Jais Darga Namaku, Ajang Pembuktian Seorang Art Dealer Perempuan

Aku sudah mendengar ide tulisan dari novel ini jauh sebelum diluncurkan. Saat masih dalam proses penulisan. Ada satu waktu yang aku sempat ketemu dengan penulisnya, Ahda Imran, yang menceritakan pengalamannya mengeksplorasi Jais Darga. Dibarengi dengan cerita-cerita lainnya saat harus menggali informasi di kawasan yang pernah ditinggali Jais, terutama di Bali dan Paris. Tapi, sungguh, aku nggak ngeuh perihal art dealer dan seberapa punya
pengaruh nama perempuan berdarah Sunda ini. Setelah baca, wow sekali! 


Baca juga: Perjalanan Menulis Fragmen 9 Perempuan

Novel biografi ini menyodorkan latar belakang kehidupan Jais Darga yang adalah keluarga menak Sunda. Latar belakang yang kental dengan kesundaan, dengan tradisi, dan hal-hal yang konvensional. Berikutnya kita dihadapkan pada kehidupan yang bisa dibilang sebaliknya.  


Sinopsis

Buku ini diawali dengan hari-hari baru Jais di Bali. Berada di tanah dan rumah impiannya setelah lama tinggal di Paris dan melanglang ke banyak negara. Berkontemplasi sebelum memulai kisah masa kecilnya.

Kisah itu adalah tentang Raden Nana Sunani. Kisah hidup Nana, ibunya Jais ini terasa indah, manis, sekaligus perih. Nana yang tengah merancang pelariannya. Putri Lurah Desa Cianten, Limbangan, Garut itu memilih melarikan diri daripada harus mengikuti keinginan pemimpin "gerombolan". Nana tahu, bahkan sang ayah tak akan sanggup mencegah. Seperti saat suaminya dibawa gerombolan tersebut.

Nana mempersiapkan pelariannya bersama kakak yang sudah sudah lebih dulu tinggal di Bandung. Pelarian yang tak mudah. Mereka harus berjalan kaki untuk bisa sampai Stasiun Nagrek, melewati kawasan yang saat itu masih belantara. Malah memilih jalan yang tersembunyi demi menghindari perjumpaan dengan orang-orang dari gerombolan. Setelah perjalanan menegangkan dalam kereta, mereka kembali melakukan perjalanan kaki menuju kawasan Dago. 

Singkat cerita, Nana tinggal di Bandung bersama keluarga kakaknya yang pas-pasan hingga berjumpa dengan Raden Dargawidjaja yang menjadikan cerita ini ada, karena ialah ayah dari Jais Darga. 

Kehidupan masa kecil Jais yang penuh warna, kehidupan menak Sunda di masa lalu, keseharian di rumah mewah kawasan Bandung utara, kenakalan-kenakalan Jais kecil, konflik di tengah keluarga, perceraian, perjumpaan kembali Raden Nana dengan suaminya yang dianggapnya sudah mati. Seperti kisah-kisah dalam film. Dan kisah Raden Nana ini kemudian memang difilmkan. 

Mengambil tajuk "Nana", dan "Before, Now & Then" untuk pemutaran internasional, film ini menjadi debut pertama Kamila Andini dalam menulis naskah dan menyutradarai film indie drama sejarah Indonesia. Rilis film ini dilakukan secara internasional di Festival Film Internasional Berlin pada 12 Februari 2022. Laura Basuki berhasil memenangkan Silver Bear untuk kategori Best Supporting Performance. Film ini juga memenangkan Festival Film Internasional Brussels dan Asia Pacific Screen Awards sebagai Film Terbaik. 

Film tentang ibu Jais ini diproduksi oleh Fourcolours Films bersama Titimangsa Foundation yang digawangi oleh Happy Salma. Di film ini Happy berperan sebagai Nana. Keseluruhan film ini menggunakan bahasa Sunda era 60-an.

