Mengenal Vincent Willem van Gogh Lewat Novel Lust for Life


No great genius has ever existed without some touch of madness. (Aristotle)



Tanggal 30 Maret tercatat sebagai hari lahir seniman besar Vincent Willem van Gogh. Seorang pelukis impresionist asal Belanda yang banyak mempengaruhi pelukis-pelukis generasi berikutnya. Persisnya ia lahir di Zundent, Belanda, 30 Maret 1853. Kutuliskan ulang dari blog terdahulu untuk merayakannya. Pengenalanku sendiri terhadap sosok pelukis ini adalah dari lagunya Don McLean: Vincent.



Yup, Don McLean pernah memberiku imajinasi tentang kepedihan hidup yang dialami Vincent. Tentang kesunyian dan kegilaan di dalamnya. Tapi melodi yang membius dari penulis lagu dan penyanyi Amerika itu membuatku abai pada inti cerita dari lagu tersebut. Kenyataannya, kehidupan Vincent lebih murung dari yang kubayangkan sebelumnya. Aku menemukan detailnya dalam novel karya Irving Stone. Memang, sebuah karya fiksi. Ada drama yang ditambahkan sang penulis. Tapi setidaknya memberikan gambaran lebih detail.

Dibesarkan oleh keluarga terpandang, Vincent muda menjalani kehidupan yang normal. Karirnya sebagai tenaga penjualan di galeri seni Goupil, London, Inggris terbilang lancar. Meski tidak terlalu menyukai pekerjaannya, tapi paling tidak ia bisa memberikan masukan yang bagus soal lukisan kepada calon pembelinya. Rutinitas itu dijalaninya setiap hari dengan tidak terlalu banyak keluhan. Hingga suatu ketika ia menyadari kalau telah jatuh cinta pada Ursula, anak pengurus rumah ia tinggal. Perempuan itu menolaknya. Penolakan atas kasmaran yang kali pertama dialaminya itu membuatnya terguncang. Ia merasa terhina dan tercampakkan. Tiba-tiba saja ketidaknyamanan di alam bawah sadarnya bermunculan. Ia mulai berontak terhadap aturan-aturan tempat kerjanya. Terhadap kepalsuan para pembelinya, orang-orang kaya yang membeli lukisan sebagai prestige semata dan bukan karena mengerti seni. Ia merasa harus pergi. Dan ia memutuskan kembali ke Belanda.


Di Belanda, atas rekomendasi orang tuanya, Vincent masuk sekolah pendeta. Ia tak butuh tidur, tak butuh cinta, simpati, atau kesenangan. Ia hanya ingin menjadi pelayan Tuhan. Namun rupanya ia pun tak cocok dengan pendidikan formal. Hingga kemudian, setelah melewati proses yang berbelit-belit, ia menawarkan diri untuk ‘melayani’ di kawasan tambang batubara, Borinage. Hal ideal yang selama ini di benaknya dan berlaku pada pengalaman empirisnya terhadap kehidupan menggereja, sama sekali berbeda dengan yang didapatinya dari lingkungan miskin tersebut. Barangkali ada kemiripan, ketika mereka datang ke gereja dengan patuh. Dan mematuhi pula apa pun yang disampaikan sang pendeta. Mereka datang ke gereja seolah perjumpaan dengan Tuhan adalah satu-satunya hiburan.

Tapi ada yang salah di sini, katanya. Nuraninya tergugah. Mereka bukan butuh ayat-ayat kitab suci. Mereka butuh kehidupan yang layak. Vincent pun terjun langsung. Ikut melihat dari dekat kondisi tambang. Pindah ke rumah sewa semata untuk merasakan kehidupan kaum papa. Keadaan semakin mengenaskan ketika bencana terjadi. Kawasan pertambangan mengalami longsor. Korban berjatuhan. Vincent membantu sejauh yang ia mampu. Bahkan bisa dikatakan melebihi batas kemampuannya. Ia pun sakit. Ambruk. Adiknya, Theo yang datang mengunjungi kaget bukan kepalang. Ia berniat membawa Vincent. Pada akhirnya Vincent mengiyakan. Padahal sebelumnya ia bersikeras menolak pada kelompok penginjilan tempat ia bernaung yang menyebutnya memalukan karena keterlibatannya dalam kehidupan masyarakat tambang tersebut. Bukan semata karena menyayangi adiknya, melainkan juga karena dia menyadari apa yang diinginkannya dalam hidupnya: melukis! Ya, tampaknya Borinage merupakan salah satu fase penting dalam kehidupan Vincent. Borinage adalah tempat ia tersadar untuk menolong orang miskin dengan sepenuh hatinya. Di Borinage pula ia mengenali passion-nya dalam melukis.


