Sembuhkan Penyakit Metabolik dengan Diet Keto dan Intermittent Fasting

Berapa sering kita ditakut-takuti pernyataan seputar angka kematian yang disebabkan oleh pola hidup tidak sehat? Sejauh yang kutemukan di media sosial saja melimpah ruah, baik dari tayangan bersponsor maupun milik personal. Apakah lantas orang mau dengan mudah mengubah gaya hidupnya menjadi lebih sehat? Mungkin ada beberapa, tapi sepertinya sebagian besarnya orang hanya membaca sambil lalu. Barangkali memang dibutuhkan pengalaman pribadi untuk bisa menjadikan sebuah pesan mendorong perubahan perilaku. Diet keto, aku melihat langsung pengalaman beberapa kawan yang bisa menurunkan berat badannya secara signifikan. Namun, apakah diet keto bisa menyembuhkan penyakit metabolik?



Baca juga: Pulihkan Trauma dan Ciptakan Hidup Sehat Selaras dengan Terapi BCR

Baru-baru ini yang kutemukan juga tentang sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa sekitar 14 juta orang berusia 30-69 tahun meninggal terlalu dini akibat penyakit. Apa sebab? Penyakit-penyakit akibat gangguan metabolik seperti serangan jantung, diabetes, dan tekanan darah tinggi. Disebutkan pula penyakit-penyakit akibat gaya hidup tidak sehat itu kini mulai menyasar orang-orang yang lebih muda. 


Apa Itu Diet Keto dan Intermittent Fasting?

Diet Keto

Diet keto atau diet ketogenik yang berasal dari kata keton, senyawa kimia yang dihasilkan dari pemecahan lemak oleh organ hati. Pola dietnya adalah dengan mengurangi atau menghilangkan komponen karbohidrat dalam menu makanan, tergantung jenis diet keto yang dipilih. Tujuan yang dicapai dalam diet keto adalah tubuh berada dalam kondisi “ketosis”, yakni ketika tubuh mulai menggunakan lemak sumber utama energi. Energi biasanya diambil dari glukosa. Dengan mengurangi atau menghilangkan komponen karbohidrat, tubuh pun kekurangan glukosa. Tubuh kemudian menggunakan lemak sebagai pengganti. 

Awalnya, diet keto ini disarankan secara medis sebagai upaya menurunkan angka kejadian epilepsi pada anak. Dalam perkembangannya, malah lebih banyak dimanfaatkan untuk penurunan berat badan.

Beberapa jenis diet keto:

Simple Keto, bertujuan menjaga kesehatan, penurunan berat badan, dan mengontrol nafsu makan. 
Konsumsi karbohidrat kurang dari 50 gr/hari; masih diperbolehkan mengonsumsi buah-buahan rendah karbo dalam porsi kecil. 

Keto untuk Kesehatan, bertujuan mengurangi peradangan kronis dan meningkatkan sensitivitas insulin. 
Konsumsi karbohidrat kurang dari 30 g/hari; pemilihan jenis karbo diperketat dan berfokus pada sayuran rendah karbo.

Keto Terapeutik, bertujuan menginduksi dan mempertahankan kestabilan ketosis. 
Diet ini banyak digunakan untuk kondisi gangguan tubuh seperti epilepsi, autoimun, dan neurodegeneratif.

Keto untuk Kanker, bertujuan menekan glukosa darah semaksimal mungkin untuk "mematikan" sel kanker yang tergantung glukosa. 
Konsumsi karbohidrat 3-10 g/hari.
Pada diet jenis ini dibarengi dengan pemantauan Glukose Ketone Index (GKI) agar tetap di bawah 1. 

Baca juga: Perbedaan Darah Rendah dan Kurang Darah


Intermittent Fasting (IF)

Sesungguhnya IF bukanlah jenis diet melainkan pola makan yang mengatur jadwal dengan kurun waktu tertentu yang disebut jendela makan. Waktunya bisa dipilih sesuai kebutuhan tubuh. 

