Tantangan Hidup di Hari-Hari Ini dan Mindfulness ala Maudy Ayunda

Sepekan terakhir jagad maya dibikin riuh oleh konten video Maudy Ayunda tentang “mindfulness in the age of bad news”. Aneka pendapat pro-kontra bersliweran di media sosial. Ada kalangan yang membela Maudy, banyak yang menghujatnya, tapi tak sedikit yang mencoba memberikan sudut pandang yang berbeda, tanpa memihak. Kamu ada di sisi mana? Salah satu hal yang buat saya cukup memberikan andil adalah soal ekspektasi. Kita sering kali terlalu menggantungkan harapan berlebih kita pada sosok-sosok tertentu. Saya menyebut soal ekspektasi ini terutama karena menyangkut bahasan tentang mindfulness.

Baca juga: Gampang Lupa, Multitasking, dan Mindfulness

Indonesia sedang tak baik-baik saja. Sebagian kita juga tak baik-baik saja. Jika kondisinya tidak seperti sekarang, mungkin konten Maudy tak terlalu mengusik. 


Maudy dan Ajakan untuk Hidup Berkesadaran

Dalam videonya, Maudy mengisahkan pengalamannya menghadapi derasnya berita buruk, baik kabar dari dalam maupun luar negeri. Sebagai seorang yang--diakuinya--overtinker, ia menyarankan bagi para penonton media dan pemilik akun media sosial untuk menyaring tontonan. Ia mencontohkan berbagai pemberitaan yang ia nilai membawa dampak negatif, seperti bencana alam, kebakaran hutan dan lahan, dan masalah terkait ekonomi. 

Selain penyaringan informasi, Maudy menyarankan agar semua yang terpapar arus informasi itu untuk mengambil jarak. Membuat jarak dengan berbagai isu yang dapat menyulut burnout. Selain itu, menurutnya, ada baiknya berdiskusi dengan orang-orang yang memahami persoalan dengan baik. 

Konten itu diunggah Maudy pada 21 Agustus 2026 dan menuai hampir 200 ribu pengunjung, dan tampaknya angka itu akan makin meningkat seiring banyaknya orang yang membagikan ulang serta membuat tayangan sebagai respons dari versinya masing-masing.

Pada akhirnya Maudy menyampaikan permintaan maafnya. Ia mengakui bahwa kemampuan dan kesempatan untuk ambil jeda dari berita negatif merupakan sebuah privilege. Ia luput menyadari itu. Menyadari demikian banyak rakyat Indonesia yang terdampak langsung apa-apa yang dikabarkan oleh berita dan tayangan video tersebut. Sebagian besar di antara mereka, boro-boro mempraktikkan mindfulness, hidup waras dalam keterbatasan saja mereka sudah bersyukur. 


Baca juga: Kesadaran Spiritual, Hidup dalam Perspektif Baru

Apakah sesungguhnya inti dari mindfulness? Mengapa topik ini mendatangkan hujatan terhadap penganutnya? 

Secara mendasar, mindfulness sebetulnya gagasan sederhana. Ini juga bukan gagasan baru, sudah berabad lamanya orang mempraktikkannya, meski dengan penamaan yang berbeda. Mindfulness diyakini mampu mengurangi potensi orang mengalami gangguan mental. Meski tak ada penelitian yang cukup signifikan, namun para pelakunya membuat klaim bahwa hidup mereka lebih tenang dengan menerapkan mindfulness dalam kehidupan sehari-hari. 

Yang menjadi persoalan kemudian adalah bahwa ada kondisi genting yang sedang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Mindfulness mungkin bisa cukup membantu untuk meredam gejolak masing-masing personal. Sayangnya, saat ini yang lebih penting bukan itu melainkan bagaimana caranya keluar dari kondisi ini. Dalam hal ini, empati lebih dibutuhkan, jika memang belum ada tindakan riil yang bisa dilakukan untuk mengurangi dampak dari kondisi yang terjadi belakangan ini. Maudy mestinya menghitung itu. 

Faktor pendukung lainnya adalah bahwa masyarat punya ekspektasi terhadap seorang Maudy, public figure, seorang artis yang dikenal pintar dan bersih. Ekspektasi ini membuat para pengikut Maudy yang terdampak masalah merasa dikhianati.

