Showing posts with label cerita perjalanan. Show all posts

Kuliner Wonosobo: dari Mi Ongklok yang Manis Gurih hingga Enthog Pedas

Di mana daerah yang tak memiliki makanan khas? Nggak ada, kan? Bisa jadi ada kemiripan, atau beberapa wilayah yang berdekatan memiliki penganan khas yang sama. Tapi rasanya sih ngga ada yang sama sekali tidak punya makanan khas. Kapan-kapan kutuliskan makanan khas kampung halamanku. Buat sekarang, oleh-oleh cerita kuliner dari Wonosobo bulan lalu. 

Baca juga: Permakultur dan Kunjungan ke Kebun Igirmranak

Satu hal yang tak kuduga dari kota ini adalah: ternyata ramai! Jauh lebih ramai dari kota kecilku. Saat tiba di kota ini--dari perjalanan menggunakan bus mini yang sepanjang jalan bunyinya aduhai, pertanda usia telah lanjut dan minim perawatan--Wonosobo sedang basah. Hujan tak cukup deras, tapi lumayan bagi pejalan kaki atau pengendara roda dua. Kawan perjalanan, Ajeng, menggamitku untuk memperkenalkan makanan khas Wonosobo. 


Mi Ongklok

Ini menu yang pertama kali kucicipi. Sukaaa! Tadinya agak bertanya-tanya melihat gundukan mi yang terlihat liat. Tapi begitu mulai dikunyah, yummyyyyyy. Enak. Ada beberapa nama kedai yang cukup populer. Tak usah disebut deh, ya. Kuduga rasanya tak akan jauh berbeda. Kalau kamu ada di area kota, cukup hitung kancing, atau yang terasa sreg. Siapa tahu kamu yang jadi penglaris, karena kedai mereka tak masuk dalam deretan nama rekomendasi.  

Yup, mi ongklok terbuat dari mi kuning. Bulat, bukan gepeng seperti mi-nya mi kocok. Mi disajikan bersama kuah kental yang berbahan tepung kanji. Kuah berwarna kecoklatan, ada campuran gula jawa di dalamnya, dan aroma gurih yang keluar dari ebi dan kuah kaldu ayam. Di atasnya ditaburi irisan daun kucai. 

Menurut Ajeng, di semua kedai sajiannya sama: mi ongklok, sate sapi/ayam, dan tempe kemul. Dua yang terakhir pilihan saja jika berminat. Mi ongklok ini konon muncul mulai tahun 1970-an. Di masa lalu, ada pilihan goreng atau sate saren/didih yang terbuat dari darah ayam atau sapi. Kini sudah tak ada yang memasarkan karena mengganggap olahan itu tidak halal. 

Jelang sore berhujan dan menikmati mi ongklok yang hangat dalam nuansa manis-gurih-pedas sungguh sebuah kenikmatan. Terpikir untuk menyempatkan diri mampir ulang kedai sebelum pulang, ternyata tak keburu dan ada perubahan rencana. Semoga lain waktu masih berkesempatan menikmatinya. 

Baca juga: Kamu Tim Mana, Perjalanan dengan atau tanpa Rencana?


Tempe Kemul

Tempe kemul sebetulnya tak cukup terasa khas, mengingat tempe tepung sudah biasa dibuat dan dikonsumsi di rumah tangga. Tapi barangkali campurannya yang membuatnya berbeda. ATaua proses penggorengannya.

Kemul, bahasa Jawa yang artinya selimut. Tempe yang diiris tipis lalu diselimuti tepung. Adonannya terdiri dari tepung terigu, tepung kanji, bumbu rempah, dan irisan kucai. Nah, ini barangkali yang cukup membuat berbeda. Kalau mendoan campurannya daun bawang, bukan kucai. 

Begitu pula dengan proses penggorengan. Jika mendoan digorengnya tak cukup matang, tempe kemul ini justru dibikin kriuk. Tempe kemul bisa ditemukan di kedai makan, dari yang kecil hingga besar, termasuk di kedai mi ongklok. 


Nasi Megono

Aku baru dengar nama menu ini setelah tiba dan menginap di rumah Rumi. Cerita soal Rumi dan aktivitasnya bisa dibaca di sini

Pada pagi terjaga, kami sudah disuguhi nasi bungkus yang ternyata nasi megono. Selintas, tak terlihat istimewa. Seperti nasi dengan campuran irisan sayuran. Tapi setelah suapan pertama, eh, kok enak!

Sensasinya seperti makan dengan kawan nasinya urap. Ternyata betul. Proses pembuatannya, nasi karon dicampur dengan urap sayuran, lalu dikukus dembali hingga matang. Ini yang menjadinya bumbunya terasa meresap. Sayuran yang biasa digunakan adalah nangka muda, labu atau waluh, dan sayuran warna hijau yang aku lupa namanya. Lain waktu coba kutanyakan, karena justru si sayur ini yang buatku unik.

Si sayur hijau itu adalah sejenis kol yang tidak dibudidayakan alias tumbuh liar. Biasanya dia tumbuh di pinggiran ladang, baik ladang kol maupun sayuran lainnya. Kurasa di area Bandung Raya juga ada, di Lembang, misalnya. Cuma tak tahu persis apakah juga dijadikan masakan. 

Nasi megono, menu sederhana yang menurutku wajib coba. 

Baca juga: Setengah Hari Mengelanai Kota Mendoan Magelang


Carica

Tahu carica ini dari postingan kawan di FB. Di benakku, karena di luar bentuknya seperti pepaya, bagian dalamnya juga mirip. Ternyata sama sekali berbeda. Bagian dalamnya ternyata mirip markisa. 

Carica hanya tumbuh di dataran tingginya Wonosobo. Bahkan, meski dibawa turun ke Wonosobo, ia tak akan tumbuh seperti carica yang tumbuh atau ditanam di tanah tinggi. Aku sendiri belum lihat langsung berbedanya seperti apa, penduduk lokal hanya menyebut "seperti pepaya". Nah, kurang jelas, apakah rasanya yang jadi mirip pepaya atau bahkan struktur dalam buahnya juga berubah.

Buah ini diolah menjadi manisan atau sirup. Konon, rasanya segar, manis, dan sedikit asam. Konon saja, karena aku tidak mencoba. Aku hanya makan buah segarnya saat bertandang ke Gunung Prau. Rasanya juga mirip markisa. Asam-manis-segar. Sayangnya carica tak dijual dalam bentuk buah segar. Jadi, kalau kalian mau mencoba carica, ya mesti langsung ke gunung. Kalau tidak, cukup oleh-oleh manisan atau sirupnya. 


Gulai Enthog Bu Siti

Yang ini jelas dari awal, warung Bu Siti. Sudah menjadi langganan Ajeng sejak dia sering melintasi kawasan Wonosobo. Letaknya di Jalan Raya Kalijajar, Wonosobo. Tak heran kalau ia pun menjanjikanku untuk tak terlewatkan menikmati gulai ini. Gulai atau opor itu persisnya, ya ...

Kami singgah ke Warung Bu Siti saat meninggalkan Igirmranak untuk kembali ke area kota. Bisa dibilang ini semacam hidden gem, ya. Kalau mau keluyuran ke Kota Buaya, bisa coba tanya blogger Surabaya, hidden gem wisata kuliner Surabaya di mana aja.

Aku ngga tahu persis, dan memang tidak mencari tahu, Kalijajar ini ada di Wonosobo kawasan mana. Sudah nuansa daerah pinggir. Meski begitu, buat kalian yang ingin merasakan nikmatnya olahan enthog ini, siap-siap kehabisan. Karena itu yang terjadi pada kami. 

