Showing posts with label reviu. Show all posts

The Most Precious of Cargoes, Kisah Muram Penyintas Holocaust

Saat berselancar di dunia maya, tak sengaja berjumpa dengan ini film. Awalnya agak ragu. Sedang butuh hiburan, tapi dari poster filmnya tampak muram. Tetap, dilanjutkan menonton dan aku tidak menyesal. Film ini rilis dalam bahasa Perancis, La Plus Précieuse des Marchandises. Atau dalam versi Inggrisnya, The Most Precious of Cargoes. Film yang dirilis pada 2024 lalu ini digarap oleh sutradara peraih Oscar, Michel Hazanavicius.



Baca juga: Black Book, Kisah Perjuangan Perempuan Yahudi

Filmnya memang muram. Apalagi latarnya adalah kemiskinan, konflik ras, dengan nuansa yang didominasi warna putih abu salju. Namun, ada nilai kebaikan universal yang ditawarkan film ini. 


Sinopsis

Kisah bermula pada sebuah hari yang gelap bersalju. Seorang perempuan, istri penebang kayu yang sedang mencari makanan di hutan sekitar rumahnya mendengar tangisan bayi. Tak jauh dari rel kereta api, dilihatnya sebuah bungkusan yang ternyata berisi bayi perempuan. Istri penebang kayu tak menimbang lama untuk membawa bayi itu pulang. Tak mungkin ia membiarkan makhluk mungil itu beku di luaran. Di sisi lain, ia meyakini bayi itu adalah kiriman dari Tuhan setelah sekian lama ia hanya hidup berdua dengan sang suami tanpa hadirnya seorang anak.

Kebingungan mulai menyergapnya begitu ia sampai rumah. Ia harus kasih makan apa itu bayi? Dalam kemiskinannya, tak mungkin ia belanja susu untuk bayi tersebut. Tak kehilangan akal, perempuan itu mendatangi tetangganya yang memelihara domba. Ia mengajukan penukaran, ranting kayu dengan susu. Sang tetangga yang ditampilkan sebagai sosok yang sangar, ternyata memiliki kebaikan hati. Ia bersedia menyediakan susu buat si bayi.

Masalah berikutnya adalah saat sang suami mengetahui sosok bayi itu. Di pikirannya hanya ada satu: tidak mungkin! Karena menerima keberadaan bayi itu di rumah mereka artinya mencari masalah.


Baca juga: Pangku, Cermin Getir Perempuan di Pesisir Jawa


Film ini mengambil latar Perang Dunia II, pasca peristiwa Holocaust. Pasangan miskin, penebang kayu dan istrinya ini tinggal di pedalaman hutan Polandia. 

Siapa sebenarnya bayi itu? Yup, bisa ditebak. Ia adalah anak penyintas Holocaust. Bayi itu adalah salah satu anak dari anak kembar pasangan yang sedang dalam perjalanan menuju Auschwitz. Suasana menegangkan, saat ribuan orang membutuhkan suaka dan di tengah ketidakpastian, pasangan Yahudi ini kewalahan dengan keluarga kecil mereka. Begitu si suami mendapati istrinya tak cukup memiliki ASI untuk kedua anak kembarnya, ia memutuskan untuk membuang salah satunya. Tampaknya lemparan itu cukup aman hingga si bayi ditemukan dalam keadaan baik-baik saja. 

Namun, ya itu ... masalah bapak penebang pohon menolak keras bayi itu ada di rumah mereka. Butuh waktu lama untuk meluluhkan laki-laki itu. Awalnya ia menolak keras. Akhirnya ia menyerah saat istrinya mengancam akan pergi jika ia harus kembali membuang itu bayi. Penerimaan pun bersyarat, ia tak mau tahu dengan keberadaan bayi tersebut. Berkat ketelatenan sang istri, dan secara alamiah sesungguhnya ada kebaikan tersembunyi di hatinya, diam-diam laki-laki itu tumbuh sayang kepada gadis kecil Yahudi tersebut. Ia bahkan menerima dengan tangan terbuka, menganggap gadis kecil itu sebagai buah hatinya.

Penerimaan itu harus dibayar mahal. Dalam sebuah perbincangan dengan sesama penebang, keluarlah pernyataan si bapak. Sesuatu yang terhubung dengan keberadaan seorang asing. Seorang yang terlarang. Tak lama berselang pecahlah pertikaian. Lelaki penebang kayu itu terbunuh setelah ia terlebih dulu mencederai mereka yang mengacau rumahnya. Lelaki pemilik peternakan juga ikut terbunuh dalam rangkaian peristiwa itu. 

Sang istri penebang segera mengambil keputusan cepat. Ia bawa gadis kecil itu menjauh dari hutan, memulai kehidupan baru. Hidup berpihak kepada mereka. Kelak bapak dari bayi buangan itu berhasil dipertemukan dengan anaknya, meski hanya melihat dari jauh.


Baca juga: The Fighter, Film tentang Keluarga dan Pengorbanan


Potret Muram Jejak Holocaust

Memang ada film yang bersinggungan dengan Holocaust tampil dalam nuansa ceria? Hmmm ... rasanya sih belum pernah nonton. Yang sudah tertonton semuanya dalam nuansa muram. Begitu pula The Most Precious of Cargoes yang adalah film animasi ini. 

Film ini merupakan hasil adaptasi dari novel karya Jean-Claude Grumberg yang juga dilibatkan dalam penulisan naskah. Gumberg menerbitkannya pada 2019, dan filmnya baru rilis 5 tahun kemudian. Sebetulnya Hazanavicius mendapatkan proyek ini pada tahun yang sama dengan kemunculan novelnya. Sayangnya proses tidak dilanjutkan karena pandemi COVID-19, dan baru dilanjutkan kembali tiga tahun kemudian.

Ada beberapa fakta menarik terkait film ini.

Hazanavicius adalah bagian dari keluarga penyintas. Pada masanya, keluarganya melarikan diri dari Nazi di Eropa Timur. Awalnya ia enggan mengerjakan proyek tersebut. Namun, akhirnya kisah yang ditulis oleh seorang teman lama keluarga itu berhasil menyentuh perasaannya. Terlebih ia menyadari kondisi kesehatan para penyintas tersisa kemungkinannya sudah tak baik-baik saja. Ia pun tertantang untuk menggarap film animasi, jenis film yang belum pernah ia tangani.

Fakta lainnya adalah bahwa narator dalam film ini, Jean-Louis Trintignant meninggal dunia tak lama setelah suaranya direkam. Ia tak pernah menikmati hasil akhir karyanya tersebut. 

Baca juga: Unforgiven, Film Clint Eastwood yang Panen Penghargaan

Sebelum dimulai penggarapan film, telah dimulai publikasinya yang di antaranya menyebutkan pengisi suara Penebang Kayu adalah Gérard Depardieu. Saat akhirnya dimulai prosesnya,   Depardieu dikeluarkan dari daftar pemeran karena pada saat itu namanya sedang muncul sebagai tertuduh kasus pemerkosaan dan penyerangan seksual. Posisinya digantikan oleh Grégory Gadebois.

The Most Precious of Cargoes dirilis di Prancis pada 20 November 2024, terpilih untuk berkompetisi memperebutkan Palme d'Or di Festival Film Cannes ke-77 pada 24 Mei 2024. Momentum ini sekaligus menjadi waktu tayang perdana film ini; film animasi pertama yang ditayangkan dalam kompetisi utama di Cannes sejak Waltz with Bashir karya Ari Folman pada 2008.

Meski muram, film ini layak tonton. Terutama bagi penggemar film-film animasi dan film dengan latar sejarah dunia. Sepertinya buat tontonan ke depan masih akan cari film animasi. Buat penggemar film Korea, maafkan, sangat jarang nonton. Kalau butuh rekomendasi, cek sini: Spoiler Ending dan ulasan film Korea.

Sampai ketemu di film berikutnya.


