Showing posts with label kuliner bandung. Show all posts

Berburu Rujak Cingur di Bandung

Rujak cingur sejauh ini masih menjadi makanan favorit orang Jawa Timur. Kombinasi rasa pedas, legit, gurih, dan asem yang menjadi ciri khas rujak ini suka bikin nagih. Terutama bagi waga Jatim yang lidahnya lama tak bersentuhan dengan makanan ini. Sekali waktu pasti kangen dan berusaha mencari. Itu pula yang terjadi denganku, yang secara berkala akan mencari masakan khas Jatim, di antaranya rujak cingur. Di Bandung ada makanan olahan agak mirip yaitu lotek dan karedok, sayuran dengan olahan sambal. Namun, tentu saja berbeda. 



Baca juga: Ragam Kuliner Halal dan Nonhalal di Bali

Perkenalanku pertama dengan lapak rujak cingur di Bandung baru pada 2006. Tak sengaja menemukan lapaknya di komplek tentara kawasan Gatot Subroto, Bandung. Sudah tak kutemukan lagi lapak itu. Berganti rupa. Aku coba catatkan beberapa rekomendasi tempat makan di Bandung yang menyediakan rujak cingur, ya. Beberapa aku sudah pernah datangi, cicipi, dan masih bertahan hingga sekarang. Sebagian lain rekomendasi kawan dan aku kutipkan dari lapak online.


Rujak Cingur, Muasal dan Perkembangannya

Jika mengacu pada catatan yang dibuat orang di wikipedia, disebutkan bahwa rujak cingur mulai muncul di Surabaya pada kisaran tahun 1930-an, dibawa oleh pendatang dari Madura. Pedagang Madura ini mengawali olahan rujaknya dengan petis petis ikan cakalang khas Madura. Lalu menggantinya dengan petis udang, untuk memenuhi selera lidah mayoritas suku Jawa di Surabaya. 

Cingur diambil dari kepala sapi. Persisnya, bahan cingur diambil dari moncong atau congor sapi yang telah direbus hingga empuk, lalu diiris-iris persegi. Selain cingur, komponen lainnya adalah sayur, buah, dan tahu/tempe. Sayur yang biasanya dipakai antara lain kangkung, kecambah, timun, dan kacang panjang. Sedangkan buah, ada beberapa jenis yang sering dipakai, yakni mangga muda, kedondong, bengkoang, nanas, dan belimbing. Tempe dan tahu diiris kotak-kotak. 

Bumbu ulekannya terdiri dari kacang tanah yang sudah digoreng, gula merah, cabe, irisan pisang klutuk, garam, dan petis. Setelah diuleg halus, ditambahkan air asam untuk mengencerkan, barulah aneka komponen dimasukkan. Penyajiannya tinggal ditambahkan bawang goreng dan krupuk. Tambahan karbohidrat pilihannya nasi atau lontong. 

Tidak semua daerah di Jawa Timur bisa ditemukan olahan rujak ini. Sewaktu aku tinggal di kota kelahiran, Trenggalek, tak ada yang menjual. Ada yang jual di pusat kota, itu pun hanya rujak petis, tanpa cingur. Tanpa buah lengkap. Seingatku, mencicipi rujak cingur pertama kali di kota sebelah, Tulungagung. 

Begitu pun di kota-kota lain, kalaupun ada, jarang yang komponennya sangat lengkap seperti yang disajikan di lapak-lapak rujak cingur area Surabaya dan sekitarnya. Pisang klutuk, misalnya, bukan komponen yang mudah ditemukan di Bandung. Jadi, kalau di Bandung bisa menemukan rujak cingur dengan komponen lengkap, setidaknya mendekati, pasti surga banget, hehe.

Baca juga: Berkenalan dengan Margo Redjo, Roastery Tertua di Semarang


Warung Rujak Cingur di Bandung

Belum semua lapak rujak cingur di Bandung pernah kucoba. Masih masuk dalam daftar referensi. Biasanya aku enggan untuk mengunjungi lapak yang jualan utamanya lotek atau gado-gado. Karena masing-masing punya kekhasan. Untuk lapak yang menyediakan olahan sayur ini kecenderungannya rasanya sama. Tapi lain waktu mungkin perlu coba, siapa tahu selama ini saiyah terlalu rarasaan.  


Rujak Cingur Mas Nardi

Aku nggak ingat nama persis lapaknya apa. Tapi pemliknya namanya Mas Nardi, orang Pare, Kediri. Awal aku coba olahannya, lapaknya ada di sisi jalan Cilaki, sekitar Gedung Pos. Warung Tenda. Lantas pindah di dalam area kantin STIA LAN. Komponennya lumayan lengkap, rasa dan porsinya pas untuk lidahku. Harga Rp30 ribuan.

Di warung Mas Nardi ini tersedia juga rawon, pecel, tahu telor petis, sesekali ada aneka botok. Jam buka menyesuaikan jam operasional kampus. 


Rujak Cingur Jombang Bu Suji

Lokasinya di Jalan Gudang Selatan No. 18B, tak jauh dari persimpangan rel kereta api Jalan Ahmad Yani. Lapak ini terhitung paling dekat dengan rumah tinggalku, dan pada sebuah masa merupakan jalur menuju tempat kerja. Jadi terbilang paling sering kukunjungi.

Porsi dan rasa, oke. Pas. Lontong tahu-telor petisnya juga enak. Pilihan menu lainnya sama persis dengan lapaknya Mas Nardi. Jam buka mulai pagi; jika datang lepas jam makan siang sering tidak kebagian. 


Rujak Cingur Warung Suroboyo 

Sudah lama sekali aku mencicipi rujak cingur di lapak ini. Dan itu sekali-kalinya, tak pernah singgah lagi. Tak ingat persis kenapa. Kemungkinan rasanya kurang pas di lidah, terlalu manis. Atau harganya terlalu mahal, hoho.

Tapi di warung yang berlokasi di Jalan Natuna No.57 ini banyak juga pilihannya, seperti rawon, soto ayam, tahu gunting, rujak gobet petis, dan lainnya. Tempatnya juga cukup nyaman untuk dikunjungi bareng keluarga atau beramai-ramai. Jam operasionalnya siang hingga sore. 

