FSP di Kajian Jumaahan dan Pengajian Sastra

Suntikan semangat itu kadang datang lewat cara tak terduga. Jumat lalu (21/07/2023) aku diundang hadir di kajian bulanan Majelis Sastra Bandung (MSB), dengan membawa buku Fragmen 9 Perempuan (FSP). Kebetulan mengambil lokasi di Kedai Jante (Perpustakaan Ajip Rosidi), yang tiap Jumat punya agenda diskusi buku. Aku, yang awalnya tak yakin bisa berada di acara itu, akhirnya pulang dengan perasaan hangat. Senang berada di antara teman-teman yang menguarkan energi positif.



Baca juga: Perjalanan Menuliskan Kisah Perempuan

Awalnya, nun beberapa bulan sebelumnya, iseng kusampaikan ke Matdon, Rais Aam-nya MSB. "Kalau bukuku jadi terbit, didiskusiin di MSB, ya," kataku waktu itu. Dengan tak sepenuhnya yakin. Tak yakin bahwa aku bakal benar-benar punya buku, padahal sudah mau naik cetak. Tak yakin kalau aku bisa menjadi pembicara, padahal pengalaman menjadi pembicara tak bisa dibilang sedikit. Memang, kok, dibutuhkan energi sebesar kemampuan memindahkan gunung untuk bisa meyakinkan seorang Dhenok Hastuti.


Kajian Jumaahan dan Pengajian Sastra

Seminggu sebelum hari-H, Kyai Matdon menghubungi via WA: "Kamu mau isi agenda tanggal 21?" Wah! Tak langsung kuiyakan. Tentu saja ini tawaran menarik. Tapi aku butuh "tanda" untuk mengiyakan. Kuhubungilah Ajeng Kesuma, kawan pegiat segala macam termasuk dunia keperempuanan. Kutanyakan soal kemungkinan menjadi pembahas, terutama terkait jadwalnya. Waktunya kudu pas, karena ia tinggal di Bogor, dan aku tak sanggup "mengusungnya begitu saja". Jawabannya menjadi "tanda" yang kucari: "Kebetulan aku ada acara di Bandung tanggal 22. Sudah akan di Bandung tanggal 21. Mestakung, ya."

Ya-ya, mestakung. Maka, kupastikan ke Pak Kyai, kalau kami bakal hadir di acara MSB. Lalu, Teh Windhihati Kurnia didaulat untuk menjadi moderator. Lengkap.

Aku tak berekspektasi terlalu tinggi. Seperti halnya saat menerbitkan buku, isu utamanya adalah aku berhasil mengatasi hambatan psikologisku, kekhawatiranku akan sejumlah hal: tulisan tak disukai, bakal mengundang kritikan, tak ada yang mau beli buku.

Serius, si Dhenok itu begitu? Serius!

Mungkin tak banyak yang tahu kalau si Dhenok itu memang se-"tak pede" itu. Tapi itu fakta. Aku punya banyak ketakberanian. Aku tak akan menyalahkan proses lalu yang membentukku demikian. Hanya, itulah faktanya. Dalam hal ini, aku Cancerian sejati, yang senang berlindung di balik cangkang; yang akan mlipir diam-diam -ke samping, bukan ke depan- untuk menghindari tampil. Maka, aku senang berada di antara teman-teman yang memahamiku tanpa banyak bertanya, dan yang memberikan dukungan tanpa kuminta. 

Baca juga: Perempuan-perempuan dalam Karya Pramoedya Ananta Toer

Maka demikianlah, obrolan buku Fragmen 9 Perempuan itu berlangsung dengan lancar di Kedai Jante, Jalan Garut No. 2, Bandung, dalam Kajian Jumaahan ke-26 dan Pengajian Sastra ke-133. Pertanyaan dan bahan diskusinya beragam. Dari soal teknis terkait mengumpulkan ide cerita dan proses penulisannya, hingga isu terkini tentang perempuan. Untunglah, aku punya Ajeng, yang dengan tangkas memberikan tanggapan dari sudut pandangnya sebagai aktivis perempuan. Yang tak kalah menarik juga ide-ide yang dilontarkan kawan-kawan yang hadir, seperti membuat buku kumpulan kisah para lelaki. Atau kumpulan kisah perempuan dari kelas bawah. 

