Showing posts with label perempuan. Show all posts

Franca Viola, Perempuan Muda yang Berani Guncang Hukum dan Tradisi

Membaca kisahnya membuatku berpikir bahwa masih begitu banyak hal yang bisa disyukuri di masa kini. Bukan berarti menafikan berbagai persoalan kesenjangan terkait gender, namun tak ada salahnya mensyukuri hal-hal sederhana. Masih banyak PR yang menjadi tugas kita untuk menyelesaikannya. Dan mari belajar dari seorang Franca Viola, yang pada zamannya telah berani menentang tradisi yang demikian menyudutkan dan menempatkan perempuan di posisi yang demikian rendah.


Baca juga: Berkaca dari Kasus Tiara, Femisida dan Pencegahannya

Keberanian Franca Viola telah mencatatkan sejarah, terutama terkait hukum dan keadilan berbasis gender. Topik ini masih menjadi persoalan di berbagai negara. Termasuk Italia, negaranya Franca Viola. Perjuangan masih panjang.   


Perempuan Muda yang Menuntut Keadilan

Kisah ini bermula dari sebuah kota kecil bernama Alcamo, di pulau Sisilia. Nama kawasan yang barangkali cukup akrab di telinga para penggemar film mafia. Nama ini terutama nempel di film epik klasik yang mengangkat kisah keluarga mafia Corleone. Ada sejumlah film tentang mafia Italia yang juga menyebutkan dengan jelas kawasan ini. Namun, ini bukan kisah tentang mafia. Ini tentang seorang perempuan sederhana, tetapi memiliki tekad sekuat baja.

Namanya Franca Viola. Pada penghujung tahun 1965, ia berusia 17 tahun. Gadis muda ini memiliki seorang kekasih, Filippo Melodia. Kekasihnya sudah mengenal keluarganya, orang tua dan adik laki-lakinya, Mariano, yang baru berusia 8 tahun. Ketika suatu kali akhirnya Franca mengetahui latar belakang keluarga Melodia yang adalah mafia, ia memilih mundur. Sayangnya, lelaki itu tak terima diputuskan hubungan secara sepihak. Apa yang terjadi kemudian sama sekali di luar perkiraan Franca dan keluarganya. Franca diculik!

Saat itu sehari setelah perayaan Natal, 26 Desember 1965. Sekelompok laki-laki bersenjata menerobos masuk rumah sederhana keluarga Franca. Ayah Franca, Bernardo, sedang bekerja di ladang anggur keluarga. Hanya bersama ibu dan adik kecilnya, Franca tak sanggup melawan. Ibunya kena pukul, sedangkan ia dan Mariano dibawa pergi secara paksa. 

Tak beberapa lama, Mariano dilepaskan. Sedangkan Franca disekap dalam sebuha ruangan. Ia disiksa dan diperkosa selama 8 hari dalam penyekapan. Aturan Italia saat itu memberikan mandat kepada pelaku pemerkosaan untuk menikahi korban, agar terbebas dari jerat hukum. Hukum yang disebut “matrimonio riparatore” itu didasari oleh anggapan bahwa pernikahan dapat “mengembalikan kehormatan” perempuan korban. Bukan keadilan. Namun, kehormatan; itu pun dalam versi mereka. 

Alih-alih menerima tawaran pernikahan demi menyelamatkan kehormatan, Franca datang ke kantor polisi untuk menuntut Filippo Melodia ke pengadilan. Franca tidak sendiri. Sang ayah erat menggandeng tangannya.


Baca juga: Laki-Laki dan Peran Pentingnya dalam Kekerasan Berbasis Gender


Kata "Tidak" yang Mengubah Sejarah

Tak lama setelah pembebasannya dari sekapan Melodia, Franca sudah langsung disodori opsi untuk menikah dengan pelaku. Dorongan bukan hanya datang dari pihak Melodia. Orang-orang yang ada di sekelilingnya, tetangga, teman, keluarga jauh, semuanya berpikir hal yang sama bahwa Franca harus “menyelesaikan masalah” dengan menikah. Dengan begitu kehormatan Franca tetap terjaga. 

Franca menolak. Opsi itu bukan untuknya. 

Penolakan itu bukan hanya membuat berang keluarga Melodia. Warga sekitar pun mencelanya. Mereka menganggap Franca telah mengangkangi tradisi. Bukan sekadar sikap menjauhi dan kata-kata hinaan yang mereka lontarkan. Bahkan mereka membakar ladang keluarga Franca. 

Franka tidak surut. Dengan ayah yang berdiri tegak di sisinya, bersikeras menuntut keadilan. Lelaki itu sadar betul, keputusan Franca akan membawa masalah besar. Namun, ia memilih memberikan dukungan sepenuhnya bagi anak perempuannya; melindungi kebenaran dan kehormatan anaknya dan bukan mempertahankan tradisi yang menindas.

Apa yang dilakukan Franca memunculkan kegemparan yang luas. Bagaimana tidak, seorang perempuan muda berani menentang hukum dan tradisi yang ratusan tahun dijadikan pijakan dalam penanganan masalah perkosaan. Dan Franca menang. Upayanya tidak sia-sia. Semua hinaan, celaan, dan cibiran orang yang ditelannya dengan susah payah itu membuahkan hasil. Pengadilan menjatuhkan hukuman penjara selama 11 tahun kepada Filippo Melodia.


Baca juga: Tetap Bahagia dan Giat Berkarya saat Menjalani Hidup Sendiri


Keberanian yang Mengubah Masa Depan

Peristiwa yang terjadi di kota kecil bernama Alcamo, di pulau Sisilia itu menjadi topik pembicaraan nasional. Media massa menurunkan berita perkembangan kasusnya. Franca Viola, gadis berusia belasan tahun itu menjadi perempuan pertama di Italia yang secara terbuka menuntut pelaku pemerkosaan dan menolak mengikuti tradisi “pernikahan pemulihan”. 

Sejumlah tokoh menunjukkan apresiasinya. Presiden Italia saat itu, Giuseppe Saragat, menyampaikan pujian atas keberanian gadis itu. Bahkan Paus Paulus VI memberikan dukungan moral dengan menemuinya secara pribadi. Sebagai seorang gadis muda--dengan kasusnya itu--Franca tentu saja dihadapkan pada rasa malu, terhina, takut, namun ia memilih berani mengubah keadaan. 

Franca tidak hanya memenangkan kasus tersebut. Ia telah berhasil mengguncang sistem hukum dan budaya di negaranya. Meski demikian tak serta merta hukum dan tradisi itu ditiadakan. Dibutuhkan waktu 15 tahun untuk betul-betul menggoncang sistem tersebut. Pada 1981, akhirnya hukum “pernikahan pemulihan” dihapuskan dari sistem hukum Italia. 

Selang dua tahun dari peristiwa tersebut, Franca menikah dengan teman masa kecilnya, Giuseppe Ruisi. Mereka menjalani pernikahan yang bahagia, damai dan tenang membesarkan anak dan cucu; jauh dari sorotan publisitas. Meski demikian, publik mengenang Franca Viola sebagai pelopor hak-hak perempuan di Italia. 

