Showing posts with label kuliner. Show all posts

Menikmati Sajian Menu ala Aceh Lengkap dengan Daun Karinya

Kalian tahu daun kari? Bukan, bukan bumbu kari, ya. Bukan bumbu kari seperti salah satu menu mi instan itu. Atau jenis masakan seperti kari ayam dan lontong kari. Memang, kari di sini berkaitan dengan makanan. Kari yang kumaksud adalah tanaman bernama kari. Oke, kalau belum tahu. Aku sendiri baru kenal daun kari mungkin kisaran tahun 2019, saat seorang kawan mengajak mencicipi masakan ala Aceh, ayam tangkap. Waktu itu di bilangan Jalan Tubagus Ismail, Bandung. Sensasinya kena betul di lidah, yang bikin aku acap datang kembali ke rumah makan itu saat sedang kehilangan selera makan.



Baca juga: Kuliner Wonosobo: dari Mi Ongklok yang Manis Gurih hingga Entog Pedas 

Ini bukan endorse, tapi kali pertama aku mencicipi ayam tangkap di Kedai Tarik Ulur, aku langsung jatuh cinta. Daun karinya bertumpuk menjulang, renyah, kranci, dengan ayam yang bumbunya pas. Tak lebih, tak kurang. Disajikan bersama nasi hangat dan sambal yang aduhai betul. Aku selalu bilang, nasi dan sambil itu faktor penting sebuah sajian terasa nikmati atau tidak. Dan padanan yang disajikan kedai ini pas buatku. 


Manfaat Daun Kari bagi Kesehatan

Mengutip dari berbagai sumber, daun kari ternyata dikenal dengan beberapa nama, di antaranya salam koja atau temurui. Dua nama yang di kupingku juga masih terasa asing. Jadi, bisa dibilang aku memang blas nggak kenal ini tanaman.

Nama ilmiah pohon kari adalah Murraya koenigii, tanaman asli India dan Srinlanka. Sekilas aromanya menyerupai jeruk. Dengan aroma dan rasa khas yang dimilikinya, menjadikan daun kari sebagai salah satu bumbu penting masakan ala Aceh. Namun, selain sebagai bumbu, rupanya banyak kasiat lain terutama bagi kesehatan karena memiliki kandungan antioksidan, vitamin (A, B, C), dan mineral (zat besi dan kalsium). Manfaatnya antara lain membantu pencernaan, mengontrol gula darah, menjaga kesehatan jantung, dan melindungi rambut. 

Lebih detail kukutipkan dari Alodokter, manfaat daun kari bagi kesehatan.

Menangkal radikal bebas

Radikal bebas seperti polusi, asap rokok, dan makanan tidak sehat yang menyerang kita berpotensi memunculkan bermacam penyakit kronis. Nah, daun kari dengan kandungan flavonoid, vitamin C, dan senyawa fenolik dapat membantu melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. 

Menjaga kesehatan saluran cerna

Ada yang punya kebiasaan mengunyah daun jambu batu saat diare? Nah, kali berikutnya bisa coba kunyah daun kari. Kandungan antiradang dalam daun kari bisa mengurangi iritasi pada lambung dan usus sehingga sering kali dimanfaatkan sebagai pereda masalah pencernaan ringan, seperti perut kembung, mual, atau diare. Selain itu juga dapat memaksimalkan kerja enzim pencernaan dan membantu penyerapan nutrisi serta melancarkan buang air besar.

Mengontrol kadar gula darah

Daun kari memiliki manfaat mengoptimalkan kerja insulin dan memperlambat penyerapan gula di usus sehingga dapat membantu mengontrol kadar gula darah. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan rujukan ilmiah sebagai alternatif pananganan diabetes melitus. 


Baca juga: Berkunjung ke Kota Atlas Semarang


Memenuhi kekurangan zat besi

Selama ini kenalnya daun bayam sebagai daun dengan kandungan zat besi tinggi? Daun kari memang belum terlalu familier karena keberadaannya yang belum semenyebar bayam. Namun, daun ini memang dapat dijadikan sumber alami zat besi. Konsumsi teratur dapat membantu lancarnya pembentukan sel darah merah dan mencegah anemia. 

Menurunkan kadar kolesterol

Kapan kamu terakhir cek kolesterol? Sekarang sudah tidak melulu karena usia tua, lo. Kolesterol tinggi dapat menyerang usia muda. Nah, sebagai bantuan suplai makanan, bisa masukkan daun kari ke dalam meu, karena tanaman ini dapat memabntu menurunkan kadar kolesterol total dan kolesterol jahat (LDL) dalam darah. 

Menjaga tekanan darah tetap stabil

Kalium memiliki fungsi menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Sedangkan antioksidan melindungi pembuluh darah dari kerusakan. Kandungan antioksidan dan mineral ini dapat membantu mengontrol tekanan darah. 

Menjaga kesehatan liver

Daun kari diketahui memiliki manfaat menangkal racun. Selain itu kandungan aktioksidannya juga membantu merawat sel liver dari kerusakan akibat radikal bebas. Karena itu, daun kari dapat dimasukkan ke dalam bagian menu masakan sehari-hari. 

Menjaga kesehatan rambut dan kulit

Selain untuk bumbu masakan dan pengobatan dalam, daun kari ternyata juga diolah menjadi minyak. Olahan ini dimanfaatkan untuk mengatasi masalah ketombe, serta memperkuat akar rambut dan menjaga kesehatan kulit kepala. Cuma belum kutemukan referensi tentang cara pengolahannya hingga menjadi minyak. 

Gimana, sudah siap konsumsi rutin daun kari? Coba cari bibitnya, deh, biar bisa tanam dan panen dari lahan sendiri.

Baca juga: Berburu Rujak Cingur di Bandung


Aneka Resep Daun Kari untuk Masakan

Dalam perkembangannya, tanaman ini menyebar ke berbagai negara di Asia Selatan dan Tenggara, dan banyak dimanfaatkan sebagai bumbu masakan. Di Indonesia secara khusus dijadikan bumbu masyarakat Aceh. Paling tidak, ada 5 jenis masakan Aceh yang diketahui menggunakan daun kari sebagai salah satu komponen bumbunya, yakni payeh udeung, masakan menyerupai pepes udang dengan lebih berlimpah rempah termasuk daun kari dan asam sunti; kuah pliek, seperti gulai di tanah Jawa dengan bahan utama sayuran seperti terung, kacang panjang, labu siam, atau nangka muda, dengan bahan wajib ada yakni pliek atau glondo/galendo (Jawa/Sunda); gulai masam keueng, gulai asam pedas yang memadukan rasa segar, pedas, dan asam dengan isian ikan tongkol atau bandeng; keumamah, olahan ikan--biasanya tongkol--menjadi makanan kering; dan ayam tangkap, olahan ayam goreng dengan daun kari yang menggunung. 

Sebagai referensi, kusertakan beberapa resep masakan dari cookpad yang menggunakan daun kari. Menunya bukan hanya dari Aceh, tapi sudah dimodifikasi menjadi makanan umum. Jika ada yang asli dari Aceh, mungkin sedikit mengalami pergeseran.