Saat datang, stok olahan sedang habis. "Lagi dimasak dulu, ya. Ke sini sekitar sejam lagi," begitu kata mbak-mbak yang entah sebagai apa. Kami pun meninggalkan lokasi, mengambil titik kunjungan yang lain--yang pada lain waktu akan kuceritakan--dan kembali setelahnya. 

Memang, demikian larisnya warung ini. Warung yang telah beroperasi sekitar 15 tahun ini tak mengubah bangunan usaha mereka. Tetap dibiarkan sederhana, meski dalam seharu mereka bisa masak lebih dari 30 enthog.

Saat kami datang keduakalinya, di area depan tampak kosong. Area depan ini berupa ruang panjang dengan dua meja panjang berjajar dengan kursi di salah satu sisinya. Sisi lain menempel ke tembok. Yup, memang sempit. Barangkali cukup untuk 10 orang, jika ditambah dengan meja kursi kecil di sudut lainnya.

Nah, tapi ternyata warung Bu Siti ini tambunya bukan dilayani seperti pada umumnya kedai makan. Tamu mengambil sendiri makanannya. Gulai enthog tersedia dalam panci besar, dijerang di atas perapian. Perlengkapan makan plus nasi dan lalapan ada sisi lain. Di area dapur ini tersedia dua amben yang lumayan besar. Satu amben mungkin muat 6-7 orang. Jadi, selain di area depan, pembeli bisa makan di area dapur. Seperti berkunjung ke rumah keluarga yang dapurnya masih tradisional. Seru, sih. Layak untuk dikunjungi.  

Oke, demikian dulu cerita perjalanan, persisnya kulineran di Wonosobo. Masih ada beberapa yang belum terkunjungi, seperti lontong tetel. Semoga di lain kesempatan.

Baca juga: Berkunjung ke Kota Atlas Semarang









Sarana Transportasi Apa Pilihanmu? (Pengalaman Perjalanan Bus dari Denpasar ke Trenggalek)

Kamu termasuk golongan yang cukup fleksibel dalam memilih sarana transportasi umum, atau fanatik terhadap sarana tertentu? Aku sendiri paling suka menggunakan kereta api, tapi cukup fleksibel jika memang tak ada pilihan lainnya, atau jika pilihannya menyangkut alasan tertentu. Namu, tak sedikit orang yang mati-matian tidak mau naik alat transportasi tertentu. Paling sering kudengar adalah pesawat. 

Baca juga: Kamu Tim Mana, Perjalanan dengan atau Tanpa Rencana?

Sewaktu meninggalkan kampung halaman untuk kuliah di Bandung, aku belum mengenal kereta api. Pengalamanku hanya naik bus antarkota di wilayah Jawa Timur. Begitu mencoba menggunakan kereta api, wow, menyenangkan, meski zaman itu kondisi kereta khususnya dan transportasi umum lainnya sungguh mengenaskan. Apalagi kereta ekonomi. 


Apa, sih, Keunggulan dan Kekurangan Masing-Masing Sarana Transportasi?


BUS

Secara umum bus paling banyak digunakan sebagai sarana transportasi di negeri kita. Meski tak semua infrastruktur sudah memadai, setidaknya jalan beraspal yang bisa dilalui bus sudah menjangkau hampir seluruh penjuru tanah air. Dan aku telah naik turun bus sejak usia bocah, karena kebetulan aku memiliki dua paman yang profesinya sopir bus. 

Kelebihan

Jika dibandingkan dengan jenis moda transportasi darat lainnya, harga tiket bus relatif lebih murah. Kapasitas angkutnya juga besar. Untuk bus ukuran maxi bisa menampung kisaran 50 penumpang. Ukuran mini bisa 20 sekian penumpang. Dengan kapasitas besar, tentunya bus memberikan andil dalam mengurangi jumlah emisi gas buang dan polusi udara.

Ketersediaan bus bisa dibilang cukup banyak. Sejumlah PO memiliki jalur tujuan yang sama sehingga cukup memudahkan pengguna jasa untuk memilih.

Kekurangan

Waktu tempuh lebih lama. Bus biasanya singgah di setiap terminal antar kota. Kecuali bus jarak jauh, dengan tujuan tertentu. Paling-paling berhenti satu kali di tempat peristirahatan, biasanya bekerja sama dengan rumah makan. Tidak semua jalan juga dalam kondisi prima.

Di masa sekarang, waktu tempuh juga terbilang relatif, mengingat sudah tersedia fasilitas jalan tol di berbagai kota. Pun pembangunan infrastruktur juga sudah jauh lebih baik. 

Baca juga: Ragam Kuliner di Bali, Halal dan Nonhalal


KERETA API

Kereta api akan selalu menjadi favoritku. Aku mengalami betul perkembangan perbaikan sarana dan prasarana perkeretapian Indonesia. Dari yang penumpang tumpuk-undhung kayak ikan reyek, bau apek keringat sana-sini plus asap rokok yang bebas mengembara, pedagang berjejal memenuhi lorong, orang tidur di mana saja, hingga sudah rapi, dingin, aroma terjaga. Pun sistemnya yang lebih rapi. Tak lagi ada keterlambatan.

Kelebihan

Sarana transportasi satu ini relatif lebih aman dan nyaman dibandingkan kendaraan lainnya. Ia punya jalur istimewa. Sediaan fasilitasnya juga beragam tergantung jenis layanan, yakni eksekutif, bisnis, dan ekonomi. Ada yang melayani semua, atau hanya salah satunya. Pengguna jasa bisa menentukan pilihan berdasarkan isi kocek. 

Jika dibandingkan layanan serupa, misalnya gerbong ekonomi dan bus ekonomi, dari sisi biaya masih lebih menang kereta. Lebih terjangkau. 

Kapasitas angkut yang besar sekali, menjadikan kereta api sebagai moda transportasi darat yang ramah lingkungan karena bebas dari faktor macet dan emisi. 

Kekurangan

Kereta api belum menjangkau semua kawasan, terlebih wilayah luar Jawa. 

Waktu tempuh juga jauh lebih lama jika dibandingkan pesawat. Bukan pilihan sarana transportasi yang membutuhkan kesegeraan. Kecuali kereta Woosh yang baru diluncurkan pada 2024 lalu, yang memangkas durasi perjalanan Jakarta-Bandung dari kisaran 3 jam menjadi setengah jam saja. Namun, ya baru jalur Jakarta-Bandung.


PESAWAT TERBANG (komersial)

Untuk perjalanan jarak jauh, pesawat masih menjadi pilihanku. Kebetulan beberapa kali melakukan perjalanan keluar pulau dalam rangka pekerjaan. Butuh kecepatan. Ingin sekali coba naik kapal, tapi tentunya bakal terlalu lama.

Kelebihan 

Pesawat udara unggul dalam hal waktu. Durasi perjalanan jauh lebih singkat jika dibandingkan bus dan kereta api. Bahkan perjalanan antar pulau atau antar provinsi bisa lebih cepat dan menghemat waktu.

Kekurangan

Dengan kemampuannya yang maksimal, moda transportasi udara ini membutuhkan biaya pemeliharaan yang besar. Gaji para punggawanya pun tinggi, mengingat risiko yang haris mereka hadapi pada setiap masa tugas. Hal ini menjadikan biaya perjalanan jauh lebih mahal dibandingkan bus dan kereta api. 

Pesawat dibuat sedemikian rupa sehingga tiap maskapai memastikan armadanya aman. Meski demikian semua calon penumpang juga menyadari bahwa pesawat terbang merupakan moda transportasi dengan tingkat risiko paling tinggi dibandingkan bus dan kereta api. 

Bagaimana dengan kapal laut? Sayangnya aku belum punya pengalaman naik kapal laut. Dalam artian kapal besar, ya. Kalau feri penyeberangan sudah beberapa kali, pun kapal-kapal kecil di beberapa wilayah perairan. Semoga di lain kesempatan dapat menjadi cerita tersendiri: Ibu Meong naik kapal pesiar, cihuuuuy!