Dapatkan tips pernikahan bahagia dan rumah tangga harmonis di blog deestories.


Baca juga: Menjadi Perempuan Mandiri dan Merdeka

Portrait of a Lady on Fire, Kisah Cinta Terlarang Abad 18

Saat berselancar di dunia maya, tak sengaja kutemukan film ini: Portrait of a Lady on Fire. Dalam asal Prancis yang judul aslinya Portrait de La Jeune Fille en Feu, dengan mengambil latar Perancis pada abad ke-18. Film yang disutradarai oleh Celine Sciamma ini rilis pada 2024 lalu. 



Baca juga: Discovery of Witches, Ketika Penyihir Perjuangkan Hidup yang Harmoni

Film ini berkisah tentang dua perempuan yang terlibat dalam hubungan asmara. Hubungan “terlarang” pada masanya, ketika gagasan tentang keragaman identitas seksual belum diterima doleh masyarakat Eropa. Buat kamu alergi terhadap kisah romansa sesama jenis, baiknya tak usah menonton. Tapi, kalau tertarik dengan kisah manusia dengan segala persoalannya, ini film yang menurutku layak tonton. Apalagi kalau working life-nya terkait dunia seni rupa.


Sinopsis

Film diawali dengan adegan kelas melukis. Guru lukis, Marianne (Noemie Merlant) memajang lukisan perempuan di bibir pantai di depan kelas. Lukisan yang menggugah peserta kelas dan memunculkan pertanyaan. Di sinilah muasal kisahnya. Marianne kembali ke masa lalu, sebuah kisah yang pernah dijalaninya. 

Sebagai pelukis muda berbakat, Marianne mendapat tugas untuk melukis sosok perempuan yang akan segera menikah. Untuk sampai di rumah sang calon pengantin, ia mesti melakukan perjalanan menggunakan kapal. Perjalanan yang cukup dramatis.

Sampai di lokasi yang dituju, ternyata masalahnya lebih rumit dari yang dibayangkan Marianne. Sang calon pengantin, Heloise (Adele Haenel) tak menginginkan pernikahan tersebut. Ia hanya jadi pemeran pengganti. Kakak yang mestinya menjadi pengantin--yang sepertinya juga tak menginginkan pernikahan itu--memilih bunuh diri. Dengan kenyataan tersebut, Marianne tak leluasa untuk melukis sosok perempuan muda itu. 

Ibu Heloise memberikan saran--persisnya siasat--agar Marianne menjadi kawan anaknya. Dengan kedekatan pertemanan, pelukis itu bisa melakukan tugasnya. Perempuan itu juga mengingatkan lamanya waktu yang diberikannya untuk menyelesaikan lukisan tersebut.

Marianne menunjukkan bakatnya secara nyata. Ingatan akan gerak-gerik Heloise saat mereka bersama segera dituangkannya ke dalam kanvas begitu ia tiba di kamarnya. Ia yang tak cepat puas berulang kali mengoreksi lukisannya begitu ia mendapati temuan ekspresi baru. Proses pertemanan mereka semakin dalam. Marianne makin banyak menemukan hal-hal baru dalam relasi mereka, terutama terkait proses lukisan. Hingga suatu kali ia merasa harus jujur menjelaskan keberadaannya di rumah tersebut. Meski awalnya muncul konflik di antara mereka, tak dinyana, Heloise akhirnya malah rela untuk menjadi subjek lukisan. 

Ada banyak drama dalam kurun waktu itu. Drama percintaan terlarang, termasuk kisah yang dialami asisten rumah tangga. 

Akhirnya waktu yang ditentukan tiba. Lukisan tuntas, saat perpisahan pun tak terelakkan. Begitu saja, kisah itu usai menyisakan luka dan kenangan pada masing-masing perempuan tersebut. 

Baca juga: Perempuan-Perempuan dalam Karya Pramudya Ananta Toer


Bukan Semata Romansa Sesama Jenis, Ini Kisah tentang Pembebasan

Aku tak membaca lebih dulu bahasan tentang film ini. Seperti biasa. Aku lebih suka kejutan. Awalnya tak berpikir jika film ini membeberkan kisah hubungan sesama jenis. Sejak awal ditunjukkan perbedaan mencolok antara Marianne dan Heloise. Marianne yang bukan hanya memiliki pemikiran yang lebih terbuka, tapi sekaligus juga menjalani hidup yang memang menjadi pilihannya. Berbeda dengan Heloise yang harus menuruti kata ibunya. Menjaga nama baik keluarga adalah tugas yang harus diembannya. 

Lewat relasi yang sederhana, pelan-pelan Heloise bisa menikmati dirinya sebagai sebuah pribadi. Menikmati kebebasannya sebelum masuk dunia pernikahan. Hal yang barangkali cukup mahal bagi perempuan pada abad ke-18. Dan hal-hal baru Heloise dapatkan dan pelajari dalam relasi singkatnya dengan Marianne. 

Film ini berhasil menjadi jawara untuk kategori Screenplay dan Queer Palm pada Cannes Film Festival 2019. Penghargaan ini diberikan sebagai apresiasi diangkatnya tema LGBT dalam film tersebut. 

Mengutip berbagai sumber, sutradara Celine Sciamma memang seorang feminis dan lesbian. Karya-karyanya banyak mengusung ironi hubungan perempuan dan wanita. Penghargaan Queer Palm ini menjadikan Sciamma sutradara perempuan pertama mendapatkan penghargaan tersebut.

Film ini merupakan film pertama tema ini yang kutonton. Ada sejumlah film yang melihatkan kisah cinta sejenis, seperi dalam Brokeback Mountain, atau Harvey's Milk, atau The Girl with Dragon Tatoos--terutama yang versi Swedia, hmmm ...  apa lagi, ya. Namun, dalam film-film tersebut hanya semacam gambaran personal tokoh. Berbeda dengan film ini yang secara jelas memang mengangkat same sex love, dengan penyajian yang indah. 

Tentu saja bukan sekadar kisah percintaan. Isu sosial di masa itu juga menjadi bagian menarik dari cerita. Tentang bagaimana kaum perempuan dipaksa untuk menikah dengan pasangan yang disediakan semata demi kuasa dan kekayaan. Begitu pula tentang kondisi perempuan yang mengalami kehamilan sebelum menikah, dihadapkan pada konsekuensi yang berat. 

Hal menarik lainnya, buatku adalah penggambaran suasana desa di Perancis pada masa lalu. Mengajak berimajinasi mengelanai masa lalu. 