Acara sepanjang hampir dua jam itu pun akhirnya ditutup.



Diskusi yang Memantik Ide Baru 

Setidaknya ada dua hal menarik yang kutemukan dari agenda obrolan buku ini. Pertama, ada perspektif dari pembaca yang sama sekali di luar bayanganku. Yang membuatku mengangguk-angguk sendiri, "eh iya, ya?" 

Menurut Ajeng, segala sesuatu memiliki dualitas. "Sosok-sosok di buku ini hadir dengan keutuhannya masing-masing. Tidak sedih terus, ada senyumnya juga. Meski sedikit saja. Setiap orang melewati prosesnya masing-masing, menjadi versi diri yang lebih baik."

Terus terang saat menuliskannya aku tak memikirkan detail tersebut. Aku semata menggambarkan apa yang kutangkap dari realitas yang kujumpai. Lantas aku pun memafhumi, hakikatnya setiap orang, secara alamiah selalu berusaha untuk menemukan jalan keluar untuk mengatasi masalahnya. Mereka akan dengan segenap daya upaya, mencoba melampaui kesulitannya. Dan pada titik-titik tertentu, mereka mengapresiasi diri sendiri meski sesedikit apa pun capaian yang telah berhasil dibuat. Mencoba merayakannya biarpun persoalan tak lantas raib begitu saja. Setiap orang adalah pejuang bagi dirinya sendiri. 

Baca juga: Menjadi Penulis, Hobi atau Pekerjaan?

Sesaat setelah usai, seorang kawan menghampiri. Tampaknya ia tertarik dengan persoalan "keberanian". Persisnya, ketidakberanianku untuk memunculkan tulisan dalam bentuk buku. Dia yang jam terbangnya di dunia tulis menulis dan media massa lebih tinggi dariku, mengaku tak punya keberanian? Bah! Oke-oke, ternyata aku tak sendiri. Selain dia, mungkin ada lebih banyak lagi yang urusan nyalinya tak jauh beda. 

Kami pun lalu berbincang tentang ide tulisannya yang ingin dijadikan buku. Buatku menarik, karena tak banyak orang yang punya pengalaman tersebut. Memang, isunya rada sensitif. Tapi kurasa akan selalu ada celah untuk bisa tetap menjadikannya karya yang tak harus memunculkan kontroversi. 

Seru, menarik. Aku pun tiba-tiba dipaksa untuk memikirkan aneka kemungkinan. Ada yang seperti memantik sesuatu yang lama tertidur. Baiklah, mungkin aku perlu lebih sering keluar cangkang dan bertemu lebih banyak orang. 

Itulah, yang tersisa dari perbincangan buku FSP. Hari yang menyenangkan. Dan kalian semua, orang-orang yang menyenangkan. 

Bagi yang berminat bergabung dalam diskusi sastra, bisa menghadiri agenda rutin Kajian Jumaahan di Kedai Jante dan Pengajian Sastra di MSB. Bisa cek di IG/FB keduanya untuk informasi selengkapnya.

Terima kasih banyak, untuk Kyai Matdon bersama MSB-nya yang memaksaku keluar dari cangkang. Untuk Kedai Jante yang sudah menyediakan ruang dan menyuguhkan kehangatan. Untuk Ajeng Kesuma yang sudah menerjemahkan tulisanku dengan sangat baik, dan Teh Windhi yang ikut membesarkan semangat. Terima kasih juga untuk foto-fotonya. Untuk kawan-kawan yang sudah hadir dalam diskusi. Untuk tim Epigraf, yang memungkinkan buku bertuliskan namaku ini lahir. Dan tentu saja, terima kasih untuk teman-teman semua yang sudah mengapresiasi dengan membeli dan membaca Fragmen 9 Perempuan.

Namaste.



Baca juga: Bukan Hanya Perempuan, Semua Orang Harus Bisa Masak

No comments