Mukti-Mukti, Pemusik Balada Bandung Berpulang

Mukti-Mukti. Aku tahu namanya dan karya musiknya ketika seorang kawan mengajak datang ke konsernya di Pusat Kebudayaan Prancis/CCF (sekarang IIF) pada Oktober 1995. Perkenalanku secara pribadi dengannya bukan dari musik, bukan pula dari kegiatan yang jauh-jauh hari menghidupi dirinya-aktivis pertanian dan pertanahan, melainkan karena kedekatan kami dengan sebuah nama yang berpulang pada 1999 lalu. Dan, Mukti, telah menyusul si kawan, pada pekan lalu (15 Agustus 2022)


Baca juga: Berdamai dengan Inner Child

Nama lengkapnya Hidayat Mukti. Orang lebih mengenalnya dengan sebutan Mukti-Mukti. Pemusik balada Bandung yang berpulang pekan lalu, setelah penanganan medis berulangkali sejak beberapa tahun terakhir. Pada 3-5 Oktober 2021, ia jatuh dalan kondisi parah, yang menggerakkan rekan-rekan seniman dan musisi Bandung untuk menggelar "Konser Gotong Royong Baladna Mukti-Mukti" sebagai ungkapan doa bersama dan pengumpulan dana.

Sebelum rutin membuat konser pada tiap tahun, Mukti banyak bergiat di dunia pergerakan. Sedari namanya tercatat sebagai mahasiswa Sastra Prancis di Fakultas Sastra UNPAD, ia telah bergabung dengan mahasiswa-mahasiswa lain yang memiliki kepedulian terhadap isu-isu kerakyatan. Ia terjun dan terlibat langsung dalam pengorganisasian dan advokasi masyarakat. Ia yang telah menjadi saksi atas berbagai peristiwa sosial-politik-budaya, terutama kala rezim orde baru berkuasa tersebut lantas banyak menyuarakan sikapnya melalui lirik. Kemudian, Mukti-Mukti pun dikenal sebagai musisi balada dan perjuangan. 

Rekaman dan Konser

Lirik-lirik lagu dan puisi, baik miliknya sendiri maupun karya kawan-kawannya, dilagukan dengan gaya balada ala Mukti-Mukti itu direkam dalam bentuk kaset. Pada era analog, kaset tersebut beredar di antara lingkaran pertemanan, direkam secara manual, dan terus bergeser-bergerak. Hingga suatu kali Mukti mendapati rekaman lagunya dalam kaset yang sudah sama sekali berbeda dari kualitas awal yang dibuatnya. Sudah banyak noise. Dari situ, Mukti mulai berpikir untuk merekam dengan kualitas lebih baik dalam jumlah lebih banyak. Selain itu juga mulai muncul ide membuat konser yang lantas dinamai 'Konser Cinta Mukti-Mukti'.

Baca juga: Mengapa Ngeblog

Seperti halnya musik balada, musik Mukti-Mukti kental dengan petikan gitar, ditambah dengan harmonisasi alat musik akustik lainnya. Selain kekhasan pada liriknya soal perjuangan dan pemberontakan, tentu saja. Tak ayal lagi, para aktivis yang gemar menulis puisi menjadi 'langganan' Mukti untuk karyanya dilagukan. 

Ketika karya-karyanya kemudian diusung ke atas pentas dengan nama 'konser cinta' tak berarti lagu yang dibawakan melulu tentang cinta. Meski, diakui oleh para sahabat, lirik Mukti tak segarang saat masa penuh pemberontakan, namun nuansa perjuangannya masih terasa. Dan ungkapan cinta yang dimaksud adalah cinta secara universal. 

Buku Biografi yang Batal

Tahun lalu, kusampaikan ke Mukti, keinginan untuk menuliskan kisahnya dalam buku biografi. Ia menyetujui, sesungguhnya. Dengan gaya bicaranya yang khas, "Udah ada empat orang yang pernah ngajuin itu, tapi ditolak sama saya. Sok atuh sama kamu."

Saat itu, pagi hari aku menemuinya di rumahnya di kawasan Margacinta, Bandung. Dalam dua tahun terakhir, sejak kepindahannya dari kawasan Kiaracondong, ia sering berkirim pesan untuk berkunjung ke rumah, mengajak ikut workshop Teh Dian, istrinya, atau sekadar mengajak sarapan bersama. Begitu pun hari itu, dia menyuguhiku lontong kari langganannya, yang dianggapnya paling enak dari lontong kari mana pun yang pernah ia coba. Memang, urusan makanan, Mukti ini paling tahu-lah.

Baca juga: Doodle sebagai Sarana Melatih Imajinasi 

Tak lama dari perjumpaan itu, ia mendapat serangan. Gula darah melonjak drastis. Yang memaksanya untuk beristirahat beberapa hari di Rumah Sakit Borromeus. Sejak itu, kondisinya tak baik. Pemeriksaan rutin hingga opname. Akhirnya aku pun mengubur keinginan membuat buku biografi. Membayangkan sulit mencari waktu yang tepat untuk mengumpulkan data dan informasi terutama yang langsung dari dia sebagai sumber utama. Demikianlah, hingga akhirnya ia menyerah dengan sakit yang dideritanya. 

Baiklah, Mang Mukti. Biar aku, kami, mengenangmu lewat karya-karyamu dan aneka perjumpaan selama ini. Selamat berpulang, wilujeng angkat, Mukti-Mukti. Pileuleuyan.


Kunjungi blog Dian Restu buat yang menyukai konten kesehatan, finansial, lifestyle.

No comments