Ayam Tangkap

Bahan:

  • 1 ekor ayam (kampung/negeri/pejantan) 
  • 10 tangkai daun kari, ambil daunnya
  • 7 lembar daun pandan, potong kecil
  • 8 buah cabai hijau, potong besar
  • 8 siung bawang merah, iris tipis
  • 1 buah jeruk nipis
  • 3 sdm air asam jawa (sekitar 3 biji)
  • 2 sdt garam 
  • 300 ml air kelapa 
  • Minyak goreng

Bumbu halus:

  • 6 siung bawang merah
  • 3 siung bawang putih
  • 5-8 buah cabai rawit hijau atau sesuai selera
  • 1 sdt kunyit bubuk
  • 1/2 sdt merica bubuk
  • 1 ruas jari jahe

Cara pembuatan:

  • Potong ayam dengan ukuran sesuai selera, cuci bersih. Bubuhi air dari perasan setengah bagian jeruk nipis, diamkan beberapa saat, bilas lalu tiriskan.
  • Siapkan wajan. Balur ayam dengan garam, sisa air perasan jeruk nipis, dan 3 sdm air asam jawa. 
  • Masukkan ayam ke dalam wajan. Masukkan bumbu halus, taruh merata. Tambahkan air kelapa, masak dalam keadaan tertutup dengan api kecil. 
  • Panaskan wajan dengan minyak goreng penuh. Goreng ayam dengan api sedang. Setelah kedua sisi ayam berwarna keemasan, masukkan daun kari, daun pandan, cabai hijau, dan bawang merah iris. Lanjutkan menggoreng hingga ayam dan bawang merah berwarna kecoklatan, dan rempah daunnya kering. Angkat, tiriskan. 
  • Sajikan ayam tangkap dalam keadaan panas, selagi dedaunannya masih kriuk. Jika suka, tambahkan sambal bawang.


Baca juga: Ragam Kuliner Halal dan Nonhalal di Bali


Gulai Kambing

Bahan:

  • 1/2 kg daging kambing (jika suka bisa ditambahkan tulangan dan jeroan) 
  • 300 ml santan segar 

Bumbu:

  • 8 siung bawang merah
  • 4 siung bawang putih
  • 10 buah cabe rawit merah atau sesuai selera
  • 5 buah cabe merah keriting atau sesuai selera
  • 1 sdt merica bubuk
  • 1/4 sdt jinten
  • 1/4 butir pala
  • 4 buah kapulaga
  • 4 cengkeh
  • 1 ruas jahe
  • 1 ruas kunyit
  • 1 ruas lengkuas
  • 5 lbr daun salam
  • 2 batang serai
  • 3 lbr daun jeruk
  • 3 tangkai daun kari
  • Garam dan penyedap rasa secukupnya

Cara pembuatan:

  • Rebus dalam panci bertutup rapat selama 10 menit. Buang air rebusan pertama, potong daging sesuai selera. Rebus kembali dengan air mendidih. Tambahkan lengkuas geprek, jahe geprek, daun salam, daun jeruk, dan sereh. Rebus selama 10 menit. Selama merebus, biarkan panci dalam keadaan tertutup. Matikan kompor, diamkan rebusan selama setengah jam dengan panci masih tertutup rapat. Setelahnya, buang air rebusan. Daging siap diolah ke proses berikutnya.
  • Haluskan bumbu selain yang dipakai untuk rebusan, tumis. Masukkan daun kari, aduk hingga wangi. 
  • Masukkan daging hingga teraduk rata dan bumbu meresap sempurna. 
  • Masukkan santan, tambahkan garam dan penyedap rasa. Koreksi rasa dan lanjutkan memasak gulai hingga matang.


Sambel Pete Ikan Layang Daun Kari

Bahan:

  • 6 ekor ikan layang (atau sesuai selera) 
  • 3 tangkai daun kari
  • 2 papan petai
  • 1 buah tomat
  • 1 batang sereh
  • 300 ml air 
  • Garam dan penyedap rasa secukupnya

Bumbu ulek:

  • 8 siung bawang merah
  • 3 siung bawang putih
  • 1 ruas kunyit
  • 1 ruas jahe
  • 2 cabe merah
  • 3 cabe ijo
  • 20 cabe rawit

Bumbu marinasi:

  • 1 buah jeruk nipis
  • Sejumput garam
  • 1/2 saset bumbu marinasi instan (jika suka)

Cara pembuatan:

  • Baluri ikan yang telah dicuci bersih dengan air jeruk nipis dan bumbu marinasi. Biarkan selama 10 menit, lalu goreng hingga matang. Tiriskan, sisihkan.
  • Ulek kasar bumbu, tumis hingga wangi. Masukkan serai dan daun kari, tumis sampai daun lemas. 
  • Masukkan petai dan tomat.
  • Terakhir masukkan ikan yang sudah digoreng. Masukkan air sesuai selera. 
  • Tambahkan garam dan penyedap rasa, koreksi rasa. Aduk perlahan agar ikan tidak hancur. Jika sudah matang dan tercampur rata, angkat dan hidangkan. 


Ayam Rica Sambel Ijo

Bahan: 

  • 275 gr ayam potong 
  • 1 buah jeruk nipis
  • 1 saset bumbu ayam goreng
  • 300 ml air
  • Secukupnya minyak goreng

Bumbu halus:

  • 10 buah cabe hijau keriting
  • 10 buah cabe rawit hijau
  • 5 butir bawang merah
  • 2 siung bawang putih
  • 1 cm jahe
  • 1 cm lengkuas
  • 1 butir kemiri

Bumbu cemplung:

  • 1 siung bawang putih, cincang halus
  • 1/2 siung bawang bombay, iris
  • 3 sdm minyak untuk menumis
  • 2 buah cabe hijau, iris serong
  • 1 batang serai, geprek
  • 3 lbr daun jeruk
  • 1 lbr daun salam
  • 4 tangkai daun kari, ambil daunnya
  • 1 sdm saus tomat
  • Garam dan penyedap rasa secukupnya
  • 100 ml air

Cara pembuatan:

  • Cuci bersih ayam, baluri air perasan jeruk nipis. Setelah didiamkan selama 5 menit, bilas.
  • Rebus ayam dalam panci tertutup bersama bumbu ayam goreng sampai matang.
  • Goreng ayam hingga keemasan, angkat, sisihkan.
  • Haluskan bumbu. 
  • Tumis bawang putih, bombay, dan cabe hijau hingga harum. Masukkan daun salam, daun jeruk, serai, dan daun kari. Aduk rata hingga tercium aroma khasnya.
  • Masukkan bumbu halus, tumis dengan pakai api kecil. 
  • Masukkan saus tomat, garam, dan penyedap rasa. Aduk merata. 
  • Masukkan ayam, tambahkan air. Aduk, koreksi rasa. Lanjutkan memasak hingga air menyusut sejumlah yang diinginkan. 
  • Angkat, hidangkan. 

Empat cukup, ya. Bisa dicoba seminggu sekali dalam sebulan. Masakan nuansa Aceh menggunakan daun kari. Resep-resep lain coba cek rubrik kuliner-nya kawan food blogger yang seru-seru!

Selamat mencobaaa ....

Baca juga: Bali 2024, Wisata Kuliner dan Religi

Kuliner Wonosobo: dari Mi Ongklok yang Manis Gurih hingga Enthog Pedas

Di mana daerah yang tak memiliki makanan khas? Nggak ada, kan? Bisa jadi ada kemiripan, atau beberapa wilayah yang berdekatan memiliki penganan khas yang sama. Tapi rasanya sih ngga ada yang sama sekali tidak punya makanan khas. Kapan-kapan kutuliskan makanan khas kampung halamanku. Buat sekarang, oleh-oleh cerita kuliner dari Wonosobo bulan lalu. 

