Jangan Pelihara Kucing, Kerja Sama Perdana dengan Penerbit Epigraf

Jangan Pelihara Kucing. Hal pertama yang mendapat sorotan adalah judul di kover buku. Ada yang tanya penasaran, ada yang langsung ngamuk, tapi ada pula yang kalem, karena dengan jeli membaca lanjutan dari si judul, yakni 'jika tak mampu berkomitmen'. Aku sudah merencanakan proses pengumpulan naskah, produksi, dan pemasaran sejak jauh-jauh hari, namun tak kunjung menemukan judul yang pas. Untungnya, editor Penerbit Epigraf, dengan kejahilannya, menyumbangkan judul yang akhirnya memang eye-catchy sekali.



Baca juga: Sequoia, Catatan Harian Seorang Lelaki untuk Anaknya

Ya, akhirnya buku antologi itu lahir. Antologi kisah kucing dari para cat pawrents. Rencana membuat kumpulan kisah ini sesungguhnya sudah jauh-jauh hari. Tapi, adaaa saja yang jadi penghambat. Ya, barangkali memang momentumnya tepat di tahun ini. Termasuk setelah secara 'kebetulan' berjumpa dengan pemilik Penerbit Epigraf, yang tak pelit berbagi ilmu soal seluk-beluk penerbitan. 

Sebelumnya, aku sudah pernah menerbitkan buku soal kucing. Buku bertajuk Dongengan Naga proses naskah kukerjakan sendiri. Bahkan aku menggambar sendiri untuk sejumlah ilustrasi dalam buku. Selebihnya, hal yang teknis kuserahkan kepada kawan yang sebetulnya adalah seorang layouter atau penata letak. Sama sekali kuserahkan, tanpa ada obrolan detail. Komunikasi juga sekadarnya. Banyak bolong. Bahkan sempat ada kesalahan yang mengharuskan bongkar ulang buku yang sudah jadi. Semata karena kekurangtelitian kami. Aku punya andil besar dalam kesalahan tersebut. Nah, seandainya ada peran penerbit, tentu kesalahan serupa tak perlu terjadi. Kalaupun terjadi, dapat dipastikan sang penerbit yang ambil risiko sebagai bagian dari tanggung jawab.


Ragam penerbitan

Sebelum berbagi cerita soal buku antologi dan proses penerbitannya, baiklah, kuingatkan kembali soal penerbitan. Karena, ternyata, sampai dengan hari ini, masih banyak yang belum kenal betul soal penerbitan. Bahkan ada yang menganggap penerbitan sama dengan percetakan.

Penerbit merupakan sebuah badan usaha yang menjalankan kegiatan intelektual dan profesional dalam menyiapkan naskah, mulai dari pengolahan ide hingga hal teknis seperti penyuntingan naskah, pemilihan desain sampul, hingga naskah siap terbit. Bahkan dilengkapi dengan pemasarannya. Standar umum, penerbit memiliki beberapa kru editorial, berupa penyunting, penata letak, pembuat desain dan ilustrasi, serta pemeriksa aksara. Hal yang dianggap penting dan utama dari biro penerbitan adalah membantu penulis dalam menyiapkan dan mengembangkan ide, hingga menjadi sebuah naskah yang layak untuk dikonsumsi para pembacanya. 

Baca juga: Gong Smash! dan Safari Literasi

Sejauh ini, ada empat jenis penerbit, yakni penerbit mayor, penerbit indie, vanity publisher, dan self publisher. 

1. Penerbit Mayor

Penerbit memiliki jangkauan yang luas, baik secara kelembagaan maupun jangkauan pemasaran. Penerbit mayor biasanya melakukan seleksi ketat terhadap naskah yang akan diterbitkan, terutama terkait dengan nilai jual nakah dan orisinalitas ide tulisan. 

2. Penerbit Indie

Meski melakukan proses seleksi naskah seperti halnya yang dilakukan penerbit mayor, namun penerbit indie memiliki aturan yang lebih longgar dibandingkan penerbit mayor. Jumlah yang diterbitkan pun biasanya sedikit dengan sistem pemasaran yang lebih sempit. 

