Menjadi Perempuan Mandiri dan Merdeka

Kisah tentang perempuan yang ditelantarkan oleh suami, bukan hal baru. Pada masa kanak, sudah ada cerita yang pernah kudengar dari obrolan ibuku dengan tetangga. Salah satu keluarga besarku ada yang mengalaminya. Masa dewasa, lebih banyak lagi. Beberapa di antaranya aku sempat kenal. Barangkali hal-hal seperti itu telah menjadi bagian bawah sadarku untuk menjadi perempuan mandiri, selain sosok ibuku yang memang mengambil peran besar dalam keberlangsungan perekonomian keluarga kami.



Baca juga: Kesadaran Spiritual, Hidup dalam Perspektif Baru

Di komplek aku tinggal, ada seorang bibi penjaja kue, yang hidup bersama dua anaknya. Dua-duanya memiliki kebutuhan khusus. Yang pernah kutangkap sekilas dari ceritanya, suaminya tidak ada. Saat iu kusimpulkan sebagai meninggal. Ternyata tidak. Informasi yang kemudian kudapatkan, suaminya meninggalkannya saat ia hamil anak kedua. Pada kasus bibi ini, kurasa ia sudah terbiasa bekerja. Ketika keadaan memaksanya untuk menghasilkan uang demi menghidupi dirinya dan anak-anaknya, ia mengerjakan apa pun yang bisa ia lakukan.

Cerita yang lain, seorang kenalan, pengajar Bahasa Jepang di sebuah tempat kursus yang aku pernah bekerja sebagai Markom. Sebelum menjadi pengajar, ia diperlakukan bak ratu oleh sang suami yang seorang dokter spesialis. Keuangan keluarga sangat terjamin, meski ia tak bekerja. Hingga haru itu tiba. Pada jelang kelahiran anak terakhirnya, ketahuan kalau suaminya ternyata punya pasangan baru. Mau membayangkan seperti apa rasanya? Tak usahlah, bikin sesak saja. Ya, sudah pasti itu kabar yang menyesakkan. Namun ia berjuang, anaknya harus tetap lahir dengan selamat. Dan berikutnya, berjuang untuk keluar dari zona nyamannya. 

Hanya sedikit cerita mungkin tak cukup mewakili. Aku hanya mengambil dua kasus yang kedua perempuan dalam cerita ini punya potensi untuk bekerja dan hidup mandiri. Bayangkan, jika para perempuan itu tak memiliki kemampuan dan pengetahuan yang memadai. Sebuah tekat yang kuat bisa jadi akan menyelamatkannya. Tapi, jika sudah langsung kehilangan tekat dan semangat, apa yang kira-kira bakal terjadi?

Baca juga: Reviu Buku dan Tips Menjadi Bookstagrammer


Cek Ulang Alasan Menikah

Seingatku, dalam banyak perbincangan dengan sejumlah perempuan, baik di lingkungan kawan dekat maupun kenal selintas, ada saja perempuan yang ingin segera menikah karena ingin menyudahi kelelahannya dalam pekerjaan. Atau membutuhkan seseorang untuk menutupi rasa kesepiannya. Atau untuk segera keluar dari lingkungan keluarga besarnya. 

Menikah bukan solusi segala masalah, lo. Bahkan bisa dibilang, sebagai sebuah hal baru, pernikahan yang akan dijalani berpotensi menghadirkan masalah baru. Baik masalah sepele misalnya kebiasaan-kebiasaan kecil yang berbeda, hingga persoalan yang lebih besar seperti urusan finansial, kesetiaan, orientasi politik, dll. 

Jika sudah meniatkan diri untuk masuk dalam sebuah pernikahan, bawalah diri kalian, wahai perempuan, sebagai sosok yang mandiri dan merdeka. Pasangan adalah partner untuk mewujudkan cita-cita masa depan bersama. Berjalan beriringan, bergandengan tangan, saling dukung. Sejajar, tak merendahkan dan meninggikan satu sama lain. Hati-hati jika bertemu dengan lawan jenis, dan hanya menempatkan diri kalian sebagai pendamping. Karena, jangan-jangan, ya kalian hanya akan dijadikan pendamping, haha! Eh, ini serius. Buatku pribadi, pemilihan kata pun sangat mewakili karakter seseorang.

Baca juga: Jangan Pelihara Kucing, Buku Kerjasama dengan Penerbit Epigraf


Pernikahan yang Tak Sesuai dengan Harapan

Aku punya kawan yang baru membagikan pengalamannya beberapa hari lalu. Pada masa pacaran, sang kekasih demikian memanjakannya. Terutama hal materi. Bahkan si kawan sering merasa jengah karena dipaksa belanja ini dan itu, hal-hal yang tak dibutuhkannya, bahkan tak disukainya. Anehnya, saat masuk dalam pernikahan, kondisinya berbalik 180 derajat. Sang kekasih yang menjadi suaminya itu pelit luar biasa. Kok bisa? Ya, bisa saja-lah 😀

Setiap orang ingin menunjukkan citra positif dari dirinya. Baik secara jujur maupun manipulatif. Kalau jujur, tentu saja tak akan ada masalah lanjutan. Yang manipulatif ini yang repot, kan? Seperti cerita di atas, kemungkinan besar sikapnya akan berubah drastis. Aslinya bakal keluar. Nah, tapi kan sudah kadung berada dalam pernikahan? Bagaimana, dong?

Buatku pribadi, bicarakan. Selagi ada niat baik, segala sesuatu bisa dibicarakan. Harapannya pernikahan bakal berlangsung seumur hidup, to? Sebelumnya, tanyakan pada diri sendiri apakah akan sanggup bertahan dalam kondisi terkini tersebut. Saat dibicarakan, mungkin akan ketemu jalan tengah. Ketika pasangan tetap bersikukuh dengan sikapnya, tinggal diputuskan, apakah akan selesai saja atau tetap melanjutkan karena berbagai pertimbangan. Kadung cinta, misalnya #uhuk

Jika yang terakhir yang terjadi, ya pastikan saja mandiri secara finansial. Bisa menghasilkan uang sendiri, baik dari bekerja maupun mengelola usaha. Dan buat keputusan-keputusan tersebut sebagai perempuan merdeka, yang tahu betul konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil. 

Baca juga: Pernikahan dan Jatah Mantan

Cukup banyak pekerjaan yang bisa dilakukan oleh para perempuan. Terlepas dari latar belakang pendidikannya. Aku sendiri, misalnya, memilih untuk berada di jalur penulisan. Belum sepenuhnya berhasil, baru mencoba bersetia. Tapi kawan-kawan perempuanku banyak yang sudah sukses sebagai penulis buku, blogger, kontributor penulis media. Menjadi editor juga bisa kerja kantoran di penerbitan maupun menjadi editor freelance. Itu dunia penulisan. Wilayah lain masih banyak sekali. Bahkan dari hobi pun bisa menghasilkan, bukan? Yang jago masak, jago crafting, jago make up. Dan masih banyak lagi. 


Berdamai dengan Keadaan

Setiap keputusan yang kita ambil memiliki konsekuensinya masing-masing. Ajakan "berdamai" ada ketika ternyata kondisi yang dihadapi pasca pengambilan keputusan tak sesuai dengan ekspektasi atau yang dibayangkan sebelumnya. 

