Leontin Dewangga, Sebuah Karya Sastra Perlawanan dari Martin Aleida

Sejak membuka halaman awal kumpulan cerpen karya Martin Aleida ini, aku disergap nuansa murung dan gelap. Menyebut Peristiwa '65 memang kental dengan dua nuansa itu. Setidaknya demikianlah buatku. Leontin Dewangga merupakan salah satu judul cerpen, ada di urutan kedua. Tak tahu juga kenapa judul ini yang dipilih, karena judul-judul lain mengusung cerita yang kuat juga. 



Baca juga: Pseudonim, Kisah pertarungan Idealisme Dunia Penulisan

Kumpulan cerpen Leontin Dewangga ini menjadi salah satu karya bertema Peristiwa '65 yang mulai bermunculan sejak runtuhnya rezim Orde Baru. Martin Aleida yang sekian lama mandul pun, akhirnya melahirkan sejumlah karya. Sebelum Leontin Dewangga yang terbit pada 2003, ada beberapa bukunya yang lain, yakni Malam Kelabu, Ilyana dan Aku (kumpulan cerpen), Layang-Layang Tidak Lagi Mengepak Tinggi-tinggi (novelet), dan Perempuan Depan Kaca (kumpulan cerpen).


Sinopsis

Buku ini terdiri atas 17 cerpen. Diawali dengan kisah tragis pemuda asal Sumatera Utara, yang akhirnya mengakhiri hidupnya karena tak sanggup menahan sengsara batinnya. Sang pemuda, dengan semangat dan perasaan hangat meninggalkan Jakarta menuju kampung kekasihnya, perempuan yang akan dilamarnya. Kilasan-kilasan peristiwa menjadi bahan cerita sang pemuda, membuatku tak bisa menebak seperti apa ujungnya. Baru terasa mengerucut setelah sang pemuda bertemu dengan satu sosok yang tinggal di kampung tetangga calon istrinya. Malangnya, pertemuan itu menepiskan semua mimpinya. Keluarga perempuannya mati dibantai karena salah satu anggota keluarganya terlibat partai terlarang. 

Demikianlah, pemuda yang patah arang itu pun memutuskan untuk menenggelamkan dirinya di Bengawan Solo. 

Aku ingat, pernah menyimak cerita itu. Tentang Bengawan Solo yang memerah oleh darah. Pada sebuah masa. Cerita ini kembali membuatku bergidik. Buat kalian yang belum baca dan pernah menyimak kisah serupa, setidaknya bersiaplah. 

Baca juga: Menjadi Penulis, Hobi atau Pekerjaan?

Leontin Dewangga juga menceritakan tentang pemuda asal Sumatera. Kali ini ia datang dari Aceh. Namanya Abdullah, yang ditangkap dan sempat mendekam di penjara karena dituduh sebagai komunis. Surat ayahnya yang menyebutkan akan berangkat haji, menyelamatkannya. Tapi tetap, tak mudah. Ia harus melapor setiap minggu. Ia sulit mendapatkan pekerjaan. Pintu-pintu kerja kreatif yang sebelumnya dilakoninya, seolah telah tertutup. Wajahnya yang tampan tak lagi ada harganya. Ia nyemplung ke pasar, sebagai pekerja kasar. Kuli pengangkut barang.

Namun justru kesempatan itu mempertemukannya dengan Dewangga Suciati, anak pemilik warung, yang lantas menjadi istrinya. Sang ibu menjadi pelanggan jasa Abdullah.

Tokoh kita ini menyimpan rahasia. Hal yang kemudian dibukanya, saat istrinya sedang menghadapi kematian. Ternyata, sang istri yang punya panggilan Ewa itu pun punya rahasia. Kisah yang tak kalah tragisnya. Seumur hidup mereka menyimpan rahasia yang sama, yang sebetulnya saling berkelindan. Tapi tak ada yang disesalkan. Meski sama-sama menyimpan rahasia, toh keduanya saling mencintai. Kisah yang tragis namun sekaligus menghangatkan. Serasa ikut berbahagai, menyadari bahwa cinta senyatanya cinta itu memang ada. 

Judul ini diambil dari ujung cerita, saat Ewa menunjukkan leontin yang dikenakannya. Terdapat gambar semacam bulan sabit berwarna merah dalam leontin tersebut. Bulan sabit merah merupakan lambang gerakan tani, yang pada masanya menjalankan aksi sepihak untuk melaksanakan Undang-Undang Pokok Agraria. Ayah Ewa mengalungkan leontin tersebut saat anak perempuannya itu berusia 17 tahun. 

Baiklah, cukup dua judul saja yang coba kubagikan dari kumpulan cerpen ini. Sila dicari, dan dibaca sendiri. Meski ini fiksi, membaca karya Martin Aleida ini memperkaya sudut pandang terhadap peristiwa yang hingga kini masih gelap, tak pernah benar-benar tersingkap tersebut. 

Baca juga: Memang, Selera Ngopi Tak Dapat Diperdebatkan

Martin Aleida memiliki nama asli Nurlan. Setelah hijrah ke Jakarta, dari kampung halamannya di Tanjung Balai, Sumatera Utara, ia aktif di Lekra Jakarta Raya. Seperti kita tahu, pasca Peristiwa '65, semua orang yang terlibat dalam embel-embel "kiri" ditangkap dan dipenjara. Tak terkecuali mereka yang berkecimpung di dunia penulisan. Martin Aleida salah satu di antaranya, yang sempat mengecap bilik penjara. Dengan nama barunya itu ia menjadi wartawan majalah Tempo, setelah sekian masa hanya sebagai pekerja serabutan. Namun, setelah 13 tahun, akhirnya aparat mengendus keberadaannya. Terpaksa keluar dari Tempo, ia beralih pekerjaan sebagai staf lokal Kantor Penerangan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jakarta.


Judul: Leontin Dewangga

Penulis: Martin Aleida

Penerbit: Buku Kompas

Tebal: 230 halaman

No comments