IF memiliki 3 metode. Pertama, metode alternate day fasting, yakni pada hari yang dipilih, tanpa makanan dan hanya mengonsumsi air minum atau jus; dan hari lainnya kita dapat mengonsumsi makanan sesuai keinginan.

Kedua, modified fasting regimen, yakni pada hari yang dipilih untuk berpuasa, asupan kalori dibatasi hanya 25% dari total kebutuhan kalori;  sedangkan pada hari lain atau nonpuasa konsumsi makanan dibebaskan.

Ketiga, time-restricted feeding, yakni pembatasan waktu makan setiap harinya yang disebut jendela makan. Kita hanya bisa makan pada jendela waktu yang kita pilih, misalnya 16-8, yang artinya 16 jam puasa, 8 jam makan. Pilihan waktunya dibebaskan. Dari jendela waktu 8 diturunkan menjadi 6, kemudian 4. 

IF metode ketiga inilah yang belakangan hari banyak dilakukan dan kita akan bahas di sini.


Perpaduan Diet Keto dan IF 

Diet keto dianggap efektif menurunkan berat Sudah banyak testimoni yang dibagikan orang lewat berbagai media. Namun, ternyata bukan hanya soal berat badan. Dengan pola makan diet ini, berbagai macam penyakit metabolis bisa dicegah dan disembuhkan. Kadar insulin turun, tubuh pun menghabiskan simpanan glikogen ada di otot dan hati. Bahkan CEO Lineation Clinic, dr. Dhavid Avandy Jaya meyakini diet ini bisa mematikan sel kanker.  

IF dan diet keto memiliki pendekatan yang berbeda, tapi keduanya bertujuan menghabiskan simpanan glikogen dalam tubuh agar tubuh mengalihkan sumber energi dari karbohidrat dan protein ke sel lemak.

Belakangan hari, orang mulai menggabungkan kedua pendekatan ini. Menjalani keduanya sekaligus, IF dan diet keto. 

Manfaat apa yang diperoleh dengan melakukan IF dan diet keto secara bersamaan?
  • Kondisi ketosis dapat tercapai dalam waktu lebih singkat
  • Durasi gejala flu keto bisa lebih singkat
  • Tubuh lebih mudah beradaptasi saat mengurangi atau menghilangkan karbohidrat
  • Lebih banyak lemak yang terbakar
  • Berat badan turun lebih cepat
Apa itu flu keto? Flu keto adalah gejala yang dialami para pelaku diet keto saat tubuh beradaptasi atau mengalami transisi dalam penggunaan energi. Gejalanya berupa mual, lelah, sakit kepala, dan kelaparan akan makanan manis. 

Dalam kurun waktu tertentu, jika kamu mengikuti prosedur yang disarankan oleh dokter atau ahli gizi, gejala flu akan hilang dengan sendirinya saat tubuh mulai beradaptasi. 

Tak semua orang bisa dengan mudah mengikuti metode ini. Bayangkan, kamu harus stop makan nasi, mi, dan aneka produk tepung. Bayangkan nasi putih pulen ngebul karena masih panas, ditemani aneka gorengan, daging, ikan, dan lain-lain, ditambah dengan sambal terasi pedas. Nyam! Atau bayangkan di saat pengin variasi makanan, membayang olahan mi dalam berbagai jenis, slurp... nikmat dengan kuah panasnya. Atau pada saat jeda, ingin menikmati secangkir kopi dengan aneka cemilan berbahan tepung, seperti roti atau jajanan pasar... yup, semua itu harus skip dari daftar menu makan. Ini utamanya jika kamu menjauhkan diri dari aneka penyakit metabolik. Atau yang sudah telanjur merasakannya dan masih berharap untuk sembuh. 

Jika niatnya sudah bulat untuk hidup lebih sehat, baiknya dikonsultasikan dengan dokter atau ahli gizi, ya. Atau jika berniat serius mengubah pola makan untuk menghindari penyakit atau mau sembuh dari aneka gangguan metabolik itu, silakan gabung di grup wa 



Sembuhkan Penyakit Metabolik ala BCR
 
Hipertensi adalah sinyal salah gizi
Kolestrol adalah sinyal salah gizi
Diabetes adalah sinyal keracunan gula.

