Kamu Punya Perilaku Manipulatif? Kamu Punya Trauma yang Belum Dipulihkan?

Suatu kali aku mendapati satu pos yang dibagikan seorang kawan di salah satu platform media sosial. Ia membagikan sebuah tayangan video tentang trauma dengan pengumpamaan air dalam gelas. Ia memberi takarir: "stop di kamu." Wajar, sih, lalu apa anehnya? Anehnya adalah si kawan ini pelaku kekerasan verbal. Pertanyaannya, apakah sikap manipulatif itu ia lakukan secara sadar, dalam artian bahwa itu merupakan pilihan sikap yang selama ini ia terapkan dalam kehidupannya, ataukah itu adalah buah atau mekanisme koping dari trauma yang ia derita dan tak coba dipulihkan.



Baca juga: Trauma Bonding, Luka yang Sering Disangka Cinta

Lebih detailnya, video tersebut memperlihatkan gelas berisi air berwarna gelap. Isi gelas tersebut dipindahkan ke gelas berikutnya. Lalu dipindahkan lagi ke gelas ketiga. Di gelas terakhir ini ada penambahan air jernih yang dikucurkan pelan-pelan dan membuat air gelap terdorong meluber, keluar dari gelas. Dengan dikucurkan secara terus menerus, maka gelas terakhir ini pun bebas dari warna gelap. Yang tersisa hanya air jernih semata. Yup, istilah "stop di kamu" mengacu pada sosok yang tidak melanjutkan tradisi yang memunculkan trauma dalam garis keluarga. 


Perilaku Manipulatif

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia:

ma.ni.pu.la.si --psikologis: upaya memengaruhi individu dengan mengendalikan segala keinginan dan gagasan yang ada di bawah sadar, juga menggunakan sugesti. 

Sebelum memunculkan dampak negatif, baik yang disadari oleh korban maupun orang lain yang memberikan perhatian, perilaku manipulatif ini barangkali tak cukup dikenali. Malah yang muncul adalah anggapan bahwa sang pelaku sedang melakukan kebaikan. Tak terendus adanya agenda tersembunyi. Hingga pada titik terjadi kekecewaan, tujuan si pelaku tak terpenuhi, maka bakal muncullah karakter aslinya yang manipulatif.

Dari berbagai sumber, kukutipkan, apa saja sih ciri-ciri orang manipulatif:

  • defensif, tidak mau mengakui kesalahan
  • berbohong, bahkan menyalahkan orang lain
  • mengabaikan perasaan orang lain
  • menyodorkan fakta yang berbeda dari yang sesungguhnya terjadi
  • membuat orang lain merasa bersalah
  • membuat orang lain meragukan diri sendiri

Mengapa orang melakukan manipulasi? Ada banyak alasan. Tentu saja hal utamanya adalah karena mereka hanya berfokus kepada diri sendiri. Memang, mereka memberikan bantuan, baik materi maupun nonmateri. Namun, hal itu mereka lakukan bukan semata untuk alasan kebaikan melainkan untuk menciptakan ketergantungan hingga pada saat dibutuhkan, mereka akan bersiap untuk mengorbankan diri. Perilaku manipulatif dapat dijumpai dalam berbagai bentuk relasi. Sering terjadi dalam hubungan romantis, namun banyak kasus pula terjadi dalam hubungan kerja, bahkan dalam lingkungan keluarga, dan dalam hubungan sosial lainnya. 

Perilaku manipulatif sangat mungkin dilakukan secara sadar sebagai sebuah upaya sistematis. Pada kasus lain, sikap manipulatif lahir sebagai strategi yang terbangun di bawah sadar akibat trauma yang mereka derita. 

Baca juga: Mengenal Sabotase Diri dan Mekanisme Koping

American Psychological Association (APA) menyebutkan bahwa trauma dapat menyebabkan seseorang mengembangkan strategi manipulatif untuk mengontrol orang lain dan lingkungan sekitar, serta untuk menghindari perasaan tidak nyaman.  

Faktor trauma yang memengaruhi perilaku manipulatif ini antara lain:

1. Kontrol dan kekuasaan. Pengalaman traumatis dapat membuat orang tidak terkendali dan merasa tak berdaya. Mereka akan berusaha mengambil kontrol dan pegang kendali dengan melakukan manipulasi.

