Tujuh Bangunan Bersejarah di Bandung

Memasuki September, aneka hal menarik seputar Bandung sudah pasti bakal bermunculan. Baik Bandung tempo dulu, maupun Bandung masa kini. Bandung, si Kota Kembang yang tak pernah habis dibicarakan. Sejarahnya, wilayahnya, keunikan ragam budayanya, sosok-sosoknya, dan tren yang sering berangkat kota ini. Pada jelang ulang tahun Bandung, aku mau coba tulis beberapa sisi dari kawasan yang kudiami sudah lebih dari setengah umurku ini. Kali ini catatan bangunan bersejarah di Kota Bandung.


Baca juga: Menjajal Kuliner Khas Pasar Cihapit

Ngomong-ngomong, mengapa Bandung disebut Kota Kembang? Sebetulnya, tak ada yang tahu pasti. Karena sejarah juga tak mencatat detail soal itu.

Pada masa lalu tak banyak taman di Kota Bandung. Ada aneka bunga dijumpai di Taman Sari (Jubileum Park). Bunga-bunga itu menghiasi taman bersama lebiih dari 1000 jenis tanaman lain, baik pohon pelindung berupa tanaman keras dan pohon-pohon perdu. Taman Sari merupakan lahan hijau bergaya ‘Indisch Tropische Park’ dengan luas 5 Ha, memanjang menyusuri Lembah Cikapundung. Taman ini merupakan Hutan Tropis Mini yang pernah dimiliki Kota Bandung. Sebuah taman yang asri, namun tak lantas menjadikan Bandung layak menyandang gelar Kota Kembang.

Pada pertemuan Pengurus Besar Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula di Bandung muncul istilah dari salah satu peserta, Bandung sebagai De Bloem der Indische Bergsteden (bunganya kota pegunungan di Hindia Belanda). Namun istilah ‘bunga’ di sini diduga bukan dari makna bunga yang sesungguhnya namun sebagai pengganti istilah bagi nonie-noniek geulis Indo Belanda dari Onderneming Pasirmalang yang sengaja dihadirkan dan ‘dipersembahkan’ bagi para tamu. 

Kalau memang muasal istilah ‘Kota Kembang’ dari penyebutan terakhir itu, masih tepatkah mempertahankan julukan itu?


Gedung Merdeka

Bicara tentang Bandung tempo dulu tak akan lengkap kalau tak menyebut Societeit Concordia atau yang kemudian hari dikenal sebagai Gedung Merdeka.

Societeit Concordia dibangun di sudut Groote Postweg (sekarang Jl. Asia Afrika) dan Bragaweg (Jl. Braga) pada 29 Juni 1879. Pembangunan gedung ini sebagai salah yang dipersiapkan untuk kepindahan ibukota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung, selain berbagai fasilitas umum lain yang wajib dibangun seperti sekolah, stasiun, kantor pemerintahan, bank, pasar, tempat hiburan, dan infrastruktur kota. Societeit Concordia dibangun atas prakarsa para pengusaha Belanda, pemilik kebun teh, perwira, pembesar, dan orang-orang Belanda yang berdomisili di Bandung. Mereka berencana untuk menjadikan gedung ini sebagai tempat pertemuan yang baru. Sebelumnya, pertemuan mereka berlangsung di Warung De Vries yang berhadapan dengan gedung baru ini (sekarang menjadi kantor OCBC Niaga).

Baca juga: Braga, Kawasan Penting Bandung Tempo Dulu

Bangunan ini diperbarui pada tahun 1921, dengan gaya arsitektur modern (Art Deco) karya CP Wolff Schoemaker. Gedung ini pun menjadi ajang pertemuan para orang kaya dan sosialita dari negeri Belanda tersebut. Sebuah gedung pertemuan 'super club' yang bisa dikatakan termewah, terlengkap, serta paling eksklusif dan modern di Nusantara.

Perombakan berikutnya dilakukan pada 1940 dengan gaya arsitektur International Style, dengan arsitek AF Aalbers. Ada perubahan mencolok dari gaya baru yang dibuat Aalbers. 

