Showing posts with label kesehatan mental. Show all posts

Kesehatan Mental dan Fisik dari Tinjauan TCM dan Art Therapy sebagai Salah Satu Solusi

Ketertarikanku terhadap tema kesehatan mental membawaku ke tayangan iklan di berbagai media sosial. Tayangan-tayangan itu berisi promosi kelas-kelas berbayar terkait kesehatan mental. Betul-betul cepat sekali apa yang kita lakukan terpantau algoritma aneka platform di internet ini. Nah, salah satu sempat kujajal kelasnya adalah kelas Art Therapy yang digelar secara daring. Kelas ini bertujuan menjadi wadah belajar untuk ekspresi emosi dan pelepasan emosi yang sehat. Kebetulan saat ini aku juga tengah belajar akupunktur, yang menggunakan falsafah dasar Pengobatan Tradisional Tiongkok (Traditional Chinese Medicine/TCM).


Baca juga: Kesehatan Mental dalam Skala Hawkins

Aku baru tahu, ternyata cukup banyak platform yang juga menyelenggaran kelas serupa. Tapi algoritma mempertemukanku dengan kelas yang diampu oleh Konselor dan Energy Reader, Katherine Eka Laila. Begitulah, aku ikut kelas daringnya, dan ruang evaluasi dan konsultasi dibuka selama 14 hari ini grup whats app. 


Apa itu Art Therapy?

Sebelumnya, aku suka menggambar doodle ala-ala. Itu pun manual saja, belum sampai menggunakan aplikasi gambar, misalnya canva. Tak pernah belajar secara khusus soal teori coret-coret ini, termasuk jika dikaitkan dengan terapi kesehatan mental. Dulu, ini terhitung sering kulakukan. Sekadar karena ingin menggambar saja. Sementara buku mewarnai malah blas tak tersentuh. Niatnya belum bulat sepertinya buat mewarnai.  

Dalam kelas daring yang kuikuti, lebih kurang dijelaskan bahwa art therapy merupakan suatu bentuk psikoterapi yang menggunakan media seni sebagai sarana utama untuk membantu mengekspresikan diri dan memahami emosi untuk meningkatkan kesehatan mental. Terapi ini memudahkan kita dalam mengkomunikasikan emosi, melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda, dan memahami diri dengan lebih baik. Beberapa persoalan yang dapat dibantu tangani antara lain peristiwa traumatis, stres berkepanjangan, kecanduan obat-obatan, gangguan mental, dan masalah perilaku pada anak.


Baca juga: Doodle sebagai Sarana Melatih Imajinasi


Dalam praktiknya, kelas-kelas art therapy menggunakan metode yang beragam. Misalnya penyaluran emosi dilakukan melalui musik, tulisan, tari, atau seni peran. Tentu saja dibutuhkan pendamping ahli atau konselor yang bertugas melakukan evaluasi dari proses yang dijalankan oleh tiap peserta. Karena yang dilihat dalam terapi ini bukanlah hasil akhir yang prima seperti lukisan yang bagus, suara yang indah, gerakan tari yang memesona, melainkan proses dari awal memulai hingga waktu terakhir yang ditentukan. 

Misalnya art therapy dilakukan dengan metode gambar. Peserta diminta untuk menggambar motif-motif tertentu yang memiliki makna masing-masing sesuai emosi yang tengah dirasakan. Seperti yang kuikuti di kelasnya Katherine Eka Laila, setelah pertemuan zoom lebih dari 2 jam, pendampingan dilakukan selama 2 minggu setelahnya. Peserta diminta untuk memotret gambar yang dibuat. Gambar pertama adalah motif sesuai dengan emosi yang sedang dialami saat melakukan coretan. Berapa pun motif yang bisa digambarkan. Tahap berikutnya adalah membuat pola baru--menimpa yang lama--yang dimaksudkan untuk mengatasi emosi yang sebelumnya. Gantinya tentunya yang lebih ceria, lebih positif. Corak lama kemungkinan besar tidak akan hilang, tetap terlihat mesti ditutupi. Hal itu menunjukkan bahwa jejak persoalan dalam hidup bisa jadi tetap ada, tapi kita sudah menyikapinya dengan cara yang berbeda. 

Baca juga: Stoikisme dan Upaya Melakoni Hidup Lebih Baik


Mengapa Kita Perlu Melepaskan Emosi?

Dalam TCM emosi merupakan salam satu penyebab penyakit fisik atau penyakit di tubuh kita. Emosi adalah energi yang bergerak. Saat ia tertahan, ia akan menjadi sumbatan, memadat dan akan menjadi pengganggu kesehatan, baik fisik maupun mental. Dengan emosi yang terjaga dan diatur pelepasannya, maka keseimbangan energi (qi) akan terjaga. Qi ini merupakan bahasan penting di TCM. Dalam filsafat Tiongkok kuno, qi diartikan sebagai "energi vital" atau "kekuatan hidup". Qi mengalir melalui alam semesta, tubuh, dan semua makhluk hidup. Qi dapat menjaga kesehatan dan keseimbangan tubuh jika mengalir dengan baik. Di lain waktu aku akan buat catatan tentang TCM secara khusus.  

Di TCM secara detail disebutkan bahwa emosi kita terhubung dengan organ-organ tertentu secara khusus.

Kemarahan dan Hati (Liver)

Kemarahan memicu naiknya qi. Gejala yang dengan mudah kita kenali adalah wajah memerah, leher kaku, sakit kepala, pusing, dan tinitus. Kemarahan juga dapat menyebabkan gangguan lambung, usus, dan jantung. Jika amarah ditekan, akan terjadi stagnasi qi hati yang menyebabkan gangguan pada organ liver.

Kegembiraan dan Jantung

Emosi yang berkaitan dengan jantung adalah gembira yang memperlambat qi. Kegembiraan berlebihan atau sebaliknya, depresi karena tidak adanya sukacita dapat mengganggu kerja jantung. Gejala yang mudah kita kenali dari kondisi ini adalah gairah berlebihan, palpitasi, insomnia, dan ujung merah ke lidah. 


Baca juga: Body Process dan Upaya Membebaskan Diri dari Depresi


Kesedihan dan Paru-Paru/Jantung

Emosi sedih dapat melarutkan qi. Gejala yang muncul adalah kelelahan, sesak napas, rasa tidak nyaman di dada, menangis tanpa alasan, depresi. Pada beberapa kasus di tubuh perempuan, kondisi ini dapat menguras darah di hati.

Kekhawatiran/Kecemasan dan Paru-Paru/Limpa

Rasa khawatir dan cemas yang berlebihan dapat mengikat qi jadi tersimpul. Gejala yang dapat dikenali berkenaan dengan organ paru adalah sensasi tidak nyaman di dada (paru-paru), sedikit sesak napas, batuk kering, suara melemah, bahu tegang, kulit pucat. Sedangkan pada limpa, gejala yang muncul adalah kehilangan napsu makan, sensasi tidak nyaman di epigastrium, distensi abdomen, kelelahan, dan kulit pucat.

Terlalu Banyak Berpikir dan Limpa

Kita di masa kini menyebutnya over thinking, kondisi yang dapat membuat qi menyimpul. Gejala yang ditimbulkan adalah nafsu makan yang memburuk, sedikit epigastrik, distensi dan rasa tidak nyaman di perut, kelelahan, dan kulit memucat.   

Ketakutan dan Ginjal

Ketakutan dapat menyebabkan qi turun. Gejala yang bisa kita kenali adalah enuresis nokturnal, inkontinensia urisn, dan diare. Pada kasus lain dapat pula terjadi qi yang justru naik dan menimbulkan gejala palpitasi, insomnia, berkeringat di malam hari, mulut kering, dan malar flush.