Sebagai contoh, saat berada dalam pernikahan yang kondisinya tak baik. Ada dua pilihan, lanjut atau selesai. Saat memutuskan selesai, tentunya akan ada banyak perubahan. Perubahan status, perubahan aktivitas rutin harian, perubahan kesempatan, dll. Berdamailah dengan itu. Terima dan jalani dengan sesadar-sadarnya, dan sebaik-baiknya. Sebaliknya, ketika memutuskan lanjut -karena berharap akan ada perubahan, atau pertimbangan adanya anak, atau karena tak bisa pindah ke lain hati, dan alasan yang lainnya, tapi ternyata kondisinya tak juga berubah, ya, berdamai pulalah. Kalau tak sanggup, ya buat opsi baru.

Kurasa pada akhirnya, sebuah relasi berisi tawar menawar dari waktu ke waktu, untuk terus mencapai titik temu. Hingga pada batas tak lagi dikompromikan. Bukankah pada dasarnya manusia berbeda satu sama lain? Mencari titik temu dan berdamai jika memungkinkan, jika tidak, ya selesaikan. Anggap saja bagian dari pembelajaran dalam hidup. 

Baca juga: Menepis Kutukan Balada si Roy

Ngomong-ngomong, si saiyah ini bicara dalam konteks apa? Dalam konteks gregetan 😊 Kesambet apa seorang lajang seperti saiyah bicara tentang hidup berpasangan bahkan pernikahan? Karena bisa jadi, lajang seperti saiyah punya pengalaman lebih banyak. Tentu saja, catatan ini boleh dipercaya boleh tidak. Eh, mestinya disclaimer ini disampaikan di atas, ya? 😂

Catatan ini semata kegundahanku melihat para perempuan yang menyerah karena kondisi dalam hidup berpasangannya. Jangan menyerah, ya, kawans. Tetap jadilah perempuan yang mandiri dan merdeka. 


Nano Riantiarno dan Kenangan akan Teater Koma

Aku tak mengikuti perjalanan karya Nano Riantiarno. Tapi, mendapati kabar kepergiannya pada 20 Januari lalu, membuatku mengumpulkan ingatan akan hal-hal terkait almarhum. Persisnya, kelompok teater yang didirikannya, Teater Koma. Ada segelintir kenangan unik yang nyempil dalam ingatan. 

Baca juga: Sawung Jabo dan Sirkus Barock, Bicaralah dengan Cinta

Nama Teater Koma sudah tersimpan rapi dalam laci ingatanku sejak aku usia sekolah dasar. Sebelum aku tahu apa itu teater. Aku membacanya di sebuah majalah. Entah majalah apa, lupa. Entah pula dari mana waktu itu ibu meminjam majalah tersebut. Waktu aku SD, ibu sering jadi buruh cuci di rumah orang. Tapi ia juga punya kenalan dekat pemilik salon yang sering belanja majalah. Kemungkinan dari dua sumber itu. 

Ada ulasan tentang pementasan "Opera Kecoa". Satu hal yang terasa asing. "Pementasan tentang kecoa?" Tapi kupikir itu akan jadi tontonan menarik. Seperti bacaanku dari kumpulan cerita dunia, tentang Putri Lipan. Itu bayangan masa bocahku. Sama sekali belum terpikir, pementasan teater itu seperti. Saat itu pementasan yang pernah kulihat langsung adalah ketoprak. Atau ludruk dari tayangan televisi. Demikianlah, tulisan tentang Teater Koma dengan Kecoa-nya pada 1985 itu betul-betul jadi bagian dari ingatanku, tanpa ada harapan untuk nonton pada suatu kali nanti. 

Sebuah keberuntungan, seorang kawan tiba-tiba menawariku nonton Teater Koma di TIM. Saat itu aku sudah tinggal di Bandung, sudah mengenal dunia teater, dan sudah tahu lebih banyak informasi soal Teater Koma. Tentang Nano dan Ratna Riantiarno. Tentang karya-karya mereka. Tentang hal-hal yang khas dari Teater Koma. Saat itu, pada 2008 itu, mereka mementaskan "Kenapa Leonardo?". Pada hari-H pementasan, aku ke Jakarta menggunakan travel. Sampai di TIM sekitar 2 jam sebelum pertunjukan yang digelar di  Graha Bhakti Budaya tersebut. Berjumpa dengan kawan yang nraktir nonton, makan dan nongkrong di area Cikini, hingga jelang saat pertunjukan berlangsung. Si kawan sudah mengingatkan, pertunjukan akan berlangsung lama, hampir 4 jam. 

Nano Rintiarno lahir pada 6 Juni 1949 dengan nama Norbertus Riantiarno. Ia telah aktif ber-teater sejak di bangku sekolah, di kota kelahirannya, Cirebon. Lulus SMA (1967), Nano melanjutkan pendidikan tingginya di Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI), Jakarta. Ia juga mengambil kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta (1971). 

Pada masa kuliahnya, Nano bergabung dengan Teguh Karya yang saat itu namanya telah berjaya. Ia ikut membidani Teater Populer pada 1968. Sembilan tahun kemudian, persisnya pada 1 Maret 1977, dia mendirikan Teater Koma; sebuah nama kelompok teater yang disegani dan paling produktif di Indonesia, bahkan masih terus berkarya hingga kini. 

Baca juga: Braga, Kawasan Penting Bandung Tempo Dulu

Aku masih ingat sensasinya. Melihat penonton yang demikian banyak. Ini kalau kubandingkan dengan pementasan teater di Bandung. Apalagi dengan harga tiket yang terbilang mahal. Dekorasi panggung, kostum pemain, dan tentu saja bagaimana para pemain melakonkan perannya. Rasanya, hmmm... apa ya, semacam perpaduan rasa suka dan takjub. Saat jeda dengan menikmati aneka cemilan, aku antusias betul menyaksikan manusia-manusia yang hadir di gedung teater TIM. Mungkin penampakanku saat itu seperti Iteung saba Jakarta 😅 

Kemudian si Iteung langsung pulang ke Bandung malam itu juga. Tiba jelang subuh di sebuah pool travel di Cihampelas. Pengalaman yang sungguh seru. 

Sebuah ingatan akan Teater Koma. Sebuah kenangan untuk mengantar kepergian Nano Rintiarno. Selamat jalan...

Baca juga: Mengenal Vincent van Gogh lewat Novel Lust for Life

*) Foto-foto mengambil dari dokumentasi web resmi Teater Koma

Sawung Jabo dan Sirkus Barock: Bicaralah dengan Cinta

Jumat lalu, seorang kawan menawariku nonton pertunjukan Sawung Jabo. Aku sempat mengelak, dengan alasan tak punya anggaran untuk acara hiburan dan sedang kepikiran anak emong yang sedang dalam perawatan. Si kawan berujar, "Dibeliin tiketnya sama aku. Ayo, kamu butuh jeda. Cicin akan baik-baik aja. Akhirnya aku mengiyakan, dan bisa menikmati konser Jabo bersama Sirkus Barock bertajuk Bicaralah dengan Cinta, pada Sabtu, 21 Januari 2023.

Baca juga: LCLR Plus di Bandung dan Pesona Musik 70-an

Sesungguhnya aku tak banyak tahu karya Jabo. Apalagi setelah bersama Sirkus Barock. Pengetahuanku terhenti di kolaborasi Jabo dengan SWAMI. Tapi siapa yang tak bisa menikmati sajian musik bagus? Saat ada kesempatan untuk nonton, pastinya aku tak akan menolak. Terlebih untuk seorang Jabo yang masih manggung di usianya yang sudah 71 tahun. Pertunjukan yang berlangsung di Teater Tertutup, Taman Budaya Jawa Barat, Bandung ini menjadi oase buatku di tengah pikiran yang lagi rudeut oleh persoalan-persoalan keseharian. 


