menuju tempat kerja menggunakan mobil, keputusan itu kita buat dengan pertimbangan logis. Tapi, setelah aktivitas kita saat mengambil kunci mobil, jalan ke garasi, menyalakan kunci kontak itu sudah mode autopilot. Begitu pula saat keluar rumah, kita ambil arah kiri-kana, memberi tanda sein, menyalakan klakson, dan seterusnya.

Demikian lebih kurang penjelasan pakar neurosains tersebut. 

Basal Ganglia inilah yang memegang kendali penuh saat sebuah kegiatan telah menjadi kebiasaan. Dengan begitu beban berpikir terkurangi karena korteks prefrontal atau bagian sadar otak bisa beristirahat. 

Mode autopilot ini adalah mekanisme otak untuk menghemat energi. Namun, di sisi lain, mode otomatis ini dapat membuat orang terjebak pada kebiasaan buruk yang sudah semestinya ditinggalkan agara dapat melanjutkan hidup dengan lebih baik. 

Baca juga: Tetap Bahagia dan Giat Berkarya saat Menjalani Hidup Sendiri

Penyebab lainnya adalah luka batin atau trauma. Peristiwa lalu yang menyisakan trauma juga dengan tanpa sadar menjebak kita pada habit looping. Misalnya saat orang memiliki trauma masa lalu, ada kecenderungan untuk mencari orang dan atau situasi yang sama. Di bawah sadar ada keinginan untuk "menyelesaikan" masalah yang telah jauh terlampaui tersebut. Terlebih jika berada dalam lingkup pergaulan dan lingkungan yang relatif sama, pengulangan pola hidup yang sama akan terus terjadi. 

Agar tidak terjadi pengulangan, diperlukan berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu terkait luka batin dan trauma. Jika tak mampu melakukan sendiri, sebaiknya berkonsultasi dengan ahlinya, dengan psikolog atau dengan psikiater jika sudah ada di fase membutuhkan pengobatan.

Baca juga: Berkenalan dengan Laku Spiritual melalui Buku Tantra


Dari Tinjauan Spiritualitas

Bagi para pejalan dan pendalam spiritualitas, cara pandangnya berbeda. 

Dari tinjauan spiritual, pola hidup yang berulang terjadi akibat jiwa yang masih membawa karma. Ada pelajaran hidup yang belum tuntas, dan hanya kesadaran untuk menerimanya sebagai upaya untuk memutus rantai karma dan menjalani hidup yang baru. Selain itu, cara menyikapi peristiwa dan kejadian yang sudah lewat juga menjadi faktor penting terjadinya pengulangan pola hidup.   

Perihal karma, setiap orang membawa karmanya masing-masing dari kehidupannya di masa silam. Bahwa jiwa hanya berpindah dari satu wadag ke wadag berikut yang sesuai dengan karakter awalnya. Dan kelahiran kembali itu disertai dengan karma. Karma yang dimaksud adalah konsekuensi dari perilaku kita. Dan konsekuensi itu akan mengikuti dalam setiap kelahiran baru. 

Baca juga: Doa, Meditasi, dan Vibrasi Energi

Apakah kamu sering mempertanyakan mengapa suatu hal bisa terjadi padamu, sedangkan kamu selalu berusaha melakukan sebaik-baiknya? Barangkali itu adalah konsekuensi dari perilakumu di masa lalu. Sesuatu yang tak bisa ditolak, hanya bisa diterima dan diputuskan rantainya secara sadar. 

Pada kesadaran di masa sekarang, kita dihadapkan pada cara kita menyikapi segala hal yang terjadi di luar diri kita. Misalnya perihal luka batin dan trauma. Emosi masa kecil yang terpendam secara bawah sadar dapat menarik peristiwa serupa untuk hadir di masa dewasa. Begitu pula dengan peristiwa tak menyenangkan yang tak direspons secara bijak, akan menjadi tumpukan emosi yang pada akhirnya akan menjadi pola yang berulang.

Hal lain yang--seperti halnya karma--barangkali tak cukup mudah diterima oleh akal adalah keterlibatan ikatan dengan leluhur, misalnya sumpah yang pernah diucap para leluhur. Beban energetik ini perlu disadari dan diputuskan secara sadar.

Baca juga: Kesadaran Spiritual, Hidup dalam Perspektif Baru

Apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki pola yang berulang ini?

Hal pertamanya tentu saja adalah menyadari apa-apa yang sedang terjadi. Pola apa saja yang terus berulang. Tanpa kesadaran itu, tak akan bisa mengambil langkah berikutnya.

Pada bagian karma dan ikatan leluhur, tak ada yang bisa kita lakukan untuk perbaikan atas apa yang sudah terjadi di masa lalu. Terima saja sebagai bagian dari perjalanan hidup dan melakukan yang terbaik di masa sekarang. Ada upaya yang bisa disarankan yakni "memutus rantai karma". Upaya ini bisa dilakukan sendiri jika mampu, atau meminta pertolongan ke orang yang mampu melakukannya. Untuk yang terakhir ini perlu ekstra hati-hati karena di masa sekarang banyak orang yang menjadikan spiritualitas sebagai "ladang" mengeruk uang. 

Sedangkan terkait dampak dari peristiwa di masa kini, baik trauma masa kecil maupun peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung, cukup dengan memunculkan kesadaran bahwa apa yang telah terjadi hanya perlu diterima sebagai bagian dari perjalanan. Memaafkan dan melepaskan segala emosi yang melingkupinya seperti marah, sedih, benci, dan lain-lain. Berdamai dengan masa lalu, plus mengubah cara dalam merespons segala stimulus yang datang dari luar. Stoik mengingatkan soal kendali diri. Apa-apa yang di luar kendali diri kita bukanlah bagian kita. Kita tak bisa mengubah orang lain; cara kita meresponsnya, itu yang lebih penting.  

Sekali lagi, seperti disclaimer di atas, catatan ini adalah dari pengalamanku dengan referensi yang juga berbaur di dalamnya. Teman-teman yang menghadapi persoalan yang sama mungkin akan menemukan cara penanganan yang lebih tepat. Jangan lupa untuk tetap dan terus melakukan aktivitas yang membuat diri gembira sekaligus bisa melepaskan bagian-bagian diri yang tak selaras. Menulis di blog ini juga salah satu upayaku, meski untuk urusan ilustrasi tak begitu pandai mengulik. Padahal konon ilustrasi canva mudah dilakukan. Oiya, bahasan soal mental health bisa coba baca-baca juga di Blogger Lolita.

Sehat-sehat semuanya, ya. Sehat, bahagia, selaras. Namaste.

Baca juga: Stoikisme dan Upaya Melakoni Hidup yang Lebih Baik

Kesadaran Spiritual, Hidup dalam Perspektif Baru

Istilah spiritual, spiritualitas, spiritualis belakangan hari banyak disebut-sebut. Apakah ini hanya semacam tren, ketika keseharian manusia dirasa itu-itu saja dan membosankan? Mengulik, mencari sesuatu yang berbeda untuk digaungkan sama-sama? Ataukah ada hal yang lebih mendalam, sesuatu yang memang sedang bergerak di tengah semesta raya ini? 



Baca juga: Letting Go, Sistem Pragmatis Melepaskan Diri dari Keterikatan dan Hambatan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), spiritual diartikan sebagai 'berhubungan dengan atau bersifat kejiwaan (rohani, batin).' Spiritual merupakan kata sifat. Kata bendanya, spiritualitas. Pelakunya, spiritualis. 

Definisi lain yang berlaku di khalayak umum, menjelaskan spiritual sebagai hal yang ada di dalam batin, ada dalam internal diri, sebagai kebalikan dari hal di luar diri atau eksternal. Sehingga orang yang melakoni hidup sebagai spiritualis, artinya mencari kebahagiaan ke dalam diri, bukan keluar. Pencarian kebahagian keluar seringkali mengarah kepada materialisme. Jadi, kuncinya terletak pada 'di mana mencari kebahagiaan.' Jika senyatanya pencarian adalah menuju ke dalam batin, orang tengah berada di jalur spiritual. 


Kesadaran spiritual

Istilah ini buatku paling pas. Ada yang menyebutnya spiritual awakening atau kebangkitan spiritual. Ada yang menyebutnya pencerahan. Kesadaran terasa lebih pas, karena sebetulnya, bisa jadi, semua orang telah melakukan perjalanan spiritual sedari lahir. Namun tidak dengan kesadaran penuh.  

Kapan kesadaran itu muncul? Pengalaman setiap orang berbeda. Pun respon terhadap kesadaran tersebut. 