Menurutku, Portrait of a Lady on Fire ini asyik sebagai sebuah tontonan, selagi bisa membebaskan diri dari stigma, penghakiman dengan mengaitkan same sex love sebagai masalah mental health

Baca juga: Berkaca dari Kasus Tiara, Femisida dan Pencegahannya


Berkaca dari Kasus Tiara, Femisida dan Peran Perempuan dalam Pencegahannya

Awal September lalu sebuah kabar menggemparkan datang dari Surabaya, Jawa Timur. Peristiwa pembunuhan yang sadis, dengan korban seorang perempuan. Publik menyangkutkan peristiwa ini sebagai femisida. Dan ini bukan kali pertama. Dalam setahun terakhir saja kita bisa mengeja femisida yang terjadi di beberapa kawasan di tanah air. Apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah peristiwa seperti ini kembali terjadi? Apakah kita bisa ambil peran untuk kondisi kesetaraan, kondisi egaliter dalam masyarakat kita?


Baca juga: Laki-Laki dan Peran Pentingnya dalam Kekerasan Berbasis Gender

Kita masih belum lupa peristiwa naas yang menimpa gadis penjual gorengan di Pariaman. Gadis muda yang menjadi tumpuan keluarga itu menghilang dan ditemukan sudah dalam kondisi mengenaskan. Bakal panjang daftarnya jika kita eja satu per satu. Menunjukkan bahwa ini salah satu PR besar kita. Coba cek di mesin pencari "mayat bayi perempuan", sepanjang tahun ada saja beritanya.


Apa Itu Femisida

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), femisida artinya pembunuhan seorang perempuan oleh laki-laki atas dasar kebencian gender. Pembunuhan terhadap perempuan atau anak perempuan yang didasarkan pada jenis kelaminnya. Sedangkan pengertian femisida menurut Sidang Umum Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), femisida adalah pembunuhan terhadap perempuan yang didorong oleh kebencian, dendam, penaklukan, penguasaan, penikmatan, dan pandangan terhadap perempuan sebagai kepemilikan sehingga boleh berbuat sesuka hatinya.

Istilah femisida digunakan permata kalinya oleh Diana Russel dalam acara International Tribunal on Crimes Against Women (1976) dengan materi tentang "pembunuhan misoginis terhadap perempuan oleh laki-laki". 

Data UN Women menunjukkan bahwa pada 2022 tercatat sekitar 48.800 perempuan dan anak perempuan di seluruh dunia dibunuh oleh pasangan mereka atau anggota keluarga lainnya. Jika dirata-rata, lebih dari 133 perempuan atau anak perempuan di dunia dibunuh setiap hari oleh orang dekat mereka. 

Bagaimana dengan di Indonesia?

Komnas Perempuan dalam rilis mereka pada 2024 lalu menyebutkan bahwa mereka telah melakukan pemantauan kasus femisida melalui pemberitaan media. Masih banyak ketimpangan informasi terkait kasus ini. Namun beberapa informasi yang mereka bagikan dalam rilis tersebut di antaranya adalah catatan kasus indikasi femisida pada 2020, 2021, 2022, dan 2023. Pada 2020 terpantau ada 95 kasus femisida, pada 2021 terpantau 237 kasus, pada 2022 terpantau 307 kasus, dan pada 2023 terpantau 159 kasus. Dalam setiap tahun tersebut menempatkan femisida intim sebagai jenis femisida tertinggi. Femisida intim itu meliputi suami, mantan suami, pacar, mantan pacar atau pasangan kohabitasi. 

Menurut Komisioner Komnas Perempuan Rainy M Hutabarat, selain femisida intim, korban perempuan dalam kasus femisida adalah perempuan disabilitas, perempuan pekerja seks (baik dari dari pengguna jasa maupun mucikarinya), transpuan, dan perempuan dengan orientasi seksual minoritas. 

Jadi, menggarisbawahi yang disampaikan Rainy dalam rilis tersebut, yang membedakan femisida dengan pembunuhan biasa adalah adanya motivasi gender. Femisida, pada umumnya berlatar belakang rasa cemburu, ketersinggungan maskulinitas, menolak bertanggungjawab, kekerasan seksual, menolak perceraian atau pemutusan hubungan. Hal itu menunjukkan adanya ketimpangan relasi kuasa laki-laki atas diri perempuan. Adanya superioritas, hegemoni, dominasi, misogini, stereotip gender, dan rasa memiliki yang tak terbantahkan.   

Baca juga: Mengapa Perempuan Perlu Bekerja


Kasus Tiara dan Sikap Perempuan yang Merendahkan 

Tiara Angelina Saraswati dibunuh oleh pacarnya sendiri, Alvi Maulana. Ada yang mengatakan mereka sudah nikah siri. Apa pun statusnya, mereka memiliki ikatan kuat yang memungkinkan mereka membuat keputusan untuk menjalani hidup bersama. Bayangkan, bagaimana seseorang yang hubungannya telah begitu dekat bisa melakukan kekejaman serupa itu? Bukan hanya membunuh, Alvin juga mempreteli tubuh kekasihnya dan membuangnya ke lokasi yang berbeda-beda. Sungguh gila!

Tapi itulah yang terjadi. Bisa jadi yang mereka alami sebelumnya adalah tumpukan kekecewaan, kemarahan, rasa tidak puas yang akhirnya ketemu titik puncak. Bisa jadi. Tapi bukan wewenang kita untuk menduga-duga. Di media malah sempat ditampilkan pos-pos lama Tiara di media sosial. Banyak orang yang berasumsi Tiara memiliki gaya hidup yang tak sesuai dengan kemampuan. Dan lain-lain, dan sebagainya. Kita sebagai pembaca sama sekali tak tahu apa terjadi sesungguhnya. Faktanya adalah Tiara dibunuh dengan sadis. Tak ada alasan apa pun untuk menyalahkan Tiara sebagai korban. Ajaib sungguh kalau orang menyalahkan Tiara, bahkan komentar negatif datang dari kaum perempuan.

"Makanya jadi perempuan jangan mengekang."

"Kasih kebebasan ke laki-laki, yang penting uangnya lancar."

"Suami pulang kerja mestinya disambut ..."

Mengapa perempuan sering kali menyalahkan perempuan lain?

Menurutku hal utamanya adalah karena banyak perempuan yang sesungguhnya tidak bahagia. Meski segala komentarnya berbalut moralitas, petuah relijius, merasa sebagai yang paling punya pengalaman, hal mendasarnya adalah mereka tidak bahagia. Dan menjadi kegembiraan tersendiri ketika mereka berhasil menjatuhkan perempuan lain, menempatkan sama dengan kondisi dirinya sendiri.

Lha, bagaimana ceritanya, korban pembunuhan brutal masih disalahkan?! Apakah mereka sadar narasi mereka itu dapat memupuk potensi kekerasan terhadap perempuan lainnya? 

Bangun, wahai perempuan! Kalian perlu saling mendukung dan menguatkan. Banyak kejahatan di luar sana, yang kamu bisa memberikan andil dengan tidak mengumbar ketidakpuasanmu akan hidupmu dengan menjatuhkan perempuan lain. 

Baca juga: Menjadi Perempuan Mandiri dan Merdeka


Apa yang Bisa Kita Lakukan untuk Mencegah Kasus Femisida

Kasus femisida terjadi di lingkungan dekat, melibatkan orang-orang yang dikenal dan memiliki hubungan personal. Pacaran dan pernikahan sangat mungkin menjadi bentuk relasi yang tidak aman bagi perempuan. 

