Showing posts with label musik. Show all posts

Guruh Sukarno Putra, Sosok Istimewa dengan Karya-Karya yang Melegenda

Pagi tadi selintas mendapati satu postingan di media sosial: Guruh Sukarno Putra berpulang. Hah, serius? Buru-buru cek media online. Positif. Guruh berpulang setelah semalam mendapatkan penanganan medis di rumah sakit. Lamat-lamat suara Tika Bisono menyambangi kupingku: "Putih-putih melati, mekar di taman sari ..." Melati Suci, lagu yang ditulis Guruh untuk ibunya, Fatmawati yang meninggal dunia saat iya berusia 27 tahun. Lagu itu terasa begitu agung sekaligus sunyi. Pelan, ada yang meleleh di sudut mataku. Tak banyak nama seniman yang kepergiannya sampai bisa mengundang kesedihan yang cukup dalam buatku. Tak semua karya musiknya bisa kuputar untuk program siaran, tapi pada banyak kesempatan, di tengah berbagai karut-marut yang terjadi di tanah air dari masa ke masa, lagunya selalu mengingatkan akan kecintaan terhadap tanah air.



Baca juga: Jakob Oetama Berpulang

Guruh merupakan sosok istimewa. Bukan semata karena ia anak tokoh proklamator. Namun, lebih pada soal pilihan hidupnya yang tak biasa. Terlebih jika dibandingkan dengan sosok-sosok lain yang menyandang privilege sebagai anak orang nomor satu di sebuah negara.


Pilihan Hidup Guruh dan Sosok Penting pada Masa Kecilnya

Membaca Guruh tidak akan lengkap jika tidak menengok ke masa kecilnya. Sebagai anak seorang presiden, ia tinggal di istana negara yang segala sesuatunya sudah terpenuhi. Kebutuhan-kebutuhannya disediakan tanpa menunggu diminta. Keamanannya terjamin. Tentu saja ia memanfaatkan semua kemudahan, privilege itu. Namun, nyatanya tidak serta merta ia menjadi sosok selebritas apalagi rakus seperti yang ditunjukkan oleh sebagian anak-anak presiden yang lain. Setidaknya anak presiden periode setelah bapaknya.

Nama Tommy Suharto kudengar sejak masa kecil. Bukan, bukan dari media melainkan dari bahan percakapan para orang tua, dari mulut ke mulut. Beberapa kecamatan di kampung halamanku adalah produsen cengkeh. Nyaris semua petani cengkeh mengalami kebangkrutan pasca Tommy--melalui Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh atau disingkat (BPPC) yang dipimpinnya--memonopoli perdagangan cengkeh. Bahkan para petani--saking marahnya--membakar lahan cengkehnya lalu mengganti dengan komoditas baru. Cerita ini tak kita temukan di media. Tak begitu jelas juga soal kebenarannya, karena aku pun tak melakukan konfirmasi ke lapangan secara langsung. Bahwa monopoli itu dilakukan, tentu nyata adanya. Pertanian dan perdagangan cengkeh kembali marak pada pasca pemerintahan Suharto.

Apa lagi yang bisa kita sebut dari bisnis keluarga Cendana? Tambang batu bara, proyek mobil nasional, hak pengelolaan jalan tol? Apa lagi? Jika dibuat daftar pasti akan panjang. Guruh tidak melakukan itu. Ia bukan pemburu kekuasaan. Ia memanfaatkan dengan baik darah seni yang mengalir di tubuhnya. Ia berkiprah di dunia tari, kain tradisional, musik daerah demi kecintaannya terhadap Indonesia.

Baca juga: Farida Pasha, Mak Lampir, dan Misteri Gunung Berapi

​Guruh bersekolah di sekolah umum. Sebagai anak seorang presiden yang juga gemar belajar, wawasan kebangsaan ia dapatkan dari melihat dan mencatat apa yang dilakukan oleh ayahnya sendiri maupun para bapak bangsa. Di luar itu, ia bermain layaknya anak-anak pada umumnya. Barangkali yang membedakan adalah dengan siapa saja ia bermain. Tentu ia bergaul dengan anak-anak para pejabat pada masanya, tapi ia pun bergaul dengan anak-anak para pegawai istana, bahkan dengan mereka yang bisa dibilang level rendahan seperti tukang kebun, tukang masak, dan para pelayan. Ia terbiasa berada di tengah masyarakat dengan strata sosial yang beragam. Di balik hal sederhana yang menjadi kesehariannya, rupanya ada sosok penting yang memiliki andil.

Namanya Suminah Sastrowijoyo. Ia adalah perempuan pengasuh yang menemani putra bungsu Presiden Soekarno itu sedari bocah. Guruh memanggilnya Nek Joyo. Dari perempuan sederhana yang bahkan buta huruf inilah Guruh banyak belajar tentang kehidupan. Nek Joyo mengenalkan perihal kehidupan rakyat kecil yang sebenernya. Meski merupakan anak orang nomor satu di negeri ini, Guruh diajari oleh Nek Joyo tentang bagaimana menjadi manusia biasa. Dari Nek Joyo, bukan hanya mendengar, tapi juga mengamati langsung, Guruh belajar tentang penderitaan, kesederhanaan, dan keikhlasan. Hal-hal inilah yang membentuk kepribadian Guruh dan empatinya terhadap orang lain, dalam hal ini masyarakat kalangan bawah.

​Ketika masa dewasanya tiba, Guruh tidak memilih untuk mencari uang dan kekuasaan. Ia menceburkan diri ke dunia seni. Itu pun bukan seni gemerlap, melainkan seni yang muncul sebagai bagian dari pemberontakan dalam dirinya. Tak heran jika yang lahir kemudian adalah karya-karyanya yang unik dan orisinal.

Baca juga: Christian Mara, Pejuang Seni Budaya Adat Dayak Berpulang


Guruh dan Kolaborasinya dengan Gipsy

​Awal mengenal Guruh di dunia musik adalah karya-karya yang ngepop. Karya pertamanya yang kutahu adalah Kembalikan Baliku di album kompilasi Festival Lagu Populer Indonesia 1987. Lagu itu ada di urutan terakhir side B kaset. Kembalikan Baliku yang disuarakan Yopie Latul keluar sebagai pemenang dan mewakili Indonesia dalam kompetisi internasional yang dilangsungkan di Budokan, Tokyo.

Lalu, setelah nyemplung ke dunia radio, lebih banyak lagi karyanya yang kutemukan. Lagu-lagu yang dibawakan oleh nama-nama besar, seperti Chrisye, Keenan Nasution, dan Vina Panduwinata.

Suatu kali saat berselancar di YouTube, aku menemukan satu musik yang tak biasa. Tertarik, karena judulnya ada "Indonesia"-nya. Harusnya itu komposisi berjudul Indonesia Maharddhika. Pemilik akun menuliskannya salah. Ternyata itu akun milik orang luar yang sepertinya tertarik dengan lagu ini.