Banyak kisah yang menunjukkan, kesadaran spiritual muncul pasca terjadinya peristiwa yang mendatangkan trauma hebat. Rasa sakit dan hari-hari yang terasa kelam, menjadikan orang menarik diri, melihat ke dalam diri, lalu muncul sebuah kesadaran baru. Ada kesadaran baru yang membawa serta energi untuk bergerak dari hal tak baik menuju kebaikan. Ada semangat baru untuk melakukan perubahan. Bahkan bukan semata bagi diri sendiri, melainkan bagi semua makhluk. Tak semua yang mengalami peristiwa buruk akan merespon panggilannya tersebut. Bisa jadi, sebaliknya, makin terjerumus pada perspektif yang lebih gelap. Kesadarannya terhenti, tidak bertumbuh. 

Dalam pertumbuhannya kemudian, kesadaran tersebut tak serta merta berjalan lancar. Sumbatan di sana-sini karena berbagai hal, baik faktor internal dalam diri maupun lingkungan. Banyak yang mengalami proses yang melelahkan, hancur, diabaikan oleh lingkungan, dianggap aneh oleh keluarga sendiri, dan masih banyak dampak yang tak umum lainnya. Ketika pilihannya adalah terus bertumbuh, maka energi pun akan makin berkembang, lebih besar dan bisa memberikan manfaat bagi kehidupan. 

Beruntunglah, jika berhadapan dengan peristiwa traumatis yang luar biasa menghantam jiwa. Beruntung dalam tanda petik tentu saja. Siapa sih yang mau mendapatkan pengalaman buruk? Tapi, dari pengalaman buruk tersebutlah pengalaman bangkitnya kesadaran lebih terasa. Ada hikmat yang terasa berbeda. Selebihnya, orang mengalami kesadaran spiritual lewat pembelajaran. Proses yang telah berjalan sedari kecil, hingga akhirnya tiba di satu titik yang membuat mereka menemukan kebenaran tentang diri mereka sendiri. 

Baca juga: Mengenali Karakter Orang lewat Zodiak dan Temperamen


Ciri-ciri orang yang mengalami kesadaran spiritual

Apakah ada ciri khusus dari orang yang mengalami kesadaran spiritual? Pengalaman tiap orang berbeda-beda. Namun, sedikitnya dua atau tiga hal di bawah ini kemungkinan besarnya teralami.

1. Keinginan untuk 'bersih-bersih'

Keinginan untuk lebih efisien, barangkali itu persisnya. Bukan sekadar tak ingin rumah terasa berantakan, melainkan kesadaran akan kondisi rumah yang berantakan akibat kelebihan barang. Maka muncullah keinginan untuk menyortir, barang yang masih diperlukan dan yang perlu segera disingkirkan. Demikian pula dalam pertemanan. Tak lagi menginginkan 'banyak kawan' melainkan 'cukup kawan yang berkualitas.' Kawan-kawan yang dirasa menghambat pertumbuhan jiwa, ditinggalkan. Hal-hal yang menghubungkan dengan racun masa lalu, disingkirkan. 

2. Keterhubungan dengan semesta

Tak cukup mudah menjelaskan tentang hal ini. Sederhananya, ada keinginan lebih kuat untuk dekat dengan alam. Ada keinginan baru untuk menyukai tanaman, mulai peduli bahkan merawat binatang, lebih memilih ke pantai atau gunung daripada pusat kota atau pusat perbelanjaan. Itu adalah contohnya. Kedekatan dengan komponen alam, terasa memberikan suntikan energi baru. 

3. Keinginan untuk terus belajar

Hal-hal yang selama ini sekadar tahu, setelah munculnya kesadaran spiritual, akan muncul keinginan untuk menggali lebih dalam. Misalnya mempelajari agama, budaya, dan bahasa orang lain. Atau yang sebelumnya tak begitu peduli dengan hal-hal yang berbau metafisik, berikutnya malah sibuk mencari sumber informasi tentang tema tersebut. Kondisi ini menandakan kita telah membuka hati dan pikiran akan hadirnya hal baru yang membutuhkan pembelajaran. 

4. Munculnya perasaan kesepian

Ujung dari pengusiran hal-hal yang menurut kita tak lagi tepat berada di kehidupan kita di masa kini, bisa jadi adalah kesepian. Mungkin tak ada lagi kawan tersisa. Tak ada yang bisa mengenali kita dengan baik. Tapi yang terjadi kemudian biasanya berupa penerimaan. Penerimaan akan diri yang 'berbeda' dengan orang lain. Penerimaan kalau orang lain yang sebaliknya memilih pergi karena kitanya yang dianggap aneh. 

Tak jarang, muncul perasaan tak nyaman saat berada di keramaian. Alhasil, sebagai gantinya dibutuhkan waktu untuk menyendiri. Semacam recharging energi.

5. Makin bisa menerima dan mencintai diri sendiri

Pada satu sisi, rasa kesepian datang. Namun pada sisi lain, lebih bisa berdamai dengan diri sendiri. Yang punya persoalan dengan masa lalu, dengan kesadaran barunya mulai melakukan pembenahan diri. Menerima dan memaafkan yang sudah lewat. Momentum ini menjadi hal yang berharga dalam proses pertumbuhan kesadaran spiritual berikutnya.

6. Menguatnya intuisi 

Perihal intuisi, pengalaman tiap orang juga berbeda-beda. Ada yang mendapatkan penglihatan lewat mimpi, atau intuisi yang menguat di wilayah pengetahuan dan perasaan tertentu. 

Pengalamanku pribadi, sebagai orang yang secara alamiah intuitif, aku merasakan perubahannya. Saat berhadapan dengan orang atau lingkungan baru, radarnya seolah langsung menangkap dengan cukup jelas, mana yang perlu didekati, dan sebaliknya, dihindari. Pernah, pada beberapa peristiwa, mengabaikan. Ketika sudah dipertemukan dengan ketidaknyamanan, lantas tersadarkan kalau sebelumnya, intuisi sudah mengingatkan. 

6. Meningkatnya kepekaan perasaan 

Hal ini masih terkait dengan intuisi. Pada cukup banyak pengalaman, aku sering mengalami mendadak sedih luar biasa atau gembira luar biasa. Tapi menyadari kalau itu bukan perasaanku, melainkan apa yang tengah dialami orang di sekitarku. Tak setiap kali. Masih harus diasah. Pun untuk bisa melakukan block. Terbayang kan, kalau setiap kali berjumpa dengan orang yang mengalami kesedihan, lalu, begitu saja, kita ikut menangis? Atau mengalami sakit kepala saat berhadapan dengan orang dengan kedengkian dan iri hati? Itu nggak enak banget. 

Kepekaan ini juga berlaku terhadap hal-hal di luar manusia. Seperti saat berhadapan dengan binatang, tanaman, makanan-minuman yang kita makan, dsb. 

Baca juga: Berkenalan dengan Laku Spiritual melalui Buku Tantra

Kesadaran spiritual yang terjadi pada masing-masing orang, tak sama. Ada yang serupa pengalaman mistis, mendapatkan kelimpahan energi yang luar biasa, namun juga ada yang berlangsung kalem. Yang sama adalah dampaknya terhadap kehidupan pribadi. Dengan bertumbuhnya kesadaran spiritual, tak lagi sibuk dengan urusan materi, hidup se-apa-ada-nya, mampu mengendalikan hasrat diri, dan lebih bijak dalam merespon segala hal yang datang ke diri. Kesadaran spiritual membawa diri hidup dalam perspektif baru, menempa diri menuju pribadi yang lebih baik.

Doa, Meditasi, dan Vibrasi Energi

Entah sudah berapa lama aku tak pernah mengatakan, "Doain, ya." Atau, "Aku doakan kamu baik-baik saja." Mengapa, tak percaya kekuatan doa? Bukan begitu. Tak ingin mengiyakan. Hanya ingin menyebutkan bahwa aku memilih cara yang lain. Bukan dengan doa. Pada intinya, aku meyakini Semesta mengenali apa yang kita inginkan bukan dari kalimat yang kita lafalkan, melainkan vibrasi energi yang kita keluarkan. Ini semata cerita soal pandangan dan pengalaman pribadi, tak bermaksud membuat teori, hipotesis, apalah ini dan itu. 



Baca juga: Apakah Kita Boleh Marah?

Dalam pembelajaranku yang masih cetek ini, ada beberapa hal yang kutemukan terkait doa. Memang, yang lebih disarankan kepadaku adalah bermeditasi, bukan berdoa. 


Doa dan Meditasi di Ranah Spiritualitas

Berdoa merupakan komunikasi satu arah. Kita berbicara kepada Tuhan. Sebaliknya, Tuhan tidak berbicara pada kita. Biasanya ada sederet permintaan atau permohonan yang disampaikan dalam komunikasi tersebut. Sewaktu kecil, pendetaku mengajarkan untuk berdoa sedetail mungkin. Jika menginginkan sesuatu, sampaikan spesifikasi hingga sedetail-detailnya. Atau misalnya memimpikan pasangan, buatlah gambaran sosok yang diinginkan itu dengan rincian yang sampai sekecil-kecilnya.   

