Epitaph, Sebuah Novel untuk Kisah yang Tak Terwartakan

Belakangan hari aku mulai mengumpulkan lagi karya fiksi yang berangkat dari temuan lapangan para jurnalis. Dulu, aku hanya mengoleksi tulisan Seno Gumira Ajidarman. Menyusul kemudian ada Linda Christanty, Yusi Pareanom, dan Leila Chudori. Lalu kudapati novel ini. Meski penulis, Daniel Mahendra (DM) pernah bekerja di media, tapi kisah yang dituliskannya ini bukanlah hasil temuan lapangan dalam kaitannya dengan tugas. Novel ini adalah kisah nyata yang dialami keluarganya, namun ada irisannya. Irisan itu adalah peristiwa nyata tapi tanpa liputan media karena alasan tertentu. Maka demikianlah, Epitaph menjadi sebuah novel untuk kisah yang tak terwartakan. 



Baca juga: Pseudonim, Kisah Pertarungan Idealisme Dunia Penulisan

Hal konyol yang kulakukan saat mendapati judul novel ini adalah mencari tahu arti Epitaph. Sedari awal mengenal istilah ini sebagai judul lagu dari King Crimson, aku tak terpikir untuk mencari artinya. Setelah cek-cek novel DM yang lainnya, tampaknya memilih istilah yang tak biasa menjadi semacam trademark-nya penulis ini. Tahu novel ini sendiri baru November 2021, dan tak sengaja menemukannya pada beberapa bulan lalu. 


Kisah Percintaan Laras dan Haikal

Novel ini memaparkan kisah hubungan cinta dua anak manusia, Laras dan Haikal. Laras adalah seorang mahasiswi IKJ yang penuh semangat, unik, dan mandiri. Sedangkan Haikal ambil kuliah bidang jurnalistik, senang menulis dan suka bertualang. Kisah percintaan mereka diceritakan dengan mengalir. Tampak menyenangkan, kadang lucu, sesekali hangat. Hubungan mereka pun mendapat dukungan orang tua Laras. Segala sesuatunya berjalan dengan baik. Namun, takdir berkata lain. 

Bersama dua sahabatnya, Birhi dan Tedi, Laras terlibat dalam pengambilan gambar untuk film dokumenter yang berlokasi di Pegunungan Sibayak, Medan, pada Agustus 1994. Perjalanan yang dirancang bakal penuh tantangan dan proses menyenangkan itu ternyata  berbuntut peristiwa tragis. Heli yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan. Kandas di wilayah antah berantah di pegunungan Sumatera Utara tersebut. Tak terlacak, tak tertemukan. 

Baca juga: Menerbitkan Buku Antologi secara Mandiri

Kabar yang harusnya diwartakan oleh media massa itu nyaris tak terdengar bunyinya. Apa pasal? Karena helikopter yang mereka tumpangi adalah milik Angkatan Darat. Muncul dalam pemberitaan, namun tak dijelaskan adanya warga sipil yang ikut menjadi korban. Terlebih fakta bahwa warga sipil tersebut menyewa perangkat militer, yang sebetulnya tak ada ada izinnya. 

Pada April 1996, dua tahun setelah peristiwa naas tersebut, puing heli beserta kerangka para korban ditemukan. Seperti halnya yang terjadi sebelumnya, angkatan darat hanya mengabarkan ditemukannya kerangka dua korban yang adalah awak heli. Tak disinggung sama sekali perihal kerangka warga sipil. Bahkan pihak keluarga hanya dibolehkan mengambil kerangka asal memenuhi persyaratan yang ditetapkan, yakni, tak boleh diketahui media massa, tak ada seremoni, dan hanya boleh dikemas dalam peti; harus dibawa menggunakan tas yang bisa masuk kabin. 


Gaya Penulisan

Kisah Epitaph dibuka dengan percakapan Langi dan Haikal. Langi, sang penulis, didatangi kawan lamanya itu dengan segepok naskah. Awalnya Langi ogah-ogahan, karena yang terlintas hanya kisah cinta sekadarnya. “Hanya jalan ceritanya saja yang dibeda-bedakan. Bumbunya disedap-sedapkan. Dan lika-likunya seolah dibuat elok nyaman.” Begitu ujar Langi yang selain menulis juga sebagai editor di beberapa penerbitan. Tapi begitu mulai membuka lembaran naskah tersebut, Langi malah terlarut dalam tuturan kisah yang dibawa Haikal. Maka, ia pun mulai menulis.

Baca juga: Lima Cerita, Saat Seorang Desi Anwar Berkisah

Ada bingkai dalam novel ini. Bingkai pertama, kisah yang dituturkan penulis. Saat menjadi pencerita, penulis menjadi orang pertama. Dalam bingkai lainnya, Laras dan Haikal menjadi pencerita pertama pula. Saat awal Laras bercerita, aku terbawa suasana yang dibagikannya. Detail kisah yang bertutur tampaknya menjadi salah satu yang khas dari DM. Seolah mendengarkan cerita langsung. Namun ada cukup banyak bagian yang membuatku merasa ganjil. Terutama saat Laras mulai menceritakan berbagai peristiwa yang terjadi pasca kematiannya.

Kebingungan itu terjadi saat iseng membuka halaman secara acak. Ada adegan Laras mendatangi mamanya yang masih dirundung sedih. Pada halaman lain kutemukan cerpen tulisan Haikal, yang sebelumnya sudah kubaca dari buku kumpulan cerpen karya DM. Buat yang mau baca, saranku, membacanya runut saja dari depan. Nggak usah iseng mencoba memulainya dari tengah. Dan, ya, nikmati saja upaya penulis untuk menjadikan novelnya ini tak biasa.

Tapi terlepas dari kebingunganku, aku masih bisa menikmati cara DM merawi kisah tentang kematian kakaknya itu. Kubayangkan cukup berat buat ia menuliskannya, sehingga butuh waktu tak sebentar. Itu dugaanku saja, sih, melihat dari saat terjadinya peristiwa, 1996 hingga terbitnya novel tersebut pada 2009. 

Baca juga: Alaya, Kisah tentang Mimpi yang Mewujud, Takdir, dan Cinta


Di penghujung, dua buah pertanyaan: 

  1. mengapa banyak kesalahan ejaan, Mas DM?  
  2. kapan bagian lain dari trilogi yang direncanakan, Epigraf dan Epilog, terbit?


Judul: Epitaph

Penulis: Daniel Mahendra

Penerbit: Kaki Langit, Cetakan 1, 2009

Tebal: 366 halaman 


No comments