Apa yang bisa kita lakukan sebagai bagian dari masyarakat?

Tentu saja kita perlu berharap ada aturan yang dapat mencegah terjadinya tindak kekerasan dalam lingkup personal ini. Aparat penegak hukum sigap dalam menghadapi kasus-kasus terkait kekerasan dalam rumah tangga, ancaman, manipulasi yang terus berulang, kekerasan seksual. Pernah tahu, kan, berita kematian perempuan yang sebelumnya telah melaporkan peristiwa KDRT yang dialaminya, tapi tidak ditindaklanjuti oleh aparat? Itu benar-benar terjadi. Fakta bahwa aparat kita kurang sigap memberikan pelayanan dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga, khususnya kekerasan yang menimpa perempuan. 

Dalam rilis Jakarta Feminist yang dipublikasikan pada 2024 lalu disebutkan bahwa hukum nasional Indonesia belum mengakui femisida sebagai sesuatu yang berbeda dari homicide. Rilis ini juga memuat pernyataan Deputi V Kemenko Polkam, Dr. Erni Mustikasari yang menyebutkan bahwa femisida tidak diatur dalam hukum pidana nasional. Yang diatur hanya delik pembunuhan pada KUHP namun tidak mengatur delik pembunuhan khusus terhadap perempuan. Memang, ada pemberatan ancaman pidana 1/3 pada delik pembunuhan terhadap istri atau anak dalam KUHP Nasional. Sementara UU Specialis seperti UU PKDRT, UU Perlindungan Anak, UU PTPPO atau UU TPKS tidak mengatur delik pembunuhan, melainkan kekerasan yang mengakibatkan kematian, yang berbeda dengan delik pembunuhan karena ditujukan terhadap tubuh bukan merampas nyawa.

Dari sisi regulasi, masih jadi PR besar. Sambil terus menunggu kebijakan pemerintah yang lebih peka terhadap permasalahan ini, ada baiknya kita mulai aksi dari diri sendiri. Apa yang kita bisa lakukan sebagai andil untuk menghentikan femisida?

Pertama dan utama: keluarga. Membesarkan anak dalam budaya yang egaliter, membebaskan keluarga dari penjara budaya patriarki. Menciptakan budaya adil dan setara serta sadar gender. Kalau belum berkeluarga, bisa memulainya dari lingkungan terdekat.

Kedua, memanfaatkan media massa dan media sosial untuk mensosialisasikan kepedulian terhadap isu femisida. Siapa pun yang memiliki akun media sosial, bisa menyebarkan informasi perihal femisida dalam berbagai cara penyampaian.

Ketiga, aktif dalam komunitas atau organisasi yang mengusung tema keadilan berbasis gender. Atau bergabung dalam kelompok perlindungan korban. Komunitas atau kelompok-kelompok ini biasanya aktif melakukan edukasi terkait isu-isu gender. Termasuk di antaranya kepekaan terhadap kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di sekitar. Komunitas yang solid dengan jaringan luas juga mampu memberikan dorongan kepada pemerintah untuk menelurkan kebijakan yang peduli gender.

Pendek kata, banyak yang bisa kita lakukan untuk terlibat dalam upaya mencegah terjadinya kekerasan terhadap perempuan, utamanya femisida. Kita di sini bisa siapa saja, aku dan kamu, laki-laki, perempuan, maupun multi gender. Bisa dijadikan bagian dari lifestyle ibu millennial.

Satu hal penting lainnya, melatih kesadaran untuk menyadari potensi kekerasan yang mungkin dilakukan oleh keluarga, pasangan, atau orang dekat lainnya. Jika dibutuhkan penanganan secara profesioanal, lebih cepat lebih baik. Untuk yang belum menjadi pasangan resmi, barangkali perlu dipikirkan ulang jika pasangannya punya persoalan dengan mental health atau kesehatan mental. Sebelum "terjebak" dalam pernikahan, apalagi sampai punya keturunan, karena mental health mom itu penting banget bagi tumbuh kembang anak dan masa depan mereka.

Baca juga: Tetap Bahagia dan Giat Berkarya saat Menjalani Hidup Sendiri

Mengapa Perempuan Perlu Bekerja?

Pada zaman medsos ini begitu banyak hal yang dijadikan perdebatan. Ibu rumah tangga vs ibu bekerja. Bayi ASI vs bayi sufor. Melahirkan normal vs sesar. Itu baru versi emak-emak. Ada banyak lagi versi anak muda. Anak muda laki dan anak muda perempuan pun beda persoalan. Orang berebut untuk menyampaikan komentarnya dengan berbagai alasan. Nggak, saiyah ndak pengin membahas soal pertentangan tersebut. Cuma mau ambil salah satunya, tentang perempuan. Persisnya tentang mengapa perempuan perlu bekerja. 


Baca juga: Perempuan-Perempuan dalam Karya PAT

Pada banyak kasus pertanyaan "mengapa perempuan perlu bekerja" adalah saat perempuan dihadapkan pada pernikahan. Hal yang sering kali menjadi dilema, terutama jika perempuan disodori pilihan: berhenti atau tetap bekerja. Banyak pendapat yang pro dan kontra. Terutama dari kalangan relijius yang menganggap pernikahan sebagai ibadah dan perempuan harus menurut pada suami. Atau pandangan konservatif yang semata melihat perempuan sebagai sosok yang hanya perlu 5 M (masak, macak, manak, mulang, milih). Atau pandangan bahwa uçuÅŸan perempuan hanyalah dapur, sumur. Ya, perempuan seolah tak puasa kuasa atas pilihan-pilihannya, hanya memiliki tugas tempelan. 


Apa, sih, Alasanmu Menikah?

Ada sebuah tayangan video yang beredar luas, yang menggambarkan tentang perempuan yang sedang dilamar kekasihnya dengan menyodorinya cincin. Digambarkan, saat perempuan itu mencoba cincin yang diberikan si lelaki, sontak ia terlempar ke sebuah situasi. Berada di rumah dengan segudang kerepotan, mengerjakan ini dan dan itu, dari urusan pekerjaan, anak, hingga tetek bengek domestik sendirian. Lepas cincin, kembali normal. Diulang, terjadi lagi. 

Tentu saja dalam sebuah rumah tangga tak selalu seperti itu. Gambaran itu menjadi semacam stereotip pernikahan ketika perempuan seolah menjadi bulan-bulanan dalam kehidupan berumah tangga. Tak hanya perempuan yang memang memilih full time sebagai ibu rumah tangga, melainkan juga perempuan yang berdiri di dua kaki, sebagai pekerja sektor publik sekaligus domestik. 