Baca juga: Film Mafia yang Layak Tonton di Malam Minggu

Buku tentang Kucing yang Bisa Dijadikan Pilihan Bacaan Tahun Ini

Kisah tentang binatang dalam bentuk fabel, atau kisah dengan sosok mereka terlibat di dalamnya selalu muncul dari waktu ke waktu dalam khasanah literasi dunia. Beberapa di antaranya bahkan sangat ikonik, seperti nama Edgar Allan Poe yang melekat pada salah satu judul cerpennya, Kucing Hitam. Belakangan hari ini juga muncul buku-buku dengan cerita yang melibatkan kucing yang berhasil mengambil hati pembacanya. Bukunya dicetak ulang hingga entah berapa kali dan diterjembahkan dalam berbagai bahasa. Apakah kamu termasuk pengoleksi buku dengan cerita kucing? Buku apa saja yang sudah disiapkan untuk bahan bacaan tahun ini?



Baca juga: Lelaki Harimau, Novel Kedua Eka Kurniawan

Reviu di bawah ini awalnya berangkat dari tantang di platform X. Ajakan untuk mereviu buku dengan kover kucing. Aku memindahkan catatannya ke sini, dan melengkapinya dengan bacaan lain yang bisa jadi di kover tidak menyertakan sosok kucing, namun isinya berkisah tentang kucing. Catatannya akan coba diupdate secara berkala hingga jumlah tertentu. 


Gerombolan Kucing Bandel


Judul buku: Gerombolan Kucing Bandel (9 Cerita Kucing dari 9 Penulis Dunia)

Penulis: E. Nasbit, dkk.

Penerjemah: Endah Raharjo

Penerbit: Pojok Cerpen

Tebal: 212 halaman

Terbit: Agustus 2021 (Cetakan Pertama) 





Baca juga: Lima Cerita, Saat Seorang Desi Anwar Berkisah


Seperti tertulis dalam judul, buku ini merupaan kumpulan cerita dari 9 penulis sohor dunia: E. Nesbit (Maurice Menjelma Kucing), Sir Arthur Conan Doyle (Kucing Brazil), Edgar allan Poe (Kucing Hitam), Fritz Leiber (Gummitch Si Kucing Super), Angela Carter ( Kucing Bersepatu Bot), Rudyard Kipling (Si Kucing yang Berkelana Sendirian), Italo Calvino (Gerombolan Kucing Bandel), Saki-Hector Hugh Munro (Tobermory), dan Ursula K. Le Guin (Kucing Schrodinger).

Satu yang sudah (lebih dari sekali) kubaca: Kucing hitam. Cerita yang tiap kali dibaca, tetap bikin merinding.

Aku membaca buku ini secara acak. Mengawalinya dari Kucing Brazil. Ceritanya sama gelapnya dengan Kucing Hitam. Berkisah tentang pengkhianatan dalam keluarga, hanya karena persoalan harta. Uniknya, sosok perempuan, istri sang saudara yang dianggap memusuhi, pada akhirnya bisa dianggap sebagai penyelamat. Pemberi tanda. 

Cerita unik ada di judul Si Kucing yang Berkelana Sendirian. Ini seolah menjawab muasal kenapa kucing nyebelin aka belagu. Kisah disampaikan ala dongeng, dengan adanya binatang-binatang lain yang datang dan menghamba kepada manusia. Berbeda dengan kucing yang bersiasat. Sehingga si manusia takhluk padanya. 

Kisah yang menjadi judul buku berkisah tentang penghuni kota, Marcovaldo yang mengikuti perjalanan kucing-kucing. Tentang bagaimana lelaki itu menemukan bahwa para kucing kesulitan menjalani hidupnya karena ruang yang terbatas. Manusia mengambil semuanya. Aku selalu suka cara Italo Calvino bercerita. 


Baca juga: Joko Pinurbo dalam Kenangan


Jika Kucing Lenyap dari Dunia


Judul: Jika Kucing Lenyap dari Dunia

Penulis: Genki Kiwamura

Penerjemah: Ribeka Ota

Editor: Anton Kurnia

Penerbit: BACA

Tebal: 253 halaman

Terbit: Desember 2021 (Cetakan IV)




Baca juga: Jais Darga dan Ajang Pembuktian Art Dealer Perempuan 


Beli buku ini semata karena "kucing". Tak pernah cari tahu, buku tentang apa.

Idenya menarik, apa yang akan kita lakukan jika tahu umur kita tak lama lagi. Tema ini mengingatkan tentang betapa terbatasnya kita sebagai manusia, sekaligus betapa luas kemungkinan yang bisa kita lakukan jika kita memberi makna.

Berkisah tentang pemuda 30 tahun yang baru diberi tahu jika dirinya mengidap tumor otak stadium 4. Ia menanggapi kabar itu dengan biasa saja. Hingga saat iblis menawarinya tambahan umur dengan syarat: menghilangkan sesuatu dalam hidupnya. Dari sinilah muasal upaya menghilangkan aneka hal: telepon, kucing, hingga dirinya sendiri.

Di buku ini, ada 2 nama kucing yang diceritakan si tokoh. Salad & Kubis. Mereka punya ikatan yang kuat, terutama dengan ibunya, lalu dia. Terbayang, 'kan, kalau kucing-kucingmu tiba-tiba lenyap? Bayangkan kegembiraan apa yang bakal ikut lenyap.

Bagi pembaca buku yang pencinta meong, paslah baca buku ini. Buatku sendiri, awalnya agak sulit menikmati. Mungkin karena bahasanya terlalu ngepop buatku. Berusaha tidak menyerah. Dan memang banyak hal menarik yang bisa didapat, bicara tentang kehidupan; tentang bagaimana sebagai manusia kita menerima "jatah" kita dengan hati yang terbuka dan menjalaninya meski tak sempurna.

“Di dunia ini, ada banyak kekejaman. Tapi ada keindahan sebanyak itu pula.” (hal. 79)

Si tokoh hanya membuat narasi, tanpa menggurui. Bahwa selalu ada sisi baik dari tiap peristiwa, termasuk berdamai dengan masa lalu. Ia menunjukkan hal baik itu di penghujung hidupnya lewat rekonsiliasinya dengan sang ayah.

"Cinta pasti akan berakhir. Meskipun kita tahu akan hal itu, kita tetap jatuh cinta.

Mungkin soal hidup juga sama seperti itu. Suatu saat pasti akan berakhir. Meski tahu hal itu, kita tetap menjalani kehidupan. Sama seperti cinta, justru karena akan berakhir maka hidup terlihat gemerlap." (hlm. 89).

Baca juga: Aleph, Kisah Perjalanan Menemukan Diri


Hitam Gemerlap


Judul: Hitam Gemerlap

(Dwilogi Kumcer)

Penulis: Alexandreia Wibawa

Pemeriksa Ejaan: Dea Silvia Rahman

Penerbit: Langgam Pustaka

Tebal: 286 halaman

Terbit: Mei 2024 (Cetakan I)


Baca juga: Book Sleeve, Pembaca Buku Wajib Punya


Aku sudah membaca cerpen Alexandreia di buku ini dari buku kumpulan cerpennya yang pertama, Kucing Hitam. Khas tulisan Alex ini gelap, seringkali terasa nuansa desperade. Jangan berharap happy ending-lah pokoknya. Dan banyak di antaranya yang punya akhir tak tertebak. 

Buku ini gabungan dari dua kumcernya, Kucing Hitam dan Warung Gemerlap. Keduanya sudah tidak cetak ulang. Demi memenuhi keinginan pembacanya, Alex mencetaknya lagi, namun kali ini digabungkan. Ada 25 judul cerpen di dalamnya.

Cerpen pertama bertajuk Labirin, ditulis Alex pada 2005. Bercerita tentang Rana yang terjebak dalam dunia mimpi pasca keisengannya mengambil benda unik di kamar Raga, kakaknya. Rupanya benda itu dapat membuat siapa pun yang memegangnya akan terus berada di alam mimpi. Berbagai mimpi telah Rana alami, dari yang menyenangkan hingga mengerikan. Melelahkan. Cerpen ini memenangkan Lomba Menulis Cerita Thriller Stephen King On Writing yang dielenggarakan tahun itu.

Warung Gemerlap, cerpen yang menjadi judul kedua kumpulan kumcer Alex aku belum pernah baca. Aku tidak punya bukunya. Awalnya kupikir ini berkisah tentang sosok selebritas, mengacu pada cerita sebelumnya. Sesuatu yang datang dari dunia gemerlap. Ternyata bukan. Membacanya membawaku pada ingatan cerita horor di masa kecil. Beragam cerita horor memang sebagian besar kudapatkan di masa kanak. Saat tinggal di Bandung, cerita-cerita serupa tak kudengar lagi. Kalaupun ada, nuansanya berbeda. Tak begitu dekat lagi. Nah, ini cerita berasa nyata.

