Showing posts with label wisata. Show all posts

Jelajah Taman Buru Masigit Kareumbi

Meski sudah tinggal di tanah Pasundan lebih dari seperempat abad, aku tak akrab dengan namanya. Entah kenapa, selama ini, nama Kareumbi tak pernah singgah dalam bacaan dan obrolanku. Hingga akhirnya, tahun lalu berkesempatan untuk menjejakkan kaki ke kawasan yang sebagian besarnya secara administratif masuk Kabupaten Sumedang ini. Persisnya aku melakukan perjalanan ke kawasan Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi (TBMK) 


Baca juga: Perjalanan ke Bali, Mengenal Tempat Pemujaan Umat Hindu

Ini catatan tersimpan lama, karena keburu mengambil pekerjaan reguler dan terlupakan. Baiklah, mari tuliskan kembali, sebagai pemanasan sebelum melakukan perjalanan jarak jauh, mudik ke Jawa Timur, ke Banyuwanyi lalu menyeberang ke Bali, atau wisata Madura, atau menyepi ke salah satu kawasan pantai di kampung halaman. Tentu saja lalu mencatatkan dan membagikannya seperti layaknya para travel blogger. Tapi ya itu, simpan dulu mimpinya. Ancang-ancangnya membuat catatan dari perjalanan tahun lalu ke TBMK.

Kareumbi ternyata berasal dari nama pohon. Nama latinnya Homalanthus populneus. Mungkin dulunya banyak ditemukan di kawasan ini. Tapi dari awal menjejakkan kaki, tak kutemukan pohon yang bertuliskan Kareumbi. Entah aku berada di jalur yang berbeda dengan area tumbuhnya, atau tanaman itu sudah tak punya habitat. Gunung Kareumbi berada di sisi barat kawasan TBMK. Sedangkan Masigit, yang diambil dari nama Pasir Masigit, berada di sisi timur. 

Pengelolaan Kawasan Konservasi

Kewenangan pengelolaan (TBMK)  melalui sejarah panjang. Periode pertama diawali dengan ditetapkannya Gunung Masigit Kareumbi sebagai Kawasan Hutan melalui Gouvernment Besluit No. 69 tanggal 26 Agustus 1921 dan Gouvernment Besluit No. 27 tanggal 27 Agustus 1927. Pada pasca kemerdekaan, kawasan hutan Gunung Masigit Kareumbi dikelola oleh Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat. Ada upaya reboisasi yang menambahkan beberapa jenis tanaman yakni pinus, rasamala, dan puspa, yang mencapai luas 4809,98 Ha. 

Saat Ibrahim Adjie menjadi Pangdam III Siliwangi, ada upaya pengembangan kawasan sebagai taman perburuan. Berbagai jenis rusa dikembangbiakkan, di antaranya Rusa Sambar, Rusa Timor, dan Rusa Tutul. Sebuah pintu masuk baru, dibangun, yang kemudian disebut sebagai blok KW. Pada 1966 tercatat sebanyak 25 ekor rusa yang dibiakkan dalam lahan berpagar seluas lebih kurang 4 ha. Setahun kemudian pagar tersebut dibuka dan rusa dilepaskan Penetapannya sendiri baru dilakukan pada 1976 melalui SK Menteri Pertanian No 297/Kpts/Um/5/1976 tertanggal 15 Mei 1976. Kawasan ini menjadi Hutan Wisata dengan fungsi Taman Buru.


Baca juga: Bali, Piodalan, dan Ritual Religi

Dalam perkembangan berikutnya, dibuat rencana lebih detail terkait peruntukan kawasan. Rencana baru terkait Pengelolaan Hutan Wisata Buru Gunung Masigit-Kareumbi dibuat oleh Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam. Rencana yang berlaku kurun 1979 hingga 1984 tersebut meliputi pembagian 4, yakni Zona Semi Perlindungan (Wilderness Zone), Zona Rekreasi (Intensive Use Zone), Zona Perlindungan (Sanctuary Zone), dan Zona Penyangga (Buffer Zone). Pada masa ini, pengelolaan kawasan di bawah kewenangan Perum Perhutani. Pada 1986 kewenangan kembali berpindah. 

PP No. 36 tahun 1986 menyebutkan, wilayah kerja Perum Perhutani meliputi hutan negara yang berada di Propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, kecuali Hutan Suaka Alam, Hutan Wisata (termasuk Taman Buru), dan Taman Nasional. Dengan penetapan tersebut, pada 27 Februari 1988 dilakukan serah terima pengelolaan Hutan Wisata Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi, dari Direksi Perum Perhutani kepada Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA).

Ada beberapa perubahan terkait zonasi kawasan. Namun yang terakhir dijadikan acuan adalah zonasi kawasan yang dirancang oleh Direktorat Jenderal PHPA pada 1992. Dalam konsep tersebut, zonasi meliputi zona pengelolaan intensif, zona penangkaran, zona peliaran dan perlindungan satwa buru, zona padang buru, zona wisata alam lainnya, dan zona desa binaan/daerah penyangga. Pada kurun ini (1990-1993) TB. Masigit Kareumbi dijadikan proyek percontohan oleh BKSDA III dengan sumber dana mencapai Rp520 juta, yang sebagian besarnya digunakan untuk pembangunan sarana dan prasarana. 