Alasan menikah ini menjadi hal penting yang perlu dipikirkan, baik oleh laki-laki dan terutama dalam konteks tulisan ini adalah perempuan. Di luar pertimbangan berdasarkan agama --yang notabene bukan ketertarikanku, banyak laki-laki yang menikah untuk alasan yang menurutku "enggak banget". Misalnya bosan sendiri, tak bisa mengurus diri sendiri, ingin ada yang memanjakan, dsb. Begitu pun dengan perempuan, yang pada level yang sama mengatakan bahwa keinginan menikah atas alasan butuh dibiayai, sudah lelah bekerja keras sendiri, membutuhkan perlindungan, dsb. 

Nah, jika alasannya adalah seperti di atas, barangkali perlu dikaji ulang rencana pernikahannya. Karena pada hakikatnya pernikahan bukanlah lembaga yang menjadikan seseorang menggantungkan hidupnya atas yang lain. Sebaliknya, pernikahan merupakan pertemuan dua sosok yang masing-masing mampu membangun dirinya sendiri, yang pada akhirnya komitmen untuk bersama itu lebih menegaskan dukungan kepada masing-masing pihak untuk lebih berkembang. Tidak ada yang merasa lebih dominan atau superior dalam hubungan tersebut. Yang ada hanyalah berbagi peran sesuai keinginan dan kemampuan masing-masing dengan bersandar pada cita-cita masa depan yang telah dicanangkan bersama. Sehingga aneka kendala dan tantangan dalam pernikahan yang bisa jadi menguras perhatian itu akan sanggup untuk diselesaikan bersama. Mau tahu apa yang menjadi masalah, tinggal dibicarakan bersama.

Baca juga: Menjadi Perempuan Mandiri dan Merdeka


Perempuan, antara Karir dan Keluarga

Menjadi perempuan memang tidak mudah. Secara takdir, ia memiliki rahim yang memberinya kesempatan untuk melahirkan kehidupan. Hal inilah yang di kemudian hari memunculkan dilema bagi perempuan, apakah cukup menjadi ibu rumah tangga yang setia di rumah saja atau tetap bekerja setelah menikah. 

Ada sejumlah pertimbangan, mengapa perempuan perlu bekerja.

1. Membangun percaya diri. Perempuan merupakan pribadi kompleks yang sebagian besarnya dibentuk oleh budaya patriarki yang sering kali menomorduakan perempuan. Rasa percaya diri bahwa ia mampu, dibutuhkan oleh kaum perempuan. Dan salah satunya adalah dengan tetap mempertahankan kemampuan dalam menghasilkan uang. Ia akan merasa lebih berdaya karena mampu menghadapi tantangan dan mengambil inisiatif. Ia telah memberikan nilai di tengah masyakarat yang membuat ia merasa dihargai dan diakui. 

2. Mendapatkan kemandirian finansial. Dalam banyak kasus, ketergantungan finansial perempuan terhadap pasangannya melahirkan masalah. Bagi keluarga yang secara finansial melimpah, barangkali tak jadi soal. Ketika masing-masing anggota keluarga sudah dibekali dengan materi yang cukup dan pendukung lainnya seperti asuransi, tabungan, dan ivestasi, masa depan relatif lebih aman. Berapa persen kalangan yang dimampukan untuk melakukan hal tersebut di negeri ini? Yang lebih banyak terjadi adalah perempuan yang bergantung secara finansial, tanpa dibekali dengan pendukung lain, yang pada akhirnya menyebabkan perempuan kelimpungan saat ditinggal pergi suami, baik karena kematian maupun penyebab lainnya. 

Melalui kemandirian finansial, perempuan memahami tujuan keuangan. Meraka juga dimampukan untuk mengontrol keuangannya sendiri yang di antaranya bisa untuk membangun mimpinya sendiri. 

3. Memberikan andil dalam perekonomian keluarga. Bukankah sumber keuangan yang datang dari dua arah lebih baik dibandingkan yang datang dari satu arah saja? Terlebih satu arah pun dalam kategori pas-pasan? Pada masa yang secara ekonomi serba sulit, upaya mengumpulkan pundi-pundi sebaiknya dilakukan oleh semua pihak. Dalam keluarga, pasangan suami-sitri sudah semestinya untuk sama-sama produktif untuk menyiapkan kebutuhan bagi masa depan. Terlebih jika sudah memiliki anak, yang biaya pendidikannya tidak murah. 

4. Melawan stereotip gender dan menjadi inspirasi bagi generasi masa depan. Selama ini stereotip perempuan menyebutkan bahwa "cita-cita dan mimpi perempuan akan berakhir setelah menikah". Bahwa perempuan hanya memiliki fungsi sebagai pengasuh dan penerima finansial. Faktanya perempuan dapat terus memabngun dirinya dan berdaya secara ekonomi meski telah menikah. Hal yang dapat membangun impiannya sendiri. Fakta ini dapat menjadi inspirasi para generasi mendatang, bukan hanya kaum perempuan namun juga para lelaki, bahwa perempuan memiliki peran penting dalam keluarga dan masyarakatnya. 

Baca juga: Pernikahan dan Jatah Mandan

Perempuan yang ingin memiliki penghasilannya sendiri tidak melulu harus bekerja dalam kantor yang jauh dari rumah dan membutuhkan usaha ekstra untuk mencapainya. Di masa kini, banyak pekerjaan yang bisa dilakukan oleh perempuan dari rumah. Sejumlah pekerjaan yang bisa dilakukan secara daring dapat dijadikan pilihan. Misalnya sebagai pembuat konten. Aneka media yang terbuka untuk publik dapat dipilih untuk berkarya sebagai pembuat konten. 

Menjadi penulis juga dapat dijadikan pilihan bagi perempuan yang ingin bekerja dari rumah. Ada banyak platform yang menyediakan ruang berkaya baik tulisan fiksi maupun nonfiksi dengan tata cara pembayarannya masing-masing. Bagi yang gemar menulis, layak dicoba 'kan?

Punya hobi tertentu? Kenapa tidak dimanfaatkan? Misalnya hobi merajut, melukis, bertaman. Hasilnya dapat dipasarkan secara luring maupun daring. Kalau tidak, jual beli bisa memanfaatkan jaringan yang dimiliki tanpa harus produksi sendiri atau mengeluarkan modal untuk pengadaan barang. 

Bagi yang memiliki kemampuan mengajar, dapat menjual kepiawaiannya tersebut dalam pelatihan-pelatihan yang saat ini juga banyak dibutuhkan. Baik secara mandiri maupun bergabung dengan lembaga tertentu yang membebaskan keanggotaan pekerjanya. 

Ada yang lainnya? Mau menambahkan? Pastinya masih banyak pilihan yang bisa diambil bagi para perempuan yang memang merasa perlu untuk bekerja, baik semata demi eksistensi, kemandirian finansial, maupun sebagai pendukung ekonomi keluarga. 

Meski demikian, kesepakan terkait pilihan perempuan untuk bekerja tetap perlu dibicarakan dengan pasangan. Bagi perempuan yang sudah berkeluarga ada banyak kompromi yang harus dilakukan. Bagaimanapun ada tugas lain yang perlu diemban dalam sebuah rumah tangga. Pembagian tugas bersama pasangan dan mengatur waktu supaya perhatian terhadap keluarga tetap terjalani dengan baik perlu dibahas dengan pasangan. Dalam hal ini komunikasi memiliki peran penting agar kepentingan bersama dan harmoni dalam tetap terjaga. 