Dialog Cangkir Kopi, salah satu yang menunjukkan bahwa cerpen ALex ini sering kali absurd. Atau nyleneh kalau testimoni pembacanya. Tapi cerita ini membuatku berpikir, barangkali inilah yang dialami para pengidap shizofrenia. 

Cerita tentang kucingnya sendiri adalah Kucing Hitam. Ini bacaan buat yang suka horor. Tentang adanya makhluk-makhluk di sekitar kita, beririsan dan hadir di dunia yang mestinya tidak sama. Jebakannya adalah bahwa kucing hitam adalah si penutur cerita.

Baca juga: World without End, Kisah Percintaan Berlatar Sejarah Kelam Gereja Katolik


Kisah Seekor Camar dan Seekor Kucing yang Mengajarinya Terbang


Judul: Kisah Seekor Camar dan Seekor Kucing yang Mengajarinya Terbang

Penulis: Luis Sepúlveda

Penerjemah: Ronny Agustinus

Penerbit: Marjin Kiri

Tebal: 89 halaman

Terbit: Oktober 2020 (Cetakan I)


Baca juga: Berhikmat bersama Loki Tua, Novel Yusi Pareanom


Ini kali pertama aku membaca karya Luis Sepúlveda. Dan agak terkejut saat tahu buku ini diterbitkan Marjin Kiri. Memang, aku juga punya beberapa terbitan Marjin Kiri, buku-buku dari Amerika Latin. Tapi, ini kan tentang kucing? Membayangkan Ronny Agustinus yang postingan di media sosialnya kebanyakan urusan politik untuk menerjemahkan fabel. 

Tentu ada alasannya. Yang pasti, Luis Sepúlveda adalah penulis penting dari Chile. Karya-karyanya diakui dunia.

Kisah berawal saat Zorbas mendapati camar yang terjatuh akibat tumpahan minyak dari kapal tanker di laut mengenai bulu-bulunya. Setelah susah payah terbang, ia tak sanggup. Sebelum mati, ia menitipkan telurnya, meminta si kucing untuk menjaga dan kelak mengajarinya terbang. 

Ada 5 ekor kucing, seekor simpanse, dan bayi burung camar. Sosok manusia terselip di antaranya. 

“Mudah sekali menerima dan mencintai mereka yang sama dengan kita, tetapi mencintai yang berbeda itu sangat berat, dan kau membantu kami melakukan itu.”

Dari rencana yang sangat tidak masuk akal --kucing yang mengajari camar terbang-- ini terselip pesan terkait masalah lingkungan dan keterikatan antar makhluk. Bagaimana sosok-sosok binatang yang berbeda ini bisa hidup berdampingan dan saling memberikan bantuan? Jadi, bagaimana cara si kucing mengajari anak camar itu terbang? Apakah berhasil?

Aku ingin membuat catatan lebih detailnya nanti. Mau coba bikin catatan detail seperti yang dibuat Ulasan Ending Drama Korea. Beda sih, lebih ke film dan variety show Korea tapi kan bisa juga diperlakukan ke ulasan buku.

Tunggu tambahan reviu buku rekomendasi tema kucing lainnya, ya. Akan ditambahkan di sini, atau di judul baru. Meoooong!  

Noel, Film Natal tentang Cinta dan Kesepian

Memasuki bulan Desember nuansa Natal dengan mudah kita temukan di berbagai tempat. Bukan hanya lokasi, namun juga berbagai program hiburan. Di masa lalu, entah sampai tahun berapa, Home Alone tak henti-hentinya diputar di berbagai stasiun televisi. Banyak orang bahkan sampai terkaget-kaget ketika Macaulay Culkin sudah menikah. Dalam pikiran mereka Culkin masih sosok bocah seperti di film tersebut. Film bertema Natal lainnya ikut melengkapi. Bisa jadi termasuk yang baru kutonton hari ini, Noel (2004). Film yang membuatku bertanya: betulkah orang merasakan kesepian karena harus merayakan Natal sendirian?


Baca juga: Black Book, Kisah Perjuangan Seorang Perempuan Yahudi

Aku tak sengaja menemukan film ini saat mencari klip lagu. Iseng aja diklik. Karena kalau lihat pemerannya, oke. Ada Susan Sarandon, Penelope Cruz, dan sosok yang kukangeni, Robin Williams. Nama Robin tidak tercantum, karena kemunculannya yang memang sebentar. Atau entah atas pertimbangan apa, mengingat nama besarnya. Tapi aku seneng aja. Dan seperti halnya film-film bertema Natal lainnya, Noel memiliki alur cerita yang sederhana. Memang dirancang sebagai film hiburan yang menemani libur akhir tahun. 


Sinopsis

Film diawali dengan penampakan Rose (Susan Sarandon) yang kedua tangannya sibuk dengan tas belanjaan berjalan membelah keramaian kota. Seorang kenalan mencegatnya. Basa-basi ini dan itu. Dari ekspresinya, kelihatan sekali kalau Rose tengah berbohong. Dia menceritakan tentang suami dan anak kembarnya. Kebohongan itu kemudian ditunjukkan melalui adegan berikutnya, Rose yang menemui ibunya, seorang pasien alzheimer.

Berbarengan dengan Rose, ditampilkan juga sosok lain yang menjadi bagian cerita, yakni pasangan Nina (Penelope Cruz) - Mike (Paul Walker) dan Jules (Marcus Thomas). 

Tiga bagian penceritaan ini mewakili mereka yang memiliki masalah yang berujung pada nuansa kesendirian dan kesepian pada malam Natal. Perayaan ini seolah dianggap sebagai momentum bahagia yang harus dilewati semua orang. Kesedihan tak mendapatkan ruang di malam Natal. Lebih kurang tema Natal memang mengisahkan tentang hal tersebut.

Baca juga: Eastern Promises, Film tentang Mafia Rusia

Rose adalah seorang editor buku yang berhasil. Namun rumah tangganya gagal. Selain pekerjaan, urusan utamanya adalah merawat ibunya. Seorang staf di gedung yang sama menaruh perhatian kepada Rose. Namanya Marco. Sekretaris Rose paling getol menjodohkannya dengan pemuda itu. "You need sex. Good sex!" Begitu ujar sang sekretaris. Tentu saja Rose menolak. Tak ada dalam bayangannya untuk berkencan dengan brondong. Namun ketika suatu kali Marco mengajaknya berkencan, Rose tidak mengelak. Sayangnya, seperti yang ia duga sebelumnya, kencan itu gagal. Kegagalan yang membawa Rose pada kesimpulan bahwa bukan itu yang ia cari. 

Kemunculan Nina, pada kali pertama membuatku berpikir tentang pertemuan dua orang dari antah berantah yang saling jatuh cinta, accidentally in love. Ternyata tidak. Mike, polisi yang membuntutinya dan menggodanya ternyata memang kekasihnya. Semacam becandaan ala mereka. Pokok persoalannya adalah Mike yang posesif dan pencemburu berat. Berulangkali Nina merasa mengalami kebuntuan dalam hubungan mereka. Meski ia sangat mencintai Mike dan ingin memiliki anak bersama Mike, ia juga satu sosok yang ingin bebas. Hal yang sulit ia peroleh dalam hubungannya dengan Mike. 

Ketika sedang berkonflik dengan Mike, dan Nina memilih pergi, terjadi perjumpaan tak sengaja antara Nina dengan Rose. Mendadak, begitu saja, Rose nyasar di rumah keluarga Nina. Kejadian yang berangkat dari salah pengertian dan nyaris membuat Rose makin menciut dalam kesepiannya pada jelang Natal pada kahirnya berakhir baik. Nina mengajak Rose untuk nonkrong berdua. Perbincangan mereka membuahkan perspektif baru bagi Nina yang pengalamannya masih lebih muda. 

Baca juga: The Swordman, Adu Akting Joe Taslim dan Jang Hyuk

Hal menarik adalah perjumpaan Rose dengan Charlie (Robin Williams). Perjumpaan yang juga tanpa sengaja, yang terjadi di rumah sakit itu memberikan kesan tersendiri. Rose yang tengah kehilangan pegangan, berdiri di tepi sungai. Charlie mengajak Rose menepi. Tentu saja Rose yang keras kepala pada awalnya menentang. Namun akhirnya mereka melewatkan malam yang menyenangkan di apartemen Rose. Tanpa disertai romansa. Sayangnya di akhir pertemuan itu malah diisi pertengkaran.