Baca juga: Bali 2024, Wisata Kuliner dan Religi


Rujak Cingur Pak Sadi

Menu utama lapak Pak Sadi ini adalah Soto Ambengan. Aku pernah mencicipi rujak cingurnya di lapaknya Jalan Lombok. Rasanya so-so. Lapak itu sudah tutup. Lapak Pak Sadi lainnya ada di Jalan Banda dan Lodaya. Untuk dua tempat ini aku belum mencicipi rujak cingurnya.


Rujak Cingur Bude Pon

Di lokasi ini aku juga baru sekali mencicipi. Karena kebetulan sedang agenda di area Cikaso. 

Rujak cingurnya oke. Menu lainnya khas makanan Jatim seperti pecel, rawon, dan soto. 


Beberapa rekomendasi di bawah ini kutemukan dari beberapa sumber. Aku belum pernah mengunjunginya. Lain waktu bisa mencicipi, bakal ku-update informasinya.

  • Kedai Bu Ai, Jalan Pajajaran No. 145
  • RM Rawon Bik Atik 5, Jalan Batununggal Indah Raya No. 389, Batununggal
  • Warung Bu Luluk, Jalan Cikuray 
  • Lotek Nenek, Jalan Cibangkong
  • Kedai Pecel, Jalan Batununggal
  • Pecel Madiun Kedai Mbak Wiwin, Jalan Gunung Batu Raya (Depan Ruko Gunung Batu Kav 15), Cicendo
  • D'Orange, Jalan Akasia Raya Blok A2 No.6, Komplek D'Orange, Cimekar, Cileunyi
  • Kangen Lotek, Jalan Gatsu (Depan Kodim 0609), Cimahi
  • Rawon Kertasari, Jalan Nata Endah A09, Sayati, Margahayu
  • Lotek Nenek, Jalan Cibangkong No. 48B 
  • Lotek Tki 3, Taman Kopo Indah 3 Blok C11, Margaasih
  • Nasi Goreng Ferall, Jalan Cibangkong Rt 04 Rw 05
  • Dapoer Djawa, Jalan Batununggal Indah No. 173, Bandung Kidul
  • Nasi Pecel Madiun, Jalan Riung Saluyu 13-B No. 298, Cipamokolan, Rancasari
  • Warung Rujak Gjg, Kampung Brujul Pesantren Rt03 Rw26 No. 20 Mekar Rahayu (depan Bengkel Yohan)
  • Ayam Bakar dan Goreng Sari Manis Mimi, Jalan Raya Sinar Mukti RT 001 RW 002, Selacau, Batujajar, Bandung Barat
  • Lotek dan Rujak Arin, Gang Hj Gojali No. 29, Jl. Sukagalih (dekat Dapur Ma Enay), Karang Tineung, Sukajadi

Jika kawan-kawan bisa melengkapi alamat lain kedai di Bandung yang menyediakan rujak cingur atau kuliner Surabaya atau Jatim lainnya, berkabar, ya. Kecuali saiyah berkesempatan jalan-jalan ke lokasi asal, mungkin minta kawan blogger Surabaya menemani. Cihuuuy!


Sekadar catatan, rujak cingur telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi sebagai salah satu dari 1.728 budaya dalam Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

Baca juga: Berkunjung ke Kota Atlas

Menjajal Kuliner Khas Pasar Cihapit Bandung

Suatu hari, seorang kawan menawariku ngopi. Di Los Cihapit, begitu katanya. Tak terlintas, Los Cihapit itu posisi di sebelah mana. Yang kuingat ada beberapa kedai kopi di Jalan Cihapit. Ternyata adanya di dalam pasar. Pasar Cihapit yang membuatku takjub: "loh, kok menarik gini?" Sudah 30 tahun di Bandung dan baru hari itu aku memasuki kawasan Pasar Cihapit yang melegenda itu. Bukan hanya ngopi, hari itu aku mencicipi menu dari kedai makan yang telah bertahan sejak Soekarno menjadi Presiden RI. Warung Nasi Mak Eha.



Baca juga: Menjelajahi Taman Hutan Raya Juanda

Pada beberapa bulan lalu, sempat dengan sengaja datang ke Pasar Kosambi, Jalan Ahmad Yani, Bandung. Semata untuk melihat dari dekat kondisi lantai dua yang konon terdapat aneka kedai. Asyik juga, melihat perbedaan Pasar Kosambi yang sebelumnya, dengan yang pasca renovasi. Nah, setelah mengunjungi Cihapit, lantas kupikir, mungkin konsep Pasar Kosambi mengadopsi dari Pasar Cihapit. Bedanya, Pasar Kosambi jauh lebih besar. 


Pasar Cihapit, Sejarah dan Perkembangannya

Pasar Cihapit dikenal pertama kali pada sekitar 1947. Awalnya lokasi ini adalah sebuah lahan terbuka, bersebelahan dengan area pemandian kuda. Karena adanya kebutuhan akan keberadaan pasar, mulai dibangunlah pasar sederhana. Di kemudian hari, bangunan pasar ini tumbuh berkembang dengan baik, bahkan sering dijadikan contoh untuk pasar sejenis. 

Mundur berpuluh tahun ke belakang, perkembangan Pasar Cihapit terkait erat dengan perkembangan kawasannya terutama sejak 1920-an. Masa itu ada rencana pemindahan ibu kota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung. Cihapit menjadi kawasan yang disiapkan sebagai daerah hunian untuk pegawai pemerintah. Saat itu tengah berlangsung pembangunan gedung-gedung perkantoran di area Gedung Sate.

Ariyono Wahyu Widjajadi, pegiat Komunitas Aleut, seperti dikutip Bandung Bergerak mengatakan bahwa jejak perumahan masa itu dalat dilihat di kawasan Gempol untuk pegawai rendahan. Sedangkan bentuk perumahan untuk pejabat tinggi, bisa dilihat di sepanjang Jalan Riau. Komplek pemukiman pejabat menengah ke bawah juga dibangun di sekitar Taman Pramuka dan Cihapit. Diperkirakan ada sekitar 800 rumah tinggal yang berhasil dibangun hingga awal 1930-an. Pembangunan tak berlanjut akibat berlangsungnya krisis ekonomi dunia. Jejaknya bisa kita temukan di kawasan Jalan Cihapit dan Jalan Sabang.