Baca juga: Ngadem Sejenak di Taman Soekasada

Selain pembagian zona, yang kembali mengalami perubahan adalah pengelola. Setelah dari PHPA, TB. Gunung Masigit Kareumbi kembali diserahkan kepada Perum Perhutani. Berikutnya, pada 1998 hak pengusahaan Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi diserahkan kepada PT. Prima Multijasa Sarana (PMS), untuk blok pemanfaatan dan blok buru seluas 7.560,72 ha. Sisanya, hutan pinus dengan luas 4809,98 ha  diserahkan kepada Perum Perhutani. Pada Oktober 1999, PT. PMS mendapatkan ijin melakukan pengusahaan taman buru. Namun berkasus terkait penebangan hasil hutan yang membawa pengelola ke ranah hukum. Akhirnya kawasan ini dikembalikan pengelolaannya oleh BKSDA. Sayangnya, pengalihan ini pun tak menunjukkan kelaikan pengelolaan. Banyak sarana yang terbengkalai, bangunan yang didirikan oleh pengelola maupun pemerintah mengalami kerusakan parah. Malah, ada pencurian fasilitas di bangunan rumah Ibrahim Adjie. Demikian juga dengan sarana lain seperti wisma pemburu, kompleks taman safari mini, kolam renang, rumah sakit hewan, bahkan masjid tak terhindarkan dari kerusakan. Selain itu, terjadi perambahan kawasan untuk pertanian serta pengambilan kayu untuk kebutuhan bangunan maupun untuk bakar bakar, tak terkendali. Terjadi pula perburuan liar hingga kawanan rusa tak terlihat sama sekali. 

Pada suatu masa, sesepuh Wanadri yang sering berkunjung ke kawasan TB Masigit Kareumbi, Remi Tjahari mulai menggagas untuk terlibat dalam pengelolaan kawasan. Pada 2007, secara resmi Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri menyampaikan minat tersebut kepada Kementrian Kehutanan dan BBKSDA. BBKSDA mengeluarkan surat keputusan No: 750/ BBKSDA JABAR. 1/ 2008 yang kemudian direvisi dengan SK No. 1111/BBKSDA JABAR.1/2009 yang menyebutkan bahwa BBKSDA setuju melakukan kerjasama kemitraan Optimalisasi Pengelolaan Kawasan dengan Wanadri. 

Baca juga: Umbi dan Cerita Masa Kanak


Undangan Tak Terduga

Undangan untuk menjelajahi Kareumbi datang dari seorang biarawati dari kongregasi Green Mountain yang berpusat di Amerika Serikat. Suster (Sr.) Kris namanya, yang mendapat penugasan di Bandung. Kongregasi ini secara khusus membaktikan diri untuk keberlangsungan alam. Lain waktu mungkin akan kuceritakan sisi menarik dari salah satu kongregasi Katolik ini.

Aku hanya diminta untuk bertemu di sebuah alamat, sebelum berangkat bersama Kareumbi. Setelah tiba di lokasi, sebuah rumah yang asri, dipenuhi tanaman, segar di udara dan penglihatan barulah aku tahu dengan siapa kami akan berangkat. Irawan Marhadi, salah seorang senior Wanadri. Kami berangkat berempat, bersama Ibu Irawan.

Setidaknya ada tiga rute perjalanan dari Bandung menuju TBMK, yakni:

Bandung - Sumedang – Cipancar - TMBK. Jarak lebih kurang 49 km.

Bandung – Limbangan – Cibugel - TMBK. Jarak lebih kuran 70 km.

Bandung – Cicalengka – Sindangwangi - TMBK. Jarak lebih kurang 46 km.

Kami mengambil jalur melalui Cicalengka. Banyak jalur yang tak mudah, baik dari sisi kontur maupun kelaikan permukaannya. Meski mempersiapkan kendaraan yang tepat.

Secara administratif, TBMK kawasan ini masuk Kabupaten Sumedang, Garut, dan Bandung. Paling besarnya masuk wilayah Kabupaten Sumedang. 

Baca juga: Menjelajahi Taman Hutan Raya Juanda

Suasana sepi, saat kami tiba di lokasi. Januari 2021, masih dalam kondisi pandemi. TMBK tidak dibuka untuk umum. Sekelompok anak muda tampak bergerombol di area pintu masuk kawasan. Kubayangkan mereka sekadar mencari hiburan, di sela kejenuhan 'harus di rumah saja.' Biarpun warga sekitar, mereka tak diperkenankan memasuki area. Hanya dari kalangan tertentu, seperti dari pihak pengelola, yang bisa memasuki area taman buru ini. Aku belum cek lagi, apakah hari-hari ini TMBK sudah kembali menerima kunjungan.

Obyek Wisata di TMBK

Selayaknya hutan, ada aneka flora dan fauna yang bisa kita jumpai di TMBK. Pepohonannya antara lain Pasang, Saninten, Puspa, dan Rasamala. Beberapa jenis tumbuhan liana dan epifit bisa kita temukan dengan mudah. Selain itu, tanaman Pinus, Bambu, dan Kuren memenuhi kawasan-kawasan tertentu.

Di antara pepohonan dan tanaman itu, tercatat ada Babi hutan, Rusa Tutul, Kijang, Anjing hutan, Macan tutul, Kucing hutan, Ayam hutan, Kukang, Bultok, Kera, Lutung, dan Burung Walik. Melihat dalam catatan saja, karena selama di lokasi aku tak menemukan satu pun dari binatang-binatang tersebut. Yang kujumpai hanya dua anjing penjaga di pos utama. Anjing-anjing yang kekurangan makanan 😓 Kalau berkunjung ke sini, titip makanan buat mereka ya..