Kembali ke kota tidak menjadikan segala sesuatunya mudah. Kehidupan Vincent disokong sepenuhnya oleh Theo. Tempat ia tinggal, apa pun yang ia butuhkan, Theo senantiasa mencukupi. Bahkan saat Vincent berada dalam kondisi paling menyebalkan pun, Theo selalu mendampinginya. Bertahun-tahun. Hingga ia mulai mempertanyakan soal kemampuannya melukis karena tak kunjung bisa menyejajarkan diri dengan para pelukis yang karya-karyanya sudah dipajang di galeri. Theo pun tak berdiam diri. Ia mengenalkan Vincent pada sejumlah pelukis, di antaranya yang kemudian menjadi karibnya, Paul Gauguin. Pada masa itu Vincent mulai mengenal lukisan dari pelukis-pelukis tenar yang telah mendahuluinya, seperti Monet, Manet, Sisley, Pissarro, Degas, Guillaumin, Delacroix. Dan dari sekian perjumpaan dengan kawan-kawan pelukisnya, ia juga makin paham tentang pengetahuan dan ragam teknik melukis. Misalnya Cezanne melukis dengan mata, Lautrec melukis dengan amarahnya, Seurat melukis dengan otaknya, Rousseau melukis dengan imajinasinya, Gauguin melukis dengan hasrat seksualnya, dan ia sendiri melukis dengan hatinya.


Tapi tragedi demi tragedi terus saja mengikutinya. Bukan hanya di Borinage, tapi juga kota-kota lain yang disinggahinya. Masyarakat menyebutnya aneh, bahkan gila. Pun kehidupan percintaannya yang kerap gagal. Namun di antara kegelisahan yang terus berkutat dalam jiwanya, Vincent terus melukis. Merekam keindahan yang tertangkap penglihatannya, lalu menuangkan jejak-jejak ingatan itu pada kanvas.


Arles menjadi kota terakhir persinggahan Vincent. Tempat yang membuatnya begitu bersemangat dalam perjumpaannya dengan matahari emas yang menyilaukan. Tempat yang sekaligus juga menggali kegilaannya. Seperti diingatkan seorang wartawan yang dijumpainya pada kali pertama tiba di kota itu: Arles adalah kota epileptoid, yang sewaktu-waktu bisa meledakkan warganya dalam kegilaan. Di kota ini juga ia menyerahkan irisan kupingnya kepada Rachel, gadis muda penghuni rumah bordil Maison de Tolerance di Rue des Ricolettes. Aneka peristiwa mengguncangkan yang ia alami di kota ini mengantarkannya ke rumah sakit jiwa. Tapi justru di tempat inilah, di tengah orang-orang yang mengalami kegilaan yang sesungguh-sungguhnya, Vincent bisa menghayati dirinya. Termasuk memahami saat-saat serangan jiwanya muncul.


Pada akhirnya Vincent tiba pada satu titik. Ketika ia merasa telah melukis segala yang ingin ia lukis. Gairah kreatifnya tak lagi bisa tergali. Ia merasa bagian terbaiknya telah mati. Lalu pada sebuah siang yang terik, ia menengadahkan kepala menantang matahari. Menekan sepucuk revolver ke pinggangnya. Kematian menjemputnya tak lama setelah peristiwa itu. Vincent van Gogh meninggal dunia dalam usia 37 tahun (29 Juli 1890). Ia belum sempat menyaksikan apresiasi orang terhadap karya-karyanya.

Salah satu karya Vincent: The Starry Night
 

Lust for Life ditulis oleh penulis biografis, Irving Stone. Ini merupakan karya pertama sekaligus masterpiece-nya. Irving menulis novelnya dengan mengambil sumber tiga jilid surat Vincent van Gogh untuk adik semata wayangnya, Theo. Bagian terbesar materinya digali dari perjalanan Van Gogh ke Belanda, Belgia, dan Prancis. Selain teliti menggali data, Irving Stone juga piawai dalam merangkaikannya dengan kalimat dan narasi yang imajinatif. Penuturannya pun mengalir dan enak dibaca. Tentu saja ini tak lepas dari peran penerjemah tim Serambi yang menerbitkan Lust for Life edisi Bahasa Indonesia. Dari novel ini kita diajak menyelami kehidupan pribadi Van Gogh. Tentang jiwa sepi yang diriuhi gelisah.