Baca juga: Permakultur dan Kunjungan ke Kebun Igirmranak

Satu hal yang tak kuduga dari kota ini adalah: ternyata ramai! Jauh lebih ramai dari kota kecilku. Saat tiba di kota ini--dari perjalanan menggunakan bus mini yang sepanjang jalan bunyinya aduhai, pertanda usia telah lanjut dan minim perawatan--Wonosobo sedang basah. Hujan tak cukup deras, tapi lumayan bagi pejalan kaki atau pengendara roda dua. Kawan perjalanan, Ajeng, menggamitku untuk memperkenalkan makanan khas Wonosobo. 


Mi Ongklok

Ini menu yang pertama kali kucicipi. Sukaaa! Tadinya agak bertanya-tanya melihat gundukan mi yang terlihat liat. Tapi begitu mulai dikunyah, yummyyyyyy. Enak. Ada beberapa nama kedai yang cukup populer. Tak usah disebut deh, ya. Kuduga rasanya tak akan jauh berbeda. Kalau kamu ada di area kota, cukup hitung kancing, atau yang terasa sreg. Siapa tahu kamu yang jadi penglaris, karena kedai mereka tak masuk dalam deretan nama rekomendasi.  

Yup, mi ongklok terbuat dari mi kuning. Bulat, bukan gepeng seperti mi-nya mi kocok. Mi disajikan bersama kuah kental yang berbahan tepung kanji. Kuah berwarna kecoklatan, ada campuran gula jawa di dalamnya, dan aroma gurih yang keluar dari ebi dan kuah kaldu ayam. Di atasnya ditaburi irisan daun kucai. 

Menurut Ajeng, di semua kedai sajiannya sama: mi ongklok, sate sapi/ayam, dan tempe kemul. Dua yang terakhir pilihan saja jika berminat. Mi ongklok ini konon muncul mulai tahun 1970-an. Di masa lalu, ada pilihan goreng atau sate saren/didih yang terbuat dari darah ayam atau sapi. Kini sudah tak ada yang memasarkan karena mengganggap olahan itu tidak halal. 

Jelang sore berhujan dan menikmati mi ongklok yang hangat dalam nuansa manis-gurih-pedas sungguh sebuah kenikmatan. Terpikir untuk menyempatkan diri mampir ulang kedai sebelum pulang, ternyata tak keburu dan ada perubahan rencana. Semoga lain waktu masih berkesempatan menikmatinya. 

Baca juga: Kamu Tim Mana, Perjalanan dengan atau tanpa Rencana?


Tempe Kemul

Tempe kemul sebetulnya tak cukup terasa khas, mengingat tempe tepung sudah biasa dibuat dan dikonsumsi di rumah tangga. Tapi barangkali campurannya yang membuatnya berbeda. ATaua proses penggorengannya.

Kemul, bahasa Jawa yang artinya selimut. Tempe yang diiris tipis lalu diselimuti tepung. Adonannya terdiri dari tepung terigu, tepung kanji, bumbu rempah, dan irisan kucai. Nah, ini barangkali yang cukup membuat berbeda. Kalau mendoan campurannya daun bawang, bukan kucai. 

Begitu pula dengan proses penggorengan. Jika mendoan digorengnya tak cukup matang, tempe kemul ini justru dibikin kriuk. Tempe kemul bisa ditemukan di kedai makan, dari yang kecil hingga besar, termasuk di kedai mi ongklok. 


Nasi Megono

Aku baru dengar nama menu ini setelah tiba dan menginap di rumah Rumi. Cerita soal Rumi dan aktivitasnya bisa dibaca di sini

Pada pagi terjaga, kami sudah disuguhi nasi bungkus yang ternyata nasi megono. Selintas, tak terlihat istimewa. Seperti nasi dengan campuran irisan sayuran. Tapi setelah suapan pertama, eh, kok enak!

Sensasinya seperti makan dengan kawan nasinya urap. Ternyata betul. Proses pembuatannya, nasi karon dicampur dengan urap sayuran, lalu dikukus dembali hingga matang. Ini yang menjadinya bumbunya terasa meresap. Sayuran yang biasa digunakan adalah nangka muda, labu atau waluh, dan sayuran warna hijau yang aku lupa namanya. Lain waktu coba kutanyakan, karena justru si sayur ini yang buatku unik.

Si sayur hijau itu adalah sejenis kol yang tidak dibudidayakan alias tumbuh liar. Biasanya dia tumbuh di pinggiran ladang, baik ladang kol maupun sayuran lainnya. Kurasa di area Bandung Raya juga ada, di Lembang, misalnya. Cuma tak tahu persis apakah juga dijadikan masakan. 

Nasi megono, menu sederhana yang menurutku wajib coba. 

Baca juga: Setengah Hari Mengelanai Kota Mendoan Magelang


Carica

Tahu carica ini dari postingan kawan di FB. Di benakku, karena di luar bentuknya seperti pepaya, bagian dalamnya juga mirip. Ternyata sama sekali berbeda. Bagian dalamnya ternyata mirip markisa. 

Carica hanya tumbuh di dataran tingginya Wonosobo. Bahkan, meski dibawa turun ke Wonosobo, ia tak akan tumbuh seperti carica yang tumbuh atau ditanam di tanah tinggi. Aku sendiri belum lihat langsung berbedanya seperti apa, penduduk lokal hanya menyebut "seperti pepaya". Nah, kurang jelas, apakah rasanya yang jadi mirip pepaya atau bahkan struktur dalam buahnya juga berubah.

Buah ini diolah menjadi manisan atau sirup. Konon, rasanya segar, manis, dan sedikit asam. Konon saja, karena aku tidak mencoba. Aku hanya makan buah segarnya saat bertandang ke Gunung Prau. Rasanya juga mirip markisa. Asam-manis-segar. Sayangnya carica tak dijual dalam bentuk buah segar. Jadi, kalau kalian mau mencoba carica, ya mesti langsung ke gunung. Kalau tidak, cukup oleh-oleh manisan atau sirupnya. 


Gulai Enthog Bu Siti

Yang ini jelas dari awal, warung Bu Siti. Sudah menjadi langganan Ajeng sejak dia sering melintasi kawasan Wonosobo. Letaknya di Jalan Raya Kalijajar, Wonosobo. Tak heran kalau ia pun menjanjikanku untuk tak terlewatkan menikmati gulai ini. Gulai atau opor itu persisnya, ya ...

Kami singgah ke Warung Bu Siti saat meninggalkan Igirmranak untuk kembali ke area kota. Bisa dibilang ini semacam hidden gem, ya. Kalau mau keluyuran ke Kota Buaya, bisa coba tanya blogger Surabaya, hidden gem wisata kuliner Surabaya di mana aja.

Aku ngga tahu persis, dan memang tidak mencari tahu, Kalijajar ini ada di Wonosobo kawasan mana. Sudah nuansa daerah pinggir. Meski begitu, buat kalian yang ingin merasakan nikmatnya olahan enthog ini, siap-siap kehabisan. Karena itu yang terjadi pada kami. 

Saat datang, stok olahan sedang habis. "Lagi dimasak dulu, ya. Ke sini sekitar sejam lagi," begitu kata mbak-mbak yang entah sebagai apa. Kami pun meninggalkan lokasi, mengambil titik kunjungan yang lain--yang pada lain waktu akan kuceritakan--dan kembali setelahnya. 