Sosok terakhir, Jules adalah orang dengan trauma. Dia mencari alasan untuk mendapatkan perhatian orang. Tak tanggung-tanggung, dia dengan sengaja minta seseorang untuk mematahkan lengannya. Dan malam Natal-nya berakhir di IGD rumah sakit. 

Ah, ya, ada bagian cerita lain yang juga unik. Yakni sosok Artie Venizelos (Alan Arkin) yang meyakini Mike sebagai penjelmaan dari istrinya yang meninggal dunia. 

Kisah masing-masing tokoh ini berkelindan satu sama lain. Meski tak semuanya berjalan dengan baik, tapi pada akhirnya berujung pada kegembiraan yang lain. Setiap tokoh menemukan pembelajarannya untuk kemudian membuat komitmen baru untuk hari-hari ke depan yang lebih baik. Klise, sih, tapi barangkali hidup memang sesederhana itu. Kita saja yang berharap ada banyak drama dalam film yang kita tonton, hehe.

Baca juga: Jalan Jauh, Jangan Lupa Pulang, Sekuel NKCTHI


Film Natal yang Menghangatkan

Meski IMDb hanya memberi poin 6,1 dari skala 10, namun cukup banyak orang yang merekomendasikan film ini untuk menjadi hiburan di akhir tahun. Kurasa ya karena film ini tak membuat orang mesti berpikir keras. Semua pemain menjalankan perannya dengan baik sehingga secara keseluruhan film ini hadir sebagai tontonan yang menjawab kebutuhan mereka yang butuh hiburan ringan.

Susan Sarandon nama yang bisa menjadi jaminan. Aku sendiri tak mengidolakannya, tak pula banyak nonton filmnya. Tapi rasa-rasanya, dari sejumlah filmnya yang kutonton, asyik-asyik aja. Tak ada yang kunilai buruk. Penelope Cruz aku malah nyaris tak pernah menonton filmnya. Tapi permainan fine-fine aja. Dan cantik, yang jelas. Sepadan dengan Paul Walker. Yang aku nggak cukup sreg mungkin Marcus Thomas. Entah apa karena aku merasa peran Marcus di sini terasa sekadar tempelan atau memang pemeranannya tak cukup ciamik. Yang cukup unik dan mengejutkan adalah hadirnya Charlie yang seolah ada selipan cerita metafisik.  

Baca juga: Midnight in Paris, Komedi Fantasi Keren ala Woody Allen

Bagaimanapun film-film seperti ini cukup dibutuhkan. Tentang bagaimana perasaan kesepian menyerang manusia. Tentang trauma masa kecil yang terus mendera jika tak diselesaikan; ujungnya tak mampu menjadikan diri sebagai sosok yang cukup berharga, kehilangan eksistensi diri, dll. Di sisi lain, juga tentang bagaimana manusia tetap menjalankan fungsinya sebagai makhluk yang dengan akal budinya bisa mendorong orang lain untuk bisa hadir dengan lebih baik. 

Suasana Natal yang meriah penuh kerlip khas Hollywoood juga menjadi tampilan yang menyenangkan film yang sebagian besar lokasi pengambilan gambarnya dilakukan di Montreal, Quebec, Kanada ini. Noel, film Natal rilisan tahun 2004 ini ditulis oleh David Hubbard dan disutradarai oleh Chazz Palminteri.

Sejauh ini sih rasanya aku belum menemukan film tentang hari raya yang menampilkan kisah yang sama sekali berbeda. Sebagian besar mencakup topik yang senada terkait perubahan sikap dan cara pandang terhadap satu masalah. Bukan hanya Natal, tapi juga di film dengan latar Idul Fitri khas Indonesia. Atau tentang Imlek di drama China. Dan perayaan keagamaan di berbagai belahan dunia. Tapi tetap saja, sebagai sebuah tontonan, film Natal lama ini masih layak dijadikan pilihan.

Baca juga: Honest Thief, Saat Aktor Gaek Asik Beraksi

Passengers, Film Thriller yang Manis

Tak sengaja nonton film ini. Awalnya hanya menduga cerita romance dengan latar peristiwa kecelakaan pesawat saja. Ujungnya agak mengejutkan, dan menyisakan ruang kosong. Mengejutkan karena tak menduga kalau film ini dimaksudkan sebagai film thriller/misteri. Ruang kosong karena menyisakan beberapa pertanyaan. Passengers, film dengan pemeran utama Anne Hathaway dan Patrick Wilson yang rilis tahun 2008.



Baca juga: Dallas Buyers Club, Perjuangan Hidup Pengidap HIV-AIDS

Filmnya sudah berumur 16 tahun tapi tak pernah baca sedikit pun. Yang sempat aku tahu malah The Passengers yang rilis tahun 2016 dan dibintangi Jennifer Lawrence dan Christ Pratt. 

Sinopsis

Film ini mengisahkan peristiwa kecelakaan tragis yang menimpa sebuah pesawat terbang. Seluruh penumpang tewas, kecuali 10 orang. Beberapa dari sepuluh orang inilah yang menjadi pembuka adegan. Konsultasi dengan psikiater cantik, Claire Summers (Anne Hathaway) sebagai upaya mengatasi masa post-trauma pasca kecelakaan tersebut. Masing-masing korban memiliki versinya sendiri terkait pengalaman terakhir sebelum pesawat yang mereka tumpangi jatuh. Versi berbeda-beda yang memusingkan Claire.

Di antara penumpang yang selamat itu adalah Eric (Patrick Wilson), sosok ganteng yang mencuri perhatian Claire. Awalnya, seperti halnya penumpang lain dengan segala keanehannya, Claire berusaha memahami si lelaki yang tak kalah aneh ini. Sosok yang membuatnya khawatir sekaligus penasaran. Intensitas komunikasi mereka sebagai psikiater dan pasien membuahkan sesuatu yang berbeda. Mereka saling jatuh cinta. Claire sudah melewati batas profesionalnya. 

Dalam upaya mencari kebenaran di balik penyebab peristiwa kecelakaan tersebut, muncullah fakta-fakta yang ganjil. Sekali waktu terasa mencekam dan misterius, hingga akhirnya terkuaklah fakta yang sesungguhnya. Claire berhasil mengungkap sendiri misteri yang menyelimuti peristiwa kecelakaan pesawat tersebut. Bahwa mereka semua adalah korban. Bahwa mereka semua sudah berada di alam lain.

Baca juga: The Intouchables, Film yang Hangat tentang Relasi Manusia


Oh, Film Thriller, to?

Berhubung memang blank tentang film ini, tak tahu betul dan genre-nya. Baru tahu kalau film ini masuk dalam kategori thriller. Yang kurasakan, sih, ya nggak ada seram-seramnya. Tidak menegangkan juga. Yang lebih tertangkap justru romansa percintaan sang psikiater dan pasiennya. 

Ada titik pertama yang memunculkan rasa seram. Yaitu ketika sesi konsultasi bersama, ada sosok yang melihat dari kejauhan. Apakah itu hantu? Apakah itu korban yang mengalami sakit jiwa? Begitu pula saat para korban menghilang satu per satu berbarengan dengan kedekatan Claire dengan Eric, lalu kemunculan anjing yang ganjil. Pun dengan kemarahan-kemarahan yang ditampilkan sang pilot, sempat membuatku berspekulasi ini dan itu. Nyatanya, kecele. 

Bagi penggemar thriller sudah dipastikan kecewa dengan film garapan sutradara Rodrigo Garcia ini. Tapi, paling tidak, meski tak memenuhi ekspektasi, para pemain, Anne Hathaway, Patrick Wilson, serta pemeran pendukung seperti Dianne Wiest, Clea Duvall, dan David Morse melakukan tugasnya dengan baik. 