Baca juga: Menjumpai Naga Perak di UC Silver Gold


Pengalaman Perjalanan Denpasar - Trenggalek

Awal Januari lalu aku melakukan perjalanan dari Denpasar menuju kampung halaman. Ini adalah salah satu perjalanan absurd yang kulakukan. Memang, pernah terlintas untuk melakukan perjalanan darat (bukan terbang bersama pesawat). Dalam bayanganku, aku akan menggunakan kereta api dari Bandung menuju Surabaya, lanjut Banyuwangi. Dari situ menggunakan bus untuk menyeberang ke Gilimanuk lanjut Denpasar. 

Rencana itu belum sempat terealisasi, eh, berjumpa dengan kondisi yang membuatku ambil keputusan untuk segera meninggalkan Denpasar. Sayangnya saat itu tiket pesawat sedang tinggi pasca libur tahun baru. Begitu saja, aku terpikir untuk ngelongok kampung halamanku, Desa Bendorejo, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek. Hasil penelusuran di mesin pencari, aku menemukan bus Surya Trans yang tarifnya paling murah, Rp290.000. Bus ini melayani rute Denpasar ke Trenggalek melalui Malang. Pilihan yang lain adalah melalui Surabaya. 

Perjalanan pun dimulai. Aku mengambil pemberangkatan dari Terminal Mengwi, Kabupaten Badung. Di kemudian hari aku baru tahu kalau ternyata titik pemberangkatan ada beberapa alternatif, tinggal dibicarakan dengan pemilik jasa penyedia tiket.

Fasilitas bus standar saja. Tersedia toilet, ada stop kontak di langit-langit tiap kursi, disediakan bantal kecil dan selimut, serta kotak kemasan berisi roti dan air minum kemasan. Yang terasa tidak cukup memadai adalah jarak antarkursi yang terlalu dekat. Bikin kaki pegal. Beruntunglah bisa tidur dengan nyenyak. Dipatok di kursi saja; turun sebanyak dua kali, saat menyeberangi selat dan saat berhenti makan di daerah Probolinggo. Oiya, makan tengah malam di sini tak masuk fasilitas. Jadi mesti bayar sendiri, ya, gaeees...  

Perjalanan berlangsung lancar, meski meleset dari waktu yang tertera di jadwal. Berangkal pukul 14.00 dan dijadwalkan tiba pukul 5 pagi keesokan harinya, ternyata sampainya pukul 7.

Itu pengalaman perjalanan pertama. Aku melakukan perjalanan yang sama pada Juli lalu. Ini pun merupakan pengalaman tak terencana. Berangkat ke Bali menggunakan penerbangan dari Yogyakarta, aku berharap bisa pulang Bandung menggunakan pesawat ke Bandara Kertajati. Tak dinyana, selagi ancang-ancang pesan tiket pulang, ada kabar Bandara Kertajati resmi tidak beroperasi. Bah!

Baca juga: Wisata Kuliner dan Religi di Bali, 2024

Pada perjalanan kedua aku memilih bus Ranajaya dengan pemberangkatan Terminal Ubung, Denpasar. Hanya berbeda Rp20.000, tapi fasilitas bus ini lebih memadai dibandingkan bus sebelumnya. Jarak antarkursi lebih longgar, dengan penahan kaki di bagian bawah. Di bus juga disediakan dispenser dengan stok kopi saset di atasnya. Bekal yang dibagikan ke penumpang berisi roti, air kemasan, dan mi instan kemasan gelas. Nah, kalau mau makan mi instan tinggal seduh sendiri. Atau minta bantuan kenek yang melayani penumpang dengan ramah. Dengan bus ini, jatah makan malam juga tersedia alias gratis. Cuma untuk durasi perjalanan, sami mawon. Malah lebih lama, akibat antrean panjang di Gilimanuk. Ingat peristiwa kecelakaan kapal penyeberangan? Nah, aku pulang kampung 2 hari setelah peristiwa tersebut. Sepertinya ada dampaknya terhadap pemeriksaan kapal. 

Ada satu lagi PO yang beroperasi untuk jalur ini: MTrans. Besaran tiketnya antara Rp380 ribu hingga di atas Rp500 ribu. Lain waktu mungkin perlu coba yang edisi sleepers.

Itu saja dulu dongengnya, ya. Setidaknya dua pilihan PO itulah yang bisa kubagikan sedikit pengalaman. Kalau kamu punya pengalaman lain, baik berkenaan dengan transportasi ke dan dari Bali, boleh berbagi juga, ya. Terima kasih sudah membaca.   

Ah iya, satu catatan tambahan. Saat kedatanganku ke Denpasar bulan April, bus kota dihentikan operasionalnya. Meskipun jalurnya memusingkan dan lama sekali, tapi lumayan membantu. Paling tidak bisa membawa keluar dulu dari area bandara. Nah, saat kedatanganku berikutnya pada Juli, bus sudah diperasikan kembali. Selamaaat. Saranku, jika mau berhemat, untuk keluar bandara pakai saja bus kota. Cukup membayar Rp4.000. Setelah di area luar, tinggal pilih alat transportasi yang lain. Aku memilih ojek online, nggak tahan dengan kemacetan kota. Kecuali kalau tidak buru-buru dengan bisa menimati kemacetan, lanjut saja menggunakan busnya.


Setengah Hari Mengelanai Kota Mendoan, Purwokerto

Aku yakin, bukan cuma aku yang lebih kenal Purwokerto dibandingkan Banyumas. Mungkin alasannya berbeda-beda. Namun, salah satunya bisa jadi sama, bahwa Purwokerto lebih beken dibandingkan Banyumas. Padahal Purwokerto merupakan ibu kota Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Aku sendiri mengenal Purwokerto sejak kuliah di Bandung. Perjalanan keretaku dari kampung halaman menuju Bandung pasti melewati Purwokerto. Nah, akhir Juni lalu akhirnya aku bisa menyingggahi kota ini meski hanya semalam. 




Purwokerto masuk dalam daftar kota yang ingin kukunjungi, selain beberapa kota lain di Jawa Tengah, seperti Wonosobo, Muntilan, Jepara, Rembang, Kudus, Lasem, dll. Dalam perjalanan kereta, biasanya aku terjaga saat lokomotif mandek sejenak di stasiun Purwokerto. Terakhir aku bergabung dalam tim penulis buku biografi seorang jendela TNI bintang 3 yang salah satu tugas bagianku adalah kisahnya selama di Purwokerto. Demikianlah aku antusias sekali saat kawan Ajeng Kesuma mengajakku berkelana ke Wonosobo dengan janji ketemu di Purwokerto. 


Sejarah Purwokerto

Secara status wilayah, rupanya dulu Purwokerto pernah berstatus kota administratif. Seperti kota-kotalainnya, kota dengan total luas wilayah 39,58 kilometer persegi ini juga memiliki catatan sejarah yang menarik.

Purwokerto berdiri pada 6 Oktober 1832 sebagai sebuah kadipaten. Pendirinya Adipati Mertadireja II. Desa Peguwon yang terletak di sekitar Sungai Pelus dipilih sebagai pusat pemerintahan. Empat tahun berselang, wilayah ini digabung menjadi satu dengan Kadipaten Ajibarang. Persisnya pada 1 Januari 1836. Di sinilah muncul nama Banyumas--yang di kemudian hari kita kenal sebagai kabupaten--sebagai ibu kota.