Catatan ini semata opini penulis, yang sangat mungkin berubah dan mengalami penyesuaian mengikuti perkembangan zaman. Semoga setidaknya ada sedikit manfaat. Namaste

Baca juga: Menemukan Makna Hidup bersama Viktor E Frankl

Menuliskan (Ulang) Kisah Perempuan

Tahun kemarin aku membuat target menerbitkan sebuah buku solo. Cuma tak yakin mau menulis apa. Selama ini tulisan panjangku lebih ke karya jurnalistik. Kalau versi bahasa santai, paling untuk blog. Nah, untuk menulis karya fiksi, aku tak cukup yakin bakal mampu. Tapi, masa iya sih, kan belum dicoba? Maka demikianlah, meniatkan diri untuk menulis. Novel? Belum tampaknya, tak cukup stamina. Cerpen, tak cukup "PD" bisa menulis cerpen yang bagus. Akhirnya kuputuskan merawi kisah saja. Tujuannya agar tetap menuliskan cerita tanpa harus mengikuti pakem tertentu. Tema yang sangat dekat: Perempuan.



Baca juga: Menerbitkan Buku Antologi secara Mandiri

Awalnya aku menjudulinya "Delapan Fragmen Perempuan." Sudah membayangkan ada 8 sosok yang akan kutulis. Kisah-kisah yang pernah kudengar dari dan tentang mereka menjadi sumber inspirasi. Lalu, editorku nyletuk, "Kenapa nggak sembilan? Kayanya lebih bagus." Wah, wah, delapan saja masih entahlah terkejar atau tidak, ini mesti memikirkan satu kisah baru lainnya. Lupakah soal jumlah, mari kita mulai saja. 


Mengapa Perempuan?

Tema perempuan menempati urutan pertama saat aku terpikir untuk menulis kisah. Mengapa? Karena aku perempuan. Aku mengalami hadir sebagai sosok yang sederhana sekaligus komplek. Itulah kenapa banyak hal yang bisa digali dari sosok perempuan. Selain itu, awalnya karena menetapkan target untuk terbit pada Desember 2022, bertepatan dengan peringatan Hari Ibu. 

Kalau kuingat-ingat lagi, berapa banyak cerita yang pernah kusimak dari perempuan-perempuan yang kukenal. Ya, aku bertanya kepada diri sendiri sambil mengingat-ingat. Aku seorang pendengar. Kurasa, aku pendengar yang baik. Cukup banyak kawan yang membagikan ceritanya padaku. Aku hanya akan memberikan saran jika dibutuhkan. Jika tidak, ya mendengarkan saja. Karena sering kali, orang hanya butuh didengarkan. Nah, ditelisik-telisik, kisah-kisah mereka itu sungguh luar biasa. Banyak pengalaman yang bisa jadi hanya milik mereka. Pengalaman yang unik. Tapi, sangat mungkin ada kesamaan pengalaman dari orang lain; orang yang tak cuku berani untuk mengungkapkan kisahnya.

Itulah lebih kurang alasanku menuliskan (ulang) kisah-kisah para perempuan itu. Selalu ada hal menariknya.

Baca juga: Reviu Buku dan Tips Membuat Bookstagram


Penentuan Jadwal

Selonggar-longgarnya tujuan dalam membuat buku, target tetap dibutuhkan. Buatku sebetulnya pembuatan buku ini, tentang kumpulan kisah ini, tak lebih daripada untuk mengekalkan apa yang ada dalam ingatanku. Dan aku akan senang kalau orang menikmatinya. Itu saja. Tak terobsesi untuk bukunya laris di pasaran. Kalau banyak peminat, anggap saja bonus. Yup, sejauh itu saja. 

Tapi, tetap, butuh penentuan target, dalam hal ini waktu untuk rilis. Tahun lalu punya target untuk rilis pada 22 Desember. Apa mau dikata, tak sanggup merealisasikan karena harus berkejaran dengan beberapa hal sekaligus: mencari sumber pemasukan baru, menyiapkan perbaikan rumah yang memang benar-benar sudah harus dilakukan tahun kemarin, dan anak-anak meong yang sedang tak sehat. Hanya sempat menulis beberapa judul. Baiklah, tak menyerah. Melonggarkan target waktunya saja. 

Memasuki 2023, memperbarui komitmen untuk serius menulis. Masih agak berat karena masih berjibaku dengan urusan perbaikan rumah yang waktunya molor karena bolak-balik tertunda. Tapi tetap berusaha nyicil tulisan. Sejauh ini, berjalan dengan baik. Dalam hitunganku, aku akan menuntaskan keseluruhan naskah pada akhir Maret atau awal April. Agar leluasa proses editingnya hingga sampai pada target rilis pertengahan Juni. 

Baca juga: Jangan Pelihara Kucing, Kerja Sama Perdana dengan Penerbit Epigraf

Semoga targetnya tertepati, dan semesta mendukung untuk proses dan kebutuhan lahirnya buku Fragmen Sembilan Perempuan ini. Berikutnya mungkin akan menantang diri untuk membuat kumpulan cerpen dan novel. Buat yang mau sama-sama belajar menulis cerpen, coba cek-cek deh tulisan penulis lampung dan blogger Lampung soal 

Ah, iya, untuk penerbitan, kemungkinan besar masih akan pakai Epigraf. Catat, ya: Fragmen Sembilan Perempuan yang akan terbit pertengahan Juni mendatang. 

Sebut Saja Isti (Sebuah Cerita dari Pamugaran)

Rasa gerah tak juga beranjak saat pekat malam mulai menyelimuti tepian Laut Pangandaran. Sepertinya suhu udara tak jauh berubah dibandingkan siang yang terpanggang matahari. Tapi degup kehidupan malam mulai menemukan tempatnya. Gemerlap lampu dan musik di sepanjang kiri-kanan jalan mulai riuh terdengar. Pada beberapa titik berdiri tempat hiburan yang sekaligus menjadi pusat aktivitas seks komersial. Ke titik-titik itulah kami menuju.


Ini catatan kunjungan lapangan sebulan lalu yang belum sempat saja tertuliskan. Pada kali pertama mendapatkan tawaran untuk melakukan kunjungan ke lokalisasi, antara "wow" dan "hmmm"... Serbuan cerita, pendapat, dan stigma tentang wanita pekerja seks (WPS) yang kita terima sedari kecil, sedikit banyak pasti mempengaruhi. Buatku setidaknya. Sekalipun selalu berusaha objektif terhadap berbagai hal, apa yang diterima oleh telinga sepanjang masa mau tak mau mengusik cara pandangku terhadap sesuatu. Pun terhadap WPS ini atau yang sebelumnya juga dikenal dengan istilah pekerja seks komersial (PSK), atau pengistilahan lain seperti wanita tuna susila (WTS), pelacur, sundal, ciblek, dsb. 