Baca juga: Sebuah Perjalanan ke Serang, Banten

TMBK menjadi kawasan penting sebagai menara air bagi Jawa Barat. Ada dua daerah aliran sungai (DAS) terbesar, yaitu sungai Cimanuk dan sungai Citarum. Beberapa sumber lair lain berupa sungai lain yang mengaliri kawasan TMBK, antara lain Sungai Cigunung, Ciantap, Cihanjawar, Citarik, Cihideung, Cianten, Cileunca, Cihanyap, Cibayandi, dan Sungai Cimacan. Ada perairan di area pegunungan, sudah pasti ada curug dong?! Ada Curug Cigorobog dan Curug Sindulang yang bisa kita kunjungi. Sayangnya saat itu tak memungkinkan untuk kami melihat curug dari dekat. Dibutuhkan waktu yang lebih lama. Barangkali dengan sekalian berkemah, karena, ya, ada bumi perkemahan di TMBK. 

Bumi perkemahan yang disediakan di TMBK, terlihat tak terawat. Tak ada kunjungan dalam kurun berbulan-bulan, dan sepertinya tak ada cukup inisiatif dari para petugas lapangan untuk merawat fasilitas. Hal ini juga dapat kulihat di pondok-pondok yang biasanya dijadikan tempat menginap sekaligus area ber-acara. Meja-meja berdebu. Kain-kain penutup tampak kucel. Padahal TMBK memiliki banyak potensi. Bukan sekadar berwisata namun juga belajar kepada dan tentang alam. 

Semoga dalam waktu dekat, seiring dengan penanganan pandemi yang lebih baik, kawasan wisata terutama yang berfungsi sebagai pelindung kembali dibuka untuk umum. Selain untuk melengkapi kawasan yang dijadikan obyek pembelajaran dan kampanye lingkungan, juga kebutuhan pemasukan bagi biaya operasional sehari-hari. 

Baca juga: Alaya, Kisah Pejalanan ke Negeri Atap Dunia


Tunggu! Bagaimana soal Taman Buru?

Terus terang nama ini bikin merinding. Jangan paksa aku membayangkan rusa-rusa yang lucu dengan mata lebar seperti di film kartun itu menjadi obyek perburuan. Dikejar dan dibunuh. Kusimpan saja ketaknyamanan bayangan itu dalam hati. Hingga satu kesempatan kutanyakan ke Pak Irawan.

Memang, kawasan ini diagendakan untuk menjadi taman buru. Yang mau berburu dialihkan ke sini. Bukan berburu di kawasan lain yang dijadikan hutan konservasi. Kapan perburuan itu bisa dilakukan? Ketika rusa sudah overpopulasi. Sampai dengan hari ini, jumlah rusa belum memenuhi syarat untuk diburu. 

Demikian lebih kurang jawaban Pak Irawan. Sejenak membuat lega. Sambil berharap tentunya, rusa-rusa cantik itu tetap dapat hidup bebas tanpa diburu. Dan manusia-manusia tak kelebihan energi sampai harus menyalurkannya dengan melakukan perburuan satwa liar. Biarlah mereka cukup dilihat keindahannya dan menjadi sumber pembelajaran saja. 

Menjelajahi Taman Hutan Raya Juanda

Juni kemarin, dua kali menjelajahi beberapa jalur di Taman Hutan Raya (Tahura) Juanda. Yang pertama, kebutuhan pekerjaan. Bersama tim, karena ada rencana yang kemungkinan menjadikan Tahura Juanda sebagai lokasi penyelenggaraan acara. Yang kedua, bersama kawan. 


Baca juga: Sebuah Perjalanan ke Bali Dwipa

Menyenangkan sekali, karena dua tahun lalu sempat mengatakan ke diri sendiri untuk menyediakan waktu barang sebulan sekali, mengambil udara segar sebanyak-banyaknya dari aneka pepohonan di hutan kawasan Dago Utara tersebut. Apa daya, COVID-19 bertamu. Dan betah. Lama! Setelah melewati dua tahun, akhirnyaaaaa..bisa merealisasikan keinginan itu. Lumayan, anggap saja traveling tipis-tipis. Sekalian menabung tujuan jalan-jalan untuk jadi rubrik khusus lifestyle dan traveling.

Buat orang Bandung, mestinya hukumnya wajib ya berkunjung ke Tahura. Bagaimana tidak, ribuan pohon tersedia, dan kita tinggal mengambil manfaatnya, oksigen gratis yang belum tercemari polusi. Lokasi juga tak terlalu jauh dari area kota. Tak perlu berlelah-lelah berkendara jauh ke area hutan yang sesungguhnya. Tak terlalu membutuhkan tips traveling yang detail dan rumit. Naik angkot juga sampai! 

Sekilas Tahura Juanda

Tahura Juanda terletak di bagian utara Kota Bandung. Jaraknya lebih kurang 7 km dari pusat kota. Tahura berada dalam tiga wilayah administrasi, yakni Kota dan Kabupaten Bandung. Persisnya, sebagian berada di Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, dan sebagian lainnya masuk Desa Mekarwangi, Desa Cibodas, Desa Langensari, dan Desa Wangunharja, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, serta masuk Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung.

Awalnya, tahura dibangun sebagai hutan lindung yang dinamai Hutan Lindung Pulosari. Pemerintah Hindia Belanda merintis proyek taman ini bersamaan dengan dibangunnya terowongan penyadapan air Sungai Cikapundung, yang kini dikenal sebagai Gua Belanda. 

Memasuki masa kemerdekaan, Hutan Lindung Pulosari dikelola oleh Djawatan Kehutanan Provinsi Jawa Barat. Untuk mengenang Perdana Menteri ke-10 Indonesia yang meninggal pada 1963, Ir. H. Raden Djoeanda Kartawidjaja, pada 23 Agustus 1965, Gubernur Jawa Barat Mashudi meresmikan kawasan hutan ini dengan nama Kebun Raya Rekreasi Ir. H. Djuanda.

