Showing posts sorted by date for query spiritualitas. Sort by relevance Show all posts

Mengapa Kita Mengalami Pola Hidup yang Terus Berulang?

Apakah saat ini kamu baru menyadari jika sedang mengalami pola hidup yang berulang? Selamat! Jika kesadaran itu muncul, artinya kamu sedang dihadapkan pada kemungkinan menemukan solusi. Karena sebelumnya, selama ini, kamu menjalani pengulangan-pengulangan itu begitu saja, seolah tanpa kesadaran. Paling-paling sekadar celetukan, "Ih, kenapa, ya, gue terus-terusan ngalamin ini?" Alih-alih mencari tahu, yang terjadi malah mengabaikan. Ada yang lebih buruk: menyalahkan diri sendiri.  


Baca juga: Berkaca dari Kasus Tiara, Femisida dan Pencegahannya

Aku punya kawan, tiga kali menikah, tiga kali pula laki-lakinya bermasalah. Dan persoalannya mirip, nyaris sama. Tak perlu jauh-jauh, aku pun mengalaminya. Relasiku dengan lawan jenis nyaris selalu bermasalah. Aku juga punya kakak yang usahanya nyaris tak pernah berhasil, gagal di tengah jalan. Jadi, apa yang menyebabkan pola itu terus berulang?

Berikut aku coba paparkan dari dua sudut pandang. Disclaimer: ini bukan kebenaran yang harus diterima, karena pasti banyak sudut pandang yang lainnya. Kedua dua pandangan ini yang kututurkan di sini, karena aku mengalami keduanya. Aku pernah menjadi pasien psikiater, lalu pada masa yang lain hidup membawaku pada perjalanan spiritual.


Dari Tinjauan Psikologi dan Medis

Ada sejumlah hal yang menjadi penyebab terjadinya pengulangan pola hidup, dari beberapa sudut pandang.

Kalangan praktisi psikologi dan ahli kejiwaaan menyebutkan bahwa secara alamiah manusia mencari rasa aman melalui zona nyaman. Hal yang mudah dan efisien adalah menjalani kebiasaan otomatis, sehingga terjadilah habit looping, pengulangan-pengulangan kebiasaan. 

Ada bagian otak bernama Basal Ganglia yang punya peran merancang kebiasaan menjadi aktivitas yang otomatis. Ini dilakukan agar kita bisa menghemat energi dan tak melibatkan proses berpikir yang panjang. Contoh yang kudapatkan dari penjelasan dr, Ryu Hasan dalam sebuah podcast misalnya perihal berkendara. 

Saat kita memutuskan untuk berangkat dari rumah menuju tempat kerja menggunakan mobil, keputusan itu kita buat dengan pertimbangan logis. Tapi, setelah aktivitas kita saat mengambil kunci mobil, jalan ke garasi, menyalakan kunci kontak itu sudah mode autopilot. Begitu pula saat keluar rumah, kita ambil arah kiri-kana, memberi tanda sein, menyalakan klakson, dan seterusnya.

Demikian lebih kurang penjelasan pakar neurosains tersebut. 

Basal Ganglia inilah yang memegang kendali penuh saat sebuah kegiatan telah menjadi kebiasaan. Dengan begitu beban berpikir terkurangi karena korteks prefrontal atau bagian sadar otak bisa beristirahat. 

Mode autopilot ini adalah mekanisme otak untuk menghemat energi. Namun, di sisi lain, mode otomatis ini dapat membuat orang terjebak pada kebiasaan buruk yang sudah semestinya ditinggalkan agara dapat melanjutkan hidup dengan lebih baik. 

Baca juga: Tetap Bahagia dan Giat Berkarya saat Menjalani Hidup Sendiri

Penyebab lainnya adalah luka batin atau trauma. Peristiwa lalu yang menyisakan trauma juga dengan tanpa sadar menjebak kita pada habit looping. Misalnya saat orang memiliki trauma masa lalu, ada kecenderungan untuk mencari orang dan atau situasi yang sama. Di bawah sadar ada keinginan untuk "menyelesaikan" masalah yang telah jauh terlampaui tersebut. Terlebih jika berada dalam lingkup pergaulan dan lingkungan yang relatif sama, pengulangan pola hidup yang sama akan terus terjadi. 

Agar tidak terjadi pengulangan, diperlukan berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu terkait luka batin dan trauma. Jika tak mampu melakukan sendiri, sebaiknya berkonsultasi dengan ahlinya, dengan psikolog atau dengan psikiater jika sudah ada di fase membutuhkan pengobatan.

Baca juga: Berkenalan dengan Laku Spiritual melalui Buku Tantra


Dari Tinjauan Spiritualitas

Bagi para pejalan dan pendalam spiritualitas, cara pandangnya berbeda. 

Dari tinjauan spiritual, pola hidup yang berulang terjadi akibat jiwa yang masih membawa karma. Ada pelajaran hidup yang belum tuntas, dan hanya kesadaran untuk menerimanya sebagai upaya untuk memutus rantai karma dan menjalani hidup yang baru. Selain itu, cara menyikapi peristiwa dan kejadian yang sudah lewat juga menjadi faktor penting terjadinya pengulangan pola hidup.   

Perihal karma, setiap orang membawa karmanya masing-masing dari kehidupannya di masa silam. Bahwa jiwa hanya berpindah dari satu wadag ke wadag berikut yang sesuai dengan karakter awalnya. Dan kelahiran kembali itu disertai dengan karma. Karma yang dimaksud adalah konsekuensi dari perilaku kita. Dan konsekuensi itu akan mengikuti dalam setiap kelahiran baru. 

Baca juga: Doa, Meditasi, dan Vibrasi Energi

Apakah kamu sering mempertanyakan mengapa suatu hal bisa terjadi padamu, sedangkan kamu selalu berusaha melakukan sebaik-baiknya? Barangkali itu adalah konsekuensi dari perilakumu di masa lalu. Sesuatu yang tak bisa ditolak, hanya bisa diterima dan diputuskan rantainya secara sadar. 

Pada kesadaran di masa sekarang, kita dihadapkan pada cara kita menyikapi segala hal yang terjadi di luar diri kita. Misalnya perihal luka batin dan trauma. Emosi masa kecil yang terpendam secara bawah sadar dapat menarik peristiwa serupa untuk hadir di masa dewasa. Begitu pula dengan peristiwa tak menyenangkan yang tak direspons secara bijak, akan menjadi tumpukan emosi yang pada akhirnya akan menjadi pola yang berulang.

Hal lain yang--seperti halnya karma--barangkali tak cukup mudah diterima oleh akal adalah keterlibatan ikatan dengan leluhur, misalnya sumpah yang pernah diucap para leluhur. Beban energetik ini perlu disadari dan diputuskan secara sadar.

Baca juga: Kesadaran Spiritual, Hidup dalam Perspektif Baru

Apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki pola yang berulang ini?

Hal pertamanya tentu saja adalah menyadari apa-apa yang sedang terjadi. Pola apa saja yang terus berulang. Tanpa kesadaran itu, tak akan bisa mengambil langkah berikutnya.

Pada bagian karma dan ikatan leluhur, tak ada yang bisa kita lakukan untuk perbaikan atas apa yang sudah terjadi di masa lalu. Terima saja sebagai bagian dari perjalanan hidup dan melakukan yang terbaik di masa sekarang. Ada upaya yang bisa disarankan yakni "memutus rantai karma". Upaya ini bisa dilakukan sendiri jika mampu, atau meminta pertolongan ke orang yang mampu melakukannya. Untuk yang terakhir ini perlu ekstra hati-hati karena di masa sekarang banyak orang yang menjadikan spiritualitas sebagai "ladang" mengeruk uang. 

Sedangkan terkait dampak dari peristiwa di masa kini, baik trauma masa kecil maupun peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung, cukup dengan memunculkan kesadaran bahwa apa yang telah terjadi hanya perlu diterima sebagai bagian dari perjalanan. Memaafkan dan melepaskan segala emosi yang melingkupinya seperti marah, sedih, benci, dan lain-lain. Berdamai dengan masa lalu, plus mengubah cara dalam merespons segala stimulus yang datang dari luar. Stoik mengingatkan soal kendali diri. Apa-apa yang di luar kendali diri kita bukanlah bagian kita. Kita tak bisa mengubah orang lain; cara kita meresponsnya, itu yang lebih penting.  

Sekali lagi, seperti disclaimer di atas, catatan ini adalah dari pengalamanku dengan referensi yang juga berbaur di dalamnya. Teman-teman yang menghadapi persoalan yang sama mungkin akan menemukan cara penanganan yang lebih tepat. Jangan lupa untuk tetap dan terus melakukan aktivitas yang membuat diri gembira sekaligus bisa melepaskan bagian-bagian diri yang tak selaras. Menulis di blog ini juga salah satu upayaku, meski untuk urusan ilustrasi tak begitu pandai mengulik. Padahal konon ilustrasi canva mudah dilakukan. Oiya, bahasan soal mental health bisa coba baca-baca juga di Blogger Lolita.

Sehat-sehat semuanya, ya. Sehat, bahagia, selaras. Namaste.

