Showing posts with label keuangan. Show all posts

Berinvestasi di Tengah Karut-Marut Kondisi Ekonomi, Masih Mungkinkah?

Banyak kalangan yang mengeluhkan kondisi finansialnya hari-hari ini. Paling tidak, dari pengalamanku sendiri, keluhan dari kawan-kawan yang tergolong kelas menengah, namun tak berkutik terimbas kebijakan dan berbagai kondisi di tanah air, ketidakpastian ekonomi dan inflasi yang terus meningkat. Yang berada dalam kelompok ini, repot, kan? Mau ikut daftar penerima bansos kok ya tidak pantas. Mau pura-pura baik-baik saja, nyatanya tidak. Tapi, hidup harus terus berlangsung, bukan? Pada akhirnya yang dibutuhkan adalah seni bertahan hidup dan berjuang untuk mempersiapkan masa depan, termasuk menabung dan berinvestasi.


Baca juga: Mengapa Perempuan Perlu Bekerja?

Berangkat dari pengalaman menjalani frugal living, aku mau bagikan beberapa pengalaman pribadi dan sejumlah tips dari berbagai sumber. Berawal dari tabungan SBN berjangka 2 tahunku yang selesai. Jumlahnya tak besar. Saat itu pertimbangannya adalah daripada dimasukkan ke tabungan biasa dengan potongan serta kemungkinan cepat habis karena kemudahan akses. Nah, lalu berpikir tidak dimasukkan ke SBN lagi, tapi ke reksa dana saja. Maka aku carilah referensi tentang memilih reksa dana yang tepat.


Reksa Dana sebagai Pilihan Berinvestasi

Dari sejumlah referensi yang kubaca, Reksa Dana Pasar Uang merupakan salah satu pilihan yang minim risiko dan cocok untuk pemula atau yang belum cukup pengalaman berinvestasi. Bagi yang sama sekali belum tahu, Reksa Dana Pasar Uang ini adalah jenis reksa dana yang menginvestasikan dananya ke instrumen pasar uang jangka pendek, seperti deposito, Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Surat Berharga Negara (SBN), Surat Berharga Komersial (SBK), atau obligasi dengan masa jatuh temponya di bawah satu tahun. Yang aku sempat ikut kemarin adalah SBN.

Investasi jenis ini menawarkan potensi imbal hasil yang menarik dan likuiditas tinggi, bisa dicairkan kapan saja tanpa penalti. Selain investasi bisa dimulai dengan nominal kecil, banyak produk Reksa Dana Pasar Uang yang tak mengenakan biaya transaksi. 

Namun, ada begitu banyak pilihan reksa Reksa Dana Pasar Uang di pasaran. Mana yang sebaiknya dipilih?

Ada tiga pertimbangan utama dalam memilih Reksa Dana Pasar Uang. Pertama, tujuan keuangan dan jangka waktu; kedua, profil risiko; ketiga, kinerja dan kredibilitas. 

1. Tujuan dan Jangka Waktu

Pastikan tujuan kita saat memutuskan untuk memilih Reksa Dana Pasar Uang sebagai investasi.

Jika kebutuhannya untuk waktu yang singkat, semacam tabungan jangka pendek dengan waktu kurang dari satu tahun, pilihlah reksa dana pasar uang untuk dana darurat. Untuk jangka pendek ini bagaimanapun reksa dana masih lebih menguntungkan dibandingkan tabungan biasa. 

Jika diperuntukkannya sebagai tabungan jangka menengah dengan kisaran waktu 2 hingga 5 tahun, pilihlah reksa dana pendapatan tetap atau campuran. Pilihan ini tepat bagi yang ingin menyiapkan dana sekolah anak atau kemungkinan melanjutkan sekolah buat diri sendiri atau pasangan.

Jika keperluannya menabung untuk jangka panjang, lebih dari  5 tahun, pilihlah reksa dana saham untuk hasil optimal. Contohnya tujuan investasi kita adalah dana pensiun yang baru akan dipakai setelah 5 tahun atau lebih ke depan. 

Baca juga: Slow Living, Pilihan Hidup Lebih Berkesadaran


2. Profil Risiko

Kita perlu siap dengan kemungkinan risiko yang kita hadapi saat memilih Reksa Dana Pasar Uang. Ada tiga profil yang bisa kita pilih sesuai dengan toleransi kita terhadap risiko:

Konservatif, memiliki toleransi risiko rendah, cocok untuk reksa dana pasar uang.

Moderat, fluktuasi sedang, cocok untuk reksa dana pendapatan tetap atau campuran.

Agresif, fluktuasi tinggi karena bertujuan mendapatkan keuntungan maksimal; cocok untuk reksa dana saham.


3. Kinerja dan Kredibilitas

Poin-poin di bawah ini penting untuk kita perhatian agar pengelolaan produk Reksa Dana Pasar Uang dilakukan secara baik dan profesional.

Manajer Investasi (MI) 

Produk Reksa Dana Pasar Uang yang kita pilih harus memiliki legalitas yang jelas. Pastikan MI terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Kinerja Historis

Ketika memilih satu produk Reksa Dana Pasar Uang, cek kinerja historis dengan memperhatikan konsistensi return dalam kurun 1-3 tahun terakhir (ada juga yang menyarankan 3-5 tahun). Jadi, bukan keuntungan sesaat. 

Asset Under Management (AUM)

Seperti halnya kinerja historis yang bukan jaminan produk terbaik, dana kelolaan atau AUM tetap perlu dijadikan pertimbangan. AUM menjadi salah satu indikator besaran kepercayaan investor terhadap produk reksa dana tersebut. 