Karena terpesona, kucari tahu lebih detail tentang ini lagu. Ternyata itu karya Guruh yang berkolaborasi dengan grup Gipsy. Grup ini sendiri didirikan pada pertengahan 60-an dengan nama Sabda Nada. Mereka mengganti namanya dengan Gipsy pada 1969, dengan personel Chrisye, Keenan Nasution, Oding Nasution, Abadi Soesman, dan Roni Harahap. Mereka dikenal sebagai grup lokal yang membawakan lagu-lagu progressive rock ala Genesis, Emerson Lake and Palmer, Yes, dan Gentle Giant. Nah, sepulang dari studinya di Belanda, Guruh menggandeng Gipsy untuk mewujudkan ide liarnya.

Baca juga: LCLR Plus di Bandung dan Pesona Musik 70-an

Guruh ingin mengawinkan alat musik modern dengan alat musik etnik Bali, yakni gamelan dan gerong. Pada masa itu belum ada yang memiliki "keberanian" untuk menabrakkan dua musik yang masing-masing memiliki pakemnya sendiri. Begitu pun liriknya. Guruh menuliskan tentang tema sosial dan budaya dengan aneka metafor dan bergaya bahasa puitis.

Kolaborasi Guruh Gipsy ini beranggotakan Guruh Sukarno Putra (komposer), Chrisye (bass, vokal), Oding Nasution (gitar), Roni Harahap (piano), Abadi Soesman (keyboard, synthesizer), dan Kinan Nasution (drum, vokal). Lahirlah 6 komposisi: Indonesia Maharddhika, Chopin Larung, Barong Gundah, Janger 1897 Saka, Geger Gelgel, dan Smaradhana, diliris dalam album bertajuk Kesepakatan dalam Kepekatan. Mereka memproses album ini di studio milik Tri Angkasa yang pada masanya tercatat sebagai studio rekaman 16 track pertama, paling canggih di Indonesia. Sekadar catatan, studio The Beatles memulai rekaman 16 track ini untuk album Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band pada 1967. Proses rekamannya sendiri berlangsung mulai Juli 1975 hingga November 1976.

Album idealis ini--bisa diduga--tak laku di pasaran. Penikmat musik tanah air tampaknya lebih memilih lagu-lagu populer bertema cinta yang sedang marak pada masa itu. Di kemudian hari, barulah para kolektor musik memburu album ini. Konon, album yang disebut-sebut sebagai tonggak lahirnya progressive rock di Indonesia ini dihargai hingga jutaan rupiah.

Baca juga: Konser Sawung Jabo bersama Sirkus Barock di Bandung


Guruh dan Karya-Karyanya yang Melegenda

Karya-karya Guruh, meski dalam kemasan pop tetap menunjukkan ciri khas tersendiri. Selain musiknya yang kaya, liriknya juga tak biasa. Kalaupun bicara tentang cinta, bukanlah cinta yang cengeng melainkan cinta indah antarmanusia atau kecintaan terhadap alam raya.

Misalnya dalam lagunya yang berjudul Zamrud Katulistiwa, Guruh menceritakan tentang keindahan Indonesia. Lagu ini dibawakan pertama kali oleh Keenan Nasution pada 1978. Chrisye melagukannya kembali pada 1996.

Guruh memakai metafor melati untuk menggambarkan ibunya, Sang Ibu Negara, Fatmawati dalam Melati Suci. Lagu ini rilis bersama album Pergelaran Karya Cipta 3 pada 1980 lewat suara Tika Bisono. Bertahun kemudian Vina Panduwinata ikut menyanyikannya kembali dan tak kalah indahnya.

Lagu Sendiri sering dijadikan rujukan kalangan yang hidupnya menyendiri, malah ada yang tengah berada dalam keputuasaan karena urusan percintaan. Ada yang mengaitkan lirik lagu ini dengan kesendiriannya seorang Guruh. Senyatanya, Guruh menuliskan lirik sendiri bukan semata soal emosi, melainkan sesuatu yang lebih dalam. Lagu ini lebih menggambarkan soal rasa, suasana, dan pengalaman eksistensial. Seperti yang banyak dipotret oleh para penulis sastra era masa lalu tentang kesenyapan malam yang menyimpan keteduhan dan keheningan. Kalaupun Guruh memasukkan pengalaman pribadi, ia telah berhasil nylimur melalui diksinya yang puitis.

Baca juga: Pesta Rakyat dalam Festival Rampak Kendang

Ada juga Guruh menulis tentang pergaulan anak muda. Ia menciptakan Galih & Ratna yang dimunculkan di film Gita Cinta dari SMA pada 1979 lewat suara Iromy Nursaid dari The Kid Brothers. Setahun kemudian lagu yang sama dibawakan oleh Chrisye untuk menjadi lagu tema film Puspa Indah Taman Hati yang merupakan kelanjutan Gita Cinta dari SMA.

Kisah anak muda lainnya ia tuangkan dalam Anak Jalanan yang terinspirasi dari novelnya Teguh Esha, Ali Topan Anak Jalanan. Ketika fenomena sosial anak-anak ibukota ini diangkat ke layar lebar, Guruh didapuk sebagai ilustrator musiknya.

Untuk musik, ada nuansa campur sari dan dangdut yang dilibatkan Guruh di lagu Candu Asmara. Lagu yang rilis pada 1998 ini dipopulerkan oleh Cici Paramida, yang kemudian dibawakan ulang oleh beberapa penyanyi lain, seperti Marchell dan Maizura.

Sedangkan pada lagu Lenggang Puspita, Guruh memasukkan nuansa etnik Betawi di bagian akhir lagu. Lenggang Puspita dibawakan oleh pentolan God Bless, Ahmad Albar pada 1986.

Guruh cukup banyak berkolaborasi dengan Chrisye. Tak terhitung pula karya-karyanya dibawakan oleh penyanyi lintas dekade, termasuk dengan Krisdayanti lewat lagunya Mahadaya Cinta. Dan aku yakin, pada tahun-tahun mendatang karya-karyanya masih akan terus dirilis ulang oleh generasi terbaru.

Baca juga: Just for You, Karya Lama Richard Cossiante yang Abadi

Ini baru bicara tentang lagu dan musik, belum kiprahnya di dunia seni yang lain. Pendek kata, karya-karya Guruh luar biasa dan telah menginspirasi banyak orang.

Selamat jalan, Mas Guruh Sukarno Putra. Selamat mulih ke pangkuan Semesta.

Just for You, Karya Lama Richard Cocciante yang Abadi

Saat masih gawe di radio siaran, pada suatu masa, lagu ini sempat dilarang tayang untuk kurun waktu tertentu. Bukan, bukan karena larangan pemerintah orde baru yang masa itu cukup represif termasuk larangan menayangkan konten tertentu. Alasannya adalah karena "Just for You", lagu dari Richard Cocciante ini terlalu sering dirikues, hingga admin urusan musik meminta untuk tak putar dulu hingga diputuskan bisa mengudara kembali. Ada yang punya kenangan dengan lagu ini?