Memasuki abad ke-20, di bawah pemerintahan kolonial Belanda, mulai dilakukan perubahan tata ruang kota di Purwokerto. Yang punya peran adalah seorang arsitek Belanda, Herman Thomas Kartsen. Selain pembaruan, Herman juga mendesain ulang tata ruang demi kebutuhan mengakomodasi terjadinya lonjakan penduduk. Bukan hanya di Purwokerto, tapi di wilayah lain di Pulau Jawa.

Nama Purwokerto konon ada dua versi. Yang pertama berdasarkan temuan batu yang diyakini sebagai reruntuhan candi di masa lalu, disinyalir sebagai peninggalan Kerajaan Pasiluhur. Batu yang ditanam di Arcawinangun, Kecamatan Purwokerto tersebut dikenal sebagai “Makam Astana Dhuwur Mbah Karta” yang berada di Arcawinangun, Kecamatan Purwokerto. Nama Karta itu mengacu pada “Karti” di nama Kiai Kartisura. 

Versi kedua cukup singkat. Menyebut asal-usul nama Purwokerto mengadaptasi dua lokasi bersejarah di wilayah tersebut, yakni Kertawibawa, ibu kota Pasir, dan Purwacarita, kerajaan di tepi Sungai Serayu. 

Entah mana yang lebih tepat. Namun sepertinya keduanya sama-sama menyepakati bahwa penyebutan wilayah ini adalah Purwokerto, bukan Purwakarta, yang merupakan kabupaten di Jawa Barat. 





Pengelanaan Setengah Hari

Aku tiba di Purwokerto persis tengah malam, sudah masuk tanggal 24 Juni 2025. Rencana ke Purwokerto--memenuhi ajakan kawan ini--sebetulnya tak mendadak amat. Namun, ternyata tak mudah mendapatkan tiket kereta api dari Bandung. Memang, ya, kereta masih jadi pilihan ekonomis terutama kereta ekonomi atau gerbong ekonomi. Rebutan. Telat pesan, nggak kebagian. Jadilah aku menggunakan moda bus antarkota.

Aku bukan penggemar moda bus (Berhubungan dengan travel). Biasanya untuk kepergian luar kota jarak jauh, aku memilih kereta api sebagai sarana transportasi. Jarak dekat barulah pakai bus. Itu pun dulu. Begitu ada banyak travel yang beroperasi, bus pun kembali ditinggalkan. Seperti belajar kembali menggunakan jenis angkutan ini. Menuju ke Terminal Cicaheum untuk menaiki bus Sinar Jaya yang kupesan melalui Traveloka. Cek ke loket ternyata tersedia cukup banyak armada menuju Purwokerto, dengan sedikit selisih tarif. Kalau waktunya leluasa, bisa langsung ke terminal saja untuk mendapatkan layanan yang diinginkan. Tiket yang kupesan seharga Rp130.000.

Memasuki Purwokerto, sopir menurunkanku di lokasi yang konon cukup dekat dengan penginapan yang sudah dipesan kawan. Memang dekat, aku cukup membayar Rp8.000 untuk ojek online yang kupesan. 



Penginapannya menarik, namanya Omah Kranji. Guest house ini berlokasi di Jalan Kranji, tak jauh dari alun-alun Purwokerto. Kalau kalian orang Bandung, bisa kugambarkan vibes penginapan ini menyerupai Bumi Asih yang berada di kawasan belakang Gedung Sate. Versi mininya. Sempat berbincang sedikit dengan pemiliknya pada pagi kami akan jalan-jalan. Ibu pemilik pernah tinggal lama di Bandung dan Jakarta.

Berhubung sudah ada rencana lanjutan ke Wonosobo, kami memanfaatkan waktu sebaik mungkin, menikmati kota ini. Diawali dengan jalan kaki memutari alun-alun.

Sepanjang perjalanan dari penginapan menuju alun-alun kami mendapati beberapa penginapan. Jadi, tampaknya tak sulit untuk mencari tempat bermalam di kota ini. Alun-alun yang berseberangan dengan komplek Kantor Pemerintahan Kabupaten Banyumas berjarak lebih kurang satu kilometer dari penginapan.

Kami menuntaskan jalan kaki empat kali putaran sebelum meutuskan mencari sarapan. Ada cukup banyak saran yang kami temukan di media sosial. Namun, kami mengikuti satu rekomendasi kawan untuk menjajal sroto Purwokerto. Tempatnya tak terlalu jauh juga dari alun-alun. Beberapa kali kelokan dan menambah sekian bulir keringat, hehe, akhirnya kami tiba di RM Sroto yang ada di Jalan Bank. 

Kami memesan sroto dua porsi dan tempe mendoan serta teh poci satu porsi. Srotonya oke, enak, aku suka citarasanya. Sayangnya--sebagai kota dengan julukan Kota Mendoan--malah mendoannya kurang nendang. Lumayan terbayarkan oleh legitnya teh yang diseduh bersama gula batu.




Sayangnya ukuran lambung tak bisa terlalu banyak menampung makanan. Jadilah cuma itu kuliner yang kami nikmati di Purwokerto. Lain kesempatan perlu berkunjung kembali, sengaja untuk njujug ke kota ini dan menikmati aneka suguhan kotanya.

Ada yang mau jalan-jalan bareng? Barangkali Mbak Suci, kawan travel blogger Medan lagi berkunjung ke tanah Jawa, boleh dicoba. 

Btw, perjalanan panjangku yang diawali dari kunjungan ke Purwokerto ini membuatku segera mengeksekusi keinginan berkelana ke beberapa kota yang selama ini hanya jadi wacana. 















Permakultur dan Kunjungan ke Kebun Igirmranak

Tinggal di rumah mungil dengan pekarangan luas, dilengkapi dengan aneka tanaman, baik bunga, aneka sayur dan buah, dan tanaman pelindung, siapa mau? Ah, sesungguhnya itu impianku. Memiliki rumah sebagai tempat berteduh sekaligus ikut merawat bumi dengan pola bertanam yang ramah lingkungan dan melibatkan banyak makhluk lainnya. Membayangkannya saja sudah membuatku bahagia. Apakah kamu tertarik juga? Mari kita buat manifestasi sama-sama. Bulan lalu kebetulan berkunjung ke lahan permakultur yang digarap kawan di Igirmranak. 


Sebetulnya kebun di Igirmranak, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah ini belum lengkap. Penanganannya juga belum optimal. Namun, sebagai sebuah upaya di tengah perladangan yang homogen dan dibanjiri pupuk kimia, upaya ini patut diapresiasi dan perlu mendapat dukungan.


Apa itu Permakultur? 

Permakultur atau dalam bahasa Inggris permaculture dalam pengertian harfiahnya adalah pertanian permanen. Model pertanian ini sebetulnya sudah ada di tengah masyarakat kita dari zaman dahulu kala. Sebagai orang yang lahir dan besar di desa, dengan sedikit lahan yang kami miliki, ada sejumlah komponen yang terbilang memenuhi syarat untuk disebut permakultur. Kami memiliki aneka jenis tanaman konsumsi seperti sayuran, umbi-umbian, aneka macam tanaman bumbu dapur, buah-buahan; padi yang kami tidak punya. Kami memelihara ayam kampung, yang telur dan dagingnya kami konsumsi sendiri dan sebagiannya dijual ke pasar. Kandang selalu bersih, karena Bapak rajin membersihkan kotoran mereka dan menjadikannya pupuk.

Ya, itu kondisi yang sangat akrap kita temukan di pedesaan. Tapi konsep ini mengemuka secara global saat Bill Mollison, peneliti dan ahli biologi asal Australia mempublikasikan pemikirannya. Publikasi secara global itu pun mendapat sambutan baik. Ia menyampaikan ajakan: “bekerjalah dengan alam, bukan melawannya”. Manusia sebagai makhluk yang menghuni bumi memiliki tanggung jawab atas kehidupannya sebagai pribadi maupun makhluk sosial. Ia memikul tanggung jawab atas kehidupannya di masa depan--termasuk anak cucunya--dan keberlangsungan bumi. Tanggung jawab itu termasuk menjaga eksistensi aneka flora-fauna dan makhluk hidup lainnya.

