Showing posts with label cerita sehari-hari. Show all posts

Bukan Hanya Perempuan, Semua Orang Harus Bisa Masak!

Banyak di antara kita yang tak bisa membedakan antara takdir dan konstruksi sosial. Salah satunya perihal masak. Bukan hanya kaum lelaki, para perempuan sering kali menyematkan urusan dapur ini sebagai bagian dari takdir mereka. Lalu mereka menerjemahkan bahwa perempuan harus bisa masak. Padahal yang mestinya terjadi: semua orang harus bisa masak! Karena memasak adalah salah satu dari kemampuan dasar bertahan hidup yang perlu dipelajari. 



Baca juga: Resep Ayam Bumbu Rujak dan Kenangan Masa Kanak

Iya, urusan memasak ini memang lucu. Aku menjumpai banyak pertentangan dan perdebatan, yang kadang bikin terbawa kesal baca komentar-komentarnya, tak sedikit yang bikin mengikik. Anehnya, perempuan yang seringkali menjadi subyek yang disudutkan, membuat pembelaan diri yang ngawur, yang akhirnya jadi bulan-bulanan. 


Drama Media Sosial

Kapan hari sebuah thread di medsos burung kebetulan lewat. Iseng baca-baca. Bahasannya soal "memasak sebagai basic life skill". Dalam hal ini, sangat sepakat. Karena demikianlah adanya, memasak harus menjadi kemampuan dasar semua orang, selagi makan adalah kebutuhan paling mendasar manusia untuk hidup. Karena kita tak pernah tahu kapan akan berada di kondisi uang tak punya harga, fasilitas melimpah tak ada artinya, kekuasaan tak ada manfaatnya, yaitu ketika kita dijauhkan dari semua akses yang memungkinkan kita mendapatkan asupan makanan. 

Di sini kita bicara soal kemampuan/kebisaan/kesanggupan memasak. Tak bicara sampai level mumpuni dalam memasak. Itu soal lain. Belajarlah menjadi chef kalau mau mumpuni. Kalau sekadar bisa memasak untuk bertahan hidup, mestinya bukan hal yang sulit. 

Tapi, ya, namanya kepala manusia, yang bertumbuh di berbagai macam lingkungan, komentarnya pun beragam. Dan banyak yang mementahkan pernyataan itu. 

"Coba itu yang bilang life skill, lalu sebagai ibu gak mau masak, anaknya gimana? Dibiarin?"

Bahkan ada yang mengatakan, "Nggak guna amat perempuan nggak bisa masak! Terus seharian di rumah, ngapain aja?!"

Penginnya aku ikut komen, "Ya, itu mah kesalahan kalian dalam membuat kesepakatan dengan pasangan, Bastian!" Tapi ya, buat apa. Hanya akan buang energi. 

Lucunya, banyak pula perempuan yang ingin berlindung di balik pernyataan "perempuan tak harus pintar masak." Ada ungkapan sarkastis yang kutemukan --lagi-lagi di medsos burung, tayangan tangkap layar dari perempuan yang mengatakan, "Aku nggak bisa masak, ibuku tak pernah mengajariku memasak." Komentarnya, "Memang kamu bisa bl*wj*b diajarin sama ibumu?!" Komentar yang sontak bikin mengekek. 

Ya, memasak itu salah satu kemampuan dasar. Perkara dalam konteks hidup berpasangan, siapa yang menyiapkan masakan, itu hal lain. Aku, lo, masih akan selalu beranggapan salah satu nilai seksi dari lelaki adalah kemampuannya memasak 🥰

Eh, ini tadi sebetulnya mau pamer masakan. Kok jadi panjang bahasannya 😀

Baca juga: Umbi dan Cerita Masa Kanak


Memasak yang Bikin Happy

Tak dimungkiri, kemampuan memasak kita berangkat dari lingkungan kita dibesarkan. Ibuku tak pintar memasak. Standar saja untuk konsumsi sehari-hari. Nyaris tak pernah ngulik jenis makanan yang aneh-aneh. Apalagi pada zaman baheula tea, belum bisa nyontek dari aneka sumber informasi. 

Pada akhirnya, ketika dipaksa oleh keadaan untuk memasak bagi diri sendiri, agak gamang juga aku untuk mencoba ini dan itu. Nah, aku baru menemukan hal unik beberapa waktu lalu. Mungkin buat kalian ini biasa saja 🤭 Tapi buatku unik, karena seumurku di Bandung yang sudah lebih dari seperempat abad ini aku hidup sendiri. 