Pada masa pendudukan tentara Jepang (1942 – 1945), gedung ini sempat difungsikan sebagai pusat kebudayaan. Perombakan kembali dilakukan pada tahun 1955 untuk keperluan Konferensi Asia Afrika, hingga seperti yang kita bisa lihat saat ini. Di tahun yang sama Presiden Sukarno mengganti nama gedung menjadi Gedung Merdeka.


Gedung Sate

Dibutuhkan 6 juta gulden untuk membangunnya. Angka itu tersimbol pada enam buah ornamen sate bertusuk pada menara bangunan. Yup, Gedung Sate, salah satu gedung monumental di Bandung.

Gouvernements Bedrijven (GB). Itulah namanya pada masa Hindia Belanda. Gedung ini adalah rancangan sebuah tim yang terdiri dari arsitek Nederland, Ir. J Gerber, bersama Ir. Eh. De Roo dan Ir. G. Hendriks, serta pihak pemerintah Bandung yang diketuai Kol. Pur. VL Slors. Peletakan batu pertama dilakukan pada 27 Juli 1920, oleh puteri sulung Walikota Bandung, B Coops, Johanna Catharina Coops, mewakili Gubernur Jenderal di Batavia, JP Graaf van Limburg Stirum. Pembangunan GB konon melibatkan 2.000 pekerja, 150 orang diantaranya pemahat, atau ahli bongpay, pengukir batu nisan, dan pengukir kayu berkebangsaan Cina yang berasal dari Konghu atau Kanton, dibantu tukang batu, kuli aduk, dan peladen yang berasal dari penduduk Kampung Sekeloa, Kampung Coblong Dago, Kampung Gandok, dan Kampung Cibarengkok. Pembangunan GB tuntas pada September 1924, termasuk kantor pusat PTT (Pos, Telepon, dan Telegraf) dan Perpustakaan.

Berbagai aliran arsitektur dapat ditemukan pada GB. Gerber mengambil tema Moor Spanyol, Rennaisance Italia, sekaligus Asia, termasuk menara yang ala pura Bali. Fasade (tampak depan) Gedung Sate juga sangat diperhitungkan yakni mengikuti sumbu poros utara-selatan, dengan menghadap Gunung Tangkuban Parahu pada bagian utara.

GB atau Gedung Sate mampu bertahan hingga kini karena menggunakan bahan berkualitas, kepingan batu besar yang diambil langsung dari kawasan perbukitan batu di Bandung Timur (sekitar Arcamanik dan Gunung Manglayang). Sedangkan teknis konstruksi menggunakan cara konvensional yang profesional dengan memperhatikan standar teknik. 

Baca juga: Pilihan Bakso Malang di Bandung


Jaarbeurs

Inilah salah satu hasil karya CP Wolff Schomaker dan RLA Schomaker, arsitek dua bersaudara yang terkenal itu. Gedung utama Jaarbeurs.

Awalnya adalah Walikota Bandung Meneer B Coops dan Bandoeng Vooruit yang memprakarsai kegiatan ini: Jaarbeurs atau Annual Trade Fair, atau terjemahan bebasnya 'bursa dagang tahunan'. Tahun 1920 sampai 1924 Jaarbeurs menjadi objek wisata berupa pameran dagang tahunan yang biasa diselenggarakan sekitar bulan Juni-Juli. Dilaksanakan di area sebelah Selatan lapangan olah raga Nederland Indie Athletiek Unie-NIAU (sekarang Gelora Saparua) dengan bangunan-bangunan semi permanen. Suasana Jaarbeurs dikabarkan amat meriah. Tersedia panggung pertunjukan dan aneka stand berisi produk industri dan perkebunan dari Bandung. Kegiatan ini sekaligus menjadi promosi pariwisata Bandung saat itu. Pengunjung bukan hanya masyarakat Bandung, tapi juga wisatawan dan pengusaha dari daerah lain bahkan mancanegara. Hotel dan villa pun kebanjiran tamu.