Sudahkah kamu mendengarkan tubuhmu?

Itu pertanyaan yang disampaikan dr. Dhavid di grup Info BCR. Jauh-jauh hari yang lalu, dokDave juga mengatakan bahwa penyakit yang bukan disebabkan oleh virus, bakteri, kuman, dan parasit kemungkinan besarnya adalah psikosomatis yang bersumber dari persoalan emosi yang mempengaruhi pola makan dan gaya hidup.
 
Kalau kamu termasuk kalangan yang saat mengalami masalah dengan stagnasi emosi melarikan diri ke makanan, kamu berpotensi untuk mendekati penyakit-penyakit metabolik itu. Pengenalan melalui Body Communication Resonance (BCR) kita diajak untuk lebih berkesadaran, termasuk dalam memilih makanan yang tepat untuk tubuh kita.

Lebih lengkap soal tata laksana diet untuk menyembuhkan penyakit metabolik, aku bahas di tulisan berikutnya, ya. Lengkap dengan rekomendasi menu serta apa-apa yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi. Buat yang ingin tahu soal apa itu BCR, bisa hubungi aku lewat WA.

Permakultur dan Kunjungan ke Kebun Igirmranak

Tinggal di rumah mungil dengan pekarangan luas, dilengkapi dengan aneka tanaman, baik bunga, aneka sayur dan buah, dan tanaman pelindung, siapa mau? Ah, sesungguhnya itu impianku. Memiliki rumah sebagai tempat berteduh sekaligus ikut merawat bumi dengan pola bertanam yang ramah lingkungan dan melibatkan banyak makhluk lainnya. Membayangkannya saja sudah membuatku bahagia. Apakah kamu tertarik juga? Mari kita buat manifestasi sama-sama. Bulan lalu kebetulan berkunjung ke lahan permakultur yang digarap kawan di Igirmranak. 


Sebetulnya kebun di Igirmranak, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah ini belum lengkap. Penanganannya juga belum optimal. Namun, sebagai sebuah upaya di tengah perladangan yang homogen dan dibanjiri pupuk kimia, upaya ini patut diapresiasi dan perlu mendapat dukungan.


Apa itu Permakultur? 

Permakultur atau dalam bahasa Inggris permaculture dalam pengertian harfiahnya adalah pertanian permanen. Model pertanian ini sebetulnya sudah ada di tengah masyarakat kita dari zaman dahulu kala. Sebagai orang yang lahir dan besar di desa, dengan sedikit lahan yang kami miliki, ada sejumlah komponen yang terbilang memenuhi syarat untuk disebut permakultur. Kami memiliki aneka jenis tanaman konsumsi seperti sayuran, umbi-umbian, aneka macam tanaman bumbu dapur, buah-buahan; padi yang kami tidak punya. Kami memelihara ayam kampung, yang telur dan dagingnya kami konsumsi sendiri dan sebagiannya dijual ke pasar. Kandang selalu bersih, karena Bapak rajin membersihkan kotoran mereka dan menjadikannya pupuk.

Ya, itu kondisi yang sangat akrap kita temukan di pedesaan. Tapi konsep ini mengemuka secara global saat Bill Mollison, peneliti dan ahli biologi asal Australia mempublikasikan pemikirannya. Publikasi secara global itu pun mendapat sambutan baik. Ia menyampaikan ajakan: “bekerjalah dengan alam, bukan melawannya”. Manusia sebagai makhluk yang menghuni bumi memiliki tanggung jawab atas kehidupannya sebagai pribadi maupun makhluk sosial. Ia memikul tanggung jawab atas kehidupannya di masa depan--termasuk anak cucunya--dan keberlangsungan bumi. Tanggung jawab itu termasuk menjaga eksistensi aneka flora-fauna dan makhluk hidup lainnya.

