Christian Mara, Pejuang Seni Budaya Adat Dayak Berpulang

Kapan hari aku membuat konten untuk media sosial dengan memakai musik latar yang terdengar unik tanpa aku tahu persis itu musik khas mana. Muncul satu komentar yang mengatakan bahwa musik itu mengingatkannya pada sape, membuatnya merindukan Kalimantan. Eits, apa itu sape? Kok aku nggak tahu. Ternyata sape adalah alat musik petik tradisional khas Dayak. Informasinya lantas tersambung saat Rabu (19/08) kudapati kabar berpulangnya Christian Mara, seniman dan budayawan Dayak yang juga dikenal sebagai pembuat sape. Sebuah kebetulan yang mendorongku untuk sekadar menuliskan ulang sosok penting masyarakat Dayak ini.

Christian Mara (ilustrasi: FB Margareta Uliandari)

Baca juga: Sesepuh Jawa Barat, Solihin GP Berpulang

Aku memiliki sedikit persinggungan dengan Dayak dan Kalimantan Barat. Adikku menikahi perempuan Dayak dan aku hadir dalam pernikahan mereka di Sintang. Kami melalui perjalanan darat untuk menuju lokasi yang saat itu ditempuh dalam waktu 13 jam (tahun 2007). Sanggau yang merupakan rumah tinggal Christian Mara termasuk kawasan yang kami lewati. Mungkin faktor itu sedikit memengaruhiku. Namun, lebih dari itu sosok masyarakat lokal yang terus memperjuangkan tradisi dan melestarikan budaya--menurutku--perlu mendapatkan apresiasi yang layak. Karena tak mengenalnya secara langsung, aku mencoba mencari referensi dari berbagai sumber. Barangkali ada kawan-kawan Dayak yang kebetulan singgah di blog ini, jika ada yang perlu dikoreksi, silakan koreksi, ya.


Christian Mara dan Hidup yang Tak Mudah

"Beliau asli Jangkang, Kalimantan Barat. Tapi karena karyanya tak cukup untuk hidup di Indonesia, nyeberang ke Sarawak dan diapresiasi besar di sana. Lalu, setelah kembali, membuka studio pembuatan instrumen Dayak dan wafat di Pontianak."

Demikian sedikit informasi yang dibagikan kawan Dayak @DjolaFix di X Rabu lalu. 

Christian Mara (sering pula ditulis Cristian Mara) lahir di Jangkang, Sanggau, Kalimantan Barat, pada 21 Juli 1964. Mara dibesarkan di tengah budaya yang menjadikan musik sebagai bagian dari tradisi. Permainan musik dapat disaksikan di berbagai perhelatan. Paling tidak dalam setiap upacara adat dan kematian musik ikut mengambil peran. 

Suatu kali Mara kecil menyaksikan orang bermain musik. Ada sesuatu yang tergerak di dasar hatinya. Ia pun ingin bermusik. Ia ingin bernyanyi. Ia mau berkesenian. 

Baca juga: 29 Februari dan NH Dini

Pulang ke rumah, Mara mengambil kayu yang tersedia. Saat itu adanya kayu pelai atau jelutung. Hanya dengan perangkat sekadarnya, parang, ia membentuknya menjadi alat musik. Berulang kali ia berhadapan dengan kegagalan hingga akhirnya terwujud sesuai dengan yang diharapkan. 

Dengan alat musik buatannya itulah Mara mulai belajar musik. Ada sejumlah kawan yang membersamainya dalam proses itu. Sayangnya pelajaran membuat sape dan belajar bermusik itu mesti terhenti karena Mara tak lagi punya teman yang bisa saling mendukung. Teman-temannya lulus dan melanjutkan ke sekolah lanjutan di ibu kota kecamatan. 

Orang tua Mara tak sanggung menyekolahkan anaknya ke SMP. Dengan sepenuh tekat, Mara mendatangi kepala sekolah SMP untuk meminta izin bersekolah. Untuk menemui pemimpin sekolah itu Mara harus menempuh perjalanan selama dua hari. Tidak ada kendaraan. Dia hanya berjalan kaki dan membawa serta oleh-oleh dari kampungnya berupa tiga gantang gabah dan seekor ayam jantan. 

Kepala sekolah memberikan izin untuk Mara menjadi siswa SMP yang berlokasi di ibu kota kecamatan itu. diterima menjadi murid SMP. Sayangnya Mara tak sanggup bertahan. Setelah bersekolah selama setengah tahun, Mara menyerah. Orang tuanya di kampung tak sanggup membiayai. Mara sendiri sudah berusaha bekerja agar menghasilkan uang karena ia ingin betul menjadi tentara. Pada malam hari ia bekerja sebagai pengangkut kayu. Upayanya tak membuahkan hasil yang signifikan. 