Buatku yang nonton tanpa sengaja, tanpa ekspektasi sama sekali, nggak terlalu masalah. Masih asyik-asyik saja, cukup menghibur, meski memang terasa beberapa bolongnya. Terlalu sederhana untuk sebuah peristiwa kecelakaan besar yang menyebabkan kematian ratusan orang. Jadi, cukuplah aku menganggap ini sebagai film romance. Yang bahkan di ujungnya menyisakan ruang hampa tentang cinta yang (seolah) tak nyata. Mereka saling jatuh cinta, ternyata sudah berada di dunia yang tak riil. Lalu memunculkan pertanyaan-pertanyaan lain: betulkah dunia yang "itu" tidak riil? Yang menganggap itu sebagai realitas nyata dan bukan adalah kita yang ada di alam sadar kita sekarang. Bisa jadi ada di alam sadar yang lain, di luar kesadaran kita. Ya, beberapa pertanyaan itu dan pertanyaan lain masih memenuhi kepalaku sampai beberapa hari berikutnya. Haha!

Baca juga: Film Mafia yang Perlu Dijadikan Teman Malem Mingguan


Judul: Passengers

Tahun rilis: 2008

Sutradara: Rodrigo Garcia

Produser: Joseph Drake 

Naskah: Ronnie Christensen

Pemain: Anne Hathaway,Patrick Wilson, Clea DuVall, Andre Braugher, David Morse, Dianne Wiest 

Musik: Ed Shearmur 

Sinematografi: Igor Jadue-Lillo 

Editing: Thom Noble 

Distribusi: TriStar Pictures 

Durasi: 93 menit


Agak Laen, Film Komedi Horor yang Menghibur

Sejak tayang perdana pada 1 Februari 2024 lalu, Agak Laen telah melampaui capaian 5 juta penonton. Angka tersebut menjadikan film ini berada di urutan ketujuh film Indonesia dengan penonton terbanyak. Prestasi itu sebelumnya dipegang oleh Sewu Dino (2024), Laskar Pelangi (2008), dan Habibie & Ainun (2012), yang mengisi peringkat 7 hingga 10. Agak Laen menjadi produksi ketiga Imajinari. Sebelumnya, mereka telah sukses dengan dua filmnya, Ngeri Ngeri Sedap dan Jatuh Cinta Seperti di Film-Film.



Baca juga: Gundala, Sebuah Harapan untuk Film Indonesia

Film yang disutradarai oleh Muhadkly Acho ini menjadi pilihanku ketika sedang ingin nonton sekaligus sedang butuh ketawa. Tak mencari tahu lebih detail, selain yang disebut seorang kawan bahwa film ini menghibur. Tak tahu juga bahwa ternyata ini film berangkat dari Podcast Agak Laen yang telah mengudara sejak 2021, melalui channel audio lalu YouTube. 


Sinopsis

Agak Laen berkisah tentang empat orang sekawan, yaitu Indra Jegel, Boris Bokir, Oki Rengga, dan Bene Dion Rajagukguk. Keempat orang yang tampil dengan namanya masing-masing ini sedang berjuang untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Indra sedang terjerat utang, Boris sedang membutuhkan uang untuk masuk tentara, Oki menganggur setelah keluar dari penjara, dan Bene sedang membutuhkan uang untuk melamar kekasihnya. 

Cerita diawali dengan adegan di pasar malam. Oki dengan pakaian ala perempuan menjadi sasaran permainan. Pengunjung yang berhasil melempar bola ke papan, dapat menjatuhkannya ke dalam kolam air. Ia jadi sasaran perundungan pengunjung yang cermat dalam melempar bola. Kemarahan Oki menjadikan pemuda itu dipecat dari pekerjaannya tersebut. 

Dari peristiwa itu, Oki menjumpai karibnya, 3 orang bermarga Batak yang tengah mengalami masa sulit karena rumah hantu yang mereka buat di arena pasar malam, sepi pengunjung. Mereka sudah mendapat ancaman pengelola pasar malam untuk cepat melunasi sewa, karena kalau tidak, akan segera dipindahtangankan. Oki pun ambil peran. Diam-diam menggadaikan sertifikat rumah tanpa sepengetahuan ibunya. Uangnya ia gunakan untuk memperbaiki wahana. Namun, dari sinilah petaka bermula.

Secara tak sengaja, seorang pengunjung rumah hantu meninggal dunia dalam area wahana. Mereka merasa tak punya pilihan lain selain mengubur mayat pengunjung tersebut. Meletakkan batu nisan di atasnya, seolah kuburan itu bagian dari seting wahana. 

Baca juga: Paranoia, Film Riri Riza yang Berakhir dengan Nggak Oke

Malam itu, peristiwa menakutkan terjadi. Angin kencang memasuki arena, menciptakan kengerian. Empat sekawan itu menjadikan peristiwa tersebut sebagai peluang. Benar adanya, pengunjung dihadapkan pada kengerian yang nyata. Tayangan soal teror di rumah hantu itu pun menjadi viral di media sosial. Penonton berduyun-duyun datang. Uang pun mengalir deras. Masing-masing mereka berhasil memenuhi kebutuhannya, termasuk Oki yang akhirnya bisa menebus kembali sertifikat rumah dan membayar sewa tanah makam untuk ibunya jika kelak meninggal.

Yang menjadi persoalan kemudian, hilangnya sang penonton, Pak Basuki, yang adalah anggota dewan itu akhirnya ditangani kepolisian karena laporan sang istri. Pengusutan mulai dilakukan. Kecemasan menghampiri empat sekawan. Terlebih setelah sejumlah fakta yang muncul sama sekali tak menguntungkan mereka. Keputusannya: memindahkan mayat Basuki. Pilihannya adalah tanah makam milik ibu Oki. 

Kisah pun berakhir. Berakhir sesuai dengan norma yang berlaku, bahwa hal yang "baik"-lah yang akan selalu menang. 


Film dengan Humor Segar yang Menghibur

Cerita yang diangkat film Agak Laen sebetulnya hal yang sederhana. Seting lokasi, pasar malam, sangat dikenal di kalangan masyarakat kita. Persoalan yang ditampilkan dari para tokohnya juga hal yang dialami oleh sebagian besar kalangan di negeri kita. Aneka celetukan lucu soal kesukuan juga bukan hal yang aneh. Menjadi hidup karena ada drama di dalamnya. Dan drama itu ditampilkan dengan sangat baik oleh para pelakunya. 

Baik Indra Jegel, Boris Bokir, Oki Rengga, maupun Bene Dion Rajagukguk bermain dengan baik. Chemistry di antara keempatnya selain terbangun dengan kuat juga tampak alami. Tektokan di antara mereka terlihat wajar, baik dalam adegan kocak, horor, serius, maupun sedih.  

Baca juga: Sebelum Iblis Menjemput 2, Film Horor Pilihan 2020

Agak Laen tentu saja film dengan genre komedi. Jadi meski adegan horor, serius, maupun sedih, tetap ada dialog kocaknya. Dari yang penuh kepanikan, berakhir dengan kelucuan.  

"Dhemite Batak kabeeeh...!!" teriak dua orang yang kejeblos dalam bekas kuburan. Tak ingat persis, apakah pake Bahasa Jawa atau campuran. Tapi begitu saja sudah membuatku mengikik.

Atau saat mereka berempat memegang batu, bermaksud mencederai pengelola pasar malam, tapi ketahuan: 

"Itu batu buat apa?"

"Buat nahan berak."

Dialog dalam adegan-adegan di film ini cukup kuat. Beberapa istilah khas orang Medan memenuhi semua adegan. 

"Muncung kau itu!" Haha!

Ada juga adegan tanpa dialog, seperti saat dugaan teror hantu Basuki dan tiga orang berhamburan, Jegel tertinggal. Menggantung sebagai pocong. Atau Jegel juga yang tiap-tiap harus mengencingi batu nisan.

Yang tak kalah menarik buatku adalah memasukkan isu yang terbilang sensitif di tengah masyarakat kita, isu agama, menjadi obrolan yang lucu. Demikianlah semestinya, agama bukan sesuatu yang membuat orang kehilangan selera humor. Beberapa dibuat tersirat. Ada yang ditunjukkan dengan tegas yaitu saat mereka merasa perlu "orang pintar" buat mengusir hantu Pak Basuki.

"Kita ke pendeta aja."

"Kenapa nggak ke ustad? Kamu mau bilang kalau ustad nggak mampu?!"

Nggak ingat persis dialognya, lebih kurang demikian. Perbedaan yang di sebagian kalangan bisa memantik emosi, di film ini dijadikan sisipan yang mengundang tawa. 