Hadir Memenuhi Kekangenan Pecinta Musik Bandung

Panggung musik memang sudah mulai ramai lagi. Di Bandung dan berbagai kota di tanah air. Begitu pula hadirnya Jabo, pemusik yang juga punya sejarah kuat dengan Kota Bandung. Jabo kembali hadir di Bandung setelah konser terakhirnya 10 tahun lalu. 

Abah Iwan Abdurrahman yang didaulat untuk membuka konser, berbagi cerita muasal perkenalannya dengan Jabo. Saat itu, Jabo masuk sebagai anggota baru sebuah kelompok pecinta alam, dengan Abah Iwan sebagai salah satu seniornya. Pelantun "Melati dari Jayagiri" ini menggarisbawahi bahwa bermusik bukan hanya menyanyi dan memainkan alat musik, melainkan menyampaikan juga pesan alam kepada dunia. Dan Abah Iwan melihat Jabo masih konsisten hingga saat ini dalam hal kepedulian terhadap alam dan sesama. 

Dalam pertunjukan di Bandung, Sirkus Barock hadir dengan formasi 13 personel. Nggak tahu juga untuk konser yang sama yang digelar di kota lain apakah seragam. Selain personel, ada juga musisi tambahan yang diajak berkolaborasi. Ada vokalis Elpamas, Baruna, yang didapuk sebagai pembawa lagu Anak Angin. Lagu ini membuat beberapa Sahabat Mukti yang hadir berkaca-kaca. Anak Angin adalah lagu Jabo yang sering dibawakan Mukti-Mukti dalam konsernya. 

Baca juga: Grammy Award dan Lagu Siaran Radio

Jabo juga menggandeng musisi senior Bandung, Hari Pochang, dengan permainan harmonikanya. Pochang menemani Sawung Jabo dalam lagu Mengejar Bayang. Sedangkan penyanyi balada Bandung, Budi Cilok didampingi pemain perkusi asal Australia, Ron Reeves, membawakan Bukan Debu Jalanan.


Pentas Musik yang Kaya

Sebanyak 21 lagu dibawakan Sawung Jabo bersama Sirkus Barock dan para kolaborator dalam penampilan yang meriah. Panggung dihiasai gunungan wayang raksasa, dengan kain merah dan putih yang terbentang vertikal. Pencahayaan menghasilkan aksen siluet kain yang menawn. Ditambah aksi teatrikal para personel serta musik yang kaya warna berhasil menyihir penonton dalam hening sekaligus hingar. 

Aku nyaris tak kenal lagu-lagu Jabo bersama Sirkus Barok. Tapi pesona mereka benar-benar tak terelakkan. Masing-masing personel demikian utuh dengan tugasnya. Piawai memainkan alat musik, sekaligus juga mampu meneriakkan suaranya dengan merdu. Lengkap. 

Jabo sendiri, sepenglihatanku sudah jauh berkurang staminanya dibandingkan terakhir kutonton di televisi. Iya, atuuuh.. sudah berapa tahun lewat. Tapi untuk usianya yang memasuki 71 tahun, ia luar biasa. Awalnya Jabo tampil dengan duduk, dan kupikir akan terus duduk hingga tuntas acara. Ternyata tidak. Jabo masih sanggup bermain gitar, berdiri, bahkan berjingkrak. 

Daftar lagu yang dibawakan Sawung Jabo bersama Sirkus Barock:

Burung Kecil, Kemarin dan Esok, Dihatimu Aku Berlindung, Anak Angin, Sudah Merenungkah Kau Tuan, Mengejar Bayangan, Petualangan Awan, Bicaralah Dengan Cinta, Bukan Debu Jalanan, Penjelajah Alam, Menjadi Matahari, Senandung Anak Wayang, Anak Wayang, Satu Langkah Sejuta Cakrawala, Burung Putih, Kalau Batas Tak Lagi Jelas, Bisikan Langit, Penari Goyang, Hio/Kuda Lumping, dan Lingkaran Aku Cinta Padamu.

Baca juga: Imelda Rosalin Tetap Bersinar Meski Tak Seterang Kedua Adiknya

Di ujung pertunjukan, Jabo dan Sirkus Barock mengajak para penonton berdiri. Sontak penonton pun bertepuk tangan saat mulai terdengar intro musik Hio, lagu yang sedari awal digaungkan oleh penonton. Banyak pnonton yang bahkan memilih untuk maju ke depan, menyanyi dan berjingkrak. Tiga lagu terakhir yang kebetulan juga paling kukenal dari Jabo ini tentunya menggembirakanku. Entah berapa kali aku menjadikan lirik Hio sebagai kutipan. Sedangkan Lingkaran Aku Cinta Padamu sukses bikin nelangsa. Ah!

Sawung Jabo dan seluruh personel Sirkus Barock, terima kasih untuk suguhan musiknya. Teruslah berkarya. Aku Cinta Padamu. 

Seandainya Aku (Bisa) Berlibur (ke Wonosobo)

Kenapa "seandainya"? Ya, karena aku belum bisa berlibur. Jadi, mari berandai-andai. Kubayangkan, berandai-andai bisa menjadi sesuatu yang asik. Seandainya aku bisa berlibur ke Raja Ampat. Seandainya aku bisa berlibur ke Karimun Jawa. Seandainya aku bisa berlibur ke Nusa Penida. Seandainya aku bisa berlibur ke Bukit Tinggi. Seandainya aku bisa berlibur ke Ternate. Kaaan, dalam sekian detik aku bisa berada di lima lokasi 😀 Tapi, kali ini aku tak mau berandai-andai. Aku mau membayangkan langsung saja untuk berlibur ke area perbukitan Wonosobo. 

Baca juga: Jelajah Taman Buru Sigit Kareumbi

Aku memilih Wonosobo karena beberapa waktu terakhir nama kota ini menari-nari di benakku. Kubayangkan aku akan live in, mondok di rumah warga barang seminggu. Aku sering baca review hotel kawan-kawan blogger, seperti Mbak Annie Nugraha, atau Mbak Lia blogger bandung, seru dan menarik. Tapi untuk di daerah Wonosobo ini kok kepenginnya menyatu bersama warga. Mengikuti ritme hidup mereka, dan ikut aktivitas harian mereka. 


Kebun Kopi Wonosobo

Salah satu yang muncul dalam bayanganku saat berlibur ke Wonosobo adalah ikut pergi ke kebun kopi pagi-pagi. Ikut menyiangi tanaman-tanman liar, memupuk, memangkas ranting-ranting yang sudah mengering atau lapuk. Syukur-syukur kalau bisa ke lokasi saat musim panen. 

Pasti menyenangkan melihat proses tanam hingga panen kopi dari dekat, dengan mata kepala sendiri. Selama ini sebatas menikmati kopi dalam cangkir yang sudah terseduh. Mengomel kalau ada yang dirasa kurang srek. Padahal proses pengolahan kopi tak sederhana. Dan proses dari mulai penyiapan lahan, penanaman bibit, pemupukan, pemangkasan, jumlah terpaan cahaya matahari, hingga waktu panen mempengaruhi cita rasa kopi. Belum lagi proses pasca panen. Pemilihan metode pembersihan dan pengeringan, penyimpanan, roasting, hingga grinding berpengaruh terhadap cita rasa kopi yang kita sesap. 