3. Vanity Publisher

Vanity publisher menyerupai penerbit indie. Bedanya terletak pada fasilitas yang ditawarkan. Penerbit ini biasanya  menawarkan paket penerbitan. Penulis yang baru memiliki naskah mentah pun dapat membuat terbitan dengan bantuan vanity publisher ini. Sekilas tak jauh berbeda dengan self publishing. Bedanya, self publishing tidak membutuhkan tenaga profesional dalam pengerjaannya.

4. Self Publisher

Dalam penerbitan self publishing semua proses naskah dilakukan secara mandiri. Sejumlah proses standar dalam penerbitan tak ditemukan, langsung berujung pada pencetakan naskah. 


Berkenalan dengan Epigraf

Perkenalanku dengan Penerbit Epigraf saat mendapat kiriman buku dari kawan. Buku Gol A Gong: Gong Smash! yang diterbitkan oleh Epigraf. Meski terbilang dekat dengan dunia penulisan, aku awam dalam urusan penerbitan. Ngobrol singkat dengan sang CEO, Daniel Mahendra di markas Epigraf, Jl. Sukabumi 28D, Bandung, cukup memberikan letupan untuk aku merealisasikan rencana menerbitkan buku antologi.

Tapi yaaa, demikianlah, kembali banyak tertunda, hingga akhirnya bisa betul-betul terealisasi 10 bulan sejak obrolan tersebut berlangsung. 

Penerbit Epigraf ini masuk kategori vanity publiser. Ia menyediakan jasa yang meliputi: editing, tata letak, desain kover, pengajuan ISBN, cetak, hingga penjualan. Penulis bisa memilih layanan yang diperlukan. Apakah cukup sampai dengan pencetakan, atau hingga penjualan. Yang digarisbawahi oleh pihak Epigraf adalah komunikasi yang terjaga. Penulis dapat berdiskusi dengan penerbit, apa pun terkait detail buku. Sehingga diharapkan penulis betul-betul puas dengan hasilnya saat bukunya siap terbit.

Prosesnya tak lama. Karena, kebetulan, pengalamanku kemarin adalah sistem Print On Demand (POD) yang dari sisi pengerjaan lebih sederhana dibandingkan cetak offset. Terhitung 1,5 bulan saja, dari naskah masuk ke penerbit hingga buku siap dipasarkan. Untuk cetak offset butuh waktu lebih lama, bergantung pada jumlah yang dipesan.

Yang penasaran, bisa cek-cek di website Penerbit Epigraf. Bisa juga kok lewat Ibu Meong 


Jangan Pelihara Kucing, sebuah antologi kisah kucing

Belakangan hari, semakin banyak orang yang menyukai kucing. Binatang manja berbulu ini pun jadi pilihan sebagai bagian keluarga. Pet shop pun saat ini dapat dengan mudah kita temukan di berbagai penjuru wilayah. Menjamur di mana-mana. Tanpa menafikan cat pawrents yang sepenuh tanggung jawab mengurus anak-anak bulunya, kita tak bisa menutup mata, dengan makin banyaknya orang yang berkeinginan memelihara kucing, makin banyak pula kucing-kucing buangan. Menemukan kucing-kucing ras berkeliaran di jalanan, saat ini bukan hal yang terlalu aneh.


Buku ini tak berpretensi menggurui. Semata berbagi cerita, ada sekian tanggung jawab yang diemban para cat pawrents agar anak-anak bulunya sehat dan sejahtera. Diceritakan oleh 21 mamak-bapak kocheng. 22 orang jika aku dihitung 😊

Ada 21 judul yang masing-masing menggambarkan pengalaman merawat kucing, baik kucing sendiri maupun kucing-kucing liar. Tak ada yang mudah. Semuanya membutuhkan kesungguhan dan komitmen. Yang di dalamnya ada komponen tenaga, biaya, dan tentu saja perhatian dan kasih sayang yang tak bisa diberikan sambil lalu. Komitmen tersebut termasuk jika harus berhadapan dengan lingkungan sekitar, baik dengan keluarga besar, tetangga, dan pihak lain yang bisa jadi tak menyukai keberadaan kucing. Berkomitmen peduli terhadap kucing bukan lantas mengabaikan kenyamanan orang lain. Adalah tugas kita juga untuk tetap menjaga harmoni. 