Tapi tak luculah kalau semuanya sekadar digambarkan lewat tulisan seperti ini. Pastinya nggak mudah juga buat sang sutradara, Acho, untuk mengemas berbagai komponen itu jadi satu rangkaian cerita yang menarik sekaligus menghibur. So, selagi Agak Laen masih tayang di bioskop, nonton deh!

Baca juga: Jalan Jauh Jangan Lupa Pulang, Sekuel NKCTHI


Judul Film: Agak Laen

Genre: Komedi horor

Durasi: 1 Jam 59 Menit

Rating Usia: R13+

Sutradara: Muhadkly Acho

Skenario: Muhadkly Acho

The Kite Runner, Layang-layang dan Hal-hal yang Berubah

Pernahkah kamu mendapati kisah seseorang yang berturut-turut ditimpa kemalangan dalam hidupnya? Pernahkah pula kamu mendapati dirimu sebegitu pengecutnya, tak tergerak untuk melakukan sesuatu yang sebetulnya -mungkin- dapat mengubah nasib seseorang? Dua hal itu menjadi bagian kisah yang dituturkan Khaled Hosseini dalam The Kite Runner. Persahabatan dua bocah yang diwarnai layang-layang seperti yang Hosseini dijadikan judul novelnya. Namun, penulis berdarah Afganistan tak hanya berkisah tentang persahabatan remaja namun juga perihal bangsa yang terkoyak oleh pertikaian tak kunjung padam di negerinya.


Baca juga: Mengenal Vincent Van Gogh lewat Lust for Life


Sejauh ini, rasanya hanya buku ini yang bisa membuat mataku basah sepanjang membacanya. Aku menuntaskannya pada 2006. Ingin menuliskannya kembali di sini karena kapan hari menemukan promo dari Penerbit Mizan yang rupanya mencetak ulang, entah yang keberapa kalinya, buku ini. 


Sinopsis

The Kite Runner berkisah tentang persahabatan Amir dan Hassan, dua anak Afghanistan. Usia dan ruang tumbuh bersama yang membuat mereka berteman, karena sesungguhnya ada perbedaan mencolok dari keduanya. Amir adalah anak seorang saudagar  berpengaruh di Kabul. Kekayaannya digambarkan dengan kepemilikannya atas Mustang hitam. Ia gemar menonton dan membaca apa saja. Amir menonton The Magnificent Seven hingga belasan kali. Ia membaca, mulai dari Rumi, Hafiz, Saadi, Victor Hugo, Mark Twain, hingga Ian Fleming. Keluarga Amir adalah penganut Islam Sunni. Mereka berdarah Pashtun, kelompok paling dominan di  Afganistan.

Ayah Hassan adalah pembantu di rumah Amir. Seperti ayahnya, Ali, yang mengabdi kepada ayah Amir, Hassan pun mendedikasikan hidupnya untuk Amir. Keluarga Hassan  berdarah Hazara, penganut Islam Syiah, dan berada dalam tingkatan paling rendah dalam strata sosial  masyarakat Afgan. Jika Amir telah menonton banyak film dan membaca banyak buku, Hassan buta huruf. Ia hanya tahu Shahnamah, kisah epik abad ke-10 tentang pahlawan-pahlawan Persia Kuno. Secara fisik Hassan juga tidak elok. Bertubuh ringkih dan berbibir sumbing. Yang menyamakan keduanya adalah bahwa mereka sama-sama tidak mendapatkan kasih sayang ibu kandung sejak lahir.   

Amir merasa ayahnya tidak mencintainya. Ia menduga, hal itu disebabkan oleh kematian sang ibu setelah melahirkannya. Dalam kesehariannya, Amir berusaha keras untuk melakukan banyak hal yang bisa membuat ayahnya bangga akan dirinya. Berusaha membeli perhatian dan cinta sang ayah. Itu menjadi alasan utamanya saat ikut dalam turnamen layang-layang, sebuah event besar yang digelar tiap tahun di Kabul. 

Bagi para pengejar layang-layang, hadiah yang paling berharga adalah layang-layang yang terjatuh paling akhir dalam sebuah turnamen musim dingin. Itulah trofi kehormatan yang diperebutkan, sesuatu yang bisa dipajang untuk dikagumi para tamu.

Baca juga: Fragmen 9 Perempuan dalam Diskusi di Bandung

Amir bertekad untuk menang dalam turnamen tersebut. Dan, dengan dibantu oleh Hassan, ia memang berhasil menjadi pemenang. Namun, sebuah peristiwa terjadi. Peristiwa yang menghantui Amir seumur hidupnya. Merasakan diri sebagai pengkhianat sekaligus pengecut. Percayalah, bagian ini bakal membuatmu terisak, paling tidak menjadikan matamu berkaca-kaca. 

Amir terselamatkan dari beban batinnya saat bersama keluarganya meninggalkan Afganistan. Pada akhirnya, Amir memang kembali. Di tengah situasi yang berbahaya, Amir perlu kembali ke negerinya untuk menuntaskan utang masa lalunya.


Novel Afganistan Pertama dalam Bahasa Inggris

Khaled Hosseini menuliskan ceritanya dengan mulus, mudah diikuti meski sekali waktu memunculkan kilas balik. Ritmenya yang cepat bakal membuat kita tak ingin berhenti membaca. Kita diajak menikmati eksotisme Afaganistan. Kita disodori pula penderitaan yang nyaris bercokol sepanjang waktu di negeri tersebut. Konflik yang terus berkelindan. Mulai dari konflik antarsuku, hingga invasi Uni Soviet yang menyebabkan terjadinya eksodus besar-besaran warga Afghanistan. Mereka mencari suaka ke Pakistan, lalu Amerika Serikat. Pengusiran Soviet oleh kelompok Taliban awalnya seperti angin segar. Namun nyatanya itu tak lebih dari bencana yang berganti nama. 

Ada bagian-bagian yang konon merupakan pengalaman sang penulis sendiri. Misalnya saat Kabul jatuh dalam cengkeraman Moskow, ayah Hosseini sedang menjadi diplomat di Paris. Keluarga mereka mengalami kesulitan untuk kembali ke Afganistan, bahkan harus mengajukan suaka politik kepada pemerintah Amerika Serikat.

Novel ini merupakan karya fiksi pertama Khaled Hosseini, yang adalah seorang dokter spesialis penyakit dalam di San Jose, California. Namun Hosseini tampaknya membuat karyanya dengan sempurna. Tak ada terlewat. Detailnya, baik lingkungan maupun orang per orang, menarik. Tak ada yang terlewatkan. Hosseini juga memberikan tugas kepada para tokohnya dengan proporsional. Tak ada tokoh yang menjadi protagonis murni. Hosseini tetap menjadikan mereka sebagai manusia yang memiliki sisi gelap, yang pada saat-saat tertentu menjadi pengecut dan pengkhianat. 

Baca juga: Memang, Selera Ngopi Tak Dapat Diperdebatkan

Melalui novel ini, Hosseini menerima penghargaan Humanitarian Award dari UNHCR. The Kite Runner menjadi novel Afganistan pertama yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan telah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa di 70 negara.


Judul: The Kite Runner

Penulis: Khaled Hosseini

Penerbit: Qanita (PT Mizan Pustaka), Cetakan Pertama, 2003

Tebal: 616 halaman

 

Veronika Memutuskan Mati, Novel Paulo Coelho tentang Kerapuhan Manusia

Sesuai judulnya, nama Veronika adalah tokoh sentral novel karya Paulo Coelho ini. Ia, sosok perempuan 24 tahun yang kecewa dengan kondisi sosial di sekelilingnya. Ia juga mengalami kejenuhan dalam hidupnya, bosan menghadapi rutinitas, hidup yang stagnan. Dan, Veronika yang cantik dan pintar itu memilih untuk mati. Aku langsung terkesan saat pertama melihat buku ini, karena saat itu nama Veronika baru saja tersematkan di bagian depan namaku.  



Baca juga: Berhikmat bersama Loki Tua

Aku membaca buku ini 2008. Menuliskan reviu singkatnya di multiply. Waktu berbenah buku beberapa bulan lalu, aku bertanya-tanya, ke mana perginya buku itu. Baru beberapa hari lalu terjawab. Seorang kawan masa lalu, yang entah kenapa menghilang begitu saja, tiba-tiba berkirim WA dan bilang akan mengembalikan beberapa buku dan DVD film yang ia pinjam. Baiklah, si Veronika akhirnya pulang. 