Baca juga: Memang, Selera Kopi Tak Dapat Diperdebatkan

Untuk jenis kopi, mestinya kawasan Wonosobo bisa ditanami dua macam, baik robusta maupun arabika. Dataran tinggi Wonosobo terletak sekitar Gunung Sumbing dan Sindoro, yang secara hydrologis maupun geologis cocok untuk pengembangan kopi arabika. kawasan dengan luas lebih dari 98 ribu hektar ini memiliki tanah yang subur, yang cocok pula untuk berbagai tanaman lain nonkopi. 

Wonosobo juga penghasil kopi robusta. Aku bukan pengkonsumsi kopi robusta. Tapi kutemukan informasi tentang satu kawasan yang tampaknya layak untuk disambangi. Kawasan ini awalnya adalah kebun kopi robusta dengan luas 2 hektar. Letaknya di Dusun Banjaran Pojok, Kelurahan Kramatan, Kecamatan Wonosobo. Ada lebih dari 2000 batang tanaman kopi yang tak lagi produktif. Lahan ini tak lagi digarap setelah pemiliknya meninggal dunia. Nah, akhir-akhir ini sang ahli waris rupanya memanfaatkan lahan tersebut untuk menjadi tempat ngopi. Seru sepertinya, membayangkan ngopi di bawah tanaman kopi yang usianya sudah 70 tahunan. 


Kebun Tembakau Wonosobo

Seperti halnya kopi, tembakau memiliki keunikannya tersendiri. Proses penanaman, panen, pengirisan, penyimpanan, dll. itu sangat mempengaruhi citarasa tembakau. Khususnya di dataran tinggi Dieng, Wonosobo, konon ada ciri khas tertentu dalam mengolah tembakau. Tembakau garangan. 

Baru kemarin aku mendengar istilah ini dan bertanya-tanya, garangan itu di mana. Eh, kok ya pas, hari ini berandai-andai berlibur ke Wonosobo. Apakah ini pertanda ada restu dari semesta? 😍 

Baca juga: Bali, Piodalan, dan Ritual Religi,

Ternyata, pertanyaan yang tepat bukan "garangan itu di mana" tapi "garangan itu (tembakau) apa". Karena istilah garangan bukan mengacu pada daerah tapi proses. Tembakau garangan adalah tembakau yang diolah dengan cara digarang. Prosesnya pun tradisional, yakni dengan menjemurnya menggunakan panas matahari cukup hingga layu, lalu diiris kecil, dipadatkan dalam batang bambu atau anyaman bambu, dan terakhir memanggangnya menggunakan tungku. Tembakau garangan ini telah dikenal sejak era kolonial.

Selain kawasan Dieng, ada cukup banyak desa di Wonosobo yang dikenal sebagai penghasil tembakau. Tapi kurasa cukuplah waktu seminggu untuk menjelajahi kebon kopi dan tembakau di daerah ini. Pasti ada banyak hal menarik dan pembelajaran di sana, selain harus bersiap dengan dinginnya cuaca.

Demikian per-andai-andaianku hari ini. Cukup setengah jam sudah merasakan segarnya dataran tinggi Wonosobo. Menghirup aroma tembakau, menyesap pahit dan asamnya arabika. Nah, kalau disodorin pertanyaan "seandainya bisa berlibur", kamu pengin berlibur ke mana?



Rumah Ronin, Blognya Keluarga Kucing Cikoneng

Meski tak membuat resolusi secara khusus pada pergantian tahun kemarin, aku berkomitmen kepada diri sendiri, tahun ini akan lebih banyak membaca dan menulis. Membaca apa saja, menulis apa saja. Salah satu yang kuagendakan adalah "menghidupkan" blog. Ada dua blog yang sama sekali tak kusentuh selama setahun terakhir. Salah satunya adalah blog tentang kucing. Namanya Rumah Ronin, blog tentang keluarga Kucing Cikoneng dan serba-serbi dunia kucing.

Baca juga: Jangan Pelihara Kucing, Buku Kisah Kucing Bersama Penerbit Epigraf

Sebagai pekerja lepas yang menawarkan jasa penulisan, aku memang tak fokus menulis di blog. Sejauh ini blog pribadi semata untuk menuangkan hal-hal sederhana yang kebetulan melintas dalam benakku, atau adanya peristiwa-peristiwa tertentu yang cukup mempengaruhiku. Termasuk dua blog lain, yang bertema kucing dan musik. Kucing, karena mereka ada di keseharianku. Musik, lebih banyak dimanfaatkan untuk post ulang bahan siaran. Setelah tak siaran, blog pun akhirnya vakum. Tampaknya perlu direncanakan kembali untuk menghidupkannya. Untuk sekarang, mencoba fokus membenahi blog kucing. 


Apa sih Rumah Ronin?

Rumah keluarga kucing Cikoneng tentunya sudah ada sejak ada kucing sebagai penghuni tetap rumah. Persisnya setahun setelah kepindahanku ke rumah baru, rumah yang kuhuni sekarang, ada seekor kucing yang menemaniku. Aku bukan "manusia kucing". Pengenalanku terhadap binatang peliharaan hanyalah ternak. Ada banyak ayam dulu dipelihara oleh bapakku di kampung. Atau kambing dan sapi yang dipelihara tetangga. Kucing tak pernah masuk dalam ranah kehidupan pribadiku. Hingga kucing pemberian kawan itu.

Namanya Kapten. Terdengar gagah, bukan? Seperti puisi Walt Whitman yang didedikasikan untuk Presiden Abraham Lincoln yang baru mangkat: "O Captain! My Captaun!"

Saat itu, 2005, aku belum kenal steril. Kapten mulai kabur-kaburan dari rumah saat memasuki masa berahi. Begitu pun seekor betina cantik yang sedianya kuadopsi dari jalanan sebagai teman Kapten, akhirnya bunting dan melahirkan. Beranak-pinak. 

Baca juga: Naga Chan dalam Kenangan 

Singkat cerita, pembenahan kehidupan perkucingan mulai dilakukan setelah mengenal sterilisasi. Pemandulan pada kucing. Tak ada lagi kucing yang melahirkan di rumah. Tak ada jantan rumah yang membuahi betina-betina liar. Tapi tetap, ada saja kucing-kucing liar yang membutuhkan bantuan. Untuk mendukung keuangan pasukan kucing, aku menyiapkan lapak dagangan. Kebetulan, saat itu aku baru mengadopsi dua kucing kecil dari tempat pembuangan sampah sementara daerah Buah Batu Bandung. Kunamai mereka Ronin dan Maiku. Saat itu aku masih bekerja di sebuah tempat kursus Bahasa Jepang. Nama Ronin inilah yang kemudian kucomot sebagai nama lapak keperluan kucing dan lain-lain, untuk kebutuhan media sosial seperti Instagram dan Facebook, dan blog kucing. Khusus produk, dapat ditemukan juga di lokapasar Tokopedia dan Shopee.


Ada Apa Saja di Blog Rumah Ronin?

Lewat blog kucing ini, aku berbagi tentang kehidupan geng kucing di rumah. Sejarah mereka menjadi keluarga, riwayat kesehatan, dan hal remeh-temeh soal keseharian mereka. Selebihnya berupa cerita kucing, kesehatan kucing, produk-produk untuk kucing, aneka peristiwa terkait kucing, kucing-kucing sahabat, juga produk-produk yang kami pakai dan pasarkan lewat lapak Rumah Ronin.