Baca juga: Stoikisme dan Upaya Melakoni Hidup yang Lebih Baik

Slow Living, Pilihan Hidup yang Lebih Berkesadaran

Belakangan hari pilihan gaya hidup slow living banyak dijadikan bahasan. Tak kurang juga banyaknya komunitas yang mengambil tema ini. Sebagian orang mungkin memang secara alamiah telah menjalani hidup dalam irama yang lambat; sebagian yang lain bisa jadi menemukan bahasan soal slow living ketika sedang lelah-lelahnya menjalani hidup yang berkejaran; sebagian yang lain lagi kemungkinan sekadar FOMO saja. Mungkin loh, yaaa. Kamu, yang barangkali sejauh ini belum terpikir, bisa menimbang alternatif ini.



Baca juga: Permakultur dan Kunjungan ke Igirmranak

Aku sendiri sejak kecil terlatih menjalani frugal living. Baik secara alami maupun terencana. Secara alami karena kami tumbuh dalam lingkungan yang pas-pasan secara finansial. Secara terencana, setelah belajar lebih banyak hal terkait manajemen keuangan dan kebijaksanaan hidup secukupnya. Meski saat ini belum sepenuhnya bisa menjalani slow living, paling tidak setengah bagian prosesnya sudah terlakoni. Yang menjadikan slow living sebagai impian masa depan, santai saja. Yuk, jalani pelan-pelan.


Apa Itu Slow Living?

Aku lahir dan dibesarkan di desa. Sebagian besar aktivitas warga nyaris seragam. Bagi yang pegawai, pagi-pagi berangkat kerja, sore pulang. Begitu pula para pedagang pasar. Yang agak berbeda pedagang yang memiliki toko, jam bukanya lebih lama. Para petani pun demikian, tak jauh beda. Selebihnya mereka akan menghabiskan waktunya di rumah bersama keluarga. Sekali waktu kumpul dengan tetangga, misalnya bapak-bapak meronda, atau ibu-ibu arisan. Tak banyak pilihan aktivitas lainnya. 

Ketika perjalanan membawaku meninggalkan kampung halaman, ke Bandung--yang sebetulnya relatif tidak terlalu kencang ritmenya, setiap kali pulang kampung terasa betul kesenjangannya. Waktu seolah tidak bergerak. Slow motion. Nah, apakah kehidupan model begitu disebut slow living? Salah satu bagiannya mungkin iya, tapi hal mendasarnya mungkin berbeda.  

Slow living mengedepankan tentang kesadaran; menjalani hidup dalam ritme tenang, penuh makna, seimbang, sederhana, memilih kualitas daripada kuantitas dan semuanya dijalani dengan sepenuh kesadaran. Bukan hidup yang melambat karena tidak ada pilihan, apalagi malas. 

Baca juga: Olah Napas untuk Mental yang Sehat dan Hidup Lebih Berkesadaran

Sebetulnya kalau dilihat dari sejarahnya, konsep slow living ini bukanlah hal baru. Awalnya adalah orang-orang Italia yang bersekutu membuat Gerakan Slow Food di Italia pada dekade 80-an, sebagai bentuk protes dibukanya gerai fast food di Roma. Pelopornya, Carlo Petrini, menggarisbawahi soal pentingnya makanan berkualitas serta upaya bersama mempertahankan tradisi lokal serta mendukung kesejahteraan petani. Gerakan ini lalu berkembang menjadi konsep slow living yang lebih luas dengan menyentuh berbagai aspek dalam kehidupan. 

Jumlah pengikut konsep slow living mengalami peningkatan pesat setelah Carl Honoré menerbitkan buku In Praise of Slowness yang intinya mengajak orang untuk melambat; menjalani hidup dengan ritme yang lebih lambat. Tren slow living dianggap menjadi solusi bagi siapa pun yang mengalami stres atau ingin keluar dari rutinitas yang serba tergesa. 

Baca juga: Jeda dan Meditasi Bantu Redakan Pikiran yang Riuh


Mengapa Pilih Slow Living dan Bagaimana Memulainya?

Di salah satu grup media sosial bertema slow living yang kuikuti, bertebaran postingan orang yang berkisah tentang memulai slow living di desa, meninggalkan pekerjaan di kota yang sudah penuh sesak. Berikutnya muncul pertanyaan-pertanyaan: Apakah setelah pensiun orang baru bisa slow living? Apakah kalau sudah berhasil punya passive income baru bisa menjalani slow living? Apakah untuk slow living harus tinggal di desa? Apakah untuk menjalani slow living harus berusia 40 tahun ke atas? Apakah slow living artinya harus bertanam dan beternak? Dan aneka rupa pertanyaan lainnya. 

Jika mengacu pada penjelasan secara umum apa itu slow living, tentunya sudah langsung terjawab. Jika slow living membutuhkan prasyarat seperti pertanyaan-pertanyaan di atas, sebagian besar orang bisa jadi tak akan pernah punya kesempatan untuk menjalani slow living.

Karena secara hakikat slow living adalah tentang menjalani hidup dalam ritme tenang, penuh makna, seimbang, dan sederhana dengan sepenuh kesadaran, konsep ini bisa dijalankan oleh siapa pun, kapan pun, dan di mana pun. 

Baca juga: Sembuhkan Penyakit Metabolik dengan Puasa dan Diet Keto

Berikut ini langkah yang bisa kita lakukan untuk menjalankan slow living. Bisa dimulai dengan langkah kecil berupa kebiasaan dalam keseharian.

1. Mengubah kebiasaan makan. Kalau sebelumnya makan dalam keadaan tergesa, kini lambatkan ritmenya dengan cara menikmati setiap suapan. Sembari mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membuat makanan tersebut bia tersaji di depan kita dan bisa dinikmati. Sembari dibarengi permohonan kepada Semesta, Tuhan, Sang Hyang Widi, apa pun kalian menyebut Sang Ilahi untuk mencukupkan rezeki bagi semua orang terutama mereka yang sedang mengalami kesusahan.

2. Tinggalkan kebiasaan multitasking. Salah satu hal yang kusadari pada waktu-waktu terakhir adalah kesulitas fokus, barangkali itu semacam brain fog. Hal ini terjadi karena selama ini terlalu banyak melakukan beberapa pekerjaan sekaligus secara bersamaan atau multitasking. Pada masanya itu membanggakan. Tapi belakangan baru kusadari dampaknya. So, tinggalkan multitasking, mulailah mengerjakan sesuatu, satu per satu hingga tuntas, baru berpindah mengerjakan hal lain.

3. Batasi interaksi dengan media sosial. Seberapa sering kamu menyadari bahwa media sosial begitu menyita waktu dan perhatianmu? Sekali bercokol di depan HP, berapa banyak akhirnya waktu yang kamu habiskan di sana, menyelam ke berbagai medsos? Yang tadinya hanya sekadar mengecek, yang terjadi malah meninggalkan aktivitas sebelumnya dan lupa dengan tujuan semula. Pelan-pelan, beri diri sendiri jatah membuka media sosial setiap harinya.  

Baca juga: Kesehatan Mental dalam Skala Hawkins

4. Sediakan waktu untuk diri sendiri. Yang dalam bahasa gaulnya "me time" itu memang sungguh-sungguh diperlukan dan ada manfaatnya, lo. Jika diperlukan ingat-ingat ulang apa saja hobi yang tak pernah dijalankan lagi. Membaca, berkebun, nonton, menggambar atau melukis, dan aktivitas hobi lainnya yang menyenangkan dapat membantu melepaskan stres. 

5. Praktikkan teknik hidup berkesadaran. Pada dasarnya hidup berkesadaran adalah hidup "di saat ini". Praktiknya adalah menjalankan segala sesuatu dengan kesadaran penuh; kesadaran bahwa kita hidup di saat sekarang, bukan masa lalu yang menyakitkan dan bukan masa depan yang penuh ketidakpastian. Dengan begitu hari-hari bisa dilalui dengan gembira, tanpa kecemasan dan emosi negatif lainnya yang secara langsung dan tidak langsung dapat meningkatkan kualitas hidup. 

6. Mendekatkan diri dengan alam. Aku tak menemukan referensi terkait hal ini. Namun, faktor alam menurutku penting. Buatku, slow living adalah bagian dari pembelajaran spiritualitas. Dan alam adalah guru yang mumpuni dalam soal mengasah spiritualitas.  

Gambaran di atas lebih melengkapi jawaban untuk pertanyaan sebelumnya, kan? Jadi, pilihan slow living bukan hanya untuk kalangan 40 tahun plus, kalangan pensiunan, kalangan yang sudah punya passive income

Namun, sepertinya tetap, ya, S&K berlaku. Urusan finansial paling tidak sudah aman dan tidak punya tanggungan meskipun belum punya passive income. Kamu akan kesulitan menjalani hidup yang tenang jika punya hutang dalam jumlah besar, atau hutang di mana-mana. Meski sudah berusaha hidup sederhana dengan mengatur pola konsumsi, pada tingkatan tertentu tetap akan menyulitkan. Sambil menyiapkan semua perangkat, bisa mulai belajar soal perencanaan keuangan.

