Trilogi Siwa, Bukan Sekadar Kisah Kepahlawanan

Sosok pendatang itu memunculkan kegaduhan di tengah lingkungan yang baru ia datangi. Terjaga dari istirahat pasca pengobatan karena sakitnya, muncul keanehan di lehernya. Warna nila yang mencolok. Alih-alih mempertanyakan kondisi tersebut, para penyelenggara negeri itu malah unjuk kepatuhan dengan memberikan sujud sembah. Rakyat telah lama menunggu penggenapan ramalan kuno tentang seseorang berleher nila yang akan menyelamatkan mereka dari malapetaka. Demikianlah, Siwa, sosok yang menjadi pemimpin pengungsi barbar dari Himalaya itu sontak berubah menjadi orang yang berbeda.  




Trilogi Siwa ini sudah cukup lama bersemayam di antara buku-buku lain di rak. Awalnya karena adanya tawaran buku baru harga diskon. Seperti biasa, buku masih sakti untuk menjebakkan diri dalam belanja emosional. Bukunya tampak menarik, sambil--seperti biasa pula--tidak mencari tahu perihal itu buku. Ketika paket buku tiba, barulah menyadari bahwa itu adalah buku ketiga dari trilogi. Tak mungkin, to, langsung baca buku ketiga?! Maka berburulah buku pertama dan keduanya. Rada alot dapatnya, dan begitu dapat, kualitasnya tak cukup baik. Banyak coretan dari pemilik pertamanya. Untunglah ceritanya menarik, jadi kekurangan itu bisa diabaikan.
  
Sinopsis

Cerita diawali dengan pengenalan sosok bernama Siwa, pemimpin Suku Guna. Suku ini memiliki seteru abadi, sesama suku yang hidup di kaki Himalaya, yakni Suku Pakrati. Siwa tengah dirundung bimbang setelah mendapat tawaran dari orang asing dari Meluha. Secara kebetulan, sebuah serangan tak terduga datang dari suku Prakati. Beruntunglah mereka, kehadiran orang asing Meluha yang dipimpin oleh Nandi itu memberikan bantuan yang memberikan kemenangan besar pada pihak Guna. Kemenangan itu seolah memberi pertanda bagi kegalauan Siwa. Ia pun memutuskan untuk menerima ajakan Nandi bergabung dengan wilayah Meluha. 

Keputusan Siwa sebetulnya semacam pertaruhan. Ia mengingat betul apa yang disampaikan pamannya, "Takdirmu jauh lebih besar dari pegunungan raksasa ini". Sosok ini terus terpaut dalam kisah Siwa di trilogi ini.


Demikianlah, Siwa bersama rakyatnya akhirnya tiba di Meluha. Negeri itu membuatnya takjub. Segala sesuatunya tertata dengan apik. Bukan hanya kawasannya dan bangunan dengan lingkungan yang melingkupinya, namun juga aturan-aturan yang mereka buat. Peradaban masyarakatnya telah terbangun dengan baik. Di sinilah takdir mulai terbuka sedikit demi sedikit. Diawali dengan keyakinan dari tuang rumah bahwa Siwa adalah Sang Nilakantha, sosok yang diyakini bakal menyelamatkan kerajaan dari kehancuran.

Buku pertama trilogi ini mengisahkan Siwa yang menjadi bagian dari Kerajaan Meluha. Sosoknya diangkat tinggi oleh sang raja. Bukan kebetulan jika kemudian Siwa berjumpa dengan anak perempuan raja Meluha, Sati. Takdir menetapkan demikian. Sati menjadi separuh jiwa Siwa yang membantunya merumuskan dan merencanakan banyak hal untuk masa depan. Bukan hanya bagi rakyat Meluha, melainkan juga untuk masyarakat yang lebih luas. 

Memasuki buku kedua, Rahasia Kaum Naga, kita kembali diajak mengikuti perjalanan Siwa memenuhi takdirnya sebagai Sang Mahadewa. Di sini karakter Siwa muncul tak lagi sebatas sosok liar yang perkasa yang membawa kemenangan dalam peperangan seperti yang diceritakan di buku pertama. Ia menyandang tanggung jawab besar sebagai Nilakantha Sang Penyelamat. Perangnya bukan hanya perang fisik melainkan juga batin. Peperangan melawan kebatilan. Anehnya, semakin ia berusaha mencari kebenaran, yang ditemuinya adalah fakta bahwa baik dan jahat itu relatif, bergantung pada sudut pandang. 

Seperti yang menjadi judul novel kedua ini, Siwa dihadapkan pada kebenaran tentang kaum Naga, kaum yang selama ini ia dan semua orang anggap jahat. Kaum yang harus disingkirkan. Kaum yang tak layak muncul di tengah peradaban. Upaya pencarian makna di balik semua anggapan tentang kejahatan kaum Naga ini membawa Siwa ke wilayah-wilayah tak terjangkau dengan perjalanan yang tak mudah. 