2. Pengalihan emosi. Ketidakmampuan mereka dengan trauma dalam mengolah emosinya, membuat mereka mencari jalan keluar dengan pengalihan. Caranya ya dengan melakukan tindakan manipulatif.

3. Ketergantungan. Orang dengan trauma membutuhkan orang lain untuk bergantung, baik secara emosional maupun fisik. Kebutuhan ini mereka penuhi dengan cara manipulatif agar tercipta ketergantungan. Alhasil, seolah orang lain yang bergantung, padahal sebetulnya mereka.

4. Pikiran negatif. Pola pikir orang dengan trauma cenderung negatif. Mereka menilai diri rendah, dipenuhi rasa bersalah, tidak berharga. Salah satu cara yang dilakukan mereka adalah mendapatkan validasi atau pengakuan dari orang lain. Caranya adalah dengan menempatkan orang lain dalam posisi diri mereka. 

Baca juga: Body Process, Upaya Memulihkan Diri dari Depresi 

 

Tertarik? Hubungi WA Ibu Meong

Apa Itu Trauma Healing?

Bagaimanapun suksesnya seseorang menjalankan kehidupan yang penuh manipulasi, ia tak akan menjalani hidupnya dengan tenang. Karena ia terus menerus memikir upaya manipulasi yang tak mungkin berhenti, berkesinambungan. Hidup dipenuhi drama. Bagi siapa pun yang menyadari perilaku manipulatif sebagai dampak dari trauma yang dialami, yak ada jalan lain selain melakukan pengobatan dan pemulihan. Mudahnya, kita sebut trauma healing. Di sinilah istilah "stop di kamu" betul-betul diterapkan. 

Trauma healing adalah upaya mengatasi post traumatic stress disorder (PTSD) dan pemulihan gangguan psikologis sebagai dampak dari peristiwa traumatis, baik dari peristiwa di masa lalu (masa kecil) maupun masa yang belum terlalu jauh terlewati. Banyak studi yang sudah menunjukkan bahwa trauma memberikan dampak buruk bagi penderitanya terutama terkait masalah emosional. Pada akhirnya hal tersebut berdampak pada kualitas hidup, kualitas hubungan dengan orang lain dan kehidupan sosial, serta menggerogoti kesehatan fisik. 

Peristiwa traumatis yang menyebabkan gangguan emosional itu antara lain:

  • kekerasan yang dilakukan orang tua atau orang-orang dekat dalam keluarga pada masa kanak, baik secara fisik maupun verbal
  • kekerasan atau pelecehan seksual
  • perpisahan atau perceraian orang tua
  • perundungan di sekolah, lingkungan sekitar, atau tempat kerja
  • kecelakaan lalu lintas dengan cedera serius
  • bencana alam besar
  • KDRT
  • PHK atau kehilangan pekerjaan secara mendadak
  • lain-lain

Baca juga: Menemukan Makna Hidup Bersama Viktor E Frankl

Membayangkan jika setiap orang mampu bertanggung jawab terhadap masa depan orang-orang yang berinteraksi atau berelasi dengan mereka, barangkali tidak ada sikap yang menyakiti. Tidak ada kekerasan yang terjadi. Namun, jika peristiwa sudah kadung terjadi, tentunya perlu penanganan lanjutannya.

Trauma healing jika sekiranya masih berada di kasus yang belum rumit, bisa melakukan pemulihan mandiri, misalnya dengan meditasi, yoga, membuat jurnal, rajin menulis di blog seperti kawan blogger di blog sunglow.me. Namun, jika kondisi sudah berlanjut, segera cari pertolongan ke mereka yang kompeten di bidangnya. Untuk bantuan profesional, baik psikolog maupun psikiater adalah banyak pilihan terapi. Misalnya dengan terapi kognitif-behavioral (CBT) yang bertujuan membantu mengurai pola pikir yang tidak sehat. Ada banyak metode lain.  

Trauma healing mungkin bisa dilakukan dengan pendekatan religi dan spiritual. Barangkali ada ustad, pastor, atau pendeta --dengan catatan memiliki kapabilitas terkait psikologi manusia, bisa dimintakan bantuannya. Atau melalui terapi energi yang saat ini juga banyak pilihan. 

