Showing posts with label finansial. Show all posts

UMi, Upaya Sejahterakan Pelaku Usaha Ultra Mikro

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, sektor usaha mikro, kecil, menengah (UMKM) menyumbang sekitar 60 persen dari produk domestik bruto (PDB). Tak heran jika ada anggapan, UMKM merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. Masalahnya, tercatat masih banyak UMKM yang belum berkembang karena kesulitan dalam permodalan. 

Jika dilihat dari data perbankan, baru sekitar Rp1.000 triliun atau 20 persen dari total kredit perbankan yang tersalurkan buat pelaku UMKM. Dengan hitungan tersebut, artinya kredit UMKM hanya berkisar 8 persen PDB. Dari mana sisa angkanya? Hampir dapat dipastikan, UMKM didanai oleh modal sendiri. 

Mengapa pelaku UMKM tidak menjadikan kredit usaha sebagai pilihan?

Saya mencoba menanyakan perihal kredit UMKM ke beberapa pelaku. Beberapa pertimbangan yang disampaikan antara lain:

1. Kredit artinya utang, dan utang harus dibayar. Dalam kondisi sekarang (pandemi), dapat terjebak dalam utang yang bisa jadi akan mendapatkan kesulitan dalam pembayarannya.

2. Ada opsi kredit tanggung renteng. Sulit mendapatkan koordinator yang mau bertanggung jawab atas peminjaman yang dilakukan anggotanya. Karena faktanya, masyarakat kita masih belum melek soal tanggung jawab membayar utang.

3. Ada anggapan, "ah, segini juga cukup". Banyak pelaku UMKM yang merasa tak perlu muluk-muluk ingin mendapatkan peningkatan signifikan. Tampaknya dibutuhkan dukungan terus menerus dari pemerintah, agar usaha yang dijalankan pelaku UMKM berjalan baik, stabil, bahkan mengalami peningkatan.

Pemerintah sendiri mengakui, ada 30 juta pelaku UMKM yang masih belum terlayani lembaga pembiayaan resmi. Dalam sebuah webinar, Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki menyebutkan, sesungguhnya banyak jenis pembiayaan yang kini telah disediakan perbankan bagi UMKM. Sayangnya, penyalurannya tidak merata dan masih rendah. Yang banyak terjadi, penyaluran kredit masih menyasar objek UMKM yang sama.

Pelaku UMKM yang terus berusaha bergerak, berangkat dari modal pribadi yang didapatkan dari upaya mandiri, baik menggunakan tabungan pribadi, mengandalkan kerabat, bahkan tak sedikit yang mencari pinjaman dari rentenir atau pinjaman online. Di luar itu, lebih banyak lagi pelaku UMKM yang sama sekali tak mendapatkan akses sumber dana. Mereka, para pedagang kecil, buruh tani, nelayang, yang rata-rata rentan terjerat pinjaman bunga tinggi. 

Apa yang sudah dilakukan pemerintah?

Pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah untuk membenahi hal-hal yang menjadi persoalan UMKM, yakni:

1. Meningkatkan porsi pinjaman perbankan, dari 20 persen menjadi 30 persen (pada 2024). Hal ini sejalan dengan peningkatan plafon kredit usaha rakyat (KUR) tanpa agunan, dari Rp50 juta menjadi Rp100 juta; dan dari Rp500 juta menjadi Rp2 miliar. 

2. Membentuk Holding BUMN Ultra Mikro (UMi) dan memperkuat peran koperasi. Hal ini dilakukan demi memudahkan akses pembiayaan kepada UMKM, dalam hal ini sektor usaha ultra mikro. 

Dalam piramida sosial-ekonomi, usaha ultra mikro menempati kompisi paling besar, paling bawah, dan paling sulit mendapatkan akses pembiayaan melalui lembaga formal. Terlebih di masa pandemi seperti saat ini, sektor usaha ultra mikro terimbas dengan telak. 

Perbedaan KUR dan UMi

Pembiayaan Ultra Mikro (UMi) sendiri merupakan program tahap lanjutan, yang sebelumnya merupakan program bantuan sosial, kini menjadi kemandirian usaha. Program ini menargetkan usaha ultra mikro, yang pada umumnya belum bisa difasilitasi perbankan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Fasilitas pembiayaan yang diberikan UMi, besarannya maksimal Rp10 juta per nasabah. Dana tersebut disalurkan oleh Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB), antara lain PT Pegadaian (Persero), PT Bahana Artha Ventura, serta PT Permodalan Nasional Madani (Persero). Sumber pendanaannya sendiri diambil dari APBN, kontribusi pemerintah daerah, dan dari beberapa lembaga keuangan, baik domestik maupun global.