Berapa lama kita berdoa, bagaimana kalau doa tak kunjung dikabulkan? Biasanya kita disuruh bersabar. "Jangan putus berdoa, mintalah terus. Allah Maha Pemberi." Demikian lebih kurang kata pendetaku, dulu. 

Dalam kondisi yang tertekan --atas penyebab apa pun, muncullah aneka prasangka buruk. Rasa kecewa. Lali mempertanyakan keadilan Tuhan: mengapa si itu begini, saya tidak; mengapa si ono begono, kok saya begini-begini saja. Karena demikianlah, manusia punya banyak kebutuhan dan keinginan yang mereka pikir tak bisa direalisasikan tanpa kekuatan Yang Maha di luar dirinya. Tak heran kalau tema soal "kekuatan doa" ini menjadi salah satu yang banyak dituliskan dalam buku, atau dewasa ini diwartakan dalam banyak siniar. Orang ingin doanya manjur. 

Ujungnya sering kali tak jauh beda. Kebahagiaan karena merasa doa dikabulkan, atau kecewa karena merasa doanya sia-sia. 

Baca juga: Kesadaran Spiritual, Hidup dalam Perspektif Baru

Sementara meditasi mengajak kita untuk berhening. Masuk ke dalam diri. Meyakini bahwa ada Tuhan dalam diri kita. Maka terciptalah dialog, komunikasi dua arah. Tidak ada permintaan dalam meditasi. Yang ada hanyalah mendengar kata hati yang merupakan pengejawantahan dari Sang Hyang Widhi. Ada kebijakan yang disampaikan, soal hikmah dari berbagai peristiwa, jawaban dari hal-hal yang menjadi pertanyaan kita. Yang muncul kemudian adalah rasa syukur yang dalam dan kegembiraan yang menghangatkan. 

Sebetulnya ada beberapa model meditasi. Namun secara umum adalah proses memahami setiap peristiwa hingga mendapatkan pengertian semesta. Meditasi menjadi salah satu praktik dalam spiritualitas yang sebetulnya memiliki makna yang sederhana, yakni proses mengenali kesadaran. Berangkat dari kesadaran itulah kita bisa menyelaraskan diri, melepaskan diri, membebaskan diri, sekaligus menyatukan diri.

Pada beberapa titik, baik doa maupun meditasi lahir dari suatu kebutuhan yang sama, yakni keinginan untuk lebih bahagia. Jika doa bertujuan mencari pertolongan dari Tuhan atau sosok transenden di luar diri manusia, meditasi melihat lebih ke akar. Bahwa persoalan ketidakbahagiaan atau penderitaan kita tidak berasal dari luar, melainkan buah dari batin kita sendiri.

Meski demikian, tak sedikit kalangan religius yang mempraktikkan keduanya, doa dan meditasi. 

Mengutip Mingyur Rinpoche, praktik meditasi bisa dilakukan oleh siapa pun. 

Jika Anda religius, maka meditasi akan membuat kehidupan doa Anda menjadi lebih khusyuk, eling, dan bertumbuh dalam welas asih dan kebijaksanaan.

Baca juga: Stoikisme dan Upaya Melakoni Hidup yang Baik


Manifesting Keinginan melalui Vibrasi Energi

Semesta tidak mengenali niat, hasrat, maupun keinginan kita. Semesta mengenali vibrasi energi kita. Ini yang kita kenal dalan teori dan prinsip Law of Attraction (LoA).

LoA adalah keyakinan bahwa Semesta akan menyediakan apa yang kita butuhkan. Dalam teorinya, alam semesta ini adalah sebuah getaran yang konstan. Apa yang ada di sekiling kita bergetar dalam satu frekuensi. Otak manusia memiliki kemampuan untuk menyerap semua getaran lalu mengubahnya menjadi realita. Otak mengeluarkan gelombang energi ke alam semesta, lalu energi itu akan dikembalikan kepada kita. 

Alam semesta akan mengantarkan kita untuk mewujudkan apa yang kita inginkan. Bagaimana caranya? Ada banyak catatan yang dapat kita temukan terkait cara mewujudkan keinginan melalui vibrasi energi kita. Termasuk tips berikut ini dari seorang kawan praktisi yang bisa dicoba:

1. Fokus, lakukan visualisasi hal yang diinginkan.

2. Lakukan aksi untuk mencapai hal yang diinginkan.  Pikiran dan perbuatan mesti sinkron dan selaras. 

3. Lakukan visualisasi lagi, bayangkan diri kita sudah menerima atau meraih yang diinginkan.

4. Berperilakulah seolah sudah menerima atau meraih yang diinginkan.

5. Lepaskan, kirimkan intensi pada semesta, percaya bahwa semua sedang berproses. Iklaskan.

6. Tunjukkan rasa terima kasih kepada Semesta, Tuhan, atau sosok apa pun yang kita muliakan. Bersyukur.

Hal yang penting yang perlu kita penuhi adalah memastikan bahwa kita berada dalam vibrasi energi yang tinggi. Artinya, hati kita dipenuhi dengan rasa syukur, cinta, damai, puas, dan menikmati hidup. Jika vibarasi rendah, seperti hati dipenuhi rasa terhina, tidak berharga, tidak puas berlebihan pada diri dan keadaan, putus asa, iri dengki, sombong, marah, maka manifestasi akan lebih sulit tercapai. Nah, yang terakhir ini aja sudah akan jadi PR besar, kan?

Baca juga: Aleph, Kisah Perjalanan Menemukan Diri

Namun, terlepas segala doa dan manifestasi itu berhasil atau tidak, bahwa kita bernapas saja merupakan hal yang patut disyukuri. Rasa syukur yang memampukan kita untuk senantiasa berusaha merayakan hidup. 

Namaste.


Slow Living, Pilihan Hidup yang Lebih Berkesadaran

Belakangan hari pilihan gaya hidup slow living banyak dijadikan bahasan. Tak kurang juga banyaknya komunitas yang mengambil tema ini. Sebagian orang mungkin memang secara alamiah telah menjalani hidup dalam irama yang lambat; sebagian yang lain bisa jadi menemukan bahasan soal slow living ketika sedang lelah-lelahnya menjalani hidup yang berkejaran; sebagian yang lain lagi kemungkinan sekadar FOMO saja. Mungkin loh, yaaa. Kamu, yang barangkali sejauh ini belum terpikir, bisa menimbang alternatif ini.



Baca juga: Permakultur dan Kunjungan ke Igirmranak

Aku sendiri sejak kecil terlatih menjalani frugal living. Baik secara alami maupun terencana. Secara alami karena kami tumbuh dalam lingkungan yang pas-pasan secara finansial. Secara terencana, setelah belajar lebih banyak hal terkait manajemen keuangan dan kebijaksanaan hidup secukupnya. Meski saat ini belum sepenuhnya bisa menjalani slow living, paling tidak setengah bagian prosesnya sudah terlakoni. Yang menjadikan slow living sebagai impian masa depan, santai saja. Yuk, jalani pelan-pelan.


Apa Itu Slow Living?

Aku lahir dan dibesarkan di desa. Sebagian besar aktivitas warga nyaris seragam. Bagi yang pegawai, pagi-pagi berangkat kerja, sore pulang. Begitu pula para pedagang pasar. Yang agak berbeda pedagang yang memiliki toko, jam bukanya lebih lama. Para petani pun demikian, tak jauh beda. Selebihnya mereka akan menghabiskan waktunya di rumah bersama keluarga. Sekali waktu kumpul dengan tetangga, misalnya bapak-bapak meronda, atau ibu-ibu arisan. Tak banyak pilihan aktivitas lainnya. 

Ketika perjalanan membawaku meninggalkan kampung halaman, ke Bandung--yang sebetulnya relatif tidak terlalu kencang ritmenya, setiap kali pulang kampung terasa betul kesenjangannya. Waktu seolah tidak bergerak. Slow motion. Nah, apakah kehidupan model begitu disebut slow living? Salah satu bagiannya mungkin iya, tapi hal mendasarnya mungkin berbeda.  

Slow living mengedepankan tentang kesadaran; menjalani hidup dalam ritme tenang, penuh makna, seimbang, sederhana, memilih kualitas daripada kuantitas dan semuanya dijalani dengan sepenuh kesadaran. Bukan hidup yang melambat karena tidak ada pilihan, apalagi malas. 

Baca juga: Olah Napas untuk Mental yang Sehat dan Hidup Lebih Berkesadaran

Sebetulnya kalau dilihat dari sejarahnya, konsep slow living ini bukanlah hal baru. Awalnya adalah orang-orang Italia yang bersekutu membuat Gerakan Slow Food di Italia pada dekade 80-an, sebagai bentuk protes dibukanya gerai fast food di Roma. Pelopornya, Carlo Petrini, menggarisbawahi soal pentingnya makanan berkualitas serta upaya bersama mempertahankan tradisi lokal serta mendukung kesejahteraan petani. Gerakan ini lalu berkembang menjadi konsep slow living yang lebih luas dengan menyentuh berbagai aspek dalam kehidupan. 