Yang pasti, jika saat ini kamu baru menyadari sisi dirimu yang manipulatif, atau mendapati kawan atau anggota keluarga dan orang-orang dekat dengan kasus serupa, berikan saran untuk segera melakukan trauma healing. Demi kehidupan yang lebih baik, dapat menjaga emosi, mengelola stres. Semoga semua makhluk berbahagia. Namaste.   

Baca juga: Mengapa Perselingkuhan Terjadi?



Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong, Novel Terbaru Eka yang Menyorot Tradisi Beragama

Buat pencinta anjing atau kucing, jangan terkecoh. Ini buku sama sekali tak bercerita tentang kedua binatang berbulu tersebut. Berbeda dengan dua buku Eka Kurniawan yang telah kubaca sebelumnya tanpa diawali dengan referensi apa pun, untuk buku Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong aku sempat hadir di sesi diskusi penulis di Gramedia Merdeka, Bandung. Jadi, sudah berbekal bahan bahwa buku ini terkait nama Sato Reang dan banyak bicara soal tradisi beragama.



Baca juga: Cantik Itu Luka, Kisah Perempuan-Perempuan dengan Luka

Di buku ini gaya Eka, setidaknya dari dua buku yang sudah kubaca, masih terasa. Lugas dan telanjang. Meski terasa lebih "santun". Barangkali karena mengangkat tema terkait spiritualitas. Pilihan katanya masih bikin aku ngakak, dimulai dari halaman pertama. 


Sinopsis

Dalam Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong, Eka menonjolkan satu karakter saja, dari kecil hingga dewasa. Namanya Sato Reang. Dalam bahasa Sunda, sato artinya hewan atau binatang. Nah, reang aku belum pernah tahu. Konon ini adalah istilah dalam bahasa Jawa Kuno. Tapi ada yang menyebut reang sebagai bahasa Indramayu. Eka sendiri tak menyebutkan secara gamblang seting lokasi. 

Halaman awal sempat membingungkanku, karena PoV menggunakan orang pertama. Namun si "aku" juga menyebut nama Sato Reang, seolah ia menceritakan orang ketiga. Ini PoV yang belum pernah kutemui dalam buku yang pernah kubaca. Tolong kasih tahu kalau ada pola serupa di buku cerita lainnya.  

Selagi kecil, Sato Reang sangat menurut kepada orang tuanya. Terutama kepada ayahnya, Umar. Meski sambil protes dan ngedumel, ia selalu mengikuti perintah sang ayah. Wajib sembahyang lima kali sehari, lalu mengaji atau membaca ayat Al-Quran setiap malam. Kebebasan Sato Reang makin terenggut setelah ia disunat. Karena dengan tegas ayahnya berpesan: "Sudah saatnya kau menjadi anak saleh."

Aturan itu rupanya tak berlaku bagi semua anak di kampung mereka. Banyak yang masih berkeliaran, bermain hingga petang, keluyuran hingga jauh, pacaran. Sedangkan Sato, bahkan acara yang oleh ayahnya disebut sebagai bermain pun ternyata adalah kegiatan pengajian yang dilangsungkan di kota lain. 

Pada tiap dini hari, Umar akan menggedor-gedor pintu kamar anaknya itu sampai terbangun. Sato akhirnya menjalaninya sebagai rutinitas, setengah terjaga, berangkat menuju musala. Di kemudian hari, kebiasaan-kebiasaan sang ayah itu menciptakan trauma tersendiri. Salah satu hal yang seolah ia ingin balaskan dendam saat sang ayah meninggal, melakukan segala macam kenakalan.

Ya, Sato Reang, si anak saleh itu berubah liar. Awalnya adalah saat ia merasa begitu terbebani dengan sosok ayahnya yang terasa masih hidup di pikirannya. Seolah ia melakukan apa-apa yang ayahnya lakukan. Ia pun berontak. Ia ingin menunjukkan kalau ia adalah Sato, bukan Umar. Mulailah ia meninggalkan salat, memprovokasi Jamal yang selama ini menjadi pengikutnya, minum-minuman beralkohol, bahkan melakukan tindakan brutal yakni membakar bioskop. Sudah pasti juga ia meninggalkan sekolah. 

Keliaran Seto akhirnya harus dibayar mahal: kematian Jamal. Cerita pun selesai.

