I Am A Survivor, Buku Baru Gol A Gong

Pada 5 September 2021 lalu, aku ketemu untuk pertama kalinya dengan Gol A Gong, pengenalan buku terbarunya saat itu, Gong Smash. Aku tahu nama besarnya. Sayangnya, saat remajaku, lingkungan terdekatku lebih memilih serial lain yang dikenal masa itu, Lupus, bukan Balada si Roy, karya monumentalnya Gong. Seandainya baca, mungkin di masa ini, aku telah mengelanai berbagai kawasan di tanah air, pun dunia. Atau sudah memulai aktivitas menulis sedari muda. Mungkiiiiin 😁. Pertengahan bulan lalu, Gong melahirkan bukunya yang baru, I Am A Survivor

Baca juga: Perjalanan Menuliskan Fragmen 9 Perempuan

Pada pertemuan di hari itu Gong bercerita tentang muasal tangan kirinya yang buntung. Cerita yang membuatku tergelak. Ajaib! Rasanya semasa kecil belum pernah kujumpai anak laki-laki yang sebandel itu, haha! Bagaimana tidak, ia menerjunkan dirinya dari dahan pohon tinggi semata mengikuti para penerjun payung. Patahlah lengan kirinya. Peristiwa kecelakaan ini bukanlah kali pertama Gong mengalami sakit berat. Pada umurnya yang lebih muda, kepalanya sudah berhiaskan jahitan di beberapa tempat. Inilah hal-hal yang dibagikannya di buku terbarunya, hingga ia menjudulinya I Am A Survivor.


Tubuh dengan Banyak Penyakit 

Demikian yang dikatakan sendiri oleh Gol A Gong tentang dirinya. Termasuk sakit terakhir yang dialaminya saat proses penulisan buku terbarunya tersebut. Fistula ani, itu nama penyakitnya. Tapi Gong adalah jenis manusia yang tak surut oleh keterbatasan.

Beruntung memang, Gong dibesarkan oleh orang tua, yang keduanya adalah pendidik. Laki-laki dengan nama lahir Heri Hendrayana Harris ini sedari kecil benaknya dipenuhi imajinasi. Terlebih sejak peristiwa yang membuatnya kehilangan lengan kirinya, sang ayah mengenalkannya pada lebih banyak bacaan. Gong kecil memupuk banyak informasi di kepalanya, yang di kemudian hari menjadi bekal penting untuk profesinya sebagai penulis. Ayahnya mengingatkan, dalam keterbatasannya Gong justru harus unggul dalam hal lain. Sedari awal tampaknya Gong memang berusaha mengunggulkan diri dalam dunia literasi. Membaca, lalu menulis. 

Tapi bukan hanya melulu buku, sih. Gong menguatkan fisiknya dengan berolah raga, yang menjadikannya kuat dan mahir dalam bermain bulutangkis. Tak tanggung-tanggung, Gong pernah mengharumkan nama Indonesia sebagai pemenang bulutangkis di ajang Asian Para Games. Pada 1986 ia menyabet tiga emas untuk permainan single, beregu, dan double. Sedangkan pada 1989 dan 1990, dia menjadi juara se-Asia di Fespic Games di Solo dan Kobe-Jepang. Kemampuannya bermain bulutangkis ini menjadi bekal penting saat ia melakukan perjalanan berbulan-bulan di Indonesia Timur. Perjalanan yang kelak dituangkannya ke dalam cerita Balada si Roy.

Baca juga: Alaya, Kisah tentang Mimpi yang Mewujud, Takdir, dan Cinta

Kisah perjalanannya sangat menarik. Terutama, buatku, adalah bagian di kepulauan Maluku. Ekstrem, perpaduan antara menantang, mengerikan, getir. Yang kata Gong sendiri, "Jangankan disuruh mengulang, membayangkannya saja saya ngeri." Tapi saat ketemu lagi dan kutanya perihal perjalanan ke Maluku tersebut, Gong mengaku punya keinginan untuk menengok kawasan-kawasan yang pernah ia singgahi, menjumpai orang-orang yang pernah menolongnya. Tentu saja menggunakan moda transportasi yang memadai, tidak nekat jalan kaki seperti pada tahun 80-an tersebut. 

Berlengan satu, dengan sejarah aneka penyakit, Gong telah menunjukkan prestasinya jauh melampaui sebagian besar kita yang memiliki tubuh lengkap dan sehat. 


Demi Menggenapkan Maskawin untuk Istrinya

Gol A Gong adalah orang yang penuh rencana. Selagi memikirkan tentang buku barunya, ia teringatkan pada janji pernikahan kepada perempuan yang dinikahinya, Tias Tatanka. 

Saat melamar Tias, ia menawarkan beberapa maskawin seperti perhiasan dan uang. Sang calon mempelai, menolak. Keluar Tias terbilang berada. Materi sepertinya tak menarik buatnya. Lalu Gong menawarinya akan membuatkan perpustakaan. Tias suka, tapi masih meminta tambahan yang lain. Gong menyodorkan ide untuk "jalan-jalan, backpaker-an ke luar negeri dengan cara dicicil". Tias menerima, lalu menikahlah mereka. Berdua, mereka telah menyusuri tak kurang dari 10 negara. Nah, dengan ide melahirkan buku I Am A Survivor ini, Gong bermaksud menggenapkan maskawinnya untuk perempuan yang telah menjadi tangan kirinya tersebut. Rencana itu adalah kembali melakukan perjalanan lintas negara. 

Dalam buku I Am Survivor, Gong menceritakan soal detail rencana perjalanannya. Soal dokumen yang harus disiapkan, penyewaan mobil, detail teknis selama perjalanan. Bersama Tias ia tak sekadar jalan-jalan, melainkan juga sekalian menjalankan tugas sebagai Duta Baca Indonesia yang diembannya sejak 2021 menggantikan pengemban sebelumnya, Najwa Shihab, hingga 2026 yang akan datang. Hal penting yang ingin diingatkannya kepada diaspora di negara-negara yang dikunjunginya adalah soal terus ikut menggiatkan dunia literasi di tanah air, dengan segenap kapasitas yang mereka miliki. 

Baca juga: Menerbitkan Buku Antologi secara Mandiri

I Am A Survivor terdiri dari 12 bagian, dengan total 35 bab. Banyak detail menarik yang dibagikan Gol A Gong. Hal-hal yang lucu, yang mengharukan, yang menghangatkan. Aku sendiri sungguh terkesan dengan sosok Bapak yang diceritakan Gong di sepanjang bukunya. Dari kisah perjalanannya sendiri banyak yang bisa dijadikan pembelajaran. Bisa jadi salah satu bacaan yang direkomendasikan bagi para travel blogger Indonesia atau siapa pun yang ingin melengkapi pengalaman traveling


Judul: I Am A Survivor

Penulis: Gol A Gong

Penerbit: Epigraf, Cetakan Pertama, Agustus 2023

ISBN: 978-623-7285-41-0

Tebal: 200 halaman


Reviu dalam versi lain bisa dibaca di Kompasiana Dhenok Hastuti

No comments