Tahun 1925 gedung utama Jaarbeurs selesai dibangun. Gedung di Jalan Aceh ini bergaya art deco dengan tiga patung torso Atlas bugil di bagian atapnya dan tulisan Jaarbeurs di bagian bawah. Tak seperti gedung-gedung bersejarah di Bandung yang tidak terawat, bahkan sudah raib, Gedung Jaarbeurs hingga kini masih terawat dan masih dalam bentuk aslinya (sekarang Kologdam). Hanya, patung-patungnya pernah ditutup untuk waktu yang lama karena dianggap melanggar kesopanan. Namun kini sudah dibuka kembali.

Baca juga: Tahu Bandung dan Kawasan Wisata Tahu Cibuntu Babakan


Masjid Agung

Masjid Agung Bandung mulai dibangun pada akhir tahun 1811. Pembangunan ini sejalan dengan Negorij Bandong yang baru dipindahkan dari Krapyak.

Awalnya bangunan hanya terbuat dari kayu dan bambu. Penambahan kayu yang lebih kokoh dilakukan pada tahun 1825. Perubahan besar baru dilakukan pada tahun 1850 oleh Bupati Wiranatakusumah IV (1846-1874). Masjid Agung sempat mengalami berbagai renovasi lagi di abad 20. Tahun 1905 muncul istilah Bale Nyuncung, dengan adanya atap bertumpang tiga dan berujung lancip khas masjid Nusantara. Setengah abad kemudian Presiden Soekarno memasang kubah bawang di atasnya, menggantikan atap ‘nyungcung’.

Dengan beberapa kali perubahan, kini tak ada bangunan asli yang tersisa dari Masjid Agung Bandung. Pada Juni 2003 Masjid Agung diresmikan dengan nama Masjid Raya Bandung, dengan bangunan bercorak Arab menggantikan bangunan lama yang khas Sunda.


Katedral Bandung

Pada 1878 Bandung telah menjadi ibu kota Karesidenan Priangan, namun belum memiliki rumah ibadah untuk umat Katolik. Pastor kemudian didatangkan dari Cirebon yang berada di bawah Vikariat Apostolik Batavia. Setelah ada imam, gedung gereja pun dibangun di Schoolweg yang kini menjadi Jalan Merdeka. Awalnya gereja hanya berukuran 8x21 meter persegi. 

Gereja yang diberi nama Santo Franciscus Regis ini diberkati oleh Mgr. W. Staal pada 16 Juni 1895.

Pada 1 April 1906, Bandung memperoleh status Gemeente dan berhak menyelenggarakan pengelolaan kota sendiri. Pembenahan di antaranya fasilitas publik termasuk gereja. Setelah terpisah dari Distrik Cirebon, Bandung ditetapkan sebagai stasi baru di Jawa Barat. 

Seiring pertambahan jumlah umat, Gereja St. Franciscus Regis akhirnya diperluas. Desain gereja baru ini digarap oleh arsitek terkenal Belanda, C.P. Wolff Schoemaker. Pembangungan tuntas, yang lantas diberkati oleh Mgr. Luypen pada 19 Februari 1922, dan dinamai Santo Petrus. Sementara gereja dan pastoran lama, kini menjadi bagian dari bangunan Bank Indonesia.

Demikianlah, gereja yang berlokasi di Jalan Merdeka ini telah menjadi saksi perkembangan umat Katolik di Keuskupan Bandung.

Baca juga: Menjenguk Makam KAR Bosscha


Penjara Banceuy

Menyebut penjara Banceuy orang lantas akan teringat Bung Karno. Pada 29 Desember 1929, Soekarno yang saat itu tercatat sebagai aktivis dan penggiat Partai Nasional Indonesia (PNI) ditangkap dan dijebloskan ke Penjara Banceuy.

Penjara Banceuy dibangun oleh pemerintah Belanda pada tahun 1877, di Bantjeujweg. Awalnya penjara ini diperuntukkan bagi tahanan politik tingkat rendah dan kriminal. Tahanan politik terletak di lantai atas, sedangkan tahanan rakyat jelata di lantai bawah. Soekarno bersama Maskoen, Soepriadinata, dan Gatot Mangkoepraja mendiami lantai satu atas Penjara Banceuy selama 8 bulan. Di dalam sel berukuran 1,5 x 2,5 meter inilah Soekarno menyusun pledoi yang sangat terkenal, ‘Indonesia Menggugat’, yang dibacakan di sidang pengadilan di Gedung Landraad (kini bernama Gedung Indonesia Menggugat).