Baca juga: Karya James F Sundakh yang Tak Lekang oleh Waktu

Lagu ini, sampai hari ini masih dirikues di program live yang kubuat di TikTok. Meski orang bisa memutar lagu di platform musik, banyak yang masih suka berdialog seperti pada masa radio siaran. Barangkali ini memang kebutuhan orang untuk berkomunikasi dengan orang lain demi menjaga kesehatan mentalnya. Pengin colek Mbak Alienda Sophia, bikin live juga, yuk, bicara pengalaman menjaga kesehatan mental ala lifestyle ibu.

Kembali ke soal Just for You, kulanjutkan lagi ceritanya, ya.


Mengapa Just for You Begitu Diminati?


Coba cek liriknya, ya. Ini lagu sebetulnya gombal banget kalau lihat dari liriknya.


I can't stay now and just wait now, my hands then go so impatient

many things I've got to do now for the first rise of the morning.

Though she dream and peaceful slamber, sleep to me just doesn't come

when she wake I'll try tell her everything I have to say.

And the night so dark inside me makes me finaly understand

where the love that she has given me, she can light the sky forever.

It's the way she give so freely, it's the way she takes my hands,

I just ask the sun shine brightly got to see her smile again.


Then I sing a song I've writen and I'll make the whole world listen

in the silence just for you, like no one has ever heard.

And I wake up all the lovers and I give them back for hours

and we'll do the things we wanted the way that lovers do.


And we'll run into the street and we'll start to dance like crazy

cos she want only to feel joy in the love she gives and needs.

And we'll take it time to stop quarels and paint the street and building, rainbow color everyone

those she wants, colors to sing, and we'll paint full fill with flowers,

make the street alive with spring, make a place where lovers go, to love the way that lovers do.


Then we'll fly into the sky and we'll choose into the stars

and our stars return the hole world,

the love we have, we are,


the love we share is sweet

the love we know is real, that love is not to dream, but last we know that alone

Because you love and my begin without dreaming all begin,

and the love that you have give return to us to win

cos your love for me is not begining and the end your love

and mine is now for me for love, you love for me forever ....


Nah, betul, kan ... gombal, kaaan?


Baca juga: September Ceria by Vina Panduwinata


Suatu hari, di saat libur, aku berkunjung ke studio. Saat itu masih belum lulus kuliah. 1997. Seseorang datang dengan membawa kaset, minta direkamin lagu Just for You. Kaset C-90 diisi sepenuhnya dengan lagu ini. Merekam lagu itu tidak diperbolehkan, ya, gaeees. Cuma dengan toleransi "merekam untuk konsumsi pribadi". Buat yang belum hafal kaset, C-90 itu artinya berdurasi 90 bolak-balik. Satu sisi durasi 45 menit. Jadi, jika lagunya berdurasi 5 menit, maka dalam satu sisi terdapat 9 lagu. Bayangkan, 9 lagu di satu sisi itu isinya Just for You semuanya. Gokil, kan? Sedemikian ia kesengsemnya dengan ini lagu. Ia tak mengakui persis, sih, kenapa suka betul dengan lagu itu. Hanya dibilang liriknya nempel banget di kepalanya.

Kami lantas berteman cukup dekat. Beberapa tahun pasca reformasi barulah aku tahu bahwa beliau ini adalah keluarga dari salah satu sosok yang banyak disebut dalam sejarah tanah air. 

Baca juga: Konser Sawung Jabo bersama Sirkus Barock di Bandung


Polemik Pencipta Just for You

Mencari referensi soal Richard Cocciante ini susah betul. Apalagi di masa lalu, sebelum internet familier dan menyediakan sumber yang mudah diakses. Masa itu, pengetahuanku soal ini lagu hanya sebatas karya Richard Cocciante, penyanyi dan pencipta lagu berkebangsaan Italia-Prancis. Pada tahun-tahun ke belakang barulah tahu informasi lebih detailnya. Termasuk munculnya polemik orang yang mempertanyakan pencipta ini lagu. Ada yang menyebut Just for You bukan karya Richard Cocciante. Akhirnya kukubek lagi berbagai referensi. Kesimpulannya: Just for You adalah karya Richard Cocciante.

Riccardo Cocciante--demikian nama aslinya--lahir pada 20 Februari 1946 di Saigon, Vietnam, dari ayah seorang Italia dan ibu Perancis. Pada usia 11 tahun keluarga membawanya pindah ke Roma, Italia. Berikutnya ia mencicipi tinggal di beberapa negara, yakni Perancis, USA, dan Irlandia. Minatnya pada seni musik sudah terlihat dari kecil. Awalnya ia hanya bermain organ dengan membawakan musik-musik R&B. Masuk tahun 1960-an barulah ia unjuk suara sebagai penyanyi. Cocciante sempat membentuk band GL6 bersama Marco Luberti dan Paolo Casella. Di sinilah ia mulai menggunakan nama panggung Richard Cocciante. Mereka berhasil merekam tiga lagu berbahasa Inggris yang muncul di film pada kurun 1971-1972. 

Baca juga: George Michael dalam Kenangan

Lepas dari grup, Cocciante mencetak sukses dengan album solonya. Sayangnya ia sempat terperosok kasus kontroversial. Lagunya, "Bella senz'anima" yang menjadi hits besar diprotes banyak kalangan karena dinilai seksis. Pasca kontroversi itu ia sempat menarik diri dari publik. 

Kemunculannya kembali  pada 1976, mendulang sukses. Satu lagunya yang ditulis dalam bahasa Italian, "Margherita" menjadi signature song-nya Cocciante. Itu pula yang terjadi saat ia merilis lagu tersebut dalam versi bahasa Inggris pada 1978. Lagu yang menjadi kesayangan penyuka musik di tanah air. 

Sejak saat itu Cocciante terus berkarya. Ia merilis lagu dalam empat bahasa, Italia, Perancis, Inggris, dan Spanyol. Ia menyanyikan kembali lagu-lagu terkenal, seperti "Michelle"-nya The Beatles yang juga disukai pasar. Ia juga merancang pertunjukan musikal populer yang dikenang. 

Baca juga: I Love You Sofie, Lagu Lama yang Terus Eksis

Kini, Cocciante telah memasuki usia 10 windu. Semoga masih terus berkarya dan dinikmati pecinta musik dunia. 