Keterkejutan dan Jantung

Rasa terkejut yang ekstrem dapat menceraiberaikan qi. Gejala yang muncul adalah jantung berdebar, sesak napas, dan insomnia. Jika kondisi ini berlangsung lama dan berkepanjangan dapat melukai ginjal.

Demikianlah, ketegangan emosional dapat menyebabkan ketidakharmonisa organ dalam tubuh kita. Dan sebaliknya, ketidakharmonisan organ internal dapat menyebabkan ketidaksimbangan organ tubuh. Makanya pada judul-judul kecil di atas kutuliskan menggunakan "dan" karena keduanya saling memberikan pengaruh. Dibutuhkan penanganan secara holistik untuk menjadikan keduanya selaras.


Baca juga: Waspada Kesehatan Mental dan Upaya Penanganan dengan Terapi Energetik


Jadi, persoalan emosi itu bukan hal sederhana, ya. Jangan menggampangkan. Pada jangka panjang, stagnasi emosi membuat tubuh kita digerogoti penyakit. Ingat, ya, emosi itu hadir untuk menyampaikan pesan kepada kita. Mari berdamai dengan emosi dengan cara mengelolanya. Caranya bukan dengan menekan emosi yang kita rasakan, melainkan menghormati emosi itu pengalaman batin yang menumbuhkan kesadaran kita terhadap Semesta besar dan semesta kecil, yakni tubuh kita.

Bagi yang membutuhkan bantuan melancarkan stagnasi emosi melalui terapi terapi energetik, sila kontak aku, ya: WA Ibu Meong.



Perawatan Diri sebagai Bagian dari Laku Hidup Berkesadaran dalam Keseharian

Di masa kini, kita seolah dijebak dalam kehidupan yang seolah perlombaan, kompetisi. Berkejaran, berebut menjadi yang terdahulu atau menjadi pemenang. Aneka kisah dan gambar bergerak berebut meminta perhatian kita. Kita lantas menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling medsos. Lupa waktu, lupa perhatian akan dunia sekitar. Kondisi tanpa kesadaran ini dapat membawa kita pada mental yang tidak sehat. Bicara soal kesadaran tak lantas menjadikan kita sebagai pertapa, atau orang tanpa dosa. Bahkan latihannya pun bisa hal-hal yang sederhana, misalnya dengan perawatan diri yang berkesadaran.

Baca juga: Olah Napas untuk Kesehatan Mental dan Hidup yang Berkesadaran

Aku bukan jenis perempuan yang gemar berdandan. Merawat diri pun secukupnya saja. Belakangan, setelah memilih untuk melakoni hidup yang lebih berkesadaran, berusaha untuk lebih peduli dengan badan sendiri. Melakukan perawatan diri dengan lebih primpen dan menjadikannya rutin. Ketika dinikmati, hal-hal yang rutin itu ternyata oke juga, ya ....


Melakoni Hidup yang Berkesadaran

Saat ini banyak sekali kelas pembelajaran dengan tema hidup berkesadaran. Dari mulai kelas gratis hingga yang premium alisan berbayar mahal. Tak lain adalah karena keinginan, kemauan, kebutuhan--atau apa pun istilahnya--akan hidup yang lebih damai. Padahal sesungguhnya hidup berkesadaran bukanlah sesuatu yang mewah dan sulit terjangkau. Intinya, hidup berkesadaran adalah hidup di masa kini, masa sekarang dengan menyadari setiap detailnya. 

Dalam keseharian, hidup berkesadaran adalah sesederhana kita tahu tujuan kita melangkah, jalan mana yang kita pilih, apa saja yang akan kita lakukan. Namun, dalam praktiknya tak semudah itu. Makanya dibutuhkan latihan untuk bisa menjadikan hidup berkesadaran sebuah kebiasaan. 

Berbagai sumber menyebutkan bahwa hidup berkesadaran memberikan manfaat bagi banyak hal, yakni:

Kesehatan mental

Dengan menjalani hidup berkesadaran, kita dapat menjalani aktivitas dengan lebih lambat. Tak berkejaran. Dengan begitu kita bisa membendung stres. Kita juga dimampukan untuk berpikir lebih jernih. Tidak menghadapi segala persoalan secara emosional, tapi berfokus pada solusi. Pada akhirnya kebiasaan baik itu dapat meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan.

Kesehatan fisik

Kondisi mental sangat berpengaruh terhadap kondisi fisik. Stres berlebihan dapat memunculkan psikosomatis. Dengan kondisi mental yang lebih sehat, kualitas hidup pun akan membaik; tidur lebih nyenyak, emosi lebih terkontrol, tidak melakukan pelarian-pelarian yang makin memperburuk keadaan. 

Produktivitas

Dengan mental dan fisik yang sehat, kita bisa menjalani segala rencana kita dengan lebih fokus. Dengan begitu kita dapat meningkatkan produktivitas;  dalam hal ini baik terkait dengan pekerjaan, hobi, dan kehidupan keseharian lainnya. Meningkatkan kualitas hidup secara menyeluruh.

Bersikap lebih bijak

Dengan pola yang slow living, kita terbantu untuk lebih bijak saat mengambil keputusan. Ambil jeda sebelum membuat keputusan. Menimbang dampak apabila keputusan dibuat, jika kalimat-kalimat diucapkan. Jangan sampai menjadi keputusan yang tidak tepat atau kalimat yang menyakiti. Dengan hidup berkesadaran, kita dibantu untuk lebih beradaptasi dengan berbagai perubahan yang kita jumpai dalam kehidupan dan mampu menerima kondisi yang tak sesuai rencana atau ekspektasi dengan lebih baik.

Meningkatkan kualitas hubungan

Dengan latihan yang tepat dan berkelanjutan, hidup berkesadaran memunculkan rasa welas asih. Tentu saja hal ini akan membantu kita menjaga dan memperbaiki hubungan kita, hubungan apa pun. 

Baca juga: Jeda dan Meditasi Bantu Redakan Pikiran yang Riuh


Hidup Berkesadaran dalam Praktik Sehari-hari

Hidup berkesadaran adalah hidup di masa sekarang; di sini dan saat ini. Dan kunci dari hidup di saat ini adalah menyadari napas. 

Pada umumnya orang mengenal meditasi sebagai cara menyadari napas. Ambil sikap duduk yang nyaman, bisa ditemani dengan lilin aroma terapi atau dupa, lalu meditasi pun dimulai hingga waktu yang dibutuhkan. Namun sesungguhnya meditasi tak melulu duduk diam. Kita mengenal juga yang namanya meditasi gerak. Bukan gerakan tertentu yang khas melainkan melakukan aktivitas biasa, tapi dilakukan dengan tetap menyadari napas. 

Nah, selain merawat mental, merawat tubuh juga penting dilakukan dengan kesadaran. Jika kamu telah memiliki kebiasaan menjaga tubuh dengan baik, itu sudah bagus banget. Yang perlu dilakukan sekarang adalah diniatkan melakukannya dengan sepenuh hari. Menikmati setiap detailnya. Setiap gerakan dikhidmati, bukan dilakukan berbarengan dengan aktivitas lainnya.

Menjaga kesehatan tubuh dengan sepenuh kesadaran secara umum adalah dengan menjaga kebiasaan makan makanan bergizi, olahraga teratur, tidur cukup, dan mengelola stres. 

Secara lebih detail, berikut beberapa contoh.

Makan yang berkesadaran

  • Pilihlah makanan yang memberikan manfaat bagi tubuh. Kurangi karbohidrat, jauhi gula.
  • Ucapkan terima kasih kepada makanan dan semua pihak serta komponen yang terlibat dalam proses hingga bahan makanan dapat tersaji di atas meja.
  • Makanlah dengan tenang dan khidmat.

Berolah raga yang berkesadaran

  • Pilih olahraga yang sesuai kebutuhan badan.
  • Lakukan kegiatan olahraga dengan secukupnya saja, tidak berlebihan.
  • Lakukan setiap gerakan dengan napas yang teratur dan disadari. 

