Empati dan Seni Berkomunikasi

"Bagaimana perasaan Anda?" tanya seorang reporter televisi kepada salah seorang korban peristiwa kebakaran. Rumahnya nyaris ludes dilahap si jago merah, salah seorang anaknya tak terselamatkan sedangkan seorang lainnya masih dalam penanganan medis, lalu disodori pertanyaan: bagaimana perasaan Anda? Pertama, itu menunjukkan kemampuan yang tidak memadai sebagai reporter; kedua, menunjukkan daya empati sang reporter yang minim. Tapi itu sekadar contoh, kok. Bukan di Indonesia, melainkan di Negeri Wakanda 😁 



Baca juga: Apa Bedanya Empath dengan Orang Super Sensitif?

Secara sederhana, empati dapat dimaknai sebagai kemampuan untuk memahami orang lain dengan cara menempatkan diri sebagai orang tersebut. Aku ingat dalam sebuah pelatihan radio, instruktur memberikan contoh yang sangat sederhana. 

"Empati itu adalah ketika kamu yang monyet sedang mengalami sakit, lalu temanmu yang harimau mengunjungimu dengan membawakan pisang. Bukan membawakan daging, bahan utama makanannya." Si instruktur seperti yang puas sekali menyebut istilah monyet untuk kami. 


Pengalaman dan Pengetahuan yang Menjadi Dasar dalam Komunikasi

Sebuah cerita yang lain ...

Seorang kawan muda suatu kali berujar dengan gusar, ”Mestinya dia nggak gitu, dong! Mestinya dia tahu kalau yang kayak gitu, tuh, nggak pantes.” Dia bicara panjang lebar mengungkapkan kekesalannya terhadap sikap teman yang sudah 9 tahun tidak dijumpainya. Rasa gusar itu muncul setelah sang teman lama, dengan tanpa ba-bi-bu langsung mengacak rambutnya ketika pertama kali bertemu. 

Kebetulan kejadian itu persis di depanku. Kawanku ini langsung marah dan teman lamanya pun langsung beranjak pergi tanpa mereka sempat berbagi cerita. 

Dalam keseharian kita, tak jarang kita mendengar kata "mestinya" atau "harusnya". Kata itu muncul karena ada anggapan tentang yang semestinya dan yang seharusnya. Sebetulnya kata-kata tersebut akan tepat jika digunakan dalam hubungan institusional atau organisasional yang memiliki ketentuan yang disepakati bersama untuk kemudian diterima sebagai aturan yang mengikat. Berbeda halnya jika kata tersebut tercetus dalam sebuah hubungan personal. 

Baca juga: Doodle sebagai Sarana Melatih Imajinasi

Dalam komunikasi ada istilah Field of Experience dan Frame of Reference. Pada dasarnya sikap seseorang dipengaruhi oleh dua hal tersebut. Jika tidak diawali oleh kesadaran dari tiap pelaku komunikasi bahwa setiap orang berbeda, yang muncul kemudian adalah kesalahpahaman. Salah satu atau masing-masing pihak menganggap dirinyalah yang paling benar dan menghamikimi orang lain yang salah. Kalau sudah begini, komunikasi akan mandeg. Lebih buruk lagi, masing-masing pihak menyimpan kesan tidak baik terhadap rekan komunikasinya. Ketika itu sudah terjadi, maka bentuk komunikasi apapun tidak lagi bisa efektif, kecuali harus memulai dari nol kembali. Maka tansfer informasi pun tidak berlangsung. Inilah yang disebut kegagalan dalam komunikasi.

Bicara tentang Field of Experience dan Frame of Reference, tentu saja mustahil mendapati dua orang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang sama persis.  Artinya cara orang menafsirkan sebuah pesan pun tidak akan pernah persis sama. Di sinilah dibutuhkan empati. Empati merupakan salah satu hukum yang wajib dipatuhi untuk membangun komunikasi yang efektif. Maka ketika seseorang dengan sepenuh kesadaran melakukan kegiatan bernama komunikasi, ia harus menempatkan diri sebagai orang yang mau berempati. 

Pada kasus kawan mudaku tadi, bisa jadi masing-masing tidak lagi saling mengenal satu sama lain. Dalam kurun waktu 9 tahun ada pengalaman dan pengetahuan baru yang membuat masing-masing memiliki cara pandang dan penyikapan yang berbeda. Kalau saja masing-masing pihak sadar akan kebutuhan berkomunikasi setelah 9 tahun tidak bertemu, mungkin mereka tidak akan saling mempertahankan diri. Setidaknya dibutuhkan satu orang untuk ambil posisi "mengalah". Misalnya perbincangannya akan menjadi seperti ini:

”Jangan ngacak-ngacak rambut gue dong,” kata A.