Pada 1978 terjadi perubahan pengelola. Tahura diserahkan ke Perum Perhutani Jawa Barat. Dua tahun kemudian, taman yang merupakan bagian dari komplek Hutan Gunung Pulosari ini ditetapkan sebagai taman wisata, yakni Taman Wisata Curug Dago dengan luas 590 ha. Pada 1985, Mashudi, Menteri Kehakiman Ismail Saleh, dan Menteri Kehutanan Soedjarwo, menyampaikan usulan kepada Presiden Soeharto untuk mengubah status Taman Wisata menjadi Taman Hutan Raya. Usulan diterima, dan melalui Keputusan Presiden No. 3 Tahun 1985 tertanggal 12 Januari 1985, Taman Wisata Curug Dago pun berubah status sebagai Taman Hutan Raya. Peresmian Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda dilakukan pada 14 Januari 1985, bertepatan dengan hari lahir Ir. Djuanda. 

Baca juga: Perjumpaan dengan Kebijaksanaan Baduy


Berkenalan dengan Ir. H. Djuanda

Setidaknya ada tiga kawasan terkenal di Pula Jawa yang menggunakan nama Juanda. Bandara Internasional Surabaya, stasiun kereta dalam kota, Jakarta, dan Tahura Juanda. Hafal dong, ya, siapa Juanda? Namanya banyak disebut dalam buku pelajaran sejarah masa sekolah. 

Juanda adalah perdana menteri terakhir era demokrasi parlementer di negara kita. Ia dikenal dengan jasanya merumuskan deklarasi yang isinya menyatakan bahwa semua pulau dan laut Nusantara adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Deklarasi yang dikeluarkan pada 13 Desember 1957 itu dikenal sebagai Deklarasi Djuanda.

Dengan kondisi negara kita yang terdiri dari banyak pulau, deklarasi tersebut menjadi sangat penting. Akhirnya, batas negara kita diukur dari kepulauan terluar. Pasca dikeluarkannya Deklarasi Djuanda, tak ada ada lagi negara asing yang 'asal nyelonong' masuk kawasan perairan Indonesia. 



Ada apa saja di Tahura Juanda?

Bagi pecinta tanaman, Tahura Juanda adalah surga. Tahura Juanda didominasi oleh pohon Pinus, Kaliandra, Bambu, dan aneka pohon lainnya. Pada 1963, berbagai tanaman kayu didatangkan dari luar daerah dan luar negeri, melengkapi varian tanaman di lahan seluas 30 ha di sekitar gua dan plaza dengan perkiraan jumlah 2.500 pohon.

Faunanya cukup beragam untuk skala taman hutan. Antara lain terdapat musang, tupai, kera, dan berbagai jenis burung. Ada kepodang, ketilang, dan ayam hutan. 

Bagi penggemar jalan kaki dan olah raga lintas alam, banyak jalur yang bisa dipilih. Mau jalur yang datar saja, atau yang melewati tanjakan/turunan ekstrim. 

Masih di area depan, ada dua gua. Gua Belanda dan Gua Jepang. Pilihan yang tepat jika tanjakan terlalu memberatkan. Gua Belanda lokasinya sekitar 500 meter dari pintu masuk utama. Gua ini sebetulnya adalah terowongan yang dibangun pada 1901, pada masa kolonial Belanda, untuk kebutuhan perusahaan pembangkit listrik tenaga air. Renovasi dilakukan pada 1918 dengan penambahan lorong dan koridor. Pada jelang Perang Dunia II, terowongan ini dijadikan benteng atau markas militer. Di dalamnya ditambahi jaringan baru berupa 2 pintu masuk dengan tinggi 3,2 meter dan 15 lorong. Bagi yang takut gelap, ada jasa penerang berupa senter untuk masuk ke area terowongan. 

Tak jauh dari Gua Belanda, kita bisa jumpai terowongan lain yang disebut Gua Jepang. Berjarak sekitar 300 meter. Gua ini didirikan pada 1942 oleh militer Jepang, difungsikan sebagai barak militer dan lubang perlindungan. Terdapat 18 bunker yang di masa lalu memiliki fungsinya masing-masing, seperti sebagai ruang pertemuan, tempat pengintaian, tempat penembakan, dapur, dan gudang. Bunker-bunker tersbeut konon masih dalam kondisi yang sama. Seperti halnya Gua Belanda, ada jasa penerang untuk masuk ke area terowongan yang gelap ini. 

Naaah, bagi pecinta medan yang lebih berat, dapat melanjutkan perjalanan ke arah utara, menjauhi pintu utama. Ada beberapa pilihan, seperti Penangkaran Rusa, Tebing Keraton, Curug Omas, dan Curug Dago.

Penangkaran Rusa

Saranku, pecinta binatang perlu menengok binatang bertanduk yang cantik ini. 



Baca juga: Alaya, Kisah Perjalanan Ke Negeri Atap Dunia

Ada larangan untuk memberikan makanan langsung ke kawanan rusa. Kecuali memang sedang ada jadwal makan, dan bahan makanan yang disediakan oleh pengelola. Tentu saja aturan ini diberlakukan demi terjaga standarnya, agara kesehatan dan habitat rusa terjaga dengan baik. Rusa paling tua di penangkaran ini berusia 10 tahun. 