Pada akhirnya menjalani slow living memang sangat personal. Hitungan, takaran, dan pertimbangan tiap orang berbeda-beda. Hal yang utama adalah bagaimana konsep ini membantu kita untuk hidup sebaik-baiknya, bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain, serta makhluk dan alam sekitar.

Olah Napas untuk Kesehatan Mental dan Hidup yang Berkesadaran

Bernapas merupakan sebuah aktivitas yang kita lakukan secara otomatis setiap saat. Saking biasanya sampai kita baru sadar betapa pentingnya urusan napas ketika aktivitas ini mengalami gangguan. Ketika oksigen terbatas, atau saluran napas kita yang mengalami gangguan. Betul, 'kan? Bahkan sekadar menyadari napas pun suatu hal penting di tengah rutinitas kita yang nyaris abai terhadap hal-hal yang ada di depan mata. Tak heran jika olah napas menjadi salah satu topik di masa kini, ketika orang ingin kembali menjalani hidup yang lebih sehat dan alamiah. 



Baca juga: Pulihkan Trauma dan Ciptakan Hidup Sehat Selaras dengan Terapi BCR

Saat ini begitu banyak kita lembaga pelatihan, kursus, dan buku-buku panduan yang "menjual" pelajaran tentang bernapas. Tak jadi soal, sih. Toh mereka memiliki kesadaran lebih dulu bahwa tema ini bisa jadi barang jualan. Baik yang sekadar mengambil materi copas, maupun memang mereka mengajar dan menulis berangkat dari pengalaman dan kemampuan yang sudah dikembangkan. 


Mengapa Perlu Menyadari Napas?

Napas, ya. Bukan nafas! Hehe ... ini kata saya yang adalah tukang sunting.

Aku diingatkan tentang "menyadari napas" ini jauh-jauh hari ketika mulai tertarik dengan dunia spiritualitas. Menyadari napas artinya berada dalam kesadaran di masa sekarang, masa kini, present. Namun, dalam perjalanannya, semua teori itu seolah terlupakan. Menuliskannya lagi di sini, selain mengajak kalian, yang lebih utama adalah mengingatkan ke diri sendiri, betapa bermanfaatnya melakukan olah napas ini. 

Suatu kali aku datang ke lokasi aku belajar BCR sekaligus rumah pengajar/mentornya, dr. Dhavid Avandijaya Wartono. Kuceritakan apa yang baru terjadi pada awal Januari lalu.

"Dok, saya baru melakukan hal yang selama ini tak pernah saya lakukan. Saya lepas kontrol karena kemarahan dan rasa sakit hati saya."

"Apa yang kamu lakukan?"

"Saya pukul pintu, pukul lantai, saya terisak kuat-kuat. Dada saya terasa mau meledak. Telapak tangan saya membiru."

"Kamu lupa dengan tools-mu?"

"Hah?"

"Bernapas itu salah satu tools-mu. Kenapa tidak kamu lakukan?"

"Nggak ingat, dok."

Itu terjadi. Jika diingat-ingat lagi, aku pun heran, bagaimana ceritanya aku bisa semeledak itu. 


Baca juga: Berdamai dengan Inner Child


Pada masa kuliah dulu aku pernah meledak. Bukan karena marah. Namun, lebih karena luapan emosi yang tak tertanggungkan. Sebetulnya mirip juga, sih. Tapi, ya, saat itu bukan marah. Lebih campur-campur antara sedih, malu, kecewa, marah, sakit hati, yang akhirnya membawaku berobat ke psikiater. Tapi itu dulu. Kenapa sekarang, setelah melewati proses panjang self-healing, masih terjadi ledakan itu? Tak bisa tidak, memang ada hal yang mesti kembali dibenahi. Berubah tak boleh tanggung-tanggung. Karena, jika tidak, ya akan kembali berkubang di hal yang sama. 

Eits, kok jadi ke mana-mana. Ini jadi gambaran saja, betapa hal yang menyulut emosi bisa terjadi kapan saja. Kita lupa sedikit saja, ya balik lagi.


So, baiklah. Mari kita kembali belajar bernapas.


Mengolah Napas

Belajar bernapas? Bukankah kita sudah otomatis bernapas sedari lahir, bahkan sebelum kita menyadari apa pun? Apa yang perlu dipelajari?

Semata bernapas dan mengolah napas tentu saja berbeda makna. Seperti halnya bergerak dan berolahraga. Ada tujuan tertentu dengan kita berupaya melakukan suatu hal secara konsisten. Seperti halnya olahraga, olah napas mengacu pada latihan yang dimaksudkan untuk meningkatkan fungsi mental, fisik, dan spiritual. 

“Tak peduli apa yang kamu makan, seberapa banyak kamu berolahraga, bagaimanapun bentuk tubuhmu, semua itu tak ada gunanya jika kamu tidak bernapas dengan benar.” Demikian kata jurnalis James Nestor dalam buku yang ditulisnya, Breath: The New Science of a Lost Art. 

Nestor mengkritisi betapa kita peduli dengan asupan makanan, minuman, bahkan berolah raga, tapi melupakan perihal napas yang otomatis--tanpa usaha ekstra--yang kita lakukan pada setiap saat. Demi bukunya tersebut, membuat riset mendalam perihal napas, baik dari pengalamannya sendiri maupun melalui eksperimen-eksperimen yang ia lakukan.

Dalam bukunya tersebutm Nestor menyampaikan teknik sederhana yang menjadi dasar olah napas, yakni:

5,5 detik tarik napas, lalu 5,5 detik kemudian embus. Proses pernapasan dilakukan melalui hidung, napas ditarik hingga ke perut hingga diafragma berkembang dan paru-paru dapat menyerapnya secara optimal.

Hal dasar ini bisa kita terapkan dalam keseharian. Latih hingga menjadi kebiasaan. 


Baca juga: Kamu Punya Perilaku Manipulatif? Kamu Butuh Trauma Healing


Ada banyak metode lain yang bisa dilakukan terkait mengolah napas ini. Seperti breathwork. Metode ini tidak mengacu ke satu nama sebagai pencetus. Ada sejumlah nama dengan kekhasannya masing-masing. Misalnya breathwork yang dikembangkan oleh Giten Tonkov. Metodenya bertujuan melepaskan trauma berlandaskan enam elemen utama, yakni napas, gerakan, emosi, sentuhan, suara/musik, dan meditasi. Atau Vivation Breathwork yang dikembangkan oleh Jim Leonard. metodenya adalah memadukan meditasi dengan teknik pernapasan circular breathing. Dr. Andrew Weil mengembangkan teknik pernapasan 4-7-8 untuk mengaktifkan sistem saraf parasimpatik, mengurangi stres, dan meningkatkan relaksasi. 

Teknik mana pun bisa dipilih. Namun, hal yang pentingnya adalah menyadari latihan kita, menjadikan diri kita sebagai pemimpin dalam mengolah pernapasan dalam tubuh secara sadar dan sistematis. 

Di ranah kesehatan mental, olah napas ini sangat membantu. Kita akan segera tahu seseorang sedang tenang atau stres dari cara ia bernapas. Saat mengalami stres, napas akan cenderung cepat dan pendek. Hal ini terjadi sebagai akibat dari otak yang memberikan signal ke tubuh bahwa ada ancaman. Atau ketika ingatan akan trauma yang mengembalikan ingatan kita kepada peristiwa-peristiwa tak menyenangkan yang kita alami di masa lalu. Respons tubuh lebih kurang sama. 

Dari andil napas yang tepat bagi kesehatan mental saja kita sudah bisa mengembangkan berbagai potensi yang kita miliki akibat sumbatan yang selama ini menghuni saluran-saluran kreasi kita.

Beberapa manfaatnya, seperti:

  • Membantu kita berada dalam kondisi present dan berkesadaran
  • Meningkatkan kemampuan receiving
  • Membuka daya kreativitas
  • Meningkatkan rasa percaya diri dan self-love
  • Membantu mengembangkan relasi yang positif 
  • Membawa keceriaan dalam sikap keseharian 
  • Membantu memutus adiksi atau ketagihan
  • dan masih banyak lagi.

Baca juga: Mengenal Sabotase Diri dan Mekanisme Koping


Yuk, kita mulai kembali latih napas kita untuk hidup yang lebih berkesadaran, sehat mental, memetik hal-hal positif dari kehidupan, dan mengembangkan kreativitas demi diri sendiri dan semua makhluk. 

Untuk yang berminat belajar BCR demi hidup yang lebih berkesadaran, sehat mental dan spiritual, serta meningkatkan posibilitas diri, mari bergabung dalam kelas BCR. Hubungi aku lewat WA, ya. Kelas terdekat di Semarang.



Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong, Novel Terbaru Eka yang Menyorot Tradisi Beragama

Buat pencinta anjing atau kucing, jangan terkecoh. Ini buku sama sekali tak bercerita tentang kedua binatang berbulu tersebut. Berbeda dengan dua buku Eka Kurniawan yang telah kubaca sebelumnya tanpa diawali dengan referensi apa pun, untuk buku Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong aku sempat hadir di sesi diskusi penulis di Gramedia Merdeka, Bandung. Jadi, sudah berbekal bahan bahwa buku ini terkait nama Sato Reang dan banyak bicara soal tradisi beragama.