Beberapa bulan lalu sempat berada dalam lingkungan kecil yang terhitung sering bareng. Kecil, hanya 3 orang. Lalu, selagi masak di rumah, aku terpikir untuk memasak sekalian buat bertiga. Nggak terlalu banyak juga pengeluaran, sedangkan effort-nya sama. Maka mulailah iseng ngulik resep masakan. Masih yang sederhana, tapi memang tak pernah kulakukan sebelumnya. Dan itu ternyata menyenangkan. Mendapat apreasiasi sekadar makanan dihabiskan saja ternyata bisa bikin gembira.

Rasa-rasanya sejak masa-masa itu keinginanku untuk ngulik masakan mengalami peningkatan. Meski sekali waktu masih keasinan atau rasanya kurang pas.

Baca juga: Menu Bunga Pepaya, Jantung Pisang, dan Nangka Muda


Aku coba bagikan resepnya di sini, beberapa masakan yang sudah kucoba. 


Rujak petis

Seorang kawan berinisiatif mengirimiku petis, setelah saling berbagi komentar di fesbuk. Kubilang, seumur-umur aku belum pernah masak pakai petis. Maka demikianlah, aku mencoba membuat rujak petis. 



Bahan:

  • Kangkung 1 ikat 
  • Toge 2 genggam
  • Mangga mengkal setengah butir
  • Tahu 2 potong
  • Tempe 2 potong

Bumbu ulek:

  • 5 biji cabai rawit 
  • 1 siung bawang putih 
  • 1 sdm kacang goreng
  • 2 sdm gula merah/gula aren
  • sejumput terasi bakar
  • sejumput garam
  • 1 sdm (penuh) petis pitam 

Cara membuat:

  • Ulek bumbu-bumbu hingga halus, lalu tambahkan air secukupnya hingga kekentalan yang diinginkan. Cek rasa, tambahkan bumbu jika dirasa kurang.
  • Rebus kangkung dalam air mendidih. Jangan terlalu matang. Toge bisa sekalian direbus atau cukup direndam air panas. 
  • Tahu-tempe goreng dan mangga, potong sesuai ukuran yang diinginkan.

Untuk penyajiannya bisa dengan meletakkan semua komponen bahan ke dalam piring, lalu kuah dengan sambal. Atau bisa diaduk di cobeknya langsung. 

Rujak petis sudah langsung bisa dinikmati. Pasnya pakai lontong. Bisa diganti nasi. Tapi, berhubung kuantitasnya banyak bener, aku malah tak butuh karbo. Cukup dengan tambahan krupuk saja. 


Sambel Goreng Teri

Berbeda dengan rujak cingur yang tak perlu nasi, kalau masakan yang satu ini menjadi salah satu jenis makanan yang bisa membuatku makan banyak nasi. FYI, aku pengidap hipoglikemia. Salah satu penyebabnya, selain memang tak suka makanan manis, kurang suka nasi. Tapi belakangan hari, sudah bisa memaksakan diri makan nasi minimal 2 kali sehari. Dan nasi memang paling cepat mendongkrak kadar gula dalam darah. Maka, masakan jenis teman nasi semacam ini secara berkala memang kubutuhkan. Cara masaknya pun sederhana saja.



Bahan: 

  • 2 genggam teri kawat 
  • 1 ikat kecil bawang kucai
  • 2 papan petai
Bumbu:
  • 6 siung bawang merah
  • 3 siung bawang putih
  • 5 cabai keriting
  • 15 cabai rawit merah
  • Terasi secukupnya
  • Garam secukupnya
  • Penyedap rasa secukupnya

Cara membuat: 

  • Goreng teri hingga setengah matang
  • Haluskan semua bumbu, tumis sampai harum.
  • Masukkan teri, petai, bawang kucai. Aduk rata hingga matang.

Baca juga: Lebaran dan Madumangsa


Tahu Goreng Sambal Kecap

Sebetulnya ini menu yang sangat sehar-hari. Ketika butuh makan dengan cepat, ini salah satu menu yang sering kubuat. Bedanya, biasanya sekadarnya. Cukup tahu goreng dan sambal kecap. Kali ini aku membuatnya lengkap.



Bahan:

  • 3 potong tahu ukuran sedang
  • 1 siung bawang putih
  • Bawang goreng
  • Seledri
  • Toge pendek

Bumbu:

  • 5 cabai rawit
  • Garam secukupnya
  • Kecap secukupnya

Cara membuat:

  • Iris tahu dengan ukuran sesuai selera. Goreng, jangan sampai kering. Bisa juga dengan menggorengnya dalam bentuk utuh.
  • Haluskan bumbu, masukkan kecap, aduk rata.