Untuk sampai Penangkaran Rusa, dibutuhkan perjalanan sekitar 3 km dari pintu masuk. Jalurnya terbilang mudah, meski tetap kita jumpai tanjakan dan turunan. Lumayan menguras tenaga. Namun kita bisa jumpai banyak spot berfoto yang menarik. Selain aneka tanaman langka, kita perlu menyeberangi sungai melalui jembatan bambu. Bagi yang tak sanggup berjalan kaki, terutama juika membawa serta anak-anak, bisa menggunakan jasa ojek dari warga sekitar. Banyak warung yang menyediakan aneka jajanan dan minuman untuk beristirahat.



Seperti apa Tebing Keraton?

Aku sudah pernah berkunjung pada kesempatan lain. Lain waktu akan kuceritakan.

Curug Omas dan Curug Dago? Belum euy! Akan jadi agenda berikutnya.

Oiya, tiket masuk Tahura Juanda terjangkau kok. Tiket untuk satu orang Rp10.000, ditambah dengan asuransi dan tiket parkir.

Selamat mencengkeramai alam di Taman Hutan Raya Juanda.

Sebut Saja Isti (Sebuah Cerita dari Pamugaran)

Rasa gerah tak juga beranjak saat pekat malam mulai menyelimuti tepian Laut Pangandaran. Sepertinya suhu udara tak jauh berubah dibandingkan siang yang terpanggang matahari. Tapi degup kehidupan malam mulai menemukan tempatnya. Gemerlap lampu dan musik di sepanjang kiri-kanan jalan mulai riuh terdengar. Pada beberapa titik berdiri tempat hiburan yang sekaligus menjadi pusat aktivitas seks komersial. Ke titik-titik itulah kami menuju.


Ini catatan kunjungan lapangan sebulan lalu yang belum sempat saja tertuliskan. Pada kali pertama mendapatkan tawaran untuk melakukan kunjungan ke lokalisasi, antara "wow" dan "hmmm"... Serbuan cerita, pendapat, dan stigma tentang wanita pekerja seks (WPS) yang kita terima sedari kecil, sedikit banyak pasti mempengaruhi. Buatku setidaknya. Sekalipun selalu berusaha objektif terhadap berbagai hal, apa yang diterima oleh telinga sepanjang masa mau tak mau mengusik cara pandangku terhadap sesuatu. Pun terhadap WPS ini atau yang sebelumnya juga dikenal dengan istilah pekerja seks komersial (PSK), atau pengistilahan lain seperti wanita tuna susila (WTS), pelacur, sundal, ciblek, dsb. 


Perkenalan dengan Lokalisasi Pamugaran

Undangan kunjungan ini datang dari Aids Healthcare Foundation (AHF), sebuah yayasan yang bergerak di bidang public health spesifiknya dengan garapan isu HIV/Aids. Aku ditemani tim pendamping/mitra lokal dari Yayasan Mata Hati, Pangandaran. Ada dua lokalisasi yang kami kunjungi, Pamugaran 1 dan Pamugaran 2. Aku memilih ke Pamugaran 2.

Memasuki area lokalisasi, tampak bangunan-bangunan semi permanen berdiri dalam deret acak. Masing-masing bangunan yang disebut ‘warung’ itu terlihat terang dengan gempita musik dangdut dari dalamnya. Tampak beberapa orang bercakap dan bercengkerama di teras warung. Sekitar bangunan masih bersisa tanah-tanah kosong dengan belukar. Gelap. Ada sedikit perbedaan antara warung dan kafe. Bangunannya sama-sama sederhana. Namun, kafe lebih gemerlap. Selain kerlip lampu, juga para pekerjanya tampil dengan pakaian yang lebih ‘wah’. Sebagian yang sempat kutemui mengenakan dress ketat dengan kaki beralas high heels. 

Tiba di sebuah warung yang dituju, seorang perempuan menyambutku. Ia menyodorkan tangan, tersenyum ramah: Rima (bukan nama sebenarnya). Tanktop dan celana jeans membalut tubuhnya yang tinggi dan padat berisi. Ia pemilik warung. Ada 4 perempuan yang tinggal di warung ini, termasuk Rima. Salah seorang yang sudah dibuatkan janji kunjungan, menungguku di kamarnya. Kebetulan ia sedang "tidak bertugas".

Ukuran warung kuperkirakan sekitar 13x6 meter persegi. Ketiga ‘kru’, sebut saja demikian, berada di setengah bagian warung, sisi kanan. Setengah bagian lain adalah lapak dagangan berisi aneka minuman-makanan kemasan, kamar Rima, dan ruang tengah berisi televisi beserta cd player dan mikrofon, dilengkapi dengan bangku dan meja panjang. Dua tamu sedang asik menyanyikan lagu dangdut lama milik Mansyur S. Kang Yusuf dari Mata Hati mengajakku memasuki area kanan warung. Bagian ini berisi tiga kamar; dua saling berhadapan, terpisah lorong. Kamar ketiga berhadapan dengan kamar mandi. Sedangkan ujung lorong, antara kamar ketiga dengan kamar mandi, dimanfaatkan sebagai dapur.

“Maaf, Teh.. lagi ngga enak badan.” Sebut saja Isti, yang langsung mempersilakan aku masuk ke kamarnya. Wajahnya polos tanpa makeup, dengan pakaian sekadarnya. Kuedarkan pandang mata ke seluruh ruangan. Kamar berukuran sekitar 3x2,5 meter. Kasur berukuran satu terhampar di lantai dengan sprei berantakan. Beberapa baju tampak bertumpuk pada salah satu sisinya. Pada tepi dinding, berdiri lemari plastik, bersebelahan dengan rak kecil berisi beberapa perlengkapan. Sempat terjadi kekakuan di antara kami. Aku yang kararagok kalau istilah Bahasa Sunda, dan Isti yang tampaknya juga agak menutup diri. Berulang kali ia membentengi diri dengan menyebut diri sebagai ‘pemandu lagu’ atau PL di warung tersebut. Rasanya tak leluasa untuk langsung bertanya tentang seberapa berhasil proses pendampingan dan edukasi kesehatan dari tim AHF – Mata Hati terkait penggunaan kondom di wilayah tersebut. Sedikit ice breaking tentang keluarga, akhirnya Isti mau membuka diri.