Memang, demikian larisnya warung ini. Warung yang telah beroperasi sekitar 15 tahun ini tak mengubah bangunan usaha mereka. Tetap dibiarkan sederhana, meski dalam seharu mereka bisa masak lebih dari 30 enthog.

Saat kami datang keduakalinya, di area depan tampak kosong. Area depan ini berupa ruang panjang dengan dua meja panjang berjajar dengan kursi di salah satu sisinya. Sisi lain menempel ke tembok. Yup, memang sempit. Barangkali cukup untuk 10 orang, jika ditambah dengan meja kursi kecil di sudut lainnya.

Nah, tapi ternyata warung Bu Siti ini tambunya bukan dilayani seperti pada umumnya kedai makan. Tamu mengambil sendiri makanannya. Gulai enthog tersedia dalam panci besar, dijerang di atas perapian. Perlengkapan makan plus nasi dan lalapan ada sisi lain. Di area dapur ini tersedia dua amben yang lumayan besar. Satu amben mungkin muat 6-7 orang. Jadi, selain di area depan, pembeli bisa makan di area dapur. Seperti berkunjung ke rumah keluarga yang dapurnya masih tradisional. Seru, sih. Layak untuk dikunjungi.  

Oke, demikian dulu cerita perjalanan, persisnya kulineran di Wonosobo. Masih ada beberapa yang belum terkunjungi, seperti lontong tetel. Semoga di lain kesempatan.

Baca juga: Berkunjung ke Kota Atlas Semarang









Setengah Hari Mengelanai Kota Mendoan, Purwokerto

Aku yakin, bukan cuma aku yang lebih kenal Purwokerto dibandingkan Banyumas. Mungkin alasannya berbeda-beda. Namun, salah satunya bisa jadi sama, bahwa Purwokerto lebih beken dibandingkan Banyumas. Padahal Purwokerto merupakan ibu kota Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Aku sendiri mengenal Purwokerto sejak kuliah di Bandung. Perjalanan keretaku dari kampung halaman menuju Bandung pasti melewati Purwokerto. Nah, akhir Juni lalu akhirnya aku bisa menyingggahi kota ini meski hanya semalam. 




Purwokerto masuk dalam daftar kota yang ingin kukunjungi, selain beberapa kota lain di Jawa Tengah, seperti Wonosobo, Muntilan, Jepara, Rembang, Kudus, Lasem, dll. Dalam perjalanan kereta, biasanya aku terjaga saat lokomotif mandek sejenak di stasiun Purwokerto. Terakhir aku bergabung dalam tim penulis buku biografi seorang jendela TNI bintang 3 yang salah satu tugas bagianku adalah kisahnya selama di Purwokerto. Demikianlah aku antusias sekali saat kawan Ajeng Kesuma mengajakku berkelana ke Wonosobo dengan janji ketemu di Purwokerto. 


Sejarah Purwokerto

Secara status wilayah, rupanya dulu Purwokerto pernah berstatus kota administratif. Seperti kota-kotalainnya, kota dengan total luas wilayah 39,58 kilometer persegi ini juga memiliki catatan sejarah yang menarik.

Purwokerto berdiri pada 6 Oktober 1832 sebagai sebuah kadipaten. Pendirinya Adipati Mertadireja II. Desa Peguwon yang terletak di sekitar Sungai Pelus dipilih sebagai pusat pemerintahan. Empat tahun berselang, wilayah ini digabung menjadi satu dengan Kadipaten Ajibarang. Persisnya pada 1 Januari 1836. Di sinilah muncul nama Banyumas--yang di kemudian hari kita kenal sebagai kabupaten--sebagai ibu kota.

Memasuki abad ke-20, di bawah pemerintahan kolonial Belanda, mulai dilakukan perubahan tata ruang kota di Purwokerto. Yang punya peran adalah seorang arsitek Belanda, Herman Thomas Kartsen. Selain pembaruan, Herman juga mendesain ulang tata ruang demi kebutuhan mengakomodasi terjadinya lonjakan penduduk. Bukan hanya di Purwokerto, tapi di wilayah lain di Pulau Jawa.

Nama Purwokerto konon ada dua versi. Yang pertama berdasarkan temuan batu yang diyakini sebagai reruntuhan candi di masa lalu, disinyalir sebagai peninggalan Kerajaan Pasiluhur. Batu yang ditanam di Arcawinangun, Kecamatan Purwokerto tersebut dikenal sebagai “Makam Astana Dhuwur Mbah Karta” yang berada di Arcawinangun, Kecamatan Purwokerto. Nama Karta itu mengacu pada “Karti” di nama Kiai Kartisura. 

Versi kedua cukup singkat. Menyebut asal-usul nama Purwokerto mengadaptasi dua lokasi bersejarah di wilayah tersebut, yakni Kertawibawa, ibu kota Pasir, dan Purwacarita, kerajaan di tepi Sungai Serayu. 

Entah mana yang lebih tepat. Namun sepertinya keduanya sama-sama menyepakati bahwa penyebutan wilayah ini adalah Purwokerto, bukan Purwakarta, yang merupakan kabupaten di Jawa Barat. 





Pengelanaan Setengah Hari

Aku tiba di Purwokerto persis tengah malam, sudah masuk tanggal 24 Juni 2025. Rencana ke Purwokerto--memenuhi ajakan kawan ini--sebetulnya tak mendadak amat. Namun, ternyata tak mudah mendapatkan tiket kereta api dari Bandung. Memang, ya, kereta masih jadi pilihan ekonomis terutama kereta ekonomi atau gerbong ekonomi. Rebutan. Telat pesan, nggak kebagian. Jadilah aku menggunakan moda bus antarkota.

Aku bukan penggemar moda bus (Berhubungan dengan travel). Biasanya untuk kepergian luar kota jarak jauh, aku memilih kereta api sebagai sarana transportasi. Jarak dekat barulah pakai bus. Itu pun dulu. Begitu ada banyak travel yang beroperasi, bus pun kembali ditinggalkan. Seperti belajar kembali menggunakan jenis angkutan ini. Menuju ke Terminal Cicaheum untuk menaiki bus Sinar Jaya yang kupesan melalui Traveloka. Cek ke loket ternyata tersedia cukup banyak armada menuju Purwokerto, dengan sedikit selisih tarif. Kalau waktunya leluasa, bisa langsung ke terminal saja untuk mendapatkan layanan yang diinginkan. Tiket yang kupesan seharga Rp130.000.

Memasuki Purwokerto, sopir menurunkanku di lokasi yang konon cukup dekat dengan penginapan yang sudah dipesan kawan. Memang dekat, aku cukup membayar Rp8.000 untuk ojek online yang kupesan. 



Penginapannya menarik, namanya Omah Kranji. Guest house ini berlokasi di Jalan Kranji, tak jauh dari alun-alun Purwokerto. Kalau kalian orang Bandung, bisa kugambarkan vibes penginapan ini menyerupai Bumi Asih yang berada di kawasan belakang Gedung Sate. Versi mininya. Sempat berbincang sedikit dengan pemiliknya pada pagi kami akan jalan-jalan. Ibu pemilik pernah tinggal lama di Bandung dan Jakarta.