Untuk penyajian, letakkan tahu goreng dalam piring. Untuk tahu yang digoreng utuh, penyet dengan ulekan. Lalu, siram dengan sambal kecap. Di atasnya taburi bawang goreng, toge pendek, dan irisan seledri. 


Sayur Bayam Bening

Ini menu yang sangat sederhana, tapi buatku istimewa sekali. Kenapa? Karena jarang banget kutemukan di tempat makan. Sesekali di warteg ada yang membuatnya, tapi tak selalu ada. Aku sangat jarang mencobanya, karena hasilnya sering terasa aneh di lidah. Entah kurang bumbu apa. Yang jelas, memang tanpa temu kunci. Si temu ini sebetulnya yang menjadi kunci rasa sayuran ini. Tapi apa daya, memang sulit mencarinya. Sepertinya harus ke pasar besar. 

Setelah mencoba memasak lagi, ternyata rasanya tak terlalu buruk. Aku tahu sebelumnya salahnya di mana. Ternyata selain soal temu kunci, gula putih juga menjadi kunci rasa. Sebelumnya aku tak memasukkan gula untuk masakan ini. Dan masakan lainnya juga, sih. Entah sebelumnya aku kok alergi banget memasukkan gula dalam masakan. Padahal kan perlu juga, ya 😁



Bahan:

  • 2 ikat kecil bayam
  • 1 ikat kemangi
  • 1 tongkol kecil jagung

Bumbu:

  • 3 siung bawang merah
  • Garam secukupnya
  • Gula secukupnya

Cara membuat:

Rebus jagung yang telah disisir hingga setengah matang. Masukkan bawang merah yang sudah diiris, bersama garam dan gula pasir. Terakhir, masukkan bayam dan kemangi. Tak perlu terlalu lama. 


Mi Ubi Kuah

Suatu kali iseng belanja online beberapa bahan olahan. Di antaranya kutemukan mi ubi. Mi dari bahan ubi. Baru tahu. Kok sepertinya menarik, maka kucobalah.



Bahan:

  • 1 bungkus mi ubi
  • 5 butir baso
  • 1 bonggol pakcoy

Bumbu:

  • 2 siung bawang merah
  • 1 siung bawang putih
  • 1/2 butir kemiri
  • 3 buah ebi
  • Kecap ikan
  • Merica secukupnya
  • Penyedap rasa secukupnya

Cara membuat:

  • Rebus mi ubi hingga setengah matang atau rendam air panas. Sisihkan.
  • Haluskan bumbu, tumis hingga harum.

Rebus baso, masukkan bumbu yang telah ditumis. Masukkan mi ubi. Tambahkan kecap, merica, dan penyedap rasa. Terakhir masukkan pakcoy, jangan terlalu matang.

Mestinya kuahnya pakai air kaldu. Berhubung tidak punya stok daging, yo wis, seadanya. Tapi ini enak, lo, biarpun penampakannya tidak meyakinkan 😂

Demikianlah uji coba masakan yang sudah Ibu Meong lakukan saat lagi pengin masak dengan serius. Percayalah, ini hanya sekali waktu. Selebihnya, yaaa, masak sa-aya-aya. Begitu kata orang Sunda 😊

Ayo, yang mengaku nggak bisa masak, dicoba resepnya. Sebetulnya bukan nggak bisa, tapi tak cukup pintar. Seperti aku, yang kalau masak belum bisa konsisten rasanya. Kurasa benar juga kata orang zaman dulu: alah bisa karena biasa. Bisa jadi ketidakpintaran itu bukan soal bakat, tapi karena tak biasa saja.

Baca juga: Perjalanan Menulis dan Fragmen 9 Perempuan

Yuk, kita belajar masak bareng. Banyak sumber referensi urusan masak yang bisa dilirik. Seperti halnya kalau butuh referensi soal merdeka belajar bisa baca-baca tulisan kawan blogger di Blog Homeschooling. Begitu pula urusan masak. Banyak rujukan di internet yang bisa bantu kita meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan. 

Ini sebetulnya juga sambil menyemangati diri sendiri, kok. Untuk terus belajar. Selain harus bisa masak, setidaknya bisa lebih stabil soal rasa. 

Namaste.