Baca juga: Jeda dan Meditasi, bantu Redakan Pikiran yang Riuh


Mindfulness dalam Konsep dan Praktik

Secara harfiah, terjemahan langsung dari mindfulness adalah kesadaran penuh. Konsep dasarnya bukanlah hal baru. Para penganut Buddha saat meditasi menjalaninya dengan kesadaran penuh. Konsep ini kemudian diaplikasikan ke berbagai model terapi ala Barat. Misalnya Jon Kabat-Zinn yang mencetuskan konsep mindfulness-based stress reduction. Ia mendefinisikan mindfulness sebagai perhatian yang disengaja, saat ini, dan tanpa penilaian. Demikianlah inti dari mindfulness, mengajak kita untuk "hadir" pada saat ini. Menyadari sepenuhnya dengan membebaskan diri dari penilaian. 

Dalam keseharian, kita bisa mengimplementasikannya secara sederhana. Mindfulness mengajak kita untuk berfokus pada apa yang kita hadapi "sekarang", bukan terjebak di masa lalu, atau terkurung dalam kekhawatiran di masa depan. Contoh implementasinya dalam keseharian misalnya saat kita makan, ya kita berfokus pada makanan yang kita makan. Bukan sambil menonton TV, bermain HP, bahkan ngobrol hingga kita tak betul-betul menikmati makanan kita. Dalam sejumlah pelatihan berbasis relijiusitas, persiapan menuju makan adalah dengan ungkapan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat, mulai dari proses pertumbuhan tanaman, panen, hingga pengolahan di dapur, dan penyajian di meja makan. Ada begitu banyak pihak yang terlibat dalam sepiring makanan yang disajikan. Proses makan pun mensyaratkan keheningan, semata agar saat makan menjadi proses perenungan atas hidup yang penuh berkah. 

Itu salah satu contoh yang barangkali paling sederhana, soal makan. Latihan dan pembiasaan itu dapat diterapkan ke hal-hal lainnya. Namun, tanpa latihan dan pembiasaan, dapat dipastiskan mindfulness hanya berhenti di ranah konsep. 

Baca juga: Mengapa Kita Mengalami Pola Hidup yang Berulang?

Bagaimana jika ada gangguan yang menyela fokus kita? Tidak apa-apa, diterima saja. Salah satu yang perlu dilatih dalam mindfulness adalah membebaskan diri dari penilaian.

Jadi, tahapannya, pertama, sadari saat pikiran mulai berkelana atau ada pemikiran baru yang tiba-tiba muncul dan memenuhi benak. Berikutnya mulai rasakan. Ambil napas dalam dan rasakan udara yang masuk pelan-pelan memenuhi paru. Lanjutkan dengan sensasi dari alat indra lainnya dalam pengamatan terhadap benda di sekitar. Terima apa saja yang baru saja melintas, tanpa menilai dan menyalahkan diri sendiri, lalu melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda. Ini latihan yang perlu dilakukan berulang agar menjadi kebiasaan. Ketika perulangan ini menjadi kebiasaan, tanpa sadar kita telah melakukan self healing, hal yang penting dilakukan bagi siapa pun yang berpotensi menghadapi stres berlebih hingga jatuh ke kondisi depresi. Perempuan pekerja atau working mom masuk dalam kategori ini.

Pada tingkat lanjutannya, mindfulness bisa dipertajam dengan melakukan meditasi. Ada banyak ragam meditasi yang bisa dilakukan untuk melatih proses berkesadaran diri ini. Di wilayah praktisi psikologi klinis, baik dari psikolog maupun psikiater dikenal mindfulness-based cognitive therapy (MBCT) dan mindfulness-based stress reduction (MBSR). Dengan melakukan meditasi rutin diyakini dapat membantu penyembuhan gangguan depresi. Di wilayah mindfulness terapi secara signifikan dinilai telah mengurangi risiko kekambuhan para penderita depresi mayor. 

Kembali menyoal konten Maudy Ayunda, ya, tidak ada yang salah dengan ajakan Maudy untuk menerapkan mindfulness dalam kehidupan sehari-hari, terutama di masa sekarang yang dipenuhi dengan peristiwa-peristiwa yang berpotensi memicu stres dan depresi. Masalahnya, kita tidak sedang melihat “bad news”, kita sedang mengalami "bad reality". 