Baca juga: Buku tentang Kucing yang Dapat Dijadikan Pilihan Bacaan Tahun Ini

Sebetulnya aku tak begitu akrab dengan kehidupan yang diceritakan Sato. Cukup tahu yang kulihat semasa kecil, teman-teman yang mengaji di langgar. Namun, tradisi itu tak ada di keluargaku yang kristiani. Pun masyarakat di sekitarku bukanlah kalangan relijius. Dapat dikatakan mereka adalah kaum abangan. Waktu itu. 

Nggak tahu juga, di perkotaan apakah keluarga muslim juga melakukan tradisi beragama seperti yang diceritakan Sato. Mungkin Human Education Centre punya catatannya? Barangkali kaitannya dengan kurikulum merdeka, bagaimana pembelajaran kehidupan beragama para bocah ini diterapkan. 


Kisah yang Kurang Greget, Kemasan yang Sangat Cakep

Sebagai orang yang terbengong-bengong saat membaca Cantik Itu Luka (2016), lalu Lelaki Harimau (2004), aku terbilang kecewa dengan buku Eka ini. Aku masih menikmati cara Eka bercerita, suka dengan keliarannya, pilihan diksinya, tapi rasanya Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong terlalu adem. Sosok hanya terpusat di Satu, dan meski alurnya maju mundur, terasa jauh bedanya dengan CIT atau LH yang membuatku merasa diajak jungkir balik. Dan, penutupnya buatku juga kurang greget.

Yang sangat jelas membuat buku ini berbeda adalah penampilannya, kemasannya. Buku hanya dicetak dalam format hard cover. Dengan ketebalannya hanya hanya 133 halaman, sudah pasti buku ini terasa mahalnya. Judul sudah jelas, aneh. Terdapat sampul buku dengan warna mencolok, antara merah dan jingga. Begitu masuk bagian dalam buku juga beda. Sepi. Tanpa kata pengantar, tidak ada daftar isi, judul bab pun tidak, apalagi prolog dan epilog, tanpa ilustrasi. 

Yang penasaran dengan Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong, sila cari dan baca sendiri, ya. Tetap menjadi bacaan yang menarik, kok. Dan aku pun masih akan cari cari buku Eka Kurniawan yang belum kubaca: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014), O (2016), dan Kumpulan Budak Setan (2016). 


Judul: Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong

Penulis: Eka Kurniawan

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (Cetakan Pertama, 2024)

Tebal: 135 halaman


Baca juga: Lelaki Harimau, Buku Kedua Eka Kurniawan yang Menyesatkan

A Discovery of Witches, Ketika Penyihir Perjuangkan Hidup yang Harmoni bagi Semua Makhluk

Apa jadinya ketika manusia, vampir, demon, dan penyihir berada dalam satu kehidupan bersama? Ada sejumlah film yang sudah menunjukkannya. Tapi barangkali tak selengkap ini. A Discovery of Witches ini berkisah tentang seorang sejarawan yang penyihir. Secara kebetulan, berkat sebuah buku ia dipertemukan seorang vampir, lalu jatuh cinta. Film seri ini berkisah tentang perjuangan cinta dan "kemanusiaan". 



Baca juga: Eastern Promises, Film tentang Mafia Rusia

Aku menyukai film tema supranatural. Kisah-kisah tentang terlibatnya magick dalam cerita, menarik buatku. Memasuki dunia imajinasi, keluar sejenak dari rutinitas dunia nyata. Belum terlalu banyak film yang kutonton. Dari sedikit itu, kutonton ulang A Discovery of Witches. Selagi masih aktif di radio, usai siaran aku sering memanfaatkan waktu dan fasilitas internet untuk nonton. Tak keburu tuntas, karena tugas siarannya harus disudahi. Eh, kok jadi curcol, hehe. Tapi akhirnya tertuntaskan pada pekan ini.


Sinopsis

Cerita diawali dengan kemunculan sosok Diana Bishop, seorang sejarawan dengan minat Alkimia yang sedang menapaki karirnya di dunia akademis. Untuk kebutuhan penelitiannya, ia mencari buku bertajuk Ashmole 782. Kegemparan terjadi. Rupanya buku koleksi perpustakaan Oxford tersebut sebelumnya dinyatakan hilang. Dan tetap hilang setelah peristiwa peminjaman oleh Diana.