Menjadikan Hemat sebagai Perilaku Ekosentris



Kemarin menjumpai satu tulisan dari sebuah FP FB yang dibagikan seorang kawan. Postingan lama, tahun 2017. Penulis menceritakan bacaannya tentangangka bunuh diri yang tinggi di kalangan petani India. Bunuh diri dilakukan karena keputusasaan petani; panen gagal sementara mereka harus membayar hutang pembelian tanah, pupuk, dan bibit. Di Indonesia kondisinya sesungguhnya tak jauh berbeda.  Butuh biaya untuk mengelola sawah, ladang, kebun, dan ternak. Belum lagi kebergantungan iklim yang tidak dapat diprediksi. Dan dari mereka inilah, orang-orang inilah yang menyediakan pangan untuk kita makan, bekerja keras dalam jangka waktu tidak pendek, dengan hasil yang tidak seberapa. Bayangkan ketika kerja keras tersebut, alih-alih dihargai dengan cara menghabiskan makanan yang disediakan, malah dibuang-buang.
sumber: facebook/karyauntukperubahan
Masih dari postingan ini, disebutkan data survei Economist Intelligence Unit tahun sebelumnya, Indonesia per orang pertahun membuang/menyisakan 300 kg makanan. Selain persoalan distribusi dan mafia, salah satu sumber masalahnya juga banyak orang yang mengambil makanan lebih dari kebutuhan tapi tidak menghabiskannya. Padahal jika disadari, dalam setiap butir nasi, setiap kerat daging, setiap helai daun lalapan itu ada kerja keras manusia, ada pengorbanan hidup makhluk, ada sumbangan energi dari matahari dan sumbangan nutrisi dari bumi, tentu kita akan lebih menghargai makanan dan tidak akan membuang-buangnya.

Aku langsung tergerak untuk mengutip dan menuliskan ulang catatan di atas, karena kalimat-kalimat akhir langsung mengingatkanku pada pelatihan bersama EcoCamp beberapa bulan lalu yang mengangkat tema ‘From Ego to Eco’. Pada setiap akan makan pagi-siang-malam, ada rutinitas yang kami lakukan yakni menyimak 7 refleksi sebelum makan. Awalnya terasa lamban sekali, beradaptasi dari kebiasaan-kebiasaan sebelumnya. Selama ini makan selalu dilakukan buru-buru. Kalau soal makanan, aku sendiri tak ada masalah dengan ‘berhemat’. Sudah terbiasa. Tapi itu hanya kebiasaan, bukan karena kesadaran. Berbeda halnya dengan ketika aktivitas itu dilakukan dengan sepenuh kesadaran. Selain makan secukupnya dan menghabiskan apa pun yang sudah diambil,  makan pun terasa nikmat karena ada sebuah ungkapan syukur dalam batin yang tak terucap. 


Banyak alasan untuk kita berhemat perihal makanan ini –kalau memang kita butuh alasan. Mau alasan sentimentil? Biar kubagikan pengalamanku..

Aku dibesarkan dalam keluarga dengan tingkat ekonomi pas-pasan. Urusan makanan, seadanya. Ibuku pernah bilang: “wong dipangan yo mung dadi tai, ra usah pengen neko-neko..” Lebih kurang artinya: makanan dimakan cuma keluar sebagai kotoran, tak perlulah punya keinginan makanan macam-macam. Terdengar kasar, tapi bukankah memang itu benar? Yang meminta seringkali keinginan lidah, bukan kebutuhan tubuh. Dalam konteks keluarga kami bisa dibilang berkekurangan dalam hal gizi, tapi pada akhirnya kami hanya bisa mengamini sabda sang ibu 😀

Kami sangat jarang makan daging. Konsumsi daging paling banter ya daging ayam, ketika mendapati ayam peliharaan sakit lalu potong. Karena ayam dewasa yang sehat ya untuk dijual ke pasar. Ayam sakit barulah menjadi bagian kami. Pada masa kecil, buah-buahan yang kami kenal hanya pisang, pepaya, dan mangga, karena kami menanamnya. Perkenalan kami dengan buah-buahan yang aneh adalah di tempat lain atau di tempat sampah. Loh kok bisa? 

Suatu kali ibu cerita, saat membawa salah satu kakak melakukan perjalanan ke luar kota. Dalam bis ada seorang anak sepantaran kakak yang sedang makan buah. Kakak tanya ke ibu, apa yang dimakan itu anak. Dan ibu tak bisa jawab karena memang tidak tahu. Ternyata apakah yang dimakan? Apel! Itu hanya pengetahuan. Tapi kami mengalami merasakan dari tempat sampah. Tentunya ini bukan hal yang membanggakan, sebaliknya malah memalukan. Tapi bangga atau malu, toh hanya rasa. Bahwa fakta kami pernah koreh-koreh tempat sampah, itu nyata adanya.