Perawatan tubuh dan wajah

  • Mandi dengan teratur, paling tidak sekali dalam satu hari.
  • Lakukan gerakan mandi dengan tidak tergesa, sambil mensyukuri tubuh sehat yang kita miliki dan telah melakukan tugasnya dengan sempurna.
  • Rawatlah wajah dengan sepenuh kesadaran, jika perlu dibarengi afirmasi untuk menjaga otak tetap sadar sehingga pikiran tidak meloncat-loncat.

Di lain waktu akan kubagikan tips memijat wajah pada titik-titik akupunktur yang bermanfaat bagi kecantikan dan kesehatan. Lain waktu, ya, saat ini aku masih belajar di kelas akupunktur. Untuk aneka tips kecantikan bisa coba cek catatan kawan-kawan beauty blogger seperti blognya beauty blogger Balikpapapan ini. 

Begitu pula untuk aktivitas lain, bisa dibuat detail serupa. Baik untuk kegiatan reguler maupun yang terhitung baru dan dilakukan nonrutin. Intinya adalah berkegiatan dengan betul-betul menyadari apa yang sedang dikerjakan. Sesungguhnya ini tugas yang cukup berat buatku. Aku yang terbiasa multitasking benar-benar diseret untuk melambat saat belajar lebih berkesadaran. Karena bertahun-tahun dengan kebiasaan multitasking, terasa betul ada proses mengingat yang terganggu. Demi hidup yang lebih sehat dan selaras, berusaha untuk melakoninya pelan-pelan.

Masalah akan selalu ada. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Dengan hidup berkesadaran, kita dimampukan untuk memilah dan memilih mana yang bisa kita pikirkan dan bereskan karena berada di bawah kendali kita, dan tak perlu risau dengan hal-hal di luar kendali kita. 

Kamu mau belajar hidup yang lebih berkesadaran juga? Yuk, belajar bersama. Karena semakin banyak orang yang memilih untuk menerapkan hidup berkesadaran, energi yang bergerak bersama-sama akan saling beresonansi menciptakan harmoni. Bersama-sama pula kita bisa hidup berdampingan tanpa dibarengi rasa cemas, takut, dan khawatir. Tenang, damai, dan bahagia. 

Baca juga: Pulihkan Trauma dan Ciptakan Hidup Sehat Selaras dengan Terapi BCR


Waspada Kesehatan Mental dan Upaya Penanganan dengan Terapi Energetik BCR

Jumat lalu dikejutkan oleh kabar kematian ibu dan dua anaknya. Kematian yang tidak wajar. Sang ibu menghabisi nyawa anaknya dengan memberi mereka racun sebelum mengakhiri hidupnya sendiri dengan gantung diri. Peristiwa ini kembali membuat orang ternganga. Sebuah kenekatan yang bikin pilu, terlebih di tengah kondisi negeri yang sedang tidak baik-baik saja. Apa yang sedang dialami ibu ini? Tapi, jika dilihat dari tindakan bunuh diri, bisa dipastikan jika ibu tersebut mengalami gangguan kesehatan mental. Yuk, aware dengan gejala gangguan mental yang dialami orang-orang di sekitar kita.


Baca juga: Olah Napas untuk Kesehatan Mental

Surat yang ditinggalkan Ibu Banjaran ini disebar di berbagai media. Menyiratkan ketakutan dan kekhawatirannya akan masa depannya bersama dua anaknya. Selain merasa sering diabaikan oleh suaminya, sang suami juga terjebak hutang besar yang ia taks yakin bagaiamana menyelesaikannya. Ada berapa banyak kisah seperti ini beredar di sekitar kita?  


Apa Itu (Gangguan) Kesehatan Mental?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kesehatan mental sebagai kondisi kesejahteraan mental yang memungkinkan seseorang mampu menghadapi stres dalam hidupnya, mengekspresikan kemampuannya, belajar dan bekerja dengan baik, serta memberikan kontribusi bagi masyarakat di sekitarnya.

Seseorang disebut mengalami gangguan mental (mental disorders) jika ia tak berhasil mengatasi berbagai gejala yang memengaruhi emosi, pikiran, dan perilakunya. Kondisi ini bisa memburuk jika gejala dialami secara terus-menerus, tidak mencari jalan keluar, dan menjadikan penderitanya merasa tidak bahagia. 

Kesehatan mental yang terganggu bukanlah kondisi tiba-tiba. Ada proses yang sudah berlangsung lama. Tidak adanya kesadaran untuk melakukan upaya penyembuhan, menjadi gangguan ini semakin solid. Beberapa faktor menjadi pemicu terjadinya gangguan, di antaranya adalah:

Faktor biologis:

  • Gangguan pada fungsi saraf otak 
  • Kerusakan pada otak, baik kelainan bawaan, akibat infeksi atau trauma kecelakaan.
  • Memiliki riwayat gangguan mental dari keluarga
  • Otak mengalami kekurangan oksigen pada proses kelahiran
  • Kekurangan gizi
  • Konsumsi NAPZA dalam jangka panjang

Faktor psikologis:

  • Trauma akibat kekerasan fisik dan verbal, baik di masa lalu maupun sedang berlangsung
  • Luka masa kecil, terutama dalam relasi dengan orang tua 
  • Kurang bisa bersosialisasi dengan orang dan lingkungan 
  • Rasa kehilangan yang mendalam akibat ditinggalkan orang terdekat 
  • Merasa gagal, tidak mampu, kesepian, dan penilaian negatif terhadap diri sendiri lainnya

Ada sejumlah gejala khas yang mengikuti mereka yang mengalami gangguan kesehatan mental. Tanda-tandanya bervariasi, tergantung jenis gangguan yang dialami. Beberapa di antaranya adalah: 

  • Mengalami rasa sedih yang berlarut-larut; kesedihan yang sering kali tanpa sebab yang jelas
  • Mengalami perubahan emosi yang drastis
  • Kehilangan rasa peduli terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar
  • Merasakan kelelahan yang berkepanjagan, tak punya tenaga, mengalami gangguan tidur 
  • Mengapami perubahan kebiasaan makan, misalnya menjadi sangat berlebihan atau sangat kurang

Adapun jenisnya, sejauh ini, ada ratusan jenis gangguan mental yang telah dijadikan rujukan diagnosis wilayah psikiatri. Beberapa yang telah cukup kita kenal, antara lain: 

  • Gangguan emosi (depresi, bipolar, obsesif-kompulsif/OCD, dll.)
  • Gangguan kecemasan (anxiety disorder) 
  • Gangguan kepribadian (antisosial, narsistik, histrionik, dll.)
  • Gangguan kurang perhatian dan hiperaktivitas (attention-deficit/hyperactivity disorder/ADHD)
  • Gangguan makan.
  • Gangguan stres pasca trauma (post-traumatic stress disorder/PTSD)
  • Gangguan autisme (autisme spectrum disorder/ASD)
  • Skizofrenia 

Baca juga: Berdamai dengan Inner Child


Menjaga Mental Tetap Sehat

Apa yang perlu kita lakukan agar kesehatan mental kita terjaga? Hal sederhana dari ajaran Stoic adalah memfokuskan diri pada apa pun yang bisa kita kendalikan. Karena sering kali yang terjadi, pikiran kita banyak dipengaruhi bahkan dijajah oleh keinginan untuk mengendalikan segalanya. 

Beberapa poin Stoikisme yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari: 

1. Memahami tentang hal yang bisa dan tidak bisa diubah. Ini merupakan ajaran dasar dari Stoik. Untuk membiasakan, pemilahan ini perlu dilakukan setiap hari secara sadar, tentang apa-apa yang bisa diubah dan tidak. 