Picture courtesy of Entertainment Weekly

Baca juga: Passengers, Film Thriller yang Manis

Mengapa sampai terjadi kegemparan? Karena ada kejadian misterius. Saat Diana berhasil mendapatkan buku itu dan membuka halamana-halamannya, ada materi tulisan yang terserap oleh tubuhnya. Kejadian itu dibarengi dengan perubahan kondisi lingkungan sekitar kejadian dan menarik minat aneka makhluk, utamanya vampir dan penyihir. Salah satunya adalah Matthew Clairmont, sang doktor ahli genetika.

Lalu, siapakah Diana?

Diana adalah keturunan penyihir yang tak tertarik untuk mengolah kemampuan alaminya tersebut. Alih-alih mempelajari, ia menolak setiap upaya ke arah itu. Ashmole 782-lah yang kemudian mengubah perjalanan hidupnya. Kemunculan buku yang sudah berabad lamanya dikabarkan hilang tersebut menjadi bahasan penting ketika pada perkembangannya tumbuh cinta di antara Diana dan Matthew, hal yang tidak disukai di dunia makhluk. Tepatnya, di antara vampir dan penyihir sudah semestinya tidak saling percaya karena sejarah menunjukkan adanya permusuhan yang bahkan memakan banyak korban pada masing-masing pihak. 

Dalam perjalanannya memang tidak mudah. Banyak kalangan yang menentang hubungan mereka. Bahkan konggregasi yang lembaga legal bentukan ayah Matthew, Philips, menyebut hubungan tersebut sebagai pelanggaran dan para pelakunya wajib kena sanksi. Matthew dan Diana bersikukuh. Pada sebuah kesempatan saat Matthew mengalami luka hebat pasca perkelahiannya dengan seorang vampir, kekasihnya di masa lalu, Diana menggores nadinya untuk memberikan darahnya bagi Matthew. Darah vampir tentu bukan semacam golongan darah langka seperti yang diceritakan kawan blogger Manda Alienda, ya, hehe. Yang pasti, tetesan darah itu membuat Matthew terjaga dan lantas "menyempurnakan" penyatuan mereka melalui gigitan di leher kekasihnya tersebut.

Perjuangan mendapatkan kembali lembaran manuskrip Ashmole 782 yang hilang merupakan upaya Diana untuk menciptakan hubungan yang harmonis di antara makhluk. Bahwa tidak ada salah satu yang lebih unggul, dan yang lainnya sebagai minoritas atau subordinat. Perjuangan mereka juga menggambarkan bahwa cinta layak diperjuangkan, meski banyak pengorbanan di dalamnya.

Baca juga: Dallas Buyers Club, Perjuangan Hidup Pengidap HIV-AIDS

 

Film Hasil Adaptasi Novel

Serial A Discovery of Witches merupakan adaptasi dari trilogi All Souls milik Deborah Harkness. Film serupa yang mendahului seperti The Vampire Diaries (2009-2017), The Original (2013-2018), atau film layar lebar seperti Twilight terbukti mendulang sukses. Begitu pula dengan serial ini. Sejak awal kemunculannya sudah menarik peminat para pencinta genre ini. Popularitasnya kemudian meningkat tajam di Amerika Utara berkat penayangannya di Sundance Now dan layanan streaming horor milik AMC, Shudder. 

Serial ini tayang dalam 3 musim: 

  • Musim 1 (2018) terdiri dari 8 episode, dengan fokus cerita tentang penemuan manuskrip Ashmole 782 oleh Diana.
  • Musim 2 (2020) terdiri dari 10 episode, mengetengahkan masa ketika Diana dan Matthew melakukan perjalanan ke masa lalu.
  • Musim 3 (2022) terdiri dari 7 episode, Diana dan Matthew kembali ke masa kini dan menghadapi aneka persoalan yang harus dituntaskan demia kepentingan semua makhluk. 
Terhitung tak panjang, 25 episode saja. Menyenangkan buatku yang tak tahan mengikuti cerita berpanjang-panjang.

Picture courtesy of Den of Geek

Baca juga: Agak Laen, Film Komedi Horor yang Menghibur

Buatku, penggarapan alur dan ritme cerita juga pas. Tidak bertele-tele, tidak dipaksakan. Semua pemain memerankan tugasnya dengan baik. Paling tidak Matthew Goode menerima penghargaan atas usahanya melakonkan peran sebagai vampir aristokrat yang ganteng itu. Ia menerima penghargaan Saturn Award untuk Aktor Terbaik (2019) dan penghargaan Critics' Choice Television untuk Aktor Terbaik dalam Serial Fantasi atau Horor (2020).