Peristiwanya sekitar tahun 80 pertengahan. Ada sebuah keluarga tetangga yang cukup terpandang di desa kami. Keluarga pedagang yang kaya. Salah satunya tinggal di dekat rumah. Mereka punya tempat sampah berupa keranjang bambu yang diletakkan di depan/samping rumah. Dari sinilah kami tahu rasanya rambutan, apel, durian.. Kami sering menemukan rambutan yang terlewat dikupas, apel yang masih cukup besar sisanya, durian yang terlewat dibuka. Cukup sering mereka berpesta buah-buah itu. Kadang kalau tak keburu dan sampah sudah dibuang di tempat sampah yang lokasinya di tanah kosong sebelah rumah, ya di situ juga kami akan mengais. 

Cukup sentimentil kan? Ada berapa banyak keluarga seperti kami di dunia ini? Banyak! Bahkan yang jauh lebih buruk pun banyak..

Penduduk dunia ini bertumbuh, bukan makin menurun angkanya. Laporan PBB menunjukkan, hingga 2050 Afrika dan Asia akan memimpin laju pertumbuhan penduduk kota. Populasi warga kota Afrika akan berkembang dari 414 juta menjadi 1,2 miliar. Sedangkan Asia, dari 1,9 miliar menjadi 3,3 miliar orang. Dari dua benua ini saja pertumbuhan penduduk kotanya sekitar 86 persen dari penduduk dunia. Disebutkan pula, antara tahun 2015 hingga 2050, akan terjadi lonjakan penduduk dunia dan Indonesia menjadi salah satu penyumbangnya. Separuh lonjakan penduduk dunia terjadi di sembilan negara. Selain Indonesia, negara lainnya adalah India, Nigeria, Pakistan, Kongo, Ethiopia, Tanzania, Amerika Serikat, dan Uganda. 

Dengan prediksi percepatan populasi ini muncul berbagai kekhawatiran, di antaranya jika dikaitkan dengan sumber daya alam. Para pengamat dan ilmuwan mengingatkan, ledakan besar penduduk ini tak hanya menurunkan tingkah kehidupan manusia, tapi juga mengancam lingkungan hidup dan kehidupan yang sehat.

Jadi, apa andil kita untuk ‘setidaknya’ sedikit menjadikan kehidupan terjaga seimbang. Salah satunya ya yang sudah kita sebut-sebut dari tadi: HEMAT.

Selama ini kita dijejali pepatah: hemat pangkal kaya. Apakah salah? Mungkin tak sepenuhnya salah. Pada titik tertentu keyakinan itu mungkin...mungkin, tetap dibutuhkan. Tapi dari pelatihan yang lalu itu, aku diingatkan satu kalimat pengganti yang buatku lebih menarik: HEMAT PANGKAL SELAMAT.

Hemat pangkal kaya bermakna egosentris. Sedangkan ‘hemat pangkal selamat’ bermakna ekosentris. Kita berhemat karena kita peduli dan ingin berbagi kepada sesama, terutama yang lemah dan miskin. Mari kita coba tengok banyak kasus yang melibatkan kerusakan alam? Jawabannya adalah mereka yang lemah dan miskin. Satwa yang tak bisa menolak penggantian hutan menjadi lahan produksi. Dan ketika kebakaran hutan terjadi, adakah orang kaya yang menderita? Tidak ada. 

Kita bisa memulainya dari hal yang sederhana, dari lingkungan terkecil, dengan mengubah kebiasaan makan. Ambil secukupnya, karena sumber daya alam bukan milik kita. Ambil secukupnya, karena begitu banyak orang tak seberuntung kita. Ambil secukupnya, secukup kebutuhan kita. Ambil secukupnya, jangan yang ambil hak generasi yang akan datang.

Hari ini, Hari Anak Nasional. Mari jadikan ‘hemat’ sebagai kebiasaan baru anak-anak kita...

Jelang Lebaran dan Kenangan Akan Simbok Mutiah

Simbok Mutiah adalah nenekku. Nenek dari sisi ibu. 'Mbok' adalah panggilan dari ibu bersaudara buat ibu mereka tersebut. Entahlah, kenapa kami tak diajari panggil mbah ke si-mbok seperti lazimnya cucu panggil mbah kakung-mbah putri ke kakek-nenek mereka. Sejauh yang kuingat, sedari kecil memang kami, para cucu-semua cucu ikut memanggilnya 'mbok'. Mbok Mut dinikahkan di usia yang sangat muda, 12 tahun. Ia melahirkan 11 anak, konon seorang meninggal dunia selagi kecil.