Perkenalan dengan Lokalisasi Pamugaran

Undangan kunjungan ini datang dari Aids Healthcare Foundation (AHF), sebuah yayasan yang bergerak di bidang public health spesifiknya dengan garapan isu HIV/Aids. Aku ditemani tim pendamping/mitra lokal dari Yayasan Mata Hati, Pangandaran. Ada dua lokalisasi yang kami kunjungi, Pamugaran 1 dan Pamugaran 2. Aku memilih ke Pamugaran 2.

Memasuki area lokalisasi, tampak bangunan-bangunan semi permanen berdiri dalam deret acak. Masing-masing bangunan yang disebut ‘warung’ itu terlihat terang dengan gempita musik dangdut dari dalamnya. Tampak beberapa orang bercakap dan bercengkerama di teras warung. Sekitar bangunan masih bersisa tanah-tanah kosong dengan belukar. Gelap. Ada sedikit perbedaan antara warung dan kafe. Bangunannya sama-sama sederhana. Namun, kafe lebih gemerlap. Selain kerlip lampu, juga para pekerjanya tampil dengan pakaian yang lebih ‘wah’. Sebagian yang sempat kutemui mengenakan dress ketat dengan kaki beralas high heels

Tiba di sebuah warung yang dituju, seorang perempuan menyambutku. Ia menyodorkan tangan, tersenyum ramah: Rima (bukan nama sebenarnya). Tanktop dan celana jeans membalut tubuhnya yang tinggi dan padat berisi. Ia pemilik warung. Ada 4 perempuan yang tinggal di warung ini, termasuk Rima. Salah seorang yang sudah dibuatkan janji kunjungan, menungguku di kamarnya. Kebetulan ia sedang "tidak bertugas".

Ukuran warung kuperkirakan sekitar 13x6 meter persegi. Ketiga ‘kru’, sebut saja demikian, berada di setengah bagian warung, sisi kanan. Setengah bagian lain adalah lapak dagangan berisi aneka minuman-makanan kemasan, kamar Rima, dan ruang tengah berisi televisi beserta cd player dan mikrofon, dilengkapi dengan bangku dan meja panjang. Dua tamu sedang asik menyanyikan lagu dangdut lama milik Mansyur S. Kang Yusuf dari Mata Hati mengajakku memasuki area kanan warung. Bagian ini berisi tiga kamar; dua saling berhadapan, terpisah lorong. Kamar ketiga berhadapan dengan kamar mandi. Sedangkan ujung lorong, antara kamar ketiga dengan kamar mandi, dimanfaatkan sebagai dapur.

“Maaf, Teh.. lagi ngga enak badan.” Sebut saja Isti, yang langsung mempersilakan aku masuk ke kamarnya. Wajahnya polos tanpa makeup, dengan pakaian sekadarnya. Kuedarkan pandang mata ke seluruh ruangan. Kamar berukuran sekitar 3x2,5 meter. Kasur berukuran satu terhampar di lantai dengan sprei berantakan. Beberapa baju tampak bertumpuk pada salah satu sisinya. Pada tepi dinding, berdiri lemari plastik, bersebelahan dengan rak kecil berisi beberapa perlengkapan. Sempat terjadi kekakuan di antara kami. Aku yang kararagok kalau istilah Bahasa Sunda, dan Isti yang tampaknya juga agak menutup diri. Berulang kali ia membentengi diri dengan menyebut diri sebagai ‘pemandu lagu’ atau PL di warung tersebut. Rasanya tak leluasa untuk langsung bertanya tentang seberapa berhasil proses pendampingan dan edukasi kesehatan dari tim AHF – Mata Hati terkait penggunaan kondom di wilayah tersebut. Sedikit ice breaking tentang keluarga, akhirnya Isti mau membuka diri.




Mencoba Keluar dari Kemiskinan

Klise? Bisa jadi. Hal sama sering kita dengar. Tapi ya mungkin begitulah adanya. Berpisah dari suaminya, tak mudah bagi Isti untuk menjadi orang tua tunggal terutama urusan finansial. Pekerjaan yang sebelumnya di kota ia berasal, Purbalingga, tak cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari dan pendidikan bagi kedua anaknya. Maka ketika ada tawaran untuk hijrah ke Jawa Barat, ia mengiyakan. Cukup dengan menjawab pertanyaan, “Isti suka nyanyi kan?” dari si pemberi pekerjaan, Isti pun meninggalkan kampung halamannya. Namun harapan tak seindah kenyataan. Tiba di Pangandaran, ia dihadapkan pada pilihan ‘menjadi pemandu lagu sekaligus melayani tamu’ atau pulang kembali ke rumah orang tuanya. Ia memilih untuk tinggal. Saat itu ia bekerja di Pasar Wisata (PW). Sekitar 1,5 tahun bekerja di PW, lalu pindah ke Pamugaran 2. Isti tak menjelaskan alasan persisnya. Namun seperti banyak diketahui, dalam bisnis komersialisasi seks, ada istilah ‘barang baru’. Tak heran kalau secara berkala WPS akan berpindah lokasi, baik masih di wilayah yang sama maupun beda kota.

Terpikir untuk berhenti dari pekerjaan ini? Lagi-lagi, pertanyaan klise.

“Iyalah, Teh. Siapa sih yang suka pekerjaan semacam ini. Apalagi ibu-ibu seperti saya,” aku Isti. Tapi ia belum mempunyai target waktu. Usianya sudah lewat dari 37 tahun. Isti menyadari pekerjaan seperti yang dilakukannya sekarang dibatasi oleh usia. Sejauh ini ia hanya berusaha menabung dulu hingga tiba saatnya untuk berhenti. “Mungkin bikin usaha kecil-kecilan di kampung,” tambahnya. Yang bisa dilakukannya kini adalah pulang kampung saat memasuki bulan puasa hingga setelah Lebaran. Menitipkan uang buat kebutuhan kedua anaknya, lalu kembali ke Pangandaran untuk bekerja. Jenis pekerjaan yang tak akan diberitahukannya kepada keluarganya, sampai kapan pun.

Dalam sebulan bisa mengumpulkan uang berapa banyak?

“Ngga tentu, Teh. Kadang berlebih, kadang ya pas-pas aja.” Meski tak memberikan angka detailnya, Isti memberitahu gambaran kasarnya. Uang yang ia terima dari lelaki pengguna jasa ada di kisaran Rp300.000. Kadang ada yang menawar 50 ribu lebih murah. Kalau sedang berbaik hati atau sedang tak punya uang, ia terima. Paling banyak ia hanya mau melayani maksimal dua tamu sehari. Tapi tak selalu ada tamu yang perlu dilayani tiap harinya. Kadang ia hanya menemani tamu ngobrol atau berkaraoke. Tak jarang ada tamu langganan yang memberinya uang, tanpa meminta balas jasa. Pada hari lain kadang tanpa pemasukan; pada hari-hari sepi atau saat siklus bulanannya datang. Atau ketika ia sedang tak ada mood untuk melayani dan atau kedatangan tamu yang tak menyenangkan.