Selain Teresa Palmer dan Matthew Goode, pemeran lain seperti Alexandra Doke (Sarah Bishop), Valarie Pettiford (Emily Mather), Edward Bluemel (Marcus Whitmore), Aiysha Hart (Miriam Shephard), Owen Teale (Peter Knox) bermain dengan seimbang. 

Serial ini mendulang ulasan positif dari para kritikus film dan penonton. Bagi pembaca buku Deborah yang menyukai detail barangkali banyak kehilangan bagian menarik dari cerita, karena konon film membabat habis bagian pengantar buku. Namun sebagai sebuah hiburan, tampaknya semua orang terpuaskan.

Baca juga: Sebelum Iblis Menjemput 2, Film Horor Pilihan 2020


Buku tentang Kucing yang Bisa Dijadikan Pilihan Bacaan Tahun Ini

Kisah tentang binatang dalam bentuk fabel, atau kisah dengan sosok mereka terlibat di dalamnya selalu muncul dari waktu ke waktu dalam khasanah literasi dunia. Beberapa di antaranya bahkan sangat ikonik, seperti nama Edgar Allan Poe yang melekat pada salah satu judul cerpennya, Kucing Hitam. Belakangan hari ini juga muncul buku-buku dengan cerita yang melibatkan kucing yang berhasil mengambil hati pembacanya. Bukunya dicetak ulang hingga entah berapa kali dan diterjembahkan dalam berbagai bahasa. Apakah kamu termasuk pengoleksi buku dengan cerita kucing? Buku apa saja yang sudah disiapkan untuk bahan bacaan tahun ini?



Baca juga: Lelaki Harimau, Novel Kedua Eka Kurniawan

Reviu di bawah ini awalnya berangkat dari tantang di platform X. Ajakan untuk mereviu buku dengan kover kucing. Aku memindahkan catatannya ke sini, dan melengkapinya dengan bacaan lain yang bisa jadi di kover tidak menyertakan sosok kucing, namun isinya berkisah tentang kucing. Catatannya akan coba diupdate secara berkala hingga jumlah tertentu. 


Gerombolan Kucing Bandel


Judul buku: Gerombolan Kucing Bandel (9 Cerita Kucing dari 9 Penulis Dunia)

Penulis: E. Nasbit, dkk.

Penerjemah: Endah Raharjo

Penerbit: Pojok Cerpen

Tebal: 212 halaman

Terbit: Agustus 2021 (Cetakan Pertama) 





Baca juga: Lima Cerita, Saat Seorang Desi Anwar Berkisah


Seperti tertulis dalam judul, buku ini merupaan kumpulan cerita dari 9 penulis sohor dunia: E. Nesbit (Maurice Menjelma Kucing), Sir Arthur Conan Doyle (Kucing Brazil), Edgar allan Poe (Kucing Hitam), Fritz Leiber (Gummitch Si Kucing Super), Angela Carter ( Kucing Bersepatu Bot), Rudyard Kipling (Si Kucing yang Berkelana Sendirian), Italo Calvino (Gerombolan Kucing Bandel), Saki-Hector Hugh Munro (Tobermory), dan Ursula K. Le Guin (Kucing Schrodinger).

Satu yang sudah (lebih dari sekali) kubaca: Kucing hitam. Cerita yang tiap kali dibaca, tetap bikin merinding.

Aku membaca buku ini secara acak. Mengawalinya dari Kucing Brazil. Ceritanya sama gelapnya dengan Kucing Hitam. Berkisah tentang pengkhianatan dalam keluarga, hanya karena persoalan harta. Uniknya, sosok perempuan, istri sang saudara yang dianggap memusuhi, pada akhirnya bisa dianggap sebagai penyelamat. Pemberi tanda. 

Cerita unik ada di judul Si Kucing yang Berkelana Sendirian. Ini seolah menjawab muasal kenapa kucing nyebelin aka belagu. Kisah disampaikan ala dongeng, dengan adanya binatang-binatang lain yang datang dan menghamba kepada manusia. Berbeda dengan kucing yang bersiasat. Sehingga si manusia takhluk padanya. 