 
Mbok Mut berdagang baju bekas di pasar, ‘karir’ yang kemudian diikuti beberapa anaknya, termasuk ibuku. Lapaknya kecil, sekitar 1,5x2 meter. Aku ingat, ada lemari di bagian belakang. Lemari pendek, tak sampai 1,5m. Warnanya biru pudar. Saat buka lapak, isi lemari dikeluarkan, dipajang berlipat di sisi kiri-kanan lapak. Sebagian digantung. Di bagian depan lapak, sepatu berjajar di atas plang kayu, menggunakan sedikit lorong jalan. Di lorong ini, selain Mbok Mut, ada 3 pedagang baju bekas yg lain. Satu di sisi kiri, dua di kanan. Lapak paling kiri dan kanan lebih besar dari dua lainnya. Sebelah kanan lapak Mbok adalah nenek-nenek perokok. Lapaknya berasap. Sebelahnya lagi milik nenek-nenek berkaca mata yang rajin menjahit pakai tangan. Tak pernah berdiam diri. Namanya Mbah Jum. Sisi kiri lapak simbok, aku tak ingat persis. Empat lapak ini menghadap ke pantat lapak depan. Lapak-lapak yang tersembunyi. Semacam lapak kelas ke sekian. Mungkin karena retribusinya memang murah. Sedangkan lapak depan adalah grosir jajanan.

Pasar tempat Mbok berjualan ini posisinya di Trenggalek kota. Keluargaku sendiri tinggal di desa, wilayah kecamatan lain. Saat SMA, aku sering mampir ke pasar. Lalu Mbok akan membelikanku minuman kunyit asem dalam gelas besar. Atau bubur sumsum. Tapi sebelum cerita masa remaja, biar kupanggil dulu ingatanku tentang si Mbok di masa kanakku.

Masih terekam jelas perasaan gembiraku setiap kali mendapat kunjungan Mbok Mut ke rumah. Rumah bilik kami yang disesaki lima anak di Dusun Bendo. Ada angkutan berupa L-300 menuju rumah kami. Gembira, kami menyambut kedatangan Mbok Mut di jalan raya. Mbok selalu berpakaian jarik/kain dan berkebaya, rambutnya digelung sekadarnya. Mbok bertubuh berisi, dengan tinggi tak lebih dari 150cm. Ia datang dengan membawa tas kecil dan gembolan. Biasanya lalu kami mengambil alih gembolan dari tangan Mbok. Gembolan itu adalah sebuah kain, mungkin taplak, yang di dalamnya berisi oleh-oleh aneka penganan. Belum musim plastik kresek masa itu. Yang dipakai adalah gembolan, yang notabene ramah lingkungan. Bawa gembolan ke rumah, lalu kami menyerbu, memilih penganan yang disukai.

Saat diajak ibu ke kota dan mampir ke lapak Mbok Mut, aku sering ditawari aneka barang. Biasanya ibuku langsung berbisik, “Halah wis padha bosok!” Tapi entahlah, ketika itu aku merasa bakal menyenangkan hati Mbok kalau aku mengambil dagangannya. Dan yaaa...barang-barang bekas yang dijual di kampung seringkali memang ‘bekas sungguh’ dalam arti sudah rusak. Beda halnya dengan yang kemudian hari kujumpai di dagangan ibuku yang kulakannya saja ke Surabaya. Yang kebanyakan orang jual baju karena bosan, bukan karena rusak. Pernah aku mengambil sebuah sepatu. Aku ingat, warnanya merah-putih glossy. Sudah kelihatan ada paku kecil di bagian tumit. Tapi kurasa itu sepatu cukup lucu kalau kupakai ke sekolah. Alhasil, sebagai anak yang terbilang lumayan aktif, mucunghul-lah itu paku. Nancep di tumit. Nyeri, jendral! 😀 Akhirnya pulang ke rumah sepatu digiwing..