Berhubung sudah ada rencana lanjutan ke Wonosobo, kami memanfaatkan waktu sebaik mungkin, menikmati kota ini. Diawali dengan jalan kaki memutari alun-alun.

Sepanjang perjalanan dari penginapan menuju alun-alun kami mendapati beberapa penginapan. Jadi, tampaknya tak sulit untuk mencari tempat bermalam di kota ini. Alun-alun yang berseberangan dengan komplek Kantor Pemerintahan Kabupaten Banyumas berjarak lebih kurang satu kilometer dari penginapan.

Kami menuntaskan jalan kaki empat kali putaran sebelum meutuskan mencari sarapan. Ada cukup banyak saran yang kami temukan di media sosial. Namun, kami mengikuti satu rekomendasi kawan untuk menjajal sroto Purwokerto. Tempatnya tak terlalu jauh juga dari alun-alun. Beberapa kali kelokan dan menambah sekian bulir keringat, hehe, akhirnya kami tiba di RM Sroto yang ada di Jalan Bank. 

Kami memesan sroto dua porsi dan tempe mendoan serta teh poci satu porsi. Srotonya oke, enak, aku suka citarasanya. Sayangnya--sebagai kota dengan julukan Kota Mendoan--malah mendoannya kurang nendang. Lumayan terbayarkan oleh legitnya teh yang diseduh bersama gula batu.




Sayangnya ukuran lambung tak bisa terlalu banyak menampung makanan. Jadilah cuma itu kuliner yang kami nikmati di Purwokerto. Lain kesempatan perlu berkunjung kembali, sengaja untuk njujug ke kota ini dan menikmati aneka suguhan kotanya.

Ada yang mau jalan-jalan bareng? Barangkali Mbak Suci, kawan travel blogger Medan lagi berkunjung ke tanah Jawa, boleh dicoba. 

Btw, perjalanan panjangku yang diawali dari kunjungan ke Purwokerto ini membuatku segera mengeksekusi keinginan berkelana ke beberapa kota yang selama ini hanya jadi wacana. 















Berburu Rujak Cingur di Bandung

Rujak cingur sejauh ini masih menjadi makanan favorit orang Jawa Timur. Kombinasi rasa pedas, legit, gurih, dan asem yang menjadi ciri khas rujak ini suka bikin nagih. Terutama bagi waga Jatim yang lidahnya lama tak bersentuhan dengan makanan ini. Sekali waktu pasti kangen dan berusaha mencari. Itu pula yang terjadi denganku, yang secara berkala akan mencari masakan khas Jatim, di antaranya rujak cingur. Di Bandung ada makanan olahan agak mirip yaitu lotek dan karedok, sayuran dengan olahan sambal. Namun, tentu saja berbeda. 



Baca juga: Ragam Kuliner Halal dan Nonhalal di Bali

Perkenalanku pertama dengan lapak rujak cingur di Bandung baru pada 2006. Tak sengaja menemukan lapaknya di komplek tentara kawasan Gatot Subroto, Bandung. Sudah tak kutemukan lagi lapak itu. Berganti rupa. Aku coba catatkan beberapa rekomendasi tempat makan di Bandung yang menyediakan rujak cingur, ya. Beberapa aku sudah pernah datangi, cicipi, dan masih bertahan hingga sekarang. Sebagian lain rekomendasi kawan dan aku kutipkan dari lapak online.


Rujak Cingur, Muasal dan Perkembangannya

Jika mengacu pada catatan yang dibuat orang di wikipedia, disebutkan bahwa rujak cingur mulai muncul di Surabaya pada kisaran tahun 1930-an, dibawa oleh pendatang dari Madura. Pedagang Madura ini mengawali olahan rujaknya dengan petis petis ikan cakalang khas Madura. Lalu menggantinya dengan petis udang, untuk memenuhi selera lidah mayoritas suku Jawa di Surabaya. 

Cingur diambil dari kepala sapi. Persisnya, bahan cingur diambil dari moncong atau congor sapi yang telah direbus hingga empuk, lalu diiris-iris persegi. Selain cingur, komponen lainnya adalah sayur, buah, dan tahu/tempe. Sayur yang biasanya dipakai antara lain kangkung, kecambah, timun, dan kacang panjang. Sedangkan buah, ada beberapa jenis yang sering dipakai, yakni mangga muda, kedondong, bengkoang, nanas, dan belimbing. Tempe dan tahu diiris kotak-kotak. 

Bumbu ulekannya terdiri dari kacang tanah yang sudah digoreng, gula merah, cabe, irisan pisang klutuk, garam, dan petis. Setelah diuleg halus, ditambahkan air asam untuk mengencerkan, barulah aneka komponen dimasukkan. Penyajiannya tinggal ditambahkan bawang goreng dan krupuk. Tambahan karbohidrat pilihannya nasi atau lontong. 

Tidak semua daerah di Jawa Timur bisa ditemukan olahan rujak ini. Sewaktu aku tinggal di kota kelahiran, Trenggalek, tak ada yang menjual. Ada yang jual di pusat kota, itu pun hanya rujak petis, tanpa cingur. Tanpa buah lengkap. Seingatku, mencicipi rujak cingur pertama kali di kota sebelah, Tulungagung. 

Begitu pun di kota-kota lain, kalaupun ada, jarang yang komponennya sangat lengkap seperti yang disajikan di lapak-lapak rujak cingur area Surabaya dan sekitarnya. Pisang klutuk, misalnya, bukan komponen yang mudah ditemukan di Bandung. Jadi, kalau di Bandung bisa menemukan rujak cingur dengan komponen lengkap, setidaknya mendekati, pasti surga banget, hehe.

Baca juga: Berkenalan dengan Margo Redjo, Roastery Tertua di Semarang


Warung Rujak Cingur di Bandung

Belum semua lapak rujak cingur di Bandung pernah kucoba. Masih masuk dalam daftar referensi. Biasanya aku enggan untuk mengunjungi lapak yang jualan utamanya lotek atau gado-gado. Karena masing-masing punya kekhasan. Untuk lapak yang menyediakan olahan sayur ini kecenderungannya rasanya sama. Tapi lain waktu mungkin perlu coba, siapa tahu selama ini saiyah terlalu rarasaan.  


Rujak Cingur Mas Nardi

Aku nggak ingat nama persis lapaknya apa. Tapi pemliknya namanya Mas Nardi, orang Pare, Kediri. Awal aku coba olahannya, lapaknya ada di sisi jalan Cilaki, sekitar Gedung Pos. Warung Tenda. Lantas pindah di dalam area kantin STIA LAN. Komponennya lumayan lengkap, rasa dan porsinya pas untuk lidahku. Harga Rp30 ribuan.

Di warung Mas Nardi ini tersedia juga rawon, pecel, tahu telor petis, sesekali ada aneka botok. Jam buka menyesuaikan jam operasional kampus. 


Rujak Cingur Jombang Bu Suji

Lokasinya di Jalan Gudang Selatan No. 18B, tak jauh dari persimpangan rel kereta api Jalan Ahmad Yani. Lapak ini terhitung paling dekat dengan rumah tinggalku, dan pada sebuah masa merupakan jalur menuju tempat kerja. Jadi terbilang paling sering kukunjungi.

Porsi dan rasa, oke. Pas. Lontong tahu-telor petisnya juga enak. Pilihan menu lainnya sama persis dengan lapaknya Mas Nardi. Jam buka mulai pagi; jika datang lepas jam makan siang sering tidak kebagian. 