Peluncuran Album #2 Mukti-Mukti

Pada dekade 90 awal, kalangan pencinta musik dan seni Bandung serta lingkaran aktivis dan penggiat sosial akrab dengan rekaman suara Mukti-Mukti. Lagu-lagu dibuat dari lirik yang ditulis Mukti sendiri maupun musikalisasi puisi milik para penyair Bandung. Melihat antusiasme kawan-kawan, digagaslah konser yang dinamai Konser Cinta Mukti-Mukti. Rekamannya pun dibuat dalam kualitas yang lebih bagus. Dari bentuk kaset, lalu berikutnya dalam keping CD. Konser berlangsung hampir satu kali dalam setahun. Mukti telah berpulang pada Agustus 2022 lalu. Konsernya tak lagi kita jumpai. Demi menjaga karya-karyanya untuk terus hidup, Kitsch Records mengumpulkan lagu-lagu Mukti dan menerbitkannya sebagai album. Album #1 sudah rilis tahun lalu. Hari ini, 6 Juli 2024 menyusul album keduanya.



Baca juga: Mukti-Mukti, Pemusik Balada Bandung Berpulang

Peluncuran album #2 Mukti-Mukti dilangsungkan di studio Kitsch Records, di kawasan Sukajadi, Bandung, dalam format talkshow berkolaborasi dengan Radio NBS. 


Album #2 Mukti-Mukti dan Para Penampil 


Terdapat 9 lagu yang kali ini dipilih untuk tampil dalam album kedua Mukti-Mukti, yakni:

  • Menitip Mati (syair: Mukti-Mukti)
  • Hanya Tinggal Jiwa (syair: Mukti-Mukti)
  • Surat kepada D (syair: Budi Godot Supriatna) 
  • Senantiasa Ada (syair: Budi Godot Supriatna)
  • Kisah Sepasang Burung Dara (syair: Miranda Risang Ayu)
  • Summon Your Grace (syair: Angie Seah, seniman Singapura)
  • Menjadi Laut (syair: Sonny Soeng)
  • Surat untuk Partai-Partai (syair: Kartawi)
  • Jaringao (syair: Mukti-Mukti dan Paiman, seorang petani penggarap)

Dengan diluncurkannya album #2 ini, hingga kini sudah tersedia 18 lagu Mukti-Mukti yang bisa dinikmati melalui berbagai platform musik digital, seperti, Spotify, Instagram, Tik-Tok, Facebook, Apple Music, Deezer, Youtube Music, iHeart Radio, Joox, Line Music, dan SoundCloud. 

Acara launching 9 lagu Mukti-Mukti ini juga dibarengi dengan peluncuran Buku Lagu Mukti-Mukti #2 berupa not balok, chord, dan lirik yang ditulis violinis Bandung, Ammy Kurniawan.

Pada 8 Juli mendatang rencananya akan dirilis "Cintamu, Cintaku" dari syair Budhi Godot Supriatna. Berikutnya, publikasi karya-karya Mukti-Mukti akan dilakukan tiga bulan sekali hingga dianggap cukup. 

Pada acara peluncuran di studio Kitsch TV, Sabtu, 6 Juli 2024 ini hadir sejumlah penampil. Mereka adalah: 

Dimas Dinar Wijaksana

Musisi muda ini cukup dikenal di kalangan komunitas musik Indie Bandung. Dimas yang mengaku fans berat Mukti-Mukti ini punya grup musik yang dinamai Mr. Sonjaya, Syarikat Idola Remaja, dan Bendi Harmoni. Ia pernah ikut tampil dalam Konser Cinta Mukti-Mukti pada 2015. 

Ayu Kuke Wulandari

Perempuan yang akrab dipanggil Kuke ini bergabung dalam Konser Cinta Mukti-Mukti pada 2012. Kuke juga dikenal sebagai panembang/pelantun Suluk Pesisir dalam pagelaran wayang/drama tari bersama Perkumpulan Seni Tari dan Karawitan Jawa ITB. 

Panji Sakti

Panji Sakti pernah berjaya bersama grup yang dibentuk bersama teman-temannya di Malaysia. Setelah kembali ke negeri sendiri, ia kerap membuat musikalisasi puisi para penyair Bandung, seperti Sangen (Sony Farid Maulana) dan Sang Guru (Puji Jagad). Pun karya pujangga dunia, seperti pada lagu Wahai Air Mata Yang Berlinang (Mawlana Jalaluddin Rumi). Pertautannya dengan Mukti-Mukti tak lain karena kepedulian terhadap musik dan seni pertunjukan di Bandung dan tanah air. 

Ramdhan Ramses

Ramdhan Ramses lebih dulu dikenal sebagai personel Keroncong Rindu Order (1995), lalu sebagai pemantik komunitas musik Rannisakustik Yogyakarta (2008), dan terakhir sebagai pencetus lahirnya Surobuldog Begal Cinta (2020). Ramdhan dan Mukti berada dalam ruang yang sama sejak 1991, yakni Gelanggang Seni Sastra Teater Film (GSSTF) Unpad. 

Robi Rusdiana

Robi adalah pendiri Ensemble Tikoro dengan teknik eksplorasi vokal yang unik serta penampilan teatrikal, dan telah membuat kerja sama dalam komposisi musik untuk seniman Indonesia dan internasional. Sebagai pribadi, Robi adalah pemain piano, dan Mukti-Mukti merupakan salah seorang guru bermusiknya.

Baca juga: Sawung Jabo dan Sirkus Barock


Perihal Kitsch


Kitsch TV selama ini dikenal sebagai TV alternatif yang memberikan panggung bagi musisi nonindustri. Program yang telah cukup dikenal adalah Musik Senja, yang hingga kini sudah mencapai tak kurang dari 50 episode. 

Menurut pendiri sekaligus produser Kitsch TV, Ginanjar Kartasasmita, TV bentukannya ini adalah model platform baru seni pertunjukan. Kitsch TV didedikasikan pagi para musisi yang terutama karena masa itu berada dalam kondisi tak menentu akibat pandemi.

Saat didirikan (2019), dunia -termasuk Indonesia- dilanda pandemi COVID-19. Kondisi ini berdampak terhadap berbagai lini kehidupan. Bukan hanya perkara finansial dan kesehatan fisik, namun juga kebutuhan batin yang tak terjabani. Menyadari adanya kebutuhan panggung hiburan, para pegiat musik tanah air menciptakan panggung-panggung digital. Tak terkecuali, ide tersebut memicu Ginanjar yang juga seorang pemusik. 

Nama Kitsch sendiri diambil Ginanjar dari diskusi orang post-modern mengenai "nilai" sebuah karya seni. Bahwa seni masuk dalamarena perjuangan kelas, dan Kitsch adalah lawan dari seni tinggi. Kitsch dimaknakan sebacah recehan. Receh tersebut bukan dalam arti sekadarnya. Karena justru melalui Kitsch, Ginanjar berharap para pemusik berkarya dengan "sentuhan ideologis" untuk kemudian ditampilkan di platform bentukannya. Dalam perjalanannya, Kitsch TV berusaha menjadi pendorong gerakan sosial melalui seni musik dan sastra. 