Sebagian orang hanya menyaksikan kebakaran hutan di layar televisi atau smarphone, sebagian yang lain mengalaminya. Mengalami sesak karena asap, anak-anak hanya bisa belajar daring, orang tuanya pun tak bisa berangkat kerja. Belum lagi yang mengalami dobel masalah, kebakaran hutan yang dibarengi kelangkaan BBM. Mereka bukan hanya melihat dari tayangan media; mereka mengalami sendiri kelangkaan BBM. Mereka harus antre berjam-jam di tengah antrean yang mengular; mengorbankan hal-hal lainnya. Dampak kebijakan Pemerintah ini bukan hanya konsumsi media; mereka terkena imbasnya. Bagaimana kebijakan soal MBG telah mengakibatkan ribuan anak mengalami keracunan, sedangkan di bagian lain harus mengalah akibat pendanaan yang menyedot banyak anggaran negara ini. Belum lagi bencana yang seolah bergiliran hadir. Jadi, jika sarannya adalah menjauh, harus menjauh ke mana? Jika sarannya ambil jeda, apakah jeda itu bisa menggantikan yang mereka perlukan?

Baca juga: Berkaca dari Kasus Tiara, Femisida dan Pencegahannya

Tak dibutuhkan kecerdasan skala tinggi untuk memahami itu. Meski banyak yang melakukan pembelaan terhadap Maudy--di antaranya agar memaklumi bahwa Maudy hanya menyasar segmen tertentu--tetap saja, apa yang dilakukan Maudy tidak bijak. Terlebih ia dikenal sebagai alumni Oxford untuk kajian Philosophy, Politics, and Economics (PPE). Lha, masa seseorang memiliki latar belakang pendidikan sekuat itu bukannya membuat konten yang menyasar hal yang lebih mendasar? Ya, menurutku dalam kasus ini Maudy memang tidak bijak, terlepas dari soal yang saya pun tak setuju dengan kebiasaan kebanyakan orang yang punya ekspektasi tinggi terhadap para selebritas dan figur publik. 

Yo wis-lah, mari kita semua terus berusaha menjaga kewarasan, salah satunya dengan hidup berkesadaran. Tentu saja dengan tetap membumi melihat berbagai persoalan hidup, dan jika memungkinkan menjadi bagian dari solusi, sekecil apa pun. Namaste.

Baca juga: Kesadaran Spiritual, Hidup dalam Perspektif Baru


12 comments

  1. Hmm, sempat ikut geram sih waktu nonton video dia dan saya ngga nonton sampe habis juga karna memang bagi saya ngga ada faedahnya ditonton.
    Ngga tau juga itu video dia tujukan apakah untuk kalangan tertentu atau untuk semua. Tapi kalau emang ditujukan untuk semua manusia, bagi saya jelas banget dia ngajarin hidup mindfulness sama org2 yang udh jelas jiwa raganya kebal sama kerasnya hidup. Alih2 menyortir berita buruk, selama pejabat petinggi dan siapapun itu semuanya tone deaf, duhh ngga akan bisa disortir sebab semuanya buruk, huhuuu. Gemessst deh sama public figur yang acuh

    ReplyDelete
  2. Saya termasuk yang berprinsip menyampaikan sesuatu sebaiknya lihat sikon dan cara yang tepat. Saya lihat konten yang disampaikan Maudy. Setuju dengan opininya. Tapi, memang sikon dan caranya menurut saya kurang pas. Ya ada baiknya memang semua introspeksi. Apalagi untuk seorang artis/influencer, lebih bijak lagi ketika menyampaikan opini meskipun isi opininya sebetulnya bagus.

    ReplyDelete
  3. Saya kurang paham dengan masalah yang muncul akhir-akhir ini terkait Maudy, tetapi kok netijen kita ini gercep dan reaksioner banget ya, termasuk saya. Apakah kita terlalu pusying mikirin hidup jadi ada bahan dikit langsung gerak. Nah jadi bener deh kita mungkin perlu banget pendekatan mindfulness.

    ReplyDelete
  4. kesalahan Maudy cuma satu: Dia mengunggah konten mindfulness ketika Indonesia sedang mengalami banyak bencana
    Oh ada kesalahan lainnya: Dia seleb :D :D
    netizen gak akan menganggap dia tone deaf sih jika dia bukan seleb, dan bijak mengunggah konten

    ReplyDelete
  5. Daku ga ingin berkomentar soal MA, karena ga kenal juga hehe, dan sudah banyak yang membahasnya di medsos. Namun, lebih ke arah, ada baiknya di momen yang serba panas ini, semisal tidak bisa memberikan empati/dukungan dalam bentuk apapun kepada yang menjadi korban lebih baik sih diam saja. Do'akan dalam diam itu makin bermanfaat, dan inilah mindfullness yang sejati

    ReplyDelete
  6. Bener sih, kita memang harus terbebas dari penilaian/validasi orang lain terlepas baik atau buruk, karena hidup kita harus mindfullnes, lebih berkesadaran, tidak butuh validasi dan mengerti konsep diri sendiri dan peran apa yang harus dilakukan di tengah2 masyarakat. Konsep berkesadaran ini penting termasuk dalam pengaturan ritme antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.