Rujak Cingur Warung Suroboyo 

Sudah lama sekali aku mencicipi rujak cingur di lapak ini. Dan itu sekali-kalinya, tak pernah singgah lagi. Tak ingat persis kenapa. Kemungkinan rasanya kurang pas di lidah, terlalu manis. Atau harganya terlalu mahal, hoho.

Tapi di warung yang berlokasi di Jalan Natuna No.57 ini banyak juga pilihannya, seperti rawon, soto ayam, tahu gunting, rujak gobet petis, dan lainnya. Tempatnya juga cukup nyaman untuk dikunjungi bareng keluarga atau beramai-ramai. Jam operasionalnya siang hingga sore. 

Baca juga: Bali 2024, Wisata Kuliner dan Religi


Rujak Cingur Pak Sadi

Menu utama lapak Pak Sadi ini adalah Soto Ambengan. Aku pernah mencicipi rujak cingurnya di lapaknya Jalan Lombok. Rasanya so-so. Lapak itu sudah tutup. Lapak Pak Sadi lainnya ada di Jalan Banda dan Lodaya. Untuk dua tempat ini aku belum mencicipi rujak cingurnya.


Rujak Cingur Bude Pon

Di lokasi ini aku juga baru sekali mencicipi. Karena kebetulan sedang agenda di area Cikaso. 

Rujak cingurnya oke. Menu lainnya khas makanan Jatim seperti pecel, rawon, dan soto. 


Beberapa rekomendasi di bawah ini kutemukan dari beberapa sumber. Aku belum pernah mengunjunginya. Lain waktu bisa mencicipi, bakal ku-update informasinya.

  • Kedai Bu Ai, Jalan Pajajaran No. 145
  • RM Rawon Bik Atik 5, Jalan Batununggal Indah Raya No. 389, Batununggal
  • Warung Bu Luluk, Jalan Cikuray 
  • Lotek Nenek, Jalan Cibangkong
  • Kedai Pecel, Jalan Batununggal
  • Pecel Madiun Kedai Mbak Wiwin, Jalan Gunung Batu Raya (Depan Ruko Gunung Batu Kav 15), Cicendo
  • D'Orange, Jalan Akasia Raya Blok A2 No.6, Komplek D'Orange, Cimekar, Cileunyi
  • Kangen Lotek, Jalan Gatsu (Depan Kodim 0609), Cimahi
  • Rawon Kertasari, Jalan Nata Endah A09, Sayati, Margahayu
  • Lotek Nenek, Jalan Cibangkong No. 48B 
  • Lotek Tki 3, Taman Kopo Indah 3 Blok C11, Margaasih
  • Nasi Goreng Ferall, Jalan Cibangkong Rt 04 Rw 05
  • Dapoer Djawa, Jalan Batununggal Indah No. 173, Bandung Kidul
  • Nasi Pecel Madiun, Jalan Riung Saluyu 13-B No. 298, Cipamokolan, Rancasari
  • Warung Rujak Gjg, Kampung Brujul Pesantren Rt03 Rw26 No. 20 Mekar Rahayu (depan Bengkel Yohan)
  • Ayam Bakar dan Goreng Sari Manis Mimi, Jalan Raya Sinar Mukti RT 001 RW 002, Selacau, Batujajar, Bandung Barat
  • Lotek dan Rujak Arin, Gang Hj Gojali No. 29, Jl. Sukagalih (dekat Dapur Ma Enay), Karang Tineung, Sukajadi

Jika kawan-kawan bisa melengkapi alamat lain kedai di Bandung yang menyediakan rujak cingur atau kuliner Surabaya atau Jatim lainnya, berkabar, ya. Kecuali saiyah berkesempatan jalan-jalan ke lokasi asal, mungkin minta kawan blogger Surabaya menemani. Cihuuuy!


Sekadar catatan, rujak cingur telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi sebagai salah satu dari 1.728 budaya dalam Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

Baca juga: Berkunjung ke Kota Atlas

Berkenalan dengan Margo Redjo, Roastery Tertua di Indonesia

Dari depan, bangunan tak menunjukkan sebagai sebuah tempat usaha. Hanya penunjuk nama saja yang menjelaskannya. Itu pun bagi yang cukup tanggap terhadap keberadaan ini tulisan. Jika tidak, sekali lewat saja, bisa jadi tak menangkap tanda apa pun. Kawan Semarang, Mima, mengajakku ke sini. Tempat yang begitu masuk langsung membuatku: waaaaahhh. Setelah ada di dalam area barulah terlihat bangunan kuno yang ternyata masuk dalam daftar heritage-nya Semarang. Itulah Margo Redjo, roastery tertua di Indonesia. Berlokasi di Jalan Wotgandul Barat Nomor 14, Semarang.


Baca juga: Kopi Aroma, Kopi yang Diolah dengan Cinta

Begitu tiba di nomor 14 Jalan Wotgandul Barat, kita disuguhi pemandangan tempat tambal ban di area kiri dan warung tenda makanan di sebelah kanan. Di antaranya pada tembok tersisa, terdapat satu pintu kayu berukuran 2x1 meter. Saat pintu terbuka, yang tersaji di depan mata adalah beberapa pasang meja kursi berukuran kecil hingga sedang. Area itu terteduhi oleh deretan bambu sebafai pagar dan beberapa pohon berukuran besar serta tanaman merambat sebagai pemanis. Nun, di belakang, tampak bangunan utama yang menjadi heritage sebagai latar. Pada sisi kanan terdapat bangunan yang di dalamnya tersedia aneka pilihan kopi Nusantara yang menjadi kekhasan Margo Redjo. 


Margo Redjo dalam Sejarah

Saat ini, nama Margo Redjo sebetulnya menempel pada kedai kopi atau kafe atau koffie huis yang baru dibuka pada 2019. Margo Redjo sebagai roastery sudah bersalin nama menjadi Dharma Boutique Roastery. Jadi, sebetulnya, kalau kita menyebut sejarah, perjalanan ke belakang kita adalah menjumpai masa lalu Dharma Boutique Roastery. Tapi, ya, baiklah, kita sebut saja Margo Redjo karena memang itulah nama awalnya. 


Sejarah pabrik kopi ini berawal dari Tan Tiong Ie, seorang pria kelahiran Semarang yang mengawali pekerjaannya sebagai pedagang garam. Usahanya bangkrut. Ia mencoba peruntungan di tanah Sunda. Persisnya, Tan Tiong Ie hijrah ke Cimahi, Jawa Barat. Jadi, Tan Tiong Ie mendirikan usaha kopinya bukan di rumah masa kecilnya, melainkan di negeri orang, di Cimahi, kota yang kemudian hari dikenal sebagai kota tentara. 

Tan memulai usahanya pada 1915. Pada masa itu, kopi robusta mulai masuk ke Hindia Belanda. Usahanya terhitung lancar. Tan berhasil memiliki sejumlah perangkat pengolahan kopi. Pada 1924 ia memutuskan pulang ke kota kelahirannya. Diboyongnya segala perkakas pabrik berukuran besar itu untuk dilanjutkan beroperasi di Semarang. Meski demikian, Tan bukan memulai pabriknya di rumah, melainkan di area yang disewanya di Jalan dr. Cipto. Pabrik ini beroperasi selama kurang lebih 4 tahun. Dalam kurun waktu tersebut ia tak kunjung mengantongi izin. Besar kemungkinan karena adanya keberatan dari para tetangga. Izin itu baru didapatkan pada 1928, setelah Tan memutuskan kembali memboyong pabriknya, kali ini ke rumah keluarga di Jalan Wotgandul.  