Baca juga: Pendakian Gunung ala drh Nyomie dan Max

Catatan lain dalam sejarah terkait kawasan Cihapit adalah saat pendudukan Jepang. Masa ini melahirkan kisah kelam, tawanan perempuan dan anak-anak dirumahkan di kawasan hunian Cihapit yang dialihfungsikan sebagai kamp. Tercatat, tak kurang dari 14 ribu tawanan pernah menghuni kamp tersebut pada kurun akhir November 1942 hingga Desember 1944. Tahun berikutnya barulah dipindahkan ke beberapa kota lainnya. Menurut Ariyono, sebagian besar tawanan adalah warga Eropa. 

Dari kawasan yang awalnya dibangun bagi pekerja kelas rendahan itu, Cihapit kini telah berkembang pesat dan menjadi bagian dari peradaban kota. 


Mencicipi Menu Mak Eha dan Kopi Los Cihapit

Saat Mak Eha mulai membuka warungnya, Pasar Cihapit tentu saja belum seperti sekarang. Pedagang sedikit, sebagian besarnya pedagang sayuran. Awalnya warung nasinya bernama Warung Bu Nok. Lalu berkembang pesat dan dinamai namanya, Mak Eha. Para pesohor negeri ini pernah mencicipi masakan Mak Eha. Ini dapat dilihat di dinding bagian kiri warung. Tampak foto-foto, di antaranya Presiden Soekarno. 

Beruntung, saat ada dalam antrean pengunjung yang mengambil makanan, aku melihat sosok Mak Eha yang tengah membereskan bumbu-bumbu dapur di tampah. Tubuhnya sudah membungkuk, tapi masih terlihat sehat. Untuk urusan operasional warung sudah diserahkan Mak Eha ke anak-anaknya. 

Warung Mak Eha masih menerapkan model "warung kejujuran" seperti sejumlah warung Sunda yang aku pernah kunjungi. Pengunjung memilih makanan yang dimaui, lalu langsung bisa memakannya tanpa dihitung terlebih dahulu. Bayangkan, berapa banyak kerugian kalau di antara pengunjung tidak menyebutkan secara jujur makanan apa saja yang sudah dikonsumsi? Atau mungkin hal itu sudah masuk dalam hitungan untung-rugi mereka, ya? Entahlah, lain waktu mungkin perlu kutanyakan. 



Pagi itu aku memilih tumis leunca dan ikan bakar. Ada tambahan keciwis rebus dan sambal terasi. Nyam-nyam. Bagi penggemar masakan Sunda, banyak sekali pilihan yang menggoda. Ada soto Bandung,  gepuk, ayam goreng/bakar, perkedel, aneka pepes, otak-otak, limpa, rendang, dan masih banyak yang lainnya. Sayangnya aku tak bisa makan banyak ragam lauk sekaligus. Makan pagi pun ditutup dengan teh tawar hangat yang nikmat.

Di depan Warung Nasi Mak Eha ada lapak lotek. Sebagian pembelinya menikmati santapannya di meja yang sama dengan pengunjung Warung Mak Eha. Di sisi seberang, ada toko jajanan pasar yang juga sibuk melayani pembeli. Sebagiannya ikut mengunyah bersama mereka yang makan berat. Suasana sarapan yang hangat.

Baca juga: Tujuh Bangunan Bersejarah di Bandung

Hari itu masih cukup pagi. Beberapa lapak makanan tampak masih tutup, konon baru buka di atas jam 11. Di bagian lain, pasar basah juga cukup ramai oleh pengunjung. 

Aku kemudian memilih untuk melanjutkan rencana semula, ngopi. Warkop yang menjadi tujuan, Los Cihapit ada di jalur tak jauh dari area pintu masuk kanan. Yang kumaksud kanan adalah pintu masuk pasar jika kita ambil jalur gang di seberang Kantor Polisi Bandung Wetan. Sedangkan pintu masuk utama pasar langsung menyasar area pasar basah. 

Begitu memasuki area kedai mungil itu, aku langsung suka. Suasananya hangat. Sesama pengunjung saling bersapa. Bahkan banyak yang saling bersalam tangan. Padahal di antara mereka belum tentu kenal. Los Cihapit menyajikan beberapa macam penyajian kopi, dengan pilihan kopi Ciwidey. Aku cukup memilih kopi tubruk saja, seperti biasa. Kalau kata Kang Bayu, pemilik kedai, sebelum pandemi tempat itu juga sering dijadikan tempat diskusi. Dengan berbagai topik, seperti peristiwa sosial budaya, musik, seni, atau bedah buku. Kulihat di sisi kedai ada dua rak buku yang isinya penuh. Pengunjung bisa ngopi sambil baca-baca. 



Untuk area pasar basah aku tak menilik secara khusus. Tapi secara selintas yang kulihat kondisinya bersih dan rapi, tidak seperti sebagian pasar basah lainnya. 

Buat warga Bandung, Pasar Cihapit dikenal sebagai salah satu kawasan kuliner yang direkomendasikan. Ada di area tengah kota dengan nilai sejarah yang kental. Selain lokasinya yang bersih dan menjadi rujukan pengembangan pasar-pasar tradisional. Bagi penggemar traveling, kalau ke Bandung, jangan lupa singgah. Mbak Wati, blogger Semarang, berkabar yooo kalau ke Bandung dan pengin ke sini. Tak temani.

Seperti halnya aku yang sudah 30 tahun di Bandung dan baru kali ini masuk Pasar Cihapit, aku hampir yakin, banyak warga Bandung yang seumur-umur tinggal di Bandung pun ada yang belum pernah mencoba ngulik area dalam pasar. Cobalah. Selain aneka kedai dan toko di sepanjang kiri kanan Jalan Cihapit, area dalam pasar menjanjikan banyak pilihan. Beberapa fotonya disimpan di sini.