Hal yang selalu muncul dalam kenanganku saat memasuki bulan puasa adalah kolak bikinan Mbok Mut. Sebetulnya kolaknya macam-macam. Tapi yang paling kuingat adalah kolak waluh (labu kuning). Tiap bulan puasa, lihat kolak waluh, ingatanku selalu melayang ke simbok. Kolak waluh dengan santan yang tak terlalu kental, mungkin biar hemat karena menyediakan untuk banyak orang. Lalu makan dengan sayur bobor bayam campur labu panjang. Nah, kok jadi ingat..labu panjang itu apa namanya ya? Masih ada ga sih? Rasanya lama tak pernah lihat. Simbok itu orangnya lucu. Sering menceritakan hal-hal lucu sambil terkikik, geli sendiri. Hal yang sering bikin aku tak habis pikir adalah anak-anaknya yang tak begitu perhatian sama Mbok Mut. Kulihat anak-anak Mbok lebih menyayangi bapak mereka, mbah kung. Mungkin mereka memiliki pengalaman masa kecil yang tak cukup baik dengan ibu mereka ini. Entahlah.Tapi Mbok Mut tak pernah mengeluh. Tak mengeluh dengan sejumlah keterbatasan dalam hidupnya..tak mengeluhkan pula beberapa anak yang sering bersikap kasar. Sepertinya ia selalu mensyukuri segala kondisi yang diterimanya.

Simbok orangnya juga kadang sok tau. Ada anaknya yang dengan sadis menyebutnya keminter. Aku sih melihatnya sebagai sesuatu yang lucu.

Alkisah, suatu hari, ada seorang perempuan yang mau mencari penjahit baju. Carinya di area lapak baju bekas. Aneh juga sih.. Bertambah aneh karena si perempuan, sebut saja Bunga ini, bicaranya ‘tinggi’. Mengaku dari kalangan atas, punya banyak uang bla bla bla.. Tapi cari penjahitnya di pasar 😂 Dan kok ya lucunya Mbok Mut ini menyanggupi. Padahal dia tak pernah mengenal pola baju. Mesin jahit –yang kemudian dimilikinya, hasil keringatnya sendiri itu- biasanya hanya untuk membetulkan jahitan baju dagangan. Tak lebih. Tapi dengan cukup pede Mbok Mut menyanggupi, dan menjanjikan selesai besoknya. Dan betul, besoknya Bunga ambil baju ke rumah Mbok. Apa yang terjadi? Ngamuk! Bunga ngamuk sengamuk-ngamuknya. Mbok dengan santai saja menghadapinya. Aku lupa waktu itu penyelesaiannya seperti apa. Apakah diberikan kain pengganti, atau Mbok bisa ngeles. Yang kuingat aku kok gembira melihat simbokku berhasil mengelabuhi Bunga yang sok keren itu 😂

Aku sempat tinggal setengah tahun di rumah kakek-nenekku ini. Saat awal masuk SMA. Pada tengah malam Mbok suka tahajud. Lalu pada jelang subuh sudah bangun, dan berangkat ke masjid yang jaraknya hanya 100 meter dari rumah. Berdua mbahkung. Sampai usia tuanya Mbok masih ke pasar. Masih sibuk menjahit juga, menggunakan mesin yang diputar pakai tangan, karena kakinya sudah tak cukup kuat. Ia tak pernah malas-malasan. Mandi tiap pagi  berpupur wangi, pakai baju bersih, lalu ke pasar. Kalau lagi tak ke pasar, di rumah saja, tak diam juga. Ada saja hal yang dikerjakan.

Aku sayang Mbok Mut. Aku sayang Mbok dengan segala keunikannya itu. Dan aku yakin ia pun menyayangiku. Waktu mulai kerja magang, aku ingin menyisihkan uang buat Mbok. Sayangnya tak pernah berhasil. Uangnya hanya cukup buat ngangkot dan makan. Apalagi ketika kemudian kiriman orang tua semakin sedikit, lalu aku minta sekalian dihentikan. Tapi Mbok Mut masih melihatku sebagai cucu kecilnya, yang dulu sering datang ke lapak, diberi baju-sepatu dagangan, dijajanin.. Terakhir ketemu, waktu pamitan akan pulang ke Bandung, Mbok nyangoni tiga ribu rupiah. Aku ingat betul karena itu membuatku sedih, tak mampu ninggali sepeserpun buat Mbok, malah dibekali. Pada 2001 (belum ingat bulannya), dapat kabar dari kampung kalau simbok sakit. Masih berharap bisa ketemu, aku bergegas pulang. Tiba di kampung, jenasah sudah siap diberangkatkan. Dan aku hanya bisa mengucapkan selamat jalan.

Mboooook..putumu kangeeeeen. Damai-damai dalam pelukan Ilahi ya, Mbok...

Incendies, Gambaran Muram Perang Karena Konflik Agama

Incendies, film muram yang cukup lama tersimpan di folder laptop. Lebih banyak menonton film-film yang menghibur saja. Sampai akhirnya ketemu waktu untuk menontonnya. Film menarik yang cocok ditonton di masa-masa sekarang, ketika orang membabi buta membela ‘agama’.