Indikator Risiko

Tingkat penurunan nilai dan biaya pengelolaan yang efisien juga perlu menjadi perhatian. Makin kecil persentasenya dari kedua poin ini, makin baik investor yang kita pilih. 

Setelah menemukan Reksa Dana Pasar Uang yang dirasa tepat dengan poin-poin di atas, dan jumlahnya lebih dari satu, saringan berikutnya adalah melakukan pengecekan rating. Ada cukup banyak lembaga keuangan yang memberikan rating produk reksa dana berdasarkan performa, risiko, dan manajemen. Pilih produk dengan rating tinggi.

Terakhir, tentukan platform investasi yang terpercaya, jika akan membeli produk reksa dana melalui platform digital. Atau langsung membeli melalui bank atau perusahaan sekuritas yang bekerja sama dengan Manajer Investasi. 

Baca juga: Persiapan Memiliki Rumah Sendiri


Mengubah Pola Pikir dan Gaya Hidup

Apakah kita masih bisa menabung dan berinvestasi dengan keuangan yang pas-pasan? Bisa! Dengan pengalaman menjalani menjalani frugal living, aku bisa mengatakan bahwa menabung dan berinvestasi bisa dilakukan. Tentu saja bukan berarti uang datang dari langit dengan tiba-tiba, atau pohon uang di halaman berbuah lebat. Tak ada gaib-gaiban. Menabung dan berinvestasi bisa dilakukan dengan upaya yang serius. Kita tak berbicara angka di sini, ya. Namun, angka berjalan sejajar dengan upaya kita.

Hal yang menjadi syarat utama kita bisa menabung dan berinvestasi adalah kemampuan mengelola keuangan. Uang seberapapun besarnya bakal cepat menguap jika tak dibarengi dengan pengelolaan yang tepat, bukan? Dan hal itu sangat terkait erat dengan pola pikir dan gaya hidup yang kita pilih.

Nah, apa yang sebaiknya dilakukan di tengah krisis finansial saat ini, terutama bagi yang penghasilannya pas-pasan? Hal pertama dan utama sebelum menggeser gaya hidup dan rencana detail lainnya adalah mengubah mindset; memastikan memahami perbedaan keinginan dan kebutuhan. Memang ada orang yang sulit membedakan kebutuhan dan keinginan? Ada! Ada banyak orang yang terbiasa hidup dalam kemudahan, tidak tahu perbedaan dari keduanya.

Langkah nyata dalam mengubah gaya hidup adalah dengan membuat prioritas. Kebutuhan pokok yang utama, selebihnya bisa ditunda atau ditiadakan. Kebiasaan ngopi cantik di kafe bisa dihilangkan. Kegemaran berburu benda konsumsi yang lagi viral, dihentikan. Yang senang berganti baju dan perangkat elektronik, direm keinginannya.

Jika memungkinkan, buatlah catatan keuangan yang detail. Buat perencanaan ketat penggunaan uang bulanan, misalnya 30 persen tabungan/investasi, 50 persen kebutuhan harian, sisanya untuk lain-lain kebutuhan mendesak.   

Jaga kesehatan. Ini meliputi kesehatan fisik dan mental. Usahakan untuk makan makanan sehat, latihan badan secukupnya, tidur berkualitas, dan mengelola stres dengan baik. 

Baca juga: Menemukan Makna Hidup bersama Viktor E Frankl


Contoh beberapa tindakan yang bisa dilakukan:

1. STOP ngutang. Ada yang seolah kegiatan berutang itu hobi. Tak lain karena tak bisa memisahkan keinginan dan kebutuhan. Apalagi di masa kini akses berutang sedemikian mudah. Berbagai platform pinjaman wara-wiri di berbagai media. Utang ini dalam bentuk tunai maupun cicilan, say "NO".

2. Perkuat sumber penghasilan yang sudah ada. Sumber keuangan ini bisa usaha yang tengah dijalankan, maupun gaji dari tempat kerja. Tinggalkan dulu keinginan melakukan ekspansi usaha; jangan terburu nafsu keluar dari tempat kerja karena ketidaknyamanan yang dirasakan.

3. Hindari investasi berisiko tinggi. Investasi jenis ini memang menawarkan nilai imbal balik yang tinggi. Namun, kemungkinan lost jelas nyata juga.

4. Tingkatkan kapasitas diri dengan berbagai keterampilan dan kemampuan baru. Selain membuka peluang sumber penghasilan baru, bisa juga menjadi sarana terapi diri.

5. Dengan kondisi yang penuh ketidakpastian saat ini, menyiapkan dana darurat perlu dilakukan. Seberapa pun yang bisa disisihkan, sisihkan tiap hari jika memungkinkan. 

Buat yang hidup sendiri--seperti saiyah--barangkali tak terlalu sulit, karena hanya perlu mendisiplinkan diri sendiri. Untuk yang sudah berkeluarga, apalagi punya kewajiban menyokong keluarga besar pasti lebih sulit. Dibutuhkan komitmen bersama untuk menumbuhkan kesadaran mengubah gaya hidup bareng-bareng. 

Ada banyak referensi lain yang bisa dipelajari. Banyak situs yang menawarkan pembelajaran soal keuangan, baik gambaran umum maupun yang lebih spesifik sebagai bagian dari promosi lembaga keuangan tertentu. Ada kawan Lifestyle Blogger Madura yang juga rajin menulis tema keuangan keluarga, bisa tengok-tengok blognya. 

Baca juga: Berdamai dengan Inner Child

Dan seperti yang kutulis di awal, buatku sendiri kondisi sekarang ini tidak mudah. Sejauh ini terus berusaha untuk melakukan yang terbaik. Semoga kita semua berhasil melewati kondisi tak nyaman ini. Namaste