Baca juga: Braga, Kawasan Penting Bandung Tempo Dulu

Tahu Bandung dan Kawasan Wisata Tahu Cibuntu Babakan

Bicara soal tahu Bandung, selalu mengingatkanku kepada Ibu. Ibu yang waktu pertama kali ke Cikoneng, begitu terpesona dengan citarasa tahu Bandung. Aku pun mengakui, tahu terenak buatku adalah tahu Bandung. Misalnya kalau dibandingkan dengan tahu Kediri. Maaf, lo, ya, kawankawan Jatim. Bisa jadi aku memang belum mengekplorasi tahu tetangga kota kelahiranku itu. Tapi sejauh ini lidahku memang lebih sreg dengan tahu Bandung. Nah,kalau bicara soal tahu Bandung, aku mau memperkenalkan Kawasan Wisata Tahu Cibuntu Babakan.


Baca juga: Pilihan Bakso Malang di Bandung

Sesungguhnya aku tak tahu persis, industri tahu di Jawa Barat ini di kawasan mana saja, selain yang sudah dikenal seperti tahu Sumedang. Apakah ada tahu khas kabupaten/kota lainnya seperti di Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Bogor. Cianjur perlu tanya ke kawan blogger Cianjur sekalian berwisata ke kawasan ini. Atau daerah utara seperti Cirebon, Subang, Pamanukan. Tapi kalau Bandung Raya saja terpantau cukup banyak nama. Salah satu yang melegenda ya tahu Cibuntu itu. Tapi, yang tak banyak orang tahu adalah bahwa tahu Cibuntu itu tak diproduksi di Cibuntu. Awalnya, memang, produsen tahu itu ada di wilayah Cibuntu. Sudah lama sekali, sebelum pemekaran wilayah. Setelah wilayah dimekarkan, yang selama ini disebut sebagai tahu Cibuntu itu sebetulnya diproduksi di Kelurahan Babakan. Bukan Kelurahan Cibuntu. Berhubung nama Cibuntu sudah kadung nempel, maka para pegiat kawasan ini pun lantas menamai produksinya dengan "tahu Cibuntu Babakan". Itu hasil pengenalanku ke sentra tahu Cibuntu Babakan awal Agustus lalu. So lama kali, hah? Iya, nggak keburu aja nulisnya 😁


Proses Pembuatan Tahu

Secara umum sebetulnya proses pembuatan tahu, sama saja. Yang membedakan barangkali adalah variannya. Sebelum berkisah tentang apa itu Kawasan Wisata Tahu Cibuntu Babakan, aku coba gambarkan ulang proses pembuatan tahu, dari beberapa sumber dan hasil ngobrol dengan pelaku industri. 

Perendaman 

Kedelai yang akan diproses menjadi tahu membutuhkan perendaman terlebih dahulu. Fungsinya adalah untuk Takaran yang digunakan adalah 3:1, 3 liter air bersih untuk 1 kilogram kedelai. Lama waktu perendaman di kisaran 3 hingga 4 jam untuk kedelai impor, sedangkan untuk kedelai lokal butuh waktu sekitar 4 hingga 5 jam. Kedelai akan mengembang jika sudah direndam. 

Setelahnya, cuci menggunakan air bersih. Beeberapa kali hingga air yang terbuang, bening. Lalu ditiriskan. Pencucian yang kurang bersih, dapat menyebabkan tahu cepat asam. 

Penggilingan 

Kedelai yang sudah direndam, dicuci, dan ditiriskan dalam proses pertama dimasukkan ke alat penggilingan. Kedelai digiling dengan sambil ditambahkan sedikit demi sedikit air hangat, dengan debit 1,8 liter tiap menitnya. Hasil penggilingan adalah bubur kedelai. 

Baca juga: Bukan Hanya Perempuan yang Harus Bisa Masak


Pemasakan

Kedelai yang sudah menjadi bubur halus dimasukkan ke dalam wadah untuk dididihkan. Waktunya lebih kurang selama 10-15 menit. Saat memasak bubur ini, air ditambahkan sedikit demi sedikit, hingga mencapai perbandingan kisaran 10:1, 10 liter air untuk 1 kilogram kedelai. Setelah fase mendidih, akan muncul gelembung kecil di permukaan. 

Proses ini perlu mendapatkan pengawasan ekstra. Bubur akan mengerak jika pemanasan terlalu tinggi. Aromanya pun bakal sangit.

Penyaringan 

Saatnya bubur tahu yang sudah dimasak, disaring. Penyaringan menggunakan kain blacu atau kain tipis dengan lubang pori yang cukup rapat. Caranya dengan meletakkan bubur tahu yang telah dimasak ke atas kain, lalu diperas. Hasilnya adalah sari kedelai. 

Penggumpalan

Pada proses ini, sari kedelai digumpalkan dengan cara cara menambahkan bahan asam. Bibit bahan asam ini dibuat dari proses sebelumnya yang disimpan di wadah tersendiri. Saat pemberian asam, pengadukan sari kedelai terus dilakukan. Adukan   dihentikan saat mulai terbentuk gumpalan bubur yang  turun ke dasar wadah. Proses ini penting sekali dalam pemisahan bubur tahu dan airnya. 

Pencetakan dan pembungkusan

Setelah bubur tahu membentuk gumpalan, saatnya untuk membentuknya menjadi tahu. Ada beberapa bentuk dan proses pencetakan tahu. Sebelumnya, gumpalan tahu diletakkan dalam satu wadah yang tertutup kain, lantas ditutup dengan pemberat, agar tahu lebih cepat menggumpal dan airnya terpisah. Setelahnya, baru proses cetak atau bungkus. 

Di Cibuntu Babakan setidaknya ada 3 macam. Yang pertama, bubur tahu dimasukkan ke dalam wadah kotak besar, dan dipotong ketika sudah padat. Di pasaran, dengan mudah kita temukan bentuknya yang kotak persegi. Yang kedua, prosesnya sama dengan yang pertama. Bedanya, yang ini menggunakan cetakan. Hasilnya, tahu berbentuk kotak dengan oval bagian atasnya. Yang ketiga, tahu diproses manual satu per satu, dengan membungkusnya menggunakan kain yang dipotong kecil-kecil sesuai ukuran yang dikehendaki. 