Mulai merawat kucing sejak 2004, mengenal steril kucing pertama tahun 2009, dan mulai bergiat untuk menjadi penyelenggara sterilan sejak 2012, dapat dikatakan aku cukup paham dunia perkucingan. Jangan sebut mahir, karena itu bukan keahlian. Makanya menjadi hal tak menyenangkan ketika ujug-ujug ada pesan di WhatsApp yang bertanya tentang penyakit kucing. Tanya soal penyakit mah ke dokter, atuuuuh. Da saiyah juga kalau kucing sakit dibawa ke dokter, bukan coba-coba diagnosis dan obati sendiri. 

Baca juga: Berkenalan dengan Qori Soelaeman, Ibu Seribu Kucing

Ya, kalau aku menyebut tentang durasi waktu aku intensif mengurus kucing, bukan bicara soal kepakaran. Sekadar pengalaman. Dan pengalaman itu bukan hanya bicara tentang kucing juga tapi kebiasaan-kebiasaan kucing, hal-hal menyenangkan dan konyol yang sering kucing-kucing lakukan. Bahkan bagaimana menghadapi kematian kucing. Pengetahuan dan pengalaman untuk dibagikan. Soal kepakaran, tetap, tanyakan pada ahlinya. 

Semoga Rumah Ronin bisa cukup membantu untuk yang butuh acuan informasi awal soal kucing. Keluarga kucing Cikoneng hanya sebagai contoh. Semoga terus cukup energi untuk membangun blog kucing, dan bahkan lebih aktif dari blog utama Ibu Meong. Perlu banyak belajar juga dari teman-teman blogger Blog Sunglow Mama. Siapa tahu bisa dimonetisasi lumayan kan, menjaga keberlangsungan hidup pasukan meong. 



Lima Cerita, Saat Seorang Desi Anwar Berkisah

Seorang kawan memberiku buku ini. Awalnya tak yakin akan menikmatinya. Sempat baca selintas, tak dilanjutkan. Suatu kali, terpikir membaca ulang dengan niat yang berbeda: menjadikan buku ini sebagai referensi. Ternyata, hasilnya berbeda. Aku menikmati tiap baris kalimat yang dituliskan Desi Anwar dalam Lima Cerita ini. Menarik. Bahkan melampaui ekspektasiku. Seru memang, saat seorang jurnalis berkisah.



Baca juga: Reviu Buku dan Tips Membuat Bookstagram

Proses pendewasaan yang dialami setiap orang berbeda-beda. Ada yang datang lebih awal, tak sedikit yang mulai berproses saat umur tak lagi dibilang muda. Tapi, yang diceritakan Desi Anwar adalah kisah anak-anak muda yang sedang menuju usia dewasa. Ada lima topik yang ditawarkan, yang terwakili dalam lima judul. Masing-masing adalah Kematian, Cerita Delia, Pedihnya Pendewasaan, Cinta Sempurna, dan Ibu yang Baik. Bahwa menjadi dewasa itu memang tak mudah. Penuh gejolak, konflik, turbulensi, roller coaster, apa pun istilahnya yang menunjukkan kerumitan proses tersebut. 

Kematian

Hubungan anak dengan orang tua sering kali tak harmonis. Ada perbedaan dalam menyikapi segala sesuatunya yang menyebabkan merenggangnya hubungan dan cenderung dingin. Malah terdengar seperti permusuhan, dalam cerita yang ditampilkan mengawali buku ini. Peristiwa kematian bahkan dirasa menjadi hal yang mengganggu.  Ada hal mistis, di luar nalar yang ditampilkan dalam cerita ini. Tentang pesan-pesan yang disampaikan sebelum kematian. Tentang hadirnya makhluk lain atau energi yang memasuki raga sosok yang dikenal yang tokoh. 

Namun pada intinya, tetap, kisah proses pendewasan sang tokoh utama, dalam kekeraskepalaannya dan perasaannya yang dingin, yang seolah mati rasa, tak ada keinginan untuk membangun hubungan baik dengan sang ayah, bahkan berusaha mengabaikannya. Hingga berujung pada peristiwa kematian. 

Bagaimanapun, tak ada yang lebih merusak dalam kehidupan selain rasa bersalah dan menyesal.

Baca juga: Sequoia, Catatan Seorang Lelaki untuk Anaknya


Cerita Delia

Ini cerita tentang seorang gadis yang bertumbuh di tengah sebuah pasangan. Banyak hal menarik yang ditampilkan dan dapat dijadikan contoh dari pasangan ini. Nyatanya hidup memang tak linear dengan apa yang ditampilkan di permukaan. Dan pernikahan juga tak sesederhana yang dijadikan materi tentang kelanggengan dan kebahagiaan sebuah hubungan. 

Hubungan pasangan yang tampak harmonis itu kandas. Pada sebuah masa. Lalu terhubung kembali. Sebuah cerita yang menjadi pembelajaran bagi seorang yang tengah beranjak dewasa dan mulai disodori pilihan-pilihan khas orang dewasa.


Pedihnya Pendewasaan

Setiap berada dalam masa pencarian, orang akan mempertanyakan dirinya sendiri. Begitu pun yang dialami gadis remaja yang tumbuh dengan segudang prestasi ini. Bukan sekadar pertanyaan yang menyoal sekadar percaya dirinya, namun juga kecamuk di kepala yang sering kali tak sanggup ia tanggung. 

Yang menakjubkan kemudian, proses kehidupannya kemudian membawanya dalam kesadaran spiritual yang ajaib. Kesadaran yang barangkali tak lazim dialami gadis seusianya. 

Baca juga: Mengenal Vincent van Gogh lewat Novel Lust for Life


Cinta Sempurna

Kali ini tentang kisah percintaan. Pertautan hati antara dua orang melewati proses yang unik, yang berbeda satu sama lain. Bertemunya dua orang yang tampak sempurna sebagai pasangan belum tentu memberikan akhir yang menggembirakan. Tapi bukankah proses hidup tak selalu bisa menggembirakan semua orang, bukan?

Saat Adela bersama Jacob, rasanya waktu tak pernah cukup untuk menjelajahi segala emosi, dan kata-kata tak pernah memadai untuk mengungkapkannya.

Demikian di antaranya Desi menggambarkan dua orang dengan hubungan yang bisa dibilang sempurna. Tapi perjalanan hidup berkata lain. Persisnya, Semesta membawa Adela pada pemahaman baru tentang dirinya, yang pada akhirnya membuatnya memutuskan untuk meninggalkan hubungannya dengan Jacob. Bisa jadi hubungan-hubungan yang lain. Digambarkan, Adela tak lagi membutuhkan hubungan asmara. 


Ibu yang Baik

Judul ini menjadi penutup buku. Seolah dengan sengaja dipaskan. Bab awal tentang ayah dan akhir bab tentang ibu. Sosok ibu yang demikian sempurna, ternyata pada akhirnya menguak banyak luka setelah peristiwa kematiannya. Berbagai kecamuk masa kecil bermunculan hadir dalam kekinian benak sang tokoh. 