Kenapa Harus Mati? 

Seringkali kematian menjadi sesuatu yang layak dipertimbangkan. Ada yang bilang, "toh tidak ada yang berubah, mati sekarang atau nanti". Atau yang pernah menjadi trend, bunuh diri untuk menghindari kesulitan di masa depan. Atau atas alasan tak sanggup menghadapi tekanan dalam posisi mereka sebagai orang terkenal. Contohnya kasus-kasus bunuh para seleb Korea Selatan. Yang terakhir, pada Desember 2023, kematian Lee Sun-kyun. Salah seorang aktor pemain film pemenang Oscar, Parasite ini ditemukan tak sadarkan diri di sebuah taman di pusat kota Seoul. 

Itu jugalah yang kemudian dilakukan Veronika. Dari surat-surat yang ditemukan kemudian, isinya mengkritik masyarakat akan ketidaktahuan mereka akan negara Slovenia. Orang sering menyangka Slovenia adalah nama kota di Jerman. Kekesalannya itu menjadi salah satu alasan untuk bunuh diri. Sederhana bukan? Namun begitulah manusia dengan segala kkompleksitasnya, justru dapat membuat keputusan dengan alasan yang terkesan remeh-temeh.

Maka, Veronika yang cantik dan pintar itu pun mencoba untuk membunuh dirinya. Obat tidur dalam jumlah banyak pun ditenggaknya. Sayangnya, sayangnya Veronika tidak langsung mati. Alhasil, Veronika dibawa ke rumah sakit jiwa Villete, yang terletak di ibukota Slovenia, Ljubljana. Di rumah sakit inilah Veronika justru menemukan banyak hal menarik. Orang-orang yang unik dan berbeda, yang merasa tidak perlu menjadi bagian dari kolektivitas massa. Kadang terbersit penyesalan karena mencoba mengakhiri hidupnya. 

Namun tentunya sudah terlambat, obat-obatan yang dikonsumsi Veronika sudah merusak jantungnya. Seminggu waktu yang diberikan dokter untuk Veronika menikmati kehidupan. Dalam kurun waktu itu, Veronika mendapatkan pelajaran hidup dari tiap "orang aneh" di sekitarnya. Di rumah sakit ini Veronika belajar mengekspresikan emosinya, gairahnya terhadap seks, belajar arti hidup, jatuh cinta, dsb. Dan Veronika pasrah untuk sisa hidupnya.

Baca juga: Cantik itu Luka, Kisah Perempuan-perempuan dengan Luka


Novel tentang Kerapuhan Jiwa

Kegilaan adalah ketidakmampuan mengkomunikasikan apa yang ada dalam pikiran. Kita semua pernah mengalaminya. Kita semua, apa pun bentuknya, adalah gila (hal. 78)

Lewat novel yang diterbitkan tahun 1998 ini, Paulo Coelho mengisahkan individu-individu rapuh yang terlempar ke rumah sakit jiwa karena hasrat, impian, dan sikap hidup mereka berbeda dengan yang dianggap normal oleh masyarakat.

Ada kisah percintaan yang menjadi bumbu novel ini, yang membuat pembacanya ikut cemas, akankah hubungan Veronika dengan Eduard, si penderita skizofrenia, dapat bertahan. Selebihnya Coelho memaparkan tentang kegelapan jiwa-jiwa. Mereka yang menjadi gila dan jauh dari kenormalan. Dan seperti novel-novelnya yang lain, Coelho mengajak pembacanya untuk menggali lebih dalam makna kehidupan. Ia memunculkan pertanyaan sederhana yang membuat kita berpikir: sesungguhnya siapa yang gila?

Lewat Veronika, Coelho seolah juga mengingatkan bahwa hidup bahagia bukanlah hidup dalam kenormalan, dalam zona nyaman. Sekali waktu perlu keluar dari rel dan segala macam keteraturan serta keajegan. Menikmati gejolak dan liku-liku yang menantang dan tak terprediksi.

Baca juga: Perjalanan Menulis dan Fragmen 9 Perempuan


Judul    : Veronika Memutuskan Mati

Penulis : Paulo Coelho

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, Cetakan keempat, 2006

Tebal     : 258 halaman


Berhikmat bersama Loki Tua, Novel Yusi Pareanom

Benar kata seorang kawan yang telah membaca Loki Tua lebih dulu. Dikatakannya, "Mandasia terasa seperti kisah kolosal yang megah, sedangkan Loki adalah cerita personal yang lebih sunyi." Maka aku memilih istilah "berhikmat" untuk mewakilinya. Tidak ada perbandingan yang satu lebih bagus dari yang lain. Hanya berbeda saja. Dan kukatakan, aku menyukai kedua-duanya. Ini buku keempat Yusi Pareanom yang kubaca, dan penilaianku terhadapnya tak berubah. Ia pintar mendongeng, dan dengan segera namanya telah menjadi salah satu penulis favoritku. 



Baca juga: Perjalanan Menulis dan Fragmen 9 Perempuan

Aku membaca Mandasia dalam waktu yang pendek. Terasa gegasnya karena ritmenya memang terasa memburu. Berbeda dengan Loki Tua yang lebih lamban. Justru ada kenikmatan tersendiri membacanya pelan-pelan. Di buku ini aku tak mengalami euforia kegembiraan karena menemukan istilah-istilah ganjil, tapi banyak hal yang malah membuatku terbawa dalam perenungan. 


Sinopsis

Seperti sudah diceritakan sebelumnya dalam buku Mandasia, Loki Tua adalah seorang juru masak yang ahli. Di buku ini diceritakan detailnya,  pengalaman apa saja yang sudah menempanya hingga menjadi begitu ahli. Bukan hanya dalam hal memasak namun juga berbagai peristiwa kehidupan. 

Loki telah menjadi juru masak sejak usia muda. Kepiawaiannya tak diragukan. Raja sangat mengandalkannya dalam menyajikan masakan istimewa. Hingga suatu kali, ia kehilangan kepercayaan raja gara-gara mengambil burung istimewa istana sebagai bahan masakan. Ia pun diusir. Takdir membawanya ke Jolo-Jolo, kawasan ia dijual sebagai budak. Namun keberuntungan masaih berpihak padanya saat kepala dapur istana mendapati kepandaiannya memasak dan memintanya bekerja di dapur. Di tempat ini pulalah ia mengalami jatuh cinta kepada perempuan pertamanya, Hokulani, yang kemudian dinikahinya. Sayangnya, hidup tak selalu indah. 

Tak berapa lama setelah menikah, terjadi kerusuhan di Jolo-Jolo. Sebagai bagian dari abdi Bangsawan Kiram Pahala, ia diminta untuk mengikuti junjungannya itu menuju pulau yang ditinggali keluarganya. Sebagian orang mati sia-sia karena kabar perjalanan mereka telah terendus musuh. Kisah Loki berikutnya tak begitu baik. Kiram Pahala dan tewas oleh perampok. Loki terusir. 

Dalam perjalanan berikutnya ia berjumpa dengan juru masak terkenal yang juga pemilik restoran Selera Raja, Guru Pui. Kepala juru masak, Kang, yang dititipi Guru Pui hanya menjadikan Loki sebagai kacung. Nasib berkata lain. Setelah lebih dari 3 tahun hanya jadi orang suruhan, Loki diuntungkan oleh taruhan yang dibuat kelompok Sumpit Merah. Sang pemimpin, Sin Liong terpesona oleh bakat Loki Tua dan mengajaknya bergabung. Bersama kelompok ini, Loki Tua bertualang ke berbagai penjuru Zhongguo. Sayangnya kelompok ini kemudian ditumpas oleh pemerintah baru Zhongguo. 

Keberuntungan mempertemukan Loki Tua dengan sebuah kafilah. Kagum kepada pemimpin kafilah, Sayid Al-Berber, Loki memutuskan untuk bergabung. Saat mengikuti sang aulia berkelana, Loki melakukan dua kali pernikahan. Pertama, dengan Zuba, anak seorang penduduk desa yang lmereka singgahi. Perempuan yang tak disentuhnya. Yang kedua, menikahi seorang janda dengan empat kali pernikahan, Galitia. Namun Loki Tua terpaksa meninggalkan istri barunya karena harus kembali berkelana bersama Sayid Al-Berber ke Paseh di Pulau Swarna. Di sinilah Loki berpikir kalau ia tak lagi satu pemahaman dengan sang aulia dan memutuskan berpisah. 