Secara terpisah, sang istri, Sati juga menemukan pengalamannya sendiri. Fakta bahwa ia punya ikatan yan kuat dengan kaum Naga. Fakta yang kelak membuka kedok busuk sang raja.


Dalam petualangannya selama terpisah dari sang suami, Sati membuktikan diri sebagai perempuan yang tak hanya memiliki kemampuan bela diri yang mumpuni, tapi juga menunjukkan diri sebagai pemimpin yang bijaksana serta tak memiliki rasa gentar. Meski di balik itu ia tetaplah seorang perempuan yang penuh welas asih.  

Buku kedua ini juga merupakan ajang pertemuan kakak beradik, anak Sati dari suami pertamanya dan anak keduanya dari Siwa.

Benang merah dari berbagai pertanyaan di benak masing-masing tokoh akhirnya terjawab di buku ketiga, Sumpah Bayuputra. Diawali dengan upaya Siwa mencari sumber kejahatan yang membawanya ke Pancawati, negerinya kaum Naga. Pencarian itu menemukan fakta-fakta baru yang makin mengerucutkan arah sosok yang ia cari. Hingga saat semua terjawab, terlihatlah siapa kawan, siapa lawan. Namun kebenaran tidaklah hitam putih. Ada yang memilih memisahkan diri, bukan karena tidak mendukung kebenaran dan memerangi kejahatan, melainkan karena adanya sumpah setia terhadap negeri yang melahirkan. 

Yang kental tentu saja peristiwa peperangannya. Di buku ketiga ini, Siwa dan Sati mengumpulkan pasukan untuk melancarkan perang suci. Dimulai dengan perang-perang parsial di beberapa kawasan, hingga terjadinya perang besar yang sebenarnya tak diinginkan. Sati dijebak, dan hari itu menjadi hari kematiannya.

Terluka oleh kematian istrinya, Siwa melanggar janjinya untuk tidak menggunakan senjata pemusnah. Senjata inilah mengakhiri perang berkepanjangan dan membumihanguskan pusat Kerajaan Meluha. Pemusnahan ini menjadi simbol penghancuran kejahatan di muka bumi, meski di dalamnya sebetulnya ada banyak orang yang sebetulnya tak perlu mati sia-sia. Tetap saja, demikianlah yang namanya perang, bukan?



Siwa, Bukan Sekadar Novel Kepahlawanan

Yup, ini bukan novel kepahlawanan apalagi yang sekadar berjualan tema kejahatan versus kebaikan. Ada banyak hal-hal filosofis yang menarik untuk disimak.

Misalnya bahasan tentang Wangsa Surya yang mewakili Meluha dan Wangsa Chandra yang mewakili Ayodhya. Wangsa Surya selalu menganggap Wangsa Chandra sebagai masyarakat yang tak tahu aturan. Diceritakan, sesuai namanya, Wangsa Surya mewakili laki-laki dan Chandra mewakili perempuan. Atau barangkali yang lebih tepatnya adalah maskulinitas dan femininitas, yang dari keduanya ada perbedaan cara pandang terhadap tatanan kehidupan. 

Dari sudut pandang maskulin, cara hidup yang tepat adalah "hidup berdasarkan aturan." Aturan harus dipatuhi secara utuh, dan tidak bisa diubah begitu saja. Tidak disediakan ruang untuk meragu. Sementara itu, dari sudut pandang feminin, cara hidup yang menarik adalah "hidup berdasarkan kemungkinan-kemungkinan." Kehidupan tidak bersifat mutlak. Konsekuensinya, aturan yang berlaku realtif lunak. Masyarakat bisa menerjemahkan aturan secara berbeda dari waktu ke waktu. Femininitas menempatkan perbedaan sebagai hal yang lumrah untuk diterima. Nah, tidak ada yang benar atau salah dari kedua sudut pandang ini. Karena keduanya bisa berjalan beriringan, bahkan saling melengkapi sehingga kehidupan dapat berjalan selaras sekakigus dinamis. 


Beberapa kalimat buatku menarik, misalnya tentang karma. 

Kau tidak hidup dengan menjalani akibat dari karma orang lain. Kau menjalani hidup dengan akibat-akibat dari karmamu sendiri.

Selama ini orang sering tidak tepat dalam meletakkan istilah karma. Seolah karma adalah hukuman atas apa yang kita lakukan terhadap orang lain atau sesuatu di luar diri kita. Sering kan ada yang bilang, "Karma datang tak menunggu lama; langsung dibayar lunas."