Baca juga: Cantik Itu Luka, Kisah Perempuan-Perempuan dengan Luka

Di buku ini gaya Eka, setidaknya dari dua buku yang sudah kubaca, masih terasa. Lugas dan telanjang. Meski terasa lebih "santun". Barangkali karena mengangkat tema terkait spiritualitas. Pilihan katanya masih bikin aku ngakak, dimulai dari halaman pertama. 


Sinopsis

Dalam Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong, Eka menonjolkan satu karakter saja, dari kecil hingga dewasa. Namanya Sato Reang. Dalam bahasa Sunda, sato artinya hewan atau binatang. Nah, reang aku belum pernah tahu. Konon ini adalah istilah dalam bahasa Jawa Kuno. Tapi ada yang menyebut reang sebagai bahasa Indramayu. Eka sendiri tak menyebutkan secara gamblang seting lokasi. 

Halaman awal sempat membingungkanku, karena PoV menggunakan orang pertama. Namun si "aku" juga menyebut nama Sato Reang, seolah ia menceritakan orang ketiga. Ini PoV yang belum pernah kutemui dalam buku yang pernah kubaca. Tolong kasih tahu kalau ada pola serupa di buku cerita lainnya.  

Selagi kecil, Sato Reang sangat menurut kepada orang tuanya. Terutama kepada ayahnya, Umar. Meski sambil protes dan ngedumel, ia selalu mengikuti perintah sang ayah. Wajib sembahyang lima kali sehari, lalu mengaji atau membaca ayat Al-Quran setiap malam. Kebebasan Sato Reang makin terenggut setelah ia disunat. Karena dengan tegas ayahnya berpesan: "Sudah saatnya kau menjadi anak saleh."

Aturan itu rupanya tak berlaku bagi semua anak di kampung mereka. Banyak yang masih berkeliaran, bermain hingga petang, keluyuran hingga jauh, pacaran. Sedangkan Sato, bahkan acara yang oleh ayahnya disebut sebagai bermain pun ternyata adalah kegiatan pengajian yang dilangsungkan di kota lain. 

Pada tiap dini hari, Umar akan menggedor-gedor pintu kamar anaknya itu sampai terbangun. Sato akhirnya menjalaninya sebagai rutinitas, setengah terjaga, berangkat menuju musala. Di kemudian hari, kebiasaan-kebiasaan sang ayah itu menciptakan trauma tersendiri. Salah satu hal yang seolah ia ingin balaskan dendam saat sang ayah meninggal, melakukan segala macam kenakalan.

Ya, Sato Reang, si anak saleh itu berubah liar. Awalnya adalah saat ia merasa begitu terbebani dengan sosok ayahnya yang terasa masih hidup di pikirannya. Seolah ia melakukan apa-apa yang ayahnya lakukan. Ia pun berontak. Ia ingin menunjukkan kalau ia adalah Sato, bukan Umar. Mulailah ia meninggalkan salat, memprovokasi Jamal yang selama ini menjadi pengikutnya, minum-minuman beralkohol, bahkan melakukan tindakan brutal yakni membakar bioskop. Sudah pasti juga ia meninggalkan sekolah. 

Keliaran Seto akhirnya harus dibayar mahal: kematian Jamal. Cerita pun selesai.

Baca juga: Buku tentang Kucing yang Dapat Dijadikan Pilihan Bacaan Tahun Ini

Sebetulnya aku tak begitu akrab dengan kehidupan yang diceritakan Sato. Cukup tahu yang kulihat semasa kecil, teman-teman yang mengaji di langgar. Namun, tradisi itu tak ada di keluargaku yang kristiani. Pun masyarakat di sekitarku bukanlah kalangan relijius. Dapat dikatakan mereka adalah kaum abangan. Waktu itu. 

Nggak tahu juga, di perkotaan apakah keluarga muslim juga melakukan tradisi beragama seperti yang diceritakan Sato. Mungkin Human Education Centre punya catatannya? Barangkali kaitannya dengan kurikulum merdeka, bagaimana pembelajaran kehidupan beragama para bocah ini diterapkan. 


Kisah yang Kurang Greget, Kemasan yang Sangat Cakep

Sebagai orang yang terbengong-bengong saat membaca Cantik Itu Luka (2016), lalu Lelaki Harimau (2004), aku terbilang kecewa dengan buku Eka ini. Aku masih menikmati cara Eka bercerita, suka dengan keliarannya, pilihan diksinya, tapi rasanya Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong terlalu adem. Sosok hanya terpusat di Satu, dan meski alurnya maju mundur, terasa jauh bedanya dengan CIT atau LH yang membuatku merasa diajak jungkir balik. Dan, penutupnya buatku juga kurang greget.

Yang sangat jelas membuat buku ini berbeda adalah penampilannya, kemasannya. Buku hanya dicetak dalam format hard cover. Dengan ketebalannya hanya hanya 133 halaman, sudah pasti buku ini terasa mahalnya. Judul sudah jelas, aneh. Terdapat sampul buku dengan warna mencolok, antara merah dan jingga. Begitu masuk bagian dalam buku juga beda. Sepi. Tanpa kata pengantar, tidak ada daftar isi, judul bab pun tidak, apalagi prolog dan epilog, tanpa ilustrasi. 

Yang penasaran dengan Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong, sila cari dan baca sendiri, ya. Tetap menjadi bacaan yang menarik, kok. Dan aku pun masih akan cari cari buku Eka Kurniawan yang belum kubaca: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014), O (2016), dan Kumpulan Budak Setan (2016). 


Judul: Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong

Penulis: Eka Kurniawan

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (Cetakan Pertama, 2024)

Tebal: 135 halaman


Baca juga: Lelaki Harimau, Buku Kedua Eka Kurniawan yang Menyesatkan

Manifestasi, Upaya Mengaktifkan Pikiran Bawah Sadar

Manifestasi ini menjadi salah satu bahasan yang mengemuka di sebuah grup yang mengusung tema spiritualitas yang kuikuti. Ternyata, topik ini menjadi salah satu yang populer di media sosial. Banyak influencer dan konten kreator yang membuat postingan terkait teknik manifestasi. Sesuatu yang sedang banyak diminati rupanya. Tapi, baiklah, aku tetap akan coba share beberapa bagian materi yang menjadi bahan diskusi kami. Dengan menulis tentunya sambil mengeja ulang apa yang sudah kubaca. Seberapa memungkinkan catatan tentang manifestasi ini dipraktekkan dan memberikan dampak bagi kehidupan. 

Baca juga: Doa, Meditasi, dan Vibrasi Energi

Sebagai orang yang terhitung skeptis, soal manifestasi nyaris tak ada dalam ranahku. Tapi, belakangan hari mencoba untuk tidak menafikan kemungkinan-kemungkinan yang terbuka lebar di semesta raya ini. Lalu muali mengeja satu per satu catatan yang dibagikan oleh kawan-kawan. Special thanks untuk Mbak Putu yang sudah berinisiatif membuka diskusi.


Manifestasi dan LoA

Sesungguhnya, manifestasi bukanlah hal baru. Sejak berabad-abad lalu, praktik ini telah dilakukan oleh para ahli spiritual. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kehidupan yang lebih memuaskan dan membahagiakan dengan mengandalkan pola pikir. Yang dimaksud pola pikir di sini adalah menjadikan sesuatu sebagai bahan pikiran untuk diwujudkan dalam kenyataan. Manifestasi adalah proses menciptakan atau membawa sesuatu dari dunia pikiran atau gagasan ke dalam kenyataan fisik. Ini melibatkan penggunaan daya pikir, perasaan, visualisasi, dan keyakinan untuk mewujudkan keinginan atau tujuan tertentu dalam kehidupan nyata.

Apa bedanya dengan LoA atau Law of Attraction (hukum tarik-menarik)?

Dapat dikatakan LoA adalah bagian dari manifestasi. Dalam manifestasi ada tindakan aktif yang perlu dilakukan. Ada banyak teknik atau metode. Tapi secara umum, metode manifestasi adalah menuliskannya, mengafirmasi, memvisualisasikan, dan dibarengi dengan meditasi.

Menuliskan. Langkah pertama manifestasi adalah menuliskan secara detail realitas yang ingin kita wujudkan. Kita hanya menuliskan hal-hal yang memang kita harapkan terjadi dan mendukung hidup kita lebih bahagia, dan menganggap hal-hal tersebut sudah terjadi. 

Mengafirmasi. Melakukan afirmasi positif dapat menjadi pendorong untuk kita konsisten dalam menerapkan manifestasi tertentu. Pikiran negatif dapat menggagalkan manifestasi kita. Karenanya, proses afirmasi ini sekaligus dapat membantu kita untuk membangun energi positif. Mbak Fiona, kawan lifestyle blogger pernah membuat catatan soal gangguan kecemasan. Cek-cek deh, kalau ini menjadi salah satu hal negatif yang masih kita rangkul.

Memvisualisasikan. Ambil waktu secara khusus untuk membuat visualisasi tentang impian yang ingin diwujudkan. Lengkap dengan detailnya, misalnya saat kita memimpikan berada di suatu tempat, bayangkan detail desain ruang, furniture, aneka kelengkapan yang ada di dalamnya, termasuk suasana seperti alunan debur ombak atau semarak kicauan burung. Lakukan visualisasi pada sebelum tidur dan sesaat setelah bangun.