Kisah yang menjadi judul buku berkisah tentang penghuni kota, Marcovaldo yang mengikuti perjalanan kucing-kucing. Tentang bagaimana lelaki itu menemukan bahwa para kucing kesulitan menjalani hidupnya karena ruang yang terbatas. Manusia mengambil semuanya. Aku selalu suka cara Italo Calvino bercerita. 


Baca juga: Joko Pinurbo dalam Kenangan


Jika Kucing Lenyap dari Dunia


Judul: Jika Kucing Lenyap dari Dunia

Penulis: Genki Kiwamura

Penerjemah: Ribeka Ota

Editor: Anton Kurnia

Penerbit: BACA

Tebal: 253 halaman

Terbit: Desember 2021 (Cetakan IV)




Baca juga: Jais Darga dan Ajang Pembuktian Art Dealer Perempuan 


Beli buku ini semata karena "kucing". Tak pernah cari tahu, buku tentang apa.

Idenya menarik, apa yang akan kita lakukan jika tahu umur kita tak lama lagi. Tema ini mengingatkan tentang betapa terbatasnya kita sebagai manusia, sekaligus betapa luas kemungkinan yang bisa kita lakukan jika kita memberi makna.

Berkisah tentang pemuda 30 tahun yang baru diberi tahu jika dirinya mengidap tumor otak stadium 4. Ia menanggapi kabar itu dengan biasa saja. Hingga saat iblis menawarinya tambahan umur dengan syarat: menghilangkan sesuatu dalam hidupnya. Dari sinilah muasal upaya menghilangkan aneka hal: telepon, kucing, hingga dirinya sendiri.

Di buku ini, ada 2 nama kucing yang diceritakan si tokoh. Salad & Kubis. Mereka punya ikatan yang kuat, terutama dengan ibunya, lalu dia. Terbayang, 'kan, kalau kucing-kucingmu tiba-tiba lenyap? Bayangkan kegembiraan apa yang bakal ikut lenyap.

Bagi pembaca buku yang pencinta meong, paslah baca buku ini. Buatku sendiri, awalnya agak sulit menikmati. Mungkin karena bahasanya terlalu ngepop buatku. Berusaha tidak menyerah. Dan memang banyak hal menarik yang bisa didapat, bicara tentang kehidupan; tentang bagaimana sebagai manusia kita menerima "jatah" kita dengan hati yang terbuka dan menjalaninya meski tak sempurna.

“Di dunia ini, ada banyak kekejaman. Tapi ada keindahan sebanyak itu pula.” (hal. 79)

Si tokoh hanya membuat narasi, tanpa menggurui. Bahwa selalu ada sisi baik dari tiap peristiwa, termasuk berdamai dengan masa lalu. Ia menunjukkan hal baik itu di penghujung hidupnya lewat rekonsiliasinya dengan sang ayah.

"Cinta pasti akan berakhir. Meskipun kita tahu akan hal itu, kita tetap jatuh cinta.

Mungkin soal hidup juga sama seperti itu. Suatu saat pasti akan berakhir. Meski tahu hal itu, kita tetap menjalani kehidupan. Sama seperti cinta, justru karena akan berakhir maka hidup terlihat gemerlap." (hlm. 89).

Baca juga: Aleph, Kisah Perjalanan Menemukan Diri


Hitam Gemerlap


Judul: Hitam Gemerlap

(Dwilogi Kumcer)

Penulis: Alexandreia Wibawa

Pemeriksa Ejaan: Dea Silvia Rahman

Penerbit: Langgam Pustaka

Tebal: 286 halaman

Terbit: Mei 2024 (Cetakan I)


Baca juga: Book Sleeve, Pembaca Buku Wajib Punya


Aku sudah membaca cerpen Alexandreia di buku ini dari buku kumpulan cerpennya yang pertama, Kucing Hitam. Khas tulisan Alex ini gelap, seringkali terasa nuansa desperade. Jangan berharap happy ending-lah pokoknya. Dan banyak di antaranya yang punya akhir tak tertebak. 

Buku ini gabungan dari dua kumcernya, Kucing Hitam dan Warung Gemerlap. Keduanya sudah tidak cetak ulang. Demi memenuhi keinginan pembacanya, Alex mencetaknya lagi, namun kali ini digabungkan. Ada 25 judul cerpen di dalamnya.