Kunci utama permakultur adalah "keseimbangan dan berkelanjutan". Permakultur dapat menjadi bagian dari pembelajaran tentang hidup yang berkesadaran. Melalui permakultur kita diajak untuk:
1. Peduli akan masa depan bumi dengan menjalankan sistem yang berkelanjutan agar berkelanjutan dan bertambah luas
2. Peduli akan masa depan manusia dengan mencukupkan kebutuhan mereka terhadap sumber daya alam demi keberlangsungan hidupnya
3. Peduli dengan ketersediaan sumber daya di alam dengan mengambil secukupnya sesuai kebutuhan dan menyerahkan sisanya bagi generesi mendatang, baik manusia maupun berbagai elemen yang terlibat

Permakultur mensyaratkan upaya timbal balik bahwa kita perlu mengembalikan apa yang sudah kita manfaatkan dari alam. Kata kunci "berkelanjutan" juga membutuhkan perencanaan yang baik terkait perancangan ekologis; sudah disiapkan dari awal sistem pemanfaatan energinya. 



Dalam pelaksanaannya, permakultur dapat dijadikan kegiatan bersama dalam komunitas, meski sangat memungkinkan untuk dijalankan secara mandiri atau personal. Namun, dalam skala komunitas tentunya ada hal baik lainnya yang serta-merta ikut terbangun. Misalnya pemanfaatan lahan umum di satu wilayah, dengan warganya saling membantu, bergotong-royong dalam ambil peran dan tanggung jawab. Inilah yang lebih kurang coba dilakukan oleh seorang kawan di Igirmranak. 


Lahan Permakultur di Desa Igirmranak 

Bulan lalu aku melakukan perjalanan ke Wonosobo, persisnya ke Desa Igirmranak yang berlokasi di kaki Gunung Prau. Ada kawan Ajeng yang mengajakku, menjenguk lahan permakultur yang dikelola oleh kawannya, Rumiyati, yang dinamai Zona Sekeco.

Tanah yang dikelola perempuan yang akrab disapa Rumi ini lebih kurang seluas 1.000 meter persegi (termasuk lahan kandang komuninal dan pabrik pupuk) yang merupakan tanah bengkok desa. Kerja sama tersebut diputuskan dalam rapat antara BPD, pemerintah desa, dan Rumi sebagai Direktur Samitra Lingkungan bersama timnya, pada November 2024. Sebuah kesepakatan kerja sama yang buat Rumi adalah tantangan, mengingat kawasan Igirmranak ini sebagian lahannya sudah nyaris habis ditanami kentang dan tanaman sejenis. Dapat dipastikan lahan-lahan tersebut tak satu pun yang menggunakan pupuk organik.

"Tanah di sini pH-nya sangat asam. Saat kami datang, tak ada seekor pun cacing yang kami temukan," kenang Rumi, kembali ke tahun lalu saat mulai menggarap lahan ini.

Dengan idealismenya untuk ikut andil menjaga bumi, Rumi bersikukuh untuk menjalankan rencananya. Setelah tanah dikosongkan beberapa lama, diberikan pupuk organik hingga tanah bisa ditanami. Penanaman dimulai pada Desember 2024. Aneka tanaman ia sebar di kolom-kolom tanah yang disediakan, berupa sayuran, bunga, dan empon-empon menyusul pada awal tahun 2025. Empat batang kopi tetap dibiarkan tumbuh di tempatnya.  

Dalam pelaksanaannya, awalnya Rumi menggandeng pemuda desa. Sayang tak berjalan baik, di antaranya karena para pemuda menginginkan hasil yang instan. Rumi mengalihkan kerja samanya dengan 4 ibu-ibu desa yang ia sebut sebagai Srikandi Igirmranak. Pelan-pelan dilakukan perbaikan. Rumi yang hanya 1-2 hari seminggu berkunjung bisa bernapas lega karena para ibu yang diserahi tanggung jawab menjaga dan merawat kebun melakukan tugas mereka dengan sangat baik. 
Kolaborasi tim Rumi ini sudah melakukan panen:
  • Kentang sebanyak 1 kali
  • Wortel 2 kali
  • Kopi 1 musim
Tanaman lain yang belum panen adalah talas, ubi yakon, carica, cabe gendot, dan tanaman di blok apotek hidup. 


Penyediaan ayam sebagai hewan ternak di lokasi ini juga masih menjadi wacana. Sejauh ini kebutuhan pupuk kandang dicukupi dari kotoran domba yang dipelihara di tanah yang berbeda; sebuah kandang komunitas yang dikelola oleh desa. Sudah tercukupi, bahkan pengolahan limbah dari kandang komunal ini sudah memberikan hasil secara ekonomis lewat pengolahan dan penjualan pupuk kemasan. Meski demikian, tetap, Rumi masih berkeinginan lahan permakulturnya dilengkapi dengan kandang ayam.

PR Rumi dan para ibu penggerak ini masih panjang. Apalagi untuk sampai mewujudkan cita-cita menjadikan lahan ini sebagai area wisata dan pembelajaran berbasis ekologi. Homestay sudah disediakan sebanyak 2 buah rumah panggung, sebuah ruang yang sedianya untuk rumah makan yang cukup memadai, ruang pertemuan dan dapur yang cukup luas, dan satu gedung sebagai ruang tidur bersama. Kesemuanya masih memerlukan sentuhan hospitality yang cukup serius.

"Dari perkembangan yang ada, rencananya kami akan mulai lakukan aktivasi warung permakultur dan sistem event bulanan pada September 2025," ungkap Rumi bersemangat. Ini sekaligus menjawab keraguan sebagian besar warga yang memandang sebelah mata terhadap pertanian organik.

Program pembelajaran bagi anak-anak sekolah pernah coba dilakukan namun belum berhasil baik. Rumi menyadari, masih cukup banyak kendala yang dialaminya untuk mempublikasikan kawasan ini sebagai area belajar. Namun ke depan ia sungguh-sungguh berharap program ini terlaksana. Karena anak-anak adalah generasi masa depan yang perlu kita siapkan untuk peran dan tanggung jawab mereka demi keberlangsungan bumi yang mereka tinggali. Tak sabar suatu hari kelak bisa mendapatkan kabar baik bahwa anak-anak sekolah sudah bisa belajar di lahan ini. Rumi sendiri optimis wisata ekologis sudah bisa dibuka pada Januari 2026. 

Btw, buat yang suka kisah belajar anak, boleh juga kunjungi blognya Teh Okti blogger Cianjur terutama bagian mondok di Gontor yang seru. 


Ah, Rumi, terima kasih banyak sudah menerima dengan hangat kunjungan kami. Sebagai sebuah niat baik dari upaya untuk memberikan andil bagi keberlangsungan bumi yang lestari, aku ikut berharap lahan permakulur di Desa Igrimranak ini terus bertumbuh sekaligus bisa menghidupi pengelolanya dan warga yang terlibat.    

Sampai kapan Rumi akan aktif mengurus Zona Sekeco?

"Komitmen saya sampai sistem manajemen dipegang sendiri oleh warga Igirmranak. Minimal 5 tahun, maksimal 10 tahun."

Sip! Lancar, sukses. Sampai ketemu lagi, kawan-kawan Zona Sekeco dan semesta Igirmranak. 

Buat teman-teman yang merencanakan liburan yang "tak sekadarnya", sila hubungi Rumi untuk menikmati kaki Prau yang permai.