Bermeditasi. Siapkan beberapa skenario terkait beberapa mimpi kita. Lalu pilih salah satunya untuk direnungkan pada satu waktu saja. Buat ikatan emosi secara khusus hingga masuk dalam alam meditasi. 

Baca juga: Empati dan Seni Berkomunikasi 

Itu dia beberapa cara yang bisa dilakukan dalam mewujudkan manifestasi yang kukutipkan dari sejumlah sumber. Jika ada informasi lain yang cukup mendukung, bisa ditambahkan. 


Manifestasi menurut Neville Goddard

Tidak ada kekuatan di luar kesadaran Anda sendiri. (Neville Goddard)

Neville Goddard (NG) dikenal sebagai salah satu guru manifestasi yang populer dengan ajarannya tentang Hukum Asumsi. Hukum ini menyebutkan bahwa apa pun yang kita anggap benar dapat menjadi kenyataan. Hanya dengan berasumsi, keinginan bisa menjadi kenyataan? Ya! Syaratnya: percaya.

Menurut NG, kita sering kali meragukan bahkan tidak mempercayai harapan sendiri. Dari pernyataan bahwa "kamu bisa" atau "kamu tidak bisa" keduanya bisa benar. Keduanya bisa menjadi kenyataan sesuai dengan yang dimanifestasikan. 

Caranya adalah dengan menyimpan semua asumsi ke dalam pikiran bawah sadar. Dan cara terbaik dalam menanamkan asumsi baru yakni dengan menggunakan imajinasi. Menurut NG, pikiran bawah sadar kita tidak bisa membedakan antara pikiran nyata atau sebatas bayangan di kepala. Artinya, jika kita membayangkan hidup kita seperti apa yang menjadi keinginan kita secara berulang, pikiran alam bawah sadar kita akan melakukan internalisasi hal itu sebagai kebenaran. 

Baca juga: Letting Go, Sistem Pelepasan Diri

Langkah yang disarankan oleh NG: 

Buat adegan imajiner. Adegan yang dimaksud adalah hasil akhirnya, ending dari kenyataan yang kita harapkan. Buat imajinasi sedetail mungkin. Tak perlu dipikirkan caranya. Tak perlu sibuk khawatir dengan proses yang rumit, abaikan. Hanya pikirkan hasil akhirnya saja. Bahwa gambaran itu nyata sudah terwujud dalam hidup kita. Jangan lupa untuk memasukkan semua panca indra kita. Jika cukup membantu terasa hidup, bisa ditambah dialog dalam visualisasi tersebut. 

Bayangkan pada setiap menjelang tidur. NG merekomendasikan berlatih visualisasi ini dalam keadaan meditatif yang disebut kondisi "hypnagogic sleep paralysis" atau keadaan antara tidur dan terjaga. Saat kondisi santai, pikiran sadar kita melandai. Saat yang teoat untuk memasukkan asumsi baru dalam pikiran bawah sadar kita. Buatlah seolah-olah kita sedang berada di tempat kejadian. Kita menyaksikan realitas yang kita inginkan, lengkap dengan detailnya seperti yang kita bayangkan dalam langkah pertama. Lakukan hal tersebut hingga kita terlelap.  

Yakinkan alam bawah sadar hingga imajinasi kita terwujud. Jika kita berhasil membuat kesan pikiran bawah sadar kita dengan asumsi baru, menurut NG, asumsi itu akan mewujud dalam realitas kita. Berapa lama waktu yang dibutuhkan? Setiap orang prosesnya akan berbeda. Menurut NG, hal itu bergantung pada seberapa konsisten kita dengan visualisasi yag kita lakukan. Selain itu, seberapa baik kita merasakan "seolah-olah keinginan telah terwujud". Seberapa besar keyakinan yang ada di alam bawah sadar kita berpengaruh terhadap proses keinginan itu termanifestasikan. 

Sempat menjadi pertanyaanku: apakah keinginan itu tidak akan memicu kita untuk berekpektasi berlebihan?

Keinginan adalah sesuatu yang wajar. Ini yang sering disalahartikan. Orang takut dengan keinginannya. Padahal, keinginan menunjukkan bahwa kita masih manusia, bahwa hal itu dapat menjadi pendorong untuk kita maju. Melakukan lebih dari sekadar kita terima. Sah-sah saja. Yang tak diperkenankan adalah kemelekatan terhadap keinginan itu.

Baca juga: Berhati-hatilah dengan Siapa Kamu Bercinta

Mulai sekarang: 

  • Jalani hidup sebagai orang yang sudah menjadi apa yang ada dalam bayangan kita. Menjadi orang yang lunas hutangnya, hidup dalam segenap keyakinan bahwa itu sudah mewujud, karena pasti mewujud. Abaikan alam 3 dimensi. Karena alam tiga dimensi akan mengikuti apa yang kita imajinasikan. Sekalinya pikiran bawah sadar terimpresi sempurna dengan bayangan lunas hutang, dia tak punya pilihan selain mewujudkannya.
  • Input keadaan yang lebih baik ke pikiran bawah sadar, supaya segera pindah dimensi. Bergeser ke alam yang kita bebas utang. Bayangkan yang baik-baik saja, segila mugkin, setinggi mungkin, asalkan yakin akan terwujud.
  • Sadari bahwa semua yang ada di luar adalah hologram, energi yang memadat sehingga bisa dialami oleh indra kita. Ada energi lain secara paralel di luar diri kita yang bisa kita alami juga. Indra ragawi melakukan penyaringan, bahwa dia hanya bisa mengalami satu saja alam yang paling dipercayai oleh pikiran sebagai kebenaran. Itulah yang dipilih untuk dialami. 
  • Jalani hari-hari dengan rasa bersyukur dan perasaan yang baik, karena setiap detik kita sedang menuju ke sana. 

Tidak ada kekuatan lain di luar diri kita yang dapat mencegah terwujudnya harapan. Semua yang bisa dibayangkan dapat menjadi sebuah keniscayaan untuk perwujudannya. Bayangan itu sudah ada di dimensi lain. Selamat melakukan manifestasi. Namaste







Cancer New Moon dan Olah Batin Saat Purnama

"Menuju supermoon, hati-hati dengan pikiran dan emosi. Protect your energy." Demikian catatan pendek seorang kawan di akun media sosialnya. Sebagai orang yang meyakini perkara energi dalam kehidupan, aku tertarik dengan bahasan tersebut. Bahwa energi bulan, terutama saat purnama, memiliki peran penting dalam spiritualitas, utamanya dalam soal olah batin. Kebetulan, pada pertengahan bulan kemarin sempat diingatkan oleh catatan soal memasuki periode Cancer New Moon



Baca juga: Menjadi Orang Tua yang Bijak (bukan toxic parent)

Beberapa pekan terakhir, aku mengalami kondisi batin yang pekat, gelap. Lalu, sore tadi, begitu saja, kukatakan pada diriku: lepaskan, maafkan. Aku merasakan kelegaan luar biasa. Terlepas dari respon pihak lain yang terlibat --yang no respons, buatku itu sudah cukup. Dan sepertinya itu menjadi keputusan baik, karena, ternyata malam ini purnama. Nyaris lupa, padahal sudah dari beberapa hari lalu ada yang mengingatkan.

Baiklah, aku jadi pengin membahas soal Cancer New Moon dan purnama. Aku mengambil beberapa referensi sebagai sumber.


Purnama yang Memengaruhi Emosi Manusia

Dalam kepercayaan Hindu, ada istilah "purnama" dan "tilem", dengan siklus bulan 15 hari. Selain itu, tanda yang bisa ditemui di alam adalah bahwa purnama ditandai dengan bulan yang bersinar penuh atau full moon; sedangkan tilem adalah puncak bulan mati. Dua masa peralihan waktu berdasarkan posisi posisi bulan, bumi, dan matahari ini oleh masyarakat Bali dan Hindu dijadikan patokan dalam melakukan ritual jenis tertentu.

Bukan hanya tradisi di Bali atau Hindu saja, purnama dan tilem sebagai waktu keramat juga masuk sebagai subjek penelitian di zaman modern ini. Di alam, purnama memberikan pengaruh berupa gelombang pasang air laut. Purnama juga memengaruhi gejolak mental manusia; ada kecenderungan untuk melakukan tindak kejahatan pada jelang hingga puncak purnama.

Baca juga: Aleph, Kisah Perjalanan Menemukan Diri

Bukan kebetulan jika ada pemberian nama yang terkait dengan bulan. Kita kenal istilah lunatic yang artinya orang gila, lunacy atau kegilaan, dan loony yang berarti gila. Istilah itu berasal dari kata latin Luna, yang adalah nama Dewi Bulan.

Di Britania, abad ke-19 bahkan pernah diberlakukan Lunatic Act, yakni aturan yang menyebutkan bahwa orang yang berbuat gila-gilaan ketika bulan sedang penuh akan dikenai didenda. 