Baca juga: Book Sleeve, Pembaca Buku Wajib Punya

Lanjut, ya...

Kisah berikutnya adalah kehidupan Jais Darga sebagai sosok dewasa, seorang perempuan merdeka. Dunia ala anak muda Kota Bandung dekade 70-an digambarkan di sini. Jais yang pernah menggeluti dunia teater dan seni peran, pergaulannya dengan kalangan papan atas, termasuk keputusannya untuk menikahi salah satunya, anak dari pemilik kerajaan jamu di tanah air. 

Jais dengan sangat gamblang tergambarkan sebagai perempuan yang penuh ambisi. Meski ada banyak ajang pertempuran yang ia temukan, yakni hal-hal konvensional terkait keperempuanannya dan dan ambisinya untuk terjun di dunia bisnis seni. Pada akhirnya ia menuruti ambisinya. Dari mulai menggelar pameran lukisan di lokasi terbatas, hingga di hotel-hotel mewah. Dari lukisan yang didapatkan dari lingkaran perkawanan, hingga berjibaku di ajang lelang. Dari jual beli di antara kenalan, hingga berhubungan dengan pembeli para pesohor dunia. Ia menunjukkan kepada dunia bahwa ia, seorang perempuan dan seorang Asia berhasil mengambil peran besar dalam perdagangan karya seni tingkat dunia. 

Ada harga yang harus dibayar mahal. Ia bahkan nyaris tak tahu bahwa ia sedang “pergi” atau “pulang”. Ia mengembara di Paris, London, Amsterdam, New York, Singapura, dan Hongkong. Begitu pula dengan kehidupan pribadinya. Kegagalan pernikahan yang terjadi berulang kali, dan hal yang membuatnya sedih, hubungannya dengan anak semata wayangnya yang akhirnya ikut terdampak. 

Pergulatan-pergulatan batin itu tertuang dalam kisah yang mengambil latar di berbagai wilayah. Yang mengambil porsi paling besar adalah Jakarta, Bali, dan Paris. Pada akhirnya kisah Jais ini bermuara pada ikatan keluarga. Perjumpaan antara kenangan akan ayah dan harapan masa depan bersama anak kandungnya, Magali.

Baca juga: FSP dalam Diskusi Kajian Jumaahan dan Majelis Sastra Bandung


Novel auotobiografi dengan detail yang memikat

Aku tak banyak membaca karya prosa Ahda Imran. Di rak bukuku tersimpan dua buku kumpulan puisinya. Aku nonton beberapa pagelaran teater yang naskahnya digarap Ahda. Tapi untuk prosa, baru kali ini. Ahda menulis kisah dengan detail yang memikat. Yang membuatku ingat bertanya langsung ke dia: Bagaimana proses ia menyimak cerita Jais lalu menerjemahkan dalam kalimat-kalimat yang tertuang di novel tersebut? Berapa persen dari keseluruhan ramuan kalimat itu yang murni datang dari Jais?

Misalnya, aku bertanya-tanya, kalimat “Aku tidak merasa dilahirkan sebagai perempuan, tapi terpilih sebagai perempuan” apakah datang dari Jais atau semata olahan kata dari Ahda. 

Selain itu kurasa Ahda membuat riset yang mendalam tentang berbagai detail yang ada dalam novel. Seperti nuansa tahun 40-an, saat pendudukan Jepang dan Raden Nana harus berjalan kaki di tengah hutan jalur Limbangan-Rancaekek. Atau pada tahun 70-an di Bandung saat Jais remaja. Begitu pula dengan detail suasana kota-kota besar di Eropa. Setahuku ia hanya sempat meninggali Paris untuk risetnya. Atau aku lupa, apa ia sempat pergi ke kota-kota lain yang disebut di buku ini. Detailnya membuatku merasa ingin diajak ke lokasi yang sama.

Dan tentu saja dengan kisah percintaan yang di beberapa bagian membuatku berurai air mata. 