Baca juga: NH Dini di Google Doodle

Lima Cerita bukanlah bacaan yang ringan. Penuh filosofi dan bersentuhan dengan gagasan spiritualitas. Bahkan bisa dibilang berat. Kecuali yang memang menyukai detail, permainan diksi, dan tema kontemplatif. Buku ini juga cocok untuk dibaca mereka yang menyukai tema pergolakan batin, tentang bagaimana berdamai dengan kerapuhan diri sendiri, dan perihal semesta yang bekerja dengan cara tak terduaga. Sebelum terbit dalam edisi bahasa Indonesia, Desi Anwar sudah menerbitkannya terkebih dahulu dalam bahasa Inggris bertajuk Growing Pain

Judul: Lima Cerita (Perjalanan Menjadi Dewasa)

Penulis: Desi Anwar

Penerbit: Gramedia

Tebal: 316 halaman


Mengapa Tak Perlu Membenci?

Aku menghindari penggunaan kata benci. Entah mulai kapan persisnya. Yang kuingat, aku dengan sadar meminta diriku untuk tidak membenci. Dan hal paling sederhana yang mulai bisa kubiasakan adalah tidak menggunakan kata "benci" dalam keseharian. Pertimbangannya sederhana saja. Bahwa segala hal di dunia ini memiliki potensi memberi kita pelajaran. Rasa "benci" akan menutup kesempatan kita untuk memetik pelajaran dari sumber-sumber yang kita benci itu. Kita tak perlu membenci, jika kita mampu mencintai.


Baca juga: Kesadaran Spiritual, Hidup dalam Perspektif Baru

Sebagian besar dari kita dibesarkan oleh tradisi beragama yang dalam ajarannya salah satunya adalah larangan untuk membenci. Dalam agama apa pun, tidak ada anjuran untuk membenci orang lain dan suatu kaum. Bisa jadi penafsirannya berbeda-beda. Tapi aku meyakini, meski tak mempelajari keseluruhan ajaran agama, agama semata mengajarkan kebaikan. Tapi, mengapa bisa muncul kebencian?


Alasan Munculnya Kebencian

Jika mengutip definisi "benci" dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ini seolah netral. Berbeda halnya jika melihat dari tinjauan lain. Dari tinjauan psikologi, misalnya.

Ada beragam alasan, orang membenci sesuatu atau seseorang atau suatu kaum. Bisa jadi alasan yang sangat personal, berangkat dari masalah psikologis yang bersangkutan, atau karena bentukan lingkungan baik melalui proses alami maupun melalui upaya sistematis.

1. Lahir dan dibesarkan di lingkungan yang penuh penderitaan

Tanggapan setiap orang terhadap penderitaan tak seragam. Ada yang dengan kekuatan penuh mampu keluar dan berhasil hidup dalam kedamaian. Ada yang mengalir saja. Mungkin apatis, tapi tak juga dibarengi kebencian. Tak sedikit yang seumur hidup terjebak dalam penderitaan karena kebencian yang bercokol di batinnya. 

2. Mengalami peristiwa buruk yang mengubah kepribadiannya

Seperti halnya poin pertama, penyikapan orang terhadap peristiwa buruk tak sama. Ada yang dengan ikhlas mencoba menghadapi dan menemukan jalan keluar. Tapi banyak pula yang akhirnya menyerah dan menjadikan mereka pribadi yang berbeda. Yang awalnya seorang yang hangat, lantas berubah menjadi seorang pemarah, pembenci, pendendam, dan hal negatif lainnya. 

3. Menjadi korban cuci otak atau brainwashing 

Melalui metode yang terencana dan sistematis, para korban dibawa ke kondisi stres atau tertekan. Ketika korban sudah dalam kondisi stres tak tertahankan, pelaku akan memasukkan berbagai materi untuk meruntuhkan jati diri, menjejali doktrin baru, lalu membentuk jati diri baru bagi korban. Dalam kasus terorisme, kebencian dan kecintaan yang berlebihan menjadi satu hal penting yang ditanamkan. 

Untuk poin terakhir, penanganannya membutuhkan orang yang memiliki keahlian dalam hal brainwashing. Imbasnya pun bukan hanya personal, melainkan menyasar kelompok atau masyarakat yang lebih luas. 

Baca juga: Stoikisme dan Upaya Melakoni Hidup Lebih Baik

Barangkali yang perlu kita sikapi adalah mereka yang ada di poin pertama dan kedua. Patutkah kita membenci mereka?


Mengapa Tak Boleh Membenci?

Manusia itu kompleks. Apa yang tampak di permukaan, belum tentu hal yang sesungguhnya. Dalam komunikasi tatap muka saja, kita belum tentu bisa mengenali kedalaman batin manusia. Terlebih sebatas pengenalan di dunia maya, melalui ruang-ruang media sosial. Bagaimana mungkin orang bisa menumbuhsuburkan kebencian hanya melalui saluran yang hanya menunjukkan satu sisi manusia tersebut?

Apa yang bisa kita lakukan agar tidak membenci?

  1. Menyadari bahwa kita tak sepenuhnya mengetahui proses hidup orang lain. Mereka memiliki sejumlah alasan untuk melakukan hal-hal buruk yang berpotensi dibenci oleh orang lain. Berbahagialah bagi yang melewati perjalanan hidup dengan baik, aman, dipenuhi cinta kasih. Tak semua orang seberuntung itu. 
  2. Menyadari bahwa kita tak bisa mengontrol sikap orang lain. Mereka melakukan hal buruk, dan sebaliknya hal baik, kita tak bisa menahan atau memaksa melakukan. Yang bisa kita lakukan hanyalah respon kita sebagai bagian tanggung jawab nilai kita sendiri.
  3. Menyadari bahwa kebencian hanya rasa yang hanya menyiksa diri kita sendiri. Orang atau sesuatu yang dibenci bisa jadi tak tahu menahu dengan yang kita rasakan. 
  4. Menyadari bahwa kita tak hanya hidup di hari ini. Pada masa yang akan datang, kita tak pernah tahu. Bisa jadi kita akan bersinggungan atau bahkan membutuhkan bantuan dari orang yang kita benci. 

Dan, seperti yang kutulis di awal, segala hal di dunia ini memiliki potensi memberi kita pelajaran. Rasa "benci" akan menutup kesempatan kita untuk memetik pelajaran dari sumber-sumber yang kita benci itu. Semesta memiliki cara untuk memberikan pelajaran yang tepat bagi kita. 

Setiap peristiwa memberikan makna. Tinggal bagaimana kita menerima, menyelami, menyelaraskan. Tak perlu membenci, karena kebencian hanya akan membuat kita kehilangan kesempatan untuk hidup dengan cinta dan kedamaian.

Baca juga: Berdamai dengan Inner Child

World Without End, Kisah Percintaan Berlatar Sejarah Kelam Gereja Katolik

Butuh waktu lama untuk menyelesaikan novel ini. Selain, jelas, halamannya yang sangat tebal, juga nuasa murung yang sering bikin nggak tahan. Entah terhenti berapa kali, hingga berhasil menamatkannya. Saat kubagikan di media sosial, seorang kawan yang adalah aktivis Katolik berkomentar, "Serem, nggak, sih? Aku tuh kok takut membaca sejarah kelam gitu itu." Ya, saat itu kubilang World Without End menceritakan kisah percintaan dengan dengan latar sejarah kelam Gereja Katolik.