Pada tahun 1983, bangunan Penjara Banceuy dirobohkan. Kini lokasi itu menjadi deretan pertokoan bernama Banceuy Permai. Penjara Banceuy sendiri dipindahkan ke Jalan Soekarno-Hatta.


Pasar Baru

Pasar Baru merupakan pasar tertua di Kota Bandung yang masih berdiri. Mengapa disebut ‘baru’? Karena pasar ini memang baru dibangun sebagai pengganti pasar lama di daerah Ciguriang (sekarang Jalan Kepatihan) yang terbakar akibat kerusuhan Munada pada 1842.

Alkisah, adalah Munada, seorang keturunan Cina-Jepang yang mendapatkan kepercayaan dari Asisten Residen saat itu, Nagel. Munada dipercaya untuk pengadaan alat transportasi kereta angkutan. Munada menyelewengkan uang kepercayaan dari Nagel untuk berfoya-foya hingga habis. Beruntung Nagel masih berbaik hati. Pada kesempatan kedua, Nagel memberi kepercayaan Munada untuk menjual enam pasang kerbau miliknya. Tak belajar dari kesalahan, Munada kembali menyalahgunakan kepercayaan tersebut. Bukannya memberikan uang hasil penjualan kerbau, Munada kembali menghabiskannya. Kesabaran Nagel habis. Munada pun ditangkap, ditahan, dan disiksa. Munada menaruh dendam. Saat ada kesempatan dan dengan bantuan beberapa orang, termasuk Rd. Naranata, mantan jaksa Kabupaten Bandung yang telah dipecat Wiranatakusumah III dan Nagel, ia membakar Pasar Ciguriang. Rata dengan tanah. Ia juga menyerang Asisten Residen Nagel dengan golok hingga terluka parah dan meninggal keesokan harinya.

Baca juga: LCLR di Bandung, Pesona Musik 70-80an

Para pedagang yang tercerai berai melakukan aktivitas perdagangan di Pangeran Sumedangweg (sekarang Jalan Otto Iskandardinata). Pada tahun 1884 mereka ditampung di sisi barat kawasan Pecinan, yang kemudian hari dikenal sebagai kawasan Pasar Baru. Lebih dari 20 tahun kemudian barulah mulai dibuat bangunan pasar. Jajaran pertokoan dibangun di bagian paling depan, sedangkan di belakangnya diisi oleh los pedagang. Bangunan ini kemudian dikembangkan pada tahun 1926 dengan dibangunnya kompleks pasar permanen yang lebih luas dan teratur. Pasar Baru Bandung menjadi kebanggaan warga kota karena meraih predikat sebagai pasar terbersih dan paling teratur se-Hindia Belanda pada tahun 1935.

Tujuh dulu ya. Masih banyak sekali cerita bangunan bersejarah di Bandung. Akan kubagikan dalam beberapa catatan ke depan. Selalu menarik bukan bukan, bercerita soal kota atau kawasan kita tinggal? Sedikit mengulik, akan kita temukan hal-hal unik yang seringkali terabaikan karena rutinitas. Bukan hanya wilayah yang kita tinggali, buatku menarik juga mencatatkan pengalaman mata dan batin saat mengunjungi kota lain. Setidaknya aku pernah mengunjungi beberapa kota di lima pulau besar di Indonesia plus Bali. Untuk menguji ingatan, sepertinya perlu dituliskan ulang. Pokoknya, wilayah Bandung Raya, bolehlah tanya ke Ibu Meong. Kota lain, perlu belajar banyak. Kalau soal Balikpapan, bisa tanya ke penulis Balikpapan soal pernak-pernik bersama travel blogger Balikpapan

Sumber catatan ini dari buku seri Bandung milik Haryoto Koento dan materi Museum Kota Bandung. Almarhum yang semasa hidupnya dijuluki Kuncen Bandung ini menuliskan perihal bangunan bersejarah di Bandung dan aneka pernik lainnya dengan sangat menarik. 


No comments