Selain menjadi panggung dan ruang tayang, Kitsch juga membuat dokumentasi karya-karya para musisi yang kelak dapat dimanfaatkan oleh mereka sebagai portofolio. 

Baca juga: LCLR Plus, Pesona Musik 70-an


referensi: naratime, senidotco, porosmedia

Sawung Jabo dan Sirkus Barock: Bicaralah dengan Cinta

Jumat lalu, seorang kawan menawariku nonton pertunjukan Sawung Jabo. Aku sempat mengelak, dengan alasan tak punya anggaran untuk acara hiburan dan sedang kepikiran anak emong yang sedang dalam perawatan. Si kawan berujar, "Dibeliin tiketnya sama aku. Ayo, kamu butuh jeda. Cicin akan baik-baik aja. Akhirnya aku mengiyakan, dan bisa menikmati konser Jabo bersama Sirkus Barock bertajuk Bicaralah dengan Cinta, pada Sabtu, 21 Januari 2023.

Baca juga: LCLR Plus di Bandung dan Pesona Musik 70-an

Sesungguhnya aku tak banyak tahu karya Jabo. Apalagi setelah bersama Sirkus Barock. Pengetahuanku terhenti di kolaborasi Jabo dengan SWAMI. Tapi siapa yang tak bisa menikmati sajian musik bagus? Saat ada kesempatan untuk nonton, pastinya aku tak akan menolak. Terlebih untuk seorang Jabo yang masih manggung di usianya yang sudah 71 tahun. Pertunjukan yang berlangsung di Teater Tertutup, Taman Budaya Jawa Barat, Bandung ini menjadi oase buatku di tengah pikiran yang lagi rudeut oleh persoalan-persoalan keseharian. 


Hadir Memenuhi Kekangenan Pecinta Musik Bandung

Panggung musik memang sudah mulai ramai lagi. Di Bandung dan berbagai kota di tanah air. Begitu pula hadirnya Jabo, pemusik yang juga punya sejarah kuat dengan Kota Bandung. Jabo kembali hadir di Bandung setelah konser terakhirnya 10 tahun lalu. 

Abah Iwan Abdurrahman yang didaulat untuk membuka konser, berbagi cerita muasal perkenalannya dengan Jabo. Saat itu, Jabo masuk sebagai anggota baru sebuah kelompok pecinta alam, dengan Abah Iwan sebagai salah satu seniornya. Pelantun "Melati dari Jayagiri" ini menggarisbawahi bahwa bermusik bukan hanya menyanyi dan memainkan alat musik, melainkan menyampaikan juga pesan alam kepada dunia. Dan Abah Iwan melihat Jabo masih konsisten hingga saat ini dalam hal kepedulian terhadap alam dan sesama. 

Dalam pertunjukan di Bandung, Sirkus Barock hadir dengan formasi 13 personel. Nggak tahu juga untuk konser yang sama yang digelar di kota lain apakah seragam. Selain personel, ada juga musisi tambahan yang diajak berkolaborasi. Ada vokalis Elpamas, Baruna, yang didapuk sebagai pembawa lagu Anak Angin. Lagu ini membuat beberapa Sahabat Mukti yang hadir berkaca-kaca. Anak Angin adalah lagu Jabo yang sering dibawakan Mukti-Mukti dalam konsernya. 

Baca juga: Grammy Award dan Lagu Siaran Radio

Jabo juga menggandeng musisi senior Bandung, Hari Pochang, dengan permainan harmonikanya. Pochang menemani Sawung Jabo dalam lagu Mengejar Bayang. Sedangkan penyanyi balada Bandung, Budi Cilok didampingi pemain perkusi asal Australia, Ron Reeves, membawakan Bukan Debu Jalanan.


Pentas Musik yang Kaya

Sebanyak 21 lagu dibawakan Sawung Jabo bersama Sirkus Barock dan para kolaborator dalam penampilan yang meriah. Panggung dihiasai gunungan wayang raksasa, dengan kain merah dan putih yang terbentang vertikal. Pencahayaan menghasilkan aksen siluet kain yang menawn. Ditambah aksi teatrikal para personel serta musik yang kaya warna berhasil menyihir penonton dalam hening sekaligus hingar. 

Aku nyaris tak kenal lagu-lagu Jabo bersama Sirkus Barok. Tapi pesona mereka benar-benar tak terelakkan. Masing-masing personel demikian utuh dengan tugasnya. Piawai memainkan alat musik, sekaligus juga mampu meneriakkan suaranya dengan merdu. Lengkap. 

Jabo sendiri, sepenglihatanku sudah jauh berkurang staminanya dibandingkan terakhir kutonton di televisi. Iya, atuuuh.. sudah berapa tahun lewat. Tapi untuk usianya yang memasuki 71 tahun, ia luar biasa. Awalnya Jabo tampil dengan duduk, dan kupikir akan terus duduk hingga tuntas acara. Ternyata tidak. Jabo masih sanggup bermain gitar, berdiri, bahkan berjingkrak. 

Daftar lagu yang dibawakan Sawung Jabo bersama Sirkus Barock:

Burung Kecil, Kemarin dan Esok, Dihatimu Aku Berlindung, Anak Angin, Sudah Merenungkah Kau Tuan, Mengejar Bayangan, Petualangan Awan, Bicaralah Dengan Cinta, Bukan Debu Jalanan, Penjelajah Alam, Menjadi Matahari, Senandung Anak Wayang, Anak Wayang, Satu Langkah Sejuta Cakrawala, Burung Putih, Kalau Batas Tak Lagi Jelas, Bisikan Langit, Penari Goyang, Hio/Kuda Lumping, dan Lingkaran Aku Cinta Padamu.

Baca juga: Imelda Rosalin Tetap Bersinar Meski Tak Seterang Kedua Adiknya

Di ujung pertunjukan, Jabo dan Sirkus Barock mengajak para penonton berdiri. Sontak penonton pun bertepuk tangan saat mulai terdengar intro musik Hio, lagu yang sedari awal digaungkan oleh penonton. Banyak pnonton yang bahkan memilih untuk maju ke depan, menyanyi dan berjingkrak. Tiga lagu terakhir yang kebetulan juga paling kukenal dari Jabo ini tentunya menggembirakanku. Entah berapa kali aku menjadikan lirik Hio sebagai kutipan. Sedangkan Lingkaran Aku Cinta Padamu sukses bikin nelangsa. Ah!

Sawung Jabo dan seluruh personel Sirkus Barock, terima kasih untuk suguhan musiknya. Teruslah berkarya. Aku Cinta Padamu. 

September, Lagu Apa yang Terhubung dengan Kisahmu?