Kembali ke hasil bincang-bincang dengan pelaku UMKM, tampaknya masih ada ketidaknyambungan antara apa yang digagas dan direncanakan dan dicanangkan oleh pemerintah dengan masyarakat pelaku usaha. Mudah-mudahan ke depan komunikasi berjalan dengan lebih baik, proses pendampingan berjalan dengan lancar, dan pada akhirnya UMKM, terutama usaha ultra mikro, dapat tumbuh berkembang dengan sukses. Setidaknya dari angka rasio mengalami peningkatan. Angka terkini, 20 persen, masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara tetangga. Tercatat, Singapura mencapai 39 persen, Malaysia - 51 persen, Jepang - 66 persen, dan Korea Selatan - 81 persen.


Pusat Investasi Pemerintah

Graha MR 21, Lantai 8

Jalan Menteng Raya No. 21

Cikini, Jakarta Pusat 10330

Telepon (021) 3924822; Faksimile (021) 3924818

https://hai.djpbn.kemenkeu.go.id/




#PIPUMi

#UMiUntukNegeri

Belajar Finansial yang Fun Bersama Home Credit


Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun lalu pernah menyebutkan tingkat literasi keuangan kita mencapai sekitar 30 persen dari total penduduk Indonesia. Angka ini dianggap telah mengalami peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Padahal kalau ditilik dari angkanya, artinya yang belum melek literasi masih di kisaran 70%. Naaah, termasuk yang manakah Anda, yang 30 atau 70 persen?

Kalau aku sih, menganggap diri sendiri cukup baik dalam menata keuangan. Awalnya mungkin karena dipaksa keadaan, lantas menjadi terbiasa. Dari masa kuliah dengan kiriman dari orang tua yang pas-pasan, mau tak mau mencari tambahan, baik beasiswa maupun pekerjaan sampingan. Hemat dan tidak boros karena tahu betul perbedaan keinginan dan kebutuhan. Pun ketika sudah bekerja dengan penghasilan yang pas-pasan, tetap berusaha keras menyisihkan 30% dari penghasilan untuk ditabung. Umur 29 mengambil rumah melalui KPR. Sudah lunas, dan kutinggali sampai sekarang. Memang cukup lama waktunya, 15 tahun. Dari belum menikah, hingga sekarang belum menikah juga sih 😂😂😂

Kenapa dalam hal keuangan ini aku begitu ‘ngotot’, karena menyadari aku ini sosok yang ‘biasa’. Mahasiswa biasa, lalu menjadi pekerja biasa. Dalam arti bukan tipe sosok cemerlang yang bisa menghasilkan rupiah dengan kecerdasannya atau dari kreativitasnya. Aku juga tak mungkin mendapatkan warisan harta melimpah dari orang tua. Artinya? Ya segala sesuatu harus diusahakan sendiri. Dan semua itu berangkat dari pengaturan keuangan yang tepat. Makanya senang sekali saat dapat ajakan untuk hadir di talk show finansial yang digelar Home Credit Indonesia. Buatku pribadi acara ini menjadi ajang recharge dan tambahan pengetahuan terutama setelah nyemplung sebagai pelaku  UMKM.


Berlangsung di Paberik Kopi Upnormal Coffee Roasters, Jl. Cihampelas, Bandung, talk show #FUNancial bertajuk Start-up Smart, Financial Tips for Turning Your Hobby Into A Business menghadirkan dua pembicara. Financial Planner, Dipa Andika yang didapuk sebagai pembicara utama, bersama Owner Whatravel Indonesia, Muhammad Takdis sebagai pembicara tamu. Home Credit Indonesia sendiri adalah perusahaan pembiayaan multiguna yang memberikan layanan pembiayaan bagi pelanggan yang berbelanja secara online maupun offline. Lebih lengkap tentang Home Credit bisa cek di sini. Dan seperti dituturkan perwakilan Home Credit, Freya Pradieta, program #FUNancial #YangKamuMau ini adalah upaya mereka untuk mengajak generasi milenial lebih melek soal finansial. Belajar finansial dengan cara yang fun. Upaya ini tampaknya cukup berhasil, karena sebagian besar peserta yang hadir adalah generasi milenial. Tak kurang dari 200 peserta yang hadir antusias menyimak paparan para pembicara.