Baca juga: Ragam Kuliner Bali, Halal dan Nonhalal



Pada masa-masa itu, dimulai pada 1926, Pabrik Kopi Margo Redjo mengalami kejayaannya. Hal itu ditandai dengan ekspor kopi yang berjalan dengan baik dan stabil ke negara-negara di Eropa. Puncaknya terjadi pada 1929. Margo Redjo bisa mengekspor tak kurang dari 200 ton biji kopi per tahun. Jumlah tersebut dapat dikatakan menguasai pasar ekspor dari Semarang. 

Industri kopi Mergo Redjo --dan banyak bisnis lain-- mengalami kejatuhan pada saat berlangsungnya perang dunia lalu penguasaan Jepang terhadap Indonesia. Tan pun menutup usahanya. Di luar persoalan politik di tanah air, kedatangan tentara Sekutu yang membonceng Belanda tiba di Semarang, malah menghadirkan angin segar bagi usaha Tan. Mereka meminta Tan untuk kembali membuka Margo Redjo. Tak hanya itu, mereka bahkan menyediakan bantuan mesin diesel sebagai penyedia pasokan aliran listrik. Demikianlah, Margo Redjo kembali beroperasi dan secara khusus memproduksi kopi untuk orang-orang Belanda. Kegiatan itu terus berlangsung hingga mereka kembali ke negaranya karena sudah terjadi penyerahan kekuasaan. 

Pada perjalanan berikutnya, persaingan terjadi setelah industri kopi di tanah air mengalami perkembangan pesat. Persaingan tak dapat dihindari. Pada tahun 1980-an Margo Redjo mulai mengurangi produksi. Mereka melayani pelanggan tertentu saja.

Baca juga: Menjajal Minuman Beralkohol Khas Bali


Margo Redjo Koffie Huis

Jenama Margo Rejo sebagai pabrik kopi telah diganti menjadi Dharma Boutique Roaster sejak 2017. Berbagai perangkat yang telah membesarkan nama Margo Redjo masih dibiarkan bertahan di bagian belakang bangunan, dalam sebuah ruang khusus. Malah, aneka peralatan pengolah kopi yang merupakan produk Belanda dan Jerman yang usianya telah melewati satu abad itu menjadi penghuni ruang yang kemudian dijadikan museum kopi mini. 



Di dalam ruangan itulah aku menyimak kisah yang disampaikan awak Kedai Kopi Margo Redjo. Setiap harinya, pada jam-jam tertentu ada tawaran kepada pengunjung kedai untuk menyimak sejarah pabrik kopi seraya melihat langsung aneka perangkat yang pernah digunakan pada masa lalu tersebut. Pada hari kunjunganku, tak ada orang lain yang berminat. Jadi aku berdua saja dengan kru --duh, lupa namanya-- yang menjadi tour guide

Setelah menyimak cerita, kami kembali ke area depan yang dijadikan showroom. Di ruang ini tersedia 35 jenis kopi yang disimpan dalam keler kaca. Kopi-kopi tersebut disiapkan bagi pembeli yang telah melakukan pemesanan maupun bagi pembeli yang datang berkunjung. 

Saat kembali ke ruang ini, ada Mbak Sri yang memperagakan proses grinding kopi menggunakan perangkat manual lama yang masih difungsikan. Grinder mungil itu memiliki kapasitas hingga 5 kg. Untuk takaran yang lebih besar, ada alat lain yang digunakan, disimpan di bagian samping showroom. Alat timbang yang digunakan juga perangkat lama dari zaman Belanda. Begitu pula alat hitung, bukan menggunakan kalkulator, melainkan cipoa, alat hitung tradisional China. 

Aku minta dibuatkan kopi tubruk pakai biji kopi Gunung Wayang. Lantas memilih duduk di lokasi paling dekat dengan bangunan utama yang menjadi salah satu cagar budaya Kota Semarang itu. Sempat menuntaskan beberapa PR penyuntingan naskah hingga jelang kafe tutup. 


Senang bisa berkunjung ke Margo Redjo. Terima kasih untuk sambutan hangatnya. 

Baca juga: Berkunjung ke Kota Atlas

Minuman Beralkohol Bali, Mana yang Sudah Kamu Coba?

Aku bukan penggemar minuman beralkohol. Tapi cukup bisa menikmati selagi kadar alkoholnya tak terlalu tinggi. Bali laksana surga bagi para peminum. Karena aneka minum beralkohol dapat ditemukan di berbagai lapak, mulai dari warung kecil hingga yang memiliki pabrik dan kebun sendiri. Jadi, selagi berada di Bali, kenapa tidak aku cicip-cicip aneka minuman beralkohol khas Bali? Apalagi jika gerainya menarik untuk dikunjungi. Yang dipilihkan buat kukunjungi adalah Hatten Bali (WINE).



Baca juga: Menjumpai Naga Perak di UC Silver Gold


Hatten Bali (WINE), berikutnya kita sebut Hatten saja untuk memudahkan, berlokasi di By Pass Ngurah Rai, Sanur, Denpasar. Jalanan tengah diguyur gerimis ringan saat kami memasuki area parkir Hatten. Tapi, sebelum lebih jauh bercerita soal produsen wine yang milik orang lokal Bali ini, aku ingin mengingatkan soal minuman beralkohol yang cukup akrab dengan masyarakat kita sejak kala bendhu alias masa yang tak terdeteksi kapan persisnya.   


Minuman Beralkohol di Tengah Masyarakat Indonesia


Mengutip Katadata, ada 12 minuman alkohol tradisional Indonesia. Ke-12 macam minuman itu tersebar di seantero tanah air, dari Sabang hingga Merauke. 


Arak 

Arak terbuat dari hasil penyulingan kelapa, enau, atau lontar dengan kadar alkohol yang cukup tinggi. Selain arak Bali yang memang terkenal, arak juga cukup dikenal di Aceh dan Jawa Tengah. Hah, Aceh? Ya, demikian menurut Katadata. Aku sendiri belum pernah tahu arak asal Aceh ini. Sedangkan di Bali, arak menjadi mata pencaharian masyarakat, terutama di Karangasem dan Buleleng. Tak heran jika data BPOM menunjukkan bahwa Bali merupakan produsen arak terbesar di tanah air dengan jenis terdaftar lebih dari 400 merek. Konon, arak Bali punya kandungan anggur yang setara dengan wine.


Brem

Di Madiun ada makanan berupa endapan air tapai singkong. Bukan itu, karena kita bicara minuman. Minuman beralkohol yang namanya brem ini adanya di Bali. Warnanya coklat tua, menyerupai kopi. Brem merupakan cairan dari hasil fermentasi ketan dengan ragi. Brem sangat mudah ditemukan di Bali dalam berbagai merek.


Tuak 

Tuak merupakan minuman yang familier di berbagai kawasan di tanah air. Jawa, Sumatra, Bali. Tuak terbuat dari fermentasi beras, nira, atau buah yang mengandung gula.


Legen 

Minuman ini khas Gresik, Jawa Timur. Terbuat dari pohon siwalan, mirip pohon kelapa dengan buah yang lebih kecil. Konon legen diproses dari bunga pohon siwalan, yang selain menghasilkan legen juga gula merah. Legen dapat berubah menjadi tuak dalam waktu 24 jam jika tak diolah dengan baik. 