2. Membiasakan diri membuat catatan. Buatku sendiri, membuat jurnal harian masih menjadi hal yang sulit dilakukan. Tapi kebiasaan ini merupakan hal baik yang diakui oleh generasi ke generasi. Melalui jurnal ini kita bisa berkaca dari pengalaman yang sudah lewat. Hal ini juga membantu pengenalan terhadap diri sendiri dan perkembangan kepribadian kita. 

3. Menyadari bahwa segala hal apa adanya. Hal alami setiap orang adalah menerima yang baik-baik saja, yang menguntungkan saja, yang membuat gembira saja. Padahal hidup selalu berubah. Adalah penting untuk menerima segala hal sebagai bagian dari pembelajaran hidup. 

4. Menciptakan kebahagiaan. Yup, kebahagiaan bukanlah pemberian, ia hadir dengan diciptakan. Penciptanya ya kita sendiri. Ini terhubung ke poin pertama, bahwa kita tak bisa mengendalikan segala hal di luar kita. Yang lebih penting adalah bagaiamana kita merespons setiap persoalan. 

5. Menyadari diri sebagai bagian dari alam semesta. Pernyataan "kita bukan siapa-siapa" bukan berarti mengecilkan peran kita. Ini semata kesadaran ada dunia yang lebih luas di luar kita. Tak perlu berfokus pada kemalangan dan hal buruk dari pengalaman sendiri. Tak ada yang abadi, segala hal bergerak, segala hal berubah. 

Perlu juga untuk membangun dan memperlajari hal-hal baru yang menantang. Terlebih bagi kamu yang terbiasa melakukan rutinitas yang sama dari waktu ke waktu. Aku sendiri tengah mengulik pembelajaran hal baru baru terkait bahasa, penerbitan, dan kemampuan perceiving. Dan itu seru. 

Ada juga kawan-kawan blogger yang rutin menulis di blognya masing-masing, sebagai bagian dari journaling, pun tempat menuangkan ide-ide kreatif mereka, seperti ide market day. Silakan bisa dicoba untuk keseharian ibu modern

Namun, jika ditemukan kesadaran bahwa kesehatan mental sudah mengalami gangguan mental yang signifikan, jangan ragu untuk meminta pertolongan kepada profesional. Kamu bisa mengunjungi psikolog, psikiater, atau terapis kesehatan mental.  

Baca juga: Pulihkan Trauma dan Ciptakan Hidup Sehat Selaras dengan Terapi BCR


Penanganan Gangguan Kesehatan Mental dan Terapi BCR

Hal pertama dan utama dari langkah penanganan adalah acknowledge, pengakuan. Orang yang mengalami gangguan kesehatan mental perlu mengakui bahwa dirinya memang sedang bermasalah. Tanpa pengakuan tersebut, tak mungkin ada proses penyembuhan. 

Dalam beberapa bulan terakhir ini aku mempelajari terapi Body Communication Resonance (BCR). Pendekatan penyembuhan yang diprakarsai oleh Dhavid Avandijaya Wartono ini berfokus pada pemulihan keharmonisan antara tubuh dan pikiran melalui peningkatan kesadaran tubuh, relaksasi, dan pengelolaan energi vital. Dalam BCR terapis hanya bertugas menyediakan ruang bagi pemulihan klien/pasien. Ia hanya memfasilitasi pemulihan emosional dan fisik, sisanya diserahkan kepada klien/pasien untuk memprosesnya. Jika klien/pasien bersedia untuk berubah, maka tubuhnya akan berproses untuk meningkatkan kemampuan self-healing dan menciptakan kedamaian dalam diri. 

BCR menekankan body awareness. Mengajak kita menyadari bagaimana emosi dan pengalaman psikologis bermanifestasi dalam tubuh. Bagaimana hal yang menyasar mental dapat berkembang menjadi penyakit yang solid di dalam tubuh. Seperti diungkap dr. David, segala penyakit yang bukan disebabkan oleh bakteri, virus, kuman, parasit disebabkan oleh gangguan pada kesehatan mental. Bisa tidak secara langsung, semacam efek domino. Misalnya gangguan kecemasan yang membuat seseorang mengurung diri terus menerus, menjadikan pola makan berubah, tubuh tidak bergerak dalam waktu lama, pelan tapi pasti bakal menumbuhkan penyakit fisik. Masih banyak contoh-contoh lainnya.

Dalam pelaksanaannya, terapi BCR hanya memberikan sentuhan pada focal point di kepala dan tubuh. Sekali lagi, proses ini tidak untuk menyalurkan energi. Terapis hanya menyediakan ruang bagi klien/pasien berproses; ruang untuk membantu mengelola dan membersihkan "sampah batin" atau beban emosional yang tersimpan di dalam tubuh mereka. Jika energi tubuh telah selaras, akan tercipta keseimbangan antara kondisi emosional dan kesehatan fisik; pikiran dan tubuh saling terhubung dan mendukung satu sama lain. Jika tubuh dan pikiran telah selaras, kemampuan untuk self healing atau penyembuhan diri sendiri akan berkembang. Kita juga dimampukan untuk lebih mindful atau "hadir penuh" dan berdamai dengan diri sendiri. 

Buat kamu yang tertarik untuk terapi BCR, sila hubungi aku, ya. Langsung WA saja.

Atau kalau tertarik untuk ikut pelatihannya, ada kelas-kelas yang sudah diap diikuti, di Bandung dan Yogyakarta. 



Jangan lupa untuk aware terhadap sekitar. Tak perlu mencampuri urusan orang lain. Namun sekiranya ada seseorang butuh bantuan terutama terkait kesehatan mental, kita siap untuk mengulurkan tangan. 

Baca juga: Mengenal Sabotase Diri dan Mekanisme Koping




Tetap Bahagia dan Giat Berkarya saat Menjalani Hidup Sendiri

Sabtu malam. Malam Minggu. Hari yang sering kali memunculkan kegalauan bagi sebagian orang. Lihatlah tayangan-tayangan di media sosial, ada quote-quote yang membahas tentang kesendirian dan kesepian. Tak jarang yang menunjukkan betapa menderitanya masih sendiri di usia sekian. Aku meyakini bahwa tiap generasi dengan kekhasannya masing-masing, memiliki tantangannya tersendiri. Namun, melalui berbagai alasan, kita juga bisa menjelaskan mereka dengan berbagai latar belakang itu bahwa nggak masalah kok dengan "sendiri". It's ok being alone.



Baca juga: Trauma Bonding, Luka yang Sering Disangka Cinta

Menjadi lajang bukanlah hal yang memalukan. Mengalami kegagalan dalam hubungan juga bukanlah aib. Semua orang menjalani prosesnya masing-masing. 


Menjadi Lajang

Suatu kali kutemukan thread dari seorang perempuan usia pertengahan 30-an. Nadanya terbaca positif dan optimis. Namun di dalam kalimat-kalimatnya juga terselip kekhawatiran: kalau aku masih akan sendiri dalam tahun-tahun ke depan, kira-kira gimana caraku memanfaatkan waktu?

Sebetulnya kocak juga, ya, seorang perempuan mandiri masih bertanya tentang apa yang bisa dilakukan. Urusan relasi dan percintaan memang sering kali bikin orang kehilangan kepercayaan diri. Bisa jadi TS baru putus hubungan. Gamang harus menjalani kesehariannya kembali ke mode awal, tanpa pasangan. Padahal jika mau kembali membuat reviu dari perjalanan hidup yang sudah dilewati, selama sendiri fine-fine aja, toh?  