”Eh, emang kenapa? Gue kangen tau sama loe,” kata B.

”Iya, tapi jangan ngacak-ngacak rambut, gue ga suka,” ujar A.

”O, gitu? Sorry deh...” B meminta maaf. 

Beres. Selesai. Jika memang itu yang kemudian menjadi pilihan. Perbincangan pun dapat dilanjutkan ke hal-hal yang lebih penting lagi untuk membangun relasi yang lebih baik. 

Baca juga: Berdamai dengan Inner Child


Empati adalah Koentji

Pada dasarnya tidak ada orang yang sama. Bahkan di antara dua orang yang sangat minim perbedaan, masih sangat memungkinkan terjadi konflik. Terlebih jika jurang perbedaannya lebih lebar dan dalam. Maka, yang dibutuhkan hanyalah berdamai dengan perbedaan. Atau, malah menjadikan perbedaan sebagai peluang untuk meningkatkan potensi masing-masing pihak. Kurasa itu lebih seru.

Kasus kawan muda tadi hanyalah contoh yang sangat sederhana. Pada prakteknya, dalam berbagai lingkungan yang kita terlibat, baik lingkungan pertemanan, pekerjaan, ataupun komunitas-komunitas yang kita ikuti, ada begitu banyak persoalan dan perselisihan berkepanjangan hanya karena persoalan ecek-ecek yang berpangkal dari ketidaktahuan kita akan rekan komunikasi kita. Jika ketidaktahuan itu dibarengi dengan pikiran terbuka untuk menerima perbedaan, komunikasi masih bisa berjalan. Tapi jika masing-masing menggunakan kacamata kuda, melihat persoalan hanya dari satu sudut pandang, dari kacamata sendiri, maka pola relasi tidak akan berkembang.

Tapi sekali lagi, itu adalah pilihan. Seperti halnya memilih di antara sekian banyak tawaran dalam hidup kita, demikian halnya dengan berkomunikasi. Mau melakukan komunikasi dengan efektif atau tidak, itu adalah pilihan. Tapi jika pilihannya adalah "mau", maka tidak bisa tidak, empati merupakan salah satu prasyaratnya. Untuk bisa berempati kita perlu berada di sisi orang lain. Menghadapi seseorang yang introvert, kita tak perlu menjadi orang yang sama, hanya perlu memahami karakteristik seorang introvert. Tanpa perlu mengubah mereka supaya menjadi sosok yang menikmati keramaian. Menghadapi seseorang yang "tinggi", tak perlu terbawa emosi. Berusaha pahami dengan mencari celah-celah yang masih bisa membawa mereka "turun". Menghadapi orang yang menurut kita "hidup terlalu sehat, clean" tak perlu menjadi nyinyir, cukup memahami saja kebutuhan mereka, dan sebisa mungkin beradaptasi. 

Pada masa kini, banyak sumber referensi yang dapat membantu kita memahami banyak hal. Ingin memahami orang yang rijid dengan urusan kesehatan, bisa buka aneka website atau blog gaya hidup sehat. Penasaran dengan mereka yang aktif memilah barang, bisa cek pula informasi terkait zero waste. Yang buatku sejauh ini masih sebatas cita-cita. Duh, beratnya. Loh, kok jadi curcol 😂 Mau memahami mereka yang gemar nonton film atau pertunjukan musik, paling tidak bisa cek di saluran-saluran yang tersedia di internet. Toh, hanya sekadar memahami, tak harus menjadi ahli. Pendek kata, banyak hal yang kita bisa upayakan jika kita memaumi sebuah komunikasi berlangsung efektif. 

Baca juga: Doa, Meditasi, dan Vibrasi Energi

Adalah hal yang alami ketika sebuah relasi pada akhirnya selesai. Karena manusia berubah. Bisa jadi terkait dengan kecenderungan tertentu seperti pandangan politik, kepercayaan, hobi, dan lain-lain. Sebagian orang yang lainnya menganggap sebagai tak ada lagi kesesuaian energi. Hal yang begitu saja, tak butuh alasan yang rumit untuk menjelaskan mengapa seseorang lantas berjarak dengan orang lain. Namun, selagi masih ada kesadaran untuk memperbaiki relasi, upaya menjalin kembali komunikasi adalah hal yang tak terbantahkan. Dan empati adalah koentji

2 comments

  1. Iya betul ya, masalah empati ini bisa jadi masalah besar kalau pakai baper atau ngga open minded. Tapi memang empati juga perlu dilatih sih dan butuh dilatih kepekaan seseorang akan kondisi orang lain.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ma'aaaaaaf baru keperiksa. terima kasih, ya.

      benar, dan empati pun harus dibarengi dengan sikap yang tepat, cara penyampaian yang baik, pilihan kata yang sesuai.

      Delete