Sopi dan moke 

Minuman tradisional beralkohol ini dikenal oleh masyarakat Maluku, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara. Kata "sopi" diambil dari bahasa Belanda, zoopje, yang artinya alkohol cair. Aimere, Ngada, NTT disebut-sebut sebagai kawasan dengan produksi sopi terbaik. Di NTT, sebutannya bukan sopi melainkan moke. Sopi atau moke ini terbuat dari hasil sadapan pohon lontar dengan proses pengolahan masih tradisional. Penyulingan hasil sadapan lontar adalah dengan menggunakan periuk tanah liat yang terhubung dengan batang bambu untuk mengalirkan air dari penguapan. 


Laru 

Laru merupakan bahan dasar sopi, dari nira pohon lontar yang telah disuling. Minuman khas Nusa Tenggara Timur disuguhkan dalam perayaan-perayaan atau pesta yang diselenggarakan kelompok masyarakat kelas menengah.


Ciu 

Ciu akrab dengan masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bahan pembuatan ciu beragam. Misalnya di Banyumas, ciu dibuat dari hasil fermentasi singkong. Sedangkan di Bekonang, Solo, ciu dihasilkan dari fermentasi tetes tebu. 


Baca juga perjalanan ke Bali lainnya:


Anding atau baram 

Anding dan baram adalah minuman khas yang berasal dari Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Bali. Di Kalimantan, baram dikenal sebagai andingdan telah dibuat oleh suku Dayak sejak berabad-abad yang lalu. Minuman ini terbuat dari campuran ragi, nila, enau, dan nasi ketan. Aku pernah mencicipi minuman yang dibuat oleh keluarga adik ipar, orang Dayak. Cuma seingatku saat itu dibilangnya tuak saja. Entah memang tuak, atau anding ini. Sebutan tuak untuk mempermudah saja. 


Tuo nifaro dan tuo mbanua 

Dua minuman ini berasal dari Nias, biasanya menjadi bagian dari tradisi seserahan. Tuo nifaro merupakan fermentasi penyulingan nira pohon, baik dari kelapa maupun enau. Sedangkan tuo mbanua merupakan tuak mentah atau sering disebut tuak arak. 


Swansrai 

Yang ini Papua pu minuman. Swansrai biasanya dijadikan suguhan untuk tamu penting. Terbuat dari air kelapa yang telah difermentasi dalam waktu lama.  Swansrai biasanya disajikan dalam gelas atau mangkok yang terbuat dari batok kelapa.


Saguer atau ballo 

Saguer atau ballo ini merupakan minuman beralkohol, khas dalam tradisi masyarakat Sulawesi Utara. Dibuat dari fermentasi nira pohon enau atau pohon lontar. Istilah saguer berasal dari pohon enau yang dalam bahasa Minahasa disebut sague. 


Sageru 

Namanya agak mirip, saguer … sangeru. Yang ini berasal dari Maluku, yang cara mendapatkan nya adalah dengan mengiris batang tangkai pohon aren. Ada waktu khusus dalam mengiris si tangkai, yaitu antara pukul 7 hingga 10 pagi, atau sekitar pukul 3 sore. 


Dari sekian nama di atas, urutan satu hingga tiga, banyak ditemui di Bali. Selain minum minuman beralkohol menjadi semacam tradisi masyarakat lokal, juga menjadi pilihan menarik bagi para wisatawan. Nah, dalam kunjunganku terakhir ke Bali kemarin, singgah ke gerai PT Hatten Bali Tbk (WINE) yang selain produksi minuman utamanya yakni wine, juga menjaga minuman khas lokal Bali yaitu arak dan brem. 



Baca juga perjalanan ke Bali lainnya:


Kiprah Lebih dari Dua Dekade 


Saat ngobrol dengan pramuniaga di Hatten, lebih banyak menyimak, karena memang tak berbekal informasi awal. Di antaranya dia menyebutkan tentang produksi Dewi Sri yang sudah dimulai dari 1968. Giliran cek ulang, kok jadi bingung. Brem diproduksi oleh Dewi Sri dan tak ketemu informasi terkait Hatten dan produksi brem ini. Usut punya usut, Hatten ternyata merupakan distributor tunggal produk Dewi Sri. Untuk pemasarannya melalui The Cellardoor, ada dua, yakni di Jakarta dan Bali. Hatten sendiri khusus memproduksi wine. 


Di Cellardoor Bali yang juga merupakan kantor PT Hatten, brem bersama arak dan aneka wine dipajang. Tersedia ruang-ruang yang nyaman untuk bersantai maupun keperluan meeting. Untuk brem terdiri dari 2 macam, yang orisinal dan liquer. Apa bedanya? Orisinal dengan kandungan alkohol 5% sedangkan liquer 14%. Untuk brem orisinal dipasarkan dalam dua kemasan, 200 ml dan 630 ml. Sedangkan yang liquer hanya dalam kemasan 630 ml.



Bagi penggemar minuman beralkohol dengan nuansa manis, layak coba. Aku sih suka, ada asam yang menyegarkan. Brem liquer dari sisi rasa tak terlalu jauh beda. Sedikit lebih pahit karena ada tambahan arak untuk meningkatkan kadar alkohol. Buatku sih bikin lebih cepat ngantuk, hehe.



Untuk produksi wine, produksi Hatten Bali telah berlangsung selama 24 tahun. Awalnya hanya memakai bahan anggur lokal Bali, hasil panen dari kebun milik mereka sendiri di kawasan Karangasem. Dalam perkembangannya kemudian Hatten menciptakan wine berbahan anggur Australia. Impor. Dalam kurun waktu tersebut Hatten telah mengeluarkan beberapa varian wine dengan dua seri berdasarkan bahan, yakni anggur lokal dan anggur Australia. Perbedaan musim menjadikan taste dari masing-masing wine berbeda. Tampaknya dalam hal ini tergantung selera, ya. 


Aku sempat mencoba 3 macam produk wine mereka, yakni Aga White dan Aga Red, dan Pino de Bali yang dipasarkan setelah masa penyimpanan 5 tahun. Slurp, yummy!


Menurut Bli Pramuniaga yang aku lupa tanya namanya, dalam sekali produksi, ada 2.000 botol wine. Selain memiliki kebun anggur sendiri, Hatten juga dilengkapi dua prabrik dan gudang. Kemungkinan bakal menambah lokasi baru, mengingat banyaknya kontainer yang terpaksa disimpan di area outlet karena ruang terbuka di pabrik tak mencukupi. Mas Bli bercerita sambil menunjukkan kontainer yang berjajar di dekat area parkir. 



Untuk pemasaran, Hatten menyasar pasar utama hotel dan restoran di kawasan pariwisata seperti Kuta, Nusa Dua, hingga Canggu. Selain itu mereka berupaya mengembangkan penjualan melalui jaringan ritel, yang tentu tak semua wilayah menyediakan, mengingat kandungan alkoholnya.

Sepertinya kalau bisa mengunjungi pabriknya, lebih seru, ya? Ah, siapa tahu kapan-kapan ada kesempatan lagi ….



Baca juga catatan perjalanan di Bali lainnya:


PT Hatten Bali (WINE)
Jl. By Pass Ngurah Rai No. 393 Sanur, Denpasar, Bali