Beberapa hal yang digarisbawahi Dipa antara lain:
1. Untuk memulai bisnis, yang penting kerjakan dulu yang disuka. Bukan berangkat karena cari duit. Mengapa? Karena itu bisa menjadi beban.
2. Memisahkan keuangan pribadi dan bisnis. Usahakan untuk masing-masing memiliki akun bank sendiri, tidak bercampur.
3. Pencatatan cashflow, income, dan outcome. Tanpa itu, sulit untuk melakukan evaluasi. Apakah bisnis berjalan baik, mandeg, jangan-jangan sudah mengalami kemunduran atau bahkan bangkrut.
4. Dokumentasikan segala aktivitas terkait keuangan, seperti kontrak, quotation, invoice, kwitansi, bukti potong pajak, bahkan bukti komunikasi. Paling tidak tersimpan dalam kurun waktu 5 tahun.

Dari poin-poin yang dibagikan Dipa, sepertinya baru poin pertama yang sudah terlaksana. Poin berikutnya: lapuuuuur 😓😓😓 Tapi sungguh, poin-poin itu memang harus dilakukan kalau berharap bisnis ingin berjalan dengan baik. Ini akan jadi PR buat kulakukan ke depan. Lha Takdis saja manggut-manggut dapat penjelasan dari Dipa, apalagi saiyah yang ‘usaha’nya belum ke mana-mana..

Takdis, atau nama lengkapnya Muhammad Takdis ini telah memulai bisnisnya dari tahun 2009. Berangkat dari kegemarannya travelling. Kegemarannya yang harus dibayar mahal, DO dari kampusnya di bilangan Setiabudi, Bandung. Tapi hasil yang didapatnya kemudian juga setimpal sih. Sukses! Tak serta merta memang. Diawali dari memproduksi aneka perangkat untuk travelling, berhasil dengan baik. Lalu mencoba peruntungan di coffee shop, sempat menjajal food court, dll. Tapi yang kemudian bertahan hingga kini adalah yang berkaitan dengan travelling. Saat ini ia telah Open Trip 87 destinasi, membuat mini hostel dan cluster sebagai pelengkap. 

Takdis mengakui tak ada pencatatan yang baik saat membuka coffee shop. Ditambah dengan penjualan zero karena alasan perkawanan alias gratis. 

Menurut Dipa, dalam bisnis harus tetap ada batas yang jelas. Bahkan penting untuk ‘menggaji diri sendiri’. “Tetapkan tanggal penggajian yang sama. Catat dengan detil termasuk angka-angkanya. Ini bukan hanya demi administrasi yang baik, tapi penting juga jika ada kerjasama dengan pihak luar. Menunjukkan kalau usaha kita dalam kondisi stabil,” tandas Dipa. Catatan bisnis sebaiknya juga dibuat detil, seperti catatan harian, mingguan, bulanan, tahunan, dst.  

Hal penting lain dalam berbisnis adalah menetapkan rencana jangka pendek dan jangka panjang. Sayangnya, menurut Dipa, banyak orang yang terjebak dalam pengaturan keuangan yang impulsif. Akan sulit jika memutuskan untuk terjun ke dunia bisnis. “Jangan katakan ‘gimana nanti’, tapi ‘nanti gimana’?” Di situlah pula dibutuhkan investasi. 


Tujuan investasi sendiri ada banyak ragam. Di antaranya:
- pensiun
- sekolah anak
- aset
- liburan
- dst

Dipa melengkapi paparannya dengan contoh-contoh. Mudah dan bisa dicoba para peserta. Misalnya keinginan untuk berlibur. Biaya berlibur tahun ini ditambah dengan inflasi dari kurun waktu hari ini hingga tahun rencana realisasi. Hitungan itu berlaku untuk aneka rencana investasi lainnya. 

Lalu Takdis menanggapi rencananya yang bikin peserta talk show berseru ‘wow’. Yup, dia merencanakan memasuki usia 30, yang notabene tahun depan, untuk mendepositokan uang sejumlah 2M, dengan harapan ia hanya akan mengambil bunganya saja. Bisa dibayangkan kan seberapa sukses bisnis yang digarap anak muda ini?  

Yang merasa punya mimpi seperti Takdis, kenapa tidak? Atau mengikut jejak Dipa yang sukses dengan HaHaHa Corp-nya.  Tapi yang bisnisnya biasa-biasa pun masih bisa didongkrak dengan upaya terus menerus plus sikap disiplin terkait rencana dan pencatatan seperti yang diingatkan Dipa.


Thanks to Home Credit. Dan sukses untuk semua pelaku UMKM Indonesia!

Perlu ya ikut nampang? Ya dong! 😀