Ibu Meong bareng Rumi waktu naik Prau









Pesta Rakyat bersama JAF dalam Festival Rampak Genteng 2024

Harmonisasi musik seperti apa yang bisa kita dengarkan dari genteng yang dipukul oleh ratusan orang? Seru, asyik, membius. Itulah pengalamanku menghadiri Festival Rampak Genteng 2024. Entah sudah berapa kali aku mendapat ajakan untuk melihat langsung agenda tiga tahunan ini. Tak pernah terealisasi. Ada saja halangannya. Mang Mukti --orang yang rajin mengajakku itu-- akhirnya berpulang pada Agustus 2022. Kepergianku ke Jatiwangi, Majalengka, kali ini sekaligus menuntaskan harapannya untuk aku bisa melihat langsung komunitas yang pernah didampinginya itu.


Baca juga: Mukti-Mukti, Pemusik Balada Bandung Berpulang

Aku ingat, November 2021, Mang Mukti bersikukuh ingin pergi ke Jatiwangi. Ia mengajakku. Kurasa dia berusaha mengajak kawan-kawan yang lain. Kami semua tahu, kalau ia sudah punya mau, susah diredam. Aku sendiri tak mungkin memenuhi keinginannya. Saat itu kakinya bengkak akibat sakitnya. Makannya juga susah, harus diatur sedemikian rupa. Dalam kondisi itu dia ingin aku menemaninya menggunakan bus, berangkat dari Terminal Cicaheum. Selain keterbatasanku, seingatku saat itu aku masih bekerja reguler. Tidak bisa pergi begitu saja. Untungnya ada kawan-kawan lain yang akhirnya bisa menemaninya menggunakan kendaraan pribadi. Pileuleuyan, Mang. Kelak namanya disebut dalam doa pembukaan Festival Rampak Genteng 2024, sebagai sosok yang punya andil dalam perhelatan musik di Majalengka ini.


Berkenalan dengan Jatiwangi Art Factory

Sebelum bercerita soal pengalaman langsung menghadiri Festival Rampak Genteng, kita berkenalan dulu dengan Jatiwangi Art Factory (JAF). Nama ini juga sudah lama kudengar dari kawan-kawan di lingkungan Mukti-Mukti. Tapi ini baru pertemuan pertamaku.

Kami berangkat dari Bandung berlima: Safei (pemilik kendaraan sekaligus sopir, hehe), Matdon, Dhini, Ajeng, dan aku. Meninggalkan Bandung sekitar pukul 10.30. Perjalanan lancar, bahkan cepat. Lewat jalur tol, nyaris tanpa hambatan. Jam makan siang kami sudah menikmati Soto Lamongan di Jatiwangi. Setelahnya, kami singgah di base camp-nya JAF.

JAF ini merupakan sebuah komunitas yang berpusat di Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka. Kawasan ini telah dikenal sebagai penghasil genteng sejak awal abad 20. Adalah Arief Yudi yang kemudian terpikirkan untuk mengembangkan produk keramik tanah liat bukan semata menjadi genteng namun juga produk seni rupa yang unik. JAF berkiprah sebagai komunitas yang berfokus pada seni rupa sejak 2005 dengan dimotori oleh Arief Yudi dan Ginggi Syarief Hasyim. 


Dengan daya dukung lingkungan sekitar yang kuat, komunitas ini pun berkembang dengan baik. Berbagai program dirancang untuk mengasah kreativitas anggota komunitas dan warga yang tertarik bergabung serta meningkatkan nilai jual produk berbahan tanah liat itu. Program yang diagendakan pun beragam, dari yang bulanan, tahunan, dua tahunan, dan tiga tahunan. Nah, Festival Rampak Genteng itu program tiga tahunan mereka. 

Festival ini diselenggarakan dengan mengusung tema besar bagi Jatiwangi yakni Kerja Tanah. Hal ini tak lepas dari kecintaan masyarakat setempat terhadap alam. Dan tanah, bagi masyarakat Majalengka bukan sekadar tempat berpijak, namun juga memberikan nilai ekonomis. Penghormatan masyarakat Jatiwangi terhadap tanah inilah yang melatari diselenggarakannya festival yang dilangsungkan pada tiap tanggal 11 November, tiga tahun sekali, dengan nama Festifal Rampak Genteng atau Ceramic Music Festival. Persiapannya sendiri tak tanggung-tanggung, dilakukan sepanjang tahun dengan intensitas makin kental pada jelang hari pertunjukan. 

Dalam pelaksanaannya, Rampak Genteng melibatkan banyak komponen masyarakat, mulai dari guru dan siswa sekolah, aparat keamanan (polisi dan tentara), PNS, pengusaha dan karyawan, seniman --sudah pasti-- baik para perupa maupun pemusik, dan anggota masyarakat yang tertarik bergabung. Bukan hal mudah untuk mengumpulkan dan melatih ribuan orang untuk mengikuti aransemen yang dibuat, karena tak semua familier dengan urusan bermusik ini. Tapi barangkali itulah tantangannya, hingga menjadi kepuasan tersendiri saat mereka berhasil mempertunjukkan hasil latihan itu ke hadapan para penonton. 

Oiya, JAF sendiri memiliki band musik yang menggunakan alat musik secara khusus dari tanah liat. Mereka bahkan sudah berkelana ke berbagai negara. Lair adalah salah satu nama band mereka, yang pada 2022 lalu menggelar tur 1.000km++ meliputi wilayah Indonesia, dan beberapa negara luar di antaranya Kanada negara-negara di Eropa. Pada Maret lalu grup ini diundang manggung di Austin Amerika dan KEXP Amerika. Pada pertengahan tahun berlanjut ke Eropa kembali. Sungguh tahun yang sibuk. 

Baca juga: Sawung Jabo dan Sirkus Barock


Menyaksikan Bebunyian di Bawah Deras Hujan 

Satu hal yang tak kupersiapkan adalah piranti anti hujan. Rupanya "menonton rampak genteng di bawah hujan" itu menjadi semacam kekhasan ajang musik tiga tahunan ini. Kawan-kawan yang sudah langganan hadir tidak berbagi cerita. Untunglah ada banyak penjaja mantel hujan, yang biarpun tipis ya lumayanlah.

Saat hujan mulai mereda, para pemain yang satu per satu memasuki area Lapangan Jatiwangi Square. Lapangan ini merupakan eks Pabrik Gula Jatiwangi, Kabupaten Majalengka. Pemain yang merupakan siswa sekolah, datang bersama rombongan masing-masing sekolahnya. Mereka langsung menuju ke titik yang disediakan. Begitu pula rombongan dari instansi pemerintah, dari kelompok ibu-ibu seperti PKK, dan para peserta lain hingga seluruh bagian lapangan yang disediakan untuk para penabuh genteng itu terisi. Masing-masing peserta atau pemain membawa dua batang stik dan satu lembar genteng. 

Di tengah area yang terisi pemain, berdiri satu bangunan mungil berbentuk persegi yang dibuat khusus untuk keperluan festival. Ada aneka perangkat musik di dalamnya, sedangkan bagian atas bangunan menjadi tempat sang pembirama atau dirigen

Area bermain dikelilingi oleh panggung. Berhadapan dengan para peserta, merupakan panggung besar yang disediakan bagi tamu kehormatan. Tampak sejumlah pejabat menempati area ini. Panggung di area belakang ada dua bersebelahan, keduanya diisi peserta khusus, paduan suara, dan pemain musik. Pada sisi kiri dan kanan area bermain, terdapat tribun untuk penonton. 

Maka demikianlah, pertunjukan pun dimulai. 

Dari atas singgasananya, pembirama memberikan instruksinya. Secara serentak, para pemain mengikuti sesuai tugasnya masing-masing. Alunan bunyi dari genteng bertalu membentuk harmoni musik yang unik.