Cerpen pertama bertajuk Labirin, ditulis Alex pada 2005. Bercerita tentang Rana yang terjebak dalam dunia mimpi pasca keisengannya mengambil benda unik di kamar Raga, kakaknya. Rupanya benda itu dapat membuat siapa pun yang memegangnya akan terus berada di alam mimpi. Berbagai mimpi telah Rana alami, dari yang menyenangkan hingga mengerikan. Melelahkan. Cerpen ini memenangkan Lomba Menulis Cerita Thriller Stephen King On Writing yang dielenggarakan tahun itu.

Warung Gemerlap, cerpen yang menjadi judul kedua kumpulan kumcer Alex aku belum pernah baca. Aku tidak punya bukunya. Awalnya kupikir ini berkisah tentang sosok selebritas, mengacu pada cerita sebelumnya. Sesuatu yang datang dari dunia gemerlap. Ternyata bukan. Membacanya membawaku pada ingatan cerita horor di masa kecil. Beragam cerita horor memang sebagian besar kudapatkan di masa kanak. Saat tinggal di Bandung, cerita-cerita serupa tak kudengar lagi. Kalaupun ada, nuansanya berbeda. Tak begitu dekat lagi. Nah, ini cerita berasa nyata.

Dialog Cangkir Kopi, salah satu yang menunjukkan bahwa cerpen ALex ini sering kali absurd. Atau nyleneh kalau testimoni pembacanya. Tapi cerita ini membuatku berpikir, barangkali inilah yang dialami para pengidap shizofrenia. 

Cerita tentang kucingnya sendiri adalah Kucing Hitam. Ini bacaan buat yang suka horor. Tentang adanya makhluk-makhluk di sekitar kita, beririsan dan hadir di dunia yang mestinya tidak sama. Jebakannya adalah bahwa kucing hitam adalah si penutur cerita.

Baca juga: World without End, Kisah Percintaan Berlatar Sejarah Kelam Gereja Katolik


Kisah Seekor Camar dan Seekor Kucing yang Mengajarinya Terbang


Judul: Kisah Seekor Camar dan Seekor Kucing yang Mengajarinya Terbang

Penulis: Luis SepĂșlveda

Penerjemah: Ronny Agustinus

Penerbit: Marjin Kiri

Tebal: 89 halaman

Terbit: Oktober 2020 (Cetakan I)


Baca juga: Berhikmat bersama Loki Tua, Novel Yusi Pareanom


Ini kali pertama aku membaca karya Luis SepĂșlveda. Dan agak terkejut saat tahu buku ini diterbitkan Marjin Kiri. Memang, aku juga punya beberapa terbitan Marjin Kiri, buku-buku dari Amerika Latin. Tapi, ini kan tentang kucing? Membayangkan Ronny Agustinus yang postingan di media sosialnya kebanyakan urusan politik untuk menerjemahkan fabel. 

Tentu ada alasannya. Yang pasti, Luis SepĂșlveda adalah penulis penting dari Chile. Karya-karyanya diakui dunia.

Kisah berawal saat Zorbas mendapati camar yang terjatuh akibat tumpahan minyak dari kapal tanker di laut mengenai bulu-bulunya. Setelah susah payah terbang, ia tak sanggup. Sebelum mati, ia menitipkan telurnya, meminta si kucing untuk menjaga dan kelak mengajarinya terbang. 

Ada 5 ekor kucing, seekor simpanse, dan bayi burung camar. Sosok manusia terselip di antaranya. 

“Mudah sekali menerima dan mencintai mereka yang sama dengan kita, tetapi mencintai yang berbeda itu sangat berat, dan kau membantu kami melakukan itu.”

Dari rencana yang sangat tidak masuk akal --kucing yang mengajari camar terbang-- ini terselip pesan terkait masalah lingkungan dan keterikatan antar makhluk. Bagaimana sosok-sosok binatang yang berbeda ini bisa hidup berdampingan dan saling memberikan bantuan? Jadi, bagaimana cara si kucing mengajari anak camar itu terbang? Apakah berhasil?

Aku ingin membuat catatan lebih detailnya nanti. Mau coba bikin catatan detail seperti yang dibuat Ulasan Ending Drama Korea. Beda sih, lebih ke film dan variety show Korea tapi kan bisa juga diperlakukan ke ulasan buku.

Tunggu tambahan reviu buku rekomendasi tema kucing lainnya, ya. Akan ditambahkan di sini, atau di judul baru. Meoooong!