Jumlah pengikut konsep slow living mengalami peningkatan pesat setelah Carl Honoré menerbitkan buku In Praise of Slowness yang intinya mengajak orang untuk melambat; menjalani hidup dengan ritme yang lebih lambat. Tren slow living dianggap menjadi solusi bagi siapa pun yang mengalami stres atau ingin keluar dari rutinitas yang serba tergesa. 

Baca juga: Jeda dan Meditasi Bantu Redakan Pikiran yang Riuh


Mengapa Pilih Slow Living dan Bagaimana Memulainya?

Di salah satu grup media sosial bertema slow living yang kuikuti, bertebaran postingan orang yang berkisah tentang memulai slow living di desa, meninggalkan pekerjaan di kota yang sudah penuh sesak. Berikutnya muncul pertanyaan-pertanyaan: Apakah setelah pensiun orang baru bisa slow living? Apakah kalau sudah berhasil punya passive income baru bisa menjalani slow living? Apakah untuk slow living harus tinggal di desa? Apakah untuk menjalani slow living harus berusia 40 tahun ke atas? Apakah slow living artinya harus bertanam dan beternak? Dan aneka rupa pertanyaan lainnya. 

Jika mengacu pada penjelasan secara umum apa itu slow living, tentunya sudah langsung terjawab. Jika slow living membutuhkan prasyarat seperti pertanyaan-pertanyaan di atas, sebagian besar orang bisa jadi tak akan pernah punya kesempatan untuk menjalani slow living.

Karena secara hakikat slow living adalah tentang menjalani hidup dalam ritme tenang, penuh makna, seimbang, dan sederhana dengan sepenuh kesadaran, konsep ini bisa dijalankan oleh siapa pun, kapan pun, dan di mana pun. 

Baca juga: Sembuhkan Penyakit Metabolik dengan Puasa dan Diet Keto

Berikut ini langkah yang bisa kita lakukan untuk menjalankan slow living. Bisa dimulai dengan langkah kecil berupa kebiasaan dalam keseharian.

1. Mengubah kebiasaan makan. Kalau sebelumnya makan dalam keadaan tergesa, kini lambatkan ritmenya dengan cara menikmati setiap suapan. Sembari mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membuat makanan tersebut bia tersaji di depan kita dan bisa dinikmati. Sembari dibarengi permohonan kepada Semesta, Tuhan, Sang Hyang Widi, apa pun kalian menyebut Sang Ilahi untuk mencukupkan rezeki bagi semua orang terutama mereka yang sedang mengalami kesusahan.

2. Tinggalkan kebiasaan multitasking. Salah satu hal yang kusadari pada waktu-waktu terakhir adalah kesulitas fokus, barangkali itu semacam brain fog. Hal ini terjadi karena selama ini terlalu banyak melakukan beberapa pekerjaan sekaligus secara bersamaan atau multitasking. Pada masanya itu membanggakan. Tapi belakangan baru kusadari dampaknya. So, tinggalkan multitasking, mulailah mengerjakan sesuatu, satu per satu hingga tuntas, baru berpindah mengerjakan hal lain.

3. Batasi interaksi dengan media sosial. Seberapa sering kamu menyadari bahwa media sosial begitu menyita waktu dan perhatianmu? Sekali bercokol di depan HP, berapa banyak akhirnya waktu yang kamu habiskan di sana, menyelam ke berbagai medsos? Yang tadinya hanya sekadar mengecek, yang terjadi malah meninggalkan aktivitas sebelumnya dan lupa dengan tujuan semula. Pelan-pelan, beri diri sendiri jatah membuka media sosial setiap harinya.  

Baca juga: Kesehatan Mental dalam Skala Hawkins

4. Sediakan waktu untuk diri sendiri. Yang dalam bahasa gaulnya "me time" itu memang sungguh-sungguh diperlukan dan ada manfaatnya, lo. Jika diperlukan ingat-ingat ulang apa saja hobi yang tak pernah dijalankan lagi. Membaca, berkebun, nonton, menggambar atau melukis, dan aktivitas hobi lainnya yang menyenangkan dapat membantu melepaskan stres. 

5. Praktikkan teknik hidup berkesadaran. Pada dasarnya hidup berkesadaran adalah hidup "di saat ini". Praktiknya adalah menjalankan segala sesuatu dengan kesadaran penuh; kesadaran bahwa kita hidup di saat sekarang, bukan masa lalu yang menyakitkan dan bukan masa depan yang penuh ketidakpastian. Dengan begitu hari-hari bisa dilalui dengan gembira, tanpa kecemasan dan emosi negatif lainnya yang secara langsung dan tidak langsung dapat meningkatkan kualitas hidup. 

6. Mendekatkan diri dengan alam. Aku tak menemukan referensi terkait hal ini. Namun, faktor alam menurutku penting. Buatku, slow living adalah bagian dari pembelajaran spiritualitas. Dan alam adalah guru yang mumpuni dalam soal mengasah spiritualitas.  

Gambaran di atas lebih melengkapi jawaban untuk pertanyaan sebelumnya, kan? Jadi, pilihan slow living bukan hanya untuk kalangan 40 tahun plus, kalangan pensiunan, kalangan yang sudah punya passive income

Namun, sepertinya tetap, ya, S&K berlaku. Urusan finansial paling tidak sudah aman dan tidak punya tanggungan meskipun belum punya passive income. Kamu akan kesulitan menjalani hidup yang tenang jika punya hutang dalam jumlah besar, atau hutang di mana-mana. Meski sudah berusaha hidup sederhana dengan mengatur pola konsumsi, pada tingkatan tertentu tetap akan menyulitkan. Sambil menyiapkan semua perangkat, bisa mulai belajar soal perencanaan keuangan.

Pada akhirnya menjalani slow living memang sangat personal. Hitungan, takaran, dan pertimbangan tiap orang berbeda-beda. Hal yang utama adalah bagaimana konsep ini membantu kita untuk hidup sebaik-baiknya, bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain, serta makhluk dan alam sekitar.

Apakah Kita Boleh Marah? (Tips Mengatasi Amarah)

Setiap orang pasti pernah dihadapkan pada situasi yang memancing kemarahan. Yang membedakan adalah cara mengeksekusinya. Apakah dengan meluapkan kemarahan dengan teriakan, dengan menekannya hingga ambang batas kemampuan, dengan menyerang orang lain atau sebaliknya, dengan menyakiti diri sendiri. Proses hidup seseorang tentunya akan mempengaruhi cara menyikapi kemarahannya. Tapi, sebetulnya apakah kita boleh marah?



Baca juga: KBS dan Upaya Membebaskan Diri dari Kemelekatan

Sebetulnya, ya sah-sah saja orang memutuskan menyalurkan kemarahannya dengan cara apa. Namun banyak referensi yang menyebutkan, kemarahan hanya memunculkan luka yang lebih dalam. Baik luka untuk diri sendiri maupun orang lain yang terkena imbasnya. 


Every time you get angry, you poison your own system.

~Alfred A Montapert~


Mari kita kenali dulu, rasa marah itu sebetulnya makhluk apa. 

Mengutip dari tinjauan dunia kesehatan, medicinenet.com menyebutkan rasa marah sebagai keadaan emosional dengan intensitas beragam, mulai dari yang ringan hingga kemarahan intensitas tinggi. Kemarahan pada umumnya memberikan efek fisik seperti meningkatkan tekanan darah, detak jantung, serta tingkat adrenalin dan noradrenalin. Penyebabnya pun aneka macam. Namun biasanya dipicu oleh beberapa kebiasaan buruk yang berakibat pada kurangnya waktu tidur, adanya gangguan kecemasan bahkan hingga depresi, dan gangguan fisik akibat hormon yang tak stabil. 


Jadi, kita nggak boleh marah? Boleh saja, selagi sehat. Marah yang sehat seperti apa sih?

Begini. Pernah nggak berjumpa dengan kasus orang mengungkapkan ketidaksukaannya, kekesalannya, kemarahannya berulang kali? Atau kita sendiri mungin pernah melakukannya. Padahal, sebuah peristiwa yang memunculkan rasa tak nyaman, jika disampaikan berulang, lagi dan lagi, seolah memberinya pupuk untuk makin tumbuh kuat. 

Rasa marah dibutuhkan jika ada hal yang salah terjadi di sekitar kita. Hal yang mengganggu idealisme atau prinsip kita, atau menyinggung wilayah personal kita. Jika sudah menyampaikan rasa tak nyaman atau bahkan keberatan kita, tapi tak digubris, saatnya menunjukkan kemarahan. Tunjukkan, sampaikan, selesai. 