Pergulatan batin Jais juga tergambarkan dengan apik. Ahda menulis detail gejolak batin perempuan seolah ia cukup memahami dunia perempuan. Bagaimana Jais di tengah kesepiannya, kegelisahannya, kesakitannya, serta pengkhianatan  dan penghinaan yang diterimanya. 

Membaca buku ini, selain menikmati kisahnya, membuatku sedikit berkhayal: seru juga kayaknya nulis novel biografi. Tapi lalu menepisnya sendiri: halah, Dhe, rencana yang sudah-sudah aja belum terealisasi. Ya sudah, batal, hehe.

Sayangnya aku agak terganggu dengan typo yang berceceran. Ih, KPG ternyata gak cukup teliti, yaaa. Tapi secara keseluruhan, novel biografi Jais Darga Namaku ini layak dibaca dan dikoleksi.

Baca juga: Hari Buku Nasional dan Upaya Kembali Membaca


Judul: Jais Darga Namaku

Penulis: Ahda Imran

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), 2018

Tebal: 525 halaman


8 comments

  1. wuiihhh penerbit Gramedia tuh selalu bagus-bagus bukunya. wajar sih, nulisnya pakai riset yang detail gitu ya.
    Menarik ceritanya, berharap menemukan buku ini di perpustakaan hehehe.
    Tapi emang seru sih nulis biografi, lebih nyata soalnya

    ReplyDelete
  2. Woh ternyata novel ini terhubung dengan film NANA ya. Aku sempat nonton film ini. Kalau gak salah ingat hampir 100% bahasa yang digunakan adalah bahasa Sunda. Yah nyerah deh. Secara ya, biar bersuamikan urang Sunda, banyak kata atau kalimat yang gak aku ngerti. Hadeehh padahal pengen banget nonton film yang dapat banyak apresiasi dunia ini. Jadi mendingan baca novelnya aja dah hahahaha. Cus nanti dicari.

    ReplyDelete
  3. Biografi juga salah satu genre kesukaanku selain travelling. Seneng aja ya mengikuti kisah hidup orang-orang apalagi bisa menginspirasi pembacanya.
    Biasa Latar belakang dan kisah masa kecil yang paling seru untuk diikuti

    ReplyDelete
  4. Biografi juga salah satu genre kesukaanku selain travelling. Seneng aja ya mengikuti kisah hidup orang-orang apalagi bisa menginspirasi pembacanya.
    Biasa Latar belakang dan kisah masa kecil yang paling seru untuk diikuti

    ReplyDelete
  5. sebagai "urang Bandung" yang sering rantang runtung dengan aktivis budaya, rasanya jadi kudet baca tentang perjalanan Jais Darga
    Sampai searching dan dapat artikel-artikelnya
    Keren dan geulis ya?
    Kudu beli nih, khususnya karena saya pingin bisa nulis novel biografi
    Semakin terpicu waktu baca Ahda Imran pun sering typho :D

    ReplyDelete
  6. Menarik ya. Kisah nyata yang kemudian dituliskan ulang dalam wujud novel biografi. Tiap kali saya membaca novel biografi, saya seperti kakak: selalu wondering juga, mana kalimat yang benar-benar dikutip dari tokoh itu sendiri, mana kalimat yang di-crafted oleh si penulis. Tentu tujuan penulis juga baik, yakni memberikan experience yang nyaris riil kepada para pembaca.

    ReplyDelete
  7. Selalu menarik buat saya membaca novel biografi mbak.
    Ayuk mbak, nulis novel biografi.
    Jais Darga, saya baru kali ini mengenal namanya, rupanya seniman seni lukis perempuan, dan karyanya sudah dikenal di dunia internasional.
    Pergulatan batin, kalau bagi seniman biasanya tuh jadi inspirasi karya ya

    ReplyDelete
  8. Hidup yang penuh liku seorangJais Darga. Bikin penasaran juga. Apalagi terjadi di era tahun 70an. Cari ah bukunya.

    ReplyDelete