Banyak, kok, keuntungan menjadi seorang lajang:

  • Memiliki kebebasan dalam membuat pilihan. Pilihan ini bisa berupa hal-hal sederhana dalam keseharian, maupun pilihan untuk hal-hal besar dalam perjalanan hidup.
  • Bisa lebih optimal memberi perhatian ke diri sendiri. Kadang, sebagai sebuah pribadi, kita masih memiliki PR untuk menjadi diri sendiri seutuhnya. Dan "being single" akan memudahkan dalam menuntaskan PR-PR tersebut. 
  • Keleluasaan waktu. Pengorganisasian waktu seutuhnya kita yang pegang dan atur. Hal ini memungkinkan kita untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang kita pilih, termasuk barangkali hobi-hobi yang tak biasa. 
  • Potensi kemandirian. Menjadi lajang membutuhkan keberanian untuk mencukupkan kebutuhan diri sendiri. Kemandirian pun bertumbuh seiring dengan rasa percaya diri yang ikut berkembang.

Memilih menjadi lajang juga lebih membebaskan kita untuk pengembangan diri, belajar tentang hal-hal baru. Menulis di blog bisa menjadi salah satu pilihan. Aneka tema bisa dipilih sesuai dengan minat, misalnya blog gaya hidup, blog kecantikan atau kesehatan, blog tentang relasi, blog tentang keuangan, blog tentang binatang peliharaan. 

Atau yang di masa sekarang juga banyak dilakukan, menjadi vlogger. Bagi yang gemar membuat tayangan video, dengan segala macam tema seperti perjalanan, atau kuliner, olahraga, dan lain-lain bisa dipilih.

Nggak mau yang heboh-heboh? Menikmati saat santai sendiri bisa dengan membaca buku, menonton film, atau menikmati musik di ruang mungil yang nyaman. Pendek kata menjadi lajang juga bisa hidup dengan normal. Jadi, nggak perlu lagi bertanya: gimana cara mengisi hari-hari di usia sekian yang masih sendiri? 

Baca juga: Berdamai dengan Inner Child


Hubungan Gagal Bukan Berarti Dunia Berakhir

"Aku patah hati, aku nggak mau punya pasangan lagi. Aku mau hidup sendiri saja!"

Eaaaaaaa...

Memilih tidak berpasangan itu bukan dalam rangka menghukum diri sendiri, ya. Bukan pula untuk menghukum orang lain yang dianggap punya andil dalam kegagalan sebuah hubungan. Gagal merupakan hal yang sangat mungkin terjadi di wilayah mana pun. Termasuk dalam urusan relasi. So, kalau sebuah hubungan tidak berhasil yang kemudian membawa kita kepada setingan awal--sendiri lagi--ya jalani saja. Nikmati saja, enjoy aja.

Tapi, kenapa gagal terus, ya?

Bisa jadi pertanyaan itu muncul di benak kita.

Berapa kali kita menjalani hubungan dan gagal? Dua kali? Enam kali? Lima belas kali? Pengalaman yang bisa jadi menyudutkan kita pada pertanyaan: Kok aku tidak bisa seperti orang-orang pada umumnya? Kok aku tak cocok dengan satu orang pun? Apa aku yang tidak normal? Bahkan ada yang bikin penghakiman atas diri sendiri: Mungkin aku terkena kutukan sehingga selalu gagal.

Untuk menjadikannya clear, barangkali kita perlu menyisihkan waktu khusus untuk membuat evaluasi. Lakukan dengan jernih, tanpa asumsi, tanpa penghakiman, terhadap orang lain, terlebih kepada diri sendiri.

Buatlah daftar, apa saja yang selama ini menjadi pencetus bubarnya hubungan. Tentu saja berangkat dari diri sendiri. 

  • Apakah selama ini aku terlalu fokus terhadap diri sendiri?
  • Apakah selama ini aku terlalu tinggi menaruh ekspektasi?
  • Apakah selama ini aku terlalu bergantung sama pasangan?
  • Apakah selama ini aku telah bertindak seolah tidak membutuhkan pasangan?

Dan lain-lain bisa ditambahkan sesuai dengan kondisi riil masing-masing. Ingat, ini untuk mencari penyebab, bukan untuk menghakimi diri sendiri.

Setelahnya, membuka diri lagi. Kali dengan sikap batin yang lebih siap. Termasuk membuka ruang dialog, menyisihkan waktu untuk melakukan sesi bicara dari hati ke hati. Tidak ada sosok yang sempurna, pun dua orang tak pernah ada yang seragam. Yang ada hanyalah upaya untuk saling mengisi dan melengkapi kekurangan.

Nah, ketika upaya sudah dilakukan ternyata masih gagal, tak soal. Tak semua yang hadir dalam hidup kita akan tinggal selamanya. Bisa jadi mereka hanya hadir untuk memberi pelajaran. Terutama pelajaran-pelajaran yang sebelumnya kita belum lulus. Jangan lelah bertumbuh untuk menjadi pribadi yang lebih baik, ya.

Being single? Why not ... as long as you enjoy your choice

Dan kalau butuh melancarkan stagnasi emosi yang sudah mengganggu produktivitas apalagi mengganggu kesehatan, sila hubungi aku, ya. Aku membuka jasa terapi energetik untuk membantu melancarkan kembali sumbatan di titik-titik cakra dan meridian akibat emosi yang terpendam.   



Baca juga: Mengapa Perempuan Perlu Bekerja


Sembuhkan Penyakit Metabolik dengan Diet Keto dan Intermittent Fasting

Berapa sering kita ditakut-takuti pernyataan seputar angka kematian yang disebabkan oleh pola hidup tidak sehat? Sejauh yang kutemukan di media sosial saja melimpah ruah, baik dari tayangan bersponsor maupun milik personal. Apakah lantas orang mau dengan mudah mengubah gaya hidupnya menjadi lebih sehat? Mungkin ada beberapa, tapi sepertinya sebagian besarnya orang hanya membaca sambil lalu. Barangkali memang dibutuhkan pengalaman pribadi untuk bisa menjadikan sebuah pesan mendorong perubahan perilaku. Diet keto, aku melihat langsung pengalaman beberapa kawan yang bisa menurunkan berat badannya secara signifikan. Namun, apakah diet keto bisa menyembuhkan penyakit metabolik?



Baca juga: Pulihkan Trauma dan Ciptakan Hidup Sehat Selaras dengan Terapi BCR

Baru-baru ini yang kutemukan juga tentang sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa sekitar 14 juta orang berusia 30-69 tahun meninggal terlalu dini akibat penyakit. Apa sebab? Penyakit-penyakit akibat gangguan metabolik seperti serangan jantung, diabetes, dan tekanan darah tinggi. Disebutkan pula penyakit-penyakit akibat gaya hidup tidak sehat itu kini mulai menyasar orang-orang yang lebih muda. 


Apa Itu Diet Keto dan Intermittent Fasting?

Diet Keto

Diet keto atau diet ketogenik yang berasal dari kata keton, senyawa kimia yang dihasilkan dari pemecahan lemak oleh organ hati. Pola dietnya adalah dengan mengurangi atau menghilangkan komponen karbohidrat dalam menu makanan, tergantung jenis diet keto yang dipilih. Tujuan yang dicapai dalam diet keto adalah tubuh berada dalam kondisi “ketosis”, yakni ketika tubuh mulai menggunakan lemak sumber utama energi. Energi biasanya diambil dari glukosa. Dengan mengurangi atau menghilangkan komponen karbohidrat, tubuh pun kekurangan glukosa. Tubuh kemudian menggunakan lemak sebagai pengganti. 

Awalnya, diet keto ini disarankan secara medis sebagai upaya menurunkan angka kejadian epilepsi pada anak. Dalam perkembangannya, malah lebih banyak dimanfaatkan untuk penurunan berat badan.

Beberapa jenis diet keto:

Simple Keto, bertujuan menjaga kesehatan, penurunan berat badan, dan mengontrol nafsu makan. 
Konsumsi karbohidrat kurang dari 50 gr/hari; masih diperbolehkan mengonsumsi buah-buahan rendah karbo dalam porsi kecil. 