Kunci utama permakultur adalah "keseimbangan dan berkelanjutan". Permakultur dapat menjadi bagian dari pembelajaran tentang hidup yang berkesadaran. Melalui permakultur kita diajak untuk:
1. Peduli akan masa depan bumi dengan menjalankan sistem yang berkelanjutan agar berkelanjutan dan bertambah luas
2. Peduli akan masa depan manusia dengan mencukupkan kebutuhan mereka terhadap sumber daya alam demi keberlangsungan hidupnya
3. Peduli dengan ketersediaan sumber daya di alam dengan mengambil secukupnya sesuai kebutuhan dan menyerahkan sisanya bagi generesi mendatang, baik manusia maupun berbagai elemen yang terlibat

Permakultur mensyaratkan upaya timbal balik bahwa kita perlu mengembalikan apa yang sudah kita manfaatkan dari alam. Kata kunci "berkelanjutan" juga membutuhkan perencanaan yang baik terkait perancangan ekologis; sudah disiapkan dari awal sistem pemanfaatan energinya. 



Dalam pelaksanaannya, permakultur dapat dijadikan kegiatan bersama dalam komunitas, meski sangat memungkinkan untuk dijalankan secara mandiri atau personal. Namun, dalam skala komunitas tentunya ada hal baik lainnya yang serta-merta ikut terbangun. Misalnya pemanfaatan lahan umum di satu wilayah, dengan warganya saling membantu, bergotong-royong dalam ambil peran dan tanggung jawab. Inilah yang lebih kurang coba dilakukan oleh seorang kawan di Igirmranak. 


Lahan Permakultur di Desa Igirmranak 

Bulan lalu aku melakukan perjalanan ke Wonosobo, persisnya ke Desa Igirmranak yang berlokasi di kaki Gunung Prau. Ada kawan Ajeng yang mengajakku, menjenguk lahan permakultur yang dikelola oleh kawannya, Rumiyati, yang dinamai Zona Sekeco.

Tanah yang dikelola perempuan yang akrab disapa Rumi ini lebih kurang seluas 1.000 meter persegi (termasuk lahan kandang komuninal dan pabrik pupuk) yang merupakan tanah bengkok desa. Kerja sama tersebut diputuskan dalam rapat antara BPD, pemerintah desa, dan Rumi sebagai Direktur Samitra Lingkungan bersama timnya, pada November 2024. Sebuah kesepakatan kerja sama yang buat Rumi adalah tantangan, mengingat kawasan Igirmranak ini sebagian lahannya sudah nyaris habis ditanami kentang dan tanaman sejenis. Dapat dipastikan lahan-lahan tersebut tak satu pun yang menggunakan pupuk organik.

"Tanah di sini pH-nya sangat asam. Saat kami datang, tak ada seekor pun cacing yang kami temukan," kenang Rumi, kembali ke tahun lalu saat mulai menggarap lahan ini.

Dengan idealismenya untuk ikut andil menjaga bumi, Rumi bersikukuh untuk menjalankan rencananya. Setelah tanah dikosongkan beberapa lama, diberikan pupuk organik hingga tanah bisa ditanami. Penanaman dimulai pada Desember 2024. Aneka tanaman ia sebar di kolom-kolom tanah yang disediakan, berupa sayuran, bunga, dan empon-empon menyusul pada awal tahun 2025. Empat batang kopi tetap dibiarkan tumbuh di tempatnya.  

Dalam pelaksanaannya, awalnya Rumi menggandeng pemuda desa. Sayang tak berjalan baik, di antaranya karena para pemuda menginginkan hasil yang instan. Rumi mengalihkan kerja samanya dengan 4 ibu-ibu desa yang ia sebut sebagai Srikandi Igirmranak. Pelan-pelan dilakukan perbaikan. Rumi yang hanya 1-2 hari seminggu berkunjung bisa bernapas lega karena para ibu yang diserahi tanggung jawab menjaga dan merawat kebun melakukan tugas mereka dengan sangat baik. 
Kolaborasi tim Rumi ini sudah melakukan panen:
  • Kentang sebanyak 1 kali
  • Wortel 2 kali
  • Kopi 1 musim
Tanaman lain yang belum panen adalah talas, ubi yakon, carica, cabe gendot, dan tanaman di blok apotek hidup. 