Memang boleh "tidak mood" dan menolak tamu? Ternyata boleh saja. Ada yang menarik dari model kerja sama antara pemilik warung dan para kru-nya ini.




Sistem Sewa dan Kebebasan Para Pekerja

Dari kabar yang sering bersliweran di media, maupun yang coba digambarkan melalui film, para WPS sering mendapat tekanan dari para mucikari. Di Pamugaran, baik 1 maupun 2, tak ada mucikari. Sistem kerjasamanya adalah sewa tempat. Itu pun hanya berlaku jika para kru melakukan hubungan seks dengan tamu. Jika kru hanya menemani minum atau makan, ia tak perlu membayar apa pun ke pemilik warung. Bahkan pemilik warung tak minta jatah dari uang sawer yang diberikan tamu kepada kru. Pun para kru ini tak dikenai uang sewa tinggal, malah makan-minum gratis. 

Lalu pemilik warung mendapat keuntungan dari mana? 

Begini.. Transaksi layanan seks dilakukan langsung antara kru dan tamu. Jika tercapai kesepakatan, maka kru membayar kepada pemilik warung. Besarannya Rp50.000 per tamu. Kecuali jika tamu mengajak kru untuk memberikan layananannya di tempat lain, hotel misalnya, maka si tamu berkewajiban membayar Rp100.000 kepada pemilik warung. Dengan catatan tidak menginap. Pemilik warung tak perlu tahu tentang besaran uang jasa yang diterima kru-nya. Di luar itu, pemilik warung hanya mendapatkan keuntungan dari penjualan makanan-minuman. 

Memang cukup pendapatan dari makanan-minuman yang murah meriah itu?

“Memang sih murah, kopi cuma 3.000 segelas. Tapi kalau sehari ada 100 gelas kan lumayan, Teh. Itu baru dari kopi, belum makanan atau cemilan.” Rima menjawab kepenasaranku. Begitu pula dengan penolakan terhadap tamu, jika alasannya masuk akal, diijinkan. 

Apa saja alasan penolakan yang dianggap masuk akal?

Isti menitikberatkan pada perilaku. Pada tamu-tamu yang ia rasa suka melakukan pemaksaan atau bicara kasar, ia akan menolak dengan berbagai alasan. Tapi yang paling mudah adalah penolakan dengan menyodorkan tarif layanan yang tinggi. Biasanya tamu akan keberatan lalu mundur. Atau ketika tamu tak bersedia mengenakan kondom, maka kru berhak untuk menolak. Kondom sebagai prasyarat pelanggan ‘jajan seks’ di Pamugaran ini memang sudah lama diterapkan. Fungsinya tak lain adalah untuk mencegah terjadinya penularan infeksi menular seksual (IMS) maupun penyakit menular seksual (PMS). Para WPS tampaknya sudah menyadari betul manfaat dari aturan ketat penggunaan kondom tersebut semata demi keamanan mereka sendiri. 

Sebagai pengguna jasa yang notabene pembayar, apa mereka tidak marah?

“Ada aja sih yang marah. Tapi da saya keukeuh ga mau. Silakan cari yang lain aja kali ada yang mau. Tapi kalau di lingkungan sini memang udah wajib kondom. Ada yang datang udah bawa sendiri. Ada yang engga, makanya saya selalu ada stok. Kalau mereka mau, baru lanjut,” ujar Isti sambil menarik laci meja menunjukkan stok kondom di dalamnya.

Kembali aku melirik area kamar. Laci-laci yang setengah terbuka dengan aneka pernik berserak. Lalu berpindah pada dinding pembatas. Bagian atas dinding papan dibiarkan terbuka. Barangkali dimaksudkan untuk sirkulasi udara. Membayangkan bagaimana mereka melakukannya di ruang seterbuka itu? Terselip pikiran liar di benakku. Kagok, tapi tak urung kutanyakan juga: tamunya ga risih apa, Teh, terbuka begini?

“Ya ngga tau.. risih juga mungkin ya. Makanya ada yang ajak pindah ke hotel. Tapi kalau uangnya pas-pasan ya terpaksa di sini aja,” ujar Isti tertawa sembari menyusut hidungnya dengan tisu. 

Perihal penolakan sudah, bagaimana halnya dengan jatuh cinta sama tamu? Pernahkah?

“Ah, Teh.. enggalah. Kalau menurut saya, orang bisa datang ke sini, ya udah pasti dia datang ke tempat lain yang seperti ini juga. Ngga adalah jatuh cinta-jatuh cintaan. Lagian saya di sini juga cuma buat kerja. Kalau jadi berteman baik, ada. Itu yang kalau ketemu suka kasih uang.” Isti mencoba realistis, tak ada cinta di lokasi ia bekerja. Yang ada transaksi ekonomi semata. Pada saatnya nanti ia akan berhenti, lalu memulai kehidupan baru di kampung halamannya. Sebelum sampai di titik itu, ia berusaha menjalaninya. Sewajarnya. Termasuk kepatuhan untuk wajib pakai kondom, memeriksakan kesehatan sebulan sekali, dan melakukan tes hiv tiga bulan sekali. 

Isti mulai kelihatan letih, dengan sesekali terbatuk. Aku pun lekas berpamit dan mempersilakan ia melanjutkan istirahat. 

Di ruang tengah, dua tamu masih bersetia dengan Mansyur S. Asik, dan mengabaikan kehadiranku yang lalu lalang di hadapannya.

Engkau teman karibku lebih dari saudara
Jangankan makan minum, tidur kita berdua
Bukankah engkau tahu dia itu milikku
Namun begitu tega kau kau rampas segalnya
inikah balasannya akhlak teman setia..

“Mereka dari Bima, pedagang obat. Banyak pedagang yang jauh-jauh mampir ke sini. Kadang cuma untuk nyanyi-nyanyi.” Rima bercerita sambil mengantarku ke teras. 

Membayangkan mereka, para pedagang nun jauh dari seberang, lelah dengan pekerjaan, perjalanan, dan barangkali kepenatan hidup. Menghibur diri dengan menyanyi. Tak mampu untuk ke pub gemerlap. Tak sanggup menyewa hotel berbintang. Lalu mendamparkan diri di sini, warung remang di pesisir barat Pangandaran. Mereka hanya beberapa, dari sekian banyak manusia lainnya. Sebuah perjumpaan; para ‘penjaja cinta’ yang mencari penghidupannya dan para ‘pembeli cinta’ yang entah sebatas mencari hiburan atau tengah melarikan diri dari kerumitan hidup. Terlepas dari perkara benar dan salah, di luar konsep setia dalam hubungan, ada rasa miris menyelinap. Miris yang entah apa. Kang Yusuf memberiku tanda untuk segera berpamit. Kami pun segera meninggalkan warung Ceu Rima, menembus gelap jalanan bersemak. Lamat-lamat Mansyur S masih bernyanyi di telingaku..

Putus kinilah sudah persaudaraan kita
Yang lama kita bina susah senang bersama
Apa arti berteman di belakang kau menikam