Keto untuk Kesehatan, bertujuan mengurangi peradangan kronis dan meningkatkan sensitivitas insulin. 
Konsumsi karbohidrat kurang dari 30 g/hari; pemilihan jenis karbo diperketat dan berfokus pada sayuran rendah karbo.

Keto Terapeutik, bertujuan menginduksi dan mempertahankan kestabilan ketosis. 
Diet ini banyak digunakan untuk kondisi gangguan tubuh seperti epilepsi, autoimun, dan neurodegeneratif.

Keto untuk Kanker, bertujuan menekan glukosa darah semaksimal mungkin untuk "mematikan" sel kanker yang tergantung glukosa. 
Konsumsi karbohidrat 3-10 g/hari.
Pada diet jenis ini dibarengi dengan pemantauan Glukose Ketone Index (GKI) agar tetap di bawah 1. 

Baca juga: Perbedaan Darah Rendah dan Kurang Darah


Intermittent Fasting (IF)

Sesungguhnya IF bukanlah jenis diet melainkan pola makan yang mengatur jadwal dengan kurun waktu tertentu yang disebut jendela makan. Waktunya bisa dipilih sesuai kebutuhan tubuh. 

IF memiliki 3 metode. Pertama, metode alternate day fasting, yakni pada hari yang dipilih, tanpa makanan dan hanya mengonsumsi air minum atau jus; dan hari lainnya kita dapat mengonsumsi makanan sesuai keinginan.

Kedua, modified fasting regimen, yakni pada hari yang dipilih untuk berpuasa, asupan kalori dibatasi hanya 25% dari total kebutuhan kalori;  sedangkan pada hari lain atau nonpuasa konsumsi makanan dibebaskan.

Ketiga, time-restricted feeding, yakni pembatasan waktu makan setiap harinya yang disebut jendela makan. Kita hanya bisa makan pada jendela waktu yang kita pilih, misalnya 16-8, yang artinya 16 jam puasa, 8 jam makan. Pilihan waktunya dibebaskan. Dari jendela waktu 8 diturunkan menjadi 6, kemudian 4. 

IF metode ketiga inilah yang belakangan hari banyak dilakukan dan kita akan bahas di sini.


Perpaduan Diet Keto dan IF 

Diet keto dianggap efektif menurunkan berat Sudah banyak testimoni yang dibagikan orang lewat berbagai media. Namun, ternyata bukan hanya soal berat badan. Dengan pola makan diet ini, berbagai macam penyakit metabolis bisa dicegah dan disembuhkan. Kadar insulin turun, tubuh pun menghabiskan simpanan glikogen ada di otot dan hati. Bahkan CEO Lineation Clinic, dr. Dhavid Avandy Jaya meyakini diet ini bisa mematikan sel kanker.  

IF dan diet keto memiliki pendekatan yang berbeda, tapi keduanya bertujuan menghabiskan simpanan glikogen dalam tubuh agar tubuh mengalihkan sumber energi dari karbohidrat dan protein ke sel lemak.

Belakangan hari, orang mulai menggabungkan kedua pendekatan ini. Menjalani keduanya sekaligus, IF dan diet keto. 

Manfaat apa yang diperoleh dengan melakukan IF dan diet keto secara bersamaan?
  • Kondisi ketosis dapat tercapai dalam waktu lebih singkat
  • Durasi gejala flu keto bisa lebih singkat
  • Tubuh lebih mudah beradaptasi saat mengurangi atau menghilangkan karbohidrat
  • Lebih banyak lemak yang terbakar
  • Berat badan turun lebih cepat
Apa itu flu keto? Flu keto adalah gejala yang dialami para pelaku diet keto saat tubuh beradaptasi atau mengalami transisi dalam penggunaan energi. Gejalanya berupa mual, lelah, sakit kepala, dan kelaparan akan makanan manis. 

Dalam kurun waktu tertentu, jika kamu mengikuti prosedur yang disarankan oleh dokter atau ahli gizi, gejala flu akan hilang dengan sendirinya saat tubuh mulai beradaptasi. 

Tak semua orang bisa dengan mudah mengikuti metode ini. Bayangkan, kamu harus stop makan nasi, mi, dan aneka produk tepung. Bayangkan nasi putih pulen ngebul karena masih panas, ditemani aneka gorengan, daging, ikan, dan lain-lain, ditambah dengan sambal terasi pedas. Nyam! Atau bayangkan di saat pengin variasi makanan, membayang olahan mi dalam berbagai jenis, slurp... nikmat dengan kuah panasnya. Atau pada saat jeda, ingin menikmati secangkir kopi dengan aneka cemilan berbahan tepung, seperti roti atau jajanan pasar... yup, semua itu harus skip dari daftar menu makan. Ini utamanya jika kamu menjauhkan diri dari aneka penyakit metabolik. Atau yang sudah telanjur merasakannya dan masih berharap untuk sembuh. 

Jika niatnya sudah bulat untuk hidup lebih sehat, baiknya dikonsultasikan dengan dokter atau ahli gizi, ya. Atau jika berniat serius mengubah pola makan untuk menghindari penyakit atau mau sembuh dari aneka gangguan metabolik itu, silakan gabung di grup wa 



Sembuhkan Penyakit Metabolik ala BCR
 
Hipertensi adalah sinyal salah gizi
Kolestrol adalah sinyal salah gizi
Diabetes adalah sinyal keracunan gula.

Sudahkah kamu mendengarkan tubuhmu?

Itu pertanyaan yang disampaikan dr. Dhavid di grup Info BCR. Jauh-jauh hari yang lalu, dokDave juga mengatakan bahwa penyakit yang bukan disebabkan oleh virus, bakteri, kuman, dan parasit kemungkinan besarnya adalah psikosomatis yang bersumber dari persoalan emosi yang mempengaruhi pola makan dan gaya hidup.
 
Kalau kamu termasuk kalangan yang saat mengalami masalah dengan stagnasi emosi melarikan diri ke makanan, kamu berpotensi untuk mendekati penyakit-penyakit metabolik itu. Pengenalan melalui Body Communication Resonance (BCR) kita diajak untuk lebih berkesadaran, termasuk dalam memilih makanan yang tepat untuk tubuh kita.

Lebih lengkap soal tata laksana diet untuk menyembuhkan penyakit metabolik, aku bahas di tulisan berikutnya, ya. Lengkap dengan rekomendasi menu serta apa-apa yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi. Buat yang ingin tahu soal apa itu BCR, bisa hubungi aku lewat WA.

Olah Napas untuk Kesehatan Mental dan Hidup yang Berkesadaran

Bernapas merupakan sebuah aktivitas yang kita lakukan secara otomatis setiap saat. Saking biasanya sampai kita baru sadar betapa pentingnya urusan napas ketika aktivitas ini mengalami gangguan. Ketika oksigen terbatas, atau saluran napas kita yang mengalami gangguan. Betul, 'kan? Bahkan sekadar menyadari napas pun suatu hal penting di tengah rutinitas kita yang nyaris abai terhadap hal-hal yang ada di depan mata. Tak heran jika olah napas menjadi salah satu topik di masa kini, ketika orang ingin kembali menjalani hidup yang lebih sehat dan alamiah. 



Baca juga: Pulihkan Trauma dan Ciptakan Hidup Sehat Selaras dengan Terapi BCR

Saat ini begitu banyak kita lembaga pelatihan, kursus, dan buku-buku panduan yang "menjual" pelajaran tentang bernapas. Tak jadi soal, sih. Toh mereka memiliki kesadaran lebih dulu bahwa tema ini bisa jadi barang jualan. Baik yang sekadar mengambil materi copas, maupun memang mereka mengajar dan menulis berangkat dari pengalaman dan kemampuan yang sudah dikembangkan. 


Mengapa Perlu Menyadari Napas?

Napas, ya. Bukan nafas! Hehe ... ini kata saya yang adalah tukang sunting.