Film diawali dengan adegan tanpa suara, memperlihatkan sekumpulan bocah yang tengah dicukur rambutnya. Beberapa orang tampak memegang senapan laras panjang. Ekspresi yang ditunjukkan, antara tegang, marah, dan entahlah yang menyiratkan kemuraman. Didukung dengan suasana sekitar, bangunan-bangun rusak dan tak berpehuni. Timur Tengah, itulah selintas yang terselip dalam bayangan. You and Whose Army? milik Radiohead melengkapi suasana muram tersebut.

Incendies mengisahkan sepasang saudara kembar laki-laki dan perempuan yang terlibat dalam serangkaian peristiwa sebagai upaya memenuhi wasiat ibu mereka sebelum meninggal dunia. Incendies secara harfiah berarti ‘api’ dalam bahasa Perancis. Saudara kembar, Jeanne dan Simone digambarkan sebagai dua sosok yang berbeda sifat. Jeanne adalah perempuan yang gigih dan keras kepala. Sebaliknya, Simone terkesan menerima peristiwa kematian ibunya apa adanya, merasa tak perlu mengikuti pesan dalam wasiat sang ibu. Terlebih pada masa akhir hidup sang ibu tampak mengalami gangguan jiwa. Tak ingin berkonflik, Jeanne memutuskan berangkat sendiri.


Alkisah, Jeanne pun berangkat ke negara (yang tak dijelaskan di mana), ke kota kecil sang ibu pernah tinggal. Dengan menunjukkan pengguanaan bahasa Perancis di lokasi-lokasi yang didatangi, bisa jadi lokasinya adalah Afrika Utara yang merupakan wilayah jajahan Perancis. Seperti Aljazair dan Maroko, yang selain menggunakan bahasa Arab, juga masih menggunakan bahasa Perancis sebagai bahasa sehari-hari. Pada perjumpaannya dengan masa lalu Nawal Marwan, sang ibu, Jeanne baru mengetahui kalau ibunya dulu adalah aktivis perang. Film pun lalu berpindah, kembali ke masa lalu. Penggambaran masa lalu Nawal saat menjadi mahasiswa dan tergabung dalam koran kampus. Ketika ia jatuh cinta dengan seorang laki-laki yang berbeda (agama). Lelaki yang kemudian terbunuh dalam konflik yang terjadi di antara dua kubu beda agama tersebut. Nawal terpaksa meninggalkan bayi yang 9 bulan dikandungnya, demi keselamatan dan nama baik keluarganya. Informasi-informasi yang makin rumit, mau tak mau memaksa Jeanne untuk meminta kembarannya terlibat. Maka begitulah, Simone pun bergabung untuk ikut melakukan penelusuran terhadap masa lalu ibunya.

Alur cerita berjalan maju mundur. Namun perpindahannya cukup jelas sehingga penontonnya tak terlalu mengalami kesulitan. Bukan berarti ceritanya mudah ditebak. Sama sekali tidak. Titik terang pencarian baru mulai terlihat di adegan ketika Jeanne dan Simon ditemani pengacara mereka, menemui satu nama, Nyonya Maika yang pernah hadir dalam hidup Nawal bersama bayinya. Nyonya Maika diduga menjadi salah satu kunci dari wasiat sang ibu. Dan memang perjumpaan inilah yang merupakan kunci jawaban dari pencarian Jeanne dan Simon atas masa lalu ibu mereka. Jadi apa jawaban dari pencarian tersebut? Tonton sendiri aja yaaa 😀 Incendies menyajikan banyak adegan perang. Namun film ini lebih banyak menuturkan konflik personal dan keluarga di tengah kancah perang antar kubu beda agama. Film yang menarik untuk ditonton. Terutama bagi penggemar film-film serius. 


Incendies ditulis dan disutradarai oleh Denis Villeneuve. Film Kanada ini tayang perdana di Festival Film Venesia dan Toronto pada September 2010 dn rilis di Quebec pada 17 September 2010. Incendies masuk dalam nominasi Oscar untuk Film Asing Berbahasa Asing Terbaik, namun kalah. Tak menang Oscar, Incendies mendapatkan penghargaan UPC Audience Award di Festival Film Internasional Rotterdam 2011. Selain itu, pada ajang Penghargaan Genie ke-31, film ini memenangkan 8 penghargaan sekaligus. New York Times menyebut Incendies sebagai salah satu dari 10 film terbaik pada 2011.