Tapi, purnama memunculkan dualisme. Terseret dalam emosi yang negatif, atau memanfaatkan untuk meningkatkan kekuatan batin. Inilah yang menjadi alasan komunitas-komunitas spiritual menyelenggarakan meditasi purnama bersama-sama, demi menangkap energi positif yang dipancarkan oleh peristiwa purnama. 


Memasuki Cancer New Moon

Cancer New Moon tiba pada 17 Juli 2023. Mengutip dari situs Forever Conscious, bulan baru ini menuntun kita dalam mempercepat pertumbuhan dan perkembangan jiwa kita. Selain itu, Cancer New Moon juga menghadirkan peristiwa atau peluang baru ke dalam hidup kita untuk lebih selaras. 

Bagi yang meyakini dukungan energi dari Cancer New Moon ini disarankan untuk mengeja ulang niat-niat tertentu yang pernah, sedang, atau akan dibuat. Caranya adalah dengan mengajak diri kita masuk ke "dalam", lalu mengarahkan visi hidup kita dari pengetahuan yang kita miliki dan perbaduan intuisi kita. 

Baca juga: Hidup Sehat dengan Reiki

Bulan Cancer adalah "rumah". Bulan Cancer adalah "ibu". Bulan ini mewakili emosi kita, perasaan aman dan nyaman kita. Pun sebagai representasi energi feminin dalam hidup kita. Tak heran jika sisi emosional yang lebih mengemuka. Karena tubuh emosional kita lebih mudah diakses, maka kita pun dimungkinkan untuk mengeksplorasi emosi dan perasaan kita secara lebih mendalam. Masa ini dapat dijadikan momentum untuk mengakselerasi diri dengan kebijaksanaan semesta. Bisa jadi kita akan menyaksikan emosi yang menggelegak di bawah permukaan, luka-luka batin pada masa lalu, hal-hal menyakitkan yang tak kunjung terselesaikan. Pelan-pelan membiarkan itu muncul ke permukaan, dan kita pun bisa melakukan akselerasi hingga seimbang.

Energi Cancer adalah Ibu, yang memberikan perlindungan dan perawatan, menghibur kita dalam kehangatan, yang menjadikan kita merasa aman dan nyaman. Tapi, energi Cancer juga mewujud dalam keberanian. Keberanian yang unik dari Cancer adalah keberanian yang bersumber dari cinta yang murni. Dengan dipayungi bulan dalam hakikat cinta yang sesungguhnya ini, bisa menjadi pendukung bagi kita dalam upaya mencintai diri sendiri dan menemukan kepercayaan diri untuk membuat perubahan yang diperlukan. Di bawah Cancer New Moon, kita dapat menyalurkan energi cinta diri dan mengubahnya menjadi perasaan berani, percaya diri, dan kekuatan batin.

Saat berlangsung purnama, segala yang berkaitan dengan rasa dan emosi dalam proses amplifikasi. Kondisinya berlipat, saat kita berada di Bulan Cancer. Maka, hati-hati dengan emosi yang kita pilih dan dengan siapa yang kita pilih untuk ada di sekitar kita. Jauhkan diri dari hal yang bikin drama. Bulan baru ini juga meminta kita untuk bersikap lebih baik, lebih lembut kepada diri sendiri. Cintai, kasihi, penuhi kebutuhan afeksi diri dengan sebaik-baiknya. Cari ke dalam, bukan berusaha menggapai kebahagiaan dari luar diri. 

Selamat kembali ke dalam diri. Namaste.

Baca juga: Alaya, Kisah tentang Mimpi yang Mewujud, Takdir, dan Cinta




Perjalanan Menulis dan Fragmen 9 Perempuan

Akhirnya tuntas sudah proses pembuatan buku kumpulan kisah FRAGMEN 9 PEREMPUAN. Dari yang awalnya menulis untuk tujuan lain, membuat buku nulis bareng, akhirnya menjadi buku solo. Yang awalnya ragu untuk menyeriusi, akhirnya bisa mengalahkan ketidakpedean. Dalam kurun mempersiapkna buku ini, aku menuliskan catatannya di akun facebook. Aku akan menyalinnya di sini, catatan Perjalanan Menulis-nya Ibu Meong.


Baca juga: Jangan Pelihara Kucing, Kerjasama Perdana dengan Penerbit Epigraf

Meski menulis menjadi kegiatanku yang nyaris tanpa putus sejak di bangku kuliah, nyatanya tak pernah mudah buatku untuk mempublikasikannya secara luas. Benar-benar dibutuhkan kekuatan dewa untuk bisa mendorong si saiyah ini untuk berani malu #eh untuk percaya diri 😊 Bagi yang sudah membacanya di FB, jangan bosen, ya. 


UKM, Kegiatan Menulis, dan GSSTF

(Perjalanan Menulis #1 - 12 Mei 2023) 


Memang benar adanya ketika seorang kawan mencandaiku dengan kalimat, "Kayaknya waktu kuliah, seangkatan cuma kamu sendiri yang orang Trenggalek." Setidaknya di UNPAD, dapat kupastikan, iya. Tapi, ya, apa bedanya dengan kawan lain yang satu-satunya dari Cilacap? Atau kota kecil lainnya, yang respon orang setelah tanya adalah, "Itu ada di peta?" Nggak beda, kan? Jadi, bukan perkara itu kalau kemudian aku tak PD. Memang dari dulu anaknya minderan. 

Awal masuk kuliah, aku tak mencoba mencari tahu unit kegiatan apa yang bisa kuikuti. Padahal ada unit pingpong, olah raga yang dari SD aku jalani. Ada unit basket, yang dari SMP sering ikut pertandingan. Ada unit pecinta alam, hal yang aku suka tapi tak pernah dapat kesempatan. Ada GSSTF yang mestinya bisa membantuku menggali kembali kesukaanku menulis. Aku ikut pilihan teman kost, paduan suara. Tapi akhirnya batal, karena sewaktu ada acara perkenalan diminta datang mengenakan pakaian pesta. Baju dari mana, bah! Bekal dari kampung saja cuma 3 stel untuk kuliah. Entah panitia ketika itu pertimbangannya apa. Tak ikut UKM apa pun. Jadinya malah nyemplung ke komunitas Kristen yang eksklusif dan hipokrit #eh.

Sebetulnya, kalau dipikir-pikir mestinya aku masuk GSSTF. Ya, waktu SD aku suka nulis. Bahkan sempat mau ikut lomba. Tapi batal, karena seorang guru mensyaratkan untuk berlatih menulis di rumahnya. Guru yang penuh muslihat membagongkan. Akhirnya mengundurkan diri saja. Dan sejak itu sama sekali mengubur kegemaran menulis. 

Entah, kemudian kok takdir malah kembali mempertemukanku dengan urusan tulis menulis dengan diterima di Jurnalistik Unpad. Lalu, seiring perjalanan waktu, lingkaran pertemananku merapat ke kawan-kawan alumni GSSTF. Padahal kalau gabung dengan mereka sedari awal, mungkin aku sudah jadi penulis terkenal 😜 Atau jangan-jangan malah kepincut sama penyair entahlah-entahlah 😁 Atau jadi vokalisnya grup keroncong ☺ 

Ah, hidup memang begitu, sih, ya. Tak tertebak. Yang pasti sampai hari ini aku masih disuruh untuk terus belajar menulis. Menulis apa saja. Termasuk sekadar status panjang yang kalian baca ini 😅

Selamat berreuni dan beracara, ya, Kawan-kawan GSSTF. Selamat bergembira. 


#kenangankuliah

#ceritaibumeong

#perjalananmenulis

#menuliskankisah

#menulisuntukmelepaskan

#menulisuntukmengekalkaningatan

💋

Baca juga: Alaya, Kisah tentang Mimpi yang Mewujud, Takdir, dan Cinta


Menuliskan Cerita Lalu = Tidak Bisa Move On? Nope! 

(Perjalanan Menulis #2 - 19 Mei 2023) 


Seorang kawan pernah berkomentar, "Yang sudah lewat, biar jadi kenangan saja", dalam sebuah statusku tentang cerita lalu. Seolah aku menuliskan kisah yang sudah lewat karena aku tak bisa move on, terjebak di masa lalu. Nope. Tapi, ya, aku tak perlu membela diri. Biar saja. Apa pun yang kita tuliskan dan publikasikan sangat mungkin mendapat tanggapan yang beragam, dan bisa jadi jauh dari niatan kita menulis. Tak jadi masalah. 

Sesungguhnya ada empat hal yang melatari. Pertama, saat ini aku sedang dalam mode bertahan. Tak ada yang perlu diceritakan, jika semata yang terdengar adalah kesah. Karena semua orang punya masalah. Biarlah hal yang lucu dan menggembirakan saja yang kita nikmati sama-sama ☺

Kedua, buatku menulis adalah salah satu upaya untuk melepaskan. Ada bagian cerita lalu yang masih kuat bercokol. Bukan, bukan tak bisa move on. Tapi sebagiannya telah hidup dalam alam bawah sadar. Ada cara penanganan lain yang tentunya kulakukan, tanpa perlu di-uar-uar. Cukuplah cerita pernak-perniknya. Dan itu lumayan membantu. Jauh-jauh hari, ada kawan penulis yang mengajakku melakukan itu. Ia yang telah banyak melahirkan buku, ternyata sebagian besar idenya berangkat dari cara dia untuk "mengatasi persoalan di masa lalunya". Semacam terapi. Upaya pelepasan sekaligus memicu kreativitas. Melepaskan bukan hanya soal yang terjadi di masa lalu, tapi juga di masa kini. Menuliskan hal-hal yang sulit dipahami dan diterima, bisa dengan serta merta sekaligus melepasnya. 