Semestinya selesai. Kalau yang terjadi ada cerita yang sama kembali disampaikan ke orang lain lagi, ke banyak orang, itu kemarahan yang berujung bencana. Bukan lagi kemarahan yang sehat. Bukan bencana terhadap orang lain, melainkan ke diri sendiri. Memendam sumber penyakit.

Mengutip catatan dari pengobatan tradisional China, kemarahan memberikan ketegangan tertentu terhadap tubuh kita. Tidak rileks. Badan pun mengalami kelelahan. Selain itu beberapa dampak ikutannya antara lain mengalami kerontokan rambut, jantung berdebar, mata merah, tangan kebas, kepala terasa panas, pikiran liar tak terkendali, dan kesulitan tidur atau tidur tidak nyenyak.

Baca juga: Kesadaran Spiritual, Hidup dalam Perspektif Baru


Apa yang bisa kita lakukan agar bisa berdamai dengan pemicu kemarahan dan menjalani hidup yang lebih sehat?

Ada cukup banyak upaya yang dapat kita lakukan agar kita tidak lepas kontrol saat berada dalam kemarahan. 

Mengunci mulut. Mungkin ada yang menyarankan untuk berteriak. Oke, berteriak di tempat yang aman dan tak mengganggu orang lain, bisa diterima. Tapi, selebihnya, tutup mulut dan menjaga bicara, lebih baik. Dalam kondisi emosi yang tak terkontrol, bisa berupa gerutuan, omelan, bahkan omongan-omongan kasar disertai teriakan. Hal-hal yang sebetulnya tak sungguh-sungguh ingin dilakukan, kalimat-kalimat yang tak ingin dikatakan. Jangan sampai akhirnya malah melukai orang yang mendengarnya. 

Melakukan relaksasi. Ada beberapa pilihan relaksasi, bisa disesuaikan dengan kebiasaan dan karakter diri. Misalnya:

1. Bernapas dengan teratur. Bernapas adalah hal yang bukan hanya mudah dan murah, namun juga harus dilakukan demi pasokan oksigen di tubuh kita. Masalahnya, saat emosi marah mengusai, pola bernapas kita pun cenderung tidak teratur. Terburu-buru dan makin membuat kita lelah.

Ambil jeda barang sebentar, untuk menstabilkan pernapasan. Yang pertama, ambil napas pelan melalui hidung, lalu lepaskan perlahan melalui mulut. Niatkan sekalian melepaskan emosi yang tersimpan. Saat sudah mulai agak nyaman, bernapas seperti biasa, tarik dan keluarkan lewat hidung. Pelan dan teratur. Sadari setiap tarikannya. Jika sudah terbiasa, pola pernapasan ini bisa diteruskan smabil melakukan aktivitas lainnya. 

2. Mendengarkan musik. Pilih musik yang disukai, yang mendatangkan nuansa riang. Atau pilih yang temponya membuat suasana nyaman dan mengahdirkan rasa tenang, seperti musik klasik, akustik, atau instrumentalia. Musik bersifat universal. Meskipun belum kenal dengan musik tertentu, jika sesuai yang dibutuhkan tubuh, pasti akan ternikmati. Secara umum musik membantu melepaskan hormon dopamin, si pencipta rasa senang dalam tubuh. 

3. Berhitung. Aku sendiri belum pernah melakukannya. Tapi layak coba. Barangkali berhitung ini bisa dilakukan tepat saat emosi marah baru muncul. Solusi pertama sebelum melebar ke mana-mana. Berhitung mulai dari angka satu hingga jumlah yang diinginkan, ulang. Lakukan hingga perasaan lebih longgar. 

4. Pergi ke spa atau tempat pijit. Kemarahan dan emosi negatif menarik tubuh ke dalam kondisi lelah secara fisik. Tak ada salahnya untuk sekalian memanjakan diri dengan mengunjungi spa atau tukang pijit langganan. Pijatan itu selain melemaskan otot yang kaku, dapat membantu meredakan kelelahan psikis. 

Baca juga: Berkenalan dengan Laku Spiritual melalui Buku Tantra


Melakukan aktivitas fisik/nonfisik. Pilihan kegiatannya juga beragam, misalnya:

1. Berolahraga. Aktivitas fisik dapat melancarkan peredaran darah. Tubuh pun lebih bugar. Idealnya, yang namanya olah raga memang harus dilakukan teratur. Namun saat rasa marah menyerang, cobalah untuk melakukan olah raga ringan, seperti lari kecil atau lompat tali. Kalau masih terlalu berat, bisa melakukan jalan kaki. Gerakan fisik itu menjadikan tubuh memproduksi hormon positif. 

2. "Berdialog" dengan hewan dan atau tanaman. Berdialog dalam tanda petik, karena tak semua orang nyaman melakukannya. Namun bagi yang memiliki kedekatan dengan binatang dan tanaman, upaya ini sangat membantu. Apakah sekadar melampiaskan kekesalan yang dipendam, atau bicara tentang hal-hal yang lain. Belum pernah coba? Coba, deh, siapa tahu cocok.

3. Menulis. Tuliskan apa yang mengganggu pikiran, apa-apa yang menjadi keresahan. Kemarahan hanyalah dampak, pencetusnya yang perlu dicari tahu. Dengan menuliskannya, siapa tahu bakal ketahuan apa yang menjadi penyebab kemarahan. Tuliskan saja emosi yang muncul. Atau menuliskan hal-hal yang belakangan menjadi masalah. Tuliskan saja tanpa memikirkan sistematika tulisan. Dengan menuliskan, setidaknya memindahkan sebagian beban di pikiran ke media lainnya. 

4. Mengucapkan kata-kata positif dan afirmasi. Kata-kata itu punya kuasa, lo. Pilih kata-kata yang tepat, dan jadikan serupa mantra. Ucapkan secara berulang. Misalnya sekadar "semua akan baik-baik saja" atau "semua akan indah pada waktunya" atau "ada hal yang baik yang datang setelah ini", dsb. Secara psikologis, pengucapan "mantra" tersebut dapat membantu meredakan emosi, dan kemarahan pun berangsur hilang. 

5. Mengalihkan fokus ke kegiatan spiritual. Perihal spiritualitas ini beragam implementasinya. Bagi kaum beragaman mungkin akan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui ritual keagamaan. Sementara kalangan spiritualis memilih untuk melakukan meditasi. Misalnya. Tapi dari pengalaman, spiritualitas membawa ketenangan dalam diri. 

Ketika upaya yang dilakukan secara mandiri tersebut tidak memberikan hasil yang memadai, mungkin sudah membutuhkan saran dari orang yang kompeten di bidangnya seperti psikolog, psikiater, atau terapis. Dengan latar belakang keilmuan dan pengalaman mereka, persoalan emosi yang meledak atau kemarahan bisa diurai penyebabnya dan dibantu carikan jalan keluar. 

Baca juga: Stoikisme dan Upaya Menjalani Hidup yang Lebih Baik

Hal lain yang bisa dilakukan untuk membarengi semua upaya itu adalah dengan mengikuti tips para spiritualis Timur, yakni perihal makanan. Mereka menyarankan kita konsumsi lebih banyak sayuran dan buah-buahan dan sebisa mungkin menghindari daging merah. Memilih makanan yang tepat juga dapat membantu kita “membersihkan” jiwa. 

Semoga beberapa tips di atas cukup membantu, ya. Jadi, apakah kita boleh marah? Selagi kita tahu betul batasnya. Semoga bisa terjaga, fisik dan psikis kita, dan bisa menjalani hidup lebih bahagia. Namaste.




Sugeng Tindak, Pak Jakob Oetama

Sebagai penyiar Radio Sonora Bandung, saya menjadi bagian dari keluarga besar Kompas Gramedia. Meski hanya sebagai penyiar freelance, dan meski tak pernah berjumpa langsung dengan Pak Jakob, tetap saja, kepergiannya memunculkan rasa kehilangan. Karena Jakob Oetama bukan semata pemimpin dan pendiri Kompas Grup, namun sosok yang dapat dijadikan teladan oleh semua yang berkecimpung di dunia media.



Ya, hari ini (Rabu, 9/9/2020), Pendiri Kompas Gramedia sekaligus Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama berpulang. Kabar pertama saya temukan di wag kampus, kawan-kawan seangkatan. Sebagai pembelajar kajian jurnalistik, nama almarhum tentu saja sangat akrab buat kami. Jauh sebelum saya bergabung dengan grup Kompas. Langsung cari beberapa sumber berita. Termasuk rilis yang dibagikan Corporate Communication Director Kompas Gramedia, Rusdi Amral. Cek di media sosial, beberapa kawan membagikan kenangan bersama almarhum. Di antaranya tersebutkan, Jakob sempat dalam perawatan tim medis RS Mitra Keluarga Kelapa Gading hingga menghembuskan nafas terakhir pada pukul 13.05, pada usianya yang ke-88 tahun. 