Mencoba Keluar dari Kemiskinan

Klise? Bisa jadi. Hal sama sering kita dengar. Tapi ya mungkin begitulah adanya. Berpisah dari suaminya, tak mudah bagi Isti untuk menjadi orang tua tunggal terutama urusan finansial. Pekerjaan yang sebelumnya di kota ia berasal, Purbalingga, tak cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari dan pendidikan bagi kedua anaknya. Maka ketika ada tawaran untuk hijrah ke Jawa Barat, ia mengiyakan. Cukup dengan menjawab pertanyaan, “Isti suka nyanyi kan?” dari si pemberi pekerjaan, Isti pun meninggalkan kampung halamannya. Namun harapan tak seindah kenyataan. Tiba di Pangandaran, ia dihadapkan pada pilihan ‘menjadi pemandu lagu sekaligus melayani tamu’ atau pulang kembali ke rumah orang tuanya. Ia memilih untuk tinggal. Saat itu ia bekerja di Pasar Wisata (PW). Sekitar 1,5 tahun bekerja di PW, lalu pindah ke Pamugaran 2. Isti tak menjelaskan alasan persisnya. Namun seperti banyak diketahui, dalam bisnis komersialisasi seks, ada istilah ‘barang baru’. Tak heran kalau secara berkala WPS akan berpindah lokasi, baik masih di wilayah yang sama maupun beda kota.

Terpikir untuk berhenti dari pekerjaan ini? Lagi-lagi, pertanyaan klise.

“Iyalah, Teh. Siapa sih yang suka pekerjaan semacam ini. Apalagi ibu-ibu seperti saya,” aku Isti. Tapi ia belum mempunyai target waktu. Usianya sudah lewat dari 37 tahun. Isti menyadari pekerjaan seperti yang dilakukannya sekarang dibatasi oleh usia. Sejauh ini ia hanya berusaha menabung dulu hingga tiba saatnya untuk berhenti. “Mungkin bikin usaha kecil-kecilan di kampung,” tambahnya. Yang bisa dilakukannya kini adalah pulang kampung saat memasuki bulan puasa hingga setelah Lebaran. Menitipkan uang buat kebutuhan kedua anaknya, lalu kembali ke Pangandaran untuk bekerja. Jenis pekerjaan yang tak akan diberitahukannya kepada keluarganya, sampai kapan pun.

Dalam sebulan bisa mengumpulkan uang berapa banyak?

“Ngga tentu, Teh. Kadang berlebih, kadang ya pas-pas aja.” Meski tak memberikan angka detailnya, Isti memberitahu gambaran kasarnya. Uang yang ia terima dari lelaki pengguna jasa ada di kisaran Rp300.000. Kadang ada yang menawar 50 ribu lebih murah. Kalau sedang berbaik hati atau sedang tak punya uang, ia terima. Paling banyak ia hanya mau melayani maksimal dua tamu sehari. Tapi tak selalu ada tamu yang perlu dilayani tiap harinya. Kadang ia hanya menemani tamu ngobrol atau berkaraoke. Tak jarang ada tamu langganan yang memberinya uang, tanpa meminta balas jasa. Pada hari lain kadang tanpa pemasukan; pada hari-hari sepi atau saat siklus bulanannya datang. Atau ketika ia sedang tak ada mood untuk melayani dan atau kedatangan tamu yang tak menyenangkan.

Memang boleh "tidak mood" dan menolak tamu? Ternyata boleh saja. Ada yang menarik dari model kerja sama antara pemilik warung dan para kru-nya ini.




Sistem Sewa dan Kebebasan Para Pekerja

Dari kabar yang sering bersliweran di media, maupun yang coba digambarkan melalui film, para WPS sering mendapat tekanan dari para mucikari. Di Pamugaran, baik 1 maupun 2, tak ada mucikari. Sistem kerjasamanya adalah sewa tempat. Itu pun hanya berlaku jika para kru melakukan hubungan seks dengan tamu. Jika kru hanya menemani minum atau makan, ia tak perlu membayar apa pun ke pemilik warung. Bahkan pemilik warung tak minta jatah dari uang sawer yang diberikan tamu kepada kru. Pun para kru ini tak dikenai uang sewa tinggal, malah makan-minum gratis. 

Lalu pemilik warung mendapat keuntungan dari mana? 

Begini.. Transaksi layanan seks dilakukan langsung antara kru dan tamu. Jika tercapai kesepakatan, maka kru membayar kepada pemilik warung. Besarannya Rp50.000 per tamu. Kecuali jika tamu mengajak kru untuk memberikan layananannya di tempat lain, hotel misalnya, maka si tamu berkewajiban membayar Rp100.000 kepada pemilik warung. Dengan catatan tidak menginap. Pemilik warung tak perlu tahu tentang besaran uang jasa yang diterima kru-nya. Di luar itu, pemilik warung hanya mendapatkan keuntungan dari penjualan makanan-minuman. 

Memang cukup pendapatan dari makanan-minuman yang murah meriah itu?