Baca juga: Mengenal Vincent van Gogh lewat Novel Lush for Life

Mengambil periode waktu kisaran abad-14, novel ini mengisahkan empat tokoh utama yang menyimpan rahasia masa kecil menyaksikan peristiwa pembunuhan. Mereka adalah bagian dari masyarakat Inggris dengan latar belakang kehidupan sosial, politik, dan agama masa itu. Lokasi yang menjadi latar kisah bernama Kingsbridge, kota yang menjadikan Katedral sebagai pusat pemerintahan. Segenap warga kota tunduk terhadap peraturan gereja dan penguasanya (biarawan/pastor). 


Caris, si Perempuan Kritis 

Kisah bergulir dalam kehidupan masing-masing tokoh, yakni Caris, Merthin, Gwenda, dan Ralph. Penulis membuat cerita yang demikian detail, lengkap dengan segala konfliknya yang rumit. Tapi sesungguhnya dapat dikatakan jika novel ini lebih banyak bercerita tentang kehidupan Caris. Meski ia adalah anak ketua dewan paroki, Caris bukan sosok yang mau pasrah begitu saja terhadap kekuatan doa. Saat wabah menyerang ia berupaya terlibat dengan mencari tahu cara penyembuhan penyakit. Kelak hal ini mendatangkan masalah karena ia dianggap sebagai penyihir dan melakukan bidaah. 

Caris juga tampil sebagai sosok yang tak berpangku tangan melihat ketidakadilan yang berlangsung di lingkungan katedral. Baik saat ia sebagai perempuan bebas maupun saat memutuskan menjadi biarawati. Ia menentang kebijakan-kebijakan uskup yang dirasanya tidak masuk akal dan bertentangan dengan kemanusiaan. 

Di sisi lain, Caris juga seorang yang bebas. Ia berhubungan seks dengan pacarnya. Namun ia tak ingin menikah. Pernikahan bukanlah hal yang ada dalam pertimbangannya. Sebaliknya, sang kekasih, Merthin, sangat ingin menikahi Caris. Perbedaan keinginan tersebut lantas memunculkan perpecahan, terlebih dengan banyaknya konflik yang terjadi di lingkungan sekitar. 

Baca juga: Petang Panjang di Central Park, Kumcer Bondan Winarno

Aku tidak tahu, apakah pada masa awal rilisnya buku ini sempat menuai protes kaum relijius Katolik. Mengingat ceritanya membedah kehidupan institusi Katolik yang kelam. Bagaimana Caris, tokoh utama yang adalah biarawati bisa menjalani hubungan dengan lelaki, bahkan hingga melakukan persetubuhan. Atau pastor yang memiliki kehidupan seksual yang sudah menjadi rahasia umum. Konflik perebutan kekuasaan di lingkungan lembaga digambarkan dengan telanjang. 


Ken Follett dan Karyanya

Menarik juga Ken Follett menggambarkan sosok perempuan di novelnya. Mereka yang berjuang untuk mendapatkan suara, pada era yang seolah memposisikan perempuan sebagai masyarakat kelas dua. Ada beberapa sosok perempuan yang muncul di novel ini dengan perjuangannya masing-masing. Tentu saja yang tak kalah menarik adalah kecermatan Follet dalam memadukan fiksi dan peristiwa nyata. 

Ken Follett tak seterkenal penulis dengan genre yang sama, misalnya Dan Brown, tapi karya-karyanya cukup diperhitungkan. Dengan latar belakang sebagai jurnalis, Follet memiliki kemampuan menggali data. Pun pengalamannya kemudian di penerbitan, yang membuatnya leluasa untuk menerbitkan hasil olah pikir dan imajinasinya. Namun baru setelah karya yang diterbitkannya pada 1978, Eye of the Needle, namanya mulai dikenal publik pecinta buku. Dan bukunya mulai dicari setelah ia merilis The Key to Rebecca, dua tahun setelahnya. World Without End merupakan sequel Pillars of the Earth, yang aku sendiri belum baca. 

Baca juga: Sequoia, Catatan Harian Seorang Lelaki untuk Anaknya


Judul: World Without End

Penulis: Ken Follet

Penerbit: Gramedia

Tebal: 746 dan 741 halaman



Menerbitkan Buku Antologi secara Mandiri

Dulu, mengenal istilah antologi adalah dari buku kumpulan cerpen. Saat itu hanya sebagai pembaca dan belum memahami persis proses penyusunan tulisan dengan embel-embel antologi tersebut. Sudah pasti lebih rumit dibandingkan di masa kini. Hampir semua buku antologi yang kubaca diterbitkan oleh penerbit mayor, yang proses pengumpulannya lewat seleksi yang ketat. Pada masa kini, semua orang bisa menerbitkan buku sendiri. Membuat kumpulan tulisan bersama atau menerbitkan buku antologi nggak susah lagi.



Baca juga: Reviu Buku dan Tips Membuat Bookstagram

Ketika merencanakan penerbitan sebuah buku, lazimnya penerbit melakukan semacam riset untuk memastikan buku yang akan diterbitkan laku di pasaran. Kecuali untuk buku-buku yang memang sudah kerap diproduksi. Sebut saja kumpulan cerpen Kompas, yang berisi kumpulan cerpen terpilih yang pernah ditayangkan Kompas Minggu. Nah, di masa kini,tak perlu menjadi penulis terkenal untuk bisa menerbitkan karya. Termasuk membuat buku kumpulan tulisan atau antologi.


Apa itu Antologi?

Secara harfiah, antologi dimaknai sebagai karangan bunga atau bunga. Istilah yang diambil dalam bahasa Yunani ini juga dipadankan dengan bunga rampai, kumpulan karya sastra. Awalnya antologi hanya berupa kumpulan puisi, lalu berkembang menjadi jenis karya sastra lainnya. Dalam perkembangan berikutnya, lebih luas lagi, mencakup kumpulan karya musik, misalnya karya-karya yang ditulis oleh komposer atau artis. Selain itu bisa berupa kumpulan cerita yang telah ditayangkan atau diterbitkan di media massa. 

Buku antologi berisikan karya dari beberapa orang dalam tema yang sama. Prosesnya beragam, misalnya buku antologi yang disiapkan langsung oleh penerbit, buku antologi sebagai hasil akhir dari sebuah perlombaan, buku antologi sebagai karya bersama komunitas, dll. Tak sedikit penerbitan buku antologi dilakukan secara terbuka dengan membuka pendaftaran di media sosial. 

Baca juga: Jangan Pelihara Kucing, Kerja Sama Perdana dengan Penerbit Epigraf


Mencetak Karya

Sebelum membahas perihal menerbitkan buku antologi, mari mundur beberapa langkah dulu dengan menjawab pertanyaan: "memang perlu ya memiliki karya yang tercetak?" Pertanyaan seperti ini sangat mungkin muncul, mengingat di era sekarang semuanya serba digital. 

Buatku pribadi, perlu. Tulisan yang dibukukan dalam bentuk cetakan tetap dibutuhkan sebagai semacam monumen karya kita. Kalau sepakat dengan alasan tersebut, yuk, lanjut ke proses berikutnya.

Pertanyaan kedua: "menulis karya solo atau bersama?" Masing-masing tentu saja ada kelebihan dan kekurangannya. Sebagai acuan adalah tujuannya. Nanti kita bahas lebih lanjut.