Satu momen membuatku tercekat. Saat lagu bertema tanah mengalun, di bawah gerimis yang mengguyur tanpa henti, aku membayangkan berada di tempat ini bertahun silam. Cerobong asap pengolahan tebu menguarkan aroma manis. Entah itu semata dalam bayanganku saja, belum pernah melihat pabrik gula dari dekat.


Baca juga: LCLR Plus, Pesona Musik 70-an


Pesta Rakyat   


Pesta rakyat pabrik gula

Pesta rakyat pabrik gula

Pesta rakyat pabrik gula

Pesta rakyat pabrik gula


Menyebar di semua arah

Musimnya tiba, semua berjejal

Gemerlap di Pesta Tebu

Panen raya bercinta


Pesta rakyat pabrik gula

Pesta rakyat pabrik gula

Pesta rakyat pabrik gula

Pesta rakyat pabrik gula


Menyebar di semua arah

Musimnya tiba, semua berjejal

Gemerlap di Pesta Tebu

Panen raya bercinta


Menyebar di semua arah

Musimnya tiba, semua berjejal

Gemerlap di Pesta Tеbu

Panen raya bercinta

See upcoming country shows

Get tickets for your favorite artists


You might also like

Tatalu

Lair Musik

Roda Gila

Lair Musik

Hard Fought Hallelujah

Brandon Lake


Menyеbar di semua arah

Musimnya tiba, semua berjejal

Gemerlap di Pesta Tebu

Panen raya bercinta


Pesta Rakyat ...


Menarik sekali membayangkan tiap bagian penghuni bumi ini memiliki perayaan ungkapan syukur terhadap tanah yang memberi tumpangan untuk lahir, tinggal, tumbuh dan berkembang, berkarya, hingga kematian menjemput. Digelar dalam festival atau perayaan secara berkala sebagai momentum penghormatan. Tentu saja bisa memberikan andil secara ekonomi terhadap pendapatan daerah. Aku jadi ingat kawan travel blogger Medan. Selain wisata alam, pastinya banyak perayaan serupa dalam tradisi di tanah Sumatra Utara. 

Secara keseluruhan acara berlangsung menyenangkan. Dua hal dan buatku menjadi kritik serius adalah:

1. Pejabat yang hadir dengan sangat lambat. Para peserta sudah hadir dan siap di memulai acara sejak pukul 2 siang. Dengan kondisi hujan ringan tanpa henti. Pejabat baru hadir pukul 4 lewat, sore. Dua jam lebih berbasah-basah. Tolonglah, pejabat, meski memang ada aturan yang menyebutkan bahwa pejabat diminta hadir beberapa lama setelah jadwal undangan, bukan berarti terlambat sejam lebih. Berhitung mundurlah dari waktu persiapan panitia pelenggara. 

2. Sampah! Ini hal yang masih menjadi masalah besar dalam event apa pun. Belum ada kesigapan panitia penyelenggara misalnya untuk membawa sendiri tumbler, sehingga botol dan gelas minuman kemasan tidak dibuang sembarangan. Selagi kesadaran berlingkungan yang bersih belum menjadi kesadaran para manusia yang hadir.

Tapi aku senang ketika akhirnya bisa menikmati pertunjukan musik dalam Festival Rampak Genteng Jatiwangi 2024 ini. Semoga menjadi pengingat bagi lebih banyak orang untuk memuliakan tanah dan tentu saja tradisi lokal. Hatur nuhun. Namaste.  

Baca juga: Grammy Award dan Lagu Siaran Radio

Melihat Sesar Lembang dari Dekat, Memastikan Usia Bukan Halangan

Sebuah poster yang mengabarkan rencana perjalanan ke Gunung Putri melintas di salah satu platform media sosial. Sebelumnya aku sudah sempat melihat pengumuman dari penyelenggara yang sama, Geowana Ecotourism, perjalanan ke Gunung Padang. Tapi baru merasa ada greget, saat lihat poster terbaru. Langsung daftar, dan langsung ikut perjalanannya pada Sabtu, 14 September 2024. Perjalanan berkenalan dengan Sesar Lembang dari dekat. Sebuah perjalanan menantang diri untuk terus bergerak saat pertambahan usia tak bisa direm. Ya, pada umurku yang sudah setengah abad, aku ingin terus bisa melakoni hidup dengan segala dinamikanya tanpa berkesah.


Baca juga: Jelajah Taman Buru Masigit-Kareumbi

Geowana Ecotourism dimotori oleh Kang Gan Gan Jatnika. Meski sebagai pemandu wisata geologi, Kang Gan Gan melengkapi diri dengan aneka cerita yang menjadi legenda Tatar Bandung lengkap dengan mitos-mitosnya. Sepanjang perjalanan, mulai berangkat hingga pulang, diisi dengan cerita, baik informasi faktual maupun dongeng.


Apa itu Sesar Lembang?

Ini adalah kali pertama perjalananku bergabung dengan komunitas jalan-jalan, yang kebetulan bergabungnya dengan Geowana. Ada dua titik janji pertemuan. Yang pertama di sebuah mini market kawasan Lembang, yang kedua lokasi parkir Gunung Putri. Berhubung aku tidak familiar dengan kawasan ini, ke minimarketlah aku menuju. Rupanya semua peserta memang memilih untuk berangkat bersama dari titik ini.

Ada 10 orang, termasuk Kang Gan Gan. Awalnya rada was-was juga kalau pesertanya semuanya anak muda. Eh, ternyata tidak. Bahkan ada dua orang yang jauh lebih senior. Tenang, deh, hehe. Barangkali buat dua bapak ini, perjalanan seperti ini untuk mengisi masa pensiun. Ada pula ibu rumah tangga yang bergabung. Usianya di bawahku. Tapi bisa kupastikan kalau mereka juga ingin mendapatkan sesuatu yang berbeda dari alam. Atau itu cara mereka sekadar mengusir kebosanan, seperti kawan Mom blogger yang juga punya caranya sendiri.

Agenda sedikit mundur dari yang direncanakan. Dalam rundown, perjalanan naik diagendakan pukul 8 pagi. Ternyata pukul 8 kurang sedikit, peserta baru terkumpul lengkap di titik pertama. Maka begitu semua siap, tak menunggu waktu lama, langsung berangkat. 

Di jalur mendaki Gunung Putri ini mudah. Entah tahun berapa mulai dibangun. Tak lagi berupa tanah biasa melainkan dibuatkan tangga semen. Setelah anak tangga ke sekian, perjalanan berlanjut ke tanah biasa, hingga pada titik pemberhentian pertama. Kisaran 20 menit dari area parkir dengan kecepatan sedang. Area kami berhenti ini dimanfaatkan pengunjung untuk berkemah. Padahal jelas tertulis larangan untuk berkemah. Entah, siapa yang seharusnya menjaga aturan tersebut diikuti.

Di titik ini Kang Gan Gan membentangkan banner berisi penjelasan tentang sesar Lembang. Sesar Lembang menjadi latar belakangnya.

Baca juga: Sebuah Perjalanan ke Bali Dwipa

Secara morfologi, sesar Lembang membentuk perbukitan memanjang dari timur ke barat. Sisi timur dimulai dari puncak Gunung Palasari sebagai titik tertinggi, membentang hingga jelang Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, yakni di wilayah Ngamprah dan Cimahi. Bentangan sejauh 29 km ini terbagi dua, patahan segmen barat dan patahan segmen timur.  

Sesar Lembang terbentuk tidak secara bersamaan. Pada patahan segmen timur terbentuk sekitar 180.000-200.000 tahun. Terjadi bersamaan dengan peristiwa letusan Gunung Api Sunda Purba. Sedangkan pada segmen barat terbentuk lebih muda, kisaran 50.000-60.000 tahun yang lalu, kemungkinan bersamaan dengan letusan Tangkubanparahu. 