“Memang sih murah, kopi cuma 3.000 segelas. Tapi kalau sehari ada 100 gelas kan lumayan, Teh. Itu baru dari kopi, belum makanan atau cemilan.” Rima menjawab kepenasaranku. Begitu pula dengan penolakan terhadap tamu, jika alasannya masuk akal, diijinkan. 

Apa saja alasan penolakan yang dianggap masuk akal?

Isti menitikberatkan pada perilaku. Pada tamu-tamu yang ia rasa suka melakukan pemaksaan atau bicara kasar, ia akan menolak dengan berbagai alasan. Tapi yang paling mudah adalah penolakan dengan menyodorkan tarif layanan yang tinggi. Biasanya tamu akan keberatan lalu mundur. Atau ketika tamu tak bersedia mengenakan kondom, maka kru berhak untuk menolak. Kondom sebagai prasyarat pelanggan ‘jajan seks’ di Pamugaran ini memang sudah lama diterapkan. Fungsinya tak lain adalah untuk mencegah terjadinya penularan infeksi menular seksual (IMS) maupun penyakit menular seksual (PMS). Para WPS tampaknya sudah menyadari betul manfaat dari aturan ketat penggunaan kondom tersebut semata demi keamanan mereka sendiri. 

Sebagai pengguna jasa yang notabene pembayar, apa mereka tidak marah?

“Ada aja sih yang marah. Tapi da saya keukeuh ga mau. Silakan cari yang lain aja kali ada yang mau. Tapi kalau di lingkungan sini memang udah wajib kondom. Ada yang datang udah bawa sendiri. Ada yang engga, makanya saya selalu ada stok. Kalau mereka mau, baru lanjut,” ujar Isti sambil menarik laci meja menunjukkan stok kondom di dalamnya.

Kembali aku melirik area kamar. Laci-laci yang setengah terbuka dengan aneka pernik berserak. Lalu berpindah pada dinding pembatas. Bagian atas dinding papan dibiarkan terbuka. Barangkali dimaksudkan untuk sirkulasi udara. Membayangkan bagaimana mereka melakukannya di ruang seterbuka itu? Terselip pikiran liar di benakku. Kagok, tapi tak urung kutanyakan juga: tamunya ga risih apa, Teh, terbuka begini?

“Ya ngga tau.. risih juga mungkin ya. Makanya ada yang ajak pindah ke hotel. Tapi kalau uangnya pas-pasan ya terpaksa di sini aja,” ujar Isti tertawa sembari menyusut hidungnya dengan tisu. 

Perihal penolakan sudah, bagaimana halnya dengan jatuh cinta sama tamu? Pernahkah?

“Ah, Teh.. enggalah. Kalau menurut saya, orang bisa datang ke sini, ya udah pasti dia datang ke tempat lain yang seperti ini juga. Ngga adalah jatuh cinta-jatuh cintaan. Lagian saya di sini juga cuma buat kerja. Kalau jadi berteman baik, ada. Itu yang kalau ketemu suka kasih uang.” Isti mencoba realistis, tak ada cinta di lokasi ia bekerja. Yang ada transaksi ekonomi semata. Pada saatnya nanti ia akan berhenti, lalu memulai kehidupan baru di kampung halamannya. Sebelum sampai di titik itu, ia berusaha menjalaninya. Sewajarnya. Termasuk kepatuhan untuk wajib pakai kondom, memeriksakan kesehatan sebulan sekali, dan melakukan tes hiv tiga bulan sekali. 

Isti mulai kelihatan letih, dengan sesekali terbatuk. Aku pun lekas berpamit dan mempersilakan ia melanjutkan istirahat. 

Di ruang tengah, dua tamu masih bersetia dengan Mansyur S. Asik, dan mengabaikan kehadiranku yang lalu lalang di hadapannya.

Engkau teman karibku lebih dari saudara
Jangankan makan minum, tidur kita berdua
Bukankah engkau tahu dia itu milikku
Namun begitu tega kau kau rampas segalnya
inikah balasannya akhlak teman setia..

“Mereka dari Bima, pedagang obat. Banyak pedagang yang jauh-jauh mampir ke sini. Kadang cuma untuk nyanyi-nyanyi.” Rima bercerita sambil mengantarku ke teras. 

Membayangkan mereka, para pedagang nun jauh dari seberang, lelah dengan pekerjaan, perjalanan, dan barangkali kepenatan hidup. Menghibur diri dengan menyanyi. Tak mampu untuk ke pub gemerlap. Tak sanggup menyewa hotel berbintang. Lalu mendamparkan diri di sini, warung remang di pesisir barat Pangandaran. Mereka hanya beberapa, dari sekian banyak manusia lainnya. Sebuah perjumpaan; para ‘penjaja cinta’ yang mencari penghidupannya dan para ‘pembeli cinta’ yang entah sebatas mencari hiburan atau tengah melarikan diri dari kerumitan hidup. Terlepas dari perkara benar dan salah, di luar konsep setia dalam hubungan, ada rasa miris menyelinap. Miris yang entah apa. Kang Yusuf memberiku tanda untuk segera berpamit. Kami pun segera meninggalkan warung Ceu Rima, menembus gelap jalanan bersemak. Lamat-lamat Mansyur S masih bernyanyi di telingaku..