Mengutip catatan Trias Kuncahyono, Jakob pernah berujar kalau keberadaan Kompas adalah providentia Dei. Penyelenggaraan Allah. “Saya seorang wartawan, bukan pengusaha. Saya pernah menjadi guru, dan sampai sekarang tetap seorang guru. Mas tahu kan, dalam providentia Dei ada pemeliharaan, ada perlindungan, ada penyertaan, dan jangan lupa ada campur tangan. Ya, campur tangan Tuhan. Itulah providentia Dei. Dan, Kompas bisa menjadi seperti sekarang ini karena providentia Dei.” Demikian kutipan di triaskun.id

Jakob Oetama memang seorang guru. Profesi guru pernah dilakoninya, yakni sebagai pengajar di SMP Mardi Yuwana Cipanas, Sekolah Guru Bagian B (SGB) Lenteng Agung Jagakarsa, dan SMP Van Lith Jakarta. Memang cita-citanya sedari belia, menjadi guru seperti ayahnya. Sementara minatnya menulis tumbuh berkat belajar Ilmu Sejarah. Saat mengajar SMP, ia mengikuti Kursus B-1 Ilmu Sejarah hingga lulus. Mengikuti minatnya, Jakob melanjutkan kuliah ke Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta dan Jurusan Ilmu Komunikasi Massa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada hingga tahun 1961. Pekerjaan bidang jurnalistik diawali Jakob sebagai redaktur majalah Penabur Jakarta. Pada 1963, bersama Petrus Kanisius Ojong (alm), Jakob Oetama menerbitkan majalah Intisari yang menjadi cikal-bakal Kompas Gramedia. Yang menonjol dari seorang Jakob adalah kepekaannya pada masalah manusia dan kemanusiaan. Hal yang kemudian menjadi spiritualitas Harian Kompas, yang terbit pada 1965. 


Tahun demi tahun berjalan, dan Kompas Gramedia kemudian berkembang menjadi bisnis multi-industri. Namun Jakob Oetama masih menyebut dirinya sebagai wartawan. Menurutnya, “Wartawan adalah Profesi, tetapi Pengusaha karena Keberuntungan.” Memang, semasa hidup, Jakob Oetama dikenal sebagai sosok sederhana. Ia selalu mengutamakan kejujuran, integritas, rasa syukur, dan humanisme. Di mata karyawan, Jakob dipandang sebagai pemimpin yang "nguwongke", dan tidak pernah menonjolkan status atau kedudukannya. Almarhum berpegang teguh pada nilai Humanisme Transendental yang dijadikan fondasi Kompas Gramedia. Idealisme dan falsafah hidupnya telah diterapkan dalam setiap sayap bisnis Kompas Gramedia yang mengarah pada satu tujuan utama, yaitu mencerdaskan kehidupan Bangsa Indonesia. 

Jakob Oetama menerima banyak penghargaan semasa hidupnya. Di antaranya Bintang Mahaputra Kelas III (Bintang Utama) pada masa pemerintahan Orde Baru. Ia menerima gelar kehormatan Doktor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada pada 2003. Lifetime Achievement Award ia dapatkan dari lembaga dalam dan luar negeri. Dari Pemerintah Jepang ia menerima Bintang Jasa The Order of The Rising Sun dan Gold Rays with Neck Ribbon. Dan masih banyak yang lainnya. 


Selamat jalan, Pak Jakob... selamat berpulang...


Manifestasi, Upaya Mengaktifkan Pikiran Bawah Sadar

Manifestasi ini menjadi salah satu bahasan yang mengemuka di sebuah grup yang mengusung tema spiritualitas yang kuikuti. Ternyata, topik ini menjadi salah satu yang populer di media sosial. Banyak influencer dan konten kreator yang membuat postingan terkait teknik manifestasi. Sesuatu yang sedang banyak diminati rupanya. Tapi, baiklah, aku tetap akan coba share beberapa bagian materi yang menjadi bahan diskusi kami. Dengan menulis tentunya sambil mengeja ulang apa yang sudah kubaca. Seberapa memungkinkan catatan tentang manifestasi ini dipraktekkan dan memberikan dampak bagi kehidupan. 

Baca juga: Doa, Meditasi, dan Vibrasi Energi

Sebagai orang yang terhitung skeptis, soal manifestasi nyaris tak ada dalam ranahku. Tapi, belakangan hari mencoba untuk tidak menafikan kemungkinan-kemungkinan yang terbuka lebar di semesta raya ini. Lalu muali mengeja satu per satu catatan yang dibagikan oleh kawan-kawan. Special thanks untuk Mbak Putu yang sudah berinisiatif membuka diskusi.


Manifestasi dan LoA

Sesungguhnya, manifestasi bukanlah hal baru. Sejak berabad-abad lalu, praktik ini telah dilakukan oleh para ahli spiritual. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kehidupan yang lebih memuaskan dan membahagiakan dengan mengandalkan pola pikir. Yang dimaksud pola pikir di sini adalah menjadikan sesuatu sebagai bahan pikiran untuk diwujudkan dalam kenyataan. Manifestasi adalah proses menciptakan atau membawa sesuatu dari dunia pikiran atau gagasan ke dalam kenyataan fisik. Ini melibatkan penggunaan daya pikir, perasaan, visualisasi, dan keyakinan untuk mewujudkan keinginan atau tujuan tertentu dalam kehidupan nyata.

Apa bedanya dengan LoA atau Law of Attraction (hukum tarik-menarik)?

Dapat dikatakan LoA adalah bagian dari manifestasi. Dalam manifestasi ada tindakan aktif yang perlu dilakukan. Ada banyak teknik atau metode. Tapi secara umum, metode manifestasi adalah menuliskannya, mengafirmasi, memvisualisasikan, dan dibarengi dengan meditasi.

Menuliskan. Langkah pertama manifestasi adalah menuliskan secara detail realitas yang ingin kita wujudkan. Kita hanya menuliskan hal-hal yang memang kita harapkan terjadi dan mendukung hidup kita lebih bahagia, dan menganggap hal-hal tersebut sudah terjadi. 

Mengafirmasi. Melakukan afirmasi positif dapat menjadi pendorong untuk kita konsisten dalam menerapkan manifestasi tertentu. Pikiran negatif dapat menggagalkan manifestasi kita. Karenanya, proses afirmasi ini sekaligus dapat membantu kita untuk membangun energi positif. Mbak Fiona, kawan lifestyle blogger pernah membuat catatan soal gangguan kecemasan. Cek-cek deh, kalau ini menjadi salah satu hal negatif yang masih kita rangkul.

Memvisualisasikan. Ambil waktu secara khusus untuk membuat visualisasi tentang impian yang ingin diwujudkan. Lengkap dengan detailnya, misalnya saat kita memimpikan berada di suatu tempat, bayangkan detail desain ruang, furniture, aneka kelengkapan yang ada di dalamnya, termasuk suasana seperti alunan debur ombak atau semarak kicauan burung. Lakukan visualisasi pada sebelum tidur dan sesaat setelah bangun.

Bermeditasi. Siapkan beberapa skenario terkait beberapa mimpi kita. Lalu pilih salah satunya untuk direnungkan pada satu waktu saja. Buat ikatan emosi secara khusus hingga masuk dalam alam meditasi. 

Baca juga: Empati dan Seni Berkomunikasi 

Itu dia beberapa cara yang bisa dilakukan dalam mewujudkan manifestasi yang kukutipkan dari sejumlah sumber. Jika ada informasi lain yang cukup mendukung, bisa ditambahkan. 


Manifestasi menurut Neville Goddard

Tidak ada kekuatan di luar kesadaran Anda sendiri. (Neville Goddard)

Neville Goddard (NG) dikenal sebagai salah satu guru manifestasi yang populer dengan ajarannya tentang Hukum Asumsi. Hukum ini menyebutkan bahwa apa pun yang kita anggap benar dapat menjadi kenyataan. Hanya dengan berasumsi, keinginan bisa menjadi kenyataan? Ya! Syaratnya: percaya.

Menurut NG, kita sering kali meragukan bahkan tidak mempercayai harapan sendiri. Dari pernyataan bahwa "kamu bisa" atau "kamu tidak bisa" keduanya bisa benar. Keduanya bisa menjadi kenyataan sesuai dengan yang dimanifestasikan. 

Caranya adalah dengan menyimpan semua asumsi ke dalam pikiran bawah sadar. Dan cara terbaik dalam menanamkan asumsi baru yakni dengan menggunakan imajinasi. Menurut NG, pikiran bawah sadar kita tidak bisa membedakan antara pikiran nyata atau sebatas bayangan di kepala. Artinya, jika kita membayangkan hidup kita seperti apa yang menjadi keinginan kita secara berulang, pikiran alam bawah sadar kita akan melakukan internalisasi hal itu sebagai kebenaran. 