Baca juga: Resep Bumbu Ayam Bumbu Rujak dan Kenangan Masa Kanak


Kampung Wisata Tahu Cibuntu Babakan

Pada Agustus lalu itu, kunjunganku ke Kelurahan Babakan adalah mengikuti agenda RT/RW Network yang melakukan pertemuan dengan Ketua RW setempat sekaligus membuat tayangan untuk akun Instagram RT/RW. RT/RW ini adalah sebuah forum yang beranggotakan ketua RT dan RW se-Indonesia yang berjejaring melalui media sosial. Pada lain kesempatan akan kubagikan lebih detailnya. Tapi lebih kurangnya, kaitannya dengan forum ini adalah bahwasanya dari lembaga terkecil pemerintahan, dapat dibangun perekonomian kerakyatan. 

Bersama Valent dan seorang videografer, aku berkunjung ke kediaman Ketua RW 05 Kelurahan Babakan, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung. Memasuki gang RW ini ada gapura kecil bertuliskan "Kawasan Wisata Tahu Cibuntu Babakan". Pada dinding kiri gang berhias grafiti tentang tahu dan Bandung. Lokasinya tak terlalu jauh dari persimpangan Pasirkoja-Soekarno Hatta. Kalau kamu berkendara dari arah Tol Pasirkoja, sekitar 200 meter setelah perempatan, ada gang ke kiri. Tak jauh lagi, kisaran 300 meter. 

Valent ini adalah mantan wartawan Kompas dan founder RTRW Network, yang juga adalah kawan kuliah di Unpad. Ketua RW, Deden Kosasih menyambut kami bersama anak-anak muda Karang Taruna. Kami ngobrol santai, beralaskan karpet, di area teras samping rumah yang memang difungsikan sebagai tempat pertemuan RW. Beberapa pengana berbahan tahu disuguhkan. Secara khusus Kang Deden menjelaskan soal tahu takus yang jadi suguhan siang itu. 

"Ini produk perkembangan pencetakan tahu tahun 2000-an. Dulu, tahu dibentuk dengan membungkus pakai potongan kain. Dinamai tahu bungkus. Prosesnya lama, karena harus dibungkus satu per satu. Lalu muncul inovasi pencetakan menggunakan alat, biar cepat. Jadilah tahu citak (cetak). Untuk jumlah yang sama, tahu bungkus dan citak itu 1:3. Jadi, hemat tenaga. Tapi kemudian muncul ide, membuat tahu massal, tapi bentuknya tetap menu'u (mencembung). Lalu dibuatkan cetakan, yang hasil mirip tahu bungkus. Gitu ceritanya," ujar Pak Rw yang alumni Sekolah Tinggi Ilmu Seni (STSI) Bandung ini. 

Baca juga: Menu Bunga Jantung Pisang dan Nangka

Tahu yang disuguhkan kepada kami hari itu masih terasa hangat. Tanpa perlu dimasak, baik dikukus atau digoreng lagi. Sensasinya lebih lembut, segar, dan gurih. Kalau mau mendapatkan sensasi ini, memang harus datang ke lokasi. Kutanya kemungkinan dibuat semacam kedai atau kafe, menurut Deden, memang itu sudah menjadi bagian dari rencananya bersama tim.

Pengelolaan kawasan ini sebagai salah satu tujuan wisata di Bandung sudah lama ada dalam pemikiran Deden. Ada idealisme yang melecutnya untuk melahirkan program yang bermanfaat bagi keluarga dan lingkungannya. Bagaimana tidak, Deden merasa "tahu"-lah yang membesarkannya. Orang tuanya pengusaha tahu, dan membiayai hidup mereka serta sekolah anak-anak dengan hasil usaha tersebut. Selama 11 tahun lamanya Deden berusaha mengulik berbagai alternatif program, mencari aneka sumber referensi, dan mencoba menjalin relasi dengan beberapa pihak baik perorangan maupun insitusi untuk mewujudkan cita-citanya. Hingga akhirnya kesempatan itu datang saat ia terpilih sebagai ketua RW. Program pun lantas disusun.

"Apa yang paling susah dalam mencanangkan program kawasan wisata ini?" tanyaku ke Kang Deden. Karena dari pengalamanku, tak mudah mengajak masyarakat untuk membangun sesuatu yang baru. Terlebih untuk hal yang sudah tua sebagai bagian dari tradisi. Kemungkinannya ada apatis, pesimis, tak percaya, atau merasa sudah cukup. 

"Awalnya banyak yang ragu. Tapi banyak juga yang langsung mau mengikuti program. Mengikuti pelatihan, mengizinkan adanya pendampingan. Ketika mulai ada kunjungan, baru mereka merasakan manfaatnya. Ada yang pada hari kunjungan itu yang dengan bangganya menunjukkan hasil penjualan tahu yang dalam sekali kegiatan mencapai 250 ribu rupiah. Akhirnya pada bersemangat," tutur Deden tak kalah semangat. 

Deden bersama timnya terus bersemangat untuk mengembangkan kawasan ini. Para pelaku usaha dan pengelolanya diikutsertakan dalam pelatihan baik terkait kewirausahaan, kebersihan makanan dan lingkungan usaha, dan tentang menjadi pemandu wisata. Pemerintah Kota Bandung memberikan dukungannya dalam pelatihan-pelatihan tersebut. Tapi untuk peluncuran "Kawasan Wisata Tahu Cibuntu Babakan" Pemkot Bandung belum bisa memastikan waktunya. Pak RW Deden, sih, berharapnya akhir tahun ini atau awal tahun depan.

Baca juga: Lebaran dan Madumangsa

Sip, sip, semoga lancar, Pak RW! Silakan yang kebetulan berkunjung ke Bandung dan ingin menikmati tahu Cibuntu yang legenda itu, ici-icip saja di Kawasan Wisata Tahu Cibuntu Babakan. Jadi, carinya bukan di Kelurahan Cibuntu, ya, tapi Kelurahan Babakan.



Pilihan Bakso Malang di Bandung

Baso atau bakso adalah salah satu dari sedikit jenis makanan yang bisa kita temukan di berbagai lini. Dia bisa kita temukan di jalanan, dijajakan menggunakan gerobak, bertebaran di kedai-kedai kecil, namun tak jarang namanya kita temukan di daftar menu kafe atau resto besar. Nah, bagi orang Jawa Timur, di mana pun mereka tinggal, menemukan "Bakso Malang" pastilah merupakan kegembiraan tersendiri. Di Bandung, ada sejumlah gerai bakso Malang. Kubagikan beberapa di antaranya.