Penyediaan ayam sebagai hewan ternak di lokasi ini juga masih menjadi wacana. Sejauh ini kebutuhan pupuk kandang dicukupi dari kotoran domba yang dipelihara di tanah yang berbeda; sebuah kandang komunitas yang dikelola oleh desa. Sudah tercukupi, bahkan pengolahan limbah dari kandang komunal ini sudah memberikan hasil secara ekonomis lewat pengolahan dan penjualan pupuk kemasan. Meski demikian, tetap, Rumi masih berkeinginan lahan permakulturnya dilengkapi dengan kandang ayam.

PR Rumi dan para ibu penggerak ini masih panjang. Apalagi untuk sampai mewujudkan cita-cita menjadikan lahan ini sebagai area wisata dan pembelajaran berbasis ekologi. Homestay sudah disediakan sebanyak 2 buah rumah panggung, sebuah ruang yang sedianya untuk rumah makan yang cukup memadai, ruang pertemuan dan dapur yang cukup luas, dan satu gedung sebagai ruang tidur bersama. Kesemuanya masih memerlukan sentuhan hospitality yang cukup serius.

"Dari perkembangan yang ada, rencananya kami akan mulai lakukan aktivasi warung permakultur dan sistem event bulanan pada September 2025," ungkap Rumi bersemangat. Ini sekaligus menjawab keraguan sebagian besar warga yang memandang sebelah mata terhadap pertanian organik.

Program pembelajaran bagi anak-anak sekolah pernah coba dilakukan namun belum berhasil baik. Rumi menyadari, masih cukup banyak kendala yang dialaminya untuk mempublikasikan kawasan ini sebagai area belajar. Namun ke depan ia sungguh-sungguh berharap program ini terlaksana. Karena anak-anak adalah generasi masa depan yang perlu kita siapkan untuk peran dan tanggung jawab mereka demi keberlangsungan bumi yang mereka tinggali. Tak sabar suatu hari kelak bisa mendapatkan kabar baik bahwa anak-anak sekolah sudah bisa belajar di lahan ini. Rumi sendiri optimis wisata ekologis sudah bisa dibuka pada Januari 2026. 

Btw, buat yang suka kisah belajar anak, boleh juga kunjungi blognya Teh Okti blogger Cianjur terutama bagian mondok di Gontor yang seru. 


Ah, Rumi, terima kasih banyak sudah menerima dengan hangat kunjungan kami. Sebagai sebuah niat baik dari upaya untuk memberikan andil bagi keberlangsungan bumi yang lestari, aku ikut berharap lahan permakulur di Desa Igrimranak ini terus bertumbuh sekaligus bisa menghidupi pengelolanya dan warga yang terlibat.    

Sampai kapan Rumi akan aktif mengurus Zona Sekeco?

"Komitmen saya sampai sistem manajemen dipegang sendiri oleh warga Igirmranak. Minimal 5 tahun, maksimal 10 tahun."

Sip! Lancar, sukses. Sampai ketemu lagi, kawan-kawan Zona Sekeco dan semesta Igirmranak. 

Buat teman-teman yang merencanakan liburan yang "tak sekadarnya", sila hubungi Rumi untuk menikmati kaki Prau yang permai.

Ibu Meong bareng Rumi waktu naik Prau









Kamu Tim Mana, Perjalanan dengan atau Tanpa Rencana?

Wahai, kalian para pengelana, apa yang menjadi kebiasaan kalian saat melakukan perjalanan atau traveling? Apakah berbekal itinerary detail dan lengkap ataukah suka-suka alias tanpa rencana? Aku sendiri sih dasarnya bukan orang yang tertib dalam perencanaan. Tapi tak terlalu gambling atau impulsif juga. Cuma ya "begitu saja", rencana secukupnya, selebihnya mengalir. 