Novel ini sempat ditolak 16 penerbit di Amerika Serikat, hingga berhasil tembus dan menjadi buku laris yang mendapat sambutan hangat para kritikus dan penikmat buku fiksi. Lust for Life diterbitkan pertama kali pada 1934. Tahun 1956 MGM merilis filmnya dengan judul yang sama. Dua pemeran utamanya Kirk Douglas (Vincent) dan Anthony Quinn (Gauguin). Sedangkan sang adik tercinta, Theo diperankan James Donald.

Judul   : Lust for Life
Penulis : Irving Stone
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetak   : Juli 2012
Tebal buku: 574 halaman





Dan ini dia lirik lengkap Vincent karya Don McLean..

Vincent

Starry, starry night
Paint your palette blue and grey
Look out on a summer's day
With eyes that know the darkness in my soul

Shadows on the hills
Sketch the trees and the daffodils
Catch the breeze and the winter chills
In colors on the snowy linen land

Now I understand
What you tried to say to me
And how you suffered for your sanity
How you tried to set them free
They would not listen, they did not know how
Perhaps they'll listen now

Starry, starry night
Flaming flowers that brightly blaze
Swirling clouds in violet haze
Reflect in Vincent's eyes of china blue

Colors changing hue
Morning fields of amber grain
Weathered faces lined in pain
Are soothed beneath the artist's loving hand

Now I understand
What you tried to say to me
How you suffered for your sanity
How you tried to set them free
They would not listen, they did not know how
Perhaps they'll listen now

For they could not love you
But still your love was true
And when no hope was left in sight
On that starry, starry night
You took your life, as lovers often do
But I could've told you, Vincent
This world was never meant for one as beautiful as you

Starry, starry night
Portraits hung in empty halls
Frameless heads on nameless walls
With eyes that watch the world and can't forget

Like the strangers that you've met
The ragged men in their ragged clothes
The silver thorn of the bloody rose
Lie crushed and broken on the virgin snow

Now I think I know
What you tried to say to me
And how you suffered for your sanity
How you tried to set them free
They would not listen, they're not listening still
Perhaps they never will



21 comments

  1. Sayang sekali beliau tewas di umur 37 ya Mba Dhenok. Seandainya ia tinggal lebih lama, mungkin ketika menyaksikan karyanya diapresiasi, ia lebih bersemangat menghadapi hidup..

    ReplyDelete
  2. Sayang banget Vincent harus mengakhiri hidupnya sebelum mengetahui karya-karyanya diapresiasi banyak orang. Ini pelajaran berharga bagi pembaca bahwa jangan patah semangat atau putus asa sebelum tahu hasil dari usaha kita.

    ReplyDelete
  3. Suka ngelukis, Kak? Saya nggak kenal banyak pelukis walau circel pekerjaan dan aktivitas saya berkaitan sama dunia nulis dan ilustrasi bacaan anak, hehehe

    ReplyDelete
  4. Wahhh aku speechless
    Kadang seniman memang lekat dengan kata gila, seolah olah memang karya mereka menggambarkan diri mereka,
    Dan aku selalu berpikir kenapa orang orang merasa kesepian sampai akhirnya nekat menghabisi dirinya sendiri, apa karena tidak dekat dengan Tuhan? Entahlah hanya dirinya dan Tuhan yang tahu

    ReplyDelete
  5. wah kemarin berarti ultahnya Vincent Van Gogh ya...
    Setuju dengan ungkapannya, banyak jenius yang "gila". Bisa jadi itulah caranya mengekspresikan karya
    Dan lewat novel Lust for Life kita jadi tahu cerita Van Gogh
    Thanks sudah menuliskannya Mbak, saya jadi lebih tahu

    ReplyDelete
  6. Aku baru tahuuuuu Van Gogh kisah hidupnya setragis ini mba. Huhuhu. Aku cuma tahu lukisannya yang salah satunya paling terkenal, The Starry Night yg mba posting di atas. Sisanya aku gak hapal.

