"Hari gini masih percaya zodiak?!" Ada yang pernah mendengar pernyataan ini? Atau, jangan-jangan kamu juga pernah mengatakannya? Bisa dimaklumi jika banyak orang alergi dengan zodiak, mengingat begitu banyaknya konten yang berisi ramalan-ramalan terkait hari lahir ini. Yang saya akan coba bicarakan di sini bukan ramalan, melainkan soal potensi yang kita miliki dan berbagai kemungkinan serta kecenderungan yang kita hadapi berangkat dari analisis zodiak. Zodiak ini hanya salah satu contoh. Ia bagian dari bahasan yang lebih luas yakni astrologi. Buat saya, astrologi dan numerologi itu hanyalah perangkat yang dapat membantu kita menemukan desain otentik diri dan hubungannya dengan tema kehidupan yang kita jalani.
Baca juga: Tantangan Hidup di Hari-Hari Ini dan Mindfulness ala Maudy Ayunda
Sekali lagi, bisa dimaklumi jika sebagian besar orang mengaitkan astrologi dan numerologi sebagai klenik atau magis. Karena memang tak cukup banyak yang mau bersusah payah untuk mencari penjelasan logisnya. Enggan juga untuk menyimak penjelasan dari sisi spiritualitas atau metafisika. Lebih mudah bagi orang untuk menepiskannya sebagai bagian dari sesuatu yang sesat. Sementara di sisi lain, mereka yang menyebut diri sebagai praktisi--yang berangkatnya dari semata pembelajaran praktis--banyak yang dengan senang hati mendapat predikat dukun atau orang sakti.
Memahami Vibrasi Energi dan Kaitannya dengan Energy Profiling
Segala sesuatu di alam semesta ini, baik makhluk hidup maupun benda mati memiliki energi. Dari sudut pandang fisika modern, fisika kuantum dan teori relativitas menjelaskan bahwa materi dan energi adalah hal yang sama, hanya dalam bentuk yang berbeda. energi dan vibrasi adalah sesuatu yang nyata, dapat diukur secara matematis, dan menjadi dasar pembentuk alam semesta. Sejumlah teori fisika modern sudah cukup menerangkan, bisa dicari tahu dari sumber-sumber yang sahih. Sedangkan dari sudut pandang biologi, pada makhluk hidup (manusia, hewan, dan tumbuhan), energi tidak hanya ada pada tingkat atomik, tetapi juga mengalir sebagai sistem pendukung kehidupan.
Artinya, kita sebagai manusia yang merupakan bagian dari alam semesta ini pada dasarnya adalah perwujudan dari energi yang memadat dan membentuk sebuah struktur fisik. Dalam skala yang lebih luas, seperti makhluk lain di sekitar kita, di luar pulau, di luar benua, bahkan segenap planet di sistem tata surya tersusun dari struktur energi yang kompleks dan tak kasat mata.
Vibrasi merupakan hasil dari getaran atau gerakan energi. Saat energi--yang ada dalam setiap komponen alam raya--ini aktif atau hidup, ia tidak diam, melainkan bergetar memancarkan vibrasi tertentu. Tingkat vibrasi dipengaruhi oleh besaran energi. Makin besar suatu energi, makin besar pula vibrasi yang dipancarkannya. Uniknya, tiap benda dan makhluk hidup memiliki karakter energi sendiri, begitu pula dengan vibrasi yang dihasilkannya. Pertemuan vibrasi yang berbeda, akan memunculkan dampak yang berbeda pula.
Baca juga: Mengenal Sabotase Diri dan Mekanisme Kopig
Contoh:
Dalam relasi manusia dengan manusia. Kita akan segera bisa merasakan ketidaknyamanan saat berjumpa denga orang yang vibrasinya bertabrakan dengan kita. Dalam bahasa gaulnya: beda frekuensi.
Dalam relasi manusia dengan makhluk lain, misalnya dengan kucing atau anjing. Masing-masing juga menguarkan vibrasi yang berbeda yang bisa menjadi pertimbangan kita untuk mendekat atau menjauh.
Dalam perjumpaan kita dengan sebuah lingkungan baru, kita pun bisa merasakan vibrasinya, apakah lingkungan itu "nyambung" atau tidak dengan kita. Mungkin kita akan merasakan hawa dingin atau sebaliknya panas, atau nuansa angker.
Hal-hal di atas tidak dapat diterjemahkan dengan logika, tapi energi kita dapat memahami itu dari sensasi yang diterima oleh tubuh.
Lalu, apa hubungannya vibrasi energi dan numerologi?