Baca juga: Melihat Sesar Lembang dari Dekat, Usia Bukan Halangan

Kebetulan bulan kemarin melakukan perjalanan yang sebagian besarnya tak terencana. Jangan bayangkan itu perjalanan yang menantang dan membutuhkan keberanian, karena medannya ya memang sudah kukenali. Hanya tak terencana saja. Namun, suatu kali aku ingin melakukannya. Sebuah perjalanan tanpa rencana ke kawasan yang tak kukenal sebelumnya. Seru kayaknya. 

Nah, aku coba kumpulkan catatan dari beberapa sumber soal perjalanan positif-negatifnya perjalanan dengan dan tanpa rencana.


Perjalanan dengan Rencana (Detail)

Dalam banyak kasus, hal-hal yang terorganisir dengan baik memang memudahkan. Kita langsung tahu mau ke mana, mau melakukan apa, begitu tiba di tempat tujuan. Paling tidak itu yang bisa kupelajari dari beberapa kali melakukan perjalanan bersama biro travel.  

Di dunia traveling dikenal istilah itinerary, yakni rencana kegiatan yang akan dilakukan selama perjalanan atau waktu yang ditentukan untuk liburan. 

Berikut beberapa kemudahan dengan membuat rencana yang detail.

1. Pemanfaatan waktu secara optimal. Dengan membuat itinerary, perencanaan waktu lebih tertata. Tentu saja tetap memperhitungkan hal-hal di luar prediksi seperti kemacetan lalu lintas. Dan tetap perlu disiapkan plan B. Meski demikian dengan itinerary mengurangi risiko molornya waktu. 

2. Dengan ketepatan waktu, jam berapa menuju ke mana, berapa lama perjalanan, durasi kunjungan, dsb. maka titik-titik kunjungan yang telah direncanakan pun dapat terpenuhi. Tidak ada destinasi yang terlewatkan.   

3. Itinerary mempermudah dalam budgeting. Pengeluaran yang terencana masih sering bikin kita kebobolan, apalagi yang tanpa perencanaan sama sekali. Di sini kita butuh survei terkait biaya perjalanan, harga tiket jika melakukan kunjungan wisata, tarif hotel jika perlu menginap, biaya konsumsi, tarif guide person jika dibutuhkan, serta biaya akomodasi lainnya. 

4. Perencanaan yang baik juga dibutuhkan untuk membantu kita menyiapkan barang bawaan. Jangan sampai kejadian kita kelebihan berat untuk bagasi pesawat. Atau bikin kita kelelahan menanggung beban bawaan. Liburan bukannya gembira, jadinya malah seluruh otot pegal, linu, nyeri, dsb. Pun sebaliknya, jangan sampai karena ingin berhemat bawaan, barang-barang yang penting terlewatkan karena kurang persiapan. 

5. Persiapan matang mengurangi risiko dipalak. Siapa yang malak? Siapa pun yang bermaksud mengambil keuntungan dari orang yang tak kenal medan. Riset awal bisa membantu kita mengetahui harga yang sesungguhnya. 

Menyiapkan itinerary membutuhkan upaya ekstra. Mulai dari menyiapkan daftar, membuat perbandingan, bikin riset--meski sederhana tetap saja butuh upaya, dan lain-lain yang bagi sebagian orang pasti terasa ribet. Namun, ketika itenerary sudah disiapkan secara detail, proses di lapangannya jadi lebih lancar. 

Baca juga: Bertandang ke Gunung Padang


Perjalanan Tanpa Rencana (Detail)

Tanpa rencana itu bukan berarti impulsif, loh, ya. Jika impulsif, kita mudah berubah pikiran, berubah rencana karena mendapatkan pengaruh dari luar, atau sedang gabut, tidak punya agenda . Misalnya tiba-tiba menemukan brosur destinasi baru yang menarik, atau mendapatkan cerita dari orang yang ditemui dalam perjalanan, atau alasan lainnya. 

Atau, nggak soal jika awalnya impulsif, tapi dalam perkembangannya dibarengi dengan perencanaan, meski tidak secara detail. 

Nah, mengapa, sih, orang melakukan perjalanan tanpa rencana detail? 

Ada beberapa alasan yang membuat orang memilih untuk melakukan perjalanan santai, tanpa rencana. 