September, bulan yang sering dilekatkan pada suasana hati tertentu. Dilekatkan pada nuansa percintaan. Maka, bersliweranlah lagu-lagu dengan tema September. Entah sejak kapan September memberikan arti tersendiri untuk suasana melankoli. Yang jelas, cukup banyak lagu bertema September yang bisa kita temukan. Setidaknya dibandingkan lagu dalam tema bulan yang lainnya. Lagu-lagu yang lantas menghubungkan kita pada kisah-kisah yang lalu.


Baca juga: Karya James F Sundakh yang Tak Lekang oleh Waktu

Di tanah air, setidaknya ada dua lagu yang cukup dikenal. September Ceria dan September Pagi. Eh, referensi saiyah jadul pisan, ya? Coba-coba, tolong sebutkan, lagu tema September terbaru adakah? 

Di belahan dunia lain, kita bisa sebut juga beberapa lagu dalam dekade yang berbeda. Masing-masing dalam nuansanya sendiri.

Kutuliskan beberapa referensiku, lagu-lagu yang pernah menemaniku di masa lalu dan menjadi bagian dari siaran. 


September Ceria


Di ujung kemarau panjang

yang gersang dan menyakitkan

kau datang menghantar

berjuta kesejukan


Kasih

kau beri udara untuk nafasku

kau beri warna

bagi kelabu jiwaku


Tatkala butiran hujan

mengusik impian semu

kau hadir di sini

di batas kerinduanku


Kasih

kau singkap tirai

kabut di hatiku

kau bawa harapan baru

untuk menyongsong

masa depan bersama


September ceria

september ceria

september ceria

september ceria milik kita bersama


Ketika rembulan tersenyum

di antara mega biru

Kutangkap sebersit

isyarat di matamu


Kasih

kau sibak sepi di sanubariku

kau bawa daku berlari

di dalam asmara

yang mendamba bahagia


Menyebut kata 'September' untuk lagu Indonesia, sudah dapat dipastikan jika lagu ini yang bakal muncul. 'September Ceria' milik Nama Vina Panduwinata. Lagu ini dirilis bersama album kedua Vina, Citra Pesona.

James F Sundakh, sang pencipta, mengatakan,"Seluruh dunia merasakan perubahan pada bulan September. Negara yang empat musim, biasanya bulan September masuk ke musim gugur. Kemudian yang di bagian selatan musim semi, dan negara tropis seperti kita biasanya masuk musim hujan." Maka tak aneh, jika memasuki musim penghujan yang syahdu, lagu ini bakal kerap kita nikmati. Baik dalam versi Vina maupun penyanyi lainnya.

Baca lengkapnya: September Ceria by Vina Panduwinata


September Song


Our love is as strong as a lion

Soft as the cuts on you lying

Times we got hot like an iron

You and I

Our hearts had never been broken

We were so innocent darling

Used to talk 'til the morning

You and I


We had that mixtape on every weekend

Had it repeating

Had it repeating


You were my September song

Summer lasted too long

Time moves so slowly

When you're only 15

You were my September song

Tell me where have you gone?

Do you remember me?

We were only 15


And I, I remember the chorus

They were singing it for us

You were my September song

Tell me where have you gone?

Do you remember me?

We were only 15


Sometimes I think that I see your

Face in the strangest of places

Down on the underground station passing by

I get a mad sense of danger

Feel like my heart couldn't take it

Cause if we met we'd be strangers

You and I

Still I play that mixtape every weekend

Got it repeating

Got it repeating


You were my September song

Summer lasted too long

Time moves so slowly

When you're only 15

You were my September song

Tell me where have you gone?

Do you remember me?

We were only 15


And I, I I remember the chorus

They were singing it for us

I hear that September song

That I'm singing along

Thinking about you and me

Oh, what a melody


And as the years go by

You will still be my, be my (September song)

You are my (September song)

You were my September song


Summer lasted too long

Time moves so slowly

When you're only 15

You were my September song

Tell me where have you gone?

Do you remember me?

We were only 15


And I, I remember the chorus

They were singing it for us

You were my September song

I remember the chorus

They were singing it for us


John Paul Cooper atau dikenal sebagai JP Cooper. Lagunya yang bertajuk 'September Song' menceritakan kisah percintaannya di masa remaja. Lucunya, kisah yang Cooper alami di usia kisaran 15 tahun tersebut demikian melekat dalam ingatan. 

Lagu yang rilis bersama album Under Grey Skies pada 2016 ini terbilang berjaya di tangga lagu. Berhasil bercokol hingga posisi ke-7.

Baca juga: Angka Unik pada September 2021


Try to Remember


Try to remember the kind of September

When life was slow and oh, so mellow

Try to remember the kind of September

When grass was green and grain was yellow

Try to remember the kind of September

When you were a tender and callow fellow

Try to remember and if you remember

Then follow, follow


Try to remember when life was so tender

That no one wept except the willow

Try to remember the kind of September

When love was an ember about to billow

Try to remember and if you remember

Then follow, follow


Deep in December, it's nice to remember

Although you know the snow will follow

Deep in December, it's nice to remember

The fire of September that made us mellow

Deep in December, our hearts should remember

And follow, follow, follow


Kenal lagu ini pertama kali saat awal nyemplung dunia radio. Radio segmen dewasa, dengan banyak program yang menyajikan lagu-lagu lama. 'Try to Remember' dari versinya The Brothers Four. 

Karya lama dari kolaborasi Tom Jones dan Harvey Schmidt yang khusus dibuat untuk komedi musikal The Fantasticks pada 1960. Saat itu dipanggungkan lewat suara Jerry Orbach. Versi ini sudah ditayangkan dalam ribuan kali pementasan. 

Versi populer yang dikenal berikutnyanya adalah saat dibawakan Gladys Knight and The Pips pada 1975. Sejumlah penyanyi lain kemudian membawakan dalam versi mereka. Selain The Brothers Four, ada Ed Ames, Roger Williams, dan Nana Mouskouri. Lagu ini juga dibuat dalam berbagai versi bahasa. 



Wake Me Up When September Ends

Summer has come and passed
The innocent can never last
Wake me up when September ends

Like my fathers come to pass
Seven years has gone so fast
Wake me up when September ends

Here comes the rain again
Falling from the stars
Drenched in my pain again
Becoming who we are

As my memory rests
But never forgets what I lost
Wake me up when September ends

Summer has come and passed
The innocent can never last
Wake me up when September ends

Ring out the bells again
Like we did when spring began
Wake me up when September ends

Here comes the rain again
Falling from the stars
Drenched in my pain again
Becoming who we are

As my memory rests
But never forgets what I lost
Wake me up when September ends

Summer has come and passed
The innocent can never last
Wake me up when September ends

Like my father's come to pass
Twenty years has gone so fast
Wake me up when September ends
Wake me up when September ends
Wake me up when September ends

Vokalis Green Day, Billie Joe Armstrong begit berduka saat ayahnya meninggal dunia, setelah cukup lama menderita kanker. Selepas pemakaman, ia mengurung diri di kamar. Menangis. Saat sang ibu mengetuk pintu, ia berujar, "Wake me up when September ends." Jawaban yang kelak dijadikannya judul lagu. Lagu wajib mereka yang berduka di bulan September. 