Aku diingatkan tentang "menyadari napas" ini jauh-jauh hari ketika mulai tertarik dengan dunia spiritualitas. Menyadari napas artinya berada dalam kesadaran di masa sekarang, masa kini, present. Namun, dalam perjalanannya, semua teori itu seolah terlupakan. Menuliskannya lagi di sini, selain mengajak kalian, yang lebih utama adalah mengingatkan ke diri sendiri, betapa bermanfaatnya melakukan olah napas ini. 

Suatu kali aku datang ke lokasi aku belajar BCR sekaligus rumah pengajar/mentornya, dr. Dhavid Avandijaya Wartono. Kuceritakan apa yang baru terjadi pada awal Januari lalu.

"Dok, saya baru melakukan hal yang selama ini tak pernah saya lakukan. Saya lepas kontrol karena kemarahan dan rasa sakit hati saya."

"Apa yang kamu lakukan?"

"Saya pukul pintu, pukul lantai, saya terisak kuat-kuat. Dada saya terasa mau meledak. Telapak tangan saya membiru."

"Kamu lupa dengan tools-mu?"

"Hah?"

"Bernapas itu salah satu tools-mu. Kenapa tidak kamu lakukan?"

"Nggak ingat, dok."

Itu terjadi. Jika diingat-ingat lagi, aku pun heran, bagaimana ceritanya aku bisa semeledak itu. 


Baca juga: Berdamai dengan Inner Child


Pada masa kuliah dulu aku pernah meledak. Bukan karena marah. Namun, lebih karena luapan emosi yang tak tertanggungkan. Sebetulnya mirip juga, sih. Tapi, ya, saat itu bukan marah. Lebih campur-campur antara sedih, malu, kecewa, marah, sakit hati, yang akhirnya membawaku berobat ke psikiater. Tapi itu dulu. Kenapa sekarang, setelah melewati proses panjang self-healing, masih terjadi ledakan itu? Tak bisa tidak, memang ada hal yang mesti kembali dibenahi. Berubah tak boleh tanggung-tanggung. Karena, jika tidak, ya akan kembali berkubang di hal yang sama. 

Eits, kok jadi ke mana-mana. Ini jadi gambaran saja, betapa hal yang menyulut emosi bisa terjadi kapan saja. Kita lupa sedikit saja, ya balik lagi.


So, baiklah. Mari kita kembali belajar bernapas.


Mengolah Napas

Belajar bernapas? Bukankah kita sudah otomatis bernapas sedari lahir, bahkan sebelum kita menyadari apa pun? Apa yang perlu dipelajari?

Semata bernapas dan mengolah napas tentu saja berbeda makna. Seperti halnya bergerak dan berolahraga. Ada tujuan tertentu dengan kita berupaya melakukan suatu hal secara konsisten. Seperti halnya olahraga, olah napas mengacu pada latihan yang dimaksudkan untuk meningkatkan fungsi mental, fisik, dan spiritual. 

“Tak peduli apa yang kamu makan, seberapa banyak kamu berolahraga, bagaimanapun bentuk tubuhmu, semua itu tak ada gunanya jika kamu tidak bernapas dengan benar.” Demikian kata jurnalis James Nestor dalam buku yang ditulisnya, Breath: The New Science of a Lost Art. 

Nestor mengkritisi betapa kita peduli dengan asupan makanan, minuman, bahkan berolah raga, tapi melupakan perihal napas yang otomatis--tanpa usaha ekstra--yang kita lakukan pada setiap saat. Demi bukunya tersebut, membuat riset mendalam perihal napas, baik dari pengalamannya sendiri maupun melalui eksperimen-eksperimen yang ia lakukan.

Dalam bukunya tersebutm Nestor menyampaikan teknik sederhana yang menjadi dasar olah napas, yakni:

5,5 detik tarik napas, lalu 5,5 detik kemudian embus. Proses pernapasan dilakukan melalui hidung, napas ditarik hingga ke perut hingga diafragma berkembang dan paru-paru dapat menyerapnya secara optimal.

Hal dasar ini bisa kita terapkan dalam keseharian. Latih hingga menjadi kebiasaan. 


Baca juga: Kamu Punya Perilaku Manipulatif? Kamu Butuh Trauma Healing


Ada banyak metode lain yang bisa dilakukan terkait mengolah napas ini. Seperti breathwork. Metode ini tidak mengacu ke satu nama sebagai pencetus. Ada sejumlah nama dengan kekhasannya masing-masing. Misalnya breathwork yang dikembangkan oleh Giten Tonkov. Metodenya bertujuan melepaskan trauma berlandaskan enam elemen utama, yakni napas, gerakan, emosi, sentuhan, suara/musik, dan meditasi. Atau Vivation Breathwork yang dikembangkan oleh Jim Leonard. metodenya adalah memadukan meditasi dengan teknik pernapasan circular breathing. Dr. Andrew Weil mengembangkan teknik pernapasan 4-7-8 untuk mengaktifkan sistem saraf parasimpatik, mengurangi stres, dan meningkatkan relaksasi. 

Teknik mana pun bisa dipilih. Namun, hal yang pentingnya adalah menyadari latihan kita, menjadikan diri kita sebagai pemimpin dalam mengolah pernapasan dalam tubuh secara sadar dan sistematis. 

Di ranah kesehatan mental, olah napas ini sangat membantu. Kita akan segera tahu seseorang sedang tenang atau stres dari cara ia bernapas. Saat mengalami stres, napas akan cenderung cepat dan pendek. Hal ini terjadi sebagai akibat dari otak yang memberikan signal ke tubuh bahwa ada ancaman. Atau ketika ingatan akan trauma yang mengembalikan ingatan kita kepada peristiwa-peristiwa tak menyenangkan yang kita alami di masa lalu. Respons tubuh lebih kurang sama. 

Dari andil napas yang tepat bagi kesehatan mental saja kita sudah bisa mengembangkan berbagai potensi yang kita miliki akibat sumbatan yang selama ini menghuni saluran-saluran kreasi kita.

Beberapa manfaatnya, seperti:

  • Membantu kita berada dalam kondisi present dan berkesadaran
  • Meningkatkan kemampuan receiving
  • Membuka daya kreativitas
  • Meningkatkan rasa percaya diri dan self-love
  • Membantu mengembangkan relasi yang positif 
  • Membawa keceriaan dalam sikap keseharian 
  • Membantu memutus adiksi atau ketagihan
  • dan masih banyak lagi.

Baca juga: Mengenal Sabotase Diri dan Mekanisme Koping


Yuk, kita mulai kembali latih napas kita untuk hidup yang lebih berkesadaran, sehat mental, memetik hal-hal positif dari kehidupan, dan mengembangkan kreativitas demi diri sendiri dan semua makhluk. 

Untuk yang berminat belajar BCR demi hidup yang lebih berkesadaran, sehat mental dan spiritual, serta meningkatkan posibilitas diri, mari bergabung dalam kelas BCR. Hubungi aku lewat WA, ya. Kelas terdekat di Semarang.



Creation for Possibilities, Kelas untuk Pegiat Komunitas dari BCR

Sebanyak 24 orang mengikuti kelas Creation for Possibilities (CFP) dari Body Communication Resonance (BCR). Mereka datang dari beberapa kota dan bersama-sama mempelajari metode BCR pada Minggu (13/4/2025) bertempat di Klinik Utama Lineation, Jalan Lemahnendeut No.10, Kota Bandung.

Sebagai informasi, CFP merupakan bagian dari program CSR-nya BCR, berupa kesempatan belajar. Program ini bertujuan ikut memberikan kontribusi dalam menciptakan mental yang sehat dan memberdayakan komunitas. Syaratnya, apa yang sudah dipelajari di kelas tidak untuk dikomersialkan, melainkan murni untuk pelayanan. 