Baca juga: Braga, Kawasan Penting Bandung Tempo Dulu

Bakso Malang, jangan salah, penyebutannya harus "bakso" bukan baso. Kalau ada gerai bakso Malang di Bandung tapi penulisannya "baso" sudah pasti pemiliknya bukan orang Jawa Timur, atau bisa jadi memang sengaja menyesuaikan dengan lidah penduduk setempat. Di Bandung, aku baru sempat mencoba 5 gerai. Padahal ternyata sudah cukup banyak. Aku tak cukup update rupanya. Baiklah, nanti akan disusulkan kalau sudah icip-icip.

Memang apa sih yang menjadi kekhasan bakso Malang?

Dari komposisi, bakso Malang isinya lebih beragam. Biasanya, selain bakso, ada tahu putih dan siomay. Tak terlewatkan bihun dan gorengan. Di Jatim, banyak kita jumpai bakso Malang yang menyertakan lontong. Kenyanglah pokoknya 😀

Dari sisi rasa... sesungguhnya aku tak cukup pintar untuk membuat reviu rasa. Tapi lebih kurang, kalau dari lidahku, kuah bakso Malang itu light, ringan. Tak terlalu gurih. Apalagi dengan pilihan sambal yang asam pedas. 

Di Bandung, orang menyandingkan dengan cuanki. Lalu, kawan di Jatim tanya, bedanya cuanki sama bakso Malang, apa, sih? Nah, ini bisa jadi bahasan tersendiri 😊

Lagi-lagi, menurut lidahku, cuanki lebih gurih. Komposisi isi bisa dibilang mirip. Tidak tahu juga, apakah sejak kemunculannya komposisi cuanki memang selengkap itu, atau menyesuaikan selera dan kebutuhan pasar saja. Lain waktu coba kucari tahu.

Aku mau kasih tunjuk saja, buat penggemar bakso Malang di Bandung, ini beberapa gerai yang pernah kucoba.


Baso Malang Karapitan (BMK)

sumber: BMK Champ Resto

Kenal gerai bakso Malang di Bandung pertama kali ya di BMK ini. Mereka pakainya "baso", bukan "bakso". Dari awal-awal mereka buka di Jalan Karapitan, lalu buka di beberapa tempat, termasuk di Jalan Soekarno-Hatta, tak jauh dari tempat kerjaku saat itu. Akhir 90-an.  

BMK dulu sangat terkenal. Cukup bisa dimaklumi, tahun 90-an tempat jajanan tak sebanyak masa sekarang. Dibandingkan dengan baso yang beredar di pasaran, BMK ukurannya mungil-mungil. Tapi lebih bersih dan terlihat manis dalam penyajian.

Konon pengelolaan BMK sudah berpindah tangan. Kini mereka tak hanya menawarkan menu andalan baso, melainkan baso, mie, kopi. Masih memanfaatkan singkatan BMK. Dan gerai-gerai yang kukenal dulu, sudah tidak ada.

Saat ini, gerai BMK bisa ditemukan di: 

  1. Cihampelas Walk - GF, Jl.Cihampelas No. 160, Cipaganti, Coblong
  2. Kings Shopping - L2, Jl. Kepatihan No. 18, Balonggede, Regol

Baca juga: Menjelajahi Taman Hutan Raya


Bakso Malang Enggal

sumber: pinterest

Aku kenal gerai bakso ini saat lapak mereka masih berupa warung tenda. Kalau tak salah ingat, sekitar 2000 pertengahan. Yang awalnya hanya satu tenda, lalu berkembang menjadi dua tenda memanjang. Ikut senang rasanya menyaksikan keberhasilan usaha orang. Lokasinya masih sama dengan yang sekarang, Jalan Burangrang. Bakso Enggal ini, setahuku, adalah gerai bakso Malang pertama yang memiliki konsep prasmanan.

Jadi, di sebuah meja disediakan mangkok kosong, dan secara berurutan ragam isian bakso kuah, mulai dari seledri-daun bawang, lalu bakso urat, bakso halus besar-kecil, siomay kering dan rebus, baso goreng, kresol, tahu isi bakso. Berikutnya, panci besar berisi kuah, yang akan dilayani oleh pegawai. 

Agak lama tak ke daerah itu, tahu-tahu sudah ada gerai permanen. Wow! Di sini yang paling kusuka adalah baso gorengnya. Ketika kedai bakso Malang bertambah banyak, pilihan baso gorengku tetap Bakso Enggal. Tapi, Bakso Enggal sudah berkembang pesat, dengan banyak cabang. Semoga sih untuk standar rasa sama di semua gerai. 

Lokasinya berada di:

  1. Jl. Burangrang No. 12, Lengkong
  2. Jl. Pajajaran No. 78, Dr. Junjunan, Sukasari
  3. Jl. Soekarno Hatta No. 94, Warung Muncang, Bandung Kulon
  4. Jl. Astana Anyar No. 119,Cibadak, Astana Anyar
  5. Jl. Raya Barat No. 698, SPBU Pojok Cisangkan, Cimahi


Bakso Malang Asli Fortuna

sumber: tribun

Mencoba Bakso Fortuna setelah siaran di Radio Sonora. Tak tahu persis mulai ada sejak tahun berapa. Aku ici-icip pertama tahun 2013-an. 

Gerainya mungil, tapi nyaris tak pernah sepi. Memang, gerai ini cukup diuntungkan oleh lokasi, yang tak jauh dari Gedung Sate dan pusat perbelanjaan Jalan Martadinata. Tiap kali lewat daerah sekitar Masjid Istiqomah ini, selalu kudapati gerai bakso ini ramai pengunjung. Perputarannya kemungkinan besar cepat, dan makanan yang disediakan selalu baru. Semoga terus begitu, ya.

Penyajiannya dalam bentuk prasmanan. Kita bisa memilih isian selain bakso, seperti siomay goreng-kukus, bakwan, bakso goreng, mie kuning-soun, sesuai selera.