Ketiga, buatku menulis untuk mengekalkan ingatan. Kadang menulis itu --khususnya saat ngacapruk di FB-- tak disertai ingatan tertentu. Tapi saat menuliskannya, begitu saja, ingatan bermunculan. Kalau sengaja dingat-ingat, malah lupa atau tak keluar. Aku menjumpai banyak hal yang menarik dari aktivitas itu. 

Keempat, menulis, mau tak mau mengajak kita untuk berada di "saat ini". Berada dalam sebuah kesadaran. Dan itu menjadi latihan yang penting untuk hidup yang lebih berkesadaran. 

Demikianlah, aku masih akan tetap berusaha menulis di sini, meski mungkin tak memberikan nilai apa pun. Setidaknya membantu kalian membunuh waktu karena tak ada hal lain yang perlu dikerjakan selain membaca tulisan ini 😁


#ceritaibumeong

#menulisuntukmelepaskan

#menulisuntukmengekalkaningatan

#perjalananmenulis

#menuliskankisah

💋


Berkah dari Tulisan

(Perjalanan Menulis #3 - 26 Mei)


Pertama membuat catatan di blog tahun 2006-an. Wordpress. Isinya macam-macam. Reviu lagu, film, buku. Tentu saja termasuk curhatan ini dan itu. Sebetulnya tak terlalu banyak, sih, curhatannya. Tapi seorang kawan pernah berkomentar, "Perasaan blognya isinya curhatan semua." Sungguh seorang kawan yang julid #lirikseseakang ☺ Tapi tak urung, begitu ada multyply, membuat akun baru. Di blog yang ini lebih banyak menulis artikel populer dan feature dari pengalaman perjalanan. 

Alkisah, suatu kali didesak oleh kebutuhan untuk menutup rapat rumah aka tidak membiarkan kucing-kucing berkeliaran di luaran. Dengan luas rumah yang terbatas, mau tak mau harus ada penambahan bagian luar. Sekaligus untuk tetap memberikan akses udara. Direncanakanlah untuk membuat catio. Sekadar bercerita di FB. Terutama ingin mendengarkan pengalaman para manusia kucing. Tak dinyana, ada yang berkirim pesan di inbox. Mengatakan ingin membiayai pembuatan catio buat pasukan meong. Wah, siapakah? Namanya tak familiar. Cek profil, rupanya sudah lama mengajukan pertemanan tapi sepertinya tak kunjung kuterima karena sama sekali tak ada mutual friend. Lalu terjadilah obrolan itu.

(+) Kok tiba-tiba berniat membantu, gimana ceritanya? Tahu saya dari mana?

(-) Saya pernah cari informasi tentang biara pertapaan. Nyasar di blognya mbak.

(+) Oya? Wah, senang bisa memberikan manfaat.


Tak lama berselang, masuklah transferan ke rekening, yang angkanya sangat lumayan buat ibu meong. 

(+) Waduh, ini transfernya banyak sekali.

(-) Nggak apa-apa, berbagi rezeki. Itung-itung itu ongkos saya baca informasinya.


Wooowww, mahal sekali informasi dari si saiyah 😁 Langsung berangkatlah itu pembuatan catio. Si catio masih ada hingga kini, dengan beberapa penambalan. Dan sampai dengan hari ini aku belum pernah berjumpa dengan beliau. Sungguh-sungguh pertolongan tanpa imbal balik. Hatur nuhun 🙏 

Itu salah satu berkah dari tulisan. Bukan soal uang, bukan soal materi. Tapi lebih pada hati yang tergerak berkat membaca tulisan, meski itu pun tak langsung. Hal lain, yang kemudian meyakinkanku adalah bahwa setiap tulisan memiliki pembacanya sendiri. Seberapa pun melow atau sebaliknya ngehe-nya, bermanfaat atau sekadar ajang melepaskan emosi, dengan penulisan detail maupun sekadarnya, tulisan kita akan dibaca oleh mereka yang menyukai atau memang membutuhkan. Di luar perkara yang belakangan menjadi salah yang disyaratkan dalam setiap tulisan yang dipublikasikan secara daring: SEO. Artinya, tak perlu ragu, malu, nggak PD untuk menulis. 

Bukan soal uang dan materi, kalau kemudian aku bisa gembira mendapati respon para teman (yang adalah pembaca cerita) Naga Chan. Meski sepotong-sepotong, apa yang dibagikan Naga Chan lewat status-statusnya di FB adalah cerita. Dan teman-temannya menyimak. Entah berapa kali aku dibuat takjub oleh detail yang aku sendiri bahkan tak ingat. Itu hal kecil membahagiakan yang tak tergantikan oleh materi. Maka, saat menerbitkan buku Dongengan Naga, aku PD saja. Karena bersembunyi di balik nama Naga Chan #eh. 

Tapi memang betul, sekalipun kubilang "setiap tulisan memiliki pembacanya sendiri" aku belum pernah PD untuk menerbitkan tulisan sendiri. Khawatir buruk, tak disukai, bahkan dicela. Begitu takut untuk dinilai. Itulah yang kemudian membuatku tahun kemarin menantang diri sendiri: sanggup nggak nerbitin buku sendiri?

Dan diriku menyanggupinya. Naskahnya sudah berada di laptop penyunting. 

💋


Baca juga: Menuliskan Ulang Kisah Perempuan


Soal Finansial dan Tantangan Menerbitkan Buku 

(Perjalanan Menulis #4 - 2 Juni 2023)


"Kamu lagi punya masalah keuangan, kenapa malah nerbitin buku?" Demikian respon seorang kawan saat aku cerita soal rencanaku akhir bulan ini. Komentar yang wajar dan masuk akal, karena aku menerbitkan buku lewat jalur vanity publiser yang artinya melakukan pembiayaan sendiri. 

Beberapa tahun terakhir aku berjibaku dengan diri sendiri. Ada perubahan-perubahan yang cukup deras. Soal pekerjaan, relasi, spiritualitas, cara pandang baru terhadap sesuatu, dan hal-hal lain yang dibarengi dengan aneka peristiwa kebetulan yang ajaib. Aku mencoba menerjemahkannya ke dalam detail yang lebih riil. Salah satunya terkait ketidakpedean dalam menulis. Yang sebetulnya, malah bukan semata soal menulis, melainkan hal yang lebih mendasar. Aku yang takut untuk dikritik. Yang lebih memilih menghindari konflik. Yang mudah remuk saat menerima celaan. Dan hal-hal lain dalam diri sendiri yang belum tuntas. Jadi, menuliskan ulang rangkaian kisah ini lebih pada tantangan itu. Bahwa aku bukanlah sosok yang terbatasi oleh ketakutan dan traumaku. Buatku, ini adalah sebuah langkah awal. Setelah berhasil melewatinya, apakah aku akan terus menulis atau tidak, persoalan lain. Siapa tahu, setelah ini aku menantang diri untuk buka warung rujak petis ☺

Jika soal pembiayaan itu disandingkan dengan perihal arus kas yang sedang tersendat, buatku sih tak terlalu menjadi persoalan. Aku selalu meyakini Semesta punya cara untuk menyediakan kebutuhanku. Bahkan soal merugi seperti yang dikhawatirkan si kawan, tak jadi soal juga. Karena buatku ini adalah proses, dan dalam proses tidak ada untung-rugi. Cuma, kalau kalian gak pesan bukunya, ya, AWAS! 😆

Lantas, mengapa "perempuan"? Pertama, ya, karena aku perempuan. Isu yang sangat dekat denganku. Dan perempuan itu unik. Dengan segala keterbatasan dan kelebihannya, mereka unik. Kisah-kisah yang kubagikan ini adalah kisah yang kutemukan di sekitar. Bisa jadi menyerupai kisahmu. Atau orang-orang dekatmu. 

Fragmen 9 Perempuan bisa mulai dipesan pada 5 Juni mendatang, ya. Tersedia dalam 2 versi warna kover. 

💋




MA dan FSP

(Perjalanan Menulis #5 - 9 Juni 2023)


Seseorang berkirim DM di Instagram. Sebut saja MA. Ingin memesan buku. Aku cek obrolan terakhir kami, Oktober tahun lalu. Aku ingat, waktu itu aku sedang menjajal nulis novel. Seperti apa, sih, rasanya menulis maraton? Menyiapkan outline, mengumpulkan bahan, memulai riset kecil-kecilan. Salah satu yang saat itu kucari bahan pendukungnya adalah tentang kuliah dan hidup di Jerman. Nama MA yang kemudian melintas. 