Baca juga: Letting Go, Sistem Pelepasan Diri

Langkah yang disarankan oleh NG: 

Buat adegan imajiner. Adegan yang dimaksud adalah hasil akhirnya, ending dari kenyataan yang kita harapkan. Buat imajinasi sedetail mungkin. Tak perlu dipikirkan caranya. Tak perlu sibuk khawatir dengan proses yang rumit, abaikan. Hanya pikirkan hasil akhirnya saja. Bahwa gambaran itu nyata sudah terwujud dalam hidup kita. Jangan lupa untuk memasukkan semua panca indra kita. Jika cukup membantu terasa hidup, bisa ditambah dialog dalam visualisasi tersebut. 

Bayangkan pada setiap menjelang tidur. NG merekomendasikan berlatih visualisasi ini dalam keadaan meditatif yang disebut kondisi "hypnagogic sleep paralysis" atau keadaan antara tidur dan terjaga. Saat kondisi santai, pikiran sadar kita melandai. Saat yang teoat untuk memasukkan asumsi baru dalam pikiran bawah sadar kita. Buatlah seolah-olah kita sedang berada di tempat kejadian. Kita menyaksikan realitas yang kita inginkan, lengkap dengan detailnya seperti yang kita bayangkan dalam langkah pertama. Lakukan hal tersebut hingga kita terlelap.  

Yakinkan alam bawah sadar hingga imajinasi kita terwujud. Jika kita berhasil membuat kesan pikiran bawah sadar kita dengan asumsi baru, menurut NG, asumsi itu akan mewujud dalam realitas kita. Berapa lama waktu yang dibutuhkan? Setiap orang prosesnya akan berbeda. Menurut NG, hal itu bergantung pada seberapa konsisten kita dengan visualisasi yag kita lakukan. Selain itu, seberapa baik kita merasakan "seolah-olah keinginan telah terwujud". Seberapa besar keyakinan yang ada di alam bawah sadar kita berpengaruh terhadap proses keinginan itu termanifestasikan. 

Sempat menjadi pertanyaanku: apakah keinginan itu tidak akan memicu kita untuk berekpektasi berlebihan?

Keinginan adalah sesuatu yang wajar. Ini yang sering disalahartikan. Orang takut dengan keinginannya. Padahal, keinginan menunjukkan bahwa kita masih manusia, bahwa hal itu dapat menjadi pendorong untuk kita maju. Melakukan lebih dari sekadar kita terima. Sah-sah saja. Yang tak diperkenankan adalah kemelekatan terhadap keinginan itu.

Baca juga: Berhati-hatilah dengan Siapa Kamu Bercinta

Mulai sekarang: 

  • Jalani hidup sebagai orang yang sudah menjadi apa yang ada dalam bayangan kita. Menjadi orang yang lunas hutangnya, hidup dalam segenap keyakinan bahwa itu sudah mewujud, karena pasti mewujud. Abaikan alam 3 dimensi. Karena alam tiga dimensi akan mengikuti apa yang kita imajinasikan. Sekalinya pikiran bawah sadar terimpresi sempurna dengan bayangan lunas hutang, dia tak punya pilihan selain mewujudkannya.
  • Input keadaan yang lebih baik ke pikiran bawah sadar, supaya segera pindah dimensi. Bergeser ke alam yang kita bebas utang. Bayangkan yang baik-baik saja, segila mugkin, setinggi mungkin, asalkan yakin akan terwujud.
  • Sadari bahwa semua yang ada di luar adalah hologram, energi yang memadat sehingga bisa dialami oleh indra kita. Ada energi lain secara paralel di luar diri kita yang bisa kita alami juga. Indra ragawi melakukan penyaringan, bahwa dia hanya bisa mengalami satu saja alam yang paling dipercayai oleh pikiran sebagai kebenaran. Itulah yang dipilih untuk dialami. 
  • Jalani hari-hari dengan rasa bersyukur dan perasaan yang baik, karena setiap detik kita sedang menuju ke sana. 

Tidak ada kekuatan lain di luar diri kita yang dapat mencegah terwujudnya harapan. Semua yang bisa dibayangkan dapat menjadi sebuah keniscayaan untuk perwujudannya. Bayangan itu sudah ada di dimensi lain. Selamat melakukan manifestasi. Namaste







KBS dan Upaya Membebaskan Diri dari Kemelekatan

Saat menulis ini, aku sedang mengikuti Kelas Berbenah Sadis (KBS). Sudah hari ke-11. Bagian yang terhubung denganku dari kelas ini adalah soal kemelekatan, hal yang beberapa tahun terakhir menjadi PR, sekaligus topik yang sedang terus kugali. Tentang bagaimana orang terus berupaya untuk membebaskan diri dari kemelekatan yang membelenggu.  



Baca juga: Stoikisme dan Upaya Menjalani Hidup yang Baik

Bahasan tentang kemelekatan ini dapat kita temukan dalam banyak kajian. Dalam filsafat, agama, spiritualitas, dll. Masing-masing dengan pemahamanan yang bisa dimengerti pengikutnya. Namun intinya sama, berusaha membebaskan diri dari penderitaan akibat kemelekatan.


Memahami Konsep Kemelekatan

Jika kau menginginkan kesenangan, sepenuhnya lepaskan semua kemelekatan. Dengan melepaskan semua kemelekatan, kesenangan paling sempurna ditemukan. Selama kau mengikuti kemelekatan, kepuasan tidak akan pernah ditemukan. Siapa pun menjauhi kemelekatan, dengan kebijaksanaan mencapai kepuasan. (Dhamma Buddha)


Pertanyaan yang sering muncul dari konsep ini adalah, “Kalau kita menghilangkan rasa melekat, nanti kita kehilangan kasih sayang kepada orang-orang yang selama ini kita cintai?"

Yang sesungguhnya, kasih sayang berbeda dengan kemelekatan. Kasih sayang menumpukan fokus kepada orang lain. Orang bule menyebutnya unconditionally love. Ketika kita semata memikirkan kepentingan orang lain yang kita pedulikan. Sebaliknya, kemelekatan berpusat pada ego. Demi kepuasan diri sendiri. 

Kapan hari, topik ini sempat menjadi bahasan grup WA terbatas. Ada sebuah pengalaman, mencermati pola interaksi beberapa orang yang kemudian kusimpulkan bahwa orang yang memberi bisa jadi bukan karena ingin memberi, melainkan ada kebutuhan eksistensi diri. Jika tak memberi seolah tak lagi menjadi "seseorang". 

Mendapati pernyataanku itu, seorang kawan di grup menimpali. Ia punya pengalaman itu. Suatu saat ia menyadari, saat memberi ada kepuasan tersendiri. Ia pun langsung mengevaluasi diri, kalau ternyata ia sudah memberi makan egonya. Senang rasanya mendapati kawan yang satu frekuensi. Bisa belajar bersama dan saling mengingatkan.

Baca juga: Kesadaran Spiritual dan Hidup dalam Perspektif Baru

Kembali ke bahasan ....

Membebaskan diri dari kemelakatan memang tak mudah. Tapi perlu diupayakan. Pengalaman membuktikan kemelekatanlah yang menimbulkan kesengsaraan. 

Dalam konteks relasi manusia, contohnya relasi percintaan, betapa kemelekatan menjadikan seseorang demikian bergantung kepada pasangannya. Rasa cemburu yang membakar. Perasaan merana karena keterpisahan. Emosi yang mampu mendorong orang untuk merusak, baik ke diri sendiri maupun orang lain. 

Dalam konteks kebendaan, berapa banyak kita jumpai contoh mereka yang terobsesi dengan materi. Bisa melakukan apa pun demi capaian yang diinginkannya. Orang-orang dekat kita atau bahkan kita sendiri, begitu gemar mengumpulkan barang yang tak ada artinya karena terbengkalai begitu saja. Atau sekadar jadi pajangan. 

Hal ini juga bisa ditemukan dalam relasi manusia dengan makhluk lain. Aku sendiri beberapa tahun terakhir sudah belajar membebaskan diri dari kemelakatan akan kucing-kucing yang kurawat. Tak terlalu melibatkan emosi saat mereka harus pergi, menyeberang ke jembatan pelangi. Tak mudah untuk sampai di titik itu. 

Membebaskan diri dari kemelekatan tak lantas abai atau tak peduli. Bagi orang tua yang punya tanggung jawab terhadap anak, tetap menjalankan tanggung jawabnya. Bagi para manusia yang punya hewan peliharaan, tetap memastikan mereka mendapatkan kesejahteraan yang layak. Bedanya, tak lagi menggantungkan diri terhadap keberadaan mereka. Begitu pun kemelekatan terhadap benda.