Saat ini mereka memiliki sudah ada 2 gerai: 

  1. Jl. Taman Citarum No.13, Citarum, Bandung Wetan, Bandung (samping Masjid Istiqomah)
  2. Jl. Titiran 25, Coblong, Bandung

Baca juga: Menjenguk Makam KAR Bosccha


Bakso Malang Mandeep

sumber: wisatabdg

Konon Bakso Malang Mandeep sudah buka dari akhir 90-an. Tapi aku baru mencobanya sudah tahun 2000 sekian. Lokasinya strategis juga, tak jauh dari pusat perbelanjaan BIP, BEC, dan Gramedia. Persisnya ada di Jalan Riau atas. Halah, istilah orang Bandung banget!

Ya, gerai pertama mereka ada di Jl. LLRE Martadinata No.12b, tak jauh dari persimpangan Purnawarman. Dengan konsep prasmanan dan isian yang lebih kurang sama: bakso urat, bakso halus, siomay, bakso goreng dan aneka gorengan.  

Bakso Mandeep juga berkembang dengan pesat. Saat ini gerainya bisa ditemukan di Antapani, Braga, Arcamanik, Jl. Soekarno-Hatta, Ujung Berung, hingga Lembang dan Parongpong. 


Bakso Malang Langgeng

sumber: pergi kuliner

Dari sisi waktu, bakso ini yang paling terakhir kucoba. Di gerainya yang ada di Jl. Lodaya No. 42, Turangga, Lengkong, Bandung.

Kedai ini bisa menjadi alternatif bagi yang tinggal atau memilih aktivitas di area Buah Batu dan sekitarnya. Yang membedakan gerai ini dibandingkan yang lain adalah disediakannya varian pedas, seperti bakso urat pedas dan cincang pedas. Ada juga dengan tambahan mozzarella. Buatku sih enggak banget. Tapi varian ini pasti disukai sebagian anak muda. 

Selain itu, konon untuk kuahnya mereka menggunakan kepiting dengan campuran tulang kaki sapi, jando, dan sumsum untuk mendapatkan rasa gurih kuah tanpa perlu menggunakan MSG. 

Lokasi Bakso Langgeng lainnya ada di:

  1. Jl. BKR No.35
  2. Food court Tenant J, Jl. Asia Afrika No.78

Baru lima gerai itulah yang sudah kucoba. Sepertinya perlu cari-cari dan icip-icip lagi gerai-gerai yang baru bermunculan. Kalau jadi, akhir Oktober pengin mudik, mampir Malang, bisa mengobati kekangenan bakso Malang asli, di tempatnya. Untuk sementara cari-cari infonya dari.blogger Malang atau ya, langsung jalan-jalan ke Malang aja. Yuk!

Baca juga: Tujuh Bangunan Bersejarah di Bandung

Memanjakan Lidah Bersama Kashimura Japanese Grill


KASHIMURA. Menyebut kata tersebut membuat kita langsung bisa tebak kalau itu adalah istilah Jepang. Tapi kok bunyinya terdengar sangat lokal ya? Begitulah, tampaknya modifikasi nama ini memang sengaja dilakukan biar ear-catchy. Terdengar Jepang, nuansa Indonesia, dan kata ‘murah’ seolah menjadi jaminan kalau kantong tak akan terkuras. Demikianlah adanya, saat merilis menu baru, Kashimura Japanese Grill All You Can Eat, Royal Kashimura menawarkannya dengan tarif  Rp 96.000++ Harga yang relatif murah untuk menu Jepang. Dan aku berkesempatan mencicipinya pada saat grand launcing, Jumat, 6 September 2019 lalu. 


Royal Kashimura  berada tak jauh dari Gedung Kompas, lokasi studio Sonora aku bersiaran. Cukup berjalan kaki. Memasuki area resto, langsung disambut ramah pramusaji dalam balutan yukata dan kaki beralas geta, dengan sapaan ala Jepang: ohayou gozaimasu..

Beberapa kawan blogger sudah duduk di kursi kayu mengitari meja yang dilengkapi alat pembakar di bagian tengahnya. Saat acara makan siang dimulai, satu per satu menuju rak dan lemari, tempat bahan makanan tersaji. Sambil antri, kucomot karaage yang disajikan berdua kekiage. Nyam-nyam...


Royal Kashimura Grill menyediakan empat macam olahan daging merah yang wajib coba. Masing-masing dilengkapi dengan sausnya.
·   Beef Jengiskhan, bercita rasa asin gurih
·   Beef Blackpepper, bercita rasa pedas
·   Beef Tare, bercita rasa manis pedas
·   Beef BBQ, bercita rasa barbeque







Keempat daging tersebut diambil dari bagian yang berbeda, sehingga masing-masing dengan tekstrurnya memberikan sensasi yang berbeda pula. Dari sisi bumbu dan saus, yang khas dari Kashimura Grill adalah Jengiskhan. Ini menjadi menu andalan dari tim koki, yang pembuatan bumbunya terbilang rumit.

Empat macam daging ini yang menjadi pilihan pertamaku. Sebagai penyuka daging merah, dimanjakan betul. Meski tetap, selera lidah penggemar pedas tak bisa terpisahkan dari namanya sambal. Jadi penyuka pedas tak perlu khawatir juga. Ada sambal dabu tersedia. Mbak cantik pramusaji juga menyarankan ikut nyemplungin bawang putih ke alat pembakar. Selain menambah aroma, juga membantu mengatasi kemungkinan gangguan asam lambung. Tak hanya memberikan saran, mbak cantiknya juga sigap mengganti pemanggang yang terlibat mulai tutung.

Aneka sate juga tersedia. Olahan daging sapi, ayam, dan seafood, berupa sosis dan baso dikemas dalam bentuk sate. Sate jamur juga melengkapi. Pun bagi yang tak gemar daging merah, daging ayam dan seafood berupa udang dan cumi juga melimpah. Sebagai penyeimbang, tersedia aneka sayuran, yang tersaji dalam salad maupun kimchi. Sebagai penutup tersedia aneka kue manis dan buah-buahan. 


Oiya, favoritku adalah Beef Roll Enoki. Selapis beef, diisi dengan serumpun jamur enoki, celup ke saus, bakar... Saat daging terlihat matang, angkat, dinginkan sebentar, celup sedikit saus pedas, langsung hap..sekali lahap. Oishiiiiiiii!