Ada sejumlah infrastruktur penting yang berada di jalur patahan Lembang ini, di antaranya Observatorium Bosscha, Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara (Seskoau), Sespim Polri, dan Pusdik Kowad. Pada sisi barat ada Sekolah Polisi Negara (SPN) dan sejumlah kawasan bisnis wisata. 

Isu soal gempa megathrust tak luput jadi pertanyaan peserta. Isu ini belakangan sedang ramai dibicarakan, terutama pasca terjadinya gempa dahsyat berkekuatan 7,1 Skala Richter (SR) yang terjadi di Pulau Kyushu, Jepang, pada 8 Agustus lalu. Di Indonesia, dua lokasi disebut-sebut sebagai zona yang berpotensi mengalami gempa ini, yakni Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut. Istilah dari BMKG: tinggal menunggu waktu.

Baca juga: Menjelajahi Taman Hutan Raya Juanda

Bagi masyarakat tanah Sunda, soal megatrust ini juga dikait-kaitkan dengan Sesar Lembang. Karena jika seluruh segmen bergerak berbarengan, tak terkecuali sesar Lembang yang tersentil, dapat mengakibatkan gempa bumi berkekuatan hingga tujuh magnitudo. Menurut perkiraan, jika suatu saat terjadi pergerakan pada sesar ini, diperkirakan hampir 10 juta penduduk bakal terancam. Penduduk yang ada di Lembang maupun di cekungan Bandung. 

Tapi menurut Kang Gan Gan, megatrust sebagai semata pengalihan isu politik. Bahwa memang betul kemungkinan megatrust itu ada. Hanya tidak diketahui kapannya. Upaya untuk mencegah dampaknya dan cara menghadapinya saja yang bisa dilakukan. Saat ini pun gempa-gempa kecil terus terjadi, sebagai pelepasan energinya. Justru jika tidak terjadi gempa-gempa kecil perlu harus khawatir. Karena tidak ada gempa yang terukur. 

"Saya mah selagi para para pakar geologi masih anteng-anteng tinggal di Bandung, santai saja. Kan mereka mengikuti terus perkembangannya. Kalau kondisi sudah bahaya, pasti yang mereka pikirkan pertama adalah keluarganya. Paling tidak akan sementara meninggalkan Bandung." Begitu alasan Kang Gan Gan. Hmm, iya juga, ya? Make sense.

Dari titik henti pertama, perjalanan dilanjutkan langsung menuju puncak. 

Gunung Putri Lembang memiliki ketinggian 1.587 mdpl. Persis pada puncak gunung ini berdiri tugu. Namanya Tugu SESPIM Polri. Sampai di titik ini dibutuhkan sekitar 30 menit perjalanan dari titik pertama.



Baca juga: Berkunjung ke Kota ATLAS


Mitos di Seputaran Sesar Lembang

Kawasan Lembang dan sekitarnya dipenuhi aneka mitos. Atau persisnya kawasan Cekungan Bandung. 

Tak lain mitos itu melekat dengan kisah legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi. Bukan hanya Tangkubanparahu, legenda ini berkembang biak ke dalam aneka cerita. Sebagian dibagikan ceritanya oleh Kang Gan Gan saat jeda ngopi, sekitar setengah jam turun dari puncak. Di antaranya tentang bunga jaksi. 

Sebelum kisah tentang si bunga, kita lanjutkan perjalanan dulu. Titik pemberhentian berikutnya adalah warung makan Bu Eti (semoga aku tak salah ingat). Butuh waktu cukup panjang untuk sampai titik buat makan siang ini. 

Sebelum sampai tempat makan, titik pemberhentian adalah benteng Belanda. Benteng ini diperkirakan dibangun pada awal 1900-an, untuk kebutuhan pertahanan Belanda pada masa itu. Tempat yang seru buat ambil gambar. Sayangnya ada banyak coretan, ulah orang-orang iseng. 

Puas ambil gambar dan sejenak jeda, perjalanan pun berlanjut ke tempat yang sangat ditunggu. Karena waktunya makan! Pilihan menu di warung Bu Eti sederhana, tapi luar biasa nikmat. Aku bukan pemakai kata luar biasa. Tapi kok rasanya ini jadi kata yang pas setelah melakukan perjalanan yang cukup bikin lelah. Apalagi makannya di bawah saung, di tengah hutan pinus.

Baca juga: Menjajal Trans Metro Pasundan

Jadi, bagaimana kisah si bunga legenda tadi?

Alkisah, Nyai Dayang Sumbi yang setengah putus asa karena ingin dinikahi putranya sendiri, lari ke arah sebuah gunung. Di belakangnya, Sangkuriang mengejarnya dalam langkah yang lebih lebar. Jarak semakin dekat. Dalam kekalutannya, Dayang Sumbi memohon kepada Sang Penguasa Semesta untuk menyelamatkannya dari nafsu Sangkuriang. Petunjuk pun datang. Dayang Sumbi dituntun menuju rimbunnya hutan. Dan berubahlah ia menjadi satu tanaman yang kemudian dikenal sebagai bunga jaksi.

Meski mengerahkan segala kesaktiannya, Sangkuriang tak berhasil menemukan Sang Putri. Ketajaman nalurinya menunjukkan kalau Dayang Sumbi menuju gunung tersebut, namun bahkan ia tak menjumpai jejaknya. Ia pun berlari menuju ke arah timur. Gunung yang menaungi Sang Putri pun kemudian dinamai Gunung Putri. 

Selain Gunung Putri, cerita legenda Sangkuriang-Dayang Sumbi juga dikaitkan dengan kawasan dan gunung lain di Cekungan Bandung. 

Sementara terkait bunga jaksi sendiri, konon yang ada di Gunung Putri ini menjadi satu-satunya. Belum ditemukan di daerah lain. 

Sekilas bentuknya mirip pandan hutan atau pandan pantai. Ada yang menyebutkan mirip dengan pohon cangkuang. Tapi jika diperhatikan lebih detail, ada perbedaan pada bentuk dan panjang daun, serta batangnya. 


Baca juga perjalanan ke Baduy:


Pohon jaksi ini ada di jalur setelah meninggalkan warung makan Bu Eti. Setelah meninggalkan warung Bu Eti, kami agak kesulitan menemukan si pohon legenda. Kang Gan Gan bilang kemungkinan terlewat. Yang penasaran boleh ikut kembali ke arah sebelumnya. Yang tidak ingin, diminta tunggu. Tentu saja aku termasuk yang penasaran. Akhirnya bisa berfoto dengan Sang Putri besama beberapa anggota rombongan. Pohonnya sedang kusut, kurus dan mengering. Semoga bisa tumbuh segar lagi.


Meninggalkan warung, dengan perut terisi, energi kembali penuh untuk melanjutkan perjalanan. Tapi kali ini untuk pulang. Yup, bunga jakti menjadi titik akhir perjalanan. Kami tiba di area parkir pada pukul 14 lewat sedikit. Tak terlalu jauh dari yang diperkirakan. 

Perjalanan yang seru dan menarik. Buat yang ingin bergabung dengan Geowana, bisa cek akun IG-nya: geowana_ecotourism, untuk berkenalan dengan Sesar Lembang maupun perjalanan lainnya. Atau sekadar untuk menikmati alam. Buatku ini perjalanan pertama setelah aku menantang diri untuk terus menjaga tubuh tetap bugar mesti sudah memasuki usia emas. 

Yuk, kita jalan-jalan berjumpa dengan alam. Semoga terus terjaga kesehatan. Namaste.


Baca juga: Berkenalan dengan Roastery Tertua di Indonesia