Ayah Billie meninggal dunia pada 1 September 1982. Wake Me Up When September Ends awalnya akan dimasukkan dalam album kompilasi Greenday, Shenanigans. Mereka membatalkannya, dan akhirnya rilis bersama 'American Idiot', 20 tahun setelah kepergian sang ayah. Namun, klip yang digarap Samuel Bayer tak menunjukkan kesedihan personal Billie, melainkan mencoba membuat refleksi atas peristiwa serangan 11 September. Mengapresiasi pekerjaannya sendiri, Bayer yang juga menggarap klip "Smells Like Teen Spirit"-nya Nirvana ini menyebut karyanya itu sebagai "hands down the greatest thing I've ever done." 



September Pagi

Basah kaca jendelaku
Di pagi yang sejuk ini
Setelah sekian lama kemarau mencekam
Kini tiba saatnya
Hujan pun segera kan datang ah?

Selintas wajahmu kasih
Membersit di sanubari
Setelah sekian lama kita melangkah
Dalam suka dan duka perjalanan cinta kita

Chorus :
September pagi ini
September kita
September pagi ini
Ingin ku mengucap terima kasih Tuhan
Atas segala nikmat yang tlah Kau beri

September pagi ini
September kita
September pagi ini
Memberi sejuta arti dalam hidup ini oh?
Setelah sekian lama kita melangkah
Dalam suka dan duka perjalanan cinta kita 

September Pagi rilis bersama album kedua Ruth Sahanaya yang bertajuk 'Tak Kuduga'. Penyanyi mungil ini berhasil menggebrak khasanah musik Indonesia bahkan negeri jiran, saat berhasil melahirkan album pertama. Album keduanya pun tak kalah sukses. Salah satu yang berjaya adalah lagu yang ia bawakan bersama Harvey Malaiholo tersebut. Sang pencipta, sebelumnya telah sukses dengan lagu bertema September yang dibawakan Vina Panduwinata, James F Sundakh.



September 

Do you remember the 21st night of September?
Love was changing the minds of pretenders
While chasing the clouds away

Our hearts were ringing
In the key that our souls were singing
As we danced in the night
Remember how the stars stole the night away

Hey hey hey
Ba de ya, say do you remember
Ba de ya, dancing in September
Ba de ya, never was a cloudy day

Ba duda, ba duda, ba duda, badu
Ba duda, badu, ba duda, badu
Ba duda, badu, ba duda

My thoughts are with you
Holding hands with your heart to see you
Only blue talk and love
Remember how we knew love was here to stay
Now December found the love that we shared in September
Only blue talk and love
Remember the true love we share today

Hey hey hey
Ba de ya, say do you remember
Ba de ya, dancing in September
Ba de ya, never was a cloudy day

There was a
Ba de ya, say do you remember
Ba de ya, dancing in September
Ba de ya, golden dreams were shinny days

The bell was ringing
Our souls were singing
Do you remember, never a cloudy day

There was a
Ba de ya, say do you remember
Ba de ya, dancing in September
Ba de ya, never was a cloudy day

There was a
Ba de ya, say do you remember
Ba de ya, dancing in September
Ba de ya, golden dreams were shinny days

Ba de ya de ya de ya
Ba de ya de ya de ya
Ba de ya de ya de ya de ya

Ba de ya de ya de ya
Ba de ya de ya de ya
Ba de ya de ya de ya de ya

Lagu yang menghangatkan, yang sering dimunculkan di tengah hingar pesta dan suasana gembira lainnya. Sang penulis lirik, Allee Willis, menyebut lagu ini sebagai 'Joyful Music.' Willis menulis lagu ini bersama Maurice White dan Al McKay dari Earth, Wind & Fire, namun sesungguhnya lagu ini karya pertama dia. 

'September' rilis bersama album the greates hits mereka, 'The Best of Earth, Wind & Fire, Vol. 1' yang mencapai sukses penjualan di tingkat dunia. 

Temukan aneka artikel musik di pecandumusik.com.

Demikianlah, lagu sering membawa kita pada kondisi dan suasana hati yang tak begitu baik. Mungkin bisa mengganti dengan lagu-lagu yang memberikan nuansa yang lebih menggembirakan. Atau berpindah aktivitas, misalnya olah raga, nonton, baca buku, baca blog kawan, mempercantik diri di salon, dan sebagainya. Disadari saja kalau kondisi diri sedang tak baik. It's okay not to be okay, kooook..

Nah, sudah teringatkah, lagu-lagu bertema September selain jajaran lagu di atas? Lagu mana yang terhubung dengan kisahmu? 





Jangan Pipis Sembarangan, Peduli Liyan

Orang Bandung sudah pasti hafal istilah cimol. Bukan cimol seperti yang kita kenal belakangan hari, makanan yang terbuat dari aci dengan padu padan bumbu bervariasi. Cimol yang ini plesetan dari cimall a.k.a cingogo di mall. Lapak yang penjual dan pembelinya cingogo. Cingongo adalah Bahasa Sunda yang artinya jongkok. Yup, di Cimol orang-orang memilih aneka produk baju bekas sambal berjongkok. Tapi versi lain menyebut Cimol singkatan dari Cibadak Mall. Ya ya, masih plesetan juga. Saya tidak mengajak bernostalgia. Mungkin lain waktu kita obrolkan tentang kenangan belanja cingogo ini. Kali ini mau ngobrolin soal pipis sembarangan. Memang apa hubungannya dengan Cimol?

Tahun 90 jelang akhir, selagi masih kuliah dan bekerja di sebuah stasiun radio, saya mendengar keluhan dari pemilik rumah di Jalan Cibadak. Keluhannya tentang para pedagang Cimol ini. Kondisinya tak seperti sekarang tentu saja. Yang pernah mendatangi kawasan Otto Iskandar Dinata dan Cibadak, tahu betul betapa sesaknya kawasan tersebut. Toko aslinya nyaris tak kebagian ruang. Terlebih di Cibadak yang jalannya lebih sempit. Nah, terbayang kan, dengan fasilitas umum yang terbatas, sangat terbatas jika dibandingkan dengan jumlah pemilik lapak, di mana mereka buang hajat? Untuk keperluan BAB mungkin mereka masih bisa memaksakan diri mencari masjid atau mushola terdekat yang menyediakan toilet umum. Tapi BAK? Ga yakin kan? Dan memang itulah yang terjadi. Ketika lapak sudah sepi, dan hembusan angin lebih leluasa, maka ngahililiwirlah itu aroma-aroma yang sudah pasti mengganggu. Pagi, buka toko, selain bau pesing, tak jarang botol-botol berisi air kencing ditinggalkan begitu saja. Hari demi hari itu yang dialami para pemilik toko. Maka sungguh dapat dipahami, pada satu titik mereka marah. Tapi tak tahu marah pada siapa. Karena sudah coba dilaporkan ke pamong setempat, tak ada kebijakan yang mengubah adab para PKL itu. Yang bisa dilakukan hanya mengeluhkan ke stasiun radio. Dan saat itu saya pun hanya berusaha menjadi pendengar yang baik, bagi ibu yang bercerita dengan dibarengi sesenggukan tanpa henti.

sumber foto: info bandung

Di kemudian hari ada kebijakan dari Pemerintah Kota Bandung untuk merelokasi Cimol. Ke Pasar Kebon Kalapa, dan terakhir ke Pasar Gede Bage. 