    ReplyDelete
  7. Aku suka sekali ketika mindfulness dibicarakan bukan sebagai sesuatu yang rumit, tetapi sebagai kemampuan untuk kembali hadir dan menyadari apa yang sedang kita jalani. Mungkin sesederhana berhenti sebentar, menarik napas, lalu bilang kepada diri sendiri, “Ya sudah, kita jalani yang ada di depan mata dulu.”

    Semakin bertambah usia, aku justru merasa tantangan hidup bukan selalu tentang bagaimana menjadi lebih kuat, tetapi bagaimana tetap waras dan lembut kepada diri sendiri ketika keadaan tidak berjalan seperti yang kita mau. Ada hal-hal yang memang harus diperjuangkan, ada yang harus dilepaskan, dan ada pula yang cukup diterima sambil bilang, “Bismillah, nanti juga ketemu jalannya.”

    ReplyDelete
  8. iya sih. Aku melihatnya Maudy hanya menyasar orang-orang yang suka overthinking kayak dengan statementnya. Biar nggak overthinking ya udah berusaha mengambil jeda.

    Dia lupa sama orang-orang yang mengalaminya langsung. Agak sebel sama Maudy pas itu. Tapi, dasarnya nggak terlalu suka sama dia jadi ya lewat saja sambil lalu.

    ReplyDelete
  9. Saya mengenal mindfulness sejak ikut yoga dan seminar2 mindfulness beberapa tahun ini. Pendapatku sih, apa yg diutarakan maudy ada benarnya, bahwa kita juga perlu minfulness terhadap hal2 yg buruk yang hadi di depan kita. Hal tersebut tentunya tergantung dari hal apa yang terjadi. Tidak semua hal atau peristiwa harus kita jauhi bahkan redflag. Kita pilah2 dulu.
    Kalau membawa buruk dengan mental kita okelah kita jauhi dan tutup mata. Tapi kalau peristiwa itu menyangkut orang banyak , kita harus berkesaran diri untuk tidak menutup mati. Empati dan simpati perlu juga dan tidak apatis.n

    ReplyDelete
  10. Sejujurnya, aku suka konsep mindfulness.
    Karena sejatinya memang kita dituntut untuk fokus saat melakukan sesuatu dan menghilangkan banyak distraksi yang bisa mengaburkan tujuan awal.
    Dari POV aku ya... Maudy ini melempar konten di waktu yang gak tepat. Jadi bayangannya "Wrong issue at the wrong time". Udahlaaa salah semuaaa jadinyaa...

    Apalagi keluhannya mengenai roti sehat ittuu... dimana gak semua orang bisa sekedar "makan".. Sedih juga yaa... resiko besar seorang public figure.

    ReplyDelete
  11. Iya ya, di era sekarang menjaga kewarasan diri itu pastinya nggak mudah. Ada banyak distraksi, terutama rasa cemas, khawatir, dan kecewa sama kondisi yang "kok makin berat?"

    Sebenernya aku tim netral terkait Maudy, dan dari kacamata ku, ia hanya berusaha mengajak pada berkesadaran tanpa menyinggung situasi, kalau cek tanggal postingannya. Namun, dia public figur, dan kondisi orang-orang cukup sensitif pastinya menyulut perdebatan sengit. So far dia sudah minta maaf dengan sangat sopan.

    Mindfulness ini emang nggak mudah dan nggak semua orang bisa dapat kesempatan yang sama. Mudah-mudahan perlahan kita bisa minimal hadir sepenuhnya dalam satu momen tertentu tanpa distraksi.

    Berkesadaran sepenuh hati tanpa menghilangkan empati pada sekitar.

    ReplyDelete
  12. Pendekatan mindfulness ala Maudy Ayunda yang diulas di sini emang makin relevan pas situasi lagi padat-padatnya. Bagian yang paling kena itu soal gimana kita menyaring distraksi dan fokus ke hal-hal yang benar-benar dalam kendali kita sendiri.

    ReplyDelete