Perempuan-perempuan dalam Karya Pramoedya Ananta Toer

Menjadi perempuan itu tak mudah. Terlebih di dunia yang dikendalikan oleh sistem patriarki. Di sisi lain, menjadi perempuan itu menyenangkan. Perempuan itu kuat, penyayang, cerdas, peka. Tapi, tak sedikit perempuan yang merasa lemah, tak berdaya, tak leluasa melakukan banyak hal. Nah, apa yang terjadi? Faktanya ada begitu banyak perempuan yang tercatat sejarah. Begitu pula perempuan-perempuan yang dimunculkan oleh karya sastra. Kali ini, mari kita tengok perempuan-perempuan dalam karya Pramoedya Ananta Toer, yang hari ini merupakan tanggal kelahirannya. 


Baca juga: Menjadi Perempuan Mandiri dan Merdeka

Karya Pram yang pertama membiusku adalah Bumi Manusia. Merasa apa kukenal sebelumnya tentang perempuan dalam berbagai wacana, dijungkirbalikkan. Aneka stereotip dan pelabelan terhadap perempuan yang pernah kukenal dari lingkungan sekitarku menjadi satu hal yang kemudian kupertanyakan. Kemudian, baru kutahu, tema perempuan dalam karya Pram bukan hanya dalam Bumi Manusia. 

Seperti Apa PAT Menggambarkan Perempuan?


Bumi Manusia

Kita sudah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya sehormat-sehormatnya.

Demikian Nyai Ontosoroh dalam “Bumi Manusia”. Ungkapan yang menjadi penutup buku pertama tetralogi Pulau Buru itu terus terngiang hingga bertahun kemudian. 

Namanya Sanikem. Ketika anak gadisnya mulai tumbuh mekar, sang ayah menjualnya kepada seorang administratur Belanda, Herman Mellema. Jadilah Sanikem seorang nyai yang kemudian berganti nama menjadi Nyai Ontosoroh. Pada masa itu, meski tak dinikahi secara resmi, posisi seorang nyai cukup penting. Ia diberi tanggung jawab menyenggarakan beberarapa urusan dalam rumah tangga. Termasuk mengelola usaha seperti yang dilakukan Nyai Ontosoroh. 

Untunglah, Sanikem muda yang saat dijual ayahnya masih lugu itu tak tinggal diam. Ia belajar. Ia membekali diri dengan banyak hal. Ia membaca buku dan majalah. Ia belajar bahasa Belanda. Maka bertransformasilah ia menjadi perempuan yang kuat, mandiri, cerdas. 

Baca juga: Sequioa, Catatan Seorang Lelaki untuk Anaknya


Gadis Pantai 

Novel ini memaparkan dengan gamblang perbedaan mencolok antara kelas-kelas dalam masyarakat yang ada di masa kolonial. Adanya jurang yang lebar dan dalam antara kaum laki-laki dan perempuan, antara bangsawan dan rakyat jelata, antara yang kaya dan miskin, antara priyayi kota dan gadis pantai. 

Masyarakat kota sering kali diasosiasikan sebagai masyarakat beradab. Sebaliknya, masyarakat desa yang dianggap sebagai masyarakat yang tidak beradab. Anggapan era feodal ini masih kita temukan hingga kini, ketika masyarakat desa hanya dianggap sebelah mata. Kuat sekali, memang ya, nilai yangpernah ditanmkan di masa lalu itu. 

Itulah yang dialami si Gadis Pantai (GP), yang meski telah dipersunting oleh bendoro, tetap saja menerima ejekan sebagai orang pinggiran. Sementara ia pun menyadari, bahwa dirinya tak lebih sebagai alat, perangkat, dalam rumah tangganya tersebut. Namun Pram menggambarkan GP sebagai sosok yang kritis, mandiri, dan menolak tunduk pada kekuasaan kaum priyayi. Meski telah dinikahi priyayi, GP membela para nelayan, kalangan ia berasal. 

Baca juga: Pernikahan dan Jatah Mantan


Larasati

Ini adalah novel percintaan. Tokoh utamanya, Larasati, adalah seorang seniman. Melalui pekerjaan dan aktivitias yang dilakoninya, ia menyebarkan semangat revolusi. Semangat yang memang sangat dibutuhkan di masa itu. Meski tak terjun ke medan pertempuran, Larasati melakukan tugasnya dengan baik sebagai pendukung revolusi. 

Larasati, perempuan tangguh yang memikat menjadi sosok yang dipakai PAT sebagai gambaran perihal makna cinta yang sesungguhnya di masa revolusi.


Cerita Calon Arang

Nama Calon Arang telah menjadi semacam legenda. PAT meramunya menjadi sebuah cerita untuk memotret perempuan di tengah dominasi kaum patriarki. Calon arang yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini menyampaikan gugatannya kepada masyarakat dan pihak kerajaan atas kondisi inferior yang dialaminya. 

Ada dua tokoh lain dalam cerita ini, yakni Ratna Manggali dan Wedawati. Ratna Manggali mewakili perempuan yang bisa menerima status dan kondisinya dalam masyarakat. Sedangkan Wedawati memilih untuk tidak menikah dan mematutkan dirinya sebagai pertapa perempuan. 

Baca juga: Menerbitkan Buku Antologi secara Mandiri


Midah, si Manis Bergigi Emas

Ini adalah parade kisah hidup yang getir. Jika ada orang yang melulu tertimpa kemalangan, Midahlah salah satunya. Dilarang sang ayah menjadi penyanyi keroncong, dinikahkan paksa, kabur demi kebebasan dengan menggembol bayi dalam kandung. Tak berhenti di situ, Midah jatuh cinta kepada lelaki pecundang yang kemudian mencampakkannya. 

Tapi Midah tidak menyerah. Ia terus bernyanyi dan bernyanyi, sebagai bentuk perlawananannya terhadap masyarakat patriarki yang congkak. Juga demi kecintaannya terhadap keroncong, demi anak keduanya, Rodjali, dan demi dirinya sendiri. 

Perempuan-perempuan yang ditampilkan PAT dalam karyanya adalah sosok-sosok yang tangguh yang berani melawan. Mereka datang dari kalangan berstatus sosial rendah, terpinggirkan, tak terpelajar, tapi tak surut dalam menunjukkan kemauan kuatnya. Sebagai perenpuan yang dibesarkan dalam tradisi inferior, secara pribadi tulisan-tulisan tentang perempuan menggugahku. Barangkali secara spesifik perlu pula menuliskannya dengan tema khusus dalam blog.

Baca juga: Letting Go, Buku tentang Upaya Membebaskan Diri

Pramoedya Ananta Toer (PAT) telah berpulang pada 30 Juni 2006. Tapi karya peninggalan tokoh sastra kelahiran Blora, 6 Februari 1925 ini telah menjadi bekal penting bagi banyak orang, baik dalam berkarya maupun untuk kehidupan pribadi. Tulisannya yang mengangkat perempuan yang notabene dianggap kaum kelas dua, tentang perlawanan dan perjuangan, tentang kegigihan, sungguh menginspirasi.

2 comments

  1. Belum pernah baca buku-buku PAT, tapi setelah membaca tulisan ini, jadi penasaran pengen baca kisah perempuan-perempuan hebat di atas

    Makasih sudah menuliskan ini, Mba. Makasih juga backlink-nya 😊

    ReplyDelete
  2. kalau suka sastra, apalagi dengan latar belakang masa perjuangan, pasti suka deh :)

    ReplyDelete