Pengalamanku sendiri dalam menerbitkan karya masih terbatas. Pertama kali ikut nulis keroyokan, buku bertema kucing yang diterbitkan seorang kawan. Judulnya "Pacoh and Friends". Aku menulis kisah tentang Naga, kucing oren kepala keluarga Rumah Ronin. Kelak, kukembangkan cerita-cerita lain tentang Aa Naga dan keluarga kucingnya dalam buku bertajuk "Dongengan Naga". Tema kucing memang akan selalu ada dalam rencanaku. Ada kisah yang ingin kutuliskan menjadi sebuah novel, tapi masih sebatas gagasan kasar. Belum punya cukup stamina untuk memulainya. Namun terdesak oleh keinginan "mencetak karya", maka pada November (2022) lalu, bersama seorang kawan, aku memutuskan untuk menerbitkan buku antologi bertema kucing. Selain menulis, aku memposisikan diri sebagai penyelia (sekaligus penanggung jawab) dan proof reader. Dan terbitlah Jangan Pelihara Kucing, yang ditulis oleh 22 orang.



Baca juga: Stoikisme dan Upaya Melakoni Hidup yang Baik


Menulis untuk Buku Antologi

Keuntungan bergabung dalam proyek penulisan untuk buku antologi adalah kita tak perlu menulis sendiri naskah untuk satu buku. Sebagai gambaran, untuk sebuah novel dengan ketebalan 200 halaman buku saja, kita harus menulis paling tidak 200 halaman A4. Sebelum sampai pada stamina menulis panjang, tulisan pendek bisa menjadi ajang latihan terlebih dahulu. 

Saat ini, komunitas menulis dengan mudah kita temukan di berbagai jejaring media sosial. Kita bisa langsung nempel saja untuk bergabung dalam penulisan, sesuai dengan tema yang kita suka atau kuasai. Baik karya fiksi maupun nonfiksi. Yang perlu dilakukan adalah menyiapkan diri dengan serius dalam proyek penulisan. Menjaga komitmen itu penting, terlepas dari proyek penulisan yang kita bergabung ini saling kenal atau tidak. Rekam jejak kita akan dicatat, jangan sampai masuk daftar hitam penulis karena kita ingkar dari kesepakatan yang sudah dibuat.

Sebagai gambaran, berikut lebih kurang proses pembuatan buku antologi yang dikelola secara mandiri. 

1. Memilih komunitas atau tema

Sebuah komunitas menulis biasanya menyenggarakan proyek nulis bareng secara berkala. Tinggal memantau dan mengikuti jika kesempatan itu dibuka. Atau mengikuti berbagai proyek yang ditawarkan di media sosial, tinggal mengikuti aturan yang ditetapkan. 

2. Kontributor

Saat kita mendaftarkan diri sebagai penulis, kita dianggap sebagai kontributor. Ketentuan tiap proyek penulisan buku antologi beragam, tergantung penyelenggara. Misalnya terkait dengan dana. Penyelenggara bisa mensyaratkan biaya tertentu, gratis, atau membebani kewajiban misalnya harus membeli buku dengan jumlah tertentu. Pastikan kita sebagai kontributor mengetahui hal tersebut sedari awal. 

Sebaliknya, kontributor juga berhak untuk mendapatkan kepastian terkait penerbitan. Tak jarang, sebuah buku tak jadi terbit karena jumlah kontributor tak memenuhi kuota. 

3. Penyelia dan penanggung jawab

Ada beberapa istilah untuk sosok yang memiliki fungsi sebagai penanggung jawab proyek penulisan ini. Yang banyak dikenal, ya, penanggung jawab atau PJ. Tugasnya memastikan naskah masuk sesuai dengan alur waktu yang ditetapkan. Biasanya para penulis dikumpulkan dalam sebuah grup, misalnya di media sosial atau aplikasi WhatsApp. 

Baca juga: Menepis Kutukan Balada Si Roy


4. Penyunting

Proses penyuntingan dapat dilakukan oleh tim buku, atau diserahkan kepada penerbit yang sekaligus menyediakan jasa penyuntingan. Tugas penyunting dalam proyek buku antologi mandiri yang bisa jadi sebagian besarnya bukan penulis, akan cukup berat. Menjadi tugas PJ untuk menyaring karya yang masuk dan memastikan tulisan-tulisan tersebut memang layak terbit dan dibaca khalayak luas. 

5. Penerbit

Menentukan penerbit selayakya sudah dilakukan sebelum penggalangan kontributor. Mengingat tiap penerbit memiliki aturan yang berbeda dan menawarkan jasa yang berbeda-beda pula. Selain itu terkait jenis pencetakan bukunya, apakah dengan Print on Demand (POD) atau melalui cetak offset. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. 

Jadi, ketika naskah telah siap, kita bisa langsung menyerahkan proses berikutnya ke penerbit. Apakah termasuk penyuntingan naskah atau langsung proses pendaftaran ISBN dan pencetakan buku. 

6. Pasca cetak

Setelah cetak, buku akan diapakan? Pertanyaan ini semestinya juga sudah menjadi pertimbangan sebelum proyek penulisan bersama digaungkan. Apakah buku hanya akan dibagikan gratis atau dijual dengan harga tertentu? Apakah buku hanya untuk internal komunitas, atau akan disebarluaskan? Jika dijual, apakah buku dipasarkan di toko tertentu, secara online, atau diserahkan ke masing-masing penulis. Dan seterusnya dan sebagainya. 

Ketika saya mulai belajar menulis buku di Sekolah Perempuan, saya baru tahu istilah buku antologi ini. Singkatnya, buku antologi adalah kumpulan tulisan dari beberapa kontributor sesuai tema yang ditentukan sebelumnya. Misalnya kumpulan cerpen, kumpulan puisi, kumpulan dongeng anak, kumpulan resep, dan lain-lain. Buku antologi ditulis beramai-ramai, mungkin semacam keroyokan, maka ada sindiran, bahwa yang menulis disebut kontributor, bukan penulis. Tetapi banyak yang memilih buku antologi sebagai langkah awal menuju menjadi penulis sebenarnya, karena menulis buku antologi itu mudah. Benarkah?

Baca juga: Pseudonim, Kisah Pertarungan Idealisme Dunia Penulisan


Mau Menerbitkan Buku bersama Ibu Meong?

Tahun ini, aku berencana untuk kembali menggiatkan penulisan buku bersama alias buku antologi. Ada beberapa tema yang sudah kurencanakan. Bukan cuma tema meong, lo! Banyak tema menarik yang bisa diterbitkan menjadi sebuah buku. 

Untuk penerbit, aku masih akan bekerja sama dengan Epigraf, yang sebelumnya sudah menerbitkan buku antologi kisah kucing. Tertarik? Akan lebih baik jika sudah memiliki kelompok nulis bareng, sehingga bisa langsung "berangkat" sama-sama. Misalnya para mom blogger yang mau sama-sama menulis tentang home education. Atau sekelompok teman ngerumpi yang terpikir untuk menerbitkan sebuah buku sekadar seru-seruan, kenapa enggak? Proyek yang dilakukan di antara kawan yang saling kenal relatif memudahkan dalam koordinasi, selain chemistry yang telah terbangun bersama. Anggapannya, masing-masing juga dapat berkomitmen serius menulis hingga bukunya lahir. 

Jika tak ada kelompok, tak soal. Tinggal mengecek saja tema-tema yang kemungkinan akan diterbitkan dan bisa bergabung di dalamnya. Jika berminat untuk bergabung di proyek menerbitkan buku antologi, sila langsung kontak via WhatsApp atau email: dhenok.hastuti@gmail.com