Persoalan pipis sembarangan di Cimol ini hanya satu dari sekian banyak kasus di sekitar kita. Barangkali tak sekental persoalan Cimol di Bandung, tapi bisa jadi merupakan persoalan menahun yang tak kelar-kelar. 


Mengapa sih orang suka pipis sembarangan? Ada beberapa alasan:

1. Tak ada fasilitas toilet. Seperti cerita tentang Cimol di atas, para pedagang kaki lima tersebut beralasan tak ada toilet. Di area publik lain banyak terjadi hal serupa. Tak heran kalau kita temui bau pesing di taman yang notabene dibuat untuk memperindah kota.

2. Tak mau keluar uang. Toilet ada tapi tak mau mengeluarkan seribu-dua ribu perak. Sebagai contoh di terminal. Begitu bebasnya para punggawa perusahaan otomotif dan para pencari rejeki di kawasan ini  yang begitu saja buang hajat di area-area yang agak tertutup dari pandangan. Di stasiun KA kini sudah tak ada pungutan di toilet. Sepertinya perkara rupiah ini cukup berdampak.

3. Sudah menjadi kebiasaan. Saat ‘pipis sembarangan’ ditolerir, tanpa sanksi,  maka lahirlah kebiasaan. “Ah sudah biasa..” Begitu katanya. Terlebih para orang tua yang juga abai terhadap kebiasaan buruk ini. Alih-alih mengajari, mereka malah mengajak anak-anaknya untuk pipis di mana saja.


Padahal, pipis sembarangan bukan perilaku sehat dan melanggar aturan. Beberapa fakta:

1. Perpindahan kuman. Pipis bukan di tempat yang peruntukannya, berpotensi mengundang penyakit. Betul, tak semua MCK yang jadi fasilitas umum teruji kebersihannya. Namun risiko pipis di lokasi yang bukan peruntukannya bisa lebih besar. Kuman yang bisa saja menempel di alat vital dan berkembang menjadi penyakit. Dan sebaliknya, jika dalam urinnya terkandung bibit penyakit, maka orang yang pipis sembarangan punya andil menyebarkan penyakit.

2. Mencemari lingkungan. Pencemaran terhadap air, tanah, dan udara. Pencemaran terhadap tanah dan air mungkin tak berdampak langsung. Namun sedikit banyak akan memberikan pengaruh, terutama jika bertemu dengan senyawa kimia yang lain. Para ahli menyebutkan, urin adalah senyawa kimia yang rumit. Ada 3.000 senyawa dalam urin. Dan senyawa tersebut muncul dari pertumbuhan bakteri, sedikitnya ada 72. Ditambah dari tubuh yang jumlahnya hampir 1.500, dan dari luar lebih dari 2 ribu. Komposisi urin sendiri berasal segala yang dikonsumsi manusia seperti makanan, obat-obatan, kosmetika, ditambah lagi paparan lingkungan seperti polusi. Yang jelas, urin meninggalkan jejak aroma yang tak menyenangkan.

3. Menyalahi aturan. Di berbagai kota di tanah air sudah memiliki payung hukum. Di DKI Jakarta, ada Pergub DKI Jakarta 221/2009 yang melarang warga membuang air besar dan/atau kecil di jalan, jalur hijau, taman, sungai dan saluran air. Pelaku yang melanggar terancam pidana kurungan paling singkat 10 hari dan paling lama 60 hari,  atau denda paling sedikit Rp 100 ribu dan paling banyak Rp 20 juta. Di Kota Bandung, ada Perda K3 (Keamanan, Ketertiban, dan Keindahan) yang diundangkan pada 2005 lalu. Pelanggar terancam denda Rp 250.000.


sumber foto: solo pos


Lalu apa solusinya?

1. Pemerintah lebih serius penerapan sanki. Aturan sudah ada, mengapa implementasinya tak jalan? Seandainya penerapan sanksi lebih tegas, barangkali tak akan kita jumpai para pelaku pipis sembarangan ini.

2. Pemerintah lebih serius menyiapkan fasum terkait kebutuhan buang air. Mengacu ke poin pertama, prasyarat aturan diberlakukan adalah kondisi sudah harus ideal. Dalam hal ini memang pemerintah kudu terkebih dahulu menyiapkan fasilitas umum berupa toilet di lokasi-lokasi strategis.

3. Menjadikan ‘jangan pipis sembarangan’ sebagai bagian dari pembelajaran di institusi pendidikan dan agama, yang seharusnya masih menjadi lembaga yang dihormati.

4. Setiap orang mau menjadi pelaku kampanye. Seandainya orang mau lebih berempati, memikirkan orang kain dan tak semata kebutuhan sendiri, bisa jadi perilaku ‘pipis sembarangan’ ini tak berkembang. Namun tentu saja tak bisa menyerah pada kondisi tersebut, karena setiap orang juga dimampukan untuk membawa pengaruh positif terhadap orang lain di wilayah geraknya masing-masing.


Komunitas Jangan Pipis Sembarangan


Sebuah komunitas yang peduli urusan pipis sembarangan ini dibentuk pada pertengahan 2020 lalu. Namanya Komunitas Jangan Pipis Sembarangan (JPS). Tujuannya tak lain untuk mengajak semua orang lebih peduli pada lingkungan sekitar. Mendapatkan udara segar dan lingkungan yang bersih dan sehat adalah hak semua orang. 

Pada 18 September lalu, sang founder komunitas, Ivan Nisero, merilis single yang sekaligus dapat menjadi jingle dari komunitas ini. Lagu bertajuk 'Jangan Pipis Sembarangan’ yang dikemas dalam irama reggae ini diharapkan jadi pengingat untuk tak berlaku seenaknya dan merugikan orang lain. Liriknya sederhana dan mudah untuk diikuti.  

Untuk yang tertarik bergabung dengan komunitas dan ingin terlibat kampanye Jangan Pipis Sembarangan, bisa cus langsung ke akun-akun Media Sosial Komunitas JPS:

IG: @janganpipissembarangan_

twitter: @KomunitasJPS

fanspage: komunitasJPG

Jangan lupa dengerin lagunya: https://youtu.be/i1nFBBp1UO0