Buku Jangan Pelihara Kucing (Jika Tak Sanggup Berkomitmen) masih bisa dibelanja ya. Sila kontak Ibu Meong atau belanja melalui Tokopedia RumahRonin dan Shopee NagaChan. Atau hubungi lewat WA Ibu Meong.

Baca juga: Alaya, Kisah tentang Mimpi yang Mewujud, Takdir, dan Cinta

Soal serba-serba menjadi penyelia, akan kubagikan di kesempatan yang lain. Sebagai sebuah pengalaman perdana menerbitkan buku, seru! Terima kasih, kawan-kawan penulis. Terima kasih, Epigraf. Terima kasih, untuk semua yang sudah terlibat dan menyediakan diri untuk menjadi pembaca. 

8 comments

  1. Sebagai bucing alias budak kucing, aku tertariikkk bgt

    Pasti menariikk yah baca insight daru sesama pawrents.
    Keren maksimaalll

    ReplyDelete
  2. Punya kucing sama kayak punya anak. Kalau cuma senang pas dia lagi lucu-lucunya doang, mending jangan pelihara kucing. Beneran. Pengalaman banget lihat tetanggaku. Ya ampuuuun, kucingnya banyak tapi gak dipelihara dengan baik. Jatuhnya malah jadi penganggu rumah-rumah tetangga lain. Nebar kotoran di mana-mana. Gak nyaman makan di luar rumah atau halaman karena kucing-kucingnya kayak sekumpulan siswa ngajak tawuran. Banyakkkk yg nyerbu.

    Bagus nih bukunya buat bacaan mba. Terima kasih sudah merekomendasikannya.

    ReplyDelete
  3. Punya kucing sama kayak punya anak. Kalau cuma senang pas dia lagi lucu-lucunya doang, mending jangan pelihara kucing. Beneran. Pengalaman banget lihat tetanggaku. Ya ampuuuun, kucingnya banyak tapi gak dipelihara dengan baik. Jatuhnya malah jadi penganggu rumah-rumah tetangga lain. Nebar kotoran di mana-mana. Gak nyaman makan di luar rumah atau halaman karena kucing-kucingnya kayak sekumpulan siswa ngajak tawuran. Banyakkkk yg nyerbu.

    Bagus nih bukunya buat bacaan mba. Terima kasih sudah merekomendasikannya.

    ReplyDelete
  4. selamat ya atas penerbitan bukunya ya
    Semoga semakin banyak b uku tentang kucing yang mengedukasi
    yang berasal dari pengalaman pribadi
    Karena di hunian saya sekarang banyak banget kucing dan nampaknya si pemilik asal memelihara aja

    ReplyDelete
  5. Aku belum sempat baca bukunya. Duh, lagi ngantri yang pesan review (cie sombong). Alasan utama ku memilih buku ini untuk dibaca adalah topik yang unik, khas dan tentu saja karena diriku juga adalah pawrents 3 ekor pasukan bulu (Bella, Momo dan Monty). Penasaran aja bagaimana para pecinta kucing mengurai cerita tentang kesayangan mereka dan menyampaikan banyak edukasi positif tentang pemeliharaan kucing.

    ReplyDelete
  6. Ikut berbajagia atas buku antologinya, kak..
    Rasanya menjadi Ibu bulu tidaklah mudah yaa.. Dan bener banget, di sekitar rumahku banyak kucing ras berkeliaran. Gak tau dibuang taua lepas yaa..?
    Tapi mereka mudah takut, sehingga gak bisa dipegang dan hanya bisa bantu kasih makan setiap hari.

    ReplyDelete
  7. Kalo gak sanggup, baiknya memang gak pelihara kucing yaa. Punya kucing itu sama seperti punya anak, butuh komitmen bukan hanya mengurusnya, tetapi juga memberi kasih sayang

    ReplyDelete
  8. wah ... udah menciptakan buku antalog ya .... setelah baca review ini memang harus komitmen bila pelihara kucing harus memberikan kasih sayang dan memberikan perawatan buat kucing yang kita pelihara

    ReplyDelete