MA adalah mahasiswaku di PAKT, program D3-nya Fikom Unpad. Saat itu aku pegang mata kuliah terkait penyiaran (radio). Tak ingat ngajar dia tahun berapa. Kemungkinan 2005-an. Dia cukup menyita perhatianku. Dia rajin, tapi tampangnya jutek. Dia bertampang jutek, tapi sebetulnya ramah. Keramahan yang tak dibuat-buat semata karena aku pengajarnya. Selain di Fikom, MA juga ambil kuliah Sastra Jerman. 

Tak lama lulus, dia melamar jadi pekerja sosial di sebuah lembaga di Jerman. Setelah beberapa tahun, dia ambil kuliah lanjutan di sana. Saat gawe di sebuah tabloid bulanan, aku sempat minta tulisannya tentang pernak-pernik tinggal di luar negeri. Ketika itu dia bilang, "Ibu itu salah satu dosen favoritku, lho." Etdah! Bisanya?! Aku lo, tak pernah PD sebagai pengajar. Merasa tak punya bakat. Bisa wae ngabubungah ni anak! 

Nah, dalam obrolan Oktober tahun lalu itu, alih-alih memanggilku "ibu" seperti sebelumnya, ia berinisiatif memanggilku "teteh".

"Berasa kagok manggil ibu. Masih muda. Kayanya umurnya gak terlalu jauh." #uhuk Biasanya orang lebih sering meledekku dengan "sudah uzur". Agak beda memang 😁

"Bebaaas. Memang kamu kelahiran tahun berapa?"

Tersebutkanlah kalau perbedaan usia kami 11 tahun. Owh, oke. Selama ini dengan orang yang beda 20 tahun juga masih kupanggil akang atau teteh sih. Tapi sebetulnya aku mah dipanggil apa aja, ndak soal. Asal jangan BUNDA. Sumprit, alergi! 

Demikianlah, sejak obrolan itu dia memanggilku teteh. Terakhir ngobrol tahun lalu itu dia juga cerita kalau sudah menikah. Suaminya orang Denmark.

Lalu, bagaimana kelanjutan novelnya? Entahlah, kehabisan energi. Sejauh ini belum dilanjutkan. Apakah dengan MA yang membuka kontak kembali itu penanda aku perlu meneruskan? Yang jelas, sosok dalam novel itu ada di buku Fragmen 9 Perempuan. Buku ini awalnya kujuduli dengan angka 8, karena isinya memang hanya 8 cerita. Lalu editor menyarankan 9. "Lebih enak terdengarnya," katanya. Maka kucomotlah si tokoh dalam novel itu untuk menggenapkan ke angka 9.

💋


Perempuan yang Menyimpan Rahasia

(Perjalanan Menulis #6 - 16 Juni 2023) 


"Ada hati yang harus dijaga. Perasaan orang tua, terutama mama. Makanya kubiarkan saja informasinya mengambang. Karena nyatanya memang tak semua hal bisa dibuka," ungkap Kinan sambil matanya tak meninggalkan layar telepon selulernya. 

Kinan, sudah setahun ia berpisah dari suaminya. Ditinggalkannya ibu kota, dan memilih Bandung sebagai tempat tinggalnya. Kebetulan sejak sebelum pandemi berlangsung, kedua anaknya sudah bersekolah di Bandung, menemani kakek neneknya. Ia saja yang selama ini bolak-balik Bandung-Betawi. Pandemi pula yang menyelamatkannya, menjadi alasan untuk tak kembali ke Jakarta dalam waktu lama. 

"Kira-kira, apa yang akan terjadi ketika mama tahu kamu sudah bercerai?"

"Entahlah. Aku belum bisa memikirkannya. Terlalu rumit. Anak mama tinggal aku satu-satunya. Sejauh ini tak memberitahu orang tua adalah pilihan terbaikku. Apalagi sudah dua bulan terakhir ini aku memutuskan keluar dari pekerjaan."

"Tak memberi tahu orang tua juga?"

Kinan hanya menggeleng. Aku tak bertanya lebih lanjut. Khawatir berada di posisi yang sok tau, apalagi sok bijak. Aku tak paham persis apa yang dialaminya. Yang aku tahu, dia perempuan kuat. Dia tahu pilihan-pilihannya dan konsekuensi yang perlu dilakoninya. Aku hanya bisa menjanjikan telinga yang siap mendengar setiap kesahnya. 

Kusodorkan kopi susu gula aren pesanannya. Langit Bandung melembayung. Dari perangkat suara kedai kopi, suara Sting mengalun pelan.... 

On and on the rain will fall

Like tears from a star, like tears from a star

On and on the rain say

How fragile we are

How fragile we are. 

*

Kisah para perempuan tak ada habisnya. Mereka yang bertahan untuk segala yang mereka yakini. Mereka yang bisa menghabiskan waktunya sepanjang hari hanya untuk menangisi sebuah kehilangan, tapi lantas bergegas bangkit  untuk sebuah cerita yang baru. Atau yang pada suatu ketika diserang rasa lelah dan marah, yang dengan mudah terhapuskan jejaknya oleh secangkir kopi. Mereka yang melatih diri kuat, bukan untuk dirinya sendiri namun juga orang-orang yang mereka cintai. 

Apa ini kisah yang dibukukan Ibu Meong? Bukan. Tapi bisa saja untuk kumpulan cerita yang lain. Yang pasti, 9 kisah yang siap dibaca ada di Fragmen 9 Perempuan. 

💋

Baca juga: Perempuan dalam Karya Pramoedya Ananta Toer 


FSP dan Ingatan Tugas Kuliah pada Sebuah Masa

(Perjalanan Menulis #7-fin) 


"Lihat, tuh, Teh. Mobil itu udah yang kedua kalinya lewat," katanya seraya mengarahkan telunjuknya ke sebuah sedan yang berjalan pelan mengitari Alun-alun Bandung. 

Aku lupa namanya. Pemuda bertubuh lumayan tinggi, ramping, kulit terang, dan berambut ikal. Usianya mungkin beberapa tahun di atasku. Saat itu aku mahasiswa semester 5 yang sedang mengerjakan tugas mata kuliah Penulisan Feature. Tema yang kuambil waktu itu adalah seputar homoseksualitas. Begitu ke lapangan, ternyata banyak hal yang belum kuketahui. Akhirnya berkenalan dengan banyak orang dan komunitas. Dari Gaya Parahyangan hingga Srikandi Pasundan, dari dikenalkan ke mantan ratu waria se-Asia Tenggara hingga berkenalan dengan kehidupan malam di area pusat Kota Bandung. 

Pemuda itu, sebut saja Agus (punten, Kang Agus, nambut jenenganana 😁). Kutemui di alun-alun, saat aku bengong, bingung mau ke mana lagi. Hari sudah malam. Lupa selarut apa. Yang jelas di atas jam 10. Dipikir-pikir lagi, hade si saiyah, sendirian di belantara kota. Nah, Agus ini adalah penjaja seks komersial laki-laki (dan melayani laki-laki). Dia punya pelanggan tetap yang menjemputnya di hari-hari tertentu. Itulah kenapa dia tahu perilaku para pencari seks komersial di area tersebut. Agus yang saat itu sedang "on duty", mungkin iba melihatku sendirian. Ia mengajakku ke sebuah pub di bilangan Asia Afrika. Dikenalkannya aku ke teman-teman lesbiannya. Malam itu sungguh penuh pengalamanku. Dan makin bingung apa yang mau ditulis, haha! Tapi Bang Sahat, dosenku, memberiku A untuk tugas itu. Kang Agus, di mana pun, hatur nuhun 🙏

Saat menuliskan karya jurnalistik, aku cukup percaya diri. Paling saat dalam kelas, ketika harus mengajukan topik yang akan diangkat, stres tingkat dewa 🤣. Persoalan mendasarku adalah tidak PD menyampaikan opini. Itulah juga kenapa nilai mata kuliah Artikel-ku jeblok. 

Tulisan fiksi dan nonjurnalistik juga masuk kategori ini. Makanya, seperti kubilang saat memutuskan untuk membukukan kisah perempuan dalam FRAGMEN 9 PEREMPUAN itu sesungguhnya aku betul-betul tak PD. Sampai editor penerbit bilang, "Sejujurnya aku merasa heran dengan pertanyaanmu: apakah cukup layak? apakah ada yang perlu dibenahi? ada yang harus diganti? Hei, tidak. 9 cerita itu sudah bercerita dengan sendirinya, tanpa perlu ada yang harus diganti." Baiklah, akhirnya betul-betul direalisasikan ☺

Terima kasih banyak, ya, teman-teman yang sudah mengapresiasi dan memesan bukunya Ibu Meong. Buku sedang dalam proses cetak. Semoga Senin sudah mulai bisa dikirim. Matur suksma 🙏❤

💋


Demikian cerita perjalanan menulisku saat menyiapkan lahirnya FRAGMEN 9 PEREMPUAN. Bukunya sudah siap, dan bisa dibelanja di  lokapasar, Tokopedia dan Shopee atau WA Ibu Meong

Terima kasih sudah menyediakan waktu untuk membaca 🥰

#ceritaibumeong #ceritadhenok #perjalananmenulis #menulisuntukmelepaskan #FSP #menuliskankisah  #menulisuntukmengekalkaningatan #Fragmen9Perempuan