Pada akhir Juni lalu mendapati kabar pementasan Papermoon Puppet Theatre mendapatkan apresiasi luar biasa dari penonton di Jerman. Aku ikut senang. Senang yang sungguh-sungguh senang, karena ingatan akan pementasan mereka masih mengendap di kepala. Satu jejak yang indah, yang membuatku ingin kembali melihat pementasan mereka. Sayangnya belum kesampaian lagi setelah perkenalanku dengan kelompok teater boneka asal Yogyakarta pada Juli 2018.
![]() |
| Tala dan Papa Puno (Ilustrasi: Papermoon Puppet Theatre) |
Baca juga: The Most Precious of Cargoes, Kisah Muram Penyintas Holocaust
Sejumlah media nasional mengabarkan bahwa Papermoon Puppet Theatre menggelar pementasan pada 19 dan 20 Juni 2026 di Opernhaus Chemnitz, Jerman. Pementasan itu merupakan bagian dari festival Theater der Welt 2026 di Chemnitz. Dalam dua hari pementasan itu, Papermoon Puppet Theatre menampilkan karya berjudul Stream of Memory.
Ria, Boneka Kertas, dan Lahirnya Papermoon Puppet Theatre
Sebelum mengisahkan pengalaman "spiritualku" bersama Papermoon Puppet Theater, mari berkenalan dulu dengan mereka.
Papermoon Puppet Theatre ini merupakan kelompok teater boneka kontemporer yang didirikan di Yogyakarta pada 2 April 2006. Pendirinya, Maria Tri Sulistyani alumni Fakultas Komunikasi Universitas Gajah Mada. Meski menyukai dunia seni sedari bocah, kesukaan Ria--demikian ia akrab dipanggil--tak serta merta menemukan jalan mulus.
Ria tak mengambil latar akademis dunia seni karena tidak mendapatkan persetujuan dari orang tuanya. Ia baru bisa merintis mimpinya setelah lulus kuliah. Diawali dengan membangun sanggar anak yang dinamai Papermoon pada 2006. Ia dibantu oleh para relawan dengan minat dunia boneka dan anak. Sanggar yang baru menetas itu terpaksa vakum menyusul terjadinya gemba Yogya pada 2007. Para relawan pun bubar hingga yang tersisa ia dan Iwan yang kelak menjadi suaminya. Nama Papermoon Puppet Theater mereka sematkan ke sanggar yang Ria dan Iwan coba hidupkan kembali pada 2008. Sanggar ini mengalami perkembangan yang signifikan setelah mereka berdua mendapatkan beasiswa di Amerika dengan fokus pada teater. Dalam kurun waktu 6 bulan itu mereka berjumpa dan berdiskusi dengan banyak seniman teater boneka dan pegiat seni pertunjukan.
Baca juga: The Odyseey, Terjemahan Nolan atas Karya Lama Homer
Sepulang ke tanah air mereka menggelar berbagai pementasan. Pertunjukan teater boneka kontemporer yang disajikan oleh Papermoon Puppet Theater ini mengandalkan kekuatan visual, gerak, musik, serta suasana panggung. Dialog verbal sangat dibatasi. Yang khas dari tema-tema yang digarap oleh Ria sebagai penulis kisah adalah hal-hal sederhana yang muncu dari keseharian. Dan lewat pertunjukkan yang puitis, penonton diajak untuk terlibat secara intim masuk ke dalam dunia boneka kertas itu.
Tak cuma pertunjukan, Papermoon Puppet Theatre juga membuka workshop bagi para pembelajar dan mengadakan serta terlibat dalam festival teater boneka berskala internasional. Dapat dikatakan, kelompok teater ini lebih banyak berkiprah di luar negeri dibandingkan di tanah air. Mungkin karena para pencinta seni luar lebih menghargai karya mereka dibandingkan publik Indonesia.