Putus kinilah sudah persaudaraan kita
Yang lama kita bina susah senang bersama
Apa arti berteman di belakang kau menikam



Kopi Aroma, Kopi Yang Diolah Dengan Cinta

Jelang tengah hari. Dua mesin penyangrai kopi buatan Jerman sedang melakukan tugasnya. Satu berkapasitas 100, satunya 60 kilogram. Bara api menyala di dalam tungkunya. Alat sangrai kopi kovensional ini telah bekerja lebih dari 8 dekade. Kopi Aroma, salah satu icon Kota Bandung yang tetap bertahan di tengah maraknya bisnis kopi di tanah air. Apa yang membuat Kopi Aroma tetap mendapat tempat di hati pecinta kopi?
 
Pemilik Kopi Aroma, Widya, terjun langsung dalam pengolahan

“Saya menjalankan bisnis dengan jujur. Proses mengolah kopi tak berubah dari pertama ditetapkan standarnya. Begitu pun kopinya. Standar penyimpanan untuk arabika 8 tahun, robusta 5 tahun untuk mengurangi kadar cafein. First in, first out.” Demikian Widya Pratama menjelaskan idealismenya dalam menjalankan bisnis Kopi Aroma.  Kedua orang tuanya, Tan Houw Sian dan Tjia Kiok Eng, selain mengajarinya tentang dunia kopi juga mengenalkan arti kerja keras dan kearifan dalam berbisnis. Widya muda juga mendapat gemblengan dari pakar ekonomi Prof. Sumitro yang memang berkawan dengan sang ayah. 


Berbekal pengalaman hidup dan tambahan ilmu ekonomi yang didapatkannya dari kampus ekonomi Universitas Padjadjaran, tahun 1971 Widya mulai menjalankan bisnis kopi dengan lebih profesional. Sebagai satu-satunya anak, ia diserahi orangtuanya untuk menangani perusahaan. Dengan sepenuh totalitas ia mengelola Kopi Aroma. Mulai bekerja sejak jam 4 pagi, terjun langsung dalam proses produksi, hingga tak segan mengantar pesanan kopi konsumen. Tak berhenti hanya pada saat memulai, kebiasaan itu dilakukannya hingga kini. Widya tetap terlibat dalam proses produksi bersama karyawannya. “Kalau tanya kenapa Kopi Aroma murah, karena ya kami begini ini. Tanpa seragam, tanpa dasi, tak perlu promosi, tak ada korupsi. Jadi biayanya dapat ditekan,”  ungkap Widya sambil membuka tutup mesin sangrai. Pendek kata, Widya telah menjalankan bisnis fair trade jauh sebelum jargon tersebut digemakan aneka perusahaan multinasional. 

Tutup mesin sangrai telah dibuka. Di usianya yang memasuki 64 tahun, Widya masih melakukannya sendiri. Membalikkan alat berkapasitas 100 kilo tersebut hingga memuntahkan kopi yang telah disangrainya selama 2 jam. “Sekarang orang bisa pakai alat yang 15 menit matang. Tapi kami mempertahankan alat ini untuk menjaga aromanya. Bahan bakarnya kayu karet. Limbahnya. Jadi menguntungkan petani karet juga,” Widya menjelaskan lebih lanjut tentang proses produksi. Potongan-potongan kayu karet dapat dijumpai di bagian belakang bangunan. Bertumpuk rapi di satu sisi, sementara pada sisi seberang adalah rumah ‘kopi muda’, yakni kopi yang baru dikirim. “Biasanya kalau siang jemur kopi. Tapi kalau mendung begini ya tidak. Kalau kopi-kopi baru ini sudah kering, baru masuk gudang untuk proses penyimpanan 5 hingga 8 tahun,” ungkap Widya sambil menunjukkan gunungan kopi yang dikemas dalam karung goni. Material goni dipilih karena memiliki ventilasi.

Bahan baku Kopi Aroma adalah kopi dari berbagai petani di wilayah Indonesia, seperti Preanger, Jember, Bengkulu, Lampung, dan Toraja. Menurut Widya tak benar jika ada istilah kopi wilayah tertentu lebih enak dari wilayah lain. “Itu cuma soal selera. Yang penting proses pengolahannya tepat. Kopi yang dihasilkan pun bagus.” 


Biji kopi dalam gudang penyimpanan
 
Biji kopi siap sangray
Kopi sangray siap dijadikan bubuk

Kopi sangray disaring dulu sebelum masuk grinder


Dalam kurun waktu lebih dari 40 tahun, dapat dikatakan Widya sukses menjalankan roda usaha Kopi Aroma yang beralamat di jalan Banceuy 51 Bandung tersebut. Bertahan dengan yang dibangun dari semula. Tak berniat mengembangkan usaha bentuk lain-membuat cafe atau membuat kopi kemasan tertentu misalnya? “Dalam bisnis memang perlu ada pengembangan. Tapi kembali ke prinsip usaha Aroma, 7 M, Man, Method, Material, Money, Machine, Market, dan Management,” lagi-lagi Widya menjelaskan prinsip bisnisnya. Buatnya, yang sekarang terjalani sudah cukup. Bahkan ada rencana Widya untuk segera pensiun. Ia pun berniat mundur sebagai pengajar di kampus Unpad maupun Unpar, tempat ia mengajar selama ini. Dua dari tiga putrinya telah menunjukkan minatnya pada usaha keluarga ini. Terutama si bungsu yang alumni Matematika Unpar. Mau beristirahat dan menikmati hobi saja, Pak?

“Ya ya.. di antaranya. Saya mungkin akan banyak jalan-jalan. Saya suka naik gunung, menikmati alam.” 

Hujan mulai mengguyur kawasan Banceuy. Barisan antrian pembeli setia Kopi Aroma memilih bertahan, berlindung di bawah atap bagian luar bangunan yang sudah berdiri sejak 1930 tersebut.


*Sudah tayang di SundayPeople