Yang mau datang berombongan, tak perlu khawatir. Royal Kashimura cukup luas, dengan ruang makan lantai dua dan gazebo pada bagian belakang. Selain itu disediakan pula play ground buat anak-anak. 


Untuk pembayaran, siapkan tunai atau debet. Menurut staf marketing komunikasi Kashimura, Leni, selain hanya menyediakan makanan halal, Royal Kashimura juga menggunakan konsep syariah dengan hanya menerima pembayaran langsung.

Selamat mencobaaa... 😊😋

Kopi Aroma, Kopi Yang Diolah Dengan Cinta

Jelang tengah hari. Dua mesin penyangrai kopi buatan Jerman sedang melakukan tugasnya. Satu berkapasitas 100, satunya 60 kilogram. Bara api menyala di dalam tungkunya. Alat sangrai kopi kovensional ini telah bekerja lebih dari 8 dekade. Kopi Aroma, salah satu icon Kota Bandung yang tetap bertahan di tengah maraknya bisnis kopi di tanah air. Apa yang membuat Kopi Aroma tetap mendapat tempat di hati pecinta kopi?
 
Pemilik Kopi Aroma, Widya, terjun langsung dalam pengolahan

“Saya menjalankan bisnis dengan jujur. Proses mengolah kopi tak berubah dari pertama ditetapkan standarnya. Begitu pun kopinya. Standar penyimpanan untuk arabika 8 tahun, robusta 5 tahun untuk mengurangi kadar cafein. First in, first out.” Demikian Widya Pratama menjelaskan idealismenya dalam menjalankan bisnis Kopi Aroma.  Kedua orang tuanya, Tan Houw Sian dan Tjia Kiok Eng, selain mengajarinya tentang dunia kopi juga mengenalkan arti kerja keras dan kearifan dalam berbisnis. Widya muda juga mendapat gemblengan dari pakar ekonomi Prof. Sumitro yang memang berkawan dengan sang ayah. 


Berbekal pengalaman hidup dan tambahan ilmu ekonomi yang didapatkannya dari kampus ekonomi Universitas Padjadjaran, tahun 1971 Widya mulai menjalankan bisnis kopi dengan lebih profesional. Sebagai satu-satunya anak, ia diserahi orangtuanya untuk menangani perusahaan. Dengan sepenuh totalitas ia mengelola Kopi Aroma. Mulai bekerja sejak jam 4 pagi, terjun langsung dalam proses produksi, hingga tak segan mengantar pesanan kopi konsumen. Tak berhenti hanya pada saat memulai, kebiasaan itu dilakukannya hingga kini. Widya tetap terlibat dalam proses produksi bersama karyawannya. “Kalau tanya kenapa Kopi Aroma murah, karena ya kami begini ini. Tanpa seragam, tanpa dasi, tak perlu promosi, tak ada korupsi. Jadi biayanya dapat ditekan,”  ungkap Widya sambil membuka tutup mesin sangrai. Pendek kata, Widya telah menjalankan bisnis fair trade jauh sebelum jargon tersebut digemakan aneka perusahaan multinasional. 

Tutup mesin sangrai telah dibuka. Di usianya yang memasuki 64 tahun, Widya masih melakukannya sendiri. Membalikkan alat berkapasitas 100 kilo tersebut hingga memuntahkan kopi yang telah disangrainya selama 2 jam. “Sekarang orang bisa pakai alat yang 15 menit matang. Tapi kami mempertahankan alat ini untuk menjaga aromanya. Bahan bakarnya kayu karet. Limbahnya. Jadi menguntungkan petani karet juga,” Widya menjelaskan lebih lanjut tentang proses produksi. Potongan-potongan kayu karet dapat dijumpai di bagian belakang bangunan. Bertumpuk rapi di satu sisi, sementara pada sisi seberang adalah rumah ‘kopi muda’, yakni kopi yang baru dikirim. “Biasanya kalau siang jemur kopi. Tapi kalau mendung begini ya tidak. Kalau kopi-kopi baru ini sudah kering, baru masuk gudang untuk proses penyimpanan 5 hingga 8 tahun,” ungkap Widya sambil menunjukkan gunungan kopi yang dikemas dalam karung goni. Material goni dipilih karena memiliki ventilasi.

Bahan baku Kopi Aroma adalah kopi dari berbagai petani di wilayah Indonesia, seperti Preanger, Jember, Bengkulu, Lampung, dan Toraja. Menurut Widya tak benar jika ada istilah kopi wilayah tertentu lebih enak dari wilayah lain. “Itu cuma soal selera. Yang penting proses pengolahannya tepat. Kopi yang dihasilkan pun bagus.” 


Biji kopi dalam gudang penyimpanan
 
Biji kopi siap sangray
Kopi sangray siap dijadikan bubuk

Kopi sangray disaring dulu sebelum masuk grinder


Dalam kurun waktu lebih dari 40 tahun, dapat dikatakan Widya sukses menjalankan roda usaha Kopi Aroma yang beralamat di jalan Banceuy 51 Bandung tersebut. Bertahan dengan yang dibangun dari semula. Tak berniat mengembangkan usaha bentuk lain-membuat cafe atau membuat kopi kemasan tertentu misalnya? “Dalam bisnis memang perlu ada pengembangan. Tapi kembali ke prinsip usaha Aroma, 7 M, Man, Method, Material, Money, Machine, Market, dan Management,” lagi-lagi Widya menjelaskan prinsip bisnisnya. Buatnya, yang sekarang terjalani sudah cukup. Bahkan ada rencana Widya untuk segera pensiun. Ia pun berniat mundur sebagai pengajar di kampus Unpad maupun Unpar, tempat ia mengajar selama ini. Dua dari tiga putrinya telah menunjukkan minatnya pada usaha keluarga ini. Terutama si bungsu yang alumni Matematika Unpar. Mau beristirahat dan menikmati hobi saja, Pak?

“Ya ya.. di antaranya. Saya mungkin akan banyak jalan-jalan. Saya suka naik gunung, menikmati alam.” 

Hujan mulai mengguyur kawasan Banceuy. Barisan antrian pembeli setia Kopi Aroma memilih bertahan, berlindung di bawah atap bagian luar bangunan yang sudah berdiri sejak 1930 tersebut.


*Sudah tayang di SundayPeople