Baca juga: Letting Go, Buku Panduan Melepaskan Diri dari Hambatan


Berkenalan dengan Kelas Berbenah SaDis 

Sebetulnya sudah lama aku tahu kelas ini. Bagaimana tidak, founder-nya temanku. Adik kelas di kampus sekaligus teman kerja di Radio Mara. Kami pernah sangat dekat. Sedekat apa? Curhat-curhatan sudah pasti. Aku sering menginap di rumahnya waktu ia masih lajang. Setelah menikah pun, sesekali aku mengunjunginya. Namanya Rika Subana.

Kenapa ini perlu kuceritakan? Karena saat kita tak berjarak, kita nggak bisa cukup obyektif. Dan terus terang, itulah yang terjadi dengan Rika dan KBS. Lha wong aku tahu persis kok keseharian Rika, mana aku merasa perlu melirik KBS? Haha! Tapi aku tak merasa perlu minta maaf untuk itu. Kurasa Rika telah melewati semua prosesnya, dan bahkan tak soal dengan anggapan orang terhadap apa pun yang sudah lewat. 

Berhubung aku pun tahu kegigihan seorang Rika Subana, aku yakin dia membuat kelas-kelas pembelajaran ini dari hati, dan lewat pengalaman-pengalamannya sendiri yang sudah teruji. Pun, aku yakin proses itu tak pernah final, akan selalu jadi bagian yang terus berproses.

Kalau tertarik bisa cek FP FB Kelas Berbenah SaDis. Boleh juga sekadar tanya-tanya ke Ibu Meong dulu.

Baca juga: Berkenalan dengan Laku Spiritual melalui Buku Tantra

Buatku, bukanlah kebetulan kalau aku terhubung kembali dengan Rika yang kemudian mengajakku bergabung di KBS. Kelas ini menjadi tempat belajar langsung, riil, seperti apa membebaskan diri dari kemelekatan. Dalam hal ini kemelekatan terhadap benda. Awalnya ada 1001 alasan untuk menyisihkan buku-buku yang jadi koleksi selama ini. Lambat laun, semuanya bisa terlakoni. 

Seperti halnya aku, kurasa banyak orang yang merasa sudah tahu persis teori kemelekatan. Tapi seberapa sanggup menerapkan dalam keseharian? Nah, aku terbantu banget dengan ikut kelas ini. Biarpun mentornya nggak galak, tapi berhasil membuatku berusaha untuk lebih ikhlas melepas. 

Demikianlah, upaya membebaskan diri dari kemelekatan akan terus berjalan. Mari sama-sama belajar. Mari merayakan kehidupan yang lebih baik. 



Cancer New Moon dan Olah Batin Saat Purnama

"Menuju supermoon, hati-hati dengan pikiran dan emosi. Protect your energy." Demikian catatan pendek seorang kawan di akun media sosialnya. Sebagai orang yang meyakini perkara energi dalam kehidupan, aku tertarik dengan bahasan tersebut. Bahwa energi bulan, terutama saat purnama, memiliki peran penting dalam spiritualitas, utamanya dalam soal olah batin. Kebetulan, pada pertengahan bulan kemarin sempat diingatkan oleh catatan soal memasuki periode Cancer New Moon



Baca juga: Menjadi Orang Tua yang Bijak (bukan toxic parent)

Beberapa pekan terakhir, aku mengalami kondisi batin yang pekat, gelap. Lalu, sore tadi, begitu saja, kukatakan pada diriku: lepaskan, maafkan. Aku merasakan kelegaan luar biasa. Terlepas dari respon pihak lain yang terlibat --yang no respons, buatku itu sudah cukup. Dan sepertinya itu menjadi keputusan baik, karena, ternyata malam ini purnama. Nyaris lupa, padahal sudah dari beberapa hari lalu ada yang mengingatkan.

Baiklah, aku jadi pengin membahas soal Cancer New Moon dan purnama. Aku mengambil beberapa referensi sebagai sumber.


Purnama yang Memengaruhi Emosi Manusia

Dalam kepercayaan Hindu, ada istilah "purnama" dan "tilem", dengan siklus bulan 15 hari. Selain itu, tanda yang bisa ditemui di alam adalah bahwa purnama ditandai dengan bulan yang bersinar penuh atau full moon; sedangkan tilem adalah puncak bulan mati. Dua masa peralihan waktu berdasarkan posisi posisi bulan, bumi, dan matahari ini oleh masyarakat Bali dan Hindu dijadikan patokan dalam melakukan ritual jenis tertentu.

Bukan hanya tradisi di Bali atau Hindu saja, purnama dan tilem sebagai waktu keramat juga masuk sebagai subjek penelitian di zaman modern ini. Di alam, purnama memberikan pengaruh berupa gelombang pasang air laut. Purnama juga memengaruhi gejolak mental manusia; ada kecenderungan untuk melakukan tindak kejahatan pada jelang hingga puncak purnama.

Baca juga: Aleph, Kisah Perjalanan Menemukan Diri

Bukan kebetulan jika ada pemberian nama yang terkait dengan bulan. Kita kenal istilah lunatic yang artinya orang gila, lunacy atau kegilaan, dan loony yang berarti gila. Istilah itu berasal dari kata latin Luna, yang adalah nama Dewi Bulan.

Di Britania, abad ke-19 bahkan pernah diberlakukan Lunatic Act, yakni aturan yang menyebutkan bahwa orang yang berbuat gila-gilaan ketika bulan sedang penuh akan dikenai didenda. 

Tapi, purnama memunculkan dualisme. Terseret dalam emosi yang negatif, atau memanfaatkan untuk meningkatkan kekuatan batin. Inilah yang menjadi alasan komunitas-komunitas spiritual menyelenggarakan meditasi purnama bersama-sama, demi menangkap energi positif yang dipancarkan oleh peristiwa purnama. 


Memasuki Cancer New Moon

Cancer New Moon tiba pada 17 Juli 2023. Mengutip dari situs Forever Conscious, bulan baru ini menuntun kita dalam mempercepat pertumbuhan dan perkembangan jiwa kita. Selain itu, Cancer New Moon juga menghadirkan peristiwa atau peluang baru ke dalam hidup kita untuk lebih selaras. 

Bagi yang meyakini dukungan energi dari Cancer New Moon ini disarankan untuk mengeja ulang niat-niat tertentu yang pernah, sedang, atau akan dibuat. Caranya adalah dengan mengajak diri kita masuk ke "dalam", lalu mengarahkan visi hidup kita dari pengetahuan yang kita miliki dan perbaduan intuisi kita. 

Baca juga: Hidup Sehat dengan Reiki

Bulan Cancer adalah "rumah". Bulan Cancer adalah "ibu". Bulan ini mewakili emosi kita, perasaan aman dan nyaman kita. Pun sebagai representasi energi feminin dalam hidup kita. Tak heran jika sisi emosional yang lebih mengemuka. Karena tubuh emosional kita lebih mudah diakses, maka kita pun dimungkinkan untuk mengeksplorasi emosi dan perasaan kita secara lebih mendalam. Masa ini dapat dijadikan momentum untuk mengakselerasi diri dengan kebijaksanaan semesta. Bisa jadi kita akan menyaksikan emosi yang menggelegak di bawah permukaan, luka-luka batin pada masa lalu, hal-hal menyakitkan yang tak kunjung terselesaikan. Pelan-pelan membiarkan itu muncul ke permukaan, dan kita pun bisa melakukan akselerasi hingga seimbang.

Energi Cancer adalah Ibu, yang memberikan perlindungan dan perawatan, menghibur kita dalam kehangatan, yang menjadikan kita merasa aman dan nyaman. Tapi, energi Cancer juga mewujud dalam keberanian. Keberanian yang unik dari Cancer adalah keberanian yang bersumber dari cinta yang murni. Dengan dipayungi bulan dalam hakikat cinta yang sesungguhnya ini, bisa menjadi pendukung bagi kita dalam upaya mencintai diri sendiri dan menemukan kepercayaan diri untuk membuat perubahan yang diperlukan. Di bawah Cancer New Moon, kita dapat menyalurkan energi cinta diri dan mengubahnya menjadi perasaan berani, percaya diri, dan kekuatan batin.

Saat berlangsung purnama, segala yang berkaitan dengan rasa dan emosi dalam proses amplifikasi. Kondisinya berlipat, saat kita berada di Bulan Cancer. Maka, hati-hati dengan emosi yang kita pilih dan dengan siapa yang kita pilih untuk ada di sekitar kita. Jauhkan diri dari hal yang bikin drama. Bulan baru ini juga meminta kita untuk bersikap lebih baik, lebih lembut kepada diri sendiri. Cintai, kasihi, penuhi kebutuhan afeksi diri dengan sebaik-baiknya. Cari ke dalam, bukan berusaha menggapai kebahagiaan dari luar diri. 

Selamat kembali ke dalam diri. Namaste.

Baca juga: Alaya, Kisah tentang Mimpi yang Mewujud, Takdir, dan Cinta