Baca juga: Wuni, Persekutuan Manusia dengan Makhluk Gaib

Dalam pengelanaan berikutnya, Loki Tua berjumpa dengan Ki Ranggahasta di padepokannya. Sang pandai besi ini memintanya menjadi menantu. Menikahlah Loki Tua dengan Agnimurti, anak gadis Ki Ranggahasta. Loki Tua kembali dipaksa untuk berpisah dari istrinya. Kali ini karena serangan pelanggan mertuanya. Agni memaksanya untuk pergi sebelum ia dicari untuk dibunuh. 

Pengembaraan berikutnya adalah bagian yang beririsan dengan "Mandasia" yakni kisah perjanjian Loki Tua dengan Hoyoso. Juga jawaban-jawaban atas cerita yang terasa bikin bertanya-tanya di buku itu, seperti peristiwa di Gerbang Agung yang menjadi akhir dari kisah Raden Mandasia. 

Meski tak segegap-gempita buku Mandasia, petualangan Loki tua juga seru. Sejumlah bagian masih membuatku terbahak karena sikap-sikap konyol yang ditampilkan. 

Lengkapnya, baca sendiri deh, ya.


Loki Tua dan Perenungan

Sungguh, membaca "Pengantin-pengantin Loki Tua" ini membuatku lebih banyak merenung. Meski, tahu betul, bahwa cerita Loki Tua ini hanya dongeng, seperti yang dikatakan sendiri oleh sang penulis, Yusi Avianto Pareanom. Loki tak menyampaikan petuah. Bahkan banyak bagian yang berisi sumpah serapah meski tak sekental yang dilakukan oleh Sungu Lembu di buku "Raden Mandasia". Tapi perjalanan hidup Loki Tua yang dibeberkan di buku ini terasa betul memperkaya wacana, bahwa banyak kehidupan lain di luar sana. 

Cerita dikisahkan dari PoV orang ketiga. Berbeda dengan Raden Mandasia yang diceritakan oleh orang pertama. Ini menjadikan kisahnya lebih lentur dan leluasa. 

Meski tak sebanyak di buku sebelumnya, di Loki Tua ini Yusi juga masih memasukkan kisah-kisah lain menjadi bagian yang unik, seperti cerita Ken Arok yang ada di bagian padepokan Ki Ranggahasta. Dan tentu saja, tuturan cerita soal aneka makanan begitu hidup dan menggoda. Rasanya seperti ikut menyaksikan langsung proses pengolahan makanannya. Betul-betul mengajak berimajinasi.

Pengantin-pengantin Loki Tua menjadi salah satu buku terbaik yang kubaca pada 2023.

Baca juga: Cantik Itu Luka, Kisah Perempuan-perempuan dengan Luka


Judul: Pengantin-pengantin Loki Tua

Penulis: Yusi Avianto Pareanom

Penerbit: Banana, 2023

Tebal: 343 halaman









The Fighter, Film tentang Keluarga dan Pengorbanan

The Fighter. Film yang memberi pemain dan tim produksinya sejumlah ganjaran, terutama Melissa Leo dan Christian Bale yang memenangkan Oscar lewat peran mereka sebagai aktor dan aktris pembantu. Film ini dirilis pertama kali pada 10 Desember 2010 di Amerika Utara untuk kalangan terbatas. Berkisah tentang cerita nyata petinju Irlandia Micky Ward. 



Baca juga: March of Penguins, Saatnya Belajar tentang Cinta dari Penguin

Aku terpesona oleh Christian Bale bukan karena penampakan tampannya sebagai Bruce Wayne, anak orang kaya di Gotham City. Tapi di film ini. Menyukai karakter sinting yang dengan sangat baik diperankannya. The Fighter ada dalam file film yang kusimpan dan kutonton lebih dari dua kali.


Sinopsis

Ward (Mark Wahlberg), petinju berusia 30 tahun dan bertanding di kelas welter adalah pemuda yang berasal dari kelas pekerja di daerah Massachusetts. Sebagai bagian dari keluarga yang tergolong kalangan bawah, Ward tidak memliki manajer dan pelatih khusus. Maka jadilah sang ibu, Alice Ward (Melissa Leo) bertindak sebagai manajernya. Sedangkan posisi pelatih dipegang oleh Dicky Eklund (Christian Bale) yang tidak lain adalah saudara tirinya.

Setelah memenangi beberapa pertandingan lokal, Ward berkeinginan untuk tampil profesional. Kesempatan itu pun datang. Namun rupanya ada kesalahan yang kemudian berdampak besar dalam karier tinju Ward. Lawan tanding Ward bukan seperti yang direncanakan. Maka ia hanya menjadi umpan untuk karier tinju sang lawan. Namun dari kesalahan ini jugalah Ward mendapat tawaran dari seorang pengusaha yang berminat menjadi manajernya. Di sini pulalah sejumlah konflik berawal. Sang ibu tidak terima karena Ward memilih orang lain dan bukan ibunya sendiri. Sedangkan sang kakak, Dicky, berupaya keras untuk mendapatkan uang agar bisa memberikan pertandingan yang baik untuk adiknya. Konflik menjadi lebih keras karena hadirnya Charlene Fleming (Amy Adams) yang dikencani Ward sebelum ia menderita kekalahan. Charlene melihat ada yang tidak beres dalam hubungan keluarga tersebut. 

Dicky sendiri di masa lalunya adalah petinju yang memiliki karier profesional. Dia sempat menganvaskan petinju Sugar Ray Leonard, cerita yang selalu dibangga-banggakannya. Namun ia terjebak pada kecanduan kokain. Dicky yang dikenal dengan sebutan “The Pride of Lowell” itu pun kemudian hanya menjadi malapetaka buat warga Lowell. Entah berapa kali dia keluar masuk penjara dalam kasus kriminal. Hingga yang terakhir, upayanya untuk mendapatkan uang buat latihan Ward mengantarkannya kembali ke penjara. 

The Fighter bukan hanya menjadi bagian dari deretan film dengan tema tinju, namun juga perihal mengelola konflik dan bagaimana hubungan dalam keluarga semestinya berjalan. 

Baca juga: Film Mafia yang Perlu dipilih sebagai Tontonan Malam Minggu

Bagi penggemar film India, kunjungi catatannya Mbak Ira, blogger Buton Tengah, untuk mendapatkan rekomendasi terkini. 


Enam Nominasi Oscar

Film besutan sutradara David O. Russel ini mengalir dengan baik. Suasana muram keluarga besar kalangan bawah, pertemuan kelompok pecandu, dan harapan serta obsesi akan kemenangan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik teramu dengan menarik. Bukan hanya suasana muram, peristiwa-peristiwa lucu pun dimunculkan dan menjadikan film ini utuh. Begitu pula dengan pertandingan tinju yang terasa hidup.

Adegan berlatih dan baku hantam di atas ring tergambarkan dengan baik. Mark Wahlberg mampu unjuk diri sebagai sosok petinju secara nyata. Ya, yang menjadikan film ini sukses, selain ceritanya tentu juga para pemerannya. Wahlber yang juga menjadi salah satu produser di film ini berhasil mengeluarkan potensinya. Sayangnya naskah memang lebih berpihak kepada Christian Bale dan Melissa Leo. Kedua orang ini mendapatkan penghargaan di ajang Academy Award dan Golden Globe Award, masing-masing untuk kategori Best Supporting Actor dan Best Supporting Actrees. 

Pemain lain, Amy Adams, bermain manis seperti film-film yang diperaninya sebelumnya. Chistian Bale sendiri, selain aktingnya, juga diacungi jempol karena rela menurunkan belasan kilo berat badannya demi tampil sebagai seorang pecandu narkoba. 

Baca juga: The Intouchable, Film yang Hangat tentang Relasi Manusia

Para 2011, Film The King's Speech mendapat nominasi Academy Awards terbanyak, 12. Urutan kedua dipegang oleh film koboi, True Grit,  dengan 10 nominasi. Ketiga, bersaing antara The Social Network dan Inception dengan 8 nominasi. The Fighter masuk dalam 6 nominasi.