Baca juga: Mengapa Kita Mengalami Pola Hidup yang Terus Berulang?
Kembali ke soal bahwa segala sesuatu di alam raya ini adalah energi yang memiliki vibrasi. Manusia bersama makhluk hidup dan segala benda di sekitarnya adalah lingkungan kecil. Di lingkungan besar ada tata surya. Di dalam tata surya ada benda-benda langit yang masing-masing memancarkan vibrasinya juga. Fenomena alam yang dihasilkannya dicatat oleh para leluhur. Bagaimana para petani sejak masa lalu sudah mengenali perubahan cuaca sehingga bisa menentukan saat bertanam dan memanen. Pelaut mengetahui kapan masa ikan melimpah ruah dan siap dipanen, dan sebaliknya kapan masa paceklik.
Di wilayah yang lain, para leluhur juga mencatat dampak pergerakan benda-benda langit ini terhadap karakter manusia. Bahwa perubahan posisi dan formasi planet menghasilkan perubahan medan energi di planet yang kita tinggali. Perubahan ini berdampak terhadap vibrasi alami kita. Karakter dari medan energi yang terbentuk di bumi inilah yang dicermati, dipetakan, dan dicatat oleh leluhur kita. Ada yang mengistilahkan ini dengan energy profiling. Energi profiling ini berdasarkan budaya yang berkembang di wilayahnya masing-masing.
Misalnya dalam kebudayaaan Romawi, energy profiling ditunjukkan dalam gambar dan nama yang disebut zodiak. Ilmu yang mempelajari itu dinamai astrologi. Berbeda lagi dengan kebudayaan China, yang secara filosofis mengilustrasikan energy profiling ke dalam bentuk 5 elemen, 12 batang bumi (shio), dan 10 batang langit. Kelak energy profiling ala China ini dikenal sebagai BaZi, atau disebut juga Astrologi Cina. Kebudayaan lain memiliki energy profilingnya masing-masing. Termasuk di antaranya di tanah Jawa dan Bali dikenal istilah weton. Numerologi merupakan salah satu energy profiling yang berkembang di kemudian hari. Kesemuanya itu membahas tentang apa yang menjadi bagian dari diri kita sejak lahir.
Baca juga: Tetap Bahagia dan Giat Berkarya saat Menjalani Hidup Sendiri
Numerologi dan Astrologi sebagai Petunjuk Praktis
Sebagai peringatan awal, istilah "praktis" ini sekadar untuk mempermudah dan menghadirkan nuansa optimistis. Karena bicara tentang manusia itu kompleks. Rumit. Sesuatu yang praktis pun kadang berujung mbulet ketika berhadapan dengan ego, luka trauma masa lalu, dan gangguan mental. Maka sebagai pembatasan, bahasan ini teruntuk kalian yang memang sudah "menemukan diri" dan perlu informasi tambahan untuk melengkapi upaya penggalian potensi demi menemukan versi terbaik dari diri sendiri. Ah, iya, tentu saja catatan ini juga buat yang sepakat dengan tulisan di subjudul pertama.
Jika kita telah sepakat bahwa peristiwa alam bersamaan dengan saat kelahiran kita itu memberikan kita profil energi tertentu, mari kita lanjutkan. Tema energi inilah yang bisa membantu kita mengenali diri lebih dalam dan menemukan tema kehidupan dan tantangan kita sekaligus mengetahui potensi apa saja yang masih bisa kita gali.
Dalam numerologi kita mengenal Life Path Number atau Angka Jalan Kehidupan. Kita sebut saja life path untuk memudahkan. Life path adalah elemen utama dalam numerologi yang merupakan struktur energi utama dalam diri seseorang. Life path menjadi kunci bagi keselarasan energi lain dalam elemen numerologi. Sebelum mengenali energi dari elemen lainnya, life path dipahami dulu sebagai awal. Saya pernah mendapatkan hitungan dari seorang kawan, yang ketika itu, karena saking gembira lantas menuliskannya dalam catatan di blog. Numerologi untuk nama. Di kemudian hari saya baru tahu, istilah untuk hitungan nama ini adalah expression. Dan nama adalah elemen lain dalam numerologi yang sentral atau kompasnya sebetulnya di life path. Yo wis, memang proses pembelajarannya demikian. Jadi, diterima saja. Nah, kalau kalian sudah memahami life path masing-masing, bisa cek di sini soal penghitungan untuk nama.
Baca juga: Doa, Meditasi, dan Vibrasi Energi
Kita lanjutkan dengan cara penghitungan angka life path, ya.