    ReplyDelete
  7. Itulah seniman, meluapkan semua yang mereka rasakan melalui goresan-goresan tinta yang akhirnya menjadi karya yang memukau.

    ReplyDelete
  8. Pertama denger lagu Vincent dinyanyikan Josh Groban .Aku langsung suka,sampe hapal segala wkkk.Kesedihan teramat sangat karena tidak bisa menolong membuktikan Vincent hatinya baik

    ReplyDelete
  9. Saya malah ingetnya lagu yang Living Proof Camilla Cabello yang kata-kata paint me like Van Gogh mb, hihi apa itu orang yang sama ya. Ternyata ada novelnya ya mba kayanya pernah denger ini judul novelnya, harus dibaca nih kayanya bagus ya

    ReplyDelete
  10. aku tahu lagu starry starry night ini.
    pernah jadi lagu pendukung di serial Ally McBeal dinyanyiin sama penyanyi Vonda Shepard, yang kebetulan waktu itu aku punya kasetnya.

    Tapi aku ndak tau kalo ternyata Vincent yang dimaksud itu Vincent Van Gogh.

    ReplyDelete
  11. Ya ampun aku udah lama banget gak baca novel, dulu pas SMA lumayan suka, tp saat ini lebih suka baca berita lewat internet.

    ReplyDelete
  12. Aku memang belum mengenal tentang sosok legenda musik yang satu ini, tapi dari beberapa cerita di atas, membuat aku penasaran bagaimana jalan hidup yang sebenanrnya.

    ReplyDelete
  13. Setelah jatuh bangun yang dialami, sayang sekali ya kalau Vincent lebih memilih mengakhiri hidupnya seperti itu. Padahal, ada yang namanya proses dalam kehidupan. Kalau Vincent saja menilai dirinya gagal, aku penasaran alasan Irving Stone mau menuliskan kisah hidupnya Vincent itu.

    Mungkin bisa diketahui kalau kita sudah membaca Lust for Life ini, ya.

    ReplyDelete
  14. Aduh tragis banget hidupnya padahal dia disokong oleh keluarga yang mencintainya. Siapa nyana awalnya dipicu oleh asmara yang ditolak. Ursula oh Ursula . Hahahah

    ReplyDelete
  15. Sejujurnya saya tidak tahu siapa Vincent Williem ini. Tapi perjalanan hidupnya memberi banyak pelajaran. salah satunya, hidup ini tidak ada yang sempurna. Juga lika-liku menemukan passionnya ya, Mbak.
    Saya terpesona dengan lukisannya itu. Permainan warnanya sangat pas.

    ReplyDelete
  16. Ternyata perjalanan hidupnya tragis ya. Kadang kesepian memang yang sejatinya membunuh manusia pelan2. Gak jaman dulu, gak jaman sekarang, perasaan kesepian dan merasa tidak dimengerti itu yang menggerakkan orang untuk bunuh diri.

    ReplyDelete
  17. Ya ampiuun Vincent van Gogh sayang banget ya bundir alias bunuh diri, huhuuu... padahal dia terkenal banget lohh dengan lukisan Starry Night nya... OMG semoga gak ditiru seniman Indonesia yaa... kl mati gaya, santuy aja dulu ga usah terlalu cepet ambil keputusan fatal

    ReplyDelete
  18. baguuusss banget yaa lukisan starry night.
    aku baca ini malah jadi pengen baca bukunya deh, bagus kayaknya.
    catet ah trus cari di google books :))

    ReplyDelete
  19. Wah dramatis banget ya kisah hidup Vincent Van Gogh ini. Aku juga suka baca buku biografi dan berusaha mengambil hikmah dari kisah hidup orang lain.

    ReplyDelete
  20. Wah ceritanya penuh dng pencarian jati diri yg tak kunjung didapat ..hingga harus berakhir tragis seperti itu . Sepertinya bnyk tipikal orang spti ini yg butuh pertolongan masalahnya org 2 seperti Vincent Van Gogh merasa Tdk butuh ditolong dan memilih menyelesaikan dengan caranya.

    ReplyDelete
  21. Itu lagu nya vincent yg d nyanyiin sm george groban bukan yak. Tragis bgt ya ternyta perjalanan hidup nya.

    ReplyDelete