Baca juga: Pulihkan TRauma dan Ciptakan Hidup Selaras dengan BCR

Founder BCR, dr. Dhavid Avandijaya Wartono mengatakan bahwa penyelenggaraan CFP akan dilakukan minimal dua kali dalam setahun. CFP bulan lalu merupakan kali pertama sejak BCR diluncurkan pada Desember 2024.

"Program CFP ini merupakan bagian dari kepedulian kami terhadap kesehatan masyarakat secara umum. Kami berkomitmen untuk memberikan andil melalui modalitas yang kami miliki yakni BCR, dengan memberikan pelatihan pengetahuan dan keterampilan head therapy. Pelatihan dilakukan satu hari, teori dan praktik," ungkap dr. Dhavid.

BCR dirancang untuk dapat membantu kita membuat pilihan secara sadar. Dengan kesadaran itu kita menciptakan sebuah pilihan untuk membuat posibilities baru seperti delete luka batin agar kemampuan self healing kembali pulih, delete trauma agar tubuh kembali harmoni, dan lain-lain. Dengan menggunakan metode BCR ini diharapkan peserta CFP dapat memberikan layanan sesi gratis bagi yang membutuhkan, dalam komunitas mana pun mereka berkarya. 

"Melalui para peserta CFP ini kami berharap makin banyak orang yang dibantu dipulihkan. Karena healing adalah hak semua manusia," pungkas dr. Dhave.


Pengalaman Pasca Mengikuti Kelas CFP

Ada pengalaman-pengalaman unik yang dibagikan oleh peserta kelas. Semuanya mengakui adanya sensasi yang positif dari pengenalan metode BCR khusus di bagian kepala ini. Baik dari materi tertulis maupun praktik. 

Peserta dari Kuningan, Ida mengaku bersyukur sekali dapat mengikuti kelas CFP. 

"Alhamdulillah dengan mengikuti kelas ini saya bisa menambah pengetahuan akan diri sendiri dan tahu bagaimana cara melepaskan beban emosi negatif. Dan senangnya juga bisa membantu orang tersayang untuk rileks dan nyaman," ungkap Ida melalui pesan pendek yang disampaikan ke tim redaksi.

Ida pernah dalam perawatan psikiater karena gangguan mental yang dideritanya. Ia tidak menyerah, terus berusaha untuk bangkit. 

"Saya beruntung bisa dipertemukan dengan dokter Dhavid dan teman-teman di komunitas BCR. Saya bisa belajar untuk memulihkan diri sendiri dan mempraktikkannya untuk orang yang membutuhkan," tambahnya.

Di antara waktunya sebagai ibu dari dua anak dan menjadi pedagang jajanan, Ida akan memenuhi permintaan dokter Dhavid sebagai fasilitator untuk memberikan sesi secara cuma-cuma paling tidak untuk 30 orang. Ia berencana berbagi sesi buat orang-orang dekatnya dan lingkungan Sekolah Luar Biasa di Kuningan, tempat kerja suaminya.  

Baca juga: Trauma Bonding, Luka yang Sering Disangka Cinta

Hal senada disampaikan Yoss Dome. Peserta yang langsung datang dari Yogya ini mengatakan bahwa sebelumnya hanya mengenal cakra dari bacaan saja. Melalui kelas CFP, ia jadi lebih paham tentang cakra dan cara memperlakukannya. Bukan hanya mendapatkan pengetahuan baru, Yoss juga merasa bersyukur karena dipertemukan dengan orang-orang baik. Kini ia merasa lebih ikhlas menjalani hidup dengan persoalan kesehatan yang dialaminya dan melihat segala sesuatunya dengan lebih positif.

Bang Yoss atau Mas Yoss, begitu ia biasa dipanggil, mengabdikan dirinya pada berbagai aktivitas sosial dan kemanusiaan. Di antaranya sebagai relawan gempa dan tsunami, ikut membangun dan menjadi konsultan Dome House Building, sebagai relawan lembaga perlindungan saksi dan korban, dan masih banyak lainnya. Wilayah garapannya bukan hanya di Indonesia, bahkan hingga di Vanuatu, Pasifik Selatan dan Haiti, ketika dua kawasan ini diguncang gempa besar. 

Saat didiagnosis mengalami gagal ginjal dan harus melakukan hemodialisis atau cuci darah, ada banyak hal yang berubah dalam kehidupan Yoss. Ia harus beradaptasi, baik dengan tubuhnya sendiri maupun aktivitas di luar dirinya. Seorang Yoss yang sangat aktif, tiba-tiba harus menjalani pengobatan intensif yang cukup banyak mengambil jatah waktunya dan menahan tubuhnya terlalu banyak beraktivitas. Bukan hal mudah bagi Yoss untuk melakoninya. 

Proses dialisis sudah memasuki tahun kedua. Yoss sudah bisa beradaptasi dengan lebih baik. Pengenalannya akan BCR memberinya suntikan semangat baru untuk terus bergerak ke arah kebaikan. Setelah bergabung dalam kelas CFP, ia berkomitmen untuk membagikan pengetahuan dan keterampilang barunya. Saat ini Yoss terlibat dalam layanan pencegahan dan pendampingan terhadap korban kekerasan terhadap anak dan perempuan, serta pendampingan terhadap saksi atau korban dari sebuah tindak pidana.

Baca juga: Kamu Punya Perilaku Manipulatif? Kamu Butuh Trauma Healing

Bukan hanya peserta baru, kelas CFP juga memberikan pengalaman yang menarik dan seru bagi praktisi asal Semarang, Samuel Adi Nugroho. Lelaki yang akrab disapa Sem ini telah mempelajari cukup banyak modalitas, termasuk ikut kelas BCR Head and Body pada Februari lalu. Namun, bergabung kembali dengan kelas BCR khusus Head untuk program CFP ini ia mengalami sensasi-sensasi baru.

"Waktu kelas sebelumnya itu kan belum ada experience sama sekali. Nah, untuk kelas kemarin lebih banyak hal yang bisa digali dari materi maupun praktik bersama pasangan," ujar Sem.  

Setelah melakukan pembelajaraan di kelas BCR maupun sebagai peserta partisipan di CFP, Sem menyadari ada beberapa perubahan yang terjadi. Hal-hal yang tidak relevan, baik soal keseharian maupun energy works dari modalitas yang ia pelajari sebelumnya ikut terlepas. Sem juga mendapati pengalaman baru, yang belum pernah ia alami sebagai praktisi saat memberikan sesi kepada klien.

"Pernah terjadi, saat memberikan sesi mendadak mata berkunang-kunang. Pernah juga mengalami haus yang luar biasa. Padahal sesi berlangsung belum sampai satu jam," tuturnya.

Saat itu Sem menghentikan sesi. Pengalaman itu memberinya tantangan untuk terus mendalami BCR untuk menemukan kondisi yang lebih selaras. Bukan hanya ke diri sendiri, hal-hal menarik juga dijumpai Sem dalam pengalaman sesi BCR-nya dengan klien. Terjadi perubahan pola perilaku dalam diri klien, di antaranya soal makanan. Menurut pengakuan klien, apa yang sebelumnya mereka sangat suka, setelah menerima sesi BCR mereka menemui sensasi berbeda. Makanan menjadi tidak enak. Menurut Sem, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kecerdasan tubuh mengikuti kesadaran yang bertumbuh.

Dengan pengalaman-pengalaman menarik--meski baru dalam beberapa bulan terakhir, Sem mengakui bahwa pembelajarannya akan BCR telah membawa perubahan yang luar biasa. Ia pun meyakini hal serupa akan dialami pembelajar lainnya, mengalami posibilitas yang tanpa batas.   

Bagi yang terpanggil untuk bergabung dalam Kelas BCR, kelas terdekat dilangsungkan di Semarang. Sila hubungi WA Dhenok Hastuti, ya.