Angka Life Path didapatkan dari penjumlahan bulan, tanggal, dan tahun kelahiran. Semuanya dijumlah hingga tercapai satu digit, dengan pengecualian 3 angka kembar, yakni 11, 22, dan 33 yang tetap dipertahankan sebagai 2 digit. Ketiga angka kembar ini disebut master number. Ini diperlakukan untuk angka di masing-masing komponen, yakni tanggal-bulan-tahun. Lebih detailnya sebagai berikut:
Pada tanggal, angka 11 dan 22 dibiarkan tetap 2 digit. Begitu pula pada penjumlahan dua angka dengan total 11, yakni angka 29, dibiarkan tetap di angka 11.
Pada bulan, angka untuk bulan Januari hingga September, masing-masing sesuai dengan angka urutan bulannya.
Oktober, bulan ke-10 berarti kembali ke angka 1.
November, bulan ke-11 dibiarkan tetap 11
Desember, bulan ke-12, dijumlahkan menjadi angka 3.
Pada tahun, diberlakukan hal yang sama. Penjumlahan terus dilakukan hingga angka mencapai 1 digit, kecuali jika hasil akhirnya 11 atau 22.
Terakhir, jumlahkan ketiga bagian ini hingga mencapai angka 1 digit, kecuali jika hasilnya 11, 22, dan 33.
Mari kita buat contoh penjumlahannya.
Tanggal lahir 4 Februari 1989
= 4 + 2 + (27)
= 4 + 2 + 9
= 15
= 6
Tanggal lahir 7 Januari 2001
= 7 + 1 + 3
= 11
Tanggal lahir 29 November 1972
= (29) + 11 + (82)
= 11 + 11 + 10
= 23
= 5
Nah, kita sudah mendapatkan hasilnya. Hasil akhir itulah yang disebut life path, yang merupakan blueprint vibrasi kita.
Baca juga: Kesadaran Spiritual, Hidup dalam Perspektif Baru
Sekarang mari kita cari tahu apa makna di balik angka-angka yang kita dapatkan untuk kita masing-masing.
Angka 1 adalah Inisiator
Angka ini menandai permulaan. Energinya yang, maskulin. Ialah sang inisiator, sang pemula, pembuat inovasi. Energi 1 menunjukkan keberanian, ambisi, kepemimpinan, kegigihan. Energi 1 juga mewakili kekeraskepalaan, tak pintar basa-basi, kurang empati.
Angka 2 adalah Mediator

Wah, ini menarik banget, Mba Dhenok. Aku tuh termasuk yang suka penasaran sama hal-hal begini, numerologi, life path, zodiak, segala macam yang katanya bisa membantu kita mengenali diri sendiri.
ReplyDeleteBukan berarti terus semua harus dipercaya mentah-mentah ya, tapi kadang membaca karakter diri dari sudut pandang yang berbeda itu seru juga. Minimal jadi punya bahan untuk ngaca, “Oh… pantesan gue begini!”
Yang paling aku suka dari tulisan seperti ini justru bagian mengenali diri sendiri. Karena semakin ke sini, rasanya kita memang perlu lebih banyak memahami diri daripada sibuk memahami orang lain. Apalagi umur sudah kepala lima, hahaha… sudah waktunya berdamai dengan beberapa sifat bawaan sambil tetap belajar memperbaiki yang memang perlu diperbaiki.
wow harus dibaca pelan-pelan dan berulangkali baru paham
ReplyDeletejadi, ketika (tanpa tau sebabnya) kita tidak menyukai seseorang
berarti vibrasi kita bertabrakan denagn vibrasi dia ya?
Seperti kita bertemu dengan seorang yang ngeyelan, diajak ngomong bahwa POV nya berbeda, eh dia tetap ngeyel, hingga akhirnya saya bilang: case closed
daripada rasanya anyel/sebel yang gak perlu
termasuk kasus KDM yang ngeyel tentang data center AI dengan membandingkannya dengan data center di kota-kota seperti jakarta dan kota besar lainnya
Pembahasan numerologi rasanya agak susah kupahami. Tapi, yang kupahami perbedaan vibrasi saat hubungannya dengan antar manusia emang lebih mudah dipahami
ReplyDeleteKalau beda vibrasinya memang ada rasa nggak nyaman gitu sih.
Menarik ya kalau dipelajari numerologi & zodiak ini, bukan untuk percaya mitos dan dihubung-hubungkan. Aku dong langsung jumlahin nih angka lahir = 6 loh...hehe...
ReplyDelete