Nah, quote soal karma di buku ini mengingatkan bahwa karma adalah konsekuensi dari tindakan kita, yang harus kita bayarkan di kehidupan berikutnya. Maka, dengan pembelajaran lewat karma ini kita diingatkan untuk berusaha melakukan semata kebaikan dan ketulusan agar tak perlu lelah mengulangi kehidupan dengan masalah-masalah yang sama. Lebih-kurang demikian konsepnya. 

Kebaikan dan kejahatan bagaikan dua sisi  yang berbeda dari sekeping mata uang.

Saat berusaha menemukan kebaikan, sebetulnya ada kejahatan yang menyertainya. Karena demikianlah kehidupan menurut Hindhuisme yang coba dituangkan Amish melalui novelnya. Bahwa dalam kehidupan kita tak bisa hanya memandang satu sisi. Ada sisi lain yang perlu untuk kita pertimbangkan. Itulah kenapa kita dituntut untuk mengambil keputusan secara bijak. 


Pada awal membaca novel pertama, aku rada pesimis. Tak cukup akrab dengan bahasannya, dan terasa lamban pergerakannya. Agak lama ditinggalkan. Setelah coba dibaca ulang dan mencoba bersabar, melewati 50 halaman barulah terasa nikmatnya. Di situ aku mulai menyadari betapa selama ini aku tak cukup memahami Hindhuisme, termasuk aneka mitologi yang menyertai. Paling-paling yang beririsan dengan dunia pewayangan yang telah jauh-jauh hari diadaptasi di tanah air dan menjadi kisah-kisah yang diceritakan para dalang. 

Selama ini, dalam bayanganku dewa itu muncul sebagai sosok yang sudah dilengkapi dengan berbagai kemampuan lengkap dengan segala kuasa yang bisa digunakan dalam kapasitasnya sebagai dewa. Aku tak menduga sama sekali jika Siwa yang menjadi sosok utama novel ini adalah Dewa Siwa yang sedikit kukenal dalam pelajaran sekolah di masa SD. Setelah sekian halaman baru menyadari, "Oh, ini tuh maksudnya muasal Siwa sebelum menjadi dewa, ya?"


Tulisan Amish dalam Siwa ini cukup menyenangkan untuk dibaca. Penceritaannya mengalir. Beberapa bagian merupakan kilas balik ke masa lalu, namun tak begitu drastis lompatannya sehingga tetap mudah diikuti. Pastinya ini berkat penerjemahan yang apik dari para penerjemahnya. 

Banyak dialog menarik yang ditampilkan dalam banyak bab; di dalamnya tersirat banyak pesan moral. Untunglah pesan-pesan moral itu menyatu dengan cerita, jadi tak terkesan menggurui pembaca. Yang menarik juga tentunya adalah penggambaran latar belakang berbagai peristiwa, alam yang penuh dengan keindahan sekaligus tantangan. Dan entah kenapa, penggambaran kawasan di lembah Sungai Indus dengan segala kebudayaan dan adat istiadatnya pada berada lalu ini mengantarkan imajinaku ke wilayah pedalaman Kalimantan yang memiliki banyak perairan. 

Yang buatku agak lemah adalah sejumlah bagiannya yang terasa lambat. Ada beberapa titik yang kurasa penggambarannya terlalu detail dan membuatku agak bosan. Namun, tak banyak. Secara keseluruhan ketiga novel ini seru diikuti.  

Trilogi Siwa ini merupakan karya penulis India, Amish Tripathi. Sebelum nyemplung di dunia penulisan, Amish adalah seorang bankir yang cukup berhasil. Ketika karya pertamanya, The Immortals of Meluha--yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai Kesatria Wangsa Surya--menangguk sukses besar, ia memutuskan melepaskan karirnya sebagai bankir yang telah ditekuninya selama empat belas tahun. Ia menyeriusi dunia penulisan dengan fokus tema yang digandrunginya, yakni sejarah, mitologi, dan filsafat. Menurut catatan di platform publikasinya, Amish telah meluncurkan 13 buku utama, baik fiksi maupun nonfiksi. Buku-buku tersebut telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan sukses terjual jutaan kopi di seluruh dunia. Trilogi Siwa tercatat sebagai seri buku terlaris dalam sejarah penerbitan India.


Judul Asli: The Immortals of Meluha
Judul Indonesia: Siwa (Kesatria Wangsa Surya)
Penulis: Amish Tripathi
Penerjemah: Desak Nyoman Pusparini
Penerbit: Javanica
Halaman: 427 halaman

Judul Asli: The Secret of the Nagas
Judul Indonesia: Rahasia Kaum Naga 
Penulis: Amish Tripathi
Penerjemah: Briliantina L. Hidayat
Penerbit: Javanica
Halaman: 410 halaman

Judul Asli: The Oath of the Vayuputras
Judul Indonesia: Sumpah Bayuputra
Penulis: Amish Tripathi
Penerjemah: Briliantina L. Hidayat
Penerbit: Javanica
Halaman: 610 halaman


No comments