1. Melepaskan diri dari rutinitas. Kadang, rutinitas terasa membosankan. Jika pekerja kantoran dengan jam reguler, tiap hari memiliki aktivitas rutin berangkat kerja, istirahat, pulang, hingga 5-6 hari kerja. Aktivitas lain pun akhirnya mengikuti; olahraga yang terjadwal, berjumpa teman pun terjadwal, begitu pula masa liburan. Nah, mengapa tidak, di luar soal "waktu", liburannya dibuat bebas saja?

Dalam liburan tanpa rencana dapat memunculkan spontanitas yang menyenangkan. 

2. Tersedianya berbagai fasilitas berbasis teknologi. Selagi teknologi tersedia, ada cukup banyak hal yang bisa diakses cepat. Mencari lokasi tinggal cari map online. Mencari hotel dan penginapan tinggal pesan online. Kendaraan bisa pesan online kapan saja. Dunia dalam genggaman.  

3. Keinginan untuk lebih santai, tanpa terpenjara oleh jadwal ketat yang membuat liburan jadi serba terburu-buru. Bisa memilih sendiri tujuan dengan leluasa, berhenti saat lelah, jeda saat bosan, mencari hiburan ketika kehilangan mood. Pendek kata, perjalanan tanpa rencana ini dapat memunculkan potensi diri yang sebelumnya tak muncul ke permukaan. 

4. Menemukan kejutan menyenangkan. Tanpa rencana detail sangat mungkin kita akan terbawa ke dalam kondisi yang tak biasa. Tersesat dalam perjalanan, menjumpai orang asing yang menarik, menemukan tempat nongkrong yang unik, dsb. 

Tentu saja hal ini terjadi jika kita memilih untuk tidak bermain ke wilayah-wilayah mainstream

5. Biaya dapat lebih fleksibel. Perjalanan tanpa rencana biasanya dadakan dan pilihannya adalah destinasi yang tak jauh-jauh amat. Bisa pula dadakannya karena menemukan promo atau diskon sarana transportasi, tempat menginap, dll. yang memungkinkan kita mendapatkan harga yang "bagus". 

Seru, kan? Yup, perjalanan tanpa rencana bisa jadi sangat seru. Yang perlu jadi catatan adalah risiko; mesti siap dengan segala kemungkinan. 

Baca juga: Berkunjung ke Kota Atlas Semarang


Dengan atau Tanpa Rencana Detail, yang Penting Jalan!

Nah, ini kesimpulan pentingnya: yang penting jalan! Lakukan, bukan hanya rencanakan. Jalan-jalan dapat menjadi hiburan bagi kita di tengah rutinitas. Jeda dari kegiatan atau pekerjaan yang mematok kita pada hal yang itu-itu saja. Memilih waktu untuk menyenangkan diri sendiri. Me time. Selain jalan-jalan, sebetulnya banyak aktivitas me time lainnya. Seperti yang biasa dilakukan kawan blogger yang dapat dilihat di Sunglowmama Blog. Ada bahasan soal journaling bagi yang tertarik, journaling untuk ibu sibuk

Aku sendiri, tahun ini mennyemangati diri untuk menjadi sesesorang yang lebih spontan, tak terlalu banyak rencana, tak overthinking. Dan tentu saja salah satunya adalah dalam konteks jalan-jalan. Sudah membuat daftar pendek kota tujuan, dengan rencana yang tak terlalu kental. 

Ada yang tahun ini juga punya agenda yang sama? Melakukan traveling atau perjalanan secara berkala? Yuk, kita lakukan perjalanan, baik dengan itinerary detail maupun dengan spontan. Atau membuat kombinasi di antara keduanya. 

Bulan lalu aku sudah melakukannya. Rencana yang awalnya hanya ke Wonosobo, lantas, begitu saja berlanjut ke 2 destinasi lainnya, yaitu ke Bali dan ke kampung halaman di Jatim. Ada beberapa tulisan yang nanti aku akan bagikan di blog.

Selamat menyiapkan perjalanan, ya. Happy traveling!


Baca juga: Jelajah Taman Buru Masigit-Kareumbi