Jadi, sebetulnya tak terlalu mengejutkan juga jika pada akhir Juni lalu, penampilan Papermoon Puppet Theatre di Jerman mendapatkan apresiasi positif. Bahkan mereka mendapatkan standing ovation dari penonton yang hadir memenuhi ruang pertunjukan. Ratusan penonton yang berdiri dan memberikan tepuk tangan selama lebih dari 10 menit itu merupakan keistimewaan bagi para kru. Terlebih, di awal mereka mendapatkan pesan dari panitia setempat bahwa penonton Jerman bukanlah tipe yang suka menunjukkan apresiasi yang berlebih.
Baca juga: Trilogi Siwa, Bukan Sekadar Novel Kepahlawanan
PUNO: Letters to the Sky
Ini adalah judul pementasan yang sempat kusaksikan pada Juli 2018 lalu. Sebuah agenda yang tak terencanakan sebelumnya tapi betul-betul menjadi kenangan yang cakep banget.
Pada Juli itu aku ada agenda pekerjaan ke Yogya. Ngobrol dengan kawan Semarang, Yemima Amanda, rupanya dia juga ada agenda ke Yogya di kisaran waktu kegiatanku selesai. Dan rupanya aku sudah dibelikan tiket pertunjukan Papermoon Puppet Theatre yang berlangsung di IFI-LIP Yogyakarta, 4 Juli 2018.
PUNO: Letters To The Sky ini berkisah tentang hubungan antara Tala dan ayahnya, Papa Puno. Ungkapan kasih sayang antara anak perempuan dan ayah yang merupakan satu-satunya keluarganya itu disajikan dengan gaya surealis. Ini sama sekali di luar bayanganku. Sebelumnya aku tak tahu menahu tentang kelompok ini, bahkan serba-serbi teater boneka pun aku nyaris nihil. Pengetahuanku sebatas wayang kulit atau wayang golek yang mata penonton dibawa ke medan datar yang sedikit sekali menampilkan sosok manusianya. Di pementasan ini bahkan sosok manusianya mendapatkan ruang, meski tak hadir seutuhnya. Ruang juga terbuka lebar sehingga set artistik tiap adegan bisa dengan mudah berpindah. Bahkan di titik yang sangat dekat dengan posisi duduk penonton. Mata penonton dibantu oleh gerak lampu sorot.
Baca juga: Gundala, Harapan Baru Film Laga Indonesia
Tontonan baru yang unik buatku. Kita sadar bahwa boneka-boneka itu digerakkan oleh manusia yang sosoknya betul-betul hadir di panggung. Tapi kita dibuat abai, karena terpesona oleh musik, oleh pergerakan dari tiap karakter--boneka dengan pendar-pendar cahaya, perpindahan gelap dan terang, perpaduan musik dengan harmonisasi yang berubah-ubah menyesuaikan suasana, dan tentu saja dari kisahnya sendiri. Kisah yang sederhana dikemas dengan narasi yang dalam. Terasa bernas dan membuat penonton menghela napas.
Kisah Tala dan Papa Puno ini mengajak penontonnya melakukan refleksi tentang peristiwa kehilangan. Siapa yang tidak pernah mengalaminya? Namun dengan kepiawaian tim Papermoon Puppet Theatre meracik semua komponen hingga jadi perpaduan yang demikian puitis sekaligus nyata. Aku tak mengingat persis detail adegan demi adegan. Namun, yang kuingat pasti, penampilan mereka membuatku menitikkan air mata. Mungkin aku tak sendiri. Aku yakin banyak penonton yang saat itu berada dalam nuansa kepiluan yang sama. Semuanya seolah lupa bahwa yang kami tonton itu sekadar boneka tak bernyawa. Saking begitu hidupnya mereka menampilkan dirinya.
Baca juga: Lelaki Harimau, Novel Kedua Eka Kurniawan
Sungguh, jika ada kesempatan, aku akan dengan senang hati untuk menghadiri pertunjukan mereka. Buat teman-teman yang belum pernah nonton, coba deh. Jika suka pertunjukkan teater, kujamin pasti suka. Kalau kebetulan sedang berlibur ke Yogya, bisa berkunjung ke studionya Papermoon di Desa Sembungan, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Sekalian jika perlu jalan-jalan, bisa cek travel di Jogja, atau buka blognya RianaDewie.com.



No comments