Gagal mengenyam bangku sekolah, mau tak mau akhirnya Mara pun nyemplung dalam kerasnya dunia kerja. Berawal dari sebagai buruh di pabrik kayu lapis di Malaysia, hingga terjebak dalam dunia mafia obat-obatan terlarang di Hongkong. Beruntunglah nasib masih berpihak padanya. Mara remaja berhasil lolos dari jeratan dunia hitam dan bisa kembali pulang ke kampung halaman. Ia sempat mencoba peruntungan melamar sebagai pegawai negeri di Pontianak dengan hanya berbekal ijzah SD. Dan ... ditolak!

Menyadari tak banyak yang bisa dilakukannya di kampung halaman, Mara menetap di Pontianak. Sejumlah pekerjaan Mara lakoni untuk menyambung hidup. Di antara masa-masa itu, jiwa senimannya terus bergejolak. Dia melanjutkan aktivitas bermusiknya, hingga akhirnya mendirikan sanggar pada 1986. Ia menamai sanggar itu Bengkawan, seperti nama gunung tertinggi di kampung halamannya. 

Bengkawan pun berkembang. Dari sanggar yang awalnya muncul dalam pentas-pentas seni menggunakan alat musik sewaan, hingga berhasil memproduksi alat musik sendiri. 

Baca juga: Mengenang Sahala Tua Saragih


Sape dan Upaya Christian Mara Menjaga Tradisi 

Sape dibuat dari kayu solid, dengan bentuk menyerupai perahu tanpa lekukan. Kayu yang digunakan biasanya dari pohon adau, marang, atau meranti, atau kayu lain yang keras, tapi ringan. Panjangnya bervariasi, bisa lebih dari satu meter. Sepanjang badannya dihiasi ukiran khas Dayak, biasanya motif yang dipakai adalah enggang atau naga. Gitar ala Dayak ini memiliki jumlah dawai antara 2 hingga 6. Versi yang dibuat belakangan dalam versi lebih modern bahkan menggunakan dawai lebih banyak. 

Secara tradisional, bahan dawai sape terbuat dari serat alam seperti rotan, ijuk, atau serat pohon enau/sagu, sedangkan pada sape modern bahannya telah beralih menggunakan kawat logam, kawat rem sepeda, nilon, atau senar gitar.

Alat musik inilah yang terus dikembangkan oleh Christian Mara. Bukan hal yang mudah untuk melestarikan sesuatu yang datang dari tradisi di tengah gempuran modernitas dengan aneka produknya yang serba instan. Padahal ada begitu banyak filosofi yang terkandung dalam proses musik tradisi ini, bukan semata hal teknis seperti pengenalan bahan, bentuk, pembuatannya, hingga cara memainkannya, tapi juga fungsi dan perannya dalam mempertahankan budaya. Namun, hal-hal itu bukan hambatan melainkan tantangan bagi Mara. Sanggar yang didirikannya tak surut dan mundur sejak didirikan pada pertengahan 80-an. 

Baca juga: Sugeng Tindak, Pak Jakob Oetama

Melalui sanggar yang dibangunnya Mara melatih anak-anak muda untuk menari dan bermain musik tradisi. Rumahnya--yang di kemudian hari dijadikan workshop--dipakainya dengan membuka sesi-sesi pelatihan untuk memproduksi alat musik khas Dayak tersebut. Bukan hanya sape, dalam perkembangannya Mara meningkatkan ketrampilan otodidaknya untuk mengajak kaum muda mengenal dan menjaga warisan leluhur dengan menciptakan alat musik lainnya seperti ketobong (kendang panjang), sobang (bedug), bansilabu (seruling dari tangkai labu), gong, kenong, hingga gambus melayu yang merupakan kolaborasi tradiri Dayak dan Melayu. 

Seni gerak juga tak luput dari perhatian Mara. Beberapa tarian karyanya cukup dikenal, seperti Tari Kendang Alu, Tari Enggang, dan Tari Tengkawang yang semuanya.

Christian Mara bukan hanya menjaga dan terus menghidupkan tradisi Dayak sebagai bagian dari tugas adat, tapi juga mengibarkannya ke panggung-panggung internasional. Mara berkali-kali tampil di panggung dunia, di antaranya ia membawa harmoni musik sape ini ke negeri kanguru, Australia. Pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Mara menerima penghargaan sebagai tokoh Pelestari dan Pengembang Budaya (2009).

Semoga semangat dan jiwa Christian Mara terus berkobar di hati generasi muda yang peduli dengan adat Nusantara yang kaya. 

Rest in peace, Christian Mara.

Baca juga: Selamat Jalan, Sean Connery

Semoga di kawasan lain juga banyak yang berjuang untuk berkarya dengan tradisi dan budaya lokalnya.

Sumatra Utara bagaimana? Aku belum pernah berjumpa dengan masyarakat adat. Paling pernah ngobrol sejenak dengan pengelola makam Raja Sudabutar. Itu lebih ke wisata budaya. Mbak Suci, travel blogger Medan mungkin punya catatan yang lebih lengkap soal ini. Termasuk catatan soal outdoor activity di kawasan Sumatra Utara.

No comments